Kind: captions Language: id Kita lanjutkan. Bismillah. Alhamdulillah. W shalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasahbihi wa. Kita lanjutkan bahasan dari kitab al-Aqidah Thahawiyah. Pada pertemuan lalu kita telah membahas perkataan al Imam Thaahawi. Wahua jalla jalaluhu mustagnin anil arsy wunahu. Dan dialah Allah Subhanahu wa taala yang tidak butuh kepada arsy dan apa juga yang di bawahnya. Yni sear kita singgung pada pertemuan lalu itu membantah ee pendapat yang mengatakan kalau Allah di atas arsy berarti Allah butuh kepada arsy dan butuh kepada yang di bawahnya itu malaikat yang memikul arsy. Yang benar Allah di atar arsy dan tidak butuh kepada arsy tersebut. Sudah kita bahas pada pertemuan lalu. Sekarang lanjutkan. Al Imam Thaha berkata rahimahullah. Muhitun bikulli. Allah meliputi segala sesuatu wa fauqahu dan di dan berada di atas segala sesuatu. Waq aja khqohu. Allah menjadikan makhluk tidak mampu untuk meliputi Allah subhanahu wa taala. Ya Allah menjadikan makhluk tidak mampu meliputinya. Ya wala yuhituna bihi ilma. Ilmu mereka tidak bisa meliputi Allah Subhanahu wa taala. Di sini perhatikan ee nuskah yang masyhur ada wau di sini. Muhitun bikulli syai. Allah meliputi segala sesuatu dan berada di atas segala sesuatu. Dalam sebagian nuskhah ada wau dihapuskan. Wau dihapuskan sehingga menjadi muhitun bikulli syaaiin fauqohu. Ya, seperti ini. Bikulli syaaiin fauqohu. Jadi wya hilang. Ada wau hilang di sini ya. Kalau begini maknanya berubah ya. Kalau begini maknanya berubah. Berarti Allah meliputi segala sesuatu yang ada di atas arsy. Kalau gini maknanya Allah meliputi segala sesuatu. yang di atas arsy. Ini dijelaskan oleh Ibnu Abilis Alhanafi. Hilangnya huruf wau di sini bisa jadi salah nulis atau sengaja. Ahlul bidah sengaja. Karena kalau ada huruf wau jelas Allah meliputi segala sesuatu dan dia di atas segala sesuatu. Dan itu menunjukkan tentang sifat al-ulu, sifat ketinggian Allah Subhanahu wa taala. sehingga agar tidak menetapkan sifat al-ulu, mereka hapuskan huruf wau. Kita tahu bahwasanya ee ee Abu Jafar at-Tahawi bermazhab Hanafi dan pensyarahnya Ibnu Ablis alanafi juga fakih Hanafi. Tetapi banyak orang-orang ahnaf yang terpengaruh dengan mazhab Maturidiyah, terpengaruh dengan ilmul kalam sehingga mereka menolak Allah berada di atas. Ya. Jadi, ada kemungkinan mereka ketika menasekh ya ee perkataan Abu Jafar at-tahawi ada huruf wau mereka hilangkan. Tapi kalau huruf wau dihilangkan maknanya jadi kacau. Maknanya jadi muhitun bikulli syaaiin fauqahu. Hak kembali kepada arsy. Allah meliputi segala sesuatu yang ada di atas arsy. Padahal kita tahu makhluk tertinggi apa? Arsy. Itu segala sesuatu apa maksudnya? Jadi maknanya jadi kacau. Yang benar ini yang benar. Ini yang benar ada huruf wau. Allah meliputi segala sesuatu dan faqo kulli berada di atas segala seesuatu. Paham? Paham sampai sini? Ini di sinilah. Kemudian Ibnu Abil Is Hanafi dalam syarah al-Aqidah tahwiyah membahas tentang sifatul ulu. Sifatul ulu bab Tib. Kita lanjut. Sifatul ulu. Alulu uluullah. Al-uluullah terbagi menjadi tiga. Yang pertama disebut ulu al-qadar atau uluus sya'an. Ketinggian kemuliaannya. Yaitu maksudnya ketinggian sifat-sifat Allah subhanahu wa taala. Yang kedua disebut ulu qahar. Ketinggian kekuasaannya itu maha mendominasi. Tidak ada yang bisa ee mengalahkan Allah. Allah kalau menentukan, menetapkan, gak ada yang bisa protes, gak ada yang bisa membatalkan. Maka ulu qahar. Yang ketiga, uluwuzzat. Zat Allah di atas seluruh makhluknya. Ini kita bahas tadi. Muhitun bikulli syaaiin wa fauqahu. Allah meliputi segala sesuatu dan berada di atas segala sesuatu. Kalau untuk yang model pertama ulu yang ulu qadr atau sya'an dan ulu qahar ini diingkari. Semua menetapkan Allah memiliki ulu qadar. Bahwasanya Allah sangat mulia dan dia termulia daripada yang lainnya. Dan juga Allah maha mendominasi. Dan semua tahu bahwasanya Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Tetapi yang ditetapkan oleh ahlusunah yang ketiga yaitu uluzat. Zat Allah berada di atas arsy, berada di atas seluruh makhluk. Ini yang ditolak oleh seluruh penolak sifat atau ahlul bidah. Mereka menolak Allah di atas seluruh makhluknya. Padahal dalil begitu banyak. Nanti akan kita jelaskan. baik dalil aqli, dalil nas Al-Qur'an dan sunah, dalil fitrah, maupun ijma. Maupun ijma. Ee tentu mereka punya syubhat ya. Kebanyakan mereka terjebak pada syubhat tajsim ya. Tayib. Sehingga ee mereka meyakini bahwasanya Allah tidak di atas. Kalau Allah di atas melazimkan Allah adalah jisim. Kalau oleh jisim berarti seperti makhluk, berarti tasybih dan macam-macam dengan syubat-syubat akal yang lainnya. Adapun ahlul bidah secara umum kita bisa bagi pendapat mereka seperti pertama Jahmiyah. Jahmiyah ada dua model. Yang pertama disebut aljahmiyah almutaabbidah atau almutfaqihah. Yang ini mereka berpendapat Allah di mana-mana. Yang ini yang dibantah oleh Imam Ahmad dalam kitabnya Arad Alal Jahmiyah wazzanadiqah. Imam Ahmad membantah Jahmiyah almutaabbidah yang mengatakan Allah fi kuli makan. Kalau bahasa kita apa? Allahu fi kulli makan. Allah di mana-mana. Allah di mana-mana secara zatnya Allah di mana-mana. Kemudian muncul berikutnya aljahmiyah almutakallimah. Yaitu ahli jahmiyah ahlul kalam yang mereka mengatakan Allah tidak di dalam alam dan juga tidak di luar alam. Tidak di dalam alam, tidak juga di luar alam. Ya. Ya. Ini ya ini menggabungkan dua hal yang kontradiksi. Karena segala sesuatu selain alam yaitu Allah Subhanahu wa taala atau semua seluruh alam. Kalau bukan dalam Allah, di luar Allah. Enggak ada kemungkinan ketiga. Tapi mereka mengatakan Allah tidak di luar alam, tidak juga di dalam alam. Ini Jahmiyah almutakallimah ya yang kemudian diikuti oleh Asyairah mutaakhirin. Ini semuanya menolak Allah di atas arsy. Alhululiyah. Hululiyah maknanya yaitu Allah menempati. Hulul maknanya menempati. Hulul. Alhululiyah maknanya menempati dari halla. Alhululiah yaitu meyakini Allah menempati. Maka ada yang mengatakan Allah menempati alam. Ya Allah menempati alam. Allah zat tapi menempati alam. Atau Allah menempati sebagian alam seperti menempati wali-wali seperti mereka mengatakan ma fil jubah illallah. Tidak ada di balik jubah ini kecuali siapa? Allah. Ya, perkataan sebagai sebagian sufi-sufi ya, mereka mengatakan bahwasanya dalam jubah ini adalah Allah. Itu Allah menempati sebagian makhluknya. Ya, ini mazhab namanya hululiyah. Mazhab berikutnya disebut ittihadiyah mirip. Tapi ittihadiyah artinya Allah bersatu. Bersatu dengan makhluk sehingga satu kesatuan tidak bisa dipisahkan. Ibarat kalau menempati itu kita tuangkan air di gelas namanya air menempati apa? Gelas. Dan ada yang mengatakan Allah bersatu dengan makhluk ya. Sebagaimana kalau kita campurkan ee susu dengan kopi kita aduk maka jadi susu kopi. Satu kesatuan tidak bisa dipisahkan. Ini mirip seperti mazhab dalam mazhab-mazhab dalam Nasraniyah. Ada yang mengatakan Allah menempati Isa. Ada yang mengatakan Allah bersatu dengan Nabi Isa. Ada yang mengat Allah adalah Isa. Isa adalah Allah. Ada beberapa mazhab di kalangan kaum Nasra. Tib berikutnya adalah mazhab ee Muktazilah. Almuktazilah. Almuktazilah. Mereka ee mengatakan Allah tidak mungkin dilihat ya. Dan Allah adalah zat tanpa sifat. Kata mereka Allah zat tanpa sifat. Zat tanpa sifat. Sudah pernah kita jelaskan kalau Allah bersifat berarti syirik. Kata mereka dengan syubah taadudul qudama sudah pernah kita bahas. Jadi zat tanpa sifat sehingga zat-zat Allah kosong dari sifat-sifat. Tidak ada sifat melihat, sifat mendengar, sifat ilmu. Enggak ada. Zat tersebut tidak boleh ada sifat. Karena kalau ada sifat berarti jisim. Sehingga mereka mengatakan Allah zat tanpa sifat. Dan Allah tidak mungkin dilihat. Mustahil dilihat. Sehingga para ulama mengatakan wujud wujudnya Allah menurut versi Muktazilah adalah wujudun zihni. Yaitu hanya wujud yang dalam benak saja. Wujud dalam benak. Wujud dalam benak yang rilnya tidak ada. Yang rnya tidak tidak ada tib ini [Musik] Muktazilah. Sehingga merekan Allah tidak mungkin dilihat di dunia maupun di akhirat. Karena Allah tidak tidak bukan zat yang ada sifatnya sehingga cuma dibenarkan aja sebenarnya hakikatnya Allah cuma dalam dalam benak tib [Musik] asyairah saya tambahkan sini [Musik] asyairah asyairah terbagi menjadi dua. pertama almutaqaddimun asyairah terdahulu ee pendiri apa ee perintis ya terdahulu di antaranya Abu Hasan al-Asy'ari dan murid-muridnya Abu Hasan Asy'ari kemudian murid atau murid-murid murid dari murid-muridnya seperti Albaqilani, Abu Hasan al-Asy'ari ya mereka mengatakan seperti ahlusunah Allah di atas arsy. Allah di atas di atas makhluknya. Dan ini Abu Hasan Asy'ari sebutkan dalam kitabnya ee di antaranya Maqalatul Islamiyin. Kemudian di antaranya Risala Ila Ali Tagr. Dia menyatakan seluruh manusia ijma bahwasanya di atas arsy. Buktinya mereka berdoa dengan mengadakan tangan ke langit sehingga semua sepakat Allah di atas ars. Ini Abu Hasan al-Asy'ari. Adapun yang mutaakhirin atau mutaakhirun itu Asyairah belakangan mulai dari Aljuwaini ya, Aljuwaini kemudian ee kemudian sampai Arrazi ya dan seterusnya ya ee Al-Amidi ya sampai yang belakangan ya seperti Asanusi mereka mengatakan ini sama dengan ee Jahmiyah. sama dengan Jahmiah mutakalimah yaitu Allah tidak di dalam alam, tidak di luar alam. Allah tidak di dalam alam dan juga tidak di luar alam. Nah, ini ini yang sekarang beredar di di Asyairah zaman sekarang ini, yaitu pendapat mereka seperti Jahmiyah ee mutakalimah yang mengatakan Allah tidak di dalam alam dan Allah juga tidak di luar alam. Ya, paham? Paham atau tidak? Siap ujian nanti. Tayib. Kita lanjut. Sudah tay kita lanjut sekarang. Ee jadi kalau tidak menetapkan Allah di atas arsy itu menimbulkan penyimpangan dalam akidah. Makanya penting menetapkan olitas arsy karena membenahi akidah seseorang. Kalau tidak mendapatkan menetapkan arsy nanti bisa jatuh ke macam-macam. Kalau enggak begini begini, kalau begitu macam-macam. Akan jatuh dalam berbagai macam pemikiran. Di antaranya salah satunya ini ya. Tapi kalau mengatakan Allah di ars selesai. Allah di atas arsy. Seluruh makhluk di bawah Allah. Dan Allah menguasai semua yang di bawah arsy. Ya tayib. Kita lanjutkan sekarang dalil-dalil ketinggian zat Allah Subhanahu wa taala. Dalil ketinggian Allah subhanahu wa taala. Dalil akal, dalil fitrah, dalil nas, dalil ijma. Saya mulai dulu dari dalil nas Al-Qur'an dan sunah. Karena ini hukum asal adalah kita menetapkan sifat-sifat Allah dengan Al-Qur'an dan apa? Sunah. Dalilnya banyak. Ada 23 sisi pendalilan. 23 sisi pendalilan. Yang pertama Ibnu Abdul His menyebutkan sekitar 18. Kemudian ditambah lagi oleh Ibnul Qayyim dan Hafiz Al-Hakami. Sehingga ada 24 atau 23 pendalilan. Yang pertama ada fauqiyah. Faq artinya ketinggian. Seperti Allah berfirman tentang para malaikat. Kata Allah Subhanahu wa taala eh yakhofuna rbahum min fauqihim. Artinya para malaikat takut kepada Rabb mereka min fauqihim. Dari arah atas mereka. Kalau sudah ada min itu menunjukkan arah. Ya. Yakfuna rbahum min fauqihim. Malaikat takut kepada Rabb mereka dari arah atas mereka. Ya. Ya. Dan dalam Al-Qur'an banyak Allah mengatakan min fau min faq maksudnya dari sisi arah ya. seperti jadi kalau ada min sama fauk maka itu sudah nas bahwasanya itu menunjukkan arah. Beda kalau saya berkata fauk saja di atas seperti saya mengatakan begini azzahabu fauqal fidah emas di atas perak. Mungkin ada yang mengatakan maksudnya bukan posisi tapi maksudnya adalah kualitas. Paham atau tidak? Karena mereka ahlul bidah. Mereka mentakwil. Kata mereka, "Fauk maksudnya adalah dari sisi kualitas. Seperti kita mengatakan azzahabu fauqal fidah." Emas di atas perak. Maksudnya kualitas bukan posisinya. Itu benar secara bahasa Arab kalau tanpa huruf minti ada kemungkinan bahwasanya itu maknanya adalah perbedaan kualitas. Tapi kalau sudah pakai min itu menunjukkan apa? Arah. Min fauqihim. Berarti dari arah atas gak ada tafsiran lain. Dan itu banyak dalam Al-Qur'an sebelum surat Almaidah kata Allah Subhanahu wa taala akalu min fauqihim wamin tahti arjulihim. Mereka akan makan dari atas atas mereka dan dari arah bawah mereka. Ini tentang ahlul kitab kalau mereka bertakwa laalu min fauqim itu mereka akan mendapatkan rezeki dari arah atas mereka. Wam tahti arjulim dan di arah bawah mereka. Allah gandengkan antara arah atas dengan arah bawah. Demikian juga surat Alanam ayat 65. Dan dialah Allah yang maha kuasa mampu untuk mengirim azab kepada kalian minuikum w tahti arjulikum. Dari arah atas kalian atau dari bawah kaki kalian sama minarti pasti arah. Paham? Maksudnya dalam Al-Qur'an banyak sekali ya. seperti lahum min jahanama mihadun dan bagi mereka neraka jahanam di bawahnya adalah tempat tidurnya mihad dari api dan selimut dari api juga dari atas jadi minfa pasti artinya apa dari arah atas Ibrahim ya yang seluruhnya ada ya dan banyak sekali kalau mau dicari ditulis saja min faq akan keluar banyak sekali ayat dalam Al-Qur'an Allah menggunakan lafal min fauq maksudnya dari arah atas. Seperti ayat ini dalam surat Annahlakahum. Para malaikat takut kepada Rabb mereka. Dari mana? Min fauqihim. Dari arah atas mereka. Berarti Allah di atas para malaikat. Malaikat di langit berarti Allah di atas di atas mereka. Berarti Allah di atas apa? Langit. Ini dalil sangat jelas bahwasanya Allah di atas para malaikat. Malaikat ada ada di langit. Enggak banyak dalilnya. Malaikat di langit dan mereka lapor kepada Allah. Nanti kita sebutin bab. Dalil yang [Musik] kedua. Dalil yang kedua, fauqiah secara mutlak. Ini yang masih bisa ditakwil. Wahual qoahiru fauqo ibadih. Dan dialah Allah berada di atas hamba-hambnya. Ya, sebagian ahlul bidah mentakwil kata mereka. Faq di sini maksudnya secara kekuasaan bukan secara posisi. Benar. Secara bahasa kalau sekedar fauk tanpa ada minnanya juga ee kualitas atau bukan posisi. Tetapi kalau kita lihat konteks ayatnya, maka faukiah di sini mencakup juga fauqiah apa namanya? Posisi bahwasanya posisi Allah berada di atas makhluknya ya. Di atas makhluknya ya. Dan Ibnu Abis Hanafi menyebutkan tidak pantas Allah dibandingkan dengan makhluknya kalau tanpa ada sebab. Hanya sekedar Allah lebih baik daripada makhluk. Apa apa faedahnya? Apa faedahnya ya seakan-akan merendahkan kedudukan Allah? Misalnya kita mengatakan misalnya ada orang mengatakan ee Syekh bin Bas lebih lebih pintar daripada Firanda. Ini menghina atau merendahkan Syekh bin Bas atau menaikkan kualitas Syekh bin Bas? Merendahkan. Karena ngapain dibandingkan dengan saya? Beda kalau Syekh bin Bas lebih pintar dari Syekh Albani. Ah itu baru baru kita angkat derajat apa? Syekh bin Bas. Tapi kalau Sy bin Mas lebih pintar daripada kamu ya ngapain merendahkan ya? Makanya Pir berkata, "Alamaraifa yanusuqruza qila inaifa am minal as diakkah kau lihat bahwasanya pedang itu akan jatuh pamornya jika kau berkata pedang lebih tajam daripada tongkat ya." Apa ngapain pedang dibandingkan dengan apa? Tongkat. Tapi kalau pedang lebih tajam dari pisau ini memuji apa? Pedang. Jadi apa faedahnya Allah mengatakan Allah lebih kuasa dari makhluknya hanya sekedar begitu tanpa ada sebab maka kurang pas. Intinya benar secara bahasa kalau sekedar fauk itu bisa menunjukkan ee ketinggian kualitas ee tetapi juga umum kalau kita ambil umumnya termasuk juga posisi Allah. Apalagi ada ayat yang sebelum yang sudah kita sebutkan ada min dan fau paham sampai sini. Yang kemudian dalil berikutnya ada lafal aluruj. Aluruj artinya naik seperti mikraj. Mikraj itu Rasulullah naik ke langit ya. Seperti firman Allah, taujul malaikatu waruhu ilaih. Naiklah malaikat, para malaikat dan Jibril kepada Allah. Naik kepadanya. Berarti Allah di mana? Ada enggak? Allah di mana-mana. Kalau di mana-mana enggak mungkin naik kepadanya. Bismillah. Maksudnya alhamdulillah lafal naik kepada Allah menunjukkan Allah di atas. Jelas sekali. Karena naik itu ke mana? Ke ke atas. Dan malaikat naik ke atas. Para malaikat dan ruh maksudnya malaikat Jibril. Para malaikat dan malaikat Jibril naik kepadanya. Kemudian juga dalam hadis kata Nabi sallallahu alaihi wasallam fujina fikum. Kata Allah Subhanahu wa taala dalam hadis kata Rasulull sahu alaihi wasallam eh apa namanya? Yataqabuna fikum malaikatun bail malaikatun binahar. Ada malaikat sip siang ada malaikat sip malam. Mereka mengawasi kalian maka malaikat yang tadi malam nginap bersama kalian naik ke atas lapor kepada Allah. Maka Allah bertanya kaifa ibadi? Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hambaku? Dan Allah sudah tahu. Kata para malaikatum wahum yusun. fainahum wahum yusun. Kami datangi mereka, mereka dalam kondisi salat dan kami tinggalkan mereka dalam kondisi juga salat. Ya. Ya. Jadi ee malaikat naik lapor kepada siapa? Kepada Allah. Allahnya di mana? Di a atas. Makanya naiknya ke atas. Laporan ke atas. Sangat jelas. Kemudian juga ada lafal suud. Suud artinya manjat. Manjat. Suud itu naik. sama saat maj atau naik ya maknanya kata Allah ilaihiasul kalimut thayibu ya bahwasanya ee lebih lebih naik juga ya maknanya sama ya naik bahwasanya kata kalimat-kalimat yang baik berupa zikir berupa Al-Qur'an amalan tersebut naik kepada Allah ada kata ilaihi naik kepadanya dan naik ke mana ke atas ya sudah berarti Allah di atas karena dikatakan naik kepadanya. Ini dalil yang keempat. Yang kelima, sebagian makhluk diangkat kepadanya. Sebagian makhluk diangkat kepadanya seperti Allah mengangkat Nabi Isa. Kata Allah, wama qataluhu w shuhu wakin syubbiha lahum wtaluhu yakina barahullah ilaih. Ya kata Allah, mereka tidak bunuh Nabi Isa. Mereka tidak pernah menyalib Nabi Isa. Ya, tapi ada orang yang diserupakan dengan Nabi Isa. Kata Allah, barofaahullahu ilaih. Akan tetapi Allah angkat Nabi Isa kepada Allah. Diangkat ke Allah. Berarti Allah di mana? Di atas. Demikian juga dalam ayat yang lain, "Ya Isa inni mutawafika warofiuka ilai." Wahai Isa, aku akan mewafatkan engau dan aku akan angkat engkau kepadaku. Warofiuka ilaiya," kata Allah, "Aku akan angkat engkau kepadaku." Berarti Allah di mana? Di atas. Kemudian juga lafal ulu almutlq secara mutlak. Wahual aliyul kabir. Wahual aliyul adzim. Dialah Allah yang maha agung, maha tinggi, maha agung. Wahual aliyul kabir. Dialah Allah maha tinggi, maha besar. Ya, ada salah seorang dai di YouTube yang menolak Allah di atas. Bahkan siapa yang nunjuk Allah di atas? Kafir katanya. Tapi waktu dia mensyarah surah ee ayat kursi, wahual aliyul wahuwal aliyul adzim kata maha tinggi dan maha agung. Ditunjuk mana? Tunjuk ke atas. Jadi ee di sini Allah maha tinggi dan maha agung, maha tinggi dan maha besar. Aliyun hakim. Allah maha tinggi. Kemudian di antara dalil bahwasanya Allah di atas turun kitab darinya. Al-Qur'an turun darinya. Allah berfirman, "Tanzilul kitabi minallahil azizil hakim." Turun. Al-Qur'an turun dari Allah. Turun dari Allah. Selesainya Allah berarti di atas karena Al-Qur'an turun dari Allah. Allah juga berfirman, "Tanzilul kitabi minallahil azizil alim." Alqur'an turun dari Allah yang maha perkasa lagi maha berilmu. Inna anzalahu fi lailatin fi lailatil qadar. Dalam ayat yang fi lailatin mubarokah. Inna anzalnahu kami turunkan Al-Qur'an. Berarti dari atas ke bawah Allah turunkan lewat malaikat Jibril. Malaikat Jibril turunkan kepada siapa? Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Kemudian juga Allah sebutkan sebagian makhluknya khusus di sisinya. Seperti firman Allah, innalladzinaika la yastakbir ibadati wala yastahsirun. Sesungguhnya malaikat yang berada di sisi Rabbmu, di sisi Rabbmu berarti dia tidak, berarti dia di atas ya karena lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa taala. Maksudnya para malaikat ya. Kalau Allah di mana-mana tidak dikatakan ada di sisi Rabb, enggak ada. Semuanya sama. Demikian ayat berikutnya perhatikan. Walahu man fis samawati wal ardhi waman aahu. Dan milik Allahlah semua yang di langit dan yang di bumi dan yang berada di sisinya. Berarti Allah bedakan. Yang di langit ada makhluknya, yang di bumi ada makhluknya, yang di sisinya juga ada makhluknya. Berarti beda. Allah tidak di mana-mana. Di sisinya berarti di atas. Mereka lebih tinggi lagi di sisi Allah di daripada makhluk-makhluk yang yang lainnya. Kemudian juga ketika Rasulullah menyebutkan Allah mencatat semuanya dalam ee kitab yaitu dalam lauhil mahfuz annahuahu fauqal arsy. Bahwasanya kitab lauhil mahfuz di sisi Allah di atas arsy. Lauhil mahfuz letaknya di mana? Di atas arsy. Di sisi Allah. Karena Allah di atas apa? Arsy. Jelas. Jadi ketika disebut ada sebagian makhluk di sisi Allah menunjukkan Allah maha tinggi. Kalau Allah di mana-mana maka tidak bisa dikatakan sebagian makhluk di sisi Allah. Karena semua makhluk akan derajatnya sama karena Allah di mana-mana. Kalau Allah tidak di dalam alam, tidak di luar alam, maka tidak bisa dikatakan sebagian makhluk di sisi Allah. Karena Allah tidak bisa di sisi, tidak ada satuun yang bisa di sisinya. Karena dia tidak di luar alam, tidak juga dalam alam. Paham? Ketika dikatakan ada sebagian makhluk di sisi Allah, berarti Allah berposisi dan berarti dia di atas. Paham atau tidak? Kecepatan enggak ini? Hah? Paham enggak? Paham ya? Insyaallah masih ada 23 dalil ya. Baru yang kesembil Allah di atas langit. Dalilnya amintum fisamaikum ard. Apa kalian merasa aman dari Allah yang di atas langit? Yaitu kalian di bumi, kalian merasa aman karena Allah di atas, kalian merasa aman. Jadi Allah mengatakan, "Kalian di bumi kalian merasa aman dari zat yang di atas langit." Ya. Dan dan dalam Al-Qur'an misalnya dalam hadis kata Rasulull sahu alaihi wasallam, "Kalian tidak percaya kepadaku." Wa ana aminum man fisama. Sementara aku kepercayaan zat yang di atas apa? Langit. Jelas. fisama di fi kalau maknanya adalah tinggi karena fi sama bisa artinya tinggi. Sama itu bisa dua makna bisa maknanya sekedar tinggi bukan bukan berarti ee sama almabniyah bukan berarti langit yang kita lihat sama secara bahasa Arab bisa artinya apa? Ting tinggi. Seperti Allah berfirman, "Alamar kaifaballah matalan kalimatan thibatan thibatin asluha tabitun wauha fama." Tidak kalian melihat pohon yang akarnya menancap dan ee dahannya menjulang ke sama ke langit maksudnya ke atas. Jadi asama dalam bahasa Arab bisa artinya apa? Bisa artinya tinggi. Ya. Di antaranya kalau dikatakan aamintum fisama apa kalian merasa aman dari Allah yang berada di ketinggian? Maka fi di sini artinya di. Tapi kalau sama yang dimaksud adalah sama yang kita lihat yang langit dunia, langit satu, kedua sampai ketujuh, maka fi maksudnya adalah ala di atas. Jika maknanya langit, maka fi maknanya adalah ala itu di atas. Seperti firman Allah, fasiru fil ardhi. Ya, berjalanlah di bumi. Maksudnya di atas di atas bumi. Paham? Bukan kaki masuk di tanah. Enggak. Fi maksudnya di di atas ya. fi juz fi juzuin nakhli ya. Dan kami akan apa namanya? Ee salib di atas di atas ee batang batang kurma ya. Jadi fi maknanya bisa di bisa maknanya di a di atas. Kalau assama maknanya adalah ketinggian berarti Allah di keting ketinggian. Fi maknanya di. Tapi kalau maknanya langit Allah di langit makud di atas maksudnya di atas la langit bukan berada di dalam langit tapi di atas apa? Langit. Paham? Berdasarkan dalil yang lain, Allah karena langit baru kemudian air kemudian arsy baru Allah di atas arsy. Ini menunjukkan Allah di atas. Kemudian dalil juga Allah di atas arsy. Dan ini banyak ayat tujuh ayat ya. Summastawa alal arsy arrahmanu alal arsyaistawa. Sebagaimana kita jelaskan pada pertemuan sebelumnya. Dalil banyak menunjukkan Allah di atas ars dan arsy adalah makhluk yang ter tertinggi. Dia adalah ee atap dari surga al-firdaus ya. Sehingga di atas arsy adalah Allah subhanahu wa taala dan dia puncak dari makhluk dan Allah di luar makhluk. Tib. Kemudian yang ke-11 hamba-hamba mengangkat tangannya ketika berdoa. Ini di antara dalil bahwasanya Allah di atas. Dalam hadis kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Innallaha yastahyi min abdihi rofaudahuma sifran." Allah malu jika hambanya mengangkat kedua tangannya kepada Allah. Kepadanya kata Allah mengangkat kepadanya. Lalu Allah kembalikan kedua tangannya kosong. Mengangkat kepadanya berarti ke arah mana? Ke arah atas. Orang berdoa semuanya begini. Enggak ada yang begini ya. Apalagi begini enggak ada apalagi begini ke mana-mana enggak ada semuanya ke atas enggak ada ya. Kata Allah, "Hamba mengangkat kedua tangannya ke arahku." Berarti arah Allah di mana? Di [Musik] atas. Paham? Sudah difoto? Sudah, ya. Lanjut. Sekarang yang ke-12. Allah turun ke langit dunia setiap malam dalam hadis yanziluna tabarak wa taala hqul akhir minil fakulu ya hal minin faastajibahu mustagfirin faagfiralah hal minah rab-rab kita turun di langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir turun dari atas ke bawah kemudian Allah mencari hambanya adakah hambaku yang berdoa akan aku kabulkan adakah hambaku yang memohon ampun akan aku ampunkan adakah yang meminta akan aku kabulkan permintaannya. Ini jelas. Nanti kita akan bahas mungkin sifat nuzul. Tapi intinya ini jelas. Enggak mungkin kita bilang yang turun rahmat Allah. Kalau rahmat Allah cuma turun di di langit ngapain? Enggak sampai kita paham. Berarti rahmat cuma gantung kan bilang yanzilu rabbuna rab kami. Rabb kita turun di di langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir. Selesai. Kalau ditakwil itu adalah rahmat berarti rahmatnya cuma gantung di langit. Ngapain? Paham? Kalau ditakwil itu malaikat, masa malaikat berani berkata, "Siapa mohon ampun kepadaku akan aku ampuni." Mana malaikat berkata demikian? Yaakl minhum inni ilahu min dunih fzalika najisi jahanam. Ya, siapa di antara malaikat berani mengatakan, "Aku adalah Tuhan selain Allah, kami akan azab dia dengan neraka jahanam." Malaikat enggak ada yang berani bilang, "Siapa minta kepadaku akan aku kabulkan. Siapa yang beristigfar akan aku ampuni." Mana malaikat berani? Yang benar itu Allah Subhanahu wa taala. Ya, berarti Allah dari atas. Kemudian juga isyarat dari Nabi kepada Allah dengan jarinya. Ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam di haji, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "Ya eh antum masuluna antum qilun." Wahai para sahabatku, kalian akan ditanya oleh Allah tentang aku. Apa yang akan kalian jawab kalau kalian ditanya bagaimana tentang dakwah Muhammad? Maka para saat berkata, "Nashaduq risalah umah." Kami bersaksi bahwasanya engkau telah menyampaikan risalah Allah dan kau telah melakukan yang terbaik bagi umat ini dan kau telah berjihad dengan jihad yang benar dan seterusnya. Maka Rasulullah angkat jarinya. Rasulullah mengat Allahummashad. Allahummashad. Rasul, "Ya Allah saksikanlah mereka. Ya Allah saksikanlah mereka. Kalau Allah tidak di atas ngapain Nabi tunjuk ke atas? Ini bohong aja. Ngebohongin 100.000 sahabat. Paham? Jelas. Kira-kira kalau ada orang ada Arab Badui masuk Islam kan ada orang Badui bar Islam ikut hajian. Kalau Nabi bilang gini terus ternyata Allah tidak di atas berarti Nabi ngapusi. Paham? Ngerti ngapusi enggak? Ya bohong orang Arab ya. Ya Allah saksikanlah ini nunjuk ke atas gimana? Terus katanya Allah tidak di atas. Terus Nabi ngapain begini? Nabi ngapain begini? Nabi ngapain begini? Tib. Kemudian di antara dalil bahwasanya Nabi bertanya kepada seorang wanita, "Ainallah?" Berarti tanya posisi dalam bahasa Arab aina maksudnya apa? Di mana? Jelas. Ainallah? Dan jawabannya jelas. Fisama di atas langit. Selesai. Man ana? Siapa engkau? Siapa aku? Anta Rasulullah. Engkauah Rasulullah. Kata Rasulullah, atika fainnaha mukminah. Bebaskan dia. Merdekakan dia. Wanita mukminah. Kemudian berikutnya kelanjutan dari ke-14. Nabi mempersaksikan orang yang menyatakan Allah di langit dengan iman. Ini tadi hadis tadi. Ketika ada seorang sahabat ingin memerdekakan budaknya, Rasulullah panggil. Rasulullah tes dulu. Kata Rasulull sallallahu alaihi wasallam, "Ainallah? Di mana Allah?" Hadis sahih riwayat Muslim. Fisama Allah di langit. Man ana? Siapa engkau? Siapa aku? Kata dia, "Engkau Rasulullah." Kata aik fainnaha mukminah. Hebbat merekakan dia sesungguhnya seorang wanita mukminah. Jelas ya, bahwasanya ee Allah di atas langit. Tib yang ke-16 Allah mengabarkan Firaun mengingkari pernyataan Musa bahwa Allah di langit. Jadi, Nabi Musa mengabarkan Allah di langit. Maka Firaun ingin mendustakan Nabi Musa. Maka dia suruh Haman bikin bangunan yang tinggi. Waq firun ya asbab asbabati Musaahi Musa inuh. Kata Firaun, "Wahai Haman, Win." Kata Firaun, "Wahai Haman, ee buatlah bangunan yang tinggi supaya saya bisa sampai di langit, ya, pintu-pintu langit agar aku bisa buktikan bahwasanya Musa pendusta. Aku ingin melihat Tuhannya Musa. Menurutku dia pendusta." Jadi, apa tujuan Firaun bikin bangunan tinggi? Untuk membuktikan Tuhan tidak di langit. Sehingga dia mengatakan, "Menurutku Musa berdusta." Berdusta apa? Berdusta mengabarkan Tuhannya di mana? Di di langit. Maka dia ingin buktikan Musa pendusta. Dia pengin naik ke langit. Tuhanmu di langit. Saya cek dulu ada atau tidak. Ya. Maka kata Ibnu Qayyim, "Siapa yang menetapkan Allah di langit maka dia Musawi, dia pengikut Musa Alaihi Salam. Dan siapa yang menolak Allah di langit ingin membuktikan Allah tidak di langit, maka dia Firauni." Pengikut siapa? Firaun. Ini jelas sekali ya, bahwasanya Firaun menolak Allah di langit, makanya dia bilang, "Bangun tinggi, saya pengin cek." Menurut saya Musa pendusta, mana ada Tuhannya di langit. Kenapa dia ingin mengecek? Karena ada pernyataan Musa Alaih Salam bahwasanya Allah di langit. Sehingga dia ingin buktikan bahwasanya Musa bahwasanya Allah tidak di langit. Paham tidak? Paham. Paham. Kemudian ini yang ke-16. Yang ke-17. Ketika Nabi Mikraj bolak-balik naik antara Allah dan Musa, Nabi menerima perminta ee perintah salat 50 waktu. Kemudian Nabi turun ketemu Nabi Musa di langit ke berapa? Kelima kalau tidak salah ya. Keenam ya? Keenam. Tujuh Ibrahim ya. Keenam. Kemudian Nabi Musa bertanya berapa? 50. Berat minta fatlub minhu takfif. Irji ilbik fatlub minhu takfif. Baliklah kepada Tuhanmu dan minta keringanan. Umatmu tidak bakalan mampu. Saya sudah coba umatku Bani Israel mereka tidak mampu. Akhirnya Rasulullah balik. Balik diturunkan 5 jadi 45. Turun lagi dia Musa. Berapa? 45. Balik lagi. 45. Setiap kali Rasulullah balik kurang lima. Berarti berapa kali bolak-balik ya? Kalau 10 habis nol. Enggak salat kalau begitu tinggal iling ya. Enggak bolak-balik bolak-balik sampai dari 50 jadi berapa? 40 ya. Sampai tinggal lima. Dan disebut Rasulullah aku bolak-balik antara Allah Rabbku dan Musa. Bolak-balik atas bawah atas bawah. Paham? Baik. Sebelum saya saya lupa saya tambahkan lagi yang 24 ya. Rasulullah hampir melihat Allah ya. Hampir lihat Allah ya. Terkait Isra Mikraj ketika Rasul sahu alaihi wasallam sudah dekat dengan Allah maka Abu Dzar bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, hal roaita rabbak?" "Wahai Rasulullah, apakah kau lihat Rabbmu?" Kata Nabi, "Nurun anna arah ada cahaya. Bagaimana aku bisa melihatnya?" Sampai para sahabat khilaf. Nabi lihat Allah atau tidak? Kenapa mereka khilaf? Karena mereka tahu Nabi sudah dekat dengan siapa? Allah. Karena mereka tahu Nabi ketemu siapa? Allah. Ketika mereka tahu Nabi sudah ketemu Allah, sudah dekat dengan Allah, sehingga khilaf di kalangan mereka, Nabi lihat atau tidak. Seandainya Nabi tidak di langit, Allah tidak di langit, Nabi ketemu siapa? Kalau gitu enggak adakan ada khilaf di kalangan para sahabat. Ngerti pendalilannya? Saya ulangi. Nabi naik ke langit, Sidratul Muntaha ketemu siapa? Ketemu Allah. Ini di oleh para sahabat bahwasanya Allah, Nabi ketemu Allah. Makanya timbul khilaf di kalangan mereka. Apakah Nabi lihat Allah atau tidak? Sehingga Nabi ditanya, "Engkau lihat Allah?" Nabi berkata, "Ada cahaya. Bagaimana saya bisa melihatnya?" Seandainya Allah tidak di langit, apakah ada khilaf di kalangan para sahabat? Nabi lihat Allah atau tidak? Tentu tidak ada. Mereka bilang nabi tidak ketemu Allah. Kalau ada yang tanya, "Ya Rasulullah, apa engkau lihat Tuhanmu?" "Batmu, saya lihat Tuhanmu. Saya di atas tidak ada Tuhan." Harusnya kalau Tuhan tidak ada. Jawaban Nabi begitu. Emang saya ketemu Tuhan di atas? Siapa yang bilang Tuhan di atas? Kalau tidak ada Allah di atas, mungkin Rasulullah jawabnya. Bukan begitu. Maksudnya bahasa kita ya. Rasulullah bahasanya sungguh indah ya. Astagfirullah. Ma maksudnya Tuhan tidak di situ. Ini akidah sesat. Tuhan tidak di mana-mana. Tidak di atas, tidak di bawah. Ngapain tanya saya ketemu Tuhan? Kira-kira begitu ya. Karena Rasulullah harus membenarkan akidah umatnya. Tapi Rasulullah membenarkan pertanyaan tersebut. Rasulullah bilang tidak bisa karena ada apa? Ada hijab. Selesai. Berarti sudah dekat dengan Allah. Memang ketemu Allah. Makanya orang-orang yang memperingatkan memperingati Isra Mikraj dari dulu saya kalau ikuti acara Isra Mikraj selalu ustaznya bilang nabi ketemu Allah di langit ketujuh ke atas Sidratul Muntaha. Semua bilang begitu. Ini belakangan aja baru bilang. Siapa bilang? Itu belakangan. Belakangan ada syubhat. Iya. Enggak. Dulu ke antum ikut Isra Mikraj cuma ustaznya bilang apa? Nabi ketemu siapa di langit? Ketemu Allah. Enggak ada enggak ada khilaf di kalangan kita semuanya. Semuanya bilang Nabi ke atas ketemu Allah. Jibril pun tidak ikut dalam rangka mengikut menerima perintah salat. Sekarang muncul belakangan ahlul bidah bilang, "Ya, siapa bilang Nabi ketemu Allah di atas?" Enggak ada Allah di atas. Subhanallah. Terus ngapain Abu Abu Dzar bertanya, "Ya Rasulullah, engkau lihat Tuhanmu?" Memang Tuhan di atas? Siapa bilang saya ketemu Tuhan? Gak ada Tuhan di atas. Jangan sesat akidahmu. Dan Nabi tidak pernah menunda kalau kemungkaran Nabi pasti akan tegur. Dan Nabi tidak menegur. Justru Nabi membenarkan sallallahu alaihi wasallam. Benar saya di atas ketemu Allah cuma saya tidak bisa me melihat. Tib ee kita lanjutkan. Jadi saya tekankan bahwasanya ee peristiwa Al-Isra wal Mikraj itu bukti bahwasanya Allah berada di atas. Ole seb mengatakan siapa yang mengingkari Allah di atas seakan-akan dia mengingkari mukjizat alisra wal Mikraj. Terus Nabi sampai ke atas. Apa kemuliaan Nabi kalau Nabi tidak ketemu siapa? Allah. Berbicara langsung dengan Allah. Ya. Oleh karenanya ee Isra Mikraj menunjukkan Allah di atas. Kemudian berikutnya dalil ke-18. Penghuni surga melihat Allah di arah atas. Dalam hadis kata rasul sahu alaih wasallam, "Inakumakum ayanan atauananalqar lailatal badriati." Kalian benar-benar akan melihat Allah ayanan. Maksudnya muayana langsung atau ayanan. Bisa dibaca ayan tapi dibaca ayanan. Sebagaimana kalian melihat rembulan di malam bulan purnama. Kalau lihat rembulan ke mana? Ke atas atau ke bawah? Ke atas. Makanya ee Nabi mengatakan launi. Kalian tidak akan desak-desakan. Beda kalau pusat pandangannya di depan, maka ada yang orang tinggi kita kurang lihat. Tapi kalau lihat ke atas enggak perlu desak-desak. Sem menunjukkan Allah di atas. Makanya tidak mungkin sempurna menolak Allah di atas kecuali harus menolak tentang melihat Allah Subhanahu wa taala. Dan yang komitmen adalah Muktazilah. Muktazilah mengatakan Allah tidak di atas dan Muktazilah mengatakan Allah tidak mungkin dilihat. Yang aneh asyairah mutaakhirin mereka mengatakan Allah tidak di atas tapi Allah bisa dilihat di akhirat. Terus lihatnya ke mana? Allah tidak di atas, tidak diarah, tapi Allah bisa dilihat. Namanya lihat kan di depan mata kita, enggak namanya melihat ber katanya Allah bisa dilihat tapi tidak di depan mata. Terus gimana? Terus bagaimana coba? Allah bisa dilihat tetapi tidak di hadapan mata. Makanya itu namanya bukan dilihat, itu namanya dikhayalkan. Makanya Asyairah yang yang ngerti bahwasanya itu adalah kontradiktif mereka mengatakan rukyah qalbiah seperti muktazilah itu cuma tambahan ilmu aja penglihatan batin bukan penglihatan apa mata. Karena mengatakan Allah tidak diarah sementara mengatakan Allah bisa lihat dengan mata ini mustahil. Tidak mungkin menggabungkan dua hal yang bertentangan. Kalau menetapkan tetapkan sekalian Allah diarah dan juga bisa dilihat. Kalau enggak tolak sekalian seperti Muktazilah. Tidak bisa dilihat tidak diarah. Jelas. Adapun mengatakan Allah bisa dilihat tapi bukan diarah repot terus ngelihat ke mana? E enggak enggak bisa ya enggak bisa tayib. Ini di antara dalil bahwasanya Allah di atas penghuni surga melihat Allah ke atas. Kemudian dalil yang berikutnya Allah disifati dengan azzahir seperti sabda Nabi. Antal awal waisa qblaka antal akhir waisa ba'da. Antazahir laun fauqai antal batin laun. Engkau adalah yang maha awal tidak ada yang sebelummu sesuatu. yang engkau adalah akhir dan tidak terakhir pun setelahmu. Engkau adalah zahir yang di atas tidak ada yang di atasmu segala sesuatu. Engkau adalah batin, yaitu tidak ada yang ee tersembunyi dari ilmumu. Ya, sini fauq laisa fauqai anta zahir tidak ada yang di atasmu. Berarti Allah yang maha atas. Kemudian juga Allah datang untuk mulai persidangan pada hari kiamat. Wajauka wal malakuffan. Allah datang mulai menjalankan persidangan di padang mahsyar. Berarti Allah datang dari arah atas menuju kepada makhluk untuk menyidang mereka kapan? Di padang mahsyar. Bagaimana yang kita enggak tahu? Pokoknya kita beriman bagaimananya yang tahu hanya Allah Subhanahu wa taala. Karena kalau kita mau membayangkan bagaimana datangnya Allah, kita pasti menggunakan data makhluk seperti saya sudah jelaskan, enggak usah dibayangin. Pokoknya kita ngerti. Allah datang kemudian menjalani persidangan, menyidang mereka. Kemudian ke-21 dalam hadis malaikat Israfil melihat ke atas ke arah Arsy siap tunggu perintah. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Inna thhibur." Sungguhnya ujung mata ee apa namanya? Pandangan e sahibusur, yaitu yang siap malaikat Israfil yang siap meniup sangkakala. bihi mustaidun yurahwal ar sejak ditugaskan ka nanti yang bagian tugas meniup sangkakala sejak saat itu dia selalu memandang ke atas ke arah arsy ke arah arsyemandang ke arah arsyata yar qlaaif dia khawatir diperintahkan sebelum dia berkedip maka dia selalu lihat ke atas kenapa lihat ke atas karena Allah di mana di atas aaii kaukabaniriyan Seakan kedua kedua matanya seperti bintang yang sangat bercahaya. Ini malaikat apa? Israfil. Tapi sejak itu dia sudah siap melihat ke atas. Kalau Allah enggak di atas ngapain lihat ke atas? Tiib. Dalil yang ke-22. Ketika Musa hendak melihat Allah, maka Allah suruh melihat ke arah atas. Musa bertemu dengan Allah. Musa berkata, "Rabbi arini anzur ilaik." Dalam surat Ala'raf, "Ya Rabbku, tunjukkanlah dirimu." Rasul Nabi Musa ingin melihat zat Allah. Kenapa Nabi Musa sudah rindu? Karena Rasulullah, Nabi Musa sudah mendengar bicara langsung dengan Allah. Dan Rasulullah merasakan kebahagiaan ketika dia sudah mendengar suara Allah langsung dia pengin lihat zat Allah. Pengin lihat zat Allah. Maka kata Allah, "Lantaroni, kau tidak mampu melihatku di dunia. Enggak mampu. Tidak bisa. Walakin ilal jabal." Lihatlah. Kalau kau mau coba lihat ke arah gunung. Yaq kalau kau masih gunung masih tetap kokoh kau akan melihatku suruh lihat ke mana ke arah atasaj ketika tajalla taj maksudnyaar ketika Allah menampakkan dirinya di gunung jaalahu gunung pun hancur musq maka musa pun pingsan maksudnya Allah ingin menunjukkan dirinya dari arah mana arah atas tapi musuh ini dalil bahwasanya Allah di atas Ya, kalau lu di mana-mana coba lihat ke bawah, lihat ke sumur saya di mana-mana kan bisa itu. Lihat. Paham? Tib. Dalil yang ke-23. Turunnya malaikat dari sisi Allah. Ya Allah mengatakan, "Yunazzilul malaikata biruhi min amri alasya min ibadi." Allah menurunkan malaikat dengan Al-Qur'an dari perintahnya ee atas perintahnya kepada siapa yang Allah kehendak. Jadi Allah turunkan malaikat berarti posisi Allah di mana? Di di atas. Allah turunkan malaikat. Yaitu Allah menurunkan malaikat Allah di atas. TB. Ini 24 sisi pendalilan ya. Ee masing-masing ada dalilnya banyak. Ini dua pendalilan. Kalau ternyata kita katakan semua harus ditakwil, semua ini harus ditakwilnya Allah tidak di atas. Ini kan susah. Maka wajib bagi seorang Jahmiyah atau seorang Asyairah Asy'ari atau seorang Muktazili untuk mentawil semua ini. Oh ini maksudnya begini, ini maksudnya begini, ini maksudnya sampai 24 sisi mereka takwil. Susah atau tidak? Susah kalau mau ditakwil semua. Karena dalilnya bukan saya dalilnya banyak. Ini mau ditakwil semua repot. Lantas kalau gitu mana nas yang tegas tentang kebenaran Allah? Jadi nas itu kan dalalahnya ada namanya nas, ada namanya ee zahir, ada namanya muawal. Kalau nas itu tegas bahwasanya tidak bisa ditakwil lagi begini seperti bilangan ya ee 12 bulan ya 12 misalnya. Ee kalau zahir tuh ada dua kemungkinan, dua. Tetapi yang kuat yang salah satunya namanya zahir. Kalau muawwal ada kemungkinan tapi yang marju diambil. Tib. Kita tanya kalau kamu bilang ini semua ditakwil mana nasnya yang tegas mengatakan Allah tidak di luar alam, tidak di dalam alam? Mana nasnya? Sebutkan pernyataan Allah, pernyataan Nabi, pernyataan sahabat. Allah tidak di luar alam, tidak dalam alam, atau pernyataan Allah di mana-mana, mana nasnya? Sehingga kita berpegang kepada nas itu. Kemudian kita takwil semuanya. Kan begitu cara mentakwil. Ini kita pegang, yang lain kita takwil karena bertentangan dengan ini. Mana dalilnya? Enggak ada se pakai logika. Oh, kalau Allah di atas berarti Allah berarah. Kalau berarah berarti Allah berfisik. Allah berfisik berarti Allah jisim. Kalau jisim berarti tasbih dengan makhluk. Ini semua logika. Ini mau dikemanakan 24 sisi pendalilan ini mau dikemanakan. Sehingga kalau kita katakan 24 sisi pend ini semuanya harus ditakwil. Jadilah Al-Qur'an isinya semua ayat takwil. Takwil semua. Berarti Al-Qur'an katanya kitabun mubin, kitab yang jelas, kitab yang menjelaskan. Hudan kitab petunjuk. Huda lil muttaqin. Mana huda? Penyesat bukan petunjuk. Kalau ternyata semua ini ternyata tidak benar. Rasulullah begini ternyata bohong. Rasulullah begini ternyata bohong. Allah bilang Allah turun keturunan malaikat ternyata bohong. Semuanya bohong kan. Berarti kalau ini berarti semuanya bohong cuma bahasa kiasan. Kalau gitu yang nas mana? Yang nas mana? Kalau nasnya enggak ada terus apa namanya ini Al-Qur'an jadilah dalilnya semua isinya takwil tib. Kalau dikatakan ini semua ayat mutasyabihat maka jadil Al-Qur'an kebanyakannya mutasyabihat ya. Kita tanya mana muhkamnya kalau gitu? Mana muhkamnya? Kita tidak mengatakan ini ayat mutasyabihat kecuali ada muh muhkamnya. Muhkamnya mana? Baru kita hukumi seluruh banyak ini adalah mutasyabihat. Bahkan kata Ibnu Rusyd bahwasanya syariat dibangun di atas Allah tuh. Di atas rat dibangun di atas apa? Keyakinan Allah di atas. Makanya Quran turun dari atas, malaikat turun dari atas, rahmat turun dari atas, malaikat lapor dari bawah ke atas. Ini kalau semua dirubah Allah tidak di atas agak susah mengaturnya. Karena kalau kita bicara syariat semuanya menetapkan Allah di atas. Paham TB? Sampai sini dulu syubhatnya. Nanti saya imam dulu ya. Oke, demikian saja. Wallahu taam. Saya tidak buka pertanyaan. Pertanyaan banyak tentang syubhat. Insyaallah nanti kita jawab eh pertemuan berikutnya. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.