Kitab Tauhid #1: Definisi Tauhid & Macam-Macamnya
NJd3OxJ1oK0 • 2026-02-11
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrul lahu ala taufikihin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan. Para ibu-ibu yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Demikian juga para hadirin yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Insyaallah pada kesempatan kali ini kita membahas buku baru yaitu karya seorang ee doktor dari India ya. Dia menulis buku judulnya Kitabut Tauhid fi akidatil Imam Syafi'i rahimahullahu taala. yaitu kitab tauhid berdasarkan akidahnya Al Imam Syafi'i. Ee penulis ini ee hafidahullah beliau ee berusaha mengumpulkan statement-statement dari Al Imam Syafi'i rahimahullahu taala yang terkait dengan akidah dan buku-buku seperti ini sudah banyak ya ee mengumpulkan statement-statement Al Imam Syafi'i terkait dengan akidah. dan saya sudah pernah juga membahas satu buku sampai selesai juga tentang ee akidah Imam Syafi'i ya. Ada beberapa buku yang semakna dengan ini. Ee cuma yang membedakan satu buku dengan buku yang lain adalah dari sisi tabwib, yaitu masalah bab ini, bab ini. Sehingga masing-masing ulama menulis bab yang menurut mereka sesuai dengan statement Imam Syafi'i. Sesuai dengan statement Imam Syafi'i. Jadi, Imam Syafi'i belum kita ketahui menulis suatu buku akidah, enggak ya. Tetapi statement beliau dalam buku-buku beliau ya. atau yang diriwayatkan oleh murid-muridnya banyak terkait dengan masalah akidah. Banyak terkait dengan masalah akidah. Baik terkait dengan akidah ee rububiyah maupun al-asma was sifat maupun tauhid al-uluhiyah. Maka pada kesempatan ini kita akan bahas buku baru ya, judulnya ee Kitabut Tauhid fi ee dii akidati al Imam Syafi'i. Maknanya yaitu kitab tauhid berdasarkan akidah Imam Syafi'i ya. Kitab tauhid berdasarkan akidah Imam Syafi'i. Ini perlu kita ketahui karena sebagian orang mereka mengikuti Al Imam Syafi'i dari sisi fikih, namun tidak mengikuti Imam Syafi'i dari sisi akidah. Sebagai contoh, Imam Syafi'i terkenal sangat menentang ilmu kalam. Ya, ilmu kalam. Dan Imam Syafi'i menentang habis-habisan ilmu kalam, tetapi ternyata banyak pengikut dari mazhab fikih Imam Syafi'i yang tenggelam dalam ilmu kalam. Demikian juga Imam Syafi'i memperingatkan tentang perbuatan orang-orang sufiyah yang menyimpang. Tetapi banyak dari pengikutnya yang secara mazhab fikih adalah mazhab Syafi'i, tetapi ternyata ee menyelisihi Imam Syafi'i secara akidah. Saya ulangi lagi, buku-buku terkait menunjukkan akidah Imam Syafi'i banyak ditulis ya. Ya, termasuk saya juga pernah nulis buku judulnya ajaran-ajaran Imam Syafi'i yang ditinggalkan oleh sebagian pengikutnya. Ya, tidak seluruhnya tapi sebagian pengikutnya. Maka mulai kajian kali ini kita akan menampilkan statement-statement Imam Syafi'i yang terkait dengan masalah akidah. Jadi ee urgensinya mungkin kita bisa sebutkan urgensinya yang pertama ee mengenal akidah salah satu imam ahlusunah. Imam ahlusunah yaitu siapa? Al Imam Syafi'i. Dengan kita membelajar buku ini, kita akan tahu akidah Imam Syafi'i secara lebih detail ya. Ee yang kedua ya untuk ee apa namanya? mengkritiki orang-orang yang hanya ikut Imam Syafi'i dalam masalah fikih. Dalam masalah fikih. Namun tidak ikut dalam masalah akidah. Dalam masalah akidah. Sebagai contoh seperti Ar-Razzi. Ar-Razi secara fikih dia termasuk bermazhab Syafi'i. Tapi ketika dia bicara akidah, dia menyelisihi Imam Syafi'i. Ketika dia membahas tentang masalah iman, dia bilang al Imam Syafi'i radhiallahu anhu menyatakan iman itu adalah iktikad, lisan, dan jawarih, amal apa? Amalan hati, perkataan, maupun perbuatan. Kemudian dia kritik, kata dia, "Ini tidak tepat. Yang tepat amal tidak usah dimasukkan dalam iman." Maksud saya Arrazi yang dia hidup di abad keenam, dia tahu bahwasanya Imam Syafi'i punya statement tentang masalah akidah. Namun, Arrazi tetap mengkritiki karena tidak sesuai dengan akidah yang dia miliki, yang tenggelam dalam ilmu al-kalam. Ya. Maka ee kita ingin mengkritiki hal ini bahwasanya ada sebagian ee orang-orang yang mengikuti Imam Syafi'i dalam sisi fikih. Namun dalam masalah akidah mereka ee tidak mengikuti Imam Syafi'i. Tapi mereka mengambil imam lain yang menurut mereka mungkin lebih cocok akidahnya daripada Al Imam Syafi'i. Dan buku-buku seperti ini lebih tepat untuk mengkritiki mereka ya. Kemudian juga kalau kita ada kesempatan, kita akan menjelaskan bahwasanya ee ulama-ulama Syafiiah terdahulu ya ulama-ulama Syafi'ia terdahulu lebih mengetahu lebih mengetahui akidah Imam Syafi'i. Imam Syafi'i sehingga mereka menulis kitab-kitab akidah. Kitab-kitab akidah ya. Dan ini banyak ulama-ulama Syafiah seperti zaman dulu seperti Ibnu Khuzaimah ee punya kitab tauhid. Kemudian juga misalnya setelahnya ada misalnya Assabuni ya, ada juga Almuzani muridnya Imam Syafi'i. Kemudian contohnya ini ulama-ulama Syafi'iyah yang terdahulu yang mereka menulis akidah yang diselisihi oleh ulama fikih Syafi'i belakangan. Ya, makanya ada risalah ilmiah judulnya penyelisihan ulama Syafi'iyah belakangan yang menyelisihi ulama Syafi'iyah terdahulu ya. Karena ulama Syafi terdahulu akidahnya dekat dengan akidah Imam Syafi'i. Beda dengan ulama Syafi'iyah belakangan yang mereka menyelisihi akidah Imam Syafi'i. Ya. Tib yang terpenting lagi kita adalah ee belajar tauhid yang merupakan tujuan kita diciptakan. Tujuan kita hidup, kita diciptakan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an, wama khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun. Wama khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun. Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Beribadah dengan tauhid yaitu hanya beribadah kepadaku. Hanya beribadah kepadaku. Kepada Allah. Ya. Hanya beribadah kepada Allah. Itulah apa? Tau tauhid. Dan seorang harus senantiasa belajar tauhid. Karena namanya godaan untuk membuat orang berpaling dari tauhid selalu ada ya godaan kita. Contoh saja kita jujur dalam kehidupan ini ya. Meskipun dia sudah belajar agama, belajar agama terkadang kita tidak bertawakal kepada Allah. Kita bertawakal kepada sebab-sebab ya. Sehingga kita lupa untuk bersandar kepada Allah. Ini terkadang kita alami. Tawakal kita bukan kepada Allah. Ya, tawakal kita kepada customer misalnya, tawakal kita kepada dokter misalnya, misalnya tawakal kita kepada bos kita, kita enggak tawakal kepada Allah. Padahal itu semua adalah sebab harusnya tawakal kepada siapa? Allah. Ini contoh bahwasanya kita butuh tauhid dalam setiap saat. Betapa sering kita dikasih musibah, kita tidak rida. Benar atau tidak? Kita protes, kita teriak-teriak, kenapa? tauhid kita kurang mantap sehingga kita akhirnya ee secara ilmu kita sudah ada, tetapi ketika tidak kita ulang-ulang ilmu itu terkadang hilang ketika saat kita butuhkan sehingga kita akhirnya tidak sabar kita protes, curhat bikin status, rubah-rubah status dan seterusnya. Ini contoh ya. Betapa sering kita suuzon kepada Allah. Seakan-akan Allah tidak bijak. Seakan-akan Allah tidak hakim, Allah tidak adil. Seakan-akan Allah tidak mengetahui kondisi saya. Kok begini saya diginikan apa Allah tidak ngerti kondisi saya. Saya kadang-kadang deming padahal Allah adalah alalim alhakim. Ini kita rasakan ya bahwasanya ee kita senantiasa butuh tauhid. Betapa sering kita tertimbul dalam hati kita ingin dipuji, ingin disanjung, ingin riak. Karena dalam di balik ria ada kelezatan, ada kenyamanan disanjung orang. Sehingga kita mulai nunjuk-nunjukkan publish amal saleh kita. Kita menunjukkan siapa diri kita, siapa jati diri kita agar diakui oleh manusia. Dan ri dikatakan oleh Alghazali tholabul manzilah fi qulubinas yaitu mencari kedudukan di hati manusia. Itu namanya apa? ri. Betapa sering kita seperti itu. Betapa sering kita ujub bahwasanya kita merasa berhasil karena kemampuan kita, karena saya hebat, karena saya banyak belajar, karena saya sudah merintis dari awal, karena saya yang mulai dari nol, karena karena sehingga dia sehingga kita menisbahkan seluruh keberhasilan kepada diri kita, bukan kepada Allah Subhanahu wa taala. Kalau kita bilang alhamdulillah hanya basa-basi. Sesungguhnya kita ingin mengatakan karena saya begini, itulah ujub. itu berarti tauhid kita bermasalah. Tauhid kita bermasalah. Jadi jangan dianggap tauhid itu pembahasan selesai. Yang penting tahu syirik mana yang tauhid kemudian selesai. Gak. Ini pembahasan yang kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi para ibu-ibu yang sering baper ya. Ya. Banyak prasangka. Baper artinya apa? Hah? Oh, bawa perasaan. Bukan banyak prasangka. Bawa perasaan. Bawa terlalu sedikit-dikit baper sedikit mewek sedikit-sedikit. bikin status sedikit-sedikit, curhat sedikit-sedikit begitu. Akhirnya kalau karena ibu-ibu terlalu sering baper, sebagian bapak-bapak juga baper. Akhirnya ketularan ibu-ibu. Ya, bab. Ini sekedar gambaran ee tentang urgensinya kita belajar apa tauhid. Ya, belum lagi banyak penyimpangan terkait dengan tauhid. Ee setelah itu kita masuk pada mukadimah tentang definisi tauhid. Ya, sebelum kita masuk dalam buku semua sudah dibagi kan? Ee bukunya apa yang PDF? Iya, tapi di grup. Oh. Oh, iya. Di-share grup ya. Ada saya potong lima bab nanti insyaallah kalau bukunya sudah jadi dalam buku dibagi insyaallah. Tib. Jadi mukadimah kita bahas tentang ee definisi tauhid. Tentu kita akan hanya singkat saja ya. Tauhid. Apa definisi tauhid? Tauhid secara bahasa dari perkataan wahada yuwahidu. Yuwahidu tauhidan. Wahada yuwahidu artinya menjadikan mengesakan. Kalau bahasa kita meng esakan yaitu menjadikan satu. Lawannya adalah isyraq. lawannya adalah isyraq. Tasrik atau isyraq, yaitu al-isyrat atau tasyrik, yaitu ee mensekutukan. Itu artinya men menyekutukan Allah. Ya, dalam hal ini mengesakan Allah ee isyrq mensekutukan Allah Subhanahu wa taala. Ini makna dari tauhid. Dan lafal tauhid datang dalam banyak dalil ya, terutama dalam hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam ya. Dalam Al-Qur'an, qul huallahu ahad. Dialah maha esa. Maka itu menuntut kita untuk mengesakan Allah. Wa ilahukum ilahu wahid. Ya Tuhanmu adalah Tuhan yang esa. W w w w w umiru illa liya'budu ilaha wahida. Mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan yang e esa. Jadi dalam Al-Qur'an banyak sekali ee menjelaskan tentang keesaan Allah Subhanahu wa taala. Keesaan dari segala sisi. Itu namanya dalam Al dalam hadis Rasulullah menggunakan istilah tauhid seperti ketika Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam mengutus Muad bin Jabal. Kata Rasul sallallahu alaihi wasallam, "Falyakun awalu maaduhum ilaihi ayyuahidullah." Kalau kau berdakwah kepada orang-orang ahlul kitab, kata Nabi, "Jadikanlah dakwahmu pertama kali adalah engkau menyuruh mereka untuk bertauhid." Dalam lafal yang lain, alfalyakun awal maaduhum ilaihi ila tauhidillah. Jadikanlah dakwahmu pertama kali kepada tauhid. Ya, kepada tauhid. Demikian juga ketika Nabi sedang bertalbih labbaik Allahumma labbaik labbaika la syarika laka labbaik maka Jabir berkata, "Falabban Nabiu sallallahu alaihi wasallam bit tauhid." Nabi bertalbiah dengan tau tauhid yaitu dengan pengesaan Allah. Ya. Demikian juga ee Rasulullah mengatakan dahulu ya ada seorang Bani Israil lam y'mal khairan qod illat tauhid. Dia tidak punya amal apapun kecuali tauhid. Jadi tauhid itu istilah syari. Tauhid istilah syari sudah dikenal sejak dahulu. Nabi juga menggunakan istilah tauhid. Demikian juga ketika Amr bin Ash radhiallahu anhu bapaknya meninggal itu Al-As bin Wail meninggal dalam kondisi syirik. Tapi dia pernah bernazar ingin ee menyembelih 100 ekor unta. Ketika dia meninggal tidak sempat menjalankan nazarnya. Am ingin menunaikan nazar bapaknya. Maka Amar bin As datang kepada Nabi, "Ya Rasulullah, bapak saya pernah bernazar untuk menyembelih seekor 500 ekor unta. Saya pengin nyembelih 50nya. Apakah bermanfaat?" Nabi mengatakan, "Tidak." Amma abuka laana aq bituhid lanaik. Adapun ayahmu seandainya dia mengakui tauhid akan bermanfaat, tapi ternyata dia meninggal dalam kondisi apa? Syirik. Lawan daripada tauhid. Jadi istilah tauhid ya. Jadi kalau kita bicara tentang secara ee secara syari, secara syar'i atau istilah ya, maka telah datang dalam datang dalam hadis-hadis Nabi Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, tadi tauhid istilah apa? Istilah atauhid. Tadi saya sudah sebutkan dalil-dalilnya ya. Kemudian juga istilah ini telah dikenal oleh para ulama. Telah dikenal oleh para ulama. Di antaranya Imam Syafi'i. Nanti kita nukil. Imam Syafi'i menggunakan istilah apa? Tauhid. Dikenal oleh para ulama. Tib. Di antaranya misalnya Imam Bukhari punya buku judulnya Kitabut Tauhid. Imam Bukhari ya tadi kita mengatakan Imam Bukhari dalam kitab sahihnya ada buku namanya Kitabut Tauhid. Imam Ibnu Khuzaimah ini mazhab Syafi'i. Ibnu Khuzaimah punya buku judulnya juga kitab tauhid. Ibnu Mandah ini ulama-ulama terdahulu ya juga punya buku judulnya kitab Tauhid. Jadi istilah Tauhid ini banyak ya sudah dikenal oleh para ulama selain datang dalam hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam ya. Tib. Kalau begitu, apa makna tauhid? Apa makna tauhid? Nah, ini kita mau bahas. Sudah, Ibu-ibu? Sudah, ya. J kalau pakai tauhid istilah baru, enggak. Tauhid istilah lama, ya. Dalam Al-Qur'an Allah suruh ilahan wahida. Dalam hadis-hadis Nabi juga banyak. Nabi menggunakan istilah ata-tauhid. Ya. Ya. Tib. Sekarang kita akan bahas definisi tauhid secara syari. Sudah, Ibu-ibu? Sudah, ya. Oke. Definisi tauhid secara syari. Definisi tauhid secara syari. Apa tauhid? Tauhid adalah mengesakan Allah, mengesakan Allah dalam segala hal terkait yang terkait dengan dengan keesaannya. Tauhid kalau kita dalam Pancasila sila pertama Tuhan yang maha esa. Ini tauhid adalah apa? Sila pertama. Apa? Sila pertama masih hafal enggak? Kalau sila pertama masih hafal. Sila keempat ya. Sudah sudah. Alhamdulillah masih hafal ya. Iya. Tib. Mengesakan Allah dalam segala hal yang terkait dengan terkait dengan keesaan. Saya ajak Ibu-ibu untuk merenungkan. Pertama, pertama saya tanya apakah apakah ee zat Allah esa? Iya atau tidak? Iya. Zat Allah esa. Yang kedua, apakah Allah mencipta sendirian? Benar enggak? Berarti esa dalam penciptaan. Kalau kita bahasa kita, esa dalam apa? Mencipta. Bab. Apakah Allah esa dalam mengatur alam semesta? Iya. Apa? Allah butuh bantuan orang untuk ngatur gak? Allah mengatakan, "Wala yauduhu hifzuhuma." Tidak melelahkan Allah sama sekali mengatur langit dan bumi. Ngurus langit dan bumi tidak Allah tidak butuh yang lain. Ya Allah mengatakan, "Apakah Allah esa dalam mengatur alam?" Jawabannya iya. Jawabannya iya. Apakah semua ini adalah milik Allah semata? Iya. Semua alam semesta milik Allah semata. Jawabannya iya. Kita semua sepakat jawabannya apa? Iya. Ya. Adakah yang menghidupkan selain Allah, mematikan selain Allah? Enggak ada. Ini pertanyaan pertama Ibu sudah jawab ya. Nanti saya kasih jelas penjelasan. Yang kedua saya mau tanya lagi, apakah ada sifat makhluk yang sama dengan sifat Allah? Yang sama atau selevel dengan sifat Allah? Tentu jawabannya tidak. Tidak ada. Tib. Makhluk berilmu, Allah berilmu. Sama-sama sifat ilmu. Lafalnya beda atau tidak beda. Saya kasih contoh misalnya ilmu sekarang terkait dengan ilmu. Ilmu makhluk ilmu Allah. Bedanya banyak. Bedanya pertama tanpa didahului ketidaktahuan. Tanpa didahului kebodohan. Adapun manusia bodoh dulu. Iya enggak bodoh dulu. Wallahu akhrajakum min butini umat hatikum la tamamuna. Kata Allah keluarkan kalian dari perut ibu kalian tanpa tahu ilmu sama sekali. Walakum wal absidah. Lalu Allah jadikan bagi kalian penglihatan pendengaran hati. Ini semua adalah alat untuk cari ilmu. Dengan melihat tambah ilmu, dengan mendengar tambah ilmu. Dengan merenungkan tambah ilmu. Jadi ini beda. Kemudian Allah tidak lupa. Manusia lupa enggak? Allah berfirman, "Ma kanana rbuka nasiya." Allah tidak pernah lupa. Manusia lupa. Kemudian ilmu Allah tanpa batas. Tahu segalanya. Ilmu manusia cetek ya. Cetek atau tidak cetek. Ilmu gaib tidak tahu. Masa depan tidak tahu, masa lalu tidak tahu. Ilmu dia cuma sedikit. Satu ilmu saja kita bicara ilmu fisika saja tidak ada satu manusia pakar fisika seluruh enggak ada. Apalagi sekarang ilmu kedokteran masing-masing punya spesialisasi. Spesialisasi enggak ada yang punya ilmu sebetulnya enggak ada. Ya. Kemudian ilmu manusia pun bertahap. Bertahap dan tadi bertahap Allah langsung tanpa batas ya. Sehingga kita tahu bahwasanya tidak ada sifat makhluk yang sama dengan sifat Allah. Enggak ada. Paham? Dari sini kita mengesakan Allah dalam sifatnya. Ini kalau kita katakan berarti kita mengesakan Allah. mengesakan Allah dalam setiap sifatnya. Sifat Allah semua begitu. Makanya kita kalau terjemahkan sifat kita bilang maha. Maha berilmu. Kenapa kita tambah maha? Untuk membedakan dengan ilmu manu manusia. Karena kalimat maha itu, kata maha itu menunjukkan pengesaan. Hanya Allah yang seperti ini. Makanya kita kasih tambah apa? Maha. Kita bilang maha. Maha ini isyarat pengesaan. Mengyarat mengesakan. Kita bilang Allah maha kuat. Iya enggak? Allah maha berilmu. Karena manusia juganya kuat. Tapi kuat. Manusia tidak sama dengan kuat Allah. Makil Allah maha berilmu. Allah maha kuat. Allah maha bijaksana. Allah maha adil, maha maha maha selalu kita tambah maha untuk menunjukkan cuma Allah yang begitu sehingga Allah maha esa dalam sifat sifat-sifatnya. Sampai sini sepakat? Sepakat. Tib. Yang ketiga kita juga mengesakan adalah apa? Bahwasannya apakah hanya Allah yang berhak disembah? berhak diserahkan ibadah. Iya atau tidak? Iya. Atau ada zat lain boleh kita ibadah? Enggak ada. Enggak ada. Maka kita hanya berdoa. Doa ibadah banyak. Ada doa, ada menyembelih, ada bernazar. Ini semuanya untuk siapa? Untuk Allah. Karena karena Dia yang maha sempurna. Karena Dia yang maha sempurna. Nah, Ibu-ibu yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Ini saya rasa tidak ada yang menyelisihi. Ibu-ibu tanya siapapun orang di pasar, orang siapapun. Ibu tanya, "Apakah Allah cipta sendiri?" Dia pasti bilang, "I iya." "Apakah ada yang ikut mengatur alam semesta?" Dia pasti bilang, "Ti tidak." Apakah ada yang menyamai sifat Allah? Dia pasti bilang ti tidak. Apa ada yang berhak disembah selain Allah? Pasti dia bilang ti tidak. Jadi ini kesepakatan kaum muslimin. Gak ada yang khilaf dalam masalah ini. Secara konten, saya perhatikan ya. Secara konten makna secara konten ya semua muslim sepakat benar atau tidak. Nah, sudah saya sepakat. Nah, kemudian ulama untuk mudah pembelajaran mereka menamakan istilah-istilah ini untuk nomor satu mereka namakan dengan tauhid rububiyah. rububiyah. Rububiyah. Rububiyah itu apa? Rubiyah itu terkait dengan rubiyah itu seperti ibu mentarbiah anak. Allah mentarbiah makhluknya itu Allah ciptakan, Allah aturin, Allah kasih rezeki, Allah menghidupkan, Allah mematikan, Allah membangkitkan, Allah mengadili. Itu namanya rububiyah. Ini istilah ulama menamakan tauhid rububiyah. Maksudnya dalam urusan ini semua kita harus mengesakan Allah. Hanya Allah bersendirian dalam mencipta, mengatur, menguasai dan seluruhnya. Itu namanya tauhid apa? Rubiyah. Paham? Nah, untuk nomor dua kita namakan dengan tauhid sifat. Tauhid apa? Sifat. Yaitu sifat. Sifat-sifat ya. Karena sifat Allah tidak ada yang menya menyamainya. Paham? Untuk yang ketiga, karena ibadahnya untuk Allah kita namakan dengan tauhidul ibadah. Namanya apa? Tauhidu al-ibadah atau al-uluihiyah. Tauhidul ibadah atau al-uluhiyah. Ini istilah sebagian orang mungkin mengingkari. Karena kita sepakat sebagian orang mungkin mengingkari. Ngapain dibagi-bagi tiga? Loh, ini cuma pembelajaran. Enggak usah dikasih nama juga enggak apa-apa. Cuma ini kasih nama ini supaya kita bisa belajar dengan lebih baik. Karena ternyata ada orang yang mentauhidkan Allah pada sebagian sisi, tidak totalitas. Dia hanya tauhidnya parsial. Ada atau tidak ada? Tauhidnya cuma parsial. Contoh dia mengatakan, "Saya mengakui yang cipta alam semesta cuma Allah." Tapi ternyata dia bilang, "Ada yang tahu ilmu gaib selain Allah." Berarti dia masalah di tauhid mana? Ini tauhid si sifat. Padahal yang tahu ilmu gaib cuma siapa? Allah. Ya, berarti dia tauhidnya parsial. Jadi saya ulangi secara konten ini saya tadi katikan secara konten semua muslim sepakat Allah Maha Esa dalam zatnya, dalam mencipta dalam pengaturan. Dan Allah juga maha esa dalam sifat-sifatnya tidak ada yang menyamai. Dan Allah juga maha esa bahwasanya dia saja yang berhak untuk diibadahi. Paham atau tidak ada yang khilaf masalah ini? Enggak ada. Cuma ulama kasih nama. Penamaan itu buat apa sih pembagian itu? Untuk pembela pembelajaran untuk mudah. Kenapa perlu dibagi ini? Karena ternyata ada orang yang tauhidnya tidak totalitas tapi par parsial. Sampai sini paham? Paham. Ya, saya lanjut ya. Lanjut. Tib. Sekarang saya datangkan dalam bentuk lebih rapi ya. Sama seperti tadi cuma saya datangkan lebih rapi. Saya bilang tauhid ada berapa? Tiga bagian. Yang pertama namanya tauhid arrububiyah. Rububiyah tadi apa, Ibu-ibu? seperti orang tua mentarbiah apa anak itu tergantung pengurusan tauhid arrububiyah. Rububiyah itu dari tarbiah maknanya apa? Pengu pengurusan. Pengurusan. Nah, kalau Allah pengurusan maksudnya apa? Mereka bilang di antaranya ee tentu zat Allah satu. Karena kalau Allah berbilang nanti ribut mau ngatur ya. Jadi zat Allah apa? esa. Kemudian setelah itu pengurusan juga esa, pengurusan makhluknya juga e juga esa ya. Nah, pengurusan makhluknya ada tiga, tiga rukun. Perhatikan sini. Yang pertama adalah penciptaan. Yang kedua adalah pemilikan. Yang ketiga adalah pengaturan. Nah, Allah esa dalam penciptaan, Allah esa dalam pemilikan, Allah esa dalam penga pengaturan. Penciptaan hanya Allah yang cipta sendiri. Paham ya? Hal min khaliqin ghairullah yakluquukum. Ya. Ya. Apakah ada ee aruni maza khalaqalladina min dunih. Tunjukkan kepadaku mana ciptaan ciptaan sembahan kalian. Gak ada. Semua ciptaan siapa? Allah. Pengaturan ee ada tiga juga yang diatur. Yang pertama adalah proses tasyirul kaun, yaitu pengaturan alam semesta. jalannya alam semesta. Saya tanya sama ibu-ibu, siapa yang ngatur matahari? Allah. Siapa yang mengatur rembulan? Allah. Mengatur hujan, mengatur awan, mengatur apa? Semuanya yang ngatur siapa? Allah. Ini satu. Yang kedua adalah pengaturan terkait kadar. Pengaturan kadar, kadar-kadar makhluk. takdir ya. Ini attqdir atau ee kadar-kadar makhluk untuk makhluk. Seperti apa kadar untuk makhluk? Seperti bentuk, rezeki, ajal. Allah kasih kadar masing-masing. Paham? Seperti apa kadar-kad ini? Sederhana biar paham. Kadar-kadar seperti apa bentuk? Apalagi riz rezeki ajal ya. Bahagia atau enggak, tinggi atau pendek. Ini semua Allah yang atur. Itu namanya kadar-kadar. Gak ada yang ikut-ikutan. Bahkan seorang ibu ketika mengandung anaknya, dia hanya mengandung. Tapi yang menentukan bentuknya, warna kulitnya, ajalnya siapa? Allah. Ya kata Allah, "Fi ayi suratin masyaarabak." Pada bentuk mana yang Allah kehendaki menyusun kalian. Terserah Allah. Terserah Allah. Ya, kalau kita yang suruh bentuk pasti kita bikin anak kita maunya begini begini begini begini. Tapi bentuk bukan bukan di tangan kita. Pengaturan yang ketiga terkait hari kebangkitan. Hari kebangkitan ini Allah yang ngatur semata. Adakah yang ikut menghancurkan alam semesta di akhir zaman? Gak ada. Adakah yang ikut membangkitkan Allah? Enggak ada. Adakah yang ikut menyidang makhluk? Enggak ada. Enggak ada. Allah menyidang seluruh makhluk sendirian. Wahua syariul hisab dan hisabnya sangat cepat. Adakah yang menimbang amal? Tidak ada. Hanya Allah sema semata. Yang masukkan surga dan neraka juga cuma siapa? Allah. Makanya semua raja kalau di dunia sok-sok ngatur, di akhirat semuanya ketakutan. Kata Allah, "Anal malik aina mulukl ard?" Aku Maha Raja. Mana raja-raja dunia? Ayo. Enggak ada yang berani muncul. Makanya di antara makna yang sangat agung tentang rububiyah, Maliki yaumiddin yang menguasai hari pembalasan. Dalam qiraah yang lain, mimnya pendek. Maliki yaumiddin. Kalau Maliki yaumiddin artinya raja. Raja di hari pembalasan. Karena memang nabi aja ketakutan, para nabi aja takut. Semua enggak ada yang bisa macam-macam ketika di hari kiamat. Jadi rububiyah itu sangat nampak ketika hari kebangkitan. Gak ada yang sombong-sombong lagi. Karena semuanya Allah yang ngatur. Ini namanya tauhid apa, Ibu-ibu? Rubiyah. Ya, paham. Yang kedua tadi kita bilang tauhid apa? Tauhid asma dan sifat. ya, nama-nama dan sifat-sifat Allah ya tadi sudah kita jelaskan yaitu sifat Allah tidak ada yang menyamainya. Allah boleh jadi sifat makhluk sama dengan sifat Allah tapi level sifat Allah tidak sama dengan level makhluk. Sudah tadi kita contohkan sifat apa? Il ilmu. Manusia punya ilmu enggak? Punya. Allah punya ilmu enggak? Punya. Nama sama tapi level berbeda. Makanya setiap sifat kita kasih lafal apa? Kata apa? Maha. Paham? Saya tadi malam bahas ayat dalam Al-Qur'an dalam surat An-Nisa tentang waris. Ya apa? wahidatan wahiduma inahuadam yakahu seterusnya sampai Allah mengatakan di akhir abukum waukumakum minallah inallah aliman hakim Jadi Allah menyebut dalam surat dalam surah An-Nisa kalau enggak salah ayat 11 saya lupa ayat berapa ya. Ayat 11 ya. Jadi Allah cerita tentang warisan. Allah atur nih warisan ibu begini kalau ada anaknya begini. Kalau enggak punya anak ibu dapat sekian, bapak dapat sekian. Kalau anak laki-laki anak perempuan satu dapat sekian. Kalau anak perempuan banyak dapat sekian. Kalau anak ini punya saudara-saudara dapat dibagi secara detail oleh Allah subhanahu wa taala. Setelah itu Allah mengatakan, "Bapak kalian, ibu kalian, anak laki-laki kalian, anak perempuan kalian, kalian tidak tahu mana yang lebih bermanfaat bagi kalian." Makanya yang bagi aturan Allah kalau kita ikut pikiran kita, kita paling hanya yang kita kasih yang paling kita sayangi. Ini anak baik kok baik. Selama saya hidup dia baik. Sudah kamu saya kasih warisan banyak-banyak. Kita enggak tahu bisa jadi setelah kita meninggal dia nakal. Bisa jadi ada anak yang mungkin kurang baik tapi kita kasih warisan sesuai dengan aturan, ternyata dia menjadi anak saleh. Setelah setelah itu bisa jadi ada anak yang ternyata ee mungkin tidak pintar, tidak kaya, tapi dia sering mendoakan kita. Kita enggak tahu. Bisa jadi kita punya anak ternyata cacat, mental, tetapi ternyata kita dapat pahala banyak gara-gara ngurusin dia. Makanya Allah mengatakan, "Kau tidak tahu siapa yang lebih bermanfaat bagimu, baik di dunia maupun di akhirat." Siapa yang lebih tahu? Al Allah. Makanya jangan pernah meremehkan anak-anak. Ya, ada ada kaun cerita dia punya punya beberapa bersaudara tinggal di Makkah semuanya saleh-saleh hafiz Quran. Ada anak satu kurang ajar ya. Kurang ajar. Semua dia kerjakan. Narkoba dia kerjakan. Minum khamar dia kerjakan. Padahal dia tinggal di Makkah. Akhirnya dibenci sama atau tidak bukan dibenci dimarah-marahin. Akhirnya dia pergi ke luar negeri entah ke London entah ke mana. Ternyata di sana dia belajar agama jadi dai. Banyak orang masuk Islam gara-gara dia. Maksudnya kita enggak tahu bagaimana penghujung seseorang. Kita enggak tahu. Allah mengatakan kalian tidak tahu. Allah mengatakan abaukum wa abnaukum laun ayum aqakumum naf. Bapak kalian, ibu kalian, anak kalian, putra kalian, putri kalian, kalian tidak tahu mana yang lebih manfaat buat kalian setelah kalian meninggal di dunia maupun di akhirat. Yang tahu cuma siapa? Allah. Ini banyak ilmu kita terbatas. Kita enggak tahu masa depan. Allah mengatakan, "Wa asa an takqrahuaian wahua khairul lakum." Bisa jadi kau benci sesuatu ternyata baik bagi bagimu. Wa asa anhibakum. Bisa jadi kau cinta sesu benci sesuatu ternyata baik bagimu. Bisa jadi kau cinta sesuatu ternyata buruk berikbag. Allahu aamu wa antum laun. Allah tahu. Kalian tidak tidak tahu. Ini menunjukkan kelemahan ilmu kita dan betapa sering kita lupa. Sering lupa. Kita kalau anak banyak kadang nyebut nama sering salah ya. Ee ee benar atau tidak? Benar enggak anak lima sudah bingung satu nomor lima nanti nyebut kelima baru ingat kita lupa. Makanya Nabi Adam alaihi salam lupa ketika dia dikasih umur 1000 tahun oleh Allah. Kemudian Allah tunjukkan anak keturunannya. Tiba-tiba dia lihat Nabi Daud. Ini siapa ini? Ini Daud. Cucumu? Adam alaihi salam bertanya sama Allah. Dia berapa umurnya? Kata Allah 60 tahun. Waduh kasihan. Tambah 40 tahun. potong umurmu. Iya. Allah ambil umur Nabi Adam dari 1000 kurang 40 tinggal berapa? Punya ijazah enggak? 1000 kur 40 tinggal berapa? 960 sudah kurang dikasih sama Daud. Jadi Nabi Daud umurnya jadi berapa? 100 TB. 960 tahun kemudian malaikat maut datang Nabi Adam. Hai Adam saatnya meninggal. Kata belum. Umur saya 1000 loh. Bukannya kau sudah kasih sama Daud mana? Enggak pernah. Adam lupa. Sudah 900 tahun berikutnya. Kata Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, "Nasya Adam wasat durriyatuh." Adam lupa, anak-anaknya juga, keturunan juga lu lupa. Kita lupa. Enggak usah 1000 tahun, enggak usah 5 tahun baru 10 tahun kita sudah sudah lupa. Makanya orang kalau datang sama saya, "Ustaz, ingat saya enggak?" "Aduh itu nih Ustaz itu pernah ini kita fotoan bareng di Madinah." Aduh, saya bilang saya punya kaidah. Kalau saya tidak diajak makan gratis, saya lupa. Kalau saya diajak makan, insyaallah saya ingat. Makanya ada orang pernah ketemu saya di hotel waktu saya di Jogja. Asalamualaikum, Ustaz. Ingat enggak, Ustaz? Ah, ya ya, ya, ya. Kita makan bareng loh. Kalau makan bareng harusnya saya ingat nih. Tapi ini keluar kaidah. Saya bilang, "Iya kok saya lupa ya." Dia bilang, "Waktu itu, Ustaz ajak saya makan." Hah? Karena saya yang bayar. Saya lupa. Kalau kamu yang bayar, saya ingat. Tapi mau saya ilmu kita tuh cetek. Kita tuh lupa. Makanya kalau orang lupakan kebaikan kita, jangan terlalu sedih. Memang manusia pelupa. Kita sudah baik, dia lama-lama dia lupa. Dia ketemu teman lebih kaya, kita dilupa, dilupakan. Kebaikan kita diremehkan. Karena manusia pelupa, tapi Allah tidak bakalan lu lupa. Memang kalau kita berbuat jangankan berbuat baik besar-besar, senyum aja Allah lupa atau tidak? Tidak. Kita senyum sama orang karena Allah, Allah lupa gak? Gak. Makanya waktu Syekh Saad Asyatri datang ke Indonesia, dia tinggal di suatu hotel milik kawan. Saya waktu penterjemah. Datang kawan tersebut. Terus Syekh bilang, "Kamu nanti kalau ke Makkah atau ke Madinah, saya lagi ngajar, kamu ketemu sayalah." Kata dia, "Syekh, di Makkah ente lagi ngajar banyak orang. Nanti antum lupa sama saya." Kata Syekh, "Kalaupun saya lupa, Allah tidak bakalan apa?" Lupa. Oh, iya benar. Katanya. Jadi, maksud saya kita ini punya ilmu. Allah punya ilmu tapi levelnya tidak sa. Allah maha berilmu. Makanya disebut dengan tauhid asma was sifat. Ya, tauhid al-asma wa sifat. Nama-nama Allah maksudnya setiap nama mengandung sifat. Setiap nama mengandung sifat Allah alalim punya sifat il ilmu. Yang ketiga namanya tadi apa? Tauhid al-ibadah. Tauhid apa? Al-ibadah. Yaitu kenapa disebut al-ibadah? Karena hanya Allah yang berhak diibadahi atau disebut tauhid al-uluhiyah. Tauhid al-uluhiyah yaitu hanya Allah. yang berhak diibadahi. Bab Ibu-ibu perhatikan sini. Kalau saya mau bikin himpunan, saya akan bikin himpunan begini. Mungkin insyaallah paham ya. Himpunan saya bikin himpunan begini. AT biar enggak enggak terlalu bingung ya. P saya beginilah saya kasih pernyataan begini Ibu. Jadi, tauhid rububiyah dan tauhid asma wa sifat ini melazimkan melazimkan tauhid uluhiyah. Perhatikan Ibu-ibu, tauhid rububiyah dan tauhid asma sifat melazimkan tauhid uluhiyah. Maksudnya bagaimana? Jika kita tahu yang cipta kita hanya Allah. Jika kita tahu yang memberi rezeki kita kepada Allah. Jika kita tahu yang mencipta alam semesta hanya Allah. Terus siapa yang mau diibadahi kalau gitu? Siapa yang diibadahi? Hanya Allah. Seandainya saya tanya sama Ibu. Seandainya yang ciptakan kita Allah dan zat lain, kira-kira zat lain bisa kita ibadahi enggak? Bisa. Kalau dia ikut ciptakan apa? Kita. Tapi ketika yang menciptakan kita hanya Allah, berarti siapa yang berhak diibadahi? Cuma Allah. Makanya dikatakan tauhid rububiyah melazimkan tauhid apa? Uluhiyah. Tauhid rububiyah melanjut ibadah. Kalau kau ngakui yang ciptakan kamu hanya Allah, maka yang harusnya kau ibadahi cuma siapa? Allah. Makanya di antara makna syirik ketika Nabi ditanya, "Ayudambi a'zam?" Ya Rasulullah, dosa mana yang paling besar? Kata Nabi, "An tajala lillahi nidan wahua khalaqoka." Engkau mengambil tandingan bagi Allah untuk kau ibadahi. Padahal yang ciptakan kamu hanya siapa? Allah. Itu namanya syirik. Namanya syirik. Sama ketika kita tahu hanya Allah yang maha ilmu, hanya Allah yang maha kuat, tidak ada yang menyamainya. Maka kesempurnaan ini mengharuskan yang kita ibadahi yang maha sem sempurna. Seandainya ada yang berilmu sama seperti Allah, boleh kita ibadahi. Seandainya sama-sama kuat dengan Allah, zat lain, kita boleh ibadahi zat tersebut. Benar atau tidak? Secara logika benar. Kalau ada zat lain yang selevel dengan Allah, boleh kita ibadahi? Boleh. Tetapi tidak ada. Ketika Allah Maha dalam sifat-sifatnya, maha sempurna, maka dia satu-satunya yang berhak diibadahi. Makanya saya katakan tauhid rubiyah, tauhid asma sifat melazimkan tauhid apa? Uluhiyah. Paham? Karenanya yang menjadi pusat perhatian dakwah para nabi adalah ini. Ini pusat perhatian dakwah. Dan kita diciptakan untuk ini. Kita diciptakan untuk ini, untuk hanya beribadah kepada Allah. Apa bukti bahwasanya kita adalah makhluk, makhluknya Tuhan? Yaitu kita hanya beribadah kepada sang Tuhan tersebut. Itu bukti. Bukti bahwasanya Anda adalah sebagai makhluk tidak beribadah kepada selain Tuhan, selain Allah Subhanahu wa taala. Paham, Ibu-ibu? Sampai sini paham? Baik. Jadi, kita tahu asal-usul kenapa ada pembagian tauhid menjadi apa? Tiga. Ini sekedar untuk penamaan tersebut hanya untuk pembelajaran. Seandainya tidak dikasih nama juga enggak ada masalah. Yang penting tauhidnya totalitas, jangan parsial. Nah, setelah ini saya akan bahas ada tauhid yang parsial. Oke, Ibu-ibu sudah belum? Ingat ya, Ibu-ibu. Bulan depan ada ujian ya. Ada ujian ya dan bulan depan saya umumkan nilainya insyaallah. Biar harus belajar serius ya. Kalau enggak begini nanti enggak serius, enggak naik-naik ilmunya ya. Ilmu tauhid TK terus enggak pernah naik. Harus belajar ini. Lanjut apa sudah nih? Lanjut dulu ya. Lanjut. Oke. Semakin banyak bahan ujian. Kita lanjut. Sudah ya. Oke, kita lanjut. Sekarang model-model manusia yang mentauhidkan Allah. model-model manusia dalam pentauhidan kepada Allah atau model manusia terkait dengan tauhid. Dengan atauhid tayib. Yang pertama ada yang tidak bertauhid sama sekali. yang tidak bertauhid sama sekali. Satu pun tidak. Contohnya apa? Misal apa? Ateis. Misal misalnya adalah a ateis. Misal misalnya apa? ee dualisme atau apa yang apa tsanawiyah yang menyembah dua tuhan yang menyembah atau yang meyakini dua Tuhan. Yang meyakini dua Tuhan seperti ee yang meyakini contohnya ee adalah ee majusi. Majusi meyakini Tuhan api, Tuhan kebaikan. Tuhan gelap adalah pencipta keburukan. Contoh, contoh Zorwaster ya adalah majusi. Majusi bilang apa? Api pencipta apa? Kebaikan. Gelap. Pencipta apa? Keburukan. Pencipta keburukan. Ini tidak tauhid sama sekali. Bahkan rububiyah pun mereka tidak mengesakan Allah. Karena mereka bilang pencipta ada du dua. Paham? Paham tidak? Contoh yang tidak ment sama Allah sama sekali misalnya penganut trinitas. Penganut trinitas dalam hal ini contoh Hindu, contoh Hinduisme ya. Ya, contoh Hindu. Dia meyakini berapa Tuhan? Ada ti tiga tuhan misalnya Dewa apa? Brahma. Brahma, dewa pencipta. Kemudian yang kedua apa? Siwa. Dewa apa? Hah? Dewa perusak. Ya, perusak. Yang ketiga apa? Wis. Wisnu. Dewa apa? Pemelihara. Ya, artinya kalau kita lihat dari konsep pemikiran mereka, Tuhan ini tidak esa karena dia bagi-bagi tugas. Dia tidak multifunsional ya. Tetapi fungsi ini dikerjakan oleh ini, fungsi ini dikerjakan ini, fungsi dikerjakan ini. Paham? Ini namanya tidak bertauhid sama sekali ya. Karena ada yang satu dewa tidak mampu melakukan tugas yang lain. Ya, sehingga benar Brahma satu-satunya mencipta. Tapi yang satu-satunya menjaga adalah dewa wis wisu yang bisa mematikan cuma dewa siwa. Jadi tidak bertauhid. Tib. Ini model perteman pertama. Paham sampai sini, Ibu-ibu? Paham. Tib. Yang kedua, model yang tauhidnya parsial. Parsial. Contoh misal kaum musyrikin. Kaum musyrikin di antara tauhid tidak tauhid secara totalitas. Dia ada tauhid mentauhidkan mengesakan Allah dalam penciptaan. Mereka mengesakan Allah dalam penciptaan. Dalam penciptaan. Dan ini banyak dalilnya. Banyak. Saya carikan ayatnya biar ibu-ibu tambah bahan banyak ujian ya. Contoh ayat Quran surah 29 ayat 61. Ya, saya bacakan. Mereka mengesakan dalam penciptaan dan pengaturan. Saya bacakan artinya. Dan sesungguhnya jika engkau tanya kepada mereka, kepada orang musyrikin, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Siapa yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan menjawab, "Al Allah." Berarti mereka mengesakan Allah dalam penciptaan dan pengaturan. Contoh lagi Quran surah 29 ayat 63. Saya bacakan lagi. Win saalahu man nazala minama maan faahya bihil ard min ba'di mautihaquulunallah. Kalau kau bertanya kepada mereka wahai Muhammad, siapa yang turunkan hujan dari langit? Siapa yang menghidupkan bumi setelah tadinya tandus? Mereka jawab siapa? Allah. Jadi mereka tauhid tapi cuma parsial. Coba lagi surat Luqman sama surat Luqman 31 ayat 25 Allah berfirman, "Wa khalaqamawati walqulunallah." Kalau kau bertanya kepada mereka siapa ciptanya dari bumi? Mereka jawab adalah Allah. Sama surat azzumar ayat 38. Kalau kau tanya siapa ciptan hidung? Mereka jawab Allah. Bahkan surah Az-Zukhruf ayat 9 dan 87 ya. 987 87 Allah berfirman, "Walain sa'altahum man khalaqahum." Kalau kau bertanya siapa yang ciptakan kalian? Yang ciptakan siapa? Mereka bilang Allah. Tib ya. Jadi mereka mentauhidkan Allah tapi secara parsial. Namun tauhid mereka ini dalam sisi yang lain salah. Mereka tidak mentauhidkan Allah dalam ibadah. Jadi tidak totalitas. Tidak totalitas. Tib. Kesalahannya di mana? Kesalahannya ternyata mereka tidak mentauhidkan Allah dalam hal apa? dalam hal ibadah ini. Makanya banyak dalam Al-Qur'an Allah melazim kecuali kecuali dalam ibadah kecuali lagi. Kecuali lagi dalam kondisi terdesak kecuali dalam kondisi terdesak. Dalam kondisi terdesak tauhid mereka nyala nyala. Jadi mereka juga hanya beribadah kepada Allah. Seperti Allah berfirman, "Terkadang mereka berdoa kepada Allah. Kata Allah Subhanahu wa taala dalam surat Alankabut 65. Faid roqibu filqallah muklis lahuddin. Ini contoh 29 ayat 65. Kalau mereka sedang berlabu di lautan kemudian dihantam dengan ombak mereka ikhlas hanya berdoa kepada Allah. Ya, ini contoh ya. Demikian juga surat Yunus ayat 22. 10 ayat 22. Demikian juga surah Luqman ayat 32. Ayat 32. Jadi mereka ini dalam kondisi terdesak mereka mentauhidkan Allah dalam mulia. Tapi dalam kondisi nyaman mereka syirik. Maka mereka syirik. Makanya dalam banyak Al-Qur'an Allah melazimkan mereka karena kau sudah ngakui rububiyah harusnya beruluhiyah. Tadi kan kita sebutkan, saya ulangi ibu-ibu nih. Ulangi lagi ya. Ibu-ibu sering lupa kan? Saya bilang tadi tauhid rububiyah berarti siapa yang ngatur? Hanya siapa? Allah. Kalau kita ngaku yang cipta, yang ngatur semua hanya Allah, harusnya yang kita ibadahi siapa? Allah. Makanya tauhid rububiyah melazimkan tauhid ibadah atau tauhid uluhiyah. Nanti kalau datang pertanyaan, "Benarkah pernyataan berikut, tauhid uluhiyah melazimkan rububiyah?" Benar atau salah? Salah. Harusnya terba terbalik. Rububiyah menazimkan uluhiyah. Tapi soal enggak mungkin gampang begitu. Enggak sama tauhid sifat pasti melazimkan apa? Ulu uluhiyah. Tapi soal enggak gampang begitu. Tib. Maka perhatikan di sini ketika orang-orang musyrikin tauhidnya parsial, Allah tuntut untuk totalitas. Allah tuntut untuk totalitas. Maka saya bilang sini karenanya perhatikan. Eh, salah. Karenanya Allah tuntut mereka untuk totalitas, totalitas. Contohnya dalam surah Al-Baqarah ayat 21. Lihat Quran surah Albaqarah ayat 21. Saya bacakan kata Allah. Perhatikan coba ibu-ibu buka ayat 21. Ayat 21 sampai 22. 21 sampai 22. Coba Ibu buka. Ya sudah buka saya bacakan ya. Sudah buka surat Albaqarah 2122. Ya ayyuhannasubudbakum. Wahai manusia sembahlah Allah alladzi khalaqakum yang menciptakan kalian itu Allah sendiri. Walladina minqoblikum. nya juga yang telah menciptakan orang sebelum kalian. Nikm yang kalian juga yang ciptakan adalah Allah. Laallakum tattaquun. Semoga kalian bertakwa. Alladzi jaalaakumul ardu firas. Yang telah menjadikan bumi bagi kalian apa? Dataran. Wasamaa binaa. Yang telah menjadikan langit sebagai apa? Eh apa namanya? Atap. Waala min ma yang menurunkan hujanakum dan telah mengeluarkan buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian. Kalian setahu ini fala tajalu lillahi and kalau gitu jangan jadikan Allah sebagai tandingan-tandingan. Paham? Wa antum tlamun yaitu kalau kalian sudah mengetahui rububiyah jangan beribadah kepada selain Allah. Jangan menyekutukan Allah. Di sini Allah mengilzamkan mereka. Kalau kalian sudah mengakui hanya Allah mencipta, hanya Allah mengatur, harusnya kalian hanya beribadah kepada siapa? Al Allah. Paham? Maka ini adalah tauhid parsial. Dan Allah sebut mereka juga dalam surat Yusuf. Wama yumminu aksaruhum billahi illa wahum musyrikun. Wahum musyrikun. Lihat surat Yusuf ayat 106. Quran surah 12 ayat 106. Ini tentang mereka tentang tauhid parsial. Kata Allah, "Tidaklah kebanyakan mereka beriman, yaitu beriman bahwasanya Allah mencipta, mengatur, kecuali mereka berbuat syirik, yaitu beribadah kepada selain Allah." Ini tidaklah mereka beriman kecuali syirik. Maksudnya beriman tauhidnya parsial, rububiyah, syirik dalam tauhid uluhiyah. Paham? Paham? Coba buka. Coba buka surat Yusuf 106. Coba buka semua biar jelas. En tidaklah kebanyakan mereka beriman, yaitu tauhidnya parsial, yaitu bahwasanya Allah mencipta, Allah mengatur, kecuali mereka berbuat apa? Syirik, yaitu salah dalam tauhid apa? Uluhiyah atau tauhid ibadah. Paham sampai sini? Nah, yang terakhir jenis manusia adalah yang tauhidnya totalitas, yang tauhidnya totalitas, yaitu orang ahli tauhid, orang Islam yang tidak pernah berbuat syirik sama sama sekali. Rububiyah dia bertauhid, asma sifat dia bertauhid, uluhiyah dia bertauhid. Dia tidak pernah percaya sama dukun. Karena dukun mengaku mengetahui ilmu gaib. Dia bilang, "Yang tahu ilmu gaib cuma siapa? Allah. Berarti tahut sifatnya pas, benar. Ya, burung hud-hud saja tahu Nabi Sulaiman tidak tahu ilmu gaib. Tahu dari mana? Ketika burung hudud terlambat, Sulaiman kan ngatur alaihi salam mengatur pasukannya. Dia mali la arudu huda minalibin lahuabanadidan ya ani apaahanni bisultan mubin. Kata Nabi Sulaiman, "Mana Hudhud kok aku tidak lihat ya Hud-Hud mana? Mana Uhud-Hudeli atau tidak hadir saking kecil bunuh kan kecil pasukan Sulaiman mungkin ada gajah, ada burung, ada singa macam-macam kuda. Ini hut mana enggak kelihatan kata. Berarti Nabi Sulaiman tahu gaib enggak? Enggak tahu. Hut-Hud ada enggak. Dia pun masih bingung. Berarti dia tidak maha melihat. Paham? Berarti Nabi Sulaiman maha melihat atau tidak? Tidak. Makanya hudhud ada atau tidak dia masih nanya aral hud huda minalimin saya kok enggak lihat hutud memang kekecilan sehingga enggak saya lihat atau memang tidak hadir kemudian dia ancam lazibannahuaban syadida abahanna saya akan siksa dia dengan siksaan yang pedih, yaitu saya cabut bulu-bulunya atau saya akan sembelih dia atau dia datangkan uzur yang benar kenapa tidak hadir? Ternyata Hudhud kemudian datang apa kata Hudhud ketika ketemu Sulaiman? Hut berkata, "Ahattu bimaamitu bih wajuka binabin sabain binabain yaqin." Kata Hutud Sulaiman, "Saya punya ilmu yang kau tidak tahu. Saya baru datang dari negeri Sabar yang nyata." Berarti Hud-Hud tahu Sulaiman tidak tahu kondisi negeri Saba. Benar atau tidak? Sulaiman yang anak buahnya jin tidak tahu ilmu gaib. Maksudnya hud-hud bertauhid. Hud-hud ber tauhid. itu nabi. Terus kita bilang dukun tahu masa depan dari mana? Siapa yang mengatakan dukun tahu masa depan? Tauhidnya tidak totalitas tapi cuma parsial. Siapa yang beribadah kepada mayat-mayat, minta kepada mayat-mayat, berdoa kepada mayat-mayat, menghinakan diri depan mayat-mayat, bahkan lebih khusyuk minta kepada mayat di kuburan daripada minta kepada Allah, tauhidnya tidak totalitas. Tauhidnya parsial. Maka inilah kenapa kita bagi tauhid sebenarnya bukan apa-apa. Tidak bagi pun gak apa-apa supaya tauhid kita bisa tota totalitas. Dan demikian saja saya sampaikan. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Categories