Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi al ihsaniukrin asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim wa asadu anna muhammadan abduhu wa rasul ridwan allahumma shli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, kita lanjutkan pada bab yang baru, babu alhilmi wal anat war rifq. Bab tentang al-hilm dan al-anat dan arfq. Ya, apa bedanya? Ya, alhilm maksudnya adalah seorang menahan dirinya bersabar meskipun dia mampu untuk membalas. Ya, meskipun dia mampu untuk membalas. Biasanya kalau di diterjemahkan dengan santun, tapi santun saya rasa terjemahan kurang tepat ya. Hilm itu adalah intinya dia sabar. Meskipun dia mampu untuk melampiaskan tapi dia tidak melampiaskannya. Dia tunda, ya. Dia tunda dengan berharap bisa ada kebaikan di balik penundaannya. Ya. Dan di antara nama Allah adalah alhalim. ya ee seperti ee Allah Subhanahu wa taala mensifati dua hambanya itu Nabi Ibrahim Alaih Salam ee dengan sifat halim ya dan juga anaknya Ismail dengan sifat halim seperti firman Allah Subhanahu wa taala inna Ibrahima laawwahun halim sesungguhnya Ibrahim adalah awah yaitu senantiasa kembali kepada Allah Halim dan dia Halim. Demikian juga ayat yang lain. Inna Ibrahima halimunahum munib. Sesungguhnya Ibrahim adalah halim. Dan kita tahu Ibrahim disifati dengan Halim karena beliau begitu sabar dengan ujian yang begitu banyak ya di ancam oleh ayahnya untuk dirajam. di mana ayatnya mengatakan arjumaka wjurni wahai Ibrahim kalau kau tidak berhenti ceramah aku akan merajammu dan tinggalkan aku. Ibrahim tidak membantah lagi ayahnya dan dia mampu untuk mungkin membantah dengan kasar dengan keras tapi dia menjawab dengan penuh kelembutan. Dia mengatakan qala salamun alaik. keselamatan bagi engkau ayahanda. Saastagfirulaka akan mohon ampunan kepada Allah untukmu. Jadi sikap keras ayahnya dibalas dengan apa? Kebaikan padahal dia mampu untuk membalas. Demikian juga ketika dia dimusuhi oleh kaumnya sampai mereka bersatu padu untuk membakarnya, untuk membunuhnya. Ya. Ya. Alquuh fil jahim. Ya. Kata mereka, "Ubnu lahu bunyanan." Bangunkan suatu bangunan. Kemudian lemparkan dia dalam api. Jadi dibuat bangunan, dikumpulkan kayu bakar, dibakar sehingga apinya semakin menyala-nyala, bertumpuk-tumpuk. Baru dilemparkan Ibrahim dalam bangunan tersebut yang penuh dengan kayu bakar. Itu pun dia tidak ngamuk. Kemudian berdoa, "Ya Allah, binasakan kaumku karena mereka kurang ajar kepadaku." Sama sekali tidak. Dia tinggal pergi meninggalkan kaumnya. Inni muhajirun ila rabbi. Aku berhijrah menuju Rabbku. Tiib. Jadi begitulah Ibrahim mudah memaafkan bahkan membalas keburukan dengan kebaikan. Disebutkan kalau dia di dikata-katain maka dia berkata Allah yahdik semoga Allah memberi hidayah kepadamu. Dan bagaimana sikap pemaafnya luar biasa ya. Sampai ketika Hajar dicemburui oleh Sarah, dia pun tidak marah kepada Sarah. Dia tidak marah sama Sarah. Ee itulah Ibrahim Alaih Salam yang Allah sifati dengan sifat Halim. Demikian juga putranya eh dalam surat Safat Allah mengatakan, "Fabasyarnahu bighulamin halim." Ya, ketika dia mengatakan, "Rabbi habli minasihin." Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku anak yang saleh. Setelah dia keluar dari negerinya, dia berdoa kepada Allah agar diberikan anak saleh. Maka Allah mengatakan, "Fabasyarnahu bighulamin halim." Maka kami pun beri kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat halim, yaitu sangat sabar. Ya. Kemudian Allah contohkan bagaimana sabarnya Ismail ya. Ketika Ibrahim datang kemudian bertanya kepada putranya, "Inni ar manamiukur?" "Wahai putraku, aku melihat dalam mimpi aku menyembelihmu menurut menurut bagaimana?" Maka Ismail dengan sabarnya mengatakan, "Ya abalaj insyaallahu minirin." Lakukanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu, niscaya kau akan dapat aku termasuk orang yang sabar insyaallah. Siapa yang lebih sabar dari orang yang mau disembelih ayahnya? Tidak ada yang lebih sabar seperti Ismail alaih salam. Dan Ibrahim pun sabar. Siapa yang kuat disuruh menyembelih anaknya satu-satunya? Ya, tentu itu ujian yang berat. Oleh karenanya kedua orang ini sangat sabar, ayah maupun maupun anak. Maka dua-duanya disifati oleh Allah dengan halim. Itu makna halim ya. Beda dengan sabar. Bedanya halim dengan sabar e dengan sabir. Ya, kalau halim itu ee dia mampu untuk lari, dia mampu untuk membalas, tapi dia tidak melakukannya. Kalau sabar belum tentu ada orang sabar karena tidak bisa membalas. Ya, dia sabar, dia tidak bisa membalas, cuma dia sabar menghadapi apa yang dia hadapi. Tidak, tidak ada pilihan baginya. Ya, sabar lebih umum. Kalau Halim dia lebih khusus, yaitu dia mampu untuk membalas, dia mampu untuk ee mungkin ee kabur dari hal tersebut, tapi dia tidak melakukannya. Bahkan dia balas dengan kebaikan. Ini adalah ee alhilm. Adapun al-anat, al-anat yaitu tidak tergesa-gesa. Tidak tergesa-gesa jika menghadapi sesuatu ditimbang-timbang terlebih dahulu ya. Tidak langsung emosional, temperamental begitu ada suatu kejadian langsung tergesa-gesa. Tidak. Al-anat yaitu dia menghadapi segala perkara dengan penuh perhitungan, pelan-pelan, tidak langsung mengambil tergesa-gesa mengambil keputusan, tapi ditimbang-timbang terlebih terlebih dahulu. Ya. Dan kalau orang memiliki sifat al-anat biasanya ee biasanya hasilnya lebih baik ya. Tentunya berbeda dengan kalau ada kesempatan kebaikan yang tidak perlu dipikir dulu dan itu merupakan kebaikan. Enggak usah mikir-mikir. Misalnya sedekah ya sudah kita punya uang kasih. Kecuali ada sedekah yang mungkin lebih diprioritaskan itu perlu dipikir. Tapi secara umum Allah mengatakan wasariu. Bersegeralah dalam kebaikan. Ya, wasariu, bersegeralah, sabiqu, berlombalah, ya. Cepatlah, diluanlah. Fastabiqul khairat. Ya, tapi maksudnya alanat ini pada hal-hal yang memang butuh untuk dipikirkan, direnungkan, maka seorang tidak tergesa-gesa dan itu adalah sifat yang terpuji. Adapun arifiq maksudnya adalah kelembutan, sikap lembut ya, tidak kasar dan tidak ee keras tapi dengan kelembutan. Ini bab menjelaskan tentang tiga akhlak yang mulia. alhilm wal anat war riifaq dan perbedaan alfuruq alughawahi ini disebutkan oleh Abu Hilal al-Asari ya dalam kitabnya al-furuq alughawiyah perbedaan antara satu kata dengan katu yang kata yang lain karena dalam bahasa Arab itu ada kata-kata yang ada sinonim tapi ada perbedaan secara spesifik secara umum maknanya sama tapi ada perbedaan secara spesifik kalau mau diteliti lebih dalamnya seperti sabar dengan helm yaitu mereka berserikat atau sama dalam makna menahan diri. Tapi ternyata helm yaitu ada sifat tambahan yaitu mampu untuk membalas menunda dengan lebih agar berharap lebih maslahat. Ya. Kemudian Al Imam Nawawi rahimahullahu taala membawakan dalil-dalil dari Al-Qur'an maupun sunah. Adapun dari Al-Qur'an beliau membawakan firman Allah Subhanahu wa taala, "Wal kadimalinal walias wallahu yuhibbul muhsinin." Yaitu dalam surat Alimran ayat 134 sebelumnya Allah berfirman, "Wasarifikumin ardamawatu ardil muttaqin." Bersegeralah kalian menuju ampunan Allah dan segera menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Di sini Allah mengatakan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Dalam bahasa Arab disebut jannatin arduha asamawatu wal ard. Dan ard dalam bahasa Arab artinya lebar. Kalau panjang artinya tul ya. Kata sebagian ahli tafsir Allah tidak mengatakan saatuha yang di mana luasnya. Allah tidak menggunakan lafal luas. Allah tidak menggunakan lafal panjang tapi Allah menggunakan lafaz lebar. yaitu surga yang lebarnya seperti langit dan bumi. Maksudnya surga lebih daripada itu. Karena Allah menggunakan lafal apa? Lebar. Kalau lebarnya sudah seperti itu, apalagi apa? Panjangnya. Ardu samawatu wal ard uiddat lil muttaqin. Yang Allah siapkan surga tersebut bagi orang yang bertakwa. Siapa orang bertakwa? Maka Allah sebutkan ciri-cirinya yaitu alladina yunfiquuna far w orang-orang yang senantiasa berinfak dalam kondisi lapang maupun dalam kondisi sulit. Wal kad minal gid orang-orang yang meredam amarah. Walina yang memaafkan orang lain. Wallahu yuhibbul muhsinin. Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Ee di sini Allah mengatakan sifat yang pertama atau dalam ayat ini Imam Nawawi menyebutkan alkad minal ghait. Alkad mininal gha. Alkadimin itu yang meredam. Artinya amarah tersebut sudah bergejolak. Ibarat air sudah di permukaan tinggal luber kemudian ditutup. Itu namanya kadim ya. mencegah sebelum dia luber ditutup. Ibaratnya sudah amarah, sudah mendidih kemudian dia tahan. Dan ini ee menunjukkan ada usaha berat makanya pahalanya besar. Karena dia bisa marah tapi dia tahan. Dia bisa marah namun dia tahan ya. Padahal kemarahan sudah di puncak. Makanya Rasul Sallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Lais laais syadidu." Ya bisurah bukanlah orang yang kuat adalah orang yang menang dalam pergulatan. Inadiduamlik nafs tapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai, mengontrol dirinya ketika dia sedang emosi. Dia sudah emosi, sudah puncak, tapi dia bisa kontrol dirinya sehingga dia tidak bersikap dengan sikap yang ngawur dan dia tidak berkata-kata dengan kata-kata yang ngawur. Ini susah. Kalau kemarahan belum memuncak, orang bisa mengontrol dirinya. Tapi kalau sudah memuncak di sudah benar-benar mau meledak, tapi dia bisa mengontrol diri, ini yang luar luar biasa. Jadi perkataan alkadim itu mengisyaratkan kemarahan sudah di puncak. Ibarat air sudah bentar lagi luber tapi dia ikat dia tahan. Nah orang seperti ini hebat oleh karenanya pahalanya besar. Seperti dalam hadis manahu wahua daahullahu yaumalqiamahtairu. Siapa yang meredam amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah akan panggil dia pada hari kiamat kelak di hadapan khalayak. Terus Allah suruh dia memilih bidad dari mana yang dia sukai. Oleh karenanya amalan ini amalan luar biasa. Karena kalau kita melakukannya sudah di puncak amarah kita tahan ya, maka akan diberikan bidadari. Tapi bukan tinggal terima disuruh milih dulu baru ambil. Ya kalau tinggal terima sih sudah oke juga. Cuma apalagi disuruh apa milih ya berarti bidadari bukan satu model bermodel-model. Kalau satu model ngapain dipilih? Karenanya rupanya ee amal kebajikan banyak, pahala itu banyak, sebab masuk surga banyak. Di antaranya meredam amarah. Dan ini ada maknanya seperti alhilm. Alhilm tadi kita kata apa? Dia meradam amarah. Dia bisa membalas tapi dia tidak balas. Dia tidak dia tidak balas. Ya, makanya saya bilang kalau diterjemahkan dengan ee santun kurang pas. Kalau santun maknanya kim? Sopan santun maksudnya berakhlak mulia, sopan santun, ramah ya mungkin santun. Tapi kalau helm bukan seperti itu. Hilm tadi dia mampu untuk membalas, dia mauemberi hukuman tapi tidak melakukannya dengan harapan yang dihukum tadi bisa berubah. Makanya disifati Allah dengan alhalim karena Allah sebenarnya mampu menghukum hamba-hambanya tapi Allah menunda siapa tahu hambanya sabar. Eh sadar dan bertobat. Itu namanya alhilm. Tib wal minal git. Kemudian walinainas dan orang-orang yang memaafkan orang lain. Dan ini juga sulit juga ya bukan sekedar meredam amarah tetapi memaafkan. Dan saya kita sudah pernah sampaikan ibadah yang sangat berat adalah ibadah memaafkan. Karena kita tidak bisa melakukan ibadah tersebut kecuali kalau kita dizalimi. Kecuali kalau kita di dizalimi. Kalau kita tidak dizalimi maka kita tidak memaafkan. Dizalimi maksudnya apa? Mungkin harta kita diambil, mungkin kita dipukul orang, mungkin kita dihina orang, mungkin dituduh yang tidak-tid. Ya, ini dizalimi. Dizalimi, tetapi kita memaafkan. Dan ini sangat sangat berat. Makanya di akhir ayat Allah mengatakan, "Wallahu yuhibbul muhsinin." Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Itu derajat yang tinggi. Sebagian pernah kita sampaikan derajat iman. Islam. Iman baru apa? Ihsan. Islam itu terkait dengan amalan zahir. Iman terkait dengan amalan hati. Kalau ihsan lebih tinggi lagi engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika kau tidak mampu, yakinlah Allah melihatmu. Saya bacakan perkataan Ibnu Katsir tentang ayat ini. Walkadi minal ghaz kata Ibnu Katsir, "La yamaluna gadahum la ymilunaahum finas." Mereka tidak melampiaskan kemarahan mereka kepada manusia. Balakuna syarahum. Tapi bahkan mereka mencegah ya tidak keburukan mereka ya mereka orang berbudur sama dia dia cegah dan dia tahan wahtasibunalikaallahi azza waalla dan dia ihtisab dia berharap pahala dari Allah. Jadi kalau caranya bagaimana kita bisa meredam amarah harus ihtisab berharap di berharap pahala. Kalau kita enggak berharap pahala susah kita pasti ingin lampiaskan. Kita manusia kalau di disakiti kita pengin balas. Bahkan bukan cuma pengin balas bahkan pengin dobel balasnya ya. Dan caranya bagaimana kita supaya tidak membalas kita ihtisab cari pahala. Kata Ibnu Katsirmaq taala. Kemudian Allah berfirman walinainas dan orang yang memaafkan orang lain aakri ya amamahum. Selain tidak memberi keburukan kepada orang yang menyakitinya bahkan memaafkan. Jadi derajat walinas di atas alkadibin. Kalau kadimin itu kita pengin balas, kita pengin kasih keburukan sama mereka tapi kita tahan. Jangan. Lebih daripada itu bukan sekedar menahan keburukan dari kepada mereka untuk mereka bahkan memaafkan ya maafkan orang-orang yang menzalimi mereka. Fala yabqo fi anfusihim maujidah ala ahad. Maka tidak ada kejengkelan dalam diri mereka. Dia enggak jengkel. Sudah maaf. Maafin. Kalau orang maafin itu enggak jengkel. Saya maafkan. Ya sudah takdir qadarullah dengan berbagai macam kita renung perenungan ini pahala mungkin saya banyak dosa ya makanya Allah membuat dia menzalimi saya ya ini ngurang-ngurangi dosa ya saya berharap dapat pahala saya maafkan semoga Allah maafkan saya mikir banyak sehingga dia tidak menemukan kedongkolan kejengkelan dalam dirinya kata Ibnu Katsir fala yabq fi anfusi majidah maka tidak ada kemarahan dalam diri mereka ala ahad kepada seorang pun w akmalul ahwal dan ini kondisi yang paling sempurna Nah, walihadza qala. Oleh karena di akhir ayat Allah berfirman, wallahu yuhibbul muhsinin. Sesungguhnya Allah mencintai orang berbuat ihsan. Fahad min maqamatil ihsan. Dan ini di antara kondisi-kondisi ihsan. Kalau kita tahu kita sudah sampai derajat ihsan atau tidak, lihat apakah kita jengkel sama orangorang yang menzalimi kita. Kalau ternyata kita bisa mengalahkan itu semua, kita bilang ini sudah takdir, mungkin saya banyak dosa, ngurang-ngurangi dosa saya, saya maafkan dia, maka Allah akan memaafkan saya. Semakin kuat kezalimannya kepada saya, saya maafkan maka semakin besar dosa diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala. Kita renungkan, siapa sih orang-orang yang kita jengkeli? Coba kita renungkan. Berapa orang yang kita jengkel dalam hidup ini yang kita berharap dia cepat mati? Harus kita maafin, maafin, maafin. Itu maksudnya orang kaum muslimin. Kita maafkan, maafkan, maafkan, maafkan. Sehingga kata Ibnu Katsir, fala yabqo fi anfusi maujidah. Sehingga tidak ada dalam dirinya kejengkelan sama siapapun. Enggak ada. Karena semua sudah dia maafkan. Orang seperti ini mencapai derajat yang yang tinggi. Oleh karenanya masalah Islam, iman, ihsan ya kita sudah paham itu masalah teori paham. Tapi ee baru ketahuan kalau kita menghadapi suatu kondisi, kita bisa tahu bagaimana derajat iman kita. Ternyata kita mudah emosi, mudah membalas, berarti kita belum sampai derajat ihsan. Baru ihsan secara teori, ya. Baru ihsan mungkin secara penampilan, ya. Baru ihsan secara kalau share-share nasihat ihsan. Tapi praktik belum. Belum. Maka siapa yang bisa meredam amarah kemudian tidak ee tidak mendendam kepada orang yang menyakitinya, maka itu barometer mudah-mudahan dia termasuk orang yang ihsan. Kemudian al Imam Ibnu Katsir ee al Imam Nawawi rahimahullah membawakan ayat berikutnya. Waqala taala khudil afwa wamur bil urfi wa a'il jahilin. Ambillah al-afwa. Allah tidak mengatakan khuzil afwa itu artinya memaafkan. Eh khuzil afwa kata Syekh Utsimin menjelaskan bukan maksudnya maafkanlah bukan juga dikatakan ifalil afwa ya lakukanlah pemaafan atau ufu enggak tapi kata Allah khudil afwa sini ada perkataan saya pengin nukil dari Syekh Sydi rahimahullahu taala terkait ayat ini. Ini ini ayat yang paling indah ee tentang akhlak yang mulia ya. Saya bacakan hadil ayah jamiatun lusnil khulq maas w yambagi fi muamalatihimadzi yambagi yamalu bihinasul ini ayat adalah ayat yang komprehensif tentang sikap yang terbaik terhadap orang lain. Kalau kita pengin tahu apa sih akhlak yang terbaik bagi orang lain? Ayat ini, khuzil afwa waur bil urfi wail jahilin. Ambil sikap afu, seru kepada kebaikan dan berpaling orang-orang yang jahil, orang yang bodoh. Ayat ini menjelaskan bagaimana sikap yang harusnya kita lakukan kepada orang lain. Yaitu ambillah afwa. Afwa itu yang yang mudah bagi mereka. Maknanya ambillah sikap yang mudah dari mereka. A mahat bihi anfusuhum w sahula alaihim minal wal ak. Terima terima apa sikap mereka terhadap kita. Fala yukallifum ma tasmahu bihi thaum. Jangan bebani mereka dengan yang mereka mau. Maksudnya jangan terlalu ekspektasi kepada masyarakat. Ekspektasi tinggi jangan. Kita bersikap ya sebisanya mereka sisanya yang mereka tidak mau kita maafin. Misalnya ada seorang datang ke spektasi terlalu tinggi kepada orang kaya dia punya proyek agama misalnya dia pengin bangun po dia bilang ini orang kaya banget Pak. Ini ada gini gini gini gini biayanya R miliar. Gimana? Gimana Pak? Bisa bantu berapa? Rp50 juta aja ya. Oh iya gak apa-apa. Diharap dikasih R miliar 20 miliar. Ternyata cuma berapa? Sudah gak apa-apa. Jangan bilang Bapak ini uang banyak kok begitu. Jangan. Gak perlu. Enggak perlu. Ya apa kita yang yang mereka bisa ya sudah enggak bisa ya sudah jangan dipaksa. Kalau itu di bawah naungan kita, istri kita, anak kita, kita nasihati agar mereka lebih baik. Tapi kita orang lain jangan paksa. Kita ekspektasi sama tetangga. Maunya tetangga itu kalau beli durian bagi-bagi sama kita. Ternyata dia beli durian dia makan mak sendiri. Kalau pas beli gorengan dia kirim ke kita. Ya udah alhamdulillah dia masih kirim gorengan. Maksud kita jangan maksa. Jangan ekspektasi tinggi. Enggak usah. Dalam berkawan pun demikian. Khudil afwa. Kita pengin teman kita selalu membela kita setiap saat. Ada saat dia berlepas diri kabur cabut lah lagi sulit dia malah kabur. Sudahlah selama ini dia bantu kita. Ada kondisi tidak mampu ya sudah jangan di dipaksa. Khudil afwa. Terimalah yang yang mereka bisa lakukan. Jangan paksa lebih daripada itu. Yang sisanya kau maafkan. Misalnya kau kau maafkan. Ya itu namanya khuzil afwa. Karena tidak semua orang tidak semua orang sesuai dengan ekspektasi kita. Sebagaimana orang juga tidak mereka ekspektasi terhadap kita juga ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Di antara akhlak yang terbaik, khil af jangan maksa. Sedikit ini ngambek-sek ngambek. Aduh hidup ngambek melulu, baper melulu. Jangan bapar-bapar. Sudah ingat Nabi Musa alaihi salam dan Nabi Khadir kata Allahta ahla qtin ahlahajadaha jidar. Tatkala Nabi Khadir dan Nabi Musa kelaparan, kemudian mereka datang ke suatu negeri, suatu kampung ya kemudian mereka minta untuk dijamu istatama ahlaha. Mereka minta dapat jamuan makan. Kata Allah, "Faabau ayudifuma." Mereka semua enggan menjamu Nabi Musa dan Khidir. Bahkan seb tafsir mengatakan berarti mereka yang ketuk pintu satu persatu. Ketuk enggak, enggak ada ketuk enggak ada gitu. Sebal nabi bukan ustaz ya. Nabi Khadir tidak berkata ya ini Musa ini Musa belum tahu kalimullah Musa saya Khadir temannya enggak enggak udah enggak dikasih makan sudah pulang selesai jadi tidak semua maksudnya tidak semua kita harus orang harus wau sama kita enggak yang bisa lakukan ya sudah kalau enggak bisa kita maafkan dengan begitu hidup kita nyaman kita tidak membani orang di luar kemampuan dia. Orang bertahap tidak langsung baru kenal langsung kita suruh macam-macam. Kalau enggak kita nongkrong situ kita merengek-merengek dia, kita kecewa macam-macam. Engak usah dengan begitu kalau kita misalnya kawan eh ente kawan ee terus kita tanya eh ente gimana kerjanya? Dia sudah kayak enggak enak mau cer jangan dipaksa lagi. Eh kita kan kawan. Ente kerjanya apa? Dapat duit dari mana? Jangan dipaksa. Dia mungkin tidak mau cerita. Jangan kau paksa. Kamu kok enggak cerita? Kamu sudah tu dari mana? Riba tahu enggak? Ini dari ruang riba. Akhirnya dia marah ya. Jadi begitu dalam kehidupan kita jangan maksa orang lebih daripada yang mereka mampu. Kalau itu di bawah naungan kita, istri kita, anak kita, kita nasihati. Kamu jangan gitu, Nak. Tapi kalau bukan bukan naungan kita, ya kakak kita, adik kita, ya. Ya sudahlah. Apa yang bisa mereka lakukan terima, yang tidak mereka lakukan kita maafkan. Itu namanya khudil afah. Maka ini sebenarnya ayat yang paling indah tentang bagaimana bermuamalah yau min ahadin maqahu bihi min jamil huaikajafahuqsihim kata eh yaitu justru kalau mereka lakukan apa yang bisa mereka lakukan kebaikan meskipun sedikit terima kasih berterima kasih kepada kepadanya mungkin ada kata-kata baik perkataan baik, perbuatan baik, ya atau lebih kurang daripada itu dan memaafkan yang sikap mereka yang kurang dan menundukkan pandangan tidak perlu terlalu ya ya sudah dia ya sudah kita pura-pura enggak lihat kalau mereka punya kesalahan ya. Eh kemudian waur bil urfi yaitu menyuruh orang untuk berbuat kebaikan. Kata saya lanjutkan sini. Kemudian berkata wakbar jangan merasa sombong terhadap seorang yang kecil karena masih kecil ya. Wis aqlqsi. Jangan menyepelekan orang yang kurang akalnya gara-gara dia kurang akal. Ya udahlah dia mampunya segitu ya. Walal faqir lifqri. Jangan meremehkan seorang yang fakir karena kefakirannya. Bal yuamilul jamiutfi wal muqabalah bimaqil watarahuuruhum. Tapi dia bermuamalah dengan mereka semuanya dengan kelembutan, dengan bersikap yang sesuai dengan kondisi yang buat dada mereka nyaman. Gimana caranya? Jadi jangan jangan maksakan. Jangan maksakan. Sampai saya sering sampaikan pokoknya teman teman itu baik ya. Ada teman yang masyaallah dia selalu bersama kita dalam segala kondisi. Ada teman dalam kondisi sulit dia kabur. Ada enggak? Banyak kan dalam kondisi kabur. Kita harus memberi uzur. Mungkin dia tidak sama kita karena ada suatu yang berat tidak bisa dia jalankan. Mungkin dia kepentok sama sesuatu yang tidak bisa dia lakukan. Ya sudahlah. Jangan lupakan kebaikan yang dulu. Akhirnya kita bilang saat sulit kau malah tinggalkan saya kemudian kita musuhan. Enggak, itu namanya khuzil afwa. Maka orang akan nyaman seperti itu. Kemudian wa aid anil jahilin. Dan berpalinglah di orang-orang yang yang jahil. Kata Syekh Muhammad bin Sal Utsimin rahimahullahu taala. Ya, yang dimaksud dengan jahil di sini ya bukanlah orang yang la yaamul hukum. Bukan orang yang tidak tahu hukum, tetapi aljal musafih yaitu orang yang bodoh ya fi tasarruf tidak tahu bagaimana bersikap sikapnya. Bukan dia orang bodoh. Dia ngerti hukum cuma dia sikapnya ngacau. Ya, dia sikapnya apa? ngacau. Ada orang seperti gitu ya sudah ini orang jahil ee tasarufnya atau sikapnya itu enggak enggak enggak enggak benar. Ya udah berpaling. Jangan dilawan dengan keburukan, jangan dibantah, ya jangan disikapi. Ya udah berpaling aja lebih aman dia. Dia tahu salah kita kemudian kita ladeni, kita bantah dia tambah menjadi-jadi. Dia tambah menjadi-jadi. Ya. Kata Syekh Utsimin, "Fal jahiluna huna humus sufaha alladina yajhaluna hukal ghair." Ya, orang-orang bodoh di sini maksudnya orang-orang pandir yang tidak yang tidak mengetahui hak-hak orang lain. WFuna fiha atau tidak menunaikan hak orang lain dengan baik. Faithum wali bihim. Maka berpalingnya jangan pedulikan mereka. Ya, kalau engkau berpaling, mudah-mudahan mereka membaik. Mudah-mudahan mereka sadar. Paling tidak kau terjauhkan dari keburukan mereka. Tapi kalau kau ladeni bisa jadi semakin menjadi-jadi. Tib. Kemudian di tengahnya tadi kata Allah, wur bil urfi. Serulah kepada kebaikan. Itu manusia seperti itu. Bersikap dengan orang lain yang mudah dari mereka, yang tidak bisa mereka lakukan maafkan. Seruhlah kepada kebaikan. Ada orang yang ngeyel bikin kita keburukan, berpaling darinya. Selesai. Hidup hidup jadi nyaman. Hidup jadi nyaman. Kalau ada yang jahil, kita ladeni. Wah, ada orang gila kita ladeni, kita ikut gila. Repot. Ada orang temperamen kita ikuti, kita ikut temperamen. Ngapain habisin waktu ngurusin dia? Apalagi sudah debat di medsos, debat sama orang dimaki-maki. Debat, debat, debat, debat, debat. Gak tahu yang dihadapi siapa. Ternyata anak kecil depan-deban atau ternyata bencong. Sai bencong kan baper habis ngapain di orang arit anil jahilin buang-buang waktu tidak semua mau kita ladeni ya dan ketika kita tidak meladeni kita berpaling. Kita sedang beramal saleh. Sedang beramal saleh. Makanya orang bilang apa yang yang yang waras apa yang waras apa ngalah. Ngalah ya. Yang waras ngalah itu pepatah bagus apa yang ngaras apa yang waras apa ngalah yang yang ngalah ra waras ayat berikutnya kata Allah wala tastawil hasanatu wiah idfa billati hiya ahsan dan tidak sama antara kebaikan dengan keburukan balaslah dengan yang terbaik bainakainahuatun Maka tiba-tiba orang yang antara engkau dengan dia permusuhan tiba-tiba seperti dia menjadi sahabat yang dekat. Dan tidaklah bisa melakukan ini. Diberi taufik oleh Allah untuk bisa melakukan itu. Membalas keburukan dengan kebaikan kecuali orang yang sabar. W yulaqohaim. Dan tidak diberi taufik untuk bisa melakukannya kecuali dia telah mendapatkan bagian yang besar. ini lebih tinggi lagi tingkatannya. Jadi, Imam Nawawi menyebutkan secara urutan pertama meredam amarah, yang kedua mema maafkan. Ini lebih lebih super lagi membalas keburukan dengan apa? Kebaikan. Ini sulit ya. Dimaki-maki jazakallah khairan. Masih berbuat baik, makim-mi kasih hadiah. Jazakal khair. Makasih kasih ini berat ya. Tetapi Allah mengatakan tidak sama kebaikan dengan keburukan. Idfa billati ahsan. Dalam ayat ahiah balaslah keburukan. Dalam ayat yang lain balas keburukan dengan kebaikan yang terbaik. Allah mengatakan Allah tidak mengatakan idfa eh bil hasan ya. Tetapi Allah mengatakan idfa billati hiya ahsan. Balaslah dengan yang terbaik. Maka membuat kita harus merenung ketika ada orang berbuat baik sama kita. Bagaimana saya balas dia dengan yang terbaik? Kalau kita melakukannya, Allah janji. Faidalladzi bainaka wa bainahu adawatun. Orang yang tadinya musik engkau kaahu waliyun hamim. Tiba-tiba dia seperti menjadi teman yang dekat. Dia bisa berubah ketika kita balas keburukan dengan apa? Kebaikan. Tapi siapa yang bisa melakukannya? Ibarat kita dimaki-maki orang sambil tanya, "Ustaz, boleh enggak kita doain biar dia mati?" Ustaz janganlah doa aja dalam sujudmu ya Allah ampuni dia. Berilah hidayah kepadanya. Berat ustaz. Penginnya dia mati ustaz. Jangan. Pertama kau doain dia mati dia belum tentu mati. Nanti tambah jengkel lagi. Ya sudah balas dengan kebaikan. Doain semoga dapat hidayah. Ya kalau perlu kasih hadiah. Kasih apa hadiah. Tapi siapa yang bisa melakukannya? Membalas keburukan dengan kebaikan yang terbaik. Makanya Allah mengatakan wama yulaqoha illalladzina sharu. Tidak ada yang bisa melakukannya. diberi taufik untuk melakukannya, untuk menerimanya kecuali orang yang sabar. Tetapi kalau dia bisa melokokkannya, kata Allah w yulaqohaim, kalau dia bisa melakukannya berarti telah mendapatkan ganjaran yang sangat besar. Ganjaran yang agung. Dia mendapat bagian yang agung yaitu mendapatkan anugerah akhlak yang luar biasa, perang yang luar biasa, ganjaran yang luar biasa. Makanya dalam hadis kata rasul sahu al wasallam ahadunir minar wa minar. Tidaklah seorang diberi anugerah oleh Allah yang lebih baik dan lebih luas daripada sabar. Ini bukan sekedar sabar malah malah dia membalas keburukan dengan dengan kebaikan. Kemudian ayat yang terakhir ee yang dibawakan oleh Al Imam Nawawi rahimahullahu taala. Kata Allah, "Walan shaara wfar inalika min azmil umur." Maka siapa yang sabar dan memaafkan maka itu termasuk dari perkara-perkara yang ee azmil umur, yaitu perkara-perkara yang ditekankan oleh Allah subhanahu wa taala. Saya bacakan ee perkataan'di. S'di ini tafsir yang sederhana. Tapi saya suka baca karena dia sering menyembulkan perkataan ahli tafsir sehingga apa yang dia tulis padat makna. Padat makna. Beliau berkata, "Walan walaman sharo." Yaitu dan sungguh orang yang bersabar al ma yanaluhu minal khalq. Sabar atas gangguan manusia. Diganggu hartanya, diganggu harga dirinya, diganggu fisiknya. Dia bersabar. Wofar. Bukan cuma bersabar, dia maafkan. Maafkan mereka. Ini berat ya. Di mana dia memaafkan mereka atas apa yang mereka lakukan. Ini adalah perkara-perkara yang Allah motivasi dan Allah tekankan. Jadi ini perkara di antara Allah tekankan adalah memaafkan, sabar dan maafkan. Ini perkara yang ditekankan. Kalau Allah tekankan berarti perkara besar. Makanya Allah mengatakan apa? Azmil umur. Perkara yang ditekankan dimotivasi oleh Allah Subhanahu wa taala. Tidaklah Allah memotivasi sesuatu dengan penekanan kecuali perkara itu sangat luar biasa. Ya sampai Allah mengatakan min azmil umur. Tidak semua perkara Allah katakan demikian. Kemudian Allah mengabarkan wa akbarahu yulaq ahlimah. Dan tidak ada yang bisa diberi taufik melakukannya kecuali orang-orang yang sabar dan mendapatkan bagian yang besar. Tafsiran kedua, waminal umurillati yuwafaq laha la yuwafaqu laha illa ulul azmi alil azaim wal himam wul albabi wal bashair. Dan termasuk perkara-perkara yang tidak bisa dilakukan kecuali orang-orang yang memiliki tekad yang kuat dan memiliki himam cita-cita yang tinggi. Yaitu bingin akhirat baru bisa melakukan ini. Kalau enggak enggak bisa. Wazaul albab yang cerdas. Orang cerdas dia tahu saya memaafkan, saya yang beruntung. Pahala besar, hidup di dunia nyaman. Dia gunakan otaknya. Ngapain saya emosi? Ngapain saya balas? Dia harus ihtisab, cari pahala. Kalau enggak susah. Kalau dia enggak cerdas, enggak bisa. Ngapain saya marah-marah? Marah-marah. Belum tentu saya bisa membalasnya. Dia tambah ngamuk. Hidup saya juga enggak tentram. Mikirin dia meluluk. Pahala enggak ada. Bisa jadi emosi, bisa jadi malah berdosa. Makanya yang bisa melakukannya hanya orang yang milik tekad yang kuat, memiliki cita-cita yang tinggi, dan orang-orang yang cerdas dan punya ilmu wal bashair. Kemudian beliau berkata, faal inis minqai alaiha. Sesungguhnya tidak membela jiwa dengan perkataan perbuatan termasuk perkara yang paling berat bagi jiwa. Kalau jiwa kita diusik, kita pengin balas. Tapi kita tidak membela diri kita itu perkara yang sangat berat. Wasru alal wasu wfiratuhuatu ahsan as wa as. Jadi tidak membela jiwa karena dimaki-maki, dizalimi itu berat. Lebih lebih berat daripada ini memaafkan dan membalas dengan yang baik. Ini lebih berat lagi. Walakin yasirun alaman yasarahullahu alaih. Namun ini mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Wajahada nafsaha. Dan dia berusaha agar bisa memiliki sifat tersebut dan minta tolong kepada Allah. Maksudnya Syekh ingin mengatakan ini memang susah tapi kalau kau berjuang untuk bisa seperti ini latihan maka bisa minta tolong kepada Allah. Makanya Rasul wasallam mengatakan waman yatasabbar yusabbirhullah. Siapa yang berusaha untuk sabar dia akan dijadikan sabar oleh Allah. Kalau kau sendiri enggak bisa, harus minta tolong. Makanya Allah mengatakan ee wasbir wobruka illa billah. Bersabarlah. Kau tidak bisa sabar kecuali dengan pertolongan Allah. Billah. Gak mungkin kau sabar kecuali dengan pertolongan Allah. Maka untuk itu latihan sekarang kita lihatin kecil-kecil perkara-perkara sepele diganggu tetangga sabar kirim kue malah mulai latihan. Diomelin istri sabar belikan cincin bisa enggak? Enggak, enggak bisa ya. Awal sudah menyerah dari awal. Latihan. Latihan. Kalau enggak latihan enggak bakalan bisa. Latih sabar dan balas dengan apa? Kebaikan. Latihan. Ada orang ganggu kita, sabar, kita balas dengan apa? Kebaikan. Bukan cari muka, bukan pencitraan, bukan. Jangan. Rugi, tapi karena Allah Subhanahu wa taala. Memang ini sangat berat, tetapi mudah bagi yang dimudahkan oleh Allah dan berjuang untuk bersifat dengan sifat tersebut dan minta tolong kepada Allah. Kemudian beliau berkata, "Tumma qalduahu waajadai." Kata beliau, "Apa dampaknya?" Kalau ternyata dia sudah berhasil memiliki sifat tersebut, maka sang hamba akan merasakan indahnya, manisnya iman. Dia akan rasakannya iman. Ternyata tuh nikmat seperti itu. Dan dia akan mendapatkan dampaknya, dampak dalam kehidupannya, ketenangannya. Dan dia akan menerimanya dengan lapang dada, dengan akhlak yang mulia. Wataladz fihi. Dan dia akan berlezat-lezat dengan seperti itu. Ini tingkatan wali berat. Tapi yang mau melakukan silakan. Kalau enggak latihan enggak bakalan apa bisa. Kata Allah walamar wfar. Siapa yang bersabar dan memaafkan inalika lamin azmil umur. Sungguh ini perkara yang sangat ditekankan oleh Allah Subhanahu wa taala. Tayib. E setelah itu ya Al Imam Nawi rahimahullah taala membawakan hadis-hadis ya. Hadis pertama yang dibawakan oleh beliau w ibni Abbasin radhiallahu anhuma. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma qala qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda. Inna fika khlatain yuhibbahumullah. Sesungguhnya pada dirimu ada dua perkara yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala. Wahai Asyaj Abdul Qais. Ya, namanya Asyaj Abdul Qais. Rasulullah terpesona dengan dia dan Rasul Sallahu Alaihi Wasallam berkata, "Ya sesungguhnya Allah mencintai dua perang yang ada pada dirimu." Ada apa itu? Alhilmu wal anat. Sifatm yang tadi saya katakan tidak segera membalas. Ya. Dan al-anat yaitu tidak tergesa-gesa. Saya bacakan hadisnya secara ee lengkap ya. Alamma qodimnal madinata. Ya, tatkala kami datang kota Madinah ini mereka baru pertama datang ketemu Nabi. Jadi, Asyad Abdul Qais dengan teman-temannya. Maka kami sampai kami langsung pergi meninggalkan unta-unta kami menuju Nabi sallallahu alaihi wasallam. Fanuqbilu yad Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kami pun mencium tangan Nabi. Rindu ketemu Nabi. Jadi datang langsung taruh unta langsung menuju Nabi. Wantaral munzir asas hatta ata ibatahu falabisa tsubaihi tumma at Nabi sallallahu alaihi wasallam faqala lahu. Ada satu orang yaitu Asyas ini Asyaj. Dia tidak segera ikut teman-temannya menuju Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya. Tetapi ya dia pelan-pelan ya dia datang ke tempatnya ya dia tidak segera menuju Nabi sallallahu alaihi wasallam ya maka dia pergi aibatahu yaitu dia pergi ke semacam tasnya ya kemudian dia ambil bajunya falabisa tsubaihi kemudian dia pakai dua baju baru ini baru mau ketemu Nabi. Dia mungkin ganti baju atau pakai baju yang luar yang indah dan disebut dalam riwayat berwarna putih kemudian datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi Nabi Subhanallah, Nabi perhatian ini ramai-ramai semua orang kok tinggal satu di situ, ngapain? Ternyata dia pelan-pelan dia ikat dulu mungkin untanya, dia ambil tasnya, dia ganti bajunya baru jalan kepada Nabi. Maka Nabi langsung puji yang lain buru-buru kau enggak? Ini e kisahnya kenapa Nabi ngomong kepada dia seperti itu? Kadang pada bulu dia enggak. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan inna fika khin atau khin yuhibbahumallah. Sesungguhnya pada dirimu ada dua perang yang luar biasa yang Allah cintai. Alhilm wal anat. Yaitu kau tidak alhilm mungkin Allah wahyukan kepada Nabi tentang sifat helmnya. Tapi di antaranya anat. Kau tidak tergesa-gesa itu dilihat langsung oleh Nabi. Yang lain pada buru-buru. Tidak sempat pakai baju yang bagus dia enggak. Dia ikat dulu. Karena begitu sahabat datang langsung lepak tinggalkan unta-unta mereka menuju dia tidak. Dia ikat dulu, dia ambil tasnya, dia pakai bajunya berjalan meskipun dia paling belakangan. Maka dia bertanya, "Eh, khuluqa taktu bihima?" Ya Rasulullah, ini dua akhlak yang aku berusaha mendapatkan akhlak ini sendiri. Amulu jubilat jubil alaihima. Ataukah ini adalah akhlak yang aku dari sananya Allah kasihkan aku dua akhlak ini. Maka rasul sahu alaihi wasallam berkata, "Bal khuluqaini jubilta alaihima." Justru ini dua perangai yang memang Allah telah menjadikan engau seperti itu dari sananya. Ya, jadi kodratmu memiliki dua akhlak ini. Secara fitrah Allah sudah kasih kau fail dua akhlak ini. Ini kau tidak usah bikin-bikin pun kau sudah berakhlak dengan akhlak tersebut karena Allah yang kasih. Faqala. Maka dipuji Allah, alhamdulillahilladzi jabalani ala khuluqaini yuhibbuhumallah waasuluh. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan aku berakhlak dengan dua akhlak ini yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya. Bab demikian saja kajian kita. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.