Transcript
OtiNvMAPRGE • Ramadhan Yang Ku Rindu - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2395_OtiNvMAPRGE.txt
Kind: captions Language: id [Musik] Inalhamdalillah nahmaduhu nastainuhu wasastagfiruhu watubu ilaih wa naudubillahi min syururi anfusinaatialina yahdihillahu fala mudillalah w yudlil fala hadiyaalah asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa asadu anna muhammadan abduhuasul Ahuda huda Muhammadinallahu alaihi wasallam bidahir muslimin. Sesungguhnya Ramadan telah lewat. Hari-hari indah yang kita lewati penuh dengan semangat beribadah telah berlalu. Akan tapi tentunya menyisakan bagi kita banyak pelajaran hari-hari telah kita perjuangkan untuk bisa banyak melakukan ibadah-ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Baik ibadah yang bersifat untuk diri sendiri maupun ibadah yang bersifat sosial. Kita masih ingat di hari-hari tersebut bagaimana semangat kita untuk mengkhatamkan Al-Qur'an. Bahkan ada di antara kita yang beberapa kali khatam Quran dalam sebulan. Bahkan ada yang sehari juga bisa menghantamkan Al-Qur'an. Semua itu karena semangat yang luar biasa, ketulusan kepada Allah Subhanahu wa taala. Di hari-hari tersebut bagaimana semangat kita untuk salat malam. Kita tidak ingin satu malam pun lewat sementara kita tidak salat malam. semuanya karena kita berharap diampuni oleh Allah subhanahu wa taala karena Nabi telah menjanjikan manq ramadana imananisaban gufir lahu ma taqadama minambih siapa yang menjalankan ibadah di bulan Ramadan salat malam di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan penuh pengharapan maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu. Di hari-hari tersebut kita juga bersemangat untuk bersosial, bersedekah, kita sisihkan sebagian harta kita untuk kita masukkan kebahagiaan kepada saudara-saudara kita. Dan di hari-hari tersebut juga kita berpuasa karena Allah Subhanahu wa taala. Bahkan perkara yang asalnya halal, makanan, minuman, melampiaskan ee syahwat kita tinggalkan karena Allah subhanahu wa taala. Semua itu adalah karunia dari Allah Subhanahu wa taala. Oleh karenanya, maaSyiral muslimin, setelah Ramadan berlalu, hendaknya kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa taala atas nikmat bisa bertemu dengan bulan tersebut, bulan ampunan. Bulan yang menjanjikan segala dosa diampuni dan bulan yang menjanjikan akan dinaikkan derajat oleh Allah subhanahu wa taala. Allah berfirman, walitukabbirullah ala ma hadakum wallakum taskurun. hendaknya kalian menyempurnakan bilangan-bilangan yaitu berpuasa sebulan penuhbirullah dan agar kalian mengagungkan Allah al ma hadakum atas hidayah yang Allah berikan kepada kalian bisa menyelesaikan bulan Ramadan dengan baik. Kemudian di akhir ayat kata Allah walaakum taskurun dan agar kalian bersyukur. Maka tugas kita adalah bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala. Para ulama menjelaskan bahwasanya salah satu bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa taala yaitu kita melanjutkan amal saleh tersebut. Amal-amal saleh yang sudah kita bina tatkala di bulan Ramadan tidak kita biarkan begitu saja, tapi kita lanjutkan semampu kita tentunya tidak seperti semangat di bulan Ramadan. Bulan Ramadan bulan spesial berbeda dengan bulan-bulan yang lainnya. Mungkin kuantitas dan kualitas berkurang tetapi tidak kita tinggalkan sama sekali. Dan di antara bentuk syukur kata Allah Subhanahu wa taalaukrak. Beramal salehlah wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan hanya sedikit dari hamba-hambaku yang bersyukur. Oleh karenanya bentuk nyata dari syukur kepada Allah adalah kita beramal saleh. Maka jangan sampai ketika Ramadan telah lewat kita tidak beribadah lagi. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu taala anhuma. Ya Abdallah la takun mla fulan. Wahai Abdullah janganlah kau seperti si fulan yaquumil. Dia dahulunya salat malam. Kemudian dia tidak salat malam lagi. Jangan sampai di hari-hari ini kita sudah tidak lagi baca Al-Qur'an, tidak ada lembaran-lembaran kita buka lagi. Setelah kita berjuang sebulan Ramadan untuk semangat baca Quran. Kemudian ketika di bulan Syawal maka Quran tidak kita baca lagi. Jangan sampai. Justru sebagian ulama mengatakan bukti bahwasanya Ramadan seorang sukses dan berhasil dilihat setelah Ramadan berlalu. Kalau bulan Ramadan orang semangat wajar karena suasana dikondisikan oleh Allah untuk semangat beribadah. Tetapi yang menjadi ujian ada adalah setelah Ramadan berlalu. Apakah kita masih semangat bersedekah? Apa kita masih semangat salat malam? Apa kita masih semangat baca Al-Qur'an? Masing-masing kita merenungkan dirinya masing-masing. Jikala diri kita ternyata setelah Ramadan tetap semangat, tetap beribadah, tetap baca Al-Qur'an, tetap salat malam, maka mudah-mudahan Ramadan kita kemarin telah sukses diterima oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka seorang kembali mengingat tentang keutamaan kemutan ibadah-ibadah yang dia lakukan selama Ramadan. Baca Al-Qur'an karena Al-Qur'an akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat kelak bagi pembacanya. Berpuasa. Puasa juga akan memberi syafaat bagi pembacanya pada bagi orang yang berpuasa pada hari kiamat kelak. Sedekah maka sedekah akan menaungi seorang yang bersedekah tatkala di hari kebangkitan. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Sungguhnya sedekah inqalqiamatias." Sesungguhnya seorang akan berada di bawah naungan sedekahnya pada hari kiamat kelak sampai semua manusia disidang oleh Allah Subhanahu wa taala. Tatkala manusia dibangkitkan di bawah terik matahari dengan jarak 1 mil, hari yang sangat panas, maka semua orang kepanasan. Ada orang-orang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa taala, dinaungi oleh naungan Allah Subhanahu wa taala. Di antaranya orang yang bersedekahq yaumalqiamah. Setiap orang akan dibawa naungan sedekahnya pada hari kiamat kelak. Maka jangan lupa untuk tetap bersedekah meskipun Ramadan telah berlalu. Jangan lupa untuk puasa puasa sunah meski Ramadan telah berlalu. Kita sekarang berada di bulan Syawal. Ada puasa yang mulia, puasa 6 hari. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ramadanal, siapa yang berpuasa bulan Ramadan kemudian disertakan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka seakan-akan dia berpuasa setahun penuh." Hal ini karena alanatu biasri amsaliha kebaikan. Satu kebaikan dihitung 10 kali lipat oleh Allah Subhanahu wa taala. Seorang berpuasa bulan Ramadan seakan-akan dia berpuasa selama 10 bulan. Dan seorang berpuasa 6 hari seakan-akan dia berpuasa 60 hari atau 2 bulan. Maka genaplah 12 bulan jika dia berpuasa bulan Ramadan dan 6 hari di bulan Syawal. Dia boleh berpuasa berturut-turut dan dia boleh berpuasa dipisah-pisahkan harinya. Yang penting dia berpuasa 6 hari selama di bulan Syawal. Maka semoga Allah Subhanahu wa taala mudahkan kita untuk tetap bisa menjalankan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan ini sampai kita bertemu dengan bulan Ramadan berikutnya. Semoga Allah Subhanahu wa taala mempertemukan kita di hari-hari yang indah bertahun-tahun lamanya sehingga kita bisa tetap menikmati kelezatan beribadah di bulan Ramadan di tahun-tahun berikutnya. Alhamdulillahi insaniukrinadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman wa asadu anna muhammadan abduhu waasuluh da ridwan allahumma shli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani maasyiral muslimin. Di antara perkara yang perlu kita bawa dari nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan kita sehari-hari adalah meninggalkan kemaksiatan. Selama di bulan Ramadan kita berusaha menjaga kesucian puasa kita dengan tidak bermaksiat. Kita berusaha menundukkan pandangan sehingga tidak melihat hal yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa taala. Kita berusaha tidak melakukan gibah dan namimah. Kita berusaha menjaga telinga kita sehingga kita tidak mendengarkan hal-hal yang dimurkai oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka berusahalah kita untuk tetap menjaga hal tersebut agar kita tidak bermaksiat setelah Ramadan berlalu. Terlebih lagi apa yang Allah sampaikan atau Nabi sampaikan ketika bulan Ramadan wasufidayatin setan-setan dibelenggu di bulan Ramadan. Sekarang setan-setan lepas kembali. Kalau kemarin selama bulan Ramadan setan-setan tidak berkutik untuk bisa leluasa menggoda manusia, maka mereka menanti hari-hari ini. Hari-hari mereka dilepas kembali untuk mereka leluasa menggoda manusia. Maka seorang waspada waspada untuk tetap bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala. Karena setan-setan sekarang berkeliaran dan lebih luasa untuk menggoda manusia. Maka tetap jaga pandangan, tetap jaga lisan, tetap jaga pendengaran, ya. Jangan sampai kemudian kita terjerumus kembali kepada maksiat. Kalaupun kita terjerumus ke maksiat, kepada kemaksiatan, maka segera beristigfar dan bertobat kepada Allah subhanahu wa taala. Kita ingat juga di bulan Ramadan, bagaimana kita menghargai waktu. Waktu kita benar-benar kita hargai agar kita bisa mencapai target, target mengkhatamkan Al-Qur'an. kita kurangi, sering ngobrol dengan orang lain, kita ngurangi waktu kita untuk melihat metsos. Kenapa? Kita ingin punya target. Maka setelah bulan Ramadan, jangan sampai nilai tersebut kita buang. Tetap kita menjaga waktu kita. Waktu kita ini adalah modal untuk bisa beramal saleh. Waktu kita adalah umur kita. Waktu kita adalah ibarat kumpulan dari detik-detik, menit-menit, jam-jam yang kita lewati. Hari-hari yang kita lewati itulah waktu kita dan itulah umur kita. Kalau kita menyepelekan waktu, menggampangkan waktu, membuang-buang waktu, berarti kita telah membuang umur-umur kita. Apa kata Hasan Al Bashri? Ya adam inama anta ayama faza baamba baza ba'duka yusik anadhab kulluk anadhab kulluka. Kata Hasan Albashri rahimahullahu taala, "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah kumpulan dari hari-hari. Jika sebagian hari telah pergi darimu, yaitu telah kau lewati sebagian hari, maka sungguhnya sebagian umurmu, sebagian dirimu telah sirna. Dan jika sebagian dirimu telah sirna, maka bisa jadi kau akan sirna seluruhnya. Itu kau akan datang waktu di mana kau akan meninggal dunia. Jadi problem bagi kita seorang muslim adalah kita tidak menghargai umur kita, tidak menghargai waktu kita. Seakan-akan umur kita panjang padahal kita tidak tahu kapan dipanggil oleh Allah Subhanahu wa taala. Ramadan mengajarkan kepada kita bahwasanya kita benar-benar menghargai umur kita, menghargai waktu kita. Oleh karenanya Allah menyebutkan di antara ciri-ciri orang beriman adalah orang-orang yang tidak suka dengan hal-hal yang melalaikan. Allah berfirman, "Qahal mukminun allina." Sungguh beruntung orang yang beriman yang mereka khusyuk dalam salat mereka dan mereka ya berpaling dari perkara-perkara yang sia-sia. Allah juga sebutkan dalam ayat yang lain. Waagwi maru kirama. Kalau mereka melewati perkara sia-sia, mereka tinggalkan. Itu mereka tidak tenggelam dalam perkara sia-sia. Coba kita renungkan diri kita, betapa banyak hal-hal yang sia-sia yang tidak ada faedahnya, tidak ada manfaatnya, kita buang umur kita di situ, kita buang ya modal dasar kita untuk beramal saleh yaitu waktu, umur kita buang. Padahal selama di bulan Ramadan kita benar-benar jaga umur kita, benar-benar jaga waktu kita, bahkan kita kurangi ngobrolan kita, kita kurangi supaya apa? supaya bisa sampai mencapai target baca Al-Qur'an. Maka sungguh merugi seorang muslim hari-hari dia lewati, semua berita dia baca, tapi ternyata Al-Qur'an tidak dia baca. Dunia dia baca, tentang akhiratnya tidak dia baca. Maka nilai Ramadan yang telah kita jalani menghargai waktu, maka hendaknya benar-benar kita bawa dalam kehidupan kita sampai bertemu dengan bulan Ramadan berikutnya, sampai bertemu dengan Allah Subhanahu wa taala. Ketahuilah maasyiral muslimin bahwasanya karamah yang terbesar adalah istiqamah. Sebagaimana dikatakan oleh para ulama a'zamul karamah luzumul istiqamah. Karamah yang terbaik dari Allah Subhanahu wa taala. Karamah yang teragung adalah seorang bisa istiqamah. Bukan seorang bisa terbang. Bukan seorang bisa menghilang. Tidak ada faedahnya orang terbang menghilang. Tidak ada orang dalam dalil mengatakan siapa bisa terbang kemudian masuk surga. Siapa menghilang bisa masuk surga. Gak karamah yang terbaik adalah bisa istiqamah sampai meninggal dunia. Makanya Allah berfirman kepada nabinya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Waudahud rabbaka hatta yatiakal yaqin. Sembahlah Rabbmu sampai kau meninggal dunia. Nabi disuruh untuk tetap tegar beribadah sampai meninggal dunia. Allah mengatakan wala tamutunna illa wa antum muslimun. Janganlah kalian wafat kecuali dalam kondisi Islam yaitu istiqamah. Dan Allah mengatakan sesungguhnya orang-orang yang berkata Rabb kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah maka ketika mereka akan wafat datanglah malaikat turun menuju mereka untuk beri kabar gembira dengan berkata, "Alla takhafu wala tahzanu." Jangan khawatir dan jangan sedih. Bergembiralah kalian dengan surga yang telah dijanjikan bagi kalian. Oleh karenanya, seorang di antara cara untuk istiqamah adalah dengan mendawamkan amal saleh meskipun sedikit-sedikit. Saya tidak suruh salat malam seperti kita di bulan Ramadan. Gak apa-apa 3 rakaat, lima rakaat sebisanya. Tapi jangan tinggalkan salat malam sama sekali. Saya tidak suruh baca Quran setiap hari 2 juz, 3 juz sebisanya setengah juz, 1 juz. Yang penting ada baca Al-Qur'an. Saya tidak suruh sedekah seperti kita habis-habisan ketika bulan Ramadan. Tentu berbeda Ramadan dengan yang lainnya, tetapi sedekah tetap berjalan. Continue. Itulah istiqamah. Puasa. Saya tidak suruh puasa kemudian harus puasa Daud. Gak puasa 3 hari dalam sebulan. Sama seperti puasa dahar. Siapa yang puasa 3 hari sebulan seperti puasa sebulan. Jalani sampai kita dipanggil oleh Allah Subhanahu wa taala. Semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambanya yang istiqamah sampai bertemu dengan Allah subhanahu wa taala. Inallahikatahu ya aina amanu sh alaihi wasallimu taslim