Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqi wtinani asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahu wa asadu anna muhammadan abduhuasul ridwumma sholli alaihi waa alihi wa asabi wa ikhwani hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala pada kesempatan kali ini kita akan masuk pada pembahasan berikutnya tentang kaidah-kaidah terkait al-asmaul husna pada pertemuan lalu telah kita bahas tentang urgensi belajar alasmaul husna maka pada pertemuan ini kita bahas kaidah-kaidah sebelum kita masuk pada penjelasan tentang nama-nama Allah ya. Al-Asmaul Husna disebutkan dalam Al-Qur'an dalam empat ayat ya, dalam empat ayat. Ayat yang pertama dalam surah Ala'raf kata Allah eh 180 kata Allah Subhanahu wa taala, "Walillahil asmaul husna fad'uhu biha." Fad'uhu biha. Ya walillahil asmaul husna fad'uhu biha. Kata Allah subhanahu wa taala, bagi Allah asmaul husna. Allah memiliki nama-nama yang indah. Berdoalah dengannya. Jadi kita disuruh berdoa dengan nama-nama Allah yang terindah. Maka kita perlu mengenal sebagai kita bertawasul dengan nama-nama tersebut untuk minta kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian juga dalam surah Thaha kata Allah Subhanahu wa taala, "Allahu la ilaha illa hua lahul asmaul husna." Sesungguhnya Allah tidak ada yang berhak disembah kecualinya kecuali Allah. Bagi dia nama-nama yang terindah. Kemudian surat Al-Isra surah 17 ayat 10 kata Allah Subhanahu wa taala, "Qulidullah aidurahman ayyamma tadu falahul asmaul husna." Ya kata Allah, "Kulidullah. Eh abidurrahman ayyamma tadu falahul asmaul husna. Ayamma tadu falahul asmaul husna. Kata Allah berdoalah dengan menyebut Allah boleh. Awiduurrahman atau serulah ar-rahman. Mau Allah mau arrahman enggak ada masalah. Kenapa? Ayma tadu falahul asmaul husna. Mau berdoa dengan Allah, dengan rahman boleh. Kenapa? Karena Allah memiliki nama-nama yang terindah. Di antara nama Allah ada Allah, ada juga arrah arrahman. Kemudian surah Al-Hasyr setelah Allah sebutkan nama-nama Allah, wallahul khaliqul bariul musawiru lahul asmaul husna. Al asmau alhusna. Ya, inilah ee penyebutan Allah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwasanya Allah memiliki nama-nama Allah yang indah. Nah, sekarang apa kaidah-kaidah terkait dengan asma Allah? Ee kita akan sebutkan pertama tentang bagaimana menentukan ini nama Allah atau bukan. Apa sih dawabit atau syarat-syarat suatu nama dijadikan nama Allah? Ini sudah ibu ya. Oke. Atau syarat syarat-syarat suatu nama di ee apa namanya? Merupakan nama Allah. Allah berfirman, "Ya, walillahil asmaul husna." Tadi dalam ee surah Al-A'raf 180 ya, kata Allah, "Walillahi al-Asmau alhusna fad'uhu biha." Bagi Allah nama-nama yang terindah ya. Bagi Allah nama-nama yang terindah. Berdoalah dengan nama-nama tersebut. Berdoalah atau mintalah kepada Allah kepada Allah dengan nama-nama tersebut. Nah, dari ayat ini ini surah Al-A'raf 180, Allah mengatakan ada tiga ee syarat ya, tiga syarat untuk menentukan bahwasanya itulah nama-nama Allah Subhanahu wa taala ya. Yang pertama di sini Allah mengatakan walillah bagi Allah al-asma. Di sini ada alif lam al-asma alhusna. Al alasma alhusna. Alif lam di sini kalau dalam bahasa Arab disebut ee dengan alif lam al-ahdiyah. Kalau kita artikan yaitu bagi Allah nama-nama tersebut yaitu suatu yang sudah dikenal. Nama-nama tersebut ya. Jadi suatu yang dikenal ya. sehingga nama-nama tersebut ini syarat pertama. Jadi syarat-syarat syarat pertama yang ee nama-nama tersebut ee sudah di sudah dikenal, sudah makruf, sudah dikenal. Ya, kalau kita bilang roaitu rajulan, aku melihat seorang laki-laki belum dikenal. Tapi kalau saya pakai alif lam roaitur rajul, saya mengenal si laki-laki itu ada sin-nya. Jadi sudah dikenal kalau asma nama-nama, tapi kalau siapa yang al-asma si nama-nama itu. Kalau bahasa Arab itu alif lam di antara fungsinya menunjukkan al-ahdiyah itu sesuatu yang sudah kita tahu. Sehingga ketika Allah mengatakan walillahil asmaul husna bagi Allah nama-nama maksudnya nama-nama tersebut yang sudah di dikenal. Yang sudah di dikenal. Nah, oleh karenanya nama-nama yang karena sudah dikenal yang nentukan adalah Allah Subhanahu wa taala yang menentukan. yang yang menamakan ee yang menentukan adalah Allah adalah Allah sendiri. Dalam hadis Rasul sahu alaihi wasallam berdoa untuk doa menghilangkan kesedihan. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "As'aluka bikulmin huak samma bihi nafsak." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "As'aluka bikulli ismin hua lak. Sammaitahu bi sammaita bihi nafsakita bihi nafsaka artinya ya Allah aku mohon bertawasul dengan seluruh namamu yang itu adalah nama engkau sammaita bihi nafsak maknanya yang kau namakan dirimu sendiri yang engkau menamakan dirimu dirimu mu dengan nama-nama tersebut. Ya. Jadi yang menentukan nama untuk Allah adalah Allah sen sendiri. Allah itu Allah sendiri. Oleh karenanya ee ini menunjukkan bahwasanya nama Allah harus ada da dalilnya. Karena Allah yang menamakan sendiri, maka harus berdalil, harus pakai dalil. Dalilnya dari mana? Al-Qur'an maupun Sun sunah. Al-Qur'an dan sunah. Sudah ini gak mungkin kita bikin nama Allah sendiri. Jadi syarat pertama ini adalah ini adalah syarat pertama bahwasanya nama-nama tersebut harus pakai dalil. Inilah syarat pertama. bahwasanya nama-nama Allah harus berdalil. Kenapa harus berdalil? Karena yang menamakan Allah siapa? Allah sendiri. Dan nama-nama tersebut kata Allah, "Walillahil asmaul bagi Allah nama-nama itu yang indah, yang terindah." Dari sini ada beberapa kesalahan terkait ini. Kesalahan kesalahan terkait syarat pertama. Dia bilang kesalahan terkait syarat pertama. Apa kesalahan tersebut? Di antaranya misalnya menamakan Allah tanpa dalil dengan tanpa dalil. Yaitu memberi nama kepada Allah tanpa dalil. tanpa dalil. Seperti apa? Seperti orang-orang filsafat menamakan Allah dengan alillatul ula. Seperti nama Allah alillatul ula yaitu sebab pertama. Mereka menamakan Tuhan dengan sebab pertama. Ya, ini contoh. Atau seperti mereka namakan al-aqil yang berakal, yang berpikir. Gak ada Allah pernah menamakan dirinya dengan yang ber berakal. Ya, ada syarat-syaratnya secara secara makna benar Allah tentu berpikir tapi Allah tidak pernah menamakan dengan nama al-Aqil. Kemudian juga misalnya orang Nasra menamakan dengan al-ab tuhan bapak. Ya, Tuhan Bapak ini tentu juga adalah ee penamaan yang ee yang salah ya, yang salah ya. Yang salah karena kalau bapak melazimkan punya apa? A anak ya. Adapun penamaan alillatul ula ini orang-orang falasifah ingin menjelaskan bahwasanya Allah tidak mencipta. Tapi antara hubungan Allah dengan makhluk adalah hubungan sebab dan akibat. Ini bahasanya panjang. Tidak mungkin kita bahas di sini ya. Yang kedua misalnya menamatkan nama kepada kepada Allah tanpa dalil. Ee pertama menamakan tanpa dalil. Yang kedua misalnya adalah menetapkan nama yang buruk bagi Allah. Oh ini sudah ini ini sudah tadi sama ya. Sebagian nama dengan ee sebagian nama berkonsekuensi buruk. Sebagian nama-nama tersebut di atas berkonsekuensi buruk. Tadi kita bilang kalau alab berarti Allah bapak berarti Allah punya punya anak. Kalau illatul ula illatul ula apa kunsi buruknya? Jadi begini orang falasifah ini panjang lagi ya. Jadi mereka itu tidak ingin bilang Allah mencipta. Jadi mereka menolak sifat penciptaan. Kata mereka, "Alam itu azali." Alam itu azali bersama Allah Subhanahu wa taala. Jadi Allah adalah sebab. Sementara alam adalah ee almaul. Allah adalah laillah. Alam adalah almaul. Dan keberadaan Allah dan alam bersamaan sama-sama azali. Sehingga mereka tidak bilang Allah menciptakan, tetapi alam bersama dengan Allah. Hanya saja Allah adalah sebab. Alam adalah akibat. Ini panjang cuma saya tidak pengin bahas ya. Cuma ini menunjukkan bahwasanya nama alillatul ula punya konsekuensi yang buruk yang itu orang-orang falasifah ya menamakan Tuhan dengan nama tersebut ya sehingga menolak adanya penciptaan. Padahal Allah Maha Pen pencipta. Dari tidak ada menjadi ada. Jadi mereka bilang gak ada Tuhan mencipta dari tidak ada menjadi ada. Enggak mungkin. Enggak boleh Tuhan begitu. Jadi Tuhan asbab makhluk adalah akibat tanpa ada dari tidak ada menjadi ada. Karena menurut mereka alam itu adalah azali bersama Allah. Ini tentu kekufuran. Kemudian yang ketiga, tidak boleh menamakan Allah dengan kias atau menamakan Allah dengan kias. Ya, ini tidak boleh menamakan Allah dengan analogi, dengan kias atau analogi. Seperti nama Allah adalah aljawad. Aljawad itu maha dermawan. Ini ada ini ee ini nama Allah. Kemudian ada yang pengin mengkiaskan dengan misalnya assakhi ini ada dalilnya nama Allah ada dalil. Ada dalil. Kemudian ada yang ingin menamakan assakhi. Assaki ini juga maknanya dermawan. Tetapi kata para ulama assak tidak boleh. Kenapa? karena dia mengandung makna ee kelembekan atau kelemahan. Sakhi itu ada makna karena mengandung makna lemah, mengandung makna lemah. Ya, meskipun secara bahasa Arab sakhi juga maknanya adalah dermawan, tapi beda dengan jawad. Jawad menunjukkan kelapangan, keluasan. Sehingga tidak boleh kita menamakan Allah dengan assakhi. Adapun aljawadilnya, ada dalilnya. Jadi tidak boleh dengan analogi ya. Contoh lagi misalnya nama Allah alqawi. Contoh nama-nama Alqawi. Maha Kuat ini ada ada dalilnya maha kuat. Ini benar tapi tidak boleh kita menamakan Allah dengan aljalad. Adapun aljalad ini juga sama maha kuat. Sama maknanya juga kuat tapi ini salah. Kenapa? Karena kuat itu seperti aljalad maknanya kayak sabar terpaksa. Seperti seorang kalau ee seorang yang e pekerja dia keras, dia kerja keras dia itu namanya jalat. Ini rajulun jalat ya. Seorang laki yang kuat bekerja tapi dia memaksa kayak ada beban yang harus dia lakukan dengan sabar. Adapun Allah tidak demikian. Allah melakukan semuanya dengan mu mudah. Jadi secara makna aljalad adalah kuat. Namun tidak boleh untuk Allah karena mengandung makna kayak terbebani. Mengandung makna terbebani. Bab ini kita bahas tentang syarat pertama bahwasanya nama-nama Allah harus dari Al-Qur'an maupun sun sunah. Contoh lagi terakhir ya saya kasih contoh ini. Jawad Alqawi. Contoh yang ketiga misalnya adalah alalim. Alalim nama Allah bukan nama Allah. Maknanya maha mengetahui. Tidak boleh kita menamakan dengan al-arif. Al-arif pemilik makrifat. Ini salah. Kenapa al-arif tidak boleh? Meskipun maknanya sama-sama mengetahui. Karena al-arif itu ada kesan. Ada kesan mengetahui setelah kejahilan. mengetahui setelah tadinya tidak tahu. Tidak tahu ya maka kita tidak boleh menamakan Allah dengan al-arif tapi yang ada al-alim mengetahui berilmu. Berilmu tidak di tidak mesti didahului dengan ketidaktahuan. Tapi kalau al-arif seakan-akan berilmu setelah ketidak ketidaktahuan. Maka tidak pantas untuk nama Allah Subhanahu wa taala. Bab. Ini syarat pertama. Paham, Ibu-ibu? Ya. Iya. Ini ujian semakin berat. Ini kita belajar kaidah-kaidah dulu sehingga ketika kita masuk dalam bahasa nama-nama Allah kita lebih paham ya. Syarat pertama. Syarat kedua, faduhu biha dari firman Allah Subhanahu wa taala. Syarat kedua. dari firman Allah, "Faduhu biha." Berdoalah dengan nama-nama tersebut. Dengan nama-nama tersebut. Nah, berarti di antara syarat nama-nama tersebut bisa digunakan untuk berdoa, yaitu nama-nama tersebut digunakan untuk berdoa. Untuk berdoa. Nah, berdoa di sini faduhu biha. Berdoalah. Ini ada dua makna. Dua makna. pertama adalah menyeru dengan nama tersebut. Menyeru nama tersebut dalam doa. Contoh kita mengatakan, "Ya razzaq, wahai maha pemberi rezeki. Urzuqni misalnya urzu zqni." Jadi, wahai razq nama Allah apa? Ar arrazak. Kita bilang, "Wahai maha pemberi rezeki. Berilah rezeki kepadaku." Ya, berilah rezeki kepadaku. Jadi kita panggil Allah ya razq. Ini namanya kita berdoa ketika meminta. Yang kedua ini namanya doaul masalah. Kalau istilahnya doaul masalah. Ada istilah nanti ibu-ibu namanya doa masalah itu doa meminta. Doa meminta ke kita ketika kita doa meminta, kita menyebut nama Allah ya raz sesuai dengan keinginan kita. Misalnya kita ingin diampuni, kita bilang ya gfur. Apa ya? Ya gfur misalnya kita bilang ya gfur. Wahai maha pengampun igfirli. Ampunilah aku. Ya kita meminta wahai maha pengampun. Ya warhamni wa anta khairur rahimin. Ya Allah rahmatilah aku. Anta arhamurahin. Engkau yang maha penya penyayang. Ya Rahman, ya Rahim irhamni. Wahai pengasih, wahai penyayang rahmatilah aku. Ya Qawi, ya Aziz, wahai yang maha kuat, yang maha perkasa. Misalnya hancurkanlah mereka atau tolonglah aku. Ini makna pertama. Makna kedua di antara makna doa adalah duaul ibadah. Doaul ibadah. Doa maknanya ibadah. Doa jadi doa ada maknanya meminta. Doa ada namanya ibadah. Maknanya ibadah. Apa maksudnya doa? Maknanya ibadah yaitu kita menghayati. Menghayati makna dari nama tersebut dalam kehidupan. makna dari nama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Contoh bagaimana kita beribadah dengan Ar-Razak? Beribadah dengan Ar-Razak maha pemberi rezeki adalah dengan meyakini Allah maha pemberi rezeki. Yakin bahwasanya rezeki semua dari Allah yaitu yakin semua rezeki dari siapa? Allah. Dan ini penting ketika kita meyakini rezeki semua dari Allah, kita tidak bergantung kepada manusia. Yang kedua, kita tidak akan mencari harta yang haram. Allah kasih rezeki, saya enggak mau yang haram. Har halal ada Allah kasih. Saya punya jatah harta halal. Saya tidak mau cari harta yang ha haram. Ini contohnya kita ee meyakini bahwasanya Allah memberi rezeki dalam kehidupan masing misal kita punya anak, takut, "Ah, kalau punya anak nanti siapa yang kasih rezeki?" Bilang masing-masing anak ada rezekinya. Itu maksudnya keyakinan itu bukan kita sedang minta razak, tapi kita yakini makna razak dalam kehidupan kita se sehari. Banyak orang beribadah dia gara-gara cari ee banyak orang cari rezeki gara-gara cari rezeki dia tidak beribadah. Padahal ketika dia beribadah, dia beribadah kepada sang maha pemberi rezeki. Supaya rezeki dia lancar, beribadahlah kepada sang maha pemberi rezeki. Karena yang memberi rezeki adalah Allah Subhanahu wa taala. Makanya Allah berfirman, carilah di sisi Allah rezekimu. Jangan yang adapun pekerjaan hanyalah sebab. Ini contoh contoh lagi misalnya beribadah dengan gfur, alghfur. Beribadah dengan gfur yakin sebesar apapun dosa Allah mengampuni. Sebesar apapun dosa Allah tetap bisa mengampuni. Allah tetap mengampuni jika bertobat. Sehingga orang ketika terjerumus dalam maksiat dia tidak putus asa. Dia tidak putus asa. Dia sehingga kembali kepada Allah. Nah, inilah makna faduhu biha. Berdoalah kepada Allah dengan dua makna. Pertama, memintalah dengan menyebut nama Allah. Yang kedua, hayatilah makna-makna tersebut dan gunakan dalam kehidupanmu sehari hari-hari. Paham, Ibu-ibu? Paham, ya? Ini penting kita. Jadi itulah faduhu biha doa ada dua doa almasalah doa di sini maksudnya ada ada dua doa di sini maknanya berdoalah dengan nama-nama tersebut bisa doa meminta bisa doa ibadah sudah syarat kedua Ah, sekarang kita lanjut syarat ketiga. Syarat ketiga, Allah berfirman, "Walillahil asmaul husna". Sini al-asma al-husna. Alasma artinya nama-nama. Al-husna kalau bahasa Arab artinya yang terindah. Dia adalah ee apa namanya? Ee muannas dari al-ahsan. Al-husna maksudnya kalau bahasa Arab dia adalah maknanya yang ter yang terindah. Yang terindah. Sehingga di antara syarat nama-nama Allah, nama itu secara zatnya menunjukkan makna yang indah. Harus menunjukkan makna yang indah, yang indah saja tanpa mengandung makna yang buruk. tanpa mengandung kemungkinan makna yang buruk. makna yang buruk. Baik. Contoh. Contoh dua nama. Contoh. Contoh alghofur. Al-Ghfur nama Allah. Nama Allah maha pengampun. Artinya apa? Maha pengampun. Dan dalam Al-Qur'an banyak sekali alghfur. Ini adalah nama Allah. Apakah ada makna kemungkinan makna yang buruk? Gak ada. Orang yang memaafkan orang yang ba kalau orang itu baik apalagi Allah yang maha pengampun. Ini pujian kepada Allah. Dia tidak mengandung makna buruk. Ini adalah pujian. Ini adalah indah dan pujian bagi Allah. Sama alqawi al contoh ini ee ini contoh apa yang ee contoh algfur yang berikutnya misalnya yang mengandung nama buruk. Contoh misalnya kita bilang alfa'al yang melakukan alfa'al ya ini tidak disebut nama Allah. Kenapa? Karena yang melakukannya tidak menunjukkan pujian melakukan melakukan apa? Paham? Padahal dalam Al-Qur'an ada firman Allah fa'alul lima yurid. Dalam Al-Qur'an ada nama fa'alul lima yurid. melakukan apa yang tapi kalau sekedar alfa'al yang maha melakukan gak menunjukkan pujian secara tidak khusus menunjukkan pujian pujian dan keindahan karena masih ada melakukan apa? Melakukan banyak perbuatannya bisa baik bisa buruk dan seterusnya ya. Sama dalam Al-Qur'an Allah juga mengatakan punya sifat yurid. Di antara sifat Allah adalah yuridullah yuridu. Tapi tidak kita katakan almurid. Almurid yang maha berkehendak. Enggak juga. Ini juga tidak. Karena yang maha berkehendak tidak ada menunjukkan makna. Beda dengan al-ahad yang maha esa. Terpuji enggak? Terpuji secara secara zatnya langsung terpuji. Attawaf yang maha menerima tobat langsung terpuji. Ya, seperti al-qadir yang maha kuasa langsung terpuji. Enggak terpuji. Ya. Arrahim yang maha penyayang langsung terpuji enggak terpuji. Tapi kalau yang maha berkehendak lah ini apa? Berkehendak apa? Yang maha berbuat maka tidak pantas untuk menjadi nama Allah. Padahal di antara sifat Allah adalah perbuatan. Di antara sifat Allah iradah, kehendak. Paham bedanya? Paham, Ibu-ibu? Harus diulang. Aduh, ini gimana mau ujian kalau begini? Ulang. Saya bilang di antara syarat ketiga untuk menjadi nama Allah, dia harus bersifat alhus al-husna. Al-husna itu bahasa Arab artinya yang terindah. Sehingga harus nama itu menunjukkan langsung keindahan, tidak mengandung kemungkinan makna yang yang buruk. Dan nama-nama Allah rata-rata langsung indah. Contoh alghfur yang maha pengampun. Contoh lagi misalnya Al-Qadir ya, al-qadir. Al-Qadir yang maha kuasa. Terpuji enggak? Terpuji ya. Orang dengar ih ini maha kuasa. Selesai berarti terpuji. Misalnya al-ahad yang maha esa. Terpuji enggak? Terpuji. Allah yang maha disembah terpuji enggak? Terpuji. Ya. Contoh. Alhayyu yang maha hidup terpuji enggak? Terpuji. Jadi nama langsung langsung terpuji. Maha kuasa, Maha Esa, Maha Disembah. Maha hidup misalnya al-alim maha beril maha ilmu. Maha berilmu. Ini contoh nama-nama Allah. Attawab maha menerima taubat. Kita dengar langsung langsung mengandung makna pujian. Tapi kalau almurid maha berkehendak dia tidak memiliki apa? Nilai pujian secara khusus. Kehendak macam-macam. Kehendak ini, kehendak anu, paham? sama alfa'al yang maha melakukan juga tidak menunjukkan keindahan secara langsung secara khusus. Oleh karenanya ee tidak dijadikan sebagai nama Allah Subhanahu wa taala. Sama seperti al-makir ini juga gak bisa. Al-makir maha pembuat makar. Kenapa? Ini juga tidak bisa menjadi nama Allah. Karena Allah hanya dipuji ketika membuat makar kepada pembuat makar. Tidak secara mutlak. Karena Allah dipuji. Karena Allah hanya dipuji jika berbuat makar kepada para pembuat apa? Makar. Buat makar kepada para pembuat makar. Contoh Allah berfirman, "Wamakaru wa makarallah wallah khairul muakirin." Wamakaru wa makarallah wallahu khairul makirin. Mereka berbuat rencana buruk, berbuat makar. Kita ngerti bahasa Indonesia makar, apalagi musim politik. Oh, ini makar. Sudah ngerti. Waru. Mereka berbuat makar. Wamakarallah. Allah juga berbuat makar. Tetapi makar Allah lebih hebat. Wallahu khairul makirin. Tapi kita muji Allah. Allah makarnya terhebat bagi orang-orang yang buat makar. Jadi mereka bikin makar Allah balas dengan makar Allah. Mana yang lebih hebat? Makar mereka atau makar Allah? Makar Allah. Tapi kita enggak mungkin menamakan Allah dengan almakir. Sang pembuat makar. Kesannya jelek. Jadi Allah hanya dipuji ketika Allah membuat makar kepada para pembuat makar. Adapun kalau cuma Allah sang pembuat makar enggak enggak pantas. Maka makir bukan nama Allah. Ini contoh maksud saya nama Allah itu secara zatnya langsung menunjukkan kepada puji pujian. Paham? Masih bingung lagi ibu-ibu? Salah bapak-bapak sudah paham. Ibu-ibu yang jadi masalah. Nama Allah Al-Hakim yang maha bijak. Terpuji enggak? Langsung enggak perlu. Sudah dalam se segala kondisi maha al-Hakim maha terpuji. Ee pasti terpuji. Dalam kondisi pun terpuji. Al-Hakim Maha Bijak. Misalnya Al-Quddus Maha Suci terpuji enggak? Terpuji. Al-Aziz maha perkasa terpuji enggak? Terpuji. Selesai. Tapi kalau Almakir alfaal gak jelas pujiannya tidak langsung secara langsung. Dari sini nama-nama Allah harus ee memberi pujian secara langsung. Ini kaidah pertama bisa kita sarikan bahwasanya untuk menentukan nama Allah harus memenuhi tiga persyaratan. Syarat pertama harus datang dalam Al-Qur'an dan sun sunah. Karena nama-nama Allah yang kasih. Gak boleh kita bikin nama-nama sendiri. Alab, alillatula, alaqil. Enggak boleh. Ee syarat yang kedua bisa digunakan untuk berdo berdoa. Doa ada berapa tadi, Ibu-ibu? Dua. Doalul masalah sama doaul ibadah. Yang ketiga, dia harus maknanya indah secara langsung. Penunjukan keindahan secara langsung. Tidak mengandung makna yang tidak baik atau makna yang buruk. Ini kaidah pertama. Tib. Sekarang kita masuk pada kaidah yang kedua. Kaidah kedua. Nama-nama Allah Jumlah nama Allah tidak terbatas. Jumlah nama Allah tidak terbatas. Jumlah nama Allah tidak ter sebagian orang menyangka nama Allah cuma 99 padahal tidak. Ya. Adapun sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam eh apa namanya? Innalillahi tisatan asman miatan wahidan man asal jannah. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ya Allah punya 99 nama. 100 - S. Siapa yang menguasainya? Menguasainya maka masuk surga. Sebagian orang menyangka 99 ini adalah pembatas. Tidak. Tapi ini adalah bukan bukan batasan. Perhatikan. Bukan batasan, tapi menunjukkan spesial. Tapi menunjukkan spesial. Seperti saya mengatakan, "Saya punya dua anak yang hafal Quran." Apakah berarti anak saya cuma dua? Gak. Mungkin saya punya anak yang lain, tapi yang hafal Quran cuma dua. Dua orang. Selatan, Nabi mengatakan Allah punya 99 nama. Siapa yang mau saya mau surga? Bukan berarti nama cuma 99. Tapi ini 99 nama spesial hendaknya diperhatikan lebih dalam karena sebab masuk surga. Tapi Allah punya nama-nama yang lain. Allah tidak membani untuk seluruh nama. Tapi Allah khususkan 99-9 ini yang mungkin sangat berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari. Padahal nama Allah lebih banyak daripada itu. Ya, paham ini maksudnya ya. Jadi ee bukan batasan tapi menunjukkan spesial sehingga penting untuk dipahami untuk dipahami dihayati dan diamalkan dan diamal dihayati dan diamalkan. Bisa jadi 599 ini makna yang paling global, yang paling makna yang paling dalam atau yang digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bisa jadi ini nama-nama yang paling penting, nama-nama yang sangat urgen atau sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Penting dalam kehidupan sehari-hari. kehidupan di dunia sehari-hari. Adapun dalil bahwasanya nama Allah lebih daripada 99 banyak ya. Pertama dalil-dalilnya tiga dalil. Dalil-dalilnya pertama dalam hadis doa penolak kesedihan. Dalam doa penolak kesedihan kata nabi tadi, asaluka bikul. Kata Nabi, "Aku mohon kepada engkau dengan semua namamu. Samaita bihi nafsak yang engkau menamakan dirimu dengan nama-nama tersebut." Azaltahu fi kitabik. Atau nama-nama tersebut yang nama-nama tersebut kau turunkan di Al-Qur'an. Aamtahu ahadan min khalqik. Dan ada nama-nama yang kau ajarkan kepada nabimu. Jadi nama-nama di Al-Qur'an ada di sunah. Paham? Ada ahi indak atau kau sembunyikan dalam ilmu gaibmu. Nabi mengatakan nama-nama Allah itu ada ada yang di Al-Qur'an. Anzalta fi kitabik yang di Al-Qur'an. Kemudian kata kata kata Nabi lagi, "Awam a min khq atau kau ajarkan kepada seorang dari hambamu yaitu yang lewat Nabi yang Nabi diajarkan." Berarti dalam hadis kan Nabi diajarkan berarti dalam apa? Dalam hadis. Kemudian kata kata kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ata bihi ilmibak, nama-nama yang kau simpan dalam ilmu gaibmu yang kau engkau simpan dalam ilmu gaibmu yang engkau simpan dalam ilmu gaibmu." Nah, inilah yang menjadikan bahwasanya nama-nama Allah itu ada yang tidak Nabi tidak tahu dan bukan di Al-Qur'an. Berarti ada nama yang bukan di Al-Qur'an dan Nabi juga tidak tahu. Berarti nama Allah tidak terbatas. Yang di Al-Qur'an hadis ada nama-nama yang Allah simpan. Yang Allah simpan berarti bukan di Al-Qur'an, bukan juga di hadis. Paham, Ibu-ibu? Paham? Dan ini dalil yang pertama. Dalil yang kedua. Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika ee bercerita tentang syafaatul uzma ketika nanti di hari kiamat Nabi diajari nama-nama baru. Ajari nama-nama baru. Jadi kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dia cerita Rasulull sahu alaihi wasallam cerita nanti hari kiamat ketika syafaatul uzma ketika orang-orang minta syafaat kepada Nabi Adam, Nabi Adam menolak kepada Nabi Nuh. Nabi Nuh menolak kepada Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim menolak kepada Nabi Musa, Nabi Musa menolak, Nabi Isa, Nabi Isa menolak sampai kepada Nabi Muhammad. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Tumma yaftahullahu alaiya." Kemudian Allah ajarkan kepadaku min mahamidihi tentang pujian-pujian kepada Allah wusnana alaihi dan sanjungan kepada Allah. Saian lam yaftahu ala ahadin qobli yang Allah tidak pernah ajarkan kepada seorang sebelumku. Jadi Nabi baru tahu dalam riwayat yang lain kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "La uhsinahan sekarang saya belum tahu. Nanti hari kiamat Nabi diajari nama-nama baru. Berarti Nabi sekarang gak tahu." Ini dalil bahwasanya Nabi belum menguasai seluruh nama Allah. Karena ada nama Allah yang baru Nabi ajar, Allah ajarkan ketika hari kia kiamat. Paham ibu-ibu? Sisi pendalilannya. Berarti nama Allah tidak terbatas pada Al-Qur'an dan sunah saja. Demikian juga dalam hadis yang dalil yang ketiga. Ketika salat malam, Nabi berdoa, "La uhsianaan alik anta kama asnit nafsik." Kata Nabi, "La uhsi uhsi sana alaik anta kama asnaita ala nafsik." Yang maknanya, "Ya Allah, aku tidak mampu menguasai seluruh pujian kepadamu." Perhatikan. Aku tidak mampu menguasai seluruh pujian bagimu. Aku tidak mampu menguasai seluruh pujian bagimu. Engkau sebagaimana engkau yang memujimu. Yang bisa menguasai hanyalah engkau. Anta kama asnaita ala nafsik. Artinya yang menguasai cuma dirimu sen sendiri. Berarti Nabi tidak bisa. Kalau Nabi menguasai seluruh nama Allah, Allah Nabi akan bisa memuji Allah dengan seluruh nama-namanya. Tetapi ternyata Nabi tidak mampu menguasai seluruh pujian kepada Allah Subhanahu wa taala. Paham, Ibu-ibu? Anta kama asnaita ala nafsik, yaitu engkau yang bisa memuji dirimu sendiri. Anta kama asnaita ala nafsik. Maknanya engkau yang bisa memuji dirimu sendiri. Berarti ada nama-nama Allah yang kita tidak yang Nabi tidak kua kuasai. Ini ada mobil Honda B2490 SMA. Boleh minta kuncinya parkir depan pagar orang. Honda B2490. tolong kasih HB. Kemudian dalil yang keempat, Ibu-ibu yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala, bahwasanya nama Allah bukan cuma 99. Dalil yang keempat ternyata setelah dikumpul, ternyata setelah dicek ada 150 nama dalam Al-Qur'an maupun sunah. 150 dalam Al-Qur'an ada 100 150 na nama. Kurang lebih 150 nama menunjukkan lebih daripada 99 nama. Paham, Ibu-ibu? Ternyata setelah dicek dalam Al-Qur'an dan sunah ada berapa? 196 nama. Ini sudah 150 nama. Jadi bukan cuma 99. Setelah dicek Al-Qur'an dan sunah, dicek, dikumpulin ternyata ada 150 nama. Ini yang ada aja 150 nama. Bagaimana lagi yang Allah simpan dalam ilmu gaibnya? 150 nama dalam Quran dan hadis. Ya, dalam Al-Qur'an dan hadis. Dan hadis 150 nama. Kurang lebih 150 nama dalam Al-Qur'an dan hadis. Sehingga menunjukkan bahwasanya nama Allah bukan cuma 99. Nah, 99 itu cuma nama spesial. Dari situ khilaf di antara 150 nama ini mana yang 99 khilaf di kalangan para ulama? Mereka sepakat pada 89, mereka khilaf pada 10. Jadi di 50 ini siapa mana nama-nama yang dipilih untuk menjadi 99 nama yang hendaknya diberi perhatian lebih spesifik? Yang hendaknya diberi perhatian lebih spesifik ternyata mereka sepakat pada berapa? 89. Dari 90 dan 89. Sepakat semua ulama inilah termasuk 99 nama. Adapun 10nya ada khilaf di kalangan mereka tetapi mereka berusaha mencari 99 nama terut. Intinya ee nama Allah lebih daripada 99. Ini agar apa faedahnya kita membahas ini? Agar kita tahu bahwasanya Allah itu maha indah lebih daripada yang kita bayangkan. Yang kita tahu namanya saja 150 ini sudah luar biasa sifat-sifat Allah. Ternyata sifat-sifat Allah lebih daripada itu. Itu faedahnya. Faedahnya apa? Agar kita tahu kita tidak mampu untuk memuji Allah. Bahwasanya Tuhan kita tuh jauh lebih indah daripada tidak bisa sampai akal kita. Sedangkan yang 99 nama atau 150 nama yang kita pelajari saja sudah menunjukkan bagaimana indahnya Allah. Bagaimana lagi yang lebih yang tidak kita keta ketahui? Paham, Ikhwan? Ikhwan paham terus akhwat, Ibu-ibu paham enggak? Insyaallah ya lihat aja nanti ujiannya. Tayib. Kalau sudah kita lanjutkan kaidah berikutnya. Perlu diketahui ada hadis disebutkan gini. Walillahi eh apa? Lillahi tisatunasman. Allah punya 99 nama. Man ah jannah. Siapa yang menguasainya masuk surga yaitu disebutkan 99 tapi itu hadisnya ma diif. Semua hadis yang menunjukkan 99 nama itu hadisnya diif. yang sahih cuma sampai pada lafal Allah punya 99 nama yang yang khusus, spesial. Adapun perinciannya semua datang dalam sanad yang lemah. Makanya para ulama khilaf tentang 99 nama tersebut. Tapi mereka sepakat pada angka berapa? 89. Tib. Paham sampai sini, Ibu-ibu. Kita masuk pada kaidah ketiga atau saya jelaskan tadi saya ulangi. Jadi nama Allah kita tegaskan aja biar biar masuk ujian. Nama Allah dalam Al-Qur'an dan Asunah kurang lebih berapa tadi? 150 nama. Dari 150 nama dicari berapa? 99 apa nama spesial? Para ulama sepakat pada 89. Para ulama sepakat pada 89 nama. Adapun penentuan 10-nya ada khilaf. Adapun penentuan 10 sisanya 10 sisanya ada perselisihan. Paham? Sampai sini, Ibu-ibu. Tib kita lanjut. Kaidah ke berapa sekarang? Ketiga. Kaidah ketiga. Setiap nama pasti mengandung sifat. Setiap nama pasti mengandung sifat. Karena Allah tidak memiliki nama tersebut kecuali mengandung sifat. Misalnya arrahim, nama Allah Maha Penyayang. Berarti Allah punya sifat r rahmat. Pasti Allah punya sifat rat ya. Sifat dan nama-nama Allah. Jadi misalnya misalnya arrahim. Arrahim ini ini apa namanya? Maha apa? Maha penya penyayang. Berarti Allah mengandung sifat rah rahmat. Sifat arrah arrahmat. Sifat sayang. Sifat sayang. Karena Allah tidak dikatakan maha penyayang kecuali memiliki sifat menya menyayang. Ini sudah jelas. Berarti setiap nama pasti mengandung apa? si sifat. Dari sini di antara bantahan orang yang mengatakan sifat Allah cuma tujuh misalnya atau delapan. Kita bilang nama Allah banyak. Gimana dibatasi nama Allah? Sifat Allah cuma tu tujuh. Padahal setiap nama pasti mengandung si sifat. Enggak mungkin sifat Allah cuma tuuh. Sifat Allah banyak. Semakin banyak sifat Allah semakin terpuji. Enggak. Seb mereka hanya membatasi nama Allah. Cuma sifat Allah cuma berapa? Tujuh. Yaitu alilmu, alqudrah, al-iradah, alhayat, assama wal bashar wal kalam. Mereka bilang sifat Allah cuma tujuh. Ilmu, kekuasaan atau kudrah, iradah, kehendak, kehidupan, maha hidup. Terus mendengar, melihat, berbicara cuma tujuh. Ada tambah satu idrak, yaitu menguasai. Yang benar nama Allah. Setiap nama Allah mengandung apa si? S si sifat. Karena nama Allah sangat banyak bahkan lebih daripada yang kita ketahui, maka sifat-sifat Allah sangat banyak. Sifat kesempurnaan. Setiap sifat pasti sem sempurna. mengandung sifat yang sifat tersebut sempurna. Sempurna. Makanya dalam terjemahan kita tambah maha. Karenanya, karenanya dalam terjemahan kita tambah maha untuk membedakan kita tambah maha untuk membedakan dengan sifat makhluk. Untuk membedakan sifat makhluk. Contoh dalam Al-Qur'an, sifat mendengar dan melihat bagi makhluk dan sifat mendengar dan melihat bagi manusia. Sifat contoh ini ayat di sinilah contoh sifat mendengar. Mendengar dan melihat. Pertama bagi Allah dalam Al-Qur'an ya. Yang kedua bagi makhluk. Kata Allah Subhanahu wa taala dalam Al-Qur'an ee inna khalaqnal insana min nutfatin amsyajin nabtalihi faja'alnahu samian basir. Kata Allah Subhanahu wa taala di sini, "Faja'alnahu samian basir." Perhatikan. Kata Allah, "Kami jadikan manusia tersebut mendengar dan melihat. Kami jadikan jadikan manusia tersebut mendengar dan melihat. Mendengar dan melihat. Berarti manusia bisa mendengar, bisa melihat, enggak? Bisa. Ternyata Allah ini yang saya carikan ayatnya dalam surah Al-Insan surah 76 ayat 2. Ini Quran surah Al-Insan surah 76 ayat 2. Nah, Allah juga sebutkan dalam Al-Qur'an tentang Allah. Bagi Allah ayatnya sama samian basiron. Kata Allah subhanahu wa taala, waallahu samian basir. Perhatikan. Wakallahu samian basirah. Surat Annisa ayat 58. Ee 134 Quran surah An-Nisa 4 134. Lihat juga dalam surat ayat 58 sama samian basira. Innallaha kana samian basira. Wakallah samian basira. Allah sesungguhnya Allah itu apa? Mendengar dan apa? Dan melihat. Berarti sama dong dengan manusia. Benar. Maknanya sama. Tetapi kita untuk bedakan kita tambah sini maha. Karena meskipun Allah mendengar dan melihat seperti manusia, tapi dua hal yang berbeda. Perhatikan sini contoh untuk membedakan ya. Ee misalnya melihat melihat Allah makhluk. Bedanya apa? Kalau makhluk penglihatannya terbatas. terbatas. Allah tanpa ba tanpa batas. Makhluk terbatas banyak. Kalau enggak ada cahaya enggak bisa lihat. Kalau di balik tembok enggak bisa lihat. Terlalu kecil enggak bisa lihat. Terlalu jauh enggak bisa lihat. Nempel di mata juga enggak bisa lihat. Terbatas. Kemudian juga didahului dari tidak bisa lihat. Didahului dari tidak bisa lihat. Bayi tidak langsung bisa apa? Lihat. Kemudian nantinya melemah. Melemah. Lama-lama pakai kacamata lama-lama silinder lihat istrinya jadi dua. Iya. Enggak silinder bisa lihat dua enggak? Jadi jadi dua. Sudah dua tadi. Tahu-tahu jadi dua kamu. Kenapa? Mata melemah. Melemah. Jadi sama-sama melihat tetapi melihat Allah berbeda. Mendengar juga demikian ya. Berbeda. Ini contoh tentang melihat. Melihat Allah. Melihat makhluk sama-sama maknanya. Jadi, setiap sifat pasti setiap nama pasti mengandung apa? Sifat. Dan setiap sifat pasti sempur sempurna. Makanya kita tambah maha. Apa faedahnya kita tahu kaidah ketiga ini? Bahwasanya kita tahu sifat Allah sangat ba banyak. Faedah karena nama Allah tidak terbatas 99 tidak terbatas. 99 berarti juga demikian juga sifat Al Paham enggak? Demikian juga sifat Allah. Sifat-sifat Allah. Kemudian semakin banyak sifat Allah semakin terpuji. Enggak sifat Allah semakin agung. Satu aja sudah bikin agung apalagi ba. Ini faedahnya. ini faedahnya paham kita lanjut ya. Kita lanjut kaidah ke berapa? Kaidah keempat. Kaidah keempat. Empat. Nama Allah. Nama-nama Allah. Asma al-asma alhusna. Alasmaul husna itu ee a'lamun wa ausf ya. Sebagai fungsinya sebagai nama. Sebagai nama disebut dengan a'lamun. a'lamun dan fungsinya sebagai penunjuk sifat dan ausfungsinya sebagai penunjuk sifat. Sebagai penunjuk sifat sudah kita bahas tadi kan setiap nama mengandung apa? Baik. Maka jika ditinjau dari jika ditinjau dari nama berdasarkan tinjauan ini, tinjauan sebagai nama, sebagai nama-nama, maka semua nama menunjukkan kepada Al. Maka maka semua nama menunjukkan pada satu zat. Semua nama menunjukkan pada satu zat. Siapa? Kepada satu zat yaitu Allah. Makanya disebut dengan ee asma Allah. Kalau ditinjau dari al' alam dia mutaradifah. Disebut istilahnya mutaradifah. Mutaradifah itu bahasa Arab artinya sinonim. Sinonim. maknanya sama. Saya contoh contoh ya. Allahu dengan alghofur eh enggak usah gitu. Ee alghofur sama dengan attawab, maha pemberi taubat sama dengan alqawi sama dengan apaagi misalnya arrahim. Karena semuanya sama dengan Al Allah. Paham? Jadi kalau ditinjau dari nama tidak ada bedanya. Al-Ghafur, At-Tawab semuanya menunjukkan kepada siapa? Allah. Ini namanya berarti semua nama sinonim. Sinonim di ditinjauan sebagai fungsinya sebagai na nama. Karena kita bilang arrahim bukan bukan zat yang lain ya arrahim ya alghfur semuanya maksudnya adalah Al Allah. Maka ditinjau dari penamaan semua nama Allah sinonim. Paham? Ini kaidah ini kenapa? Untuk bantah orang-orang Muktazilah. Adapun fungsinya sebagai penunjuk sifat, maka ditinjau berdasarkan tinjauan ini. Tunjaka nama Allah satu berbeda dengan yang lainnya. Setiap nama Allah berbeda dengan nama yang lain. Kenapa berbeda dengan nama yang lain? Karena sifatnya beda-beda. Paham? yang lain. Paham, Ibu-ibu? Maka kita bilang algfur tidak sama dengan attawaf. Tidak. Attawaf juga tidak sama dengan alqawi. Alqawi juga tidak sama dengan ar rahim. Kenapa tidak sama? Karena alghfur mengandung makna almagfirah. Sifat apa? Almagfirah. Attawab maksudnya qabulut taubah. Qobulut taubah. Menerima taubat. Alqawi mengandung sifat apa? Alquwat. Kekuatan. Arrahim mengandung sifat arrahmat. Dan almagfirah tidak sama dengan menerima tobat, tidak sama dengan kekuatan, tidak sama dengan kasih sayang. Beda dengan ini. Kalau ini sama semua. Yang sebelah kiri ini sama semua karena menunjukkan kepada zat yang sama yaitu siapa? Al. Adapun yang ini beda semua karena setiap nama mengandung sifat yang ber berbeda. Paham? Adapun Muktazilah mereka mengatakan setiap nama Allah tidak mengandung sifat. Muktazilah mengatakan setiap nama Allah tidak mengandung sifat. Makanya setiap nama Allah semuanya sama. Sama-sama kepada Allah tidak ada mengandung sifat. Nah, kita bantah dengan kaidah yang ini bahwasanya jika ditinju dari sifat nama Allah berbeda satu dengan yang yang lainnya. Sudah, Ibu-ibu kayaknya sudah ya. Nanti ujian semakin berat. Bapak-bapak sih kuat aja Ibu-ibu yang belum tentu kuat. Yang penting paham dulu ya. Kalau Muktazilah, perhatikan faedah Muktazilah. Faidah Muktazilah menolak sifat Allah. Kenapa? Maksudnya panjang Muktazilah menolak sifat-sifat Allah. Sehingga mereka berkata sehingga menurut mereka nama Allah semuanya sinonim. Semuanya sinonim karena kosong dari si sifat. Karena kosong dari sifat. Jadi nama Allah hanya sekedar nama karena tidak mengandung sifat. Ya arrahim ya gfur sama saja semuanya Allah. Adapun kalau ahlusunah nak tinjauan apa dulu? Kalau tinjauan nama sinonim, tapi kalau tinjauan sifat berbeda satu nama dengan nama yang yang lainnya. Demikian saja ibu yang dirahmati Allah subhanahu wa taala kajian kita. Insyaallah kita bertemu di pengajian berikutnya dan biasa ujian dulu ya. Bab demikian saja. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.