Kitab Thaharah #3 - Fiqih Wudhu - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A
QxwD48idbsQ • 2025-06-28
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqihi wattinani ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarika lahu lnih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul ridwan. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwanih. Ibu yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, kita lanjutkan ee pembacaan kitab matan Abi Syuja ya. Kita masuk pada halaman 28 tentang hukum bersiwak ya. Ee penulis berkata, "Wasiwaku mustahabun mustahabbun fi kulli." Bahwasanya siwak itu atau menggosok gigi disunahkan dalam segala kondisi. Illa ba'da zawal lim. kecuali ee bagi orang yang berpuasa. Maka setelah waktu masuk waktu zuhur maka tidak disunahkan lagi. Wahua fi salat mawadi asyaddustbaban. Dan dalam tiga kondisi lebih lagi dianjurkan, lebih lagi disunahkan. Ketika mulut mengalami perubahan aroma min azmin, yaitu karena lama tidak berbicara itu diam lama wagirihi atau dengan sebab yang lain. Yang kedua, waalqiami minan naum ketika bangun dari tidur. Yang ketiga, waa alqiami shaat ketika akan mengerjakan salat. Tib. Di sini e penulis membahas tentang masalah siwak. Dan dibahas masalah siwak. Karena di antara sunah wudu adalah bersiwak. Di antara sunah wudu adalah bersiwak. Oleh karenanya dibahas terlebih dahulu tentang siwak. Dan dalam hadis perhatikan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "La asuq umium wudu." Kalau tidak merekuatkan umatku, tentu aku akan memerintahkan mereka untuk berwudu. Bersiwak setiap kali wudu. Tentu aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali wudu. Ini dalil bahwasanya siwak adalah sunah ketika akan berwudu. Dan siwak ya disunahkan secara umum setiap saat kapan saja ya. Sebagaimana dijelaskan oleh ee penulis apa itu siwak. Siwak itu apa, Ibu-ibu? Alat untuk membersihkan mulut. Ya, saya bacakan di sini dari syarah kitab ini. Alalatullati eh bihal asnan ya atau tudlak bihal asnan. alat yang digunakan untuk membersihkan gigi ya alal fil dan juga perbuatan menggosok gigi disebut juga dengan ee siwak sunah bist khinin yuzilul wasak waudil waudul arqil ma'ruf bisiwaqi afdol waudul araq almauf biwaqi afdal dan kata penulis bahwasanya pensyarah kitab ini semua alat yang bisa digunakan yang kasar yang bisa untuk membersihkan gigi disebut siwak. Disebut siwak. Dan tentu yang terbaik adalah kayu arq yang digunakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi siwak itu tidak harus pakai kayu ya. Kalau di di luar mereka biasa pakai siwak ya, pakai kayu. Karena kayu kan bisa dibawa ke mana-mana. Kalau sikat gigi kan enggak enak taruh dibawa ke mana-mana ya. Tapi kalau siwak dia bisa taruh sini. Sebagian orang sebagian orang taruh di sini. Ada teman-teman yang taruh di sini, ada yang taruh di kantong sehingga mereka bisa bersiwak setiap saat dan siwak itu bisa dipakai setiap saat. Ini kelebihan siwak ya. Dia bisa dipakai setiap saat dan dia ee lebih sehat ya. Dan saya punya kawan kalau di Madinah biasanya pakai kayu ARQ tapi kalau kawan-kawan dari Afrika teman-teman mahasiswa dulu mereka punya kayu siwak berbeda. Bukan kayu siwak yang seperti di Saudi. Jadi kayu dipotong kecil-kecil. Kalau siwak kan memang sudah batang siwak tinggal di pootong terus dilembutkan di depannya. sehingga bisa untuk bersiwak. Kalau teman-teman Afrika enggak. Mereka ambil kayu, mereka potong kemudian ada kayu khusus yang digunakan untuk bersiwak. Nah, kalau kita mungkin kita tidak menggunakan kayu, kita menggunakan sikat apa? Sikat gigi. Ya. Dan jika seorang menyikat gigi dengan menggunakan odol dan menggunakan sikat gigi, maka dia telah bersiwak. Cuma bedanya kalau kayu siwak bisa dibawa-bawa dan bisa dipakai setiap saat. Karena kalau kita ngantongin sikat gigi kayaknya gimana gitu ya, apalagi taruh di telinga kayaknya khawatir lagi zaman gelap nanti diangkat macam-macam ya. Oleh karenanya ee ini bedanya antara siwak yang biasa dipakai dengan siwak modern sekarang. Tapi seorang yang sikat gigi dianggap telah bersiwak. Jika dia niatkan karena Allah dia dapat pahala berarti dia telah menjalankan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bab. Kemudian penulis mengatakan, "Siwak disunahkan setiap saat kecuali perhatikan, kecuali setelah zawal." Kecuali ya setelah zawal bagi orang yang berpuasa. Ee ini ada khilaf di kalangan para ulama. Namun menurut mazhab Syafi'i, orang berpuasa setelah zawal hendaknya dia tidak bersiwa. Kenapa? Kalau dia sudah lewat zawal, zawal maksudnya bergelincirnya matahari dari tengah langit namanya zawal. Maksudnya waktu azan zuhur. Jadi jangan lagi dia bersiwak setelah azan zuhur supaya aroma mulut yang tidak enak karena puasa itu tetap terjaga. Karena Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, famimallahil misik. Sesungguhnya aroma yang keluar dari mulut seorang karena puasa itu lebih disukai oleh Allah daripada minyak kesturi atau ya iya daripada minyak aroma minyak kesturi. Nah, kalau dia sikat gigi lagi setelah zawal nanti ketika dia menjelang berbuka itu aroma itu sudah enggak ada. Padahal itu aroma dituntut untuk ada. Ini pendapat sebagian ulama. Apalagi mereka mendatangkan dalil tentang kisah Nabi Musa Alaih Salam ketika berpuasa 30 hari kemudian Allah suruh tambah lagi 10 hari. Disebutkan kenapa setelah 30 hari Nabi Musa bersiwak sehingga aroma mulut tadi hilang. Allah suruh puasa lagi 10 hari. Ini dalam tafsir ee ee dalam surat Ala'raf. Tapi intinya sebagian ulama yang lain mengatakan siwak dianjurkan setiap saat meskipun bagi orang berpuasa karena aroma mulut itu bukan karena kotoran di mulut tetapi karena udara yang keluar dari lambung. Maka seorang berpuasa meskipun dia seit gigi tetap aja ada aroma yang tidak enak. Ala kulihal. Kalau ada orang yang bersiwak, dia berpuasa, dia bersiwak setelah azan zuhur, maka menurut mazhab Syafi'i adalah makruh. Makruh tanzih. Bukan haram, tapi apa? Ma makruh. Menurut mazhab yang lain enggak. Tapi intinya kita sekarang bicara tentang mazhab Syafi'i. Maka seorang kalau mau ber bersiwak ketika berpuasa, dia usahakan bersiwak sebelum azan apa? zuhur. Sebelum azan zuhur. Adapun waktu yang lain semuanya kapan saja bersiwak boleh. Kemudian lebih ditekankan bersiwak pada tiga kondisi. Pertama ketika berubah aroma mulut karena lama diam. Min azmin lama diam. Terlalu lama diam mulut tertutup akhirnya muncul aroma yang tidak enak. Maka hendaknya dia bersiwak. Kalau dia tidak berpuasa, siwak kapan saja. Oke. Atau sebab-sebab yang lain seperti misalnya karena lama tidak makan dan minum. Tidak lama. Tidak lama. lama tidak makan dan tidak minum juga membuat aroma mulut tidak enak. Atau mengkonsumsi sesuatu yang bau aromanya misalnya makanan yang baunya tidak enak ya pete dan semisalnya maka hendaknya dianjurkan dia bersiwak. Kemudian yang kedua di antara sunah yang ditekankan adalah bangun tidur. Rasul sahu alaihi wasallam kalau bangun tidur beliau ber bersiwak ya. Kemudian juga ketika hendak salat. ketika gak salat, baik salat wajib maupun atau sunah. Tadi kita juga tambahkan dalam hadis yaitu ketika berwudu. Ketika berwudu kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, "Laula an asyuqo ala ummati laartuhum b siwaki maakulli wudu." Kalau tidak merepotkan umatku, tentu aku akan menyuruh mereka bersiwak setiap kali wudu. Dalam hadis yang lain, "Kalau tidak merepotkan umatku, aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali. salat dalam sebagian riwayat setiap kali wudu jadi bersiwak mau salat atau ketika wudu hukumnya adalah sunah. Inilah kenapa penulis membawakan pembahasan siwak mukadimah sebelum membahas tentang masalah wudu. Paham, Ibu-ibu? Tib. Kita lanjut. Sekarang kita bahas tentang ee masalah wudu ya. Jadi seorang berusaha kalau bersiwak niatkan karena Allah. Jadi jangan dia merasa beribadah saja ketika pegang kayu siwak. Dia pegang sikat gigi juga dia sedang bersiwak. Dan Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Asiwaku eh matharatun lil famotatun lirb." Sesungguhnya siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridaan Allah subhanahu wa taala. Allah suka kalau kita bersiwak kemudian kita baca Quran, kita salat. Sehingga orang kalau mulutnya bersih dia baca Quran dia semangat. Kalau mulutnya bersih dia salat pun dalam kondisi apa? Semangat. Karena mulutnya bersih, maka mendatangkan keridaan Allah subhanahu wa taala. Jadi ketika bangun tidur kita siwak, niatkan karena Allah agar kita dapat pahala. Karena siwak bersiwak itu ibadah kepada Allah subhanahu wa taala. Bahkan Nabi sebelum meninggal dunia, Nabi bersiwak. Dalam hadis yang sahih Al Bukhari, Rasulullah sahu alaihi wasallam ketika akan meninggal dunia dan dia bersandar di pangkuan Aisyah radhiallahu anha, tiba-tiba ada Abdurrahman bin Abi Bakar, yaitu saudaranya Aisyah radhiallahu anha jenguk dan dia sedang bersiwak. Maka Rasul sahu alaihi wasallam memandang siwak tersebut lama. Kata Aisyah, "Saya ngerti Rasulullah ingin bersiwak." Maka Aisyah berkata kepada Nabi, "Ya Rasulullah, akulak, aku ambilkan siwak ini buat engkau." Rasul sahu alaih wasallam sudah tidak mampu lagi ngomong. Rasul sahu alaihi wasallam cuma memberi isyarat dengan wajahnya, dengan kepalanya, menganggukkan kepalanya. Maka Aisyah pun mengambil siwak yang sedang dipakai oleh Abdurrahman bin Abi Bakar. Ya. Kemudian diambil sisi yang lain. Kemudian dia bersihkan. Aisyah bersihkan. Aisyah gigit-gigit sampai lic sampai sampai basah lunak. Kemudian baru Aisyah kasih Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bar Rasul Sallahu Alaihi Wasallam bersiwak dengan siwak yang baru digigit oleh siapa? Aisyah radhiallahu anha. Makanya Aisyah bangga kata Aisyah, "Rasulullah meninggal sementara air liurku bercampur dengan air liurnya." Kenapa? Karena Aisyah baru menaruh air liurnya di siwak. Kemudian Rasulullah bersiwak dengan siwak tersebut. Kemudian beliau menunjukkan ke atas. Beliau berkata, "Maari arfiqil a'la." Yaitu Allah kasih dia pilihan mau hidup abadi atau berkumpul dengan orang-orang yang telah mendahuluimu dari orang yang saleh. Maka Rasulullah mengatakan, "Aku milik untuk berkumpul dengan mereka." Maka Rasul sahu alaihi wasallam meninggal dunia. Jadi di antara aktivitas yang dilakukan oleh Nabi sebelum meninggal adalah apa? Berjiwa. Maksud saya kita ini hidup berusaha segala kegiatan kita cari pahala. Terutama perkara-perkara sunah. Maka kalau kita bersiwak jangan kita cuma sekedar niatkan membersihkan mulut aja tapi kita berniat ini sedang menjalankan apa? Sunah sunah Nabi. Dan kalau kita sudah bersiwak kita ngobrol sama pasangan juga enak. Iya enggak? Kalau enggak bersiwak ababnya itu mengerikan. Tapi kalau sudah bersiwa kan enak ngomong PD. Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam kalau masuk rumah karena Nabi sallallahu alaihi wasallam dakal bait bada siwak. Rasul sahu alaih wasallam kalau masuk rumah pertama dia kerjakan siwak dulu sebelum ngobrol sama istri-istrinya. Siwak dulu biar kan namanya apa? Aroma mulut itu penting. Bahkan Rasulullah ketika ingin menikah, Rasul sahu alaihi wasallam kirim Ummu Sulaim radhiallahu anha dalam hadis yang hasan riwayat Imam Ahmad. Rasulullah suruh cek wanita itu. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Sumi unzuri ilubaiha wasumi awaridha." Wahai Ummu Sulaim, coba lihat tumit wanita tersebut. Karena orang Arab dulu melihat tumit, dia mengetahui bagaimana fisik wanita tersebut. Kemudian kata Nabi, "Wasumi awaridha, ciumlah di sekitar mulutnya." Maksudnya wanita ini bersihan atau kemprohan ya. karena akan menjadi pasangan hidup. Kalau pasangan hidup ternyata cantik tapi ternyata gak pernah sikat gigi kan masalah ya. Masalah atau tidak? Masalah besar. Tib. Oleh karenanya ee di antara sunah adalah sikat sikat gigi. Kita kegiatan sehari-hari kita cari pahala. Dapat pahala. K saya saya nasihati saya pribadi. Banyak kegiatan sehari-hari kalau kita tidak niatkan karena Allah enggak dapat pahala. Jadi pakai sendal. Pakai sendal itu kan kegiatan sehari-hari. Tapi kita pakai tangan kaki kanan duluan, lepasin kaki kiri duluan. Ya, banyak kita kalau pakai sendal pakai kaki kanan duluan, lepas kaki kanan juga duluan. Kita rubah sunah Nabi kalau pakai kaki kanan duluan, kalau lepas sendal kaki kiri duluan. Dan ketika kita menjalani demikian kita dapat pahala. Ini kegiatan sehari-hari tapi bedanya kalau kita tidak niatkan tidak dapat pahala. Kalau kita niatkan dapat pahala. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda innamal a'malu bin niat. Amalan tergantung apa? Niatib. Paham, Ibu-ibu? Kita lanjut sekarang wudu. Ada yang mau kita bahas di sini? Wudu kayaknya panjang hari ini ya. Kita bahas ya. Wudu dan dia adalah bersuci. Syarat syarat salat ya. Syarat sah salat. Kita akan bahas tentang syarat-syarat wudu. Perhatikan, Ibu-ibu, syarat-syarat wudu. Kemudian kita bahas juga kewajiban-kewajiban wudu. Kemudian kita bahas sunah-sunah wudu. Kita bahas makruh-makruh wudu. Kita bahas pembatal-pembatal wudu. Pembatal-batal wudu. Tayib. ee kita bacakan sebelum kita masuk pada kewajiban-kewajiban dan sunah-sunah dan makruh-makruh, pembatal-pembatal, kita bahulu syarat-syarat wudu. Ini disebutkan oleh ulama yang lain dan tidak disebutkan dalam buku matan Abi Syuja. Karena perkara yang sudah makruf ini sekedar pelengkap ya. Tentunya orang berwudu supaya diterima syaratnya dia harus apa? Islam. Kemudian tamyiz. Tamyiz itu maksudnya dia ngerti. Kalau dikasih tahu ngerti ya anak kalau dikasih tahu sudah ngerti maka wudunya sah, salatnya juga sah. Tapi kalau dia belum ngerti ya enggak ya. Namanya almumayyiz. Jadi anak-anak kalau umur 5 tahun, 6 tahun dikasih tahu sudah ngerti wudu begini kamu salat harus ya. Itu salatnya sah. Itu salatnya apa? Sah. Karena dia mumayiz. Kemudian ingat yang digunakan harus air thahur yang sudah kita bahas sebelumnya itu air yang suci dan mensucikan. Kemudian tidak ada penghalang antara air dan kulit. Jangan sampai pakai kuteks, ada chat mengenai kulit, maka ini air tidak mengenai apa? Kulit. Maka kalau wudu ternyata kulit terhalangi dengan penghalang seperti cat dan yang lainnya ya. Seperti saya sering ditanya oleh para ibu-ibu, ada yang menggunakan misalnya alat kosmetik yang dia seperti cat menghalangi air, maka ini enggak boleh. Tapi kalau tidak menghalangi air maka tidak jadi masalah. Kemudian bagi orang yang mengalami salasil yaitu pembatal wudu yang berkesinambungan, maka menurut mazhab Syafi'i dia berwudu ketika masuk waktu. Contoh pertama selalu keluar air kencing. Ada orang yang namanya salasil baul. Setiap menit ada tetesan, setiap menit ada tetesan, setiap 5 menit ada tetesan. Orang seperti gini hadasnya tidak pernah berhenti. Hadasnya tidak berhenti yaitu hadasnya berkesinambungan. Ini contoh satu namanya salasilul baul. Ada salasilur rih yaitu selalu buang angin. Dia tidak bisa tahan. Kalau tahan sakitnya perut e perutnya sakit. Jadi 5 menit keluar angin, 5 menit keluar angin atau 10 menit keluar angin. Orang bagaimana? Masa setiap 10 menit dia berwudu sudah masuk masjid keluar lagi. Berat. Ini punya hukum tersendiri. Ya. Kemudian yang ketiga, selalu keluar darah. Contoh seperti ee darah istihadah. Darah istihadah ini darah penyakit. Di luar dari jadwal haid, darah selalu keluar darah. Sampai ada seorang sahabiat yang salat, dia taruh dia taruh panci di bawah salat sementara darahnya menetes-netes karena dia sedang berpenyakit. Nah, orang seperti ini bagaimana? Orang seperti ini dia wudu ketika masuk waktu salat. Masuk azan zuhur dia silakan wudu. Kalau dia sudah wudu meskipun batal gak dianggap batal. Meskipun dia buang angin terus karena dia punya penyakit di situ tidak dianggap batal. Kalau dia punya penyakit air kencing yang tidak berhenti, keluar air kencing terus tidak batal. Kalau dia punya penyakit darah yang tidak pernah berhenti tetesannya maka tetap aja tidak batal. Meskipun keluar darah dia hanya batal kalau ada sebab yang lain. Misalnya orang ini kena penyakit kencing yang tidak berhenti. Tapi kalau dia kentut batal atau tidak batal? karena dia diberi uzur pada penyakitnya. Sama orang yang selalu buang angin, dia berwudu ketika azan zuhur, dia berwudu. Selama buang angin dia tidak batal. Tapi kalau dia ternyata buang air kecil, batal atau tidak batal? Karena dia melakukan sebab yang yang lain. Demikian juga orang yang keluar darah terus-menerus. Kalau keluar darah terus-menerus tidak batal karena di situlah penyakitnya, situlah uzurnya. Tapi kalau dia buang angin maka batal. Dia kencing maka maka batal. Yang keenam syaratnya adalah menghilangkan najis. Tib kewajiban sunah dan pembatal-pembatal. Ibu-ibu kembali kita masuk ke buku ke kitab. Ee lihat lihat halaman berapa? 31. Halaman 31. Coba buka halaman 31 ya. Coba saya saya baca ya. Saya baca atau antum bantu baca. Ada ba? A buka ya. Saya baca Arabnya nanti baca terjemahnya ya. Halaman 32. Bentar saya baca arabnya dulu ya sebentar. eh wa furudul wudu asatu gil wajhi wajhi yada mirqain bainal kainbu alaarnahu coba baca rukun yang oh ini rukun rukun fardu ada rukun atau rukun atau rukun atau fardu wudu ada enam, yaitu satu, niat ketika membasuh muka. Pertan niatnya itu harus ketika membasuh muka. Dan ini kaidah dalam mazhab Syafi'i. Jadi ee seorang kalau kalau melakukan ibadah maka niat harus ada niat dan niat itu tempatnya di hati. Adapun melafalkan niat menurut mereka itu hanyalah sunah. Tentu ada khilaf tentang melafalkannya. Tapi kalau niat di hati, semua ulama sepakat harus ada niat. Nah, menurut mazhab Syafi'i, niat tersebut harus dihadirkan ketika melakukan kewajiban yang pertama. Kewajiban yang pertama. Dan dalam wudu kewajiban yang pertama adalah membasuh mu muka. Maka niat itu dihadirkannya ketika membasuh wa wajah. Bukan sebelumnya, bukan setelahnya. Makanya rukun wudu adalah berniat ketika membasuh wajah. Karena membasuh wajah adalah kewajiban pertama dalam wudu. Paham? Makanya ketika salat agak susah karena dalam kewajiban pertama dalam salat adalah takbiratul ihram. Nah, seorang menurut mazhab Syafi'i kalau dia bertakbiratul ihram dia haruskan hadirkan niat sambil bertakbiratul ihram. Ini agak kurang konsen. Makanya kadang-kadang mereka ulang-ulang karena saya niat salat zuhur tapi saya juga harus memahami Allahu Akbar untuk menggandingkan keduanya agak susah. Beda kalau kita membasuh wajah kita enggak mikirin apa-apa. Yang penting basuh wajah. Ini sekedar kaidah dalam mazhab Syafi'i bahwasanya niat rukun yang merupakan rukun adalah di hati, namun dihadirkan ketika melakukan kewajiban yang pertama. Tib yang berikutnya. Yang kedua, membasuh muka. Iya. Ketiga, membasuh kedua tangan sampai sebatas siku. Keempat, mengusap sebagian kepala. Kelima, membasuh kedua kaki sampai sebatas mata kaki. Dan keenam, tertib berurutan sesuai dengan yang telah kami sebutkan. Oke, ya. Jazakal tib. Kewajiban ee wudu ada enam. Yang pertama, niat ketika membasuh apa? Muka. Ya. Yang kedua, membasuh muka. Yang ketiga, membasuh apa? membasuh kedua tangan hingga apa? Si siku. Maksudnya siku masuk yaitu siku masuk siku juga masuk kena. Jadi bukan sampai di bawah siku tapi siku juga apa? Masuk. Kemudian yang keempat mengusap. Mengusap sebagian kepala. Sebagian kepala. Kita akan bahas satu-satu. Yang kelima, membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Yang keenam, tertib. Tertib maksudnya urutannya dari 1 2 3 4 5 ini enggak harus tertib, tidak boleh terbalik. Gak boleh terbalik. Tib kita akan bahas. Ini disebut dengan rukun wudu atau fardunardu furudul wudu. Artinya apa? Jika ditinggalkan salah satunya wudu tidak sah. Ya, kewajiban. Maksudnya jika ditinggal satu saja, jika tertinggal satu tidak sah, maka tidak sah. Jadi kalau ada orang berwudu tapi dia lupa mengusap kepala, wudunya sah atau tidak? Tidak. Karena ada satu rukun yang dia tinggalkan. Kalau orang berwudu ternyata lupa membasuh kaki, wudu sah atau tidak? Tidak. Karena ada satu rukun yang ditinggalkan. Bab tadi niat sudah kita bahas dalam mazhab Syafi'i. Niat ada dua. Niat di hati dan itu sepakat rukun. Yang kedua, niat yang dilafalkan seperti nawaitu alwudu atau ee nawaitu e usolli fard zuhri kalau salat. Ya. Dan dalam mazhab Syafi'i dibahas ini masalah melafalkan niat. Itu adalah masalah khilafiah ya. Sebagian mengatakan dianjurkan. Sebagian mengatakan dianjurkan kalau ada waswas. Sebagian mengatakan bidah tidak dianjurkan ya. Karena Rasulullah Sall wasallam tidak pernah mengajarkan melafalkan niat dalam segala ibadah. Tidak pernah Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam mengajarkan melafalkan niat. Padahal Rasulull sahu alaihi wasallam salat dengan berbagai macam model salat. Rasulull sahu alaihi wasallam tidak pernah terdengar mengatakan usoli usoli enggak pernah. Rasul sallallahu alaihi wasallam berwudu berulang-ulang. Dalam hadis banyak mencontohkan Rasulullah juga tidak pernah mengatakan nawaitu alwudu. Aku berniat untuk wudu. Rasul sahu alaihi wasallam puasa dengan berbagai macam puasa. Rasul sahu alaihi wasallam tidak pernah berkata, "Nawaitu an asuma." Aku niat untuk puasa. Enggak pernah. Dan ini pendapat yang saya pilih bahwasanya melafalkan niat tidak dianjurkan. Tidak dianjurkan. Tapi kalau mazhab Syafi'i yang perlu kita pahami melafalkan niat dianjurkan menurut mereka. Tujuannya apa? Tujuannya untuk mengkokkan di hati. Jadi bukan itu yang rukun, bukan. yang rukun yang di mana? Di hati. Cuma kenapa melafazkan niat? Untuk mengkokohkan supaya kita niatnya enggak goyang. Itu niat mereka. Jadi mereka berpendapat ee mazhab-mazhab Syafi'i bahwasanya kalau mau ibadah berniat terlebih dahulu. Makanya kalau mau salat zuhur kita lafalkan. Usholi fard zuhri arba rakaatin mustaqbilal qiblati adaan makmuman lillahi taala. Saya juga hafal dulu ya. Jadi tujuannya bukan bukan itu yang wajib bukan itu cuma dianjurkan supaya mengkokokkan di di hati. Alakul ini masalah khilafiah. Tapi kalau yang di hati maka itu semuanya sepakat. Nah, kalau yang diwajibkan di hati juga khilaf. Kapan mau start niat tersebut? Menurut mazhab Syafi'i harus niat itu hadir ketika melakukan kewajiban yang pertama. Dan rukun yang pertama dalam wudu apa? Membasuh apa? Wajah. Ya, selain niat yang pertama adalah membasuh wajah. Jadi harus dipasang ketika sedang membasuh wajah. Jadi ketika basuh wajah dalam hati. Kalau ucapin nawaitul wudu sebelum aktivitas, tapi menghadirkan dalam hati kapan ketika membasuh wajah. Yang pertama dalam hati aku berniat untuk wudu. Nah, itu sekedar ini e wawasan ya agar kita tahu ya ini perbedaan-perbedaan di kalangan para para ulama. Tib. Yang kedua membasuh. Jadi membasuh wajah sekali rukun wudu membasuh wajah berapa se sekali. Kemudian membasuh kedua tangan hingga siku. Membasuh kedua tangan ya sebagainya dalam Al-Qur'an. Ya ayyuadzina amanu kumtum ilati wujuhum. Wahai orang yang beriman jika kalian gak salat basuhlah wajah kalian. Wa aidakum ilal marofiq. Dan basuhlah tangan kalian sampai ke siku. Ya, yang penting kena mau begini dari atas ke bawah, dari dari bawah ke atas, dari siku ke tangan, tangan ke siku enggak ada masalah ya. Yang penting semuanya apa kena dan siku masuk. Dalam sebagian riwayat Rasul Sallahu Alaihi Wasallam memutar tangannya ke siku. Jadi suku ini juga masuk sekali. Yang wajibnya cuma apa? Sekali. Kedua, tiga hukumnya sun sunah. Paham? Tib. Yang ketiga, mengusap sebagian kepala. Menurut mazhab Syafi'i, kalau seorang mengusap sebagian kepala, kepala jelas ini kepala ya. Kalau dia punya rambut, dia kena rambut sekali sudah sah. Misalnya dia berwudu kemudian sah atau tidak sah. Ini mazhab Syafi'i. Kalau dia enggak punya rambut yang penting kepala. Yang penting rambutnya rambut kepala ya, bukan rambut pipi gak. Rambut kepala. Jadi dia kepala atau kena rambut. Mereka punya dalil. Mereka berdalil. Rasulull sahu alaii wasallam disebutkan ee Rasulullah berwudu famasaha ala anasiah wal imamah rasul sahu alaihi wasallam berwudu kemudian dia mengusap ubun-ubun dan mengusap kep ee sorbannya sehingga Rasulullah sempat diriwayatkan cuma mengusap ubun-ubun saja wa alal imamah kemudian lanjutannya beliau mengusap sorban dipahami oleh Al Imam Syafi'i rahimahullah dalam kitabnya Al Um berarti mengusap sebagian kepala sudah sudah sah kemudian yang Keelima, membasuh kedua kaki. Wa arjulakum ilal ka'bain. Membasuh kedua kaki sampai mata kaki. Sampai mata kaki. Mata kaki masuk ikut dibasuh. Kemudian yang keenam, harus tertib. Harus tertib. Kalau tidak tertib maka tidak tidak sah. Bab di sini Ibu-ibu perhatikan ada beda antara membasuh dengan mengusap. Ada beda antara membasuh dengan mengusap. Apa bedanya? Ada. Jadi ada tiga istilah. Perhatikan ada namanya mengusap. Ini satu. Yang kedua namanya membasuh. Yang ketiga namanya adalq. Menggosok. mengusap namanya almash, membasuh namanya alghaslu, gosok namanya addalqualqu air. Maksudnya diguyurkan di kepala enggak. Jadi cuma tangan basah baru diusap. Nanti ini juga kita lakukan ketika kita bahas tentang membasuh mengusap sepatu. Jadi bukan diguyurin air di sepatu di sepatu yang penting tangan sudah basah. Itu namanya mengusap. Jadi dalam wudu ada satu mengusap di bagian kepala. Jadi bukan ambil air terus gini enggak. Tapi air penting tangan basah kemudian di diusap. Kalau membasuh air harus jalan di wajah kita di bagian anggota tubuh. Jadi air harus jalan. Jadi kalau air sudah jalan maka dikatakan mem membasuh. Kalau dal tangan kita menggosok itu lebih daripada sekedar membasuh. Artinya kalau kita nyalain air keran, kita kasih gini-gini enggak usah kita gosok, sah atau tidak? Sah. Karena sudah termasuk me membasuh. Tapi kalau kita imrarul yatad alal wudu kita jalankan tangan kita ke tangan, itu lebih afdal karena dia me menggosok. Paham? Menggosok lebih tinggi daripada sekedar mem membasuh. Paham ini istilahnya? Ya. Dari sini makanya dikatakan kalau orang wudu hanya sekedar pakai apa? Kisspray. tidak sah karena tidak ada aliran air. Tidak ada aliran air maka tidak dikatakan membasuh. Kalau mau airnya dituangin ke tanah baru dijalanin pakai tangan. Paham? Inilah sempat ada permasalahan mengenai apa hukum ee berwudu dengan pakai semprotan yang jadi bawa semprotan ah itu enggak. Kalau kepala oke. Karena kepala cuma disyaratkan apa? Mengu mengusap. Adapun tangan, kaki, wajah harus dibasuh dan dibasuh itu artinya aliran apa? Air ke kulit. Itu namanya membasuh. Kalau Dalk dengan digosok, digosok ya. Paham, Ibu-ibu? Baik, kita kembali lagi. Membasuh wajah. Wajah adalah inilah namanya wajah. yaitu seorang yang ketika berhadapan dengan orang dia menampakkan wajahnya. Ma yuwajuhu bihil insan. Dengan dengan wajah itu dia melihat orang. Nah, kalau kita tahu wajah di mana? Dari sini wajah ya. Mohon maaf ya. Dari tempat tumbuhnya rambut. Ini namanya apa? Wajah. Secara normal. Ustaz, kalau orang ada orang botak tengah rambutnya dari sini enggak. Itu di luar normal. Normal itu maksudnya di sini. Nama secara umum namanya wajah dari sini. Paham, Ibu-ibu? Terus ke sini sampai ke sini. Yang di belakang ini bukan wajah. Ada khilaf tentang para ulama di balik jambang ini wajah atau bukan ya. Karena dia tidak kelihatan ketika sedang berhadapan. Jadi ketika orang hendak berwudu, mohon maaf jadi kalau gak berwudu maka ambil air. Kemudian dia basuh semuanya kena air. Jadi sini kena semua. sampai sini. Paham? Ini bukan wajah di belakang ini. Enggak, ini bukan wajah. Ini kita bicara ee kadar minimal untuk sahnya wudu. Makanya saya tulis itu, Ibu-ibu perhatikan. Saya tulis di bawah situ. Perhatikan. Wudu paling minimal yang penting sah. Inilah pentingnya para ulama, para fuqaha. Kenapa mereka bahas tentang wajib-wajib? Ada sunah-sunah. Buat apa? Buat kita tahu kadar minimal. mana kapan dikatakan minimal wudu kita sah? Kapan dikatakan minimal salat kita sah? Kapan dikatakan minimal haji kita sah? Maka dibahaslah rukun wajib. Ada beda rukun dengan wajib. Ada sunah, ada makruh, ada pembatal. Inilah fungsi para ulama yang mereka telah membaca berbagai macam dalil. Kemudian mereka menyimpulkan. Jadi ketika dibahas tentang wajib-wajib wudu ini, bukan kita maksudnya ini wudu yang terbaik, bukan. Tetapi ini bahas tentang wudu minimal yang penting apa? sah. Nanti kita akan bahas ketika cara mandi, mandi minimal sah seperti apa, salat minimal sah seperti apa. Kalau bisa lebih dari itu, sunah-sunahnya lebih baik. Nah, membasuh wajah, rukun wudu cuma dibasuh sekali dan mengenai seluruh anggota wa wajah. Paham? Jadi, jangan berwudu asal-asalan. Cuma ternyata ternyata cuma begini, sini enggak kena. Enggak boleh. Ini harus kena ini. Ini kan bagian wajah ini. Kalau cuma begini, Hmm. Hmm. Nah, enggak kena dia. Sini enggak kena. Lolos. Jadi harus kena semuanya. Diputar begini biar kena semuanya. Coba praktik. Ya sudah. Sekali yang wajib se sekali. Ini kesepakatan ulama semuanya ya. Ya. Kita belajar fikih itu mazhab apa aja enggak ada masalah. Yang penting kita tahu mana kesepakatan. ada masalah khilaf kita sebutin agar kita ada wawasan sehingga kita tahu mana pendapat ini. Kita terserah nanti milih yang mana. Tapi kita bahas kalau ini kesepakatan ulama semuanya. Jadi kalau membasuh wajah harus semuanya kena anggota wajah. Tayib sekali. Yang kedua, membasuh kedua tangan hingga siku. Nah, ini dibasuh mau dari atas, dari bawah, dari tangan, dari jari-jari. Ingat ya, dari jari kuku semuanya sampai ke siku. Sikunya kena sekali saja. Kalau kita taruh keran, kita buka gini gini nak basah sah atau tidak sah? Karena sudah membasuh. Kalau kita mau tambah dengan diusap lebih baik. Namanya dal karena Rasul sahu alaihi wasallam mengusap ya. Rasul sahu alaihi wasallam me mengusap ya. Ini yang ya yang ketiga. Jangan sampai hati-hati seorang hanya dari sini aja di antara kesalahan seorang ketika wudu dia pertama sunah melakukan sunah mencuci kedua tangan. ketika mencuci, ketika masuk dalam wudu, dia hanya mencuci dari siku, pergelangan tangan sampai apa? siku. Salah, tidak sah. Harus diulang lagi dari ujung kuku sampai si. Enggak boleh berwudu cuma siku sampai pergelangan tangan. Tidak sah. Karena Nabi Allah mengatakan, "Wa aidiyakum ilal mara marifiq." Tangan kalian seluruhnya sampai ke siku. Sekali yang wajib cuma berapa? Sekali. Kemudian yang keempat, mengusap kepala. Di sini ada khilaf di kalangan para ulama. Sebagian ulama mengatakan harus seluruh kepala. Kenapa? Karena Rasulullah alaihi wasallam ketika berwudu selalu mengusap seluruh kepala. Adapun ee Nabi ketika mengusap ubun-ubun karena dia pakai sorban. Jadi Rasulullah pakai sorban begini. Rasulullah buka sorbannya sedikit. Rasulullah ketika berwudu dia usap ubun-ubun kemudian dia lanjutkan ke sorban. Ini pendapat sebagian ulama. Pendapat Imam Syafi'i enggak. Ini menunjukkan sorb ubun-ubun sudah sah. Ini khilaf ya. Ini khilaf. Sebagian ulama mengatakan harus 3/4at kepala. Sebagin mengatakan harus seluruh kepala. Adapun mazhab Syafi'i rahimahullahu taala dalam kitabnya alum dia mengatakan sebagian kepala sudah cukup. Jadi kalau menurut mazhab mazhab Syafi'i kalau kita berwudu terus kita sah. Selesai. Ibu-ibu kalau berwudu sekarang ibu kan pakai sejilbab tinggal gini keluar sah. Ini mazhab Syafi'i ini semuanya punya dalil. Semua punya punya dalil. Jadi Imam Syafi'i sedang berbicara tentang wudu minimal sah. Paham ya? Bukan yang afdal. Paham ya? Nanti kalau afdal nanti lain lagi. Ini wudu minimal apa? Sah. Jadi jangan bilang Ustaz Firanda suruh ngajarin gini. Enggak. Kita sedang berbicara mazhab Syafi'i mengajarkan wudu yang minimal apa? Sah. Untuk yang di sini khilaf. Mazhab Syafi'i mengatakan segini cukup, mazhab lain tidak. Tayib. Ini bedanya kalau kepala diu diusap. Adapun yang lainnya dibasuh. Kemudian yang kelima, rukun yang kelima adalah membasuh kedua kaki hingga mata kaki. Jadi ujung kaki sampai ke mata kaki. Mata kaki masuk. Ini sekali cukup sah. Kanan kiri. Kemudian yang keenam, tertib. Kenapa tertib? Karena selalu dari puluhan riwayat tentang wudu Nabi, Nabi tidak pernah membolak-balikkan. Beda dengan tayamum. Ada khilaf. Ada khilaf. Ada riwayat tangan dulu baru baca, ada wajah dulu tangan. Tapi kalau wudu dari puluhan riwayat tentang wudu Nabi maka tidak pernah ee tidak tertib. Maka tertib, urutan itu adalah rukun wudu. Siapa yang berwudu tidak urutan pertama wudu kepala dulu baru kemudian wajah. tidak sah. Harus urutan sebagaimana yang Allah sebutkan dalam surat Almaidah ayat 6. Ya ayyuhalladzina amanu idtum ilati. Jadi tertib sebagian dalam Quran surah Almaidah ayat berapa? 6. Ya ayyuhalladzina amanut kumtumati. Wahai orang beriman jika kalian hendak salat wujuhakum maka basuh wajah terlebih dahulu. pertama wa aidakum marfi kemudian tangan sampai siku wamsahu biruusikum kemudian kepala wa arjulakumal ka'bain baru kemudian kedua kaki inilah namanya wudu paling minimal yang penting sah paham ibu-ibu pahamb ada yang bertanya sebelum kita lanjut silakan kasih mik kasih mic ya terkait dengan apa yang telah kita sampaikan kasih mic ibu Silakan gak apa-apa biar satu du kita ambil. Silakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz kemarin itu sempat belajar mengenai mendengar mengenai riwayat cybah. Pada riwayat sybah itu kata arjulakum diharakati kasrh sehingga dia dikembalikan kepada wamsahu bukan kepada fasilu. Apakah itu dalil bolehnya mengusap khuf? Ya, itu pembahasan masalah khuf ini ibu terlalu dalam ya, enggak yang sudah kita sampaikan aja itu dijadikan dalil bahwasanya boleh mengusap arjulikum jika kaki sedang memakai memakai khuf. Arjulakum kalau kaki tidak memakai khuf. Yang lain ada lagi. Bismillah. Afan Ustaz menanyakan masalah yang tertib itu. Apabila kita wudu lalu terhenti? Pelan pelan pelan-pelan, pelan-pelan. Apabila kita wudu, apabila kita berwudu tiba-tiba kita berhenti gitu. Misalnya ada tukang paket gitu ya. Lalu kita wudu kita hentikan lalu kita lanjutkan lagi. Apakah itu termasuk tertib? Apakah masih tertib? Begitu. Ada jeda waktu, selang waktu antara kita ee kalau sudah ngobrol ketawa ketib mending ulang. Ya. Dalilnya yang benar. yang benar. Bahwasanya kalau sudah kering anggota wudu sebelumnya, maka harus diulang. Misalnya saya mengusap wajah terus apa? Saya terima telepon. Telepon panjang rib 10 menit kemudian boleh enggak saya lanjut? Udah kering wajah enggak boleh. Kalau masih basah saya boleh lanjut. Intinya demikian ya. Sederhananya demikian. Mengucapkan bismillah di nanti belum belum pelan-pelan kita ini aja dulu. Ini ibu-ibu sudah pada pintar semua. Masyaallah. Kita bahas dulu yang di sini ibu-ibu ya. Oke, kalau gitu kita lanjut aja nanti sudah selesai baru kita lanjut. Oke, Tib. Kita lanjutkan ini. Paham yang penting ibu-ibu ya. Insyaallah ibu-ibu menuntut ilmu niatkan ini. Menuntut ilmu tuh ibadah ya. Ibadah bukan cuma puasa, bukan cuma baca Quran. Nuntut ilmu juga ibadah. Ibadah yang agung. Dan dia adalah zikrullah. Allah berfirman, "Fasalu ahlik inuntum laun." Tanyakanlah kepada ahli yang berzikir kalau kalian tidak tahu. Maksudnya apa? Ahli ilmu. Bukan tukang zikir. Enggak. Zikir sini maksudnya apa? Ahli ilmu. Demikian juga para ulama menafsirkan tentang salat Jumat. Fasu ilaikrillahi nudi lati yaumil jumati fasikrillah. Kalau diserukan azan Jumat maka segeralah menuju zikrullah. Zikrullah itu maksudnya khotbah. Khotbah Jumat isinya materi tentang ilmu. Jadi ketika seorang menuntut ilmu dia sedang berzikir kepada Allah. Dalil yang lain Allah berfir Nabi bersabda, "Adunya mal'unatun." Maksudnya saya, maksudnya kita serius kalau ngaji, Ibu-ibu. Saatnya kita 1000 sudah pada tua-tua kan. Ngapain ngaji enggak serius? Kalau masih muda mungkin main-main ngajinya. Sekarang sudah pada tua ngaji yang serius. Sudah tua apa masih muda? Hah? masih muda ya dibanding umur 70 tahun ya. Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Addunya malunatun wunun ma fiha illaikrullah wa walah waimun wa mutaalimun. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, dunia terlaknat seluruhnya kecuali mengingat Allah dan apa yang dicintai oleh Allah dan orang alim dan orang yang belajar. Subhanallah. Jadi nuntut ilmu, menuntut ilmu termasuk perkara yang dicintai oleh Allah, termasuk zikrullah. Maka ketika kita belajar, kita niatkan mencari pahala karena kita sedang beribadah ya. Sedang beribadah ya. Saya juga ngingatkan diri saya ketika saya datang, saya tulis ini semua. Saya juga mau cari pahala ya. Cari pahala. Jadi ee sama-sama capek kita ya. Saya nulisin capek, Ibu-ibu jangan ngantuk ya. Oke, lanjut atau tidak? Kalau sudah hang kasih tahu, saya enggak mau paksa. Kalau sudah hang berhenti. Tib. Sekarang kita bahas sunah-sunah wudu. Sunah-sunah wudu saya bacakan lagi. Perhatikan halaman berapa ya? Saya bacakan. asyaasmatu kain bidilah yumna yusraan muwalib Sekarang kita akan bahas wudu yang sempurna yang dilakukan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam yang dianjurkan sehingga kita berusaha melakukan semuanya. Namun kalau kita tidak melakukan tetap sah. Inilah dibedakan antara tadi kenapa para ulama membahas tentang kewajiban-kewajiban agar kita tahu mana minimal wudu yang sah. Namun bukan itu yang mau disuhu kita kerjakan. Namun itu diperlukan kapan? Ketika kita naik pesawat air cuma sedikit kita bisa melakukan wudu minimal. Paham? Atau ketika kita salat ke tempat berwudu ternyata sudah qat. Supaya tidak ketinggalan jemaah, kita wudu yang minimal supaya kita dapat apa? Salat berjamaah. Bukan itu yang dianjurkan. Yang dianjurkan adalah wudu yang sesuai dengan apa? Sun sunah. Tib. Bacakan. Sunah wudu ada 10, yaitu satu mengucap basmalah. I dua, membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam wadah air. I tiga, berkumur-kumur. Iya. Empat, istinsyak. Yaitu menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya kembali. Baik. Kelima, mengusap semua bagian wajah. Keenam, mengusap kedua telinga. Eh, mengusap semua bagian kepala. Itu salah. Itu salah. Mengusap semua bagian apa? Kepala. Kalau wajah memang wajib. Paham? Itu salah terjemah mengusap seluruh bagian apa? Kepala ketika mengusap dan wajah itu dibas itu jadi salah terjemah harusnya apa? Kepaam. Keenam. Mengusap kedua telinga meliputi bagian dalam dan luar dengan menggunakan air yang baru. Terus tujuh menyela jenggot yang tebal serta menyela jemari kedua tangan dan kedua kaki. Iya. Delap. Mendahulukan anggota yang kanan dari yang kiri. mencuci dan membersihkan setiap anggota wudu masing-masing tiga kali. 10 yang se sebentar ee mence oke. Terus 10 muwalah yaitu dilakukan beruntun tanpa diselingi perbuatan lainnya. Oke. Bab ini mungkin urutannya saya agak beda tapi intinya 10 perkara. Yang pertama ini sekarang beliau sedang berbicara tentang wudu yang sem sempurna. Yang pertama adalah mengucapkan apa? Bis bismillah. Ya, mengucapkan bismillah. Kenapa dikatakan sunah? Ada khilaf. Apakah wajib atau sunah? Datang dalam satu hadis Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "La wudua liman lam yadkur ismallah fihi." Tidak ada wudu bagi orang yang tidak mengucapkan bismillah. Sehingga seb mengatakan mengucapkan bismillah hukumnya wajib. Namun jumhur ulama mengatakan bismillah hukumnya sunah. Kenapa? Dari sekian banyak hadis-hadis tentang riwayat Nabi berwudu, tidak disebutkan Nabi mengucapkan bismillah. Tidak disebutkan Nabi mengucapkan habis bismillah. Tapi Nabi pernah berkata, "Tawadu bismillah." Berwudulah dengan bismillah. Dari sini maka hadis-hadis yang banyak seperti hadis Utsman bin Affan, hadis para sahabat yang lain menceritakan tentang wudu Nabi, mereka tidak sebutkan Nabi bilang bismillah ketika wudu. Maka hadis yang banyak ini memalingkan hadis yang tadi tentang tidak ada wudu kecuali dengan bismillah yang seakan-akan kesannya wajib dipalingkan jadi hukumnya menjadi sun sunah. Jadi kalau kita bilang bismillah dapat pahala. Kalau tidak bilang bismillah yang penting niat wudu. Wudu tetap apa? Sah. Yang baca bismillah. Yang kedua, mencuci kedua telapak tangan sebelum masukkan ke bejana. Ini sunah. Jadi, sebelum kita masukkan. Karena dulu Nabi berwudu dengan memasukkan air tangan ke bejana. Nah, sebelum dimasukkan kita disunahkan mencuci kedua tangan.Cucci kedua tangan. Ya, ini kadang-kadang orang salah dikira sudah selesai. Sehingga kalau pas wudu cuma dari pergelangan ke siku. Padahal ini sunah. Nanti kalau wudu ulangi lagi dari awal. Paham? Ah, mencuci. Nah, sekarang ee tinggal pakai keran ya. Tinggal pakai apa? Keran ya. Tapi intinya ini hukumnya sunah. Yang ketiga dan yang keempat berkumur-kumur dan istinsyak. Menurut mazhab Syafi'i bahwasanya berkumur-kumur hukumnya sunah. Jadi istinsyak menghirup air di hidung. Menurut mazhab lain, mazhab Hambali hukumnya wajib. Ini masalah khilaf. Tapi intinya ee menurut mazhab Syafi'i bahwasanya hukumnya sun sunah. Seandainya orang berwudu tanpa berkumur-kumur, tanpa menghirup air di hidung, maka tidak mengapa. Tetapi ini disyariatkan. Nah, bagaimana cara berkumur-kumur istinsyak? Jadi, ada amalan yang lain disebut dengan istinsyak. Jadi, istinsyak namanya menghirup air ke hidung. Menghirup air ke hidung. Tib. Kalau sudah dihirup, dikeluarkan, dikeluarkan enggak? Ah, dikeluarkan itu namanya istinsyar. Istinsar namanya. Istinsar ya. Ada konsekuensinya ada namanya istinsar, yaitu mengeluarkan air dari hidung. Ini juga sudah sunah mengeluarkannya. Jadi, sunahnya bagaimana? Sunahnya kita ambil air satu genggam, kita masukkan ke mulut. Sebagian kita masukkan ke mulut untuk dikumur-kumur. Sebagian kita hirup ke hidung. Terus kita buang dengan tangan kiri memegang hidung sekali masuk ke sebagian masuk ke mulut, sebagian kita hidup di hidung kemudian kita keluarkan dengan tangan kiri. Jadi kita proses ini berkumur-kumur, istinsyak dan istinsar dengan dua tangan. Air dengan tangan apa? kanan masukkan sebagian ke mulut masukkan sebagian di hidup di hidung kemudian dihembuskan dengan megang hidung dengan tangan kiri paham sampai berapa kali tiga kali ini sunah jika tidak dilakukan wudu tetap apa sah coba ibu-ibu gini ya bisa juga tanpa pegang juga tapi kita mau sunah sunahnya dengan memegang tangan kiri kemudian dihembuskan Ya, Tib. Yang berikutnya adalah mengusap seluruh kepala. Jadi di antara wudu yang sunah, seluruh kepala diusap. Dan ini contoh dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kata perawi badaqadami rasi. Rasul sahu alaih wasallam memulai dari awal kepalanya bihimaqahu. Kemudian Rasulullah bawa sampai ke lehernya. Kemudian balikkan lagi begitu. Ini sunah yang begini minimal wajib. Nah, kalau kita sudah tahu sunah mau mazhab mana pun begini. Ini mazhab Syafi'i loh. Kita bahas buku mazhab apa? Syafi'i. Nanti kalau ada yang peduli ah Muhammadiyah. Enggak. Bukan Muhammadiyah. Ini mazhab Syafi'i pun demikian. Mazhab Syafi'i yang kau praktikkan begini itu yang minimal apa? Sah. Ya, yang minimal sah. Kalau yang sunah dalam mazhab Syafi'i, mazhab manaun Rasulullah kalau berwudu sampai semuanya paham? Dalam riwayat yang lain, Rasulullah juga pernah berwudu begini. bisa dua cara. Jadi cara pertama begini tarik ke belakang sampai leher balik lagi. Ini cara pertama. Ada cara kedua dengan begini bisa juga misalnya rambutnya enggak pengin beramburan dia begitu. Paham? Paham. Boleh dua-duanya boleh. Ustaz kalau rambutnya panjang sampai di bawah bokongnya ya enggak usah. Cuma saya juga rambut ke belakang ini enggak. Cuma rambut yang di kepala. Paham? Ada orang bilang rambut sampai ke bokong, ada yang bokong sampai ke rambut gak? Yang dipaksud adalah rambut yang di mana? Di kepala, bukan rambut yang di bawahnya. Itu enggak perlu diusap. Yang diusap rambut yang ada nempel di kepala, bukan yang terjulur di bawahnya. Paham, Ibu-ibu? Jadi, dalam mazhab Syafi'i pun dianjurkan untuk berkumur-kumur, narik air di hidung dan mengeluarkannya. Itu dianjurkan. Adapun cuma mengusap wajah itu wudu minimal apa? Sah. Jadi kita bermazhab Syafi'i pun wudunya seperti itu. Bermazhab Syafi'i wudunya juga full seperti itu. Karena itu sunah dalam mazhab Syafi'i. Cuma mungkin waktu diajar di pondok diajar yang minimal sah. Harusnya tahapan berikutnya yang bagaimana? Yang lebih apa sem sempurna. Bukan cuma yang diajarkan yang minimal sah saja. Karena kita itu kegiatan sehari-hari ya. Dan Rasulullah berkata di antara amal yang terbaik asbigul wudu. Sempurnakan wudu alal makari meskipun dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Dan di antara bentuk menyempurnakan wudu adalah wudu dengan menjalankan semua sunah sunah-sunahnya. Tiib yang kelima atau selanjutnya yang keenam mengusap kedua telinga dalam maupun luar dengan air yang baru. Jadi kalau kita sudah pakai kepala begini menurut mazhab Syafi'i jangan lanjut ke telinga. Jangan. Kita basahin lagi tangan baru pakai air yang baru. Caranya dengan sabbahatain atau musabbihatain di bagian dalam bagian luar pakai jempol. Jadi begini ini. Ini diputar begini ini juga di begini. Jadi jari ini masuk ke dalam untuk mengusap bagian dalam. Jari jempol untuk bagian apa? Luar dengan air yang baru. Air yang baru maksudnya kita basahin. Jadi jangan lanjutkan yang di kepala basahin. Ini khilaf. Apakah lanjut kepala ke telinga ataukah dengan air yang baru kita ikut mazhab Syafi'i. Kata mereka bimain jadid. Yaitu dengan air yang yang baru. Paham, Ibu-ibu? Kemudian yang berikutnya menyela jenggot-jenggot. Menyela-nyela jenggot yang lebat. Jenggot ada dua. Ada jenggot yang lebat, ada jenggot yang tipis. Ya, seperti saya ini entah ada jenggot atau tidak. Wallahualam. Ada tapi tipis. Nah, kalau jenggot seperti ini tipis, maka harus di sampai ke kulit. Jadi, ketika saya membasuh wajah, saya harus kena semua. Jadi, karena air masuk kena kulit. Tapi kalau jenggot lebat, maka tidak harus masukin air kena kulit. Cukup di luar sudah cukup begini. Misal jenggotnya lebat begini. Maka ketika dia mengusap wajah, dia cukup begini aja sampai sini. Karena jenggotnya tebal di sini. Jadi, adapun masukan jari ke dalam jenggot ini sunah. Bagi yang jenggot lebat. Jadi saya bilang jenggot ada berapa? Dua. Ada jenggot yang tipis, ada jenggot yang lebat. Ada jenggot yang khilaf berjenggot atau tidak. Tapi intinya bagi jenggot lebat tidak harus masukkan jari. Tidak harus. Tapi sunah masukkan apa jari kemudian di sela-sela sehingga air wudu yang di tangan mengenai kulit janggutnya, kulit dagunya. Tapi seandainya dia tidak masukkan jari, dia cuma mengusap wajah terus dia beginikan, sudah cukup. Tib. Kemudian takhlil asabi', menyela-nyela jari. Menyela-nyela jari. Yang ketujuh, menyela-menyela jari. Jari ada dua, ada jari tangan, ada jari ka kaki. Untuk jari tangan, maka caranya dengan begini. Tasbih kita tinggal begini aja. Ketika kita mau berwudu sebelah kanan, kita begini. Kita ngulu sebelah kiri, kita tinggal begini baru usap sebelah kiri sampai atas. Paham? Jadi kita begini. Kalau ketika saya mau cuci tangan kanan, saya tinggal ambil air, saya gini baru saya tarik. Kalau ketika saya menuju tangan kiri, saya tinggal gini terus saya tarik ke tangan kiri sampai si sunah. Tidak harus. Paham? Kalau kaki caranya sunahnya adalah dengan pakai khinsir, yaitu jari kelingking tangan kiri untuk menyela kaki. Jadi misalnya jari kaki saya salah begini pakai kelingking tangan apa? Kiri. Terus saya kaki kaki kiri juga demikian. Sunahnya demikian. Tidak menjela-jela juga tidak mengapa ya. Yang penting air kena selesai. Paham, Ibu-ibu? Ini ada kegiatan sedikit tapi kita benar-benar merasa sedang sedang berwudu. Dan kita tahu di antara keutamaan wudu kalau kita berwudu maka dosa-dosa akan berguguran. Seorang basuh wajahnya maka dosa-dosa matanya, dosa-dosa telinganya berguguran. Dia basuh kakinya, dosa-dosa langkah-langkahnya berguguran. Dia basuh tangannya, tangannya berguguran. Ngetik macam-macam, komentar macam-macam ini. Dia usah berguguran. Apalagi mata banyak. Dia berkumur-kumur, keluar dosa-dosa, omongannya yang macam-macam, berkurang dosa-dosanya. Jadi kita semangat berwudu. Kita sedang merasa beribadah ketika berwudu. Maka maka wudu wudu butuh sedikit merasa ibadah, konsentrasi berusaha kita merasa kita sedang beribadah. Bab yang berikutnya di antara sunah adalah mendahulukan kanan daripada kiri. Seandainya ada orang berwudu kiri dulu baru kanan. Sah atau tidak, Ibu-ibu? Saya ulangi, kalau ada orang berwudu kiri dulu baru kanan, sah atau tidak sah. Karena kanan dulu baru kiri hukumnya sun sunah. Kata Aisyah radhiallahu taala anha, Nabi sallallahu alaihi wasallam yjibuhuayamunu fianaulihi watarajulihi wafurihi wani kulli. Adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam lebih suka mendahulukan yang kanan dalam daripada yang kiri dalam menyisir rambut ee dalam pakai sendal dan dalam bersuci. Dan dalam segala urusan yang bisa didahulukan kanan, Nabi dahulukan kanan terlebih dahulu. Makanya Rasulullah kalau sisiran kanan dulu baru kiri. Rasulullah kalau cukur rambut kanan dulu baru apa? Kiri. Ketika menggundul Rasul Sallahu Alaihi Wasallam kalau pakai baju tentu kanan dulu baru apa? Kiri. Rasul sahu alaihi wasallam kalau mandi kanan dulu baru apa? Kiri. Rasulullah pakai sendal kanan dulu baru kiri. Rasulullah kalau berwudu kanan dulu baru kiri. Seandainya dibolak-balik tidak jadi masalah. Saya tanya sama ibu. Kalau orang berwudu, dia beru tiga kali. Kanan dulu, terus kiri. Kanan, kiri, kanan, kiri. Sah atau tidak? Sah. Enggak ada masalah. Cuma sunahnya enggak begitu. Sunahnya kanan tiga kali, baru kiri tiga kali. Paham, Ibu-ibu? Masyaallah sudah pada pintar sekarang. Masyaallah. Hati-hati para suami istrinya sudah pada pintar. Tayib. Sunah yang berikutnya adalah bersuci tiga kali. Tiga kali bersuci tiga tiga kali. tiga kali wajibnya berapa kali, Ibu-ibu? Sekali. Sunahnya sampai tiga tiga kali. Kecuali khilaf masalah mengusap kepala. Untuk mengusap kepala, jumhur ulama berpendapat mengusap kepala tidak disunahkan tiga kali, cukup sekali. Kenapa? Karena tidak dimaksud untuk mengenai basah-basahan. Beda dengan wajah. Kalau wajah memang membasuh sehingga kita berharap dengan yang kedua lebih sempurna, yang ketiga lebih sempurna. Tapi kalau mengusap kepala kan secukupnya. Yang penting basah tangan basah tidak diguyur maka sekali sudah cukup. Karenanya diriwayatkan dalam hadis Rasulull sallahu alaihi wasallam yang sahih hanya mengusap kepala cuma sekali. Tetapi mazhab Syafi'i berpendapat lain. Menurut mazhab Syafi'i datang dalam riwayat Rasulull sahu alaihi wasallam berwudu salatan salatan. Rasul sahu alaihi wasallam pernah berwudu marrotan marrotan. Rasul sahu alaihi wasallam pernah berwudu sekali-sekali semuanya. Rasul sahu alaihi wasallam juga pernah berwudu dua kali, dua kali semuanya. Dan Rasul sallallahu alaihi wasallam pernah berwudu tiga kali, tiga kali. Kata mereka ini umum mencakup mengusap kepala tiga kali. Makanya teman-teman kalau lagi berwudu saudara-saudara kita tiga kali ya. Itu mazhab Syafi'i ya. Yang wallahu alam y
Resume
Requeue
Categories