Kitab Al-Adab Al-Mufrad #55: Mendengarkan Perbuatan Keji & Menyebarkannya - Ust Dr. Firanda Andirja
-sTeevmHE84 • 2025-06-13
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrul lahu ala taufiqihin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarika lahu takziman lisan wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala kita lanjutkan pembahasan kita dari kitab al-adabul mufrad babu man sami bifahisyatin faafsyaha Bab tentang seorang yang mendengar tentang perbuatan keji ya. Kemudian dia sebarkan ee kejadian tersebut ya ada perbuatan yang buruk, zina dan yang semisalnya. Kemudian dia ikut menyebarkan ee perbuatan tersebut. dia sebarkan, dia ceritakan bagaimana hukumnya ya. Ee di sini hukumnya adalah tercela ya. Karena dengan menyebarkan berita-berita terjadi perzinahan di sana, perzinaan di sini, si Fulanah telah melakukan ini, si fulan telah melakukan demikian. Maka ini mengesankan masyarakat buruk dan juga menjadikan sebagian orang tergerak untuk melakukan atau menganggap biasa atau akhirnya cari-cari kabar tentang hal tersebut sehingga akhirnya melihat hal-hal yang tidak senonoh dan terjerumus dalam banyak hal-hal yang buruk. Ya, oleh karena seorang tidak semua yang dia tahu dia ikut sebarkan. Al Imam Bukhari berkata, "Qala hadasana Muhammad, qala hadasana Muhammad bin Mutsanna." Qana Wahab bin Jarir Q hadana Abi Q Yahya bin Ayyub an Yazid bin Abi Habib an Marsad bin Abdillah an Hasan bin Quraib an Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Qala Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu. Ini asar dari Ali bin Abi Thalib. Beliau berkata, "Alqalil alqail alfahisyah walladzi ee yusyiu biha. yaitu siapa yang pertama kali menceritakan tentang perkataan keji atau perbuatan keji kemudian yang menyebarkannya maka keduanya dosanya sama. Maka keduanya dosanya sama ya. Atau bisa jadi yang dimaksud alqail alqail fahisyah mungkin yang melakukan alfahisyah ya. Ada yang menafsirkan maksudnya yang pertama kali sebutkan yang pertama kali menuduh misalnya itu rumah ada wanita pezina di situ atau lelaki itu pezina. Kemudian ada yang mendengar, ada yang mendengar kemudian menyebarkan, maka penuduh maupun yang menyebarkan ee dosanya sama meskipun dia bukan pertama kali me menyampaikan atau melihat perbuatan tersebut. Ya, demikian juga dalam riwayat yang lain, Al Imam Bukhari berkata, qala haddasana Muhammad Qadana Bisyr bin Muhammad qala haddasana Abdullah qala haddasana Ismail bin Abi Khalid an Syubail bin Auf qala kana yuqal. Dari Syubail bin Auf dari salaf berkata, "Man sami bifahyatin fahaha." Siapa yang mendengar tentang suatu perbuatan keji, lantas dia menyebarkannya, fahua fiha kalladzi abdaha, maka dia sama seperti orang yang pertama kali menyebarkan. Seorang melihat perbuatan keji kemudian dia sampaikan akhirnya yang lain ikut menyebarkan. Maka ini hukumnya hukumnya sama ya. Seharusnya kalau kita melihat perbuatan keji, kita nasihati atau kita laporkan kepada pihak yang berwenang. Adapun kita bikin isu kemudian tersebar ke mana-mana, ada dampaknya. Dampaknya yaitu bahwasanya masyarakat terbiasa dengan hal tersebut. Seperti yang terjadi kita lihat sekarang berita zina sana, berita zina. Jadi biasa nanti ada yang ber biasa sudah biasa memang itu sudah hal biasa. Jadi orang yang melakukannya menganggap itu hal biasa. Orang yang tidak melakukannya mungkin tergerak juga untuk melaku melakukannya. Toh biasa-biasa aja. Dan kemudian akhirnya orang yang seperti zaman sekarang mencari tahu akhirnya melihat hal-hal yang yang buruk. Pengin tahu beritanya akhirnya melihat hal-hal yang yang buruk sehingga terjerumus dalam banyak hal. sampai terkadang ya misalnya seorang ya seorang dai misalnya seorang dai kemudian dia punya teman dekat misalnya teman dekat misalnya artislah yang masih bermaksiat misalnya atau yang sudah tobat atau intinya kemudian dia publish bahwasanya teman saya si fulan atau si fulana akhirnya Kan audiens pada pengin tahu si fulan siapa kan. Akhirnya kan masuk ke internet lihat ini, lihat gini, lihat gini. Akhirnya banyak yang dilihat. Akhirnya seharusnya seperti tidak usah di tidak usah di-publish. Ya udah kalau kau ingin dakwahi dia dakwahi diam-diam aja. Gak usah di dipublish. Akhirnya ketika dia publish orang pada lihat artis tersebut. Ya, bisa jadi dalam berpakaian yang tidak senono pengin tahu siapa dia, bagaimana ceritanya. akhirnya tersibukkan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat. Kalau ingin berdakwah seperti hal tersebut ditimbang maslahat dan mudarat tidak perlu di publish ya. Karena itu terkadang mendatangkan kemudaratan. Nanti kalau dilihat sama misalnya akhwat-akhwat yang baru ngaji, akhirnya terpesona melihat artis tersebut. Oh, masyaallah begini ya. Akhirnya pengin seperti itu ya. Akhirnya mulai sebagian afwad buka cadar misalnya sudah pakai cadar sudah bagus dia buka gara-gara oh ada ternyata terpesona dengan sosok yang baru yang seharusnya tidak usah di-publish. Seharusnya tidak usah dipublish. Kita kalau mau dakwahi dakwahi antara kita dengan dia tidak harus kita publish. Ini maksud saya di antara dampak ketika ada berita keburukan tentang hal-hal maksiat kemudian kita sebarkan dengan mudah orang pada ngeklik dan pengin apa? Pengin lihat dan akhirnya melihat hal yang tidak baik. Kemudian juga jadi hal yang terbiasa. Akhirnya menjadi orang tidak lagi ya menanggap ini suatu hal yang besar karena sudah ya di mana-mana orang melakukan. Itu di antara dampak suka menyebarkan hal-hal seperti ini. Maka Rasulullah apa? Maka para salaf dulu melarang ya. Di antaranya tadi perkataan Ali bin Abi Thalib ya. Siapa yang pertama kali menyebarkan dengan orang ikut-ikut men-share hukumnya dalam dosa sa? Kalau ada seperti itu kita tutup, kita nasihati. Harusnya demikian. Demikian juga ee Imam Bukhari membawakan riwayat dari para salaf sekarang dari Atha ya, seorang tabiin. Al Imam Bukhari berkata, "Qala hadasana Muhammad qala hadasana Qubaisah atau Qabisah. Qala hadasana Hajjaj an ibni Jurij an atha annahu kana yar anakal ala man asyaazzina yaquulu asyaal fahisyah." Menurut Atha bahwasanya orang yang menyebarkan berita tentang perzinahan ya maka hendaknya diberi hukuman. Diberi hukuman. Kenapa? karena dia telah menyebarkan perbuatan keji. Karena dengan menyebarkan berita seperti ini bisa jadi membuat orang terprovokasi untuk melakukannya. Tergerak hatinya untuk melakukannya. Beda kalau ada yang dirajam, dihadiri, ya ini menjadi efek jerah. Tapi kalau cuma sebarin, sebarin, sebarin akhirnya orang kan wah biasa. Oh. Oh, cuma segitu bayarannya. Ah, saya juga bisa. Saya kira mahal, ternyata murah. Akhirnya kan macam-macam orang berpikir, "Ah, ceweknya cuma gitu aja kirain cantik." Akhirnya melihat yang harusnya tidak dia lihat. Oh, ternyata akhirnya seuzun kepada seluruh misalnya seluruh orang semuanya kayak begitu. Akhirnya berbagai macam hal yang muncul gara-gara menyebarkan berita-berita seperti ini. Dan akhirnya yang lihat juga ada anak-anak. Anak-anak melihat hal-hal seperti itu. Ya, ini ya musibah di zaman sekarang perbuatan keji ya banyak tersebar ya. orang sampai kemudian ya dia sebar sendiri, dia melakukan perzinahan, dia shoting sendiri, dia sebar sendiri. Ini anak-anak nonton, anak-anak dewasa sebelum waktunya. Anak-anak tumbuh tidak tidak normal. Anak-anak pegang HP nonton yang tidak-tidak sehingga tersebar sekarang macam-macam. Oleh karenanya ya di oleh kita waspada ya dijauhkan anak-anak dari hal-hal tersebut. Jang saya mereka melihat hal yang nalar mereka belum bisa siap untuk melihat hal tersebut. Rusak kasihan. Sebagian ulama menafsirkan firman Allah dalam surat Annur ayat 58. Ya ayyuhalladzina amanu liastainkumulladina malakat aimanukum walladina lam yabluluma minkum marat. Wahai orang beriman, ya hendaknya ee orang-orang para budak kalian dan juga anak-anak yang belum dewasa minta izin kepada kalian, yaitu pada dokter tertentu. Meskipun mereka belum balik, kalau mereka mau masuk harus minta izin. Ya minqob shatil fajri wabakumir salat isya itu tiga waktu sebelum salat subuh. Kalau mereka masuk harus minta izin meskipun orang tua sendiri. Ya, tatkala tidur siang ya kemudian mimba di salat isya. Setelah salat Isya kalau masuk meskipun mereka masih kecil hendaknya diajarin untuk minta minta izin. Sebenar mengatakan ya khawatir kalau mereka tidak minta izin mata mereka melihat sesuatu yang tidak pantas untuk dilihat karena mereka masih apa? Kecil khawatir termasuk bapak ibunya lagi melakukan sesuatu atau lagi berbusana yang tidak pantas. Kemudian anak kecil ini ngelihat sehingga dia masih kecil dia kemudian punya nalar sendiri yang tidak belum waktunya dan ini punya pengaruh kepada mereka nanti dalam pertumbuhan mereka ini sekarang bebas ya dengan adanya internet dengan sudahlah kita sudah mau bilang apa lagi ya adab Islam di dilanggar dengan pelanggaran se sebebas-bebasnya akhirnya anak-anak melihat yang tidak pantas bagaimana psikologi mereka di kemudian hari. Ya, kasihan anak-anak ya. Ini di antara dampak menyebarkan perbuatan-perbuatan keji ya. Maka seorang waspada tidak semua berita kemudian kita ee sebarkan. Kemudian bab berikutnya karena kemarin saya sempat di ada yang mengeluhkan, "Ustaz, ada teman-teman dulu di kampung masyaallah mereka sudah mondok dan mereka sudah sampai pada tahapan bercadar. Kemudian mereka sekolah di Jakarta mereka menghadiri sebagian pengajian malah buka cadar. Karena sudah mulai glamor, sudah mulai terkait dengan artis-artis. sehingga jadilah mereka kemudian menjadi apa? follower artis-artis tersebut. Kemudian mereka mulai ikuti kegiatan artis tersebut. Kenapa diikut follower? Karena artis tersebut ngaji. Misalnya saya bilang ini oke ada artis ngaji kita dakwahi tapi gak usah diapa di publish. Akhirnya anak-anak ikut follower. Kalau follower apa kegiatan artis itu kan ketahuan artis itu belum tentu belum tentu belum tentu istikamah dalam segala hal. Mungkin pas ngaji pakai jilbab, pas keluar ngaji buka apa? Jilbab. Atau mungkin masih main film, masih buka aurat. Akhirnya anak-anak santri-santriwati ini kemudian ya sudah sehingga akhirnya dipalingkan dari harusnya ngaji pikir akhirat malah mikir apa? Duniawi. Maka seorang dai ketika dia mendakwahi orang-orang yang belum istikamah benar ya antara dia dengan orang tersebut tidak perlu dia publish. Ya memang jadi heboh. Jadi heboh itu artis jadi heboh, dainnya juga jadi heboh. Cuma ada dampaknya. Dampaknya tadi ya. Ya, mungkin maksudnya baik tapi dampak. Kemarin saya baru di telepon sama seorang ikhwan, saya juga waduh ini salah ngaji kalau begini ya. Harusnya malu malah malunya mulai semakin apa? Hilang ya. Ya, karena kalau tontonannya artis-artis ya seperti itu ya. yang selalu memerkan kecantikan, glamur hidupnya, serba branded barang-barang yang dia pakai, kemudian followers-nya santriwati, ya sudah jadi. Akhirnya ya mereka melihat hal yang seperti itu. Ayo lama-lama cadar dibuka. Kalaupun cadar enggak dibuka, pikirannya duniawi. Maknya duniawi. Yang tadinya di kampung hidup sederhana ngelihat kehidupan artis yang gelam sudah sayang. Maksud saya ini dampak follower atau ngeklik ini maksudnya kita jangan sampai menjadi sebab akhirnya orang mengklik melihat yang tidak pantas untuk dilihat. Kalau ada kabar berita di satu daerah terjadi perzinaan ya sudah kita sembunyikan gak usah kita kalau mau nasihat nasihati. Tapi kita ikut sebarin ikut sebarin. Akhirnya orang lihat oh begini oh begini oh begini. Banyak yang terjadi. Akhirnya orang punya ide melakukan oh ternyata biasa. Kita dengar berita yang aneh-aneh, jangan disebarin. Kalau disebarin nanti anak-anak misalnya hal yang buruk dilakukan oleh anak-anak yang anak-anak tidak pernah terpikirkan. Kemudian dapat berita tersebut, oh ternyata sudah dilakukan oleh sekelompok orang. Ya, kita lakukan gak apa-apa juga mereka sudah ada yang pernah lakukan. Beda ketika ada yang di penguasa misalnya menangkap sebag orang bezina kemudian dirajam. Allah suruh saksikan walihadabahum thatum minal mukminin kata Allah maka cambuk mereka hukum mereka dan hendaknya disaksikan oleh sekelompok kaum mukminin maka untuk memberikan efek jeraha adapun cuma berita sana berita sini berita sana berita sini akhirnya jadi hal yang yang biasa kita masuk bab berikutnya babul ayyab bab orang yang suka mencela al Imam Bukhari berkata, Q hadana Abdullah bin Muhammad Q hadana Sufyan an Imran bin Dubyan an Abi eh Tihya Hukaim bin Sa'ad qala samu Alian yaquul Ali bin Abi Thalib radhiallahu berkata la takunu ujulan madi buzaran fainna min warikum balaan mubarhan muklahan wa umuran mutamahilah ridhan Iya. Ali bin Abi Thalib ee berkata, radhiallahu taala anhu semoga Allah meridainya. Janganlah kalian menjadi ujulan. Ujulan itu orang yang terburu-buru, tergesa-gesa. Tidak, tidak dipikirkan terlebih dahulu. Ya, tergesa-gesa. Jangan. Jadi orang tuh pelan-pelan dipikir yang terlebih dahulu dipertimbangkan baru dieksekusi. Madi yaitu menyebarkan apa sedikit didengar disebarkan apa yang sampai disebarin. Ember kalau bahasa apa bahasa kita ya? Ember corong ya. Apa? Dengar enggak difilter, enggak dipikirkan langsung apa disembarin. Kemudian budzan, yaitu menanam ya menanam fitnah ya. Menanam fitnah maksudnya dia yang menanam, dia yang mengobarkan fitnah sehingga terjadi fitnah di kalangan masyarakat. Fainna min warikum balaan. mubarhan muklahan wa umuran mutamahilah ridhan. Maknanya yaitu secara sederhana. Karena di balik akan datang setelah ini suatu bencana atau musibah yang berat dan berkepanjangan. Yang berat dan berkepanjangan. Tib di sini Al Imam Bukhari mendatangkan bab namanya beliau judul dengan berjud judul dengan babul ayyab. yaitu beliau memberi peringatan seorang hendaknya jangan suka ee mencela, jangan terburu-buru ya, jangan terburu-buru. Di antara hal yang menyebabkan seorang mudah mencela, di antaranya terburu-buru menghukum seseorang sehingga akhirnya dia mudah untuk mencela. Tidak dia pertimbangan terlebih dahulu. Di antara sebab juga seorang muda untuk mencela dia madayi' suka nyebarin. Ada celaan dia ikut sebarin dia ikut sehingga dia hukumnya sama seperti pencela. Maka seorang jangan terburu-buru. Semuanya dipertimbangkan. Kemudian jangan jadi corong kalau ada suatu berita difilter terlebih terlebih dahulu. Secara umum sifat terburu-buru tidak ee tidak baik ya. Seorang menghadapi sesuatu dipertimbangkan dulu. Tidak semua harus dia ucapkan, tidak harus dia semua komentari, tidak semua harus dia posting, tidak semua harus dia publish. Ya, seperti sekarang ada orang terburu-buru, ada masalah tertentu terburu-buru dalam berfatwa. Langsung berfatwa, langsung berfatwa. Ada masalah tertentu dia pengin segera tampil terlebih dahulu. Sekarang di medsos ya seperti itu ada masalah langsung ngomong masalah besar, masalah peperangan, masalah penutupan darah. Dia mau dia ngomong. Pokoknya dia harus punya komentar. Padahal kalau pertanyaan tersebut ditanyakan kepada lajnah daima di Arab Saudi, mereka harus duduk mungkin kumpul sekian puluh orang harus rapat mungkin berminggu-minggu baru mengeluarkan satu statement. Karena tidak mudah memberi statement fatwa bagaimana bersikap terhadap suatu peris peristiwa. Sementara sebagian kita dan sebagian saudara-saudara kita ada masalah langsung ngomong. Akhirnya carutmut ngomong kemarin ngomong A, besok ngomong B, masuk ngomong A, besok ngomong B, ngomong C. Tidak dipertimbangkan. Tidak semua yang yang kita lihat harus kita komentari. Pertama, karena semua yang terjadi yang kita lihat berita sampai kepada kita belum tentu sesuai hakikatnya. Benar atau tidak? belum sudah haknya tergantung reporternya bagaimana cara dia menyajikan berita tersebut. Ini pertama. Yang kedua, kalaupun orang nyampaikan kepada kita terpercaya kita kenal betul, belum tentu dia menyampaikan kepada kita seluruh informasi yang lengkap. Padahal kita untuk menyampaikan suatu hukum, kita harus punya informasi yang apa? Leng lengkap. Oh, benar kok ini saya kenal dia. Dia benar sampai iya berita dia benar. Kalau kasih kan dia benar karena dia temanmu, terpercaya, orang jujur. Tapi apakah yang dia sampaikan kepadamu itu adalah berita yang lengkap? Kan banyak sisi yang harus diperhatikan. Ti kalau ternyata pada dirimu beritanya benar dan sudah lengkap, ya tidak mesti kau yang bicara. Mungkin ada yang lebih ahli untuk berbicara. Kemudian kalau memang kau ahli untuk berbicara, belum tentu tepat waktunya kau berbicara. ini tidak maslahat untuk diperbicarakan. Jadi maksudnya banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tidak harus terburu-buru. Sebagian orang pokoknya sedikit-sedikit langsung bikin kontennya langsung bikin konten, langsung bikin konten, langsung bikin konten. Semakin ribut dengan konten dia, dia semakin senang. Ya gak tidak semua harus kita bicara. Kalau Anda merasa tepat ee kapel dalam hal tersebut, punya kemampuan, silakan. Ada manfaatnya silakan. Kalau enggak, tidak semua mau kita bicarakan. Ulama-ulama kita banyak mereka tidak bicara. Bukan mereka enggak ngerti. Mungkin mereka merasa tidak pantas untuk dibicarakan atau tidak tepat waktunya untuk dibicarakan. Maka jangan menjadi orang yang ujulan, suka terburu-buru. J ini berlaku dalam kehidupan sehari-hari ya. Apalagi terkait dengan fitnah, terkait dengan hal-hal yang ee berkaitan dengan banyak orang, maka jangan terburu-buru dan jangan juga jadi ee corong. Makanya Ibnu Mas'ud pernah berkata, "Innaha satakunu umurun mustabihat." Akan datang suatu perkara-perkara yang rancu. Faalaikum bituadah. hendaknya kalian jangan terburu-buru, yaitu pelan-pelan hati-hati. Fainnaka an takuna tabian fil khairi khairan min takuna ran far. Lebih baik kau menjadi anak buah dalam kebaikan daripada pengin tampil akhirnya jadi bos dalam keburukan. Jadi paling depan dalam apa? Kebu keburukan. Gak usah buru-buru. Santai aja ya. Seorang penyair berkata, yudrikul mutani. Seorang yang tidak tergesa-gesa terkadang bisa memenuhi sebagian kebutuhannya. Adapun orang tergesa-gesa terkadang sebagian kebutuhannya terlewatkan. Maksudnya dalam ketergesaan itu banyaknya hal yang terkadang kemaslahatan tidak kita dapatkan. Dan dalam ketenangan pelan-pelan ternyata ada maslahat yang tidak kita ketahui ternyata malah muncul di balik di balik itu. Dan kemudian tadi kata Ali bin Abi Thalib, madayi' yaitu corong. Ya, kalau kita dalam corong kebaikan okelah ada kebaikan kita sampaikan, ada ilmu kita sampaikan. Ya, tapi terkadang sebagian orang corong bukan dalam kebaikan, corong dalam hal keributan. Nah, itu corong. Hal kebaikan dia tidak pernah sampaikan. Diam aja di rumah gak tidak semangat. Tapi kalau sudah masalah fitnah, masalah ribut, masalah masa, wah itu semangat. Semangat. Karena penontonnya banyak. Kalau masalah apa? Fitnah. tertarik menarik apa sih apa oman apa begini apa begini jadi maksudnya kita kalau bikin konten kita harus pikir apakah kita berhak mengambil waktu mereka untuk menonton konten saya ini memang memang memang pantas mereka menghabiskan umur mereka untuk nonton konten saya ini. Karena kalau konten kita 5 menit misalnya, berarti kan satu orang akan buang waktunya 5 menit untuk nonton konten konten kita. Pantas enggak dia habiskan 5 menit untuk nonton konten saya atau saya cuma membat dia mubadir buang-buang umur dia nonton konten konten saya. Kita harus renungkan. Jangan asal bikin konten ya. Tayb. Kalau saya lagi makan bakso. Makan bakso kemudian saya makan saya tambah ini. Kemudian saya pakai saus ini. Saya saya enggak ada tujuan apa-apa. Cuma bikin konten aja. Pengin nunjukin saya sedang makan bakso. Ternyata konten tersebut 10 menit. Orang pengin tahu nonton Tib. Apakah memang mereka pantas untuk nonton konten saya 10 menit makan bakso? Terus ternyata, ternyata viewers-nya sampai 2000. 2000 orang. 2000* 10 menit berapa? Saya sudah buang umur orang banyak. Kalau yang pantas ada faedahnya silakan. Apalagi Anda adalah public figure. Kalau bukan pubak enggak ada yang nonton. Bikin konten 1 jam enggak ada yang nonton. Kalau Anda public figure, apakah pantas Anda bikin konten seperti ini? Ya. Ya. M saya ini harus di dipertimbangkan. Oleh karenanya kita kembali lagi jangan jadi mizya atau mazay itu apa semua yang sampai kepada kita jadi corong, kita share ya. Kalau kebaikan yang kita lihat manfaatnya banyak, kita share semangat. Kalau ke fitnah ya kita harus filter. Tidak semua yang kita tahu kemudian mau kita share. Maka Ib ee Ali bin Abi Thalib mengingatkan, "Buzaran, jangan kau menjadi penebar fitnah yang apa menebarkan membuat api fitnah bergejolak. Kau adalah pelopornya. Hati-hati. Kenapa? Fainna min warikum balaan. Karena di balik kalian akan datang kesulitan ya mubarrihan yaitu yang akan melelahkan dan berat syadidan. Muklahan yaitu berat. Mubar itu melukai yaitu sulit menyulitkan. Muklahan yaitu syadidan alanas itu fitnah yang berat. Wa umur mutamahilah ridhan ya. yaitu perkara-perkara yang panjang ridhanil berat. Intinya akan datang ujian-ujian, fitnah-fitnah yang berat dan berkepanjangan. Oleh karenanya hati-hati jangan kemudian tergesa-gesa kasih komentar. Jangan tergesa-gesa kemudian bikin konten. Jangan tergesa-gesa ee kasih fatwa. Jangan ya. Nah, kalau kau segera tergesa-gesa di antara kita terkait dengan bab ini, Babul Ayyab, bab orang suka mencela. Kalau kau tergesa-gesa nanti kau mudah untuk mencela karena kau tidak mempelajari ee kejadian tersebut secara komprehensif. Datamu kurang atau yang menyampaikan data kepadamu ternyata tidak ee tidak jujur, tidak fiqah. Sehingga akhirnya kau mencela atau ikut-ikut menyebarkan celaan. Seperti sekarang banyak kejadian yang kita tidak tahu hakikatnya. Banyak sekali. Satu ngomong, satu ngomong, satu ribut sana hantam sana, hantam. Hakikatnya enggak tahu. Saya kalau disuruh ngomong saya bilang, "Saya enggak tahu gimana hakikatnya. Mana berita secara lengkap." Oh, katanya-katanya. Walau bagaimana katanya-katanya? Kemudian kita bisa memunculkan suatu hukum di balik katanya-katanya. Enggak bisa. Saya katakan tadi kalau seandainya beritanya pun lengkap, komprehensif, apakah saya mampu untuk menilai? Apalagi masalah terkait dengan ee massa, terkait dengan kaum muslimin secara umum, terkait dengan suatu negara. Tidak gampang. Gak gampang ya akhi. Gak gampang. Kalaupun sudah terkumpul tadi, mungkin saya tidak mampu untuk memberi hukum karena terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Ini sebagian orang masyaallah langsung langsung langsung langsung akhirnya seorang mudah mencela karena data yang tidak lengkap atau ikut men-share celaan orang yang terburu-buru. Asar yang berikutnya dari Ibnu Abbas. Al Imam Al Bukhari berkata rahimahullah qala hadasana Muhammad qala hadasana Bisyr bin Muhammad Q hadana Abdullah qala hadasana Israil bin Abi Ishaq an Abi Ishaq an Abi Yahya an Mujahid an ibni Abbasin qala kata Ibnu Abbas radhiallahu anhuma arta ankur uyuba shohibika fadkur uyuba nafsik kata Ibnu Abbas untuk berhati-hati beliau berkata, "Jika kau ingin menyebutkan aib saudaramu, coba ingat dulu aib-aib dirimu." Ya, coba dulu ingat aib dirimu. Maksudnya Ibnu Abbas ingin menyampaikan, sibukkanlah dirimu dengan aib-aibmu supaya kau tidak sibuk mencari aib-aib apa? Saudaramu. Ya. Ya. Jadi jangan sampai seorang hobinya mencela. Ya. Adapun kalau kita menyebutkan kesalahan dalam rangka untuk menasihati, bukan untuk mencela ya dan memang waktunya untuk disampaikan itu urusan lain ya. Tapi hukum asal seorang jangan suka mencari-cari kesalahan orang orang lain ya. Karena Rasulullah melarang akan tersebut. Rasul mengatakan, "Ya masyar man amanaisaniiam ymin bihi qolbuhu." Ya labi auratil muslimin. Wahai orang-orang yang hanya beriman dengan lisannya tapi belum beriman hatinya, jangan mencari-cari aib-aib kaum muslimin. Jangan cari-cari ya. Ya, kalau ada sudah tersebar, ada harus kita sikapi, ya mungkin ada pembahasan. Tapi mencari-cari ya mencari-cari tajsus tidak tidak boleh. Tidak boleh. Kalau kita mau tajasusin orang kita ingat kita juga punya banyak banyak dosa, banyak kesalahan. Bisa bisa saja Allah balas dengan orang mentajasusin kita. Bisa jadi. Maka yang di depan mata ya itu yang kita bahas. Adapun mencari-cari mencari-cari maka jangan. Seorang kalau sibuk melihat aib dirinya, dia tidak akan sempat untuk mencari-cari aib orang lain. Ya. Adapun hamalatus sunah, yaitu orang-orang yang membela sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Seperti para muhaddisin, ahli hadis yang kemudian menyebut aib-aib para perawi. Tujuan mereka bukan untuk mencari aib-aib para perawi, tapi tujuan mereka adalah untuk memurnikan hadis Nabi. Sehingga kita dapati buku-buku namanya Kutubur Rijal, buku-buku tentang para perawi berjilid-jilid, puluhan jilid. Setiap rawi dijelaskan rawi ini adalah si fulan, si fulan, si fulan. Kredibilitasnya bagaimana, perkataan para ulama tentang dia. Kenapa? Karena dia meriwayatkan hadis. Kalau ter kita harus tahu ini siqah diif atau derajatnya seperti apa. Karena di balik penilaian terhadap orang ini kita bisa terima hadis itu. Hadisnya sahih atau diif. Maka setiap perawi-perawi tersebut pasti ada biografinya. Kalau tidak ada biografinya disebut majhul. Itu tidak dikenal. Kalau tidak dikenal hadis dinilai dif. Nah, para ulama ketika mengkritiki atau menyebutkan aib-aib tersebut bukan dalam rangka untuk hawa nafsu mencari-cari kesalahan orang, tidak. Tapi dalam rangka untuk membela apa? Agama. Sehingga si fulan difutkan, si fulan pendusta disebutkan, si fulan penipu disebutkan. Terkadang dikatakan orang ini saleh tapi pelupa. Ya, tidak diterima hadisnya. Kalau saleh, saleh, rajin ke masjid, tapi suka lu lupa. Ingatannya lupa di ketika tua suka lupa. Jelasnya sangat-sangat detail supaya menjaga kemurnian hadis-hadis Nabi. Sehingga muncullah hukum-hukum tentang hadis-hadis Nabi. Hadis ini sahih, hadis ini hasan, hadis ini dif, hadis ini mungkar, hadis ini palsu, hadis ini la aslaalah lahu. Berbagai macam hukum tentang hadis dibangun di balik kredibilitas para perawi tersebut yang telah dibukukan oleh para ulama. Para ulama menjelaskan tentang biografi para perawi dengan kelebihan dan kekurangan perawi-perawi tersebut. Dalam rangka untuk apa? Dalam rangka ada maslahatnya untuk menjaga ee kemaslahatan atau kemurnian hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam. Sama ketika para ulama membanta ahlul bidah, mereka bukan dalam rangka mencari aib-aib manusia gak. Tapi ahlul bidah itu telah melakukan kemungkaran di depan mata. Sudah tersebar di kalangan masyarakat. Bukan mereka sedang bicara ahlul bidah ini tukang zina, pacaran sama istri orang. Enggak. Tapi dia bahas yang tersebar. Ya. Adapun masalah pribadi dia seorang jangan mencari-cari tahu. Itu tajasus namanya. Kalau ter Allah bongkar itu lain cerita. Ya kita enggak boleh tajasus ya. Tapi kalau yang kesalahan depan mata ya kita terangkan karena sudah tersebar di depan di depan mata maka kita jelaskan dengan secara ilmiah ini bukan mencari-cari aib. Karena sebagian orang karena tidak mau dikritiki terkadang dia pakai alasan, "Kamu jangan cari aib orang. Terus kalau kau melakukan aib tidak boleh ditegur." Maksudnya begitu. Lakukan sebebas. Kalau ada yang tegur, "Ah, kau hanya cari-cari aib. Kalau ada yang tegur, kau cuma hasad lah." Terus kapan kita mau menegur kalau begitu? Mau ketemuan tidak bisa ketemuan. Repot. Mau ketemuan kamu siapa? menegur anak kecil enggak bisa. Akhirnya kan susah ya. Jadi intinya semua ada aturan, ada kadarnya ya. Kalau memang aib tersebut sudah tersebar di depan mata dan itu kesalahan banyak yang tidak ngeh itu adalah kesalahan. Maka perlu diingatkan. Yang diingatkan tentu melihat apakah ini kritikan benar atau tidak ya. Karena sekarang kalau ada yang kritik langsung dia bilang hasad. Subhanallah. Ada yang kritik lagi dibilang apa? Ah, cari-cari aib. Aibnya juga banyak ya. Ya, jelaslah semua orang aibnya apa? Banyak. Terus kalau begitu pintu kritikan ditutup? Maksudnya seorang bebas melakukan apa yang dia inginkan. Tentu tidak. Ya, semua ada aturannya. Di sini yang tidak boleh seorang memang hobinya mencela sedikit-sedikit mencela. Ketemu, "Oh, si fulan begini ketemu si fulan begini. Ah, itu begini." Mencela terus kerjanya. Dia lupa bahwa aib dia sangat ba banyak. dia lupa bukan cuma orang aibnya banyak, dia juga aibnya aibnya juga banyak. Maka jangan sampai seorang kemudian hobinya suka nyinyir. Jangan ya. Di antara makna suka celah itu berarti suka apa nyi nyinyir. Sedikit kita apa? Nyinyir. Tiib. Bab nyambung. Babul ayyab tabi itu sambung bab tentang orang tukang mencela. Al Imam Bukhari berkata, "Qasana bis q ak abdullah q hadana Abu Maud an Zaid maula Qais alhaz an Ikrimah an ibni abbasin fi azza waalla wizu anfusakum w q baum ba itu dalam surat alhujurat ayat 11 Allah berfirman talmizu anfusakum janganlah kalian mencela diri kalian apa kata Ibnu Abbasukum jangan mencela sebagian mencelah yang lain Ibnu Abbas ingin menyampaikan makna wala talmizu anfusakum. Janganlah kalian mencela diri kalian. Secara logika gak mungkin seorang mencela dirinya sendiri secara tapi orang mencela orang lain ya kan. Wala talmizu anfusakum. Kalau kita bahasa Arab artinya secara letterlek. Wala talmizu anfusakum. Janganlah kalian mencela diri kalian. Mana ada orang mencela dirinya sendiri. Tapi maksud ayat ini kata Ibnu Abbas yaitu jangan sebagai sebagian kalian mencela sebagian yang lain. Kenapa? Karena kalian suatu kesatuan dianggap satu. Sehingga kalau kalian mencela teman kalian seperti mencela diri sendiri. Kalau kalian mencela teman kalian sesama muslim seperti mencela diri diri sendiri. Maka Allah mengatakan wala talmizu anfusakum. Jangan mencela diri kalian. Maksudnya ketika kalian mencela saudara kalian sesama muslim seperti mencela diri sendiri. Karena ayat sebelumnya dalam surat al-Hujurat Allah berfirman, "Innamal mukminuna ikhwah." Sesungguhnya kaum itu bersaudara. Bersaudara ya. Ini sama seperti firman Allah, wala taqtulu anfusakum innallah bikum rahima. Janganlah kalian bunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah sayang kepada kalian. Sini ada dua tafsiran, yaitu jangan kalian bunuh diri dan jangan membunuh saudara kalian. Karena membunuh saudara kalian sama seperti membunuh diri sendiri karena kalian satu kesatuan. Itu maknanya jangan mencela sebagian mencela yang lain. Kemudian juga al Imam Bukhari membawakan hadis. Qala haddasana Musa qala haddasana Uhaib qala akhbarana Daud an Amir qala haddasani Abu Zubairah ibn dahahaq qala fina nazalat fi bani Salamah atau bani salimah. Ayat turun kepada kami yaitu golongan Banu Salimah. Allah berfirman wala tanabazu bil alqab. Janganlah kalian memberi gelaran-gelaran yang buruk. Memberi gelaran-gelaran yang buruk. Beliau berkata, qala kata Amir ee kata Abu Zubair bin Dahq, qala qodima alaina Rasulullah sahu alaihi wasallam. Rasulullah datang kepada kami. Waalaisa minna rojulun illa lahu isman. Ternyata di kampung kami tidak ada satu orang punya nama cuma satu. Dia pasti punya nama dua yaitu nama asli sama nama gelar. Kalau nama asli biasanya orang suka dengan namanya. Nama gelar kadang disukai kadang tidak di disukai. Faja'ala Nabi sallallahu alaihi wasallam yaakul. Maka suatu hari Rasul sahu alaihi wasallam panggil seseorang tapi nama Nabi. Nabi panggil bukan nama aslinya. Nabi panggil nama gelar. Nabi enggak tahu kalau itu nama apa gelaran. Nabi panggil ya fulan. Padahal itu nama gelaran yang dia tidak sukai. Fayaqulun. Maka orang-orang ingatkan, "Ya Rasulullah, innahu yaqdobu minhu." Arti Rasulullah dia marah kalau dipanggil dengan nama tersebut. Rasulullah enggak tahu. Jadi kalau nama orang kata dia di kampung dia itu nama selalu dua. Gak ada orang namanya satu. Satu nama asli dari ibunya, dari bapaknya. Yang kedua nama gelaran. Dan nama gelaran ini kadang dia sukai, kadang dia tidak ada yang tidak disukai. Kebetulan Nabi datang, Nabi ketemu seorang, Nabi panggil. Nabi kira itu nama aslinya padahal nama gelaran. Dan ternyata dia tidak suka dengan nama tersebut. Maka Nabi panggil, "Ya fulan, pakai nama gelaran." Maka teman-temannya kasih tahu, "Ya Rasulullah, hati-hati Rasulullah. Dia itu marah kalau dipanggil nama demikian. Maka ee jangan ya, maka di sini turun firman Allah wala tanabazu bil alqab. Janganlah kalian manggil dengan gelaran-gelaran yang buruk. Orang kalau tidak suka diberi gelaran yang buruk, jangan panggil dengan nama nama tersebut. Ya. Ya. Si kerempeng. Kerempeng itu apa? Tahu artinya kurus kerempeng. Ya, jangan dia enggak suka dia. Meskipun dia kerempeng, dia enggak suka dipanggil ya pesek. Dia meskipun dia enggak suka dipanggil apa pesek. Memang saya pesek, tapi jangan panggil siapa? PC. Ya, tapi jangan panggil saya juga mancung. Sama dua-duanya penghinaan. Eh, si mancung pesek menghina namanya, Mas. Kalau gitu pesek ya gak usah panggil nama yang lain. Ngapain si pesek si mancung jangan ya. Tidak tidak tidak semua orang suka apa gelar ya. Si kampret, si cebong, si siapa? Si Kadrun. Sekarang banyak gelar-gelar luar biasa. Kadrun. Apaagi kampret apalagi cebong. Satu lagi apa? Hah? Hah? Unta. Iya, ada istilah unta lagi. Subhanallah. Ngeri. Unta. Kadrun. Habis. Adrun. Kadrun. Ada apa? Unta. Ini ini sesama muslim loh, bukan nonmuslim. Sesama apa? Muslim. Maka seorang menghindar kalau ada gelar mereka tidak suka jangan dipanggil dengan gelar tersebut. Kemudian al Imam Bukhari berkata, "Akbarana alfadl bin Muqatil q hadana yazid bin Abi Hakim anil Hakam qala samu ikrimah yaakul la adri ayyuhuma jaala Ikrimah muridnya Ibnu Abbas berkata Ikrimah tabiin Ibnu Abbas sahabat saya tidak tahu mana yang mengundang dan siapa yang diundang ibni Abbas au ibni ammihi apakah Ibnu Abbas yang ngundang sepupunya untuk makan di rumahnya atau sebaliknya sepupunya yang ngundang Ibnu Abbas makan di rumahnya. Tapi intinya mereka berdua bertemu. Kata Ikrimah ini termasuk apa ee apa namanya ee jujur dalam menyampaikan suatu hadis. Jadi dia ingin cerita ada pertemuan antara Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dengan sepupunya di suatu tempat. Tapi gak tahu sang Ikrimah lupa apakah Ibnu Abbas yang ngundang dia atau sepupunya yang ngundang Ibnu Abbas untuk makan. Intinya dijamu. Fabainamal jariatu tamalu baina aidihim. Tiba-tiba ada budak wanita sedang ngerjain itu beres-beresnya di depan mereka. Sedang kerja di depan Ibnu Abbas dan sepupunya. Idzala ahaduhum laha. Tiba-tiba ada yang ngomong di antara para hadirin berkata, "Ya zaniah manggil wanita tersebut budak ya wanita pezina." Faqala mah. Maka Ibnu Abbas tegur mah. Jangan ngomong begitu. Kata Ibnu Abbas, "Illam tahuddaka fid dunya tahuddaka fil akhirah." Hati-hati kau ngomong gitu. Berarti kau nuduh dia. Kalau dia tidak melaporkan sehingga mengakibatkan kau diberi hukum H di dunia, kalau dia tidak mampu, kau akan dihukum had di akhirat. Karena menuduh orang berzina harus mendatangkan empat saksi. Empat orang yang melihat langsung ember masuk apa? Sumur. Kalau ember belum masuk sumur cuma talinya doang. Enggak. Harus ember masuk apa? Sumur. Empat-empat orang harus lihat. Kalau tiga orang yang lihat, satunya enggak lihat, tetap dicambuk. Misalnya dipanggil, "Kami melaporkan wahai penguasa si fulanah berzina. Mana saksimu?" Ini kami berempat. Kamu lihat sumur? Lihat. Si B. Kamu lihat? Lihat. C. Kamu lihat? Lihat. D. Waduh, saya telat datang. Cuma lihat pelukan doang. Ah, sudah tempat-tempatnya dicambuk. Tentu yang sana juga dapat hukuman, tapi bukan hukuman zina. Karena ketahuan berdua-duaan beda hukuman zina dengan ketahuan berkhalwat berbeda. Nah, kalau seorang mengatakan si fulan pezina harus datangkan empat saksi. Kalau enggak enggak boleh. Bahkan para ulama berfatwa di Syekh Utsimin dan yang lainnya serusak-rusak apapun di tersebut gak boleh kita bilang dia pezzina kecuali benar-benar ada bukti empat orang melihat dia berzina secara nyata. Tidak boleh pakai CCTV. Gak boleh. Harus lihat secara nyata. Kenapa demikian? Itu aturan syariat. Ada hikmah di balik itu. Ada ada perempuan jalan laki-laki. Eh, Oh, enggak boleh. Kau pernah lihat dia yang ngelonte? Gak. Ya sudah dihukum harusnya dicambuk. Meskipun dia aslinya misalnya ternyata dia berzina tapi kalau enggak lihat enggak ada bukti enggak boleh kau bilang dia apa? Kenapa demikian? Ini aturan syari. Oleh karenanya tidak pernah atau hampir tidak ada lelaki atau wanita dihukum rajam karena ketangkap basah. Hampir enggak ada dalam sejarah Islam. Karena untuk ketangkap basah syaratnya harus ada empat orang lihat apa langsung. Terjadi penetrasi lihat langsung. Kalau enggak enggak bisa. Yang ada mungkin ngaku itu ada ngaku kamu iya berzina. Ngaku. Ngaku. Misalnya A B berzina. Si A berzina, si B. Dua-duanya sudah berkeluarga. Kalau sudah berkeluarga dirajam. Si A lapor kepada penguasai berzina dengan si B. Benar. Benar kau enggak ini? Enggak. Sampai Rasulullah suruh waktu itu suruh pulang sampai empat kali datang lagi. Iya iya iya. Akhirnya ngaku benar-benar saya pengin bertobat. Udah rajam. Coba tanya sama si B perempuannya kamu zina enggak? Enggak. Dia aja mengkhayal. Ya udah yang B enggak. Karena dia tidak ngaku dan tidak ada sak saksi. Yang A ngaku. Eh kamu jangan bohong. Kamu sama saya enggak ada. Kamu bilang mau ngaku juga, saya dirajam sendirian. Gak ada. Pokoknya kau yang ngaku dirajam, yang enggak ngaku enggak di enggak dirajam. Kenapa demikian? Ya aturan syariat. Di balik itu ada hikmah yang kita tidak tahu. Syarat menjaga kehormatan seorang ya. Ini seperti kejadian tahu-tahu si orang marah ada ustaz marah sama perempuan Wah, ini enggak boleh dalam syariat enggak boleh. Karena itu tuduhan. Seperti ini Ibnu Abbas negur, "Mah, jangan kau bilang begitu. Kalau kau tidak dihukum H di dunia, kau akan dihukum had di mana?" di akhirat. Qala. Maka orang ini berkata, "Afarita inzalik ya Ibnu Abbas." Kalau memang ternyata begitu, bagaimana? Ya, kalaupun ternyata benar, kau bisa kau benar itu benar. Innallaha la yuhibul fahsyal mutafahsy. Allah tidak suka dengan kata-kata yang kasar. Gak usah nasihatnasihati. Kalau nasihat nasihati. Ibnu Abbas alladzi qala Ibnu Abbas yang menasihat innallah la yuhibbul fahis almutfahisy. Allah tidak suka dengan orang yang berkata-kata keji. Ya kalau nasihat nasihati gak usah seperti itu. Maka di sini jangan suka dibawakan riwayat ini untuk menjelaskan jangan suka mencela. Hadis berikutnya Imam Bukhari berkata, "Qasana Abdullah bin Muhammad q hadana Muhammad bin Sabiq Q hadana Israil Amas Ibrahim an Alqama Abdillah Nabi sallallahu alaihi wasallam q laisal mukmin banal fah bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, suka melaknat, suka ee berkata-kata yang berlebih-lebihan dan suka berkata-kata kotor. Thaan itu mencela begini mencela sana mencela. Laan doakan keburukan. mampus kau. Semoga masuk neraka. Semoga ee diazab di kuburan. Ini namanya laan. Sebagaimana sudah kita bahas pada pertemuan sebelumnya. Walal fahisy. Tidak berkata-kata yang keji melampaui batas. Kalau ngomong dibuat-buat sampai melampaui batas gak boleh. Walal badzi kata-kata kotor enggak suka. Ini bukan seorang mu mukmin. Maka di antara sifat tercela adalah suka mencela. Ya, karena orang yang suka mencela biasanya ada kesombongan dalam dirinya. Kerjanya suka mencela. Sekir suka mencela. Biasanya ada ujub atau gurur atau kesombongan. Makanya Allah berfirman, "Ya ayyuhalladzina amanu la minakunir minhum wisa minakir minhun." Wahai orang yang beriman, janganlah sebagian sekalian mencela sebagian yang lain. Bisa jadi yang dicela lebih baik daripada yang mencela. Kenapa? Karena orang yang suka mencela biasanya dia merasa hebat sehingga dia mencela orang yang dicela. Maka Allah ingatkan, bisa jadi yang dicela lebih baik daripada yang mencela. Kenapa? Karena yang mencela biasanya ada kesombongan. Biasanya ada kesombongan. Maka seorang kalau pengin mengkritik bukan karena kesombongan. Kalau bukan mengkritik bukan karena kepuasan dada, jiwa. Nak. Kalau mengkritik bukan karena balas dendam, karena pernah disakiti akhirnya kritik habis-habisan gak. Tapi mengkritik karena Allah. Benar-benar dikritik-kritik yang benar. ilmiah sampaikan sisi pandang ya sudah selesai bukan karena urusan pri pribadi kalau sudah kadang masukkan urusan pribadi dalam masalah agama masalah pribadi habis-habisan bantah-bantahan hujat-hujat semuanya pakai dalil ini namanya masalah pribadi dibawa ke dalam rana agama gak bolehnya karena menegur negur yang baik bab berikutnya bab ma jaa fit tamaduh Ini juga penting bab tentang saling memuji. Karena sekarang kadang viral sebagian orang memuji lain. Si A muji si B, si B siuji A. Saling puji-pujian. Saling puji-pujian sehingga akhirnya rating naik ya. Karena saling enggak puni-puji. Apakah itu dianjurkan seperti itu? Ya, si A muji si B, si B muji A. Terus nanti lagi si Anyyubi seperti itu. Al Imam Bukhari berkata, "Qasana Adam q hadasana Sybah an Khalid Abdurahman bin Abi Bakrah an abihi anajulukir Nabi sallallahu alaihi wasallam fa alaihi rajulun fana alaihi rajulun khairan." Ada seorang disebut di sisi Nabi lantas ada orang lain memuji orang tersebut. Si fulan disebutkan di sisi Nabi. Eh, gimana kabar si fulan? Terus ada yang hadirin mengatakan, "Oh, masyaallah si fulan dia puji-puji." Faqala Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka Rasulullah berkata, "Wahai haka q unuq shahibik. Celaka engkau. Engkau telah memotong leher sahabatmu." Yaakluhu miroran. Rasulullah ulang-ulang. Celaka kau. Kau telah memenggal lehernya. Celaka kau. Kau telah memenggal apa? Lehernya. Ini bahaya. Maksudnya orang kalau dipuji dia bisa berubah. Tadinya tawadu bisa jadi sombong. Tadinya ikhlas bisa diujub bisa itu bahaya bagi Nabi menurut Nabi bahaya. Makanya Rasulullah ulang-ulang berkataik kau telah memenggal lehernya. Kau telah memanggal lehernya. Kau telah melenggar lehernya. In ahadukumadian lahalah. Kalau memang seorang harus memuji. Jadi bukan sifat kita suka muji mulu. Nabi mengatakan kalau hukum asal kita tidak muji orang. Hukum asal kita tidak memuji orang. Makanya rasul mengatakan inana ahadukum madihan. Kalau memang kau harus memuji la mahalah falyaakl maka ucapkanlah ahsabu kad wa kad menurutku dia itu begini-begini inuik kalau memang benar jangan dia muji berlebih-lebihan tidak sesuai dengan kenyataan kalau memang realitnya begitu dan memang dia harus muji karena ada keperluan memuji maka tidak mengapa dan mengatakan cukup mengatakan menurutku dia begini-begini wahasibuhullah yang lebih tahu tentang dia adalah siapa Allah w uzaki alallahi ahada Dan aku tidak mungkin mendahului Allah dalam memuji seseorang. Sehingga kita ingin sampaikan kepada orang ketika saya muji dia ini pertama karena terpaksa. Yang kedua saya pun puji dia sesuai dengan zahirnya. Yang tahu hakikatnya siapa? Allah. Sehingga orang tidak terpedaya. Ini dua orang ketemu masyaallah ini orang begini. Ah kau juga begitu kok. Ayo harusnya wah bongkar-bongkaran pujian rating naik semua. Dan seorang jangan suka dipuji. Kalau misalnya ada yang datang, "Masyaallah ini ustaz." Udah enggak usah ngomong, enggak usah ngomong. Ustaz ini yang ini enggak usah ngomong. Udah biar orang tahu orang tahu. "Nah kau potong leher saya." Paham? Tahu-tahu berubah ustaz tersebut. Makanya sebagian ulama mengatakan kalau misalnya ada seorang dai keluar dalam sebuah buku ya, dai keluar dia misalnya habis khotbah Jumat atau dia habis ceramah terus orang semua terpukau ketika mendengar ceramahnya maka dia tanya sama ring satunya misalnya ini perkataan para salaf. Kalau ada guru bertanya ke muridnya, "Bagaimana muridku ceramah saya tadi?" "Jangan kau puji bilang biasa aja. Jangan kau bilang, "Masyaallah, Ustaz." Semua tercengang. Semua terpesona. Semua menangis. Semua ini masyaallah. Ah, itu ustaznya langsung kepalanya jadi gede. Siapa yang bisa menata hati? Enggak mudah menata hati. Rasulullah bilang, "Kau telah memenggal lehernya." Emang Rasulullah main-main ngomong begitu? Enggak gampang. Enggak gampang. Kalau ada keperluan harus memuji boleh ada keperluan misalnya tuduh macam-macam atau apa ada keperluan silakan enggak apa-apa tapi jangan lupa sertakan Allahu hasibuhu Allah yang lebih tahu Allah yang menghisabnya Allah yang tahu tentang apa dirinya wala uzakki alallahi ahada dan aku tidak mendahului Allah dalam memuji seorang yang tahu batin zahirnya adalah Allah aku hanya tahu apa zahirnya mari kita lihat Syekh bin Bas ketika dibuji dia marah Syekh Utsimin ketika ke dipuji dia marah. Ketika dikatakan al-Allamah seorang alim, Ibnu Utsaimin, kata Syekh Utsimin, "Uskut diam." Tidak. Mereka memang dari sini tidak suka di ee dipuji. Enggak suka. Bukan dibuat-buat. Bukan tidak suka dipuji karena pencitraan. Ih, lihat enggak suka dipuji. Bukan. Memang enggak suka dipuji. Kita dapati guru-guru kita demikian. Tidak suka di dipuji. Dipuji pasti gelisah, mukanya merah. Enggak suka ditegur. Eh, jangan. Udah. Kalau orang suka dipuji terbalik. Ada yang suka dipuji. Seorang mau ceramah kemudian ada yang satu bawa inilah dia yang telah begini, yang telah begini, telah begini. Ada yang tegur, "Eh, sudah berhenti jangan ngomong begitu." Kata syekhnya, "Biarin temanmu ingin kebaikan." Biarin lanjutin. Akukama yuridu illa khairan itu ya. Jangan, jangan jadi orang makan puji orang. Kalau tadinya tidak suka dipuji, ternyata pujian itu menguntungkan secara duniawi. Semakin dirahmati oleh orang, semakin disanjang oleh orang, semakin diundang oleh orang, dia rasa kenikmatan. Ya sudah kalau sudah gitu jadi orang makan puji. Akhirnya dia kalau tidak ada yang muji dia pencitraan dia publish ini, publish anu sudah terbawa suasana jadi narsis. pengin jadi bahan pembicaraan, pengin dipuji. Jadilah dia orang suka makan makan puji. Ya, kalau Nabi bilang, "Kau telah memenggal lehernya, enggak gampang. Berarti hati-hati. Tapi Rasulullah ulangi tiga kali." Ini Rasul Sallahu Alaihi Wasallam bicara di kalangan para sahabat yang dipuji sahabat atau bukan sahabat? Yang memuji sahabat, bukan sahabat. Rasul bilang, "Kau telah memenggal lehernya. Kau telah memenggal lehernya, kau telah menggalnya." Jadi jangan sedikit-sikit muji, muji muji kalau ada perlu silakan ya. Apalagi saling memuji satu di antara yang lain, saling apa? Saling menaikkan rating. Enggak boleh ya. Memuji pun ternyata tidak ikhlas. Dia memuji supaya dipuji juga. Hati-hati. Allah maha tahu isi hati seseorang. T berikutnya al Imam Bukhari berkata Q Muhammad bin Sabbah Q Ismail bin Zakaria Qani Buraid bin Abdillah an Abi Burda Abi Musa radhiallahu anhu sami nabi wasamul Rasulullah mendengar ada seorang memuji yang lain dan dia berlebih-lebian dalam pujiannya kata Rasul wasallam akhlakumajul kau telah membinasakan aku telah memenggal ee punggung saudaramu jangan Ini bahaya memuji. Apalagi saya berlebih-lebihan, maka sangat berbahaya ya. Kalau orang sudah dipuji tadi dia timpa ujub. Kalau ujub bisa jadi dia bawa ujub tersebut seumur hidup. Ya atau tidak? Oh ternyata saya luar biasa. Atau dia terjadi sombong. Seumur hidup dia sombong. Kau binasakan dia. Bukan cuma binasakan di dunia, kau bisa buat dia masuk neraka jahanam. Ketika dia dipuji habis-habisan yang tidak orang lain tidak dipuji seperti dia, maka dia merasa dirinya sesuatu yang melihat bil ijab. Dia lihat dirinya dengan pengagungan. Ternyata saya luar biasa. Akhirnya dia binasa. Kalau ujib akhirnya masuk masuk neraka. Tib. Riwayat berikutnya al Imam Bukhari berkata, hadana qabah qana Sufyan Imran bin Muslim an Ibrahimmi abi qulusan Umar. Kami sedang duduk di sisi Umar waji. Maka ada orang muji langsung depan depan langsung si A muji si B langsung di depan depan mukanya. Faqala aqart rajul aqarakallah. Kau telah menyembelih si fulan, semoga Allah menyembelihmu." Kata Umar, aqar itu misalnya ada hewan kita potong kakinya ya. Seperti ketika kaum Tsamud menyembelih unta Nabi Saleh. Faqaruha. Mereka nyembelih unta Nabi Saleh itu mereka lukai. Mereka sampai gak bisa bergerak sampai akhirnya mati. Menurut Umar memuji orang itu membuat seperti kaum mematahkan, kau pootong kaki-kakinya sehingga dia tidak berkutik dan akhirnya mati. Umar marah. Umar bilang, "Aajul, kau telah membina, menyembelih si fulan. Semoga Allah menyembelihmu karena kau telah berbuat dosa dengan memuji di depan wajahnya." Ini menunjukkan para salaf tidak suka namanya apa? Pujian-pujian. Bayangkan ketika Umar mau meninggal dunia radhiallahu anhu, datang orang muji semua. Ali bin Abi Thalib mengatakan betapa dia tidak ngomong tidak depan Umar tapi ngomong di ee sahabat yang lain. Betapa mulia Umar, betapa sering saya mendengar Rasulullah berkata, "Dakaltu ana Abu Bakar wa Umar waku ana Abu Bakar Umar." Saya sering Rasulullah bercerita, "Saya pernah datang suatu kampung, saya bersama Abu Bakar, bersama Umar. Kami pernah bersafar, saya Abu Bakar." Umar sering disebut-sebut oleh Nabi. Betapa mulianya Umar sering menemani siapa? Nabi sallallahu alaihi wasallam. Sampai ketika ada seorang pemuda datang muji-muji Umar, "Engkau yang begini, engkau yang begini." Umar cuma berkata, "Kafafan la alaiya." Saya cuma mau impas apa yang kau sebutkan semua yang pernah saya lakukan tadi. Mudah-mudahan impas bagiku. Ya, dia tidak merasa oh ya itu saya kurang-kurang. Nabi pernah bilang saya masuk surga. Kurang-kurang. Nabi pernah bilang juga Nabi pernah lihat bidadari saya di surga. Kau masih kurang kau kurang ilmu. Nah, enggak. Umar cuma mengatakan kafafan semoga impas. Tidak, tidak ujub, tidak ada kagum. Bahkan dia cuma mengatakan semoga apa imas kita lemah, kita tidak seperti Umar. Dipuji sedikit langsung apalagi masih jomblo mau cari istri. Woh, langsung posting. W ada orang lagi dipuji bupati, dia posting. Posting sendiri. Saya lagi dipuji bupati. Maksudnya apa? Maksudnya apa? Maksudnya naikkan rating. Janganlah kita ini tidak sahabat aja ditegur dengan sebegitu dahsyatnya. Apalagi kita kita hati lemah. Jangan sok ikhlas apa yang sudah para sahabat tuh jihad berkorban itu pun takut dipuji kita ini apa yang sudah kita lakukan berkorban dalam dakwah. Mana orang-orang yang hebat-hebat pengorbanannya tidak suka dipuji. Kita punya teman-teman yang puluhan miliar dia keluarkan tidak pengin dipuji. Ini baru keluar sedikit sudah pengin di dipuji. Bahkan bukan keluar sedikit kadang ngambil untung dari dakwah mau pengin dipuji gimana? E para sahabat takut. Maka murid-murid jangan mencelakakan guru. Suka puji-puji apa? guru posting-posting ada waktunya ada. Jangan jangan suka seperti namanya manusia itu apa? Lemah ya seperlunya saja. Kalau perlu enggak apa-apa jangan lupa sertakan wallahu hasibuhu. Allah yang lebih apa? Tahu. Dalam
Resume
Requeue
Categories