Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi al ihsani wasukr ala taufiani asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim wa asadu anna muhammadan abduhuasul ridwumma shli alaihi waa alihi wa ashabihi wa ikhwani. Para hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Kita masih dalam Kitabul Adab dalam rangka untuk perbaiki adab-adab kita agar lebih baik sehingga kita bisa berakhlak mulia, berhias dengan akhlak yang indah dan mensucikan diri dari akhlak yang buruk. Kita sampai pada bab ke-58. Bab ya ayyuhalladina amanuibu minna baasu. Wahai orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari persangkaan. Sesungguhnya sebagian persangka itah dosa dan janganlah kalian tajasus yaitu cari-cari kesalahan. Ya. Ee kemudian al Imam Albukhari membawakan bab eh dalilnya. Beliau berkata rahimahullah q hadana Abdullah bin Yusuf q akbana Malik Abi Zinadil an abi huruh anhu rasul wasam ium had. Waspadalah kalian dari persangkaan. Sesungguhnya persangkaanahburuk-buruk dusta. Wala tahasasu wala tajassasu. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan dengan mendengar, dengar-dengar berita atau dengan melihat-lihat. W tanajasu dan jangan saling melakukan najis. W tahasadu dan jangan saling hasad. W tabagu dan jangan saling membenci. W tadabaru, jangan saling membelakangi. Waunu ibadallahi ikhwana. Dan jadilah kalian saling bersaudara. Hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Maka ayat ini ee bab ini menjelaskan tentang kembali penekanan tentang ee prasangka bahwasanya ee Allah menyuruh kita menjauhi kebanyakan prasangka karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan kalau sudah berprasangka jangan diikuti dengan tajassus wala tajassasu. Karena biasanya tajus itu dibangun di atas prasangka. Setelah berprasangka buruk dulu baru kemudian mencari-cari tahu. Kalau tidak ada prasangka tentu tidak perlu mencari tahu biasanya. Oleh karenanya setelah larangan dari suudon Allah bilang wala tajassasu. Jangan tajassus yaitu dengan melihat-lihat cari-cari tahu. Ya. Ee dan penafsiran ayat ini didukung dengan hadis Nabi yang dibawakan oleh Imam Bukhari sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Iyakum wadonna waspadalah kalian dari persangkaan." Ya, kenapa? Karena persangkaan adalah perkataan yang paling dusta. Sudah kita jelaskan di antara tafsirnya kenapa dikatakan berpersangkaan adalah seburuk-buruk dusta. Bahkan dia lebih lebih buruk daripada dusta yang sesungguhnya. Kenapa? Karena ketika orang berdusta dia tahu dia berdusta. Tetapi ketika dia berprasangka padahal prasangkanya salah dia menyangka bahwasanya prasangkanya benar. Sehingga persangkaan itu lebih dusta daripada dusta yang ee nyata. Ya, kalau boleh kita katakan prasangka itu dusta kuadrat ya, karena dia sudah salah dan dia menyangka dia benar. Makanya beda dengan orang yang sengaja berdusta. Dia tahu dia sedang dusta. Ya, oleh karenanya dia membenarkan prasangkanya tersebut padahal tanpa ada dalil, tanpa ada qarinah, tanpa ada indikator, setelah itu dia melanjutkan, dia bertahasus mencari-cari tahu. Makanya setelah Rasulullah mengatakan faon akabul hadis, sesungguhnya prasangkaan adalah eh pembicaraan yang paling dusta. Rasulullah mengatakan, "Wala tahasasu wala tajassasu." Tentu sudah kita bahas sebelumnya tahasus dengan tajassus. Di antaranya tahasus adalah mencari-cari kabar dengan mendengar-dengar berita. Tajasus dengan melihat dengan melihat ee melihat-lihat ya dengan kalau zaman sekarang dengan mengklik mengklik ya melihat-lihat di internet. Kalau tahasus ya itu dengan bertanya-tanya. Setelah itu ee larangan-larangan yang lain wala tanajasu. Jangan saling berbuat najas. Najas ee adalah ee sengaja me apa namanya? menambah harga padahal tidak ingin membeli hanya untuk menjerumuskan orang lain. Misalnya seorang penjual kerja sama dengan temannya. Kemudian ketika ada pembeli datang menawar tentang harga barang jualannya, maka temannya ini pura-pura, "Oh, ini barang bagus, cuma saya enggak punya uang." misalnya ini barang harusnya lebih mahal daripada ini. Sehingga dia seakan-akan menambah ee nilai dari barang tersebut sehingga menjebak pembeli tadi ingin beli padahal dia tidak ingin beli yang ya yang yang temannya ini hanya sekedar bersandiwara sehingga mengesankan barang tersebut barang yang mahal. Ini namanya najas dari isarah. yaitu membuat orang terprovokasi untuk membeli dengan dia pura-pura seakan-akan barang ini mah mahal berharga harganya lebih daripada yang seharusnya saya pengin beli tapi saya enggak punya uang atau dia nawar dia sengaja nawar dengan harga yang lebih tinggi. Bagaimana kalau segini? Ee sehingga orang yang melihat tertarik terprovokasi untuk membeli. Ini namanya menipu saudara. Dia kerja sama dengan penjual dan najas zaman sekarang seperti ee misalnya apa namanya? iklan-iklan ee kemudian apa namanya ee apa istilahnya Rafi kalau menjelaskan barang ini bagus apa namanya ada istilahnya itu ee dia kasih testimoni testimoni testimoni palsu misalnya dia bilang, "Oh, ini barang bagus, barang bagus." Padahal dia enggak pernah pakai dia. Ini barang enak, padahal dia enggak pernah makan. ya sehingga ya dia dapat duit dari testimoni tersebut ya ini contoh najas sehingga membuat orang lain terprovokasi untuk mem membeli. Maka seorang kalau testimoni yang jujur gak boleh bohong ya karena bisa menipu. Setelah itu wala tahasadu dan jangan saling hasad. Sudah kita bahas pada sebelumnya. Wala tabaghadu dan jangan saling membenci. Kata para ulama, di antara sebab ee apa namanya? Tahasadu dan tabagadu, saling saling saling hasad, saling benci, di biasanya dibangun di atas buruk sangka. Di atas buruk sangka sehingga adanya hasad, adanya benci, saling benci. Wala tadabaru. Dan jangan saling boikot, saling balik belakang. Ya. Waunu ibadallahi ikhwana. Jadilah kalian saling bersaudara. Al Imam Ibnu Hajar menyebutkan ada riwayat yang lain di antaranya wala eh w yabi ba'dukum alaii akihi. Jangan seorang menjual di atas jualan saudaranya. Demikian juga eh Ibnu Hajar menyebutkan akhi ya janganlah seorang wajulu wajulu ada khitbati akhi. Janganlah seorang melamar wanita yang sudah dilamar oleh saudaranya. Hatta yangkiha au yatruk sampai dia menikah saudaranya atau dia tinggalkan wanita tersebut. Ya. Ya. Maka jangan karena hal ini menimbulkan permusuhan. Ya. Maka tidak boleh seorang melamar di atas lamaran saudaranya. Demikian juga dalam riwayat yang lain, Ibnu Hajar juga menyebutkan ee wala tanafasu dan janganlah kalian saling bersaingan dalam urusan dunia. Ya, seperti sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam eh akikum. Aku tidak khawatir kemiskinan menimpa kalian, tapi khawatir dibukakan dunia bagi kalian, maka kalian saling berlomba-lomba. Maka seorang jangan berlomba-lomba urusan dunia karena lomba-lomba tadi menimbulkan permusuhan. Yang satu ee mobilnya mewah, dia beli lagi mobil lebih mewah dan temannya lihat, "Wah, ini saingin saya." Dia tambah lagi. Dan saling ee lomba-lomba ini menimbulkan ee kebencian dan menghilangkan nilai persaudaraan. Hai, Muna. Muna kedengaran Mun. Masukin kamar aja, Mon. Hah? Masukin kamar. Afonan e suara anak-anaknya. Ee, oke, kita lanjutkan. Ee, maka ini semua larangan ya yang menimbulkan permusuhan di antara saudara. Di antaranya sebab awalnya karena persangkaan persangkaan buruk, berburuk sangat kepada saudara. Ya, mungkin kalau dia beli sesuatu kita bersangka buruk sehingga kita maunya dia, akhirnya terjadilah permusuhan di antara para saudara. Maka seorang berusaha menghindar dari segala perbuatan yang bisa merusak persaudaraan. Tib. Kemudian lanjutkan bab berikutnya, bab ma yajuzu. Bab ma yajuzu minadzon. Bab tentang persangkaan yang dibolehkan. Persangkaan yang dibolehkan. Ya. Ee Allah berfirman ee kata Allah inna ba'don ism. Sesungguhnya sebagian perkara, sebagian persangkaan adalah dosa. Dosa. Tapi di sini Allah menggunakan kata sebagian. Berarti ada menunjukkan ada persangkaan yang tidak dosa. Berarti ada persangkaan yang tidak dosa. Yang bukan dosa. Para ulama menyebutkan apa saja persangkaan yang bukan dosa? Di antaranya pertama yang timbul timbul dalam hati yang tidak bisa yang tidak bisa dia tolak. Namun manusia lemah hati dia, bukan dia yang mengatur hatinya. Tiba-tiba ada waridat, ada lintasan kemudian menyatakan membuat dia seuzun. Itu orang begitu karena begini, karena begini, karena begini. Maka seperti ini tidak berdosa. Dima. Ini dimaafkan. Caranya bagaimana? Jika ya berusaha ditolak. Talat tidak bercokol dalam dada, tidak terus bercokol tidak melakukan konsekuensinya. Tidak melakukan konsekuensinya. Tidak melakukan konsekuensinya. Iya. Adapun kalau dia sudah berburuk sangka kemudian melakukan konsekuensinya. Konsekuensin seperti apa? Seperti dia melakukan apa? Tahassus tadi. Tahassus kemudian tajassus. Ya, lebih parah lagi konsekuensinya jika dia berhukum. Berhukum di atas menghukumi di atas persangka tersebut. Di atas prasangka tersebut. Betapa banyak orang kemudian menghukumi dia seprasangka tersebut. Padahal masih prasangka kemudian dia bangun hukum di atas prasangka tersebut maka ini adalah dosa. Tapi ya kalau juga timbul kemudian dia lawan, kemudian dia tolak dan dia tidak melakukan konsekuensinya maka dia dimaafkan. Dia dimaafkan. Tib yang kedua di antaranya jika jika ada indikatorindikator indikasi-indikasi yang kuat yang mengharuskan prasangka. Prasangka di antaranya apa? Misalnya contoh kisah Nabi Yaakub Alaih Salam. Nabi Yakub ketika anak-anaknya, kakak-kakaknya Yusuf melaporkan bahwasanya Yusuf dimakan oleh serigala ya, maka serigala makan Yusuf. Kemudian mereka berkata, "Waana win dan kau ayahanda tidak akan percaya sama kami. Meskipun kami sudah jujur. Dan mereka sudah datang malam-malam, mereka menangis, mereka datangkan bukti yaitu baju Yusuf penuh dengan darah." Maka mereka datang terlambat malam-malam. Mereka datang malam-malam. Mereka lapor, ee kami tadi sedang bermain-main. Tahu-tahu Yusuf datang di eh serikala datang makan Yusuf. Kemudian ini bajunya. Kemudian mereka taruh darah palsu di bajunya. Ini semua indikator bahwasanya Yusuf telah mati dimakan serigala. Tapi ayahnya tidak percaya. Ayahnya seuzon sama mereka. Kenapa? Karena ada indikasi kuat yang menunjukkan Yusuf belum mati. Ya, di antaranya ayahnya tahu bahwasanya mereka hasad sama Yusuf. Hasad sama Yusuf sebelumnya. Kemudian ayahnya Yusuf pernah bercerita dalam mimpinya, inni roitu ahada asar kaukaban wasamsalqaritumajidin. Aku bermimpi melihat matahari rembulan 11 bintang sujud kepadaku. Dan mimpi itu menunjukkan Yusuf akan menjadi orang mulia. dan itu belum terjadi. Bagaimana dia meninggal sebelum mimpinya ter di ee terjadi. Dan Nabi Yakub tentu dia ahli takwil mimpi. Maka dia merasa ini tidak benar. Karena Yusuf pernah cerita mimpi demikian-demikian dan itu ee harusnya terjadi, tapi ini kok sudah mati sebelum terjadi. Yang ketiga disebutkan bahwasanya pakaian yang di Yusuf yang dilimurin oleh darah e pakaian tersebut tidak tercabik-cabik. Jadi pakaian tidak tercabik-cabik. Namanya serigala kalau menerkam manusia pastikan dia cabek-cabek bajunya ya. Sehingga ada robek-robeknya dan bekas kuku serigala tentu ada bekasnya. Sehingga ketika Nabi Yakub melihat itu semua, dia merasa ini tidak benar. Ini tidak benar. Maka ketika itu dia berprasangka dan dia mengatakan qala balat lakum anfusukum amro. Tapi kalian telah di di didominasi oleh hawa nafsu kalian. Ya. Kemudian kata dia, "Fobrun jamil. Saya hanya bisa ber bersabar." J percaya Yusuf alaihi salam meninggal meninggal dunia. Ini contoh. Maka seperti ini tidak dosa. Persangkaan sebenarnya tidak seikasi kuat. Dan di antaranya yang ketiga ee ee berukangka kepada bersunggah kepada orang-orang yang orang-orang yang terkenal jahat, terkenal ee tukang maksiat misalnya. Maksiat atau jahat misalnya. Ah, ini yang dibawakan oleh Imam Bukhari dalam ee hadis ini ya. Dalam hadisha ini sesungguhnya kita tahu hukum asal ee hukum asal husnudzan kepada seorang muslim ya. Adapun kalau yang yang saleh, adapun kalau tukang maksiat maka tidak mengapa suudon kepadanya. Saya bacakan dalilnya. Al Imam Albukhari berkata, Q hadana Said bin Ufair Q hadana an Uqil an ibni Shab an Urwah an Aisyah qat dari Aisyah qala Nabi sallallahu alaihi wasallam Aisyah berkata Rasul wasallam bersabda maun fulanan wa fulananifani minaian saya tidak saya tidak meyakini bahwasanya si fulan dan si fulan dua orang ini mengerti tentang agama kita sedikit pun minal munafikin. Lai menafsirkan maksud Nabi dua orang dari kalangan munafikin itu Nabi mengatakan menurut saya dua orang ini tidak ngerti agama kita. Maksudnya dua orang ini munafik menurut saya. Jadi berarti kan Nabi berprasangka buruk kepada dua orang ini. Tapi kata La mungkin dua orang itu orang dua orang munafik. Kemudian juga dalam hadis eh Imam Bukhari berkata, "Qasan Yahya bin Buhair Qan waqala al Nabi wasam yauman aluallahu alaihi wasallam yauman." Kata Aisyah, "Suatu hari Rasul sahu alaihi wasallam menemuiku masuk rumahku dan dia berkata, "Ya Aisyah, wahai Aisyah, maun fulan wa fulanifani minadzi nahnu alaih, menurutku saya tidak menduga si fulan dan si fulan itu mengerti tentang agama yang kita anuti ini, yaitu Nabi sallallahu alaihi wasallam menduga dia adalah orang munafik." Tib. Berarti ee kedua orang ini nampak tanda-tanda kemunafikan ya. ee tanda-tanda kemunafikan. Dan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tidak memastikan dia orang munafik atau bukan. Karena memang ee ada orang-orang munafik yang Rasul sahu alaihi wasallam tidak tahu. Ya Allah berfirman eh wamin ahlil madinati maradu alan nifaq lauhum nahnu nahnu naamuhum. Ya. Ya. Bahwasanya di antara orang munafik ada yang engkau tidak tahu dan kami mengetahuinya. Eh, dalam ayat yang lain juga kata Allah, "La tamamunahumullahu yamuhum." Kalian tidak mengetahuinya sementara Allah mengetahui mereka. Jadi, ada orang munafik yang Nabi tidak tahu sehingga Nabi masih menggunakan persangka. "Menurutku saya menyangka orang ini bukan orang Islam dua orang ini." Yaitu makanya ana fulan wani lafani minian yaitu Rasulullah berkata ee saya menurut ee apa saya menurut saya mereka berdua bukan orang Islam. Menurut saya, mereka berdua bukan orang Islam. Di sini Rasul Sallahu Alaihi Wasallam berprasangka buruk kepada mereka karena mereka adalah orang-orang yang terkenal dengan kemaksiatan mereka. Dengan kemaksiatan mereka. Oleh karenanya jika seorang nampak melakukan keburukan maka boleh disudoni. Ya. Eh kata kata Ibnu Mulaqin suudan jaizun ahl inirq. Berburuk sangka boleh menurut para ulama jika kepada orang yang menampakkan keburukan. Mujanibani ahli salah menjauh dari orang-orang yang saleh. Girir musyahidin shawati fil jamaah. Tidak hadir dalam salat jemah. Orang tidak sir salat jemah ya tanpa ada sebab boleh diburukin sangka. Waqadq Ibnu Umar kata Ibnu Malakin telah berkata Ibnu Umar radhiallahu anhuma faqat shatil isya washi asan. Kami kalau tidak di salat subuh dan salat Isya, kami tidak mendapati si fulan, maka kami buruk sangka kepadanya. Kami buruk sangka. Mungkin dia sakit, mungkin dia orang buruk. Kenapa salat Isya tidak hadir, salat subuh tidak hadir? Ya, jangan-jangan orang munafik ya. Ya. Nah, makanya asqal shawat almunafikin salatul isya wasatul fajar. Salatul isya wasalatul fajar. Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat isya dan salat subuh. Ya, makanya kalau tidak ada orang tidak hadir salat Isya, salat subuh, maka dicurigai oleh para sahabat. Ya. Ee tib dari sini kita tahu bahwasanya ya suudon ya ee berburuk sangka. haram jika dituju kepada jika kepada orang-orang yang zahirnya baik, zahirnya baik. Ya, inilah yang ee dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu wa taala ee me apa namanya? Melarang untuk suudan dan memerintahkan untuk berbaik sangka. Seperti dalam surat Annur ayat 12 ya, 24 ayat 12 saya bacakan. Kata Allah Subhanahu wa taala, ya laula id samumuhu donal mukminuna wal mukminatu bianfusihim khair kata Allah subhanahu wa taala saat kenapa tidak ketika kalian mendengar tentang berita kita tuduhan Aisyah berzina haditatul ifik. Wahai kalian kaum mukminin, kenapa kalau ketika kalian mendengar ya, kenapa orang-orang beriman dan orang-orang wanita beriman, laki-laki beriman tidak berprasangka baik kepada diri mereka sendiri? Kenapa tidak berprasangka baik kepada diri mereka sendiri? Perhatikan sini. Jadi berprasangka buruk kepada orang sama seperti berprasangka buruk pada diri sendiri. Sini ibarat dari Allah seperti itu ya. Seperti wukum ba jangan sampai kalian menggibas sebagian yang lain. Allah berfirman anfusakum, "Jangan kalian bunuh diri kalian." Di antara makna bunuh diri kalian maksudnya kalian bunuh saudara kalian karena kalian bersaudara. Sehingga dianggap membunuh saudara seperti membunuh diri sendiri. Seperti Allah berfirman juga ee dalam tadi w ee apa namanya? E dalam surat Alhujurat kata Allah Subhanahu wa taala eh walmizu anfusakum wabu bilqab walmizu anfusakum. Jangan kalian mencela diri kalian sendiri. Siapa yang mencela diri sendiri? Enggak ada. Tapi maksudnya sesama kaum mukminin jangan saling mencela. Karena suum ini kalau mencela yang lain sama seperti mencela diri sendiri. Kenapa? Karena kaum ini satu kesatuan. Satu kesatuan. Walmusakum wabq. Jangan kalian saling mencela dan jangan sekalian memberi gelar dengan gelar keburukan. Padahal dalam ayatnya secara letterleknya jangan kalian mencela diri kalian dan jangan kalian memberi gelar kepada diri kalian gelar yang buruk. Ya. Jadi seorang mukmin yang mencela mukmin yang seakan-akan mencela dirinya sendiri. Kenapa? Karena kaum adalah satu kesatuan. Sama Allah berfirman anfusakum inallah bikum rahima. Jangan kalian bunuh diri kalian. Di antara makna jangan kalian membunuh sesama mukmin. Karena bunuh seperti bunuh diri sendiri. Sama seperti ini kata Allah. Kenapa kalian tidak berprasangka baik pada diri kalian sendiri? Sehingga kalau kita berperasa buruk sama saudara seperti kita menjatuhkan diri kita sendiri. mungkin harus terlihat satu, harus saling sayang menyayangi. Ya, maka di sini Allah memuji atau menyeru agar berprasangka baik. Jangan seperti yang telah terjadi menduga Aisyah berzina. Maka berburuk sangka haram jika pada orang-orang zahirnya baik, orang-orang mukmin. Tapi dia boleh ya jika pada tadi yang sudah dibaca saya bacakan perkataan Ibnu Malakin jika pada orang-orang yang menampakkan keburukan, menampakkan kejahatan, keburukan ada orang modelnya pegang parang tek aalan ya suudan ini jangan-jangan begal. Jangan malah kita husnuzun. Oh enggak. Ini kawan lewat aja ini dibegal sama orang. Enggak. Kalau kelihatan buruk, maka kita boleh suudon. Boleh suuzon seperti yang terjadi pada hadis ini bahwasanya mereka menampakkan kemunafikan atau maka Nabi pun curiga. Maka Nabi mengatakan menurutku mereka ini orang munafik. Menurutku mereka adalah orang orang munafik. Adapun orang beriman maka kita berusaha untuk berbaik sangka ya dalam perbuatannya, dalam perkataannya, dalam sikapnya. Berbaik sangka. Ya, seperti kata Umar bin Khattab radhiallahu taala anhu, eh, janganlah kau berprasangka buruk menafsirkan perkataan yang keluar dari saudaramu dengan perkataan buruk, dengan penafsiran buruk, sementara kau masih dapatkan penafsiran yang baik. Selama bisa ditafsirkan tafsiran yang baik, tafsirkan yang baik. Dan itu bagi orang beriman. Orang yang jelas-jelas nakal maka tidak perlu kita berbaik sangka kepadanya atau yang indik indikator terlalu kuat mungkin bagaimana berik sangka. Sementara indukator semua mengatakan dia begitu susah ya. Maka ini ee tidak mengapa jika memang mengharuskan berburuk sangka. Tapi hukum asal seorang berbaik sangka. Baik. Kita lanjutkan. ini eh babu sitril mukmin ala nafsihi. Babu sitril mukmin ala nafsihi. Bab berikutnya yaitu bab seorang muslim menutup aibnya sendiri. Kita biasanya dengar ee disunahkan menutup aib orang lain. Seperti dalam hadis man satara musliman satarahullahu fid dunya wal akhirah atau satarahullahu yaumalqiamah. Siapa yang menutup aib seorang mukmin, Allah akan tutup aibnya dunia maupun di akhirat. Sebagaimana kita dianjurkan menutup aib orang lain, kita juga aib kita, kita tutup sendiri. Jangan buka. Apalagi aib diri sendiri. Apalagi aib diri sendiri. Ya. Dan itu berpahala dan itu bermanfaat bagi kita. Ya, saya sebutkan di sini perkataan ee Ibnu Mulaqin tentang keutamaan orang yang menutup aib dirinya sendiri. Ya, ada beberapa manfaat ya, manfaat menutup aib sendiri. Yang pertama adalah kata beliaufa bihi apa ini? Yastadilluhu. Tidak dihina. Tidak dihina oleh orang lain. Karena kalau orang menampakkan aibnya dia jadi ibah ninaan direndahkan. Kalau dia menampakkan orang akan yastadiluhu yastadilunahu merendahkan dia, yastakifunahu meremehkan dia, tidak dihina oleh orang lain dan tidak diremehkan. Ini manfaat pertama ya. Kemudian karena maksiat liannal maasiillu ahlaha. Karena maksiat menjadikan pelakunya hina. Ya. Kemudian yang kedua annahu inamban yujibul hadul fid dunya. Dua, jika jika dosa tersebut [Musik] mengkonsekuensikan atau melazimkan melazimkan adanya hukum had hukum had dan tidak ketahuan maka dia tidak dituntut. tidak dituntut untuk dihukum karena tidak ketahuan. Tarulah dia berzina diam-diam sudah dia tutup. Dia tidak isi sama orang. Kalau ketahuan kan dia di akan dipanggil oleh mahkamah kemudian akan dituntut dituntut untuk dilakukan kepadanya ditegakkannya hukum H. Ya. Kemudian di antara ee yang ketiga, di antara manfaat menutup aib sendiri ee Allah bisa ampuni. Allah bisa ampuni bisa ampuni dosa-dosanya dosa-dosanya tersebut ya. Maka datang hadisnya kullu umati muafan al mujahirin. Semua umatku diberi keselamatan dan dimaafkan kecuali yang menampakkan maksiat. Ya. Kemudian di antaranya keempat, jika dia tidak menutup aibnya, menutup aib dosanya sendiri, seakan-akan dia dia meremehkan meremehkan maksiat. atau dia ngeyel, dia ngeyel sehingga berani nampakkan dia meremehkan. Dia meremehkan maka seorang berusaha menutup aib dirinya sendiri. Tib kita bacakan hadisnya. Imam Bukhari berkata, "Qala hadasana Abdul Aziz bin Abdillah qala hadana Ibrahim bin Sa'ad." Ini an ibni akhi ibni ibni akhi ibni Syihab. An ibni Syihabin an Salim bin Abdillah. Q samu aba hurai yaakul Abu Hurairah berkata rasulah wasam yaqul ras wasallam bersabda umati mua mujahirin setiap seluruh umatku muafan muafan itu asalnya dari alafu atau dari alafiah alafiah keselamatan dan dia satu kata dengan al-afu jadi bisa bisa dimaknakan seluruh umatku selamat atau dimaknakan seluruh umatku dimaafkan atau dimaknakan seluruh umatku dibiarkan tidak dihukum oleh Allah subhanahu wa taala Ya, dari karena alafu bisa maknanya tark. Jadi, al muafan bisa dari alafiah yaitu setiap umatku akan selamat atau dari al-afu setiap umatku akan diampuni. Atau dari alafu bimakna tarq semua umatku akan dibiarkan tidak dihukum. Illal mujahidin kecuali yang menampakkan terang-terangan. J maksiat depan-depan, joget depan-depan, buka aurat, kemudian disooting, kemudian diviralkan. Namanya tidak punya malu. Orang seperti ini tidak dimaafkan. Kenapa? Seakan-akan dia ngeyel, seakan-akan dia menentang Allah. Seakan menentang Allah. Kemudian kata Nabi, "Wa inal mujaharati amalan." Di antara bentuk terang-terangan adalah seorang melakukan amal maksiat di malam hari. Yusbihu waqarahullah. Kemudian di pagi hari Allah telah tutup aibnya. Kemudian dia cerita fqulu ya fulan ya fulan amiltul bari kaza waz. Tadi malam saya melakukan demikian-demikian. Dia cerita ini menunjukkan dia meskipun tidak dia viralkan, tidak dia shoting, tidak dia, tapi dia cerita sama satu orang ngapain dia cerita. Ini salah satu mujaharah meskipun mujaharah kecil-kecilan. Beda kalau dia shooting kemudian dia di konser orang buka aurat macam-macam. Ini namanya terang-terangan. Ini dia hanya buka kepada satu orang tapi sudah termasuk mujaharah. Dia mengatakan, "Ya fulan amiltul barihata waz." Ya, tadi malam saya begini-begini. Waq bata yasturuhu wusbihu yakifuallahi anhu. Padahal semalam Allah telah tutup aibnya, pagi hari dia buka sitar yang Allah berikan kepadanya. Ini repot. Ini namanya di antara bentuk ee terang-terangan sehingga Allah tidak ampuni orang seperti ini. Maka jika seorang melakukan maksiat, dia jangan cerita sama siapapun. Jangan cerita sama siapapun. Sama istrinya tidak dia cerita, sama suaminya tidak dia cerita. Tidak boleh. Karena Allah telah menutup aibnya dan inilah di antara karunia Allah Subhanahu wa taala. Kata Allah, "Wasikumiratan." Allah telah menyempurnakan nikmat bagi kalian yang nampak maupun yang yang zahir maupun yang batin. Sebah menafsirkan yang batin maksudnya Allah tutup aib-aib. Di antara nikmat aib Allah tutup. Sampai seorang salaf ketika ee ditutup aibnya, dia berkata, "Saya tidak tahu mana yang lebih nikmat yang agung. Apakah Allah memberikan aku nikmat ibadah ataukah Allah menutup aib-aibku? Di antara nikmat Allah yang agung adalah ditutupnya aib seseorang. Maka jangan dia ingkari nikmat tersebut dengan bercerita sana sini. Tidak boleh ya. Tidak tidak boleh ya. Tayib. Maka dia hendaknya ee menutup aibnya sendiri. Kemudian hadis kedua al Imam Bukhari berkata, "Musad Abu Awqadah." Ini di antara manfaat kalau menutup aib di hari kiamat kelak. Muhrizar rasul wasam. Ada seorang datang kepada Ibnu Umar. Dia berkata Rasulullah, "Ya wahai Umar, wahai Ibnu Umar, apa hadis yang kau dengar dari Rasulullah tentang najwa?" Karena itu omongan berdua yaitu antara Allah dengan hambanya tanpa ada perantara tidak ada pihak ketiga. Ya. Kemudian ee bagaimana tentang hadis tentang najwa pembicaraan dua pihak tanpa orang ketiga tanpa ada penterjemah. Q. Maka Rasulullah dijelaskan qadnu ahadukumbihi fahu alai. Seorang dekat dengan Rabbnya sampai Allah meletakkan sitarnya kepadanya. Itu tidak ada yang tahu kecuali mereka berdua antara Allah dan dia. Fayakulu. Kemudian Allah bertanya kepada dia, "Amilta kaza?" Bukankah kau telah melakukan demikian-demikian? Fayak naam. Orang lain pada enggak tahu. Cuma mereka berdua, Allah dan sang hamba. Bukankah kau telah melakukan maksiat demikian-demikian? Wquulu naam. Allah bertanya lagi, amil w bukankah kau telah maksiat begini demikian? Fak naam kata dia, "Benar ya Allahuq." Allah kemudian menetapkan bahwasanya kok benar begini, benar begini, begini. Dan dia ngaku semuanya Allah berfirman kepadanya, "Inni satartu alaika fid dunya." Waktu dunia aku tutup dosamu. Gak ada yang tahu. Dan dia tidak cerita. Karena kalau dia cerita berarti dia bongkar sitar tersebut. Apa manfaatnya di akhirat? Maka hari ini aku ampuni engkau. Ini di antara manfaat orang nutup aibnya sendiri bahwasanya dia sangat mungkin diampuni oleh Allah subhanahu wa taala berdasarkan dua hadis yang kita sebutkan. Yang pertama, umatifan mujahirin. Setiap umatku dimaafkan kecuali yang terang-terangan melakukan maksiat. Yang kedua, hadis ini. Kau di dunia aku tutup aibmu. Maka pada hari kiamat Allah lanjutkan ee kenikmatan yang Allah berikan anugerah dengan mengampuninya. Dan ini di antara dalil bahwasanya rahmat Allah mendahului kemurkaannya. Inna rahmati dalam hadis kata Allah Subhanahu wa taala hadis qudsi, "Sungguhnya rahmatku mendahului kemurkaanku." Bagaimana tidak? Kalau Allah murka tentunya Allah akan mengazab kita setiap kita bermaksiat. Tetapi ternyata Allah tidak mengazab. Allah biarkan. Subhanallah. Allah biarkan, Allah biarkan. Kemudian di akhirat Allah ampuni. Luar biasa. Ini hadis sangat menghibur bagi kita ya. Siapa sih di antara kita yang tidak bermaksiat? Semua kita pasti terjumus dalam maksiat, dalam kesendirian ketika tidak sama orang. Namanya syahwat terkadang ee mendominasi ya. ee maka seorang jangan sampai cerita kepada siapapun ya agar dia mendapatkan keutamaan ini. Kean bahwasanya Allah Subhanahu wa taala akan mengampuninya pada hari ee kiamat kelak. Dari sini ee hukum asal bahwasanya rahmat Allah mendahului kemurkaannya. Dan ini juga menunjukkan hukum asal Allah menutup aib seseorang. Hukum asal. Makanya kalau ada seorang aibnya dibuka biasanya bukan kejadian pertama kali. tapi sudah berulang-ulang sehingga Allah akhirnya membongkar aibnya. Hampir jarang orang melakukan suatu kemaksiatan kemudian dibongkar langsung. Karena hukum asal Allah menutup aibnya. Hukum asal ya ketika ketahuan berarti biasanya dia sudah berulang-ulang melakukan ee dosa tersebut. Waliadzubillah. Dan ini ancaman berat bagi orang-orang yang memamerkan dosa-dosanya. Maka di antara yang saya perlu ingatkan kepada kawan-kawan yang berhijrah, kalau hijrah gak perlu cerita aib-aib masa lalu, terutama aib yang buruk ya. Ya, beda kalau misalnya orang mungkin pernah syirik, syirik untuk aib. Terus dia cerita saya dulu begini untuk insyaallah bukan aib yang menghinakan seseorang. Saya pernah syirik, saya pernah menyembah berhala kemudian saya tobat, kemudian seperti sebagian orang misalnya saya dulu pemusik kemudian saya tobat. ini ee insyaallah tidak menimbulkan apa namanya suatu yang dosa yang menghinakan karena orang anggap biasa ya beda kalau bilang saya dulu pendusta ini kan suatu dosa yang menghina dulu saya berzina ini tidak boleh seperti itu. Dulu saya narkoba tidak perlu ya tidak perlu ini karena bisa merendahkan dirinya sendiri ya. Tapi kalau ee makanya Salman al-Farisi ketika dia dulu majusi, Rasulullah suruh cerita kepada sahabat agar menjadi pelajaran bahwasanya dia dulu majusi kemudian dia ee beriman ya. Ya, kalau ada maslahat ya. Oleh karena kalau orang berhijab tidak semua dosa dia ceritakan. Kemudian kalau dia sudah tobat gak perlu dia tampakkan dosanya lagi. Seperti ada sebagian ikhwan, subhanallah sudah bertobat tapi dia pamer-pamerkan tatonya. Jangan tato ditutup itu aib, itu dosa buruk ditutup. Gak usah pamer-pamer apalagi kemudian masih menunjukkan tatonya. Enggak perlu seperti itu. Maka seorang berusaha menutup aibnya karena Allah telah ee menyembunyikan aibnya. Maka tidak perlu dia cerita kepada orang lain agar sempurna ampunan Allah baginya pada hari kiamat kelak. Jadi ingat jangan cuma ee menutupi aib orang. aib diri sendiri lebih utama untuk ditutupi. Ya. Ee yang dimaksud dengan hadis tadi yang Allah tutupi adalah hadis yang tidak kaitannya dengan kezaliman orang. Adapun kalau terkait dengan kezaliman terhadap orang tentu akan ada sidang. Jadi diingatkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari beliau berkata eh anal murad bidzunub fi hadis Ibn Umar ma yakunu bainal mari warabbihi itu dosa antara dia dengan rabnya. Dan hukum asal Allah mengampu dosa-dosa. Tapi kalau dosa antara dia dengan hamba-hamba yang lain, maka ini hukum masalah ada tuntutan. Kata Ibnu Hajar, duna madalimil ibad. Bukan terkait dengan berzalim kepada orang lain. Ya hadis anahahtajual muqasah. Dan dan dalil-dalil menunjukkan bahwasanya kalau berbuat zalim sama orang maka akan ada sidang, ada qisas. Ya, ada qisas. Dan ini dan juga hadis syafaat menunjukkan ada sebagian orang beriman diazab di neraka kemudian dikeluarkan dengan syafaat. Dan ini di hadis banyak seperti ini ya. Eh oleh karenanya Ibnu Hajar berkata majmu ah minalinqamin. Maka hadis-hadis kumpulan hadis-hadis ini ada hadis yang Allah maafkan, ada hadis yang ternyata Allah sidang kemudian masukkan neraka kemudian Allah keluarkan lagi. Bahwasanya pelaku maksiat dari kemudian ada dua model pada hari kiamat. Kalau ahaduhuma man maksiatuhu bainah wainabbihi. Yang pertama orang yang maksiatnya antara ini dengan Allah. Maka hadis Ibnu Umar yang sedang kita bahas ini ya menunjukkan ada dua orang yang maksiat ter dengan Allah ada dua model juga. Yang pertama kismun takunu maksiat masturatan fid dunyaah alaihiqamah wahuq. Adapun yang pertama adalah orang yang maksiatnya antara dengan Allah dia sembunyikan dan Allah tutup aibnya. maka Allah akan ampuni pada hari kiamat kelak. Model kedua, maksiatnya antara dengan Allah. Kemudian dia mujaharatan dia tampakkan dia cerita ya. Maka mafhumnya dia tidak akan diampuni oleh Allah subhanahu wa taala. Kemudian model maksiat yang kedua, alqismutani. Orang-orang yang maksiatnya antara dia dengan hamba yang lain itu kezaliman. Maka ini juga ada dua model. Yang pertama dosa-dosanya lebih banyak daripada kebaikannya. maka mereka ini masuk neraka jahanam kemudian dikeluarkan dengan syafaat. Kemudian model kedua, orang-orang yang ee ee yang kedua yang kebaikannya sama dengan keburukannya, maka ini tidak masuk surga ya sampai terjadi qisas atau sidang di antara mereka ya. Sebagaimana ditunjukkan dalam satu hadis yang lain ya. Tib. Jadi ee apa namanya? Jadi ee dosanya lebih banyak daripada kebaikan, maka dimasukkan neraka kemudian dikeluarkan. J. Kalau kita mau gambarkan ya kata Ibnu Hajar, model manusia di akhirat yang pertama yang dosanya antara dia dengan Allah dan Allah saja. Maka ini juga ada dua model. Yang pertama yang dosanya tertutupi, dosanya dia tutupi, maka ini diampuni. Diampuni oleh Allah. Yang kedua, yang dosanya terbongkar. yang dosanya terbongkar, yang dosanya dia umbar atau dia ceritakan, maka ini tidak diampuni. Yang kedua adalah yang dosanya terkait dengan hak hamba lain, terkait dengan hamba yang lain. Maka ini ee wajib wajib ada qisas. Qisos atau sidang ya. Maka dilihat ya kalau ternyata dosanya dosanya lebih banyak maka konsekuensinya masuk neraka. Kalau tidak dimaafkan masuk neraka. Lalu ujungnya keluar dengan syafaat, ujungnya akan ke surga. Ya. Yang kedua, jika dosanya sama dengan dosanya sama dengan kebaikannya. Maka ini tidak masuk surga. Nanti ujungnya juga masuk surga. Ini disebut mungkin dengan disebut dengan e ashabul aram bab ya. Ya, mungkin ada penjelasan lebih dalam tapi intinya inilah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Bab, mungkin sampai di sini saja ee para hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Ee maka hendaknya kita beradab di antaranya beradab di hadapan Allah. Kita tidak membongkar dosa atau aib kita yang sudah ditutup oleh Allah subhanahu wa taala agar kita selamat di dunia maupun di akhirat. Wallahu taala alam bawab. Wallahu taala alam bab. Demikian saja ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Kurang maaf. Wabillah taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.