Transcript
X5oPp1i3m54 • Semakin Penghujung Semakin Baik - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2385_X5oPp1i3m54.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu
wafiruhu watubu ilaih wa naud
nazubillahi min syururi
anfusinaatialina may yahdihillahu fala
mudillalah w yudlil fala hadiyalah wa
ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
syarikalah wa ashadu anna muhammadan
abduhu wa rasuluhu la nabiya ba'dah. Ya
ayyuhalladina amanqulaha haqqatih w
tamutun illa waum
muslimun had kitabullahir huda huda
Muhammadin shallallahu alaihi wasallam
umuri muh
wahain finar maasyiral
musliminikumfsi bqallah faq fazal
muttaquun al imam albukhari dan alimam
muslim meriwayatkan dalam sahih mereka
dari sahabat yang mulia ibnu abbas
radhiallahu taala anhuma beliau berkata
kan nabi shallallahu alaihi wasallam
ajwadanas adalah rasul sahu al wasallam
orang yang paling
dermawan ajwadu ma yakun fi ramadan dan
di puncak-puncak kedermawanan beliau
adalah ketika di bulan ramadan hina
yalqahu jibril ketika jibril datang
bertemu dengan nabi sallallahu alaihi
wasallam wanaana jibril yalqahu fi kulli
lailatin min ramadan
Dan Jibril menemui Nabi sallallahu
alaihi wasallam setiap malam di bulan
Ramadan yang sampai bulan Ramadan
selesai. Fayudarisul Quran dan Jibril
mengajari Al-Quran kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Fala
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
ajwada bilhairi minhil mursalah. Sungguh
Nabi sallallahu alaihi wasallam
kedermawanannya lebih besar daripada
angin yang berhembus.
Maasyiral muslimin, hadis ini memberikan
banyak pelajaran kepada kita. Di
antaranya bahwasanya Nabi sallallahu
alaihi wasallam ketika di bulan Ramadan
tidak hanya mengkhususkan ibadah
alqasirah, yaitu ibadah yang terkait
dengan diri sendiri seperti baca Quran
dan yang semisalnya. Tetapi beliau juga
mengutamakan ibadah yang mutaaddiyah,
yaitu ibadah sosial sehingga beliau
lebih-lebih lagi dermawan ketika di
bulan Ramadan. Ibnu Abbas mengatakan,
"Kana Nabi sallallahu alaihi wasallam
ajwadanas." Rasul sahu alaihi wasallam
adalah orang yang paling dermawan dan
beliau adalah puncak kedermawanan secara
mutlak dalam setiap waktu. Akan tapi
ketika datang bulan Ramadan kedermawanan
beliau lebih lagi. Wakana ajwadu ma
yakun fi Ramadan. Dan puncak kedermawan
beliau ketika di bulan Ramadan.
Saking begitu eh tinggi kedermawanan
beliau sampai Ibnu Abbas di akhir hadis
mengatakan wala Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam ajwadu bil khairi
minarhil mursalah. Sungguh kedermawanan
Nabi lebih besar daripada angin yang
berhembus. Angin yang berhembus membawa
kebaikan dan angin berhembus memiliki
dua sifat yaitu cepat dan tersebar.
Cepat dan tersebar. Maka Ibnu Abbas
ingin menjelaskan bahwasanya
kedermawanan Nabi sallallahu alaihi
wasallam ketika bulan Ramadan sangat
cepat dan sangat tersebar. Para ulama
menjelaskan kenapa Nabi sallallahu
alaihi wasallam sangat dermawan di bulan
Ramadan. Beliau mereka menyebutkan ada
lima sebab. Sebab yang pertama
bahwasanya bulan Ramadan adalah syahrun
fadil. Yaitu bulan yang penuh keberkahan
yang di mana pahala dilipat gandakan di
bulan tersebut.
Satu tasbih di bulan Ramadan tidak sama
seperti tasbih di bulan-bulan yang
lainnya. Satu sedekah di bulan Ramadan
tidak sama dengan sedekah di bulan-bulan
yang lainnya. Maka ini kesempatan untuk
mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya
dengan bersedekah di bulan Ramadan. Yang
kedua, mereka menyatakan bahwasanya
bulan Ramadan adalah syahrus siam, bulan
puasa. Dan orang di bulan Ramadan banyak
diar di antara orang-orang yang sibuk
beribadah sehingga mungkin tidak banyak
mencari nafkah. Bisa jadi nafkah mereka
berkurang, bisa jadi pemasukan mereka
berkurang. Maka di antara waktu yang
tepat adalah seorang membantu
orang-orang yang berpuasa untuk bisa
mudah beribadah dengan memberikan
bantuan kepada mereka. Baik makan sahur
maupun makan berbuka. Ya, baik makan
sahur maupun makan untuk berbuka.
Terlebih lagi makan berbuka datang hadis
secara khusus.
Manimana lahu mlu ajri. Siapa yang
memberi buka puasa kepada seorang yang
sedang berpuasa, maka bagi dia pahala
seperti orang berpuasa
tersebut. Akan tetapi tidak mengurangi
pahala orang berpuasa sama sekali. Maka
di bulan Ramadan ini banyak yang mungkin
sibuk beribadah sehingga kurang
pemasukan mereka. Dan secara umum kita
berusaha membantu mereka untuk bisa
beribadah, berpuasa dengan memberikan
buka puasa bagi mereka maupun untuk
bersahur bagi mereka.
Sebab yang ketiga, para ulama
menyebutkan karena di bulan Ramadan
Allah memberikan banyak keberkahan.
Pahala diobral oleh Allah subhanahu wa
taala. Ganjaran diobral oleh Allah
subhanahu wa taala. Allah memerdekakan
banyak orang dari neraka jahanam di
bulan Ramadan. Maka Nabi sallallahu
alaihi wasallam ingin meniru ya
mencontohi kebaikan Allah subhanahu wa
taala. Maka Nabi sallallahu alaihi
wasallam lebih banyak berbuat kebaikan
lagi di bulan Ramadan daripada di
bulan-bulan yang lainnya. Sebab yang
keempat kata para ulama, karena Nabi
sallallahu alaihi wasallam bersyukur
selama di bulan Ramadan setiap malam
didatangi oleh Jibril Alaih Salam
mengajari Al-Qur'an kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Dan
Rasulullah bersyukur dikunjungi oleh
hamba Allah yang saleh seperti Jibril
sehingga menambah keimanan beliau,
menambah ketakwaan beliau. Di antara
bentuk bersyukur kepada Allah subhanahu
wa taala adalah dengan banyak bersedekah
di jalan Allah Subhanahu wa taala. Sebab
yang kelima disebutkan oleh para ulama
karena ketika Nabi sallallahu alaihi
wasallam duduk bersama Jibril kemudian
belajar Al-Qur'an bersama Jibril maka
semakin tampak hakikat dari hari akhirat
dan semakin tampak hinanya dunia ini.
Maka seorang semakin mudah melepaskan
dunia demi akhiratnya. Oleh karenanya,
maasyiral muslimin, di bulan yang mulia
ini tidak usah ragu-ragu untuk banyak
bersedekah, banyak berbuat baik, banyak
berbuat sosial kepada siapa saja yang
bisa kita lakukan. Baik kepada kerabat,
kepada tetangga, kepada kawan-kawan ya,
kepada fakir miskin, kepada para janda,
kepada anak yatim ya dengan berbagai
macam bentuk sosial yang bisa kita
lakukan karena pahalanya dilipat
gandakan oleh Allah subhanahu wa taala.
Kemudian juga hadis ini memberi faedah
bahwasanya di antara ibadah yang agung
di bulan Ramadan adalah membaca
Al-Qur'an terutama di malam hari.
Terutama di malam hari. Para ulama
menyebutkan baca Al-Qur'an di malam hari
lebih afdal daripada membaca Al-Qur'an
di siang hari. Karena di siang hari
seorang sibuk bekerja, pikirannya
bercabang-cabang. Tapi ketika di malam
hari dia lebih fokus. Maka sisihkan
waktu membaca Al-Qur'an di malam hari.
Karenanya Jibril Alaih Salam mendatangi
Nabi sallallahu alaihi wasallam di malam
hari mengajarkan Al-Qur'an kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Dalam
sebagian riwayat fayudarisuhul Quran itu
Jibril ngajari Nabi Al-Qur'an. Dalam
sebagian riwayat Rasulullah berkata,
"Fayuidunil Quran." Yaitu Jibril yang
baca Al-Qur'an kepada Nabi. Nabi
menyimak. Jibril baca Al-Qur'an kepada
Nabi, Nabi menyimak. Dalam sebagian
riwayat fayidun Nabi shallallahu alaihi
wasallam ala Jibril alqurana. Nabi
membaca Al-Qur'an kepada Jibril
seakan-akan kalau kita gabungkan
riwayat-riwayat tersebut, mereka saling
bergantian membaca Al-Qur'an dan saling
menyimak satu di antara yang lainnya.
Oleh karenanya disunahkan seorang untuk
belajar Al-Qur'an, menyimak Al-Qur'an.
Dan Al Imam Nawawi rahimahullah berkata,
"Demikian juga ilmu-ilmu agama yang
lainnya. Seorang berusaha mendekatkan
diri kepada Allah subhanahu wa taala
dengan belajar ilmu-ilmu agama." Hadis
ini juga menjelaskan
bahwasanya zikir yang terbaik di bulan
Ramadan adalah Al-Qur'an. Karena selama
Jibril datang kepada Nabi sallallahu
alaihi wasallam selama 29 malam atau 30
malam tidak disebutkan dalam riwayat
mereka melakukan zikir yang lain. Yang
mereka lakukan hanya belajar Al-Qur'an.
Maka lebih utama zikir ketika di bulan
Ramadan adalah dengan membaca Al-Qur'an
dibandingkan zikir-zikir yang lainnya.
Dan Allah mengatakan, "Syahru Ramadan
alladzi unzila fihil Quran." Bulan
Ramadan adalah bulan yang diturunkan
Al-Qur'an padanya. Sehingga bulan
Ramadan disebut dengan syahrul Qur'an,
yaitu bulan Al-Qur'an. Hadis ini juga
menjelaskan tentang keutamaan bertemu
dengan orang saleh. Nabi sallallahu
alaihi wasallam didatangi oleh Jibril
Alaih Salam hamba yang saleh. Dan Nabi
juga adalah seorang manusia yang sangat
saleh. Sehingga pertemuan dua orang
saleh tentu mendatangkan keimanan,
menambah keimanan kepada Allah Subhanahu
wa taala. Dan ini adalah suatu anugerah
yang patut disyukuri kepada Allah
Subhanahu wa taala. Oleh
karenanya di bulan yang ee mulia ini
kita berusaha untuk beribadah dengan dua
model ibadah. Alibadatul qasirah.
Ibadat-ibadat qasirah yang terkait
dengan diri kita sendiri. Baca Quran,
berzikir, membaca tafsir, menambah
keimanan kepada Allah Subhanahu wa
taala, menelaah ya perkataan para ulama
tentang ayat-ayat Allah sehingga kita
semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa
taala, berdoa kepada Allah subhanahu wa
taala dan ibadah-ibadah yang terkait
dengan diri sendiri. Dan juga jangan
lupa untuk melaksanakan ibadah-ibadah
yang almutaaddiyah, yaitu ibadah-ibadah
sosial. Bagaimana kita bisa bermanfaat
kepada orang lain, terutama kepada
anak-anak, kepada istri, kepada
tetangga, kepada karib kerabat, kepada
kawan-kawan, kepada sama kaum muslimin
secara umum sehingga pahala dilipat
gandakan sebanyak-banyaknya oleh Allah
subhanahu wa taala. Hza astagfirullaha
wakum muslimin kiah fastagfiruhu innahu
hual gfururahurah.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman
lnih wa asadu anna muhammadan
abduhuasuluh da ridwan allahumma shli
alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwan
maasyiral muslimin rasul sahu al
wasallam
bersabda la taquumus saah hatta
yataqarabuz zaman hatta yataqarab zaman
tidak akan tegak hari kiamat sampai
zaman menjadi dekat AT ini ditafsirkan
oleh para ulama secara ee tekstual yaitu
zaman. Nanti akan datang suatu zaman di
mana setahun rasanya seperti ee sebulan.
dan juga ditafsirkan secara maknawi
yaitu zaman terasa cepat berlalu. Zaman
terasa cepat berlalu. Dan ini benar ya
kita waktu begitu cepat berlalu
seakan-akan ya kita baru masuk bulan
Ramadan terkadang ternyata sekarang
sudah hampir lewat setengah Ramadan. Ya,
demikian juga kita merasa dulu baru saja
masih muda, tahu-tahu usia bertama
dengan cepat. Anak-anak yang tadinya
baru kecil tiba-tiba sudah besar ya.
waktu begitu cepatceepat berlalu.
Ramadan lalu tiba-tiba sekarang sudah
Ramadan.
Sekarang baru-baru kita menyambut
Ramadan, sekarang sudah hampir setengah
Ramadan. Dan kaidah menyatakan
bahwasanya setiap semakin di penghujung
waktu ibadah maka semakin mulia.
Contohnya adalah hari Jumat. Hari Jumat
yang paling mulia adalah di waktu asar.
Di penghujung hari Jumat. Waktunya
seorang berdoa kepada Allah Subhanahu wa
taala. Demikian juga hari Arafah yang
paling mulia adalah di penghujung hari
Arafah. Demikian juga di setiap malam
yang paling mulia adalah di
penghujungnya sepertiga malam yang
terakhir. Demikian juga di siang bulan
Ramadan yang dianjurkan waktu berdoa
adalah menjelang berbuka. Demikian juga
bulan Ramadan semakin di penghujung
semakin baik. Oleh karenanya hari-hari
terbaik di bulan Ramadan adalah 10 hari
terakhir. Oleh karenanya kita sudah
lewat hampir setengah bulan Ramadan dan
itu sudah banyak. Jangan sampai kita
kemudian jadi malas-malasan ya. Kita
harusnya semakin semangat karena kita
menuju kepada waktu yang semakin terbaik
di bulan Ramadan. Masih ada kesempatan
untuk kita memperbaiki diri, untuk
menahi diri. Masih ada kesempatan bagi
kita untuk mengkhatamkan Al-Qur'an.
Masih ada kesempatan bagi kita untuk
berbakti kepada orang tua ya. Bagi yang
masih punya orang tua masih ada
kesempatan bagi kita untuk bisa banyak
salat malam, bersedekah, berbuat
kebaikan, menebarkan ilmu dan berbagai
macam ibadah yang bisa kita lakukan.
Semoga Allah mudahkan kita untuk bisa
menyelesaikan bulan Ramadan dengan
sebaik-baiknya dan diterima oleh Allah
subhanahu wa taala.
Inallahikatah nabi ya aina amanu sh
alaihi wasallimuaslima