Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufikin asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman wa asadu anna muhammadan abduhu waasul ridwan allahumma shli alaihi waa alihi wa ashabi wa ikhwan pada pertemuan lalu telah kita bahas tentang bahayanya ee menumpakkan darah seorang muslim ya maka bab berikut masih terkait yaitu ketika terjadi fitnah Al Imam e Syekh Muhammad Abdul Wahab rahimahullah berkata, "Babun taksirus sawadi fil fitan." Bab tentang ikut meramaikan, ya. Ikut ee meramaikan ya, ikut berpartisipasi dalam keributan ketika di zaman fitnah atau dalam ketika terjadinya fitnah-fitnah. Maksudnya kalau timbul fitnah di antara kaum muslimin, kita jangan ikut-ikutan. Kalau kita ikut-ikut nimbrung, ikut-ikut turun ke jalan, ya. Ya. Ini seakan-akan kita ikut meramaikan. Kalau sudah ikut meramaikan biasanya semakin semangat. Kalau sudah semakin semangat di sini terjadi pertumpahan darah. Kemudian beliau membawakan hadis an Abi Hurairah radhiallahu anhu anna rasul sahu alaihi wasallam qal. Rasul sahu alaihi wasallam bersabda man hamala alainilaha falaisa minna. Siapa yang mengangkat senjata ditujukan kepada kami, maka bukan dari golongan kami. Waman ghasyana falaisa minna. Siapa yang melakukan gis kecurangan maka bukan dari kami. Hadis riwayat Muslim rawahu Muslim. Ee di sini Rasulullah sahu alaihi wasallam memberi peringatan, siapa yang mengangkat senjata ditujukan kepada sesama kaum muslimin, maka bukan dari golongan kami. Dan ini ee menunjukkan peringatan keras bukan dari kami ya, bukan dari kami. Seakan-akan bukan dari kaum muslimin tapi bukan diartikan berarti kafir enggak. Tetapi ini ungkapan litaglid kata Imam Ahmad menunjukkan ee penegasan yang keras. Siapa yang hancungkan pedang diarahkan kepada kami bukan dari kami. Ya. Ya. Menunjukkan peringatan keras dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan kalau terjadi di fitnah, fitnah itu peperangan di antara kaum kaum muslimin. Maka ee biasanya pedang senjata ditujukan kepada sesama muslim. Makanya saya mengingat hadis dari atau riwayat asar disebutkan oleh Al Imam Bukhari dalam Aladabul Mufrad. Ketika ada seorang ee meninggal kemudian dia berwasiat agar untanya digunakan fisabilillah. Maka kemudian ada seorang berkata, "Serahkan untamu kepadaku karena saya akan masuk dalam pasukan Ibnu Zubair akan berjihad." Kan ayahmu ingin untanya digunakan fisabilillah. Biarkan untamu untukku agar saya gunakan fisabilillah. Maka sang anak bilang, "Tunggu dulu, Om. Kita tanya dulu sama Ibnu Umar." Akhirnya mereka pergi ke Ibnu Umar. Kemudian dia cerita, "Ayah saya meninggal dan ini untanya diwasiatkan untuk fisabilillah. Sementara om saya pengin menggunakan unta ini dalam pasukan Ibnu Zubair." Maka Ibnu Umar kemudian mengingatkan namanya jihad itu kalau muslimin lawan lawan kaum musyrikin. Maka serahkan unta tersebut di jalan Allah. Tapi kalau sama muslim mending kau meninggalkannya. Karena ketika terjadi fitnah antara pasukan kaum muslimin di Madinah dengan pasukan kaum muslimin di Syam, antara Ibnu Zubair dengan ee Abdul Malik bin Marwan ya tentunya Ibnu Umar memandang ini fitnah maka tidak usah ikut-ikutan dan itu fikihnya Ibnu Umar radhiallahu taala anhuma ya. Maka kalau sudah terjadi fitnah kita angkat senjata kita tujukan kepada sesama muslim. Ini bahaya ya, karena kita tahu betapa dahsyatnya, bahayanya menumpahkan darah seorang muslim. Makanya ketika Utsman mau dibunuh, Utsman berkata kepada para pemberontak ketika itu, "Apa alasan kalian ingin bunuh saya?" Bukankah Rasulullah bersabda, "Ladillam muslim biat bahwasanya darah seorang muslim tidak halal kecuali karena tiga perkara." Anfsu bin nafsi. Jika seorang sudah menikah kemudian berzina silakan dirajamin sampai mati. W nafsu binafsi atau seorang membunuh orang lain silakan dia dikisos dibunuh. Atau orang yang murtad almufariqu lidini almufar jamaah wal mufariqul bidini. Yang murtad silakan dibunuh saya. Salahnya di mana? Saya tidak berzina, saya tidak bunuh orang dan saya tidak murtad. Mereka tidak peduli dan mereka membunuh siapa? Utsman bin Affan. Ya, makanya kita tidak boleh mengangkat. Jangankan membunuh, mengancungkan senjata menuju kepada seorang muslim ini terlaknat. Perbuatan terlaknat ya. Apalagi sampai ikut nimbrung, ikut meramaikan, memprovokasi kemudian terjadi pertumpahan darah. Makanya Syekh Abdul Lahab mengatakan hati-hati meskipun terkadang seorang masuk dalam rombongan mereka, saya tidak cuma ikut-ikutan. Saya tidak ada tujuan seperti mereka. Saya tidak ingin bunuh sama saudara muslim, cuma ikut nimbrung, kumpul sama mereka, ngobrol sama mereka. itu termasuk ikut mera meramaikan, dilarang sudah ter kalau ada nuansa fitnah dan ada potensi akan terjadi pertumpahan darah sama kaum muslimin menjauh sejauh-jauhnya. Saya dulu punya kawan orang Libya kita sering makan bareng sih sering jalan bareng. Terus kemudian ada ribut di antara dua kabilah ketika itu di Libya karena teman saya itu meninggal rahimahullah. Kemudian saya tanya kenapa dia meninggal? Ada dua kabilah kemudian ingin perang maka dia masuk dia damaikan. Dia damaikan akhirnya damai. Ketika dia keluar dari tempat perdamaiannya ditembak. Subhanallah. Kalau sudah musim fitnah kadang-kadang padahal dia niatnya baik mendamaikan itu pun dia kena imbasnya dia pun dibunuh. Karena ada yang tidak suka perdamaian. Tidak suka perdamaian. Makanya kalau ada segala sesuatu yang bisa menimbulkan fitnah pertumpahan darah sama kaum muslimin, kita jauh ya. kita menjauh. Apalagi bilang jihad, jihad ya. Jihad mau lawan siapa? Orang ada orang kafir mau kita perangi. Ternyata sesama muslim. Ujung-ujungnya masalah dunia, ujung-ujungnya masalah kekuasaan, ujung-ujungnya masalah masalah harta, bukan masalah agama. Buktinya yang ribut-ributri ribut itu kalau dikasih jabatan langsung diam. Iya. Benar atau tidak benar? Berarti kan bukan urusan agama, tapi urusan apa? Duit. Kemudian menyuarakan dengan jihad-jihadnya TB. Kemudian al Imam ee Muhammad bin Wahab rahimahullah membawakan riwayat wafil Bukhari dalam Sahih Bukhari an Muhammad bin Abdurrahman bin Abil Aswad an Muhammad bin Abdurrahman eh Abil Aswad ya qala quti ala ahlil madinati baun faktutibtu fihi atau faktatabtu fihi diputuskan akan ada pasukan untuk menyerang jadi penduduk Madinah ee memilih pasukan untuk menyerang penduduk Syam. Khilaf di antara fitnah ketika itu penduduk Madinah melawan pasukan dari Syam. Dan aku pun terdaftar atau mendaftarkan diriku untuk masuk dalam pasukan tersebut. Falaqitu Ikrimah faakhbart. Kemudian saya ketemu dengan Ikrimah. Ikrimah muridnya Ibnu Abbas, seorang tabiin yang mulia. Saya kabarkan bahwasanya terjadi ee penduduk Madinah mau kirim pasukan perang melawan penduduk negeri Syam sama-sama Muslim dan saya sudah daftar saya akan ikut pasukan perang melawan mereka. Maka saya ketemu dengan Ikrimah. Ikrimah berkata atau dia berkata, "Fanahani asyaddan nahyi." Maka Ikrimah pun melarangku dengan larangan yang keras. Waqala. Dan dia berkata, "Akhbarani Abdullah bin Abbas telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abbas itu guruku." Anna unasan minal muslimin kanu maal musyrikin. Sesungguhnya sekelompok manusia bersama sekelompok orang bersama kaum muslimin yaitu sekelompok orang dari kaum muslimin kanu maal musyrikin. Mereka bergabung bersama kaum musyrikin yukirunawadal musyrikin. Mereka ikut meramaikan pasukan kaum musyrikin ala rasulillah sallallahu alaihi wasallam untuk menyerang Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Jadi maksudnya dulu ada sebagian sahabat tidak ikut berhijrah padahal mereka untuk mampu untuk berhijrah. Mereka tidak ikut berhijrah ketika para sahabat sudah berhijrah ke Madinah mereka tidak berhijrah. Mereka tetap di Makkah padahal mereka muslimin dan mereka beriman. Tidak ada keraguan tentang keimanan mereka. Cuma mereka ada urusan dunia. Mungkin mikir keluarga, mikin kerjaan, mikin macam-macam. sehingga sebagian mereka tidak ikut hijrah. Ketika terjadi perang perang Badar, maka mereka ini dipaksa untuk ikut dalam rombongan kaum musyrikin. Dan mereka tahu mud mereka tidak mau ikut perang tapi dipaksa. Dan ini seakan-akan ikut meramaikan pasukan kaum musyrikin. Meskipun niatnya tidak sama. Mereka tidak ingin menyerang Nabi. Bahkan mereka beriman kepada Nabi. Tapi keberadaan mereka dalam saf Abu Jahal ini memperbanyak meramaikan safnya Abu Abu Jahal. Ya. Maka Ikrimah menceritakan perkataan Ibnu Abbas tentang kisah mereka ini. Jadi mereka dibawa ke rombongan pasukan kaum musyrikin. Yukiruna sawadal musyrik. Meramaikan saf atau pasukan kaum musyrikin untuk menyerang Rasulullah sahu alaihi wasallam. Fayati sahmu yurma bihi fayusibu ahadahum fayqtulahu. Maka kemudian tiba-tiba ada panah. Mereka tidak ikut perang karena mereka tidak ingin menyerang pasukan kaum muslimin. Tapi ada panah akhirnya mengenai mereka. Salah seorang dari mereka ini akhirnya meninggal. A yudrab fayuqtal atau di di dipenggal dengan pedang akhirnya meninggal dunia. Dihantam dengan pedang akhirnya meninggal dunia. Apakah mereka dapat uzur? Mereka tidak dapat uzur. Allah mengatakan faanzalallah. Allah turunkan firmannya. Innalladina tawaumikatu anfusim. Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam kondisi menzalimi diri mereka sendiri. Jadi ketika mereka tidak berhijrah, akhirnya dipaksa keluar bersama pasukan Abu Jahal, akhirnya terbunuh. Mereka tidak dapat uzur karena mereka ikut meramaikan pasukan kaum musyrikin. Ini yang diingatkan oleh Ikrimah. Kau jangan ikut-ikutan ni. Kalau kau ikut-ikutan ikut dalam pasukan, meskipun kau mungkin tidak berniat membunuh seorang muslim pun dari pasukan Syam, tapi kok ikut meramaikan dan nanti kalau tiba-tiba ada panah kena engkau, kok salah sendiri. Kenapa masuk dalam rombongan? Ya, maka Ikrimah melarang dengan larangan keras. Jangan ikut-ikutan kalau ada musim fitnah jangan ikut-ikutan memperkeruh meramaikan salah satu dari dua saf yang terjatuh dalam hal fit fitnah. Dan banyak sahabat ketika terjadi fitnah mereka tidak ikut-ikutan. Makanya ketika terjadi fitnah antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah yang ikut serta mungkin cuma 30 sahabat. Sisanya enggak ada ribuan sahabat enggak ada yang ikut-ikutan. Enggak ada yang ikut-ikutan. Bahkan Ali bin Abi Thalib sebagai amirul mukminin ketika itu tidak bisa memaksa sahabat untuk ikut dalam pasukannya. Karena sahabat memang ini fitnah tidak ikut itu. Padahal Ali bin Abi Thalib. Gimana lagi kalau zaman kita kemudian ini bukan Ali bin Abi Thalib, bukan Muawiyah. Bahlul, vs Bahlul. Terus kita ikut-ikutan, sayang. Sayang. Terus mending yang diperjuangkan akhirat, terkadang yang diperjuangkan dunia. Terus kita bunuh orang atau kita terbunuh, ngapain? Hidup cuma sekali. Jangan spekulasi. Pokoknya semua yang berbau fitnah bisa menimbulkan potensi pertumpahan darah. Hindar, menghindar, menghindar. Gak usah. Jangan ikut-ikutan ngomong, jangan provoka, jangan provokasi menjauh. Kenapa? Ini fitnah antara muslim dengan muslim yang yang lain. Kemudian ee Syekh Abdul Lahab rahimahullah membawakan e sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Waqul sallallahu alaihi wasallam, walakin man radiya wataba." Akan tetapi siapa yang rida dan mengikuti ini hadis terkait dengan Rasulullah kabarkan akan ada penguasa yang ee yang zalim ya. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Innahu yustammalu alaikum umaro fatifun watunkirun." Akan dijadikan menguasai kalian para amir-amir, para penguasa-penguasa. yang kalian tahu ada ada kebaikan yang mereka lakukan dan ada perkara mungkar yang mereka lakukan. Ini penguasa kadang melakukan kebaikan, kadang melakukan kebu keburukan. Kadang kebaikannya lebih banyak, kadang keburukannya lebih banyak. Adapun terkait dengan keburukan mereka, faman kariha faqad baria. Siapa yang benci dengan perbuatan buruk penguasa maka dia telah berlepas diri. Waman ankaro. Siapa yang mengingkari faqad salima maka dia telah selamat. Walakin yang tidak selamat siapa? Walakin man radya yang rida dengan kemungkaran penguasa wataba bahkan mengikuti maka ini yang yang ya yang yang berbahaya ya. Di sini ee Syekh Abdul Wahab rahimahullah membawakan asar ini. Mengingatkan bahwasanya terkadang muncul fitnah dan kita status sebagai rakyat kemudian terjadi peperangan sesama muslim misalnya, maka tidak mesti kita harus taat kepada penguasa. Tidak mesti harus taat kepada penguasa. Kalau kita disuruh untuk masuk perang sama kaum muslimin, tidak harus taat. Kita melihat itu kemungkaran. Gak usah ikut-ikutan. Tib. Waktu Ali melawan Muawiyah, Ali yang lebih tepat dengan kebenaran. Tapi apakah semua sahabat ikut Ali? Tidak. Mereka enggak ikut. Karena yang mereka memandang ini adalah fit fitnah. Mereka mereka menjauh. Mereka menjauh ya. Beda ketika menyerang Khawarij. Mereka mengarang Khawarij. Semangat sahabat untuk menyerang siapa? Khawarij. Karena khawarij jelas mengkafirkan, menyesatkan dan seluruhnya. Maka semangat menyerang Khawarij. Ali pun semangat menyerang Khawarij. Tapi ketika berhadapan dengan kubu Muawiyah, ada masalah yang terjadi. Sebagaim sudah kita jelaskan ketika Utsman terbunuh radhiallahu anhu. Kemudian timbul masalah di belakang di balik itu semuanya berijtihad ingin kebaikan. Ya, oleh karenanya tidak semua kemudian ee ketika penguasa melakukan kemungkaran kita aminkan. Dan ini saya selalu ingatkan kita akidah ahlusunah wal jamaah adalah taat kepada penguasa pada yang baik. Kalau puasa melakukan kemungkaran tidak boleh memberontak sama sekali tidak boleh kecuali mereka kafir. Kecuali mereka kafir. Itu kafir pun kafir yang jelas. Bukan dikafir-kafirin. Benar-benar kafir yang jelas. Pindah agama kek injak Quran eh Nabi nak maki-maki Nabi Muhammad ya itu baru kafir yang benar-benar jelas. Adapun cuma masih remang-remang, tidak boleh. Itu pun boleh memberontak kalau mampu untuk mengkudeta, menggulingkan. Kalau tidak mampu maka tidak boleh memberontak. Selama dia masih muslim meskipun kebejatannya kayak apapun tidak boleh memberontak. Ini akidah ahlusunah wal jamaah. Tetapi bukan berarti semua yang dia ucapkan, yang dia katakan kita aminkan. Enggak. Kalau dia menyatakan karena memang pemerintah Nabi pasti benar terus kan. Enggak. Kadang benar kadang sa salah. Kalau benar kita dukung, kalau salah kita jangan ikuti. Ya, kita jangan ikuti. Ya, makanya Rasulullah mengatakan, "Siapa yang bersabar dengan kezaliman penguasa, tidak memberontak bersabar, dia akan bertemu denganku di telaga." Ya. Ya. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam bahwasanya akan ada ararah yaitu akan ada penguasa-penguasa yang hanya mengentingkan dirinya, mementingkan keurusan keluarganya, pribadinya dan menggunakan orang-orang yang tidak ahli diletakkan di jabatan-jabatan, sementara yang ahli ditinggalkan. Kata Nabi, "Akan muncul orang-orang seperti itu." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Isbiru, bersabarlah kalian." Hatta talquni alal haud sampai kalian bertemu aku di telaga. Menunjukkan sabar dengan pemerintah yang zalim selama mereka masih muslim. adalah sebab seorang bertemu dengan Nabi, telaga Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi Rasulullah ingatkan, barang siapa yang ee kemudian melihat kemungkaran dari penguasa kemudian dia rod wataba rid dengan kemungkaran tersebut bahkan mengikuti wasoddaqahum, bahkan membenarkan semua keputusan mereka, mengaminkan seluruh kemungkaran mereka, dia tidak akan bertemu dengan Nabi di telaga. Jadi ee kita di tengah kalau penguasa menyuruh kepada kebaikan kita dukung semaksimal mungkin. Kalau mereka melakukan kesalahan kita ber bersabar dan jangan diikuti. Seakan-akan Syekh Abdul Wahab mengatakan kalau ada penguasa kemudian ngajak berperang melawan sama kaum muslimin gak usah di diikuti. Tidak perlu diikuti. Karena ini mengajak kita terjerumus dalam fitnah. Kalau sudah begitu akan berdampak pada pertumpahan darah sama kaum kaum muslimin. Ini terkadang terjebak dengan kondisi yang mengerikan. Tiib. Kita lanjutkan bab berikutnya. Babun zikrul uquq. Bab tentang dosa durhaka kepada kedua orang tua. Waqulullahi taala. Dan firman Allah Subhanahu wa taala, aniskurli waliwalidaika ilaial masir. Dan bersyukurlah kepadaku dan juga kepada kedua orang tuamu. Kepada akulah tempat kembali. Di sini Allah mengagungkan hak kedua orang tua sampai Allah menggandengkan antara perintah bersyukur kepadanya dengan perintah bersyukur kepada kedua orang orang tua. Dan Allah ingatkan bahwasanya kalian akan kembali kepadaku. Itu Allah akan menilai bagaimana cara kalian berterima kasih kepada bersyukur kepada kedua orang tua. Ya. Karena jasa orang tua yang begitu besar sampai Allah gandengkan antara ee bersyukur kepada Allah dengan bersyukur kepada kedua kedua orang tua. Oleh karenanya, siapa yang tidak bersyukur malah membalas kebaikan orang tua dengan keburukan, maka dia terjerumus dalam dosa besar, yaitu durhaka kepada kedua orang tua. Datang dalam hadis yang masyhur ketika Rasul sahu alaih wasallam mengatakan, "Ala unabbiukum biakbaril kabair." Maukah kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar? Qulna bala ya Rasulullah. Kata para sahabat tentu ya Rasulullah apa itu dosa-dosa besar yang paling besar? Dosa besar banyak di antara dosa-dosa besar tersebut ada yang paling besar. Maka Rasulullah berkata al isyrqu billah. Syirik kepada Allah. Kemudian kata Nabi yang kedua, wa uququl walidain. Durhaka kepada kedua orang tua. Durhaka kepada kedua orang tua. Maka ee dosa yang paling besar terkait dengan Allah adalah syirik. Allah yang menciptakan kamu. Allah yang berikan rezeki kepadamu. Allah yang menyediakan alam semesta buatmu. Allah yang menerbitkan matahari. Allah yang memberikan udara bagimu. Semuanya terus kau menyembah selain Allah. Nam tidak tahu bersyukur. Itulah syirik. Orang yang syirik tidak tahu berterima kasih kepada Allah Subhanahu wa taala. Saya sering bilang, seandainya yang menciptakan saya dua zat, Allah dan zat yang lain, maka zat yang lain itu harus saya sembah juga sebagai bentuk terima kasih saya kepada zat tersebut. Tetapi yang menciptakan kita cuma siapa? Allah. Mencipta al sama saya cuma Allah. Maka siapa yang menyembah Allah, menyembah selain Allah tidak tahu berterima kasih. Makanya di antara dosa paling besar terkait dengan hak Allah adalah syirik kepada Allah Subhanahu wa taala. Karena dia beribadah kepada selain Allah, bersama Allah. Nah, di antara terkait dengan manusia yang paling besar jasanya kepada kita adalah kedua orang tua. Ibu yang mengandung kita sudah gak bisa kita gak bisa kita balas budinya. Nah, ternyata harusnya kita berterima kasih, kita balas dengan bentuk durhaka, maka ini wajar merupakan dosa paling paling besar paling besar kepada ee Allah subhanahu wa taala karena terkait dengan durhaka kepada kedua orang tua. Dan banyak ayat-ayat yang menggandengkan antara hak Allah dengan hak orang tua. Di antaranya ayat ini, aniskurli waliwalida. Berterima kasihlah kepada Allah dan berterima kasih kepada kedua orang tua. Demikian juga firman Allah, waqab rbuka alla tabudu illa iyahu wabil walidain ihsana. Allah memerintahkan, bertauhidlah kalian dan berbaktilah kepada kedua orang tua. Ini dalil bahwasanya di antara konsekuensi tauhid kepada Allah adalah berbakti kepada kedua kedua orang tua. Allah juga berfirman, "Waudullaha wala tus bih wabil walidaini ihsana." Beribadah kepada Allah jangan syirik. Berbaktilah kepada kedua orang tua. Allah juga berfirman, wabil ihsana. Kemarilah aku kabarkan kepada kalian perkara yang Allah haramkan kepada kalian. Jangan buat syirik dan berbaktilah kepada kedua orang tua. Sering Allah gandengkan antara hak Allah dengan hak kedua orang tua agar kita tahu bahwasanya hak kedua orang tua sangat agung mengalahkan segala yang yang lain. Makanya ketika Rasulullah ditanya, "Man ahsanasi bisohabati?" Man ahaqunasi bisohabati? Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berhak untuk kita baikin? Kata Nabi, "Ummuk, ibumu tummaan." Kemudian siapa? Ibumu. Kemudian siapa? Ibumu, kemudian ayahmu. Itu orang tua yang paling berhak untuk kita baikin. Sebagian orang kalau sama kawannya masyaallah bermuka manis, senyum murah ee murah senyum, ramah sama orang tuanya. Dia asal ngomong, asal bicara ya. Apalagi kemarin sempat timbul syubhat tersebar di luar negeri. Saya dikirimkan oleh sebagian kawan yang waktu itu di luar negeri. Simbul syubhat disebarkan oleh sebagian orang nonmuslim bahwasanya orang tua memang wajib untuk ngurusin anak. Jadi jangan pernah merasa ya itu memang kewajibanmu punya anak saya wajib bagimu untuk ngurusin apa saya. Sehingga menghilangkan rasa terima kasih dari anak kepada orang tua. Ini sempat tersebar di Genzet Genz ya. Sampai seakan-akan orang tua kalau enggak ngurusin anak ya kalau dia ngurusin kita itu kewajiban dia. Kalau enggak ngurusin ya kurang ajar gitu ya. Sehingga ketika disebarin syubhat bahwasanya memang itu kewajiban orang tua, kewajiban orang tua ya seakan-akan ya sudah itu kewajibannya sehingga anak tidak merasa punya rasa ber terterima kasih. Oleh karenanya Allah ingatkan bahwasanya jasa orang tua sangat ee sangat banyak. Dan Allah mengatakan dalam ayat ini, "Wa ilaiyal masir." Dan kepadakulah kalian angkat kembali, yaitu sikapmu dalam berterima kasih kepada kedua orang tuamu. Akan saya nilai, akan ada hasilnya di hari akhirat. Bab kita lanjutkan hadis berikutnya. An ibni Amr radhiallahu anhuma. Beliau berkata, "Aqbal rajulun Nabi sallallahu alaihi wasallam faqala." Ada seorang datang menemui Nabi dan dia berkata, "Ubayuka alal hijrati wal jihadi abil aj minallah." Ya Rasulullah, aku ingin membayat engkau itu mengambil janji setia untuk apa? Untuk hijrah. Saya meninggalkan kampungku untuk hijrah menuju engkau. Yang kedua, wal jihad fisabilillah. Dan saya ingin berjihad, bersumpah setia untuk berjihad, mengorbankan jiwa, ragaku, hartaku untuk Allah subhanahu wa taala. Kemudian dia tegaskan, "Abtagil ajro minallah." Saya melakukan ini semua murni untuk mencari pahala dari Allah. Bukan enggak ada urusan duniawi, ninggalkan kampung halaman. mengorbankan jiwa raga, mencari pahala di sisi Allah. Maka ini niat yang tulus atau tidak tulus? Pengorbanan luar biasa. Apa kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Hal min walidaika ahadun hayyun. Apakah masih ada dari dua orang tuamu yang masih hidup? Satu orang, dua orang masih hidup. Qala naam bal kilaahuma. Kata dia, "Naam ya Rasulullah." Bahkan dua-duanya masih hidup. Ayah masih hidup, ibu masih hidup. Qala fatabtil ajro minallahi taala. Benar kau ingin cari pahala dari Allah? Q naam. Benar. Saya ini mau hijrah meninggalkan kampung halaman ingin jihad mati untuk mencari pahala. Benar kau ingin cari pahala? Kata dia. Benar. Kata Nabi, "Farji ila walidaika faahsin shbatahuma." Kalau memang kau ingin cari pahala, balik kedua orang tuamu dan pergaulilah mereka dengan cara yang terbaik. Akhrajahu wf muslim. Hadis sahih Bukhari dan Muslim. Hadis lafal riwayat Muslim. Lihat orang ini punya niat yang luar biasa. Tapi Rasulullah ingatkan dia, "Benar kau cari pahala?" Benar ya, ada pahala lebih besar daripada jihad. Yaitu berbakti kepada kedua orang tua. Makanya saya motivasi antum yang orang tuanya masih hidup. Bayangkan kalau kita disuruh jihad sekarang. Tahu-tahu misalnya pemerintah bilang, "Ayo jihad berangkat menuju ke Palestina lawan Benyamin di Tanaho misalnya. Tinggalkan anak istri ya. Tinggalkan anak istri, tinggalkan kerjaan, uang semua keluarkan. Beratlah baru pergi pikir pikiran macam-macam mestinya berat karena perjalanan jauh, biaya banyak, letih lawan musuh, mungkin kemampuan berperang tidak ada. Berat. Kita bayangkan suruh ke sana berat. Ternyata ada yang lebih berat, lebih besar daripada itu pahalanya. Berbakti sama orang tua. Jadi kalau kita malas untuk berbakti sama orang tua, ingat jihad itu susah. Susah itu ternyata masih ada pahala yang lebih besar yaitu berbakti kepada orang orang tua. Sehingga kita semangat untuk berbakti kepada kedua orang tua. Saya sering bilang, berbakti kepada orang tua mewakili banyak ibadah. Mungkin engkau tidak banyak salat malam, mungkin engkau tidak hafal Quran, mungkin engkau kurang sedekah, mungkin engkau mungkin mungkin mungkin mungkin. Tapi kalau kau berbakti orang tua mungkin mewakili banyak ibadah. Mewakili banyak ibadah dan bakti kepada orang tua menghapuskan banyak dosa. Menghapuskan banyak dosa. Makanya ketika ada seorang yang belajar sihir, dia datang kepada Ibnu Abbas karena dia menyesal. Dia bilang, "Adakah mungkin Allah mengampuniku?" Tanya sahabat-sahabat. "Enggak ada yang jawab." Tidak ada yang jawab. Tidak ada yang jawab. Karena dosa yang dilakukan sangat besar, itu melakukan praktik sihir. Akhirnya ketemu Ibnu Abbas, Ibnu Abbas mengatakan, "Kau masih punya ibu?" "Masih. Berbaktilah sama ibumu. Bisa menghapuskan dosa syirik syirikmu." Makanya Rasul sahu alaihi wasallam mengatakan, "Ragima anf celaka." Man adraka abawahial kibar tma lam yadil jannah. Celaka orang yang masih sempat bertemu kedua orang tuanya di masa jompo kemudian dia tidak bisa masuk surga. Ini orang celaka. Kenapa? Kesempatan dia cari pahala terbesar di depan mata. Namun dia lalaikan. Cukup kau berbakti pada orang tua mewakili banyak amal ibadahmu. Siapa yang mampu jihad? Berat. Apalagi jihad di zaman Nabi. Zaman jihad zaman Nabi mungkin tidak semudah sekarang. Berjalan ratusan kilo, bawa barang-barang berat kemudian melihat kilatan-kilatan pedang. Ya, berat ya. Coba bayangkan sahabat perang Muktah jalan dari Madinah menuju Muktah. Madinah Muktah mungkin 1000 kilo kita mungkin kalau suruh perang jalan 1000 kilo belum sampai sudah mati di tengah jalan sakit inilah sakit anulah video call lah misk lah apa. Aduh sudah dekat bentar lagi tak mati dulu sebelum ketemu. Sampai di sana ternyata musuh 200.000 bayangkan 3.000 lawan 200.000. Berat ini Rasulullah berbicara jihad di zaman beliau. Tapi Rasul bilang, "Benar kau ingin pahala?" "Benar ya Rasulullah. Ya udah pulang ke orang tuamu berbakti sama mereka." Lebih afdal daripada jihad. Makanya ketika Rasulullah ditanya, "Ayul amali ahabbuallah, amalan apa yang boleh dicintai oleh Allah?" Kata Rasulullah, "Shatu ala wqtiha, salat pada di awal waktu." Ayu. Kemudian apa hadis Ibnu Masud? Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Birul walidain." Berbakti kepada kedua orang tua. Ayu. Kemudian apa kata Rasulullah? Yang ketiga, aljihadu fi sabilillah. Maka birul walidain lebih tinggi daripada jihad fi sabilillah. Maka yang masih punya orang tua jangan lewatkan kesempatan luar biasa untuk mencari pahala yang terbaik. Tapi ingat berbakti sama orang dulu itu amal saleh. Jangan dipublish. Ini lagi dorong ibu nih. Lagi inilah lagi anulah, lagi anah. Ini amal saleh bukan untuk diriakkan. Saya sudah belikan ibu saya ini, saya sudah bangunkan ibu saya ini. Saya enggak usahlah itu amal saleh cari pahala karena Allah subhanahu wa taala. Maka Rasul mengatakan, "Farji ila walidaika." Kembalilah. Enggak usah jihad, enggak usah hijrah. Bayangkan dua amal saleh dikalahkan, hijrah dan jihad. Yang satu saja sudah bikin orang masuk surga. Hijrah saja bisa bikin masuk surga. Jihad saja bisa bikin masuk surga. Tetapi kata Nabi, "Kalahkan dua-duanya. Enggak usah hijrah, enggak usah jihad. kembali sama orang tua berbakti sama mereka berdua ya lebih ringan pahalanya lebih ringan lebih ringan pekerjaannya pahalanya lebih be besar kita lanjutkan hadis berikutnya wa an Muawiyah bin Jahimah radhiallahu taala anhu anna jahimah jaa ilan Nabi sallallahu alaihi wasallam faqala ada seorang sahabat datang kepada Nabi dan dia berkata, Ya Rasulullah, aradu an akzua waqad jiu astasyiruka. Ya Rasulullah, saya ingin jihad dan saya datang untuk meminta pendapatmu. Astasyir itu ingin cari pendapat. Bagaimana pendapatmu? Rasulullah langsung tanya, "Fahalaka min um." Kau punya ibu? Subhanallah. Ini dia ee almustasyar muktaman. Orang dimintai pendapat, dia harus amanah memberikan pendapat yang terbaik. Kalau orang datang sama kita minta pendapat, kita berusaha carikan pendapat yang terbaik semampu kita. Dia kerjakan enggak kerjakan urusan dia. Tapi kita di akan ditanya oleh Allah ketika kita diminta apa? Saran. Kewajiban kita adalah memberi saran yang terbaik. Kita tahu jawaban kita ini akan dihisab oleh Allah Subhanahu wa taala. Almustasyar muktaman. Orang yang diminta dimintai nasihat maka dia sedang diberi amanah. Maka Rasulullah pasti memberi isyarat yang terbaik. Saran yang terbaik buat orang ini ketika dia bilang, "Ya Rasulullah, saya ingin jihad. Saya ingin pendapat saran darimu." Kata Rasulull sallahu alaihi wasallam, "Fahalaka min umum, kau masih punya ibu?" Kata orang tersebut, "Naam." Iya. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Falzam, lazimilah ibumu fainnal jannata tahtarijaiha." Karena surga berada di bawah kedua kakinya. Udah, enggak usah jihad. Berjuang, berbakti kepada ibu. Karena surga berada di bawah telapak kaki ibu. Ini isyarat bahwasanya ketika Rasulullah mengatakan surga di kaki ibumu agar kau merunduk dan merendah tawadu di hadapan ibu. Jangan pernah mentang-mentang di hadapan ibu. Mentang-mentang kita sudah kaya, mentang-mentang kita pintar, mentang-mentang kita sudah bergelar, mentang-mentang kita sudah sekolah, jangan pernah mentang-mentang di hadapan orang orang tua. Sebab betap pun tinggi ilmu kita, betapaapun banyaknya harta kita, betapapun tinggi jabatan kita sama ibu, kata Nabi, surganya di bawah telapaknya untuk menunjukkan kita merendah kepada kedua orang tua. Wfit lahuma janaul minarahm. Rendahkanlah dirimu kepada kedua orang tuamu dengan penuh kasih kasih sayang. Orang yang paling utama kita rendahkan diri kita adalah kedua orang tua terutama ibu ibu kita. Karena Rasulullah mengatakan, "Falzam yaitu senantiasa berbakti sama orang tuamu." Ilam luzum yaitu senantiasa. Bukan berbakti sekali-sekali doang. Datang ketemu orang tua cuma setahun sekali. Setahun sekali kemudian bawa roti kongguan. Terus pulang ambil dua karung beras dari orang tua. Ini ini bukan berbakti. ini nyolong dari orang tua. Sampai saya pernah cerita gini, ada yang bilang, "Benar, Ustaz. Kemarin ada kawan dia pergi ke rumah orang tuanya kemudian dia bawa hadiah sedikit. Dia bawa dua karung beras, akhirnya naik motor jatuh karena enggak bisa belok." Oh, benar benar. Ternyata kejadian saya padahal cuma bercanda aja. Subhanallah. Falza maksudnya sering telepon kek, datang kek, semampu kita tentunya. Kalau kita enggak mampu ya sudahlah. Kalau semampu kita, lazimi orang tua sebisa sebagi kita ya. sebisa kita semampu kita yang semaksimal bisa kita lakukan. Karena surga di bawah telapak kaki ibu. Hadis berikutnya an Abi Hurairat radhiallahu taala anhu dari sahabat Abu Hurairah anna rajulan qala. Ada seorang lelaki berkata, "Ya Rasulullah, manquasi bihusnbati." Siapa orang yang paling berhak yang aku baikin dia dalam pergaulan? Siapa orang yang paling berhak untuk aku baikin? Qala ummuka ibumu qala tumma man kemudian siapa ummuka kata nabi ibumu qma man kemudian siapa nabi menjawab yang ketiga siapa juga i ummuka ibumu qala tumma man kemudian siapa qala abuka ayah ayahm jadi ibu berapa kali tig ayah berapa kali sekali ini bukan ibunya ada tiga bukan ya ini ibu yang sama ibumu Ibumu. [tertawa] Katanya, "Ibu harus ada tiga." Enggak. Ibu cuma satu, ya. Ibu kandung cuma sa satu. Cuma ditekankan tiga tiga kali. Perhatikan di sini, orang ini tahu bahwasanya di antara ibadah adalah pergaulan, di antara ibadah adalah interaksi sama manusia, akhlak kepada sama manusia. Nah, orang siapa sih yang paling utama kita berbuat baik kepadanya? Rasulullah mengatakan ibumu. Kemudian ibumu kemudian ibumu. Sebagian orang ketika dia punya hutang budi sama orang lain, dia lupa orang tuanya. Ketemu orang, orang ini baik, kasihkan dia kerjaan. Sehingga dia sampai dia berkata, "Orang ini telah menawanku dengan kebaikannya." Tiba ibumu tidak menawanmu dengan kebaikan ibumu? Sampai dia lupakan orang tuanya. Rasulullah bilang, "Siapa?" Rasulullah ditanya, "Siapa orang yang paling berhak untuk kita baik?" Rasulullah tidak mengatakan orang yang kasih kau kerjaan yang paling utama kau baikin. Orang yang kasih kau mobil gratis yang utama kau baikin. Enggak. Rasulullah tetap mengatakan apa? Ibu ibumu. K orang kadang lupa sama kedua orang tuanya. Itu temannya baik sama temannya terus orang tuanya sudah enggak dianggap. Memang enggak dianggap. Maka ini kesalahan tib Rasulullah mengatakan ibumu, ibumu, ibumu tiga kali. Di sini ada dua pendapat di kalangan para ulama. Pendapat pertama jumhur ulama mereka mengatakan karena ibu punya hak untuk dibaikin tiga kali lipat daripada ayah. Makanya disebut tiga kali. Kenapa sebut tiga kali? Karena ada tiga kebaikan ibu yang tidak disertai oleh ayah. Apa? Pertama mengandung. Yang mengandung cuma siapa? Ibu. Ayah enggak ikut mengandung, cuma meletakkan benih. Kemudian, "Assalamualaikum." [tertawa] Yang mengandung siapa? Ibu. Yang melahirkan siapa? Ibu. Yang menyusui siapa? Ibu. Ya. Maka tiga ini tidak diikuti oleh ayah. Adapun tarbiah, ayah ikut serta. Dari sini ee Allah berfirman, "Hammalathu ummuhu kurhan waathu kurhan wamlalu syahro." Ibunya mengandungnya dalam kondisi tidak menyenangkan. Ibu mengandung sakit tidak enak, muntah-muntah, mual, tapi dia senang anaknya di dalam. Cuma kondisi dia tidak menyenangkan. Wadu Quran ketika melahirkan juga tidak menyenangkan. Tapi dia gembira menunggu kapan anaknya keluar. Tapi kesakitan dia hadapi. Kemudian wahamlu fisuh syahr. Kemudian mengandungnya dan menyusunya selama 30 30 bulan. Kata para ulama, ini dalil bahwasanya anak minimal 6 bulan di dalam kandungan kalau menyusi 2 tahun. 2 tahun tambah 6 bulan sama 30 30 bulan. Makanya disebutkan sebagian fuqaha kalau seorang menikah ternyata 5 bulan kemudian melahirkan ini bukan berarti bukan anaknya. Karena anak melahirkan normal minimal berapa? En 6 bulan. ini baru menikah 4 bulan sudah keluar anak normal lah. Ini bukan anak yang syar syari tib. Ee di sini Allah menyebutkan tiga perkara mengandung, melahirkan, sama menyu menyusui. Maka jumhur ulama, majelis ulama berdalil inilah sebabnya kenapa Nabi mengatakan ibumu, ibumu, ibumu. Sehingga berbakti kepada ibu tiga kali lipat daripada ayah. Berbeda dengan pendapat kalau tidak salah pendapat ulama Malikiyah kata mereka tidak. Bakti kepada ibu sama ayah sama saja. Bakti sama ibu sama ayah sama sama-sama 50%. Bukan tiga kali lipat ayah, ibu tiga kali lipat gak. Adapun Rasulullah mengatakan ibu ibuibu untuk menekankan karena seorang sering lupa berbakti kepada ibu. Apalagi di zaman tersebut wanita dihinakan sehingga banyak durhaka kepada ibu. Makanya Rasulullah mengatakan, "Innallaha ee kari lakum salasan." Ya, sungguhnya ee arah alaikum umahat. Sesungguhnya Allah mengharamkan bagi kalian durhaka kepada kepada ibu. Wawa'dal banat. Mengharamkan kalian untuk menguburkan anak perempuan hidup-hidup. Di sini Rasulullah tidak mengatakan Allah mengharamkan durhaka kepada ayah, tapi Rasulullah mencukupkan Allah mengharamkan durhaka kepada ibu. Karena itu yang sering terjadi di zaman itu. Karena siapa mau durhaka sama ayah, tinggal ditonjok sama ayah. Tapi kalau sama ibu dimaki-maki, ibu enggak bisa apa-apa. Sehingga potensi untuk durhaka kepada ibu lebih besar daripada potensi durhaka kepada ayah. Sehingga Rasulullah mengucapkan ummuka ummuka, ummuka tiga kali. Bukan untuk menyatakan ibu tiga kali lipat, tapi dalam rangka untuk menekankan. Karena potensi berbakti kepada ee berurhaka kepada ibu lebih besar daripada potensi berbakti berdurhaka kepada a ayah. Makanya Allah sebutkan juga dalam Al-Qur'an tentang hamil, melahirkan, menyusui, karena itu adalah kebaikan ibu yang terlupakan. Beda dengan ayah. Kita lihat ayah kasih uang, ayah cari nafkah, ayah yang belikan ini, ayah yang belikan anu, kita lihat kita sudah besar. Tapi ketika dalam kandungan kita enggak ingat apa-apa. Kita menyusui, disusui, kita jugaak ingat apa-apa. Ya, ketika masih kecil kita enggak ingat. Ketika kita sudah bisa mengerti itu sudah tidak terjadi. Yang terjadi bapak baik bawakan makanan, belikan ini buat ibu-ibu yang nerima. Sehingga kebaikan orang tua yang justru di situ sangat krusial, sangat vital, itu kita lupakan. Makanya perlu Allah ingatkan sendiri. Allah ingatkan sendiri. Makanya ikhwan mungkin yang belum menikah, belum punya anak, mungkin lupa. Tapi nanti kalau antum menikah, antum menikah berusaha temani istri kalau mela melahirkan. Biar tahu dulu antum begitu nyusahin orang tua. Ternyata susah ketika apa mau anak kita lahir susah, istri kita mual-mual minta inilah alasannya ngidamlah. E kita ikut susah ya ikut susah. Tapi saya sering cerita kawan saya pas naik bis tahu-tahu istrinya bilang, "Abi, saya pengin makan rujak." Kata kawan saya, "Siap nanti dibelikan." Bukan rujak yang lagi dimakan ibu itu. Aduh. Akhirnya teman saya datang. Eh, Om Afan, Om. Eh, minta dong. Intinya dikasih karena dia lagi enggak pengin rujaknya itu, bukan rujak yang lain. Dia ada aja. Nanti kalau bilang ini kan ngidam, masa enggak ngerti. Punya dalil banyak minta sesuatu. Akhirnya suami juga ikut susah. Ah, itu kita dulu waktu kecil ngerepotin kedua orang tua. Yang repot bukan ibu kita, bapak kita juga ikut reot. Oleh karenanya Allah ingatkan langsung karena ini di antara kebaikan orang tua yang ter yang terlupakan. Yang terlupakan. Oleh karenanya Allah sebutkan Nabi sebutkan tiga kali bukan tiga kali lipat dari ayah tetapi sama cuma perlu diingatkan berbakti kepada ibu karena potensi durhaka kepada ibu lebih lebih besar. Maksud saya jangan sampai orang salah paham. Ketika ibu sama bapak ada masalah kita harus bela ibu tiga kali. Enggak. Gak boleh. Gak boleh. Tetap kita menilai kebenaran atau kita tidak ikut-ikutan. Ya, bukankah juga kita binnya ke ibu atau ke bapak? Ke bapak. Rasulullah mengatakan inna in inna ee apa namanya? Anta wauka liabik. kau dan hartamu milik bapakmu. Ketika ada orang tua ingin mengambil harta dari anaknya, dia mengeluh kepada Nabi. Dia mengatakan, "Kau dan hartamu milik bapakmu." Ya, oleh karenanya kita sebagai anak berbakti kepada keduanya, baik ayah maupun ibu semaksimal mungkin. Cuma hati-hati, jangan durhaka sama ibu. Karena kalau kita angkat suara di depan bapak, mungkin bapak mukul kita. Tapi kalau angkat suara depan ibu, ibu hanya bisa diam dan menangis. Maka dua-duanya harus berbakti. Ingat susahnya orang tua ketika mengandung dan melahirkan ti hadis berikutnya wal Bukhari an ibni Amr radhiallahu anhuma marfuan dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma. Alkabair al israqu billah waqul walidain waqatlun nafs wal yaminul gamus. Durhaka kepada eh dosa-dosa besar ini dosa-dosa besar yang sangat besar. Pertama syirik kepada Allah. Yang kedua, durhaka kepada kedua orang tua. Yang ketiga, membunuh orang lain. Yang keempat, yaminil gamus, yaitu sumpah palsu untuk mendapatkan harta orang. Gamus artinya ee tenggelam. Maksudnya kalau orang sudah bersumpah dengan sumpah tersebut menenggelamkan dirinya dalam api nera neraka. Dan ini orang lakukan demi untuk dapat harta. Dia bilang, "Demi Allah, demi Allah." Dia bersumpah untuk merampas harta orang, merampas tanah orang, merampas jabatan orang. Dia berani bersumpah. Dan sumpah seperti itu namanya Imul Gamus. Dosa besar akan menenggelamkan dia dalam neraka neraka jahanam. Intinya di sini ee Rasulullah sahu alaihi wasallam menyebutkan di antara dosa besar setelah syirik adalah durhaka kepada kedua kedua orang tua. Maka ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala jangan sekali-sekali kita durhaka kepada kedua orang tua kita. Jangan pernah memandang mereka dengan pandangan sinis. Jangan memandang dengan pandangan kesal kepada kedua orang tua. Jangan pernah merasa ee apa? merasa tinggi di hadapan orang tua. Ya, jangan pernah ngangkat suara di hadapan orang tua. Kalau kita ada ribut dengan orang tua, meskipun orang tua yang salah, tetap kita dengan lembut. Bukan begitu, Bu. Bukan begitu Umi. Kamu bukan begitu, Bi. Bukan begitu Umi. Tetap harus lembut Ibu ini. Ah, itu sayaot kita angkat suara. Jangan sampai kita menyesal setelah kita meninggal. Setelah ibu kita meninggal, meninggal dunia. apapun yang terjadi tetap suara lem lembut ya kalau kita tahu bagaimana pban orang tua kita kepada kepada kita bab demikian saja wabillah taufik hidayah asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh