Transcript
gnK4bnjiUA4 • Makna Syahadatain (Bagian-2) - Ustadz Dr Firanda Andirja, M A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2480_gnK4bnjiUA4.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufikihin asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman lnih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh ridwan allahumma sholli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, kita lanjutkan masih tentang syahadatain. Dan pada pertemuan lalu kita telah membahas tentang masuk Islam dengan syahadatain dengan hukum-hukum yang terkait dengan syahadatain ya. Sekarang kita masuk pada makna syahadah lailahaillallah. Ya, karena syahadatain maksudnya dua syahadah, dua persaksian. Syahadah artinya persaksian. Asyhadu alla ilahaillallah. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah. Kita akan masuk pada kalimat lailahaillallah. Lailahaillallah. Ee la artinya tidak ada. Ilah artinya sesembahan. illallah. Tidak ada sembahan kecuali Allah subhanahu wa taala. Nah, ilah dalam bahasa Arab ya alilah ee maknanya adalah alma. Alma dia adalah wazan timbangan kata kerja atau timbangan apa namanya? Kata alfi'al maknanya almaf'ul. Al-ilah itu fi'al. Kemudian maknanya almaf'ul. Ya. Dan ini sama dalam bahasa Arab banyak seperti alkitab maknanya almaktub yang ditulis ya seperti isim maf'ul ya. Alfirasy maknanya almafrush yang dibentangkan. Allibas maknanya almalbus yang dipakai. Algiras maknanya almagrus yang ditanam. Assiraj maknanya almasruju bihi. Lampu yang dinyalakan. Almihad almumahadu bihi. Ya, ini secara bahasa. Adapun aliha ya lahu maknanya adalah abada ya'budu. Dan ini secara bahasa disebutkan dalam ee kamus-kamus bahasa Arab ya dan juga ee disebutkan dalam buku-buku tafsir. Kita harus mengerti makna ilah secara etimologi, secara bahasa agar kita ngerti apa maksud dari lailahaillallah. Ternyata makna ilah secara bahasa artinya ee alma dan alma artinya adalah almabud. Karena aliha yau maknanya abada ya'budu. Sehingga al-ilah maknanya alma sama dengan alma'bud sehingga maknanya adalah disembah. Ini secara bahasa. Jadi lailaha maksudnya tidak ada yang disembah kecuali Allah. Ini lailahaillallah maknanya la ma'buda illallah. Tidak ada yang disembah atau tidak ada sesembahan kecuali hanyalah Allah subhanahu wa taala. Ini hukum ee makna asalnya ya. Ya makbuda illallah tidak ada yang disembah, tidak ada sesembahan kecuali Allah. Namun kenyataannya, kenyataannya sesembahan ternyata ada yang hak dan ada yang batil. Kita tahu yang disembah di dunia ini banyak. Ada yang disembah Allah disembah, ada juga hewan disembah, ada jin disembah, ada malaikat disembah, ada batu disembah, ada orang mati disembah. Makanya sesembahan itu ternyata bukan cuma Allah saja ya. Sesembahan banyak. Sementara lailahaillallah maknanya tidak ada sesembahan kecuali Allah. Padahal sesembahan itu banyak. Oleh karena yang dimaksud dengan lailahaillallah artinya tidak ada sembahan yang benar. Tidak ada sembahan yang benar kecuali siapa? Allah. Karena sembahan banyak. Nabi Isa disembah, benar. Mayat disembah, malaikat disembah, patung disembah, sapi disembah. Ya, tapi itu semua sembahan yang batil. Oleh karenanya makna lailahaillallah dijelaskan oleh para ulama dengan makna berikut yaitu ee la ma'buda haqquillallah. Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah subhanahu wa taala. Itu makna lailahaillallah. Tidak ada sembahan yang hak kecuali lailahaillallah. Dan Allah berfirman, "Ya dalika biannallah hual haq yaduna min dunihil batil." Dalam surat Luqman kata Allah Subhanahu wa taala, "Yang demikian itu karena Allah adalah dialah yang benar. Sementara yang disembah selain Allah adalah kebatilan. Artinya yang disembah selain Allah juga benar itu sesembahan tapi sembahan yang batil. Ilahun batil. Dan ini juga Allah sebutkan dalam surat Alhaj ayat 62. Kata Allahika bianallah halal haq yaduna min dunihi hu batil. Sesungguhnya Allah itu adalah yang benar. Adapun selain Allah adalah kebatilan. Dan dalam Al-Qur'an semua yang disembah disebut ilah. Yang semua disembah disebut ilah secara bahasa. Contoh dalam surah Al-A'raf ya, ketika Nabi Musa dan Bani Israil melewati Laut Merah, mereka minta agar Nabi Musa membuat sesembahan. Mereka berkata, "Qalu ya Musa ja'allana ilahan kama lahum aliha." Wahai Musa, jadikanlah bagi kami sesembahan sebagaimana mereka punya sesembahan-sesembahan. Jadi mereka melewati suatu kaum yang sedang syirik, menyembah berhala-berhala. Maka kaum Nabi Musa minta dibikinkan sesembahan seperti sembahan orang-orang yang mereka lewati tersebut. Di sini Allah menamakan apa yang mereka sembah dengan alihah. Alihah itu jamak dari Ilah. Maksudnya adalah Tuhan- Tuhan. Jadi Tuhan-tuhan tapi Tuhan-tuhan yang batil. Sembahan-sembahan yang yang batil. Demikian juga ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam menyuruh orang-orang Quraisy untuk menyembah Allah semata, maka mereka protes. Kata mereka, "Aja'al alihata ilahan wahida." Apakah Muhammad ingin menjadikan tuhan-tuhan yang banyak cuma jadi satu? Kok cuma satu yang disembah? Tapi Allah menamakan berhala-berhala yang mereka sembah sebagai tuhan-tuhan. Maksudnya sebagai sembahan-sembahan, tapi sembahan yang hak atau batil? Yang batil. Ya, demikian juga ee Nabi Musa berkata kepada Samiri, "Wanzur ila ilahikalladzi alaihi aqifa." Lihatlah wahai Samiri, kata Nabi Musa, "kada Tuhanmu yang kau nongkrong di situ, kau sembah dia." Maksudnya ee Samiri membuat Tuhan sapi dari emas kemudian dibuat sesembahan. Nah, Nabi Musa menamakan sapi tersebut yang disembah Samiri dengan Tuhannya Sa Samiri, tapi Tuhan yang batil. Ya. Kemudian juga dalam surat Sad ee ya kata Allah Subhanahu wa taala eh innahum kanu qila lahum la ilahaillallah yastakbirun. Mereka orang musyrikin kalau disuruh mengucapkan lailahaillallah mereka sombong. Wquuna inna latariku alhatina. Kata mereka apakah kita harus meninggalkan tuhan-tuhan kami lisyairin majnun karena Muhammad yang gila. Jadi ilah secara bahasa artinya sesemembahan. Ini penting saya tekankan ini. Kenapa? Nanti ada pemahaman yang keliru seperti pemahaman yang di ee disampaikan oleh banyak imam-imam Asyairah dalam buku-buku ushuluddin ya. seperti disampaikan oleh ee Abdul Qadir Albaghdadi, kemudian Abu Hasan al-Asy'ari, kemudian Ar-Razi juga memilih pendapat tersebut, Syahristani banyak disampaikan oleh para ulama Asyairah. Mereka menamakan ilah bukan dengan sesembahan. Bukan dengan sesembahan. Ini sekedar apa namanya? Gambaran kenapa kita harus ee memahami dengan benar agar kita tidak salah memahami laila ilallah. Karena kalau salah memahami kalimat ilah, kita akan salah persepsi tentang makna lailahaillallah. Bab apa yang disebutkan oleh mereka, banyak di antara mereka, tidak semua tapi banyak di antara mereka ketika membahas tentang lailahaillallah, mereka mengatakan ilah adalah alqadir alal ikhtira. Ya. Jadi ee mereka mengatakan menurut menurut banyak imam-imam Asyairah saya sebutkan t di antara mereka ya mereka mengatakan al-ilah sama dengan al-qadir alal ikhtira yaitu yang mampu mencipta. yang mampu mencipta. Jadi, sehingga ketika ditafsirkan apa makna laillah? Tidak ada pencipta selain Allah. Terjemahnya demikian. Kalau kita gak tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Adakah perbedaan di antara keduanya? Ada. Kalau kita mengatakan lailahaillallah, konsekuensinya kau tidak boleh nyembah mayat, kau tidak boleh menyembah jin, kau tidak boleh menyembah malaikat, kau tidak boleh beribadah kepada hewan. Yang kau sembah cuma siapa? Allah. Paham itu? Lailahaillallah. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Tapi kalau kita artikan tidak ada yang mampu mencipta kecuali Allah, maka ada orang yang berdoa minta-minta kepada kuburan tapi dia meyakini penghuni tidak bisa mencipta berarti dia masih bertauhid. Selama dia tidak meyakini Tuhan selain selama dia tidak meyakini ada pencipta selain Allah. Oleh karenanya tafsir lailahaillallah dengan tidak ada pencipta selain Allah ini membuka atau menjadikan banyak syirik tidak dianggap syirik. Karena seorang selama meyakini pencipta cuma satu Allah tidak dikatakan dia batal lailahaillallahnya. Meskipun dia minta kepada mayat, meskipun dia beribadah kepada jin, meskipun dia sujud kepada malaikat. Kenapa kok sujud malaikat? Ya saya cuma minta saja. Saya yakin mencipta cuma Allah Subhanahu wa taala. Selama saya masih meyakini pencipta cuma satu, berarti saya masih bertauhid, masih mengucapkan lailahaillallah. Kita bilang itu pemahaman yang keliru. Lailahaillallah bukan tidak ada pencipta selain Allah, bukan. Tapi tidak ada yang berhak disembah kecuali siapa? Allah. Nah, kalau kita jadi saya kasih gambaran ya, dua dua dua tafsiran. Lailahaillallah versi ahlusunah. Kemudian lailahaillallah versi Asyairah misalnya. Kalau tadi ini artinya apa? Yang ahlusunah tidak ada yang berhak disembah. Disembah. Disembah maksudnya diibadahi. Diibadahi melainkan siapa? Allah. Kalau versi ini tidak ada pencipta melainkan siapa? Allah. Tib. Bedanya di mana? Bedanya kasus ada orang menyembelih kepada jin. Kepada jin tapi dia mengakui tidak ada pencipta kecuali Allah. Bab secara kaidah ini kasus kita bilang kasus secara kaidah menurut versi ahlusunah ini orang ini musyrik atau bukan musyrik ya menurut versi ahlusunah orang ini musyrik kenapa musyrik karena dia melakukan ibadah kepada selain Allah sembelihan adalah ibadah inn shatati wausuki sesungguhnya salatku dan sembelihanku Hanya untuk siapa? Allah. Musyrik. Karena ia beribadah kepada jin. Kepada jin. Sebab menyembelih adalah ibadah. Adalah ibadah. Menyembelih adalah ibadah. Kita bilang dia musyrik. Meskipun dia mengakui tidak ada pencipta kecuali cuma Allah. Tetapi dia telah beribadah kepada selain Allah. Ibadah apapun dia doa itu ibadah. menyembelih juga ibadah ya, bertawakal juga ibadah. Nah, tapi kalau versi Asyairah orang ini secara ee kaidah tidak batal lailahaillallahnya. Tidak batal lailahaillallah. Kenapa tidak batal? Kenapa? Karena masih merasa Tuhan cuma saini meyakini pencipta cuma satu. Nah, ini ini ee meskipun kelihatan sederhana tapi sangat ee dampaknya sangat berbeda. Sehingga orang ke dukun pakai jimat tidak musyrik. Konsekuensi dari kaidah ini orang ke dukun pakai jimat ya mungkin melakukan sihir mungkin minta kepada mayat mungkin kerja sama sama setan enggak ada masalah. Kenapa? Yang penting meyakini pencipta cuma berapa? Satu. Maka konsekuensi dari kaidah ini meskipun tentunya tidak semua menjalankan konsekuensi ini ya, tapi kita bilang konsekuensi dari menafsirkan lailahaillallah tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dengan ditafsirkan tidak ada pencipta selain Allah. ini berbeda konsekuensinya ya. Tayib. Apakah makna ini salah? Sebenarnya makna ini bukan makna utama. Ini makna tidak ada penjelasan Allah. Ini bukan makna utama. Dia tapi dia sudah terincludkan dalam makna yang ahlusunah. Ini makna bukan makna utama. tapi sudah include ke makna ahlusunah. Jadi sudah masuk ke sini. Kenapa? Karena kenapa kita mengatakan hanya Allah yang berhak disembah? Karena hanya Dia yang mencip mencipta. Berarti kita sudah otomatis meyakini karena hanya Allah yang mencipta. Makanya cuma dia yang berhak untuk disembah. Tapi kalau orang hanya meyakini tidak ada pencipta selain Allah, belum tentu dia hanya menyembah Allah. Bisa jadi dia menyembah selain Allah. Dan itu yang terjadi ya. Dan itu yang terjadi. Banyak orang masih melakukan syirik. Mereka menganggap namanya syirik itu cuma dua. Pindah agama atau meyakini Tuhan ada dua. Pencipta ada du dua. Ini salah satu dampak ya. Salah satu dampak. Jadi, kenapa tadi kita bahas al-ilah maknanya adalah al-ma'bud? Agar kita tahu makna lailahaillallah adalah tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Lihat orang-orang musyrikin Arab dahulu mereka meyakini pencipta cuma Allah. Dalam Al-Qur'an banyak khalaqamaquunallah. Kalau engkau bertanya kepada mereka, "Siapa pencipta langit dan bumi?" Mereka mengatakan Allah. Kalau kau bertanya kepada mereka, "Siapa yang menciptakan diri kalian?" Mereka menjawab Allah, tetapi mereka ternyata menyembah juga kepada selain Allah. Tentu ada sebab-sebab kenapa mereka menyembah kepada selain Allah. Tapi intinya makna lailahallah yang benar adalah tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Al. Jadi bukan tidak ada pencipta. Perkataan tidak ada pencipta selain Allah itu sudah include dalam tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Tapi dia bukan makna utama. Makna utamanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Paham atau tidak? Yang benar lihat aja ujian nanti ya. Kita kembali lagi, Tib. Kita kembali lagi. Saya ulangi. Lihat ee lailahaillallah. Ilah tadi maknanya apa? Ilah maknanya ma almuh. Sementara ilah. Ilah maknanya maklu. Ilah maknanya abada ya'budu. Jadi maklu maknanya ma'bud. Lailahaillallah. Ya. La ma'buda illallah. La ma'buda illallah. Tidak ada yang berhak disembah ee kecuali Allah. Ternyata sembahan itu banyak. Ada sembahan yang batil, sembahan yang hak. Maka makna lailahallah artinya tidak ada sesembahan yang hak kecuali siapa? Al. Ini makna yang benar. Adapun makna tidak ada pencipta melainkan Allah itu bukan makna utama ya. Karena kalau di makna lailahaillallah adalah itu, maka banyak orang melakukan syirik. Tidak dikatakan syirik selama dia masih meyakini pencipta hanyalah Allah semata. Tib Asyairah tadi ee mengartikan ilah alqadir alal ikhtira yang mampu mencipta. Sehingga lailahaillallah versi mereka lailahaillallah sama dengan tidak ada pencipta kecuali siapa? Kecuali Allah. Ini makna yang salah. Ini hanya konsekuensi. Dia konsekuensi dari makna yang benar. Ini konsekuensi dari makna yang benar atau include ya dari makna yang benar. Tapi bukan makna utama. Tib. Kita lanjut. Lailahaillallah. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Dikenal juga sebagai kalimat tauhid. Kalimat tauhid. Itulah kalimat tauhid karena kandungannya mentauhidkan Allah. Yang berhak disembah hanyalah Allah subhanahu wa taala. Contohnya dalam hadis Muad bin Jabal radhiallahu anhu. Jadi Muad disuruh oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam eh untuk berdakwah di Yaman dan di Yaman ada ahlul kitab yaitu Yahudi atau Nasrani. Maka Nabi mengatakan faduhum ila an yashhadu alla ilahaillallah. Kata Nabi, "Wahai Muad, serulah orang-orang Yahudi tersebut atau ahlul kitab tersebut agar mereka bersaksi tidak ada yang berhak disembah kecuali siapa? Allah." Syahadah ilallah. Ternyata dalam riwayat yang lainyakun aumai ibadatullah. Jadikanlah dakwahmu yang pertama kali ibadah kepada Allah. Ganti dari kalimat syahadat lailahaillallah. Dalam riwayat yang lain, ila yuwahidullah agar mereka mentauhidkan Allah. Dalam riwayat yang lain tauhidullah. Tauhidullah. Jadi ini berbagai riwayat. Riwayat pertama lailahaillallah. Riwayat kedua, ibadah. Riwayat ketiga tauhid. Riwayat keempat tauhid. Maka ternyata kalimat lailahaillallah itu disebut dengan kalimat apa? Tauhid. Kesimpulannya saya ingin sampaikan sama dengan tauhid. Lailahaillallah. Inilah kalimat tauhid. Yaitu kalimat mengesakan Allah. Hanya Allah yang berhak untuk disembah. Itulah yang disebutkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam yang Nabi berkata kepada kaumnya, "Ya ayyuhannas qulu lailahaillallah tuflihun." Wahai orang, wahai manusia sekalian ucapkan lailahaillallah. Kalian akan beruntung. Mereka gak mau. Kata mereka, "Ajaal alihata ilahan wahida." Ini Muhammad ingin bikin seluruh sembahan yang banyak ini cuma satu. Sementara di sekitar Ka'bah ada 360 berhala. Muhammad pengin kita cuma nyembah satu aja. Ini juga tuhan-tuhan kita. Mereka tidak mau. Mereka masih tetap untuk tidak mentauhidkan Allah. Demikian juga hadis Amr bin Ash radhiallahu anhu. Amr bin Ash radhiallahu anhu dia punya punya saudara kalau enggak salah Hisyam atau Hasyim ya. Bapak mereka namanya Al-As bin Wail. Bapak mereka namanya Al-As bin Wail bin Al-As bin Wail ayahnya Amr. Dia meninggal dalam kondisi musyrik. Tapi dia pernah sebelum meninggal pernah bernazar untuk menyembelih 100 ekor unta. Menyembelih 100 ekor unta. Akhirnya 50 dibayar oleh saudaranya Amr bin Ash tinggal 50. Amr bin Ash ingin berbakti sama ayahnya. Ayahnya sudah meninggal tapi meninggal dalam kondisi musyrik. Maka dia datang kepada Nabi. Kata dia, "Ya Rasulullah, ayahku ee Al al al-As bin Wail As-Sahmi pernah bernazar menyembelih 100 ekor unta. 50 sudah dibayar oleh saudaraku, tinggal 50 saya ingin bayarin." Apakah bermanfaat? Maka Nabi menjawab, perkata Nabi, "Amma abuka falauana akar buhid." Adapun ayahmu seandainya dia mengakui tauhid, yaitu mengakui apa? Lailahaillallah. Ya, maksudnya lailahaillallah. Fumta watasqu. Kemudian kau berpuasa, membuasakan dia bersedekah atas namanya nafaahu dalalik maka bermanfaat. Hanya saja bapaknya tidak bertauhid yaitu tidak mengucapkan lailahaillallah. Jadi, Nabi mengatakan, "Seandainya bapakmu dulu bertauhid, yaitu se mengucapkan apa?" "Lahaillallah, tentu akan bermanfaat." Seperti Nabi ketika berkata kepada pamannya Abu Thalib, "Ya ammi la ilahaillallah kalimatan uhajulaka bihaallah." "Wahai pamanku, ucapkan lailahaillallah suatu kalimat yang aku akan bela engkau di akhirat kelak." Inilah kalimat tauhid. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa taala. Sehingga segala ibadah hanya untuk Allah. Dan itulah yang selalu kita ikrarkan dalam salat kita. Apa kita kalau berdoa? Apa? Iyaka na'bud. Iyaka na'bud wa iyaka nastain. Iyaka na'bud itu artinya apa? Hanya kepadamulah kepadamulah kami beribadah. Kepada engkaulah kami beribadah. Jadi kalau dalam dalam konteks bahasa Arab, iyaka na'bud asalnya na'buduka kafnya dipindah. Jadi ka ini K ini dimundurin asalnya itu na'buduka. Nab'buduka ini asalnya na buduka. Jadi ini ee predikat, ini objek. Hukum asal demikian dalam bahasa Arab. Na'buduka kami menyembahmu. Tetapi sama Allah dibalik objek dimajukan ke depan. Ini jadi objek ini predikat na'budu objek dimajukan. Sehingga diterjemahkannya bukan hanya sekedar kepada engkau kami beribadah, tapi harus ditambah kata hanya kepada Engkaulah kami ber ibadah. Dan ini salah satu metode bahasa Arab. Ketika objek dimajukan mendahului predikat, maka memberikan faedah alhasr yaitu pembatasan. Ketika kita mengatakan iyaka na'bud, maknanya hanya kepada Engkaulah kami beribadah ya Allah. Tidak beribadah kepada selain Engkau. Kami hanya salat kepada Engkau. Kami hanya menyembelih kepada Engkau. Kami hanya berdoa kepada Engkau. Kami hanya bernazar kepada Engkau. Kami hanya bertawakal kepada Engkau. Itu semua adalah ibadah. Siapa yang berdoa kepada selain Allah, menyembelih kepada jin, kepada malaikat, bertawakal kepada selain Allah, bernazar kepada wali-wali, sungguhnya dia tidak mengaplikasikan iyaka na'bud. Dan iyaka na'bud adalah aplikasi dari tauhid, daripada lailahaillallah. Paham kok sekarang enggak jawab paham tidak? Hah? Hah? Paham. Insyaallah mudah. Lihat aja pas ujian nanti ya. Insyaallah. Tayib. Sekarang kita bahas ikhwan pada kesempatan kali ini kita akan bahas tentang syarat lailahaillallah yaitu bagaimana agar lailahaillallah kita benar. Ya, ini dibahas oleh ee para ulama ya tentang syarat lailahaillallah. Mukadimah saya sampaikan sini. Pertama, tidak semua yang mengucapkan lailahaillallah kemudian masuk surga. Kita sepakat. Artinya tidak semua yang mengucapkan lailahaillallahnya bermanfaat. Ya, contoh ada orang mengucapkan lailahallah tapi dia munafik. Bermanfaat enggak lailahaillallahnya? Tidak. Tidak bermanfaat. KTP-nya Islam mau kawin bilang lailahaillallah tapi ternyata dia kafir dalam hatinya. Cuma nipu orang. Berarti tidak semua mengucapkan Allah kemudian bermanfaat. Ini satu contoh. Ada orang gila diajarin lailahaillallah kemudian dia bilang lailahaillallah. Manfaat enggak? Enggak manfaat karena dia gila. Dia enggak ngerti apa yang dia ucapkan. Jadi tidak otomatis orang ngucap laillah kemudian pasti masuk surga pasti apa? Selamat. Jadi kita tahu bahwasanya tidak semua mengucapkan Allah kemudian masuk surga atau bermanfaat. Mengucapkan lailahall tapi kemudian ee sembah Nabi Isa di gereja. Ya, percuma ya mengucapkan laillallah tapi kemudian nyembah Buddha di wihara misalnya di atau menyembah dewa di ee di apa di tempat peribadatan mereka maka percuma itu. Lailahallah omong kosong. Kalau sekedar mengucapkan Allah masuk surga, Abu Jahal dulu bilang lailahaillallah. Namun kenapa Abu Jahal tidak mau bilang lailahallah? Karena dia tahu konsekuensinya. Karena dia tahu konsekuensi bilang lailahallah. Berarti selain selain Allah harus ditinggalkan. Makanya mereka berkata, "Aja'al aliata ilahan wahidah." Ini Muhammad ingin bikin sembahan cuma satu. Enggak. Namun banyak orang mengucapkan lailaha tidak bermanfaat ya karena tidak menjalankan konsekuensinya atau berbohong. Seperti orang munafik bilang lailaha bilang lailahallah tapi ternyata ee beribadah kepada Nabi Isa misalnya. Maka lailallah tersebut hanya omong kosong tidak ada faedahnya. Kemudian yang kedua, sebagaimana ibadah-ibadah yang lain juga ada syarat-syarat dan juga pembatal-pembatalnya, demikian juga lailahaillallah. Salat ada syaratnya, ada rukunnya, ada pembatalnya. Wudu ada syaratnya, ada rukunnya, ada pembatalnya. Haji ada syaratnya, ada rukunnya, ada pemba pembatalnya. Puasa juga atau tidak? Puasa juga. Ada syaratnya, ada rukunnya, ada pem pembatalnya. Semua rukun Islam demikian. Di antara rukun Islam adalah syahadatain. Lailahaillallah pun demikian. Ada syaratnya, ada pembatalnya. Ya, kalau dia tidak memenuhi persyaratannya, maka lailah tidak diterima. Kalaupun dia sudah mengucapkan laillah Allah ternyata dia batalkan juga tidak diterima. Wudu bisa batal, bisa salat bisa batal, haji bisa batal, puasa bisa batal, lailahaillallah juga bisa batal. Maka ketika kita bahas syarat ini bukan bahasan yang baru ya, karena ibadah-ibadah lain juga rukun Islam yang lain juga ada syaratnya atau ada rukunnya dan juga ada pembatalnya. Tib ketika kita membahas syarat-syarat lailahaillallah maka ini bukanlah hal yang baru melainkan hanya menata dalil-dalil terkait dengan lailahaillallah dan juga demi untuk menjaga keutuhan lailahaillallah. Seperti ibadah lain, Rasulullah tidak pernah mengatakan salat rukunnya sekian. Ya, Rasulullah juga tidak pernah berkata salat syaratnya demikian. Ya, Rasulullah tidak pernah tapi diteliti. Namanya istiqra. Istiqra itu artinya penelitian. Diteliti kemudian diklasifikasi. Dalam bahasa Arab namanya al-istiqra. Yaitu pengamatan diteliti kemudian diklasifikasi. Seperti hukum Islam. Hukum ada lima. Ada wajib, ada sunah, ada mubah, ada makruh, ada haram. Ini Rasulullah tidak pernah bilang, "Ketahuilah hukum Islam ada lima, enggak ada." Tapi setelah diteliti hukum Islam itu, kita kumpulkan semuanya, kemudian kita klasifasikan cuma ada li lima. Ini namanya istiqra. Dan ini boleh dalam dalam pembelajaran boleh. Seperti tauhid setelah diistiqra diteliti ternyata ada tiga tauhid uluhiyah, rububiyah, dan asma was sifat. Sedekah di apa? pemberian kepada orang lain. Setelah diteliti ternyata ada beberapa ada namanya sedekah wajib. Sedekah wajib bisa ada namanya zakat, bisa artinya nafkah wajib dan ternyata ada sedekah sunah tidak wajib. Dan ternyata ada hibah, terjadi adanya hadiah. Beda lagi dengan apa? Sedekah. Ini dari mana? Rasulullah tidak pernah mengatakan, "Ketahuilah pembagianpemberian kepada orang lain terbagi menjadi tiga. Enggak ada." Atau terjadi terbagi menjadi empat. Ini namanya istiqra, yaitu penelitian. Setelah diteliti kemudian diklasifiikasi. Rasulullah tidak pernah bilang syarat lailahall tidak harus sekian-sekian. Tapi Rasulullah kasih penjelasan sebagaimana atau Allah sebutkan dalam ayat-ayatnya sehingga bisa kita pahami ternyata lailahaillallah itu ada syaratnya. Ee tadi jadi dalilnya adalah al-istiqra. Istiqad itu adalah penelitian secara komprehensif semuanya diteliti. Kemudian ee pengklasifikasikan sebagaimana syarat-syarat dan rukun-rukun sertabatal ibadah-ibadah yang lain. Namun hal ini pernah diisyaratkan oleh salaf seperti Hasan Albashri rahimahullah dikatakan kepada beliau Hasan Albasri seorang tabii. Dikatakan kepada beliau inasan yaquluna manq la ilahaillallah jannah. Wahai Hasan Al Basri, wahai Imam. Sesungguhnya orang-orang mengatakan, "Siapa yang mengucapkan lailahaillallah maka masuk surga." Maka Hasan Al Basri menjelaskan, "Manqala la ilahaillallah faadda haqqoha wa fardoha dakolal jannah." Kata beliau, "Yaitu yang mengucapkan lailahaillallah tapi menunaikan hak lailahaillallah dan menjalankan konsekuensi kewajibannya itu yang masuk surga." Bukan cuma sekedar mengucap mengucapkan ini mengisyaratkan bahwasanya laillah itu ada konsekuensinya, ada syaratnya atau ada rukunnya. Maka beliau berkata, "Tidak sekedar yang mengucapkan mau surga." Kalau semua mengucapkan mau surga ya semua orang mau surga kan enggak ada yang membatalkan, ada yang tidak memenuhi persyaratan ya. Oleh karenanya beliau mengatakan la manqala lailahaillallah yang mengucapkan lailahaillallah faadda haqqaha kemudian menunaikan hak lailaha wa fardaraha dan menjalankan konsekuensi kewajiban lailahaillallah maka itu yang masuk surga. Demikian juga Hasan Al Basri pernah berkata kepada Farazdaq dan dia sedang mengkuburkan istrinya. Maka Hasan Albasri nasihati dia. Kata Hasan, "Ma a'dat lihadal yaum." Apa yang kau siapkan untuk bertemu dengan hari ini? Hari kematian, hari kau dikuburkan, dimasukkan dalam liang lahad. Maka Alfar, Farzdak berkata, "Syahadatu alla ilahaillallah mundu sabin sanah." Saya sudah mengecap mensiapkan diriku untuk hari kematian dengan persaksian lailahaillallah semenjak 70 tahun. Sudah lama. Faqal Hasan. Hasan mengomentari, "Nikmal uddah, sungguh persiapan yang terbaik. Lakin akan tetapi lilahaillallahi surutun. Lailahall itu ada syarat-syaratnya. Kata S Basri, faiyaka waqadal muhsanat. Hati-hati jangan kau menuduh wanita yang tidak-tidak dengan tuduhan yang tidak-tidak. Jadi Hasan Al Basri mengatakan persiapan yang terbaik menyiapkan lailahaillallah persaksian tetapi ingat lilahaillallah surutun. Tetapi lailahah itu punya syarat syarat sebagaimana yang beliau katakan di awal yang masuk surga itu yang mengucapkan lailahaillallah tapi menjalankan konsekuensinya. Demikian juga Wahab bin Munabbih, seorang salaf. Eh, ada orang bertanya kepada beliau, "Alaisa miftahul jannah lailahaillallah?" Ada yang berkata, "Wahai Wahab bin Munabbih, bukankah kunci masuk surga ada lailahaillallah?" Kata Wahab, "Bala tentu masuk surga kalau enggak ada laillah enggak bisa masuk surga." Itu kuncinya. Tetapi dia ingatkan walakin ma min miftahin illa lahu asnan. Tetapi ingat, setiap kunci itu ada giginya. Ada giginya ya. Fain biahinah asnan. Kalau ternyata kunci yang kau bawa itu ada giginya maka bisa dibukakan surga tersebut. Waam yuftah. Kalau ternyata lailahaillallahnya ompong enggak ada giginya enggak ada syarat-syaratnya maka tidak akan dibuka pintu surga. Maka isyarat dari beliau dengan istilah gigi-gigi kunci itu sebagai syarat lailahaillallah. Artinya beliau mengatakan laillallah bukan sekedar diucapkan ke surga. Gak. Kalau hanya sekedar mengucapkan betapa mudah masuk surga. Tinggal lailahallah semua masuk surga. Orang Islam semua mengucap laillah. Mau tukang zina, mau tukang riba, mau tukang judi, mau membunuh orang, mau musyrik, mau apapun semuanya ucapkan lailahallah. Ya tentu kita bilang tidak semua masuk surga. Kenapa? Yang bisa masuk surga hanya yang menunaikan syarat lailahaillallah. Kunci harus ada giginya. Nah, dari istiqra, dari penelitian dan kemudian pengklasifikasian, maka sebagian ulama berijtihad kemudian mereka menyebutkan syarat lailahaillallah ada tujuh. Syarat lailahaillallah ini sekedar pendekatan saja. Mungkin ada yang mengatakan lima, ada yang mengat. Tapi maknanya intinya seputar itu ya. Tib kita sebutkan sini syarat-syarat lailahaillallah ada tujuh. Yang pertama adalah al-ilmu. Ilmu lawan dari apa? Ilmu lawan dari kebodohan, kejahilan. Kemudian yang kedua, alyaakin. Yakin. Yakin. Lawan dari apa? Ragu. Lawan dari ee keraguan. Kemudian yang ketiga adalah al-ikhlas. ikhlas lawan dari syirik dan riya. Lawan dari syirik dan riya. Yang keempat adalah asidq, jujur. Yaitu antara hati dan lisan sama jujur lawan dari dusta. seperti orang munafik lawan dari kedustaan. Karena orang munafik mengucapkan laillallah tapi dus dusta. Yang ke empat. Yang kelima adalah almahabbah. Mahabbah atau apa? Mahabbah cin cinta. Yaitu lawan dari benci. Cinta. Lawan dari benci itu tidak boleh benci kepada lailahaillallah, tidak boleh benci kepada syariat, tidak boleh benci kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kalau gitu lailahallahnya enggak benar. Yang keenam adalah alqiyat. Alqiyat maksudnya tunduk, patuh. Lawan dari meninggalkan. Lawan dari meninggal. Ya, dia bilang lailah tapi meninggalkan syariat. Enggak mau salat, enggak mau ibadah. Namanya hanya omong doang, tapi tidak mengerjakan konsekuensinya. Ya. Kemudian yang keenam, yang ketujuh, yang terakhir adalah al-qabul. Alqabul yaitu menerima. Lawan dari menolak. Lawan dari arrad itu menolak. Nah, inilah ee secara istiqra, pengamatan, penelitian, kemudian diklasifikasikan. Kita bisa menyebutkan bahwasanya seorang mengucapkan lailah hendaknya terpenuhi tujuh syarat ini. Karena kalau ada syarat yang tidak terpenuhi berarti lailahahnya masih tidak lengkap ya, tidak bisa lengkap. Tib kita bahas satu persatu. Ee yang pertama adalah alilmu ya. Alilmu. Ilmu menafikan kejahilan. Ya Allah berfirman misalnya dalam surah Muhammad ya saya tuliskan sini kita satu-satu ya. Al-ilmu. Kita bahas alilmu. Allah mengatakan ya dalam Al-Qur'an Quran Quran surah ee Muhammad ayat 19. Kata Allah subhanahu wa taala, "Fa'lam annahu lailahaillallah. Ketahuilah kata Allah, ilmuilah. Ilmuilah bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Di sini ada perintah ilmuilah. Berarti orang mengucapkan laillallah harus diilmui. Karena Allah mengatakan fa'lam, ilmuilah. Kemudian yang kedua dalam surah Az-Zukhruf 86, Azzukhruf ayat eh 86. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Illa man syahida bilhaq." Illa man syahida bilhaqqi wahum yalamun. kecuali yang bersaksi dengan kebenaran. Ya, kecuali yang bersaksi ee dengan kebenarannya. Ada yang mengatakan yang bersaksi al-Haq di sini maksudnya lailahaillallah. Sebagaian ahli tafsir mengertikan lailaha illallah itu siapa yang bersaksi lailahaillallah dan mereka dalam kondisi wahum ya'lamun dalam kondisi mengetahui di sini ada dua dua di sisi pendalilan yang pertama dari kalimat syahida bersaksi namanya orang bersaksi dia tahu apa yang dia persaksikan benar atau tidak enggak mungkin dia menjadi saksi sesuatu yang dia tidak ketahui. Kalau bilang saya bersaksi, berarti saya ngerti apa yang saya persaksikan. Sehingga kalimat asyhadu alla ilahaillallah, kalimat aku bersaksi tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah sudah mengkonsekuensikan bahwasanya dia harus ngerti makna lailahaillallah. Kenapa? Karena dia sudah mempersaksikan. Dia mengatakan saya bersaksi. Maka tidak benar seorang bersaksi atas sesuatu yang dia tidak pahami. Oleh karenanya dari ayat ini Zukruf ayat 86 kita bisa ambil dari dua sisi. Dari kalimat syahida dan dari kalimat wahum y'lamun. Yaitu kecuali yang bersaksi akan lailahaillallah dan mereka dalam kondisi mengetahuinya. Bab hadis juga rasul sahu alaihi wasallam bersabda dari hadis Utsman bin Affan Rasul sahu alaihi wasallam berkata, "Man mata wahua ya'lamu annahu laallah dakal jannah." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Siapa yang meninggal, siapa yang meninggal dalam kondisi tahu mengilmui bahwasanya lailahaillallah maka masuk surga. Ini hadis riwayat Muslim. Ah, di sini Rasulullah sahu alaihi wasallam mengatakan, "Man man mata wahua ya'lamu." Siapa yang meninggal dalam kondisi yal'lamu annahu laillah mengilmui bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah, maka itulah yang masuk surga. Nah, maka ini dengan kesimpulan dalil-dalil ini bahwasanya orang mengucapkan lailahallah baru bermanfaat jika dia mengerti makna lailahaillallah. Kalau dia enggak ngerti, gimana dia bisa menjalan konsekuensinya? Ya dia bagaimana dia kalau dia harus tahu lailahallah tidak ada yang berhak disembah kecuali Al Allah ya. Tayib. Ini syarat yang pertama. Syarat yang kedua adalah alyaakin. Sudah ini sudah tayar yang kedua, alakin. Yakin lawan dari ragu. Di antara dalilnya adalah dalam surah al-Hujurat ayat ee 15 ya Quran surah Al-Hujurat. Ayat 15 saya bacakan firmannya. Innamal mukminunalladina amanu billahi waasulih tumma lam yartabu. Orang-orang beriman itu adalah yang beriman kepada Allah dan rasulnya. Tumma lam yartabu. Kemudian mereka tidak ragu. Lalu mereka tidak ragu. Kata Allah wajahadu biamwalifusim fibilillah. Dan mereka berjihad dengan harta mereka dan diri mereka di jalan Allah. Ulaika humusodiqun. Mereka adalah orang-orang yang benar imannya. Di sini Allah mensyaratkan syarat iman adalah tidak ragu. Makanya kalau ada orang mengucapkan tapi dia ragu Islam benar atau tidak. Ragu, ya semuanya benar kayaknya. Bukan cuma Islam aja. Dia ragu benar atau enggak ya Tuhan ada atau tidak ya. ee ragu bahwasanya hanya Allah yang berhak disembah. Mungkin yang disembah juga selain enggak ada masalah. Ini namanya ragu. Ragu tentang Islam berarti lailahaillallahnya batal. Orang kalau masuk Islam harus yakin bahwasanya agama yang paling benar cuma is Islam. Yang berhak disembah cuma siapa? Allah. Yang lain tidak boleh disembah. Dia harus yakin akan hal tersebut. Karena kalau dia ragu berarti ee tidak benar, ya. Kemudian dalam Sahih Muslim, Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, "Qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam." Rasulull sahu alaihi wasallam bersabda, "Ashadu alla ilahaillallah wa anni rasulullah." Kata Nabi, "Aku bersaksi tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah." Laalqallahu bihim abdun ya. tidaklah seorang bertemu dengan Allah dengan membawa dua syahadah ini giriro syakin fihima dalam kondisi tidak ragu tentang syahadatain tersebut kecuali masuk surga. Ya, dalam hadis kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, siapa yang bertemu Allah dengan syahadatain dengan dua syahadah girirous syakin ghairus syakin itu tidak ragu. tidak ragu maka masuk surga. Nah, di sini diisyaratkan dalam hadis mengucapkan tidak boleh ragu. Demikian dalam hadis yang lain sahih Muslim dari hadis Abu Hurairah Rasul sahu alaih wasallam bersabda, "Manqita minallahaiqinan bihabuhu bilah." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Siapa yang kau temui di balik kebun ini ada orang yang mengucapkan bersyahadat lailahaillallah mustaikinan biha dalam kondisi yakin bihaqbu hatinya yakin maka beri kabar gembira dia masuk surga." Nah, dalam hadis yang lain kata Nabi sallallahu alaihi wasallam mustaikin mustaiqinan biha qolbuhu. Hatinya yakin dengan lailahaillallah. Maka ini dalil yang sangat tegas bahwasanya agar lailahallah bermanfaat menjadikan masuk surga harus yakin. Kalau tidak yakin tidak bisa. Tiib. Syarat yang ketiga adalah al-ikhlas. Tentu tentang ini sangat sangat banyak ya. Seperti firman Allah, "Ala lillahiddinul khalis." Ketahuilah milik Allah adalah agama yang murni untuk Allah. Allah juga berfirman, w umiru illaudullahahuddin. Tidaklah mereka diperintah kecuali mengikhlaskan agama hanya untuk Allah. Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika ditanya oleh Abu Hurairah, man asadunasi bisyafaatika yaumalqiam? Ya Rasulullah, siapa orang paling bahagia mendapatkan jatah syafaatmu pada hari kiamat kelak? Maka rasul sahu al wasallam mengatakan, "Manqala lailahaillallah khis minqbihi." Siapa yang mengucapkan lailahaillallah kholisan min qolbihi? yang ikhlas hatinya. Kata Ibnu Hajar rahimahullah, syafaat Nabi sallallahu alaihi wasallam itu yang bisa meraihnya cuma orang yang bertauhid. Makanya Nabi mengatakan likulli likulli atau dalam hadis Rasul mengatakan likulli nabiyin dakwatun mustajabah. Setiap nabi ada doa yang pasti dikabulkan. Tapi saya punya doa saya tunda hari kiamat. Adapun doaku saya tidak minta di dunia, saya tunda nanti di akhirat sebagai syafaat bagi umatku. Wah nailatun insyaallah man mata min umti yusriku billahi maka syafaatku akan mengenai siapa saja yang meninggal tidak berbuat syirik. Jadi syarat untuk mendapatkan syafaat nabi harus bertau bertauhid. Dan ternyata eh kata Ibnu Hajar rahimahullah, Abu Hurairah bertanya, "Man asadunasi?" Siapakah orang yang paling berbahagia mendapatkan syafaatmu? Pertanyaan Abu Hurairah, siapa yang paling bahagia? Menunjukkan bahwasanya level level syafaat Nabi bertingkat-tingkat. Semakin orang tulus, semakin ikhlas, dia akan mendapatkan syafaat Nabi semakin banyak. Dan syafaat Nabi banyak modelnya. Di antaranya syafaat agar orang-orang masuk surga tanpa azab, tanpa hisab. Ini syafaat Nabi. Syafaat Nabi di antaranya pelaku dosa besar. Kata Nabi, "Syafaati liumati min ahl kabair." Syafaatku bagi pelaku dosa besar. Pelaku dosa besar yang harusnya masuk neraka enggak jadi masuk neraka gara-gara syafaat siapa? Nabi. Di antaranya orang yang masuk surga kemudian levelnya dinaikkan sesuai dengan syafaat Na Nabi. Ya, di antaranya yang sudah masuk neraka bisa dikeluarkan oleh Nabi dengan syafaat Nabi. Itu semua dengan izin Allah. Tapi ini hanya berlaku bagi orang yang bertauhid. Nah, siapa yang semakin ikhlas, semakin tidak pengin dipuji, semakin tidak pengin ee disanjung oleh manusia, semakin tidak cari muka sama manusia, semakin bertawakal kepada Allah, tidak bergantung kepada makhluk, berarti lailallah semakin murni, dia akan mendapatkan jatah syafaat semakin banyak. Artinya kalau ada dua orang sama-sama ikhlas kemudian di surga dinaikkan derajatnya gara-gara syafaat Nabi. Yang lebih ikhlas tingginya lebih naik derajatnya. yang sama sekali tidak ingin sanjungan manusia, tidak ingin pengakuan manusia, benar-benar murni akhirat. Karena Allah Subhanahu wa taala syafaatnya lebih banyak dapat dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi intinya ee syarat ketiga adalah ikhlas. Ikhlas ini lawan dari apa? Syirik dan juga lawan dari riya. Lawan dari riya ya. Tib yang keempat. Syarat keempat adalah asidq. Jujur. Jujur yaitu jujur maksudnya hati sepadan dengan lisan. Ini untuk apa? Untuk membantah orang-orang munafik ya. Untuk membantah orang-orang munafik. Kenapa orang munafik itu mereka bohong? Karena mereka bohong. Hati tidak sesuai dengan lisan. Makanya Allah mengatakan innal munafikina asfal. Sesungguhnya orang munafik di neraka yang paling dasar. Kenapa paling dasar? Lebih dasar daripada nerakanya Yahudi dan Nasra. Kenapa? Karena Yahudi dan Nasra mereka terang-terangan. Kami tidak beriman kepada Muhammad. Tapi orang munafik bohong mereka dalam hati kafir. Kedua, mereka membohongi. Innal munafiqina yukunallah wahua khun. Mereka hendak menipu Allah. Padahal mereka yang akan ditipu oleh Allah Subhanahu wa taala. Ya, mereka jadi dapat doble dosa. Pertama, dosa kekufuran. Yang kedua dosa membohongi. Makanya mereka di neraka yang paling dasar, lebih dasar, lebih ngeri daripada Yahudi dan Nasra. Kalau Yahudi Nasra kafir terang-terangan. Oleh karenanya kalau mengucapkan lailahajur. Kalau kau tidak jujur maka seperti orang munafik. Allah mengatakan dalam surat almunafiqun. Jaakal munafiquuna qalu nashadu innaka rasulullah. Wallahuam inallah yashadu inal munibun. Kata Allah, jika datang orang-orang munafik, mereka berkata, "Wahai Rasulullah, kami bersaksi sungguhnya engkau adalah utusan Allah." Maka Allah mengatakan, "Wallahu y'lamu." Allah sudah tahu. Innah inasuluh. Sesungguhnya engkau adalah utusannya. Kemudian Allah mengatakan, "Wallahu yashhadu." Allah juga bersaksi orang munafik ini benar-benar pendusta. Innal munafikina lakadibun. Mereka benar-benar pendusta. Mereka berdusta, mereka bersaksi, mereka beriman. Allah mengatakan, Allah bersaksi mereka penusta. Dan datang dalam hadis dari hadis Muaz bin Jabal dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Ma min ahadin yashhadu alla ilahaillallah wa anna muhammadan abduhu wa rasuluh shodiqon min qolbihi." Dalam hadis kata Nabi, "Shodiqon min qolbihi." Jujur dari hatinya. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Siapa yang bersaksi tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan rasulnya. Jujur dari hatinya, illa haramallahu alanar." Kecuali Allah haramkan dia masuk neraka. Ada syaratnya. Harus jujur dengan hatinya. Tib yang kelima adalah almahabbah. Cinta. Cinta lawan dari benci. lawan dari benci ya. Ee maka dalam hal ini tidak boleh cinta kepada sesembahan-sembahan selain Allah ya. Jadi ee tidak boleh cinta kepada sesembahan selain Allah. Ya, dia juga ternyata suka untuk beribadah kepada selain ibadah kepada Allah juga ibadah kepada selain Allah. Ini juga tidak boleh benci. Tidak boleh benci kepada syariat. tidak boleh benci kepada ee syariat Islam. Ya, kalau seorang bilang cinta laillallah tapi ternyata dia benci kepada syirat Islam, dia benci terhadap praktik lailaha maka ini tidak tidak benar ya. Kemudian yang keenam adalah al-qabul, yaitu menerima. Menerima ee maka seorang ya ketika diperintahkan untuk mengucapkan lailahaillallah maka dia menerima dengan lisannya. Dia ucapkan ucapkan dengan lisannya, terima dengan hatinya dia tidak menolak ya. tidak menolak, tidak seperti jadi ee menerima dengan hati dan lisan. Tidak seperti orang-orang musyrikin kata Allah, innahum kanu idza qila lahum la ilahaillallah yastaakbirun. Mereka jika diucapkan, dikatakan kepada mereka ucapkan lailahaillallah kata mereka enggak. Mereka sombong, mereka nolak. Kata mereka, "Apakah kita harus meninggalkan tuhan-tuhan kita gara-gara gara-gara penyair gila?" Maksudnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ya, jadi terima dengan hati dan lisan, tidak sombong. Atau mengatakan, "Benar sih, saya yakin Muhammad benar, tapi enggak maulah saya ucap. Enggak, enggak bisa. Ini tidak diterima." Ya, Heroklius tahu enggak Rasulullah benar? tahu yakin dia yakin bahkan dia mengatakan kalau kalau saya bisa ketemu Muhammad saya akan cuci kedua kakinya kata Heroklius dia bilang gitu kalau dia akan menguasai singgasanaku kata Heroklius dia yakin yakin benar-benar yakin tapi dia enggan mengucapkan laila illallah kenapa enggak mau enggak mau singgahsananya hilang Abu Thalib juga sama yakin lailahaillallah bahkan dia pernah mengucapkan dengan ungkapan yang lain laqad alimtu biadina Muhammad Saya sungguh tahu bahwasanya agama Muhammad agama manusia yang terbaik. Kalau bukan karena takut dicerca dicela, engkau akan dapati engkau akan dapati aku terang-terangan mengucapkan lah. Tapi dia enggak mau. Sampai ketika mau meninggal dunia Rasulullah mengatakan, "Ya amil lailahaillallah. Wahai pamanku, ucapkan lailahaillallah. Aku akan bela engkau." Kata Abu Abu Jahal ketika itu, "Attaru millati Abdul Muthalib, kau benci dengan agama bapakmu?" Akhirnya Abu Thalib enggan mengucapkan apa? Lailahaillallah. Berarti dia tidak kabul meskipun dia dalam hatinya menerima. Makanya sudah kita jelaskan pada pertemuan lalu, orang yang sudah meyakini kebenaran Allah tapi tidak mau mengucapkannya tidak dianggap muslim dan imannya tidak sah. Karena iman harus hati dan juga apa? Li lisan harus lisan kecuali dia bisu. Ah itu lain cerita. Kalau dia bisa berbicara tanpa ada penghalang baginya maka agar dia selamat dunia dan akhirat dia harus mengucapkan lailaha illallah. Tidak hanya dalam hati. Berbeda dengan pendapat Asyairah sebagaimana kita jelaskan pada pertemuan lalu. Tiik yang ketujuh terakhir. Syarat yang ketujuh adalah al-inqiyad, tunduk ya, patuh atau tunduk, yaitu ee dia tunduk kepada syariat Allah, tunduk kepada konsekuensi lailahaillallah. Di antara konsekuensi lailahaillallah adalah di antaranya ya lailahallah yaitu syariat Allah. Ya, dia harus tunduk. Allah berfirman, "Wam yuslim wajhahu ilallah wahua muhsin waman yuslim wajhahu ilallah. Wahua muslim faqamsaka bilqo. Siapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, siapa yang menundukkan wajahnya kepada Allah? Maksudnya tunduk kepada syariat. Maksudnya tunduk kepada syariat Allah yang dalam surat Luqman ayat 22. Maka seorang ketika mengucapkan Allah, maka hendaknya dia ee benar-benar tunduk kepada perintah Allah agar lailahahnya diterima. Kalau dia tolak semua syariat sama saja bohong ucap laillallah tapi ternyata tidak menjalankan syariat. Ini ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala yang saya sampaikan pada kesempatan hari ini bahwasanya lailaha syarat-syaratnya. Ini adalah hasil istiqra pengamatan para ulama sehingga mereka membuat syarat-syarat ini agar lailah seorang benar-benar selamat dan tidak batal. Karena kalau ada syarat yang tidak terpenuhi bisa batal lailahaillallah tersebut. Ya, sebagaimana tadi dalil yang telah kita sebutkan. Enggak ada. Sampai sini saja kajian kita. Wabillah taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.