Kitab Ath-Thahawiyah #47: Murjiatul Furqaha'
dhf-NN4X1TA • 2026-02-03
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqihin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahu takiman lya wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, kita masih melanjutkan tentang bahasan iman masailul iman. Pada pertemuan sebelumnya telah kita bahas tentang ee macam-macam ee almurjiah ya. Di sana ada murjiah yang parah ya seperti Jahmiyah. Kemudian ada murjiah yang ee juga karamiyah. Kemudian juga ada murjiah yang seperti al-Asyairah dan almatwidriyah. Dan murjiah yang paling ringan disebut dengan murjiatul fuqaha. Murjiatul fuqaha. Murjiatul fuqaha nisbah kepada alfuqaha. Kenapa alfuqaha jamak dari fqih? Dia adalah e kelompok murjiah yang paling ringan. Makanya dikenal dengan murjiatul fuqaha. Dikenal juga dengan murjiat ahli sunah. Kenapa? Karena yang memiliki pemahaman seperti ini para fuqaha. Karena dianut oleh para fuqaha ahlusunah. yaitu kebanyakan dari ee ulama yang ada di Irak, di Kufah dan juga sebagian di Basrah. Ee sehingga dinisbahkan kepada mereka itu murjiah dari kalangan fuqaha. Karenanya dikenal juga dengan murjiatu ahli sunah. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebut mereka dengan murjiat ahli sunah. Kenapa? Karena yang menganut Muhammad ini adalah ulama-ulama ahlusunah yang tergelincir dalam suatu kesalahan kesalahan irja. ya ee disebut murjiah karena mereka bersepakat satu irisan. Seluruh Murjiah sepakat pada satu irisan yaitu sama-sama mengeluarkan amal dari iman. Ketika mereka mendefinisikan iman, mereka sama-sama sepakat bahwasanya amal bukan daripada iman. Baik Jahmiyah yang mengatakan iman adalah makrifah atau yang ee karamiyah yang mengatakan iman adalah alqul bisan. Ya. Kemudian atau seperti Asyairah yang mengatakan aliman adalah tasdiq atau mereka juga mereka mengatakan iman itu attasdiq bil jinan walqul bisan. Ya, tapi mereka semua sepakat mengeluarkan amal daripada iman sehingga mereka digolongkan dalam murjiah. Siapa pencetusnya? Pencetus pemahaman murjiatul fuqaha. Ya, khilaf di kalangan para ulama tentang siapa? Ada yang mengatakan Dzar bin Abdillah Al-Murhibi al-Hamadani Abu Umar al-Kufi. Ada yang mengatakan dzar. Ada yang mengatakan pencetusnya adalah Hammad bin Abi Salamah al-Kufi. Gurunya Al Imam Abu Hanifah rahimahullahu taala. Ini ada khilaf ya. Tetapi pendapat irja atau murjiatul fuqaha ini adalah pendapat yang sudah lama muncul sejak zaman tabiin. Muncul sejak zaman apa? Tabiin. Khilaf di kalangan para ulama. Akan tetapi ini adalah irja yang muncul di awal karena tokoh-tokohnya dari kalangan tabiin dan atbaut tabiin dan pengikut tabiin. Di antara tokoh-tongkoh almurjiah yang terkenal yang pertama adalah Dzar bin Abdillah almurhibi al-Hamadani Abu Umar al-Kufi. Dia adalah murid dari Said bin Zubair dan Said bin Zubair ee adalah muridnya Ibnu Abbas. Said bin Zubair adalah seorang tabii yang dibunuh oleh Hajjaj bin Yusuf Assaqafi ee rahimahullahu taala dan dia muridnya Ibnu Abbas. Dan Dzar bin Abdillah Almurhibi ini wafat sebelum tahun 100 Hijriah. Sebelum tahun 100 Hijriah. Dia dihajir oleh Ibrahim An-Nakha'i dan Said bin Zubair. Mereka berdua ini adalah Ibrahim An-Nakha'i adalah ee tabii ya dari apa namanya? pengikutnya Ibnu Mas'ud radhiallahu taala anhu. Sayid bin Zubair adalah muridnya Ibnu Abbas dan ini adalah para tabiin terkenal. Mereka memboikot zar. Kenapa? Karena pemahaman irja. Karena dia punya pemahaman irja yaitu mengeluarkan amal dari definisi iman. Ya, kita sudah jelaskan kemarin bahwasanya iman menurut ahlusunah terdiri atas tiga rukun yaitu apa? Amal hati. Yaitu amalan hati, amalan lisan, sama amalan apa? anggota tu tubuh jawari itu adalah yang menyusun iman. Adapun yang membatasi iman hanya hati saja atau hati perkataan saja tanpa amalan ee jawarih, maka itu semuanya murjiah. Semuanya murjiah. Lihat maksud saya di sini dia wafat sebelum tahun 100 Hijriah. Jadi sangat lama. Kemudian yang kedua, Ibrahim at-Taimi. Ibrahim Taimi seorang yang fqih ya, tabii siqah, fqih ya. Ulama ahlusunah Ibrahim at-Taimi makruf ya. Dan dia dipenjara oleh Haj bin Yusufqafi sampai meninggal pada tahun 92 Hijriah dengan usia kurang dari 40 ee tahun. Beliau ini adalah murid Anas bin Malik radhiallahu taala anhu. Itu meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu taala anhu. Tapi terkontaminasi pemahaman irja. Irja ee yaitu murjiatil fuqaha yang mengatakan bahwasanya amal bukan bagian daripada iman. Kemudian juga yang terkenal dialq bin Habib Al-Anzi Albashri dari Basrah. Dia seorang tabi muridnya Ibnu Abbas dan juga muridnya Abdullah bin Zubair, muridnya Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan lain-lain. Wafat antara tahun 90 sampai 100 Hijriah. Alih ibadah. Bahkan seorang ulama mengatakan tidak ada saya dapati ahli ibadah lebih rajin ibadah daripada Thalq bin Habib. Namun dia ditahdir oleh Said bin Zubair. Ditahir oleh Said bin Zubair karena pemahaman apa? Irja. Karena pemahaman irja. Kemudian yang berikutnya yang terkenal Hammad bin Abi Sulaiman Al-Qufi. Wafat 120 Hijriah. Tabii junior. Dia ketemu dengan Anas bin Malik. Tetapi dia banyak meriwayatkan dari Said bin Zubair atau berguru Said Said bin Zubair kemudian Said bin Musayyib. Yang Said bin Zubair tabiin. Said bin Musayyib juga tabiin. Tabiin junior maksudnya apa? banyak meriwayatkan dari tabiin yang senior ya. Jadi tabiin juga dibagi-bagi. Ada yang senior, ada yang apa? Junior ya. Dia termasuk tabiin ee junior ya karena meriwayatkan dari tabiin yang senior. Muridnya adalah Abu Hanifah. Al Imam Abu Hanifah rahimahullahu taala. Ya, dia adalah faqihul Iraq. Faqihul Iraq. Hammad bin Abi Sulaiman al-Kufi. Fqih, ahli fikih. Kemudian yang paling terkenal dari semuanya adalah Abu Hanifah. Al Imam Abu Hanifah. Nu'man bin Tsabit alkufi yang wafat 150 Hijriah. Beliau juga seorang tabiin ya. Beliau berguru kepada ee Hammad bin Abi Sulaiman ya. Ee ada yang mengatakan beliau melihat sebagian sahabat wallahuam bawab. Tetapi yang jelas guru beliau adalah Hammad bin Abi Sulaiman dan juga Atha bin Abi Rabah. Beliau meriwayatkan dari Atha bin Abi Abi Rabah atau berguru kepada Atha bin Abi Rabah. Ya. Nah, kalau kita lihat tokoh-tokoh ini tentunya masih ada lagi yang lain. Ini semua kebanyakan fuqaha. seperti Abu Hanifah, Hammad bin Abi Sulaiman, Ibrahim at-Taimi. Mereka ini fuqaha, terkenal dengan ilmu, terkenal dengan ibadah, terkenal sebagai imam-imam ahlusunah. Makanya karena mereka yang menjetuskan atau yang mempelopori pemahaman ini, mereka dikenal dengan murjiatul fuqaha. Itu sebab dinamakan demikian, yaitu murjiah dari kalangan ahli fikih, dari kalangan fuqaha. Kemudian disebut juga dengan murjid ahli sunah karena mereka imam-imam ahlusunah. Hanya saja mereka tergelincir dan ketergelinciran mereka tidak menghalangi ulama yang lain mentahdir mereka, mengingatkan akan bahaya pemikiran mereka. Meskipun pemikiran mereka adalah murjiah yang paling ringan, tetapi tetap harus diperingatkan. Harus diperingatkan. Maka timbullah istilah murjiat ahli sunah atau murjiatu alfuqaha. Dan kebanyakannya adalah di Kufah. Di Kufah, di Irak. Akan tetapi murid-murid Ibnu Mas'ud tidak ikut. Tidak ada murid Ibnu Mas'ud seperti Ibrahim An-Nakhai ya yang kemudian terpengaruh dengan pahaman irja. Ini muncul dari murid-muridnya Ibrahim An-Nakhai ya. Seperti ee Dzar ee apa muridnya Said bin Zubair ya. Dan dia ditahdir oleh Ibrahim An-Nakhai dan ditahdir oleh Ibnu Jubair. Ibrahim at-Taimi juga sangat rajin ibadah, sangat kuat ibadahnya. fakih tapi ditahdir oleh Ibrahim An-Nakhai. Ditahir oleh Ibrahim Annakhai. Padahal ee Imam Tabi'i fiqah kalau kita baca biografinya seorang imam, seorang fiqah, ahli ibadah, fqih, tetapi terjatuh dalam pemahaman irja dan ditahdir oleh para ulama ahlusunah yang yang lain. Inilah kenapa disebut dengan murjiatul fuqaha atau murjiat ahli sunah. Dan di Kufah sahabat siapa yang di Kufa? Yang di Kufa Ibnu Mas'ud. Ibnu Mas'ud di Kufa terkenal mengajarkan apa? ilmu dari muridnya ee di antaranya adalah Ibrahim an-Nakhai. Ya, adapun murid Ibnu Mas'ud tidak ada yang berpaham demikian, tetapi di bawahnya lagi baru terpengaruh dengan pemahaman Murjiatul Fuqaha. Paham sampai sini? Kenapa dinisbahkan kepada fuqaha dan kenapa dinisbahkan oleh ahlusunah? Karena ee tadi ya dan ini dalil bahwasanya bisa jadi seorang tetap di atas ahlusunah meskipun terjerumus dalam sebagian bidah. Ini dalil yang nyata. Bisa jadi seorang terjemus dalam bidah, tetapi masih disebut sebagai ahlus ahlusunah. Ketika dilihat ternyata secara global, secara umum masih di atas sunah. Hanya memiliki ee ketergelinciran, namun tidak mengeluarkan seorang dari ahlusunah wal jamaah. Ya, seperti seorang ingin pergi ke Makkah kemudian dia belok sedikit. Ada belok tapi dia memang tujuannya ke Makkah. Maka masih dikatakan dia pergi ke Makkah cuma ada ketergelinciran. Beda kalau memang dari awal sudah pengin pergi ke ee ke mana? Bukan ke Makkah, tapi memang dari awal pengin pergi ke Yambo atau pengin pergi ke Roma. Ya sudah lain jalur ya, lain jalur. Nah, mereka ini jalurnya jalur Makkah kalau boleh kita istilahkan. Jalur mereka akidah mereka ahlusunah. Cuma ada keter ketergelinciran. Maka kalau kita dapati ada perkataan ulama yang pedas terhadap Abu Hanifah gara-gara masalah ini. Di antaranya gara-gara masalah irja ya. Karena ini terkait dengan ee definisi iman dan iman adalah masalah sangat ee sakral dan krusial dalam akidah ahl ahlusunah wal wal jamaah. Sehingga kita dapati ulama tegas dan keras. Dan kalau antum dapati nusus atau pernyataan-pernyataan statement-statement dari ahlusunah yang tegas terhadap murjiah, maksudnya murjiah ini murjiah apa? Murjiatul fuqaha. Kencang sama Murjiatul fuqaha. Paham? Lanjut. Lanjut. Tib. Yang kedua ee berikutnya sebab kemunculan. Adapun sebab kemunculan adalah respon dari munculnya Khawarij dan Muktazilah yang mengkafirkan kaum muslimin. Sebagaimana sudah kita bahas, mereka adalah golongan al-waidiyah. Al-Waidiyah, yaitu yang mengatakan bahwasanya janji Allah untuk mengazab pelaku dosa besar harus terjadi. Karena Allah berjanji, Allah berjanji untuk Allah mengancam dan Allah tidak menyelisihi ancamannya. Sehingga mereka mengatakan orang pelaku dosa besar harus masuk neraka. Bedanya khawarij mengatakan pelaku dosa besar kafir. Adapun Muktazilah mengatakan pelaku dosa besar tidak kafir, tidak mukmin. Tapi di tengah-tengah fil manzilah bainal manzilatain, tetapi di akhirat masuk neraka selama-lamanya. Ya, ini sudah sering kita sampaikan ya. Kalau khawarij di dunia pelaku dosa besar dihukumi kafir dan di akhirat tentu kekal di neraka. Adapun Muktazilah di dunia tidak dikatakan kafir, tidak juga dikatakan mukmin, tapi dikatakan di tengah-tengah. Bukan mukmin, bukan kafir. Terus apa? Tengah-tengah. Tayib. Kalau di akhirat tengah-tengah enggak. Di akhirat enggak tengah-tengah. Kekal di neraka. Di akhirat kekal di neraka. Sehingga sebenarnya hasilnya juga outputnya sama antara khawarij dengan apa? Muktazilah. Cuma beda mungkin kalau menurut Khawarij nerakanya paling bawah. Kalau menurut Muktazilah nerakanya tengah-tengah. Tapi sama-sama aba abadi. Sama-sama abadi. Nah, apa yang menyebabkan mereka berpendapat demikian? Kenapa output-nya bahwasanya pelaku dosa besar kekal di neraka? Jawabannya karena mereka menganggap amal adalah rukun iman. Amal adalah rukun iman. Siapa yang meninggalkan amal berarti imannya buyar. Karena sudah kita bahas pada pertemuan lalu. Mereka beranggap iman satu kesatuan. Jika hilang sebagian maka hilang apa? Seluruhnya. Jika hilang sebagian hilang seluruhnya. Kalau ada amal bagian dari iman kemudian amalnya dihilangkan berarti iman hilang seluruhnya. Maka untuk merespon ini sebagai bantahan, maka muncullah pemahaman para ulama tadi yang mereka tidak ingin mengkafirkan kaum muslimin. Karena mereka tahu pemahaman Khawarij dan Muktazilah keliru karena melazimkan banyak kaum muslimin yang bakalan kafir atau paling tidak mungkin tidak dikatakan kafir di tengah-tengah tetapi kekal di neraka. Dan ini tentu tidak sesuai dengan dalil-dalil yang lain. Akhirnya mereka merespon menjawab dengan membuat kaidah yang juga bidah. yaitu mereka mengatakan amal bukan dari iman. Supaya orang tidak kafir, supaya pelaku dosa besar tidak kafir caranya gimana? Anggap aja orang tidak salat, orang tidak bayar zakat, orang tidak melakukan ibadah tidak dikatakan kafir. Karena kalau kita bilang amal dari iman nanti output-nya sama bahwasanya pelaku dosa besar ka kafir. Nah, ahlusunah tidak demikian. Ahlusunah masuk di tengah-tengah mereka. Ahlusunah wal jamaah mengatakan amal bagian dari iman tetapi iman tidak satu kesa kesatuan. Ini yang membedakan ahlusunah dengan mereka dengan khawarij dan khawarij dan muktazilah. Sehingga kalau hilang sebagian tidak langsung otomatis hilang iman seluruhnya. Seperti sudah kita jelaskan kemarin, iman ibarat pohon. Ada akarnya, ada batangnya, ada tangkainya, ada dahannya. Kalau dahannya hilang, dahannya hilang mungkin batangnya. Tetap aja pohon tetap ada meskipun pohonnya berkurang. Kapan pohonnya hilang? Kalau dihilangkan, ditebang dari akalnya, baru pohon tersebut hilang. Selama seorang masih punya asal iman, maka meskipun dia melakukan dosa besar tidak dikatakan ka kafir. Maka solusinya harus dengan solusi ahlusunah, bukan dengan solusinya murjiatul fuqaha. Sehingga akhirnya murjiatul fuqaha membalas bidah dengan bidah. Dan demikianlah bidah-bidah yang muncul di zaman dahulu. Muncul bidah, muncul responnya seperti muncul khawarij, kemudian muncul apa? Rafidah. Ya, muncul rafidah, muncul lagi nasibah yang membenci Ahlul Bait. Rafidah terlalu berliban kepada Ahlul Bait muncul Nawasib, membenci Ahlul Ahlul Bait. Muncul Muktazilah, akhirnya muncul apa? Mur murjiah. Muncul Muktazilah, akhirnya muncul Muktazilah. Muncul kemudian para penolak sifat muattilah, kemudian muncul musyabbihah yang menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk. Begitu demikian ya. muncul ee berlawanan ee dalam masalah-masalah ee bidah. Muncul Qadariah pertama, kemudian lawannya muncul Jabriyah. Muncul apa? Jabriyah. Dan selalu Ahlusunah di tengah-tengah dari dua pemahaman yang ee ekstrem, baik ekstrem kanan ekstrem kiri. Ahlusunah selalu di tengah-tengah seperti dalam masalah iman. Masalah iman pun ahlusunah berada di antara al-waidiyah yaitu Khawarij dan Muktazilah yang selalu melihat ayat-ayat ancaman dan dalil ancaman. Dan di antara golongan al-wa'diyah yaitu yang melihat dalil-dalil harapan maksudnya adalah murjiah. Tib. Maka agar tidak mengkafirkan kaum muslimin maka amal dikeluarkan dari iman. Lihat penjelasan Ibnu Taimiyah menuju Fatwa dalam jilid 17 ayat 4 halaman 446. Tib. Sekarang kita bahas apa pemikiran dari Murjiatul Fuqaha. Apa pemikiran mereka? Landasan pemikiran mereka. Ya, ada beberapa poin saya sebutkan sini. Yang pertama jelas sebagai murjiah mereka, alamal laaisa minal iman. Amal bukan bagian daripada iman. Paham? Amal bukan daripada iman. Kemudian definisi iman menurut mereka ini al iman qulul lisan watasdiqun bilqalb. Quun bisan wa tasdiqun bilqalb. yaitu perkataan dengan lisan dan pembenaran dengan hati. Apa yang dimaksud perkataan dengan lisan? Yang mereka sebut juga dengan iqrar. Maksudnya syahadatain. Maksudnya syahadatain maksudnya mereka mempersyaratkan kalau ingin beriman selain meyakini membenarkan seluruh yang datang dari Nabi sallallahu alaihi wasallam juga harus mengucapkan apa? Asyhadu alla ilahaillallah wa asyhadu anna muhammadar rasul. ini membedakan mereka dengan ee Asyairah sebagaimana kita jelaskan pada pertemuan lalu. Asyairah merajihkan atau pendapat yang kuat di kalangan mereka iman adalah cuma di hati pembenaran saja. Adapun lisan itu bukan bagian daripada intisari iman. Syahadatain bukan intisari iman. Syahadatain hanya agar kita memuamalahi dia sebagai muamalah seorang muslim. Artinya apa? Menurut Asyairah? Seandainya ada orang mengakui membenarkan namun lisannya tidak mengucapkan asyhadu alla ilahaillallah muhammad rasulullah tanpa uzur dia berdosa tetapi tetap dikatakan dia ber beriman. Jadi sudah kita jelas kemarin bahwasanya perkataan asyhadu alla ilahaillallah muhammadar rasulullah bukan termasuk rukun iman tapi syarat ee iman agar seorang disikapi sebagai seorang muslim ya agar seorang disikapi dengan sebagai seorang muslim. Makanya Ibnu Hajar mengisyaratkan tentang khilaf sebagian ulama tentang apakah Herlius beriman atau tidak. Ya, karena secara ya dia beriman cuma dia enggak bilang apa asyhadu alla ilaha illallah. Adapun imannya membenarkan Nabi suruh dia membenarkan tapi dia tidak mengucapkan lailahaillallah. Kalau menurut ahlusunah jelas kafir. Karena untuk beriman harus syahada lailahallah, beriman dengan hati dan ada konsekuensi amal jawarih. Ya, baru dikatakan orang beriman. Nah, untuk murjiatul fuqaha mereka adalah murjiah yang paling ringan. Mereka mengatakan bahwasanya kalau mau iman harus tasdiqun bil jinan, membenarkan dengan hati dan juga qulun bis bilisan. Q bilisan maksudnya tadi apa? Alqrar maksudnya syahadatain. Maka siapa yang hanya membenarkan tetapi tidak mengucapkan syahadatain maka dia tidak beriman. Karena syarat iman dua, mengucapkan syahadatain dan pembenaran dalam apa? Hati. Kemudian ee di antara definisi iman ini definisi iman versi muljiatul fuqaha ya. Tasdiqun bilqalb. Tasdiqun bilqalb. Pembenaran dengan hati. Isyarat bahwa amalan-amalan hati yang lain bukan dari hakikat iman. isyarat ee isyarat bahwa mereka hanya memasukkan syarat iman cuma tasdik, pembenaran. Adapun selain pembenaran seperti cinta, seperti khusyuk, seperti tawakal, ini semua bukan bagian daripada iman. Karena mereka terikat dengan definisi iman secara bahasa. Sudah kita jelaskan pertemuan lalu. Definisi iman secara bahasa. Sebagian ulama mengatakan iman secara bahasa adalah tasdik, pembenaran. Sehingga mereka mengepaskan namanya iman ya sesuai dengan definisi bahasa iman adalah m membenarkan. Maka amalan hati banyak. Padahal amalan hati banyak atau tidak banyak. ikhlas amalan hati bukan tawakal berharap ini amalan hati banyak inabah ya khauf amalan hati di antara amalan hati adalah m membenarkan sementara mereka membatasi iman hanya pada membenarkan adapun amalan badan tentu tidak masuk amalan hati pun tidak masuk amalan hati yang masuk cuma satu yaitu apa tasdik paham saya ulang amalan hati Hati yang masuk dalam definisi iman cuma satu itu apa? Membenarkan tasdik. Amal hatinya tidak masuk. Dalil akan hal ini kita buka kitab syarah musykil asar. Syarah Musykil Asar karangan Al Imam Abu Jafar at-Tahawi pada jilid 488. Ya. Ketika beliau membahas tentang hadis alhaya minal iman, Rasulullah mengatakan alhaya minal iman. Malu bagian daripada iman. Rasulullah mengatakan jelas dalam hadis yang sudah kita bahas, al imanu bidun wasabuna. Iman itu 70 sekian apa? Cabang. Semuanya adalah iman. Alahu kalimatu lailahaillallah atau alaha kalimat laillallah. Cabang yang paling tinggi lailahaillallah. Waaha im. Cabang yang paling ringan adalah menghilangkan gangguan dari apa? Jalan. Wal haya minal iman. Dan malu adalah bagian daripada iman. Dari sini ahlusunah mengambil definisi iman terkait dengan hati, terkait dengan lisan, dan terkait dengan amalan tubuh. Menghilangkan gangguan dari jalan iman kata kata Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan banyak dalilnya tentunya ya. Amal iman mencakup banyak hal. Makanya para ulama menulis buku Syuabul Iman tentang cabang-cabang keimanan. Tib. Ketika Al Imam Abu Jafar at-Tahawi rahimahullah mendapati hadis alhayau minal iman bahwasanya malu adalah bagian dari iman. Maka beliau mentakwil. Beliau mentakwil. Beliau mengatakan anna wajadnal hayaa yaqthibahu an rukubil maasi. Ya, aqwalan wa af'alan. Kata dia, kenapa dinamakan malu adalah iman? Karena fungsi malu seperti fungsi iman. Fungsi malu seperti fungsi iman. Yaitu menghalangi seorang dari melakukan kemaksiatan. Kata dia, "Kami kami dapati alhaya yaqthibahu. Orang yang pemalu maka rasa malunya akan menghalanginya." Anuil maasi dari melakukan maksiat. Baik maksiat terkait perkataan wa af'alan maupun maksiat terkait perbuatan. yaq imanu ahlahuik sebagaimana iman juga menghalangi orang memiliki iman melakukan demikian ya waal wal imanu fakarna yalani amalan wahidan kanain wahid ketika haya rasa malu dan iman punya fungsi yang sama mencegah pemiliknya untuk melakukan maksiat maka mereka berdua seakan-akan suatu yang sama ya wana wahidin minhuma min shahibihi Maka yang satu seperti dari yang lainnya. Maka orang Arab dahulu menempatkan sesuatu pada tempat yang lain jika keduanya ada kemiripan. Itu dia ingin bilang rasa iman bukan malu. Malu bukan apa? Iman. Adapun Nabi menamakan malu bagian dari iman hanyalah majaz. Hanyalah apa? Majz. Tapi dia mengatakan malu bukan dari iman. Padahal malu amalan hati bukan. amalan hati. Tapi karena bukan tasdik tidak dianggap apa? Iman. Paham? Ini maksudnya kita tafsirkan perkataan Abu Jafar at-Tahawi ya yang yang kita sedang bahas sekarang. Bahwasanya Abu Jafar at-Tahawi di awal dari kitab akidah Tahahwiyah dia mengatakan saya berdasarkan akidahnya Al Imam Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit alkufi. Dan kita tahu al Imam Abu Hanifah murji atau bukan? Murjiah apa? Murjiatul fuqaha. Makanya dia jalan seperti Al Imam Abu Hanifah ya. Tergelincir sebagaimana tergelincirnya Al Imam Abu Hanifah rahimahullahu taala. Kemudian juga ini dia menunjukkan bahwasanya rasa rasa malu bukan bagian dari iman. Kemudian juga ketika membahas albadatu minal iman Rasulullah bersabda Rasulullah bersabda albaz minan. Lihat halaman e jilid 4 halaman 191. Albadah apa? Albadazah albad taqasyuf zuhud yaitu sederhana. pakaian zuhud ya itu adalah bagian daripada iman ya. Maka dia takwil ketika dia membahas fakana makna quihi. Adapun ee maka jadilah makna dari sabda Nabi, albadatu minal iman. Bahwasanya seorang zuhud terhadap dunia memakai pakaian sederhana adalah bagian dari iman. Padahal itu amalan badan. Iya enggak? Itu amalan badan. Anna annaha min sima ahlil iman. Maksudnya itu adalah ciri orang ahlul iman. Jadi bukan iman tapi cirinya orang yang beriman. Maahumuzuhdu tawadu takabburi kamaal anbiya shawatullahi alaihim qlahum fialik. Karena demikianlah para nabi juga demikian. Mereka tidak sombong, mereka tidak angkuh dan mereka meninggalkan takabur. Jadi dia tidak mengatakan e albadazadzah bagian daripada iman. Yaitu seorang memakai baju yang zuhud. ee pakai kesederhanaan kata dia itu amal badan bukan dari iman tetapi ditakwil maksudnya ketika Nabi mengatakan albadzah bagian dari iman maksudnya albadzah adalah ciri orang beriman takwil atau bukan takwil karena sesuai dengan kaidah dia bahwasanya amal jawarih bukan dari i iman paham paham ya ini masuk ujian susah ini. Oleh karenanya ini juga yang dipahami oleh Ibnu Abil Is al-Hanafi dalam syarah akidah Thahawiyah jilid 2 989. Apa yang kita pahami bahwasanya amal selain tasdik bukan daripada iman itu amal hati apalagi amal tubuh bukan dari iman. Pokoknya kalau ada dalil-dalil tentang amal hati dari iman seperti hubul ansar minal iman, mencintai kaum ansar bagian dari iman harus ditakwil. Kalau ada menghilangkan jalan dari gangguan adalah iman harus ditakwil bukan maksudnya itu ciri orang beriman atau buah daripada iman. Intinya dia bukan iman. Sehingga banyak dalil yang harus ditakwil. Harus di ini majaz. Ini majaz dalam ini namanya majaz. Tib. Sekarang ada suatu nas di mana al Imam Abu Jafar at-Tahawi ee mengatakan bahwasanya hubul ansar minal iman atau hubus sahabah dinun. Ya, saya lupa lafalnya tapi ee dia mengatakan dalam matannya bahwasanya hubbuhum dinun wa imanun ya. bahwasanya mencintai sahabat adalah agama dan iman. Ya, ini jadi problem ya. Karena menurut Abu Jafar at-Tahawi bahwasanya amal selain tasdq bukan apa? Iman. Tapi ada lafal dia seperti sesuai dengan lafal ahlusunah. Dia mengatakan hubbus sahabah dinun wa imanun atau hubbuhum dinun wa imanun. Ya, mencintai sahabat adalah agama dan iman. Maka Ibnu Abilah Hanafi kemudian mengatakan, saya bacakan imanan muskilal hubaluli. Oleh karenanya dalam dalam statement dari Abu Jafar athawi menamakan mencintai sahabat adalah iman adalah problem musykil menurut mazhabnya Syekh Abu Jafar at- Thaahawi. Kenapa? Karena mencintai adalah amalan hati. Sementara mereka menganggap seluruh amalan bukan daripada iman. Yang iman cuma tasdik. Waaisa hua tasdiq. Dan ini mencintai amal bukan tasdq. Amal itu mencinta cinta bukan tasdik. Berbeda. Fayakunul amaluilan musamal iman. Dengan demikian seakan-akan dia memasukkan amal dalam iman. Waqqama fi kalami padahal telah berlalu penjelasan Abu Jafar attahawial imana bilisani bilinan. Sementara Abu Jafar Attahawi ketika mendefinisikan iman seperti definisinya murjiatul fuqaha hanya membatasi syahadatain dengan apa? Tas tasdiq. Walamjal amalilan musamal iman. Dan murjiatul fuqaha tidak memasukkan amal hati dalam iman. Di antaranya cinta wuf mah ahlah illa anuna tasmiah majazan. Adapun masukan amal amal termasuk definisi iman itu pendapat ahlusunah wal jamaah. A kecuali bahwasanya Abu Jafar Attahawi menamakan iman dengan majaz. Dengan apa? Majz. Dan itu yang beliau lakukan Abu Jafar Athawi dalam kitab yang lain syarah Muskil Ar. Jadinya inilah ee definisi dari murjiatul fuqaha. Kesimpulannya apa, Ikhwan? Kesimpulannya berarti definisi iman menurut mereka apa? Cuma dua. Apa? Tasdiq bil jinan. Membenarkan hati. Amalan lain masuk enggak? Enggak. Khauf, raja, cinta, benci karena Allah, cinta karena Allah, khasyah semua enggak masuk. Yang ada cuma apa? Tasdik. Yang kedua apa tadi? Syaha syahadatain. Selain itu bukan iman. Kalau dinamakan iman maka ditakwil apakah itu majaz, apakah itu tsamaratul iman, buah dari iman, ataukah itu ciri orang beriman? Pokoknya bukan iman. Sementara Nabi bilang i iman. Rasulullah jelas iman 70 sekian cabang paling tinggi laillallah. Malu bagian dari iman, menghilangkan gangguan dari jalan adalah iman. Rasulullah mengatakan hubul ansar iman. Mencintai kaum ansar adalah iman. Rasulullah jelas kalau mereka ah ini takwil maksudnya ciri orang beriman tapi bukan definisi iman. Kelihatannya sepele tapi nanti ada berdampak tib. Yang kedua maka menekankan tadi yang pertama maka seluruh amal adalah iman secara majaz. Ya, ini buah dari yang pertama setelah karena definisinya iman hanya dibatasi dua perkara. Amal keluar, maka amal adalah iman secara majaz. Kenapa dikatakan amal adalah iman secara majaz? Di disamakan dinamakan iman karena hasilnya sama. Tadi ketika berbicara tentang haya, kenapa haya disebut iman? Karena haya fungsinya sama. Rasa malu fungsinya sama dengan iman. Sama-sama menghalangi orang dari maksiat. Karena fungsinya sama, maka amal boleh dikatakan iman. Tetapi secara hakikat bukan dari iman. Yang kedua atau amal tersebut adalah tanda atau akhlak orang beriman. Ya. Namun mereka semangat, mereka sepakat amal bagian dari Islam secara hakikat. Kata mereka amal itu Islam. Iman bukan iman itu tasdik. Adapun amal salat, haji, zakat itu semua adalah Islam. Bukan hakikat dari definisi apa? Iman. Namun kalau dinamakan iman hanyalah majaz. Ya. Tanda atau akhlak atau tadi kita bilang apa? Buah, ya. ee buah dari iman, samaratul buah iman atau konsekuensi keimanan istilahnya mereka mengantum majas. Pokoknya amal bukan dari iman. Tib. Sampai sini paham? Paham. Kita lanjut yang ketiga. Bagaimana pelaku dosa besar? Pelaku dosa besar terancam neraka. Dan ini di antara yang menjadikan bidah mereka ringan dari sisi pelaku dosa besar tercela dan bisa terancam neraka. Ini mereka sepakat. Kita baca buku-buku baik dari Asyairah maupun dari Maturidiyah baik dari Hanafi semuanya mengatakan qada besar terancam neraka. Ya. Ya. Tetapi secara konsekuensi ee definisi imannya tidak kurang. Karena iman adalah cuma tasdik. Iman cuma apa? Tas tasdik. Berbeda kalau ahlusunah mengatakan fasik, pelaku dosa besar apa? Fasik. Naqisul iman. Imannya kurang kata mereka gak iman enggak berkurang karena iman terkait dengan pembenaran. Iman terkait dengan pembenaran. Adapun amal tidak salat tidak anu itu memang terancam neraka, tapi dari sisi iman tidak berkurang. Nah, ini agak repot ya. Karena mereka mengatakan cam neraka tapi imannya tidak ber berkurang repot. sehingga banyak harus yang harus yang ditakwil. Kemudian ya nanti juga dapak dampak yang besar masalah pengkafiran insyaallah pada pertemuan berikutnya masalah pengkafiran karena mereka membatasi pengkafiran pada jika menolak, jika membatalkan pembenaran mendustakan baru kafir. Kalau enggak mendustakan tidak sampai kafir. Kalau mendustakan tidak mendustakan tidak sampai kafir. Selama masih membenarkan tidak kafir. Nanti ada pembahasan insyaallah. Kemudian mereka juga di antara akidah mereka tidak boleh istisna fil iman. Ini ada istilah istisna fil iman itu mengatakan ana mukmin insyaallah saya beriman insyaallah. Dalam akidah ahlusunah ini boleh saya beriman insyaallah. Maksudnya mudah-mudahan saya beriman sampai meninggal dudahan saya termasuk beriman ee apa namanya yang Allah puji dalam Al-Qur'an atau mudah-mudahan saya berusaha untuk berimaniman sempurna insyaallah bukan karena ragu. Bukan karena ragu. Boleh mengatakan saya beriman insyaallah karena ada tujuan-tujuan lain. Tapi mereka mengatakan tidak boleh mengucapkan ana mukmin insyaallah. Kenapa? Karena menurut mereka karena istisna mengatakan insyaallah adalah keraguan. Sementara iman harus yakin. Sementara iman harus ya yakin. Sehingga enggak boleh bilang ana mukmin insyaallah harus bilang ana mukmin. Yakin. Gak ada insyaallah. Kalau insyaallah berarti masih ragu-ragu. Kalau ragu-ragu berarti iman tidak tidak sah. Kau benarkan enggak? Benarkan sudah, jangan bilang insyaallah, bilang saya beriman. Adapun ahlusunah membelahankan insyaallah dari sisi yang lain itu karena Allah hanya memuji orang-orang beriman yang sempurna. Kita enggak tahu kita sempurna iman atau tidak. Kalau membenarkan, kita membenarkan. Tapi apakah? Karena kita memandang iman itu bertingkat-tingkat ketika mengatakan insyaallah maksudnya saya mudah-mudahan seperti iman yang baik. Tapi kalau membenarkan kita enggak ragu. Kita enggak ragu. Jadi beda pijakan yang melarang dan membolehkan. Ahlusunah membolehkan bukan karena ragu dengan imannya, tapi kita enggak tahu apa kita beriman seperti yang dimaksud oleh Allah atau tidak. Maka kita bilang apa? Insya Allah. Kalau mereka gak boleh bilang insyaallah karena men insyaallah meragukan pembenaran karena iman hanya tasdik. Kau benarkan enggak? Kalau kau benarkan jangan bilang insyaallah. Kalau kau ragu-ragu membenarkan berarti kau kafir. Kalau begitu dilarang mengucapkan insya Allah karena insyaallah meragukan pembenaran. Hal ini kenapa? Karena mereka membatasi iman pada pembenaran. Paham? Bisa dibedakan kita membatasi, kita membolehkan insyaallah karena iman. Iman itu bertingkat-tingkat. Bilang imanmu seperti ya wallahuam Allah puji kamu beriman seperti yang Allah puji wallahuam. Insyaallah insyaallah karena kita tapi kita enggak ragu kita membenarkan. Cuma definisi iman kita ahlusunah tidak dibatasi hanya pada pem pembenaran. Karena tidak dibatasi pada pembenaran kita mengucapkan insyaallah. Karena salat kita enggak tahu terima atau tidak. Ee haji terima atau tidak, itu semua bagian daripada iman. sehingga kita meng insyaallah mudah-mudahan maksudnya demikian. Tapi kalau ragu kita tidak ragu. Tapi ketika seorang membatasi iman hanya pada pembenaran maka benar. Gak boleh bilang insya insyaallah. Karena kalau bilang insyaallah kamu benarkan enggak? Insyaallah berarti ragu dong. Makanya enggak boleh. Ini kenapa? Sebab mereka bilang tidak boleh. Padahal ahlusunah membolehkan untuk alistisna fil iman. Karena landasan berbeda dalam definisi iman. Paham sampai sini? Paham? Tib. Yang kelima, menurut mereka iman tidak bertambah, tidak berkurang. Iman tidak bertambah, tidak berkurang. Kenapa? Karena iman cuma satu kesatuan, hanya tasdik. Tidak bertambah, tidak berkurang. Adapun ayat-ayat ya, fazadathum imana wahum yastabsyirun. Kalau diturun surat ayyukum zadatum zadat imana. Siapa di antara kalian yang bertambah imannya dengan turunnya surat Alquran? Faamadina amanuathum imanan wahum yastabsirun. Adapun orang beriman jika dibacakan Alquran bertambah iman dan mereka bergembira. Ya. Ya. Yasalikumulah inminina ukirallahu wajubum waat alaihim ayatuhuatum imana. Orang beriman kalau dibacakan ayat-ayat Allah maka bertambah apa? Imannya. Waim yatawakalun. Dalam Al-Qur'an banyak sekali bertambah, bertambah bertambah banyak ya. Walladinauadahum huda waahum taqwahum. Orang yang mendapat petunjuk Allah tambahkan lagi petunjuknya. Jadi iman bisa bertambah. Allah berfirman, "Ya ayyuhalladzina amanu aminu." Wahai orang yang beriman, tambah lagi iman kalian. Kata mereka gak ada tambah iman. Karena iman satu kesatuan gak ada tambah kurang imannya. ya satu paket ya begitu-begitu tasdik pembenaran pembenaran ini ya sudah begini sehingga mereka mengatakan iman saya dengan iman Jibril dengan iman Abu Bakar sama-sama pembenaran seakan-akan ada satu landasan itu disebut tasdiq ini di mana di sama saja antara siapapun siapa yang punya fail itu maka dia dikatakan ber beriman oleh karenanya fail itu tidak bertambah tidak berkurang itu-itu saja apalagi mereka menyatakan ilman la yatajazza iman tidak berc Cabang-cabang tidak terbagi-bagi. Kalau kita ahlusunah iman terbagi-bagi. Semakin banyak cabang semakin bertambah. Semakin kurang cabang semakin habis. Sesuai dengan dalil-dalil mereka. Enggak. Kata mereka iman tidak bertambah tidak berkurang. Tayib. Kalau begitu ayat-ayat dan dalil-dalil tentang tambah iman, kurang iman bagaimana? Kata mereka yang bertambah berkurang adalah amal. Dan amal itu iman maksudnya secara majaz. jelaskan tadi menurut mereka amal itu adalah bagian iman tapi dari majaz. Kenapa majaz? Karena amal adalah buah daripada iman. Tapi bukan iman yang bertambah amalnya. Buahnya imannya tidak bertambah. Itu-itu aja. Kalau kita tanya imannya enggak bertambah kok buahnya bertambah. Tapi intinya mereka mentakwil. Mereka mentakwil seluruh. Kalau dikatakan siapa begini bertambah imannya, siapa bertambah begini amannya. Maksudnya adalah majaz. Bertambah iman secara majaz. Atau mereka berkata yang bertambah atau yang berkurang adalah almukmanu bihi. Yaitu yang diimani bukan iman yang di hati. Ya, ini berlaku di zaman wahyu. Maksudnya ketika turun Al-Qur'an bertambah wah ketika berturun Alquran ayukumatu iman. Siapa di antara kalian yang bertambah iman? Orang berimanumina amanuatum imanan wahum yabsirun. Adapun orang yang beriman bertambah iman mereka dan mereka gembira. Maksudnya bertambah yang diimani bukan iman mereka. Sehingga mereka mengatakan iman maksudnya yang diimani. Yang diimani maksudnya surat ada surat baru tapi iman mereka tidak berubah karena iman mereka hanyalah tasdik. Terus gimana? Agak sulit. Tapi begitulah mereka kok konsekuensi karena mereka harus membela ini. Iman hanyalah tasdik untuk membantah khawarij dan apa? Muktazilah. Padahal kita bisa bantah dengan cara ahlusunah. Ngapain pakai cara seperti ini? Akhirnya konsekuensinya terlalu banyak dalil yang harus kita takwil. Terlalu banyak dalil yang harus kita katakan majaz. Dan betapa makanya Ibnu Qayyim menyebutkan di antara di antara ee apa namanya? Tagut adalah taggut majaz dan takwil. Pokoknya kalau enggak masuk enggak sesuai ee maksudnya begini takwil enggak sesuai majaz. Enak sekali. Gimana lihat betapa banyak ayat sifat yang mereka takwil betapa banyak sifat mereka tolak tidak masuk akal mereka. Majz. Nanti masalah iman juga apa? Oh majaz. Terus perkata Nabi semuanya enggak jelas kalau begitu. Takwil, takwil, takwil. Rasulullah sudah jelas mengatakan alhaya minal iman. Malu dari iman. Oh, bukan maksudnya malu itu mirip dengan apa? Iman. Repot. Allah mengatakan, "Adapun orang-orang beriman ketika dibacakan surat yang baru turun, fazadatum imanan, iman mereka bertambah." Oh, maksudnya bukan iman mereka, tapi yang diimani yang bertambah. Repot atau tidak repot? Takwil semua. ini sehingga mereka meyakini iman tidak bertambah, tidak berkurang. Kemudian tadi iman semua manusia atau semua orang adalah sama karena satu kesatuan seperti fail yang telah dipasang. Maksudnya hanyalah sekedar tasdiq yaitu tasdiq. Tib. Sampai sini paham, Ikhwan? Paham tidak? Ada yang bisa ulang? Paham tidak? Paham ya? Ya, antum pokoknya paham aja lah ya. Gak apa ini kita ya harus ada yang bahas. Kalau enggak ada yang bahas gimana? Untuk menjaga ahlusunah kita harus membahas penyimpangan supaya orang tidak terjerumus. Ya. Ya harus detail-detail sedikit mau diapain. Kalau semua enggak paham ya gimana lagi ya. Antum ana berusaha antum paham ya. Paling tidak antum, "Oh, iya, saya pernah diterangkan sama ustaz cuma saya lupa sekarang." Gak apa-apa nanti tinggal putar YouTube. Oh, iya. Maksudnya begini saya ngerti sekarang. Coba bagaimana maksudnya? Coba saya dengar lagi dua kali. J memang enggak rumit saling terkait. Tapi begitulah kita harus berusaha mahami agar terjaga akidah ahlus ahlusunah detail-detailnya. Dan itu namanya fikih akidah. Kita memahami dari mana asal muasalnya kok bisa menyimpang kok begini. Kita tidak hanya melihat output atau produk-produk kaidah mereka. Kenapa mereka ngomong begini? Karena begini. Kenapa orang begini? Karena begini. Bantannya bagaimana? Kembali kepada akar-akar pemahaman mereka. Karena apa yang mereka ucapkan tuh ada dasarnya. Itu memahami memahami ushulus syubhat. Ushulus syubhat asalnya apa? Sehingga kok bisa keluar pemahaman seperti itu. Jadi agak-agak rumit rumit tapi namanya juga kita belajar. Paham? Wallahuam. Bilang insyaallah. Antum beriman insyaallah menurut akidah sunah boleh atau tidak? Boleh. Kenapa boleh bilang insyaallah? Karena iman bertingkat tingkat-tingkat kita. Wallahualam apa sampai tingkat tersebut? Karena salat bagian daripada iman kita enggak tahu salat kita diterima atau tidak. Maka kita bilang insyaallah. Kalau murjiah boleh enggak bilang iman insyaallah? Enggak boleh. Karena bilang insyaallah berarti ragu. Karena iman mereka cuma satu. Tas tasdik. Tasdiq dan syahadatain. Tiib. Kita lanjut. Pembahasan berikutnya, poin kelima. Apakah khilaf dengan ahlusunah antara murjiatul fuqaha dengan ahlusunah? Adalah khilaful lafzi. Disebut khilafun lafzi yaitu beda cara mengungkapkan tapi sama saja. Itu namanya istilah khilafun lafzi. Hanya khilaf lafal saja cara mengungkapkan. Namun hakikatnya sa. Ataukah khilafnya khilaf maknawi? Khilaf maknawi itu khilaf hakiki. Benar-benar khilaf. Benar-benar khilaf. Maka jawabannya tergantung tinjauan. Ini disebutkan oleh Ibnu Taimiyah. Ibnu Taimiyyah punya perkataan indah dalam menujuk Fatawa jilid 13 ayat 40. Dia mengatakan tentang murjiatul fuqaha. Dan Ibnu Taimiyah adalah orang yang sangat adil ketika menghadapi musuh. Tidak, tidak, tidak mengapa baginya terkadang memuji musuh atau memuji yang sedang dia bantah karena ada kelebihannya. Dan terkadang dia membandingkan antara satu firkah dengan firkah yang lainnya. Dan terkadang dia bel mengambil faedah dari kelompok yang lain, Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Dan kalau beliau menukil perkataan ee ahlul bidah, maka beliau menukil dengan amanah. Tidak ditambah-tambahi, tidak dikurang-kurangi, tidak dilebih-lebihkan seperti itu, seperti itu. Ya, oleh karenanya beliau membandingkan Murjia ada begini, ada begini, ada begini, ada begini. Tidak satu model ya. Tidak satu model. Ini menunjukkan insafnya Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Tiba, watathil bidu. Yaitu bidah murjiatul fuqaha. Irja irja alfuqaha. Wat hadil bidu akul bidat hadil bidu akal bidi. Adalah bidah yang paling ringan. Fainna katsiran minan niza fiha nizaun fil ismi lafzi. Ya, kebanyakan perselisihan antara ahlusunah dengan murjiatul fuqaha banyaknya adalah khilaf lafzi tidak maknawi. E dunal hukmu bukan secara hakikat. Kemudian beliau berkata lagi, hum ma sunah muttafiqin. Kenapa? Dari sisi apa? Murjiatul fuqaha. Kalau dilihat dari outputnya murjiatul fuqaha sama ahlusunah wal jamaah sepakat ala anallaha yuadibu yadibu min ahlil kabair bahwasanya Allah akan mengazab siapa yang Allah kehendaki dari pelaku dosa besar binar tumma yukhrijuhum bisyafaah kemudian setelah itu dikeluarkan oleh Allah dengan syafaat maka kita katakan ketika Ibnu Ibnu Taimiyah mengatakan kebanyakan perselisihannya adalah lafzi tidak maknaw berarti ada yang maknawi. Paham? Berarti ada yang maknawi. Beliau mengatakan kebanyakan khilaf yang ada adalah laf lafzi. Hanya beda ungkapan tapi tujuannya sama. Isyarat bahwasanya ada khilaf-khilaf yang apa? maknawi. Maka kita lihat kapan dikatakan khilafnya lafzi? Jika ditinjau dari sisi pertama pelaku dosa besar juga terancam neraka. Benar. Nah, ahlusunah dan murjiatul fuqaha sepakat pelaku dosa besar adalah diajam dengan neraka dan beramal saleh adalah wajib. Kemudian amal fardu juga wajib. Sama-sama salat wajib, haji wajib, zakat wajib. Ditinjau dari ini sama, tidak ada bedanya. Kemudian jika ditinjau di larangan istisna, maka maksudnya kalau tidak boleh ragu dengan tasdik, maka tidak boleh istisna. Kalau maksudnya istisna tidak boleh karena meragukan takdim, maka sepakat dengan ahlusunah. Sepakat dengan ahlu ahlusunah. Maka khilafnya lafzi jika iman melazimkan amalan zahir. Kalau sepakat dengan mereka iman melazimkan amalan zahir, maka ditinjau dari ini khilafnya laf lafzi. Paham? Karena mereka juga mengatakan amal wajib, salat juga wajib, zakat wajib. Ketika mereka mengatakan amal bukan dari iman, bukan berarti mereka mengatakan ini tidak wajib. Mereka mengatakan amal bukan dari iman secara definisi, tetapi orang harus tetap beramal. Kalau tidak beramal diancam dengan apa? Neraka. Mungkin diazab mungkin meskipun imannya tidak berkurang tapi ditinjau dari orang pelaku sebesar mungkin diancam neraka bahwasanya amal wajib. Maka kita sama dengan mereka ditinjau dari itu. Tapi jika ditinjau dari sisi yang lain maka khilafnya maknawi. Dari pertama bahwa iman yang wajib sudah cukup di hati tanpa perlu amal zahir. Maka ini khilaf maknawi. Khilaf maknawi. Ya. Dan ini disebutkan oleh Ibnu Taimiyah men fatawa jilid 7 halaman 218. Karena definisi iman memang kita berbeda. Kita amal termasuk apa? Iman. Kata mereka amal bukan dari iman. Yang kedua, orang yang tidak beramal sama sekali tidak bakalan kafir. Ini perbedaan juga. Orang yang tidak beramal sama sekali tidak bakalan kafir. Kenapa? Karena amal bukan masuk dalam definisi apa? Iman. Mau tidak beramal tidak masalah. Yang penting kau masih membenarkan. Masuk neraka? Iya, masuk neraka. Tapi tidak bakalan kafir. Adapun ahlusunah tidak beramal bisa kafir. E meninggalkan salat atau meninggalkan amal sama sekali kafir. Meninggalkan sebagian amal khilaf. Ahlusunah wal jamaah. Sepakat seperti saya dalam buku syarah akidah wasitiah saya nukilkan tentang masalah iman. Kesepakatan ahlusunah bahwasanya amal adalah rukun dari iman. Kalau amal hilang sama sekali orang itu tidak beriman. Mustahil ada orang beriman tapi tidak beramal sama sekali. Secara teori gak mungkin. Secara praktik enggak mungkin. Adapun menurut Murjiatul Fuqaha secara teori ada orang beriman tidak beramal sama sekali tetap tidak kafir. Kalau kita enggak mungkin. Enggak mungkin ada orang beriman kemudian tidak beramal. Jadi ini beda, bedanya jauhari, bedanya maknawi. Bahkan sebagian amal khilaf mengkafir atau tidak. Seperti apa? Seperti salat. Menurut mazhab Imam Ahmad yang tidak salat sama sekali, jangankan seluruh amal, tidak salat sama sekali saja jadi ka kafir. Ya, yang lain enggak. Yang lain kalau meninggalkan amal secara keseluruhan. Tib. Kemudian juga di antara khilaf yang jauhari, akhirnya mereka harus mentakwil ayat-ayat dan hadis-hadis yang menyebutkan iman. Kita ditakwil bertambah iman maksudnya bertambah yang diimani. Bertambah iman maksudnya bertambah buah keimanan. Sehingga akhirnya mereka mentakwil sekali hadis Nabi, banyak sekali ayat. Allah bilang ini iman, kata mereka bukan. Nabi bilang ini iman, kata mereka bukan. Allah bilang bertambah iman. Oh, maksudnya yang diimani bukan imannya. Kan repot seperti itu. Gimana kita berani mentafsir firman Allah? Allah bilang begini, "Oh, maksudnya begini." Allah begini, maksudnya begini. Dan ini ahlusunah yang mudah zahir semua zahir tidak ada bertentangan. Dan kita dengan akidah ahlusunah, kita bisa bantah khawarij. Kita bilang iman bukan satu kesatuan, tapi iman yatajaza, yatasya'ab, bercabang-cabang, berbagian-bagian. Hilang sebagian tidak harus hilang seluruhnya. Maka kita bisa bantah ahlul bidah dengan kaidah ahlusunah. Namun karena mereka membantah bidah dengan bidah, konsekuensinya banyak. Sama seperti masalah asma was sifat ketika ahlul bidori Aristoteles dan Plato bahwasanya Tuhan itu harus statis. Ah, ini masalah diambil dari mana? Gak ada dalil dari Al-Qur'an dan sunah. Dia ambil secara logika. Logika Aristo dan Plato pas diambil. Tuhan harus statis sehingga tidak ada Tuhan tidak boleh melakukan kegiatan, tidak boleh berbuat. Semua dalil yang menunjukkan Allah begini, Allah begini, semua ditakwil. Akhirnya ratusan dalil harus ditakwil gara-gara memegang satu kaidah melazimkan banyak yang harus ditakwil. Ini maksudnya seperti itu. Ketika mengatakan bahwasanya iman hanya tasdik melazimkan semuanya harus di takwil. Yang ditakwil ratusan. Ini problem. Ini membedakan kita dengan apa? Murjiatul fuqaha. Tadi juga masalah istisna fil iman. Kalau kita lihat dari sisi perbedaan beda atau tidak beda? Ya, karena yang membolehkan istisna karena tidak membatasi iman pada tasdik. Yang tidak membolehkan istisna, aku beriman insyaallah karena membatasi iman pada tasdik. Kita mungkin tambahkan di sini ya. Yang keempat bedanya apa? Masalah masalah istisna. Al-istisna fil iman. Kita bilang tadi ahlusunah boleh. Kenapa? karena tidak membatasi definisi iman pada tasdik. Adapun murjiah tidak boleh. Kenapa? karena membatasi definisi iman pada tasdik. Tib. Yang terakhir kita dapati para salaf kencang terhadap murjiatul fuqaha yang kita dapati dalil-dalil bagaimana mereka bantah murjiah murjiah maksudnya ini murjiatul fuqaha maksudnya murj kalau kita dapati pembahasan para salaf imam Ahmad dan ini ketika membahas tentang bahaya irja maka maksud mereka adalah murjiatul fuqaha kenapa karena mereka memandang ini bidah meskipun paling ringan tapi bisa menjalar kepada yang lain-lain di antaranya menjadikan orang meremeh amal. Bayangkan ketika ada orang melihat, "Oh, amal bukan termasuk iman." Apa perasaan mereka menggampangkan? Oh, ternyata kalau kita maksiat pun iman tidak berkurang. Kira-kira bagaimana? Orang akhirnya menggambangkan apa? Maksiat. Tib e amal bukan dari iman, bukan. Kalau maksiat tidak mengerangi iman, tidak repot. Kalau begitu akhirnya orang menggampangkan. Akhirnya orang menggampangkan untuk tidak beramal. Dan sebagian orang awam yang kata, "Gimana kamu? Yang penting iman. Kamu enggak salat yang penting iman. Penting iman. Kalau iman ya salat dong. Kamu tidak berjilbab. Hah? Masih banyak orang berjilab tapi menting hati. Repot ini. Padahal iman hati lisan, perbuatan. Ini contoh maksudnya dampak ada orang menggambarkan maksiat dan menggambarkan meninggalkan amal amal saleh. Kemudian juga menghantarkan kepada bidah yang lebih besar. Akhirnya muncullah bidah Jahmiyah yang muncul setelah itu Jam bin Safan dan seterusnya mengatakan iman bukan cuma tasdik aja tapi makrifah mengetahui berilmu sudah dikatakan i iman enggak perlu membenarkan yang penting saya sudah tahu Muhammad nabi. Ya sudah saya sudah tahu. Enggak perlu saya membenarkan benar dia nabi tapi saya tidak benarkan dia beriman. Dan ini konsekuensinya parah. Akhirnya Firaun beriman akhirnya iblis juga beriman. Maka ee sampai di sini saja ya. Masih ada pembahasan tentang perkataan Abu Jafar Attahawi. Insyaallah pertemuan berikutnya nanti ya masih lama ya. Kita akan bahas tentang perkataan as wa ahluhu fi asli sawa. Dan kita membahas tentang masalah takfir menurut ahlusunah dengan mur almurjiah. Ya, ada perbedaan. Ini di antara efek ee perbedaan terkait definisi iman. Insyaallah pada pertemuan berikutnya. Wallahu taalaam bawab ya azan ya. Demikian wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Categories