Kitab Riyadush Shalihin #2-84: Bab 74 Kesantunan Kesabaran dan Kelemah Lembutan
vDCL8w-nUZo • 2025-07-08
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.
Alhamdulillahi al ihsaniukrin
asadu alla ilahaillallah wahdahu la
syarikalahuim
wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasul
ridwan allahumma shli alaihi wa ala
alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin
hadirat yang dirahmati Allah subhanahu
wa taala, kita lanjutkan pada bab yang
baru, babu alhilmi wal anat war rifq.
Bab tentang al-hilm dan al-anat
dan arfq. Ya, apa bedanya? Ya, alhilm
maksudnya adalah seorang menahan dirinya
bersabar meskipun dia mampu untuk
membalas. Ya, meskipun dia mampu untuk
membalas. Biasanya kalau di
diterjemahkan dengan santun, tapi santun
saya rasa terjemahan kurang tepat ya.
Hilm itu adalah intinya dia sabar.
Meskipun dia mampu untuk melampiaskan
tapi dia tidak melampiaskannya. Dia
tunda, ya. Dia tunda dengan berharap
bisa ada kebaikan di balik penundaannya.
Ya. Dan di antara nama Allah adalah
alhalim. ya
ee seperti
ee Allah Subhanahu wa taala
mensifati dua hambanya itu Nabi Ibrahim
Alaih Salam
ee
dengan sifat halim ya
dan juga anaknya Ismail dengan sifat
halim seperti firman Allah Subhanahu wa
taala inna Ibrahima laawwahun halim
sesungguhnya Ibrahim adalah awah yaitu
senantiasa kembali kepada Allah Halim
dan dia
Halim. Demikian juga ayat yang lain.
Inna Ibrahima halimunahum munib.
Sesungguhnya Ibrahim adalah halim. Dan
kita tahu Ibrahim disifati dengan Halim
karena beliau begitu sabar dengan ujian
yang begitu banyak ya di ancam oleh
ayahnya untuk dirajam.
di mana ayatnya mengatakan
arjumaka wjurni wahai Ibrahim kalau kau
tidak berhenti ceramah aku akan
merajammu dan tinggalkan aku. Ibrahim
tidak membantah lagi ayahnya dan dia
mampu untuk mungkin membantah dengan
kasar dengan keras tapi dia menjawab
dengan penuh kelembutan. Dia mengatakan
qala salamun alaik. keselamatan bagi
engkau ayahanda. Saastagfirulaka
akan mohon ampunan kepada Allah untukmu.
Jadi sikap keras ayahnya dibalas dengan
apa? Kebaikan padahal dia mampu untuk
membalas. Demikian juga ketika dia
dimusuhi oleh kaumnya sampai mereka
bersatu padu untuk membakarnya, untuk
membunuhnya. Ya. Ya. Alquuh fil jahim.
Ya. Kata mereka, "Ubnu lahu bunyanan."
Bangunkan suatu bangunan. Kemudian
lemparkan dia dalam api. Jadi dibuat
bangunan, dikumpulkan kayu bakar,
dibakar sehingga apinya semakin
menyala-nyala, bertumpuk-tumpuk. Baru
dilemparkan Ibrahim dalam bangunan
tersebut yang penuh dengan kayu bakar.
Itu pun dia tidak ngamuk. Kemudian
berdoa, "Ya Allah, binasakan kaumku
karena mereka kurang ajar kepadaku."
Sama sekali tidak. Dia tinggal pergi
meninggalkan kaumnya. Inni muhajirun ila
rabbi. Aku berhijrah menuju Rabbku.
Tiib. Jadi begitulah Ibrahim mudah
memaafkan bahkan membalas keburukan
dengan kebaikan. Disebutkan kalau dia di
dikata-katain maka dia berkata Allah
yahdik semoga Allah memberi hidayah
kepadamu.
Dan bagaimana sikap pemaafnya luar biasa
ya. Sampai ketika Hajar dicemburui oleh
Sarah, dia pun tidak marah kepada Sarah.
Dia tidak marah sama Sarah.
Ee itulah Ibrahim Alaih Salam yang Allah
sifati dengan sifat Halim. Demikian juga
putranya eh dalam surat Safat Allah
mengatakan, "Fabasyarnahu
bighulamin halim." Ya, ketika dia
mengatakan, "Rabbi habli minasihin." Ya
Allah, anugerahkanlah kepadaku anak yang
saleh. Setelah dia keluar dari
negerinya, dia berdoa kepada Allah agar
diberikan anak saleh. Maka Allah
mengatakan, "Fabasyarnahu bighulamin
halim." Maka kami pun beri kabar gembira
kepadanya dengan seorang anak yang
sangat halim, yaitu sangat sabar.
Ya. Kemudian Allah contohkan bagaimana
sabarnya Ismail ya. Ketika Ibrahim
datang kemudian
bertanya kepada putranya, "Inni ar
manamiukur?"
"Wahai putraku, aku melihat dalam mimpi
aku menyembelihmu menurut menurut
bagaimana?" Maka Ismail dengan sabarnya
mengatakan, "Ya abalaj
insyaallahu minirin." Lakukanlah apa
yang Allah perintahkan kepadamu, niscaya
kau akan dapat aku termasuk orang yang
sabar insyaallah. Siapa yang lebih sabar
dari orang yang mau disembelih ayahnya?
Tidak ada yang lebih sabar seperti
Ismail alaih salam. Dan Ibrahim pun
sabar. Siapa yang kuat disuruh
menyembelih anaknya satu-satunya? Ya,
tentu itu ujian yang berat.
Oleh karenanya kedua orang ini sangat
sabar, ayah maupun maupun anak. Maka
dua-duanya disifati oleh Allah dengan
halim. Itu makna halim ya. Beda dengan
sabar. Bedanya halim dengan sabar e
dengan sabir. Ya, kalau halim itu ee dia
mampu untuk lari, dia mampu untuk
membalas, tapi dia tidak melakukannya.
Kalau sabar belum tentu ada orang sabar
karena tidak bisa membalas. Ya, dia
sabar, dia tidak bisa membalas, cuma dia
sabar menghadapi apa yang dia hadapi.
Tidak, tidak ada pilihan baginya. Ya,
sabar lebih umum. Kalau Halim dia lebih
khusus, yaitu dia mampu untuk membalas,
dia mampu untuk ee mungkin ee kabur dari
hal tersebut, tapi dia tidak
melakukannya. Bahkan dia balas dengan
kebaikan.
Ini adalah ee alhilm.
Adapun al-anat, al-anat yaitu tidak
tergesa-gesa.
Tidak tergesa-gesa jika menghadapi
sesuatu ditimbang-timbang terlebih
dahulu ya. Tidak langsung emosional,
temperamental begitu ada suatu kejadian
langsung tergesa-gesa. Tidak. Al-anat
yaitu dia menghadapi segala perkara
dengan penuh perhitungan, pelan-pelan,
tidak langsung mengambil tergesa-gesa
mengambil keputusan, tapi
ditimbang-timbang terlebih terlebih
dahulu. Ya. Dan kalau orang memiliki
sifat al-anat biasanya ee biasanya
hasilnya lebih baik ya. Tentunya berbeda
dengan kalau ada kesempatan kebaikan
yang tidak perlu dipikir dulu dan itu
merupakan kebaikan. Enggak usah
mikir-mikir.
Misalnya sedekah ya sudah kita punya
uang kasih. Kecuali ada sedekah yang
mungkin lebih diprioritaskan itu perlu
dipikir. Tapi secara umum Allah
mengatakan wasariu. Bersegeralah dalam
kebaikan. Ya, wasariu, bersegeralah,
sabiqu, berlombalah, ya. Cepatlah,
diluanlah. Fastabiqul khairat. Ya, tapi
maksudnya alanat ini pada hal-hal yang
memang butuh untuk dipikirkan,
direnungkan, maka seorang tidak
tergesa-gesa dan itu adalah sifat yang
terpuji. Adapun arifiq maksudnya adalah
kelembutan, sikap lembut ya, tidak kasar
dan tidak ee keras tapi dengan
kelembutan. Ini bab menjelaskan tentang
tiga akhlak yang mulia. alhilm wal anat
war riifaq dan perbedaan alfuruq
alughawahi ini disebutkan oleh Abu Hilal
al-Asari ya dalam kitabnya al-furuq
alughawiyah perbedaan antara satu kata
dengan katu yang kata yang lain karena
dalam bahasa Arab itu ada kata-kata yang
ada sinonim tapi ada perbedaan secara
spesifik secara umum maknanya sama tapi
ada perbedaan secara spesifik kalau mau
diteliti lebih dalamnya
seperti sabar dengan helm yaitu mereka
berserikat atau sama dalam makna menahan
diri. Tapi ternyata helm yaitu ada sifat
tambahan yaitu mampu untuk membalas
menunda dengan lebih agar berharap lebih
maslahat. Ya.
Kemudian Al Imam Nawawi rahimahullahu
taala membawakan dalil-dalil dari
Al-Qur'an maupun sunah. Adapun dari
Al-Qur'an
beliau membawakan firman Allah Subhanahu
wa taala, "Wal kadimalinal walias
wallahu yuhibbul muhsinin."
Yaitu dalam surat Alimran ayat 134
sebelumnya Allah berfirman,
"Wasarifikumin
ardamawatu ardil muttaqin." Bersegeralah
kalian menuju ampunan Allah dan segera
menuju surga yang luasnya seluas langit
dan bumi.
Di sini Allah mengatakan surga yang
luasnya seluas langit dan bumi. Dalam
bahasa Arab disebut jannatin arduha
asamawatu wal ard. Dan ard dalam bahasa
Arab artinya lebar. Kalau panjang
artinya tul ya. Kata sebagian ahli
tafsir Allah tidak mengatakan saatuha
yang di mana luasnya. Allah tidak
menggunakan lafal luas. Allah tidak
menggunakan lafal panjang tapi Allah
menggunakan lafaz lebar. yaitu surga
yang lebarnya seperti langit dan bumi.
Maksudnya surga lebih daripada itu.
Karena Allah menggunakan lafal apa?
Lebar. Kalau lebarnya sudah seperti itu,
apalagi apa? Panjangnya. Ardu samawatu
wal ard uiddat lil muttaqin. Yang Allah
siapkan surga tersebut bagi orang yang
bertakwa. Siapa orang bertakwa? Maka
Allah sebutkan ciri-cirinya yaitu
alladina yunfiquuna far w orang-orang
yang senantiasa berinfak dalam kondisi
lapang maupun dalam kondisi sulit. Wal
kad minal gid orang-orang yang meredam
amarah. Walina
yang memaafkan orang lain. Wallahu
yuhibbul muhsinin. Allah mencintai
orang-orang yang berbuat ihsan.
Ee
di sini Allah mengatakan sifat yang
pertama atau dalam ayat ini Imam Nawawi
menyebutkan alkad minal ghait. Alkad
mininal gha. Alkadimin itu yang meredam.
Artinya amarah tersebut sudah
bergejolak. Ibarat air sudah di
permukaan tinggal luber kemudian
ditutup. Itu namanya kadim ya. mencegah
sebelum dia luber ditutup. Ibaratnya
sudah amarah, sudah mendidih kemudian
dia tahan. Dan ini ee menunjukkan ada
usaha berat makanya pahalanya besar.
Karena dia bisa marah tapi dia tahan.
Dia bisa marah namun dia tahan ya.
Padahal kemarahan sudah di puncak.
Makanya Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
bersabda, "Lais laais syadidu." Ya
bisurah bukanlah orang yang kuat adalah
orang yang menang dalam pergulatan.
Inadiduamlik
nafs tapi orang yang kuat adalah orang
yang mampu menguasai, mengontrol dirinya
ketika dia sedang emosi. Dia sudah
emosi, sudah puncak, tapi dia bisa
kontrol dirinya sehingga dia tidak
bersikap dengan sikap yang ngawur dan
dia tidak berkata-kata dengan kata-kata
yang ngawur. Ini susah. Kalau kemarahan
belum memuncak, orang bisa mengontrol
dirinya. Tapi kalau sudah memuncak di
sudah benar-benar mau meledak, tapi dia
bisa mengontrol diri, ini yang luar luar
biasa. Jadi perkataan alkadim itu
mengisyaratkan kemarahan sudah di
puncak. Ibarat air sudah bentar lagi
luber tapi dia ikat dia tahan. Nah orang
seperti ini hebat oleh karenanya
pahalanya besar. Seperti dalam hadis
manahu wahua
daahullahu yaumalqiamahtairu.
Siapa yang meredam amarahnya padahal dia
mampu untuk melampiaskannya maka Allah
akan panggil dia pada hari kiamat kelak
di hadapan khalayak. Terus Allah suruh
dia memilih bidad dari mana yang dia
sukai.
Oleh karenanya amalan ini amalan luar
biasa. Karena kalau kita melakukannya
sudah di puncak amarah kita tahan ya,
maka akan diberikan bidadari.
Tapi bukan tinggal terima disuruh milih
dulu baru ambil. Ya kalau tinggal terima
sih sudah oke juga. Cuma apalagi disuruh
apa milih ya berarti bidadari bukan satu
model bermodel-model. Kalau satu model
ngapain dipilih?
Karenanya rupanya
ee amal kebajikan banyak, pahala itu
banyak, sebab masuk surga banyak. Di
antaranya meredam amarah. Dan ini ada
maknanya seperti alhilm. Alhilm tadi
kita kata apa? Dia meradam amarah. Dia
bisa membalas tapi dia tidak balas.
Dia tidak dia tidak balas. Ya, makanya
saya bilang kalau diterjemahkan dengan
ee santun kurang pas. Kalau santun
maknanya kim? Sopan santun maksudnya
berakhlak mulia, sopan santun, ramah ya
mungkin santun. Tapi kalau helm bukan
seperti itu. Hilm tadi dia mampu untuk
membalas, dia mauemberi hukuman tapi
tidak melakukannya dengan harapan yang
dihukum tadi bisa berubah. Makanya
disifati Allah dengan alhalim karena
Allah sebenarnya
mampu menghukum hamba-hambanya tapi
Allah menunda siapa tahu hambanya sabar.
Eh sadar dan bertobat. Itu namanya
alhilm.
Tib wal minal git. Kemudian walinainas
dan orang-orang yang memaafkan orang
lain. Dan ini juga sulit juga ya bukan
sekedar meredam amarah tetapi memaafkan.
Dan saya kita sudah pernah sampaikan
ibadah yang sangat berat adalah ibadah
memaafkan. Karena kita tidak bisa
melakukan ibadah tersebut kecuali kalau
kita dizalimi. Kecuali kalau kita di
dizalimi.
Kalau kita tidak dizalimi maka kita
tidak memaafkan. Dizalimi maksudnya apa?
Mungkin harta kita diambil, mungkin kita
dipukul orang, mungkin kita dihina
orang, mungkin dituduh yang tidak-tid.
Ya, ini dizalimi. Dizalimi, tetapi kita
memaafkan. Dan ini sangat sangat berat.
Makanya di akhir ayat Allah mengatakan,
"Wallahu yuhibbul muhsinin." Dan Allah
mencintai orang-orang yang berbuat
ihsan. Itu derajat yang tinggi. Sebagian
pernah kita sampaikan derajat iman.
Islam. Iman baru apa? Ihsan. Islam itu
terkait dengan amalan zahir. Iman
terkait dengan amalan hati. Kalau ihsan
lebih tinggi lagi engkau beribadah
kepada Allah seakan-akan engkau melihat
Allah. Jika kau tidak mampu, yakinlah
Allah melihatmu. Saya bacakan perkataan
Ibnu Katsir tentang ayat ini.
Walkadi minal ghaz kata Ibnu Katsir, "La
yamaluna gadahum
la ymilunaahum finas." Mereka tidak
melampiaskan kemarahan mereka kepada
manusia. Balakuna syarahum.
Tapi bahkan mereka mencegah ya tidak
keburukan mereka ya mereka orang
berbudur sama dia dia cegah dan dia
tahan wahtasibunalikaallahi
azza waalla dan dia ihtisab dia berharap
pahala dari Allah. Jadi kalau caranya
bagaimana kita bisa meredam amarah harus
ihtisab berharap di berharap pahala.
Kalau kita enggak berharap pahala susah
kita pasti ingin lampiaskan. Kita
manusia kalau di disakiti kita pengin
balas. Bahkan bukan cuma pengin balas
bahkan pengin dobel balasnya ya.
Dan caranya bagaimana kita supaya tidak
membalas kita ihtisab cari pahala. Kata
Ibnu Katsirmaq
taala. Kemudian Allah berfirman
walinainas dan orang yang memaafkan
orang lain aakri
ya amamahum. Selain tidak memberi
keburukan kepada orang yang menyakitinya
bahkan memaafkan. Jadi derajat walinas
di atas alkadibin. Kalau kadimin itu
kita pengin balas, kita pengin kasih
keburukan sama mereka tapi kita tahan.
Jangan. Lebih daripada itu bukan sekedar
menahan keburukan dari kepada mereka
untuk mereka bahkan memaafkan
ya maafkan orang-orang yang menzalimi
mereka.
Fala yabqo fi anfusihim maujidah ala
ahad. Maka tidak ada kejengkelan dalam
diri mereka. Dia enggak jengkel. Sudah
maaf. Maafin. Kalau orang maafin itu
enggak jengkel. Saya maafkan. Ya sudah
takdir qadarullah dengan berbagai macam
kita renung perenungan ini pahala
mungkin saya banyak dosa ya makanya
Allah membuat dia menzalimi saya ya ini
ngurang-ngurangi dosa ya saya berharap
dapat pahala saya maafkan semoga Allah
maafkan saya mikir banyak sehingga dia
tidak menemukan kedongkolan kejengkelan
dalam dirinya kata Ibnu Katsir fala yabq
fi anfusi majidah maka tidak ada
kemarahan dalam diri mereka ala ahad
kepada seorang pun w akmalul ahwal dan
ini kondisi yang paling sempurna Nah,
walihadza qala. Oleh karena di akhir
ayat Allah berfirman, wallahu yuhibbul
muhsinin. Sesungguhnya Allah mencintai
orang berbuat ihsan. Fahad min maqamatil
ihsan. Dan ini di antara kondisi-kondisi
ihsan. Kalau kita tahu kita sudah sampai
derajat ihsan atau tidak, lihat apakah
kita jengkel sama orangorang yang
menzalimi kita. Kalau ternyata kita bisa
mengalahkan itu semua, kita bilang ini
sudah takdir, mungkin saya banyak dosa,
ngurang-ngurangi dosa saya, saya maafkan
dia, maka Allah akan memaafkan saya.
Semakin kuat kezalimannya kepada saya,
saya maafkan maka semakin besar dosa
diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala.
Kita renungkan, siapa sih orang-orang
yang kita jengkeli? Coba kita renungkan.
Berapa orang yang kita jengkel dalam
hidup ini yang kita berharap dia cepat
mati?
Harus kita maafin, maafin, maafin. Itu
maksudnya orang kaum muslimin. Kita
maafkan, maafkan, maafkan, maafkan.
Sehingga kata Ibnu Katsir, fala yabqo fi
anfusi maujidah. Sehingga tidak ada
dalam dirinya kejengkelan sama siapapun.
Enggak ada. Karena semua sudah dia
maafkan. Orang seperti ini mencapai
derajat yang yang tinggi. Oleh karenanya
masalah Islam, iman, ihsan ya kita sudah
paham itu masalah teori paham. Tapi ee
baru ketahuan kalau kita menghadapi
suatu kondisi, kita bisa tahu bagaimana
derajat iman kita. Ternyata kita mudah
emosi, mudah membalas, berarti kita
belum sampai derajat ihsan. Baru ihsan
secara teori, ya. Baru ihsan mungkin
secara penampilan, ya. Baru ihsan secara
kalau share-share nasihat ihsan. Tapi
praktik belum. Belum. Maka siapa yang
bisa meredam amarah kemudian tidak ee
tidak mendendam kepada orang yang
menyakitinya,
maka itu barometer mudah-mudahan dia
termasuk orang yang ihsan.
Kemudian
al Imam Ibnu Katsir ee al Imam Nawawi
rahimahullah membawakan ayat berikutnya.
Waqala taala
khudil afwa wamur bil urfi wa a'il
jahilin.
Ambillah al-afwa.
Allah tidak mengatakan khuzil afwa itu
artinya memaafkan.
Eh khuzil afwa kata Syekh Utsimin
menjelaskan bukan maksudnya maafkanlah
bukan juga dikatakan ifalil afwa ya
lakukanlah pemaafan atau ufu enggak tapi
kata Allah khudil afwa sini ada
perkataan saya pengin nukil dari Syekh
Sydi rahimahullahu taala terkait ayat
ini. Ini ini ayat yang paling indah ee
tentang
akhlak yang mulia ya.
Saya bacakan
hadil ayah jamiatun lusnil khulq maas
w yambagi fi muamalatihimadzi
yambagi yamalu bihinasul
ini ayat adalah ayat yang komprehensif
tentang sikap yang terbaik terhadap
orang lain. Kalau kita pengin tahu apa
sih akhlak yang terbaik bagi orang lain?
Ayat ini, khuzil afwa waur bil urfi wail
jahilin. Ambil sikap afu, seru kepada
kebaikan dan berpaling orang-orang yang
jahil, orang yang bodoh.
Ayat ini menjelaskan bagaimana sikap
yang harusnya kita lakukan kepada orang
lain.
Yaitu ambillah afwa. Afwa itu yang yang
mudah bagi mereka. Maknanya ambillah
sikap yang mudah dari mereka.
A mahat bihi anfusuhum w sahula alaihim
minal wal ak. Terima terima apa sikap
mereka terhadap kita. Fala yukallifum ma
tasmahu bihi thaum. Jangan bebani mereka
dengan yang mereka mau. Maksudnya jangan
terlalu ekspektasi kepada masyarakat.
Ekspektasi tinggi jangan. Kita bersikap
ya sebisanya mereka sisanya yang mereka
tidak mau kita maafin.
Misalnya ada seorang datang ke spektasi
terlalu tinggi kepada orang kaya dia
punya proyek agama misalnya dia pengin
bangun po dia bilang ini orang kaya
banget Pak. Ini ada gini gini gini gini
biayanya R miliar. Gimana? Gimana Pak?
Bisa bantu berapa? Rp50 juta aja ya. Oh
iya gak apa-apa. Diharap dikasih R
miliar 20 miliar. Ternyata cuma berapa?
Sudah gak apa-apa. Jangan bilang Bapak
ini uang banyak kok begitu. Jangan. Gak
perlu. Enggak perlu. Ya apa kita yang
yang mereka bisa ya sudah enggak bisa ya
sudah jangan dipaksa. Kalau itu di bawah
naungan kita, istri kita, anak kita,
kita nasihati agar mereka lebih baik.
Tapi kita orang lain jangan paksa. Kita
ekspektasi sama tetangga. Maunya
tetangga itu kalau beli durian bagi-bagi
sama kita. Ternyata dia beli durian dia
makan mak sendiri. Kalau pas beli
gorengan dia kirim ke kita. Ya udah
alhamdulillah dia masih kirim gorengan.
Maksud kita jangan maksa. Jangan
ekspektasi tinggi. Enggak usah. Dalam
berkawan pun demikian. Khudil afwa. Kita
pengin teman kita selalu membela kita
setiap saat. Ada saat dia berlepas diri
kabur cabut lah lagi sulit dia malah
kabur. Sudahlah selama ini dia bantu
kita. Ada kondisi tidak mampu ya sudah
jangan di dipaksa. Khudil afwa.
Terimalah yang yang mereka bisa lakukan.
Jangan paksa lebih daripada itu. Yang
sisanya kau maafkan. Misalnya kau kau
maafkan. Ya
itu namanya khuzil afwa. Karena tidak
semua orang tidak semua orang sesuai
dengan ekspektasi kita. Sebagaimana
orang juga tidak mereka ekspektasi
terhadap kita juga ternyata tidak sesuai
dengan apa yang mereka inginkan.
Di antara akhlak yang terbaik, khil af
jangan maksa. Sedikit ini ngambek-sek
ngambek. Aduh hidup ngambek melulu,
baper melulu. Jangan bapar-bapar. Sudah
ingat Nabi Musa alaihi salam dan Nabi
Khadir kata Allahta
ahla qtin ahlahajadaha
jidar. Tatkala Nabi Khadir dan Nabi Musa
kelaparan, kemudian mereka datang ke
suatu negeri, suatu kampung ya
kemudian mereka minta untuk dijamu
istatama ahlaha. Mereka minta dapat
jamuan makan. Kata Allah, "Faabau
ayudifuma." Mereka semua enggan menjamu
Nabi Musa dan Khidir. Bahkan seb tafsir
mengatakan berarti mereka yang ketuk
pintu satu persatu. Ketuk enggak, enggak
ada ketuk enggak ada gitu.
Sebal nabi bukan ustaz ya.
Nabi Khadir tidak berkata ya ini Musa
ini Musa belum tahu kalimullah
Musa saya Khadir temannya enggak enggak
udah enggak dikasih makan sudah pulang
selesai
jadi tidak semua maksudnya tidak semua
kita harus orang harus wau sama kita
enggak yang bisa lakukan ya sudah kalau
enggak bisa kita maafkan
dengan begitu hidup kita nyaman kita
tidak membani orang di luar kemampuan
dia. Orang bertahap tidak langsung baru
kenal langsung kita suruh macam-macam.
Kalau enggak kita nongkrong situ kita
merengek-merengek dia, kita kecewa
macam-macam. Engak usah dengan begitu
kalau kita misalnya kawan eh ente kawan
ee terus kita tanya eh ente gimana
kerjanya? Dia sudah kayak enggak enak
mau cer jangan dipaksa lagi. Eh kita kan
kawan. Ente kerjanya apa? Dapat duit
dari mana? Jangan dipaksa.
Dia mungkin tidak mau cerita. Jangan kau
paksa. Kamu kok enggak cerita? Kamu
sudah tu dari mana? Riba tahu enggak?
Ini dari ruang riba.
Akhirnya dia marah ya. Jadi begitu dalam
kehidupan
kita jangan maksa orang lebih daripada
yang mereka mampu. Kalau itu di bawah
naungan kita, istri kita, anak kita,
kita nasihati. Kamu jangan gitu, Nak.
Tapi kalau bukan bukan naungan kita,
ya kakak kita, adik kita, ya. Ya
sudahlah. Apa yang bisa mereka lakukan
terima, yang tidak mereka lakukan kita
maafkan. Itu namanya khudil afah. Maka
ini sebenarnya ayat yang paling indah
tentang bagaimana bermuamalah
yau
min ahadin maqahu bihi min jamil
huaikajafahuqsihim
kata eh
yaitu justru kalau mereka lakukan apa
yang bisa mereka lakukan kebaikan
meskipun sedikit terima kasih berterima
kasih kepada kepadanya mungkin ada
kata-kata baik perkataan baik, perbuatan
baik, ya atau lebih kurang daripada itu
dan memaafkan yang sikap mereka yang
kurang dan menundukkan pandangan tidak
perlu terlalu ya ya sudah dia ya sudah
kita pura-pura enggak lihat kalau mereka
punya kesalahan
ya.
Eh
kemudian waur bil urfi yaitu menyuruh
orang untuk berbuat kebaikan.
Kata saya lanjutkan sini. Kemudian
berkata wakbar
jangan merasa
sombong terhadap seorang yang kecil
karena masih kecil ya. Wis aqlqsi.
Jangan menyepelekan orang yang kurang
akalnya gara-gara dia kurang akal. Ya
udahlah dia mampunya segitu ya. Walal
faqir lifqri. Jangan meremehkan seorang
yang fakir karena kefakirannya. Bal
yuamilul jamiutfi
wal muqabalah bimaqil watarahuuruhum.
Tapi dia bermuamalah dengan mereka
semuanya dengan kelembutan, dengan
bersikap yang sesuai dengan kondisi yang
buat dada mereka nyaman. Gimana caranya?
Jadi jangan jangan maksakan. Jangan
maksakan.
Sampai saya sering sampaikan pokoknya
teman teman itu baik ya. Ada teman yang
masyaallah dia selalu bersama kita dalam
segala kondisi. Ada teman dalam kondisi
sulit dia kabur. Ada enggak? Banyak kan
dalam kondisi kabur. Kita harus memberi
uzur. Mungkin dia tidak sama kita karena
ada suatu yang berat tidak bisa dia
jalankan. Mungkin dia kepentok sama
sesuatu yang tidak bisa dia lakukan. Ya
sudahlah. Jangan lupakan kebaikan yang
dulu. Akhirnya kita bilang saat sulit
kau malah tinggalkan saya kemudian kita
musuhan. Enggak, itu namanya khuzil
afwa. Maka orang akan nyaman seperti
itu. Kemudian wa aid anil jahilin. Dan
berpalinglah di orang-orang yang yang
jahil.
Kata Syekh Muhammad bin Sal Utsimin
rahimahullahu taala. Ya,
yang dimaksud dengan jahil di sini ya
bukanlah orang yang la yaamul hukum.
Bukan orang yang tidak tahu hukum,
tetapi aljal musafih yaitu orang yang
bodoh ya fi tasarruf tidak tahu
bagaimana bersikap sikapnya. Bukan dia
orang bodoh. Dia ngerti hukum cuma dia
sikapnya ngacau. Ya, dia sikapnya apa?
ngacau. Ada orang seperti gitu ya sudah
ini orang jahil ee tasarufnya atau
sikapnya itu enggak enggak enggak enggak
benar. Ya udah berpaling. Jangan dilawan
dengan keburukan, jangan dibantah, ya
jangan disikapi. Ya udah berpaling aja
lebih aman dia. Dia tahu salah kita
kemudian kita ladeni, kita bantah dia
tambah menjadi-jadi. Dia tambah
menjadi-jadi. Ya.
Kata Syekh Utsimin, "Fal jahiluna huna
humus sufaha alladina yajhaluna hukal
ghair." Ya, orang-orang bodoh di sini
maksudnya orang-orang pandir yang tidak
yang tidak mengetahui hak-hak orang
lain. WFuna fiha atau tidak menunaikan
hak orang lain dengan baik. Faithum wali
bihim. Maka berpalingnya jangan
pedulikan mereka.
Ya, kalau engkau berpaling,
mudah-mudahan mereka membaik.
Mudah-mudahan mereka sadar. Paling tidak
kau terjauhkan dari keburukan mereka.
Tapi kalau kau ladeni bisa jadi semakin
menjadi-jadi.
Tib. Kemudian
di tengahnya tadi kata Allah, wur bil
urfi. Serulah kepada kebaikan. Itu
manusia seperti itu. Bersikap dengan
orang lain yang mudah dari mereka, yang
tidak bisa mereka lakukan maafkan.
Seruhlah kepada kebaikan. Ada orang yang
ngeyel bikin kita keburukan, berpaling
darinya. Selesai. Hidup hidup jadi
nyaman. Hidup jadi nyaman. Kalau ada
yang jahil, kita ladeni. Wah, ada orang
gila kita ladeni, kita ikut gila. Repot.
Ada orang temperamen kita ikuti, kita
ikut temperamen. Ngapain habisin waktu
ngurusin dia?
Apalagi sudah debat di medsos, debat
sama orang dimaki-maki. Debat, debat,
debat, debat, debat. Gak tahu yang
dihadapi siapa. Ternyata anak kecil
depan-deban atau ternyata bencong. Sai
bencong kan baper habis ngapain di orang
arit anil jahilin buang-buang waktu
tidak semua mau kita ladeni ya dan
ketika kita tidak meladeni kita
berpaling. Kita sedang beramal saleh.
Sedang beramal saleh.
Makanya orang bilang apa yang yang yang
waras apa
yang waras apa ngalah. Ngalah ya. Yang
waras ngalah itu pepatah bagus apa yang
ngaras apa yang waras apa ngalah yang
yang ngalah ra waras
ayat berikutnya
kata Allah wala tastawil hasanatu wiah
idfa billati hiya ahsan dan tidak sama
antara kebaikan dengan keburukan
balaslah dengan yang terbaik
bainakainahuatun
Maka tiba-tiba orang yang antara engkau
dengan dia permusuhan tiba-tiba seperti
dia menjadi sahabat yang dekat.
Dan tidaklah
bisa melakukan ini. Diberi taufik oleh
Allah untuk bisa melakukan itu. Membalas
keburukan dengan kebaikan
kecuali orang yang sabar. W yulaqohaim.
Dan tidak diberi taufik untuk bisa
melakukannya kecuali dia telah
mendapatkan bagian yang besar.
ini lebih tinggi lagi tingkatannya.
Jadi, Imam Nawawi menyebutkan secara
urutan pertama meredam amarah, yang
kedua mema maafkan. Ini lebih lebih
super lagi membalas keburukan dengan
apa? Kebaikan. Ini sulit ya.
Dimaki-maki jazakallah khairan.
Masih berbuat baik, makim-mi kasih
hadiah. Jazakal khair. Makasih kasih ini
berat ya. Tetapi Allah mengatakan
tidak sama kebaikan dengan keburukan.
Idfa billati ahsan.
Dalam ayat ahiah balaslah keburukan.
Dalam ayat yang lain balas keburukan
dengan kebaikan yang terbaik. Allah
mengatakan Allah tidak mengatakan
idfa eh bil hasan ya. Tetapi Allah
mengatakan idfa billati hiya ahsan.
Balaslah dengan yang terbaik.
Maka membuat kita harus merenung ketika
ada orang berbuat baik sama kita.
Bagaimana saya balas dia dengan yang
terbaik?
Kalau kita melakukannya, Allah janji.
Faidalladzi bainaka wa bainahu adawatun.
Orang yang tadinya musik engkau kaahu
waliyun hamim. Tiba-tiba dia seperti
menjadi teman yang dekat. Dia bisa
berubah ketika kita balas keburukan
dengan apa? Kebaikan. Tapi siapa yang
bisa melakukannya?
Ibarat kita dimaki-maki
orang sambil tanya, "Ustaz, boleh enggak
kita doain biar dia mati?" Ustaz
janganlah doa aja dalam sujudmu ya Allah
ampuni dia. Berilah hidayah kepadanya.
Berat ustaz. Penginnya dia mati ustaz.
Jangan.
Pertama kau doain dia mati dia belum
tentu mati. Nanti tambah jengkel lagi.
Ya sudah balas dengan kebaikan. Doain
semoga dapat hidayah. Ya kalau perlu
kasih hadiah. Kasih apa hadiah. Tapi
siapa yang bisa melakukannya? Membalas
keburukan dengan kebaikan yang terbaik.
Makanya Allah mengatakan wama yulaqoha
illalladzina sharu. Tidak ada yang bisa
melakukannya. diberi taufik untuk
melakukannya, untuk menerimanya kecuali
orang yang sabar. Tetapi kalau dia bisa
melokokkannya, kata Allah w yulaqohaim,
kalau dia bisa melakukannya berarti
telah mendapatkan ganjaran yang sangat
besar. Ganjaran yang agung. Dia mendapat
bagian yang agung yaitu mendapatkan
anugerah akhlak yang luar biasa, perang
yang luar biasa, ganjaran yang luar
biasa.
Makanya dalam hadis kata rasul sahu al
wasallam ahadunir
minar wa minar. Tidaklah seorang diberi
anugerah oleh Allah yang lebih baik dan
lebih luas daripada sabar. Ini bukan
sekedar sabar malah malah dia membalas
keburukan dengan dengan kebaikan.
Kemudian ayat yang terakhir
ee yang dibawakan oleh Al Imam Nawawi
rahimahullahu taala. Kata Allah, "Walan
shaara wfar inalika min azmil umur."
Maka siapa yang sabar dan memaafkan maka
itu termasuk dari perkara-perkara yang
ee azmil umur, yaitu perkara-perkara
yang ditekankan oleh Allah subhanahu wa
taala.
Saya bacakan ee perkataan'di.
S'di ini tafsir yang sederhana. Tapi
saya suka baca karena dia sering
menyembulkan perkataan ahli tafsir
sehingga apa yang dia tulis padat makna.
Padat makna.
Beliau berkata,
"Walan walaman sharo." Yaitu dan sungguh
orang yang bersabar al ma yanaluhu minal
khalq. Sabar atas gangguan manusia.
Diganggu hartanya, diganggu harga
dirinya, diganggu fisiknya. Dia
bersabar. Wofar. Bukan cuma bersabar,
dia maafkan. Maafkan mereka. Ini berat
ya.
Di mana dia memaafkan mereka atas apa
yang mereka lakukan.
Ini adalah perkara-perkara yang Allah
motivasi dan Allah tekankan. Jadi ini
perkara di antara Allah tekankan adalah
memaafkan, sabar dan maafkan. Ini
perkara yang ditekankan. Kalau Allah
tekankan berarti perkara besar.
Makanya Allah mengatakan
apa? Azmil umur. Perkara yang ditekankan
dimotivasi oleh Allah Subhanahu wa
taala. Tidaklah Allah memotivasi sesuatu
dengan penekanan kecuali perkara itu
sangat luar biasa. Ya sampai Allah
mengatakan min azmil umur. Tidak semua
perkara Allah katakan demikian.
Kemudian Allah mengabarkan wa akbarahu
yulaq ahlimah.
Dan tidak ada yang bisa diberi taufik
melakukannya kecuali orang-orang yang
sabar dan mendapatkan bagian yang besar.
Tafsiran kedua, waminal umurillati
yuwafaq laha la yuwafaqu laha illa ulul
azmi alil azaim wal himam wul albabi wal
bashair.
Dan termasuk perkara-perkara yang tidak
bisa dilakukan kecuali orang-orang yang
memiliki tekad yang kuat dan memiliki
himam cita-cita yang tinggi. Yaitu
bingin akhirat baru bisa melakukan ini.
Kalau enggak enggak bisa.
Wazaul albab yang cerdas. Orang cerdas
dia tahu saya memaafkan, saya yang
beruntung. Pahala besar, hidup di dunia
nyaman. Dia gunakan otaknya. Ngapain
saya emosi? Ngapain saya balas?
Dia harus ihtisab, cari pahala. Kalau
enggak susah. Kalau dia enggak cerdas,
enggak bisa. Ngapain saya marah-marah?
Marah-marah. Belum tentu saya bisa
membalasnya. Dia tambah ngamuk. Hidup
saya juga enggak tentram. Mikirin dia
meluluk. Pahala enggak ada. Bisa jadi
emosi, bisa jadi malah berdosa. Makanya
yang bisa melakukannya hanya orang yang
milik tekad yang kuat, memiliki
cita-cita yang tinggi, dan orang-orang
yang cerdas dan punya ilmu wal bashair.
Kemudian beliau berkata, faal inis
minqai alaiha. Sesungguhnya
tidak membela jiwa dengan perkataan
perbuatan termasuk perkara yang paling
berat bagi jiwa. Kalau jiwa kita diusik,
kita pengin balas.
Tapi kita tidak membela diri kita itu
perkara yang sangat berat.
Wasru alal wasu wfiratuhuatu
ahsan as wa as. Jadi tidak membela jiwa
karena dimaki-maki, dizalimi itu berat.
Lebih lebih berat daripada ini memaafkan
dan membalas dengan yang baik. Ini lebih
berat lagi. Walakin yasirun alaman
yasarahullahu alaih. Namun ini mudah
bagi orang yang dimudahkan oleh Allah.
Wajahada nafsaha.
Dan dia berusaha agar bisa memiliki
sifat tersebut
dan minta tolong kepada Allah. Maksudnya
Syekh ingin mengatakan ini memang susah
tapi kalau kau berjuang untuk bisa
seperti ini latihan maka bisa minta
tolong kepada Allah. Makanya Rasul
wasallam mengatakan waman yatasabbar
yusabbirhullah. Siapa yang berusaha
untuk sabar dia akan dijadikan sabar
oleh Allah. Kalau kau sendiri enggak
bisa, harus minta tolong. Makanya Allah
mengatakan ee
wasbir wobruka illa billah. Bersabarlah.
Kau tidak bisa sabar kecuali dengan
pertolongan Allah. Billah. Gak mungkin
kau sabar kecuali dengan pertolongan
Allah. Maka untuk itu latihan sekarang
kita lihatin kecil-kecil perkara-perkara
sepele diganggu tetangga sabar
kirim kue malah mulai latihan.
Diomelin istri sabar belikan cincin bisa
enggak? Enggak, enggak bisa ya. Awal
sudah menyerah dari awal.
Latihan. Latihan. Kalau enggak latihan
enggak bakalan bisa.
Latih sabar dan balas dengan apa?
Kebaikan.
Latihan. Ada orang ganggu kita, sabar,
kita balas dengan apa? Kebaikan. Bukan
cari muka, bukan pencitraan, bukan.
Jangan. Rugi, tapi karena Allah
Subhanahu wa taala. Memang ini sangat
berat, tetapi mudah bagi yang dimudahkan
oleh Allah dan berjuang untuk bersifat
dengan sifat tersebut
dan minta tolong kepada Allah. Kemudian
beliau berkata, "Tumma qalduahu
waajadai."
Kata beliau, "Apa dampaknya?" Kalau
ternyata dia sudah berhasil memiliki
sifat tersebut, maka sang hamba akan
merasakan indahnya, manisnya iman. Dia
akan rasakannya iman. Ternyata tuh
nikmat seperti itu. Dan dia akan
mendapatkan dampaknya, dampak dalam
kehidupannya, ketenangannya.
Dan dia akan menerimanya dengan lapang
dada, dengan akhlak yang mulia. Wataladz
fihi. Dan dia akan berlezat-lezat dengan
seperti itu. Ini tingkatan wali
berat. Tapi yang mau melakukan silakan.
Kalau enggak latihan enggak bakalan apa
bisa.
Kata Allah walamar wfar. Siapa yang
bersabar dan memaafkan
inalika lamin azmil umur. Sungguh ini
perkara yang sangat ditekankan oleh
Allah Subhanahu wa taala.
Tayib. E
setelah itu ya
Al Imam Nawi rahimahullah taala
membawakan hadis-hadis ya. Hadis pertama
yang dibawakan oleh beliau w ibni
Abbasin radhiallahu anhuma. Dari Ibnu
Abbas radhiallahu anhuma qala qala
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Rasul sahu alaihi wasallam bersabda.
Inna fika khlatain
yuhibbahumullah.
Sesungguhnya
pada dirimu ada dua perkara yang
dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala.
Wahai Asyaj Abdul Qais. Ya, namanya
Asyaj Abdul Qais.
Rasulullah terpesona dengan dia dan
Rasul Sallahu Alaihi Wasallam berkata,
"Ya
sesungguhnya Allah mencintai dua perang
yang ada pada dirimu." Ada apa itu?
Alhilmu wal anat. Sifatm yang tadi saya
katakan tidak segera membalas. Ya. Dan
al-anat yaitu tidak tergesa-gesa.
Saya bacakan hadisnya secara ee lengkap
ya.
Alamma qodimnal madinata. Ya, tatkala
kami datang kota Madinah ini mereka baru
pertama datang ketemu Nabi. Jadi, Asyad
Abdul Qais dengan teman-temannya.
Maka kami sampai kami langsung pergi
meninggalkan unta-unta kami menuju Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Fanuqbilu
yad Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Kami pun mencium tangan Nabi. Rindu
ketemu Nabi. Jadi datang langsung taruh
unta langsung menuju Nabi.
Wantaral munzir asas hatta ata
ibatahu falabisa tsubaihi tumma at Nabi
sallallahu alaihi wasallam faqala lahu.
Ada satu orang yaitu Asyas ini Asyaj.
Dia tidak segera ikut teman-temannya
menuju Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Ya.
Tetapi ya dia pelan-pelan ya dia datang
ke tempatnya ya
dia tidak segera menuju Nabi sallallahu
alaihi wasallam ya maka dia pergi
aibatahu yaitu dia pergi ke semacam
tasnya ya kemudian dia ambil bajunya
falabisa tsubaihi kemudian dia pakai dua
baju baru ini baru mau ketemu Nabi. Dia
mungkin ganti baju atau pakai baju yang
luar yang indah
dan disebut dalam riwayat berwarna putih
kemudian datang kepada Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Jadi Nabi Subhanallah,
Nabi perhatian ini ramai-ramai semua
orang kok tinggal satu di situ, ngapain?
Ternyata dia pelan-pelan dia ikat dulu
mungkin untanya, dia ambil tasnya, dia
ganti bajunya baru jalan kepada Nabi.
Maka Nabi langsung puji yang lain
buru-buru kau enggak? Ini e kisahnya
kenapa Nabi ngomong kepada dia seperti
itu? Kadang pada bulu dia enggak. Maka
Nabi sallallahu alaihi wasallam
mengatakan inna fika khin atau khin
yuhibbahumallah. Sesungguhnya pada
dirimu ada dua perang yang luar biasa
yang Allah cintai. Alhilm wal anat.
Yaitu kau tidak alhilm mungkin Allah
wahyukan kepada Nabi tentang sifat
helmnya. Tapi di antaranya anat. Kau
tidak tergesa-gesa itu dilihat langsung
oleh Nabi.
Yang lain pada buru-buru. Tidak sempat
pakai baju yang bagus dia enggak. Dia
ikat dulu. Karena begitu sahabat
datang langsung lepak tinggalkan
unta-unta mereka menuju dia tidak. Dia
ikat dulu, dia ambil tasnya, dia pakai
bajunya berjalan meskipun dia paling
belakangan.
Maka dia bertanya,
"Eh, khuluqa taktu bihima?" Ya
Rasulullah, ini dua akhlak yang aku
berusaha mendapatkan akhlak ini sendiri.
Amulu jubilat jubil alaihima. Ataukah
ini adalah akhlak yang aku dari sananya
Allah kasihkan aku dua akhlak ini. Maka
rasul sahu alaihi wasallam berkata, "Bal
khuluqaini jubilta alaihima." Justru ini
dua perangai yang memang Allah telah
menjadikan engau seperti itu dari
sananya. Ya, jadi kodratmu memiliki dua
akhlak ini. Secara fitrah Allah sudah
kasih kau fail dua akhlak ini.
Ini kau tidak usah bikin-bikin pun kau
sudah berakhlak dengan akhlak tersebut
karena Allah yang kasih. Faqala. Maka
dipuji Allah, alhamdulillahilladzi
jabalani ala khuluqaini yuhibbuhumallah
waasuluh. Segala puji bagi Allah yang
telah menjadikan aku berakhlak dengan
dua akhlak ini yang dicintai oleh Allah
dan rasul-Nya. Bab demikian saja kajian
kita. Wabillahi taufik hidayah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:19:43 UTC
Categories
Manage