Transcript
Tew2W_QUbzk • Saingi Dia - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2640_Tew2W_QUbzk.txt
Kind: captions
Language: id
Innalhamdalillah nahmaduhu wainuhu
wafiruhu watubu ilaih wa naud
nauzubillahi min syururi anfusinaati
a'alina may yahdihillahu fala
mudhillalah w yudlil fala hadiyaalah
ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
syarikalah wa ashadu anna muhammadan
abduhuasuluhu
kitabullahir huda huda Muhammadinallahu
alaihi wasallam
umuri muh wa muhin bidah bidat waatin
finar maasiral musliminikum binafsi
bqwallah faq fazal muttaquun
Allah subhanahu wa taala berfirman
numiduha
Allah mengatakan, "Setiap golongan kami
berikan pemberian kami. Baik orang-orang
yang mencari dunia maupun mencari
akhirat, baik orang-orang kafir ataupun
orang-orang beriman. Kami berikan
pemberian kami kepada mereka."
Dan pemberian Allah tidak ada yang bisa
menghalangi. Allah adalah arrazaq. Dia
memberikan rezeki kepada makhluknya yang
beriman maupun yang kafir. Setelah itu
Allah berfirman, "Unzurna
ba, lihatlah bagaimana kami membuat
mereka bertingkat-tingkat dalam
pemberian.
Wal akiratu akbar darajati wa akbar."
Dan di akhirat sungguhnya tingkatan
lebih besar lagi dan karunia lebih besar
lagi. Di sini Allah menyuruh kita untuk
merenungkan tentang tingkatan ekonomi
atau rezeki manusia. Ada yang Allah
jadikan sangat kaya raya dan ada juga
yang Allah jadikan sangat miskin.
Contohnya dalam Al-Qur'an Allah sebutkan
tentang orang kaya yang beriman maupun
yang kafir. Yang kafir contohnya
misalnya Firaun yang mengatakan mulu
minahtiirun.
Wahai kaumku, tidakkah kalian lihat
bagaimana kerajaan Mesir adalah milikku
dan sungai-sungai mengalir di bawahku?
Tidakkah kalian lihat? Demikian juga
Qarun yang Allah mengatakan
minal
mahahu
qarun kami berikan dia kekayaan yang
sesungguhnya kunci-kunci
gudang-gudang kekayaannya ya sangat
berat untuk dipukul oleh orang-orang
yang kuat. Ada yang mengatakan
bahwasanya kunci-kunci Qarun dipikul
sampai 60 begal yaitu 60 hewan untuk
bisa memikul kunci-kuncinya saja.
Bagaimana lagi dengan gudang-gudang
kekayaannya? Sungguh kaya raya Qarun.
Demikian juga Allah sebutkan contohnya
seorang saleh yang kaya raya adalah Nabi
Nabi Sulaiman Alaih Salam yang berdoa
kepada Allah. Wahabli mulkan la yambagi
aahadin min ba'di innaka antal wahab. Ya
Allah anugerahkan kepadaku kerajaan yang
tidak boleh seorang pun setelahku
mendapatkan kerajaan seperti itu.
Sesungguhnya Engkau adalah maha pemberi
anugerah. Maka Allah berikan dia harta
yang sangat banyak. Sampai ketika Ratu
Bilqis mengirim utusannya untuk
memberikan hadiah kepada Sulaiman Alaih
Salam, maka Sulaiman mengatakan, "Alaih
salam, atumiddunani bimalin waniallahu
mimma atakum." Apa kalian ingin berikan
aku hadiah? Sementara apa yang Allah
berikan kepadaku lebih baik daripada
harta kalian?
Demikian juga Allah sebutkan dalam
Al-Qur'an, seorang miskin yang sangat
miskin. Sampai Allah mengatakan, "A
miskinan matrabah." Seorang miskin
pemilik tanah. Matrabah maksudnya adalah
tanah. Yaitu Allah gambarkan ada orang
miskin yang benar-benar sangat miskin
sehingga dia tidak memiliki apa-apa
kecuali hanya sekedar tanah saking
miskinnya. Lihatlah bagaimana unzur
kaifa baum ba. Bagaimana kami jadikan
manusia bertingkat-tingkat dalam masalah
ekonomi. Dunia ini kita bisa lihat ada
orang sangat kaya raya. sangat super
kaya. Ada yang kayanya biasa, ada yang
kaya, ada yang hidup pas-pasan, dan ada
yang sangat miskin. Kita bisa
klasifikasi bagaimana tingkatan ekonomi
manusia. Ternyata kata Allah, walal
akhiratu akbaru darajati wa akbaru
tafdila. Sebagaimana di dunia
bertingkat-tingkat, di akhirat juga
tingkatannya lebih banyak lagi dan
karunia lebih banyak lagi. Lihatlah
ketika Allah sebutkan tentang tingkatan
para penghuni surga dari kalangan
mujahidin saja satu golongan. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam,
walard. Sesungguhnya di surga Allah
siapkan 100 level surga khusus untuk
para mujahidin
yang antara satu level dengan level yang
lainnya seperti antara langit dan bumi.
Allah Subhanahu wa taala sangat detail
ketika membagi klasifikasi para
mujahidin di akhirat kelak karena Allah
sangat maha adil dan sangat detail. Maka
kita tahu ada orang berjihad dengan
mengorbankan jiwa dan raganya serta
hartanya semua dia korbankan dengan
tingkat keikhlasan yang sangat tinggi.
Maka inilah mungkin orang yang berjihad
dengan tingkatan yang sangat tinggi. Dia
setelah berjihad berulang-ulang, sering
berjihad. Maka ketika dia meninggal, dia
mendapatkan tingkatan yang sangat
tinggi. Ada orang yang berjihad mungkin
tidak sebanyak jihad yang pertama. Penuh
keikhlasan. Mengorbankan raga, jiwa, dan
harta. Tapi tidak sebanyak jihad yang
pernah dilakukan oleh orang yang
sebelumnya. Ada yang berjihad mungkin
hanya berkorban jiwanya saja, sementara
hartanya tidak. Tentu di bawah lagi
levelnya. Ada yang berjihad mungkin
hanya mengorbankan hartanya, tidak
dengan jiwanya. Maka di bawah lagi
levelnya. Dan demikian sampai Allah
klasifikasikan sampai 100 tingkatan.
Kata Ibnu Hajar rahimahullahu taala,
demikian pula ibadah-ibadah yang lain,
tidak satu tingkatan. Kalau kita
berbicara tentang sedekah, sedekah juga
bertingkat-tingkat. Ada yang sedekahnya
luar biasa, ada yang sedekahnya
biasa-biasa saja. Lihatlah apa kata Umar
bin Khattab radhiallahu taala anhu. Amar
Nabi sallallahu alaihi wasallamah
fawafaqika indi. Sungguh Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam pernah
menyuruh kami untuk bersedekah.
Kebetulan ketika itu hartaku lagi
banyak. Apa kata Umar?
Alyaum asbiqu aba bakrin inqtuhu yauman.
Hari ini aku akan mengalahkan Abu Bakar
kalau memang aku bisa mengalahkannya
dalam beramal saleh suatu hari. Inilah
hari saatnya. Fajitu Nabi sallallahu
alaihi wasallam binisfi mali. Maka aku
bawa setengah hartaku, 50% hartaku
serahkan di hadapan Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Maka Nabi bertanya, "Ma
abqa liahlik?" Apa yang kau sisakan
untuk keluargamu? Aku berkata, "Mitlahu,
aku sisakan untuk keluargaku seperti
yang aku bawa untuk Anda wahai
Rasulullah." 50% untuk Nabi, 50% untuk
keluarga. Fajaa Abu Bakrin. Tiba-tiba
datang Abu Bakar radhiallahu taala anhu.
Faja bil mali kullihi. Maka dia pun
menyumbangkan seluruh hartanya. Rasul
sahu alaihi wasallam bertanya, "Ma
abqahlik? Apa yang kau sisakan untuk
keluargamu?" Kata Abu Bakar Assiddiq
radhiallahu taala anhu, "Abuqit
lahumullahaasulah."
Aku sisakan bagi mereka dan rasulnya.
Ternyata Umar kalah juga dalam
bersedekah ketika bersaing dengan Abu
Bakar Assiddiq radhiallahu taala anhu.
Demikian juga misalnya dalam salat orang
tidak sama pahalanya. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Inulau
minatihi walah minti illa nisfu."
Sungguh seorang selesai dari salatnya
dan tidak dicatat bagi dia pahala
salatnya kecuali nisfu setengahnya.
Ada yang dicatat cuma sepertiganya. A
rubuuhauha. Ada yang dicatat cuma
seperempat pahala salatnya. A khumusuha
atau seperlimanya. A sudusuha au
sumunuha sampai au usruha. 1/5 1/6 1/7
1/8 1/9 ada yang 1/10ep-nya. Ternyata
Allah detail. Tidak semua orang salat
pahalanya sama. Ternyata salat juga
bertingkat-tingkat. Demikian misalnya
berbakti kepada orang tua. Satu orang
berbeda dengan yang lainnya. Ada yang
beribadah kepada Allah dengan berbakti
kepada orang tua dengan totalitas.
Dia tidak pelit sama sekali. Dia
kerahkan seluruh hartanya untuk orang
tuanya.
Ada orang berbakti seadanya. Ada yang
berbakti kepada orang tua bercampur
dengan pelit. Sesungguhnya Allah
Subhanahu wa taala maha adil dan di
antara keadilannya maka Allah membedakan
balasan antara satu dengan yang lainnya
di akhirat kelak. Makanya dikatakan oleh
Ibnu Qayyim rahimahullahu taala, anajatu
minanar bil magfirah. Selamat dari
neraka adalah dengan ampunan Allah.
Wulul jannah. Dan adapun masuk surga
birahmatillah dengan rahmat Allah
Subhanahu wa taala.
Manailat bilal. Adapun level-level
tingkatan-tingkatan di surga tergantung
amal-amal para hamba. Allah maha adil.
Dan di antara konsekuensi keadilan
Allah, maka di akhirat kelak manusia
tidak akan sama satu dengan yang
lainnya. Kalau di dunia kita bisa lihat
level-level yang begitu banyak, kata
Allah di akhirat walal akhiratu akbar
darati wau tafdil. Adapun di akhirat
derajatnya lebih banyak dan tingkatannya
lebih bertingkat-tingkat, lebih hebat
lagi.
Astagfirullah wakumagfiru
inahuahim.
Alhamdulillahi ala ihsani wasukr ala
taufiqihin asadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarika lahu lnih wa asadu
anna muhammadan abduhuasul ridwih
allahumma shi alaihi waa alihi wa
ikhwani mairal muslimin. Oleh karenanya
Allah sebutkan dalam ayat-ayat yang lain
tingkatan penghuni surga. Seperti Allah
mengatakan wasabiquunabiquun
ulaikal muqarabun. Sesungguhnya
orang-orang yang cepat dalam beramal
saleh mereka adalah almuqarabun. Yaitu
orang yang didekatkan di akhirat kelak.
Setelah itu Allah mengatakan wa ashabul
yamini ma ashabul yamin. Adapun golongan
kanan bagaimana mereka golongan kanan?
Yaitu Allah bagi dalam akhirat. Di surga
ada almuqarabun tingkatannya lebih
tinggi dan ada juga ashabul yamin yang
tingkatannya lebih rendah. Demikian juga
ketika Allah sebutkan tentang nikmat
surga, Allah mengatakan innal abrora
lafi naim. Sesungguhnya alabrar dalam
kenikmatan. Setelah itu Allah sebutkan
aina yasrabu bihal muqarabun. Dan ada
almuqarabun tingkatannya lebih tinggi
daripada al-abrar. Ya. Dan ketika
penghuni surga bertingkat-tingkat maka
kenikmatan mereka juga berlevel-level
tidak sama satu dengan yang lainnya.
Contoh ketika Allah sebutkan tentang
minuman, bagaimana minuman pengunuh
surga. Kata Allah Subhanahu wa taala,
abrimqun.
Ketika Allah menyebutkan tentang
nikmatan, Allah sebutkan tingkatan abrar
yang lebih rendah. Kata Allah bahwasanya
minuman mereka
maktum dari khamar yang murni yang kalau
setelah diminum akan mengeluarkan aroma
yang sangat wangi. Kata Allah Subhanahu
wa taala khamar tersebut wizajuh min
tasnim khamar tersebut minuman kaum
abrar dicampur dengan tasnim. Tasnim
dari mana? Ternyata khamar tersebut
dicampur dengan tasnim. Kata Allah apa
itu tasnim? Aina yasrabu bihal muqarun.
Adapun tasnim adalah mata air di surga
yang minumannya khusus. buat orang-orang
almuqarabun. Ternyata al-muqarrabun
diberi minuman tasnim secara utuh 100%.
Adapun al-abrar cuma dikasih campuran
tasnim menunjukkan bahwasanya nikmat
yang dirasakan berbeda. Sampai Allah
sebutkan juga tentang
mata air. Allah sebutkan dua level.
Adapun level yang tinggi kata Allah
Subhanahu wa taala fihima ainani
tajrian. Bahwasanya di level yang tinggi
ada mata air yang keluarkan air seperti
sungai. Kemudian ketika Allah
menyebutkan wunima jannatan ada surga
yang di bawahnya Allah menyebutkan
fihimaan
ada dua mata air yang keluar-keluar
airnya tidak sama dengan yang pertama
yang mengalir seperti sungai. Dan ini
adalah konsekuensi keadilan Allah. Jika
level surga bertingkat-tingkat maka
tentunya nikmatnya juga berbeda-beda.
Maasyiral muslimin.
Oleh karenanya
hidup kita di dunia hanyalah sesaat.
Setelah itu kita akan berpindah pada
alam berikutnya, alam barzakh, kemudian
alam akhirat. Maka sudah saatnya kita
untuk bersaing di dunia ini, beramal
saleh agar kita bisa meraih tingkatan
yang tinggi di akhirat kelak. Sungguh di
dunia ini ada yang mungkin kita lihat
ekonominya sangat tinggi, sangat kaya
raya, tapi bisa berubah drastis ketika
di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa
taala berfirman, "Waqtil
waqiahqatihafiah."
Jika telah tiba hari kiamat dan
kejadiannya tidak akan ada yang bisa
mendustakannya.
Khofidatur rafiah. Bahwasanya hari
kiamat itu merendahkan dan meninggikan.
Sebagian ahli tafsir mengatakan
merendahkan. Maksudnya ada orang di
dunia disangka kaya raya, hebat,
dihormati, dipuja-puja, ternyata di
akhirat direndahkan oleh Allah Subhanahu
wa taala menjadi manusia yang sangat
hina dan dina rafiah. Hari kiamat akan
mengangkat, yaitu ada orang di dunia
mungkin dihinakan, direndahkan, orang
miskin tidak punya apa-apa tapi ternyata
di akhirat rafiah diangkat oleh Allah
subhanahu wa taala. Oleh karenanya Hasan
Albasri berkata,
"Mfasaka dunya akhirah." Kalau kau
melihat ada orang menyaingimu urusan
dunia, maka jangan balas saingan urusan
dunia. Saingilah dia dalam urusan
akhirat. Saingil dia dalam urusan
akhirat. Karena dunia kalau kita punya
dunia pun hanya sebentar. Setelah itu
kita akan hidup dalam kehidupan abadi.
Maka itulah yang harusnya kita bersaing
di situ. Allah berfirman, "Setelah
menyebutkan nikmat surga." Kata Allah,
"Un untuk urusan nikmat surga, maka
bersainglah." Kata Allah Subhanahu wa
taala. Allah berfirman, "Berlomba-lomba
dalam kebaikan."
Cepatlahu, segeralah. Kata Allah,
untuk urusan surga mestinya inilah
orang-orang beramal, berusaha, bekerja,
memfokuskan diri mereka untuk meraih
kehidupan yang indah di akhirat kelak.
Allah berfirman, "Man kafar faaif
amilaihan falianfusihim yamhadun." Siapa
yang kafir maka kembali kepadanya
kekufurannya dan siapa yang beramal
saleh maka dia akan persiapkan kasurnya
yang indah di alam barzakh. Maka seorang
berusaha beramal saleh untuk
kehidupannya di kehidupan berikutnya.
Bersemangatlah, bersainglah agar kita
meraih kehidupan yang indah dan bahagia
abadi pada alam berikutnya.
Inallahikatahu
al nabi ya aadina amanu shu alaihi
wasallimu taslima