Transcript
LXgsVxPWpgw • Indonesia Diserang MSCI & Moody’s Gara-Gara BlackRock Belum Kebagian HIMBARA?!
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/AkelaTradingSystem/.shards/text-0001.zst#text/0302_LXgsVxPWpgw.txt
Kind: captions Language: id Sahabat Akela, bayangkan ini MSCI ancam downgrade. Moodis ubah Outlook jadi negatif. Foodsi Russel tunda review. Pasar goncang-ganjing. IHSG bergetar dan di tengah semuanya itu muncul tuduhan besar. Indonesia diserang katanya karena Black Rock belum kebagian saham bank plat merah atau Himbara. Kalau itu benar, maka ini bukan lagi soal pasar modal, ini perang finansial global. Yuk, kita bongkar tuntas. Sahabat Akelat, ternyata peringatan MSCI bahwa kemungkinan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market tidak saja memicu gelombang aksi jual di pasar modal. Namun pasca kejadian itu ada serentetan peristiwa heboh yang mengikutinya. Sebagaimana kita ketahui bersama, MSCI ini membekukan rebalancing index mereka untuk saham-saham Indonesia. Dan media mainstream langsung serempak mengumumkan hal ini pada hari Rabu tanggal 28 Januari 2026. Akela sudah membahas mengenai ini pada video MSCI membuka borok IHSG ilusi likuiditas. Sahabat Akela yang ketinggalan videonya bisa menyimaknya di link yang ini. Keesokan harinya, 29 Januari 2026, Goldman Sex dan UBS bersama-sama menurunkan peringkat saham Indonesia. Goldman memperkirakan situasi ini berpotensi membawa lebih dari 13 miliar dolar dana asing pergi dari pasar saham. Terutama jika MSCI menurunkan peringkat pasar Indonesia dari emerging ke Frontier Market dengan rincian 7,8 miliar dolar merupakan arus dana pasif dari indeks MSCI serta 5,6 miliar dolar jika FUTS Russell juga ikut mengubah metodologi perhitungan free fluit dan porsi saham Indonesia dalam indeks mereka. Sementara di sisi lain, UBS memangkas peringkat saham Indonesia menjadi neutral. Kami memperkirakan tekanan pada pasar akan terus berlangsung hingga ada kejelasan mengenai regulasi pasar saham Indonesia dan penilaian ulang dari MSI, ungkap analis UBS dalam riset mereka yang disampaikan pada hari Rabu, 29 Januari 2026 tersebut. Pada tanggal 30 Januari 2026 pada saat kejadian di Rut BEI Iman Rahman mengundurkan diri dan pengunduran dirinya ini ternyata disusul oleh sejumlah pejabat OJK. Ada Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK. Mirza Adityaswara, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK. Inarno Jayadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK dan IB Adityya Jayaantara, Deputi Komisioner Pengawas Emiten dan Transaksi Efek Ojk. Pada hari berikutnya, BI langsung membekukan 38 emiten Bursa Efek Indonesia guna menunjukkan komitmen bursa untuk melakukan pembenahan. Minggu depannya pada Kamis petang, 5 Februari 2026, lembaga pemeringkat Moodis rating menurunkan outlook credit rating Indonesia dari stable jadi negatif. Moodies rating hari itu mengubah outlook atas peringkat pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stable. serta menegaskan peringkat penerbit jangka panjang mata uang lokal dan mata uang asing pada BAE2. Peringkat utang senior tanpa jaminan jangka panjang mata uang lokal dan asing ditegaskan pada BAEA2 dan peringkat program medium termode atau MTN senior tanpa jaminan mata uang asing serta program sales senior tanpa jaminan juga ditegaskan pada BA2. Perubahan Outlook ini didorong oleh menurunnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan yang berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dan mengindikasikan pelemahan tata kelola. Jika tren ini berlanjut, maka hal tersebut dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbangun yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan. Oke, ada perbedaan mendasar antara peringatan downgrade MSCI dengan peringatan downgrade mudish. Kalau potensi downgrade MSCI saya sebutnya potensi karena memang belum di-downgrade. Ini baru warning-nya aja. Sementara keputusan benerannya itu nanti bulan Mei 2026. Semua media sudah mengumumkan ini sehingga mengetahui informasi potensi downgrade di bulan Mei. Jika pihak pemerintah dan OJK dan BI masih belum cukup serius berbenah diri, maka ada peluang downgrade ini benar-benar terlaksana. Dan saya sudah jelaskan di video sebelumnya, jika itu terjadi, BEI terlempar dari emerging markets dan masuk ke frontier market. Nah, sahabat Akela, saya enggak bahas MSCI lagi. Ancaman moodis ini jauh lebih serius dan risikonya jauh lebih besar ketimbang MSCI. Karena Mudis bukan menyoroti Bursa Efek Indonesia, melainkan kredit ratings alias surat utang pemerintah Indonesia. Mudis menurunkannya dari stable jadi negatif. Outlook dengan peringkat BA2 berarti masih dalam investment grade. Jika masih diowngrade lagi jadinya BAA3 level investment grade terendah. Jika itu masih dilawati maka credit ratings Indonesia terlempar keluar dari investment grade. Dan ini yang luar biasa mengerikan. Outflow dana asing yang keluar ini jauh lebih besar dibandingkan downgrade MSCI. Pada tanggal 9 Februari 2026 dalam rangka berbenah, BEI memanggil satu sekuritas Bursa Efek Indonesia terkait analisa mereka yang mengatakan suatu saham yang barusan IPO di bulan Desember 2025 pada waktu itu langsung melonjak 5.078% pasca IPO. di mana analis sekuritas sebelumnya pernah menyebutkan bahwa harga saham berpotensi melonjak 820% lagi setelah menyentuh harga Rp8.700 per lembarnya. Hal itu didorong oleh peluang masuknya emiten tersebut, emiten sarang burung wallet itu ke indeks MSCI Indonesia kategori big cap. Kemudian pada tanggal 10 Februari 2026, Foodsi Russell mengumumkan untuk menunda indeks review saham Indonesia. Penyedia indeks saham global Foodsi Russell memutuskan menunda pelaksanaan indeks review Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026. Penan dilakukan seiring dengan proses reformasi pasar modal yang tengah berjalan di Indonesia. Berdasarkan masukan dari external advisory committees Foodsi Russell, terdapat potensi peningkatan turnover serta ketidakpastian dalam penentuan persentase free float saham di tengah implementasi rencana reformasi pasar modal Indonesia. Atas dasar itu, Foodsi Russell memutuskan untuk menunda indeks review Maret 2026 sesuai dengan aturan exceptional market disruption dalam kebijakan indeksnya. Futs Russell menyatakan akan terus memantau perkembangan implementasi reformasi pasar modal Indonesia. Pembaruan selanjutnya akan disampaikan menjelang pengumuman FUTS Global Equity Index Series atau GIS untuk kuartalan Juni 2026 yang dijadwalkan pada Jumat, 22 Mei 2026. Oke, saat ini ada narasi yang mengatakan Indonesia diserang alias dikeroyok ramai-ramai oleh lembaga riset penyedia indeks dan lembaga pemeringkat global. Ada MSCI, ada Goldman Sex, ada UBS, ada Moodies, ada Futs Russell. Kenapa kok pada keroyokan nyerang bareng-bareng katanya gitu? Kemudian di YouTube channel Akela ini ada yang nanya begini, "Koach, ngomong-ngomong teori konspirasi kemarin pas bahas MSCI eh ada influencer saham cukup terkenal juga menduga yang MSI lakukan ada behind the hand, teori konspirasi. Bahkan ada influencer yang menduga juga bahwa Black Rock belum kejatah saham blue chip bank plat merah Konoha. Makanya MSCI begitu biar Black Rock bisa nyerok. Oke, berarti pertanyaannya satu, MSCI sengaja menyerang Bursa Efek Indonesia karena Black Rock belum kebagian jatah saham Blue chip Bank Plat Merah Indonesia sehingga MSCI sengaja bikin IHSG crash supaya Black Rock dapat kesempatan nyerok gitu kan ya. Yang kedua dalam kaitannya dengan yang pertama ada lagi narasi yang mengatakan bahwa pemilik MSCI dan pemilik The Fed itu sama yakni Vanguard, Black Rock, State Street. Di mana pemilik Vanguard, Black Rock dan State Street adalah para elit global termasuk mungkin yang dimaksud adalah Rosil Family walaupun tidak disebutkan ini Rosil Family. Baik, dalam video ini ayo kita bahas satu-satu ya. Dalam semua dugaan akan tindakan jahat, pertanyaan paling mendasar selalu adalah niat jahat alias mens rea motif di balik tindakan jahat tersebut. Dalam hal ini sudah dijelaskan bahwa dugaan mensrea MSCI adalah karena Black Rock belum kebagian jatah bank-bank plat merah Konoha. By the way, yang dimaksud Konoha ini maksudnya Indonesia ya. Ini perlu jelas dulu nih. Karena kan yang kita bicarakan ini konteksnya potensi downgrade MSCI terhadap saham-saham Indonesia. Oke, pertanyaannya apakah benar data menunjukkan bahwa Black Rock belum kebagian jatah saham-saham Bank Plat Merah Indonesia seperti BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, dan Kendati Bank Swasta. Saya rasa BBCA juga perlu dimasukkan juga. Nah, kalau ini sih ngeceknya itu super duper gampang. Sebelumnya saya jelaskan dulu Black Rock ini. Black Rock adalah perusahaan manajemen aset atau aset manajemen asal Amerika Serikat yang berdiri pada tanggal 1 Mei 1998. Awalnya merupakan anak perusahaan dari The Blackstone Group. Kemudian pada tahun 1994 spin off dan berdiri sebagai perusahaan aset management manajemen investasi yang independen. Black Rock mengelola dana investasi triliunan dolar atas nama klien mereka seperti dana pensiun ee reksadana dan institusi keuangan. Mereka bukanlah pemilik uang tersebut. saya garis bawahi mereka bukan pemilik dana tersebut melainkan mereka adalah pengelola yang menginvestasikan dana klien mereka ke saham obligasi dan ETF seperti Black Rock adalah perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di New York Shock Exchange dengan tiker BLK dalam video sebelumnya berjudul MSCI membongkar borok IHSG ilusi likuiditas. Saya sudah menjelaskan bahwa setahun setelah krisis Suprem Mortgage 2008, Black Rock melalui divisi Ishares meluncurkan sebuah ETF saham Indonesia yaitu Ishares MSCI Indonesia ETF tikernya Eido. ETF ini dirancang untuk melacak atau tracking kinerja MSCI Indonesia Index dengan membeli saham-saham Indonesia sesuai dengan komposisi dan bobot yang ditentukan oleh MSCI. Artinya Eido tidak memilih saham secara aktif melainkan dia mengikuti struktur indeks MSCI secara pasif. Copy paste. plek ketiplek. Dengan demikian apabila terjadi perubahan komposisi atau bobot dalam MSCI Indonesia Index, maka Edo akan menyesuaikan portofolionya secara otomatis sesuai indeks tersebut. Karena itu jika disebutkan bahwa Black Rock tidak kebagian saham bank plat merah Indonesia, maka berarti di dalam MSCI Indonesia Index juga tidak ada bank-bank plat merah Indonesia. Karena isi MSCI Indonesia index itu 100% copy paste sama plek ketiplek dengan isi portfolionya Edo. Jadi yang benar yang mana nih? si influencer yang benar Black Rock tidak kebagian saham Himbara atau data saya dalam video sebelumnya yang salah bahwa ternyata isi portfolio Black Rock Isares MSI Indonesia ETF alias ADO ternyata tidak plek ketiplek dengan MSCI Indonesia Index. Black Rock ternyata memang enggak kebagian saham Bank Himbara. Oke. Menurut sahabat Akela, gimana? Anda lebih percaya omongan narasi atau seperti prinsip saya yang selalu saya tekankan di channel ini, jangan pernah dengarin narasi apalagi yang disuarakan influencer di sosm. Tapi periksa data langsung ke sumbernya. Tulis di kolom komentar ya. Anda pilih opsi satu percaya narasi influencer atau Anda cari data ke sumbernya langsung. Ketik di kolom komentar. Nah, gimana cara cari datanya? Oke, step satu. Silakan buka browser internet Anda dan masuk ke website resmi BlackRock www.blackrock.com/us/individual/products blackrock.com/us/individual/products dan cari isares MSCI Indonesia ETF. Alamat website lengkapnya ada di bawah sini. Linknya juga saya berikan di deskripsi atau Anda juga bisa googling dengan keywords Black Rock Aido. Step two. Di halaman depan muncul tampilan seperti ini. Dan untuk lihat isi jeroannya Eido, klik holdings. Step three muncul tampilan kayak gini. Dan supaya gampang, Anda klik ticker biar urut abjat. Jadi lebih gampang nyarinya. Step 4, klik page two, page 2, maka Anda akan ketemu ada BBCA, ada BBNI, ada BBRI, ada BBTN, dan ada BMRI juga. Oke, mau bukti lagi gini. Sekarang di bagian paling atas klik F sheet dan buka PDF-nya. Anda kalau ujian WPPE, maka itu nanti pasti akan disuruh baca FIT, maka akan tampil seperti ini contohnya. Langsung scroll down, maka Anda akan temukan top holdings atau komposisi terbesar portfolio Edo itu isinya apa aja. Maka Anda akan lihat top holdings-nya Edo ada BBCA, ada BBRI, BMRI, dan BNI. Bukan hanya ada, tapi malah komposisi terbesarnya adalah isinya Bang Himbara. Sebelum ada yang nanya, "Bang, ini website saya coba buka kok keluarnya internet positif khusus bagi yang enggak bisa akses website resmi Black Rock karena internet positif, maka silakan masuk ke website Yahoo Finance. Linknya juga saya berikan di deskripsi, enggak usah khawatir. Pada kotak pencari masukkan tiker dan Anda akan dapatkan tampilan seperti ini. Lagi-lagi klik holdings, maka Anda akan temukan tampilan yang sama persis. Jadi terbukti bahwa komposisi terbesarnya Edo yang punyanya Black Rock itu tadi itu justru Bang Himbara. Nah, jadi mau dengerin narasi teori konspirasi atau mau berdasarkan data dan fakta solum sekundum data veritas hanya berdasarkan data dan fakta. Teori konspirasi itu, sahabat Akela, itu isinya emosional. Itu efektif untuk bikin Anda emosi. Yang nonton ni jadi emosional karena itu cepat viral. Sebaliknya menggali data dan fakta itu rasional, enggak pakai emosi. Karena itu dia pelan. Anda tahu enggak musuh terbesar trader maupun investor adalah apa? Jawabnya adalah emosi kita sendiri. Oleh sebab itu, untuk kesekian kalinya saya bilang jangan kecanduan teori konspirasi. Itu tidak bikin Anda tambah pintar. Justru itu membuat rasio Anda tertutup oleh emosi. Anda tidak lagi mengandalkan logika. Lantas kalau bukan black rock, ngapain tuh MSCI? Kok downgrade downgrade saham Indonesia? Bikin investor global jadi panic selling dan crash dong nih market jadinya. Kalau bukan niat ngancurin buat apa coba? Oke, sampai saat ini saya kasih Anda dua pilihan. Anda mau calm down and start learning how to use your logic atau anda mau get emotion and become illogical. Anda tahu enggak MSCI, Goldman Sex, Foodsi Russell, SNP, Moodis and Fech? Ini sebenarnya mereka nih bisnisnya apa sih? Mereka ini enggak kelola dana, mereka bukan investor, enggak invest, tapi kerjanya riset, melulu. Terus mereka dapat duitnya dari mana dong? Oke, buat ngejelasin bisnis lembaga riset penyedia indeks dan lembaga rating, saya kasih Anda analogi. Misalnya gini, Anda lagi pengin ganti HP baru dan pengin nyari HP flagship yang kameranya keren habis deh. Pokoknya ada pilihan iPhone 17 Pro Max harganya hampir Rp25 juta atau Samsung S25 Ultra ini enggak sampai Rp juta dan udah dapat storage 1 TB lagi. Atau Xiaomi 17 Ultra. Wah, ini malah harganya paling mahal Rp28 juta karena pakai kamera Leka. Oke, pilih yang mana? Biasanya Anda langsung cek di YouTube mulai dari GajTin contohnya entar Anda langsung disapa, "Halo, Guys, David di sini dan seterusnya dan seterusnya gitu kan. Nah, atau Anda kunjungi channel Jagat Review atau reviewer-reviewer lainnya. Di akhir review mereka biasanya kasih skor five star out of five, 9.5 out of 10 dan seterusnya dan seterusnya. Dari situ Anda bisa mengambil keputusan yang tepat sebelum membeli. Nah, pertanyaan saya, bagaimana kalau Anda ini adalah seorang fan manager yang bekerja di sebuah perusahaan aset management? Anda ditugasi bos Anda untuk memutuskan porsi investasi di saham-saham berbagai sektor di berbagai negara. Bagaimana kalau bukan saham melainkan surat utang negara atau obligasi pemerintah? Kira-kira nih Anda bakal butuh legitimasi, Anda bakal butuh review enggak? Nah, ketika divisi ISAAR Black Rock meluncurkan EDO, mereka memutuskan komposisi saham mereka harus plek ketiplek dengan MSCI Indonesia Index. Dan untuk itu Black Rock membayar biaya lisensi kepada MSCI. Karena itu menggunakan indeks MSCI Indonesia sebagai benchmark, maka otomatis Black Rock memang selayaknya dan sepantasnya bayar fee lisensi indeks kepada MSCI agar boleh menggunakan nama dan data indeks MSCI dalam produk ETF-nya. Struktur ini umum di industri ETF. Lazim manajer investasi membayar pemilih indeks untuk boleh memakai indeksnya dalam ETF mereka. Nah, itu tadi MSCI. Kalau mudis gimana? Mereka kan melakukan penilaian terhadap peringkat surat utang negara. Kalau David Gazetin itu pakai skor 10 out of 10, 4.5 out of 5. Kalau moodis itu kasih rating seperti triple A, double A plus, baa 1, baa2, baa 3 dan seterusnya dan seterusnya. Gadgetin dibayar sama YouTube atau mungkin juga ada produsen yang minta gadgetin nge-review ya. Nah, pertanyaannya kalau moodis corps mereka ini dibayar oleh siapa? Jawabannya dalam model industri rating global pihak yang dinilai oleh mudhis yakni penerbit obligasi merekalah yang membayar biaya jasa pemeringkatan. Untuk soverein, soverein bonds itu berarti pemerintah negara yang menerbitkan surat utang termasuk Indonesia yang bayar kepada jasa pemeringkatan. Kaget ya? Wah, sudah bayar kok malah bisa di-downgrade. Pemerintah kita berarti dikadalin dong. Enggak. Ve yang dibayarkan kepada moodis investor service adalah biaya jasa analisis dan pemantauan kredit bukan biaya untuk membeli hasil rating. Jadi jika ada yang bilang Indonesia diserang oleh MSCI dan Mudis, masuk akal enggak sih pemerintah kita bayar fee ke Mudish untuk menyerang dirinya sendiri? Aneh ya? Nah, kenapa bisa terjadi begitu? Analogi sederhananya tuh begini. Gini, misalkan ada di antara Anda yang pengin jadi pilot dan sebagai salah satu persyaratannya, Anda mesti medical check up. Nah, pertanyaan saya yang bayar medical check up ke laboratorium siapa? Anda kan? Tapi kan bukan berarti ketika sudah bayar terus kemudian Anda bilang hasilnya harus bagus loh ya. Kalau kolesterol tinggi lu bikin rendah, bikin bagus pokoknya hasilnya. Justru kalau lab tuh bisa dibeli kayak begitu, maka reputasinya hancur. Besok pagi itu enggak ada yang mau ke lab itu lagi. Begitu juga dengan lembaga rating. Aset utama mereka itu adalah kredibilitas. Kalau rating bisa disesuaikan karena tekanan atau pembayaran, investor global akan mengabaikannya dan bisnis mereka selesai. Clar. Lalu pertanyaan berikutnya, kalau ujung-ujungnya bisa di-downgrade, ngapain pemerintah Indonesia tetap bayar dan pakai mood? Kenapa kok enggak analisa sendiri aja dan keluarkan rating sendiri? Karena rating sovereign itu bukan untuk pemerintahnya sendiri. Pemerintah bayar itu bukan untuk dirinya sendiri, tapi rating itu untuk menunjukkan kepada investor global banyak dana pensiun, soverein well fund, dan aset manager dunia hanya boleh membeli obligasi dengan rating minimum tertentu. Dengan kata lain, investment grade tanpa rating dari lembaga internasional seperti moodis, SNP atau FIT, maka akses ke pasar obligasi global itu bisa menyempit atau bahkan hilang sama sekali. Dan biaya utang atau bunganya ini bisa jadi jauh lebih mahal. Jadi rating itu adalah rapor untuk ditunjukkan kepada investor global sekaligus paspor untuk masuk ke pasar modal global. Dan downgrade itu bukan hukuman, itu sinyal risiko yang dinilai meningkat. Samalah kayak begini, Anda habis ke lab terus kemudian keluar hasil medical checkup itu keluar tanda bintangnya banyak. Artinya apa? risiko kesehatan, risiko medis itu meningkat, kita mesti segera merubah lifestyle kita. Oh, sekarang makannya mesti diatur, enggak boleh sembarangan. Kemudian, exercise regularly, harus olahraga yang teratur tiap hari. Mesti ada aerobik, mesti ada kardio, mesti ada latihan beban dan sebagainya dan sebagainya. Di dunia sovereign credit kita mengenal tiga besar, yakni ada Moodis, SNP, and FIT. Dan secara praktik pada umumnya pemerintah yang menerbitkan obligasi internasional termasuk pemerintah Indonesia itulah yang membayar biaya pemeringkatan kepada masing-masing lembaga rating yang mereka gunakan termasuk moodist investor service, SNP Global Ratings, dan FIT Ratings. Kemudian ada narasi begini. Presiden Donald Trump, Presiden Amerika, negara super power, negara nuklir tidak bisa kendalikan The FE. The FET ini milik siapa? Semua pemilik The FET itu dimiliki oleh State Street, Vanguard, dan Black Rock. di mana State Street Funcard Black Rock dimiliki oleh para elite global termasuk Roshield, Illuminati, Freemations. Saya sudah jelaskan perihal ini mulai dari awal channel ini berdiri. Makanya supaya enggak tersesat begini, pastikan diri Anda sudah subscribe di channel Akela. Bagi yang belum, klik tombol subscribe, like, dan kalau sudah share ke para influencer yang suka nyebarin penyesatan-penyesatan kayak gini. Kasihan kan? Biar mereka tuh bisa sedikit tercerahkan gitu loh. Jangan sesaat aja terus. Jangan lupa ingatin mereka supaya aktifkan tombol alert-nya juga biar YouTube ngasih notifikasi setiap kali Akela mengunggah video-video baru. Oke, satu-satu. Trump tidak bisa kendalikan def karena memang sudah ada undang-undangnya sejak lama begitu. Nama undang-undangnya adalah Federal Reserve Actun 1913. Detailnya sudah saya jelaskan dalam video berjudul membongkar Dark Secret the Fat Elite Global. Silakan disimak. By the way, jangankan kendalikan The Fat, coba suruh Trump kendalikan SNP mood and fit bisa enggak? Enggak bisa kan? Buktinya apa? Pada bulan Mei 2025 kredit rating Amerika itu juga diowngrade dan Trump ngamuk-ngamuk gara-gara downgrade. Tapi emangnya dia bisa apa? Nah, mengenai siapa elit global pemilik State Street, Fang Guardard, dan Black Rock ini juga sudah pernah saya jelaskan dalam video berjudul Mereka Memiliki Segalanya. Silakan disimak ya, linknya saya berikan di deskripsi juga. Nah, sahabat Akela yang saya kasihi, semoga video ini mampu menjernihkan pikiran Anda dari sampah-sampah internet seperti teori konspirasi, hoa yang diluncurkan para influencer dan khusus bagi subscribers channel ini, saya juga punya berita baik buat Anda khususnya yang ingin konsultasi mengenai trading ataupun investasinya, baik itu di saham-saham Bursa Efek Indonesia, saham-saham Bursa Amerika, berbagai komoditas seperti gold, crude oil ataupun forex sehingga Bitcoin dan aset crypto lainnya. Silakan join Akela live streaming setiap Kamis petang pukul 19.30 WIB. Dalam acara ini saya Harisanda beserta Bapak Hendra Martono Lim, pencipta timu quantitative Trading System yang kami pakai di Akela. Kami akan hadir untuk melayani Anda. Semoga bermanfaat semuanya. Sukses selalu dan sampai jumpa pada video-video yang akan datang.