Transcript
dG3jP5P6M-Q • Interaksi Teladan - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2413_dG3jP5P6M-Q.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufiqihi wattinanih. Ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarika lahu
takiman lynih wa ashadu anna muhammadan
abduhu wa rasuluhu daila ridwan.
Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa
ashabihi wa ikhwani. Hadirin dan
hadirat, ikhwan dan akhwat yang
dirahmati Allah subhanahu wa taala. Pada
kesempatan kali ini kita akan membahas
tentang tiga model bermuamalah kepada
orang lain, yaitu bagaimana
berinteraksi dengan orang lain. Ada tiga
model secara umum. Yang pertama namanya
almuamalatu bil fadl. Yang kedua
almuamalatu bil adil. Yang ketiga,
almuamalatu bidzulm. Yang pertama,
almuamalatu bilfadl. Yaitu bermuamalah
dengan yang terbaik, yang mulia, yang
utama. Yang kedua adalah almamalatu bil
adil, bermuamalah dengan secara adil. Ee
yang ketiga, almamalatu bidzulm, yaitu
menzalimi orang lain. Tiga model ini
diisyaratkan oleh Allah dalam surat
Asyura ayat 40. Kata Allah Subhanahu wa
taala, wazu sayiatin sayiatun mluha.
Faman afa wa aslaha faajruhu alallah
innahu la yuhibbudzalimin. Kata Allah
subhanahu wa taala, balasan keburukan
adalah dengan keburukan
semisalnya. Ini namanya almamalatu bil
adil. Seorang berbuat buruk kepada kita,
kita boleh balas semisalnya. Boleh adil.
Kemudian yang
kedua, waman afa wa aslaha faajru
alallah. Siapa yang maafkan dan berbuat
perbaikan, maka pahalanya di sisi Allah.
Ini adalah almamalatu bil fadl. Dia
tidak balas tetapi dia melakukan yang
utama yaitu dia malah memaafkan. Maka
ini pahalanya di sisi Allah subhanahu wa
taala. Yang ketiga, Allah mengatakan
innahu la yuhibbudzalimin. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang berbuat
zalim. Ini model yang yang ketiga. Yang
ketiga baik.
Ee ikhwan dan akhwat yang dirahmati
Allah subhanahu wa taala.
Ee kita akan membahas panjang lebar
tentang almuamalatu ee bilfadl ya ee
dengan berbagai macam contoh-contohnya
insyaallahu taala ya. Tetapi ee saya
akan
membawakan satu ayat ya sebagai contoh
sebelum kita membahas secara panjang
lebar tentang almamalatu bilfadl itu
dalam surat Albaqarah Allah berfirman,
"Wain thqumun hununna minqobli
anamuhunna."
Eh, Allah berfirman dalam surat
Albaqarah 237. Kata Allah subhanahu wa
taala,
waqunna
minqamun
waqahun
faridum yazi biyadi uqdat nikah wafu
aqwa
wuladinakum inallaha bimaaluna bir
bimaaluna bir surat albaqarah ayat 237
saya terjemahkan dulu maknanya nya eh
waquumun maknanya jika kalian
menceraikan istri-istri
kalian minqobasuhun sebelum kalian
menggauli mereka waq farum lahunna farid
sementara kalian sudah menentukan
nominal
mahar maka apa kewajibannya fisfu ma
farum maka kalian harus tetap membayar
mahar tapi setengah ya illa ayfuna
kecuali para istri memaafkan yafuadzi
biyadi
nikah atau sang suami
memaafkanwa siapa yang memaafkan lebih
dekat kepada ketakwaan wul fadla
bainakum maka janganlah kalian
meninggalkan sikap bermuamalah bilfadl
di antara kalian inilah landasan ada
nama istilah almamalatu bilfadal ayat
ini. Ayat ini kisahnya begini. Ada
seorang lelaki menikah dengan seorang
wanita tetapi belum digauli. Ketika akad
nikah disebutlah mahar. Taruhlah mahar
misalnya R juta. Mahar R juta. Kemudian
dia akad nikah dengan tersebut. Sahlah
wanita tersebut menjadi
istrinya. Namun mereka belum hidup
serumah, belum saling berhubungan, belum
ee sehidup ee apa? Belum ada hubungan
intim antara mereka berdua. Kemudian
ternyata sang lelaki menceraikan
istrinya tadi ya.
Dan ini mungkin terjadi kalau di di Arab
Saudi masih sekar sampai sekarang masih
ada tradisi seperti itu. Jadi antara AKD
dengan malam pertama masih ada jeda ya.
Di sana masih demikian. Jadi akad dulu
nanti tinggal serumah entah berapa bulan
kemudian sampai sekarang masih ada
seperti itu. Kalau Indonesia tidak ya.
Indonesia biasanya akad langsung malam
pertama. Kalau enggak akad langsung sore
pertama. Kalau mungkin siang pertama
tergantung sikon, situasi dan apa
kondisi. Tapi kalau di Arab ada antara
akad dengan tinggal bareng itu ada
jedan. Ini dicontohkan oleh Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Nabi menikah
dengan Aisyah ketika Aisyah berusia 6
tahun ketika masih di Makkah. Baru Nabi
tinggal serumah dengannya. Ketika Aisyah
sudah usia cukup 9 tahun, baru kemudian
tinggal serumah dengannya. Bana biha.
Tinggal bareng ketika di Madinah. Jadi
ada jarak bahkan 3 tahun. Nah, ketika
terjadi pernikahan kemudian sudah
disebutkan nominal mahar ternyata
dicerai belum diapa-apain, belum
disentuh, belum berduaan, belum
berkhalwat, terjadi qadarallah cerai.
Nah, apa yang wajib dilakukan oleh sang
lelaki? Sang lelaki tetap harus bayar
mahar tapi
setengah. Waqad farum lahunna farid
fisfu ma farum. Maka kalian wajib
membayar setengah mahar. R juta jadi
berapa? R juta. Jadi berapa? 100. Jadi
berapa sekolahnya? Benar. Berarti
sekolah pagi bukan sekolah
sore. Tiib. Jadi berapa? 50 R 50
juta.
Ee kenapa? Karena wanita ini sudah dia
nikahi. Ketika dia sudah menikahi, tidak
ada boleh laki-laki lain untuk melamar
wanita tersebut. Ya, ada sisi merugikan
sang wanita. Dia sudah tinggal, sudah
jadi istri sah. Kemudian akhirnya
diceraikan. Jadi, ada sisi sedikit
kerugian. Maka Allah mewajibkan bayar
setengah mahar. Tapi Allah berkata,
"Illa ayfuna." Kecuali wanita tersebut
memaafkan dengan mengatakan, "Ya sudah,
enggak usah bayar apa-apa. Wong saya
juga belum diapa-apain. Belum sempat
berduaan, belum sempat berkhalwat, belum
disentuh, belum dicium, belum
diapa-apain. Udahlah gratis, enggak usah
bayar." Allah mengatakan illa ayfuna.
Kecuali sang para wanita atau sang
wanita memaafkan. A yafuadzi biyadii
uqdatun nikah. Atau sebaliknya. Sang
lelaki berkata, "Gak, saya bayar total.
Saya enggak bayar separuh. Saya bayar
Rp100 juta. Saya sudah merugikan dia.
Saya sudah boking dia. Enggak bisa
diapa-apain. Enggak dilamar oleh orang.
Ternyata saya ceraikan. Saya enggak
bayar setengah. Saya bayar apa? Total
100 juta. Jadi Allah memotivasi di
antara keduanya. Setelah itu Allah
berkata, wa
anqraqwa. Siapa yang memaafkan lebih
dekat kepada ketakwaan. Yaitu Allah
motivasi keduanya. Apakah sang wanita
yang memaafkan atau lelaki yang bayar
secara
100%. Setelah itu Allah berfirman, "Waul
fadla bainakum." Janganlah kalian
meninggalkan nisian di sini maknanya
tark. Janganlah kalian meninggalkan
sikap bermuamalah bilfadl di antara
kalian. Dalam buku terjemahan, sebagian
terjemahan ditafsirkan, "Jangan kalian
melupakan." Ini tafsir yang keliru.
Tafsir yang yang keliru. Karena
rata-rata kitab tafsir menafsirkan bukan
melupakan kebaikan. Karena sebagian
orang menafsirkan ini mereka mengatakan
kalau terjadi perceraian jangan lupakan
kebaikan-kebaikan masa lalu. Sebagian
orang menafsirkan ayat ini dengan
mengatakan kalau kalian menceraikan
istri atau istri bisa jadi suami maka
jangan lupakan kebaikan-kebaikan masa
lalu yang pernah kalian jalani. Dan ini
penafsiran tidak tepat. Kenapa? Karena
mereka memang belum tinggal bareng.
Mereka belum tinggal apa barang. Mereka
belum tinggal barang. Mereka belum
berumah tangga. Baru cuma akad akad
nikah. Tentunya yang dimaksud dengan
ayat ini adalah wala fad bainakum.
Janganlah kalian meninggalkan muamalah
bilfadl di antara kalian. Innallah bima
tamaluna basir. Sesungguhnya Allah maha
melihat apa yang kalian lakukan. Kenapa
Allah mengatakan wadinakum? Apa yang
dimaksud dengan muamalah bilfadl? Muamal
bilfadl itu seorang melakukan kebaikan
meskipun yang dibaikin tadi tidak pernah
berbuat baik kepada dia. Tidak pernah
berbuat baik kepada dia. Kisah dua orang
ini lelaki dan wanita ini menikah mereka
baru akadah. Tidak ada interaksi di
antara mereka
sebelumnya. Tidak pernah wanita melayani
sang lelaki dan tidak pernah sang lelaki
memberi kebaikan wanita. Cuma akad nikah
saja. Meskipun belum ada kebaikan
sebelumnya dari sang wanita atau sang
lelaki, tapi Allah menyuruh untuk
berbuat baik.
kepada ee pasangan. Jadi maksudnya
almamal fadal yaitu seorang melakukan
kebaikan lebih kepada orang lain ya
lebih kepada orang lain. Bahkan orang
tersebut yang dia baikin tadi mungkin
belum pernah berbuat baik kepada kepada
dia. Itu namanya almamalatu bilfadl.
Secara sederhana nanti akan kita
sebutkan contoh-contohnya lebih detail.
Tib kita berpindah kepada muamalah yang
kedua.
Apa? Almuamalatu bil adil. Bermuamalah
dengan
adil. Maka
ee artinya kita melakukan yang setara
dalam sisi kebaikan maupun keburukan ini
dibolehkan dan bahkan ini ee apa
namanya? Kalau kebaikan hukumnya wajib.
Ya Allah sebutkan misalnya dalam
Al-Qur'an tadi disebutkan wazau sayiatin
sayiatun mluha. Balasan keburukan adalah
keburukan yang semisalnya. Kalau orang
berbuat buruk kepada kita, kita boleh
balas. Namun harus setimpal, tidak boleh
lebih. Itu namanya kita bermuamalah
dengan apa?
Keadilan. Kata Allah, "Siapa yang
berbuat pelanggaran kepada kalian, maka
balaslah sesuai dengan kadar pelanggaran
tersebut." Tidak jadi masalah. Tidak
jadi masalah. Allah mengatakan waqtum
faqli
maumih. Kalau kalian membalas maka balas
sesuai dengan kezaliman yang kalian
rasakan. Meskipun setelah itu Allah
mengatakan kalau kalian bersabar lebih
baikirin lebih baik bagi orang yang
bersabar. Tapi kita membalas dengan
setimpal itu hukumnya boleh. Dan ini
Allah melihat sifat manusia. Tidak semua
manusia bisa bersabar. Maka kalau dia
balas, dia boleh balas dengan setimpal.
Dia boleh balas dengan setimpal.
Misalnya ada seorang mengatakan
kepada misalnya si A bilang kepada si B,
"Anjing kamu. Kamu juga anjing." Enggak
ada masalah. Sama-sama apa? Anjing.
Enggak ada masalah. I monyet kamu ya.
Kamu juga monyet boleh. Si B ketika
membalas monyet, dia berdosa tidak. Dia
membalas dengan apa? Keadilan enggak ada
masalah.
Yang penting apa? Setimpal. Yang jadi
masalah kalau dia tambahin ya monyet
geblek. Ah
itu kamu monyet. Kamu monyet goblok. Ah
ini ada tambahan goblok. Ini masalah
karena tidak seti setimpal anjing kamu
ya kamu anjing rabies. Ah ada tambahan
rabias ini tidak se tidak setimbal. Tapi
kalau sama-sama
anjing enggak ada masalah. Ini Rasulull
sahu alaihi wasallam sebutkan dalam
hadisnya.
[Musik]
Almustabbani ma qala faal
badii malam yatadil mazlum. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, kalau dua
orang saling caci maki, almustabbani
maqala faal badi. Kalau dua orang saling
caci maki,
semua perkataan yang muncul cacian dari
keduanya, dosanya kembali kepada yang
pertama karena dia yang
memulai. Malam yatadil mazlum. Selama
orang yang kedua tidak melampaui batas.
Ya, kalau si satu bilang anjing, anjing
juga monyet, monyet. Tikus, tikus apa
namanya? Ee terong, terong semua sebutin
semua. Semuanya lari ke mana? Ke yang
pertama. Selama yang kedua tidak
melampaui batas. Kapan yang kedua
melampaui batas? Maka dia tanggung
dosanya. Maka dia tanggung
dosanya. Ini namanya almamalatu bil adl.
Makanya datang dalam satu riwayat,
seorang sahabat menangis karena dia
takut melampaui batas ketika melanggar.
Saya bacakan hadisnya
dalam
ee riwayat Tirmidzi
ya. Demikian dalam madabul mufrad yang
lainnya dari Aisyah radhiallahu anha
beliau berkata, "Ana rajulan qada baina
yada rasulullah sallallahu alaihi
wasallam." Ada seorang duduk di depan
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Faqala
ya Rasulullah. Kemudian dia berkata, dia
cerita tentang dia dan ee perlakuan
budak-budaknya. Ya Rasulullah, wahai
Rasulullah, inna li
mamlukin yukadzibunani. Saya punya
budak-budak ya Rasulullah dan mereka
membohongiku. Waakununani. Dan mereka
berkhianat kepadaku. Kita tahu zaman
dulu ada budak budak itu diperjual
belikan, dipekerjakan tanpa digaji
karena hak milik dia beli dan dia jual.
Ini di zaman dahulu. sekarang sudah
tidak ada
perbudakan. Maka dia cerita, "Saya punya
budak-budak ya Rasulullah. Mereka bohong
sama saya. Mereka berkhianat kepadaku.
Wasunani dan mereka membangkang
kepadaku. Tapi saya balas ya Rasulullah.
Wa asumuhum saya maki mereka. Wauhum
saya pukul mereka." Jadi ini majikan
balas dengan makian dan apa? Pukulan.
Fakaifa ana minhum. Bagaimana saya
dibandingkan mereka ya Rasulullah?
Maka Rasul sahu al wasallam berkata,
"Yuhsabu wa asuka
wadzabuka waqobuka iyahum." Akan dihisab
masing-masing. Allah akan hisab
kesalahan mereka. Mereka salah kepadamu
ada tiga hal. Mereka bohongin kamu,
mereka khianat, mereka membangkang. Ini
dosa enggak? Dosa? Artinya para budak
menzalimi majikan. Tetapi ingat juga
kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Wa iqobuka iyahum." Kau juga menghukum
mereka juga ada hisabnya. yaitu kau caci
mereka dan kau pukul apa
mereka iqobuka
biqriunubihim kafafan. Kalau ternyata
hukumanmu kepada mereka yaitu makianmu
dan pukulanmu, ternyata sesuai dengan
kadar kesalahan mereka maka impas. Ya,
sesuai dengan kadar dosa-dosa mereka
maka impas. Kana kafafan la alaik. Ya,
tidak kau dapat untung, kau tidak dapat
untung dan juga tidak ada keburukan
menimpamu. Impas. Akan tetapi wainana
iqobukaumunubihim. Tetapi kalau ternyata
hukumanmu lebih sedikit daripada
dosa-dosa mereka, kana fadlan laka, maka
kau dapat untung. Karena ternyata
balasanmu di bawah daripada kezaliman
yang mereka apa lakukan. Ya. Tetapi
kalau
sebaliknya kalau ternyata hukumanmu
kepada budak-budakmu lebih berat
daripada dosa yang mereka
lakukan, maka kau akan
dikisos. Kau akan
[Musik]
dikisos. Jadi yang yang mulai salah
siapa? Budak-budak atau majikan?
Budak-budak salah. Dusnya tiga model
bohongin. Bayangkan budak-budak bohongin
majikan. Menjengkelkan,
berkhianat
kemudian membangkang. Tapi ketika sang
majikan membalas dengan makian dan
pukulan ternyata lebih berat, maka
repot. Maka sang majikan yang sekarang
statusnya berubah jadi orang yang zalim.
Maka sang majikan yang di dikisas. Apa
kata Aisyah radhiallahu taala anha?
Fatanaharjulu atau sang rai berkata,
"Fatanaharjulu faja'ala yabki wahtif."
Maka dia pun minggir sedikit kemudian
dia menangis. Dia menangis. Faqala
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
dia berkata, "Wahai
Rasulullah." E, maka rasul sahu wasam
berkata kepada diaq rasulah wasamq
kitaballah, "Tidakkah kau baca firman
Allah?"
Tidakkah kau baca firman Allah pada hari
kiamat kelak Allah akan menegakkan
timbangan yang detail dan adil. Maka
tidak seorang jiwa pun yang akan
dizalimi. Yaitu perbuatanmu akan
ditimbang dan dosa-dosa mereka juga akan
di ditimbang.
Ya. Faqala rajul. Maka lelaki tersebut
berkata, "Wallahi ya Rasulullah ma
ajiduli walahumaian khairan
minufqatihim." Aku tidak mendapati yang
terbaik untukku dan untuk mereka kecuali
aku berpisah dari mereka. Usiduka
annahum
aunuhum. Aku persesahan engkau wahai
Rasulullah. Budak-budakku semuanya
merdeka. Semuanya merdeka. Maksud saya
ini orang
ya dia takut tidak bisa bermuamalah
dengan bil adil. Kalau tidak bisa
bermuamalah dengan adil maka jatuh
kepada kez kezaliman.
Makanya Allah berfirman tadi di awal
ayat yang kita baca surat
Asyurainatun. Balasan keburukan adalah
keburukan semisalnya. Tetapi kalau
berlebihan innahu la yuhibalimin.
Sesungguhnya Allah tidak mencintai
orang-orang yang yang
zalim. Maka kalau kita ada orang berbuat
zalim kepada kita, maka dibolehkan bagi
kita untuk membalas dengan setimpal.
Dalilnya jelas tadi tiga ayat tersebut.
Siapa yang membuat pelanggaran kepada
kalian lawan balas sesuai dengan
pelanggaran
mereka balasan keburukan-keburukan yang
semisalnya. Kalau kalian balas sesuai
dengan kezaliman yang dilakukan kepada
boleh. Tapi kata Ibnu Taimiyah
rahimahullah, siapa yang bisa jamin dia
balas dengan
setimpal? Siapa yang bisa jamin dia bisa
balas dengan apa? Setimpal. Lihatlah
bagaimana sahabat ini ketakutan ketika
dia
khawatir makian dia dan pukulan dia
kepada budak-budaknya bisa jadi
berlebihan daripada kesalahan mereka.
Maka dia lebih baik pisah daripada nanti
saya tidak bisa membalas dengan apa?
Dengan
setimpal. Oleh karenanya seorang waspada
ya kalau kita dizalimi kita boleh balas
setimpal dan kita tidak dosa sama
sekali. Semua dosa kembali kepada dia
karena dia yang mulai.
Tetapi bisakah kita
menjaga, mengkontrol mengontrol
bahwasanya balasan kita selalu setimpal?
Ini yang susah. Sebagian orang
mengatakan, "Saya ini baik, tapi kalau
kau macam-macam sama saya, saya balas
doble." Ini repot. Ini repot seperti
ini. Enggak boleh. Kalau kau balas harus
timpel, enggak boleh dobble. Kalau kau
dobel, kau yang berdosa. Statusmu tadi
adalah terzalimi. Ketika kau membalas
dengan lebih, maka statusmu menjadi
menzalimi. Ini yang repot. Maka
berpindahlah engkau dari model muamalah
yang kedua menjadi model muamalah yang
yang ketiga. Makanya ketika seorang
masuk dalam areal apa? Dalam ranah
perdebatan tidak mudah debat. Kemudian
dia emosi, dia mulai caci maki. Padahal
mungkin asalnya dia yang benar, lawannya
yang salah, tapi ternyata dia terbawa
emosi. Bukan lagi karena Allah, dia
tinggalkan adab dalam berdiskusi, adab
dalam berdialog, adab dalam berdebat.
Akhirnya dia yang zalim. Akhirnya,
akhirnya dia cari-cari kesalahan lawan
debatnya. Dia ungkap semuanya. Akhirnya
terjerumus dalam berbagai macam
dosa-dosa. Tajassus,
tahasus dan macam-macam. Praduga, suuzon
dan macam-macam. Maka tidak semua orang
bisa masuk dalam ranah tersebut. Tidak
mudah ya. Tapi kalau dia bisa mengontrol
dirinya untuk membalas dengan setimpal,
maka tidak jadi masalah. Tidak jadi
masalah. Tiib. Almuamalatu bil adal.
Balasan dengan setimpal ini bukan pada
perkara-perkara buruk saja. Dalam
perkara kebaikan pula kita berusaha
membalas dengan setimpal sebisa mungkin.
Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam
mengatakan dalam hadisnya, "Faman shona
ilaikum ma'rufan
fakafiuhu faillam tajidu ma
tukafunahu fad'u lahu kama qala Nabi
sallallahu alaihi wasallam." Kata rasul
sahu alaihi wasallam, "Siapa yang
berbuat baik kepada kalian maka balaslah
dengan setimpal."
Orang kasih kita kue harganya Rp100.000,
kasih juga kue Rp100.000. Harusnya
demikian. Kalau kita mampu ya, ada orang
ee kasih kita sesuatu nilainya misalnya
sejuta, kita berusaha kasih juga nilai
apa? Sejuta. Maka rasul mengatakan
tahadu tahabu. Saling beri hadiah, maka
kalian saling mencin mencintai. Jangan
cuma tunggu hadiah mulu
ya. Kalau mampu kalau mampu kita
berusaha membalas. Beda. Kalau tidak
mampu ya. Rasulullah mengatakan,
"Fakfiuhu." Fakafiu itu bahasa Arabnya
artinya, "Balaslah dengan setim
setimpal. Balaslah dengan setimpal."
Saya lihat Syekh Abdur Razq
hafidahullahu taala selalu berusaha
demikian. Kalau ada yang kasih dia
langsung balas, ada yang kasih sesuatu
dia langsung apa? balas. Kemarin saya
lagi buka puasa sama beliau, ada yang
kasih kurma dari Jazair. Kata dia,
"Syekh ini kurma dari Jazair. Saya
langsung kasih dia yang lain lagi. Kau
juga ini berusaha untuk membalas yang
apa?" Setimpal. Karena kalau kita
berusaha belas setimpal, kita tidak
banyak utang budi sama orangor lain.
Kalau kita tidak banyak utang budi sama
orang lain, kita semakin kuat tawakal
kita kepada Allah Subhanahu wa taala.
Ya, kalau kita sudah hutang budi, kita
tunduk ya ada pekai enggak enak ya. Maka
seorang berusaha membalas dengan dengan
setimpal sebisa mungkin. Kalau tidak
faduahu, maka sering doakan orang
tersebut. Doakan, doakan, doakan. Karena
tidak semua orang berbuat baik dengan
kita, dia butuh balasan secara materi.
Enggak ada raja misalnya kasih kita kuat
uang R juta, kita balas R juta. Raja
enggak butuh R juta, dia butuh kita
doain apa dia? Ada konglomerat kasih
kita sesuatuak kita kita enggak perlu
balas dengan materi. Dia tidak butuh
materi. Yang dia butuh mungkin kebaikan
dalam bentuk yang lain. Tapi seorang
berusaha membalas
kebaikannya dengan mungkin non materi.
Di antaranya dengan berdoa. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, fadulahu.
Doakan. Doakan. Dia lebih butuh doa
daripada materi ya. Tapi Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam mengajarkan
kita untuk balas dengan apa? Setimpal.
Apa kata Ibnu Taimiyah rahimahullahu
taala?
Eh eh ahsin ila manta takun amirahu
wastagni amanta takun nadiru. Ihtaj
manta takun. Eh apa kata Ibnu Taimiyah?
Berbuat baiklah kepada orang lain. Ya,
takun asirahu. Kata Ibnu Timyah
rahimahullah taala,
ahsin takun amirhu. Berbuat baiklah
kepada siapapun yang kau sukai, kau akan
jadi amirnya. Itu dia akan dia enak sama
engkau. Kau akan menundukkan dia. Seb
perkataan seorang penyair,
[Musik]
ahsinasiu. Berbuat baiklah kepada orang
lain, kau akan menundukkan hatinya.
Betapa kuat perbuatan baik menundukkan
hati seseorang. Kalau kita berbaik sama
orang, orang itu lama-lama
engg iya. Terus dia enggak berani bilang
enggak karena kita berbuat baik selalu
kepada kepada
dia. Yang kedua, istagni aman takunahu.
Tidak butuhlah kepada seorang maka kau
akan seimbang dengan dia. Ada orang kaya
punya teman orang miskin, tapi orang
miskin tersebut tidak pernah butuh
kepada orang kaya. Orang kaya juga
enggak mentang-mentang sama dia. Orang
miskin pun bisa angkat tetap angkat
dadanya. Kenapa? Saya tidak butuh sama
kamu kok. Saya bisa hidup sendiri tanpa
kamu. Tapi kalau begitu dikasih-kasih
terus lama-lama apa? Nunduk.
Wahtaj takun asiru. Butuhlah kepada
orang lain. Maka kau akan menjadi
tawanannya. Akan menjadi tawanan. Ini
perkataan Ibnu Taimiyah nukil dan juga
perkataan para orang-orang Arab. Maka
ketika seorang tidak punya utang budi
sama orang lain itu lebih baik sebisa
mungkin. Kalau dia tidak bisa balas
kebaikan yang orang lakukan kepada dia,
harus sering doakan orang tersebut
sehingga dia merasa bahwasanya dia telah
membalas kebaikan materi orang tersebut
dengan balasan non materi berupa doa
yang mungkin terkadang lebih afdal
daripada materi tersebut. Tapi dia harus
sering doakan sampai dia merasa sudah
cukup. Ya, makanya minimal kita berkata
jazakallahu khairan. Jazakallahu
khairan. Ya, kita doain ketika sujud,
ketika bersendirian, doain orang berbuat
baik, punya hutang yang punya jasa dalam
kehidupan kita berupa materi atau yang
lainnya yang kita rasa kita tidak bisa
membalas jasanya. Oleh
karenanya
ee oleh karenanya seorang berusaha harus
sering mendoakan kedua orang tuanya
karena dia tidak akan pernah bisa
membalas jasa kedua orang tuanya. Enggak
akan
bisa. Kalau selain orang tua kita doa
secukupnya kata Nabi, "Sampai kau merasa
cukup." Tapi kalau orang tua enggak ada
rasa secukup karena kita tidak bakalan
bisa balas jasa kedua orang tua. Kata
Nabi, "Kau hanya bisa balas jasa kedua
orang tuamu. Kalau kau dapat orang tuamu
dalam kondisi budak, kemudian kau beli,
komu
merdekakan." Tapi enggak akan kita
dapati kondisi tersebut. Orang tua kita
merdeka. Mereka bukan budak. Kata Nabi,
"Kau hanya bisa balas jasa orang tuamu.
Kalau kau dapati orang tua budak,
kemudian kau beli, kemudian kau
merdekakan."
Oleh karena kita doain orang tua itu ee
ciri orang saleh, ciri anak saleh sering
mendoakan apa? Orang tua. Karena orang
doa tersebut tidak akan pernah cukup
karena kita tidak bakalan bisa membalas
jasa kedua orang tua. Bab. Jadi dalam
hal kebaikan pun kita berusaha balas
dengan apa? Setimbal ya. Balas dengan
setimpal. ini mengajarkan kepada kita
tidak melupakan jasa orang lain. Makanya
di antara hal yang menarik
ee Azzahabi rahimahullah dalam kitabnya
Alkabair menyebutkan di antara dosa
besar lupa dengan kebaikan orang. Lupa
dengan apa? Kebaikan orang, ingkar
dengan kebaikan orang. Seorang kalau
tahu orang lain telah berbuat baik
kepada dia harus ingat, dia harus
mengenang. Dia tahu dia harus wafa, dia
wafi. Yaitu dia tahu ini orang punya
jasad. Maka dia berusaha membalas
kebaikan tersebut. Nabi sallallahu
alaihi wasallam saja tidak lupa dengan
kebaikan orang-orang kafir yang pernah
berbuat baik kepada
dia. Maka rasul sahu wasallam pernah
berkata, "Lu kana mutim bin Adi hayyan."
Ya, seandainya Mutim bin Adi masih hidup
ya laqtahu haulana. Saya akan
memerdekakan semua tawanan perang Badar
untuk dia. Kalau dia bilang Muhammad
merdekakan semua tawanan perang Badar
saya akan merdekakan. Cuma Mut bin Adi
sudah meninggal dunia. Padahal Muti bin
Adi meninggal mengisi
kafir.
Ya, mau saya ee Rasul Sallahu Alaihi
Wasallam dalam ada saya kajian khusus
tentang sifat wafa. Bagaimana Nabi
sallallahu alaihi wasallam tidak lupa
dengan kebaikan orang lain. Bahkan
kebaikan orang-orang kafir yang pernah
berbuat baik kepada Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Nah, kalau ada orang
berbuat baik dengan kita, kita jangan
sok tidak jangan sok tetap di atas
sehingga kita merasa ah dia punya jasama
kita. Harus kita ingat. Paling tidak
kita berusaha bala setimbal. Kalau tidak
kita
doakan. Doakan. Ini namanya almamalatu
bil adal. Yang ketiga tentunya sudah
kita singgung yaitu al muamalatu
bidzulm. Menzalimi orang lain. Waspada.
Ini dosa yang sangat berbahaya.
Sebagaimana diriwayatkan dari
Sufyan beliau
berkata,
ahqin
wahidinaka. Engkau bertemu dengan Allah
dengan 70 dosa antara engkau dengan
Allah masih lebih ringan daripada kau
bertemu dengan Allah dengan berbuat
zalim. Satu dosa tapi zalim. Engkau
menzalimi hamba Allah Subhanahu wa
taala. Kenapa? Karena hukum asal Allah
Subhanahu wa taala maha pengampun. Ini
hukum asal kita punya dosa sama Allah.
Hukum asal Allah maha pengampun gfurur
rahim ya inahmati sabaqi dalam hadis
sesungguhnya rahmat Allah mendahului
kemurkaan Allah subhanahu wa taala
tetapi hukum asal manusia maafkan atau
nuntut nuntut ya akhi hukum asal kalau
kita punya salah sama orang di akhirat
dia nuntut karena dia tahu kalau dia
berhasil
nuntut ini
lumayan untuk kalau dia masuk neraka
paling tidak mengurangi dia di neraka
atau menyelamatkan dia di neraka kalau
dia masuk surga agar surga semakin apa?
Tinggi. Maka hukum asal orang menuntut
bahkan seorang nuntut ibunya, nuntut
ayahnya, nuntut keluarganya, dia
nuntut. Dia nuntut. Makanya di antara
tafsir kata Allah subhanahu wa taala,
"Ketika hari ditiupkan sangkakala, maka
seorang akan lari dari kakaknya, dari
orang ayahnya, dari ibunya, dari
anak-anaknya." Di antara tafsiran para
salaf, karena dia takut dituntut. Dia
takut apa? Dituntut. Diaak enggak mau
ketemu ibunya. Dia takut ibunya nuntut
dia karena ada hakhak ibunya yang tidak
dia tunaikan. Dia kabur dari istrinya,
takut dituntut sama istrinya. Lari dari
anaknya dia takut ada dia zalim sama
anak-anaknya.
Maka seorang berusaha tidak menzalimi
orang lain. Dan kezaliman kembali kepada
tiga hal. Sebagaimana dalam hadis ketika
Rasulull sahu alaihi
wasallam dalam khutbatu ee dalam
khotbatu ee ketika berkhotbah ketika
haji wada Rasul sahu al wasallam
mengatakan inna
dimaakum wa amwalakum waakum alikum
harammatikummati yaumikum h fi baladikum
h ya kata kata nabi sallallahu alaihi
wasallam fi syahrikum h kata nabi
sallallahu alaihi wasallam ketahuilah
bahwasanya darah kalian haram tidak
boleh kalian tumpahkan di antara kalian.
Kemudian harta kalian haram tidak boleh
kalian ambil ya dari orang lain yang
bukan hak kalian. Aakum dan harga dilian
juga haram. Tidak boleh kalian jatuhkan,
tidak boleh kalian coreng harga diri
kalian. Sampai ee Rasul Sallahu Alaihi
Wasallam menyebutkan dimaakum darah
kalian. Karena kalian seakan-akan satu
kesatuan. Satu kesatuan. Jadi
menumpahkan darah yang lain seperti
menumpahkan darah sendiri. Karena kalian
adalah almukminun ikhwah. Kemukminan
adalah saling ber bersaudara. Maka
kezaliman kembali kepada tiga hal ini.
Entah kita melukai orang tersebut,
menumpahkan darahnya, menyakiti
fisiknya, menyakiti tubuhnya, maka ini
kezaliman tanpa hak. Ya, bukan keadilan
tapi tanpa hak. Tanpa keadilan, zalim.
Atau terkait dengan hartanya kita ambil,
hartanya kita tipu dia. Utang sengaja
tidak kita bayar, dia nagih kita ganti
nomor telepon.
Betapa saya, betapa sering orang bilang
sama saya, "Ustaz, si fulan punya hutang
sama saya, Ustaz. Saya tagit-tai, dia
enggak pernah bayar. Yang kita buat
jengkel apa, Ustaz? Dia
jalan-jalan, gaya hidupnya mewah, beli
mobil baru, tapi hutang enggak
bayar-bayar. Mungkin mobilnya juga
hutang nih. Enggak tahu aja hutangnya
banyak. Banyak cabang dia berhutang.
saya ya ini terkait dengan harta atau
banyak
ee lagi apa namanya kongsi kemudian e
bisnis ternyata saling menzalimi satu
dengan yang lainnya ya berkhianat ketika
berdagang main belakang menjual dalam
perusahaan banyak pengkhianatan banyak
sekali ya banyak terlalu banyak ee
laporan-laporan ini semua adalah bentuk
kezaliman terkait dengan harta dan ini
ngeri.
Ini ngeri
ya. Hutang yang sengaja tidak dibayar ya
sampai rasul wasallam pernah tidak mau
salat sama orang gara-gara tidak bayar
apa?
Hutang. Yang ketiga terkait dengan harga
diri. Jangan kita zalimi orang terkait
dengan harga harga dirinya ya.
Menjatuhkan harga dirinya, memfitnahnya,
menuduhnya, menduga-duga yang tidak
benar, suudon kepada dia. Asalnya kita
tabayun. Kalau ada praduga kita tanya.
Jangan kita praduga kemudian kita
sebarkan dugaan tersebut. Kalau mau
tanya tabayyun. Kalau tabayun jangan
satu pihak. Kalau kau pengin kepo,
sekalian tanya dua pihak. Tapi kalau kau
enggak ngin kepo, diam aja, enggak usah
ngomong. Kalau kau pengin kepo, tanya
dua-dua dua pihak. adalah kebodohan
seorang hanya bertanya kepada satu pihak
kemudian dia mengambil kesimpulan tanpa
bertanya kepada pihak yang lain.
Ya, makanya di antara sebab disebut oleh
sebagian ahli tafsir Nabi Daud alaihi
salam waab dalam surat Sad Nabi Nabi
Daud akhirnya dia bertobat kepada Allah
subhanahu wa taala. Di antaranya
disebutkan ketika ada dua orang mengadu
kepada Nabi Daud kemudian dia hanya
mendengar kepada salah satu pihak
kemudian dia kasih hukum.
Dia tidak mendengar daripada salah pihak
yang lain. Maka ditegur oleh Allah
Subhanahu wa taala. Maka dia pun
bertobat kepada Allah Subhanahu wa
taala. Kita betapa sering kita hanya
mendengar dari satu pihak. Betapa banyak
kisah tentang seorang kita tidak pernah
tanya kepada orang tersebut tapi kita
mengambil dari berita yang tersebar. Ini
salah satu bentuk kita bahlul ya. Hanya
menerima satu pihak kemudian mengambil
hukum. Yang benar kalau mau mau kepo
ambil hukum dari kedua belah pihak.
Kalau enggak ya sudah kita gak perlu
kepo, enggak perlu tahu. Akhirnya kita
ikut menyebarkan dugaan-dugaan yang
keliru tentang si fulan, tentang si
fulan, tanpa mengecek apa sungguhnya
yang ter terjadi. N ketika kita ikut
menyebarkan
keburukannya, ah ini kita menjatuhkan
harga harga dirinya.
Ketahuilah mencemarkan harga diri
seorang terkadang lebih berat daripada
ya dizalimi secara fisik. Makanya
seorang penyair e pernah berkata,
"Jarohatul lisani jarat sinaniamu
waltamu jarah lisanu." Bahwasanya luka
akibat sayatan pedang masih bisa
disembuhkan tapi luka akibat sayatan
lisan susah untuk disembuhkan. Seorang
ingat terus dikenang atas di mana harga
dirinya dijatuhkan oleh lisan-lisan dan
pena-pena dan tulisan-tulisan jari-jari
nakal yang mengetik sembarangan ya
diingat oleh orang tersebut dan dia akan
tutut pada hari kiamat. Pada hari kiamat
kelak maka seorang jangan menzalimi
orang lain terkait dengan ee harta,
terkait dengan fisik maupun darah dan
terkait dengan harga diri orang orang
lain. Hati-hati Tib. Sebagaimana saya
katakan di awal pengajian, kita kembali
kepada yang kita maksudkan dalam
pengajian adalah almamalatu bil fadl.
Ini yang inialah sumber
pahala. Kalau yang lain almamalatu bil
adil, yaitu supaya kita tidak berdosa
ya. Yang penting kita bisa setimbal.
Kalau almamalatu bidzulum ya jangan
sampai kita berdosa. Yang kita ingin
bahas panjang lebar adalah bagaimana
agar kita dapat pahala dengan
almuamalatu bilfadl, yaitu bermuamalah
yang utama. Maka ada beberapa ee contoh
ya. Ee yang pertama tadi yang sudah kita
sebutkan dalam surat Albaqarah tadi 237.
Waqtumuhunna dan seterusnya minqli
antuhunna. Di sini dua orang
mereka menikah kemudian belum sempat
tinggal barang, belum sempat berkhalwat
berdua-duaan, belum sempat saling
melihat aurat satu dengan yang lainnya,
belum sempat berhubungan, tahu-tahu sang
lelaki menceraikan sang wanita. Maka di
sini wajib bagi sang lelaki untuk
membayar mahar setengah. Tetapi Allah
memotivasi mereka di antara mereka mana
yang mau amalah bilfadl? Kata Allah
Subhanahu wa
taala, biyadi nikah. Kecuali sang wanita
memaafkan. Sehingga dia bilang, "Sudah,
enggak usah bayar. Toh saya belum
diapa-apain. Saya
masih masih apa? Disegel, belum apa-apa,
belum disentuh sama sekali. Ya sudah,
enggak usah bayar R juta, enggak usah.
Afuadzi biyadiatun nikah." Atau
sebaliknya, sang lelaki yang memaafkan.
Memang enggak enggak enggak meskipun kau
masih tersegal saya sempat memboking
engkau. Enggak ada yang bisa mengelamar
engkau. Ya kalau dia sudah nikah enggak
bisa dilamar kan? Enggak bisa. Ya sudah
100 juta. Kemudian Allah berkata, "Wa
antau aqrabulqwa." Siapa yang memaafkan
lebih dekat kepada ketakwaan? Yaitu
kalian berdua mana yang lebih
dahulu? Innallah bima tammaluna bashir.
Sesungguhnya Allah maha melihat apa yang
kalian lakukan.
Subhanallah. Allah memotivasi untuk
muamalah bilfadl. Ya. Dan Allah
mengatakan Allah maha melihat meskipun
enggak ada yang tahu. Meskipun kalian
tidak share di YouTube atau di Facebook
atau di medsos, Allah maha tahu. Berbuat
baiklah kepada orang karena Allah
subhanahu wa taala. Ini isyarat kalian
lakukan karena Allah. Bukan karena ria,
bukan karena ingin dipuji, bukan karena
ingin pencitraan. Enggak. Tapi kau
berbuat baik kepada pasanganmu atau yang
pernah sempat menjadi pasanganmu karena
Allah. Makanya Allah tutup dengan
innallaha bima tammaluna basir. Allah
melihat apa yang kalian ee lakukan.
Jadi, lihatlah bagaimana sang lelaki
dimotivasi untuk menyerahkan 100 juta
secara total meskipun wanita tersebut
belum pernah berbuat baik sama dia.
Paham? Berbuat baik kepada orang yang
tidak pernah berbaik sama kita. Dan
wanita juga dimotivasi oleh Allah untuk
memaafkan 50 jutanya sehingga total nol.
Padahal sang lelaki tidak pernah berbuat
berbuat baik kepada kepada dia. Kata
Allah, "Wala tansul fadla bainakum."
Janganlah kalian meninggalkan muamalah
bilfadl di antara kalian. Ini saja kalau
kita bawakan kepada tafsir yang masyhur
tapi tafsir yang salah yaitu jangan
lupakan perbuatan baik yang pernah
terjadi selama rumah tangga. Maka itu
kita bisa boleh katakan tafsir dengan
kelaziman. Nah ini aja tentang dua
pasangan suami istri yang tidak pernah
berumah tangga saja Allah seluh berbuat
yang terbaik apalagi yang sudah pernah
berumah berumah tangga. Apalagi yang
sedang berumah tangga.
Memang berat kita berbuat baik sama
istri karena Allah meskipun sering
diomelin misalnya berat. Berat tidak
menghalangi kita untuk menasihati. Ya,
tidak menghalangi kita untuk menasihati.
Tapi kita cari pahala di sisi Allah
Subhanahu wa taala ya. Kita tidak
menunggu istri baik baru kita baik.
Enggak. Kalau dia baik kita lebih baik
daripada yang lebih daripada tersebut
ya. Karena kita ingin bermuamalah
bilfadal. Kalau bil adal semua orang
bisa. Dia baik, saya baik. Dia buruk,
saya buruk. Enggak. Dia enggak baik,
saya baikin. Dia baik, saya lebih baik.
Itu maksudnya. Itu namanya muamalah
bilfadal. Ini lahan pahala. Lahan
pahala. Tib. Contoh yang
lain dalam surat
azzariyat Allah
berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim ee
alaih salam dalam surah Azzariyat 24.
Kata Allah hadi Ibrahim
mukrin
alaihiquaman
ahliquai dalam surat azzilat ayat 24 dan
seterusnya.
Jadi Allah
mengirim para malaikat untuk
membinasakan kaum Nabi Luth. Maka Allah
kirim malaikat yang menyel menjadi
laki-laki yang tampan. Tapi sebelum
mereka datang ke Sodom untuk
menghancurkan kaum Nabi Luth, mereka
mampir dulu kepada Nabi Ibrahim alaihi
salam di Palestina. Maka mereka mampir
menjelma seperti para tamu. Maka mereka
ketuk pintu Nabi Ibrahim. Allah
mengatakan hadi
Ibrahim. Apakah telah datang kepada
engkau tentang kisah para tamu-tamu nabi
yang mulia? Nabi Ibrahim yang mulia.
Yaitu tamu-tamu yang mulia yang datang
kepada Nabi Ibrahim yaitu para malaikat.
Alaihi ketika mereka masuk menemui
Ibrahim mereka berkata, "Salaman." Kata
mereka, "Asalamualaikum wahai Ibrahim."
Ibrahim heran ini siapa? Kata Ibrahim,
"Qala salamun kaumu munkarun."
Waalaikumsalam. Wahai kaum yang saya
tidak kenal. Munkarun maksudnya saya
tidak kenal. Jadi Ibrahim tidak pernah
kenal mereka. Tidak pernah mereka punya
jasa sama Ibrahim Alaih Salam. Mereka
tidak pernah menjamu Ibrahim
sebelumnya. Tidak pernah kenal. Makanya
Ibrahim berkata, "Salamun kaumun
munkarun." Kaum yang mungkar yang tidak
aku kenal sama sekali. Tapi apa sifat
sikap Nabi Ibrahim? Far ila ahlihi faa
bijijin samin. Segera dia pulang menuju
istrinya. Kemudian dia nyembelih sapi
yang gemuk. Kemudian dia panggang.
Kemudian dia hidangkan kepada
tamu-tamunya tersebut. Bukan cuma itu,
faqahu ilaihim. Dia dekatkan kepada
tamu-tamunya dan dia berkata, "Ala
takulun, tidakkah kalian makan?" Di sini
Ibrahim menjamu tamu dengan jamuan yang
luar biasa. Ya, dia bukan ceplok telur.
Bukan bukan. Dia ini tamu tidak pernah
kenal sebelumnya. Kalau pernah kenal
okelah. Pernah kenal kita ajak makan ke
mana? Apah dia pernah naraktir saya? Ini
enggak pernah kenal sama sekali. Tapi
Ibrahim Alaih Salam memang demikian.
Punya jiwa almuamalatu bil fadl. Ingin
berbuat baik kepada orangorang lain
meskipun orang tersebut tidak pernah dia
kenal. Maka dia potong sapi. Bukan sapi
yang kurus. Dia pilih sapi yang ijelin
samin. Sapi yang gemuk. Kemudian dia
panggang. Kemudian dia hidangkan. Ketika
dia hidangkan pun dia dekatkan. Faqarahu
ilaihim. Dia dekatkan kepada tamu-tamu
dan itu adalah kebiasaan orang Arab
sampai sekarang. Kalau kita makan dengan
mereka, mereka dekatkan makanan kepada
kita. Ya, bahkan mereka potong-potong
kambing mereka lemparkan kepada kita.
Bukan sebaliknya kita
ambil. Saya pertama makan sama orang
Arab. Kesannya kita tuh rakus kesannya.
Karena
lemparin begitu habis lagi lemparin
lagi. Kita enggak enak juga ya. Ternyata
itu kebiasaan mereka ternyata itu sunah
dari Nabi Ibrahim Alaih Salam.
Sehingga orang yang makan tidak perlu
malu-malu, bahkan dia tidak perlu
berdiri untuk mengambil makanan tersebut
karena dihidangkan bagi dia. Makanya
kita bertamu sama orang Arab sampai
sekarang mereka siapkan kahwa. Kalau
kahwa mereka langsung kasih. Jadi mereka
nungguin begitu kelihatan habis mereka
tawarin. Habis mereka datang mereka
tawarin. Dan mereka tidak pernah isi
kahwah full. Gak pernah selalu setengah.
Ada yang mengatakan supaya tetap tetap
panas kemudian juga melayani
terus-menerus. Karena kalau langsung
dikasih gelas cuma sekali
pelayanan. Tapi kalau gelasnya kecil kan
terus berulang-ulang. Jadi mereka yang
datang untuk melayani itulah sunah Nabi
Ibrahim Alaih Salam. Dia mendekatkan
makanan kepada tamunya. Ini contoh
almuamalatu bil
Fadl. Belum pernah kenal orang tersebut
tapi dimuliakan luar luar biasa.
Ya. Maka e seorang berusaha cari pahala
dia punya kemampuan secara ekonomi
berbuat baik sama orang meskipun dia
tidak pernah kenal sebelumnya. Dia tahu
Allah maha melihat. Innallaha bima
tamaluna basir. Allah maha melihat apa
yang kau lakukan. Yang penting niatnya
karena Allah. Bukan pencitraan. Bukan
karena ikut pilkada
ya. Bukan ya. Tapi karena Allah
subhanahu wa taala. Ini di antara contoh
almuamalatu bilfadl.
Kemudian juga di antara almuamalatu bil
fadl, Nabi sebutkan atau dalam hadis
tentang kisah Jarir bin Abdillah
radhiallahu anhu. Jar bin Abdillah dari
Bujailah
Albajali radhiallahu anhu ketika dia
datang kepada Nabi dia mengatakan bayu
Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam ala iqah
waakah wus likulli muslim aku membaiat
Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk
menegakkan salat dan menunaikan zakat
dan melakukan annush. Annus itu adalah
melakukan yang terbaik bagi ee muslim
yang lain. Annush itu lawan dari
alghisy. Jadi ee yang benar annush atau
nasihat maknanya bukan nasihat yang
seperti kita pahami. Nasihat itu adalah
melakukan yang terbaik kepada pihak ee
pihak yang kita hadapi itu namanya anus
seorang. E makanya para nabi mengatakan
inni lakum nasihun amin. Sesungguhnya
aku adalah nasih yaitu aku ingin terbaik
buat buat kalian. Aku ingin terbaik buat
kalian.
ee makna nusah dalam bahasa Indonesia
dipersempit maknanya jadi cuma nasihat.
Cuma apa? Nasihat. Padahal kalau bahasa
Arab nasihat adalah bagian daripada nus.
Nus itu maknanya bersikap yang terbaik
bagi orang yang kita nasihati. Makanya
dikatakan seorang mukmin apa nama apa
namanya? Adinun nasihah. Liman ya
Rasulullah. Agama nasihat. Lillahi
waliasulihi walitabihi waliatil
muslimtihim. Nasihat kepada Allah. Apa
maksudnya nasihat kepada Allah? Bukan
kita nasihati Allah. Bukan.
Tetapi maksudnya kita melakukan yang
terbaik di hadapan Allah. Wali rasul apa
nasihat kepada Rasulullah? Yaitu kita
menjalankan perintahnya, menjauhi
larangannya, membenarkan sabda-sabdanya.
Nasihat kitabih. Nasihat kepada
Al-Qur'an maksudnya apa? Menjalankan isi
Al-Qur'an. Jadi nasihat itu maksudnya
annusu adalah yang terbaik. Nah,
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
ketika mengambil baiat dari kebanyakan
para sahabat hanya dibatasi dengan iqam
salah wa it zakah syahadatain terus
iqami salat mendirikan salat dan
menunaikan zakat tapi khusus Jarir bin
Abdillah ada tambahan dan ini tidak
diriwayatkan Nabi mengambil dari sahabat
yang lain.
Baiat. Baiat. Kalau nasihat iya, tapi
baiatkan janji setia. Khusus Jarid bin
Abdillah Rasulullah bilang, "Anushu
likulli muslim." Kau harus menjadi
seorang yang nasih bagi setiap muslim
yang kau temui. Dan Jarid bin Abdillah
mengambil janji tersebut. Ada yang
mengatakan Jarid bin Abdillah, kenapa
Rasulullah ambil baiat tersebut? Karena
dia adalah pemimpin kaumnya dan dia akan
menjadi dai. Seorang dai harus demikian
berusaha melakukan yang terbaik bagi
orang di depannya.
Maka setelah itu benar-benar Jarir bin
Abdillah menjadi orang yang bermuamalah
bilfadal. Bil muabil fadal. Dia berusaha
melakukan terbaik bagi orang yang dia
muamalahi. Sampai disebutkan beliau
pernah suruh budaknya untuk membeli
seekor kuda. Maka pergilah sang budak
beli seekor kuda dengan harga 300
dirham. Penjual kuda sepakat kata dia,
"Sepakat 300 dirham." Kata sang penjual,
"Raditu, saya rida 300 dirham." Maka
Jarir bin Abdillah naik kuda tersebut.
Ternyata kuda ini tidak pantas 300,
harus lebih mahal. Maka dia panggil
lagi, "Wahai fulan, ini kuda tidak
pantas 300 dirham, harus 500 dirham.
Rida, ridalah kasih tambah lagi 200."
Subhanallah. Kemudian dia naik lagi. Dia
bilang, "Tidak pantas 500 dirham." Kata
dia, "Fulan tidak pantas harus 800
dirham." Subhanallah. Jadi 300 jadi
berapa?
Lam siapa manusia yang seperti ini?
Tidak ada kecuali siapa? Jarir bin
Abdillah. Ini seperti dongeng kalau tapi
ini sahabat pernah hidup sahabat seperti
ini ketika dia bermuamalah bermuamalah
bilfadl. Apa yang terbaik bagi orang di
depan saya? Subhanallah ya. Tidak wajib.
Ini tidak wajib. Yang wajib bila adil.
Paham? Kalau gitu gimana cari
untung nombok mulu. Tapi ini ada ya dia
berusaha. Subhanallah. Ini pernah
terjadi dilakukan oleh seorang sahabat
namanya Jarir bin Abdillah Albajali
radhiallahu taala
anhu. Di antara bentuk almamalatu bil
fadal seperti yang disabdakan oleh Nabi
sallallahu alaihi wasallam
rahimallahu samhan id baa
wasamhan wasamhan qada wasam qada. Empat
perkara Rasulullah sebutkan dalam satu
hadis. Ini juga susah. Semoga Allah
merahmati orang yang murah hati ketika
menjual. Merahmati orang yang murah hati
ketika membeli. Semoga Allah merahmati
abdan seorang hamba yang murah hati
ketika dia membayar hutang dan orang
yang murah hati ketika dia menagih
hutang. Maksudnya bagaimana?
Maksudnya ketika dia
menjual saman idaba dia
menjual ada orang tawar misalnya ini
berapa R50.000 orang itu
bilang 120 ya okelah ambil dia
tidak apa namanya pelit ya bagi dia
sudah ada untung dia
lepasin sebagian penjual enggak enggak
Rp150.000 I 120 enggak, 130? Enggak, 140
enggak,
150, 149 pun enggak. 150 harus. Ada yang
begitu, ada yang kencang. Kalau apa
jualan Rasulullah tidak menganjurkan
demikian. Rasulullah menganjur, "Kalau
kau jualan kau sudah untung, orang tawar
dia rida kayaknya kau juga untung,
lepasin aja rezeki. Nanti berkah Allah
berkahi." Rahimullah. Susah tapi kalau
penjual dia
ngomongin kapan naik haji, Ustaz?
juga
repot jual barang
rahimallah atau abdan samhan ba jualan
mudah kalau untung dia dilepasin dia
tidak kita Rasulullah tidak suruh jual
rugi tidak tapi dia mudahlah sama-sama
untung dia okelah harga lepas sebagian
orang tidak gak saya enggak akan R1
rupiah pun enggak akan turun kau cari
tempat cari penjual
lain berikutnya rahimullah
seorang. Semoga Allah merapati seorang
kalau membeli dia dengan murah hati. Dia
kalau beli
Rp100.000 dia tawar misalnya dia tawar
Rp80.000 ya kata penjualnya enggak 90
okelah gak dia rida
mudah. Sebagian orang kalau nawar
[Tepuk tangan]
ngeri Rp100.000 R30.000
Ibu, saya kalau belanja sama orang
seperti ini, saya sampai takut duduk
samping dia karena nawarnya
ngeri. Sampai ada teman saya bilang,
"Hai, Firanda, diam kamu ya. Biar saya
yang tawar." Kau enggak tahu apa-apa.
Wuh, dia tawar ngeri. Kita aja duduk
situ enggak enak. Jadi, pura-pura enggak
tahu. Masa 1000 tawar
R30.000
gimana? Enggak usah gitu kali ya.
Kecuali kita memang di pasar penipu ya
bolehlah. Tapi kalau umum dia juga kan
jualan mau cari untung. Memang kau
merugikan dia? Buat apa dia jualan? Dia
jualan cari untung enggak? Ya selama itu
masuk akal, barang juga kau suka,
lepasin aja. Ngapain
susah-susah nanti Allah berkah. Yang
penting Allah berkahi. Nanti kalau
dikasih rezeki lagi Allah untuk beli
barang yang
lain. Bukan malah kita habisi.
Gak ada orang seperti itu dia beli
Rp100.000 R30.000 ya. Enggak. Enggak
Pak. Enggak. R0.000 mentoknya. Enggak.
R30.000 enggak Pak. R0.000 enggak
R30.000. Tapi dia enggak pergi-pergi
situ
terus. J ambil, ambil, ambil. Berapa?
Gratis. Ambil orang. Ya, akhirnya dia
pun jual. Terpaksa. Enggak boleh jual
beli. Enggak boleh karena terpaksa.
Harus apa? rida. Kalau enggak rida
enggak halal jual beli tersebut.
Terpaksa. Pak yaudah paksa paksa paksa
paksa
lepas. Enggak
boleh dalam muamalah tidak boleh apa
namanya tidak boleh tanpa keri keridaan.
Ini saya ingatkan hal ini. Sampai hadiah
pun kata Syekh Utsimin, tidak boleh
kecuali
rida. Kalau ada orang kasih antum karena
basa-basi jangan
ambil. Paham? Jangan. Oh, beruntung nih.
Alhamdulillah ini rezeki nomplok.
Padahal dia enggak enak kasih ente.
Misalnya dia bawa dua buku kasih kasih
dia mau kasih teman antum, terus antum
ada di situ, dia enggak enak. Aduh,
gimana? Ya udah antum juga antum jangan
terima. Karena antum tahu dia kasih
karena apa? Enggak enak. Enggak boleh
hadiah harus apa? Ri rida.
Kalau ada tetangga makan durian panggil
antum fulan durian diaat antum tahu
basa-basi ente jangan oh
iya ayo tunggu saya panggil ayo nak nak
sini nak sini tetangga kita lagi pesta
padahal ini cuma apa basa-basi Indonesia
kan banyak
basa-basi kecuali antum lewat terus
enggak enggak terus dia tarik tangan
antum ah serius
dia kata antum lewat
alhamdulillah ini antum baru eh oh iya
langsung datang wah
ini. Nah, ini hadiah pun tidak boleh
dengan tanpa
keridaan
ya. Ini paksa-paksa kasih dong punyamu,
kasih dong, kasih dong, kasih dong. A
dia ya. Jadi kita lihat s-sara jangan
sampai kita mendapatkan anugerah anu
gratis
ya dengan dengan apa terpaksa seorang.
Demikian juga jual jual beli ya. Kalau
kita maksa maksa maksa akhirnya dia
lepaskan karena tidak enak maka tidak
boleh. Jadi kalau kita membeli dengan
murah. Kalau kita merasa ini sudah oke,
harga oke, kita punya duit, lepasin aja.
Ah, berapa? Rp80.000. Enggak, Pak,
Rp90.000 ya udah kasih aja. Enggak ada
mas. Saya juga dia juga butuh dapat
untung. Jangan musim hujan ada orang
jualan es enggak laku-laku. Ah,
kesempatan
nih. Berapa, Mas? R.000. R.000. Ya,
gimana ya? Ya sudah, ambil ambil gitu
sumpah. Mentang-mentang musim hujan kita
malah minta korting 50%. Harusnya kita
beli aja kalau bikin nolong. Ya, jadi
intinya Rasulullah mengajarkan kita
murah hati bilfadl. Kita bisa saja tawar
tapi kita enggak mau tawar. Bahkan di
antara kata para ulama di antara sedekah
yang tidak diketahui oleh tangan kiri
adalah kita membeli tanpa menawar. Ya,
sehingga ya sudahlah kita tahu kita bisa
tawar. Kita tahu harga sana lebih murah
tapi enggak. Karena kita pengin tolong
dia, kita enggak tawar ya. Kita enggak
tawar. Atau mah saudara-saudara kita
yang miskin-miskin yang jualan-jualan
Senin Kamis ya, laku enggak laku ya
masih ditawar lagi. Kasihan anaknya
entah bayar sekolah belum tentu ada
uang, makan belum tentu ada uang, ya
enggak usah tawar, kasih aja. Sedekah
dengan tetap menjaga harga dirinya. Dan
itu di antara sedekah yang tangan kiri
tidak tahu apa yang dikeluarkan oleh
tangan tangan kanan. Kemudian kata Rasul
sahu alaihi wasallam, "Samhan
qada atau sam di antaranya saman qada
murah hati ketika menagih." Murah hati
ketika menagih yaitu seperti firman
Allah Subhanahu wa taala wainana
usratinatun
wairakum. Kata Allah, "Jika engkau
menagih seseorang dan dia lagi sulit,
benar-benar dia sulit artinya dia enggak
punya uang.
Maisar maka kasih tunda. Gak boleh kita
paksa. Lain halnya kalau dia punya aset
kita bilang, "Kau jual asetmu." Sudah
tahu dia enggak punya duit, kerjaan lagi
baru di PHK. Ya sudah kita enggak bisa
maksa. Dia enggak punya apa-apa. Bilang
nanti kalau kau mampu. Kata Allah
setelah itu wa anquir lakum. Kau
bersedekah lebih baik. Artinya apa?
Misalnya dia punya utang R1 juta, kita
sedekah setengah juta sudahlah kau punya
uang berapa? Cuma Rp500.000. Sudah bar.
R00.000-nya Ibunya saya maafin. Atau
kalau kita baik lagi daripada itu, sudah
enggak usah bayar. Udah, sudah enggak
usah pikir kau cari makanlah buat anak
istrimu. Semua utangmu saya
lunaskan. Ya paling tidak ketika kita
nagih, dia enggak bisa bayar, kita kasih
penundaan itu sudah dapat pahala. Dia
enggak bisa bayar, ya nanti gak apa-apa.
Bulan depan gak apa ya kita nasihat dia
kok berusaha berdoa. Bulan depan gak apa
dia enggak mampu lagi. Memang dia enggak
mampu. Kita lihat beda kalau dia penipu,
dia punya aset ya kita bisa maksa. Tapi
kalau dia memang benar-benar tidak
mampu, ya kita maafin. Ini namanya ramah
hati
ketika menagih. Bahkan dalam hadis
disebutnya ada seorang masuk surga
ketika dibangkitkan kemudian Allah suruh
malaikat periksa amal dia. Ditanya, "Kau
punya amal surga? Saya enggak punya.
Saya enggak punya." Kecuali ada satu
amalan saya. Saya dulu suruh anak buah
saya memberi pinjaman, terus saya suruh
tagih. Siapa yang tidak bisa membayar
ditunda, saya suruh tunda, siapa yang
tidak bisa bayar saya maafkan. Kata
Allah, "Kami lebih utama untuk
memaafkan." Akhirnya diampuni oleh Allah
Subhanahu wa taala. Gara-gara apa? Dia
menagih hutang, orang enggak bisa bayar,
dia tunda. Kalau enggak dia potong atau
dia lunasi. Ya, bayangkan kalau orang
punya hutang kita lunaskan
betapa apa namanya? Hatinya menjadi
lega, betapa bahagia ya. Betapa bahagia
luar biasa. Oleh karenanya seorang
mencari pahala dari sisi mana pun dari
sisi materi. Kalau dia punya cari pahala
dari sisi materi. Kemudian juga kata
Rasul sahu alaihi wasallam rahimahullah
samhan idza
qada. Semoga Allah merahmati seorang
hamba yang murah hati ketika membayar
hutang. Nah, dalam bayar hutang juga
seorang punya adab. Kalau dia punya
kemampuan sebelum jatuh tempoh hendaknya
dia bayar atau pas jatuh tempo dia
bayar. Ya, jangan sudah jatuh tempo
kemudian dia tunda-tunda. Ya, dia punya
hutang dia tidak bayar jot. Kenapa? Dia
olah dulu. Dia kelola dulu uangnya
supaya dapat untung lagi. Maka harusnya
dibayar bulan Januari, dia bayar bulan
Mei misalnya selama beberapa bulan
tersebut dia kelola uangnya dapat untung
lagi. Ini enggak boleh seperti ini.
Sudah jatuh tempo. Nah, kalau bisa antum
bayar sebelum jatuh
tempo. Kalau bisa bayar sebelum jatuh
tempo. Bahkan dalam hadis Nabi
sallallahu alaihi wasallam bayar lebih
daripada hutangnya.
Dan ini diperbolehkan dalam
syariat inulan taq Rasulullah sallallahu
alaihi
wasallamu bihi. Ada seorang lagi hutang
sama Nabi. Nabi punya hutang. Nabi punya
hutang. Mungkin Nabi lupa atau sibuk
tidak sempat bayar. Maka datanglah orang
tersebut kemudian nagih kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Faagl dia
agak keras terhadap Nabi sallallahu
alaihi wasallam ketika menagih
tersebut. Fahamma bihi ashabuh. Maka
sahabat Nabi ingin menyakiti orang ini
karena tidak sopan sama Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Tapi apa kata Nabi?
Dauhu fainnahibil haqqi maqalan. Biarkan
dia. Dia punya hak untuk berbicara. Dia
punya hak untuk menagih saya karena
memang saya punya hutang sama sama dia.
Rasulullah tidak marah. Rasul bilang dia
punya hak nagi sama saya. Kemudian kata
Rasul
wasallam, Rasulullah punya hutang unta
sama dia. Kata Rasulullah, carikan unta,
belikan unta, terus ganti hut
dia. Ya Rasulullah, kami tidak dapat
unta kecuali bagus daripada unta yang
dia utangkan kepadamu. Yaitu umurnya
lebih bagus daripada unta
utanganmu. Qaruhu fau iyah. Kata Rasul
sahu alaihi wasallam, beli saja gak
apa-apa meskipun untanya lebih bagus.
bayar hutang untanya. Kemudian Rasul
wasallam berkata, "Fahairakum ahsanukum
qada." Sebaik-baik kalian adalah orang
yang terbaik membayar hutang. Dalam
bayar apa? Hutang. Jadi, orang bayar
hutang juga kalau dia beradab dalam
bayar hutang, dia dapat pahala. Dia
bayar sebelum waktunya, dia bayar di
penghujung lebih misalnya, boleh-boleh
saja ya. Yang tidak boleh kalau ada
perjanjian nanti bayar lebih ya itu riba
ya. Tidak boleh ya. Tapi kalau lunas
kemudian dia tambah sesuatu tanpa ada
perjanjian, maka ini boleh-boleh saja
seb dilakukan oleh Nabi sallallahu
alaihi wasallam.
Ya.
Tib. Di antaranya bentuk ee almamalatu
bilfadl ini sangat sulit ya.
Dalam surah Fussilat ya
ayat
ke-34 kata Allah Subhanahu wa taala wala
tastawil hasanatu sayiah. Tidak sama
antara kebaikan dan keburukan. Idfa
billati hiya ahsan. Balaslah keburukan
dengan kebaikan. Balaslah keburukan
dengan apa? Kebaikan.
Kalau kau balas keburukan dengan
kebaikan, maka bisa jadi tadinya ada
permusuhan orang tersebut bisa menjadi
kawan baikmu. Kemudian kata
Allah, tidak ada yang bisa melakukan
sifat tersebut kecuali orang-orang yang
sabar. W
yulaqohaim. Dan tidak ada yang bisa
melakukannya kecuali orang yang
mendapatkan keuntungan yang besar.
Ini di antara almuamalatu bil fadlal
yang Allah sebutkan dalam beberapa ayat.
Di antaranya ayat ini, idfa billati hiya
ahsan. Balaslah keburukan dengan
kebaikan. Bukanlah
kehebatan adalah seorang balas kebaikan
dengan kebaikan, tapi suatu kehebatan
balas keburukan dengan kebaikan karena
Allah subhanahu wa taala. Ya, minimal
memaafkan. Minimal memaafkan. Memaafkan
adu hal yang sangat berat. Makanya
maafkan itu almamalatu bil fadl. Dia
bisa balas tapi dia enggak balas.
Ya, makanya tadi disebutkan di awal ayat
di awal pengajian kita Allah
berfirman balasan keburukan adalah
keburukan semisalnya. Ini almamalatu bil
kemudian Allah
sebutkan wa aslaha faajru alallah. Siapa
yang memaafkan dan melakukan perbaikan
maka pahalanya di sisi Allah subhanahu
wa taala. Almuamalatu bilfadl. Dia
maafkan. Dia orang zalim sama dia. Dia
maafkan. Allah sebutkan di antara ciri
penghuni surga
walinaas yang maafkan orang lain. Dan
ini ibadah yang berat ibadah maafkan.
Kenapa? Karena kita bisa baru bisa
mempraktikkannya ketika kita
dizalimi. Kalau kita enggak dizalimi,
kita enggak ada
maaf-memaafkan. Kapan kita memaafkan?
Ketika kita dizalimi. Sementara sifat
manusia kalau dizalimi ingin membalas.
Sifat manusia kalau dizalimi ingin
balas. Ternyata Allah suruh memaafkan.
Bahkan Allah mengatakan," faman afa wa
aslaha. Siapa yang maafkan lakukan
perbaikan faajruhu alallah maka
pahalanya urusan Allah. Ini di antara
metode Allah untuk menjelaskan
bahwasanya pahalanya sangat sangat besar
sangat besar memaafkan orang yang
berbuat zalim kepada kita. Maka latih
diri kita untuk memaafkan orang
menzalimi kita. Baik orang jauh maupun
orang
dekat. Bisa jadi kezaliman datang dari
orang sekitar kita. Bisa jadi kezaliman
dari
pasangan hidup kita. Bisa jadi, bisa
jadi kezaliman dari kerabat kita, bisa
jadi tetangga kita, bisa teman dekat
kita yang selama ini kita baikan,
ternyata dia menzalimi. Bisa jadi.
Maafkan. Itulah kehidupan dunia. Ini
kesempatan kita diampuni oleh Allah
Subhanahu wa taala. Ya Allah
mengatakan kata Allah, "Maafkanlah dan
berlapang dadalah kalian. Tidakkah
kalian suka jika diampuni oleh Allah
Subhanahu wa taala?" Siapa yang maafkan
dia akan dimaf? Dosa kita banyak,
Ikhwan. Dosa kita banyak. Maafkan istri
supaya kau dimaafkan Allah. Dengar
bapak-bapak apa?
Maafkan apa? Istri biar diampuni oleh
Allah. Istri maafin
suami. Kalau suami minta maaf, maafin
supaya diampuni oleh siapa? Allah
Subhanahu wa taala. Orang yang paling
utama kita ampuni, kita maaf orang dekat
kita, anak kita, istri kita, suami kita,
orang tua kita, kakak kita, adik kita.
Maafin, maafin. Ini almamalatu bilfadol.
Lebih daripada itu balas dengan
kebaikan.
Datang seorang kepada Nabi sallallahu
alaihi wasallam mengeluhkan tentang
kerabatnya. Dia berkata, "Ya
Rasulullah,
inabatan." Ya, sesungguhnya Rasulullah,
saya punya kerabat-kerabat asilumani
saya sambung kekerabatan dengan mereka.
Sambung silaturahmi mereka
mutusin wainu ilaihimusi aku berbuat
baik kepada mereka. Mereka berbuat buruk
kepadaku. Ini bayang mereka buat buruk,
dia buat baik.
Ya.
Kemudian aku bersabar dengan mereka.
Mereka berbuat kebodohan kepadaku. Dia
bagaimana
wasall kalau benar kau ucapkan demikian,
maka saya katakan kau masukkan ya apa
debu yang panas di mulut mereka dan
senantiasa ada penolong Allah kirim
untuk engkau selama kau demikian. Jadi
Allah kirimkan malaikat menolong seorang
yang berusaha membalas keburukan dengan
apa? Kebaikan. Dibantu oleh Allah
Subhanahu wa taala. Ini orang hebat
pahalanya besar. Makanya Allah
mengatakan wama yulaqoha illalladina
shaaru. Tidak ada yang bisa melakukan
ini. Membalas keburukan dengan kebaikan
kecuali orang yang super sabar. W
yulaqoha illinim. Tidak ada yang bisa
melakukannya kecuali yang mendapatkan
pahala yang ganjaran yang besar. Tidak
mudah.
Oleh karenanya kalau kita sadar
bahwasanya dunia ini hanyalah hidup
sementara dan dinamika kehidupan dunia
pasti begitu. Kita disakiti orang, kita
dizalimi orang tidak ada nyaman dalam
kehidupan dunia ini. Ya, ada kesedihan
setelah itu ada kesenangan. Setelah
kesenangan pasti ada apa? Kesedihan ya.
Ada tawa, ada tangisan ya. Tidak ada ya
sudah kalau ada orang buat salah sama
kita, maafin. Maafin aja. Maafin. Kita
ingin diampuni oleh Allah Subhan dosa
kita banyak. dosa kita banyak. Ini
ikhwan contoh almamalatu bilfadal. Maka
seorang berusaha bermuamalah yang
terbaik bagi orang di sekitarnya. Bagi
istrinya istrinya kurang baik dia
baikin. Anaknya kurang baik dia baikin.
Tetangganya kurang baik dia baikin.
Kakak adiknya kurang baik dia baikin.
Karena Allah subhanahu wa
taala. Allah berfirman tentang Abu Bakar
Assiddiq ya.
Maka neraka tersebut akan dijauhkan dari
orang yang bertakwa. Ini tentang Abu
Bakar. Siapa Abu Bakar? Akan dijauhkan
dari neraka jahanam. Siapa dia? Alladzi
yalahuazakka yang dia menginfakkan
hartanya untuk mensucikan jiwanya. Abu
Bakar menginfakkan hartanya bukan untuk
supaya punya punya jasa sama orang lain.
Bukan supaya dihormati oleh orang, tapi
dia membersihkan dirinya. Membersihkan
dirinya karena dia mencari keran Allah.
Wahmatin tujiz dia melakukan kebaikan
tersebut bukan karena dia punya hutang
jasa sama orang. Wajib alam. Dia
melakukan itu semua karena mengharap
wajah Allah. Wufaard. Dia akan rida. Dia
akan masuk surga. Ketika Abu Bakar
merdekakan budak-budak yang lemah, ada
Bilal, ada Amir bin Fuhairah.
Budak-budak lemah datang ayahnya masih
kafir ketika itu, Abu Quhafah. Dia
mengatakan, "Wahai
anakku, bapaknya masih." Bapaknya baru
masuk Islam ketika Fatu Makkah ini.
Padahal sebelum hijrah. Jadi bapaknya
masih kafir. Bapaknya nasihati Abu
Bakar. "Wahai Abu Bakar, kalau kau
merdekakan budak, cari budak-budak yang
kuat. Jangan budak-budak yang lemah.
Kalau kau merdekakan budak-budak yang
kuat, nanti mereka sudah merdeka, mereka
akan kuat menjadi penolongmu, pembelamu
di kemudian hari. Kata Abu Bakar
Assiddiq, innama artu ma aru, saya
melakukan salat itu karena ada suatu
yang saya inginkan. Allah sebutkan
keinginan Abu
Bakar wajhibbil ala. Dia hanya mencari
wajah Allah Subhanahu wa taala. Ya. Jadi
ketika kita bil fadlal, kita mencari
wajah Allah Subhanahu wa taala. Bukan
untuk disanjung, bukan untuk
dipuji, bukan pencitraan. Enggak. Memang
kita mencari wajah Allah, kita banyak
dosa. Kita ingin dapat pahala
sebanyak-banyaknya. Mah. Nah, maka dalam
kehidupan ini kita harus berpikir
otak. Saya di rumah ada istri, ada anak,
ada keluarga, ada kakak adik. Apa yang
saya bisa lakukan yang terbaik?
Muamalatu bil fadal dengan mereka. Saya
punya uang, gunakan uang tersebut. Saya
punya ilmu, gunakan ilmu tersebut. Saya
punya kekuasaan, gunakan kekuasan
tersebut untuk berbuat baik kepada orang
sekitar. Kita pikir ini sama orang, sama
pembantu. Pembantu kira-kira terbaik apa
ini? Saya bisa lakukan sama
dia meskipun dia tidak kita tidak punya
hutang budi sama dia. Meskipun dia tidak
punya jasama kita. Itulah almamalatu bil
fadl. Intinya melakukan kebaikan kepada
orang yang tidak pernah berbuat baik
kepada kita atau membalas kebaikan lebih
banyak daripada orang yang berbuat baik
kepada kepada kita. Itu namanya
almamalatu bilfadal bab tib. Demikian
saja yang bisa saya sampaikan. Wallahu
taala alam bisawab. Kalau ada yang
bertanya saya persilakan.