Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ilahaillallah wahdahu la syarikalahu anna muhammadan abduhu allahumma shi alaihi waa alihi wahi wa ikhwan. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Pada kali ini kita akan membahas tentang tata cara salat ya. Tentang tata cara salat ya. Dan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ee bersabda, "Solu kama roitumuni usoli." Salatlah sebagaimana kalian melihat aku salat. Ya, bahkan Rasul sahu alaihi wasallam pernah salat di atas mimbar agar terlihat oleh banyak orang. Kemudian ketika sujud, beliau turun dari mimbar. Kemudian beliau naik lagi di atas mimbar hingga orang-orang ee melihat beliau salat dan beliau mengatakan supaya kalian bisa mengikuti tata caraku salat. Ini sebagaimana ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam berhaji. Rasul sahu alaihi wasallam sengaja berhaji naik unta sehingga menjadi pusat perhatian. Dan Rasul wasallam mengatakan, "Kudu manasikakum." Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian. Maka seorang berusaha salat sebagaimana diajarkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan kita akan masuk dalam masalah fikih. Sebagaimana kita ketahui masalah fikih adalah masalah yang permasalahan-permasalahan banyak permasalahan silafiah, permasalahan perselisihan di kalangan para ulama. kita perlu mengenal ya agar ee kita bisa apa namanya memahami kalau ada pendapat yang lain ya. Terutama kalau kita ke Masjid Nabawi atau Masjid Haram kita lihat orang salat beraneka ragam ya. Beraneka ragam karena memang ada di situ sebagian permasalahan yang diperselisihkan. Ada yang memandang ini lebih baik, ada yang memandang itu lebih baik. Dan banyak permasalahan khilaf tersebut bukan karena hawa nafsu, tetapi karena ee perbedaan sudut pandang dalam menyikapi sebagian dalil. Ya, dalil ini dipahami demikian, dalil itu dipahami demikian sehingga terjadi perbedaan sudut pandang sehingga terjadi perbedaan ee pendapat dalam permasalahan-permasalahan fikih. Bab ee kita mulai dari tata cara salat. Yang pertama adalah masalah niat. Masalah niat. Niat dalam salat. Niat untuk salat. Babalah niat ada beberapa permasalahan. Yang pertama permasalahan apakah niat rukun atau syarat. Niat itu rukun ataukah syarat salat. Sudah kita jelaskan ya. ee kalau rukun dia bagian daripada ibadah itu sendiri. Dari mahiyah mahiyatus itu bagian dari ibadah itu sendiri. Adapun syarat di luar seperti kita sudah bahas pada pertemuan sebelumnya ee syarat-syarat biasanya terkait dengan persiapan menghadap kiblat masuk waktu. Tapi dia bukan hakikat salat itu sendiri. Dia hanyalah persiapan sebelum ee salat berupa menghadap kiblat, bersuci, kemudian ee apa namanya? Waktu salat sudah masuk itu disebut dengan apa? s syarat. Adapun kalau berdiri rukuk sudah jelas itu rukun. Nah, sekarang niat ini bagaimana? Niat ini ada dua pendapat. Ada yang mengatakan dia adalah syarat ya khilaf ya. Ada yang mengatakan syarat. Ada yang mengatakan apa? Ru rukun. Dianggap syarat karena dikatakan niat itu bukan dari hakikat salat, tapi dia adalah niat untuk melakukan salat sehingga dia di luar daripada hakikat salat. Ini sekedar istilah saja. Ada yang mengatakan syarat ditinjau dia di luar hakikat apa? Salat. Dikatakan rukun karena ada yang menganggap niat itu harus dalam salat. Bahkan niat itu, sebagaimana pendapat mazhab Syafi'iyah harus dihadirkan ketika takbiratul ihram sehingga dia masuk dalam hakikat salat. Ya paham ini? Insyaallah enggak masuk ujian karena susah ya. Bab ala kulihal. Apakah kita berpendapat dia syarat atau rukun? Semua sepakat ulama bahwasanya niat harus ada. Harus niat salat. Salat tanpa niat tidak sah. Salat tanpa niat tidak tidak sah. Ya, intinya sepakat salat harus dengan niat. Karena ada orang mungkin bergerakan-gerakan dia cuma sekedar tidak niat salat yang sekedar latihan salat misalnya ya. Latihan salat dia tidak sedang niat untuk apa? Salat. Dan kalaupun salat salat apa? Salat banyak. Ada salat fardu, ada salat sunah. Salat fardu juga banyak. Zuhur sama Asar modelnya sama ya. Oleh karenanya perlu ada namanya niat. Niat ee untuk salat apa ya? Dan sebenarnya niat ya. Jadi niat ada dua sisi. Ada dua sisi. Yang pertama adalah ikhlas kepada Allah. Ikhlas kepada Allah. Jadi kalau orang salat atau ibadah apapun dia harus ikhlas. Dia bukan riya, bukan cari pujian. Karena mungkinkah seorang salat karena ri mungkin. Ee kata Allah tentang orang-orang munafik eh waqati quusala yurunan wkurallah illa qila. Orang-orang munafik kalau mereka salat mereka malas-malasan. Kenapa mereka malas-malasan? Yurunanas. Mereka riya ingin dipuji oleh manusia. Makanya dikatakan shawat alal munafikin. Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat al-Iya dan salat alfajar. Kenapa? Karena kalau zuhur, asar, magrib mereka semangat karena ada yang lihat. Karena kelihatan. Tapi kalau isya enggak kelihatan. Mereka enggak hadir pun enggak kelihatan. Subuh mereka enggak hadir pun enggak kelihatan. Karena dahulu gak ada lampu penerangan seperti zaman sekarang. Sehingga mereka mau ke sana ngapain juga enggak ada yang lihat. Jadi mereka berat sekali untuk salat Isya dan salat apa? subuh. Tapi kalau zuhur, asar, magrib mereka hadir salat bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi ee perembahasan tentang niat yang pertama harus ikhlas kepada Allah itu tidak boleh ria. Tidak boleh ria. Riya artinya tholabul manzilah fi qulubinas. Tholabul manzilah fi qulubinas. Yaitu mencari kedudukan di hati manusia, mencari pengakuan atau kedudukan. kedudukan di hati manusia ini harus ee diperhatikan ya. Seperti seorang misalnya dia jadi imam kemudian suaranya indah. Ketika dia jadi imam dia salat niatnya dia baca dengan indah niatnya agar salatnya diterima oleh Allah atau karena ingin dipuji oleh makmum. Karena ingin dipuji oleh makmum. Misalnya dia salat biasanya dia salat magrib baca rakaat pertama qul huallahu ahad, rakaat kedua qul azubirabbinnas, ternyata ada bupati yang salat di belakang maka dia rubah rakaat pertama Albaqarah ya misalnya. Ini berarti dia ee salat tidak ikhlas tapi agar dipuji oleh Pak Bupati. Ini menjadikan salatnya tidak bernilai. Nah, yang kita pembahasan tentang tadi niat ini rukun atau syarat adalah pada poin kedua yaitu tentang ee niat mau salat apa, mau salat apa ya. Ini ini tentu Rasulullah bersabda, "Innamal a'malu bin niat." Amalan tergantung apa? Niatnya ya. Wa inama nawa ya. Dan masing-masing tergantung apa yang dia tujukan. Maka kita ingin salat zuhur, gak boleh kita niat salat asar. Kita pengin salat Asar, enggak boleh niat salat zuhur. Kita pengin salat fardu, jangan niat salat sunah. Kita pengin salat sunah, jangan niat salat fardu. Maka masuk-masuk. Maka ee pembahasan niat sangat penting. Bab ini ee pembahasan terkait niat. Yang berikutnya perkara ketiga, ulama sepakat niat tempatnya di hati. Ya, ulama sepakat bahwa niat tempatnya di hati dan yang jadi patokan adalah yang di hati. Dan yang jadi patokan adalah jihad. Baik, semua sepakat. Namun mereka khilaf tentang melafalkan niat. Ya, perhatikan di sini. Ee adapun melafalkan niat seperti mengatakan usolli fardu zuhri, usolli fardul asri arba rakaatin dan seterusnya. melakukan niat atau ee usoli apa e salat tarawih. Niat salat tarawih atau salat jamak. Ya. Adapun melakukan niat maka perlu diperhatikan. Ingat ulama juga sepakat sepakat ulama jika lafal menyelisihi hati maka yang jadi patokan apa? Yang jadi patokan hati. Yang jadi patokan yang di yang di hati. Misalnya seorang ingin salat asar, dia sudah tapi dia selalu ngomong usoli fard zuhri arbar Allahu akbar. Eh, saya kok tadi ngomong enggak enggak dianggap yang dianggap yang di mana? Di di hati. Atau sebaliknya dia niatnya dia bilang usoli fardal fardul asri. Ternyata niatnya zuhur yang jadi patokan di mana? Di hati. Ini sepakat. Bahkan mereka yang mengatakan ee melafalkan niat adalah sunah. Mereka pun mengatakan sepakat jika menyelisihi niat dan lafal maka yang jadi patokan adalah niat yang di hati. Ini yang pertama. Yang kedua, mereka juga sepakat bahwasanya melafalkan niat tidak wajib. Semua sepakat tidak wajib. Mazhab Syafi'i pun yang menyatakan dianjurkan melafalkan niat. Seandainya ada orang salat tanpa mengatakan usoli, mereka juga sepakat salatnya apa? Sah. Dan ada sebagian ulama dari mereka yang mengatakan wajib melafalkan niat. Dibantah oleh ulama Syafi'iyah itu ulama yang mengatakan wajib melafalkan niat. Salah paham dengan perkataan al Imam Syafi'i. Imam Syafi'i mengatakan beda dengan salat. Kalau salat la tujzi illa bin nutqi. Kata Imam Syafi'i, salat tidak sah kecuali dengan ucapan. Yang maksud Imam Syafi'i tidak sah dengan ucapan maksudnya tabiratul ihram. Tetapi dipahami oleh sebag ulama Syafiiah maksudnya adalah dengan mengucapkan usal usal. Maka dibantah oleh ulama Syafi'i yang lain tidak benar. Jadi yang benar kalau mau salat yang wajib adalah Allahu Akbar. Adapun melafalkan niat maka sepakat tidak wajib. Tidak wajib. Tayib. Nah, bagaimana dengan hukum melafalkan niat itu sendiri? Maka khilaf di kalangan para ulama ini sudah hukum melafalkan niat fardul zuhri, usal fardul asrali fardul subhi dan seterusnya. Maka khilaf di kalangan para ulama ada beberapa pendapat. Yang pertama mengatakan dianjurkan. Mustahab dianjurkan. ini ee sebagian ulama Syafi'iah ini yang muktamad ulama Syafiiah dan juga sebagian ulama Hanabilah dan sebagian ulama Hanafiyah ya mereka mengatakan dianjurkan untuk melafalkan niat ya tujuannya tujuannya membantu kekokohan hati membantu kekokohan di hati Pakati. Jadi saya mau salat zuhur nih. Saya ada sudah ada niat supaya lebih kokoh. Saya bilang lagi usoli fard untuk memantapkan apa? Atau memantapkan untuk memantapkan kata mereka. Ya. Kemudian mereka mengatakan juga bahwasanya ee sinkronnya antara lafal dengan had itu lebih baik. sinkron antara antara lafal lafal lisan dengan hati itu lebih itu lebih baik dan bahkan lebih diwajibkan bagi orang yang mengalami was-was. Bingung selalu ini salat apa salat wasnya. Kalau dia melalami was-was maka hendaknya dia melafalkan niat. Maka ini pendapat pertama yang mengatakan melafalkan niat. Dan inilah yang di dilakukan oleh kebanyakan ee saudara-saudara kita di tanah air ini apa? Mazhab mazhab muktamad. Pendapat muktamad menurut mazhab Syafi'i. Ya, mazhab Syafi'i. Dan mereka dalam segala ibadah mereka melafalkan niat seperti wudu nawaitul wudua. Ya, mau mandi aku berniat mandi. Mau salat usolli aku berniat apa? Salat. Semua semua ibadah melafalkan niat dianjurkan. Ini pendapat pertama ya. Pendapat kedua, ada yang mengatakan ee bahwasanya makruh ya. Makruh kenapa? karena tidak dicontohkan nabi, nabi dan para sahabat. Dan pendapat yang ketiga ya adalah bidah. Ini pendapat yang lebih ya yang lebih kencing lagi ya. Adapun makruh pendapat sebagian Hanafiyah dan Hanabilah. Ya. Ya. Ee pendapat yang berikutnya adalah bidah. Dan ini pendapat sebagian ulama Hanabillah seperti Ibnu Jauzi, kemudian Ibnu Taimiyah, kemudian di antaranya dari Assuyuti dari mazhab Syafi'i dalam kitabnya Alamru ittiba ya Asuyuti ya. Beliau mengatakan atau mereka semua ini mengatakan bahwasanya melafalkan niat adalah bidah. Kenapa? Karena Nabi tidak pernah melakukannya. Nabi salat ribuan salat dengan aneka ragam salat sekalipun tidak pernah melafalkan niat. Tidak pernah melafalkan. Bahkan hadis dif enggak ada. Jangankan hadis sahih, hadis difak. Jedang hadis palsu pun tidak ada. Dan tentunya salat yang terbaik salatnya Nabi. Rasulullah mengatakan ee wakhairul huda huda Muhammad. Sebaik-baik petunjuk-petunjuk Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Tidak ada yang ragu bahwasanya salat terbaik adalah salatnya siapa? Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi tidak pernah melafalkan niat. Yang kedua, demikian juga para sahabat. Demikian juga tidak diriwayatkan. dari sahabat. Padahal sahabat jumlahnya ribuan. Padahal sahabat jumlahnya apa? Ri ribuan. Jadi, sehingga mereka mengatakan ini adalah ee bidah. Kemudian bisa menimbulkan was-was. Menimbulkan apa? Was-was. Sehingga sebagian orang ketika salat dia was usolli. diulangi lagi, usoli, diulangi lagi sehingga menimbulkan apa? was-was. Kemudian yang masuk Islam juga banyak orang Arab Badui, kemudian orang Ajam, orang Persia, orang Romawi masuk Islam di zaman sahabat juga mereka tidak mengatakan apa? Usali. Ini pendapat ketiga mengatakan bidah. Bidah artinya tidak boleh dilakukan. Kalau bidah berarti tidak boleh dilakukan. Pendapat yang keempat bahwasanya melafalkan hukumnya boleh meski ditinggalkan lebih baik. Lebih baik. Ini saya sebutkan cuma dalam kitab saya ee bekal salat. Intinya ikhwan, ini masalah khilafiah. Maka kita berlapang dada. Ya, saya sendiri cenderung pada pendapat ini adalah bidah ya. Karena bagaimana kita mengatakan ini dianjurkan sementara Nabi tidak pernah melakukannya, para sahabat juga tidak melakukannya. Sebagian ulama Syafiiah mengatakan beda. Zaman Nabi para sahabat mereka kokoh, mantap apa iman mereka. Adapun kita belakangan kita butuh pengkokohan dan pemantapan. Kita bilang di zaman Nabi juga banyak orang-orang baru masuk Islam. Arab Badui, orang-orang ajam, Romawi, Persia baru masuk Islam. Dan Rasulullah tidak pernah suruh mereka untuk apa? melafalkan niat usolli usoli dan asalnya ibadah adalah mudah. Makanya Rasul sahu alaihi wasallam kalau salat selalu mulai dengan apa? Allahu Akbar. Allahu Akbar. Wallahuam bawab. Intinya kita menyampaikan ini agar kita mengetahui ada permasalahan khilafiah. Kita silakan memahami pendapat saudara-saudara kita. Ini masalah khilaf yang muktabar. Tetapi kita boleh memilih. Kita boleh memilih pendapat yang menurut kita lebih lebih kuat ya. Menurut saya yang lebih kuat wallahuam bawab adalah pendapat yang mengatakan bahwasanya melafalkan niat adalah apa? Bid bidah. Kenapa? Karena ee dianggap syari padahal tidak disyari tidak disyariatkan. Tidak disyariatkan. Tiib. Sampai sini paham? Tib. Kita lanjut. Ini poin ke berapa tadi? Ini poin ee ketiga ya. Ketiga. Sekarang kita lanjut poin keempat. Saya akan lanjutkan keempat. Tib kalau mau difoto silakan biar ujiannya benar semua. Benar. Baik, selanjutnya ee perkara yang keempat. Kapan pasang niat? Kapan pasang niat? Yaitu saya mau salat zuhur. Kapan kita mau pasang niat ini? Ya, pasang niat. Maka ada khilaf. Ada yang mengatakan boleh sebelum takbiratul ihram ihram. Sebagaimana layaknya puasa. Sebagaimana puasa. Puasa niat sebelum fajar. Rasulullah mengatakan, "Malamah qbl fajr famaahu." Siapa yang tidak pasang niat sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya. Justru namanya puasa itu niatnya sebelum terbit fajar. Tiib. Puasa itu startnya kapan? Sebelum terbit atau pas terbit fajar? Pas terbit fajar baru kita menahan diri tidak makan. Tapi niatnya kapan? sebelumnya ya. Kata mereka sama dengan puasa. Dan orang kalau sudah berwudu menuju masjid, dia sudah niat salat zuhur kecuali niatnya dipalingkan. Ternyata dia pengin ke mana, pengin ke mana, maka mungkin dia perlu ee memperbarui niatnya. Tapi kalau niatnya tidak dipalingkan, maka hukum asalnya niatnya berada terus dalam apa? Hatinya. Ya. Bukankah niat bisa bertahan? Bisa. Saya pergi kantor cari uang. Niat itu ada terus enggak ada pergi kantor cari uang. Meskipun saya sudah jalan 1 jam, saya tetap ada niat mau cari apa? cari uang kecuali niat berpaling ini ee yang sebagian mengatakan harus pada rukun yang pertama yaitu takbiratul ihram. Nah, mazhab Syafi'iyah mengatakan semua niat harus pada rukun yang pertama seperti ketika wudu. Wudu menurut mazhab Syafi'i kumur-kumur ni sunah ya. dia belum, dia tidak kumur-kumur, masukkan air, keluarkan air hidung semuanya sunah-sunah. Wajib pertama dalam wudu adalah membasuh ma wa wajah. Wajib pertama dalam wudu membasuh waj. Jadi niat itu ketika pertama kali membasuh wajah harus niat dalam hati ya. Harus niat dalam hati. Jadi ini terkait kapan pasang niat di hati. Ini mazhab Syafi'i harus bersama dengan takbiratul ihram. Ini mazhab apa? Syafi'i. Perhatikan. Ini perlu kita pahami ya. Adapun melafalkan niat, melafalkan niat itu hanya persiapan. Persiapan untuk yang di hati. Jadi kalau mazhab Syafi'i usoli fardu zuhur itu bukan bukan niat yang dimaksud. Yang dimaksud di mana? Di di hati. Maka mereka mengucapkan untuk persiapan saja. usoli fardu zuhri. Niatnya kapan? Tatkala Allah. Ah, itu harus bareng dalam hati. Harus bareng baru pasang ni niat. Ini mazhab Syafi'i ya. Nah, kalau ternyata sebagian mereka kemudian menggulirkan niat dalam hatinya ketika dalam hati aku berniat salat zuhur albarakat. Ah itu untuk menggandingkannya dengan takbiratul ihram agak berat. Sambil dua-duanya sambil berniat usolli fardu zuhri arba rakaatin mustbaliblatian makmuman lillahi taala sambil Allahu Akbar. membayangkan apa? Memahami makna Allah Maha Besar dibarengkan itu terkadang sulit. Beda kalau sekedar saya pengin salat zuhur, Allahu Akbar bisa. Tapi kalau di dalam hatinya digulirkan aku ingin salat zuhur empat rakaat sebagai makmum menghadap kiblat. Salatnya ada bukan qada sambil Allahu Akbar itu agak berat. Oleh karenanya sebagian mereka ngulangi lagi ketika Allah aduh enggak pas Allah enggak pas. Tapi kalau dibuat gampang ah yang penting saya salat zuhur selesai. sehingga ee tidak mengapa seorang menghadirkan niat tapi tidak perlu kemudian saya berniat salat zuhur empat rakaat panjang-panjang. Saya pengin salat zuhur selesai yang jelas saya sudah hadap kiblat saya jadi makmum sudah selesai sudah sama-sama tahu. Tidak perlu kita mentakyin begini begini begini begini dalam hati karena kalau kita ma barengkan dengan Allahu Akbar sambil menghayati keagungan Allah itu berat. Alhamdulillah intinya boleh kita berniat sebelum apa? Takbiratul apa? Ihram. Dan ibadah tidak sesulit yang dibayangkan. Insyaallah mudah. Dan di zaman Nabi Rasulullah tidak bikin aturan harus begini dalam hati harus begini. Salat zuhur selesai sama-sama tahu. Kita mau salat zuhur, kita salat asar. Ya, saya misalnya saya mau pergi makan di warung tersebut, saya sudah niat saya mau makan di warung tersebut nanti makan siangnya tuna bakar. Kemudian minumannya kelapa, es kelapa pakai gula aren. Setelah itu saya makan sate. Setelah itu saya bisa langsung dalam hati sekali. Tidak perlu setelah ini setelah ini sudah bisa digabungkan niatnya. Enggak bisa. Saya bisa bayangkan sekali. Tidak perlu digilirkan. Maksudnya di direntetkan ya. Kalau rentetkan agak susah. Kalau direntetkan kemudian Allahu Akbar agak sulit. Intinya ikhwan bahwasanya pendapat yang lebih kuat wallahu alam baab adalah niat tempatnya di mana? Di di hati. Dan boleh seorang ee berniat ketika dia menuju masjid, ketika dia berwudu, dia sudah niat untuk salat salat tertentu ee meskipun dia tidak melafalkannya. Dan itu yang terbaik. Kenapa yang terbaik? Karena salat yang terbaik adalah salatnya siapa? Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kita enggak mungkin mengatakan lebih bagus salat saya ya. Saya bilang terbaik salat Nabi dan Nabi tidak pernah mencontohkan untuk melafalkan niat. Tib. Ini terkait dengan ee dengan niat. Berikutnya kita bahas tentang yang berikut adalah tentang masalah takbiratul ihram. Ada yang bertanya tentang masalah niat? Silakan. Insyaallah nanti ada pembahasan tentang apa pas kita bahas tentang salat apa? Salat witir. Insyaallah nanti kita bahas pada waktu. Ada yang bertanya lagi ya? Silakan. Jangan gak usah juga ngapain. Jadi enggak usah bilang usoli, enggak usah bilang bismillah, enggak usah baca qul azubirabbinnas malikinnas ilahinnas ya qul min hamazatiinubikaabbi ayyahdurun. Ada sebagian orang gitu apa min hamaz. Aku berlindung dari gangguan setan. Gak perlu. Karena kita nanti bertakbir setelah itu kita takbir kita ada taawud juga dalam apa? Salat. Jadi mukadimah-mukadimah itu enggak perlu. Kenapa? Karena Nabi tidak mencontohkannya. Ya, kami tidak mencontohkan dan sebaik-baik salat. Salatnya siapa? Nabi sallallahu alaihi wasallam. Terakhir ada yang bertanya. Asalamualaikum. Ya. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Apakah ee bisa dip misalnya pas salat sunah itu berubah menjadi dua gitu? Itu intinya intinya tidak boleh tapi nanti kita bahas ada waktunya ketika kita bahas nanti masalah salat sunah atau masalah salat ee jemah nanti ada pembahasan tapi ininya tidak boleh di dirubah sunah menjadi wajib tidak boleh kita lanjut pembahasan berikutnya adalah tentang takbiratul ihram. Sekali lagi apa yang kita sampaikan ini agar kita terbuka cakrawala, pendapat banyak kita boleh memilih dan kita menghargai ee saudara-saudara kita yang memiliki pendapat yang lain. Semua ini bukan karena hawa nafsu, tapi karena mereka punya pendapat yang menurut mereka lebih baik ya karena beda sudut pandang dalam memandang suatu dalil. Tapi berikutnya adalah terkang takbiratul ihram. Takbiratul ihram. Apa makna takbiratul ihram? Takbir maknanya attakbir maksudnya apa? Allahu akbar. Allahu akbar. Ini namanya takbir. Bab ihram artinya adalah pengharaman. Pengharaman. Ihram. Ahrama yuhrimu ihrama. Pengharaman maksudnya apa? Setelah kita mengatakan Allahu Akbar, banyak perkara yang tadinya halal jadi haram. Ada perkara-perkara yang tadinya halal jadi apa? Jadi haram. Contohnya sebelum salat kita masih boleh makan, masih boleh ngobrol ya. Tapi setelah Allahu Akbar sudah enggak boleh lagi ya. Ya. Jadi kita misalnya kita bilang ini sebelum sesudah sebelum takbir tahiran boleh apa? Boleh makan. Boleh makan enggak sebelum salat boleh ngobrol? Boleh ngobrol sama teman boleh. Tidak menghadap kiblat juga boleh. Ini contoh boleh. Ini semuanya boleh. Setelah takbiratul ihram ini semua menjadi apa? Menjadi haram. Ini disebut dengan takbiratul ihram. Kapan halal lagi? Setelah salam. Halal lagi setelah salam. Kembali halal setelah salam. Setelah salam. Ya, makanya Rasul Sallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Miftahus salat tuhur." Bahwasanya kunci pembuka salat adalah bersuci. Tahrimuha takbir. Pengharamannya adalah dengan apa? Takbir. Maka disebut takbiratul ihram. Watahliluha taslim dan tahalulnya dengan salam. Kalau sudah salam boleh lagi kembali halal. Eh, kembali kembali boleh setelah salam. Ini sama seperti kalau kita ihram. Kenapa disebut ihram? Kalau bilang labbaik allahumma umrah. Maka kita sudah berihram maka banyak perkara yang jadi haram lagi. Jadi haram. Sebelumnya kita boleh bercumbu dengan istri atau kita boleh pakai minyak wangi, kita boleh pakai baju biasa. Kita ketika kita bilang labbaik allahumma umrah atau labbaik allahumma hajjanjan, maka semua itu jadi ha haram. Kapan jadi halal lagi? Kalau kita bertahalul. Ini maksudnya logikanya sama. Kenapa disebut ihram? Kenapa disebut dengan tahal tahalul? Salat tahrimuha takbir. Ihramnya dengan apa? Takbir. Tahlilha dan tahalulnya dengan apa? Salam. Dengan salam. Ini makna dari takbiratul ihram. Ini makna maknanya takbiratul ihram. Ee berikutnya sudah nih ee hukumnya hukumnya adalah dia rukun salat. Tidak sah salat kecuali dengan takbiratul ihram. Takbiratul ihram ya. Dan jumhur ulama berpendapat harus dengan lafal Allahu Akbar atau Allah Akbar ya. Tapi yang benar Allahu Akbar. Adapun mazhab Abu Hanifah boleh dengan terjemahan. Yang benar harus dengan Allahu akbar. Bab ini ee makna dan hukumnya. Kaifiat takbiratul ihram. Takbiratul ihram. Kaifiat tata cara. Ingat ya. Pertama, takbiratul ihram itu adalah lafalnya, bukan gerakan tangan. Perhatikan yang namanya takbiratul ihram adalah lafal-lafalnya bukan gerakan tangan. Allahu Akbar. Takbirnya yang mana? Yang ini apa? Yang mulutnya yang suaranya yang suaranya Allahu Akbar. Ini sunah. Seandainya ada orang salat tidak angkat tangan Allahu Akbar sah atau tidak sah. Saya ini orang salat Allahu Akbar langsung begini aja Allahu Akbar salatnya sah. Tapi dia menyelisihi sunah. Sunahnya takbiratul ihram digandingkan dengan angkat angkat tangan. Tapi yang dimaksud takbiratul ihram bukan gerakan tangan, tetapi adalah takbir. Takbirnya. Bab. Ini yang pertama. Yang kedua tadi ee menurut mazhab Syafi'i tadi mengatakan apa? Niat takbirat ihram harus dibarengi dengan apa? Ni niat menurut mazhab Syafi'i. Kalau menurut mazhab yang lain tidak harus. Menurut Syafi'iah takbiratul ihram harus dibarengi niat. Jadi ketika menurut mazhab Syafi'i jadi harus dihadirkan kembali. Jadi niat harus dihadirkan kem kembali. Allah maksudnya dalam hati saya pengin salat zuhur. Allahu Akbar. Digandengkan. Ini menurut mazhab Syafi'i. Tapi yang benar tidak harus karena niat kita sudah a ada. kita sudah berwudu, kita sudah niat salat tertentu. Ya. Yang ketiga, harus diucapkan dalam kondisi berdiri. Harus diucapkan dalam kondisi berdiri. Dalam hadis Abu Humaid Assaidi karena Rasul wasallam adalah Rasul wasallam kalau hendak salat beliau berdiri dengan tegak. Warq Allahu Akbar. Rasulullah angkat tangan. Rasulullah mengatakan Allahu Akbar. Yang intinya yaitu Rasul Sallahu Alaih Wasallam ketika mau ee mau takbir maka beliau dengan berdiri. Nah, dari sini merupakan kesalahan ketika ada makmum masbuk. Ketika ada makmum masbuk kemudian dia mendapati imam sudah rukuk, dia langsung rukuk. Allahu Akbar. Ini tidak sah. Karena takbiratul ihram harus dikerjakan dalam kondisi apa? Berdiri. Jadi kalau kita sudah kita masbuk, imam dalam kondisi rukuk, kita berdiri dulu Allahu Akbar baru kita ru rukuk. Adapun langsung Allahu Akbar tidak sah menurut para ulama. Kenapa? Karena takbiratul ihram disyaratkan harus dalam kondisi apa? Berdiri. Ya. Jadi ingat tidak boleh perhatikan tidak boleh dalam kondisi apa, ru rukuk. Gak boleh. Atau membungkuk. Tidak boleh juga membungkuk seperti meruk. ini semua tidak diperbolehkan ya. Adapun bacaannya tadi apa? Allahu Akbar. Menurut jumhur ulama Allahu Akbar. Ada yang mengatakan Allahu Akbar juga boleh. Ada alif lamnya. Adapun mazhab Hanafiyah membolehkan dengan terjemahan. Kecuali orang tersebut tidak tahu bahasa Arab. Dia bilang Allahu Akbar susah. Maka dia boleh dengan terjemahan. Kalau ada orang susah ngomong bahasa Arab sur bilang Allahu Akbar, dia enggak bisa. Huruf-huruf dia enggak ada bisa bilang Allahu Akbar. Mungkin terjadi zaman dulu. Sekarang alhamdulillah mudah. Semua orang bisa mengucapkan lafal Arab. Tapi zaman dulu mungkin saja ada orang ajam non Arab masuk Islam baru awal Islam mau bilang Allahu Akbar susah. Ya, tetap aja salat semampu kamu. Semampu kamu boleh dengan terjemahan. Adapun yang bisa bahasa Arab maka atau bisa mengucapkan lafal Arab maka harus mengucapkan apa? Allahu Akbar. Bab ada yang bertanya? Saya tambah lagi. Yang keempat disunahkan sambil mengangkat tangan ya. dengan angkat kedua tangan ya. Baik, ada yang bertanya kita poin ini ya. Silakan nanti. Oh, nanti Iya. Berdiri. Iya, berdiri ya. Iya. Masalah angkat tangan, masalah sedekap, ini pembahasan lain. Dia bukan bukan rukun salat ya. Dia bukan rukun salat. Seandainya ada orang salat Allahu Akbar tidak angkat tangan salatnya sah. Salatnya sah. Salatnya sah. Kita masih berdiri ya. Allahu Akbar. Jadi kita Allahu Akbar gak boleh. Gak boleh Allahu Akbar gak. Jadi dalam kondisi Allahu Akbar dalam kondisi sedang berdiri. Ini disebutkan oleh para ulama. Karena Nabi ketika ee bertakbir takbiratul ihram dalam kondisi berdiri. Ada lagi yang bertanya ya? Silakan. Iya iya jangan dua kali. Oh maksudnya takbirnya? Ya takbir Allahu Akbar. Iya langsung rukuk juga boleh. Langsung rukuk boleh. Sebagian dia takbir lagi. Allahu Akbar. Enggak ada masalah. Enggak ada masalah. Karena dia ingin mengejar tapi dia masuknya harus dalam kondisi apa? Berdiri. Harus takut itu nanti. Nanti kalau kalau lagi terbaring enggak bisa bangun. Kalau lagi mati enggak usah salat disalatin. Ini lagi normal. Lagi normal. Nanti kalau lagi sakit lain urusan insyaallah. Pembahasan berikutnya tentang rukun berikutnya adalah ee berdiri. ini sudah ya. Baik, sekarang masalah berdiri ya atau iya berdiri ya takbiram sambil berdiri ya. Baik. Berdiri ee untuk salat fardu adalah rukun. Ya, ini apa? Rukun salat. Adapun untuk salat sunah hukumnya sun sun. Untuk salat sunah hukumnya adalah sun sunah, tidak wajib. Makanya Rasulull sahu alaihi wasallam ee salat dalam salat-salat sunah terkadang du terkadang duduk. Misal salat malam Rasulullah duduk ya boleh ya. Adapun didukung lagi. Jadi Rasulullah dalam kondisi tidak naik kendaraan pun salat sunah dalam kondisi du duduk. Tetapi orang yang salat sunah ya kalau kalau salat sunah ya perhatikan jika tidak beruzur tapi salatnya duduk maka pahala setengah. Pahala setengah. tengah dari kalau berdiri. Tengah kalau berdiri dari berdiri. Namun jika ada uzur, jika beruzur karena sakit sudah tua karena dia salat bakalan lama. Kalau salat sunah kan lama. Jika beruzur karena tua atau karena badan sudah berat maka pahala sempurna. Artinya misalnya ada anak muda umur 20 segar bugar ah pengin salat sunah duduk boleh enggak? Boleh. Tapi pahalanya apa? Setengah. Kenapa tidak wajib? Karena Nabi Karena Nabi pernah salat atau sering salat sunah duduk sambil duduk dan duduknya itu bersila yaitu ber bersila. Kemudian juga didukung Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam salat salat sunah di kendaraan. Di kendaraan yang tentunya tidak berdiri dalam kondisi duduk. Adapun ketika salat fardu dia turun dari kendaraan. Adapun salat fardu, adapun ketika salat fardu, ketika salat fardu, Nabi turun dari kenda kendaraan. Nabi sallallahu alaihi wasallam turun dari kendaraan. Ini menguatkan bahwasanya salat sunah tidak wajib untuk berdiri. Tib yang kita bahas sekarang yang rukun adalah ketika salat fardu. Ya Allah berfirman, hafidu al shawati wau lillahiin. Berdirilah kata Allah waquulillah. Berdirilah karena Allah dalam kondisi qunut yaitu dalam kondisi khusyuk. Ini perintah ketika Allah menyuruh untuk salat Allah suruh dalam kondisi berdiri. Ya. Demikian juga Rasulull sahu alaihi wasallam ketika membicarakan tentang salat kata Nabi, "Idza kumta ilat." Jika kau berdiri untuk salat, jika kau berdiri untuk salat. Rasul sahu alaih wasallam juga bersabda, "Solli qoiman." Salatlah kau dalam kondisi berdiri. Hukum asal faillam tastati faqidan. Kalau kau tidak mampu salat berdiri, maka dalam kondisi du duduk lagi sakit ada halangan, ada uzur. Faillam tastati fa jam. Kalau gak bisa duduk, maka salat dalam kondisi berbaring. Menunjukkan hukum asal seorang salat harus dalam kondisi berdiri. Adapun menunjukkan salat sunah tidak wajib berdiri banyak dalam hadis Ibnu Umar Nabi wasamf rasul wasam salat ketika bersafar di atas kendaraan sambil diisyaratkanisyaratkan rasam e duduk bukan dalam kondisi berdiri Demikian juga hadis Aisyah ini yang jelas Rasulullah tidak sedang bersafar. Aisyah radhiallahu anha berkata, "Kana lailan qoiman." Rasul sahu alaihi wasallam salat malam berdiri salat panjang. Wailan thwilan qoidan terkadang Rasul sahu alaih wasallam salat malam panjang duduk. Jadi Rasulullah tidak sedang bersafar pun salat duduk. Wakana qa qoiman raka qiman. Kalau Rasul Sallahu Alaih Wasallam baca Quran berdiri, maka dia pun rukuk dalam kondisi berdiri. Waq qidan rak qidan. Kalaupun beliau salatnya dalam kondisi bersila, maka rukuknya pun dalam kondisi ber bersila. Maka ini menunjukkan bahwasanya untuk salat sunah tidak wajib untuk berdiri. Tapi tadi pahalanya cuma setengah jika tidak beruzur. Adapun kalau beruzur pahalanya tetap sempurna. Karena yang Allah nilai adalah kebiasaan seseorang. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kalau seorang sedang sakit atau bersafar, maka tetap dia dicatat pahalanya sebagaimana ketika dia sehat dan ketika tidak bersafar. Jikala orang misalnya dia salat malam dulu waktu masih muda mau salat 1 jam dia bisa berdiri tapi ketika dia sudah tua capek, sakit kakinya. Maka dia mungkin berdiri setengahsengahnya dia duduk tetap dapat pahala sempurna. Karena yang Allah nilai adalah kebiasaannya ketika dia tidak ada uzur, ketika dia masih muda, maka dicatat sempurna pahaman. Baik, sekarang kita bahas tentang batasan berdiri ya. Berdasar batasan berdiri adalah menegakkan badan. menegakkan Boleh apa menunduk sedikit jika tidak menyerupai rukuk. Jadi yang pertama menegakkan badan. Jadi berdiri ya berdiri agak sedikit masih sah. Seorang berdiri namanya berdiri ya. Seandainya dia berdirinya begini masih berdiri enggak? Misalnya kita di pesawat ternyata ketinggian. Tapi kalau sudah seperti ini sudah seperti apa? Rukuk. Jadi kalau berdirinya masih nilainya berdiri tidak seperti rukuk maka masih dikatakan ber ber ini satu. Yang kedua, tidak bersandar. itu ada khilaf. Tapi ini pendapat yang lebih hati-hati, tidak bersandar yang jika sandarannya diambil akan jatuh kecuali beruzur. Misalnya seorang salat sambil bersandar di tembok, misalnya dia salat. Kira-kira temboknya diambil jatuh enggak? Kecuali dia ternyata ahli kungfu. Artinya kalau dia sandar gini ini tidak sah menurut sebagian ulama. Kenapa? Karena tembok ini tidak berdiri. Buktinya buktinya dia sedang bersandar. Seandainya temboknya diambil dia bakalan ja jatuh. Paham seperti itu? Sama ketika dia pegang tongkat. Kalau tongnya dia jatuh kecuali beruzur. Orang tua pegang tongkat enggak apa-apa. Tapi kalau tidak ada uzur kemudian dia bersandar dengan tongkat atau bertelekan. Seandainya sandarannya diambil dia jatuh, maka salatnya tidak sah. Kemudian iya menopang dengan satu kaki masih bisa berdiri enggak? Masih. Tetap sah ya. berusaha berusaha berdiri dengan berdiri dengan seimbang ini berusaha meskipun tidak wajib. Jadi kalau orang salat berdiri kemudian salatnya begini sah atau tidak sah tapi kurang sempurna. Sempurnanya dia dengan dua ka k ka bertopak kecuali kalau gatal ya i atau capek. Kadang capek kita capek karena imam terlalu lama kita sandaran kaki kiri. Nanti besok kita standar lagi kita sandaran kaki kanan. Imamnya enggak rukuk-rukuk sudah kita dia enggak rukuk-rukukah. Ini tetap sah. Tapi seorang kalau dalam kondisi normal berusaha di atas dua dua kali. Berusaha berdiri dengan tegak. Karena secara secara umum sunah Nabi kalau salat dengan semangat. Secara umum Rasulull sallahu alaihi wasallam kalau salat dengan apa? Semangat. Rasulullah tidak kepalanya miring dikit gini atau kaki enggak. Jadi Rasulullah salat tegak simetris. Kalau bahasa kita lurus, tenang, tegak, kelihatan semangat, bukan malas-malas. Baik. Sampai sini paham? Kita lanjutkan. Ee ini termasuk sunah ya. Jadi beri ee kemudian ke mana arah pandangan mata. Yang kedua, arah pandangan mata. Atau kita lanjut di halaman berikutnya. Ada yang bertanya tentang ini. Berdiri enggak? Ada. kita arah pandangan mata. Maka secara umum ada ee khilaf ya khilaf ulama dua pendapat. pertama ini jumhur ulama, jumhur mayoritas tiga mazhab yaitu mazhab Syafi'i, mazhab Hambali, mazhab Hanafi. Bahwasannya jumhur maksudnya mayoritas. Jumhur itu bahasa artinya mayoritas. Bahwasannya disunahkan melihat ke arah sujud. Ke arah su sujud. Jadi kalau orang berdiri salat ke arah mana dia su sujud. Ini sunahnya demikian. Dan ini pendapat Imam Ahmad mengatakan bahwasanya ee di antara kekhusyukan adalah memandang ke arah tempat sujud. ke arah sujud. Yang kedua adalah pendapat Malikiyah, pendapat mazhab Maliki. Malikiyah. Maka mereka berpendapat sunahnya adalah melihat ke arah imam, ke arah depan ya, ke arah imam. Apakah ada hadis tentang Mas? Ada hadisnya, tapi hadisnya dif. Hadisnya dif hadisnya lemah. Dalam hadis Abu Hurairah anna Rasul sahu alaihi wasallam kana id shafa'a basar ilasama fanazalat. Rasul sahu alaihi wasallam ee melihat ke atas. Kemudian turunlah firman Allah menegur ya alladzina hum fi shatin khyiun hendaknya khusyuk ketika salat fa rahu maka Rasulullah tundukkan kepalanya ya tapi hadis ini ee diif ya demikian juga dalam hadis yang lain ee ya anas ija bashar haitsu tasjud wahai Anas arahkan pandanganmu ke arah tempat sujud hadisnya pun dif ya oleh karenanya hadis Ada hadis tapi hadisnya dif. Ini ada hadis tapi apa? Dif, lemah. Namun secara umum kalau kita melihat ke bawah kita lebih khusyuk karena tidak terganggu dengan pandangan-pandangan yang yang lain. Adapun yang mengatakan bahwasanya disunahkan adalah memandang ke depan mereka beril dengan fawalli fawalli wajhak masjidil haram. Ketika Allah menyuruh salat, kata Allah, "Arahkanlah ee arahkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, yaitu ke arah Ka'bah." Berarti salat menghadap ke ka'bah, berarti menghadap ke depan. Namun ayat ini terlalu umum. Ayat ini terkait dengan kiblat, bukan terkait dengan masalah pandangan, tapi mengalik. Jadi ayat ini tidak pas dijadikan dalil untuk masalah arah pandangan. Mereka juga berdalil dan ini juga pendapat apa isyarat dari Imam albukhari bahwasanya kalau salat melihat ke depan. Mereka beril juga dalam hadis-hadis bahwasanya sahabat mengetahui Nabi membaca Quran ketika salat. Ditanya, "Dari mana engkau tahu Nabi baca Quran?" Melafalkan Quran? Dari gerakan jenggot Nabi. Menunjukkan ketika mereka salat, mereka lihat ke depan menunjukkan jenggot Nabi besar sehingga lebat. Sehingga kalau Nabi baca bergerak apa? Jenggotnya. Dan para sahabat lihat dari belakang. Demikian dalam hadis para sahabat mengatakan, "Kami tidak kami tidak turun sujud sampai Nabi sujud." Berarti mereka lihat Nabi tunggu su sujud baru mereka turun untuk sujud. Berarti mereka melihat ke depan. Demikian juga ketika Nabi salat gerhana, Nabi maju. Nabi mundur, sahabat lihat. Maka sahabat tanya tadi, "Engkau maju ngapain? Engkau mundur ngapain?" Berarti mereka salat sambil lihat siapa? Nabi ke depan. Kemudian juga dalam hadis Rasul sahu alaihi wasallam sebutkan, "Ketika saya sedang salat, tiba-tiba Allah perlihatkan di arah kiblat, surga, dan neraka." Jadi Rasulullah lihat ke arah kiblat. Ini semua dijadikan diri oleh Malikiyah bahwasanya sunah kita kalau salat lihatnya ke depan. Sunahnya bukan begini. Tapi apa sunah? Kalau jumhur ulama suruh lihat ke mana? Ke bawah. Ee intinya perkaranya ringan. Artinya mau begini begini enggak apa-apa. Yang penting yang mana lebih khusyuk. Adapun dalil-dalil tadi yang disebutkan mereka melihat Nabi, mereka melihat Nabi maka ini pun tidak tegas. Kenapa? Karena bisa jadi yang bercerita yang saf pertama yang melihat langsung apa? Nabi yang belakang tentu tidak lihat ya. Kalau saf ke depan ya, imam depan ya pasti kelihatan. Tetapi mereka juga lihat ke ke arah jenggot Nabi. Berarti mereka lihat ke arah de depan. Ya, intinya seorang berusaha salat untuk khusyuk. Kalau dia lagi salat di depan Ka'bah, lihat Ka'bah enggak ada masalah. Makanya kita sering lihat Imam Haram salatnya lihat ke mana? Ke depan. Ke depan. Mereka salat menghadap langsung ke Ka'bah. Ya, ini pendapat enggak ada masalah. Kalau antum sini lihat aja ke bawah, lihat ke depan nanti malah kanan kiri nihatnya. Tapi intinya mana yang lebih khusyuk tidak jadi masalah. Artinya ini sekedar sunah. Ini bukan bicara wajib. Ini bicara sunah. Apakah sunah lihat ke bawah atau ke depan? Maka ada dua pendapat di kalangan para ulama. Mana yang lebih baik bagi kita? Lebih khu khusyuk. Kalau menurut sebagaimana pendapat jumhur saya rasa yang lebih khusyuk kita lihat ke mana? Ke bawah. Lihat ke bawah. Lihat ke bawah. Wallahuam bisawab. Ya, tentu dua pendapatnya sama-sama kuat. Ya, itu semua tentang kedaifan hadis tersebut saya sudah singgung dalam kitab bekal bekal salat dengan gambar-gambar ee sanadnya. dengan gambar-gembar sanadnya. Ee tidak boleh perhatikan tidak boleh memandang ke atas ke atas ya sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, kalau kita berdoa gak apa-apa lihat ke atas tapi kalau dalam salat maka tidak lihat ke mana ke atas. Maka di antara kesalahan ketika orang sedang salat, imamnya sedang qunut, kemudian dia, "Ya Allah, enggak boleh. Enggak boleh. Dia harus berdoa tetap ke bawah. Kalau di luar salat bebas. Tapi kalau dalam salat dia tunduk ke bawah sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Subhanahu wa taala." Ya, bab. Terakhir kita bahas tentang mengangkat kedua tangan. ini sudah ya silakan. Kalau apa merem ee tidak sunah. Jadi tidak sunah merem tidak boleh ini tidak boleh memandang ke atas kemudian tidak disunahkan merem. tahu ya tutup mata kecuali ada gangguan disebut oleh Ibnu Qayyim ada gangguan kita lagi sini anak kecil sini loncat toot tutup iya kucing lewat mengganggu tutup mata gak apa-apa tutup mata tapi jangan dikatakan sunah tutup tutup mata justru salat itu buka mata ya saya enggak bisa khusyuk kecuali tutup mata enggak latih dirimu. agar kau khusyuk sesuai dengan sunah Nabi. Sunah Nabi salat sambil melihat ke depan atau ke bawah mana yang lebih mudah bagimu. Tapi kalau ada gangguan kau boleh tutup mata. Misalnya ada ganggu-ganggu larisan lari sini kemudian ya sudah kita tutup mata supaya kita tidak terganggu oleh gangguan-gangguan depan depan mata ini. Tib. Terakhir masalah tentang mengangkat kedua tangan ini sudah ya berikutnya. Ini adalah sunah ketika takbiratul apa? Ih ihram. Perhatikan sunah ketika takbiratul ihram. Baik. Sepakat. Pertama pembahasan kapan disyariatkan? Kapan disyariatkan? Angkat tangan. atau ada ada pembahasan sini ada tiga pembahasan ee pembahasan pertama kapan disyariatkan angkat tangan angkat angkat kedua tangan. Yang kedua ee bagaimana cara angkat kedua tangan? Bagaimana kaifiat tata cara angkat kedua tangan? Yang ketiga, kaifiat iringan beriring dengan takbir. Baik. Pembahasan pertama, kapan diat tangan ada khilaf di kalangan para ulama? Khilaf ada tiga pendapat. Yang pertama hanya takbiratul ihram. Dan ini pendapat Hanafiyah. Jadi mereka mengatakan takbiratul ihram angkat tangan cuma sekali aja. Allahu Akbar. Setelah itu enggak ada angkat tangan lagi. Rukuk tinggal rukuk, iktidal tinggal begini rukuk sujud tinggal sujud gak ada angkat tangan. Angkat tangan cuma pertama kali. Dalilnya apa? Mereka ada riwayat dari Ibnu Mas'ud. Ibnu Mas'ud ketika salat cuma angkat tangan pertama kali. Angkat pertama kali. Adapun hadis dari Nabi semuanya dif. Tapi ada riwayat dari Ibn Mas'ud. Ibnu Mas'ud ketika salat cuma angkat tangan seka sekali. Pendapat kedua, jumhur. Jumhur ulama yaitu empat tempat. Empat kali. Empat kali tersebut yang pertama takbiratul ihram. Angkat tangan. Ini yang pertama. Yang kedua ketika rukuk. Ketika mau apa? Ru rukuk. Yang ketiga, bangkit dari tasyahud awal. Iya. Ini keempat ketika iktidal ya. Ketika apa? Iktidal. Yang keempat apa tadi? Bangkit dari tasyahud awal. Pendapat ketiga, setiap setiap gerakan setiap gerakan kulli rofin wafdin setiap turun angkat selalu angkat tangan Allahu Akbar mau sujud Allahu Akbar bagi bangkit sujud Allahu Akbar pendapat yang lebih kuat wallahuam bis pendapat jumhur. Ya, ada hadis tentang tapi hadisnya DIHF. Saya jelaskan dalam kitab bekal salat. Dan Ibnu Umar menafikan Rasulullah tidak angkat ketika sujud. Jadi kaidah dalam masalah angkat tangan ketika mau sujud dan bangkit dari sujud tidak ada angkat angkat tangan. Makanya kalau kita mau sujud angkat tangan atau tidak? Tidak. Bangkit dari sujud angkat tangan atau tidak? Tidak. Sahwi juga gak perlu angkat tangan. Bangkit apa? E sujud tilawah juga enggak perlu angkat tangan. Bangkit sujud tilawah juga enggak perlu angkat angkat tangan. angkat tangan cuma empat. Ini inilah disunahkan. Jadi takbirulam pertama mau rukuk Allahu Akbar. Iktidal samiallahu liman apa hamidah. Ketika tasyahud bangkit rakaat ketiga angkat kedua tangan Allahu Akbar. Hanya empat ini. Adapun yang lain tidak disunahkan. Baik. Bagaimana kaifiat angkat tangan? Datang dalam tiga riwayat. Ada tiga riwayat dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Yang pertama sejajar sejajar bahu pundak. Yang kedua sejajar ee apa ini namanya? Apa ini? Daun telinga. Ini daun telinga. Kalau ini sejajar bagian bawah telinga. Dalam riwayat yang lain yang ketiga, furua uzunaihi. Yaitu sampai di ujung apa? Ujung atas. sejajar ujung atas telinga. Ini tiga riwayat dalam riwayat Rasulullah sejajar pundak ini maksudnya ininya. Allahu Akbar. Sejajar dengan apa? Pun pundak. Allahu Akbar. Yang kedua, dalam riwayat Rasulullah sejajar dengan telinga. Allahu Akbar agak naik dikit. Yang ketiga lebih tinggi lagi. Allahu Akbar. Jadi sejajar dengan apa? ee ujung sering Allahu Akbar. Jadi ada dua eh tiga. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Tib. Bagaimana? Ada yang mengatakan, ada yang mengkompromikan yang benar boleh semuanya. Boleh semuanya. Bahkan dalam riwayat Imam Ahmad, Imam Ahmad dalam riwayat yang sahih, beliau takbiratul ihram yang seperti itu. Jadi sejajar dada. Ketika takbir berikutnya beliau sejajar dada bukan lagi pundak. Imam Ahmad. Allahu Akbar. Agak ketika dia rukuk dia agak di bawah dari dada bahkan ke eh di bawah dari pundak bahkan ke arah da dada. Tapi intinya kalau datang dalam riwayat yang sahih ada tiga. Sejajar pundak, sejajar telinga, sejajar bagian atas apa? Telinga. Intinya tetapi tidak boleh berlebihan. Allahu Akbar. Ah ini ketinggian. Melebihi melebihi. Jadi melebihi se orang gitu. Allahu Akbar. Terlalu tinggi. Terlalu tinggi ya. Paling tinggi seginilah ya. Yang sejajar apa? Paham? Tib. Kemudian yang ada keempat juga ee keempat posisi jari. Baik. Posisi jari. Maka sebagian ulama berpendapat kedua telepatan harus menghadap kiblat. Tapi ini tidak ada dalilnya. Dibantah oleh sebagian ulama yang lain. Jadi kalau kita mau kan Allahu Akbar. Sampai ada kawan yang salat gitu Allahu Akbar. Jadi dia menghadap kiblat. Allahu Akbar. Jadi karena dia menghami menghadap kiblat padahal tidak ada dalilnya maka kita salat biasa aja. Jadi ya begini. Kalau kita normal gini angkatnya biasa begini. Jadi tidak harus begini maksud saya. Tidak harus menghadap apa? Kiblat. Ya begini sudah cukup menghadap kiblat tapi tidak harus tangan kita dipaksakan untuk menghadap apa? Kiblat. Biasa aja. Kemudian jari-jari tidak digenggam, tidak dilebarkan. Jadi bukan Allahu Akbar, bukan juga Allahu Akbar. Biasa terbuka renggang sedikit. Biasa normal. Allahu Akbar. Jangan. Allahu Akbar. Jangan. Allahu Akbar. Jadi sedang. Jadi sedang aja. Biasa aja ya. ini terkait dengan besi jari. Jadi tidak menghadap tidak tidak harus menghadap apa? Kiblat. Menghadap kiblat itu apa? Telapak tangan. Telapak yang kedua tidak di tidak apa di apa namanya? Dirapat dan tidak direnggang. Biasa aja. itu jadi biasa aja Allah normal aja bab bagaimana kaifiat beriringan dengan takbir maka Imam Nawawi menyebutkan ada banyak pendapat ada lima pendapat ya sebutin Biar tahu aja ya. Tapi intinya perkaranya mudah. Maka insyaallah orang kalau salat yang penting niat salat tidak salah. Karena mau begini ada pendapat, begitu ada pendapat insyaallah tidak tidak salah. Artinya Rasulullah memberikan contoh yang luwes dan apa namanya ee ringan. Coba ini disebutkan oleh Nawawi rahimahullahu taala ini dalam mazhab Syafi'i saja dalam kitab alminhaj syarah Sahih Muslim Nawai menyebutkan ada lima cara kata beliau ini sebenarnya dalam ini satu mazhab mazhab Syafi'i lima cara boleh menunjukkan keluasan yang pertama ngangkat tangan dulu baru takbir jadi Allahu Akbar ngangkat tangan dulu baru ber takbir ngangkat tangan selesai baru Tak takbirangkat tangan dua tangan sudah mulai takbir sedangkan dua tangan sudah mulai dilepas. Jadi gini Allahu Akbar angkat dulu baru ber takbir. Allahu Akbar. Ini cara pertama. Jadi bagaimana sinkronnya dengan takbir? Kedua, Allahu Akbar. Bedanya pertama dan kedua apa? Yang kedua lafalnya sambil tu turun. Jadi pertama Allahu Akbar, yang kedua Allahu Akbar. nya diam. Allahu Akbar. Baru yang ketiga Allahu Akbar baru turun. Jadi pas ngangkat Allahu Akbar baru turun. Yang keempat, Allahu Akbar. Yang kelima, enggak peduli mau akhirnya gimana, yang penting takbirnya bersamaan dengan angkat tangan. Allahu Akbar. Mau terserah. J saya ulangi yang pertama perhatikan. Allahu Akbar. Cara pertama takbirnya mulai ketika tangan sudah di atas dan berhenti sambil turun. Allahu Akbar. Yang kedua, takbirnya ditahan, tangannya ditahan. Allahu Akbar. Paham? Yang ketiga tadi bagaimana? Saya juga lupa. Yang ketiga, Allahu Akbar. Ketiga, Allahu Akbar. Turunnya diam. Yang keempat, dari awal sampai akhir. Allahu Akbar. Yang kelima, yang ditinjau cuma awal saja. Allahu Akbar. Terakhirnya terserah mau barang ini atau lafalnya habis baru turun tangan terserah. Intinya yang penting salat. Insyaallah enggak salah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Baru begini semuanya aman ya. Insyaallah enggak ada enggak ada masalah. Yang penting apa? Salat. Tib. Apa hikmahnya mengangkat tangan? Disebutkan oleh Alqadiyat ada beberapa hikmah. Di antaranya tentu Rasulullah tidak jelaskan. Ini sekedar para ulama mencari apa hikmahnya kita salat angkat tangan. Ada yang mengatakan untuk mengagungkan salat. Allah orang mengungkan dengan angkat tangan. Mengungkan salat. Jadi, Allahu Akbar mengumkan salat bahwasanya kita sedang masuk dalam ritual yang sangat agung itu salat. Kita langsung connecting dengan pencipta alam semesta yang menciptakan kita. Makanya Rasulullah mengatakan kunta fati eh apa? Fainnaka tunajib. Ya. E sesungguhnya kalau kau sedang salat maka kau sedang bermunajat dengan Allah Subhanahu wa taala. Kita sedang bermunajat. Maka dia ini koneksi kita. Alhamdulillah umat Islam ingin berkoneksi dengan Tuhannya langsung dengan salat muda. Ada yang mengatakan Allahu Akbar itu sebagai pertanda. Ada orang tahu kita salat dengan gerakan tangan Allahu Akbar. Ada yang mengatakan Allahu Akbar itu angkat tangan untuk kepasrahan. Seperti orang di tangkap Allahu Akbar pasrah saya. Pasrah kepada Allah bahwasanya saya salat ini pasrah kepada Allah. Ada yang mengat isyarat untuk membuang dunia untuk masuk akhirat. Semua dunia kita buang baru kita menuju kepada ini semua hikmah tidak ada dalilnya hanya sekedar para ulama mencari-cari hikmahnya apa, kenapa angkat tangan wallahuam bisawab. Demikian saja yang bisa sampaikan ya. Kita ee ingatkan tadi bahwasanya kita bahas tadi masalah apa ni? Niat ya. Niat. Kemudian tadi apa? Berdiri ya. Kemudian apa? Angkat angkat tangan. Pandangan mata juga sudah kita bahas. Insyaallah sampai sini saja. Ya, kalau ada yang bertanya saya persilakan. Wallahu taala alam bawab. Ya, jangan lupa ujian ya. Ujiannya banyak sepertinya. Bab demikian. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.