Transcript
UPXeAt-y2bI • Umur Mubazir - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2647_UPXeAt-y2bI.txt
Kind: captions
Language: id
Innalhamdalillah nahmaduhu wainuhu
wafiruhu watubu ilaih wa naud
nazubillahi min syururi anfusinaati
aalina may yahdihillahu fala mudhillalah
w yudlil fala hadiyaalah asadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa
ashadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluhu la nabiya
Huda Muhammadinallahu alaihi wasallam
umat
bidah bidah
finar maasir musliminahqal
muttaquun. Sungguhnya di antara nikmat
yang sangat agung yang Allah berikan
kepada kita adalah nikmat waktu. Dengan
waktu kita bisa gunakan untuk beribadah
kepada Allah Subhanahu wa taala.
Memperbanyak bekal kita untuk bertemu
dengan Allah subhanahu wa taala di hari
yang abadi kelak. Oleh karenanya Allah
subhanahu wa taala banyak bersumpah
dengan waktu. Di antaranya Allah
berfirman, "Wal asr." Demi asr. Demi
masa. Ada yang menafsirkan demi waktu
asr. Demikian Allah berfirman, wallaili
demi malam w nahari demi siang. Allah
juga berfirman, wal fajar wayalin asar.
Demi fajar demi 10 hari. Ada yang
mengartikan 10 malam di hari terakhir
bulan Ramadan. Ada yang mengatakan 10
hari di awal bulan Zulhijah.
Wasyafi'i wal Watar. Demi yang genap dan
demi yang ganjil. Ada yang menafsirkan
demi genap maksudnya hari nahar tanggal
10 Zulhijah. Kemudian wal watar demi
ganjil maksudnya tanggal 9 Zulhijah.
Lihatlah Allah bersumpah dengan waktu
karena agungnya waktu tersebut. Sebagian
ulama mengatakan tidak Allah bersumpah
dengan waktu karena waktu-waktu tersebut
adalah untuk digunakan beribadah kepada
Allah subhanahu wa taala. Wal asr. Demi
asr. Kenapa ada salat asar yang sangat
agung yang Allah mengatakan hafidu al
shawati wasatil w. Jagalah salat
terutama salat yang tengah yaitu salat
asar. Wal fajar. Kenapa alfajr? Karena
ada salat fajar. Inna quranal fajri kana
masyhuda. Karena salat fajar dihadiri
oleh para malaikat. Allah juga
berfirman, wadduha. Demi waktu dhha.
Karena di sana ada waktu dhha. Kata
Allah Subhanahu wa taala, wahualladzi
jaal lailahar khilfatan liman aradakaro
ar syukur. Dialah yang menjadikan siang
dan malam silih berganti. Buat siapa?
arakar
bagi orang yang ingin mengambil
pelajaran ar syukur atau untuk bersyukur
kepada Allah subhanahu wa taala. Ibnu
alkatsir rahimahullahu taala dalam
tafsirnya mengatakan, kata Ibnu Katsir
rahimahullahu taala, Allah menjadikan
siang malam sili berganti untuk
waktu-waktu ibadah kalian. Maka siapa
yang tidak sempat ibadah di malam hari
hendaknya disempat sempatkan ibadah di
siang hari. Dan siapa yang kurang
ibadahnya di siang hari, hendaknya dia
sempatkan ibadah di malam hari.
Maasyiral muslimin, sungguhnya waktu
hari-hari adalah umur kita. Oleh
karenanya ini hakikat yang sering kita
lupakan bahwasanya setiap
waktu yang kita lewati adalah umur kita.
Oleh karenanya Hasan Albasri berkata,
"Ya bna Adam, innama anta ayyam." Wahai
anak Adam, sesungguhnya engkau adalah
kumpulan hari-hari. Bukankah hari adalah
kumpulan jam, jam kumpulan menit, menit
kumpulan detik. Sehingga setiap detik
yang kita lewati adalah bagian dari umur
kita. Kata Al Basri, "Ya bna Adam inama
anta ayyam." Wahai anak Adam,
sesungguhnya engkau adalah kumpulan
hari-hari. Fahaba baambauk.
Jika telah pergi sebagian hari darimu,
telah lewat sebagian hari darimu, maka
sungguh telah pergi sebagian dirimu.
Waahabauka
yusikabuk.
Jika telah pergi sebagian darimu,
dikhawatirkan kau akan pergi seluruhnya,
itu kau akan meninggal dunia. Oleh
karenanya para salaf dahulu menyadari
tentang urgensinya waktu sehingga mereka
sangat pelit dengan waktu. Kata Nasal
Basri rahimahullahu taala, adraktu
aqwamanqim
asadirsinkumikum.
Sesungguhnya aku telah mendapati suatu
kaum yaitu para tabiin dan para sahabat.
Mereka lebih semangat atas waktu mereka
daripada semangatnya kalian terhadap
dinar-dinar dan dirham-dirham emas dan
perak. Yaitu mereka lebih pelit terhadap
waktu mereka daripada pelitnya kalian
terhadap emas dan perak. Karena mereka
tahu setiap waktu adalah saatnya
kesempatan untuk mendekatkan diri kepada
Allah Subhanahu wa taala. Maasyiral
muslimin. Oleh karenanya Rasul Sallahu
Alaihi Wasallam mengingatkan bahwasanya
waktu adalah nikmat. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam,
minas, "Dua nikmat yang orang banyak
terpedaya, terpedaya, tertipu, tidak
dimanfaatkan sebagaimana mestinya." Apa
dua nikmat tersebut? Ashat wal faraq,
yaitu kesehatan dan waktu luang.
Harusnya bisa dimanfaatkan, dia
optimalkan untuk beribadah kepada Allah.
Namun ternyata dia buang-buang. Dan kita
tahu bahwasanya kalau tidak ada waktu,
tidak ada umur, maka kita tidak bisa
beribadah kepada Allah Subhanahu wa
taala.
Karenanya waktu adalah bagian dari umur
kita dan kita akan ditanya oleh Allah
Subhanahu wa taala tentang umur kita.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
lanzama abdin yaumalqiamati.
Sungguh dua kaki seorang hamba tidak
akan bergeser pada hari kiamat kelak.
Tidak bergeser menuju surga atau menuju
neraka kecuali dia ditanya dulu tentang
empat perkara. Di antaranya umri f afnah
tentang umurnya ke mana dia habiskan.
Dan Allah berfirman, tummausalun
yaumaidin naim. Sungguh kalian
benar-benar akan ditanya tentang nikmat
yang Allah berikan kepada kalian. Di
antara nikmat tersebut adalah nikmat
waktu. Maasyiral muslimin.
Oleh karenanya kita renungkan diri kita
sekarang. Apakah kita sudah menghargai
umur kita sehingga kita gunakan untuk
hal-hal kebaikan ataukah kita tidak
menghargai umur kita sehingga kita buang
untuk menonton yang tidak-tidak.
Kita menonton kemaksiatan, kita menonton
hal yang tidak berguna. Waktu kita kita
gunakan untuk perbincangan hal-hal yang
tidak bermanfaat, yang tidak menambah
manfaat kita di akhirat kelak. Bahkan
semakin menjauhkan kita dari Allah
Subhanahu wa taala.
Ibnu Mas'ud radhiallahu taala anhu
pernah berkata,
nadam ala yauminatamsuhu
naqjaliam
fiali. Tidak pernah aku menyesal dengan
penyesalan seperti penyesalanku terhadap
hari yang matahari terbenam, yaitu lewat
hari tersebut ajalku pasti berkurang
sementara amalku tidak bertambah. Maka
seorang harusnya sadar semakin bertambah
usia berarti umurnya semakin habis,
berarti waktunya semakin sedikit,
pertemuannya dengan Allah semakin dekat,
kesempatannya untuk beribadah kepada
Allah semakin sedikit. Namun banyak di
antara kita tidak menghargai waktu.
Tidak menghargai waktu. Lihatlah.
Bukankah ketika kita
menjaga kesehatan, kalau kita sakit,
kita mengeluarkan uang dengan uang yang
banyak sampai kita harus berolahraga.
memilih memilah-milih makanan demi untuk
menjaga kesehatan kita. Kenapa kita rela
mengorbankan harta untuk menjaga
kesehatan kita? Karena kita ingin
panjang umur. Setelah Allah berikan kita
umur, terkata ternyata umur kita kita
buang-buang untuk tidak yang bermanfaat.
Renungkanlah hari-hari kita lewati.
Apakah waktu, menit-menit, jam-jam kita
lewati untuk mendekat diri kepada Allah
ataukah kita lewati untuk melihat berita
berita yang tidak ada faedahnya yang
menjadikan hati semakin hitam, menjadi
menjadikan hati semakin kelam, membuat
kita semakin jauh dari Allah Subhanahu
wa taala. Maka kita hanya minta ampunan
kepada Allah subhanahu wa taala atas
kekurangan yang kita lakukan selama ini.
Semoga Allah subhanahu wa taala
mengampuni kita dan semoga Allah
subhanahu wa taala menjadikan kita
kembali menghargai umur kita.
Sesungguhnya setiap detik yang kita
lewati akan ditanya oleh Allah subhanahu
wa taala.
Astagfirullahakumagfiru
inahuahim.
Alhamdulillahi ala insani wasyukrulahu
ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman
lyni wa ashadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluh daila ridwan allahumma sholli
alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani
maasyiral muslimin. Sesungguhnya Allah
menyebutkan di antara ciri-ciri penghuni
surga yang kata Allah alladina yaritunal
firdausa hum fiha kholidun. Yaitu
orang-orang yang mewarisi surga firdaus
surga tertinggi dan mereka kekal di
dalamnya. Di antara ciri-ciri mereka
yaitu orang-orang yang menjaga waktu.
Kata Allah subhanahu wa taala q aflahal
mukminun alladina hum fi shatihim
khasiun walladina humilagwiidun.
Sungguh beruntung orang-orang yang
beriman yang mereka menjaga atau salat
dalam kondisi khusyuk. Kemudian kata
Allah, walladinaun.
Mereka adalah orang-orang yang berpaling
dari hal-hal yang sia-sia. Jangankan
yang maksiat, bahkan yang tidak ada
manfaatnya mereka berpaling. Ini ciri
orang beriman yang menghargai waktunya.
Dia tidak ingin menit-menit berlalu
tanpa ada kedekatan kepada Allah
subhanahu wa taala. Demikian juga ketika
Allah menyebutkan tentang sifat-sifat
ibadurrahman yang kata Allah Subhanahu
wa taalau.
Mereka itulah orang-orang mendapatkan
surga yang tinggi karena kesabaran
mereka. Di antaranya kata Allah
Subhanahu wa taala sifat mereka.
Kalau mereka melewati perkara yang
sia-sia maka mereka melewati dengan
elegan. Mereka tidak mampir, mereka
tidak nimbrung dengan perkara yang
sia-sia. Apatah lagi orang yang kemudian
mampir di majelis maksiat.
Kemudian di hadapan laptopnya, di
hadapan HP-nya berjam-jam menonton
maksiat, menonton aurat yang terbuka,
menonton berita-berita gibah dan
namimah, kemudian dia habiskan waktunya
bukan hanya melewati bahkan nimbrung,
bahkan berkomentar, bahkan semakin
habiskan waktu dan umur untuk melihat
hal-hal yang sia-sia. Sementara malaikat
terus mencatat dan mencatat dan akan
diungkap pada hari kiamat semua
menit-menit yang dia lewati. Maasyiral
muslimin. Sesungguhnya setiap menit yang
kita lewati bisa mendekatkan kita kepada
Allah atau menjauhkan kita dari Allah
Subhanahu wa taala. Maka seorang ingat
setiap menit yang dia lewati dia akan
dihisab oleh Allah subhanahu wa taala.
Jika dia sudah menyiapkan jawaban dan
bisa menjawab kalau ditanya kenapa dia
habiskan waktunya nonton ini dan nonton
itu, silakan nonton. Jika dia tidak
mampu untuk menjawab pertanyaan Allah
maka hendaknya dia tinggalkan tontonan
tersebut. Oleh karenanya para salaf
dahulu mereka merasa bahwasanya waktu
lebih berharga daripada emas. Alwaktu
agla minadzahab. Waktu lebih berharga
daripada emas. Kalau emas pergi masih
bisa kita cari. Tapi kalau waktu pergi
maka tidak akan pernah kembali. Mereka
manfaatkan umur mereka dengan semaksimal
mungkin. Disebutkan di antara biografi
Umar bin ee Mansur bin Zadan dalam kitab
Siar Alam Nubala Azzahabi menyebutkan
tentang Mansur bin Zadan, salah seorang
tabiin yang mulia. Him berkata,
"Seandainya dikatakan kepada Mansur bin
Zadan rahimahullah,
mauti alal, sungguhnya malaikat maut
sudah di pintu untuk menjemputmu."
Maka apa yang dilakukan Mansur?
Maahu ziyadatun fil amal. Maanaahu
ziyadatun fil amal. Maka dia tidak bisa
menambah amalnya sedikit pun. Kenapa?
Dia sudah sibuk dengan beramal.
Seandainya malaikat maut datang
menyebut, dia tidak bisa menambah
amalnya. Kenapa? Karena setiap menit
telah dia lewati untuk beramal saleh.
Sehingga tidak ada waktu lagi untuk
menambah amal saleh. Sementara kita,
lihatlah betapa banyak waktu kita yang
kita buang-buang begitu saja. Kita tidak
menghargai umur kita. Kita tidak
menghargai waktu kita. Jangan sampai
kita baru bisa menghargai waktu setelah
kita meninggal dunia. Allah Subhanahu wa
taala berfirman, "Ya ayyuhalladzina
amanu la tulhikum amwalukum w
auladukumikrillah.
Wahai orang yang beriman, jangan sampai
harta kalian dan anak-anak kalian
melalaikan kalian dari mengingat Allah.
Siapa yang demikian, hartanya dan
anak-anaknya membuat dia lalai dari
mengingat Allah.
orang-orang yang merugi.
Maka berinfaklah dari sebagian yang kami
berikan kepada kalian sebelum salah
seorang dari kalian didatangi oleh
kematian ajal. Kemudian dia berkata,
"Rabbi laula akartani." Ya Allah,
tundalah kematianku meskipun sebentar.
Saat itu dia tahu bahwasanya 5 menit, 10
menit sangat berharga ketika dia akan
dicabut nyawanya, dia minta kepada
Allah, "Ya Allah, tundalah umurku
meskipun 5 menit, meskipun 10 menit."
Buat apa? Faasqo aku ingin bersedekah.
Buat apaagi? Waakum minihin. Aku ingin
menjadi orang yang saleh. Kata Allah,
wirallahu nafsan. Allah tidak akan
menunda satu jiwa pun.
Jaa ajaluha. Jika telah datang ajalnya.
Nah, sekarang di hadapan kita masih
banyak waktu lebih dari 10 menit, lebih
dari 1 hari, lebih dari 2 hari.
Wallahualam. Sebagian kita mungkin masih
dipanjangkan umur. Apakah kita
menghargai umur kita? Apakah kita
menghargai waktu kita? Saatnya kita
introspeksi diri. MaaSyiral Mukminin
rahimakumullah. Saatnya saya sang khatib
maupun antum sang pendengar introspeksi
diri. Jangan buang-buang umur. Usahakan
setiap detik yang kita lewati
bermanfaat. Entah untuk baca Quran,
entah untuk silaturahmi, entah untuk
bercengkerama dengan sahabat memasukkan
rasa bahagia dalam hati mereka, entah
untuk menelepon kakak dan adik, entah
untuk berbuat baik kepada tetangga,
entah untuk salat malam, entah untuk
belajar baca tafsir, entah untuk
mendengar kajian, jangan sampai waktu
kita terbuang. Jika waktu kita terbuang,
segera istigfar kepada Allah Subhanahu
wa taala.
ya amu sh alaii