Transcript
iOJeJ3HnsTg • Kitab Riyadush Shalihin #2-76: Al-Uzlah (Menyendiri)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2403_iOJeJ3HnsTg.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillahi al ihsani wasukrhu ala
taufikihin ashadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahuim lani wa asadu
anna muhammadan abduhu wa rasuluh da
ridwan allahumma sholli alaihi waa alihi
wa ashabihi wa
ikhwani. Hadirin hadirat yang dirahmati
Allah subhanahu wa taala. Kita lanjutkan
bahasan kita bab berikutnya.
Babustihbabil uzlah a fasadinas
wazzaman awil khauf min fitnatin
fiddin wa waqin fi haramin wa syubhatin
waahwiha. Bab kata al Imam Nawawi
rahimahullahu taala, bab di disukai atau
disunahkan untuk menyendiri, yaitu
menyendiri, menjauh dari masyarakat,
menyendiri. Inda fasadinas ketika
kondisi masyarakat dalam kondisi rusak,
yaitu kemaksiatan di mana-mana. Wazzaman
ya kondisi zaman sudah ya buruk di mana
banyak pelaku maksiat ya. atau karena
takut terjatuh dalam fitnah ya yang bisa
mempengaruhi agamanya atau takut
terjerumus dalam perkara yang haram atau
takut terjerumus dalam perkara-perkara
yang syubhat dan yang
semisalnya. Ee al Imam rahimahullahu
taala ya membahas tentang bab tentang
al-uzlah yaitu menyendiri ya.
Dan dalam datang dalam hadis yang lain
Rasulullah menjelaskan tentang keutamaan
berbaur dengan masyarakat. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Almukmin
alladzi
yukunasbir alaahum khairun minal mukmin
alladzi yukunas w ybir alaahum."
Seorang mukmin yang berbaur dengan
masyarakat dan bersabar dengan gangguan
mereka lebih afdal, lebih baik daripada
seorang mukmin yang tidak bergaul dengan
masyarakat dan tidak sabar dengan
gangguan mereka. Maka di sini ada dua
hadis yang hadis-hadis yang terkait
dengan keutamaan berbaur dengan
masyarakat dan hadis-hadis yang menjelas
keutamaan untuk menyendiri, menjauh dari
masyarakat. Bagaimana kita
mengkompromikan?
Maka para ulama mengatakan bahwasanya ee
kembali
kepada masing-masing orang dan juga
kembali kepada situasi dan kondisi ya.
Bagi siapa yang mampu untuk memberi
manfaat kepada masyarakat ya maka
tentunya dianjurkan dia berbaur untuk
beramal-amal nahi mungkar, menyeruh
masyarakat kepada kebaikan, melarang
mereka dari kemungkaran ya selama dia
bisa menjaga dirinya.
Tetapi seorang yang tidak mau menjaga
dirinya kalau dia berbor dengan
masyarakat dia terjerumus ikut-ikutan
baik perkara haram, perkara syubhat atau
terjerumus dalam syubhat atau syahwat,
maka orang seperti ini mending menjauh
dari
masyarakat. Maka seorang mengukur
dirinya masing-masing ya sejauh mana dia
ee apa yang dia lakukan. Jika dia
ternyata berbaur, dia semakin jauh dari
Allah Subhanahu wa taala, maka untuk dia
dianjurkan dia menjauh. Tapi ketika dia
berbaur dengan masyarakat, ternyata dia
semakin bisa bermanfaat bagi masyarakat.
Dan Rasul sahu alaihi wasallam bersabda,
"Kirukum anfaukum linas." Sebaik-baik
kalian yang paling bermanfaat bagi orang
lain, bagi masyarakat. Maka hendaknya
dia bertahan dan bersabar dengan
gangguan masyarakat. Karena dakwah tentu
butuh kesabaran. Ya, dakwah butuh
kesabaran. Menyampaikan kebenaran butuh
kesabaran. Mengingatkan orang dari
keburukan juga butuh kesabaran. Karena
menghalangi manusia dari mengikuti hawa
nafsunya tentu manusia akan marah. Kita
bilang haram-haram orang tentu akan
marah. Maka
bersabar tayib.
Ee oleh karenanya di sini al Imam Nawawi
rahimahullahu taala ketika menyatakan
dianjurkan untuk menjauh, dia sebutkan
kondisi kondisi di mana seorang
dianjurkan untuk menjauh. inda fasadinas
ketika orang sudah rusak, sudah rusak
kita bergaul sini salah, bergaul itu
salah, ya mau dikasih nasihat pun tidak
menerima karena sudah rusak ya zaman di
situ terjadi banyak
kerusakan ya atau dia khawatir terjemus
dalam fitnah ya artinya dia tidak bisa
menjaga diri dia saya kalau ke situ saya
pasti terjerumus ya entah
serempet-serempet syubhat atau
terjerumus dalam perkara yang haram maka
dalam kondisi demikian di dianjurkan dia
untuk menjawab
jauh. Tujuannya apa, Ikhwan? Kenapa dia
menjauh? Supaya dia bisa beribadah
kepada Allah. Karena asal kita
diciptakan adalah untuk beribadah. Allah
Subhanahu wa taala berfirman, "Wa
khalaqtul jinna wal insa illa
liya'budun." Tidak ada ciptakan jin dan
manusia kecuali untuk beribadah.
Seharusnya seluruh perbuatan kita,
aktivitas kita seharusnya seluruhnya
untuk ibadah dan menjauh dari
kemaksiatan. Itu seharusnya ya
seharusnya demikian. Maka kalau ternyata
ada kondisi yang buat kita terhalang
daripada ibadah, malah justru membuat
terjurmus dalam maksiat, harusnya kita
menjauhi kondisi
tersebut. Dari situlah kenapa
disyaratkan hijrah? Kenapa para sahabat
disuruh berhijrah dari Makkah menuju
Madinah? Karena mereka sudah tidak bisa
lagi beribadah di Makkah. Kalau mereka
beribadah di Makkah, mereka disiksa,
mereka dilarang untuk ke Masjidil Haram.
Ya, sebagian mereka dibunuh, harta
mereka diambil, maka Allah suruh mereka
berhijrah. Ya, yajid fil ardhi
muragaman. Saah. Siapa yang hijrah dia
akan mendapati bumi ini luas ya.
Kemudian akan ada rezeki tempat lain.
Ya. Jangan maksakan diri untuk bertahan
di situ sehingga tidak bisa beribadah
kepada Allah subhanahu wa taala. Harus
pergi karena tujuan kau diciptakan oleh
Allah adalah agar engkau bisa beribadah
kepada Allah, menjauhi maksiat. Di
sinilah sisi kenapa dianjurkan untuk
uzlah menyendiri agar dia selamat,
agamanya selamat agar dia bisa beribadah
kepada Allah subhanahu wa taala. Al Imam
Nawawi rahimahullah seperti kebiasaan
beliau
membawakan dalil dari Al-Qur'an maupun
dari sunah. Yang pertama beliau bawakan
dalil dari surat Azzariyat ayat
50. Kata Allah Subhanahu wa taala,
"Fafirru ilallah inni lakum minhu
nadirum mubin." Ya, larilah kalian
menuju Allah subhanahu wa taala.
Sesungguhnya aku adalah pemberi
peringatan yang nyata bagi kalian. Ya,
di sini
ee Allah
menyuruh larilah menuju Allah Subhanahu
wa
taala. Apa kata Syekh S'di rahimahullahu
taala? Beliau menafsirkan ayat ini. Apa
makna alfirar ilaih? Larilah menuju
Allah. Kata beliau, "Alfirar mimma
yakrahuhullah zahiron batinan." Yaitu
kabur dari apa yang dibenci oleh Allah,
baik perkara zahir maupun perkara
batin.Allah.
Larilah menuju yang perkara yang
dicintai oleh Allah, zahir maupun
batin. Contohnya, firaru minal jah ilal
ilm. Larilah kalian meninggalkan
kejahilan menuju ilmu. Waminal kufri
ilal iman. Kaburlah kalian dari
kekufuran menuju keimanan. Waminal
maksihah thaah. Kaburlah kalian
meninggalkan maksiat. Larilah menuju
ketaatan. Waminal
gflahikrillah. Dari kelalaian menuju
berzikir kepada Allah Subhanahu wa
taala.
umur
faqahu. Siapa yang menyempurnakan ini
semua, dia meninggalkan kejahilan,
menuju kepada ilmu, meninggalkan
keharaman, menunjukkan kepada ketaatan,
meninggalkan maksiat kepada ketaatan,
meninggalkan kelalaian menuju pada
zikrullah, maka dia telah
menyempurnakan
agamanya.
Ya. Jadi ini maksudnya lari menuju Allah
subhanahu wa taala. Intinya meninggalkan
perkara-perkara yang dibenci oleh Allah.
itu di antaranya meninggalkan maksiat,
meninggalkan syubhat, meninggalkan
syahwat, ya meninggalkan perkara-perkara
yang
haram. Dan di antara cara untuk lari
menuju Allah, zahir dari ayat ini, Imam
Nawawi bawakan adalah dengan beruzlah.
Tatkala kau tinggal suatu daerah, kau
tidak bisa terlepas dari maksiat di
situ, maka tinggalkan. Kalau perlu
berhijrah,
hijrah. Ya, daripada kau terjebak di
situ, terjemus itu tidak ada alasan.
bilang saya bagaimana darurat ee
terpaksa enggak ada terpaksa bumi Allah
luas ya alam takun ardullahi wasiah
fatuhajiru fiha
bukankah ee bukankah bumi Allah luas ya
kau bisa berhijrah kepadanya ya cari
rezeki tempat lain saya pernah ditanya
ada orang kerja
di apa namanya negeri Pansam
ya tanya ustaz saya kerja di sini ustaz
saya tidak bisa salat Jumat Karena saya
terpaksa Nab karena saya sekolah
Jumatjat saya akan diberhentikan. Apa
yang harus saya lakukan? Saya bilang,
"Berhenti. Emang enggak ada kerjaan
lain? Emang kalau kau tidak kerja di
situ kau mati?" Ya saya bilang,
"Berhenti."
Ngapain? Ya hidup kita hidupnya untuk
beribadah ya. Malah kita meninggalkan ya
perintah Allah ya. Hanya karena sesuap
emas atau suap nasi ya. Kemudian mati
repot ya.
Oleh karenanya kalau memang tidak ada
cara lain untuk firar ilallah menuju a
yang dicintai Allah kecuali dengan uzlah
meninggalkan ee pergaulan, berbaur, maka
tinggalkan ya. Maka
tinggalkan tentunya ini berbeda situasi
dan kondisi ya. Berbeda juga antara satu
orang dengan yang lain sebagaimana kita
jelaskan di awal ya. Ada orang bisa
bertahan melakukan perbaikan, ada orang
tidak bisa bertahan malah rusak,
ikut-ikutan rusak. Bagi yang tidak bisa
bertahan malah ikut-ikutan rusak, maka
wajib bagi dia untuk menjauh. Menjauh
meninggalkan berbaur dengan masyarakat
yang
rusak. Kemudian Imam Nawi rahimahullah
membawakan beberapa dalil. Di antaranya
ee dari Saad bin Abi Waqqas radhiallahu
anhu, salah seorang sahabat yang dia
masuk surga. Beliau berkata, "Samiu
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
yaqul." Aku mendengar Rasul wasallam
bersabda, "Innallaha yuhibbulqial
ganialfiya." Rawahu Muslim. Sesungguhnya
Allah mencintai seorang hamba yang
bertakwa yang ghani, yaitu yang kaya
hati dan khafi, yang itu yang ee tidak
tampil menyembunyikan dirinya.
Kalau kita perhatikan hadis ini,
diriwayatkan ketika Saad bin Abi Waqqas
menjauh dari masyarakat kemudian dia
mengurus ternak-ternaknya, maka
datanglah anaknya Umar bin Sa'ad bin Abi
Waqqas. Kemudian dia berkata, "Apa yang
kau lakukan di sini? Sementara orang
sedang rebut-rebutan kekuasaan, ya
sementara kau sibuk ngurusin apa
ternak-ternakmu." Maka dia menyebutkan
hadis ini. Dia mengatakan, "Aku
mendengar Rasulull Sallahu Alaihi
Wasallam
bersabda, dan ini orang yang dijamin
masuk apa?" surga di antara 10 sa surga
dengan Saad bin Abi Waqqas ya. Maka dia
berkata, "Aku mendengar Rasul sahu
alaihi wasallam bersabda, "Innallaha
yuhibbu." Sesungguhnya Allah mencintai
alabda seorang hamba. Attaqi yang
bertakwa, alghani yang berkecukupan,
alkhafi yang tidak tampil itu
menyembunyikan dirinya. Maka dia
terapkan hadis ini sesuai dengan dia
pahami, dia menjauh dari orang-orang
yang sedang terjerumus dalam fitnah,
rebut-rebut kekuasaan, saling
bunuh-bunuhan, maka dia menjauh.
Tib. Hadis ini ee menunjukkan tentang
sifat Allah mencintai. Allah mencintai.
Di antara sifat yang mulia yang dimiliki
oleh Allah adalah sifat mencintai. Allah
mencintai dan Allah dicintai. Allah
mengatakan, "Fasaufa yatillahu biquin
yuhibbuhum wa yuhibbunah." Allah akan
mendatangkan suatu kaum yang Allah
mencintai mereka dan mereka juga
mencintai Allah subhanahu wa taala.
Demikian juga ketika Rasulullah ingin
memberikan bendera peperangan kepada Ali
bin Abi Thalib, Rasul sahu alaihi
wasallam
mengatakan eh
apaan rajulan yuhibbullahaasulahu wa
yuhibbullahu waasuluhu. Besok aku akan
berikan bendera peperangan kepada
seorang lelaki yang dia mencintai Allah
dan rasulnya dan Allah dan rasulnya juga
mencintainya.
Maka di antara sifat mulia Allah adalah
Allah bisa mencintai dan Allah bisa di
dicintai. Ini salah satu sifat yang
ditolak oleh Asyairah. Orang Asyairah
mengatakan tidak ada sifat mencintai.
Kalau cinta maksudnya ditafsirkan dengan
menghendaki iradah. Namun ahlusunah
menetapkan sifat mencintai. Cinta beda
dengan sekedar berkehendak. Iradah. Kata
mereka kalau cinta maksudnya iradatus
sawab. Ingin kebaikan atau ingin apa?
Ingin apa gak. Cinta beda dengan sekedar
apa? Iradah. Dan ketika seorang hamba
mengetahui Allah bisa mencintai, maka
dia berusaha untuk melakukan
perkara-perkara agar bisa dicintai oleh
oleh Allah Subhanahu wa taala. Contoh
seperti dalam hadis qudsi kata Allah
subhanahu wa taala, "Wa yazal
abdiqbuwafilta uhibbahu." Senantiasa
hambaku melakukan perkara-perkara sunah
setelah perkara-perkara wajib dia banyak
melakukan perkara sunah. Hatta uhibbahu
sampai aku pun mencintainya. Faid
ahbabtu kuntuah yasma bihi wubsiru bihi.
alaiha. Ya, kalau aku sudah
mencintainya, aku menjadi
pendengarannya, penglihatannya,
tangannya, kakinya, maksudnya itu Allah
akan membimbingnya. Bahkan dalam
sebagian
riwayat, aku menjadi lisan yang dia
berbicara dengannya. Waqbah yailu bihi,
aku menjadi hatinya, qbunya yang dia
berpikir dengan qbunya tersebut. Orang
kalau sudah dicintai oleh Allah
subhanahu wa taala, dia dibimbing oleh
Allah subhanahu wa taala. Dia tidak
sembarang melihat, tidak sembarang
mendengar, tidak sembarang melangkahkan
kaki, tidak sembarang berpikir, tidak
sembarang berbicara karena diberi
bimbingan oleh Allah Subhanahu wa taala.
Caranya bagaimana? Itu dicintai oleh
Allah subhanahu wa taala. Merekalah yang
disebut dengan wali-wali Allah subhanahu
wa
taala. Di sini ketika Nabi mengatakan
innallaha yuhib. Sesungguhnya Allah
mencintai. Mencintai siapa? Al abdatqi.
Hamba yang bertakwa. Ya, hamba yang
bertakwa. Takwa maksudnya melakukan
ketaatan meninggalkan kema kemaksiatan.
Takwa melakukan ketaatan meninggalkan
maksiat. Ya. Dan kelaziman dari usaha
bisa melakukan ketaatan maksiat menjauhi
lokasi-lokasi yang buat kita bisa
terjerumus dalam maksiat. Menjauhi
teman-teman yang bisa menggiring kita
kepada maksiat. Menjauhkan diri dari
pekerjaan-pekerjaan yang bisa
menjeburkan kita dalam kubangan
kemaksiatan. Konsekuensi takwa. Maka
menjauh dari itu semua.
Innallaha yuhibbul
abdqi. Yang bertakwa melakukan kebajikan
dan meninggalkan kemaksiatan. Alghani
yang kaya maka dua tafsiran. Tafsiran
pertama maksudnya gina nafs yaitu dia
merasa qanaah. Sebagaimana sabda Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Laisal
ginail ard wakinal gina gina nafs."
Bukanlah kaya dengan kayanya harta,
tetapi kaya maksudnya adalah kaya hati,
yaitu merasa cukup. harta seberapaapun
dia merasa cukup. Jadi Allah mencintai
orang yang qanaah. Tafsiran pertama.
Tafsiran kedua, Al-Ghani yaitu dia tidak
membutuhkan orang lain. Dia menjalankan
kehidupannya tanpa menggantungkan
hatinya kepada orang lain sehingga dia
punya penghasilan sendiri, punya ee
kemampuan untuk ee berdiri sendiri ya,
tidak butuh kepada orang orang lain.
Orang semakin seperti ini semakin
dicintai oleh Allah Subhanahu wa taala
sehingga hatinya tidak tergantung
kepada ee orang lain. Ya, ini tafsiran
kedua ya. dia punya harta cukup buat
dia, buat keluarganya sehingga dia tidak
minta-minta kepada orang lain. Ya, maka
ini ee dicintai oleh Allah subhanahu wa
taala. Kemudian yang menjadi perhatian
adalah alkfi. Alkfi yaitu seorang yang
tidak suka tampil, menyendiri, menjauh.
Ini dipahami oleh Saad bin Abi Waqqas.
Lafal Nabi Alkfi, yaitu yang
menyembunyikan dirinya harus
uzlah, menjauh dari masyarakat sehingga
anaknya pun harus cari. dia harus cari
cari
dia ee tentunya dia ngurus ternaknya.
Ngurus ternaknya berarti dia ya
berkecukupan untuk makan dan minumnya
dengan ngurus apa ternaknya. Tapi dia
menjawab hal-hal yang bisa membuat dia
terjermus dalam kesalahan. Terjadi
pertikaian, terjadi bunuh-bunuhan. Kalau
dia ikut-ikutan dia enggak tahu mana
yang benar, mana yang yang salah.
Mending dia menjauh. Ya, orang
rebut-rebutan kekuasaan, dia tidak butuh
dengan kekuasaan dia. Mending dia dekat
dengan Allah Subhanahu wa taala. rebutan
kekuasaan. Rawan, menjerumuskan orang
dalam berbagai macam kecurangan,
kemaksiatan, kezaliman, dan berbagai
macam dosa-dosa menjauh.
Alkfi. Maka semakin seorang ya tidak
suka tampil semakin baik semakin
dicintai oleh Allah subhanahu wa taala.
Ini manusia ini sukanya apa? Tampil.
Sukanya jadi pusat perhatian, sukanya
menjadi buah-buah bibir.
Ya. Ya. Sebagian manusia tidak semua.
senangnya bikin apa
namanya? Bikin klip ya, bikin apa? Ee
konten ya, konten konten kreator supaya
jadi pusat apa?
perhatian ya. Tentu dengan berbagai
macam tujuan. Ada yang jualan, ada yang
ini, ada yang pamer, ada yang riak, ada
yang sumah, ada yang macam-macam. Ya,
intinya selama bisa kita tidak jadi ee
bahan omongan orang itu yang terbaik.
Masjid kerja, masjid kerja. Ya, enggak
usah ribut sana ribut sini. Bikin heboh
dunia persilatan bikin heboh sana sini.
Jadi bikin ribut orang semua komentar.
Ada orang hobinya begitu. Kalau tidak
bikin konten dia gelisah. Harus bikin
konten tiap tiap hari. Kalau bisa
seperti itu yang
terbaik. Kecuali orang-orang yang
mungkin ingin berdakwah, ingin
menyampaikan ilmu, mau tidak mau dia
harus apa? Tam tampil. tampil
seperlunya dalam hal untuk menyampaikan
ilmu. Tidak semua kita tampilkan
jalan-jalan sama istri ditampilkan,
makan bakso ditampilkan, ya ee apalagi
liburan sama kawan-kawan ditampilkan.
Yang tidak ilmi, tidak ilmu tidak usah
ditampilkan. Yang ada ilmu
silakan agar kita bisa mengamal alkfi
ya.
alkfi. Namun sebagian orang kita makan
di soteng
ditampilin.
Subhanallah. Jadi repot ya. Oleh
karenanya ee sebisa mungkin tidak
menjadi
bahan pembicaraan orang lain, bahan
pembicara apa? Difokus dilihat oleh
orang itu lebih baik. Alkfi ya. Alkfi
dan itu lebih baik jauh daripada riya.
jauh daripada ri. Tapi kalau
semua aktivitas kita di tampilkan atau
privasi kita bahkan ditampilkan, ya
akhirnya kita hidup terkadang harus
pura-pura ya, harus riak ya supaya
tampil selalu baik, supaya dipandang
orang baik daripada yang sebenarnya ya
dan seterusnya. Hidup dalam
kepura-puraan ya ke sana kemari bawa
lima
kameramen. Jadi hidup jadi susah ya.
Jadi
susah kalau ilmu ditampilkan tidak
apa-apa. Selain ilmu sebaiknya kita
menjauh. Tib. Hadis berikutnya. Wa Abi
Said Alkhudri radhiallahu anhu qa
qajulun ayunasi afdol ya Rasulullah.
Seorang bertanya kepada Nabi, "Wahai
Rasulullah siapa orang yang paling
afdal?" Qala mukminun mujahidun binafsi
wali fisabilillah. Seorang mukmin yang
berjihad dengan jiwanya dan hartanya di
jalan Allah Subhanahu wa taala. Ini
manusia terbaik yang berjihad jalan
Allah Subhanahu wa taala. Bagaimana
tidak terbaik dia mengorbankan jiwa raga
dan hartanya? Ya, jiwa raga dan hartanya
itu jihad yang syari ya tentunya yang
dimaksud. Qala tumma man. Kemudian siapa
setelah itu? Qala tumma rajulun mtazilun
fi sya'bin min syi'abi ya'budu rabbahu.
Perhatikan kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Kemudian orang yang muktazil
yang
menyendiri fi Sy'ab. Sy'ab itu atau
Syi'b Syib adalah jalan di antara dua
gunung atau jalan di celah-celah
pegunungan. Di antar ternyata ada jalan
namanya Syiab. Ya. Dan ini banyak di
Mekah-mahya dikatakan ahl Makkah adr
bisyiabiha. Penduduk kota Makkah lebih
tahu jalan-jalan di sekitar gunung, di
antara gunung-gunung daripada orang luar
kota. Maka ini apa namanya? Pepatah ya.
Artinya ee orang daerah lebih tahu
tentang apa daerahnya. Jadi ahlu Makkah
adr bisiabiha penduduk kota Makkah lebih
tahu tentang Syiab jalan-jalan yang ada
di gunung-gunung. Karena Makkah ada
gunung-gunung di antara gunung-gunung
ada jalan-jalan dicelah-celah.
Ya. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Orang kedua yang di bawah
manzilahnya mujahid adalah orang yang
menyendiri fi Syb'bin minasyi di salah
satu jalan di gunung-gunung." Dalam
rangka apa? Ya'budu rabbahu dalam rangka
menyembah rabbnya. Ya. Ya. Wafi
riwayatin dalam riwayat yang lain,
yattaqillaha waadaunasa min syarrihi.
Dia bertakwa kepada Allah di tempat
tersebut dan dia
meninggalkan masyarakat ya. Ya. Agar
tidak mengganggu masyarakat. Agar dia
tidak mengganggu masyarakat dia tidak
agar tidak mengganggu masyarakat dia
menjauh. Dan agar tidak terganggu oleh
masyarakat juga dia menjauh.
Jadi ini dalil bahwasanya seorang yang
dalam rangka beribadah kepada Allah
subhanahu wa taala menyendiri maka itu
ee adalah afdal termasuk manusia terbaik
karena tujuan dia adalah untuk beribadah
kepada Allah subhanahu wa taala. Namun
perlu saya ingatkan para ulama
mengatakan uzlah ada dua. Ada uzlah yang
syariah, ada uzlah yang bidiah. Uzlah
syari' maksudnya dia menjiri tapi tidak
meninggalkan
kewajiban-kewajiban. Dia tetap punya
kewajiban ngurus anak istrinya. Ya
misalnya dia menjauh, dia pergi ke Syib.
Dia ngurusi unta-unta, kambing-kambing,
waktunya beri nafkah. Kasih nafkah
kepada anak anak istri. Yang penting dia
salat ibadah. Waktunya jumatan dia
jumatan balik lagi ngurusin
ternak-ternaknya. Ini tidak jadi
masalah. Dia menyendiri tapi tidak
meninggalkan kewajiban kewajibannya.
Adapun uzlah menyendiri yang bidiyah ya.
Ya. Yang dilakukan oleh sebagian kaum
sufi ya. Menyendiri masuk di kamar
gelap-gelapan ya. Tidak keluar 2 minggu,
tidak salat Jumat, tidak pergi ke
masjid. Ya, ini uzlah yang bidah karena
meninggalkan perkara-perkara yang Allah
wajibkan kepadanya. Tidak cari nafkah
buat anak, istri. Ini bidah ya. Ini
bidah, tidak disyariatkan karena tidak
dilakukan oleh sahabat. Sahabat meskipun
menyendiri dia tetap bertanggung jawab
kepada anak
istrinya. Bukan kemudian menyendiri
dalam kamar, matikan lampu ya, tidak
makan kecuali yang
putih-putih ee misalnya ya. Ini repot
ya. Tidak boleh berbicara dengan seorang
pun ya.
Nah, ini tidak tidak ada syariatnya
seperti akhirnya meninggalkan salat
Jumat, akhirnya meninggalkan salat
berjamaah. Ya, hak anak istri tidak di
ditunaikan. Ini uzlah yang yang bidah.
Sampai sebagian mereka kemudian masuk ke
dalam ruangan kemudian pergi ke Sidratul
Muntaha. Dari mana? Dari Sidratul
Muntaha.
Masyaallah. Jalan-jalan ke Sidratul
Muntaha.
Tujuannya apa? Tujuannya agar ya'budu
rabbahu. Agar dia bisa menyembah Allah
subhanahu wa taala. Ini tujuan mulia.
Maka seorang terkadang menyendiri untuk
menyembah Allah subhanahu wa taala. Wa
anhu. Demikian juga dari ee Abu Saad
alkhudri radhiallahu anhu qala
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Rasul sahu alaih wasallam
bersabda,
"Yusakunairu malil muslim gonamun yatba
biha syafal jibal waqial qatar yafirru
bidini minal fitan rawahul bukhari."
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Hampir-hampir harta terbaik seorang
muslim hampir-hampir akan datang suatu
masa di mana harta terbaik seorang
muslim adalah kambing-kambing yang dia
gembalakan di puncak-puncak gunung dan
di tempat jatuhnya hujan, yaitu di
lembah-lembah. Tujuannya apa? Yafirru
bidini minal fitan. Dia lari bawa kabur
agamanya agar selamat dari fitnah. Ini
kondisi tertentu di mana fitnah sudah
meraja lela. Kalau dia berbar dengan
masyarakat dia akan terfitnah. supaya
dia selamat. Yang penting dia bisa cari
nafkah dengan menggembala. Kalau perlu
bergembala di puncak gunung atau di
lembah-lembah yang tidak ada
manusia. Kita mungkin belum ketemu zaman
ini ya. Sudah ketemu atau
belum? Ya, tapi akan ada zaman seperti
ini ya yang seorang baru bisa selamat
kalau dia kemudian kabur ke puncak
gunung ngurusin ee kambing-kambingnya,
unta-untanya ya, kambing-kambingnya ya.
Kemudian dia bawa ke puncak gunung, dia
bawa ke lembah-lembah. Dalam rangka apa?
Yafirru bininihi. Orang berusaha selamat
dengan agamanya. Itulah modal dia ketemu
dengan Allah Subhanahu wa taala. Ya,
harta datang dan pergi, ekonomi naik
turun, agama jangan sampai kita
spekulasi meninggal dalam kondisi agama
hancur. Ya, agama kita jual demi demi
dunia. Agama kita jual demi demi dunia.
Maka kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Yafirru bidinihi." Dia kabur
membawa lari agamanya. minal fitan agar
tidak terjerumus dalam ee fitnah-fitnah.
Tidak terjerumus dalam
fitnah-fitnah. Tib. Kalau kita tanya
zaman sekarang kita zaman fitnah atau
tidak? Zaman
fitnah. Ustaz, saya kabur ke gunung.
Iya, tapi dengan syarat di gunung tidak
ada
signal. Kalau ada signal kayaknya sama
aja lari ke
gunung. Lari ke gunung ada signal sama
aja malah bosan, boring malah nonton
macam-macam.
Sekarang maksiat di
mana-mana. Tujuan menyendiri adalah
seorang agar bisa beribadah kepada
Allah. Maka di antara bentuk uzlah kalau
kita bilang uzlah maknawiah, uzlah
secara abstrak yaitu kita hati-hati
dengan dengan metos yang kita miliki.
Hati-hati kita menjauh dari fitnah itu
tidak melihat areal-areal itu
ya. Uzlah meninggalkan hal-hal yang
membuat kita terjerumus dalam fitnah.
Kita mengotori pandangan kita setiap
hari. melihat
maksiat rutin rutinitas melihat apa
maksiat
ya maka kita bisa uzlah secara maknawi.
Mungkin badan kita tetap di tempat tapi
kita menjaga diri. Di antaranya waspada
dengan sumber-sumber fitnah. Ya, ini
Rasulullah berbicara tentang fitnah yang
tersebar. Jadi kabur ya kalau dia di
pulang kampung banyak fitnah kabur ya.
fitnah di tangan kita
masing-masing. Maka ini dalil kalau ada
kesibukan
yang pekerjaan yang baik yang mungkin
tidak seberapa hasilnya tapi kita
selamat agama kita,
lakukanlah. Ya, mungkin gembala kambing
di zaman itu tidak seperti pedagang yang
kemudian tapi dia
selamat. Sudah ngurus kambing ke
sana, bawa ke gunung ke lembah ya.
waktunya pulang-pulang ngurus anak,
istri, balik lagi ke gunung, ke lembah
sehingga tidak berinteraksi dengan
masyarakat khawatir dia terjerumus dalam
dalam
fitnah. Tiib. Ee kita lanjutkan hadis
berikutnya. Wa Abi Hura radhiallahu
taala anhu an Nabi sallallahu alam q
Rasul sahu alaih wasallam bersabda, "Ma
baatallahu nabiyan illa roal gam."
tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun
kecuali akan menggembalakan kambing.
Kecuali penggembala kambing. Faqala
ashabuhu Rasul. Para sahabat berkata,
"Wa anta, engkau juga gembala kambing ya
Rasulullah." Kata Rasul wasam, "Naam
kuntu araha alaqor liahli makkata." Saya
dulu gembala kambing, bukan kambing Nabi
tapi kambingnya orang-orang Makkah agar
mendapatkan qarorit. Qarorarit itu
pecahan dinar atau pecahan ee dirham ya.
Pecahan dinar atau pecahan apa? Dirham
ya.
yaitu mata uang yang lebih kecil
daripada dinar dan apa? dirham dapat
upah. Jadi Rasulullah mengatakan, "Saya
juga menggembalakan kambing." Dan
Rasulullah mengatakan, "Setiap nabi
pasti menggembalakan kambing." Bahkan
subhanallah Nabi Musa yang tidak diduga
bakalan menggembalakan kambing, ternyata
dia menggembalakan kambing juga.
Bagaimana tidak? Nabi Musa tinggal di
istana Firaun jadi anak angkat Firaun.
Bahkan dikatakan Musa anaknya Firaun
hidup dengan kekayaan. Tidak mungkin
namanya anak angkat raja menggembalakan
apa? Kambing. Tapi Allah takdirkan dia
harus gembalakan kambing. Akhirnya dia
melakukan kesalahan membunuh salah
seorang dari Aqbat dari suku Firaun.
Akhirnya dia jadi buronan Firaun dan
balanarnya dia kabur pergi ke Madyan.
Akhirnya dia gembalakan kambing untuk
bayar
mahar. Untuk bayar apa? Mahar. Adapun
Nabi menggembalakan kambing untuk
mencari nafkah. Ada yang mengatakan
untuk membembantu pamannya Abu Thalib.
Karena Abu Thalib miskin. Maka Rasul
sahu alaihi wasallam menggembalakan
kambing untuk membantu pamannya. Abu
Thalib punya anak banyak. Rasulullah
bantu dengan menggembalakan
kambing. Timbul pertanyaan, kenapa Imam
Nawawi rahimahullah membawakan ini? Apa
kaitannya dengan bab
al-uzlah? Apa kaitannya dengan al-uzlah?
Seb mengatakan aluzla
maksudnya Imam Nawawi bawakan hadis ini
seakan-akan beliau ingin mengatakan
kalau memang kau
selamat dengan cara menggembalakan
kambing maka tidak usah malu
untuknya karena ada orang-orang bertakwa
yang pernah menggembalakan kambing itu
para nabi dan rasul.
Kalau ada pekerjaan yang buat kau
selamat, ya lakukan daripada kau
pekerjaan bergengsi tapi ternyata
terjerumus dalam berbagai macam
kemaksiatan. Kalau selamat dengan cara
gembala kambing, maka lakukan. Ya, tentu
hikmah subhanallah para ulama
menyebutkan kenapa para nabi
menggembalakan kambing. Mereka
mengatakan karena kambing itu ee banyak
ee para nabi dilatih dengan
menggembalakan kambing sebelum terjun
untuk mengurusi ee manusia. Karena
kambing perlu perhatian khusus ya.
Mereka nyebutkan kalau orang gembalakan
kambing ya harus bisa memilah-milih
rumput-rumput. Karena ada rumput yang
beracun, ada rumput yang kalau dimakan
kambing bisa bikin sakit maka harus
milah-milih. Kemudian kambing ee hewan
yang kalau sudah terpencar susah untuk
di apa? Diatur kembali. Beda dengan
bebek. Kita gini cek ikut semua. Kita
ikat sana ikut semua. Kalau kambing
tidak demikian, maka perlu perhatian
ekstra. Kambing juga berbagai macam
model. Ada yang nakal, ada yang taat,
ada yang ini macam-macam ya. Sama
manusia juga modelnya apa demikian ya.
Kemudian kambing, hewan yang tidak bisa
membela dirinya. B unta-unta kalau ada
serigala dia bisa tendang serigala.
Kalau kambing gak bisa maka sang
penggembala butuh perhatian untuk
menjaga kambing tersebut. Nah, jika
seorang ahli dalam menggembalakan
kambing, dia diberikan kemampuan di
antaranya ini disebut oleh para ulama
hikmah. Karena para nabi menggembalakan
kambing. Intinya ikhwan, bahwasanya
kalau harus selamat dengan
cara melakukan pekerjaan yang mungkin
dinilai masyarakat pekerjaan yang
kurang kurang bergengsi, maka
lakukanlah. Meskipun hanya dengan
menggembalakan kambing, yang penting
agamamu selamat. Daripada hidup mewah,
bergengsi, ya, mobil mewah, tapi
ternyata isinya
syubhat, isinya haram, ya. Repot hari
kiamat kelak, ya.
Tib hadis terakhir yang kita sampaikan
ini. Wa anhu an rasulullah sallallahu
alaihi wasallam anhu rasul sahu alaihi
wasallam
bersabda min khairi maasyinasi lahum eh
rajulun mumsikun eh anana farasihi
fisabilillah. Ya. Ya. Di antara
kegiatan manusia ya yang baik bagi
mereka adalah seorang
ya yang memegang tali kekang
kudanya fisabilillah. dalam rangka untuk
berjihad di jalan Allah Subhanahu wa
taala dalam rangka untuk berjihad di
jalan Allah Subhanahu wa taala. Yatiru
ala
matnihi dia langsung naik di atas
kudanya yaitu di atas punggung kudanya.
haiah setiap dia mendengar ada seruan
jihad surun perang maka dia langsung
siap-siap berangkat faz sama seruan
untuk berperang th alaihi kemudian dia
pun segera naik di atas kudanya sampai
terbang maksudnya dia berjalan dengan
cepattagil qatla dia ingin perang dia
ingin perang awil maut dia ingin mati
madonahu dia mencari lokasiokasi di mana
dia bisa mati
fisabilillah dia pengin segera mati di
jalan Allah subhanahu wa taala ini di
sebagaimana pernah kita bahas mengharap
mati Yang dibolehkan adalah mati dalam
apa? Ji
jihad
bolehulunin fi syafah min hadyaf.
seorang ya yang membawa kambing kecil
ya ee kemudian dia berbawa ke puncak
gunung ya aatni wadin atau di lembah min
hadil audiyah di antara lembah-lembah
ini yqimusat dia jadikan salat zakat ini
menunjukkan bahwasanya dia tetap
melakukan kewajibannya dia salat dia
bayar zakat w'budahu dan dia menyembah
rabnya hatta yatiahul yaqin sampai
datang
kematian minanas
tidaklah manusia seperti ini kecuali
dalam apa?
Kebaikan di sini perhatikan ya. Jadi
hadis ini jelas menunjukkan tentang
uzlah. Orang yang apa namanya? Dia
pengin selalu berjihad maka dia bawa
kudanya dia tungguan apa? Ketika suran
jihad kemudian dia segera pergi menuju
jihad tersebut dan dia mencari
kondisi-kondisi yang di mana dia bisa
meninggal dalam
jihad syahid. Ya. Yang kedua adalah
seorang yang menjauh ya dia membawa
kambingnya ya ke atas puncak gunung atau
di
lembah-lembah. Meskipun demikian, dia
tetap menjalankan kewajiban, tetap
salat, tetap bayar zakat, dan dia sibuk
beribadah kepadanya sampai datang
kematian. Maka antum bersyukur atau kita
bersyukur kalau kita disibukkan suatu
perkara yang situ isinya ibadah. Sudah
tinggal tunggu mati aja ya. Tinggal
tunggu mati. Ada sibuk masjid ini ngurus
anak, ngurus istri ke masjid ngurus ini
ngurus dakwah sudah tunggu mati ajaalah.
Terus apa mau kesibukan apa lagi ya?
Ngurus kambing ke gunung dia salat zakat
salat bayar zakat tunggu apa? Mati
sampai datang kematian. Itulah
keselamatan. Tapi kalau banyak kegiatan
berlebihan khawatirnya terjerumus,
khawatirnya terjatuh ya. Maka siapa yang
sudah pakem dalam satu kegiatan yang itu
kegiatan ibadah, maka bersyukur kepada
Allah subhanahu wa taala. Telateni
kegiatan tersebut sampai dipanggil oleh
Allah subhanahu wa taala. Ketika kita
sibuk dengan perkara yang bermanfaat,
kita terjauhkan dari hal-hal yang bisa
menjauhkan kita atau menjerumuskan kita
dalam
fitnah-fitnah. Maka ee inilah
hadis-hadis yang menjelaskan tentang
keutamaan al-uzlah. Dan saya katakan di
zaman sekarang ini kita butuh uzlah,
tapi mungkin uzlah secara ee abstrak
hati-hati ya. Jauhi segala kegiatan yang
bisa membuat kita terjerumus dalam
maksiat. Kalau kegiatan tersebut, wah
ini saya bakalan begini, saya tinggalkan
karena Allah. Berdoa kepada Allah, ganti
dengan kegiatan yang yang lain. Karena
kalau kita sudah berkecimpung dalam satu
kegiatan, ternyata maksiat, kita
kadang-kadang nyaman. Nyaman tahu-tahu
10 tahun di situ, 20 tahun di situ. Atau
meninggal repot.
Ya, rezeki Allah luas, bumi Allah luas,
tinggalkan. Ya, kalau ada kegiatan yang
kita nyaman, yang jauh dari
sumber-sumber kemaksiatan, maka itulah
uzlah yang benar di zaman sekarang ini.
Ya sudah, pakem di situ, ya, nyaman di
situ, sibukkan diri di situ, kerahkan
segala energi di situ sampai dipanggil
oleh Allah Subhanahu wa taala. Bab
demikian saja apa yang bisa ee saya
sampaikan. Tib. Demikian saja. Wabillahi
taufik hidayah. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.