Transcript
lEanEdfnK58 • 4 Jamil Dalam Al-Qur'an - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2451_lEanEdfnK58.txt
Kind: captions
Language: id
Asyhadu alla ilahaillallah wahdahu la
syarikalah wa ashadu anna muhammadan
abduhu wa rasuluhu la nabiya ba'dah. Ya
ayyuhalladina amanutqulaha haqq tuqatih
w tamutunna waum muslimun
had kitabullah wiral huda huda
Muhammadin shallallahu alaihi wasallam
umuri muh wa muhin bidah wa bidatin wain
finar maasal muslimin bqallah faqal
muttaquun rasulullah sallallahu alaihi
wasallam mengabarkan kepada kita dalam
sabdanya innallaha jamilun yuhibbul
jamal sesungguhnya Allah maha indah dan
dia suka dengan keindahan. Allah zatnya
indah, wajahnya terindah yang merupakan
puncak kenikmatan dan kelezatan yang
akan dilihat oleh penghuni surga pada
hari kiamat kelak. Nama-namanya terindah
dan sifat-sifatnya terindah. Bahkan
ketetapan-ketetapannya
adalah yang terindah.
Allah terindah dan dia juga subhanahu wa
taala mencintai keindahan-keindahan.
Dan di antara keindahan yang dicintai
oleh Allah Subhanahu wa taala adalah
keindahan akhlak. Dalam Al-Qur'an Allah
Subhanahu wa taala menyebutkan empat
akhlak, empat sikap yang disifati dengan
keindahan.
Yang pertama adalah
hajrun jamil, yaitu meninggalkan dengan
cara yang indah. Yang berikutnya Allah
sebutkan shfhun jamil, yaitu berlapang
dada dengan cara yang indah. Demikian
juga Allah sebutkan sabrun jamil, sabar
yang indah. Dan Allah sebutkan juga
sarah jamil, yaitu cerai dengan
menceraikan yang indah.
Adapun yang pertama Allah berfirman,
"Wasbir ala ma yaakuluna wahjurhum
hajran jamila." Maka sabarlah wahai
Muhammad sallallahu alaihi wasallam atas
apa yang mereka katakan kepadamu berupa
hinaan, cercaan, penantangan ketika Nabi
berdakwah. Sabarlah atas perkataan
mereka. Wahjurhum hajran jamila. Dan
tinggalkanlah mereka dengan hajirlah
mereka dengan cara yang indah. Yaitu
kata para ulama ya. Dakwahi mereka
dengan cara yang baik. Jangan digubrisi
perkataan-perkataan buruk mereka. Jangan
mencoba membalas perkataan mereka dengan
perkataan yang buruk yang sama seperti
mereka. Sehingga kau akan tersibukkan
dengan membalas dendam sehingga kau
lalai dari kontinue dalam berdakwah.
Oleh karenanya Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam diperintahkan bahkan
ketika berjidal dengan mereka dengan
jidal yang terbaik. Kata Allah Subhanahu
wa taala, "Wa jadilhum billati hi
ahsan." Diskusilah mereka, debatlah
mereka, jidalah mereka dengan cara yang
terbaik. Allah juga berfirman, wujil w
tujadilu ahlal kitabi illa billati
ahsan. Janganlah kalian berdiskusi,
berdebat dengan ahlul kitab kecuali
dengan cara yang terbaik. Jika ternyata
mereka tidak mau mendengar, tidak
menerima, bahkan memberi gelaran-gelaran
yang buruk, bahkan mengganggu, maka
jangan dibalas. Tinggalkanlah mereka
dengan cara yang baik. Allah juga
sebutkan tentang ibadurrahman. Kata
Allah Subhanahu wa taala,
salam ibadahman para penghuni surga.
Kata Allah Subhanahu wa taala, jahil.
Kalau orang-orang jahil berbicara dengan
mereka dengan perkataan yang buruk, qu
salama, maka mereka membalas dengan
perkataan yang penuh dengan keselamatan
itu. Mereka tidak menggubris, mereka
meninggalkan dengan cara yang yang baik.
Maka ini bisa kita praktikkan dalam
kehidupan kita sehari-hari. Kalau
ternyata kita harus meninggalkan suatu
komunitas, kita diganggu oleh seseorang,
maka tinggalkan dengan cara yang baik
tanpa harus membalas. Yang penting kita
sudah menyampaikan kemudian tinggalkan
mereka dengan cara yang baik. Yang kedua
yang Allah sebutkan
dalam Al-Qur'an adalah asofhul jamil.
Kata Allah Subhanahu wa taala, "Wainna
saata laatiyatun
fasfah jamil." Sesungguhnya hari kiamat
pasti akan datang. Fasfah jamil. Maka
berlapanglah dada dengan pemaafan yang
indah. Dalam ayat ini Allah
memerintahkan Nabi untuk memaafkan
dengan pemfaat dengan berlapang dada
yang indah. Yaitu memaafkan tanpa harus
mencela, memaafkan tanpa harus
marah-marah.
Sebagaimana Nabi Yusuf Alaih Salam
ketika memaafkan kakak-kakaknya yang
telah memisahkan dia dari ayahnya dan
ibunya sekian tahun lamanya. Maka Nabi
Yusuf mengatakan, "La alaikumuluma
yagfirullahu lakum." Wahai
kakak-kakakku, tidak ada cercaan bagi
kalian pada hari ini. Semoga Allah
mengampuni
kalian. Subhanallah. Nabi Yusuf tidak
mencaci maki, tidak mengatakan, "Kalian
telah berbuat kepadaku demikian
demikian. Kalian telah menyiksaku dan
semua cerca tidak diucapkan sama sekali
oleh Nabi Yusuf Alaih Salam. Dan itu
yang juga diucapkan oleh Nabi sallallahu
alaihi wasallam ketika Nabi sallallahu
alaihi wasallam menaklukkan kota Makkah
setelah 8 tahun sebelumnya beliau diusir
dari kota Makkah sehingga harus
berhijrah. Pada tahun 8 Hijriah beliau
datang dengan 10.000 pasukan kemudian
melaklukkan kota Makkah sehingga
orang-orang Quraisy pada ketakutan. Maka
kemudian Rasul sahu al wasallam berkata
kepada mereka, "Laikumulum."
Aku berkata kepada kalian sebagaimana
perkataan saudaraku Yusuf kepada
kakak-kakaknya. Laribaikum.
Tidak ada cercaan bagi kalian sama
sekali. Idzhabu faantumqa. Pergilah
kalian wahai Quraisy. Meskipun kalian
musyrikin, pergilah kalian sungguhnya
kalian bebas. Rasul sahu alaihi wasallam
maafkan dengan berlapang dada. Maka
seorang ketika dizalimi oleh orang lain,
dia ingat ayat ini, berusahalah dia
melapangkan dadanya, berharap ampunan
dari Allah subhanahu wa taala. Siapa
yang mengampuni, dia akan diampuni oleh
Allah subhanahu wa taala.
Allah subhanahu wa taala memerintahkan
kita untuk mengampuni. Ya ala tuhibbuna
ayagfirallahu lakum kata Allah, walfu
walasfahu. Hendaklah mereka memaafkan
dan berlapang dada.
Tidakkah kalian suka diampuni oleh
Allah? Jika kita memaafkan, kita akan
dimaafkan oleh Allah. Dan kita tahu kita
semua banyak dosa. Ketika ada orang
menzalimi kita, ini kesempatan bagi kita
untuk diampuni oleh Allah Subhanahu wa
taala. Bagaimana caranya? Dengan maafkan
Dia. Kalau dalam hali kita berkata,
"Banyak hak-hak kita yang tidak
ditunaikan." Ingat, wa innsaata
laatiyatun. Hari kiamat akan datang.
Fasfah jamil. Maka lapangkanlah dadamu.
Hakmu tidak akan hilang. Hakmu akan
dikembalikan pada hari kiamat kelak.
Lagi pula kita hidup cuma sebentar, maka
jangan kita rusak kebahagiaan kita
dengan dendam yang membara yang tidak
selesai-selesai. Oleh karenanya cara
yang terbaik adalah fasfah jamil.
Maafkan saja. Kita akan diberi
kebahagiaan di dunia dan di akhirat akan
diampuni oleh Allah subhanahu wa taala.
Dan di antara akhlak yang indah yang
Allah sebutkan dalam Al-Qur'an yaitu
sabrun jamil.
Fasbir sabaran jamila. Kata Allah,
bersabarlah dengan kesabaran yang indah.
Dan ini yang diucapkan oleh Nabi Yakub
Alaih Salam ketika dia dipisahkan dari
Nabi Yusuf, anaknya yang sangat dia
cintai. Kata Nabi Yaakub alaihi salam,
"Fasobrun jamil." Maka aku akan sabar
dengan sabar yang indah. Apa yang
dimaksud dengan sabar yang indah? Sabar
yang indah memiliki kedudukan yang
tinggi. Itu sabar yang tidak disertai
dengan keluh kesah, tidak disertai
dengan tadjur, ngamuk-ngamuk
dan tidak disertai dengan syakwa. Tidak
mengeluh kepada orang lain.
Bahkan disebutkan Nabi Yakub dipisahkan
dari putranya Yusuf Alaih Salam sampai
ada yang mengatakan 15 tahun, ada yang
mengatakan 40 tahun, ada yang mengatakan
lebih daripada itu. Dan selama puluhan
tahun tersebut dia tidak pernah mengeluh
kepada manusia. Bahkan dia bersabar
meskipun sampai kedua matanya buta. Kata
Allah Subhanahu wa taala, "Wyad aahu
minal huzni." Ya, kedua matanya buta
karena saking sedihnya. Fahua kadim. Dan
dia meredam amarah. Dia jengkel sama
anak-anaknya, tapi dia tidak
mengungkapkan kejengkelannya. sampai
anak-anaknya bikin masalah berkata,
"Tallahi
yusufta takuna takuna minalikin." "Wahai
ayahanda, ngapain ingat-ingat Yusuf
terus?" Padahal mereka yang bikin
masalah. "Napain ingat-ingatmu Yusuf
terus sampai kau terkena penyakit berat
bahkan kau bisa binasa gara-gara ingat
Yusuf?" Apa kata Nabi Yakub Alaih Salam
dengan kesabaran yang indah? Qala innama
asqui wa huzniallah. Aku hanya
mengadukan kesedihanku dan kesusahanku
hanya kepada Allah Subhanahu wa taala.
Wau minallahi maa tun. Dan aku tahu apa
yang kalian tidak ketahui. Dia tidak
marah-marah kepada anak-anaknya dan
anak-anaknya buat dia jenggal. Dia tetap
menahan amarahnya dan dia tetap bersabar
meskipun tidak bisa dipungkiri. Dia
tetap sedih sampai akhirnya kedua
matanya tidak bisa melihat kembali.
Tidak bisa melihat dan dia tetap
berkata, "Aku hanya mengeluhkan
kesedihanku hanya kepada Allah Subhanahu
wa taala. Sabar yang berkesinambungan.
Puluhan tahun tidak mengeluh kepada
siapapun. Itulah disebut dengan sabrun
jamil yang akhirnya ujungnya
mendatangkan keindahan. Semoga Allah
subhanahu wa taala mengugerahkan kepada
kita akhlak-akhlak yang indah. Hza
astagfirullaha wakum wal muslimin kiah
fastagfiruhu innahu gfurahim.
Alhamdulillahi ala ihsani wasukrulahu wa
taufiqihi wamtinani ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman
wa asadu anna muhammadan abduhuasuluh da
ridwan allahumma shli alaihi waa alihi
wa ashabihi wa ikhwani. Di antara akhlak
yang mulia yang menakjubkan Allah
sebutkan dalam Al-Qur'an adalah sarohan
jamilan. Yaitu menceraikan dengan cara
yang indah. Ya, Nabi pernah berkata
kepada istri-istrinya sebagaimana Allah
sebutkan dalam surat al-Ahzab. Ya,
yazwajika
inunah
jamil. Katakanlah wahai Rasulullah
kepada istri-istrimu, "Wahai
istri-istriku, kalau kalian ingin
kehidupan dunia, harta dunia dan
keindahannya
fataalin, maka kembalilah. Umatiun, aku
akan berikan pemberian kepada kalian."
Wa usarhunna sarohan jamila. Dan aku
akan menceraikan kalian dengan cerai
yang indah. Apa yang dimaksud dengan
cerai yang indah? Maksudnya biduni
mughadabah tanpa harus marah-marah,
musyatah tanpa harus caci memaki. Kata
Syekh Sa'di rahimahullahu taala. tanpa
ada dendam menceraikan konsekuensi atau
kondisi mengharuskan seorang menceraikan
istrinya daripada kalau bertahan kondisi
semakin runyam. Tetapi ketika dia
menceraikan benar-benar dibangun di atas
kemaslahatan maka dia menceraikan dengan
cara yang indah. Sebagaimana Allah
sebutkan marratan faimsakun brufinhun
bisan cerai bisa dua kali. Setelah
kecerai kau bisa kembali tapi dengan
cara yang makruf atau kau melepaskan
biihsan dengan cara yang indah. Maka
meskipun dia mencerai, dia menceraikan
karena Allah subhanahu wa taala. Bahkan
ketika dia menceraikan dia dapat pahala
dari Allah subhanahu wa taala tanpa
harus ngamuk-ngamuk, tanpa harus
membokar aib di antara mereka, tanpa
harus membalas dendam. Dan itu yang
terjadi banyak di kalangan masyarakat.
Ketika terjadi perceraian, maka bukan
dengan perceraian yang indah, tapi
dengan permusuhan, dendam, saling
menjatuhkan, saling membukar aib.
Kadang-kadang anak-anak menjadi korban
disuruh bermusuhan dengan ibunya atau
disuruh bermusuhan dengan bapaknya
sehingga kemudratan yang berkepanjangan.
Maka tidak demikian seorang ketika harus
pun menjatuhkan cerai kepada istrinya,
harus berpisah dari istrinya, maka dia
ingat firman Allah Subhanahu wa taala,
"Faimsakun bima'rufin tasrih bian."
hendaknya dia mencerai dengan cara yang
baik jamil yaitu dengan cerai yang indah
yang dibangun di atas takwa kepada Allah
subhanahu wa taala
inallahikatahu
nabi yaina amanu shu alaihi
wasallimuaslima M.