Tafsir Surat Ali Imran #21 Ayat 130-134 - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
N6vNMLaRt4Q • 2025-11-10
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrul lahu ala taufiqihi wamtinanih ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman lnih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh da ridwan. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Kita lanjutkan bahasan kita. Surah Ali Imran ayat 130. Allah berfirman, "Ya ayyuhalladzina amanu la takulu riba adafan mudhaafah wattaqulaha la'allakum tuflihun." Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian makan riba dengan berlipat ganda. Dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat keberuntungan. Ayat 130 Allah membahas tentang larangan berbuat riba. Dan sebelumnya ayat 129 dan sebelumnya masih berbicara tentang perang Uhud. Tentang perang Uhud 130 dan seterusnya. Allah berbicara tentang iman dan takwa. sampai ayat 137 Allah kembali lagi ee tentang perang perang Uhud 13 ee 130 ee 137 139 dan seterusnya. Allah kembali lagi tentang perang Uhud. Jadi 130 sampai 136 itu ayat-ayat seperti diselipkan di antara kisah perang perang Uhud. Maka para ulama membahas, para ahli tafsir apa maksud disilipkan ayat-ayat ini di ketika pembahasan perang Uhud ya. Maka sebagian ulama berusaha mencari hikmah ya khilaf di kalangan mereka ya. Dan sebagian mengatakan tidak perlu kita cari munasabah, kesesuaian. Kenapa disilipkan? Karena kebetulan memang ayat-ayat sedang turun. Maka Allah masukkan di tengah-tengah ayat-ayat berbicara tentang perang Uhud. Adapun Syekh S'di rahimahullahu taala ketika beliau membahas ayat-ayat ini, beliau mengatakan ada hikmahnya ayat-ayat ini diselipkan di antara perang Uhud. Kisah perang Uhud untuk menjelaskan bahwasanya ayat-ayat berikut ini tentang ciri-ciri orang beriman. Ciri orang-orang beriman. Dan sebagaimana telah terjadi dalam perang Uhud, siapa yang beriman bertakwa maka Allah beri kemenangan dan siapa yang melanggar maka Allah beri kekalahan. Dan itu terjadi di perang perang Uhud. Ya. Maka Allah Subhanahu wa taala berfirman ayat-ayat sebelumnya. Waasbiruattaqu laadurukum kaiduhum. Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka tipu daya mereka tidak akan memberi mudurat kepada kalian sama sekali. Kemudian Allah juga berfirman, "Bala inasbiru watattaqu watukum minihim h yumdidukumukum." Bahkan jika kalian bersabar dan bertakwa dan mereka menyerang kalian segera musuh menyerang. Yumdidukumukum, maka Allah pun segera memberi pertolongan kepada kalian. Maka ini meskipun terkait dengan perang Uhud sebagaimana pernah kita jelaskan pada pertemuan lalu ya, tetapi ini berlaku dalam segala kehidupan sisi-sisi kehidupan kita. Kapan kita bertakwa kepada Allah dan bersabar maka Allah akan berikan pertolongan dan kapan kita bermaksiat membangkang perintah Allah maka Allah akan tinggalkan kita. Allah akan tinggalkan kita. Sebagaimana perang Uhud di awal peperangan mereka menang. Kata Allah walaqakumullahu w'dahuusunahum biidnih. Sungguh Allah telah memenuhi janjinya ketika Allah menghabisi mereka dengan ee ketika kalian mengalahkan mereka dengan izin Allah Subhanahu wa taala. Namun di tengah-tengah peperangan kalian membangkang. Wa asitum ba'di ma arakum ma tuhibbun. Ternyata kalian membangkang di tengah peperangan. Akhirnya banyak di antara kalian yang meninggal dunia. Ya. Maka demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari. Kapan kita bertakwa Allah beri pertolongan dan kapan kita membangkang Allah tinggalkan kita. Nah, maka pada ayat ke 130 Allah menjelaskan tentang ciri-ciri orang bertakwa. Apa sih ketakwaan yang bisa dikerjakan sehari-hari dan apa kemaksiatan yang harus ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari agar kita mendapatkan janji Allah ee ditolong oleh Allah dan kita tidak ditinggal oleh Allah Subhanahu wa taala. Maka Allah mulai pada ayat 130 tentang masalah riba. Ya, di antara ciri orang takwa itu meninggalkan kemaksiatan, di antara maksiat yang sangat berbahaya adalah riba. Allah berfirman, "Ya ayyuhalladzina amanu, wahai orang-orang yang beriman." Dan ini panggilan dengan menyebut ciri-ciri orang beriman. Orang beriman harusnya taat. La takulu riba. Janganlah kalian makan riba adafan mudhaafah yang berlipat ganda. Wattaqulah. Bertakwalah kepada Allah. Laallakum tuflihun. Semoga kalian mendapatkan falah, mendapatkan keberuntungan. Dahulu orang jahiliah mereka memberi hutang kepada orang lain. Kemudian jika jatuh tempo telah tiba waktu pembayaran maka orang tersebut ditagih. Kemudian diberi dua pilihan. Kau bayar sekarang atau kau tunda pembayaran tapi nanti dapat riba apa double. Ada bayaran tambahan. Ada bayaran tambahan. Misalnya mereka hutang misalnya 100 dinar kemudian dalam waktu setahun ternyata setahun tidak bisa bayar. Kata mereka bayar sekarang 100 dinar. Kalau enggak bayar tahun depan tapi jadi 200 dinar misalnya. Terus akhirnya yang minjam uang mengatakan, "Sudah, tahun depan aja saya mau kelola uang lagi." Akhirnya tahun depan lagi tidak bisa bayar lagi. Hutangmu sekarang sudah 100 dinar. Mau bayar sekarang atau nanti tunda lagi? Tambah lagi bunganya? Akhirnya bilang, "Ya sudah, nanti aja." Dan demikian dan demikian. Sehingga mereka mengambil untung berlipat berlipat ganda. Berlipat ganda. Dan di sini firman Allah, "La takulu ribafa mudhaafah." Janganlah makan riba yang untungnya berlipat ganda. Ini tidak ada mafhum mukhalafahnya. Jangan sampai dipahami bahwasanya ustaz kalau untungnya tidak berlipat ganda berarti boleh. Enggak. Ini namanya ee yajri majra alghab ya. Yaitu bahwasanya dahulu memang begitu kalau riba biasanya berlipat ganda. Bukan berarti kalau tidak berlipat ganda tidak boleh. Bukan berarti bukan berarti kalau tidak berlipat ganda berarti boleh. Tidak demikian. Ini namanya nas tapi tidak ada mafhum mukhalafahnya. Seperti dalam firman Allah Subhanahu wa taala. Eh tentang mahram kata Allah warbukumatiikumisaikumatiumin dan anak-anak perempuan bawaan istri kalian yang di bawah peliharaan kalian yang istri-istri kalian telah kalian gauli. Di sini Allah mengatakan, "Warabibukumati fiurikum." Dan anak-anak putri-putri istri kalian yang kalian nikahi, putri-putri bawaan yang di bawah pengasuhan kalian, maka itu juga haram, tidak boleh kalian nikahi. Bukan berarti kalau tidak dibawa pengasuhan kita kemudian halal, gak? Tetapi Allah menyebutkan warabibukumati fi hujurikum dan putri-putri bawaan istri kalian yang di bawah pengasuhan kalian. Karena dahulu biasanya demikian. Kalau ada janda punya anak-anak, putri-putri dinikahi oleh seorang lelaki, maka putri-putri tersebut diasuh oleh sang suami, sang suami yang baru. Ya. Sehingga Allah menyebutkan alabilil ghalib bahwasanya biasanya memang begitu sehingga tidak dipahami. Berarti kalau tidak kita asuhi boleh kita nikahi. Enggak. Enggak begitu. Ini namanya yajri majral ghalib. Sehingga tidak ada mafhum mukhalafahnya. Contoh lagi seperti Rasulull sahu alaih wasallam bersabda, "Ma asfala minal ma asfala eh minal izar minal ka'bain fafinar." Ya, sarung mana saja yang di bawah mata kaki maka terancam dengan neraka jahanam. Jangan dipahami. Berarti kalau bukan sarung gak apa-apa kalau celana panjang. Bukan. Karena dahulu orang-orang sering pakai sarung, pakai izar. Ini namanya majrul ghalib. Maka tidak ada mafhum mukhalafahnya. Sama seperti Allah Subhanahu wa taalaun. Janganlah kalian memaksa budak-budak wanita kalian untuk berzina. Kemudian kalian ambil hasilnya jika jika mereka ingin menjaga diri mereka. Yaitu dahulu orang-orang kalau punya budak perempuan yang cantik dia sewakan disuruh zina nanti hasilnya dia ambil majikannya. Maka Allah bilang, Allah mengatakan, "Wa tukrihu fatayatikum dalam surat eh Annur. Janganlah kalian memaksa budak-budak perompok kalian untuk berzina untuk kalian dapat dunia. Sementara mereka ingin menjaga diri, tidak ingin berzina, maka tidak dipahami. Berarti kalau mereka tidak ingin menjaga diri, ingin berzina, maka silakan saja." Enggak. Karena zina haram, ya. Zina haram ini namanya majrul ghalib. Maka tidak ada mafhum mukhalafnya. Ini dibahas dalam masalah ushul ushul fikih. Maka ini penting karena sebagian orang menghalalkan riba. Kata mereka Allah berfirman, "La takulu ribafan mudhaafah." Jangan makan riba kalau hutungnya berlipat ganda. Berarti kalau hutungnya untungnya tidak berlipat ganda boleh. Mereka mengatakan ini mafhum mukhalafahnya. Namun dibantah oleh para ulama bahwasanya ayat ini tidak ada mafhum mukhalafahnya. Kalau mafhum mukhalafah itu maksudnya kalau begitu sebaliknya. Itu maksudnya namanya mafhum mukhalafah. Kalau begitu sebaliknya kalau tidak untung berlipat ganda berarti boleh riba dong berdasarkan ayat ini. Ini tidak ada mafhum mukhalafahnya. Tetapi ini majra alghab. Dahulu orang kalau riba biasanya untung berlipat berlipat ganda. Demikian juga setelah ayat ini turun ayat yang lebih tegas menunjukkan riba haram secara mutlak tanpa melihat berapa untungnya. Allah berfirman, dalam akhir-akhir surat Albaqarah yang turun setelah ayat ini Allah mengatakan, "Sungguhnya yang makan riba mereka nanti pada hari kiamat seperti orang bangkitkan seperti orang gila yang kemasukan jin, kemasukan setan. Hal ini karena mereka berkata, "Sesungguhnya riba sama dengan jual jual beli." Dan ini ayat umum. Entah untungnya banyak, entah untungnya sedikit, riba hukumnya apa? Haram. Demikian juga datang dalam hadis-hadis yang menjelaskan maksud pengharaman riba. Rasulullah tidak pernah memperinci kalau untungnya tidak sampai 100% maka tidak mengapa. Ya gak ada. Maka riba kecil atau besar dia adalah dosa dosa besar. Untungnya banyak atau sedikit tetap dosa dosa besar. Kenapa riba sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa taala? Ya faanu biharbi minallahi wa rasulih. Siapa yang makan riba, maka umumkan peperangan kepada Allah dan rasul-Nya. Tidak ada dosa yang diancam dengan peperangan seperti dosa dosa riba. Karena dosa riba ini menghilangkan apa namanya? Menghilangkan ee kepekaan dan kepedulian sifat sosial dari seseorang. Sifat sosial jadi hilang. Kita tahu bahwasanya dalam muamalah ada dua model. Muamalah pertama, muamalah cari untung ya, jual beli. Yang kedua, muamalah sosial yaitu menolong. Dan di antara muamalah sosial misalnya sedekah, kemudian di antaranya memberi hutangan yang tujuannya adalah tidak mencari keuntungan tapi bersifat sosial. Nah, kalau kita kasih hutangan, kita jangan jangan minta untung. Kapan kita melakukan suatu ibadah yang mulia, memberi hutangan kepada orang, terus kita ambil untung, ini sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa taala. Karena muamalah tersebut, muamalah yang mulia kemudian tercoreng gara-gara seorang minta untung di balik muamalah tersebut. Makanya ada pembahasan beri syafaat, hukum beri syafaat. Orang syafaat misalnya ada orang mau kerja, saya telepon sama teman, "Eh, tolong bantu teman saya kerja." Setelah itu orang ini diterima kerja kemudian dikasih uang sama kita, "Jangan terima. Karena kita sudah berbuat baik dengan memberi syafaat. Kita enggak ada kerjaan apa-apa, cuma telepon doang. Tolong bantu dia. Ini namanya kita kasih syafaat agar dia diterima kerja. Setelah itu dia kasih kita uang, jangan terima. Karena dia kasih kita uang gara-gara syafaat tersebut. Karena akan mencoreng amal saleh yang sudah kita kerjakan. Akan mencoreng amal saleh yang kita kerjakan. Maka ini syariat sangat benci. Kemudian dengan adanya riba menghilangkan kepekaan sosial. Coba yang jadi korban riba rata-rata orang banyak orang miskin-miskin pinjol-pinjol, benjol-benjol itu semua itu orang miskin rata-rata. Seharusnya yang dibantu malah dikeruk karena kebodohan mereka. Diiming-iming sehingga ada yang bunuh diri di antara mereka. Rumah tangga hancur, macam-macam akibatnya. Rata-rata orang miskin yang susah. Kasihan yang seharusnya ditolong malah di malah dihabisin. Sehingga benarlah orang yang makan riba dibangkitkan seperti orang kerasukan jin. Dia enggak punya otak lagi. Ini orang harus dibantu dia malah ngabisin kesempatan. Enggak bisa. Kebanyakan yang di yang korban orang-orang miskin-miskin yang harusnya ditolong malah dihabisin. Oleh karenanya riba hukumnya haram secara mutlak ya. Dan tentu pembahasan panjang tentang masalah riba tapi intinya mutlak apakah untungnya berlipat ganda atau tidak. Selama dia adalah bunga maka hukumnya haram. Dan dia termasuk dosa dosa besar. Salah satu dari sab mubiqat, tujuh dosa besar yang membinasakan. Dosa besar banyak, ada 70 lebih, tapi di antaranya puncak dosa besar tujuh. Di antaranya aklur riba. Makan riba, makan hasil riba. Kemudian di sini Allah mengatakan, "La takulu riba." Jangan makan dari hasil riba. Di sini jangan makan bukan berarti dibatasi. Ustaz, kalau begitu kalau untungnya buat beli mobil enggak dimakan boleh dong? Enggak. Ini ini namanya sama. Ini namanya majrul ghalib. Kebanyakan orang dulu hasil ribanya mereka buat ma makan di zaman itu. Bukan berarti kalau tidak dimakan berarti halal. Enggak, sama aja ya. Cuma kalau makan lebih parah karena akan menjadi daging nabtinaru aa bihi. Daging mana saja yang tumbuh karena hasil yang haram, maka lebih pantas untuk dibakar oleh api neraka jahanam. Ini semua hasil riba. Saya enggak mau buat makan anak istri. Terus buat apa? Buat beli mobil. Sama aja. buat beli mobil, buat beli rumah, sama aja meskipun gua tidak makan. Cuma mungkin kalau makan lebih parah, tapi sama saja dosa. Ini hanya majrul golb karena kebanyakan penggunaan adalah untuk dimakan. Wattaqulah laallakum tuflihun. Bertakwalah kepada Allah. Bertakwa kepada Allah itu dengan menjalankan ketaatan dan meninggalkan kema kemaksiatan. Maka kau telah bertakwa kepada Allah Subhanahu wa taala. Laallakum tuflihun. Semoga kalian mendapatkan alfalah. Alfalah yaitu kesuksesan. Kalau bahasa kita sukses meraih apa yang diinginkan dan terhindar dari apa yang ditakuti. Itu namanya alfalah. Secara bahasa Arab. Tidak dikatakan q aflaha si fulan. Si fulan telah aflah kecuali dia sukses. Dia sukses ya. Dia kerjanya sudah sudah mantap, sudah apa namanya? Stabil. Ah ini aflah kalau bahasa Arab ya. itu namanya aflah dan falah yang sesungguhnya adalah di surga. Kesuksesan yang abadi dan tanpa kesedihan sama sekali dan terhindar dari kekhawatiran itu masuk neraka jahanam maka itu seorang telah meraih falah. Makanya kalau salat hayya al shah hayya alal falah. Marilah menuju kesuksesan yang sesungguhnya. Makanya kalau kita dengar azan kita lagi sukses dunia tinggalin sukses dunia itu sukses sungguhnya yang itu bukan sukses dunia. dunia kita bisa sukses sebentar kemudian jatuh lagi. Tapi kalau sukses yang sesungguhnya adalah sukses di akhirat. Maka Allah berfirman, "Wattaqulaha laallakum tuflihun." Bertakwalah kepada Allah agar kalian meraih kesuksesan yang sesungguhnya, meraih alfalah. Ya, la bukan tarajji. La itu kalau bahasa Arabnya semoga harapan ya. tentunya kalau Allah tentunya apapun yang Allah inginkan pasti terjadi. Maka di sini laalla maksudnya adalah taklil, yaitu agar kalian beruntung. Agar kalian beruntung. Bukan harapan dari Allah, tapi agar kalian beruntung mencapai al-falah dengan takwa kepada Allah subhanahu wa taala. Maka di sini Allah Subhanahu wa taala bicara tentang alfalah al-Hqiki, tentang kesuksesan di akhirat. Karena riba ini sangat mengiming-iming kesuksesan dunia. Orang dengan riba untung banyak ya terbuka jalan usaha dengan riba. Kalau dengan riba enggak jadi orangnya enggak setuju. Maunya dengan apa? riba sehingga kita terpacu, termotivasi untuk melakukan usaha dengan riba. Apakah dia sebagai pemakan riba ataukah kita sebagai pemberi makannya? Sama saja. Laana rasul sahu al wasallam akil riba waukilahu watibahu waahidaihi waqahum sawa. Kata Jabr bin Abdillah, Rasulullah melaknat pemakan riba yaitu yang yang yang ambil untungnya. Wukilahu yang kasih makan. Yang kasih makan. Misalnya kita ada kita mau apa namanya melakukan usaha mudarabah. Mudarabah. Terus kita minta investasi dari seorang investor investor istismar. Maka dia kasih uang. Dia tanam uang R miliar. Tapi dia punya aturan pokoknya modal saya enggak boleh kurang dan untung saya setiap bulan harus sekian persen dari modal. Ini riba. Jelas ini riba. Tayib. Kita bisa sanggup karena menurut perkiraan kita, kita bisa tenang, saya akan lakukan. Kemudian kita kerja dan kita sesuai dengan keuntungan tersebut. Tapi ini riba. Dia sama kita sama saja sama-sama dilaknat. Kan yang makan dia enggak. Meskipun yang makan dia tapi kau yang menyetujui. Seandainya kau tidak setujui, maka tidak terjadi transaksi apa? Riba. Kalau mudarabah tidak mau rugi dari modal dan pasti untung, maka ini namanya riba. Ya, kita terkadang terpancing karena kita ingin cari untung. Akhirnya kita menyetujui akad riba tersebut maka kita dan dia terlaknat. Waliadzubillah. Maka Allah ingatkan, jangan terpedaya dengan falah yang apa? Fat morgana. Keberuntungan sesaat. Memang benar kalau kau ribong. Uangmu banyak, rumahmu banyak, ya mobilmu banyak, usahamu banyak. Benar. Tapi kau tidak meraih alfalah alhaqiki, falah yang sesungguhnya di akhirat. Untuk meraih falah yang hakiki, kebahagiaan yang abadi, maka tinggalkan itu semua. Ada pengorbanan, tinggalkan riba. Allah bukan jalan yang lain, tinggalkan riba. Maka Allah berkata, "Wattaqulah." Bertakwalah kepada Allah. Butuh takwa meninggalkan riba. Kalau enggak takwa, iming-iming luar biasa. Godaan dunia itu luar biasa keuntungan tuh buat mata gelap. Benar atau tidak? Yang bikin mata gelap itu apa? Uang perempuan jabatan. Iya. Enggak. Makanan bikin mata gelap juga enggak kadang. Tapi yang jelas bikin mata gelap itu duit, jabatan, perempuan, popularitas itu bikin mata gelap seseorang. Sehingga solusinya cuma satu, bertakwalah kepada Allah. Kalau enggak bertakwa kebawa riba. Nak iming-iming untung banyak sekali. Kemudian Allah berfirman, "Wattaquidatil kafirin." Takutlah kalian kepada api neraka yang disiapkan bagi orang-orang kafir. Ya, takut kepada neraka. Kalau sampai kalian menghalalkan riba, berarti kafir. Kalau kalian tidak menghalalkan riba, dosa dosa besar. Kalau kalian menghalalkan riba, berarti kalian kafir. Keluar dari Islam masuk neraka, nerakanya kafir. Tapi kalau kalian tidak menghalalkan riba, berarti kafir kalian kufur nikmat. Bukan kufur besar juga masuk neraka sama saja. Ini menunjukkan riba dosa dosa besar. Karena setelah Allah mengingatkan tentang bahaya riba, Allah suruh bertakwa, Allah ingatkan wattaqunar. Hati-hatilah kalian terhadap neraka jahanam yang Allah siapkan bagi orang-orang yang yang kafir. Ini dalil bahwasanya neraka sudah ada, sudah disiapkan, sudah ada. Dan ahlusunah telah menjelaskan bahwasanya di antara akidah ahlusunah neraka dan surga sudah sudah Allah ciptakan. Tinggal diisi. Tinggal di diisi. Kata Allah, "Wala ka nafsin hudaha wakin haqqal minni laanna jahannama minal jinnati ajmain. Kalau kami berkehendak, kami akan menjadikan semua orang dapat hidayah. Semua saleh, tetapi surga dan neraka sudah ada dan kami akan memenuhi neraka dengan jin dan manusia. Jadi, surga dan neraka saudara tinggal di isinya. Isinya harus ada. Maka jangan sampai kalian menjadi isi neraka. Kenapa tidak semua orang beriman? Kata Allah, "Walau syna, kalau kami berkehendak kami akan menjadikan semua orang beriman." Masalahnya ada surga dan neraka harus diisi. Tapi telah tetap keputusanku jahanam. Sungguh aku benar-benar akan memenuhi neraka jahanam. Minal jinnati ajmain. Jadi jin manusia akan memenuhi neraka jahanam. Oleh karenanya neraka sudah ada, surga sudah ada dan harus ada i isinya. Karenanya jangan jadi isi neraka. Dan neraka selalu minta tambahan. Hal mim mazid yaumul jahanamati hari di saat hari kiamat kelak nanti Allah bertanya kepada neraka jahanam. Halimati sudah penuh belum kata neraka hal mim mazid belum. Masih ada isi tambahan enggak? Wyadzubillah. Ya. Semoga kita dilindungi dari neraka jahanam. Maka ketika Allah melarang riba, kemudian Allah ancam dengan neraka, Allah mengatakan dosa orang kafir, maka riba itu dosa sangat sangat besar. Kemudian Allah berfirman lagi, wa atiullaha warasula laallakum turhamun. Taatlah kepada Allah rasulnya semoga kalian dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya ya akan mendatangkan rahmat Allah Subhanahu wa taala yaitu masuk surga. Karena orang masuk surga dengan rahmat Allah Subhanahu wa taala. Sebagaimana sering kita sampaikan, Ibnu Qayyim mengatakan eh annajatu minanar bimagfiratillah wadhul jannah birahmatillahul waqtisamul wad darajat bil a'mal. Kata Ibnu Qayyim menukil perkataan para ulama terdahulu bahwasanya selamat dari neraka gara-gara ampunan Allah. masuk surga karena rahmat Allah. Adapun level di surga maupun di neraka tergantung amal. Level surga neraka tergantung amal. Dan di antara jadi siapa yang ingin masuk surga harus dengan rahmat Allah. Dan di antara sebab kita mendapat rahmat Allah adalah dengan taat kepada Allah dan rasulnya. Ketahuilah setiap ketaatan yang kita lakukan, kalau ada perintah Allah kita kerjakan, ada perintah Rasul sallallahu alaihi wasallam kita kerjakan, ada larangan Allah kita tinggalkan, larangan Rasulullah kita tinggalkan, dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala. Semakin banyak ketaatan kita kerjakan dan larangan kita tinggalkan, maka semakin banyak kita mendapat jatah rahmat Allah. Kalau semakin banyak jatah rahmat Allah, maka semakin tinggi level seseorang. Dan subhanallah dunia ini memang melalaikan ya. kita malas mengalami kemalasan dalam jangan ketaatan, berani bermaksiat maka ingat alfalah alhhaqiki keberuntungan suungguhnya adalah dengan meninggalkan kemaksiatan menjalan ketaatan. Setelah itu mungkin timbul pertanyaan setelah firman Allah, wa atiullaha warasul laallakum turhamun. Taatlah kepada rasulnya. Semoga kalian dirahmati oleh Allah. Semoga disayang oleh Allah subhanahu wa taala. Tinggal pertanyaan, apa ciri-ciri orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya? Nah, pada ayat berikutnya Allah sebutkan ciri-cirinya. Ciri-ciri orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita masuk pada ayat 133. Allah berfirman, "Wasarifikumin ardamawatin." Bersegeralah kalian menuju ampunan Allah dari ampunan dari Rabb kalian. Wantamawatu wal ard. Dan surga Allah yang luasnya atau lebarnya selebar langit dan bumi. Lil muttaqin yang Allah siapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Di sini Allah sebutkan wasariu, bersegeralah. Dan sariu ada atau saroa itu dari wazan fa'ala yaitu mufa'alah. Dan asal dari wazan timbangan fi'il fa'ala itu mufa'alah menunjukkan ada dua pihak yang saling melakukan kegiatan. Maka Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Maksudnya dari syariu bukan hanya segera hanya sekedar bersegera. Kalau bersegera mungkin Allah akan berkata wa asriu. Asro yusriu artinya segera. Tapi Allah tidak menggunakan lafal asroa yusriu israan. Tapi Allah mengatakan dengan saroa saroa yusariu musaroatan yang menunjukkan ada dua belah pihak. yaitu maksudnya kau bersegera menyaingi yang lain sehingga bersegera dalam rangka menyaingi yang lain. Karena untuk urusan akhirat memang harus bersegera dan bersaing. Jangan cuma bersegera tapi ada rasa persaingan dengan yang lain. Persaingan yang baik, lomba-lomba. Makanya Allah mengatakan fastabiqul khairat. Berlombalah dalam kebaikan. Bukan cuma sekedar segera. Allah suruh berlomba. Demikian Allah berfirman tentang nikmat surga. Wafidalika falyatanafasil mutanafisun. Untuk urusan nikmat surga maka bersainglah tanafus. Tanafus bersaing. Bersaing. Ya Allah suruh eh Allah suruh giat limliun untuk urusan surga. Maka itulah tempat yang tepat untuk bekerja. Falyail amilun. Dalam surat safat kata Allah subhanahu wa taala untuk urusan surga maka beraktivitaslah. Ini aktivitas yang sesungguhnya untuk mencari surga. Aktivitasnya bagaimana? Cepat segera bersaing. Wasariu dalam ayat dalam surah ee Ali Imran dalam surat Al-Hadid. Sariu ila magfiratibikum wa jannah. Arduha ka ard sama wal ardina amanu billahi wa rasulih dalam surat alhadis tapi sama-sama menggunakan syariu. Jadi syariu maknanya wallahuam bawab menurut Syekh Ibnu Utsim rahimahullahu taala sariu maksudnya cepatlah dan bers sainglah cepatlah dan bersainglah dengan yang lain. Jadi ini persaingan. Kalau persaingan dunia ya cuma dapat kebahagiaan sementara. Makanya Hasan Al Basri mengatakan kalau kau melihat orang unggul dalam urusan dunia saingilah dalam urusan akhirat. Jangan saya urusan dunia. Sayaingin dia urusan dunia enggak ada henti-hentinya. Dia punya mobil kau beli mobil seperti mobil lebih bagus. Terus setelah itu apa kau gunakan? Cuma di dunia saja. Setelah itu selesai. Ya, kalau kita mau saingan dunia tidak ada habis-habisnya. Kita sudah unggul, ada yang lebih unggul lagi ya. Tapi saya ingin dalam urusan akhirat. Maka seorang berusaha Allah berfirman, "Wasariu ila magfirat mirbikum." Kepada ampunan Allah yang besar. Ya, magfiratan sini tanwin wallahu alam adalah untuk menunjukkan keagungan. Makanya Allah tidak mengatakan ila magfiratibikum, tapi Allah pisahkan ila magfiratin minabbikum. Bahwasanya ampun Allah itu ampunan Allah itu luar biasa. Seperti doanya yang diajar oleh Nabi kepada Abu Bakar sebelum salam. Allahumma inni nafsi dzuman katsir fagfirli magfiratan minik. Fagfirli magfiratan. yaitu dengan tanwin. Karena tanwin dalam bahasa Arab juga untuk menunjukkan takzim, yaitu menunjukkan suatu yang besar. Maka bersegeralah kalian dengan cepat bersaingilah untuk mencari maghfiratin yaitu ampunan Allah. Ampunan yang besar. Mir rabbikum dari Rabb kalian. Magfirah sebagaimana sering kita sampaikan dari migfar yang artinya helm besi yang dipakai oleh prajurit ketika berperang. Dan helm tersebut fungsinya dua. Pertama menutup. Kedua, menghadang dari atau melindungi dari hantaman senjata musuh. Jadi fungsinya dua, menutup dan melindungi. Itulah makna magfirah. Jadi kalau kita mengatakan astagfirullah aladzim astagfiruka atau gfranaka rbigfirli. Kita minta ampunan kepada Allah, minta magfirah. Maknanya ya Allah tutuplah aib-aibku dan lindungilah aku dari dampak dampak dosa-dosa. Karena dosa pasti punya dampak. Sebagaimana seorang prajurit ketika dia memakai helm besi, maka dia menutupi wajahnya. Yang kedua, agar terhindar dari dampak senjata pedang dari pedang, senjata musuh dari pedang, dari panah. Sehingga ketika kena dia tidak mengapa. Karena dia menggunakan pelindung yang kuat. Karena J Ibnu Qayim mengatakan, "Tidak semua penutup kepala disebut migfar." Contohnya songkok, kolan, contohnya sorban. itu tidak dikatakan migfar karena hanya menutupi namun tidak melindungi. Tidak melindungi. Tapi migfar memiliki dua sifat fungsi menutup melindungi. Nah, ketika kita minta ampunan Allah yaitu kita berdoa magfirah. Ya Allah tutuplah aib-aibku di dunia. Aku ini pelaku maksiat ya Allah. Banyak maksiat yang aku lakukan. Jangan bongkar aibku di dunia apalagi di akhirat. Kemudian lindungilah aku dari dampak maksiat. Karena maksiat pasti punya dampak. Minimal dampak mengenai hati langsung. Jadi yang terkena dampak langsung adalah hati. Kata Ibnu Qayyim rahimahullah mengingatkan hadis Nabi. Innaldaan nuqitbihiatun sauda. Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan dicoreng dalam hatinya satu titik hitam. Semakin banyak maksiat, semakin banyak hitam-hitam tersebut sampai menjadi ron, yaitu menutupi hati dengan kehitaman. Jadi dampak maksiat yang langsung mengena adalah hati. Adapun dampak efek secara fisik mungkin belakangan, tidak harus sekarang. Seperti mungkin nanti dia sakit-sakitan, mungkin dia ekonominya jatuh, itu itu belakangan. Dia seperti racun yang masuk ke dalam tubuh. Efeknya bisa belakangan, bisa 10 tahun lagi, 20 tahun lagi. Tapi yang langsung mengena adalah hati. Maka ketika seorang melakukan maksiat mengenai hati, bisa jadi dia langsung jadi malas, futur. Bisa jadi dia suka dengan maksiat. Kemarin sukanya dengar kajian, sekarang suka dengar Korea. Berubah. Kenapa maksiat dilakukan sehingga hatinya berubah? Berubah. Ini dampak yang langsung efeknya langsung mengenai hati. Oleh karenanya agar tidak mengefek pada hati kita, kita harus sering is istigfar. Istigfar. yaitu ya Allah ampunilah tutuplah dosa-dosaku dan lindungilah aku dari dampak dosa yang aku lakukan seperti doa sayidul istigfar abuaka binikmatika alai abu bidambi fagfirli fnahu la yagfirunuba illa an aku mengakui seluruh nikmat yang kau berikan kepadaku wa abu bidambi maknanya dan aku memikul dosa yang ada pada diriku aku akui saya tahu dosa-dosak yaitu jangan berikan efek dosaku kepada diriku. Ya. Dan secara include atau secara kelaziman kalau seorang meminta magfirah yaitu ditutupi dan dihilangkan efeknya berarti dia minta ampunan. Berarti minta apa? Ampunan. Ya diampuni supaya ditutup aibnya dan salah satu bentuk ampunan tidak dibongkar aibnya. Berarti Allah mengampuni. Buktinya aibnya tidak dibongkar. Dan salah satu bentuk ampunan yaitu efeknya tidak ada. Dinolkan oleh Allah efeknya diniihilkan. Sehingga ee ketika dia minta magfirah berarti dia juga diampuni oleh Allah Subhanahu wa taala. Wasari il magfirah. Maka bersegeralah menuju magfirah. Tib. Bagaimana cara bersegera menuju ampunan Allah? Yaitu di antaranya dengan banyak istigfar. dengan banyak istigfar, dengan banyak bertobat. Yang kedua, dengan melakukan ahlanatul mahiah. Melakukan amal saleh yang berefek diampuni dosa-dosa seperti umrah, sedekah, salat lima waktu, haji, ya. Al umr umrah kafarahuma. Bahwasanya umrah satu umrah lainnya menghapuskan dosa-dosa keduanya. Man hajillah umuh. Siapa yang berhaji karena Allah, ikhlas karena Allah, kemudian tidak melakukan rafas, tidak melakukan kefasikan, kemaksiatan, maka dia akan bersih dari dosa-dosanya seperti baru dilahirkan dari perut ibunya. Di antaranya puasa. Puasa menghapuskan dosa-dosa ya. Ramadan yang satu, Ramadan berikutnya menghafuskan dosa-dosa di antara keduanya. Artinya banyak amal saleh mengugurkan dosa salat lima waktu menganggurkan dosa-dosa. Jadi bersegera menuju ampunan Allah dengan banyak istigfar dan melakukan kebaikan-kebaikan. Kemudian kata Allah wa jannatin dan segera menuju surga Allah surga yang agung. Arduhasamawatu wal ard. Yang lebarnya jadi dalam dalam bahasa Arab ada ada ardun ada tul. Kalau kita lihat suatu suatu benda fisik ada ardun ardu lebar kemudian tul itu tu panjang panjang dan lebar panjang dan lebar tinggi volume ya di sini Allah mengatakan ardu samawat wal ard segalah menuju surga yang lebarnya selebar langit dan bumi. Sehingga kata para ulama para ahli tafsir mengatakan kalau lebarnya saja selebar langit dan bumi, bagaimana lagi dengan panjangnya? Jadi surga itu sangat luas ya, sangat luas. Makanya disebut satu orang aja dapat surga ya seperti ketika Rasulullah menyebutkan tentang orang yang terakhir masuk surga. Adna ahlil jannati manzilah. Orang yang paling rendah kedudukannya di surga. Kata Rasulullah, kata Allah, "Tamanna ingin ini, mintalah." "Saya pengin ini." "Minta apa?" "Minta apa?" Coba berangan-angan. Dia pikir lagi ingin ingin ingin dia lupa habis angan-angannya. Allah ajarin, "Mintalah ini, mintalah ini." Dia ber bingung mau angan-angan apa. Sampai Allah mengatakan, "Lakad dunya wa asratu amsaliha." Bagimu dunia dan sekitar dan 10 kali lipatnya. itu orang yang paling rendah di surga. Punya kekuasaan sampai 10 kali lipat dunia. Luar biasa ya. Ini luar daripada khayalan kita ya. Maka surga itu sangat sangat sangat luas. Idat lil muttaqin yang Allah siapkan bagi orang yang bertakwa. Ini juga dalil bahwasanya surga sudah diciptakan. Allah siapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Ya, di sini Allah tidak mengiming-imingi dunia. Ya, benar. Dalam suatu amalan saleh kadang Rasulullah mengiming-imingi dunia seperti lapangnya rezeki, panjang umur, seperti silaturahmi. Man ahabba yubsar fi rizkihiunahimah. Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka sambung silaturahmi juga. mengiming-iming rezeki bertambah kata Nabi, maq siapa yang bersedekah tidak berkurang apa hartanya. Seb mengatakan bal yazid semakin ber bertambah baltazid semakin menambah tetapi hukum asal bahwasanya amal saleh iming-imingnya adalah akhirat. Iming-imingnya adalah apa? Akhirat seperti dalam hadis ini, dalam ayat ini, Allah mengiming dengan ampunan dan Allah mengiming dengan surga. Makanya ketika perang Uhud Rasulullah mengatakan kumu jannatin ardu samawatu wal ard. Bangkitlah kalian menuju surga yang seluas langit dan bumi. Maka seorang sa berkata, "Ya Rasulullah, jannatun ardama ard." Ya Rasulullah, "Surga yang seluas langit dan bumi." Kata Rasul sahu alaih wasallam, "Nam." Kata bakhin-bakhin. Wow, hebat. Kenapa kau mengatakan bakhin-bakhin? Wow, hebat. Saya riduakuna min ahliha. Saya ingin aku menjadi penghuni surga. Kata Rasul sahu al wasallam, "Anta min ahliha." Kau termasuk penghuni surga. Faakraj tamaratin lahu. Maka dia perlu keluarkan kurma-korma yang dia sedang makan. Dia mengatakan, "Laintitu tamarati hadi innahayatunah." Kalau saya harus hidup sampai kurma ini saya selesai makan terlalu lama, saya pengin mati sekarang. Maka dia pun membuang kurma-kormanya. Kemudian dia masuk perang. Kemudian dia meninggal. Kenapa? Karena dia diiming-imingi oleh Nabi dengan surga. Ketika keluarga Amar disiksa, Rasulullahnya berkata, "Sobron ala Yasir fainna maidakumul jannah." Sabarlah wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya Allah menjanjikan kalian dapat surga. Apa mau kita iming-iming yang paling utama? Sur surga. Kenapa kita salat? Kenapa kita puasa? Kenapa kita bersedekah? Surga. Surga. Maka di sini Allah mengatakan menuju surga yang luasnya atau lebarnya selebar langit dan bumi Allah siapkan bagi orang yang bertakwa. Kemudian siapakah orang bertakwa tersebut? Maka Allah jelaskan. Alladinafiquinas wallahu yuhbbsin yaitu orang-orang yang menginfak berinfak ketika dalam kondisi lapang dalam kondisi sulit dan orang-orang yang meredam amarah dan orang-orang yang memaafkan orang lain. Wallahu yuhibbul muhsinin. Allah mencintai orang-orang berbuat ihsan. Tib di sini ketika Allah menyebutkan tentang ciri orang bertakwa yang pertama Allah sebutkan adalah orang yang suka berinfak. Orang yang suka berinfak, bab. Kenapa Allah tidak sebutkan yang salat, yang puasa? Kata kata para ulama untuk membantah orang-orang yang melakukan riba. Harusnya kalian tidak riba. Harusnya kalian berin infak. Ya. Urutan kebaikan yang pertama adalah infak dan sedekah. Ini yang paling tinggi. Yang kedua, meminjamkan tanpa tanpa riba. Kalau kalian tidak riba, kalian meminjamkan tanpa ada riba, ini pahalanya besar apalagi berin berinfak. Maka Allah arahkan jangan makan riba. Harusnya sebaliknya malah berinfak. Kalau bisa tidak, kalau bisa bukan hanya sekedar meminjamkan tanpa riba, kalau bisa naik level lagi yaitu berin berinfak, mengikhlaskan. Itu lebih afdal. Itu lebih afdal. Ya kata Allahunakum. Kalau orang yang kalian utangi susah, wajib bagi kalian untuk memberi penundaan. Dan kalau kalian ikhlaskan lebih baik, kata Allah subhanahu wa taala. Kalian tidak ikhlaskan pun dapat pahala. Tidak bisa bayar sekarang, sudah nanti bulan depan, tahun depan itu afdal. Pahalanya berjalan terus. Rasulullah mengatakan, "Asalaf yajri majro satriodqah." Seorang menjamkan uang pahalanya seperti setengah sedekah. Kalau dia pinjamkan R juta meskipun uangnya akan kembali dibayar, dia seperti sedekah R00.000. Tapi lebih baik kata Allah, "Wa anasqu kalian bersedekah dengan bersedekah sebagian atau bersedekah seluruhnya?" Ya sudah, kalau utang R juta enggak bisa bayar 5.000 aja gak apa kalau bisa ya. Kalau bisa sudah gratis ya lebih baik. Maka di sini di antara amal saleh yang luar biasa yang merupakan ciri orang-orang bertakwa penghuni surga alladzina yunfiquun yaitu orang suka berinfak. Di sini Allah menggunakan fi'il mudhar apa? Present tense ya yang menunjukkan kesinambungan. Yaitu selalu mengulang-ulangi. Alladzina yunfiquun. Nanti infak, nanti infak lagi, nanti infak lagi, nanti infak lagi. Far wra dalam kondisi lapang maupun kondisi susah. Kata kata Syekh S'di dalam kondisi lapang mungkin lebih banyak. Kalau kondisi sulit lebih sedikit tapi kalau sedikit la tahqirna minal marufian. Jangan kalian meremehkan ya kebaikan meskipun sedikitp. Rasulullah bersabda, "Ittaqinara walau bisyak tamrah." Jagalah diri kalian dari neraka. Lindungilah kalian dari neraka jahanam meskipun dengan bersedekah sepenggal kurma. Kalian enggak punya apa-apa, punya kurma satu sedekah sepenggalnya. Kalau lagi lapang ya lapang ya. Sampai Thair bin Asur menjelaskan kenapa mereka sampai berinfak lapang dan susah. Karena sudah menjadi akhlak bagi mereka. Sudah jadi khuluk perangai sudah jadi sajiah. Sehingga mereka ini kalau enggak berinfak mereka susah. Jadi orang itu bisa kecanduan, bisa kecanduan pelit, bisa kecanduan berinfak. Mau pilih mana. Pelit juga kecanduan. Uh, masuk apa? Malas kerja. Ngapain? Enak saya sudah susah-susah dia tinggal terima. Ya udah nasib namanya susah hidup harus sabar ya. Iya pelit. [tertawa] Jadi kecanduan pelit candu. Kalau enggak pelit dia kayaknya kurang srek mau kasih. Ah enak aja kasih-kasih kerja sana. Malas malas. Ngapain kasih orang malas? Sudah kerja-kerja emang cari duit datung emang hujan ujur duit saya dapat hujan saya juga cari susah. Akhirnya pelit dia. Pelit pelit pelit. Senantiasa pelit sampai dicatat sebagai orang pelit. Jadilah perangai dia perangai pelit. Ngulin uang susah. Kalau sudah pelit, yang susah dirinya sendiri susah, istrinya susah, anak-anaknya susah, pegawainya susah, tetangganya susah. [tertawa] Kenapa susah? Lihat ini orang kaya tapi pelit. Kalau miskin dimaklumi, ini duit banyak, rumah gede, pelit luar biasa. Saya dapat dua kasus orang meninggal gara-gara pelit. Dia susah sendiri. Dua kasus. Dia mau berobat, dia cari yang murah. Akhirnya mati dokter bawa rumah sakit mahal. Aduh mahal kayaknya. Padahal kalau dia berobat uangnya itu semuanya jadi pahala. Bersedekah atas dirinya sendiri cuma gak tahu hitungannya dia perhitungannya beda enggak mahal. Akhirnya mati. Satu lagi berobat. Subhanallah ya. Uang banyak miliar-miliar. Tapi ini enggak mau berobat yang saya mau BPJS aja lah. Ngantri mati. Akhirnya orang kalau sudah pelit, pelit sama dirinya, pelit tingkat tinggi. Aduh, nanti punya duit kecuali nanti enggak punya duit barulah nanti punya duit ngapain ngantri? Ngantri sama orang miskin. Malu. Kalau ente enggak punya duit okelah. Kalau punya duit ngapain? Pelit sama diri sendiri. dampaknya mati. Maka kalau sudah pelit, jadi perangnya sudah susah. Sebaliknya ada orang kecanduan-kecanduan sedekah. Alladina yunfiquuna far wra saking suka bersedekah. Bahkan dalam kondisi sulit pun dia kalau enggak sedekah dia merasa gelisah karena sudah jadi kebiasaannya. Tetap sedekah meskipun susah tahu ATM tinggal sedikit. Bisa-bisalah sedekah sudah kebiasaan. Ikhlas karena Allah Subhanahu wa taala. Dan ini Allah sebutkan pertama menunjukkan sedekah adalah sebab utama masuk surga di antara satu sebab utama masuk surga di antara salahu sebab menghalangi diri neraka jahanam. Maka jangan pelit-pelit. Makanya ketika Rasulullah mewasiatkan para wanita agar selamat dari neraka, Rasulullah suruh mereka bersedekah. Kata Rasul sahu alaihi wasallam dalam salat Id ketika khotbah Id, ya masyarisa tasadaqna fainnakunna akar jahannam. Wahai wanita sekalian, bersedekahlah karena kalian banyak penghuni neraka jahanam. Tib Rasulullah mengatakan kalian banyak penghuni neraka jahanam supaya selamat Rasulullah suruh apa? Bersedekah. Akhirnya sebagian wanita melemparkan antingnya, gelangnya, kalungnya, ee cincinnya ingin selamat dari neraka jahanam. Rasulullah tadi mengatakan, "Ittaqinar walau bq tam." Selamatkanlah dirimu dari neraka meskipun dengan bersedekah sepenggal kurma. Berarti sedekah punya efek luar biasa menyelamatkan dari neraka jahanam. Rasul sahu alaih wasallam bersabdaqirfi sedekah yang dilakukan diam-diam akan meredamkan kemurkaan Allah subhanahu wa taala. Dia punya efek juga paling cepat masuk surga. Makanya ketika Allah menyebut tentang orang akan meninggal dunia, mereka berangan-angan di antara angan yang bersedekah. Wahai orang beriman, janganlah harta kalian buat kalian lalai. Anak-anak kalian sibuk ngurus anak buat kalian lalai. ngurus anak dan ngurus uminya sama membuat kalian lalai dari mengingat Allah. Wama yaf'alika faulaikumul khasirun. Siapa yang melakukan demikian lalai dari berzikir kepada Allah gara-gara urus anak, urus harta, urus istri, urus keluarga. Dan itu memang banyak urusan. Urus harta urusannya banyak enggak? Banyak. Istri urusannya banyak enggak? Banyak. Anak-anak urusannya banyak enggak? Banyak. Silakan ngurus. Itu pahala. Tapi jangan sampai lalai. Jangan sampai lalai. Ya faulair merekalah orang yang merugi saking ngurusin dunia kemudian lupa untuk ingat Allah akhirnya itu orang yang benar-benar merugi. Berinfaklah dari sebagian yang kami rezekikan kepada kalian yang kami berikan sedikit tidak semua. Ya minqati ahadakumul maut sebelum kematian menjemput salah seorang dari kalian sebelum kalian didatangi oleh ajal. Fqubi laula. Sehingga ketika datang ajal kepadanya, dia berkata, "Ya Rabbku, bisakah kau tunda kematianku barang? Sedikit aja ajalin qarib sebentar 5 menit 10 menit." Buat apa 5 menit, 10 menit? Faasdaqo waakum minaliihin. Agar aku bisa bersedekah. Dia kalau masih dikasih umur 5 menit, 10 menit, dia pengin apa? Sedekah. Kasih hidup 10 menit aja langsung dia buka ATM transfer semuanya sampai nol. Tapi Allah tidak kasih meskipun 1 detik. W yuakhirallahu nafsan. Ja jaa ajaluha. Tidak satu jiwa pun akan ditunda sedetik pun kalau sudah tiba ajalnya. Wallahu khirum bim. Allah mengetahui apa yang kalian lakukan. Maka sedekah ini punya efek luar biasa. Disebutkan di dunia akan mendatangkan kebahagiaan. Di alam barzakh. Maka sedekah akan membela kalau ada yang mengganggu seorang di di alam barzakh datang dalam hadis ya. Kemudian di padang mahsyar akan menjadi naungan ya. Dan dia merupakan sumber pahala yang besar sebab masuk surga Allah Subhanahu wa taala terhalangi dari neraka jahanam. Kemudian Allah berfirman, "Wal kad minal ghaid dan orang-orang yang senantiasa meredam amarah." Ada yang mengatakan algha adalah puncak kemarahan. Al-ghaid adalah puncak kemarahan. Ibarat kazim yang meredam. Artinya seperti air sudah mau meluap kemudian diikat supaya air tersebut tidak meluber. Sudah di puncak tinggal meluber di ditutup. itu namanya kazim menutup dengan yang sudah mau meluber. Jadi kemarin sudah di puncak dan kemarahan ada tiga model ya. Yang pertama di awal kemarahan, yang kedua di tengah kemarahan, yang ketiga di puncak kemarahan. Puncak kemarahan. Kalau bisa ngontrol dirinya di puncak kemarahan maka luar biasa ya. Apalagi kalau kemarahan yang biasa ya. Makanya dalam dalam masalah cerai para ulam bagi. Kalau di awal marah dia jatuhkan cerai, cerainya jatuh. Di puncak kemarahan dia lupa diri, ceranya tidak jatuh. Marah tengah-tengah khilaf di kalangan para ulama. Marah tengah-tengah itu apa? Dia marah, dia masih bisa tahu apa yang dia ngomongkan, tapi dia tidak bisa mikir dampaknya. Dia hilang semua dari kepalanya tentang dampak yang bisa terjadi. Dia tidak pikir panjang, pikirnya pendek sehingga dia akhirnya jatuhkan cerai. Ini khilaf di kalangan para ulama. Cerai jatuh atau tidak. Tapi kalau dia marah terus dia ngerti apa yang konsekuensinya di awal marah semua sepakat jatuh dan semua ulama sepakat kalau dia marah sampai dia enggak tahu apa yang dia ucapkan juga sepakat tidak jatuh yang khilaf di kalama tengah-tengah tib orang yang hebat adalah orang yang meredam amarah dan ini salah satu sebab masuk surga adalah meredam amarah bahkan kata rasul sahu alaihi wasallam man kadidan wahuaqdiri ala yunafidahu daahullahu yaumalqiamah Siapa yang meredam amarah padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan panggil dia pada hari kiamat kelak sampai Allah suruh dia memilih bidadari mana yang dia sukai. Jadi kalau antum mau disuruh milih bidadari pas lagi emosi, jangan emosi. Jadi kalau istri bikin emosi, senyam-senyum aja. Kenapa senyum-senyum, Mas? Kata Nabi, "Siapa yang ber marah disuruh pilih bida bidadari. Nanti marahnya berubah. Kita yang marah jadi istri yang marah. [tertawa] Jadi jangan marah-marah kalau lagi emosi. Tahan diri karena pahalanya besar. Pertama sebab masuk surga kita tidak selalu marah. Makanya kapan kita lagi puncak amarah ini kesempatan kita dapat surga. Memang kita tiap hari marah-marah kan enggak. Tapi kalau kita lagi marah apalagi puncak kemarah ni kesempatan masuk surga. Karena Allah mengatakan wal minal ganti meredam amarahnya ketika di puncak tinggal meledak dia bisa lampiaskan, dia tahan. Surga luar biasa kata Allah Subhanahu wa taala. Yang kedua, walina aninas dan orang-orang yang memaafkan orang lain. Dan ini tingkatan yang lebih tinggi lagi daripada sekedar meredam amarah, memaafkan. Karena kalau meredam amarah belum tentu memaafkan. Tapi sudah dapat pahala. Orang meredam amarah apa pasti dia maafkan? Belum tentu. Cuma dia jengkel dia tahan. Dapat pahala dapat pahala bahkan dijamin surga. Lebih daripada itu dia memaafkan. Padahal dia mampu membalas dia memaafkan. Ini orang hebat bisa memaafkan orang lain. Dan ini ibadah yang sangat sulit. Karena saya katakan ibadah memaafkan itu hanya bisa kita lakukan kalau kita sedang dizalimi. Kalau kita enggak dizalimi, enggak ada ibadah maaf-maafkan. Adapun maaf-maaf lahir batin itu bukan maksud maaf ini kalau lagi lebaran, maaf ya. Maaf lahir batin ini sekedar hanya sapa-sapaan doang. Sapa kita menjadi apa? Maaf lahir batin. Mau salah enggak salah tetap kita ngomong apa? Maaf lahir batin. Tradisi di antara kita yang dimaksud bukan itu yang dimaksud benar-benar orang zalim sama kita terkait dengan harta kita, terkait dengan darah kita, terkait dengan harga diri kita. Karena kezaliman tuh salah satu di antara tiga ini. Kalau bukan kita dizalimi karena kita dipukulin orang atau ditikam orang atau dibun atau dilakukan orang, kalau dibunuh setelah selesai ya. Kalau enggak kita diambil harta kita, ditipu orang, diambil hartanya, dicuri orang, dirampok orang, atau harga diri kita dijatuhkan. Harga diri kita di dijatuhkan. Makanya menakjubkan bagaimana Hasan bin Ali radhiallahu anhu cucu Nabi sallallahu alaihi wasallam ketika dia diracun, dia meninggal karena diracun. Hasan Al-Han bin Ali. Maka Husein datang, "Siapa yang meracuni engkau wahai kakak?" Jadi mau kasih tahu. Dia maafin. Subhanallah. Dia tahu dia bakalan mati tapi dia maafin. Alhus Alhan radhiallahu taala anhu. Jadi kalau kita dizalimi, kesempatan bagi kita untuk masuk surga. Kita enggak enggak pengin dizalimi, pengin hidup nyaman-nyaman. Tapi namanya kezaliman pasti terjadi. Kalau kita dizalimi, dikhianati. Ahlah kita mampu balas tapi gaklah. Ngapain saya balas? Saya buang-buang pahala saya. Kesempatan masuk surga saya buang. Ngapain? Ya sudah maafin aja. Maafin. Tetapi Syekh Utsimin mengatakan memaafkan lihat situasi dan kondisi. Karena Allah berfirman dalam ayat yang lain waman afa wa aslaha faajru alallah. Kata Allahun wahanain. Kata Allah, "Siapa yang maafkan dan berbuat kebaikan?" Maka kita maafkan secara hati maafkan. Tetapi menyikapi orang tersebut kita harus lihat kemaslahatan. Misalnya ada pencuri masuk kita tangkap, "Maafin saya dong, Pak." "Saya maafin tapi harus kamu saya laporkan ke polisi." Saya maafin. Saya enggak marah kok. Saya maafin tapi kau harus masuk sel. Karena kalau kau tidak masuk selal, kau akan ngulangi lagi. Paham? Ada orang muamalah selalu menipu. Kita ditipu berapa kali? Ya, kemudian dia datang minta maaf, ya saya maafkan. Tapi saya akan kasih tahu orang, kau ini penipu. Supaya yang lain tidak terkena. Kita jangan biarin aja. Kita maafin, kita diamin, sembunyikan, akhirnya kena korban. Yang lain maafkan masalah hati. Adapun tindakan kepada dia urusan belakangan. Ya, ada orang datang pegawai kita, ternyata dia merusak ini, merusak anu, merusak perusahaan berulang-ulang sudah tiga kali kita panggil, "Aduh, maafin saya, Bos." "Ya, saya maafin, tapi kamu harus keluar dari perusahaan saya." Kenapa? Kalau kau seperti ini lagi yang berefek bukan saya aja, tapi banyak pegawai lain. Akhirnya penghasilannya jadi berkurang. Jadi, kamu harus saya keluarkan. Bapak maafkan saya maafin kalau gitu jangan keluar. Saya maafkan dan saya keluarkan. Jadi maafkan. tidak harus membiarkan dia lagi. Gak dia harus lihat maslahat mana yang terbaik. Ya, misalnya ti daripada keluarga ya suami istri ternyata suaminya berulang-ulang kemudian dia minta cerai misalnya dari suaminya terus suaminya bilang maafkan. Saya maafkan tapi kita harus pisah. Kalau lanjut terus kau akan bermaksiat dan saya akan bermaksiat. harus bisa sama suami istri istrinya membangkang dan macam-macam. H cerai maafkan maafkan tapi tidak harus lanjut karena semua melihat maslahat dan mudarat. K Syekh Utsimin, justru kalau kita maafkan kita biarkan saja. Ini tidak tidak benar pemaafan yang tidak benar. Karena Allah mengatakan waman afa wa aslaha. Siapa yang memaafkan dan berbuat kebaikan. Aslah itu membuat perbaikan. Jadi maafkan tapi lihat situasi dan kondisi waman afa wa aslaha faajruhu alallah tib. Maka di sini di antara sifat yang mulia walina aninas memaafkan orang lain yang menzalimi kita dan ini sangat berat maka palnya sangat besar maka ganjaran sangat besar surga bahkan dia lebih tinggi daripada waladzi minal ghait bahkan wallahuam dia lebih tinggi daripada berinfak di jalan Allah yaitu dia infak bersedekah dengan memaafkan orang lain. Dia tidak bersedekah dengan harta bersedekah dengan harga dirinya enggak ada masalah saya maafkan. Mau saya dipukul, mau saya diu, saya maafkan. Ini sedekah yang luar biasa. Maka pahalanya sangat luar biasa. Makanya di akhir ayat kata Allah, "Wallahu yuhibbul muhsinin." Dan Allah mencintai orang-orang berbuat ihsan. Ihsan ada dua. Pertama, ihsan terkait dengan Allah, yaitu dia beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah atau seakan-akan dilihat oleh Allah subhanahu wa taala. Dan ini mengkonsekuensikan ikhlas dan semangat. Ciri orang ihsan dia ikhlas dan dia semangat ibadah karena dia tahu dia sedang dilihat oleh Allah. Adapun yang kedua ihsan kepada manusia itu berbuat baik kepada manusia. Berinfak seperti tadi tiga sifat tadi. Berinfak itu namanya berbuat ihsan kepada orang lain. Beradam amarah, berbuat ihsan kepada orang lain. Berbuat baik sama orang lain. Memaafkan, berbuat baik kepada orang orang lain. Membalas kebaik keburukan dengan kebaikan, berarti berbuat baik kepada orangorang lain. Ini namanya ihsan. Seorang berusaha memiliki ihsan. Du
Resume
Requeue
Categories