Kitab Tauhid #1: Definisi Tauhid & Macam-Macamnya
NJd3OxJ1oK0 • 2026-02-11
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrul lahu
ala taufikihin ashadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahuiman
wa ashadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluh daila ridwan allahumma sholli
alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa
ikhwan. Para ibu-ibu yang dirahmati
Allah subhanahu wa taala. Demikian juga
para hadirin yang dirahmati oleh Allah
subhanahu wa taala. Insyaallah pada
kesempatan kali ini kita membahas buku
baru yaitu karya
seorang
ee doktor dari India ya. Dia menulis
buku judulnya
Kitabut Tauhid fi akidatil Imam Syafi'i
rahimahullahu taala. yaitu kitab tauhid
berdasarkan akidahnya Al Imam Syafi'i.
Ee penulis ini ee hafidahullah beliau
ee berusaha mengumpulkan
statement-statement dari Al Imam Syafi'i
rahimahullahu taala yang terkait dengan
akidah dan buku-buku seperti ini sudah
banyak ya ee mengumpulkan
statement-statement Al Imam Syafi'i
terkait dengan akidah. dan saya sudah
pernah juga membahas satu buku sampai
selesai juga tentang ee akidah Imam
Syafi'i ya. Ada beberapa buku yang
semakna dengan ini. Ee cuma yang
membedakan satu buku dengan buku yang
lain adalah dari sisi tabwib, yaitu
masalah bab ini, bab ini. Sehingga
masing-masing ulama menulis bab yang
menurut mereka sesuai dengan statement
Imam Syafi'i. Sesuai dengan statement
Imam Syafi'i. Jadi, Imam Syafi'i belum
kita ketahui menulis suatu buku akidah,
enggak ya. Tetapi statement beliau dalam
buku-buku beliau ya.
atau yang diriwayatkan oleh
murid-muridnya banyak terkait dengan
masalah akidah. Banyak terkait dengan
masalah akidah. Baik terkait dengan
akidah ee rububiyah maupun al-asma was
sifat maupun tauhid al-uluhiyah.
Maka
pada kesempatan ini kita akan bahas buku
baru ya,
judulnya
ee Kitabut Tauhid
fi
ee dii
akidati al Imam Syafi'i.
Maknanya yaitu kitab tauhid
berdasarkan akidah Imam Syafi'i ya.
Kitab tauhid
berdasarkan
akidah
Imam Syafi'i.
Ini perlu kita ketahui karena sebagian
orang mereka
mengikuti Al Imam Syafi'i dari sisi
fikih, namun tidak mengikuti Imam
Syafi'i dari sisi akidah. Sebagai
contoh, Imam Syafi'i terkenal sangat
menentang ilmu kalam. Ya, ilmu kalam.
Dan Imam Syafi'i
menentang habis-habisan ilmu kalam,
tetapi ternyata banyak pengikut dari
mazhab fikih Imam Syafi'i yang tenggelam
dalam ilmu kalam. Demikian juga Imam
Syafi'i memperingatkan tentang perbuatan
orang-orang sufiyah yang menyimpang.
Tetapi banyak dari pengikutnya yang
secara mazhab fikih adalah mazhab
Syafi'i, tetapi ternyata ee menyelisihi
Imam Syafi'i secara akidah. Saya ulangi
lagi, buku-buku terkait menunjukkan
akidah Imam Syafi'i banyak ditulis ya.
Ya, termasuk saya juga pernah nulis buku
judulnya ajaran-ajaran Imam Syafi'i yang
ditinggalkan oleh sebagian pengikutnya.
Ya, tidak seluruhnya tapi sebagian
pengikutnya. Maka mulai kajian kali ini
kita akan menampilkan
statement-statement Imam Syafi'i yang
terkait dengan masalah akidah.
Jadi ee urgensinya mungkin kita bisa
sebutkan urgensinya
yang pertama
ee
mengenal
akidah
salah satu imam ahlusunah.
Imam ahlusunah
yaitu siapa? Al Imam Syafi'i.
Dengan kita membelajar buku ini, kita
akan tahu akidah Imam Syafi'i secara
lebih detail ya. Ee yang kedua ya
untuk ee
apa namanya? mengkritiki
orang-orang yang
hanya
ikut Imam Syafi'i dalam masalah fikih.
Dalam masalah fikih.
Namun
tidak ikut dalam masalah akidah.
Dalam masalah akidah.
Sebagai contoh seperti Ar-Razzi. Ar-Razi
secara
fikih dia termasuk bermazhab Syafi'i.
Tapi ketika dia bicara akidah, dia
menyelisihi Imam Syafi'i. Ketika dia
membahas tentang masalah iman, dia
bilang al Imam Syafi'i radhiallahu anhu
menyatakan iman itu adalah iktikad,
lisan, dan jawarih, amal
apa? Amalan hati, perkataan, maupun
perbuatan. Kemudian dia kritik, kata
dia, "Ini tidak tepat. Yang tepat amal
tidak usah dimasukkan dalam iman."
Maksud saya Arrazi yang dia hidup di
abad keenam, dia tahu bahwasanya Imam
Syafi'i punya statement tentang masalah
akidah. Namun, Arrazi tetap mengkritiki
karena tidak sesuai dengan akidah yang
dia miliki, yang tenggelam dalam ilmu
al-kalam. Ya. Maka ee kita ingin
mengkritiki hal ini bahwasanya ada
sebagian
ee orang-orang yang mengikuti Imam
Syafi'i dalam sisi fikih. Namun dalam
masalah akidah mereka ee tidak mengikuti
Imam Syafi'i. Tapi mereka mengambil imam
lain yang menurut mereka mungkin lebih
cocok akidahnya daripada Al Imam
Syafi'i. Dan buku-buku seperti ini lebih
tepat untuk mengkritiki mereka ya.
Kemudian juga
kalau kita ada kesempatan, kita akan
menjelaskan bahwasanya
ee ulama-ulama Syafiiah terdahulu ya
ulama-ulama Syafi'ia terdahulu
lebih mengetahu lebih mengetahui
akidah Imam Syafi'i.
Imam Syafi'i
sehingga mereka menulis kitab-kitab
akidah.
Kitab-kitab akidah ya. Dan ini banyak
ulama-ulama Syafiah seperti zaman dulu
seperti Ibnu Khuzaimah ee punya kitab
tauhid. Kemudian juga misalnya
setelahnya ada misalnya Assabuni ya, ada
juga Almuzani muridnya Imam Syafi'i.
Kemudian contohnya ini ulama-ulama
Syafi'iyah yang terdahulu yang mereka
menulis akidah yang diselisihi oleh
ulama fikih Syafi'i belakangan. Ya,
makanya ada risalah ilmiah judulnya
penyelisihan ulama Syafi'iyah belakangan
yang menyelisihi ulama Syafi'iyah
terdahulu
ya. Karena ulama Syafi terdahulu
akidahnya
dekat dengan akidah Imam Syafi'i. Beda
dengan ulama Syafi'iyah belakangan yang
mereka menyelisihi akidah Imam Syafi'i.
Ya. Tib yang terpenting lagi kita adalah
ee belajar tauhid
yang merupakan tujuan kita diciptakan.
Tujuan kita hidup, kita diciptakan.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an, wama
khalaqtul jinna wal insa illa
liya'budun.
Wama khalaqtul jinna
wal insa illa liya'budun.
Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia
kecuali untuk beribadah kepadaku.
Beribadah dengan tauhid yaitu hanya
beribadah kepadaku.
Hanya beribadah
kepadaku.
Kepada Allah. Ya. Hanya beribadah kepada
Allah. Itulah apa? Tau tauhid.
Dan seorang harus senantiasa belajar
tauhid. Karena namanya godaan untuk
membuat orang berpaling dari tauhid
selalu ada ya godaan kita. Contoh saja
kita jujur dalam kehidupan ini ya.
Meskipun dia sudah belajar agama,
belajar agama terkadang kita tidak
bertawakal kepada Allah. Kita bertawakal
kepada sebab-sebab ya. Sehingga kita
lupa untuk bersandar kepada Allah. Ini
terkadang kita alami. Tawakal kita bukan
kepada Allah.
Ya, tawakal kita kepada customer
misalnya, tawakal kita kepada dokter
misalnya, misalnya tawakal kita kepada
bos kita, kita enggak tawakal kepada
Allah. Padahal itu semua adalah sebab
harusnya tawakal kepada siapa? Allah.
Ini contoh bahwasanya kita butuh tauhid
dalam setiap saat. Betapa sering kita
dikasih musibah, kita tidak rida. Benar
atau tidak? Kita protes, kita
teriak-teriak, kenapa? tauhid kita
kurang mantap sehingga kita akhirnya ee
secara ilmu kita sudah ada, tetapi
ketika tidak kita ulang-ulang ilmu itu
terkadang hilang ketika saat kita
butuhkan sehingga kita akhirnya tidak
sabar kita protes, curhat bikin status,
rubah-rubah status dan seterusnya. Ini
contoh ya. Betapa sering kita suuzon
kepada Allah. Seakan-akan Allah tidak
bijak. Seakan-akan Allah tidak hakim,
Allah tidak adil. Seakan-akan Allah
tidak mengetahui kondisi saya.
Kok begini saya diginikan apa Allah
tidak ngerti kondisi saya. Saya
kadang-kadang deming padahal Allah
adalah alalim alhakim. Ini kita rasakan
ya bahwasanya ee kita senantiasa butuh
tauhid. Betapa sering kita tertimbul
dalam hati kita ingin dipuji, ingin
disanjung, ingin riak. Karena dalam di
balik ria ada kelezatan,
ada kenyamanan disanjung orang. Sehingga
kita mulai nunjuk-nunjukkan publish amal
saleh kita. Kita menunjukkan siapa diri
kita, siapa jati diri kita agar diakui
oleh manusia. Dan ri dikatakan oleh
Alghazali tholabul manzilah fi qulubinas
yaitu mencari kedudukan di hati manusia.
Itu namanya apa? ri. Betapa sering kita
seperti itu. Betapa sering kita ujub
bahwasanya kita merasa berhasil karena
kemampuan kita, karena saya hebat,
karena saya banyak belajar, karena saya
sudah merintis dari awal, karena saya
yang mulai dari nol, karena karena
sehingga dia sehingga kita menisbahkan
seluruh keberhasilan kepada diri kita,
bukan kepada Allah Subhanahu wa taala.
Kalau kita bilang alhamdulillah hanya
basa-basi. Sesungguhnya kita ingin
mengatakan karena saya begini, itulah
ujub. itu berarti tauhid kita
bermasalah. Tauhid kita bermasalah. Jadi
jangan dianggap tauhid itu pembahasan
selesai. Yang penting tahu syirik mana
yang tauhid kemudian selesai. Gak. Ini
pembahasan yang kita butuhkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Apalagi para ibu-ibu yang sering baper
ya. Ya. Banyak prasangka. Baper artinya
apa?
Hah? Oh, bawa perasaan. Bukan banyak
prasangka. Bawa perasaan. Bawa terlalu
sedikit-dikit baper sedikit mewek
sedikit-sedikit. bikin status
sedikit-sedikit,
curhat sedikit-sedikit begitu.
Akhirnya kalau karena ibu-ibu terlalu
sering baper, sebagian bapak-bapak juga
baper. Akhirnya ketularan ibu-ibu. Ya,
bab. Ini sekedar gambaran ee tentang
urgensinya kita belajar apa tauhid. Ya,
belum lagi banyak penyimpangan terkait
dengan tauhid. Ee setelah itu kita masuk
pada mukadimah tentang definisi tauhid.
Ya, sebelum kita masuk dalam buku semua
sudah dibagi kan? Ee bukunya
apa yang PDF?
Iya, tapi di grup.
Oh. Oh, iya. Di-share grup ya. Ada saya
potong lima bab nanti insyaallah kalau
bukunya sudah jadi dalam buku dibagi
insyaallah.
Tib. Jadi mukadimah kita bahas tentang
ee definisi tauhid.
Tentu kita akan hanya singkat saja ya.
Tauhid. Apa definisi tauhid? Tauhid
secara bahasa
dari perkataan wahada
yuwahidu.
Yuwahidu
tauhidan.
Wahada yuwahidu artinya menjadikan
mengesakan. Kalau bahasa kita meng
esakan yaitu menjadikan satu. Lawannya
adalah isyraq. lawannya adalah isyraq.
Tasrik atau isyraq, yaitu al-isyrat
atau tasyrik, yaitu ee mensekutukan.
Itu artinya men
menyekutukan
Allah.
Ya, dalam hal ini mengesakan Allah ee
isyrq mensekutukan Allah Subhanahu wa
taala. Ini makna dari tauhid. Dan lafal
tauhid datang dalam banyak dalil ya,
terutama dalam hadis-hadis Nabi
sallallahu alaihi wasallam ya. Dalam
Al-Qur'an, qul huallahu ahad. Dialah
maha esa. Maka itu menuntut kita untuk
mengesakan Allah. Wa ilahukum ilahu
wahid. Ya Tuhanmu adalah Tuhan yang esa.
W w w w w umiru illa liya'budu ilaha
wahida. Mereka hanya diperintahkan untuk
menyembah Tuhan yang e esa. Jadi dalam
Al-Qur'an banyak sekali ee menjelaskan
tentang keesaan Allah Subhanahu wa
taala. Keesaan dari segala sisi. Itu
namanya dalam Al dalam hadis Rasulullah
menggunakan istilah tauhid seperti
ketika Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam
mengutus Muad bin Jabal. Kata Rasul
sallallahu alaihi wasallam, "Falyakun
awalu maaduhum ilaihi ayyuahidullah."
Kalau kau berdakwah kepada orang-orang
ahlul kitab, kata Nabi, "Jadikanlah
dakwahmu pertama kali adalah engkau
menyuruh mereka untuk bertauhid."
Dalam lafal yang lain, alfalyakun awal
maaduhum ilaihi ila tauhidillah.
Jadikanlah dakwahmu pertama kali kepada
tauhid. Ya, kepada tauhid. Demikian juga
ketika Nabi sedang bertalbih labbaik
Allahumma labbaik labbaika la syarika
laka labbaik maka Jabir berkata,
"Falabban Nabiu sallallahu alaihi
wasallam bit tauhid." Nabi bertalbiah
dengan tau tauhid yaitu dengan pengesaan
Allah. Ya. Demikian juga ee Rasulullah
mengatakan dahulu ya ada seorang Bani
Israil lam y'mal khairan qod illat
tauhid. Dia tidak punya amal apapun
kecuali tauhid. Jadi tauhid itu istilah
syari.
Tauhid istilah syari sudah dikenal sejak
dahulu. Nabi juga menggunakan istilah
tauhid. Demikian juga ketika Amr bin Ash
radhiallahu anhu bapaknya meninggal itu
Al-As bin Wail meninggal dalam kondisi
syirik. Tapi dia pernah bernazar ingin
ee menyembelih 100 ekor unta. Ketika dia
meninggal tidak sempat menjalankan
nazarnya. Am ingin menunaikan nazar
bapaknya. Maka Amar bin As datang kepada
Nabi, "Ya Rasulullah, bapak saya pernah
bernazar untuk menyembelih seekor 500
ekor unta. Saya pengin nyembelih 50nya.
Apakah bermanfaat?" Nabi mengatakan,
"Tidak." Amma abuka laana aq bituhid
lanaik. Adapun ayahmu seandainya dia
mengakui tauhid akan bermanfaat, tapi
ternyata dia meninggal dalam kondisi
apa? Syirik. Lawan daripada tauhid. Jadi
istilah tauhid ya. Jadi kalau kita
bicara tentang secara ee secara syari,
secara
syar'i atau istilah
ya, maka
telah datang dalam
datang dalam hadis-hadis Nabi
Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Ya, tadi tauhid istilah apa? Istilah
atauhid. Tadi saya sudah sebutkan
dalil-dalilnya ya. Kemudian juga istilah
ini telah dikenal oleh para ulama. Telah
dikenal
oleh para ulama. Di antaranya Imam
Syafi'i. Nanti kita nukil. Imam Syafi'i
menggunakan istilah apa? Tauhid. Dikenal
oleh para ulama.
Tib. Di antaranya misalnya Imam Bukhari
punya buku judulnya Kitabut Tauhid. Imam
Bukhari ya tadi kita mengatakan
Imam Bukhari dalam kitab sahihnya ada
buku namanya Kitabut Tauhid.
Imam Ibnu Khuzaimah
ini mazhab Syafi'i. Ibnu Khuzaimah punya
buku judulnya juga kitab tauhid.
Ibnu Mandah ini ulama-ulama terdahulu ya
juga punya buku judulnya kitab Tauhid.
Jadi istilah Tauhid ini banyak ya sudah
dikenal oleh para ulama selain datang
dalam hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi
wasallam ya. Tib. Kalau begitu, apa
makna tauhid? Apa makna tauhid?
Nah, ini kita mau bahas.
Sudah, Ibu-ibu?
Sudah, ya. J kalau pakai tauhid istilah
baru, enggak. Tauhid istilah lama, ya.
Dalam Al-Qur'an Allah suruh ilahan
wahida. Dalam hadis-hadis Nabi juga
banyak. Nabi menggunakan istilah
ata-tauhid. Ya. Ya.
Tib. Sekarang kita akan bahas definisi
tauhid secara syari. Sudah, Ibu-ibu?
Sudah, ya.
Oke.
Definisi tauhid secara syari. Definisi
tauhid
secara
syari.
Apa tauhid? Tauhid adalah mengesakan
Allah,
mengesakan
Allah
dalam
segala hal
terkait yang terkait dengan
dengan keesaannya.
Tauhid kalau kita dalam Pancasila sila
pertama Tuhan yang maha esa. Ini tauhid
adalah apa? Sila pertama.
Apa? Sila pertama masih hafal enggak?
Kalau sila pertama masih hafal. Sila
keempat
ya. Sudah sudah.
Alhamdulillah masih hafal ya.
Iya.
Tib.
Mengesakan Allah dalam segala hal yang
terkait dengan terkait dengan keesaan.
Saya ajak Ibu-ibu untuk merenungkan.
Pertama, pertama saya tanya apakah
apakah
ee zat Allah
esa?
Iya atau tidak? Iya. Zat Allah esa. Yang
kedua,
apakah
Allah mencipta
sendirian?
Benar enggak? Berarti esa dalam
penciptaan. Kalau kita bahasa kita, esa
dalam apa? Mencipta.
Bab. Apakah Allah esa dalam mengatur
alam semesta? Iya. Apa? Allah butuh
bantuan orang untuk ngatur gak? Allah
mengatakan, "Wala yauduhu hifzuhuma."
Tidak melelahkan Allah sama sekali
mengatur langit dan bumi. Ngurus langit
dan bumi tidak Allah tidak butuh yang
lain. Ya Allah mengatakan,
"Apakah
Allah
esa dalam mengatur alam?" Jawabannya
iya.
Jawabannya iya. Apakah semua ini adalah
milik Allah semata? Iya.
Semua alam semesta
milik Allah semata.
Jawabannya iya.
Kita semua sepakat jawabannya apa? Iya.
Ya. Adakah yang menghidupkan selain
Allah, mematikan selain Allah? Enggak
ada. Ini pertanyaan pertama Ibu sudah
jawab ya. Nanti saya kasih jelas
penjelasan. Yang kedua saya mau tanya
lagi,
apakah
ada sifat makhluk
yang sama dengan sifat Allah? Yang sama
atau selevel
dengan sifat Allah? Tentu jawabannya
tidak. Tidak ada. Tib. Makhluk berilmu,
Allah berilmu. Sama-sama sifat ilmu.
Lafalnya beda atau tidak beda. Saya
kasih contoh misalnya ilmu
sekarang terkait dengan ilmu.
Ilmu makhluk
ilmu Allah. Bedanya banyak. Bedanya
pertama
tanpa didahului ketidaktahuan. Tanpa
didahului kebodohan.
Adapun manusia bodoh dulu. Iya enggak
bodoh dulu.
Wallahu akhrajakum min butini umat
hatikum la tamamuna. Kata Allah
keluarkan kalian dari perut ibu kalian
tanpa tahu ilmu sama sekali. Walakum wal
absidah. Lalu Allah jadikan bagi kalian
penglihatan pendengaran hati. Ini semua
adalah alat untuk cari ilmu. Dengan
melihat tambah ilmu, dengan mendengar
tambah ilmu. Dengan merenungkan tambah
ilmu. Jadi ini beda. Kemudian Allah
tidak lupa.
Manusia lupa enggak? Allah berfirman,
"Ma kanana rbuka nasiya." Allah tidak
pernah lupa. Manusia lupa.
Kemudian ilmu Allah tanpa batas.
Tahu segalanya. Ilmu manusia cetek ya.
Cetek atau tidak cetek. Ilmu gaib tidak
tahu. Masa depan tidak tahu, masa lalu
tidak tahu. Ilmu dia cuma sedikit.
Satu ilmu saja kita bicara ilmu fisika
saja tidak ada satu manusia pakar fisika
seluruh enggak ada. Apalagi sekarang
ilmu kedokteran masing-masing punya
spesialisasi. Spesialisasi enggak ada
yang punya ilmu sebetulnya enggak ada.
Ya.
Kemudian ilmu manusia pun bertahap.
Bertahap
dan tadi bertahap Allah langsung tanpa
batas ya. Sehingga kita tahu bahwasanya
tidak ada sifat makhluk yang sama dengan
sifat Allah. Enggak ada.
Paham? Dari sini kita mengesakan Allah
dalam sifatnya. Ini kalau kita katakan
berarti kita mengesakan Allah.
mengesakan Allah
dalam setiap sifatnya.
Sifat Allah semua begitu. Makanya kita
kalau terjemahkan sifat kita bilang
maha.
Maha berilmu. Kenapa kita tambah maha?
Untuk membedakan dengan ilmu manu
manusia. Karena kalimat maha itu, kata
maha itu menunjukkan pengesaan. Hanya
Allah yang seperti ini. Makanya kita
kasih tambah apa? Maha. Kita bilang
maha.
Maha ini isyarat pengesaan.
Mengyarat mengesakan.
Kita bilang Allah maha kuat. Iya enggak?
Allah maha berilmu. Karena manusia
juganya kuat. Tapi kuat. Manusia tidak
sama dengan kuat Allah. Makil Allah maha
berilmu. Allah maha kuat. Allah maha
bijaksana. Allah maha adil, maha maha
maha selalu kita tambah maha untuk
menunjukkan
cuma Allah yang begitu sehingga Allah
maha esa dalam sifat sifat-sifatnya.
Sampai sini sepakat? Sepakat. Tib.
Yang ketiga kita juga mengesakan adalah
apa? Bahwasannya apakah
hanya Allah yang berhak disembah?
berhak diserahkan ibadah.
Iya atau tidak? Iya. Atau ada zat lain
boleh kita ibadah? Enggak ada. Enggak
ada. Maka kita hanya berdoa. Doa ibadah
banyak. Ada doa, ada menyembelih, ada
bernazar. Ini semuanya untuk siapa?
Untuk Allah. Karena
karena Dia yang maha sempurna. Karena
Dia yang maha sempurna. Nah, Ibu-ibu
yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala.
Ini saya rasa tidak ada yang
menyelisihi. Ibu-ibu tanya siapapun
orang di pasar, orang siapapun. Ibu
tanya, "Apakah Allah cipta sendiri?" Dia
pasti bilang, "I iya." "Apakah ada yang
ikut mengatur alam semesta?" Dia pasti
bilang, "Ti tidak." Apakah ada yang
menyamai sifat Allah? Dia pasti bilang
ti tidak. Apa ada yang berhak disembah
selain Allah? Pasti dia bilang ti tidak.
Jadi ini kesepakatan kaum muslimin. Gak
ada yang khilaf dalam masalah ini.
Secara konten, saya perhatikan ya.
Secara konten makna secara konten ya
semua muslim sepakat
benar atau tidak. Nah, sudah saya
sepakat. Nah, kemudian ulama untuk mudah
pembelajaran
mereka menamakan istilah-istilah ini
untuk nomor satu mereka namakan dengan
tauhid rububiyah.
rububiyah.
Rububiyah.
Rububiyah itu apa? Rubiyah itu terkait
dengan rubiyah itu seperti
ibu mentarbiah anak.
Allah mentarbiah makhluknya itu Allah
ciptakan, Allah aturin, Allah kasih
rezeki, Allah menghidupkan, Allah
mematikan, Allah membangkitkan, Allah
mengadili. Itu namanya rububiyah. Ini
istilah ulama menamakan tauhid
rububiyah. Maksudnya dalam urusan ini
semua kita harus mengesakan Allah. Hanya
Allah bersendirian dalam mencipta,
mengatur, menguasai dan seluruhnya. Itu
namanya tauhid apa? Rubiyah.
Paham? Nah, untuk nomor dua kita namakan
dengan tauhid sifat.
Tauhid apa? Sifat. Yaitu sifat.
Sifat-sifat ya. Karena sifat Allah tidak
ada yang menya menyamainya. Paham?
Untuk yang ketiga, karena ibadahnya
untuk Allah kita namakan dengan tauhidul
ibadah. Namanya apa? Tauhidu
al-ibadah atau al-uluihiyah.
Tauhidul ibadah atau al-uluhiyah. Ini
istilah
sebagian orang mungkin mengingkari.
Karena kita sepakat sebagian orang
mungkin mengingkari. Ngapain dibagi-bagi
tiga? Loh, ini cuma pembelajaran. Enggak
usah dikasih nama juga enggak apa-apa.
Cuma ini kasih nama ini supaya kita bisa
belajar dengan lebih baik. Karena
ternyata ada orang yang mentauhidkan
Allah pada sebagian sisi, tidak
totalitas. Dia hanya tauhidnya parsial.
Ada atau tidak ada? Tauhidnya cuma
parsial. Contoh dia mengatakan, "Saya
mengakui yang cipta alam semesta cuma
Allah." Tapi ternyata dia bilang, "Ada
yang tahu ilmu gaib selain Allah."
Berarti dia masalah di tauhid mana? Ini
tauhid si sifat. Padahal yang tahu ilmu
gaib cuma siapa? Allah. Ya, berarti dia
tauhidnya parsial. Jadi saya ulangi
secara konten ini saya tadi katikan
secara konten semua muslim sepakat Allah
Maha Esa dalam zatnya, dalam mencipta
dalam pengaturan.
Dan Allah juga maha esa dalam
sifat-sifatnya tidak ada yang menyamai.
Dan Allah juga maha esa bahwasanya dia
saja yang berhak untuk diibadahi. Paham
atau tidak ada yang khilaf masalah ini?
Enggak ada. Cuma ulama kasih nama.
Penamaan itu buat apa sih pembagian itu?
Untuk pembela pembelajaran untuk mudah.
Kenapa perlu dibagi ini? Karena ternyata
ada orang yang tauhidnya tidak totalitas
tapi par parsial. Sampai sini paham?
Paham. Ya, saya lanjut ya. Lanjut.
Tib.
Sekarang saya datangkan dalam bentuk
lebih rapi ya. Sama seperti tadi cuma
saya datangkan lebih rapi. Saya bilang
tauhid
ada berapa? Tiga bagian.
Yang pertama namanya tauhid arrububiyah.
Rububiyah tadi apa, Ibu-ibu? seperti
orang tua mentarbiah apa anak itu
tergantung pengurusan tauhid
arrububiyah.
Rububiyah itu dari tarbiah maknanya apa?
Pengu pengurusan.
Pengurusan. Nah, kalau Allah pengurusan
maksudnya apa? Mereka bilang di
antaranya ee tentu zat Allah satu.
Karena kalau Allah berbilang nanti ribut
mau ngatur ya. Jadi zat Allah apa? esa.
Kemudian setelah itu
pengurusan juga esa, pengurusan
makhluknya
juga e juga esa ya.
Nah, pengurusan makhluknya ada tiga,
tiga rukun. Perhatikan sini. Yang
pertama adalah penciptaan.
Yang kedua adalah pemilikan.
Yang ketiga adalah pengaturan.
Nah, Allah esa dalam penciptaan, Allah
esa dalam pemilikan, Allah esa dalam
penga pengaturan.
Penciptaan hanya Allah yang cipta
sendiri. Paham ya? Hal min khaliqin
ghairullah yakluquukum. Ya. Ya. Apakah
ada ee aruni maza khalaqalladina min
dunih. Tunjukkan kepadaku mana ciptaan
ciptaan sembahan kalian. Gak ada. Semua
ciptaan siapa? Allah. Pengaturan
ee
ada tiga juga yang diatur. Yang pertama
adalah
proses tasyirul kaun, yaitu pengaturan
alam semesta.
jalannya alam semesta.
Saya tanya sama ibu-ibu, siapa yang
ngatur matahari?
Allah. Siapa yang mengatur rembulan?
Allah. Mengatur hujan, mengatur awan,
mengatur apa? Semuanya yang ngatur
siapa? Allah.
Ini satu. Yang kedua adalah pengaturan
terkait kadar. Pengaturan kadar,
kadar-kadar makhluk.
takdir ya. Ini attqdir atau ee
kadar-kadar
makhluk untuk makhluk.
Seperti apa kadar untuk makhluk? Seperti
bentuk, rezeki, ajal. Allah kasih kadar
masing-masing. Paham? Seperti apa
kadar-kad ini? Sederhana biar paham.
Kadar-kadar seperti apa bentuk?
Apalagi riz rezeki
ajal
ya. Bahagia atau enggak, tinggi atau
pendek. Ini semua Allah yang atur. Itu
namanya kadar-kadar. Gak ada yang
ikut-ikutan. Bahkan seorang ibu ketika
mengandung anaknya, dia hanya
mengandung. Tapi yang menentukan
bentuknya, warna kulitnya, ajalnya
siapa? Allah. Ya
kata Allah, "Fi ayi suratin
masyaarabak."
Pada bentuk mana yang Allah kehendaki
menyusun kalian. Terserah Allah.
Terserah Allah. Ya, kalau kita yang
suruh bentuk pasti kita bikin anak kita
maunya begini begini begini begini.
Tapi bentuk bukan bukan di tangan kita.
Pengaturan yang ketiga terkait hari
kebangkitan.
Hari kebangkitan
ini Allah yang ngatur semata. Adakah
yang ikut menghancurkan alam semesta di
akhir zaman? Gak ada. Adakah yang ikut
membangkitkan Allah? Enggak ada. Adakah
yang ikut menyidang makhluk? Enggak ada.
Enggak ada. Allah menyidang seluruh
makhluk sendirian. Wahua syariul hisab
dan hisabnya sangat cepat. Adakah yang
menimbang amal? Tidak ada. Hanya Allah
sema semata. Yang masukkan surga dan
neraka juga cuma siapa? Allah. Makanya
semua raja kalau di dunia sok-sok
ngatur, di akhirat semuanya ketakutan.
Kata Allah, "Anal malik aina mulukl
ard?" Aku Maha Raja. Mana raja-raja
dunia? Ayo. Enggak ada yang berani
muncul. Makanya di antara makna yang
sangat agung tentang rububiyah, Maliki
yaumiddin yang menguasai hari
pembalasan. Dalam qiraah yang lain,
mimnya pendek. Maliki yaumiddin. Kalau
Maliki yaumiddin artinya raja. Raja di
hari pembalasan. Karena memang nabi aja
ketakutan, para nabi aja takut. Semua
enggak ada yang bisa macam-macam ketika
di hari kiamat. Jadi rububiyah itu
sangat nampak ketika hari kebangkitan.
Gak ada yang sombong-sombong lagi.
Karena semuanya Allah yang ngatur. Ini
namanya tauhid apa, Ibu-ibu? Rubiyah.
Ya,
paham.
Yang kedua tadi kita bilang tauhid apa?
Tauhid asma dan sifat. ya, nama-nama
dan sifat-sifat Allah
ya tadi sudah kita jelaskan yaitu sifat
Allah tidak ada yang menyamainya. Allah
boleh jadi sifat makhluk sama dengan
sifat Allah tapi level sifat Allah tidak
sama dengan level makhluk. Sudah tadi
kita contohkan sifat apa? Il ilmu.
Manusia punya ilmu enggak? Punya. Allah
punya ilmu enggak? Punya. Nama sama tapi
level berbeda. Makanya setiap sifat kita
kasih lafal apa? Kata apa? Maha.
Paham?
Saya tadi malam bahas ayat dalam
Al-Qur'an dalam surat An-Nisa tentang
waris. Ya
apa?
wahidatan
wahiduma
inahuadam yakahu
seterusnya sampai Allah mengatakan di
akhir abukum waukumakum
minallah inallah aliman hakim
Jadi Allah menyebut dalam surat dalam
surah An-Nisa kalau enggak salah ayat 11
saya lupa ayat berapa ya. Ayat 11 ya.
Jadi Allah cerita tentang warisan. Allah
atur nih warisan ibu begini kalau ada
anaknya begini. Kalau enggak punya anak
ibu dapat sekian, bapak dapat sekian.
Kalau anak laki-laki anak perempuan satu
dapat sekian. Kalau anak perempuan
banyak dapat sekian. Kalau anak ini
punya saudara-saudara dapat dibagi
secara detail oleh Allah subhanahu wa
taala. Setelah itu Allah mengatakan,
"Bapak kalian, ibu kalian, anak
laki-laki kalian, anak perempuan kalian,
kalian tidak tahu mana yang lebih
bermanfaat bagi kalian."
Makanya yang bagi aturan Allah kalau
kita ikut pikiran kita, kita paling
hanya
yang kita kasih yang paling kita
sayangi. Ini anak baik kok baik. Selama
saya hidup dia baik. Sudah kamu saya
kasih warisan banyak-banyak. Kita enggak
tahu bisa jadi setelah kita meninggal
dia nakal.
Bisa jadi ada anak yang mungkin kurang
baik tapi kita kasih warisan sesuai
dengan aturan, ternyata dia menjadi anak
saleh. Setelah setelah itu bisa jadi ada
anak yang ternyata ee mungkin tidak
pintar, tidak kaya, tapi dia sering
mendoakan kita. Kita enggak tahu. Bisa
jadi kita punya anak ternyata cacat,
mental, tetapi ternyata kita dapat
pahala banyak gara-gara ngurusin dia.
Makanya Allah mengatakan, "Kau tidak
tahu siapa yang lebih bermanfaat bagimu,
baik di dunia maupun di akhirat." Siapa
yang lebih tahu? Al Allah.
Makanya jangan pernah meremehkan
anak-anak. Ya, ada ada kaun cerita dia
punya punya beberapa bersaudara tinggal
di Makkah semuanya saleh-saleh hafiz
Quran. Ada anak satu kurang ajar ya.
Kurang ajar. Semua dia kerjakan. Narkoba
dia kerjakan. Minum khamar dia kerjakan.
Padahal dia tinggal di Makkah.
Akhirnya dibenci sama atau tidak bukan
dibenci dimarah-marahin. Akhirnya dia
pergi ke luar negeri entah ke London
entah ke mana. Ternyata di sana dia
belajar agama jadi dai. Banyak orang
masuk Islam gara-gara dia. Maksudnya
kita enggak tahu bagaimana penghujung
seseorang. Kita enggak tahu. Allah
mengatakan kalian tidak tahu. Allah
mengatakan abaukum wa abnaukum laun ayum
aqakumum naf. Bapak kalian, ibu kalian,
anak kalian, putra kalian, putri kalian,
kalian tidak tahu mana yang lebih
manfaat buat kalian setelah kalian
meninggal di dunia maupun di akhirat.
Yang tahu cuma siapa? Allah. Ini banyak
ilmu kita terbatas.
Kita enggak tahu masa depan. Allah
mengatakan, "Wa asa an takqrahuaian
wahua khairul lakum." Bisa jadi kau
benci sesuatu ternyata baik bagi bagimu.
Wa asa anhibakum. Bisa jadi kau cinta
sesu benci sesuatu ternyata baik bagimu.
Bisa jadi kau cinta sesuatu ternyata
buruk berikbag. Allahu aamu wa antum
laun. Allah tahu. Kalian tidak tidak
tahu. Ini menunjukkan kelemahan ilmu
kita dan betapa sering kita lupa. Sering
lupa.
Kita kalau anak banyak kadang nyebut
nama sering salah ya. Ee ee benar atau
tidak?
Benar enggak anak lima sudah bingung
satu nomor lima nanti nyebut kelima baru
ingat kita lupa.
Makanya Nabi Adam alaihi salam lupa
ketika dia dikasih umur 1000 tahun oleh
Allah. Kemudian Allah tunjukkan anak
keturunannya. Tiba-tiba dia lihat Nabi
Daud. Ini siapa ini? Ini Daud. Cucumu?
Adam alaihi salam bertanya sama Allah.
Dia berapa umurnya? Kata Allah 60 tahun.
Waduh kasihan. Tambah 40 tahun.
potong umurmu. Iya. Allah ambil umur
Nabi Adam dari 1000 kurang 40 tinggal
berapa?
Punya ijazah enggak?
1000 kur 40 tinggal berapa? 960
sudah kurang dikasih sama Daud. Jadi
Nabi Daud umurnya jadi berapa? 100 TB.
960 tahun kemudian malaikat maut datang
Nabi Adam. Hai Adam saatnya meninggal.
Kata belum. Umur saya 1000 loh. Bukannya
kau sudah kasih sama Daud mana? Enggak
pernah. Adam lupa. Sudah 900 tahun
berikutnya. Kata Nabi Muhammad
sallallahu alaihi wasallam, "Nasya Adam
wasat durriyatuh." Adam lupa,
anak-anaknya juga, keturunan juga lu
lupa. Kita lupa. Enggak usah 1000 tahun,
enggak usah 5 tahun baru 10 tahun kita
sudah sudah lupa.
Makanya orang kalau datang sama saya,
"Ustaz, ingat saya enggak?" "Aduh
itu nih Ustaz itu pernah ini kita fotoan
bareng di Madinah." Aduh, saya bilang
saya punya kaidah. Kalau saya tidak
diajak makan gratis, saya lupa.
Kalau saya diajak makan, insyaallah saya
ingat.
Makanya ada orang pernah ketemu saya di
hotel waktu saya di Jogja.
Asalamualaikum, Ustaz. Ingat enggak,
Ustaz? Ah, ya ya, ya, ya. Kita makan
bareng loh. Kalau makan bareng harusnya
saya ingat nih. Tapi ini keluar kaidah.
Saya bilang, "Iya
kok saya lupa ya."
Dia bilang, "Waktu itu, Ustaz ajak saya
makan." Hah? Karena saya yang bayar.
Saya lupa. Kalau kamu yang bayar, saya
ingat.
Tapi mau saya ilmu kita tuh cetek. Kita
tuh lupa.
Makanya kalau orang lupakan kebaikan
kita, jangan terlalu sedih. Memang
manusia pelupa.
Kita sudah baik, dia lama-lama dia lupa.
Dia ketemu teman lebih kaya, kita
dilupa, dilupakan. Kebaikan kita
diremehkan. Karena manusia pelupa, tapi
Allah tidak bakalan lu lupa. Memang
kalau kita berbuat jangankan berbuat
baik besar-besar, senyum aja Allah lupa
atau tidak? Tidak. Kita senyum sama
orang karena Allah, Allah lupa gak? Gak.
Makanya waktu Syekh Saad Asyatri datang
ke Indonesia, dia tinggal di suatu hotel
milik kawan. Saya waktu penterjemah.
Datang kawan tersebut.
Terus Syekh bilang, "Kamu nanti kalau ke
Makkah atau ke Madinah, saya lagi
ngajar, kamu ketemu sayalah."
Kata dia, "Syekh, di Makkah ente lagi
ngajar banyak orang.
Nanti antum lupa sama saya." Kata Syekh,
"Kalaupun saya lupa, Allah tidak bakalan
apa?" Lupa. Oh, iya benar. Katanya.
Jadi, maksud saya kita ini punya ilmu.
Allah punya ilmu tapi levelnya tidak sa.
Allah maha berilmu. Makanya disebut
dengan tauhid asma was sifat. Ya, tauhid
al-asma wa sifat. Nama-nama Allah
maksudnya setiap nama mengandung sifat.
Setiap nama mengandung sifat Allah
alalim punya sifat il ilmu.
Yang ketiga namanya tadi apa? Tauhid
al-ibadah.
Tauhid apa? Al-ibadah.
Yaitu kenapa disebut al-ibadah? Karena
hanya Allah yang berhak diibadahi atau
disebut tauhid al-uluhiyah.
Tauhid al-uluhiyah
yaitu hanya Allah.
yang berhak diibadahi.
Bab Ibu-ibu perhatikan sini. Kalau saya
mau bikin himpunan, saya akan bikin
himpunan begini. Mungkin insyaallah
paham ya. Himpunan saya bikin himpunan
begini.
AT biar enggak enggak terlalu bingung
ya. P saya beginilah
saya kasih pernyataan begini Ibu. Jadi,
tauhid rububiyah
dan tauhid asma wa sifat
ini melazimkan
melazimkan
tauhid uluhiyah. Perhatikan Ibu-ibu,
tauhid rububiyah dan tauhid asma sifat
melazimkan tauhid uluhiyah. Maksudnya
bagaimana? Jika kita tahu yang cipta
kita hanya Allah. Jika kita tahu yang
memberi rezeki kita kepada Allah. Jika
kita tahu yang mencipta alam semesta
hanya Allah. Terus siapa yang mau
diibadahi kalau gitu? Siapa yang
diibadahi? Hanya Allah. Seandainya saya
tanya sama Ibu. Seandainya yang ciptakan
kita Allah dan zat lain, kira-kira zat
lain bisa kita ibadahi enggak? Bisa.
Kalau dia ikut ciptakan apa? Kita. Tapi
ketika yang menciptakan kita hanya
Allah, berarti siapa yang berhak
diibadahi? Cuma Allah. Makanya dikatakan
tauhid rububiyah melazimkan tauhid apa?
Uluhiyah. Tauhid rububiyah melanjut
ibadah. Kalau kau ngakui yang ciptakan
kamu hanya Allah, maka yang harusnya kau
ibadahi cuma siapa? Allah. Makanya di
antara makna syirik ketika Nabi ditanya,
"Ayudambi a'zam?" Ya Rasulullah, dosa
mana yang paling besar? Kata Nabi, "An
tajala lillahi nidan wahua khalaqoka."
Engkau mengambil tandingan bagi Allah
untuk kau ibadahi. Padahal yang ciptakan
kamu hanya siapa? Allah.
Itu namanya syirik.
Namanya syirik.
Sama ketika kita tahu hanya Allah yang
maha ilmu, hanya Allah yang maha kuat,
tidak ada yang menyamainya.
Maka kesempurnaan ini mengharuskan yang
kita ibadahi yang maha sem sempurna.
Seandainya ada yang berilmu sama seperti
Allah, boleh kita ibadahi. Seandainya
sama-sama kuat dengan Allah, zat lain,
kita boleh ibadahi zat tersebut. Benar
atau tidak? Secara logika benar. Kalau
ada zat lain yang selevel dengan Allah,
boleh kita ibadahi? Boleh. Tetapi tidak
ada. Ketika Allah Maha dalam
sifat-sifatnya, maha sempurna, maka dia
satu-satunya yang berhak diibadahi.
Makanya saya katakan tauhid rubiyah,
tauhid asma sifat melazimkan tauhid apa?
Uluhiyah.
Paham?
Karenanya yang menjadi pusat perhatian
dakwah para nabi adalah ini.
Ini pusat perhatian dakwah.
Dan kita diciptakan untuk ini.
Kita diciptakan
untuk ini, untuk hanya beribadah kepada
Allah. Apa bukti bahwasanya kita adalah
makhluk, makhluknya Tuhan? Yaitu kita
hanya beribadah kepada sang Tuhan
tersebut. Itu bukti.
Bukti bahwasanya Anda adalah sebagai
makhluk tidak beribadah kepada selain
Tuhan, selain Allah Subhanahu wa taala.
Paham, Ibu-ibu?
Sampai sini paham? Baik. Jadi, kita tahu
asal-usul kenapa ada pembagian tauhid
menjadi apa? Tiga. Ini sekedar untuk
penamaan tersebut hanya untuk
pembelajaran. Seandainya tidak dikasih
nama juga enggak ada masalah. Yang
penting tauhidnya totalitas, jangan
parsial. Nah, setelah ini saya akan
bahas ada tauhid yang parsial.
Oke, Ibu-ibu sudah belum?
Ingat ya, Ibu-ibu. Bulan depan ada ujian
ya.
Ada ujian ya dan bulan depan saya
umumkan nilainya insyaallah.
Biar harus belajar serius ya. Kalau
enggak begini nanti enggak serius,
enggak naik-naik ilmunya ya. Ilmu tauhid
TK terus enggak pernah naik.
Harus belajar
ini. Lanjut apa sudah nih? Lanjut dulu
ya. Lanjut. Oke. Semakin banyak bahan
ujian.
Kita lanjut. Sudah ya. Oke, kita lanjut.
Sekarang
model-model manusia yang mentauhidkan
Allah. model-model manusia
dalam
pentauhidan kepada Allah
atau model manusia terkait dengan
tauhid.
Dengan atauhid
tayib.
Yang pertama
ada yang tidak bertauhid sama sekali.
yang tidak
bertauhid
sama sekali.
Satu pun tidak. Contohnya apa? Misal
apa? Ateis.
Misal misalnya adalah a ateis.
Misal misalnya apa? ee dualisme atau apa
yang apa tsanawiyah yang menyembah dua
tuhan
yang
menyembah
atau yang meyakini dua Tuhan. Yang
meyakini
dua Tuhan seperti ee yang meyakini
contohnya ee adalah ee majusi. Majusi
meyakini Tuhan api, Tuhan kebaikan.
Tuhan gelap adalah pencipta keburukan.
Contoh, contoh Zorwaster ya adalah
majusi.
Majusi bilang apa? Api pencipta apa?
Kebaikan.
Gelap. Pencipta apa? Keburukan.
Pencipta keburukan. Ini tidak tauhid
sama sekali. Bahkan rububiyah pun mereka
tidak mengesakan Allah. Karena mereka
bilang pencipta ada du dua. Paham? Paham
tidak?
Contoh yang tidak ment sama Allah sama
sekali misalnya
penganut trinitas.
Penganut trinitas
dalam hal ini contoh Hindu, contoh
Hinduisme ya. Ya, contoh Hindu.
Dia meyakini berapa Tuhan? Ada ti tiga
tuhan misalnya
Dewa apa? Brahma.
Brahma, dewa pencipta.
Kemudian yang kedua apa?
Siwa. Dewa apa?
Hah?
Dewa perusak. Ya, perusak.
Yang ketiga apa? Wis. Wisnu. Dewa apa?
Pemelihara.
Ya, artinya kalau kita lihat dari konsep
pemikiran mereka, Tuhan ini tidak esa
karena dia bagi-bagi tugas. Dia tidak
multifunsional ya. Tetapi fungsi ini
dikerjakan oleh ini, fungsi ini
dikerjakan ini, fungsi dikerjakan ini.
Paham? Ini namanya tidak bertauhid sama
sekali
ya. Karena ada yang satu dewa tidak
mampu melakukan tugas yang lain.
Ya,
sehingga benar Brahma satu-satunya
mencipta. Tapi yang satu-satunya menjaga
adalah dewa wis wisu yang bisa mematikan
cuma dewa siwa. Jadi tidak bertauhid.
Tib. Ini model perteman pertama. Paham
sampai sini, Ibu-ibu? Paham. Tib. Yang
kedua, model yang tauhidnya parsial.
Parsial. Contoh
misal kaum musyrikin.
Kaum musyrikin
di antara tauhid tidak tauhid secara
totalitas. Dia ada tauhid mentauhidkan
mengesakan Allah dalam penciptaan.
Mereka mengesakan Allah
dalam penciptaan.
Dalam penciptaan. Dan ini banyak
dalilnya. Banyak. Saya carikan ayatnya
biar ibu-ibu tambah bahan banyak ujian
ya.
Contoh ayat Quran surah 29 ayat 61. Ya,
saya bacakan.
Mereka mengesakan dalam penciptaan dan
pengaturan.
Saya bacakan artinya. Dan sesungguhnya
jika engkau tanya kepada mereka, kepada
orang musyrikin, siapa yang menciptakan
langit dan bumi? Siapa yang menundukkan
matahari dan bulan? Mereka akan
menjawab, "Al Allah." Berarti mereka
mengesakan Allah dalam penciptaan dan
pengaturan. Contoh lagi
Quran surah 29 ayat 63. Saya bacakan
lagi. Win saalahu man nazala minama maan
faahya bihil ard min ba'di
mautihaquulunallah. Kalau kau bertanya
kepada mereka wahai Muhammad, siapa yang
turunkan hujan dari langit? Siapa yang
menghidupkan bumi setelah tadinya
tandus? Mereka jawab siapa? Allah. Jadi
mereka tauhid tapi cuma parsial.
Coba lagi surat Luqman sama surat Luqman
31 ayat 25 Allah berfirman, "Wa
khalaqamawati walqulunallah." Kalau kau
bertanya kepada mereka siapa ciptanya
dari bumi? Mereka jawab adalah Allah.
Sama surat azzumar
ayat 38.
Kalau kau tanya siapa ciptan hidung?
Mereka jawab Allah. Bahkan surah
Az-Zukhruf
ayat
9 dan 87 ya. 987
87 Allah berfirman, "Walain sa'altahum
man khalaqahum." Kalau kau bertanya
siapa yang ciptakan kalian? Yang
ciptakan siapa? Mereka bilang Allah.
Tib
ya. Jadi
mereka mentauhidkan Allah tapi secara
parsial.
Namun tauhid mereka ini dalam sisi yang
lain salah. Mereka tidak mentauhidkan
Allah dalam ibadah. Jadi tidak
totalitas.
Tidak totalitas.
Tib. Kesalahannya di mana? Kesalahannya
ternyata
mereka
tidak mentauhidkan Allah
dalam hal apa? dalam hal ibadah ini.
Makanya banyak dalam Al-Qur'an Allah
melazim kecuali kecuali dalam ibadah
kecuali lagi. Kecuali lagi dalam kondisi
terdesak
kecuali dalam kondisi terdesak.
Dalam kondisi terdesak tauhid mereka
nyala nyala. Jadi mereka juga hanya
beribadah kepada Allah. Seperti Allah
berfirman,
"Terkadang mereka berdoa kepada Allah.
Kata Allah Subhanahu wa taala dalam
surat Alankabut 65. Faid roqibu
filqallah muklis lahuddin. Ini contoh 29
ayat 65. Kalau mereka sedang berlabu di
lautan kemudian dihantam dengan ombak
mereka ikhlas hanya berdoa kepada Allah.
Ya,
ini contoh ya.
Demikian juga surat Yunus ayat 22. 10
ayat 22.
Demikian juga surah Luqman ayat 32.
Ayat 32.
Jadi mereka ini dalam kondisi terdesak
mereka mentauhidkan Allah dalam mulia.
Tapi dalam kondisi nyaman mereka syirik.
Maka mereka syirik. Makanya dalam banyak
Al-Qur'an Allah melazimkan mereka karena
kau sudah ngakui rububiyah harusnya
beruluhiyah. Tadi kan kita sebutkan,
saya ulangi ibu-ibu nih. Ulangi lagi ya.
Ibu-ibu sering lupa kan? Saya bilang
tadi tauhid rububiyah berarti siapa yang
ngatur? Hanya siapa? Allah. Kalau kita
ngaku yang cipta, yang ngatur semua
hanya Allah, harusnya yang kita ibadahi
siapa? Allah. Makanya tauhid rububiyah
melazimkan tauhid ibadah atau tauhid
uluhiyah. Nanti kalau datang pertanyaan,
"Benarkah pernyataan berikut, tauhid
uluhiyah melazimkan rububiyah?" Benar
atau salah? Salah. Harusnya terba
terbalik. Rububiyah
menazimkan uluhiyah. Tapi soal enggak
mungkin gampang begitu. Enggak
sama tauhid sifat
pasti melazimkan apa? Ulu uluhiyah. Tapi
soal enggak gampang begitu. Tib.
Maka perhatikan di sini ketika
orang-orang musyrikin tauhidnya parsial,
Allah tuntut untuk totalitas.
Allah tuntut untuk totalitas. Maka saya
bilang sini karenanya perhatikan.
Eh, salah.
Karenanya
Allah tuntut mereka untuk totalitas,
totalitas.
Contohnya dalam surah Al-Baqarah ayat
21. Lihat Quran surah Albaqarah ayat 21.
Saya bacakan kata Allah. Perhatikan coba
ibu-ibu buka ayat 21.
Ayat 21 sampai 22. 21 sampai 22. Coba
Ibu buka.
Ya sudah buka saya bacakan ya. Sudah
buka surat Albaqarah 2122. Ya
ayyuhannasubudbakum.
Wahai manusia
sembahlah Allah alladzi khalaqakum yang
menciptakan kalian itu Allah sendiri.
Walladina minqoblikum. nya juga yang
telah menciptakan orang sebelum kalian.
Nikm yang kalian juga yang ciptakan
adalah Allah. Laallakum tattaquun.
Semoga kalian bertakwa. Alladzi
jaalaakumul ardu firas. Yang telah
menjadikan bumi bagi kalian apa?
Dataran. Wasamaa binaa. Yang telah
menjadikan langit sebagai apa? Eh apa
namanya? Atap. Waala min ma yang
menurunkan hujanakum
dan telah mengeluarkan buah-buahan
sebagai rezeki bagi kalian. Kalian
setahu ini fala tajalu lillahi and kalau
gitu jangan jadikan Allah sebagai
tandingan-tandingan. Paham? Wa antum
tlamun yaitu kalau kalian sudah
mengetahui rububiyah jangan beribadah
kepada selain Allah. Jangan menyekutukan
Allah. Di sini Allah mengilzamkan
mereka. Kalau kalian sudah mengakui
hanya Allah mencipta, hanya Allah
mengatur, harusnya kalian hanya
beribadah kepada siapa? Al Allah. Paham?
Maka ini adalah
tauhid parsial. Dan Allah sebut mereka
juga dalam surat Yusuf. Wama yumminu
aksaruhum billahi illa wahum musyrikun.
Wahum musyrikun. Lihat surat Yusuf ayat
106.
Quran surah 12 ayat 106.
Ini tentang mereka tentang tauhid
parsial.
Kata Allah, "Tidaklah kebanyakan mereka
beriman, yaitu beriman bahwasanya Allah
mencipta, mengatur, kecuali mereka
berbuat syirik, yaitu beribadah kepada
selain Allah." Ini tidaklah mereka
beriman kecuali syirik. Maksudnya
beriman tauhidnya parsial, rububiyah,
syirik dalam tauhid uluhiyah.
Paham?
Paham? Coba buka. Coba buka surat Yusuf
106. Coba buka semua biar jelas.
En
tidaklah kebanyakan mereka beriman,
yaitu tauhidnya parsial, yaitu
bahwasanya Allah mencipta, Allah
mengatur, kecuali mereka berbuat apa?
Syirik, yaitu salah dalam tauhid apa?
Uluhiyah atau tauhid ibadah. Paham
sampai sini?
Nah, yang terakhir jenis manusia adalah
yang tauhidnya totalitas,
yang
tauhidnya
totalitas, yaitu orang ahli tauhid,
orang Islam yang tidak pernah berbuat
syirik sama sama sekali. Rububiyah dia
bertauhid, asma sifat dia bertauhid,
uluhiyah dia bertauhid. Dia tidak pernah
percaya sama dukun. Karena dukun mengaku
mengetahui ilmu gaib. Dia bilang, "Yang
tahu ilmu gaib cuma siapa? Allah.
Berarti tahut sifatnya pas, benar.
Ya,
burung hud-hud saja tahu Nabi Sulaiman
tidak tahu ilmu gaib. Tahu dari mana?
Ketika burung hudud terlambat, Sulaiman
kan ngatur alaihi salam mengatur
pasukannya. Dia mali la arudu huda
minalibin lahuabanadidan
ya ani
apaahanni
bisultan mubin. Kata Nabi Sulaiman,
"Mana Hudhud kok aku tidak lihat ya
Hud-Hud mana?
Mana Uhud-Hudeli
atau tidak hadir saking kecil bunuh kan
kecil pasukan Sulaiman mungkin ada
gajah, ada burung, ada singa macam-macam
kuda. Ini hut mana enggak kelihatan
kata. Berarti Nabi Sulaiman tahu gaib
enggak? Enggak tahu. Hut-Hud ada enggak.
Dia pun masih bingung. Berarti dia tidak
maha melihat. Paham? Berarti Nabi
Sulaiman maha melihat atau tidak? Tidak.
Makanya hudhud ada atau tidak dia masih
nanya
aral hud huda minalimin saya kok enggak
lihat hutud memang kekecilan sehingga
enggak saya lihat atau memang tidak
hadir kemudian dia ancam lazibannahuaban
syadida abahanna saya akan siksa dia
dengan siksaan yang pedih, yaitu saya
cabut bulu-bulunya
atau saya akan sembelih dia atau dia
datangkan uzur yang benar kenapa tidak
hadir? Ternyata Hudhud kemudian datang
apa kata Hudhud ketika ketemu Sulaiman?
Hut berkata,
"Ahattu bimaamitu bih wajuka binabin
sabain binabain yaqin." Kata Hutud
Sulaiman, "Saya punya ilmu yang kau
tidak tahu. Saya baru datang dari negeri
Sabar yang nyata." Berarti Hud-Hud tahu
Sulaiman tidak tahu kondisi negeri Saba.
Benar atau tidak? Sulaiman yang anak
buahnya jin tidak tahu ilmu gaib.
Maksudnya hud-hud bertauhid.
Hud-hud ber tauhid.
itu nabi. Terus kita bilang dukun tahu
masa depan dari mana? Siapa yang
mengatakan dukun tahu masa depan?
Tauhidnya tidak totalitas tapi cuma
parsial.
Siapa yang beribadah kepada mayat-mayat,
minta kepada mayat-mayat, berdoa kepada
mayat-mayat, menghinakan diri depan
mayat-mayat, bahkan lebih khusyuk minta
kepada mayat di kuburan daripada minta
kepada Allah, tauhidnya tidak totalitas.
Tauhidnya parsial. Maka inilah kenapa
kita bagi tauhid sebenarnya bukan
apa-apa. Tidak bagi pun gak apa-apa
supaya tauhid kita bisa tota totalitas.
Dan demikian saja saya sampaikan.
Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Read
file updated 2026-02-16 11:28:45 UTC
Categories
Manage