Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufqihin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarika lahu takiman lya wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh ila ridwan. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Kita lanjutkan ee kali ini kajian kita judulnya tentang ee bahayanya merasa aman dari makar Allah. Bahayanya merasa aman dari mak Allah. Dari makar Allah. Al Imam Thahai berkata, "Wal amnu walasu yangani millatil Islam wasabilul haqqi bainahuma eh liahli sunah." Kata beliau, merasa aman, merasa aman dari makar Allah dan putus asa dari rahmat Allah. Mengeluarkan seorang dari agama Islam itu bahwasanya merasa aman dari makar Allah dan putus asa rahmat Allah bisa mengeluarkan orang dari Islam itu bisa menjadi kekufuran. itu bisa menjadi kekufuran ya bisa jadi kufur sehingga mengeluarkan dari agama Islam. Kemudian wasabilu alaq dan jalan kebenaran bainahuma adalah di antara keduanya yaitu tidak putus asa dan juga tidak merasa aman tapi menggabungkan antara takut dan berharap. Takut dan berharap li ahli sunah adalah bagi ahlusunah wal jamaah. Dan ini sesuai dengan perkataan thahawi sebelumnya. Sebelumnya kita sudah bahas pada pertemuan yang sebelumnya di mana atahawi berkatail muhsin minalinum dan seterusnya w alaihim. Kami berharap kepada orang-orang yang saleh dari kaum mukminin agar Allah mengampuni mereka. Kemudian beliau berkata, "Wa na alaihim." Dan kami tidak merasa aman dari mereka karena tidak ada yang bisa memastikan surga. Tetap saja meskipun saleh kita tidak merasa aman dia pasti masuk surga. kecuali yang setelah dipastikan oleh syariat. Kemudian adapun bagi pendosa wasastagfiru limusiihim waakfu alaihim w nuqnituhum. Dan kita mohon ampun bagi para pendosa dan kita khawatir mereka masuk neraka akan tapi kita tidak membuat mereka putus a putus asa. Ya. Jadi kita tidak menjadikan orang pelaku kebaikan merasa aman pasti masuk surga. Sebaliknya kita juga tidak menjadikan pelaku maksiat berputus asa. Karena dua-duanya adalah dosa. Oleh karena setelah membahas ini kemudian beliau mengingatkan yang kita bahas sekarang bahwasanya di antara dosa besar adalah merasa aman dari ee makar Allah, dari hukuman Allah dan merasa putus asa dari kasih sayang Allah dan pertolongan Allah. Ini di antara dua dosa besar. Oleh karena yang benar adalah kita berada di antara keduanya antara khauf dan raja, antara takut dan berharap. Yang wajib adalah menggabungkan antara raja, berharap dan khauf yaitu takut kepada Allah subhanahu wa taala. Dan alkhauf yang mahmud, takut yang terpuji yaitu yang menghalangi seseorang dari perkara-perkara haram. Ini disebutkan oleh Aliz ee bin Abd ee e Ibnu Abil Is Al Hanafi. Ibnu Abil Is al-Hanafi dalam syarah Thahawiyah beliau berkata, "Alkhaufl mahud takut yang terpuji yaitu yang menghalangi seorang dari perkara-perkara haram. Namun jika berlibihan berlebihan dikhawatirkan jatuh pada al-qunut putus asa. Kalau takutnya berlebihan sehingga akhirnya melampaui batas akhirnya menghilangkan raja. Kalau sudah menghilangkan raja, tidak ada harapan sama sekali, maka jatuh pada putus putus asa. Jadi khaufnya juga enggak boleh berlebihan sehingga membuat terjerumus dalam putus asa. Dan Raja Almahmud berharap yang terpuji. Yaitu ada beberapa bentuk di antaranya seorang yang melakukan melakukan ketaatan berharap berharap pahalanya diterima oleh Allah. Berharap pahala diterima oleh Allah. Yang kedua, jika dia berdosa lalu bertobat berharap ampunannya. Kalau dia beramal saleh berharap pahala dari Allah. Kalau dia berdosa, dia bertobat, dia berharap ampunan dari Allah. Dan kalau terkena musibah dan dia berharap ada jalan keluar, ada jalan keluar. Ini tiga harapan. Nanti insyaallah kita bahas pada pertemuan berikutnya tentang arraja. Adapun bermaksiat tanpa amal lalu berharap, maka ini adalah raja alkadib. itu ee berharap dusta, berharap yang dusta, kadib atau temani hanya angan-angan atau gurur, tertipu ya. Tertipu, terpedaya terus apa? Angan-angan kemudian harapan dusta. Harapan dusta. Dia beramal tidak beramal saleh, maksiat-maksiat aja. Terus dia berharap masuk surga, berharap diampuni tanpa beramal. Ini namanya harapan yang dusta. Tayib. Jadi seorang mukmin berada di antara khauf dan raja. Kita lanjutkan. Adapun dalil-dalil akan hal ini, ini sudah belum. Adapun dalil-dalil, dalil-dalil penggabungan keduanya antara raj dan khauf. Ya, pertama dalil-dalil yang memuji orang yang menggabungkan keduanya, yaitu Allah memuji para salihin yang mereka dalam ibadah mereka menggabungkan antara berharap dan takut. Ya, kalau dia ada dia betap pun besarnya rasa takut kalau ada harapan tidak akan putus asa. Paham? Orang ber takut kepada Allah sebesar apapun takut tapi kalau masih ada harapan maka dia tidak akan putus asa. Betapapun dia berharap kepada Allah kasih sayang Allah tapi dia masih ada takut dia tidak akan merasa aman dari tidak akan merasa aman dari ee hukuman Allah Subhanahu wa taala. Oleh karenanya ibadah yang benar adalah ibadah menggabungkan keduanya antara khauf dan raja. Di antaranya Allah subhanahu wa taala memuji orang-orang yang menggabungkan keduanya. Yang pertama dalam surat azzumar ayat 9 Allah berfirman, "Amman hua qonitun anaili sajida waqimahul akirarjahmabbih." Ataukah orang yang di malam hari kemudian berdiri salat sajidan waqiman. Apakah orang yang di malam hari taat beribadah di tengah malam dalam kondisi sajidan sujud qoiman dalam kondisi berdiri? Itu sedang salat malam. Bagaimana sifatnya? Yahdarul akhirat. Dia takut sama hari akhirat. Takut. Wararju rahmatabbi dan dia berharap rahmat Allah Subhanahu wa taala. Jadi dalam salat malamnya dia menggabungkan keduanya. Allah berfirman, "Qul yastawilladzina y'lamuna walladzina la yalamun." Katakan apakah sama orang berilmu tidak dengan orang tidak berilmu? Ini syarat bahwasanya orang berilmu harusnya beramal saleh. Di antara amal saleh orang berilmu adalah dia salat malam. Dan salat malamnya dia menggabungkan antara takut dan ber berharap. ak dia berharap akhirat dan takut kepada ee takut kepada akhirat dan berharap rahmat Allah. Ini Allah memuji ini dalam surat Azzumar. Yang kedua, Allah memuji orang-orang salat malam. Kata Allah, junubuhum surat Asajad ayat 16 kata Allah, "Dan lambung-lambung mereka jauh dari tempat tidur." Yaitu mereka bangun malam. Yadunbahum mereka berdoa kepada Allah atau yaduna maksudnya mereka beribadah kepada Allah khaufan waa dengan rasa takut dan berharap. Tama ya itu tamak berharap khaufan waa. Jadi mereka berdoa mereka salat dengan menggabungkan dalam diri mereka rasa takut dan rasa ber berharap ya. Rasa takut rasa berharap. Kemudian juga Allah memuji para nabi para rasul. Kata Allah innahum kanu yusariuna fil khairat. Sesungguhnya para rasul mereka bersegera dalam melakukan kebajikan wana khin dan mereka berdoa kepada kami atau beribadah kepada kami raqaban waraba. Ragaban maksudnya berharap ragbah. Rahaban maksudnya takut. Jadi mereka nabi pun tidak pede saya pasti gini gak mereka. Bahkan para nabi orang-orang saleh justru mereka ada rasa takut dan rasa harap ya. Ada rasa takut dan rasa harap. Kemudian juga tentang orang-orang yang diibadahi oleh kaum musyrikin. Jadi kesembahan orang musyrikin tu ada yang menyembah di zaman Nabi orang musyrikin banyak. Ada Ahlul Kitab, ada yang menyembah Nabi Isa, ada yang menyembah Lata, ada yang menyembah Uzza. Ya, di antaranya ada yang menyembah orang-orang saleh seperti eh Lata. Lata itu orang saleh. Kana yalitiq lil hujjaj. Dia dulu waktu masih hidup suka bagi-bagi makanan gratis kepada jemaah haji. Tatkala meninggal dibangunlah berhala kemudian diibadahi. Allah berfirman, "Ada yang menyembah malaikat." Orang musyrikin juga ada yang menyembah malaikat. Sehingga mereka menamakan malaikat dengan bannatullah, putri-putri Allah subhanahu wa taala. Jadi ada yang mereka sembah orang-orang saleh. Di antara yang makhluk-makhluk saleh yang mereka sembah Nabi Isa, Lata, sama para mala malaikat. Maka Allah berfirman, "Ulaikalladzina yaduna." Orang-orang yang mereka sembah itu orang-orang saleh ternyata mereka juga beribadah kepada Allah. Yabbihim wasilah. Mereka mencari kedekatan kepada Allah. Ayyuhum aqrab. Mana di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah? Itu menunjukkan mereka bersaing agar mereka lebih dekat kepada Allah subhanahu wa taala. Waarjuna rahmatahu. Dan juga mereka berharap rahmat Allah. Waakhafuna. Dan mereka takut kepada azab Allah. Sungguh azab Rabbmu pantas untuk ditakuti. Jadi ternyata yang mereka ibadahi ternyata juga beribadah kepada Allah. Kalau gitu ngapain lagi beribadah kepada mereka? Langsung aja ibadah kepada siapa? Allah. Karena yang mereka ibadahi tidak berhak untuk diibadahi karena mereka sendiri sedang beribadah kepada Allah dalam kondisi berharap dan takut. Ini maksud ayat ini. Ini dijadikan dalil oleh Syekh Abdul Wahab rahimahullah bahwasanya sembahan orang musyrikin dahulu ada juga yang hamba-hamba Allah yang saleh seperti para malaikat Lata, Isa yang Allah katakan ulaikalladzina yadun. Orang-orang yang disembah oleh mereka itu ternyata mereka sendiri mencari kedekatan kepada Allah. Waarjuna rahmatahu dan mereka berharap rahmat Allah. Wakhafuna dan mereka takut dengan azab Allah. Di sini digabungkan antara berharap rahmat Allah dan takut dengan azab Allah. Ini orang-orang salihin mereka ternyata menggabungkan antara raja dan khauf. Tib di sini Allah bawakan mereka, Allah sebutkan sifat mereka dalam rangka memuji mereka. Berarti di antara ibadah yang agung adalah beribadah dengan berharap dan takut. Berharap dan takut tidak boleh hanya berharap saja. Kalau berharap saja ya maka akan merasa aman dari makar Allah. Kalau takut saja maka akan putus putus asa. Makanya ee Ibnu Abil Iz Al-Hanafi menyebutkan, "Siapa yang menyembah Allah dengan hanya modal berharap saja tanpa ada rasa takut, maka murjiah." Siapa yang beribadah kepada Allah hanya takut saja tanpa ada rasa berharap, haruri yaitu khawarij. Dan siapa yang mengaku beribadah karena cinta saja tanpa rajak dan tanpa khauf zindiq. Ini dinukil oleh Ibnu Ablis Alhani dalam syarahnya. T dalil pertama. Dalil kedua, dalil yang memerintahkan kita untuk menggabungkan keduanya. Allah berfirman, waduhu khaufan waa inna rahmatallahi qorib minal muhsin. Dalam surat Ala'raf ayat 56 kata Allah, "Beribadahlah kepada Allah atau berdoalah kepada Allah." Karena kalau disebut waduuhu doa bisa maknanya doa berdoa, doaul masalah bisa maknanya doa ibadah yaitu beribadah. Beribadah juga disebut dengan doa. Jadi kalau kita artikan waduhu khaufan waah bisa jadi maknanya mintalah kepada Allah dengan rasa takut dan berharap atau beribadahlah kepada Allah dengan merasa takut dan ber berharap. Di sini Allah perintahkan ketika kita beribadah atau berdoa kepada Allah harus menggabungkan antara khauf dan raja. Khauf dan raja ini dalil yang dalil yang menentukkan untuk menggabungkan keduanya. Kemudian yang ketiga, Allah mengabarkan tentang dirinya bahwasanya dia maha sayang sekaligus azabnya juga sangat pedih. Sehingga ketika Allah kabarkan dia maha penyayang, kita jadi raja. Tapi ketika Allah kabarkan bahwasanya dia azabnya pedih membuat kita jadi kawa khawatir, menjadi takut. Menjadi takut. Allah berfirman dalam surah Al-Hijr. Nabbi ibadi anni analofururah rahim. Wahai Muhammad, kabarkanlah kepada hamba-hambaku. Nabi yaitu naba artinya berita penting. Yaitu kabarkanlah kepada hamba-hambaku dengan berita penting ini. Apa berita penting tersebut? Anni analofurur rahim. Sesungguhnya aku ini adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kalau kita lihat ini aja maka kita akan begitu mudah berharap kepada Allah karena Allah maha pengampun dan juga lagi maha penyayang. Tetapi wa anna adzabi hualzabul alim. Tapi ingatlah azabku adalah azab yang sangat pe pedih. Maka menimbulkan rasa takut. Sini Allah ingatkan silakan berharap tapi juga harus takut kepada Allah. Ya. Kemudian juga dalam ayat yang lain surat Al-An'am 147. Faqul rabbukum du rahmatin wasiah wala yuradduilmil mujriminin. Kata Allah, "Katakanlah rabmu rahmati wasiah. Rabbmu Allah pemilik rahmat yang luas. Tetapi ingat wala yuraddu buhu tidak ada yang bisa menolak hukuman Allah siksaan Allah anil kaumil mujrimin. Kalau ada orang mujrim Allah siksa enggak ada yang bisa bela mereka. Ini menimbulkan rasa raja dan juga takut. Allah kasih hukuman maka enggak ada yang bisa menangkasnya atau gak ada yang bisa menangkisnya, enggak ada yang bisa membela mereka. Kemudian ayat yang lain Allah juga kabarkan, innabaka sariul iqobi wa innahu gofurur rahim. Sesungguhnya Allah siksaannya sangat cepat tetapi dia juga maha pengampun lagi maha penyayang. Ini menimbulkan rasa takut kepada Allah dan juga rasa berharap kepada Allah. Kemudian juga dalam ayat yang lain, inna rabbakau magfirat linasi ala dulihim wa innabakaadidul iqab. Sesungguhnya Rabbmu pemilik ampunan kepada manusia. Meskipun mereka zalim Allah mudah memaafkan mereka. Meskipun mereka zalim Allah bisa ampuni mereka. Tapi ingat wa innaakaadidulqab. Tetapi Allah juga siksaannya sangat keras. Allah siksaannya sangat keras. Ya Allah menyebutkan tentang nikmat surga. Fala taam nafsun ma ukium min quti aun. Kata Allah orang masuk surga tidak tahu apa yang Allah siapkan baginya di surga. Kemudian dalam hadis qudsi Allah mengatakan aku siapkan bagi penghuni di surga nikmat yang mereka tidak lihat tidak pernah mata mereka melihatnya. Wunun samiat dan tidak ada telinga yang pernah mendengarnya. Dan tidak pernah terbitlah mereka. Yaitu nikmat yang luar biasa. Allah mengatakan dalam Alquranun jaun. Satu jiwa pun tidak ada yang tahu apa yang Allah siapkan. Nikmat surga yang buat mereka bahagia karena amal saleh yang mereka kerjakan. Itu tentang nikmat surga di luar daripada khayalan. Ternyata untuk azab neraka juga demikian. Fayaumaidin la yuadzibu adzabahu ahad. Maka pada hari itu tidak ada yang bisa mengazab seperti azabnya Allah. Wiquu ahad. Dan tidak ada yang bisa membelenggu seperti belenggunya Allah. Jadi sebagaimana nikmat surga di luar daripada khayalan, di luar daripada apa namanya yang kita khayalkan, demikian juga siksaan neraka juga di luar daripada yang kita khayalkan. Sama-sama mengerikan. Kalau kita ingat membaca tentang nikmat surga, kita timbul harapan. Kalau kita dengar tentang azab neraka, kita menjadi takut. Inilah itulah makanya ee apa namanya menimbulkan dalam diri kita khauf dan raja. Tib. Dalil yang keempat tentang larangan putus asa. Allah larang putus asa. Kalau orang putus asa berarti harus berharap. Kalau bilang jangan putus asa berarti harus ada apa? Harapan. Kata Allah ya ee qala wam yaqnatu rahmatiun. Kata Ibrahim, "Siapa yang putus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat?" "Tidaklah putus asa dari rahmat Allah kecuali orang yang sesat." Maka dilarang putus asa. Demikian juga perkataan Nabi Yakub, "Wa tayasu miruhillah innahu laasuillahul kafirun." Janganlah kalian merasa putus asa dari pertolongan Allah. Sesungguhnya yang putus asa dari pertolongan Allah hanyalah orang-orang kafir. Ketika Allah melarang untuk putus asa, berarti melazimkan harus berharap. asa. Demikian juga ada larangan merasa aman dari makar Allah. Ya, seperti dalam ahlul qura ayatum bayata wahum naimun. Apakah penduduk suatu negeri merasa aman ketika datang azab Allah di malam hari sementara mereka sedang tidur? Awa ahlul qurumun. Apakah penduduk satu negeri merasa aman? Tiba-tiba datang siksaan Allah di waktu dhha sementara mereka sedang bermain-main tanpa mereka duga. Makallah. Apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Hukuman Allahun. Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi. Allah juga berfirman, wahun. Dalam surat Yusuf, surat Yusuf ayat 107. Lihat juga Quran 12 ayat 107. Kata Allah, "Afaaminu an tatiahum gasyatu minzabillah." Apakah mereka merasa aman? Diturunkan ayat mereka tidak beriman. Terus apakah mereka merasa aman? Akan datang tiba-tiba hukuman dari Allah. Ya, sementara mereka ehumus atau tiba-tiba hari kiamat baktatan tiba-tiba wahum la yasy'urun. Dan mereka dalam kondisi tidak menyadari. Jadi inilah dalil-dalil ketika Allah melarang untuk merasa aman, maka ini melazimkan ada khauf. Melazimkan ada khauf. Jadi lima model dalil yang menjadikan bahwasanya ee seorang menggabungkan antara rasa raja dan khauf. Ya, tadi juga mungkin saya tambahkan yang nomor 6. Allah mengabarkan tentang nikmat surga yang sempurna. Namun Allah juga mengabarkan tentang siksaannya. Makanya kalau kita lihat biasanya kalau Allah sudah cerita tentang penghuni neraka, nanti Allah cerita tentang penghuni surga. Kalau sudah cerita tentang surga, Allah biasanya cerita tentang apa? Neraka. Sehingga seorang antara takut dan berharap. Antara takut dan dan berharap. Ya. Tayib. Kita lanjutkan ya. Sekarang kita bahas dosa besar yang pertama. Alamnu min makrillah. Yaitu merasa aman dari makar Allah. Ya Allah berfirman, fala yau makrallah illalul khirun. Dalam surat Ala'raf tadi, tidak ada yang merasa aman dari hukuman Allah. Makrar maksudnya hukuman Allah ya. Hukuman Allah. Tidak ada yang merasa aman dari hukuman Allah kecuali orang-orang yang merugi. Yang merugi. Baik. Apa yang dimaksud dengan makar? Apa yang dimaksud dengan makar? Makar secara bahasa ali iqa bil khasm min haitu la yasur. Itu mencelakakan musuh tanpa ia duga atau tanpa dia sadari. Itu namanya apa? Makar. Kita sudah sama-sama ngerti kan kita bahasa Indonesia disebut apa? Makar. tipu daya, makar, rencana untuk memberikan keburukan kepada lawan namanya makar itu rencana. Kemudian ada sisi dia tidak sadar, dia tidak sadar ternyata dia terkena hukuman. Ya. Dan makar dua model. Pertama, makar yang tercela. Ya. Makar ada dua. Pertama, makar yang tercela. Yang kedua, makar yang terpuji. Makar yang tercela jika ditempelkan atau ditimpakan kepada orang yang tidak berhak. Orang baik-baik kita bikin makar sama dia. Tentu ini adalah ee kecurangan, ini adalah pengkhianatan. Tentu tidak boleh kita memberi makar kepada orang tidak berhak. Tapi yang kedua, terpuji jika dikenakan orang yang berhak. Dia buat makar, kita balas dengan makar. Makanya datang dalam banyak ayat Allah berbuat makar. Tetapi Allah tidak dinamakan dengan almakir, maha pembuat makar. Kenapa? Karena Allah hanya dipuji sebagai pembuat makar bagi orang yang buat makar. Yaitu Allah balas makar mereka. Karena di antara syarat nama-nama Allah, dia harus terpuji secara sendiri. Seperti alghfur, maha pengampun secara umum terpuji, arrahim. Ya. Tapi kalau al-makir yang membuat makar tidak terpuji, dengarnya tidak terpuji. Mak kita bilang Allah terpuji membuat makar bagi orang yang membuat makar buruk. Maka Allah balas dengan makar a yang lebih hebat dari bermakar makar dia. Seperti juga Allah tidak diberi nama dengan alfa'al. Padahal Allah menyebut tentang dirinya fa'alul lima yurid. Yang maha berbuat apa yang dia kehendaki. Tapi Allah tidak namakan alfa'al. Tidak boleh seorang menamakan anaknya Abdul Fa'al. yaitu zat yang maha aktif. Kenapa? Karena aktivitas ada yang baik, ada yang bu buruk. Maka nama Allah itu di antara syaratnya selain harus dari Al-Qur'an dan sunah, yang kedua secara zatnya memberi makna sempurna. Tidak perlu dikhususkan dengan kondisi tertentu. Dia secara zatnya begitu didengar memberikan makna kesempurnaan. Seperti arrahim maha penyayang. Selesai. Gfur maha pengampun ya maha baik. Sudah dengar langsung itu maknanya terpuji. Tapi kalau maha berbuat enggak. Karena berbuat ada berbuat apa dulu ya? Ya, sama Allah tidak namakan juga almutakallim. Makanya tidak boleh seorang namakanya Abdul Mutakallim. Karena almutakallim bukan nama Allah. Karena berbicara macam-macam apa isi konten bicara tersebut ya. Sehingga tidak dinamakan Allah dengan al-mutakallim. Sama almurid. Allah yang maha berkehendak. Berkehendak juga ee sifat Allah iradah tapi Allah tidak disebut dengan almurid. Karena kehendak juga macam-macam. Nah, demikian juga di antara perbuatan Allah. Allah buat makar. Tetapi Allah tidak disebut dengan al-makir. Karena makar itu tidak selalu baik. Dia hanya baik bagi jika ditimpakan kepada orang yang juga berbuat ma makar. Makanya Allah ketika menyebut dirinya berbuat makar dalam posisi sedang menghadapi para pembuat ma makar. Paham? Paham tidak? Jadi gak boleh kita namakan Allah dengan ma makir karena dia tidak terpuji secara mutlak. Yang nama Allah itu yang terpuji secara mutlak. Alghfur, al-Afu yang maha pengampun, albar yang maha baik, arrahim yang maha sayang, alwas yang maha luas, Almajid yang maha agung. Ya itu itu secara umum secara mutlak dia terpuji. Tapi kalau al-fa'al yang maha berbuat ya berbuat apa dulu? Almutakallim maha berbicara, berbicaraan macam-macam ya. Almurid yang berkenal almakir pembuat makar ya. Ini enggak bisa. Dia hanya terpuji ketika membuat makar kepada yang berbuat makar. Coba kita lihat ayat-ayat Allah. Di sini Allah memuji dirinya seperti firman Allah yang pertama. Wakaru wa makarallah wallahu khairul makirin. Surah Al Imran ayat 54. Kenapa Allah turunkan ayat ini? Wakar makarullahirul makirin. Mereka berbuat makar dan Allah juga bikin makar dan Allah sebaik-baik berbuat makar. Itu makar Allah lebih daripada mereka. Ya, ini Allah cerita tentang orang-orang Yahudi yang kerja sama dengan Romawi yang ingin bunuh Nabi Isa. Mereka bikin makar. Ya Allah mengatakan, "Falam ahasa isa minhumulf qallah." Tatkala Isa, Nabi Isa mengetahui keingkaran Bani Israil yaitu orang Yahudi, maka dia berkata, "Man ansariallah." yaitu mereka kufur menantang. Kata Nabi Isa, "Siapa yang ingin menolongku?" Qwarullah. Kata Hawariun, "Kami penolong Allah, penolong Allah untuk menolong engkau." Ya. Kemudian ternyata mereka bikin makar, mereka kerja sama Romawi dengan Yahudi. Mereka laporkan di mana Nabi Isa alaihi salam kemudian datangi. Mereka pengin tangkap, mereka pengin bunuh. Ternyata Allah bikin makar. Kata Allah, wqtalu wabuhu. Mereka tidak pernah membunuh Isa dan mereka tidak pernah menyalibnya. Walakinbihahum. Tetapi ada orang diserupakan dengan Nabi Isa. Barfaahullahu ilaih. Bahkan Allah angkat Nabi Isa. Kata Allah, wqtuhu yakina. Mereka tidak membunuh Nabi Isa dengan yakin. Mereka bikin makar, Allah makarin mereka sehingga yang mereka tangkap bukan Nabi Isa orang lain. Dan itu di akhirat nanti mereka di dibalas oleh Allah Subhanahu wa taala. Jadi di sini kita lihat bagaimana makar dibalas dengan apa? Makar. Ketika membalas dengan yang lebih hebat maka situ Allah terpuji. Seperti juga wayamkuruna dalam surat al-Anfal wayamkurun yamkurullah wallahu khairul makirin. Mereka buat makar dan Allah juga bikin makar. Allah sebaik-baik pembuat makar. Ini kisah tentang orang-orang orang-orang Quraisy yang ingin nabi Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Waamu bikalladina kafaru liyukrijukaituka yaqtuluka yukrijuk. Untuk mereka rapat dipimpin oleh Abu Jahal mimpin rapat orang-orang Quraisy. Kemudian mereka bikin makar. Apa yang harus mereka lakukan pada Muhammad? Ada yang kasih ide di penjara dibelenggu. Ada yang mengatakan dibunuh. Ada yang mengatakan diusir ya kata Allah wayamun mereka bikin makaramkurullah. Allah juga bikin makar sama mereka. Wallah khairul makirin dan Allah sebaik-baik bikin makar. Akhirnya mereka bulat keputusan harus di ada perwakilan dari berbagai macam suku Quraisy untuk menikah Muhammad sekali tikaman. Kalau satu orang bunuh nanti perang perang suku berjalan terus di antara Quraisy. Ada Quraisy ada Bani Hasyim ada berbagai ee Bani Makhzum. Banyak kabilah-kabilah kecil. Kalau Bani Makhzum aja yang bunuh, akan timbul peperangan saudara antara Bani Hasyim dengan Bani Makhzum. Dan kalau Muhammad terbunuh, bukan cuma orang muslim yang marah. Keluarga Muhammad Bani Hasyim yang kafir pun akan marah. Akhirnya mereka punya ide, jangan satu kabilah yang bunuh. Seluruh kabilah datangkan perwakilan kemudian tikam ramai-ramai. Tikam siapa? Rasulullah ramai-ramai. Itu makar mereka. Ternyata Allah selamatkan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Ini kisahnya panjang dalam kisah hijrah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Mereka bikin makar, tapi Allah juga bikin makar dan makar Allah lebih baik. Kemudian juga kata Allah wakaru makran warna makron wahum la yasyurun. Ini kisah tentang Nabi Saleh. Madin tisu rahtin eh yufsidun fil ardhi wuslihunqamu billahitannahu wa ahlahu tumaqulanna liwalihi ma syahidna. Ee kata kata mereka gini aja, kita bunuh saleh, kita bunuh saleh caranya gimana? Ada seilan orang mereka sepakat kumpul ayo kita bersumpah dengan nama Allah. Kita bikin rencana datang malam-malam kalau saleh lagi salat Isya, kita bunuh dia. Terus kita bunuh keluarganya terus kita besok kita pura-pura enggak tahu. Ma syahidna ahli. Kami kita tidak menyaksikan bagaimana Saleh mati. Kami tidak tahu rencana mereka pengin bunuh Nabi Saleh diam-diam. Ternyata Allah mengatakan wakaru makran. Mereka bikin makar. Waakarna makran. Kami juga punya makar. Wahum la yasyun. Mereka tidak. Akhirnya mereka lagi kumpul di goa. Tahu-tahu datang batu menutup mereka. Mereka mati dulu sebelum kaum Nabi Saleh yang yang lain. Tayib. Jadi secara umum ini semua makar. Perbuatan maksiat ada juga yang Allah sebut dengan makar. Contoh Allah berfirman, "Walladina yamkurunati lahumabunadid wruika hua yabur." Ya. Dan orang-orang yang berbuat makar dosa-dosa bagi mereka azab yang pedih dan makar ee dan makar mereka akan sirna. Ya. Kata Mujahid dan Said bin Zubair dan salaf yang lain, "Siapa yang Allah sebut pembuat makar ini? Perhatikan agar kita hati-hati jangan sampai kita terjerummus dalam makar." Kemudian Allah berbuat makar sama kita. Kata jadi makar bukan cuma yang dilakukan oleh kaum Yahudi, bukan dilakukan juga oleh ee kaum Quraisy, bukan juga kaumnya Nabi Saleh. Enggak. Ini tadi Allah sebut semua makar karena jelas sekali nampak makar ingin bunuh Nabi. Makar ingin bunuh Nabi. Ternyata di antara tafsiran makar walladinaat kata Mujid said bin Jubair, "Humul murun bialihim yakni yamkuruna binas yuhimunaahum fiatillah." Mereka adalah orang-orang yang riak dengan amal mereka. Yaitu mereka berbuat makar kepada manusia. Mereka mengesankan, mereka taat kepada Allah. Ternyata mereka ria. Jadi orang ria menurut mujahid dan sebagian salaf adalah pembuat makar. Pembuat makar. Dan orang yang riak ini akan dibalas makarnya di dunia sebelum di akhirat. Ya, makanya di antara kenapa sebab orang mati suul khatimah dalam hadis kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Inna ahadakum l yaalu biamali ahlil jannah fima yabdulinas wahua min ahlinar." Sungguh salah seorang dari kalian melakukan amal saleh menurut pandangan manusia ternyata dia penghuni neraka. Ya, itu ternyata hatinya enggak beres. Jadi kelihatannya melakukan amal saleh, ternyata hatinya enggak beres. Jadi, dia bikin makar nipu manusia seakan-akan dia orang saleh tapi Allah tahu isi hatinya sehingga akhirnya dia di ujungnya suul khatimah. Kalau enggak dia, kalau kelihatannya juga tidak suul khatimah di akhirat nanti Allah bikin makar sama dia. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Man samma samallahu bih waman yurillahu bih." Siapa yang ketika di dunia sumah atau riya, hari kiamat Allah permalukan. Di antara tafsiran disebut oleh Ibnu Hajar rahimahullah, yaitu ketika dia hadir di hari kiamat, diperlihatkanlah pahala salatnya, pahala sedekahnya. Dia sudah senang, tahu-tahu Allah hancurkan semuanya. Karena selama ini dia menipu manusia, dia mencoba menipu Allah, maka Allah bongkar dia, Allah bikin makar bagi dia pada hari kiamat kel. Ya kata Allahu kamalifanin alai kata Allahina amanah. Kata Allah, "Wahai orang yang beriman, janganlah kalian batalkan pahala sedekah kalian dengan alman, mengungkit-ngungkit wal dan menyakiti hati orang yang kalian bantu." Maka perumpamaan orang yang bersedekah tapi mengungkit-ngungkit dan menyakiti hati orang yang dia bantu seperti orang yang berinfak ri. Kemudian kata Allah, "Famatuhu, infak orang ri itu permusalan seperti apa?" Kamali shofwanin alaihi. Orang yang bersedekah beramal saleh karena ri seperti batu licin di atasnya ada tanah yang subur. Maksudnya apa? Orang kalau lihat tanah subur ini kayaknya ini bagus kalau ditanam-tanaman akan tumbuh. Ternyata tanah subur tersebut di atas batu tidak ada nilainya. Tapi menurut pandangan manusia yang tidak tahu di balik tanah tersebut ada batu licin dianggap ini tanah subur. Kata Allah fasobahuilun farqolda. Tiba-tiba terkena hujan yang keras hancur hilang semua tanah tersebut. Tinggal batu yang licin tidak bisa ditanamin apa-apa. Ibarat pahala mereka yang banyak tiba-tiba han hancur. Jadi orang riya itu pembuat makar. Menipu Allah, menipu menipu manusia. Ya, sama seperti orang-orang munafik pembuat makar. Ya. Yukadiunallah. Innal munafiqina yukadiunallah wahua kadiuhum. Dan Allah akan menipu mereka. Bab ini di antara makna makar. Demikian juga di antara makna makar adalah istihza dan takzib. Pendustaan namanya makar. Allah namakan makar. Seperti Allah berfirman, rahmatan. Ketika kami menimpakan manusia dengan rahmat setelah mereka merasakan penderitaan. Tiba-tiba mereka berbuat makr terhadap ayat kami. Kata sebagian salaf maksudnya istihza wat takzib. Mereka mengejek ayat kami. Mereka mendustakan ayat kami. Qulillahu asrau makro. Ketahuilah bahwasanya Allah lebih cepat makarnya itu lebih cepat pembalasannya. Inna rusulana yaktubuna ma tamkurun. Sesungguhnya para malaikat mencatat apa yang kalian lakukan. Jadi ngejek ayat-ayat juga disebut makar oleh Allah subhanahu wa taala. Mendustakan ayat-ayat disebut juga makar oleh Allah subhanahu wa taala. Ya, demikian juga di antara makna makar adalah menipu orang menyampaikan membungkusi kesesatan ya dengan dalil-dalil perkataan yang dihiasi-ihasi. Kata Ibnu Katsir seperti firman Allah ya eh waqad makaru makrahum waallahi makruhum wainana makruh litazula minul jibal. Kata Ibnu Katsir, wal muradu bil makriuna, yang dimaksud dengan makar yang dilakukan oleh orang musyrikin di sini adalah duauhum ilalati bizrufin minal maqal. Yaitu mereka menyeru kepada kesesatan dengan menghias-hiasinya dengan kata-kata yang indah dengan dalil-dalil dalil apa? dalih-dali ya wal fi'al dengan perkataan perbuatan dihiasi-hiasi. Kama qala taala ikhbaron anumi Nuh. Sebagaimana Allah mengabarkan tentang kaum Nabi Nuh. Kata Allah, "Wamaru makran kubbar." Kaum Nabi Nuh bikin makar yang besar. Jadi, di antara makar kata Allah maksudnya adalah orang menghiasi kesesatan dengan perkataan yang batil. Dihias-hiasi. Dia tahu batil tapi dihiasi. Ini dia sedang berbuat makar. Tahu kesesatan tapi dia makanya ketika bertemu orang-orang yang lemah dengan orang-orang yang bos-bos mereka, bos-bos mereka mengatakan, "Kami gak pernah halangi kalian." Ananuodanakum. Apa kami pernah menghalangi kalian? Tapi kalian memang sendiri yang sesat. Kami enggak pernah menghalangi kalian. Orang-orang yang tertipu berkata, "Bal makrul laili naharurunana." Tapi kalian setiap hari siang malam bikin makar kepada kami, menyuruh kami untuk berbuat syirik. Allah menamakan dakwahnya para pembesar kepada anak buah supaya syirik dengan namanya ma makar. Kenapa? Karena mereka akan menghiasi. Coba kalau kau syirik akan begini, kau akan syirik begini, kalau kau nyembah ini akan begini. Itu namanya makar. Itu namanya makar. karena menutupi kebatilan dengan perkataan yang dihiasi. Secara umum ee inilah makar-makar dan Allah akan balas makar tersebut di dunia maupun di di akhirat. Ini adalah makna makar secara umum ya. Makna makar secara umum. Siapa yang mengajak kepada kesesatan berarti dia telah berbuat makar. Dan kalau Allah kasih makar kepada mereka maksudnya Allah beri hukuman di dunia ataupun di akhirat. Tayib yang kita bahas. Jangan merasa aman dari makar Allah. Yaitu Allah bisa kasih kau hukuman tanpa kau sadari. Allah bisa kasih kau hukuman tanpa kau sadari akibat maksiat yang kau lakukan. Akibat maksiat yang kau lakukan. Tayb. Sekarang apa hukum merasa aman dari makar Allah? Hukum rasa am dari makar Allah bisa kafir bisa juga tidak sampai kafir. Kafir kapan? Jika disertai dengan pendustaan terhadap ancaman-ancaman Allah atau ragu atau merendahkannya. Dia merasa aman. Apa ancaman Allah? Enggak ada itu ancaman Allah ya. Ah ragu Allah cuma ngancam-ngancam doang. Enggak ada enggak ada buktinya. Ini namanya ragu dengan ancaman Allah sehingga dia merasa aman karena dia tidak membenarkan ancaman Allah. Ketika dia merasa aman, dia kafir karena dia mendustakan ayat Allah. Ini contoh pertama. Yang kedua, merasa aman karena ketergantungan hingga syirik. Hingga syirik seperti merasa aman jika dekat dengan Syekh Fulan yang bisa menolak hukuman Allah. Oh, tenang saya dekat sama Syekh fulan. Syekh fulan kalau saya diazab dia bisa hadang azab Allah Subhanahu wa taala. Ini saya sudah ini kalau seperti ini dia kafir karena syiriknya. Bergantung kepada ee bergantung kepada syekh-syekh tertentu yang dia merasa aman. bahwasanya dia yakini syekh tersebut bisa menghadang seperti ada yang mengatakan tidaklah Allah menurunkan azab kecuali Allah minta izin sama si fulan. Ini gimana seperti ini ya kayaknya enggak masuk akal tapi ada yang meyakini demikian ya atau kafir jika tidak ada rasa takut sama sekali pada Allah. Kalau rasa takut hilang sama sekali ini kafir juga dia merasa aman tidak tidak takut sekali sama sekali sama Allah rajnya hilang. Ini bukan orang iman. Kemudian atau merasa aman hingga tidak beramal sama sekali. Tenang, enggak usah beramal. Allah maha pengampun. Aman. Aman. Enggak usah salat masuk surga aman. ya tidak beramal sama sekali juga ka kafir. Jadi kalau sudah kondisi satu dari empat ini maka dia ka kafir ya. Entah karena mendustakan ayat Allah atau karena ada keyakinan kesyirikan atau tidak ada rasa takut sama rasa takut sama sekali atau tidak beramal sama sekali maka ini kondisi kafir. Adapun tidak sampai kafir jika tadi tidak sampai pada derajat yang pertama yaitu masih ada rasa takut kepada Allah namun ini dosa dosa besar. Dia merasa aman meskipun ada rasa takut tapi dia merasa aman. ini bisa jadi dosa dosa besar tapi tidak sampai mengeluarkan dari agama tayib. Kita lanjutkan sebab sebab-sebab merasa aman dari makar Allah. Kenapa orang merasa aman dari makar Allah? Pertama sebabnya banyak. Pertama terlalu sering maksiat sehingga hati hati sudah mati. Karena setiap kita bermaksiat dikasih titik hitam. abdunitat fiqbih nukatun sauda. Setiap maksiat kasih noda hitam. Kalau noda hitam dia sudah hatinya dia ada rasa harap tapi ee dia rasa takut tapi tidak tidak bernilai dibanding rasa amannya. Sehingga dia hatinya sudah mati. Sudah mati mau enggak ada rasa takut dia sudah hati mati. Dia mau bunuh orang, dia mau maksiat, dia mau apa, dia tidak, dia merasa aman. Dia merasa aman. Ini ngeri kalau sudah gini, dia mau apapun, dia mau zina, dia mau mencuri, dia tidak merasa takut sama sekali. Tidak takut kalau Allah kasih mati dia saat itu. Dia enggak ada rasa takut sama sekali karena hatinya sudah mati. Terlalu sering maksiat bikin hati mati. Kemudian yang kedua, sering maksiat tapi tidak juga ditegur oleh Allah. Ini istidraj. Dia maksiat, mencuri aman, tidak ada apa-apa. Itu masih saja sehat-sehat. Dia zina lagi aman, ekonomi juga masih lancar. Zina kedua tertutup, enggak ada yang tahu. Zina ketiga aman-aman saja, tambah duit, tambah banyak. E tinggi keempat tambah happy-happy. Tidak ada. Allah kasih istraj, istidraj. Sehingga ketika dia diistidraj oleh Allah, dia merasa aman. Karena terbukti dia bermaksiat berulang-ulang, tidak ada teguran. Ini juga bisa bikin orang merasa aman dari hukuman Allah Subhanahu wa taala. Ini sering maksiat tapi tidak juga ditegur oleh Allah. Yang ketiga, sudah ditegur oleh Allah tapi begitu natural tegurannya sehingga tidak merasa sama sekali itu teguran, tapi hanya suatu yang biasa dan alami. Suatu biasa dan alami. Makanya ketika Allah binasakan Firaun, Allah mengatakan eunajika. Kata Allah, "Pada hari ini kami selamatkan jasadmu wahai Firaun supaya menjadi peringatan bagi orang-orang setelahmu." Kenapa? Karena banyak manusia lalai dari ayat-ayat Kami. Itu Allah sudah kasih banyak teguran, banyak peringatan gara-gara begini. Jadi, tapi enggak enggak dianggap. Enggak dianggap. Maka betapa banyak orang melakukan maksiat ditegur oleh Allah, dia tidak merasa ini paling berbahaya karena sangat natural. Ya, kita sudah melihatnya kenyataan seperti ada orang misalnya menjatuhkan dusta atas nama orang, nanti 20 tahun kemudian dia dibalas oleh Allah dan dia tidak merasa, dia tidak bilin gara-gara dosaku yang dulu. Karena begitu naturalnya seakan-akan itu maksiat apa? Musibah biasa aja. Musibah biasa biasa saja ya. Tapi tidak merasa. Dia pernah zalim sama orang kemudian Allah balas mungkin tidak langsung. Kalau balas mungkin dia rasa dibalasnya mungkin 6 tahun kemudian, 7 tahun kemudian dan dia tidak sadar. Dia merasa cuma natural saja. Ya, padahal bagi orang yang lihat kondisi dia tahu ini sebab dia pernah lakukan kezaliman 6 tahun lalu, 7 tahun lalu. Ah, ini membuat orang juga merasa aman sehingga Allah sudah tegur tapi dia tidak merasa karena dianggap suatu yang biasa itu kejadian alami. Bukan karena maksiat yang saya lakukan. Sehingga dia tetap merasa aman dari hukuman Allah Subhanahu wa taala. Azan tib azan dulu baru kita lanjut. Tib. Ini tadi di antara sebab merasa aman tadi. Begitu banyak teguran tapi sudah tidak indahkan karena terlalu natural dianggap biasa aja kayaknya bukan gara-gara dosa dia. Jadi dia merasa aman. Dia bilas saya ini ya sebagaimana yang lainnya saya tidak bukan hukuman sehingga dia merasa aman. Yang keempat juga bahaya ujub terhadap amal sendiri ya. Dia merasa mungkin sudah banyak amal saleh, dia sudah merasa melakukan banyak amal merasa aman. Ya. Kita kalau kita lihat para salihin tidak demikian ya. Ya, seperti Allah menyebutkan tentang wallina dan orang-orang yang melakukan ibadah apa yang mereka lakukan sementara hati mereka takut bahwasanya mereka akan dikembalikan kepada Allah. Oleh karenanya karena mereka takut mereka cepat dalam melakukan kebajikan itu setelah mereka berinfak, salat malam, sedekah, puasa mereka tidak ujub. Karena sudah ujub aman. Saya sudah bangun masjid besar kok, saya sudah ini kok, saya sudah apa merasa aman. Merasa aman. Saya sudah haji sekian kali, saya sudah dakwah, saya sudah. Ketika dia ujub, dia merasa aman ya. Dia merasa aman ini bahaya. Atau karena ujub karena merasa aman dengan nasabnya ini juga bahaya. Dia mungkin nasab kepada seseorang salihin, ya saya keturunan siapa? Atau saya nasab kepada nabi misalnya. Sebagian mereka ya tidak semua tertentu banyak yang saleh di antara mereka. Tapi sebagian mereka ada yang berlebihan sampai ada yang mengatakan ee saya disampaikan ya kalau orang nasabnya baik ya ibarat nasab emas. Emas kalau diletakkan di comberan tetap saja jadi emas. Jadi kau maksiat sebagaimana banyak pun tetap saja kau emas. Emas tetap emas. Bayangkan ini kan bahaya seperti ini. Seperti ada juga yang apa menyampaikan ya seperti bukankah kalian tiap salat berdoa buat zurat rasul? ada kalian satu dunia doain kita katanya sebagian mereka ya jadi aman didoain sama masa doain sejuta-juta orang miliaran manusia kemudian eib apakah Nabi mengajarkan demikian kepada anak-anaknya kepada cucu-cucunya merasa aman gak gak jadi kadang-kadang karena merasa keturunan itu Nabi tidak pernah mengajarkan Nabi mengatakan man bihi amalu lam yus bihiasab siapa yang amalnya lambat Tidak menjadikan nasabnya, tidak menjadikan dia cepat. Yaitu yang pertama Allah lihat bukan nasab. Yang Allah lihat apa? Amal. Ya. Yang Allah lihat amal. Seorang merasa aman, nyaman, tenang aja. Ya, tenang tenang saja. Pokoknya kalau keturunan ini pasti begini. Ini enggak enggak boleh seperti itu. Ini buat merasa aman dari dari makrullah. Ya, Lagi tadi. Tenang, kalau emas masukin comberan tetap apa? Tetap emas comberan [tertawa] Tayib. Tentu banyak di antara mereka yang baik, yang saleh ini ada orang-orang bahlul di antara mereka. Tib di antaranya misalnya karena kebodohan hanya melihat pada nas-nas yang menunjukkan pada raja. Melihat nas raja pokoknya bertauhid masuk surga. Wain zana wain sarq meskipun mencuri berzina masuk surga. Jadi dia cuma lihat hadis-hadis seperti ini. Tenang aja pezina kasih minum anjing masuk surga aman. Tinggal cari anjing. Kalau enggak ada anjing kasih kucing. Jadi cuma lihat dal-dal seperti ini, lupa dalil-dalil yang lain. Bahwasanya ada orang diazab gara-gara gibah. Orang diazab gara-gara riba, diazab gara-gara banyak. Iya. Gara-gara nyiksa kucing. Banyak dosa-dosa kecil buat orang di sebab diazab. Tapi kalau hanya lihat dalil-dalil yang memberikan harapan sehingga dia merasa aman. Ya, saya pernah ditanya gitu, "Ustaz, kenapa waktu berceramah di Makkah saya bahas tentang masalah ee zina, hukumnya rajam? Ada yang tanya, "Ustaz, kenapa nakut-nakutin? Ustaz, ada pezina kasih minum anjing selamat." Iya, maksudnya [tertawa] bukan begitu juga kali. Maksudnya dia tanya ada dalil pezina kasih minum anjing selamat sama surga. Kok aduh bahaya kalau lihat gini mau zina mau apa yang penting cari anjing. Habis zina cari anjing. Ini lihat kalau lihat hadis seperti ini aja jadi merasa aman. Tib di antaranya terpedaya dengan janji manis dari tokoh-tokoh sesat. Tenang kalau ikut kami pasti masuk surga. Tenang. Nah ini seperti tokoh-tokoh gitu. Saya perah dengar ceramah seorang kelompok kita pasti masuk surga. Dia bilang gitu. Nah itu kan mengerikan seperti itu. Saya pernah dengar ceramah seperti itu. Orang sudah tobat alhamdulillah. Waktu dia belum tobat dia ngomong gitu. Kalau ikut kelompok kita pasti masuk surga. Uh, ngeri kali. Berani dia aja belum teman surga. Karang dia tobat, alhamdulillah, subhanallah. Sekarang dia enggak berani jamin-jamin orang. Atau tenang aja, kalau masuk kelompok kita pasti masuk surga. Kelompok lain masuk surga pun gara-gara kita. Wah, ini ngeri juga [tertawa] ini. Jadi orang merasa aman begitu pasti merasa aman. Atau pokoknya kalau atau ada yang kiai sesat, tenang saya nanti pasang kemah neraka. Pokoknya yang masuk kemah saya enggak jadi masuk neraka. Wih, masyaallah. Kemah terbuat dari apa? Udah kebakar dulu kemahmu. Ya, jadi ada yang menjamin. Misalnya tadi, "Tenang, Kas masuk surga. Kalau saya masuk surga semua murid saya masuk dulu. Saya paling terakhir." Ya, orang semua kan pengin ngaji sama dia. Saya murid antum, Pak Kiai, Pak Ustaz. Oh, tenang saya kalau surga semua murid saya masuk rusur. Saya terakhir. Tenang aja. Wih, jadi orang kan jadi apa? pengin sudah memperbudak dirinya pada kiai tersebut. Kiainya jamin nanti saya terakhir. Gitu semua sudah masuk k masuk pintu ditutup enggak bisa. Subhanallah. Gimana dia jamin? Dia saja belum tentu masuk surga. Ada orang ada yang ngomong kayak gitu. Jadi orang ada yang foto sama dia, tenang foto masuk surga. Ah seperti jaminan-jaminan beginilah yang buat orang merasa apa? Aman. atau mencari rida rida si ustaz tertentu. Dia mau maksiat, dia mau jingkrak-jengkra, dia mau nyanyi-nyanyi, dia mau ini. Yang penting bawa amplop kasih kiai ke si ustaz. Ustaznya sudah cium tangan, selesai. Jadi mana seperti ini? Akhirnya merasa a aman. Yang penting ada tenang sama si ini sama si ini. Tenang ya. Siapa mau dapat syafaat sama saya, saya kasih syafaat. Masyaallah. macam-macam sama saya enggak ada syafaat. Jadi kalau ada kayak begini repot ya, repot sehingga merasa aman. Ini terjadi orang merasa aman dengan janji-janji seperti ini. Tenang nanti saya bawa kamu saya gandeng bawa ke surga. Subhanallah. Engkau saja belum tentu masuk surga. Gimana gandeng orang bawa ke sur ke surga? Ya, oleh karenanya hati-hati ada kayak gini-gini buat orang merasa aman. Tib. Sekarang kita bagaimana agar kita tidak merasa aman dari makar Allah? Banyak hal membuat kita merenungkan agar kita tidak merasa aman. Di antaranya belum tentu amal kita diterima. Kenapa? Nabi Ibrahim saja berdoa, "Rabbana taqobbal minna innaka ant samiul alim wata alaina." Lihat Nabi Ibrahim Alaih Salam. Nabi Ibrahim alaihi salam berdoa, "Rabbana taqobbal minna innaka." Dia bangun Ka'bah kemudian dia merasa tidak merasa aman. Lihat tadi Quran surah 2 ayat 127. Nabi Ibrahim, Nabi Ismail bangun Ka'bah. Bukan bangun Masjid Asunah. Ka'bah masjid paling top sedunia. Ya, jemaahnya sampai jutaan. Bangun dengan kerja keras, pergi ke lembah belah batu, pikul batu. Berat kerjaan. Itu pun dia masih bilang, "Taqobbal minna." Nabi Ibrahim aja masih takut tidak diterima amalnya. Ini orang-orang PD. Kalau kita tidak tahu amal kita diterima, kita jangan merasa aman. Merasa aman. Tadi yang sudah sebutkan juga ciri-ciri penghuni surga dalam surah almukminun. Ulaika filhairat yaitu surah 23 dari ayat 90 sampai 61. 60 sampai 61 tidak. Tayib. Kemudian juga kita tidak merasa aman. Kita khawatir hati kita tidak peka lagi. Mati karena suka maksiat. Hati tidak peka. Kalau sudah sering maksiat hati menjadi hitam sedikit-sedikit. Tidak peka. Rasa takut mulai hilang, mulai terbiasa maksiat. Rasa takut mulai hilang. Kalaupun kita tidak merasa aman secara total, tapi rasa takut kita mulai berkurang sehingga merasa aman lebih besar karena kita suka maksiat. Kenapa rasa takut kita berkurang? Ya, mengurangi rasa takut karena maksiat. Bab. Kemudian bukankah dalam hadis banyak contoh-contoh gara-gara satu maksiat bikin masuk neraka? Banyak. Seperti e hadis yang banyak sekali gibah. Rasulullah bertemu dengan orang. Kenapa orang ini disiksa nyakar-nyakar? Karena gibah. Kita sering gibah. Ya, Imam Ahmad ketika ditanya, "Bak orang, apakah kau menganjurkan orang menikah pada zaman-zaman seperti ini?" Kata Imam Ahmad, seandainya seorang punya istri dua agar menjaga dirinya, kata Imam Ahmad, jangan sampai dia melihat pandang yang haram maka akan menggugurkan amalnya. Imam Ahmad sampai pandangan haram aja dia khawatir bisa mengukurkan apa? Amal. Maksud saya mereka merasa ya karena maksiat itu satu bisa bikin bahaya ya. Orang gara gara-gara menzalimi kucing masuk neraka apalagi zalimi manusia. Dikatakan inna fulanah tusolil watasumun nahar. Si fulanah ibu ini suka salat malam suka puasa sunah suka bersedekah tasadaq. Wafi lisani tapi dia ada lisannya suka ganggu tetangganya. Kata Rasul fiha tidak ada hiya finar dia di neraka. Gak ada kebaikan untuk seperti ini karena suka ganggu tetangganya. Padahal dia rajin salat padahal dia apa? Rajin sedekah rajin pu puasa. Ternyata gara-gara zalim berentangannya masuk neraka. Maksudnya ada dalil-dalil menunjukkan satu maksiat bikin orang masuk neraka membuat kita takut. Rasulullah mengatakan yamsani ada seorang berjalan pakai dua jubah dia ujub dengan jubahnya. Tiba-tiba Allah benamkan di atas muka bumi gara-gara dia sombong dengan apa? bajunya. Ya, bisa orang sombong dengan bajunya, sombong dengan ee rumahnya, sombong dengan mobilnya, sombong dengan mogenya, bisa saja orang kita enggak tahu. Oleh karenanya kalau satu maksiat terkadang bisa menjerumuskan orang, maka orang takut kepada Allah, tidak merasa aman. Kemudian buat kita tidak merasa aman, kita enggak tahu bagaimana akhir hayat kita. Ini gak tahu. Terus merasa aman. Kemudian juga satu maksiat bisa merubah seseorang. Satu maksiat gara-gara kau tahu ini sudah salah tapi hawa nafsumu ini bisa berefek pada masa depanku bisa menjadikan sebab kau bisa berubah total. Kata Allah, "Kami balikkan hati mereka dan mata mereka sebagaimana mereka tidak beriman di awal kali." Dan ini bahaya sekali. Ada kebenaran depan mata. Kita tahu itu benar tapi kita sombong, kita angkuh. Dan ini sombong paling berbaik sombong kepada Allah. Makanya ketika Rasul Sallahu Alaihi Wasallam dijelaskan, ditanya tentang sombong kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Walakin alkibr ya batarul haqamtunas." Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Jadi dua tingkat. Kenapa Rasulullah menyebutkan menolak kebenaran lebih dulu? Karena sombong kepada Allah. Allah sudah ini dia tahu benar tapi dia nolak sombong. Yang kedua baru sombong di atas manusia. Mana lebih bahaya? Sombong atas Allah atau sombong manusia? K Allah. Dia tahu ini sudah haram tapi dia menentang. Dia tahu itu haram. searnya dia enggak tahu. Okelah dengan ijtihad dia dia mengatakan tapi dia sudah tahu tapi dia berusaha menakwilah ini seperti ini bisa membuat efek akhirnya dia semakin sesat gara-gara satu masalah gara-gara dia pernah sombong kepada Allah Subhanahu wa taala dan kita lihat terjadi sebagian contoh ketika mulai angkuh mulai menolak dalil akhirnya terus terus enggak tahu ujungnya bagaimana oleh karenanya banyak hal yang buat kita jangan pernah merasa aman dari ee dari hukuman Allah. Betapa pun banyak ibadah kita, betapa banyak puasa sedekah kita saman. Kita enggak tahu bagaimana nasib kita, enggak tahu dimit atau tidak, kita ikhlas atau tidak. Wallahu taala alam bawab. Bab demikian saja. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.