Transcript
dG3jP5P6M-Q • Interaksi Teladan - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2413_dG3jP5P6M-Q.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqihi wattinanih. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarika lahu takiman lynih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluhu daila ridwan. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin dan hadirat, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang tiga model bermuamalah kepada orang lain, yaitu bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Ada tiga model secara umum. Yang pertama namanya almuamalatu bil fadl. Yang kedua almuamalatu bil adil. Yang ketiga, almuamalatu bidzulm. Yang pertama, almuamalatu bilfadl. Yaitu bermuamalah dengan yang terbaik, yang mulia, yang utama. Yang kedua adalah almamalatu bil adil, bermuamalah dengan secara adil. Ee yang ketiga, almamalatu bidzulm, yaitu menzalimi orang lain. Tiga model ini diisyaratkan oleh Allah dalam surat Asyura ayat 40. Kata Allah Subhanahu wa taala, wazu sayiatin sayiatun mluha. Faman afa wa aslaha faajruhu alallah innahu la yuhibbudzalimin. Kata Allah subhanahu wa taala, balasan keburukan adalah dengan keburukan semisalnya. Ini namanya almamalatu bil adil. Seorang berbuat buruk kepada kita, kita boleh balas semisalnya. Boleh adil. Kemudian yang kedua, waman afa wa aslaha faajru alallah. Siapa yang maafkan dan berbuat perbaikan, maka pahalanya di sisi Allah. Ini adalah almamalatu bil fadl. Dia tidak balas tetapi dia melakukan yang utama yaitu dia malah memaafkan. Maka ini pahalanya di sisi Allah subhanahu wa taala. Yang ketiga, Allah mengatakan innahu la yuhibbudzalimin. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berbuat zalim. Ini model yang yang ketiga. Yang ketiga baik. Ee ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Ee kita akan membahas panjang lebar tentang almuamalatu ee bilfadl ya ee dengan berbagai macam contoh-contohnya insyaallahu taala ya. Tetapi ee saya akan membawakan satu ayat ya sebagai contoh sebelum kita membahas secara panjang lebar tentang almamalatu bilfadl itu dalam surat Albaqarah Allah berfirman, "Wain thqumun hununna minqobli anamuhunna." Eh, Allah berfirman dalam surat Albaqarah 237. Kata Allah subhanahu wa taala, waqunna minqamun waqahun faridum yazi biyadi uqdat nikah wafu aqwa wuladinakum inallaha bimaaluna bir bimaaluna bir surat albaqarah ayat 237 saya terjemahkan dulu maknanya nya eh waquumun maknanya jika kalian menceraikan istri-istri kalian minqobasuhun sebelum kalian menggauli mereka waq farum lahunna farid sementara kalian sudah menentukan nominal mahar maka apa kewajibannya fisfu ma farum maka kalian harus tetap membayar mahar tapi setengah ya illa ayfuna kecuali para istri memaafkan yafuadzi biyadi nikah atau sang suami memaafkanwa siapa yang memaafkan lebih dekat kepada ketakwaan wul fadla bainakum maka janganlah kalian meninggalkan sikap bermuamalah bilfadl di antara kalian inilah landasan ada nama istilah almamalatu bilfadal ayat ini. Ayat ini kisahnya begini. Ada seorang lelaki menikah dengan seorang wanita tetapi belum digauli. Ketika akad nikah disebutlah mahar. Taruhlah mahar misalnya R juta. Mahar R juta. Kemudian dia akad nikah dengan tersebut. Sahlah wanita tersebut menjadi istrinya. Namun mereka belum hidup serumah, belum saling berhubungan, belum ee sehidup ee apa? Belum ada hubungan intim antara mereka berdua. Kemudian ternyata sang lelaki menceraikan istrinya tadi ya. Dan ini mungkin terjadi kalau di di Arab Saudi masih sekar sampai sekarang masih ada tradisi seperti itu. Jadi antara AKD dengan malam pertama masih ada jeda ya. Di sana masih demikian. Jadi akad dulu nanti tinggal serumah entah berapa bulan kemudian sampai sekarang masih ada seperti itu. Kalau Indonesia tidak ya. Indonesia biasanya akad langsung malam pertama. Kalau enggak akad langsung sore pertama. Kalau mungkin siang pertama tergantung sikon, situasi dan apa kondisi. Tapi kalau di Arab ada antara akad dengan tinggal bareng itu ada jedan. Ini dicontohkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi menikah dengan Aisyah ketika Aisyah berusia 6 tahun ketika masih di Makkah. Baru Nabi tinggal serumah dengannya. Ketika Aisyah sudah usia cukup 9 tahun, baru kemudian tinggal serumah dengannya. Bana biha. Tinggal bareng ketika di Madinah. Jadi ada jarak bahkan 3 tahun. Nah, ketika terjadi pernikahan kemudian sudah disebutkan nominal mahar ternyata dicerai belum diapa-apain, belum disentuh, belum berduaan, belum berkhalwat, terjadi qadarallah cerai. Nah, apa yang wajib dilakukan oleh sang lelaki? Sang lelaki tetap harus bayar mahar tapi setengah. Waqad farum lahunna farid fisfu ma farum. Maka kalian wajib membayar setengah mahar. R juta jadi berapa? R juta. Jadi berapa? 100. Jadi berapa sekolahnya? Benar. Berarti sekolah pagi bukan sekolah sore. Tiib. Jadi berapa? 50 R 50 juta. Ee kenapa? Karena wanita ini sudah dia nikahi. Ketika dia sudah menikahi, tidak ada boleh laki-laki lain untuk melamar wanita tersebut. Ya, ada sisi merugikan sang wanita. Dia sudah tinggal, sudah jadi istri sah. Kemudian akhirnya diceraikan. Jadi, ada sisi sedikit kerugian. Maka Allah mewajibkan bayar setengah mahar. Tapi Allah berkata, "Illa ayfuna." Kecuali wanita tersebut memaafkan dengan mengatakan, "Ya sudah, enggak usah bayar apa-apa. Wong saya juga belum diapa-apain. Belum sempat berduaan, belum sempat berkhalwat, belum disentuh, belum dicium, belum diapa-apain. Udahlah gratis, enggak usah bayar." Allah mengatakan illa ayfuna. Kecuali sang para wanita atau sang wanita memaafkan. A yafuadzi biyadii uqdatun nikah. Atau sebaliknya. Sang lelaki berkata, "Gak, saya bayar total. Saya enggak bayar separuh. Saya bayar Rp100 juta. Saya sudah merugikan dia. Saya sudah boking dia. Enggak bisa diapa-apain. Enggak dilamar oleh orang. Ternyata saya ceraikan. Saya enggak bayar setengah. Saya bayar apa? Total 100 juta. Jadi Allah memotivasi di antara keduanya. Setelah itu Allah berkata, wa anqraqwa. Siapa yang memaafkan lebih dekat kepada ketakwaan. Yaitu Allah motivasi keduanya. Apakah sang wanita yang memaafkan atau lelaki yang bayar secara 100%. Setelah itu Allah berfirman, "Waul fadla bainakum." Janganlah kalian meninggalkan nisian di sini maknanya tark. Janganlah kalian meninggalkan sikap bermuamalah bilfadl di antara kalian. Dalam buku terjemahan, sebagian terjemahan ditafsirkan, "Jangan kalian melupakan." Ini tafsir yang keliru. Tafsir yang yang keliru. Karena rata-rata kitab tafsir menafsirkan bukan melupakan kebaikan. Karena sebagian orang menafsirkan ini mereka mengatakan kalau terjadi perceraian jangan lupakan kebaikan-kebaikan masa lalu. Sebagian orang menafsirkan ayat ini dengan mengatakan kalau kalian menceraikan istri atau istri bisa jadi suami maka jangan lupakan kebaikan-kebaikan masa lalu yang pernah kalian jalani. Dan ini penafsiran tidak tepat. Kenapa? Karena mereka memang belum tinggal bareng. Mereka belum tinggal apa barang. Mereka belum tinggal barang. Mereka belum berumah tangga. Baru cuma akad akad nikah. Tentunya yang dimaksud dengan ayat ini adalah wala fad bainakum. Janganlah kalian meninggalkan muamalah bilfadl di antara kalian. Innallah bima tamaluna basir. Sesungguhnya Allah maha melihat apa yang kalian lakukan. Kenapa Allah mengatakan wadinakum? Apa yang dimaksud dengan muamalah bilfadl? Muamal bilfadl itu seorang melakukan kebaikan meskipun yang dibaikin tadi tidak pernah berbuat baik kepada dia. Tidak pernah berbuat baik kepada dia. Kisah dua orang ini lelaki dan wanita ini menikah mereka baru akadah. Tidak ada interaksi di antara mereka sebelumnya. Tidak pernah wanita melayani sang lelaki dan tidak pernah sang lelaki memberi kebaikan wanita. Cuma akad nikah saja. Meskipun belum ada kebaikan sebelumnya dari sang wanita atau sang lelaki, tapi Allah menyuruh untuk berbuat baik. kepada ee pasangan. Jadi maksudnya almamal fadal yaitu seorang melakukan kebaikan lebih kepada orang lain ya lebih kepada orang lain. Bahkan orang tersebut yang dia baikin tadi mungkin belum pernah berbuat baik kepada kepada dia. Itu namanya almamalatu bilfadl. Secara sederhana nanti akan kita sebutkan contoh-contohnya lebih detail. Tib kita berpindah kepada muamalah yang kedua. Apa? Almuamalatu bil adil. Bermuamalah dengan adil. Maka ee artinya kita melakukan yang setara dalam sisi kebaikan maupun keburukan ini dibolehkan dan bahkan ini ee apa namanya? Kalau kebaikan hukumnya wajib. Ya Allah sebutkan misalnya dalam Al-Qur'an tadi disebutkan wazau sayiatin sayiatun mluha. Balasan keburukan adalah keburukan yang semisalnya. Kalau orang berbuat buruk kepada kita, kita boleh balas. Namun harus setimpal, tidak boleh lebih. Itu namanya kita bermuamalah dengan apa? Keadilan. Kata Allah, "Siapa yang berbuat pelanggaran kepada kalian, maka balaslah sesuai dengan kadar pelanggaran tersebut." Tidak jadi masalah. Tidak jadi masalah. Allah mengatakan waqtum faqli maumih. Kalau kalian membalas maka balas sesuai dengan kezaliman yang kalian rasakan. Meskipun setelah itu Allah mengatakan kalau kalian bersabar lebih baikirin lebih baik bagi orang yang bersabar. Tapi kita membalas dengan setimpal itu hukumnya boleh. Dan ini Allah melihat sifat manusia. Tidak semua manusia bisa bersabar. Maka kalau dia balas, dia boleh balas dengan setimpal. Dia boleh balas dengan setimpal. Misalnya ada seorang mengatakan kepada misalnya si A bilang kepada si B, "Anjing kamu. Kamu juga anjing." Enggak ada masalah. Sama-sama apa? Anjing. Enggak ada masalah. I monyet kamu ya. Kamu juga monyet boleh. Si B ketika membalas monyet, dia berdosa tidak. Dia membalas dengan apa? Keadilan enggak ada masalah. Yang penting apa? Setimpal. Yang jadi masalah kalau dia tambahin ya monyet geblek. Ah itu kamu monyet. Kamu monyet goblok. Ah ini ada tambahan goblok. Ini masalah karena tidak seti setimpal anjing kamu ya kamu anjing rabies. Ah ada tambahan rabias ini tidak se tidak setimbal. Tapi kalau sama-sama anjing enggak ada masalah. Ini Rasulull sahu alaihi wasallam sebutkan dalam hadisnya. [Musik] Almustabbani ma qala faal badii malam yatadil mazlum. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, kalau dua orang saling caci maki, almustabbani maqala faal badi. Kalau dua orang saling caci maki, semua perkataan yang muncul cacian dari keduanya, dosanya kembali kepada yang pertama karena dia yang memulai. Malam yatadil mazlum. Selama orang yang kedua tidak melampaui batas. Ya, kalau si satu bilang anjing, anjing juga monyet, monyet. Tikus, tikus apa namanya? Ee terong, terong semua sebutin semua. Semuanya lari ke mana? Ke yang pertama. Selama yang kedua tidak melampaui batas. Kapan yang kedua melampaui batas? Maka dia tanggung dosanya. Maka dia tanggung dosanya. Ini namanya almamalatu bil adl. Makanya datang dalam satu riwayat, seorang sahabat menangis karena dia takut melampaui batas ketika melanggar. Saya bacakan hadisnya dalam ee riwayat Tirmidzi ya. Demikian dalam madabul mufrad yang lainnya dari Aisyah radhiallahu anha beliau berkata, "Ana rajulan qada baina yada rasulullah sallallahu alaihi wasallam." Ada seorang duduk di depan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Faqala ya Rasulullah. Kemudian dia berkata, dia cerita tentang dia dan ee perlakuan budak-budaknya. Ya Rasulullah, wahai Rasulullah, inna li mamlukin yukadzibunani. Saya punya budak-budak ya Rasulullah dan mereka membohongiku. Waakununani. Dan mereka berkhianat kepadaku. Kita tahu zaman dulu ada budak budak itu diperjual belikan, dipekerjakan tanpa digaji karena hak milik dia beli dan dia jual. Ini di zaman dahulu. sekarang sudah tidak ada perbudakan. Maka dia cerita, "Saya punya budak-budak ya Rasulullah. Mereka bohong sama saya. Mereka berkhianat kepadaku. Wasunani dan mereka membangkang kepadaku. Tapi saya balas ya Rasulullah. Wa asumuhum saya maki mereka. Wauhum saya pukul mereka." Jadi ini majikan balas dengan makian dan apa? Pukulan. Fakaifa ana minhum. Bagaimana saya dibandingkan mereka ya Rasulullah? Maka Rasul sahu al wasallam berkata, "Yuhsabu wa asuka wadzabuka waqobuka iyahum." Akan dihisab masing-masing. Allah akan hisab kesalahan mereka. Mereka salah kepadamu ada tiga hal. Mereka bohongin kamu, mereka khianat, mereka membangkang. Ini dosa enggak? Dosa? Artinya para budak menzalimi majikan. Tetapi ingat juga kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Wa iqobuka iyahum." Kau juga menghukum mereka juga ada hisabnya. yaitu kau caci mereka dan kau pukul apa mereka iqobuka biqriunubihim kafafan. Kalau ternyata hukumanmu kepada mereka yaitu makianmu dan pukulanmu, ternyata sesuai dengan kadar kesalahan mereka maka impas. Ya, sesuai dengan kadar dosa-dosa mereka maka impas. Kana kafafan la alaik. Ya, tidak kau dapat untung, kau tidak dapat untung dan juga tidak ada keburukan menimpamu. Impas. Akan tetapi wainana iqobukaumunubihim. Tetapi kalau ternyata hukumanmu lebih sedikit daripada dosa-dosa mereka, kana fadlan laka, maka kau dapat untung. Karena ternyata balasanmu di bawah daripada kezaliman yang mereka apa lakukan. Ya. Tetapi kalau sebaliknya kalau ternyata hukumanmu kepada budak-budakmu lebih berat daripada dosa yang mereka lakukan, maka kau akan dikisos. Kau akan [Musik] dikisos. Jadi yang yang mulai salah siapa? Budak-budak atau majikan? Budak-budak salah. Dusnya tiga model bohongin. Bayangkan budak-budak bohongin majikan. Menjengkelkan, berkhianat kemudian membangkang. Tapi ketika sang majikan membalas dengan makian dan pukulan ternyata lebih berat, maka repot. Maka sang majikan yang sekarang statusnya berubah jadi orang yang zalim. Maka sang majikan yang di dikisas. Apa kata Aisyah radhiallahu taala anha? Fatanaharjulu atau sang rai berkata, "Fatanaharjulu faja'ala yabki wahtif." Maka dia pun minggir sedikit kemudian dia menangis. Dia menangis. Faqala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dia berkata, "Wahai Rasulullah." E, maka rasul sahu wasam berkata kepada diaq rasulah wasamq kitaballah, "Tidakkah kau baca firman Allah?" Tidakkah kau baca firman Allah pada hari kiamat kelak Allah akan menegakkan timbangan yang detail dan adil. Maka tidak seorang jiwa pun yang akan dizalimi. Yaitu perbuatanmu akan ditimbang dan dosa-dosa mereka juga akan di ditimbang. Ya. Faqala rajul. Maka lelaki tersebut berkata, "Wallahi ya Rasulullah ma ajiduli walahumaian khairan minufqatihim." Aku tidak mendapati yang terbaik untukku dan untuk mereka kecuali aku berpisah dari mereka. Usiduka annahum aunuhum. Aku persesahan engkau wahai Rasulullah. Budak-budakku semuanya merdeka. Semuanya merdeka. Maksud saya ini orang ya dia takut tidak bisa bermuamalah dengan bil adil. Kalau tidak bisa bermuamalah dengan adil maka jatuh kepada kez kezaliman. Makanya Allah berfirman tadi di awal ayat yang kita baca surat Asyurainatun. Balasan keburukan adalah keburukan semisalnya. Tetapi kalau berlebihan innahu la yuhibalimin. Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang yang zalim. Maka kalau kita ada orang berbuat zalim kepada kita, maka dibolehkan bagi kita untuk membalas dengan setimpal. Dalilnya jelas tadi tiga ayat tersebut. Siapa yang membuat pelanggaran kepada kalian lawan balas sesuai dengan pelanggaran mereka balasan keburukan-keburukan yang semisalnya. Kalau kalian balas sesuai dengan kezaliman yang dilakukan kepada boleh. Tapi kata Ibnu Taimiyah rahimahullah, siapa yang bisa jamin dia balas dengan setimpal? Siapa yang bisa jamin dia bisa balas dengan apa? Setimpal. Lihatlah bagaimana sahabat ini ketakutan ketika dia khawatir makian dia dan pukulan dia kepada budak-budaknya bisa jadi berlebihan daripada kesalahan mereka. Maka dia lebih baik pisah daripada nanti saya tidak bisa membalas dengan apa? Dengan setimpal. Oleh karenanya seorang waspada ya kalau kita dizalimi kita boleh balas setimpal dan kita tidak dosa sama sekali. Semua dosa kembali kepada dia karena dia yang mulai. Tetapi bisakah kita menjaga, mengkontrol mengontrol bahwasanya balasan kita selalu setimpal? Ini yang susah. Sebagian orang mengatakan, "Saya ini baik, tapi kalau kau macam-macam sama saya, saya balas doble." Ini repot. Ini repot seperti ini. Enggak boleh. Kalau kau balas harus timpel, enggak boleh dobble. Kalau kau dobel, kau yang berdosa. Statusmu tadi adalah terzalimi. Ketika kau membalas dengan lebih, maka statusmu menjadi menzalimi. Ini yang repot. Maka berpindahlah engkau dari model muamalah yang kedua menjadi model muamalah yang yang ketiga. Makanya ketika seorang masuk dalam areal apa? Dalam ranah perdebatan tidak mudah debat. Kemudian dia emosi, dia mulai caci maki. Padahal mungkin asalnya dia yang benar, lawannya yang salah, tapi ternyata dia terbawa emosi. Bukan lagi karena Allah, dia tinggalkan adab dalam berdiskusi, adab dalam berdialog, adab dalam berdebat. Akhirnya dia yang zalim. Akhirnya, akhirnya dia cari-cari kesalahan lawan debatnya. Dia ungkap semuanya. Akhirnya terjerumus dalam berbagai macam dosa-dosa. Tajassus, tahasus dan macam-macam. Praduga, suuzon dan macam-macam. Maka tidak semua orang bisa masuk dalam ranah tersebut. Tidak mudah ya. Tapi kalau dia bisa mengontrol dirinya untuk membalas dengan setimpal, maka tidak jadi masalah. Tidak jadi masalah. Tiib. Almuamalatu bil adal. Balasan dengan setimpal ini bukan pada perkara-perkara buruk saja. Dalam perkara kebaikan pula kita berusaha membalas dengan setimpal sebisa mungkin. Makanya Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan dalam hadisnya, "Faman shona ilaikum ma'rufan fakafiuhu faillam tajidu ma tukafunahu fad'u lahu kama qala Nabi sallallahu alaihi wasallam." Kata rasul sahu alaihi wasallam, "Siapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah dengan setimpal." Orang kasih kita kue harganya Rp100.000, kasih juga kue Rp100.000. Harusnya demikian. Kalau kita mampu ya, ada orang ee kasih kita sesuatu nilainya misalnya sejuta, kita berusaha kasih juga nilai apa? Sejuta. Maka rasul mengatakan tahadu tahabu. Saling beri hadiah, maka kalian saling mencin mencintai. Jangan cuma tunggu hadiah mulu ya. Kalau mampu kalau mampu kita berusaha membalas. Beda. Kalau tidak mampu ya. Rasulullah mengatakan, "Fakfiuhu." Fakafiu itu bahasa Arabnya artinya, "Balaslah dengan setim setimpal. Balaslah dengan setimpal." Saya lihat Syekh Abdur Razq hafidahullahu taala selalu berusaha demikian. Kalau ada yang kasih dia langsung balas, ada yang kasih sesuatu dia langsung apa? balas. Kemarin saya lagi buka puasa sama beliau, ada yang kasih kurma dari Jazair. Kata dia, "Syekh ini kurma dari Jazair. Saya langsung kasih dia yang lain lagi. Kau juga ini berusaha untuk membalas yang apa?" Setimpal. Karena kalau kita berusaha belas setimpal, kita tidak banyak utang budi sama orangor lain. Kalau kita tidak banyak utang budi sama orang lain, kita semakin kuat tawakal kita kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, kalau kita sudah hutang budi, kita tunduk ya ada pekai enggak enak ya. Maka seorang berusaha membalas dengan dengan setimpal sebisa mungkin. Kalau tidak faduahu, maka sering doakan orang tersebut. Doakan, doakan, doakan. Karena tidak semua orang berbuat baik dengan kita, dia butuh balasan secara materi. Enggak ada raja misalnya kasih kita kuat uang R juta, kita balas R juta. Raja enggak butuh R juta, dia butuh kita doain apa dia? Ada konglomerat kasih kita sesuatuak kita kita enggak perlu balas dengan materi. Dia tidak butuh materi. Yang dia butuh mungkin kebaikan dalam bentuk yang lain. Tapi seorang berusaha membalas kebaikannya dengan mungkin non materi. Di antaranya dengan berdoa. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, fadulahu. Doakan. Doakan. Dia lebih butuh doa daripada materi ya. Tapi Rasulullah sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kita untuk balas dengan apa? Setimpal. Apa kata Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala? Eh eh ahsin ila manta takun amirahu wastagni amanta takun nadiru. Ihtaj manta takun. Eh apa kata Ibnu Taimiyah? Berbuat baiklah kepada orang lain. Ya, takun asirahu. Kata Ibnu Timyah rahimahullah taala, ahsin takun amirhu. Berbuat baiklah kepada siapapun yang kau sukai, kau akan jadi amirnya. Itu dia akan dia enak sama engkau. Kau akan menundukkan dia. Seb perkataan seorang penyair, [Musik] ahsinasiu. Berbuat baiklah kepada orang lain, kau akan menundukkan hatinya. Betapa kuat perbuatan baik menundukkan hati seseorang. Kalau kita berbaik sama orang, orang itu lama-lama engg iya. Terus dia enggak berani bilang enggak karena kita berbuat baik selalu kepada kepada dia. Yang kedua, istagni aman takunahu. Tidak butuhlah kepada seorang maka kau akan seimbang dengan dia. Ada orang kaya punya teman orang miskin, tapi orang miskin tersebut tidak pernah butuh kepada orang kaya. Orang kaya juga enggak mentang-mentang sama dia. Orang miskin pun bisa angkat tetap angkat dadanya. Kenapa? Saya tidak butuh sama kamu kok. Saya bisa hidup sendiri tanpa kamu. Tapi kalau begitu dikasih-kasih terus lama-lama apa? Nunduk. Wahtaj takun asiru. Butuhlah kepada orang lain. Maka kau akan menjadi tawanannya. Akan menjadi tawanan. Ini perkataan Ibnu Taimiyah nukil dan juga perkataan para orang-orang Arab. Maka ketika seorang tidak punya utang budi sama orang lain itu lebih baik sebisa mungkin. Kalau dia tidak bisa balas kebaikan yang orang lakukan kepada dia, harus sering doakan orang tersebut sehingga dia merasa bahwasanya dia telah membalas kebaikan materi orang tersebut dengan balasan non materi berupa doa yang mungkin terkadang lebih afdal daripada materi tersebut. Tapi dia harus sering doakan sampai dia merasa sudah cukup. Ya, makanya minimal kita berkata jazakallahu khairan. Jazakallahu khairan. Ya, kita doain ketika sujud, ketika bersendirian, doain orang berbuat baik, punya hutang yang punya jasa dalam kehidupan kita berupa materi atau yang lainnya yang kita rasa kita tidak bisa membalas jasanya. Oleh karenanya ee oleh karenanya seorang berusaha harus sering mendoakan kedua orang tuanya karena dia tidak akan pernah bisa membalas jasa kedua orang tuanya. Enggak akan bisa. Kalau selain orang tua kita doa secukupnya kata Nabi, "Sampai kau merasa cukup." Tapi kalau orang tua enggak ada rasa secukup karena kita tidak bakalan bisa balas jasa kedua orang tua. Kata Nabi, "Kau hanya bisa balas jasa kedua orang tuamu. Kalau kau dapat orang tuamu dalam kondisi budak, kemudian kau beli, komu merdekakan." Tapi enggak akan kita dapati kondisi tersebut. Orang tua kita merdeka. Mereka bukan budak. Kata Nabi, "Kau hanya bisa balas jasa orang tuamu. Kalau kau dapati orang tua budak, kemudian kau beli, kemudian kau merdekakan." Oleh karena kita doain orang tua itu ee ciri orang saleh, ciri anak saleh sering mendoakan apa? Orang tua. Karena orang doa tersebut tidak akan pernah cukup karena kita tidak bakalan bisa membalas jasa kedua orang tua. Bab. Jadi dalam hal kebaikan pun kita berusaha balas dengan apa? Setimbal ya. Balas dengan setimpal. ini mengajarkan kepada kita tidak melupakan jasa orang lain. Makanya di antara hal yang menarik ee Azzahabi rahimahullah dalam kitabnya Alkabair menyebutkan di antara dosa besar lupa dengan kebaikan orang. Lupa dengan apa? Kebaikan orang, ingkar dengan kebaikan orang. Seorang kalau tahu orang lain telah berbuat baik kepada dia harus ingat, dia harus mengenang. Dia tahu dia harus wafa, dia wafi. Yaitu dia tahu ini orang punya jasad. Maka dia berusaha membalas kebaikan tersebut. Nabi sallallahu alaihi wasallam saja tidak lupa dengan kebaikan orang-orang kafir yang pernah berbuat baik kepada dia. Maka rasul sahu wasallam pernah berkata, "Lu kana mutim bin Adi hayyan." Ya, seandainya Mutim bin Adi masih hidup ya laqtahu haulana. Saya akan memerdekakan semua tawanan perang Badar untuk dia. Kalau dia bilang Muhammad merdekakan semua tawanan perang Badar saya akan merdekakan. Cuma Mut bin Adi sudah meninggal dunia. Padahal Muti bin Adi meninggal mengisi kafir. Ya, mau saya ee Rasul Sallahu Alaihi Wasallam dalam ada saya kajian khusus tentang sifat wafa. Bagaimana Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak lupa dengan kebaikan orang lain. Bahkan kebaikan orang-orang kafir yang pernah berbuat baik kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nah, kalau ada orang berbuat baik dengan kita, kita jangan sok tidak jangan sok tetap di atas sehingga kita merasa ah dia punya jasama kita. Harus kita ingat. Paling tidak kita berusaha bala setimbal. Kalau tidak kita doakan. Doakan. Ini namanya almamalatu bil adal. Yang ketiga tentunya sudah kita singgung yaitu al muamalatu bidzulm. Menzalimi orang lain. Waspada. Ini dosa yang sangat berbahaya. Sebagaimana diriwayatkan dari Sufyan beliau berkata, ahqin wahidinaka. Engkau bertemu dengan Allah dengan 70 dosa antara engkau dengan Allah masih lebih ringan daripada kau bertemu dengan Allah dengan berbuat zalim. Satu dosa tapi zalim. Engkau menzalimi hamba Allah Subhanahu wa taala. Kenapa? Karena hukum asal Allah Subhanahu wa taala maha pengampun. Ini hukum asal kita punya dosa sama Allah. Hukum asal Allah maha pengampun gfurur rahim ya inahmati sabaqi dalam hadis sesungguhnya rahmat Allah mendahului kemurkaan Allah subhanahu wa taala tetapi hukum asal manusia maafkan atau nuntut nuntut ya akhi hukum asal kalau kita punya salah sama orang di akhirat dia nuntut karena dia tahu kalau dia berhasil nuntut ini lumayan untuk kalau dia masuk neraka paling tidak mengurangi dia di neraka atau menyelamatkan dia di neraka kalau dia masuk surga agar surga semakin apa? Tinggi. Maka hukum asal orang menuntut bahkan seorang nuntut ibunya, nuntut ayahnya, nuntut keluarganya, dia nuntut. Dia nuntut. Makanya di antara tafsir kata Allah subhanahu wa taala, "Ketika hari ditiupkan sangkakala, maka seorang akan lari dari kakaknya, dari orang ayahnya, dari ibunya, dari anak-anaknya." Di antara tafsiran para salaf, karena dia takut dituntut. Dia takut apa? Dituntut. Diaak enggak mau ketemu ibunya. Dia takut ibunya nuntut dia karena ada hakhak ibunya yang tidak dia tunaikan. Dia kabur dari istrinya, takut dituntut sama istrinya. Lari dari anaknya dia takut ada dia zalim sama anak-anaknya. Maka seorang berusaha tidak menzalimi orang lain. Dan kezaliman kembali kepada tiga hal. Sebagaimana dalam hadis ketika Rasulull sahu alaihi wasallam dalam khutbatu ee dalam khotbatu ee ketika berkhotbah ketika haji wada Rasul sahu al wasallam mengatakan inna dimaakum wa amwalakum waakum alikum harammatikummati yaumikum h fi baladikum h ya kata kata nabi sallallahu alaihi wasallam fi syahrikum h kata nabi sallallahu alaihi wasallam ketahuilah bahwasanya darah kalian haram tidak boleh kalian tumpahkan di antara kalian. Kemudian harta kalian haram tidak boleh kalian ambil ya dari orang lain yang bukan hak kalian. Aakum dan harga dilian juga haram. Tidak boleh kalian jatuhkan, tidak boleh kalian coreng harga diri kalian. Sampai ee Rasul Sallahu Alaihi Wasallam menyebutkan dimaakum darah kalian. Karena kalian seakan-akan satu kesatuan. Satu kesatuan. Jadi menumpahkan darah yang lain seperti menumpahkan darah sendiri. Karena kalian adalah almukminun ikhwah. Kemukminan adalah saling ber bersaudara. Maka kezaliman kembali kepada tiga hal ini. Entah kita melukai orang tersebut, menumpahkan darahnya, menyakiti fisiknya, menyakiti tubuhnya, maka ini kezaliman tanpa hak. Ya, bukan keadilan tapi tanpa hak. Tanpa keadilan, zalim. Atau terkait dengan hartanya kita ambil, hartanya kita tipu dia. Utang sengaja tidak kita bayar, dia nagih kita ganti nomor telepon. Betapa saya, betapa sering orang bilang sama saya, "Ustaz, si fulan punya hutang sama saya, Ustaz. Saya tagit-tai, dia enggak pernah bayar. Yang kita buat jengkel apa, Ustaz? Dia jalan-jalan, gaya hidupnya mewah, beli mobil baru, tapi hutang enggak bayar-bayar. Mungkin mobilnya juga hutang nih. Enggak tahu aja hutangnya banyak. Banyak cabang dia berhutang. saya ya ini terkait dengan harta atau banyak ee lagi apa namanya kongsi kemudian e bisnis ternyata saling menzalimi satu dengan yang lainnya ya berkhianat ketika berdagang main belakang menjual dalam perusahaan banyak pengkhianatan banyak sekali ya banyak terlalu banyak ee laporan-laporan ini semua adalah bentuk kezaliman terkait dengan harta dan ini ngeri. Ini ngeri ya. Hutang yang sengaja tidak dibayar ya sampai rasul wasallam pernah tidak mau salat sama orang gara-gara tidak bayar apa? Hutang. Yang ketiga terkait dengan harga diri. Jangan kita zalimi orang terkait dengan harga harga dirinya ya. Menjatuhkan harga dirinya, memfitnahnya, menuduhnya, menduga-duga yang tidak benar, suudon kepada dia. Asalnya kita tabayun. Kalau ada praduga kita tanya. Jangan kita praduga kemudian kita sebarkan dugaan tersebut. Kalau mau tanya tabayyun. Kalau tabayun jangan satu pihak. Kalau kau pengin kepo, sekalian tanya dua pihak. Tapi kalau kau enggak ngin kepo, diam aja, enggak usah ngomong. Kalau kau pengin kepo, tanya dua-dua dua pihak. adalah kebodohan seorang hanya bertanya kepada satu pihak kemudian dia mengambil kesimpulan tanpa bertanya kepada pihak yang lain. Ya, makanya di antara sebab disebut oleh sebagian ahli tafsir Nabi Daud alaihi salam waab dalam surat Sad Nabi Nabi Daud akhirnya dia bertobat kepada Allah subhanahu wa taala. Di antaranya disebutkan ketika ada dua orang mengadu kepada Nabi Daud kemudian dia hanya mendengar kepada salah satu pihak kemudian dia kasih hukum. Dia tidak mendengar daripada salah pihak yang lain. Maka ditegur oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka dia pun bertobat kepada Allah Subhanahu wa taala. Kita betapa sering kita hanya mendengar dari satu pihak. Betapa banyak kisah tentang seorang kita tidak pernah tanya kepada orang tersebut tapi kita mengambil dari berita yang tersebar. Ini salah satu bentuk kita bahlul ya. Hanya menerima satu pihak kemudian mengambil hukum. Yang benar kalau mau mau kepo ambil hukum dari kedua belah pihak. Kalau enggak ya sudah kita gak perlu kepo, enggak perlu tahu. Akhirnya kita ikut menyebarkan dugaan-dugaan yang keliru tentang si fulan, tentang si fulan, tanpa mengecek apa sungguhnya yang ter terjadi. N ketika kita ikut menyebarkan keburukannya, ah ini kita menjatuhkan harga harga dirinya. Ketahuilah mencemarkan harga diri seorang terkadang lebih berat daripada ya dizalimi secara fisik. Makanya seorang penyair e pernah berkata, "Jarohatul lisani jarat sinaniamu waltamu jarah lisanu." Bahwasanya luka akibat sayatan pedang masih bisa disembuhkan tapi luka akibat sayatan lisan susah untuk disembuhkan. Seorang ingat terus dikenang atas di mana harga dirinya dijatuhkan oleh lisan-lisan dan pena-pena dan tulisan-tulisan jari-jari nakal yang mengetik sembarangan ya diingat oleh orang tersebut dan dia akan tutut pada hari kiamat. Pada hari kiamat kelak maka seorang jangan menzalimi orang lain terkait dengan ee harta, terkait dengan fisik maupun darah dan terkait dengan harga diri orang orang lain. Hati-hati Tib. Sebagaimana saya katakan di awal pengajian, kita kembali kepada yang kita maksudkan dalam pengajian adalah almamalatu bil fadl. Ini yang inialah sumber pahala. Kalau yang lain almamalatu bil adil, yaitu supaya kita tidak berdosa ya. Yang penting kita bisa setimbal. Kalau almamalatu bidzulum ya jangan sampai kita berdosa. Yang kita ingin bahas panjang lebar adalah bagaimana agar kita dapat pahala dengan almuamalatu bilfadl, yaitu bermuamalah yang utama. Maka ada beberapa ee contoh ya. Ee yang pertama tadi yang sudah kita sebutkan dalam surat Albaqarah tadi 237. Waqtumuhunna dan seterusnya minqli antuhunna. Di sini dua orang mereka menikah kemudian belum sempat tinggal barang, belum sempat berkhalwat berdua-duaan, belum sempat saling melihat aurat satu dengan yang lainnya, belum sempat berhubungan, tahu-tahu sang lelaki menceraikan sang wanita. Maka di sini wajib bagi sang lelaki untuk membayar mahar setengah. Tetapi Allah memotivasi mereka di antara mereka mana yang mau amalah bilfadl? Kata Allah Subhanahu wa taala, biyadi nikah. Kecuali sang wanita memaafkan. Sehingga dia bilang, "Sudah, enggak usah bayar. Toh saya belum diapa-apain. Saya masih masih apa? Disegel, belum apa-apa, belum disentuh sama sekali. Ya sudah, enggak usah bayar R juta, enggak usah. Afuadzi biyadiatun nikah." Atau sebaliknya, sang lelaki yang memaafkan. Memang enggak enggak enggak meskipun kau masih tersegal saya sempat memboking engkau. Enggak ada yang bisa mengelamar engkau. Ya kalau dia sudah nikah enggak bisa dilamar kan? Enggak bisa. Ya sudah 100 juta. Kemudian Allah berkata, "Wa antau aqrabulqwa." Siapa yang memaafkan lebih dekat kepada ketakwaan? Yaitu kalian berdua mana yang lebih dahulu? Innallah bima tammaluna bashir. Sesungguhnya Allah maha melihat apa yang kalian lakukan. Subhanallah. Allah memotivasi untuk muamalah bilfadl. Ya. Dan Allah mengatakan Allah maha melihat meskipun enggak ada yang tahu. Meskipun kalian tidak share di YouTube atau di Facebook atau di medsos, Allah maha tahu. Berbuat baiklah kepada orang karena Allah subhanahu wa taala. Ini isyarat kalian lakukan karena Allah. Bukan karena ria, bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin pencitraan. Enggak. Tapi kau berbuat baik kepada pasanganmu atau yang pernah sempat menjadi pasanganmu karena Allah. Makanya Allah tutup dengan innallaha bima tammaluna basir. Allah melihat apa yang kalian ee lakukan. Jadi, lihatlah bagaimana sang lelaki dimotivasi untuk menyerahkan 100 juta secara total meskipun wanita tersebut belum pernah berbuat baik sama dia. Paham? Berbuat baik kepada orang yang tidak pernah berbaik sama kita. Dan wanita juga dimotivasi oleh Allah untuk memaafkan 50 jutanya sehingga total nol. Padahal sang lelaki tidak pernah berbuat berbuat baik kepada kepada dia. Kata Allah, "Wala tansul fadla bainakum." Janganlah kalian meninggalkan muamalah bilfadl di antara kalian. Ini saja kalau kita bawakan kepada tafsir yang masyhur tapi tafsir yang salah yaitu jangan lupakan perbuatan baik yang pernah terjadi selama rumah tangga. Maka itu kita bisa boleh katakan tafsir dengan kelaziman. Nah ini aja tentang dua pasangan suami istri yang tidak pernah berumah tangga saja Allah seluh berbuat yang terbaik apalagi yang sudah pernah berumah berumah tangga. Apalagi yang sedang berumah tangga. Memang berat kita berbuat baik sama istri karena Allah meskipun sering diomelin misalnya berat. Berat tidak menghalangi kita untuk menasihati. Ya, tidak menghalangi kita untuk menasihati. Tapi kita cari pahala di sisi Allah Subhanahu wa taala ya. Kita tidak menunggu istri baik baru kita baik. Enggak. Kalau dia baik kita lebih baik daripada yang lebih daripada tersebut ya. Karena kita ingin bermuamalah bilfadal. Kalau bil adal semua orang bisa. Dia baik, saya baik. Dia buruk, saya buruk. Enggak. Dia enggak baik, saya baikin. Dia baik, saya lebih baik. Itu maksudnya. Itu namanya muamalah bilfadal. Ini lahan pahala. Lahan pahala. Tib. Contoh yang lain dalam surat azzariyat Allah berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim ee alaih salam dalam surah Azzariyat 24. Kata Allah hadi Ibrahim mukrin alaihiquaman ahliquai dalam surat azzilat ayat 24 dan seterusnya. Jadi Allah mengirim para malaikat untuk membinasakan kaum Nabi Luth. Maka Allah kirim malaikat yang menyel menjadi laki-laki yang tampan. Tapi sebelum mereka datang ke Sodom untuk menghancurkan kaum Nabi Luth, mereka mampir dulu kepada Nabi Ibrahim alaihi salam di Palestina. Maka mereka mampir menjelma seperti para tamu. Maka mereka ketuk pintu Nabi Ibrahim. Allah mengatakan hadi Ibrahim. Apakah telah datang kepada engkau tentang kisah para tamu-tamu nabi yang mulia? Nabi Ibrahim yang mulia. Yaitu tamu-tamu yang mulia yang datang kepada Nabi Ibrahim yaitu para malaikat. Alaihi ketika mereka masuk menemui Ibrahim mereka berkata, "Salaman." Kata mereka, "Asalamualaikum wahai Ibrahim." Ibrahim heran ini siapa? Kata Ibrahim, "Qala salamun kaumu munkarun." Waalaikumsalam. Wahai kaum yang saya tidak kenal. Munkarun maksudnya saya tidak kenal. Jadi Ibrahim tidak pernah kenal mereka. Tidak pernah mereka punya jasa sama Ibrahim Alaih Salam. Mereka tidak pernah menjamu Ibrahim sebelumnya. Tidak pernah kenal. Makanya Ibrahim berkata, "Salamun kaumun munkarun." Kaum yang mungkar yang tidak aku kenal sama sekali. Tapi apa sifat sikap Nabi Ibrahim? Far ila ahlihi faa bijijin samin. Segera dia pulang menuju istrinya. Kemudian dia nyembelih sapi yang gemuk. Kemudian dia panggang. Kemudian dia hidangkan kepada tamu-tamunya tersebut. Bukan cuma itu, faqahu ilaihim. Dia dekatkan kepada tamu-tamunya dan dia berkata, "Ala takulun, tidakkah kalian makan?" Di sini Ibrahim menjamu tamu dengan jamuan yang luar biasa. Ya, dia bukan ceplok telur. Bukan bukan. Dia ini tamu tidak pernah kenal sebelumnya. Kalau pernah kenal okelah. Pernah kenal kita ajak makan ke mana? Apah dia pernah naraktir saya? Ini enggak pernah kenal sama sekali. Tapi Ibrahim Alaih Salam memang demikian. Punya jiwa almuamalatu bil fadl. Ingin berbuat baik kepada orangorang lain meskipun orang tersebut tidak pernah dia kenal. Maka dia potong sapi. Bukan sapi yang kurus. Dia pilih sapi yang ijelin samin. Sapi yang gemuk. Kemudian dia panggang. Kemudian dia hidangkan. Ketika dia hidangkan pun dia dekatkan. Faqarahu ilaihim. Dia dekatkan kepada tamu-tamu dan itu adalah kebiasaan orang Arab sampai sekarang. Kalau kita makan dengan mereka, mereka dekatkan makanan kepada kita. Ya, bahkan mereka potong-potong kambing mereka lemparkan kepada kita. Bukan sebaliknya kita ambil. Saya pertama makan sama orang Arab. Kesannya kita tuh rakus kesannya. Karena lemparin begitu habis lagi lemparin lagi. Kita enggak enak juga ya. Ternyata itu kebiasaan mereka ternyata itu sunah dari Nabi Ibrahim Alaih Salam. Sehingga orang yang makan tidak perlu malu-malu, bahkan dia tidak perlu berdiri untuk mengambil makanan tersebut karena dihidangkan bagi dia. Makanya kita bertamu sama orang Arab sampai sekarang mereka siapkan kahwa. Kalau kahwa mereka langsung kasih. Jadi mereka nungguin begitu kelihatan habis mereka tawarin. Habis mereka datang mereka tawarin. Dan mereka tidak pernah isi kahwah full. Gak pernah selalu setengah. Ada yang mengatakan supaya tetap tetap panas kemudian juga melayani terus-menerus. Karena kalau langsung dikasih gelas cuma sekali pelayanan. Tapi kalau gelasnya kecil kan terus berulang-ulang. Jadi mereka yang datang untuk melayani itulah sunah Nabi Ibrahim Alaih Salam. Dia mendekatkan makanan kepada tamunya. Ini contoh almuamalatu bil Fadl. Belum pernah kenal orang tersebut tapi dimuliakan luar luar biasa. Ya. Maka e seorang berusaha cari pahala dia punya kemampuan secara ekonomi berbuat baik sama orang meskipun dia tidak pernah kenal sebelumnya. Dia tahu Allah maha melihat. Innallaha bima tamaluna basir. Allah maha melihat apa yang kau lakukan. Yang penting niatnya karena Allah. Bukan pencitraan. Bukan karena ikut pilkada ya. Bukan ya. Tapi karena Allah subhanahu wa taala. Ini di antara contoh almuamalatu bilfadl. Kemudian juga di antara almuamalatu bil fadl, Nabi sebutkan atau dalam hadis tentang kisah Jarir bin Abdillah radhiallahu anhu. Jar bin Abdillah dari Bujailah Albajali radhiallahu anhu ketika dia datang kepada Nabi dia mengatakan bayu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ala iqah waakah wus likulli muslim aku membaiat Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk menegakkan salat dan menunaikan zakat dan melakukan annush. Annus itu adalah melakukan yang terbaik bagi ee muslim yang lain. Annush itu lawan dari alghisy. Jadi ee yang benar annush atau nasihat maknanya bukan nasihat yang seperti kita pahami. Nasihat itu adalah melakukan yang terbaik kepada pihak ee pihak yang kita hadapi itu namanya anus seorang. E makanya para nabi mengatakan inni lakum nasihun amin. Sesungguhnya aku adalah nasih yaitu aku ingin terbaik buat buat kalian. Aku ingin terbaik buat kalian. ee makna nusah dalam bahasa Indonesia dipersempit maknanya jadi cuma nasihat. Cuma apa? Nasihat. Padahal kalau bahasa Arab nasihat adalah bagian daripada nus. Nus itu maknanya bersikap yang terbaik bagi orang yang kita nasihati. Makanya dikatakan seorang mukmin apa nama apa namanya? Adinun nasihah. Liman ya Rasulullah. Agama nasihat. Lillahi waliasulihi walitabihi waliatil muslimtihim. Nasihat kepada Allah. Apa maksudnya nasihat kepada Allah? Bukan kita nasihati Allah. Bukan. Tetapi maksudnya kita melakukan yang terbaik di hadapan Allah. Wali rasul apa nasihat kepada Rasulullah? Yaitu kita menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan sabda-sabdanya. Nasihat kitabih. Nasihat kepada Al-Qur'an maksudnya apa? Menjalankan isi Al-Qur'an. Jadi nasihat itu maksudnya annusu adalah yang terbaik. Nah, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ketika mengambil baiat dari kebanyakan para sahabat hanya dibatasi dengan iqam salah wa it zakah syahadatain terus iqami salat mendirikan salat dan menunaikan zakat tapi khusus Jarir bin Abdillah ada tambahan dan ini tidak diriwayatkan Nabi mengambil dari sahabat yang lain. Baiat. Baiat. Kalau nasihat iya, tapi baiatkan janji setia. Khusus Jarid bin Abdillah Rasulullah bilang, "Anushu likulli muslim." Kau harus menjadi seorang yang nasih bagi setiap muslim yang kau temui. Dan Jarid bin Abdillah mengambil janji tersebut. Ada yang mengatakan Jarid bin Abdillah, kenapa Rasulullah ambil baiat tersebut? Karena dia adalah pemimpin kaumnya dan dia akan menjadi dai. Seorang dai harus demikian berusaha melakukan yang terbaik bagi orang di depannya. Maka setelah itu benar-benar Jarir bin Abdillah menjadi orang yang bermuamalah bilfadal. Bil muabil fadal. Dia berusaha melakukan terbaik bagi orang yang dia muamalahi. Sampai disebutkan beliau pernah suruh budaknya untuk membeli seekor kuda. Maka pergilah sang budak beli seekor kuda dengan harga 300 dirham. Penjual kuda sepakat kata dia, "Sepakat 300 dirham." Kata sang penjual, "Raditu, saya rida 300 dirham." Maka Jarir bin Abdillah naik kuda tersebut. Ternyata kuda ini tidak pantas 300, harus lebih mahal. Maka dia panggil lagi, "Wahai fulan, ini kuda tidak pantas 300 dirham, harus 500 dirham. Rida, ridalah kasih tambah lagi 200." Subhanallah. Kemudian dia naik lagi. Dia bilang, "Tidak pantas 500 dirham." Kata dia, "Fulan tidak pantas harus 800 dirham." Subhanallah. Jadi 300 jadi berapa? Lam siapa manusia yang seperti ini? Tidak ada kecuali siapa? Jarir bin Abdillah. Ini seperti dongeng kalau tapi ini sahabat pernah hidup sahabat seperti ini ketika dia bermuamalah bermuamalah bilfadl. Apa yang terbaik bagi orang di depan saya? Subhanallah ya. Tidak wajib. Ini tidak wajib. Yang wajib bila adil. Paham? Kalau gitu gimana cari untung nombok mulu. Tapi ini ada ya dia berusaha. Subhanallah. Ini pernah terjadi dilakukan oleh seorang sahabat namanya Jarir bin Abdillah Albajali radhiallahu taala anhu. Di antara bentuk almamalatu bil fadal seperti yang disabdakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam rahimallahu samhan id baa wasamhan wasamhan qada wasam qada. Empat perkara Rasulullah sebutkan dalam satu hadis. Ini juga susah. Semoga Allah merahmati orang yang murah hati ketika menjual. Merahmati orang yang murah hati ketika membeli. Semoga Allah merahmati abdan seorang hamba yang murah hati ketika dia membayar hutang dan orang yang murah hati ketika dia menagih hutang. Maksudnya bagaimana? Maksudnya ketika dia menjual saman idaba dia menjual ada orang tawar misalnya ini berapa R50.000 orang itu bilang 120 ya okelah ambil dia tidak apa namanya pelit ya bagi dia sudah ada untung dia lepasin sebagian penjual enggak enggak Rp150.000 I 120 enggak, 130? Enggak, 140 enggak, 150, 149 pun enggak. 150 harus. Ada yang begitu, ada yang kencang. Kalau apa jualan Rasulullah tidak menganjurkan demikian. Rasulullah menganjur, "Kalau kau jualan kau sudah untung, orang tawar dia rida kayaknya kau juga untung, lepasin aja rezeki. Nanti berkah Allah berkahi." Rahimullah. Susah tapi kalau penjual dia ngomongin kapan naik haji, Ustaz? juga repot jual barang rahimallah atau abdan samhan ba jualan mudah kalau untung dia dilepasin dia tidak kita Rasulullah tidak suruh jual rugi tidak tapi dia mudahlah sama-sama untung dia okelah harga lepas sebagian orang tidak gak saya enggak akan R1 rupiah pun enggak akan turun kau cari tempat cari penjual lain berikutnya rahimullah seorang. Semoga Allah merapati seorang kalau membeli dia dengan murah hati. Dia kalau beli Rp100.000 dia tawar misalnya dia tawar Rp80.000 ya kata penjualnya enggak 90 okelah gak dia rida mudah. Sebagian orang kalau nawar [Tepuk tangan] ngeri Rp100.000 R30.000 Ibu, saya kalau belanja sama orang seperti ini, saya sampai takut duduk samping dia karena nawarnya ngeri. Sampai ada teman saya bilang, "Hai, Firanda, diam kamu ya. Biar saya yang tawar." Kau enggak tahu apa-apa. Wuh, dia tawar ngeri. Kita aja duduk situ enggak enak. Jadi, pura-pura enggak tahu. Masa 1000 tawar R30.000 gimana? Enggak usah gitu kali ya. Kecuali kita memang di pasar penipu ya bolehlah. Tapi kalau umum dia juga kan jualan mau cari untung. Memang kau merugikan dia? Buat apa dia jualan? Dia jualan cari untung enggak? Ya selama itu masuk akal, barang juga kau suka, lepasin aja. Ngapain susah-susah nanti Allah berkah. Yang penting Allah berkahi. Nanti kalau dikasih rezeki lagi Allah untuk beli barang yang lain. Bukan malah kita habisi. Gak ada orang seperti itu dia beli Rp100.000 R30.000 ya. Enggak. Enggak Pak. Enggak. R0.000 mentoknya. Enggak. R30.000 enggak Pak. R0.000 enggak R30.000. Tapi dia enggak pergi-pergi situ terus. J ambil, ambil, ambil. Berapa? Gratis. Ambil orang. Ya, akhirnya dia pun jual. Terpaksa. Enggak boleh jual beli. Enggak boleh karena terpaksa. Harus apa? rida. Kalau enggak rida enggak halal jual beli tersebut. Terpaksa. Pak yaudah paksa paksa paksa paksa lepas. Enggak boleh dalam muamalah tidak boleh apa namanya tidak boleh tanpa keri keridaan. Ini saya ingatkan hal ini. Sampai hadiah pun kata Syekh Utsimin, tidak boleh kecuali rida. Kalau ada orang kasih antum karena basa-basi jangan ambil. Paham? Jangan. Oh, beruntung nih. Alhamdulillah ini rezeki nomplok. Padahal dia enggak enak kasih ente. Misalnya dia bawa dua buku kasih kasih dia mau kasih teman antum, terus antum ada di situ, dia enggak enak. Aduh, gimana? Ya udah antum juga antum jangan terima. Karena antum tahu dia kasih karena apa? Enggak enak. Enggak boleh hadiah harus apa? Ri rida. Kalau ada tetangga makan durian panggil antum fulan durian diaat antum tahu basa-basi ente jangan oh iya ayo tunggu saya panggil ayo nak nak sini nak sini tetangga kita lagi pesta padahal ini cuma apa basa-basi Indonesia kan banyak basa-basi kecuali antum lewat terus enggak enggak terus dia tarik tangan antum ah serius dia kata antum lewat alhamdulillah ini antum baru eh oh iya langsung datang wah ini. Nah, ini hadiah pun tidak boleh dengan tanpa keridaan ya. Ini paksa-paksa kasih dong punyamu, kasih dong, kasih dong, kasih dong. A dia ya. Jadi kita lihat s-sara jangan sampai kita mendapatkan anugerah anu gratis ya dengan dengan apa terpaksa seorang. Demikian juga jual jual beli ya. Kalau kita maksa maksa maksa akhirnya dia lepaskan karena tidak enak maka tidak boleh. Jadi kalau kita membeli dengan murah. Kalau kita merasa ini sudah oke, harga oke, kita punya duit, lepasin aja. Ah, berapa? Rp80.000. Enggak, Pak, Rp90.000 ya udah kasih aja. Enggak ada mas. Saya juga dia juga butuh dapat untung. Jangan musim hujan ada orang jualan es enggak laku-laku. Ah, kesempatan nih. Berapa, Mas? R.000. R.000. Ya, gimana ya? Ya sudah, ambil ambil gitu sumpah. Mentang-mentang musim hujan kita malah minta korting 50%. Harusnya kita beli aja kalau bikin nolong. Ya, jadi intinya Rasulullah mengajarkan kita murah hati bilfadl. Kita bisa saja tawar tapi kita enggak mau tawar. Bahkan di antara kata para ulama di antara sedekah yang tidak diketahui oleh tangan kiri adalah kita membeli tanpa menawar. Ya, sehingga ya sudahlah kita tahu kita bisa tawar. Kita tahu harga sana lebih murah tapi enggak. Karena kita pengin tolong dia, kita enggak tawar ya. Kita enggak tawar. Atau mah saudara-saudara kita yang miskin-miskin yang jualan-jualan Senin Kamis ya, laku enggak laku ya masih ditawar lagi. Kasihan anaknya entah bayar sekolah belum tentu ada uang, makan belum tentu ada uang, ya enggak usah tawar, kasih aja. Sedekah dengan tetap menjaga harga dirinya. Dan itu di antara sedekah yang tangan kiri tidak tahu apa yang dikeluarkan oleh tangan tangan kanan. Kemudian kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Samhan qada atau sam di antaranya saman qada murah hati ketika menagih." Murah hati ketika menagih yaitu seperti firman Allah Subhanahu wa taala wainana usratinatun wairakum. Kata Allah, "Jika engkau menagih seseorang dan dia lagi sulit, benar-benar dia sulit artinya dia enggak punya uang. Maisar maka kasih tunda. Gak boleh kita paksa. Lain halnya kalau dia punya aset kita bilang, "Kau jual asetmu." Sudah tahu dia enggak punya duit, kerjaan lagi baru di PHK. Ya sudah kita enggak bisa maksa. Dia enggak punya apa-apa. Bilang nanti kalau kau mampu. Kata Allah setelah itu wa anquir lakum. Kau bersedekah lebih baik. Artinya apa? Misalnya dia punya utang R1 juta, kita sedekah setengah juta sudahlah kau punya uang berapa? Cuma Rp500.000. Sudah bar. R00.000-nya Ibunya saya maafin. Atau kalau kita baik lagi daripada itu, sudah enggak usah bayar. Udah, sudah enggak usah pikir kau cari makanlah buat anak istrimu. Semua utangmu saya lunaskan. Ya paling tidak ketika kita nagih, dia enggak bisa bayar, kita kasih penundaan itu sudah dapat pahala. Dia enggak bisa bayar, ya nanti gak apa-apa. Bulan depan gak apa ya kita nasihat dia kok berusaha berdoa. Bulan depan gak apa dia enggak mampu lagi. Memang dia enggak mampu. Kita lihat beda kalau dia penipu, dia punya aset ya kita bisa maksa. Tapi kalau dia memang benar-benar tidak mampu, ya kita maafin. Ini namanya ramah hati ketika menagih. Bahkan dalam hadis disebutnya ada seorang masuk surga ketika dibangkitkan kemudian Allah suruh malaikat periksa amal dia. Ditanya, "Kau punya amal surga? Saya enggak punya. Saya enggak punya." Kecuali ada satu amalan saya. Saya dulu suruh anak buah saya memberi pinjaman, terus saya suruh tagih. Siapa yang tidak bisa membayar ditunda, saya suruh tunda, siapa yang tidak bisa bayar saya maafkan. Kata Allah, "Kami lebih utama untuk memaafkan." Akhirnya diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala. Gara-gara apa? Dia menagih hutang, orang enggak bisa bayar, dia tunda. Kalau enggak dia potong atau dia lunasi. Ya, bayangkan kalau orang punya hutang kita lunaskan betapa apa namanya? Hatinya menjadi lega, betapa bahagia ya. Betapa bahagia luar biasa. Oleh karenanya seorang mencari pahala dari sisi mana pun dari sisi materi. Kalau dia punya cari pahala dari sisi materi. Kemudian juga kata Rasul sahu alaihi wasallam rahimahullah samhan idza qada. Semoga Allah merahmati seorang hamba yang murah hati ketika membayar hutang. Nah, dalam bayar hutang juga seorang punya adab. Kalau dia punya kemampuan sebelum jatuh tempoh hendaknya dia bayar atau pas jatuh tempo dia bayar. Ya, jangan sudah jatuh tempo kemudian dia tunda-tunda. Ya, dia punya hutang dia tidak bayar jot. Kenapa? Dia olah dulu. Dia kelola dulu uangnya supaya dapat untung lagi. Maka harusnya dibayar bulan Januari, dia bayar bulan Mei misalnya selama beberapa bulan tersebut dia kelola uangnya dapat untung lagi. Ini enggak boleh seperti ini. Sudah jatuh tempo. Nah, kalau bisa antum bayar sebelum jatuh tempo. Kalau bisa bayar sebelum jatuh tempo. Bahkan dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam bayar lebih daripada hutangnya. Dan ini diperbolehkan dalam syariat inulan taq Rasulullah sallallahu alaihi wasallamu bihi. Ada seorang lagi hutang sama Nabi. Nabi punya hutang. Nabi punya hutang. Mungkin Nabi lupa atau sibuk tidak sempat bayar. Maka datanglah orang tersebut kemudian nagih kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Faagl dia agak keras terhadap Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika menagih tersebut. Fahamma bihi ashabuh. Maka sahabat Nabi ingin menyakiti orang ini karena tidak sopan sama Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi apa kata Nabi? Dauhu fainnahibil haqqi maqalan. Biarkan dia. Dia punya hak untuk berbicara. Dia punya hak untuk menagih saya karena memang saya punya hutang sama sama dia. Rasulullah tidak marah. Rasul bilang dia punya hak nagi sama saya. Kemudian kata Rasul wasallam, Rasulullah punya hutang unta sama dia. Kata Rasulullah, carikan unta, belikan unta, terus ganti hut dia. Ya Rasulullah, kami tidak dapat unta kecuali bagus daripada unta yang dia utangkan kepadamu. Yaitu umurnya lebih bagus daripada unta utanganmu. Qaruhu fau iyah. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, beli saja gak apa-apa meskipun untanya lebih bagus. bayar hutang untanya. Kemudian Rasul wasallam berkata, "Fahairakum ahsanukum qada." Sebaik-baik kalian adalah orang yang terbaik membayar hutang. Dalam bayar apa? Hutang. Jadi, orang bayar hutang juga kalau dia beradab dalam bayar hutang, dia dapat pahala. Dia bayar sebelum waktunya, dia bayar di penghujung lebih misalnya, boleh-boleh saja ya. Yang tidak boleh kalau ada perjanjian nanti bayar lebih ya itu riba ya. Tidak boleh ya. Tapi kalau lunas kemudian dia tambah sesuatu tanpa ada perjanjian, maka ini boleh-boleh saja seb dilakukan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya. Tib. Di antaranya bentuk ee almamalatu bilfadl ini sangat sulit ya. Dalam surah Fussilat ya ayat ke-34 kata Allah Subhanahu wa taala wala tastawil hasanatu sayiah. Tidak sama antara kebaikan dan keburukan. Idfa billati hiya ahsan. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Balaslah keburukan dengan apa? Kebaikan. Kalau kau balas keburukan dengan kebaikan, maka bisa jadi tadinya ada permusuhan orang tersebut bisa menjadi kawan baikmu. Kemudian kata Allah, tidak ada yang bisa melakukan sifat tersebut kecuali orang-orang yang sabar. W yulaqohaim. Dan tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang mendapatkan keuntungan yang besar. Ini di antara almuamalatu bil fadlal yang Allah sebutkan dalam beberapa ayat. Di antaranya ayat ini, idfa billati hiya ahsan. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Bukanlah kehebatan adalah seorang balas kebaikan dengan kebaikan, tapi suatu kehebatan balas keburukan dengan kebaikan karena Allah subhanahu wa taala. Ya, minimal memaafkan. Minimal memaafkan. Memaafkan adu hal yang sangat berat. Makanya maafkan itu almamalatu bil fadl. Dia bisa balas tapi dia enggak balas. Ya, makanya tadi disebutkan di awal ayat di awal pengajian kita Allah berfirman balasan keburukan adalah keburukan semisalnya. Ini almamalatu bil kemudian Allah sebutkan wa aslaha faajru alallah. Siapa yang memaafkan dan melakukan perbaikan maka pahalanya di sisi Allah subhanahu wa taala. Almuamalatu bilfadl. Dia maafkan. Dia orang zalim sama dia. Dia maafkan. Allah sebutkan di antara ciri penghuni surga walinaas yang maafkan orang lain. Dan ini ibadah yang berat ibadah maafkan. Kenapa? Karena kita bisa baru bisa mempraktikkannya ketika kita dizalimi. Kalau kita enggak dizalimi, kita enggak ada maaf-memaafkan. Kapan kita memaafkan? Ketika kita dizalimi. Sementara sifat manusia kalau dizalimi ingin membalas. Sifat manusia kalau dizalimi ingin balas. Ternyata Allah suruh memaafkan. Bahkan Allah mengatakan," faman afa wa aslaha. Siapa yang maafkan lakukan perbaikan faajruhu alallah maka pahalanya urusan Allah. Ini di antara metode Allah untuk menjelaskan bahwasanya pahalanya sangat sangat besar sangat besar memaafkan orang yang berbuat zalim kepada kita. Maka latih diri kita untuk memaafkan orang menzalimi kita. Baik orang jauh maupun orang dekat. Bisa jadi kezaliman datang dari orang sekitar kita. Bisa jadi kezaliman dari pasangan hidup kita. Bisa jadi, bisa jadi kezaliman dari kerabat kita, bisa jadi tetangga kita, bisa teman dekat kita yang selama ini kita baikan, ternyata dia menzalimi. Bisa jadi. Maafkan. Itulah kehidupan dunia. Ini kesempatan kita diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala. Ya Allah mengatakan kata Allah, "Maafkanlah dan berlapang dadalah kalian. Tidakkah kalian suka jika diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala?" Siapa yang maafkan dia akan dimaf? Dosa kita banyak, Ikhwan. Dosa kita banyak. Maafkan istri supaya kau dimaafkan Allah. Dengar bapak-bapak apa? Maafkan apa? Istri biar diampuni oleh Allah. Istri maafin suami. Kalau suami minta maaf, maafin supaya diampuni oleh siapa? Allah Subhanahu wa taala. Orang yang paling utama kita ampuni, kita maaf orang dekat kita, anak kita, istri kita, suami kita, orang tua kita, kakak kita, adik kita. Maafin, maafin. Ini almamalatu bilfadol. Lebih daripada itu balas dengan kebaikan. Datang seorang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam mengeluhkan tentang kerabatnya. Dia berkata, "Ya Rasulullah, inabatan." Ya, sesungguhnya Rasulullah, saya punya kerabat-kerabat asilumani saya sambung kekerabatan dengan mereka. Sambung silaturahmi mereka mutusin wainu ilaihimusi aku berbuat baik kepada mereka. Mereka berbuat buruk kepadaku. Ini bayang mereka buat buruk, dia buat baik. Ya. Kemudian aku bersabar dengan mereka. Mereka berbuat kebodohan kepadaku. Dia bagaimana wasall kalau benar kau ucapkan demikian, maka saya katakan kau masukkan ya apa debu yang panas di mulut mereka dan senantiasa ada penolong Allah kirim untuk engkau selama kau demikian. Jadi Allah kirimkan malaikat menolong seorang yang berusaha membalas keburukan dengan apa? Kebaikan. Dibantu oleh Allah Subhanahu wa taala. Ini orang hebat pahalanya besar. Makanya Allah mengatakan wama yulaqoha illalladina shaaru. Tidak ada yang bisa melakukan ini. Membalas keburukan dengan kebaikan kecuali orang yang super sabar. W yulaqoha illinim. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali yang mendapatkan pahala yang ganjaran yang besar. Tidak mudah. Oleh karenanya kalau kita sadar bahwasanya dunia ini hanyalah hidup sementara dan dinamika kehidupan dunia pasti begitu. Kita disakiti orang, kita dizalimi orang tidak ada nyaman dalam kehidupan dunia ini. Ya, ada kesedihan setelah itu ada kesenangan. Setelah kesenangan pasti ada apa? Kesedihan ya. Ada tawa, ada tangisan ya. Tidak ada ya sudah kalau ada orang buat salah sama kita, maafin. Maafin aja. Maafin. Kita ingin diampuni oleh Allah Subhan dosa kita banyak. dosa kita banyak. Ini ikhwan contoh almamalatu bilfadal. Maka seorang berusaha bermuamalah yang terbaik bagi orang di sekitarnya. Bagi istrinya istrinya kurang baik dia baikin. Anaknya kurang baik dia baikin. Tetangganya kurang baik dia baikin. Kakak adiknya kurang baik dia baikin. Karena Allah subhanahu wa taala. Allah berfirman tentang Abu Bakar Assiddiq ya. Maka neraka tersebut akan dijauhkan dari orang yang bertakwa. Ini tentang Abu Bakar. Siapa Abu Bakar? Akan dijauhkan dari neraka jahanam. Siapa dia? Alladzi yalahuazakka yang dia menginfakkan hartanya untuk mensucikan jiwanya. Abu Bakar menginfakkan hartanya bukan untuk supaya punya punya jasa sama orang lain. Bukan supaya dihormati oleh orang, tapi dia membersihkan dirinya. Membersihkan dirinya karena dia mencari keran Allah. Wahmatin tujiz dia melakukan kebaikan tersebut bukan karena dia punya hutang jasa sama orang. Wajib alam. Dia melakukan itu semua karena mengharap wajah Allah. Wufaard. Dia akan rida. Dia akan masuk surga. Ketika Abu Bakar merdekakan budak-budak yang lemah, ada Bilal, ada Amir bin Fuhairah. Budak-budak lemah datang ayahnya masih kafir ketika itu, Abu Quhafah. Dia mengatakan, "Wahai anakku, bapaknya masih." Bapaknya baru masuk Islam ketika Fatu Makkah ini. Padahal sebelum hijrah. Jadi bapaknya masih kafir. Bapaknya nasihati Abu Bakar. "Wahai Abu Bakar, kalau kau merdekakan budak, cari budak-budak yang kuat. Jangan budak-budak yang lemah. Kalau kau merdekakan budak-budak yang kuat, nanti mereka sudah merdeka, mereka akan kuat menjadi penolongmu, pembelamu di kemudian hari. Kata Abu Bakar Assiddiq, innama artu ma aru, saya melakukan salat itu karena ada suatu yang saya inginkan. Allah sebutkan keinginan Abu Bakar wajhibbil ala. Dia hanya mencari wajah Allah Subhanahu wa taala. Ya. Jadi ketika kita bil fadlal, kita mencari wajah Allah Subhanahu wa taala. Bukan untuk disanjung, bukan untuk dipuji, bukan pencitraan. Enggak. Memang kita mencari wajah Allah, kita banyak dosa. Kita ingin dapat pahala sebanyak-banyaknya. Mah. Nah, maka dalam kehidupan ini kita harus berpikir otak. Saya di rumah ada istri, ada anak, ada keluarga, ada kakak adik. Apa yang saya bisa lakukan yang terbaik? Muamalatu bil fadal dengan mereka. Saya punya uang, gunakan uang tersebut. Saya punya ilmu, gunakan ilmu tersebut. Saya punya kekuasaan, gunakan kekuasan tersebut untuk berbuat baik kepada orang sekitar. Kita pikir ini sama orang, sama pembantu. Pembantu kira-kira terbaik apa ini? Saya bisa lakukan sama dia meskipun dia tidak kita tidak punya hutang budi sama dia. Meskipun dia tidak punya jasama kita. Itulah almamalatu bil fadl. Intinya melakukan kebaikan kepada orang yang tidak pernah berbuat baik kepada kita atau membalas kebaikan lebih banyak daripada orang yang berbuat baik kepada kepada kita. Itu namanya almamalatu bilfadal bab tib. Demikian saja yang bisa saya sampaikan. Wallahu taala alam bisawab. Kalau ada yang bertanya saya persilakan.