Tafsir Surat Ali Imran #21 Ayat 130-134 - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
N6vNMLaRt4Q • 2025-11-10
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrul lahu
ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla
ilahaillallah
wahdahu la syarikalahuiman lnih wa
ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh
da ridwan. Allahumma sholli alaihi wa
ala alihi wa ashabihi wa ikhwani.
Hadirin hadirat yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala. Kita lanjutkan
bahasan kita. Surah Ali Imran ayat 130.
Allah berfirman, "Ya ayyuhalladzina
amanu la takulu riba adafan mudhaafah
wattaqulaha la'allakum tuflihun." Wahai
orang-orang yang beriman,
janganlah kalian makan riba dengan
berlipat ganda. Dan bertakwalah
kepada Allah semoga kamu mendapat
keberuntungan.
Ayat 130 Allah membahas tentang larangan
berbuat riba.
Dan sebelumnya ayat 129 dan sebelumnya
masih berbicara tentang perang Uhud.
Tentang perang Uhud 130
dan seterusnya. Allah berbicara tentang
iman dan takwa.
sampai ayat 137 Allah kembali lagi
ee
tentang perang perang Uhud 13 ee 130
ee 137 139 dan seterusnya. Allah kembali
lagi tentang perang Uhud. Jadi 130
sampai 136 itu ayat-ayat seperti
diselipkan
di antara kisah perang perang Uhud. Maka
para ulama membahas, para ahli tafsir
apa maksud disilipkan ayat-ayat ini di
ketika pembahasan perang Uhud ya. Maka
sebagian ulama berusaha mencari hikmah
ya khilaf di kalangan mereka ya. Dan
sebagian mengatakan tidak perlu kita
cari munasabah, kesesuaian. Kenapa
disilipkan? Karena kebetulan memang
ayat-ayat sedang turun. Maka
Allah masukkan di tengah-tengah
ayat-ayat berbicara tentang perang Uhud.
Adapun Syekh S'di rahimahullahu taala
ketika beliau membahas ayat-ayat ini,
beliau mengatakan ada hikmahnya
ayat-ayat ini diselipkan di antara
perang Uhud. Kisah perang Uhud untuk
menjelaskan bahwasanya ayat-ayat berikut
ini tentang ciri-ciri orang beriman.
Ciri orang-orang beriman. Dan
sebagaimana telah terjadi dalam perang
Uhud, siapa yang beriman bertakwa maka
Allah beri kemenangan
dan siapa yang melanggar maka Allah beri
kekalahan. Dan itu terjadi di perang
perang Uhud. Ya.
Maka Allah Subhanahu wa taala
berfirman ayat-ayat sebelumnya.
Waasbiruattaqu
laadurukum kaiduhum.
Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka
tipu daya mereka tidak akan memberi
mudurat kepada kalian sama sekali.
Kemudian Allah juga berfirman, "Bala
inasbiru watattaqu watukum minihim h
yumdidukumukum."
Bahkan jika kalian bersabar dan bertakwa
dan mereka menyerang kalian segera musuh
menyerang.
Yumdidukumukum, maka Allah pun segera
memberi pertolongan kepada kalian.
Maka ini meskipun terkait dengan perang
Uhud sebagaimana pernah kita jelaskan
pada pertemuan lalu ya, tetapi ini
berlaku dalam segala kehidupan sisi-sisi
kehidupan kita. Kapan kita bertakwa
kepada Allah dan bersabar maka Allah
akan berikan pertolongan dan kapan kita
bermaksiat membangkang perintah Allah
maka Allah akan tinggalkan kita. Allah
akan tinggalkan kita. Sebagaimana perang
Uhud di awal peperangan mereka menang.
Kata Allah walaqakumullahu
w'dahuusunahum biidnih. Sungguh Allah
telah memenuhi janjinya ketika Allah
menghabisi mereka dengan ee ketika
kalian mengalahkan mereka dengan izin
Allah Subhanahu wa taala. Namun di
tengah-tengah peperangan kalian
membangkang. Wa asitum ba'di ma arakum
ma tuhibbun. Ternyata kalian membangkang
di tengah peperangan. Akhirnya banyak di
antara kalian yang meninggal dunia. Ya.
Maka demikian juga dalam kehidupan kita
sehari-hari. Kapan kita bertakwa Allah
beri pertolongan dan kapan kita
membangkang Allah tinggalkan kita. Nah,
maka pada ayat ke 130
Allah menjelaskan tentang
ciri-ciri orang bertakwa. Apa sih
ketakwaan yang bisa dikerjakan
sehari-hari dan apa kemaksiatan yang
harus ditinggalkan dalam kehidupan
sehari-hari agar kita mendapatkan janji
Allah
ee ditolong oleh Allah dan kita tidak
ditinggal oleh Allah Subhanahu wa taala.
Maka Allah mulai pada ayat 130 tentang
masalah riba. Ya, di antara ciri orang
takwa itu meninggalkan kemaksiatan, di
antara maksiat yang sangat berbahaya
adalah riba. Allah berfirman, "Ya
ayyuhalladzina amanu, wahai orang-orang
yang beriman." Dan ini panggilan dengan
menyebut ciri-ciri orang beriman. Orang
beriman harusnya taat.
La takulu riba. Janganlah kalian makan
riba
adafan mudhaafah yang berlipat ganda.
Wattaqulah. Bertakwalah kepada Allah.
Laallakum tuflihun. Semoga kalian
mendapatkan falah, mendapatkan
keberuntungan.
Dahulu orang jahiliah
mereka
memberi hutang kepada orang lain.
Kemudian jika jatuh tempo telah tiba
waktu pembayaran maka orang tersebut
ditagih.
Kemudian
diberi dua pilihan.
Kau bayar sekarang atau kau tunda
pembayaran tapi nanti dapat riba apa
double. Ada bayaran tambahan.
Ada bayaran tambahan. Misalnya mereka
hutang misalnya
100 dinar kemudian dalam waktu setahun
ternyata setahun tidak bisa bayar. Kata
mereka bayar sekarang 100 dinar. Kalau
enggak bayar tahun depan tapi jadi 200
dinar misalnya.
Terus akhirnya yang minjam uang
mengatakan, "Sudah, tahun depan aja saya
mau kelola uang lagi." Akhirnya tahun
depan lagi tidak bisa bayar lagi.
Hutangmu sekarang sudah 100 dinar. Mau
bayar sekarang atau nanti tunda lagi?
Tambah lagi bunganya?
Akhirnya bilang, "Ya sudah, nanti aja."
Dan demikian dan demikian. Sehingga
mereka mengambil untung berlipat
berlipat ganda. Berlipat ganda.
Dan di sini firman Allah, "La takulu
ribafa mudhaafah." Janganlah makan riba
yang untungnya berlipat ganda. Ini tidak
ada mafhum mukhalafahnya. Jangan sampai
dipahami bahwasanya ustaz kalau
untungnya tidak berlipat ganda berarti
boleh. Enggak. Ini namanya ee yajri
majra alghab ya. Yaitu bahwasanya dahulu
memang begitu kalau riba biasanya
berlipat ganda. Bukan berarti kalau
tidak berlipat ganda tidak boleh. Bukan
berarti bukan berarti kalau tidak
berlipat ganda berarti boleh. Tidak
demikian. Ini namanya nas tapi tidak ada
mafhum mukhalafahnya. Seperti dalam
firman Allah Subhanahu wa taala.
Eh tentang mahram kata Allah
warbukumatiikumisaikumatiumin
dan anak-anak perempuan bawaan istri
kalian yang di bawah peliharaan kalian
yang istri-istri kalian telah kalian
gauli. Di sini Allah mengatakan,
"Warabibukumati fiurikum."
Dan anak-anak putri-putri istri kalian
yang kalian nikahi, putri-putri bawaan
yang di bawah pengasuhan kalian, maka
itu juga haram, tidak boleh kalian
nikahi. Bukan berarti kalau tidak dibawa
pengasuhan kita kemudian halal, gak?
Tetapi Allah menyebutkan warabibukumati
fi hujurikum dan putri-putri bawaan
istri kalian yang di bawah pengasuhan
kalian. Karena dahulu biasanya demikian.
Kalau ada janda punya anak-anak,
putri-putri dinikahi oleh seorang
lelaki, maka putri-putri tersebut diasuh
oleh sang suami, sang suami yang baru.
Ya. Sehingga Allah menyebutkan alabilil
ghalib bahwasanya biasanya memang begitu
sehingga tidak dipahami. Berarti kalau
tidak kita asuhi boleh kita nikahi.
Enggak. Enggak begitu. Ini namanya yajri
majral ghalib. Sehingga tidak ada mafhum
mukhalafahnya.
Contoh lagi seperti Rasulull sahu alaih
wasallam bersabda, "Ma asfala minal ma
asfala
eh minal izar
minal ka'bain fafinar." Ya,
sarung mana saja yang di bawah mata kaki
maka terancam dengan neraka jahanam.
Jangan dipahami. Berarti kalau bukan
sarung gak apa-apa
kalau celana panjang. Bukan. Karena
dahulu orang-orang sering pakai sarung,
pakai izar. Ini namanya majrul ghalib.
Maka tidak ada mafhum mukhalafahnya.
Sama seperti Allah Subhanahu wa taalaun.
Janganlah kalian memaksa budak-budak
wanita kalian untuk berzina. Kemudian
kalian ambil hasilnya jika jika mereka
ingin menjaga diri mereka. Yaitu dahulu
orang-orang kalau punya budak perempuan
yang cantik dia sewakan disuruh zina
nanti hasilnya dia ambil majikannya.
Maka Allah bilang, Allah mengatakan, "Wa
tukrihu fatayatikum dalam surat eh
Annur. Janganlah kalian memaksa
budak-budak perompok kalian untuk
berzina untuk kalian dapat dunia.
Sementara mereka ingin menjaga diri,
tidak ingin berzina, maka tidak
dipahami. Berarti kalau mereka tidak
ingin menjaga diri, ingin berzina, maka
silakan saja." Enggak.
Karena zina haram, ya. Zina haram ini
namanya majrul ghalib. Maka tidak ada
mafhum mukhalafnya. Ini dibahas dalam
masalah ushul ushul fikih. Maka ini
penting karena sebagian orang
menghalalkan riba. Kata mereka Allah
berfirman, "La takulu ribafan
mudhaafah." Jangan makan riba kalau
hutungnya berlipat ganda. Berarti kalau
hutungnya untungnya tidak berlipat ganda
boleh. Mereka mengatakan ini mafhum
mukhalafahnya. Namun dibantah oleh para
ulama bahwasanya ayat ini tidak ada
mafhum mukhalafahnya. Kalau mafhum
mukhalafah itu maksudnya kalau begitu
sebaliknya. Itu maksudnya namanya mafhum
mukhalafah. Kalau begitu sebaliknya
kalau tidak untung berlipat ganda
berarti boleh riba dong berdasarkan ayat
ini. Ini tidak ada mafhum mukhalafahnya.
Tetapi ini majra alghab. Dahulu orang
kalau riba biasanya untung berlipat
berlipat ganda.
Demikian juga setelah ayat ini turun
ayat yang lebih tegas menunjukkan riba
haram secara mutlak tanpa melihat berapa
untungnya. Allah berfirman,
dalam akhir-akhir surat Albaqarah yang
turun setelah ayat ini Allah mengatakan,
"Sungguhnya yang makan riba mereka nanti
pada hari kiamat seperti orang
bangkitkan seperti orang gila yang
kemasukan jin,
kemasukan setan. Hal ini karena mereka
berkata, "Sesungguhnya riba sama dengan
jual jual beli." Dan ini ayat umum.
Entah untungnya banyak, entah untungnya
sedikit, riba hukumnya apa? Haram.
Demikian juga datang dalam hadis-hadis
yang menjelaskan maksud pengharaman
riba. Rasulullah tidak pernah memperinci
kalau untungnya tidak sampai 100% maka
tidak mengapa. Ya gak ada. Maka riba
kecil atau besar dia adalah dosa dosa
besar. Untungnya banyak atau sedikit
tetap dosa dosa besar.
Kenapa riba sangat dibenci oleh Allah
Subhanahu wa taala? Ya faanu biharbi
minallahi wa rasulih. Siapa yang makan
riba, maka umumkan peperangan kepada
Allah dan rasul-Nya.
Tidak ada dosa yang diancam dengan
peperangan seperti dosa dosa riba.
Karena dosa riba ini menghilangkan
apa namanya? Menghilangkan ee kepekaan
dan kepedulian sifat sosial dari
seseorang. Sifat sosial jadi hilang.
Kita tahu bahwasanya dalam muamalah ada
dua model. Muamalah pertama, muamalah
cari untung ya, jual beli. Yang kedua,
muamalah sosial yaitu menolong. Dan di
antara muamalah sosial misalnya sedekah,
kemudian di antaranya memberi hutangan
yang tujuannya adalah tidak mencari
keuntungan tapi bersifat sosial.
Nah, kalau kita kasih hutangan, kita
jangan jangan minta untung. Kapan kita
melakukan suatu ibadah yang mulia,
memberi hutangan kepada orang, terus
kita ambil untung, ini sangat dibenci
oleh Allah Subhanahu wa taala. Karena
muamalah tersebut, muamalah yang mulia
kemudian tercoreng gara-gara seorang
minta untung di balik muamalah tersebut.
Makanya ada pembahasan beri syafaat,
hukum beri syafaat. Orang syafaat
misalnya ada orang mau kerja, saya
telepon sama teman, "Eh, tolong bantu
teman saya kerja."
Setelah itu orang ini diterima kerja
kemudian dikasih uang sama kita, "Jangan
terima. Karena kita sudah berbuat baik
dengan memberi syafaat. Kita enggak ada
kerjaan apa-apa, cuma telepon doang.
Tolong bantu dia. Ini namanya kita kasih
syafaat agar dia diterima kerja. Setelah
itu dia kasih kita uang, jangan terima.
Karena dia kasih kita uang gara-gara
syafaat tersebut. Karena akan mencoreng
amal saleh yang sudah kita kerjakan.
Akan mencoreng amal saleh yang kita
kerjakan.
Maka ini syariat sangat benci. Kemudian
dengan adanya riba menghilangkan
kepekaan sosial. Coba yang jadi korban
riba rata-rata orang banyak orang
miskin-miskin
pinjol-pinjol, benjol-benjol itu semua
itu orang miskin rata-rata.
Seharusnya yang dibantu malah dikeruk
karena kebodohan mereka. Diiming-iming
sehingga ada yang bunuh diri di antara
mereka.
Rumah tangga hancur,
macam-macam akibatnya. Rata-rata orang
miskin yang susah.
Kasihan yang seharusnya ditolong malah
di malah dihabisin. Sehingga
benarlah orang yang makan riba
dibangkitkan seperti orang kerasukan
jin. Dia enggak punya otak lagi.
Ini orang harus dibantu dia malah
ngabisin kesempatan. Enggak bisa.
Kebanyakan yang di yang korban
orang-orang miskin-miskin
yang harusnya ditolong malah dihabisin.
Oleh karenanya riba hukumnya haram
secara mutlak ya.
Dan tentu pembahasan panjang tentang
masalah riba tapi intinya mutlak apakah
untungnya berlipat ganda atau tidak.
Selama dia adalah bunga maka hukumnya
haram. Dan dia termasuk dosa dosa besar.
Salah satu dari sab mubiqat, tujuh dosa
besar yang membinasakan. Dosa besar
banyak, ada 70 lebih, tapi di antaranya
puncak dosa besar tujuh. Di antaranya
aklur riba.
Makan riba, makan hasil riba.
Kemudian di sini Allah mengatakan, "La
takulu riba." Jangan makan dari hasil
riba. Di sini jangan makan bukan berarti
dibatasi. Ustaz, kalau begitu
kalau untungnya buat beli mobil enggak
dimakan boleh dong? Enggak. Ini ini
namanya sama. Ini namanya majrul ghalib.
Kebanyakan orang dulu hasil ribanya
mereka buat ma makan di zaman itu. Bukan
berarti kalau tidak dimakan berarti
halal. Enggak, sama aja ya. Cuma kalau
makan lebih parah karena akan menjadi
daging
nabtinaru aa bihi. Daging mana saja yang
tumbuh karena hasil yang haram, maka
lebih pantas untuk dibakar oleh api
neraka jahanam.
Ini semua hasil riba. Saya enggak mau
buat makan anak istri. Terus buat apa?
Buat beli mobil. Sama aja.
buat beli mobil, buat beli rumah, sama
aja
meskipun gua tidak makan. Cuma mungkin
kalau makan lebih parah, tapi sama saja
dosa. Ini hanya majrul golb karena
kebanyakan penggunaan adalah untuk
dimakan.
Wattaqulah laallakum tuflihun.
Bertakwalah kepada Allah. Bertakwa
kepada Allah itu dengan menjalankan
ketaatan dan meninggalkan kema
kemaksiatan. Maka kau telah bertakwa
kepada Allah Subhanahu wa taala.
Laallakum tuflihun. Semoga kalian
mendapatkan alfalah. Alfalah yaitu
kesuksesan. Kalau bahasa kita sukses
meraih apa yang diinginkan dan terhindar
dari apa yang ditakuti. Itu namanya
alfalah. Secara bahasa Arab. Tidak
dikatakan q aflaha si fulan. Si fulan
telah aflah kecuali dia sukses.
Dia sukses ya. Dia kerjanya sudah sudah
mantap, sudah apa namanya? Stabil. Ah
ini aflah kalau bahasa Arab ya. itu
namanya aflah dan falah yang
sesungguhnya adalah di surga.
Kesuksesan yang abadi
dan tanpa kesedihan sama sekali dan
terhindar dari kekhawatiran itu masuk
neraka jahanam maka itu seorang telah
meraih falah. Makanya kalau salat hayya
al shah hayya alal falah. Marilah menuju
kesuksesan yang sesungguhnya.
Makanya kalau kita dengar azan kita lagi
sukses dunia tinggalin sukses dunia itu
sukses sungguhnya yang itu bukan sukses
dunia.
dunia kita bisa sukses sebentar kemudian
jatuh lagi.
Tapi kalau sukses yang sesungguhnya
adalah sukses di akhirat. Maka Allah
berfirman, "Wattaqulaha laallakum
tuflihun." Bertakwalah kepada Allah
agar kalian meraih kesuksesan yang
sesungguhnya, meraih alfalah.
Ya, la bukan tarajji. La itu kalau
bahasa Arabnya semoga harapan ya.
tentunya kalau Allah tentunya apapun
yang Allah inginkan pasti terjadi. Maka
di sini laalla maksudnya adalah taklil,
yaitu agar kalian beruntung. Agar kalian
beruntung. Bukan harapan dari Allah,
tapi agar kalian beruntung
mencapai al-falah dengan takwa kepada
Allah subhanahu wa taala.
Maka di sini Allah Subhanahu wa taala
bicara tentang
alfalah al-Hqiki, tentang kesuksesan di
akhirat.
Karena riba ini sangat mengiming-iming
kesuksesan dunia.
Orang dengan riba untung banyak ya
terbuka jalan usaha dengan riba. Kalau
dengan riba enggak jadi orangnya enggak
setuju. Maunya dengan apa? riba sehingga
kita terpacu, termotivasi untuk
melakukan usaha dengan riba. Apakah dia
sebagai pemakan riba ataukah kita
sebagai pemberi makannya? Sama saja.
Laana rasul sahu al wasallam akil riba
waukilahu
watibahu waahidaihi waqahum sawa. Kata
Jabr bin Abdillah, Rasulullah melaknat
pemakan riba yaitu
yang yang yang ambil untungnya. Wukilahu
yang kasih makan.
Yang kasih makan. Misalnya kita ada
kita mau apa namanya melakukan usaha
mudarabah.
Mudarabah. Terus kita minta investasi
dari seorang investor investor istismar.
Maka dia kasih uang. Dia tanam uang R
miliar. Tapi dia punya aturan pokoknya
modal saya enggak boleh kurang dan
untung saya setiap bulan harus sekian
persen dari modal. Ini riba. Jelas ini
riba. Tayib. Kita bisa sanggup karena
menurut perkiraan kita, kita bisa
tenang, saya akan lakukan.
Kemudian kita kerja dan kita sesuai
dengan keuntungan tersebut. Tapi ini
riba.
Dia sama kita sama saja sama-sama
dilaknat. Kan yang makan dia enggak.
Meskipun yang makan dia tapi kau yang
menyetujui. Seandainya kau tidak
setujui, maka tidak terjadi transaksi
apa? Riba.
Kalau mudarabah
tidak mau rugi dari modal dan pasti
untung, maka ini namanya riba. Ya, kita
terkadang terpancing karena kita ingin
cari untung. Akhirnya kita menyetujui
akad riba tersebut maka kita dan dia
terlaknat. Waliadzubillah.
Maka Allah ingatkan, jangan terpedaya
dengan falah yang
apa? Fat morgana.
Keberuntungan sesaat. Memang benar kalau
kau ribong. Uangmu banyak, rumahmu
banyak, ya mobilmu banyak, usahamu
banyak. Benar.
Tapi kau tidak meraih alfalah alhaqiki,
falah yang sesungguhnya di akhirat.
Untuk meraih falah yang hakiki,
kebahagiaan yang abadi, maka tinggalkan
itu semua. Ada pengorbanan, tinggalkan
riba. Allah bukan jalan yang lain,
tinggalkan riba. Maka Allah berkata,
"Wattaqulah." Bertakwalah kepada Allah.
Butuh takwa meninggalkan riba. Kalau
enggak takwa, iming-iming luar biasa.
Godaan dunia itu luar biasa keuntungan
tuh buat mata gelap. Benar atau tidak?
Yang bikin mata gelap itu apa? Uang
perempuan jabatan. Iya. Enggak. Makanan
bikin mata gelap juga enggak kadang.
Tapi yang jelas bikin mata gelap itu
duit, jabatan,
perempuan, popularitas itu bikin mata
gelap seseorang. Sehingga solusinya cuma
satu, bertakwalah kepada Allah. Kalau
enggak bertakwa kebawa riba. Nak
iming-iming untung banyak sekali.
Kemudian Allah berfirman, "Wattaquidatil
kafirin."
Takutlah kalian kepada api neraka yang
disiapkan
bagi orang-orang kafir. Ya,
takut kepada neraka. Kalau sampai kalian
menghalalkan riba, berarti kafir. Kalau
kalian tidak menghalalkan riba, dosa
dosa besar.
Kalau kalian menghalalkan riba, berarti
kalian kafir. Keluar dari Islam masuk
neraka, nerakanya kafir. Tapi kalau
kalian tidak menghalalkan riba, berarti
kafir kalian kufur nikmat. Bukan kufur
besar juga masuk neraka sama saja. Ini
menunjukkan riba dosa dosa besar. Karena
setelah Allah
mengingatkan tentang bahaya riba, Allah
suruh bertakwa, Allah ingatkan
wattaqunar.
Hati-hatilah kalian terhadap neraka
jahanam yang Allah siapkan bagi
orang-orang yang yang kafir. Ini dalil
bahwasanya neraka sudah ada, sudah
disiapkan, sudah ada. Dan ahlusunah
telah menjelaskan bahwasanya di antara
akidah ahlusunah neraka dan surga sudah
sudah Allah ciptakan. Tinggal diisi.
Tinggal di diisi.
Kata Allah, "Wala ka nafsin hudaha wakin
haqqal minni laanna jahannama minal
jinnati ajmain.
Kalau kami berkehendak, kami akan
menjadikan semua orang dapat hidayah.
Semua saleh, tetapi surga dan neraka
sudah ada dan kami akan memenuhi neraka
dengan jin dan manusia.
Jadi, surga dan neraka saudara tinggal
di isinya. Isinya harus ada. Maka jangan
sampai kalian menjadi isi neraka.
Kenapa tidak semua orang beriman? Kata
Allah, "Walau syna, kalau kami
berkehendak kami akan menjadikan semua
orang beriman."
Masalahnya ada surga dan neraka harus
diisi.
Tapi telah tetap keputusanku
jahanam. Sungguh aku benar-benar akan
memenuhi neraka jahanam. Minal jinnati
ajmain. Jadi jin manusia akan memenuhi
neraka jahanam.
Oleh karenanya neraka sudah ada, surga
sudah ada dan harus ada i isinya.
Karenanya jangan jadi isi neraka.
Dan neraka selalu minta tambahan. Hal
mim mazid
yaumul jahanamati
hari di saat hari kiamat kelak nanti
Allah bertanya kepada neraka jahanam.
Halimati sudah penuh belum kata neraka
hal mim mazid belum. Masih ada isi
tambahan enggak? Wyadzubillah. Ya.
Semoga kita dilindungi dari neraka
jahanam.
Maka ketika Allah melarang riba,
kemudian Allah ancam dengan neraka,
Allah mengatakan dosa orang kafir, maka
riba itu dosa sangat sangat besar.
Kemudian Allah berfirman lagi, wa
atiullaha warasula laallakum turhamun.
Taatlah kepada Allah rasulnya semoga
kalian dirahmati oleh Allah subhanahu wa
taala. Ketaatan
kepada Allah dan rasul-Nya
ya akan mendatangkan rahmat Allah
Subhanahu wa taala yaitu masuk surga.
Karena orang masuk surga dengan rahmat
Allah Subhanahu wa taala. Sebagaimana
sering kita sampaikan, Ibnu Qayyim
mengatakan
eh
annajatu minanar
bimagfiratillah
wadhul jannah birahmatillahul
waqtisamul wad darajat bil a'mal. Kata
Ibnu Qayyim menukil perkataan para ulama
terdahulu bahwasanya selamat dari neraka
gara-gara ampunan Allah. masuk surga
karena rahmat Allah. Adapun level di
surga maupun di neraka tergantung amal.
Level surga neraka tergantung amal. Dan
di antara jadi siapa yang ingin masuk
surga harus dengan rahmat Allah. Dan di
antara sebab kita mendapat rahmat Allah
adalah dengan taat kepada Allah dan
rasulnya. Ketahuilah setiap ketaatan
yang kita lakukan, kalau ada perintah
Allah kita kerjakan, ada perintah Rasul
sallallahu alaihi wasallam kita
kerjakan, ada larangan Allah kita
tinggalkan, larangan Rasulullah kita
tinggalkan, dirahmati oleh Allah
subhanahu wa taala.
Semakin banyak ketaatan kita kerjakan
dan larangan kita tinggalkan,
maka semakin banyak kita mendapat jatah
rahmat Allah. Kalau semakin banyak jatah
rahmat Allah, maka semakin tinggi level
seseorang.
Dan subhanallah dunia ini memang
melalaikan ya. kita malas
mengalami kemalasan dalam jangan
ketaatan, berani bermaksiat
maka ingat alfalah alhhaqiki
keberuntungan suungguhnya
adalah dengan meninggalkan kemaksiatan
menjalan ketaatan.
Setelah itu
mungkin timbul pertanyaan setelah firman
Allah, wa atiullaha warasul laallakum
turhamun. Taatlah kepada rasulnya.
Semoga kalian dirahmati oleh Allah.
Semoga disayang oleh Allah subhanahu wa
taala. Tinggal pertanyaan, apa ciri-ciri
orang yang taat kepada Allah dan
Rasul-Nya?
Nah, pada ayat berikutnya Allah sebutkan
ciri-cirinya.
Ciri-ciri orang yang taat kepada Allah
dan Rasul-Nya. Kita masuk pada ayat 133.
Allah berfirman, "Wasarifikumin
ardamawatin."
Bersegeralah kalian menuju ampunan Allah
dari ampunan dari Rabb kalian.
Wantamawatu
wal ard. Dan surga Allah yang luasnya
atau lebarnya selebar langit dan bumi.
Lil muttaqin yang Allah siapkan bagi
orang-orang yang bertakwa.
Di sini Allah sebutkan wasariu,
bersegeralah.
Dan sariu ada atau saroa itu dari wazan
fa'ala yaitu mufa'alah. Dan asal dari
wazan timbangan fi'il fa'ala itu
mufa'alah menunjukkan ada dua pihak yang
saling melakukan kegiatan.
Maka Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah
berkata, "Maksudnya dari syariu bukan
hanya segera hanya sekedar bersegera.
Kalau bersegera mungkin Allah akan
berkata wa asriu. Asro yusriu artinya
segera. Tapi Allah tidak menggunakan
lafal asroa yusriu
israan. Tapi Allah mengatakan dengan
saroa saroa yusariu musaroatan yang
menunjukkan ada dua belah pihak. yaitu
maksudnya kau bersegera menyaingi yang
lain
sehingga bersegera dalam rangka
menyaingi yang lain. Karena untuk urusan
akhirat memang harus bersegera dan
bersaing. Jangan cuma bersegera tapi ada
rasa persaingan dengan yang lain.
Persaingan yang baik, lomba-lomba.
Makanya Allah mengatakan fastabiqul
khairat. Berlombalah dalam kebaikan.
Bukan cuma sekedar segera. Allah suruh
berlomba.
Demikian Allah berfirman tentang nikmat
surga. Wafidalika falyatanafasil
mutanafisun. Untuk urusan nikmat surga
maka bersainglah tanafus. Tanafus
bersaing.
Bersaing. Ya Allah suruh
eh Allah suruh giat limliun
untuk urusan surga. Maka itulah tempat
yang tepat untuk bekerja.
Falyail amilun. Dalam surat safat kata
Allah subhanahu wa taala untuk urusan
surga maka beraktivitaslah. Ini
aktivitas yang sesungguhnya
untuk mencari surga. Aktivitasnya
bagaimana? Cepat segera bersaing.
Wasariu dalam ayat dalam surah ee Ali
Imran dalam surat Al-Hadid. Sariu
ila magfiratibikum wa jannah.
Arduha ka ard sama wal ardina amanu
billahi wa rasulih dalam surat alhadis
tapi sama-sama menggunakan syariu. Jadi
syariu maknanya wallahuam bawab menurut
Syekh Ibnu Utsim rahimahullahu taala
sariu maksudnya
cepatlah dan bers sainglah cepatlah dan
bersainglah dengan yang lain.
Jadi ini persaingan.
Kalau persaingan dunia ya
cuma dapat kebahagiaan sementara.
Makanya Hasan Al Basri mengatakan kalau
kau melihat orang unggul dalam urusan
dunia saingilah dalam urusan akhirat.
Jangan saya urusan dunia. Sayaingin dia
urusan dunia enggak ada henti-hentinya.
Dia punya mobil kau beli mobil seperti
mobil lebih bagus. Terus setelah itu apa
kau gunakan? Cuma di dunia saja. Setelah
itu selesai. Ya, kalau kita mau saingan
dunia tidak ada habis-habisnya.
Kita sudah unggul, ada yang lebih unggul
lagi
ya. Tapi saya ingin dalam urusan
akhirat. Maka seorang berusaha Allah
berfirman, "Wasariu
ila magfirat mirbikum."
Kepada ampunan Allah yang besar. Ya,
magfiratan sini tanwin wallahu alam
adalah untuk menunjukkan keagungan.
Makanya Allah tidak mengatakan ila
magfiratibikum, tapi Allah pisahkan ila
magfiratin minabbikum. Bahwasanya ampun
Allah itu ampunan Allah itu luar biasa.
Seperti doanya yang diajar oleh Nabi
kepada Abu Bakar sebelum salam.
Allahumma inni nafsi dzuman katsir
fagfirli
magfiratan minik.
Fagfirli magfiratan. yaitu dengan
tanwin. Karena tanwin dalam bahasa Arab
juga untuk menunjukkan takzim, yaitu
menunjukkan
suatu yang besar. Maka bersegeralah
kalian dengan cepat bersaingilah untuk
mencari maghfiratin yaitu ampunan Allah.
Ampunan yang besar. Mir rabbikum dari
Rabb kalian. Magfirah sebagaimana sering
kita sampaikan dari migfar yang artinya
helm besi yang dipakai oleh prajurit
ketika berperang. Dan helm tersebut
fungsinya dua. Pertama menutup. Kedua,
menghadang dari atau melindungi dari
hantaman senjata musuh. Jadi fungsinya
dua, menutup dan melindungi. Itulah
makna magfirah. Jadi kalau kita
mengatakan astagfirullah aladzim
astagfiruka atau gfranaka rbigfirli.
Kita minta ampunan kepada Allah, minta
magfirah. Maknanya ya Allah tutuplah
aib-aibku
dan lindungilah aku dari dampak
dampak dosa-dosa. Karena dosa pasti
punya dampak. Sebagaimana seorang
prajurit ketika dia memakai helm besi,
maka dia menutupi wajahnya. Yang kedua,
agar terhindar dari dampak senjata
pedang dari pedang, senjata musuh dari
pedang, dari panah. Sehingga ketika kena
dia tidak mengapa. Karena dia
menggunakan pelindung yang kuat. Karena
J Ibnu Qayim mengatakan, "Tidak semua
penutup kepala disebut migfar."
Contohnya songkok, kolan, contohnya
sorban. itu tidak dikatakan migfar
karena hanya menutupi namun tidak
melindungi. Tidak melindungi. Tapi
migfar memiliki dua sifat fungsi menutup
melindungi. Nah, ketika kita minta
ampunan Allah yaitu kita berdoa
magfirah. Ya Allah tutuplah aib-aibku
di dunia. Aku ini pelaku maksiat ya
Allah. Banyak maksiat yang aku lakukan.
Jangan bongkar aibku di dunia apalagi di
akhirat. Kemudian lindungilah aku dari
dampak maksiat. Karena maksiat pasti
punya dampak. Minimal dampak mengenai
hati langsung. Jadi yang terkena dampak
langsung adalah hati. Kata Ibnu Qayyim
rahimahullah mengingatkan hadis Nabi.
Innaldaan
nuqitbihiatun
sauda.
Jika seorang hamba melakukan dosa, maka
akan dicoreng dalam hatinya satu titik
hitam. Semakin banyak maksiat, semakin
banyak hitam-hitam tersebut sampai
menjadi ron, yaitu menutupi hati dengan
kehitaman.
Jadi dampak maksiat yang langsung
mengena adalah hati. Adapun dampak efek
secara
fisik mungkin belakangan, tidak harus
sekarang. Seperti mungkin nanti dia
sakit-sakitan,
mungkin dia ekonominya jatuh, itu itu
belakangan.
Dia seperti racun yang masuk ke dalam
tubuh. Efeknya bisa belakangan, bisa 10
tahun lagi, 20 tahun lagi. Tapi yang
langsung mengena adalah hati.
Maka ketika seorang melakukan maksiat
mengenai hati, bisa jadi dia langsung
jadi malas, futur. Bisa jadi dia suka
dengan maksiat. Kemarin sukanya dengar
kajian, sekarang suka dengar Korea.
Berubah. Kenapa maksiat dilakukan
sehingga hatinya berubah? Berubah. Ini
dampak yang langsung efeknya langsung
mengenai hati. Oleh karenanya agar tidak
mengefek pada hati kita, kita harus
sering is istigfar.
Istigfar. yaitu ya Allah ampunilah
tutuplah dosa-dosaku dan lindungilah aku
dari dampak dosa yang aku lakukan
seperti doa sayidul istigfar abuaka
binikmatika alai abu bidambi
fagfirli
fnahu la yagfirunuba illa an aku
mengakui seluruh nikmat yang kau berikan
kepadaku wa abu bidambi maknanya dan aku
memikul dosa yang ada pada diriku aku
akui saya tahu dosa-dosak
yaitu jangan berikan efek dosaku kepada
diriku. Ya. Dan secara
include atau secara kelaziman kalau
seorang meminta
magfirah yaitu ditutupi dan dihilangkan
efeknya berarti dia minta ampunan.
Berarti minta apa? Ampunan.
Ya diampuni supaya
ditutup aibnya dan salah satu bentuk
ampunan tidak dibongkar aibnya.
Berarti Allah mengampuni. Buktinya
aibnya tidak dibongkar. Dan salah satu
bentuk ampunan yaitu efeknya tidak ada.
Dinolkan oleh Allah efeknya diniihilkan.
Sehingga ee ketika dia minta magfirah
berarti dia juga diampuni oleh Allah
Subhanahu wa taala. Wasari il magfirah.
Maka bersegeralah menuju magfirah. Tib.
Bagaimana cara bersegera menuju ampunan
Allah?
Yaitu
di antaranya
dengan banyak istigfar. dengan banyak
istigfar, dengan banyak bertobat. Yang
kedua, dengan melakukan ahlanatul
mahiah. Melakukan amal saleh yang
berefek diampuni dosa-dosa seperti
umrah,
sedekah, salat lima waktu, haji, ya. Al
umr umrah kafarahuma.
Bahwasanya umrah satu umrah lainnya
menghapuskan dosa-dosa keduanya. Man
hajillah
umuh. Siapa yang berhaji karena Allah,
ikhlas karena Allah, kemudian tidak
melakukan rafas, tidak melakukan
kefasikan, kemaksiatan, maka dia akan
bersih dari dosa-dosanya seperti baru
dilahirkan dari perut ibunya.
Di antaranya puasa. Puasa menghapuskan
dosa-dosa
ya. Ramadan yang satu, Ramadan
berikutnya menghafuskan dosa-dosa di
antara keduanya. Artinya banyak amal
saleh mengugurkan dosa salat lima waktu
menganggurkan dosa-dosa.
Jadi bersegera menuju ampunan Allah
dengan banyak istigfar dan melakukan
kebaikan-kebaikan.
Kemudian kata Allah wa jannatin dan
segera menuju surga Allah surga yang
agung. Arduhasamawatu wal ard. Yang
lebarnya jadi dalam dalam bahasa Arab
ada ada ardun ada tul. Kalau kita lihat
suatu suatu benda fisik ada ardun ardu
lebar kemudian tul itu tu panjang
panjang dan lebar panjang dan lebar
tinggi volume ya di sini Allah
mengatakan
ardu samawat wal ard segalah menuju
surga yang lebarnya selebar langit dan
bumi. Sehingga kata para ulama para ahli
tafsir mengatakan kalau lebarnya saja
selebar langit dan bumi, bagaimana lagi
dengan panjangnya? Jadi surga itu sangat
luas
ya, sangat luas.
Makanya disebut satu orang aja dapat
surga ya seperti ketika Rasulullah
menyebutkan tentang orang yang terakhir
masuk surga. Adna ahlil jannati
manzilah. Orang yang paling rendah
kedudukannya di surga. Kata Rasulullah,
kata Allah, "Tamanna ingin ini,
mintalah."
"Saya pengin ini." "Minta apa?" "Minta
apa?" Coba berangan-angan. Dia pikir
lagi ingin ingin ingin dia lupa habis
angan-angannya. Allah ajarin, "Mintalah
ini, mintalah ini."
Dia ber bingung mau angan-angan apa.
Sampai Allah mengatakan,
"Lakad dunya wa asratu amsaliha." Bagimu
dunia dan sekitar dan 10 kali lipatnya.
itu orang yang paling rendah di surga.
Punya kekuasaan sampai 10 kali lipat
dunia. Luar biasa ya. Ini luar daripada
khayalan kita ya.
Maka surga itu sangat sangat sangat
luas.
Idat lil muttaqin yang Allah siapkan
bagi orang yang bertakwa. Ini juga dalil
bahwasanya surga sudah diciptakan. Allah
siapkan bagi orang-orang yang bertakwa.
Ya,
di sini Allah tidak mengiming-imingi
dunia. Ya, benar. Dalam suatu amalan
saleh kadang Rasulullah mengiming-imingi
dunia
seperti lapangnya rezeki, panjang umur,
seperti silaturahmi. Man ahabba yubsar
fi rizkihiunahimah.
Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya,
dipanjangkan umurnya, maka sambung
silaturahmi
juga. mengiming-iming rezeki bertambah
kata Nabi, maq
siapa yang bersedekah tidak berkurang
apa hartanya. Seb mengatakan bal yazid
semakin ber bertambah baltazid semakin
menambah
tetapi hukum asal bahwasanya amal saleh
iming-imingnya adalah akhirat.
Iming-imingnya adalah apa? Akhirat
seperti dalam hadis ini, dalam ayat ini,
Allah mengiming dengan ampunan dan Allah
mengiming dengan surga.
Makanya ketika perang Uhud Rasulullah
mengatakan kumu jannatin ardu samawatu
wal ard.
Bangkitlah kalian menuju surga yang
seluas langit dan bumi. Maka seorang sa
berkata, "Ya Rasulullah, jannatun ardama
ard." Ya Rasulullah, "Surga yang seluas
langit dan bumi." Kata Rasul sahu alaih
wasallam, "Nam." Kata bakhin-bakhin.
Wow, hebat. Kenapa kau mengatakan
bakhin-bakhin? Wow, hebat. Saya
riduakuna min ahliha. Saya ingin aku
menjadi penghuni surga. Kata Rasul sahu
al wasallam, "Anta min ahliha." Kau
termasuk penghuni surga.
Faakraj tamaratin lahu. Maka dia perlu
keluarkan kurma-korma yang dia sedang
makan. Dia mengatakan, "Laintitu
tamarati hadi innahayatunah."
Kalau saya harus hidup sampai kurma ini
saya selesai makan terlalu lama,
saya pengin mati sekarang.
Maka dia pun membuang kurma-kormanya.
Kemudian dia masuk perang. Kemudian dia
meninggal. Kenapa? Karena dia
diiming-imingi oleh Nabi dengan surga.
Ketika keluarga Amar disiksa,
Rasulullahnya berkata, "Sobron ala Yasir
fainna maidakumul jannah." Sabarlah
wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya Allah
menjanjikan kalian dapat surga.
Apa mau kita iming-iming yang paling
utama? Sur surga. Kenapa kita salat?
Kenapa kita puasa? Kenapa kita
bersedekah? Surga. Surga.
Maka di sini Allah mengatakan menuju
surga yang luasnya atau lebarnya selebar
langit dan bumi Allah siapkan bagi orang
yang bertakwa. Kemudian siapakah orang
bertakwa tersebut? Maka Allah jelaskan.
Alladinafiquinas
wallahu yuhbbsin
yaitu orang-orang yang menginfak
berinfak ketika dalam kondisi lapang
dalam kondisi sulit dan orang-orang yang
meredam amarah dan orang-orang yang
memaafkan orang lain. Wallahu yuhibbul
muhsinin. Allah mencintai orang-orang
berbuat ihsan.
Tib di sini ketika Allah menyebutkan
tentang ciri orang bertakwa yang pertama
Allah sebutkan adalah orang yang suka
berinfak. Orang yang suka berinfak, bab.
Kenapa Allah tidak sebutkan yang salat,
yang puasa? Kata kata para ulama untuk
membantah orang-orang yang melakukan
riba. Harusnya kalian tidak riba.
Harusnya kalian berin infak. Ya.
Urutan kebaikan yang pertama adalah
infak dan sedekah. Ini yang paling
tinggi. Yang kedua, meminjamkan tanpa
tanpa riba.
Kalau kalian tidak riba, kalian
meminjamkan tanpa ada riba, ini
pahalanya besar apalagi berin berinfak.
Maka Allah arahkan jangan makan riba.
Harusnya sebaliknya malah berinfak.
Kalau bisa tidak, kalau bisa bukan hanya
sekedar meminjamkan tanpa riba, kalau
bisa naik level lagi yaitu berin
berinfak, mengikhlaskan. Itu lebih
afdal. Itu lebih afdal. Ya
kata Allahunakum.
Kalau orang yang kalian utangi susah,
wajib bagi kalian untuk memberi
penundaan.
Dan kalau kalian ikhlaskan lebih baik,
kata Allah subhanahu wa taala. Kalian
tidak ikhlaskan pun dapat pahala. Tidak
bisa bayar sekarang, sudah nanti bulan
depan, tahun depan itu afdal. Pahalanya
berjalan terus.
Rasulullah mengatakan, "Asalaf yajri
majro satriodqah." Seorang menjamkan
uang pahalanya seperti setengah sedekah.
Kalau dia pinjamkan R juta meskipun
uangnya akan kembali dibayar, dia
seperti sedekah R00.000.
Tapi lebih baik kata Allah, "Wa anasqu
kalian bersedekah dengan bersedekah
sebagian atau bersedekah seluruhnya?" Ya
sudah, kalau utang R juta enggak bisa
bayar 5.000 aja gak apa kalau bisa ya.
Kalau bisa sudah gratis ya
lebih baik.
Maka di sini di antara amal saleh yang
luar biasa yang merupakan ciri
orang-orang bertakwa penghuni surga
alladzina yunfiquun yaitu orang suka
berinfak. Di sini Allah menggunakan
fi'il mudhar
apa? Present tense ya yang menunjukkan
kesinambungan. Yaitu selalu
mengulang-ulangi. Alladzina yunfiquun.
Nanti infak, nanti infak lagi, nanti
infak lagi, nanti infak lagi.
Far wra dalam kondisi lapang maupun
kondisi susah. Kata kata Syekh S'di
dalam kondisi lapang mungkin lebih
banyak. Kalau kondisi sulit lebih
sedikit tapi kalau sedikit la tahqirna
minal marufian. Jangan kalian meremehkan
ya kebaikan meskipun sedikitp.
Rasulullah bersabda, "Ittaqinara walau
bisyak tamrah." Jagalah diri kalian dari
neraka. Lindungilah kalian dari neraka
jahanam meskipun dengan bersedekah
sepenggal kurma. Kalian enggak punya
apa-apa, punya kurma satu sedekah
sepenggalnya.
Kalau lagi lapang ya lapang ya.
Sampai
Thair bin Asur menjelaskan kenapa mereka
sampai berinfak lapang dan susah. Karena
sudah menjadi akhlak bagi mereka. Sudah
jadi khuluk perangai sudah jadi sajiah.
Sehingga mereka ini kalau enggak
berinfak mereka susah.
Jadi orang itu bisa kecanduan, bisa
kecanduan pelit, bisa kecanduan
berinfak. Mau pilih mana. Pelit juga
kecanduan. Uh, masuk apa? Malas kerja.
Ngapain? Enak saya sudah susah-susah dia
tinggal terima. Ya udah nasib namanya
susah hidup harus sabar ya. Iya pelit.
[tertawa] Jadi kecanduan pelit
candu. Kalau enggak pelit dia kayaknya
kurang srek
mau kasih. Ah enak aja kasih-kasih kerja
sana. Malas malas. Ngapain kasih orang
malas? Sudah kerja-kerja emang cari duit
datung emang hujan ujur duit saya dapat
hujan saya juga cari susah. Akhirnya
pelit dia. Pelit pelit pelit. Senantiasa
pelit sampai dicatat sebagai orang
pelit. Jadilah perangai dia perangai
pelit. Ngulin uang susah.
Kalau sudah pelit, yang susah dirinya
sendiri susah,
istrinya susah, anak-anaknya susah,
pegawainya susah, tetangganya susah.
[tertawa]
Kenapa susah? Lihat ini orang kaya tapi
pelit. Kalau miskin dimaklumi, ini duit
banyak, rumah gede, pelit luar biasa.
Saya dapat dua kasus orang meninggal
gara-gara pelit. Dia susah sendiri. Dua
kasus.
Dia mau berobat, dia cari yang murah.
Akhirnya mati
dokter bawa rumah sakit mahal. Aduh
mahal kayaknya. Padahal kalau dia
berobat uangnya itu semuanya jadi
pahala. Bersedekah atas dirinya sendiri
cuma gak tahu hitungannya dia
perhitungannya beda enggak mahal.
Akhirnya mati. Satu lagi
berobat. Subhanallah
ya. Uang banyak miliar-miliar.
Tapi ini enggak mau berobat yang saya
mau BPJS aja lah. Ngantri mati. Akhirnya
orang kalau sudah pelit, pelit sama
dirinya, pelit tingkat tinggi.
Aduh, nanti punya duit kecuali nanti
enggak punya duit barulah nanti punya
duit ngapain ngantri?
Ngantri sama orang miskin. Malu.
Kalau ente enggak punya duit okelah.
Kalau punya duit ngapain? Pelit sama
diri sendiri. dampaknya mati.
Maka kalau sudah pelit, jadi perangnya
sudah susah. Sebaliknya ada orang
kecanduan-kecanduan sedekah. Alladina
yunfiquuna far wra saking suka
bersedekah. Bahkan dalam kondisi sulit
pun dia kalau enggak sedekah dia merasa
gelisah karena sudah jadi kebiasaannya.
Tetap sedekah meskipun susah tahu ATM
tinggal sedikit. Bisa-bisalah sedekah
sudah kebiasaan.
Ikhlas karena Allah Subhanahu wa taala.
Dan ini Allah sebutkan pertama
menunjukkan sedekah
adalah sebab utama masuk surga di antara
satu sebab utama masuk surga di antara
salahu sebab menghalangi diri neraka
jahanam. Maka jangan pelit-pelit.
Makanya ketika Rasulullah mewasiatkan
para wanita agar selamat dari neraka,
Rasulullah suruh mereka bersedekah.
Kata Rasul sahu alaihi wasallam dalam
salat Id ketika khotbah Id, ya masyarisa
tasadaqna fainnakunna akar jahannam.
Wahai wanita sekalian, bersedekahlah
karena kalian banyak penghuni neraka
jahanam. Tib Rasulullah mengatakan
kalian banyak penghuni neraka jahanam
supaya selamat Rasulullah suruh apa?
Bersedekah. Akhirnya sebagian wanita
melemparkan antingnya, gelangnya,
kalungnya, ee cincinnya ingin selamat
dari neraka jahanam.
Rasulullah tadi mengatakan, "Ittaqinar
walau bq tam." Selamatkanlah dirimu dari
neraka meskipun dengan bersedekah
sepenggal kurma. Berarti sedekah punya
efek luar biasa menyelamatkan dari
neraka jahanam.
Rasul sahu alaih wasallam bersabdaqirfi
sedekah yang dilakukan diam-diam akan
meredamkan kemurkaan Allah subhanahu wa
taala.
Dia punya efek juga paling cepat masuk
surga. Makanya ketika Allah menyebut
tentang orang akan meninggal dunia,
mereka berangan-angan di antara angan
yang bersedekah.
Wahai orang beriman, janganlah harta
kalian buat kalian lalai. Anak-anak
kalian sibuk ngurus anak buat kalian
lalai. ngurus anak dan ngurus uminya
sama membuat kalian lalai dari mengingat
Allah.
Wama yaf'alika faulaikumul khasirun.
Siapa yang melakukan demikian lalai dari
berzikir kepada Allah gara-gara urus
anak, urus harta, urus istri, urus
keluarga.
Dan itu memang banyak urusan. Urus harta
urusannya banyak enggak? Banyak. Istri
urusannya banyak enggak? Banyak.
Anak-anak urusannya banyak enggak?
Banyak. Silakan ngurus. Itu pahala. Tapi
jangan sampai lalai. Jangan sampai
lalai.
Ya faulair merekalah orang yang merugi
saking ngurusin dunia kemudian lupa
untuk ingat Allah akhirnya itu orang
yang benar-benar merugi.
Berinfaklah dari sebagian yang kami
rezekikan kepada kalian yang kami
berikan sedikit tidak semua.
Ya minqati ahadakumul maut sebelum
kematian menjemput salah seorang dari
kalian sebelum kalian didatangi oleh
ajal. Fqubi laula. Sehingga ketika
datang ajal kepadanya, dia berkata, "Ya
Rabbku, bisakah kau tunda kematianku
barang? Sedikit aja ajalin qarib
sebentar 5 menit 10 menit." Buat apa 5
menit, 10 menit? Faasdaqo waakum
minaliihin. Agar aku bisa bersedekah.
Dia kalau masih dikasih umur 5 menit, 10
menit, dia pengin apa? Sedekah. Kasih
hidup 10 menit aja langsung dia buka ATM
transfer semuanya sampai nol. Tapi Allah
tidak kasih meskipun 1 detik. W
yuakhirallahu nafsan.
Ja jaa ajaluha. Tidak satu jiwa pun akan
ditunda sedetik pun kalau sudah tiba
ajalnya. Wallahu khirum bim. Allah
mengetahui apa yang kalian lakukan. Maka
sedekah ini punya efek luar biasa.
Disebutkan di dunia akan mendatangkan
kebahagiaan. Di alam barzakh. Maka
sedekah akan membela kalau ada yang
mengganggu seorang di di alam barzakh
datang dalam hadis ya. Kemudian di
padang mahsyar akan menjadi naungan ya.
Dan dia merupakan sumber pahala yang
besar sebab masuk surga Allah Subhanahu
wa taala terhalangi dari neraka jahanam.
Kemudian Allah berfirman, "Wal kad minal
ghaid dan orang-orang yang senantiasa
meredam amarah." Ada yang mengatakan
algha adalah puncak kemarahan. Al-ghaid
adalah puncak kemarahan. Ibarat
kazim yang meredam. Artinya seperti air
sudah mau meluap kemudian diikat supaya
air tersebut tidak meluber. Sudah di
puncak tinggal meluber di ditutup. itu
namanya kazim menutup dengan yang sudah
mau meluber. Jadi kemarin sudah di
puncak
dan kemarahan ada tiga model ya. Yang
pertama di awal kemarahan, yang kedua di
tengah kemarahan, yang ketiga di puncak
kemarahan.
Puncak kemarahan. Kalau bisa ngontrol
dirinya di puncak kemarahan maka luar
biasa ya. Apalagi kalau kemarahan yang
biasa ya.
Makanya dalam dalam masalah cerai para
ulam bagi. Kalau di awal marah dia
jatuhkan cerai, cerainya jatuh.
Di puncak kemarahan dia lupa diri,
ceranya tidak jatuh. Marah tengah-tengah
khilaf di kalangan para ulama.
Marah tengah-tengah itu apa? Dia marah,
dia masih bisa tahu apa yang dia
ngomongkan, tapi dia tidak bisa mikir
dampaknya. Dia hilang semua dari
kepalanya tentang dampak yang bisa
terjadi. Dia tidak pikir panjang,
pikirnya pendek sehingga dia akhirnya
jatuhkan cerai. Ini khilaf di kalangan
para ulama. Cerai jatuh atau tidak.
Tapi kalau dia marah terus dia ngerti
apa yang konsekuensinya di awal marah
semua sepakat jatuh dan semua ulama
sepakat kalau dia marah sampai dia
enggak tahu apa yang dia ucapkan juga
sepakat tidak jatuh yang khilaf di
kalama tengah-tengah
tib orang yang hebat adalah orang yang
meredam amarah
dan ini salah satu sebab masuk surga
adalah meredam amarah
bahkan kata rasul sahu alaihi wasallam
man kadidan
wahuaqdiri ala yunafidahu daahullahu
yaumalqiamah
Siapa yang meredam amarah padahal dia
mampu melampiaskannya, maka Allah akan
panggil dia pada hari kiamat kelak
sampai Allah suruh dia memilih bidadari
mana yang dia sukai. Jadi kalau antum
mau disuruh milih bidadari pas lagi
emosi, jangan emosi.
Jadi kalau istri bikin emosi,
senyam-senyum aja. Kenapa senyum-senyum,
Mas? Kata Nabi, "Siapa yang ber marah
disuruh pilih bida bidadari. Nanti
marahnya berubah. Kita yang marah jadi
istri yang marah. [tertawa]
Jadi jangan marah-marah kalau lagi
emosi. Tahan diri karena pahalanya
besar. Pertama sebab masuk surga kita
tidak selalu marah. Makanya kapan kita
lagi puncak amarah ini kesempatan kita
dapat surga.
Memang kita tiap hari marah-marah kan
enggak. Tapi kalau kita lagi marah
apalagi puncak kemarah ni kesempatan
masuk surga. Karena Allah mengatakan wal
minal ganti meredam amarahnya ketika di
puncak tinggal meledak dia bisa
lampiaskan, dia tahan. Surga
luar biasa
kata Allah Subhanahu wa taala. Yang
kedua, walina aninas dan orang-orang
yang memaafkan orang lain. Dan ini
tingkatan yang lebih tinggi lagi
daripada sekedar meredam amarah,
memaafkan. Karena kalau meredam amarah
belum tentu memaafkan. Tapi sudah dapat
pahala.
Orang meredam amarah apa pasti dia
maafkan? Belum tentu. Cuma dia jengkel
dia tahan. Dapat pahala dapat pahala
bahkan dijamin surga. Lebih daripada itu
dia memaafkan.
Padahal dia mampu membalas dia
memaafkan.
Ini orang hebat bisa memaafkan orang
lain. Dan ini ibadah yang sangat sulit.
Karena saya katakan ibadah memaafkan itu
hanya bisa kita lakukan kalau kita
sedang dizalimi.
Kalau kita enggak dizalimi, enggak ada
ibadah maaf-maafkan. Adapun maaf-maaf
lahir batin itu bukan maksud maaf ini
kalau lagi lebaran, maaf ya. Maaf lahir
batin ini sekedar hanya sapa-sapaan
doang. Sapa kita menjadi apa? Maaf lahir
batin. Mau salah enggak salah tetap kita
ngomong apa? Maaf lahir batin. Tradisi
di antara kita
yang dimaksud bukan itu yang dimaksud
benar-benar
orang zalim sama kita terkait dengan
harta kita, terkait dengan darah kita,
terkait dengan harga diri kita. Karena
kezaliman tuh salah satu di antara tiga
ini. Kalau bukan kita dizalimi karena
kita dipukulin orang atau ditikam orang
atau dibun atau dilakukan orang, kalau
dibunuh setelah selesai ya. Kalau enggak
kita diambil harta kita, ditipu orang,
diambil hartanya, dicuri orang, dirampok
orang, atau harga diri kita dijatuhkan.
Harga diri kita di dijatuhkan.
Makanya menakjubkan bagaimana Hasan bin
Ali radhiallahu anhu cucu Nabi
sallallahu alaihi wasallam ketika dia
diracun, dia meninggal karena diracun.
Hasan Al-Han bin Ali. Maka Husein
datang, "Siapa yang meracuni engkau
wahai kakak?" Jadi mau kasih tahu.
Dia maafin.
Subhanallah. Dia tahu dia bakalan mati
tapi dia maafin. Alhus Alhan radhiallahu
taala anhu.
Jadi kalau kita dizalimi, kesempatan
bagi kita untuk masuk surga. Kita enggak
enggak pengin dizalimi, pengin hidup
nyaman-nyaman. Tapi namanya kezaliman
pasti terjadi.
Kalau kita dizalimi, dikhianati.
Ahlah kita mampu balas tapi gaklah.
Ngapain saya balas? Saya buang-buang
pahala saya. Kesempatan masuk surga saya
buang. Ngapain? Ya sudah maafin aja.
Maafin.
Tetapi Syekh Utsimin mengatakan
memaafkan lihat situasi dan kondisi.
Karena Allah berfirman dalam ayat yang
lain waman afa wa aslaha faajru alallah.
Kata Allahun
wahanain.
Kata Allah, "Siapa yang maafkan dan
berbuat kebaikan?" Maka kita maafkan
secara hati maafkan. Tetapi menyikapi
orang tersebut kita harus lihat
kemaslahatan.
Misalnya ada pencuri masuk
kita tangkap, "Maafin saya dong, Pak."
"Saya maafin tapi harus kamu saya
laporkan ke polisi." Saya maafin. Saya
enggak marah kok. Saya maafin tapi kau
harus masuk sel. Karena kalau kau tidak
masuk selal, kau akan ngulangi lagi.
Paham? Ada orang muamalah selalu menipu.
Kita ditipu berapa kali? Ya, kemudian
dia datang minta maaf, ya saya maafkan.
Tapi saya akan kasih tahu orang, kau ini
penipu. Supaya yang lain tidak terkena.
Kita jangan biarin aja. Kita maafin,
kita diamin, sembunyikan, akhirnya kena
korban. Yang lain maafkan masalah hati.
Adapun tindakan kepada dia urusan
belakangan. Ya,
ada orang datang pegawai kita, ternyata
dia merusak ini, merusak anu, merusak
perusahaan berulang-ulang sudah tiga
kali kita panggil, "Aduh, maafin saya,
Bos." "Ya, saya maafin, tapi kamu harus
keluar dari perusahaan saya." Kenapa?
Kalau kau seperti ini lagi yang berefek
bukan saya aja, tapi banyak pegawai
lain. Akhirnya penghasilannya jadi
berkurang. Jadi, kamu harus saya
keluarkan. Bapak maafkan saya maafin
kalau gitu jangan keluar. Saya maafkan
dan saya keluarkan.
Jadi maafkan. tidak harus membiarkan dia
lagi. Gak
dia harus lihat maslahat mana yang
terbaik.
Ya, misalnya ti daripada keluarga ya
suami istri ternyata suaminya
berulang-ulang kemudian dia minta cerai
misalnya dari suaminya terus suaminya
bilang maafkan. Saya maafkan tapi kita
harus pisah. Kalau lanjut terus kau akan
bermaksiat dan saya akan bermaksiat.
harus bisa sama suami istri istrinya
membangkang dan macam-macam. H cerai
maafkan maafkan tapi tidak harus lanjut
karena semua melihat maslahat dan
mudarat. K Syekh Utsimin, justru kalau
kita maafkan kita biarkan saja. Ini
tidak tidak benar pemaafan yang tidak
benar. Karena Allah mengatakan waman afa
wa aslaha. Siapa yang memaafkan dan
berbuat kebaikan. Aslah itu membuat
perbaikan.
Jadi maafkan tapi lihat situasi dan
kondisi
waman afa wa aslaha faajruhu alallah
tib. Maka di sini di antara sifat yang
mulia walina aninas memaafkan orang lain
yang menzalimi kita dan ini sangat berat
maka palnya sangat besar maka ganjaran
sangat besar surga bahkan dia lebih
tinggi daripada waladzi minal ghait
bahkan wallahuam dia lebih tinggi
daripada berinfak di jalan Allah yaitu
dia infak bersedekah dengan memaafkan
orang lain. Dia tidak bersedekah dengan
harta bersedekah dengan harga dirinya
enggak ada masalah saya maafkan. Mau
saya dipukul, mau saya diu, saya
maafkan. Ini sedekah yang luar biasa.
Maka pahalanya sangat luar biasa.
Makanya di akhir ayat kata Allah,
"Wallahu yuhibbul muhsinin." Dan Allah
mencintai orang-orang berbuat ihsan.
Ihsan ada dua. Pertama, ihsan
terkait dengan Allah, yaitu dia
beribadah kepada Allah seakan-akan
melihat Allah atau seakan-akan dilihat
oleh Allah subhanahu wa taala.
Dan ini mengkonsekuensikan ikhlas dan
semangat.
Ciri orang ihsan dia ikhlas dan dia
semangat ibadah karena dia tahu dia
sedang dilihat oleh Allah.
Adapun yang kedua ihsan kepada manusia
itu berbuat baik kepada manusia.
Berinfak seperti tadi tiga sifat tadi.
Berinfak itu namanya berbuat ihsan
kepada orang lain. Beradam amarah,
berbuat ihsan kepada orang lain. Berbuat
baik sama orang lain. Memaafkan, berbuat
baik kepada orang orang lain. Membalas
kebaik keburukan dengan kebaikan,
berarti berbuat baik kepada orangorang
lain. Ini namanya ihsan. Seorang
berusaha memiliki ihsan. Du
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:15:54 UTC
Categories
Manage