Yakin Selamat Dari Ujub ? - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
wgO3yEzO5f0 • 2026-01-23
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Inalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu wafiruhu waubu ilaih wa naud naudubillahi min syururi anfusinaati a'malina. May yahdihillahu fala mudhillalah wam yudlil fala hadiyaalah. Wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah. Wa asadu anna muhammadan abduhuasuluhu labi ba ya aina amanutqulaha haqq tuqatih w tamutun illa waum muslimunqal had kitabullah wir huda huda Muhammadin shallallahu alaihi wasallam umuri muhatu wa muhin bidah wain wain finar maasal musliminah faqal muttaquun sungguhnya di antara ibadah yang agung adalah seorang menyadari bahwasanya dirinya senantiasa lemah dan membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa taala. Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwasanya manusia itu sangatlah lemah. Wallahuladzi khalaqakum min dan Allahlah yang telah menciptakan kalian dari kelemahan. Sesungguhnya manusia diciptakan dalam kondisi lemah. Khuliq insanu min ajal. Sesungguhnya manusia diciptakan dengan penuh ketergasaan sehingga sering dia tidak tahu apa yang terjadi di hadapannya. Innahuana jahula. Sesungguhnya manusia itu sering berbuat zalim dan sungguh sangat jahil. Oleh karenanya Allah subhanahu wa taala berfirman dalam hadis qudsi, "Ya ibadi kullukum do illa man hadaituhu fastahduni ahdikum." Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya kalian seluruhnya adalah tersesat kecuali yang aku beri petunjuk kepadanya. Maka mintalah petunjuk kepadaku. Allah mengatakan, "Ya ayyuhanas antum fuqarallah wallahualaniul hamid." Wahai manusia sekalian, sesungguhnya kalian fakir kepada Allah subhanahu wa taala. Kalian fakir secara zat kalian. Untuk dari tidak ada menjadi ada butuh kepada Allah subhanahu wa taala. Dan untuk mempertahankan hidup butuh kepada Allah subhanahu wa taala. Untuk mendapat hidayah butuh kepada Allah subhanahu wa taala. Wallah huwal ghaniyul hamid. Sesungguhnya Allah yang maha kaya dan maha terpuji. Oleh karenanya Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam doanya mengatakan, "Ana bika wa ilaik." Sesungguhnya aku bika. Yaitu aku aamit alaik. Aku bersandar kepada engkau. Waaiku altaji ilaik. Dan aku menyerahkan urusanku kepada engkau ya Allah. Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam mengajarkan kita untuk berdoa. Ya hayyu ya qayyum birahmatika win. Wahai zat yang maha hidup, wahai qayyum zat yang maha tegak dan menegakkan yang lainnya. Birahmatika astag dengan rahmatmu aku mohon pertolonganmu. Fasliah maka perbaikilah segala urusanku. Perbaikilah, luruskanlah urusan diriku, urusan keluargaku, urusan istriku, anak-anakku, urusan ekonomiku, segala urusanku perbaikilah. Willni nafsifata ain. Dan jangan kau biarkan aku bersandar kepada diriku meskipun hanya sekejap mata. Siapa yang bersandar kepada dirinya, maka dia telah bersandar kepada zat yang lemah, yang fakir secara zatnya, maka dia bersandar kepada suatu yang sangat hina dan dina kepada dirinya sendiri. Maasyiral muslimin. Oleh karenanya siapa yang menyadari dirinya lemah dan selalu bersandar kepada Allah, maka dia akan senantiasa tersambung kepada Allah. Maka Allah akan meliputinya dengan rahmatnya. Allah senantiasa membimbingnya. Allah senantiasa melimpahkan karunianya kepadanya. Adapun siapa yang sombong dan ujub kepada dirinya, maka dia telah memutuskan jalan Allah kepadanya. Seorang ulama mengatakan, "Kaufuka minallah yusilukaallah." Engkau takut kepada Allah, menyambungkan engkau dengan Allah. Walibr ujubillah. Adapun sombong dan ujub memutuskan engkau dengan Allah, maka Allah akan biarkan engkau bertawakal kepada dirimu sendiri. Dan kita tahu diri kita sangatlah lemah. Oleh karenanya Nabi Yusuf Alaih Salam tahu bahwasanya dirinya lemah meskipun dia adalah seorang nabi yang sangat bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taala maka dia berdoa rbi sijinu ahabbu ilaiya mimma yadunani ilai mimma yadunani ilai ya Allah sungguhnya penjara lebih aku sukai daripada rayuan mereka wafni kaidahunna asbu ilaihin waakum minal jahilin kalau kau tidak memalingkan godaan mereka dariku, maka sungguh aku akan condong kepada mereka dan aku akan termasuk orang-orang yang jahil. Yusuf alaihi salam tahu jika Allah tidak menolongnya maka dia akan terjerumus dalam kemaksiatan. Oleh karenanya kita ini sangat lemah. Lemah di hadapan syahwat kita, lemah di hadapan nafsu kita, lemah di hadapan godaan-godaan yang mendatangi kita. Maka seorang hendaknya senantiasa bersandar kepada Allah Subhanahu wa taala. Siapa yang pede dengan dirinya, lupa kepada Allah, ujub dengan dirinya, maka Allah meninggalkannya. Lihatlah Allah mengkisahkan tentang shahibul jannatain, seorang yang memiliki dua kebun yang indah yang dia kemudian angkuh. Wadakala jannatuhu wahuaimun linafsih. Maka dia masuk dalam kebunnya, dalam tamannya dan dia menzalimi dirinya sendiri. Itu dia sombong, dia angkuh, dia ujub. Maka akhirnya Allah pun merusakkan tamannya tersebut. Dinasihati oleh kawannya. Walta jannaka masyaallahu la quwata illa billah. Seandainya kau masuk kebunmu, lantas kau berkata, "Masyaallah, ini semua atas kehendak Allah. La quwwata illa billah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wa taala. Hendaknya kau sadar bahwasanya keberhasilan kebunmu adalah karunia dari Allah." Maka ketika dia ujub, dia lupa, maka rusaklah kebunnya tersebut. Lihatlah iblis yang ujub dengan dirinya sendiri. Dia mengatakan, "Ana khairun minhu khalaqtani minar waqtahu minin." Aku lebih baik daripada Adam. Aku engkau ciptakan dari api. Sementara Adam kau ciptakan dari tanah. Lihatlah ketika sebagian sahabat ujub dengan jumlah mereka ketika perang Hunain. Allah sebutkan dalam ayatnyaquqahuumamin. Sungguh Allah telah menolong kalian dalam banyak peperangan. Dalam perang Badar Allah tolong kalian. Dalam perang Uhud Allah tolong kalian. Dalam perang Khondak Allah tolong kalian. Dalam peperangan Allah selalu menolong para sahabat. Namun ketika perang Hunain mereka berangkat dengan 12.000 pasukan maka ada seorang sahabat yang nyeletuk karena mungkin baru masuk Islam dari Muslimatil Fattah yang baru masuk Islam ketika Fathu Makkah. Maka dia berkata, "Lan nuglabal yauma minqillah." Kali ini kita tidak bakalan kalah. Kenapa? Jumlah kita 12.000 orang. Fasqika al Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka itu sangat memberatkan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Sementara Nabi kalau berperang, Nabi berkata, "Allahumma bika ahulu wabika asulu wabika uqatil." Ya Allah, dengan Engkaulah aku bisa menghalangi serangan musuh. Wabika asul, dengan engkaulah aku bisa menyerang mereka. Wabika uqatil, dengan engkaulah aku bisa memerangi mereka. Sementara ini ada yang berkata nuglabal yaum minqillah. Kita tidak bakalan kalah karena jumlah kita yang banyak. Dan itu memberatkan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka Allah beri pelajaran kepada mereka. Maka Allah berkata, "Wunaininum ketika perang Hunain, kalian bangga ujub dengan jumlah kalianamum. Maka jumlah yang banyak tersebut tidak bisa menolong kalian sedikit pun." Maka jadilah bumi yang luas terasa sempit bagi kalian. Tummaitum mudbirin. Kemudian kalian pun lari kabur kocar-kacir. Ternyata jumlah yang banyak tidak menolong kalian. Maka siapa yang senantiasa merasa dirinya hina-dina di hadapan Allah, merasa dirinya lemah, maka pertolongan Allah akan terus sambung kepadanya. Dan siapa yang merasa pede dengan dirinya, merasa mampu dengan dirinya, maka dia telah terputus dari Allah Subhanahu wa taala. Astagfirullah wakum musliminahfiru inahuahim. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqihi wamtinani ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman wa asadu anna muhammadan abduhuasul ridwih allahumma shli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani maasyiral muslimin. Sesungguhnya ujub memiliki banyak bentuk-bentuk. Di antaranya ada orang yang ujub dengan kecerdasannya sehingga dia merasa hebat daripada yang lainnya. Di antara ciri-cirinya dia tidak mau mendengar masukan dari orang lain dan dia merasa berat ketika dikritiki oleh orang lain. Bahkan kalau orang berbicara dia putuskan potongannya di tengah perkataannya. Kenapa dia merasa dirinya hebat dan dia merasa pendapat orang lain? Tidak perlu dia dengar. Kalau dia bermusyawarah maka dialah yang mendominasi. Maka semuanya adalah keputusannya. Ini contoh orang yang ujub dengan kecerdasannya. Ada orang yang ujub dengan amalnya maka dia beramal dan beramal dan dia merasa dirinya hebat sehingga dia merendahkan orang lain yang tidak bisa beramal dengan dirinya. Dia merendahkan orang yang tidak bisa bersedekah seperti sedekahnya. Dia tidak merendahkan orang lain yang tidak bisa menghafalkan Quran seperti hafalannya. Dia merendahkan orang lain yang tidak bisa memiliki ya ibadah seperti ibadahnya maka dia tertimpa ujub. Dan Rasul sahu al wasallam pernah bersabda, "Laibunu alikum mau aksar minalik alujub alujub. Seandainya kalian tidak berdosa, sungguh aku khawatir kalian tertimpa dengan perkara yang lebih aku khawatirkan daripada dosa itu, yaitu ujub dan ujub." Maka Ibnu Qayyim mengatakan, "Bisa jadi seorang karena melakukan maksiat dia masuk surga dan bisa jadi seorang karena melakukan amal saleh dia masuk neraka." Kok bisa demikian? Ada seorang terjumus dalam dosa maka dia tahu kekurangan dirinya. Senantiasa dia bertobat kepada Allah. Senantiasa dia menangisi dosa-dosanya maka dengan tobatnya tersebut dia masuk surga. Sementara ada orang yang beramal saleh tapi dia ujub dengan amalnya, dia sombong dengan amalnya, maka ujub dan sombongnya itu mengantarkan dia kepada neraka jahanam. Maka seorang jangan pernah ujub dengan amalnya. Dia tahu bahwasanya dia bisa beramal saleh karena Allah subhanahu wa taala. Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika sedang menggali parit khandak maka dia berkata, "Laallah maahtadaina wa shalaina wala tasaddaqna." Ya Allah, kalau bukan karena Allah tentunya kami tidak bisa salat, kami tidak dapat hidayah dan kami tidak bersedekah. Semuanya adalah karunia dari Allah sehingga seorang bisa beramal saleh. Ada seorang yang ujub dengan hartanya maka dia merasa saya memang berhak untuk mendapatkan harta. Sebagaimana dikatakan oleh Qarun. Qarun mengatakan ketika dapat harta dia mengatakan, "Inamau ilmin." Sungguhnya saya dapat harta karena saya memang berhak. Allah tahu saya berhak dapat harta karena saya telah berusaha, karena saya telah bekerja. Maka dia ujub dengan hartanya. Maka dengan ujubnya tadi mengantarkan dia mengeluarkan harta, membelanjakannya semena-mena dan hak Allah tidak dia tunaikan. Dan ada orang yang ujub karena dengan usahanya dia mengatakan, "Saya begini karena saya telah berusaha, karena saya telah banyak pengalaman, karena saya telah mati-matian, karena saya bekerja keras, karena saya, karena saya, karena saya sehingga dia senantiasa menyandarkan karunia kepada dirinya, bukan kepada Allah Subhanahu wa taala." Dia berkata, "Saya berhasil karena sayalah demikian dan demikian dan demikian." Dia tidak menyandarkannya kepada Allah, tidak berkata, "H min fadli rabbi." Ini semua dari karunia Allah Subhanahu wa taala. Ada orang yang ujub dengan perangainya, ada orang yang ujub dengan parasnya yang tampan dan cantik sehingga dia berjalan dengan gagahnya tubuhnya, dengan ketampanan wajahnya, dengan kecantikan fisiknya. Dia lupa bahwasanya nilai seseorang bukan pada fisiknya, tapi pada imannya dan takwanya. Allah berfirman, "Inna akakumallahiqum." Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah yang paling bertakwa. Ada orang yang ujub dengan nasabnya. Dia keturunan darah biru. Dia keturunan fulan dan allan. Dia berasal dari suku yang mulia. Dia merasa dirinya seperti emas yang meskipun diletakkan di comberan tetap saja kilat mengkilau dialah emas. Sehingga akhirnya dia lupa untuk beramal saleh, bersandar kepada nasab. Sementara seorang penyair berkata, "La amruka inamal amru mal amru illa bidinii furkanwa alasabi." Ketahuilah demi Allah, sesungguhnya seorang itu berdasarkan agamanya. Maka janganlah seorang meninggalkan ketakwaan hanya bersandar kepada nasab. Islam alfarisi abahabin. Sesungguhnya Islam telah mengangkat Salman alfarisi yang bukan Arab bahkan dari Persia tapi diangkat oleh Islam. Waq alf abhabin. Sementara Abu Lahab paman Nabi yang nasabnya sangat mulia dari Bani Hasyim dari Quraisy menjadi hina-dina karena kekufuran. Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam telah bersabda, "Man bat bihi amaluh lam yusri bihi nasabuh. Siapa yang amalnya sedikit, amalnya lemah, maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya. Siapa yang amalnya sedikit, nasabnya tidak akan bisa mengangkat derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa taala. Inna akramakumallahi atqokum. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Maka seorang berusaha tidak ujub dengan apapun. Jangan ujub dengan hartanya, jangan ujub dengan ilmunya, jangan ujub dengan usahanya. Hendaknya dia kembali kepada Allah subhanahu wa taala. Dia ingat semuanya adalah dari Allah Subhanahu wa taala. Kecerdasannya, kepintarannya, rezekinya semua dari Allah. Bahkan hidupnya dari Allah Subhanahu wa taala. Bisa saja Allah mencabut karunia tersebut kapan saja Allah kehendaki. Lihatlah Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Bainamarajulu yamsyi fi burdaihi qod a'jabathu nafsuhu." Ketika ada seorang berjalan dengan dua selendang kainnya, dia ujub dengan dirinya. lagi pakai pakaian bagus, indah, dia berjalan, dia ujub dengan dirinya. Khasafa bihillahul ard, tiba-tiba Allah benamkan dia dalam bumi. Fahua yatajaljalu fiha ila yaumilqiamah. Maka dia digonjang-ganjingkan oleh Allah dalam tanah sampai hari kiamat kelak. Dan Allah Subhanahu wa taala berfirman tentang Qarun. Fakaraja alahi fiinatih. Maka Qarun suatu hari keluar dengan kemegahannya, dengan keindahannya, dengan semua kekayaannya. Maka dia keluar tampil di hadapan kaumnya. Apa yang terjadi? Fakfallahu fakfa bihil ard. Fakfallahu bihi wabarihil ard. Maka Allah benamkan dia dan bahkan rumahnya dalam tanah karena kesombongannya, karena ujubnya. Maka seorang waspada jangan sampai Allah cabut kenikmatannya kapan saja yang Allah kehendaki. Demikian juga seorang hendaknya selalu ingat-ingat akan kekurangannya. Kita manusia penuh dengan kekurangan. Masih banyak dosa-dosa yang kita lakukan. Masih banyak hak-hak Allah yang belum kita tunaikan. Masih banyak hak-hak keluarga, anak, istri, kakak, adik, orang tua yang belum kita tunaikan. Siapakah kita? Kita begitu lemah. Kita harus sadar betapa lemahnya kita di hadapan syahwat. Betapa lemahnya kita di hadapan godaan-godaan. Kalau bukan pertolongan Allah, maka kita tidak akan selamat dari itu semua. Maka seorang senantiasa kembali merealisasikan firman Allah Subhanahu wa taala, iyaka na'bud wa iyaka nastain. Iaka na'bud hanya kepada Engkaulah kami beribadah. Kami tidak butuh pengakuan manusia. Kami beribadah ikhlas karena Engkau ya Allah. Wa iyaka nastain. Dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Yaitu kami tidak akan berhasil kecuali dengan pertolongan-Mu ya Allah. Semoga Allah menjauhkan kita dari penyakit ujub dan penyakit sombong. Dan semoga Allah subhanahu wa taala menganugerahkan kepada kita keikhlasan dan senantiasa iftikar. Selalu merasa butuh kepada Allah subhanahu wa taala. Inallahikatahu al nabi.
Resume
Requeue
Categories