Kind: captions Language: id [Musik] Inalhamdalillah nahmaduhu watainuhu wafiruhu watubu ilaih wa naud nazubillahi min syururi anfusina wasiati a'alina. May yahdihillahu fala mudhillalah wam yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu la nabiya ba'dah. Ya aina amahqum muslimun haditabullah huda Muhammadin shallallahu alaihi wasallam um bidah wainar maasiral muslimin nafsiqallah faq fazal muttaquun. Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan dari Nabi sallallahu alaihi wasallam di mana Nabi bersabda, "Min husni islamil mari tarquu ma y." Di antara keindahan keelokan Islam seseorang adalah dia meninggalkan yang bukan urusannya, yang bukan keperluannya, yang bukan kepentingannya. Hadis riwayat Tirmidzi dan yang lainnya dengan sanad yang hasan. Hadis ini dikatakan oleh para ulama sebagai aslun min ushulil adab. Sebagaimana dikatakan Ibnu Rajab, ini adalah salah satu pokok landasan dari landasan-landasan dalam beradab. Demikian juga Hamzah al-Kitani berkata bahwasanya hadis ini adalah sulutul Islam. Dia adalah sepertiga dari pondasi-pondasi Islam untuk menunjukkan akan agungnya hadis ini, terutama di zaman sekarang yang di mana banyak orang sibuk dengan kesibukan yang banyak namun bukan pada perkara yang penting baginya. yang tidak bermanfaat baginya. Maka seorang jika ingin meraih keindahan Islam, meraih keelokan Islam dan para ulama menafsirkan keelokan Islam di sini maksudnya kesempurnaan Islam agar Islamnya sempurna. Dan Islam di sini juga maksudnya adalah iman agar imannya sempurna. Salah satu cara terbaik yang paling tepat di zaman sekarang ini adalah dengan meninggalkan yang bukan urusannya. Hal ini karena seorang jika sibuk dengan yang bukan urusannya maka dia tidak akan sempat untuk beramal saleh dan dia rawan untuk terjerumus pada hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan hal-hal yang merupakan maksiat. Karenanya ketika Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang ciri-ciri orang yang sempurna iman mereka, Allah sebutkan mereka berpaling dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Di antaranya dalam surah Almukminun Allah berfirman, "Qlahal mukminun." Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Itu orang yang sempurna iman mereka. orang-orang yang khusyuk dalam salat mereka. Kemudian kata Allah, wallwi dan orang-orang yang berpaling dari alag itu perbuatan yang sia-sia. Kata al Imam Ibnu Kathir rahimahullahu taala, anil batil wahua yasmalu asyirka wal maasi w la faidata fihi minal aqwali wal af'al. Kata Ibnu Katsir, alagwu perkara sia-sia itu semua perkara yang batil dan dia umum mencakup kesyirikan, mencakup kemaksiatan, dan mencakup perkara-perkara yang tidak ada faedahnya, perkataan maupun perbuatan. Orang yang sempurna imannya seperti itu. Semua perkara yang tidak ada faedahnya maka dia berpaling. Dan perkataan berpaling menunjukkan dia menjauh. Dia menjauh sebisa mungkin. Tidak mendekati perkara si yang sia-sia tersebut. dia renungkan sebelum dia dekati kalau itu ternyata perkara tidak ada faedahnya untuk dunianya ataupun untuk akhiratnya maka dia berpaling sejauh-jauhnya. Kemudian juga dalam ayat yang lain ketika Allah berfirman tentang ciri-ciri ibadurrahman, yaitu hamba-hamba Allah terpilih yang mereka adalah para penghuni surga. Allah sebutkan di antara ciri-ciri mereka di akhir surat Alfurqan. Walladina la yashadunazura waid maru bilwi marru kirama. Yaitu orang-orang yang tidak menyaksikan azzur. Azzur di sini Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan banyak tafsiran. Di antaranya Azzur adalah ya kesyirikan, kekufuran. Azzur adalah majelis-majelis maksiat. Azzur adalah majelis-majelis gina, nyanyian-nyanyian, musik-musik. Azzur aadal kuffar. Yang dimaksud dengan azzur adalah hari-hari perayaan orang-orang kafir. Maka orang beriman tidak menghadiri ini semuanya. Majelis-majelis yang tidak ada faedahnya. Apalagi majelis-majelis maksiat, majelis-majelis musik, majelis-majelis dangdutan, majelis-majelis kesyirikan, majelis-majelis film ya, baik secara offline maupun online. Kemudian kata Allah Subhanahu wa taala, waidza marru bilqwi marru qiroma. Jika mereka terpaksa harus melewati perkara sia-sia, tidak bisa dihindari harus lewat atau kebetulan di hadapan mereka marru kiramah, maka mereka tetap meninggalkannya dengan penuh elegan, dengan tetap mulia, tidak menghampirinya, tidak ikut mengomentarinya tetapi meninggalkan majelis tersebut karena mereka tahu ini tidak ada faedahnya. Ini ciri utama orang-orang yang beriman. Kenapa bisa demikian, maaSyiral muslimin? Karena orang beriman menghargai umurnya. Dia tahu umurnya adalah modal dasar untuk beramal saleh. Jika kita tidak punya umur dan umur adalah waktu. Jika tidak punya waktu, bagaimana kita bisa beramal saleh? Dia tahu setiap waktu yang dia lewati akan memberi dampak yang besar di akhirat kelak. Maka dia tidak mau buang dengan sia-sia. Maasyiral muslimin, ketahuilah kita ini hanyalah kumpulan dari hari-hari. Kata Alhan Albashri, "Ya bna adam innama anta ayyam wahaba baamba." Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Ya, umurmu itu apa? Usiamu? Kumpulan hari-hari. Hari-hari kumpulan jam, kumpulan menit, kumpulan detik. Faidhaba bayam. Jika sebagian hari telah pergi darimu, dahahaba ba'duk. Berarti sebagianmu telah sirna. Waahaba ba'duka. Dan jika sebagianmu telah sirna, maka dikhawatirkan kau akan sirna seluruhnya. Kau akan meninggal dunia. Ketahuilah umur kita hanya sedikit yang bisa kita gunakan untuk beramal saleh. Seandainya seorang wafat di usia 60 tahun, sungguhnya 15 tahun pertama dia belum balig dan pena diangkat sehingga tidak dicatat baginya dosa maupun kebaikan. 15 tahun sudah hilang, umur tinggal 45 tahun. Kemudian seorang tidur setiap hari 8 jam, yaitu sepertiga harinya. 1 hari 24 jam. Sehingga 45 tahun kalau dipotong sepertiga, dia tidur 15 tahun hanya untuk tidur tinggal 30 tahun. Jadi umur efektif kita untuk beraktivitas kalau kita meninggal 60 tahun seharusnya semestinya sejatinya hanya 30 tahun. Nah, kalau 30 tahun itu kita gunakan untuk hal yang sia-sia, maka bagaimana kita bisa beramal saleh? Bagaimana kita bisa beramal saleh sementara umur kita buang-buang. Kita nonton yang tidak-tida, kita komentar yang tidak-tid. Oleh karena Ibnu Qayyim rahimahullahu taala dalam kitabnya Madarijus Salikin ketika mengomentari hadis ini, dia mengatakan, "Tarkuh la yakni sempurnanya Islam seorang meninggalkan apa yang bukan kepentingannya." Maka beliau mengatakan umum mencakup semua yang tidak bermanfaat. Ya, beliau mengatakan termasuk di antaranya adalah alkalam, perkataan tidak bermanfaat, maka gak usah ngomong. Kemudian beliau kata, "Annazar memandang yang tidak bermanfaat gak usah mandang kalau enggak ada manfaatnya." Kau mandang sesuatu tidak ada manfaatnya, nonton ini, nonton anu, tidak ada faedahnya. Berarti kau tidak menghargai Islammu. Kau ingin Islammu tidak baik. Alistijima mendengar kata Ibnu Qayyim, mendengar yang tidak bermanfaat. Banyak hal yang tidak manfaatnya kita dengar sampai bermenit-menit, berjam-jam, berulang-ulang kita dengar, kita ikuti, tidak ada manfaatnya untuk dunia maupun akhirat kita. Kemudian beliau berkata, "Albatsya wal masya wal fikr." Gerakan tangan, langkah kaki dan juga pikiran. Jangan pikir yang tidak ada faedahnya. Wasairil harakati azzahirah wal batinah. Yaitu dan seluruh gerakan lahir maupun batin. Kalau tidak ada faedahnya, tinggalkan. Itulah keelokan Islam seseorang. Dan sebagaimana dikatakan alqtuaifam taqtua qotaka. Waktu seperti pedang. Jika kau tidak menebas pedang tersebut, pedang tersebut yang akan menebasmu. Yaitu alwaqamil khair yusilka far. Waktu kalau kau tidak manfaatkan untuk kebaikan, dia akan jebak engkau untuk melakukan hal-hal yang buruk. Alhamdulillahi ala ihsani wasukr taufiqihi asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh da ridwan allahumma sholli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadis ini min husni islamir mari takum yakni di antara keelokan Islam seorang meninggalkan suatu yang tidak bermanfaat atau tidak ada kepentingan baginya. Mafhum mukhalafahnya kebalikannya di antara buruknya Islam seorang, dia mengerjakan yang bukan urusannya. Dia memandang yang bukan urusannya. Dia komentar yang bukan urusannya. Dia melangkahkan kaki pada perkara yang bukan urusannya. Dia memikirkan yang bukan kepentingannya. Oleh karenanya, Syekh Abdurrahman bin Nasir As'di rahimahullah dalam kitabnya Bahjad Qulubil Abrar mengatakan, "Siapa yang sibuk yang bukan urusannya, fahua musiun fi islami." Maka dia telah berbuat keburukan pada Islamnya. Dan itu benar. Siapa yang sering terjun pada yang tidak ada faedah baginya. Akhirnya apa? Dia buang-buang umurnya tidak ada faedahnya. Akhirnya apa? Dia ikut campur urusan orang. Terkadang mengganggu orang tersebut. Terkadang dia gara-gara campur urusan orang, akhirnya yang tidak ada faedah, akhirnya dia bermaksiat. Dan kalau dia sering memandang yang tidak bermanfaat, akhirnya dia memandang maksiat. Nonton hal-hal yang tidak faedah, maksiat. Bayangkan kalau seorang hobi nonton film Korea sehari 2 jam sehari nonton film Korea itu maksiat terbuka aurat wanita. Wanita melihat ketampanan lelaki. Tidak ada faedahnya untuk dunianya. Malaikat pencatat amal mencatat selama 2 jam dan itu berlaku setiap hari. Sebulan sudah 60 jam sendiri dia nonton dan semua akan dibuka kepada dibuka pada hari kiamat. Catat amalnya isinya film yang dia nonton. Kita sekarang hidup di zaman terlalu banyak yang mau kita ketahui. Kita kepo dengan banyak hal. Kalau kita terlalu kepo terlalu pengin tahu, akhirnya Islam kita yang menjadi problem. Kita buruk terhadap Islam kita, agama kita menjadi tergadaikan. Kapan baca Quran? Baca Quran butuh waktu. Kalau umur kita kita buang untuk lihat-lihat yang tidak bermanfaat. Kapan kita mau baca Quran? Kapan kita mau jenguk orang tua? Kapan kita silaturahmi jenguk kakak, adik, keponakan? Kapan? Hanya sibuk. Sibuk apa? Sibuk medsos. Sibuk medsos. Kapan kita mau salat malam? Sementara sebelum tidur kita lihat medsos sampai ketiduran. Bangun-bangun sudah azan subuh. Bukannya sebelum tidur kita baca doa zikir. Sebelum tidur kita sibuk bermetsos dan akhirnya waktu kita habis. Asli akhirnya Islam kita rusak. Bagaimana kita mencapai kesempurnaan indah Islam? Indahnya Islam sementara kita banyak masuk dalam perkara-perang yang tidak ada manfaat untuk diri kita. Jadi korban keluarga kita kapan kita bermesrahan sama istri, jalan-jalan sama anak-anak. Harusnya kita ngobrol sama anak-anak, ngobrol sama istri, pulang di rumah sibuk lihat metsos. Dalam grup dengan teman-teman bicara tentang metsos yang tidak ada faedahnya. Kalau ada faedahnya pun kecil dibandingkan dengan pengorbanan yang harus kita korbankan, kebahagiaan istri, kebahagiaan anak-anak, kebahagiaan kita. Kita enggak punya waktu luang untuk belajar. Sibuk dunia dunia kemudian sibuk bermetsos tahu-tahu dipanggil oleh Allah Subhanahu wa taala. Apa yang mau kita ketemu dengan Allah kalau modelnya seperti ini? Maka ini nasihat untuk kita semua dari nabi yang sangat sayang kepada kita, Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dan ini sangat penting di zaman sekarang ini agar kita ambil nas ini dengan penuh perhatian. Min husni islamil mari tarquhuma yakni. Di antara keindahan, keelokan iman seseorang, sempurnanya iman seorang, dia meninggalkan yang bukan urusannya. Mulai sekarang kita belajar, kalau ini bukan urusan saya, saya enggak perlu tahu. Enggak perlu tahu. Ada orang buka HP di samping kita, kita enggak perlu lihat. Ada orang bicara dalam HP, bicara dengan dengan nada teriak, kita enggak perlu tanya kau sedang bicara dengan siapa. Enggak perlu tahu. Itu bukan urusan kita. Agar kita bisa fokus yang bermanfaat bagi kita. Terlalu tahu banyak urusan kita enggak tahu urusan kita sendiri. Anak-anak tidak kita urusi, kerabat kita tinggalkan, tetangga pun tidak kenal karena sibuk dengan urusan yang tidak bermanfaat. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita Islam yang sempurna. Semoga Allah menjadikan hari kita terindah adalah hari bertemu dengan Allah Subhanahu wa taala. Semoga Allah menjadikan Islam kita semakin menuju kematian, semakin indah dan semakin sempurna. Innallah malaikatahu yushalluna alan nabi. Ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi wasallimu taslima. Yeah.