Transcript
6SM9EaydeGY • Malu Kepada Allah - Hadist-Hadist Perbaikan Hati #6 - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2615_6SM9EaydeGY.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasahbihi walah. Pada ibu-ibu yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Pada kesempatan kali ini kita akan bahas poin yang sangat penting bagi hati kita semua yaitu bagaimana bisa merasa malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan kita tahu bahwasanya di antara ibadah yang agung adalah ibadah hati, yaitu ee memiliki rasa malu. Dan Rasul Sallahu Alaih Wasallam pernah bersabda, "Alimanu e bitunbun sybah." Iman itu 70 sekian ee cabang. Alaha kalimatu lailahaillallah. Yang paling tinggi kalimat laillah. Waaha imul. Dan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan. Walbatun minal iman. Dan rasa malu adalah bagian daripada ee iman. Dan ee kita tahu rasa malu ya. Rasa malu secara umum kita bisa bagi menjadi dua, yaitu rasa malu kepada Allah. Kepada Allah dan rasa malu kepada makhluk. Malu kepada makhluk. Dan ee dua-duanya dituntut ya. Dua-duanya dituntut. ee yang sering kita bahas biasanya rasa malu kepada makhluk ya. Seperti ee dalam hadis inna mimma adrakas min kalamin nubuatil ula tastahi ma. Ee di antara warisan ilmu yang didapatkan oleh manusia dari nabi-nabi terdahulu adalah jika kau tidak punya rasa malu, lakukan apa yang kau kehendaki. Ini biasanya ditafsirkan terkait dengan rasa malu kepada ee makhluk. Ya, makanya kalau orang tidak punya malu, dia bikin apa saja yang dia suka sukai. Tapi kalau dia punya malu, maka ini sangat ee baik baginya. Karena rasa malu itu fungsinya, fungsinya atau manfaatnya ada dua, yaitu ee memotivasi atau mengantarkan kepada amal kebaikan, kepada amal-amal kebajikan. Kemudian yang kedua adalah mencegah dari ee dari perbuatan-perbuatan buruk atau yang tidak pantas. Dari perbuatan-perbuatan yang tidak pantas. Jadi kalau orang misalnya saya sering sampaikan misalnya seorang e wanita kepada suaminya kalau dia memiliki rasa malu dia pasti melakukan banyak kebajikan. Dia malu misalnya suaminya pulang dia tidak layi. Dia malu suaminya pulang ternyata makan belum siap. Dia malu kalau ternyata suaminya mau kerja mungkin baju belum disetrika. Dia malu jika tidak menyambut suaminya dengan baik. Kalau dia punya dia punya rasa malu akan mengantarkan pada amal-amal kebajikan dan juga akan mencegah dari keburukan. Dia malu kalau misalnya dia ngobrol sama lelaki lain suaminya tahu dia malu. Sehingga ee dia dia malu jika dia membangkang suaminya. Dia malu kalau tidak bersyukur kepada ee suaminya. Sehingga dengan rasa malu itu mengantarkan dia untuk melakukan kebajikan dan mencegah dari perbuatan-perbuatan yang tidak pantas. Dan orang yang paling memiliki rasa malu adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dalam hadis kata ee riwayat kanan Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Ayadda hayaan minal adra fi khidriha." Rasul sahu alaih wasallam adalah orang yang sangat pemalu lebih daripada malunya seorang wanita gadis yang dipingit. Ketua wanita gadis di pinggit dulu ada ruangan khusus di pinggit dia malu. Sangat malu ketemu orang. Nabi demikian Rasulullah sangat pemalu. Waaraian fi waji. Rasulullah kalau benci sesuatu terlihat dari wajahnya itu e merah merona, yaitu Rasulullah tidak suka, tidak segera mengungkapkan k Rasulullah memiliki rasa ee rasa malu ya. Dan ini adalah bagian daripada iman dan secara umum malu kepada orang tua kalau tidak kita berbakti kepadanya. malu kepada tetangga. Tetangga sakit kita cuekin malu ee pada tetangga kita bikin acara tidak kita undang. Ya, rasa malu itu luar biasa ya. Malu kalau kita ee memamerkan privasi kita di apa namanya? Di medsos jadi bahan gunjingan, jadi bahan komentar orang. Malu, malu, malu. Sedikit-sedikit ee jadi bahan pembicaraan orang-orang ya. Rasa malu itu subhanallah sangat baik. Makanya Rasul sahu alaihi wasallam mengatakan, "Alhaya la yati illa bikhair." Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan. Ketika ada seorang menasihati saudaranya supaya jangan malu, Rasulullah tegur. Ada nasihat saudaranya, "Jangan malu, jangan malu." Rasulullah kata Rasulullah, "Da'u biarin dia malu." Kenapa dilarang untuk malu? Fainnal haya yati bikhair. Karena kebaikan ee tidak mendatangkan e la yati illa bikhair. Tidak mendatangkan kecuali kebaikan. Kerasa malu mendatangkan kebaikan. Ya. Tib. Tapi yang kita bahas sekarang, Ibu-ibu yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala, bukan malu ini. Yang kita bahas adalah jenis malu kedua, yaitu rasa yang yang lebih utama, rasa malu kepada Allah. Yang ini sama fungsinya. Fungsinya sama. Mengantar mengantar kepada ketaatan kepada Allah dan mencegah maksiat. mencegah perbuatan-perbuatan maksiat. Kalau orang benar-benar malu kepada Allah, maka dia akan semangat beramal saleh dan dia akan menghindarkan diri pada kemaksiatan. Maka pada kesin kita akan bahas tentang rasa malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Saya akan bawakan hadis yang dibawakan, saya akan bacakan hadis yang dibawakan oleh ee Syekh Abdur Razzaq hafidahullahu taala. Bab. Adapun hadis yang pertama saya bacakan an Abdillah bin Mas'ud radhiallahu anhu. Jadi kita akan bahas apa itu malu kepada Allah dan bagaimana cara menumbuhkan rasa malu kepada Allah dan apa aplikasi ya. Jadi malu kepada Allah caranya bagaimana dan aplikasi keseharian bagaimana. Ya. Dan ini salah satu ibadah luar biasa yang seandainya orang memiliki sifat ini maka dia akan jauh dari kemaksiatan. Dia akan semangat beramal saleh. Hadis pertama an Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu qala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam istahyu minallahi haqqal haya. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam malulah kepada Allah dengan sebenar-benar malu. Qna ya Rasulullah inna nastahyuhamdulillah. Sebagian sahabat mengatakan ya Rasulullah alhamdulillah kami malu ya Rasulullah. Q Rasulullah ingatkan laisak bukan itu yang aku maksudkanakinalya minallahqal tetapi yang dimaksud dengan malu kepada Allah dengan benar-benar malu adalah kau menjaga kepala dengan apa yang dibawa oleh kepala tersebut itu menjaga mata, menjaga telinga, menjaga lisan. Wal bat w hawa dan engkau menjaga perutmu dan apa yang dikandung oleh perut tersebut. Itu di antaranya kata para ulama menjaga kemaluan. Ya, mauta wal bila dan hendaknya engkau mengingat kematian dan bagaimana kau akan hancur lebur ya akan ee apa namanya? Sirna, akan rusak tubuhmu akan rusak. Kemudian yang berikutnya kata Nabi, "Waman aral akirinad dunya." Siapa yang menginginkan akhirat dia pasti meninggalkan perhiasan dunia faalik. Siapa yang melakukan empat perkara ini faqah minallahqal, maka dia telah benar-benar malu kepada Allah. yaitu anah w waa kau menjaga kepalamu dengan isinya wal batana w hawa dan menjaga perut dengan isinya waluril mauta wal bila bil engkau mengingat kematian dan rusaknya tubuhmu, jasadmuan waman aral akhirat dunia siapa yang ingin akhirat maka dia akan tinggal perasan dunia. Siapa yang melakukan empat ini maka dia telah malu kepada Allah dengan sesungguhnya malu. Ini satu hadis pertama nanti akan kita jelaskan ya. Eh kemudian yang kedua w an Abi Waqid Alaihi dari Abu Waqid Aliti radhiallahu anhu. Hadis riwayat Bukhari Rasul wasallam baisun fil masjid maahu suatu hari Rasul wasam sedang duduk di masjid dan orang bersama Nabi. Tiba-tiba datang ada tiga orang. Rasulullah mungkin sedang pengajian tiga orang datang terlambat. Faqbalani rasul wasamba wahid. Maka dua masuk menuju Nabi. Yang satu pergi. Fawaqofa ala rasul sahu alaihi wasallam. Yang kedua, kedua orang itu berdiri di hadapan Rasulullah alaihi wasallam. Faama ahaduhuma. Adapun salah satu dari dua orang yang menuju Rasulullah sahu alaihi wasallam. Yang satu sudah pergi tinggal dua. Dua menuju Nabi. Kemudian mereka berdiri yang satu farjatan fil halaqah filq fajalasa fiha. Maka lihat ada tempat kosong. Maka dia duduk di tempat kosong tersebut ikut hadir di majelis Nabi. Waal aku. Yang satu duduk belakang. Duduk belakang faahiban. Yang ketiga pergi meninggalkan majelis. Falam far rasul was rasul sahu alaihi wasallam setelah selesai pengajian Rasulullah komentar ukirukum maka aku kabarkan kalian tentang tiga orang. Amma ahaduhum faawaha fawahullah. Adapun yang pertama dia menuju kepada naungan Allah. Maka A pun menaunginya. Itu dia malu menuju eh dia menuju ke majelis menuju naungan Allah. Maka Allah pun mengayominya. Wa amal akharu fastahyi fastahyallahu minhu. Yang satu malu dia di belakang maka Allah pun malu. Dia malu kepada Allah dan dia malu maka Allah pun malu kepadanya. Waal akharu faarad faaradallahu anhu. Adapun yang satu maka dia pun berpaling. Maka Allah pun berpaling darinya. N di sini ada sebutan ee bahwasanya dia malu ya malu maka Allah pun malu kepadanya. Dia malu kepada orang ya sehingga Allah pun malu kepadanya ya sehingga dia hanya tidak seperti yang pertama yang kemudian masuk kepada nawungan Allah subhanahu wa taala. Di sini ada ada hadis fastaahyallahu min maka Allah pun malu kepadanya. Said bin Zaid anahu Rasulullah wasallam. Ada ada seorang berkata kepada Nabi berilah wasiat kepadaku. Q Rasulullah berkata usikaah Allah. Aku wasiatkan kepadamu untuk malu kepada Allah. K tastahyi rajulan shihan minika. Sebagaimana kau malu kepada seorang saleh. Kalau kita di depan orang saleh kita malu mau bicara seenaknya. Kita malu untuk makan seenaknya kita malu untuk duduk sembarang di depan dia. Kata Nabi, "Maka malulah kepada Allah sebagaimana kau malu kepada orang saleh dari kaumu." Kemudian juga dari hadis berikutnya dari Bahaz bin Hakim dia berkata, "Hadani Abi an jaddi q ya Rasulullah auratuna ma minha wadar." Yaitu dia bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, aurat kami mana yang kami tutup? Mana kami yang buka?" Ya kata Rasulullah, jagalah auratmu jangan kau buka kecuali kepada istrimu dan kepada budakmu. Yaitu budak yang halal untuk digauliquul ya. Kalau seorang lelaki bersama lelaki yang lain, ahadunal. Kalau bisa seorang tidak melihat e auratmu, maka lakukanlah. Bagaimana kalau seorang sendirian? Qallahu ahaqu yustahya minhu. Allah lebih utama untuk dimalui ya itu masih kalau sendirian jangan ngapain buka aurat kalau enggak ada perlunya. Hadis Abu Daud dan Tirmidzi. Maka di sini dalil-dalil banyak menunjukkan seorang berusaha untuk malu kepada Allah Subhanahu wa taala dan ee Allah Subhanahu wa taala mengetahui apa yang dilakukan oleh semua hamba. Kata Allah, "Alam yamallaha yaro." Bukankah dia tidakkah dia tahu bahwasanya Allah melihat apa yang dia lakukan? Ya, Allah juga berfirman, "Innallaha alaikumiba." Sesungguhnya Allah maha mengawasi kalian. Allah juga berfirman, "Wallahu bima tamaluna bir dan Allah maha melihat apa yang kalian lakukan." Bab setelah itu Syekh Abdur Razak setelah membawakan hadis-hadis tentang malu ee di sini ada nama Allah alhayyi ya. Di antara nama Allah alhayyiyu al hayyiyu alhayyiyu yaitu maha malu maha pemalu. Adapun dalilnya eee di antaranya dalam hadis kata Rasulullah sahu alaihi wasallam, "Innallaha hayyun sittir." Ya inallahir ya yuhibbul haya ya sesungguhnya Allah maha malu dan suka sifat malu dan juga suka malu dan juga suka orang menutup ya karena ada orang buang buang hajat kemudian terbuka rasul Allah innallah hayyun sittir Allah itu maha malu dan maha menutupi aib-aib hamba yuhibbul haya wasitra Dan Allah suka rasa malu dan suka juga menutup aib. Faid sala ahadukum falyastatir. Kalau salah seorang dari kalian mandi, maka tutuplah auratnya. Jangan sampai maksudnya bersembunyi. Jangan sampai terlihat orang lain ya. Karena Allah malu dan Allah suka sifat malu. Ini hadis yang pertama. Hadis yang kedua, hadis Salman alfarisi di mana rasul sahu al wasallam bersabda, "Innabaka hayyun karim yastahyi min abdiumifran." Allah malu ya. Allah malu dan maha baik. Malu jika jika mengembalikan mengembalikan tangan orang yang berdoa dengan kosong. berdoa dengan kosong itu Allah malu kalau tidak mengabulkan doa orang yang sudah mengangkat tangan Allah kembalikan dengan kosong di sini maka di sini ada sifat ee malu Allah Subhanahu wa taala apa bedanya ee malu rasa malu kita paham tetapi tentunya ee sifat malu Allah tidak sama dengan sifat malunya makhluk ya karena Allah berfirman laisa kamitli syai tidak ada suatuun pun yang serupa dengan Allah. Wahua samiul basir yang maha mendengar lagi maha ee melihat. Maka rasa malu Allah adalah rasa malu yang tidak bisa kita bayangkan. Tapi di antara makna sederhana ya Allah rasa malu seperti yang disebutkan dalam hadis ini. Innallah hayyiyun karimun. Allah itu maha malu dan maha dermawan. Yastahyi min abdiiahifa yadaihi ilaihiurudahuma sifran. Allah malu jika Allah mengembalikan tangan kosong. Jadi saking baiknya Allah, kalau kita boleh bahasakan saking baiknya Allah sehingga malu jika tidak jika tidak berbuat baik kepada hamba-Nya. Ya, ini secara sederhana. Maksudnya karena rasa malu Allah makanya Allah beri kebaikan kepada kepada hambanya. Sampai kalau ada hambanya berdoa kalau memang itu maslahat Allah pasti kasih. Cuma Allah tidak kasih terkadang karena tidak maslahat. Kenapa Allah minta-minta Allah enggak kasih saking baiknya Allah. Beda kalau kita manusia malu terkadang karena kekurangan. Allah malu karena sempurna. Sempurna saking baiknya kayaknya tidak pantas bagi Allah untuk tidak memberi, untuk tidak merahmati dan tidak mengasihi hamb-Nya. Itu saking sempurnanya Allah. Jadi saking baiknya Allah ya atau saking sempurnanya Allah, saking sangat sempurnanya Allah, sempurnanya Allah. Ee adapun kalau malu kita manusia biasanya karena kekurangan, karena minder, karena tidak mampu, saya maluah enggak mampu saya mau kasih dia, enggak mampu saya tolong dia, saya malu minder karena ada kekurangan. itu manusia malu dan ee malu akhirnya malu dengan ee dengan kerendahan misalnya ee B dengan Allah malu karena saking sempurnanya, saking dermawannya. Makanya dalam hadis ini Allah mengatakan innallaha hayyun karim. Sesungguhnya Allah itu maha malu dan maha dermawan. Ya. Ee tib saya bacakan perkata Ibnu Qayyim rahimahullahu taala berkata rahimahullah waqad wasofa nafsahu bil haya. Sesungguhnya Allah telah mensifati dirinya dengan rasa malu wasofahu rasulahu. Demikian juga Rasulullah telah mensifatkan Allah dengan rasa malu. Fahual hayyul karim. Maka Allah adalah maha malu dan maha dermawan, maha baik. Kama q nabi sallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Innallah hayyun karim yastah min abdi yadar sifron." Sesungguhnya Allah itu maha malu dan maha baik. Allah malu jika hambanya sudah angkat kedua tangannya. Kemudian Allah kembalikan dengan kosong. Waqat Ummu Sulaim. Dan Ummu Sulaim pernah berkata, "Ya Rasulullah, innallahatahyi minal haqq." Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dengan kebenaran. Itu kalau kebenaran tidak perlu malu. Ya sil sampaikan saja. Waq alik. Berarti kalau selain e kebenaran harusnya perkara yang dipermalukan ya. Waq alik Rasulullah membenarkan hal tersebut. Allah tidak malu dengan kebenaran. Artinya saya akan mencapai kebenaran. Tidak perlu ee hal yang dipermalukan. Berarti kalau selain kebenaran, maksiat harusnya dipermalukan. Harusnya malu kepada Allah. Waqala Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi juga berkata, "Innallaha la yastahi minal haq." Dan suungguhnya Allah tidak malu dengan kebenaran. Launisainna Rasulullah mau menyampaikan suatu tapi hal yang sensitif terkait dengan hubungan intim. Tapi karena ini kebenaran Rasulullah mengatakan Allah tidak malu kalau urusan kebenaran. Maka saya akan sampaikan tidak boleh lelaki mendatangi wanita dari ee mohon maaf dari belakang mereka atau dari dubur mereka. Gak boleh ya. Kemudian Ibnu Qayyim berkata, ini dalil-dalil tentang bahwasanya Allah ee malu kepada sesuatu dan tidak malu kepada sesuatu ya. Wa hayaab kata Ibnu Qayim, adapun rasa malu Allah min abdihi naun akar, malu Allah kepada hambanya ini jenis ini sejenis yang lain. La tudrikul afham. Maka ini tidak bisa dipahami oleh pemahaman. La tukaiful uqul dan tidak bisa dibagaimanakan oleh akal. Masalah sifat kita enggak tahu bagaimana zat Allah, kita tidak tahu bagaimana sifat malu Allah. Cuma kita maknanya kita paham malu ya. Finnahuun karamin win w judin wa jalalin. Malunya Allah itu malu karena saking baiknya, saking dermawannya, saking agungnya. Saking agungnya sampai tadi saking agungnya masa hamba ini berdoa tidak dikasih. Allah maha baik. Allah malu kalau enggak karena saking agungnya. Ya saking agungnya ya. Fainnahu beda dengan manusia tadi kalau malu karena ada kekurangan. Fainnahu tabaraka wa taala hayyun karim. Sesungguhnya Allah itu hayyun karim. Maha malu, maha baik. Yastahi abdi malu jika ee ada hamba minta-minta kemudian tidak kasih. Ibarat kita kita kaya raya misalnya ini walillahil matul ala Allah maha kaya. Ada orang kaya tahu-tahu ada orang miskin minta sedikit terus kita enggak kasih kita malu. Ngapain kita enggak kasih? Kita bisa malu enggak kasih dia karena kita kaya kenapa enggak kasih? Walillahilala bagi Allah perempuan yang tinggi. Maka Allah saking dermawannya, saking baiknya Allah malu jika tidak memberi kebaikan kepada hambanya. Kalau hambanya berdoa tidak, Allah kabulkan. Maka asalnya Allah kabulkan doa hamba yang angkat tangan menangis, dia punya masalah dia minta kepada Allah, Allah kabulkan. Hanya saja kalau tidak kabulkan biasanya karena ada sesuatu tidak maslahat atau memang Allah ingin mengujinya lagi agar lebih baik. Ya. Kemudian Syekh Abdul Raz kasih faedah, wamahya minallah istahyallahu minhu. Siapa yang malu dari Allah ya maka Allah juga malu dari dia. Ya. Ya. Wallahu jalla waala hayyun yuhibbul haya. Allah maha pemalu dan Allah menyukai rasa malu. Maka wajib bagi seorang hamba mukmin untuk malu kepada Allah. Untuk malu kepada Allah. Kalau dia malu kepada Allah akan malu tidak kasih kebaikan kepada dia. Aljaza am balasan sesuai dengan balasan sesuai dengan perbuatan. Kalau dia malu kepada Allah ya malu maksiat, malu tidak taat maka Allah akan malu kepada dia. Tidak memberikan kebaikan. Malu kalau Allah tidak berikan kebaikan kepadanya maka Allah akan berikan banyak kebaikan. Wal wajib alilminahiqmi bihi. Seorang hamba Allah yang mukmin wajib untuk malu kepada Allah sesuai dengan kadar kedekatannya kepada Allah. Ya. Dan dia tahu bagaimana Allah mengetahui dia dan Allah dia tahu Allah menelaah dia yaitu Allah mengawasinya. Muadiman lijanabir dia harus mengagungkan sisi Allah subhanahu wa taala muqaddiman mahabbahu ala klil mahab. Dan dia mendah mendahulukan apa yang Allah cintai daripada seluruh perkara. Ya. Ya. Apa yang sukai dia harus dahulukan yang Allah sukai. Waomul haya waabuhu ajaluhu. Dan rasa malu yang paling tinggi kedudukannya, yang paling mulia adalah malu dari Allah Subhanahu wa taala, pencipta seluruh makhluk. Ya, malu dari zat yang telah menciptakanmu dan memberikan engkau berbagai macam nikmat dan berbagai macam anugerah. Tib. Kemudian setelah itu ini kita malu kepada orang saleh baik. Kita malu kepada suami, kita malu kepada istri, kita malu kepada tetangga itu semua baik. Malu kepada makhluk. Tapi malu yang lebih agung adalah malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian Syekh Abdur Razak hafidahullahu taala menyebutkan tentang empat sebab agar atau tiga sebab agar orang bisa malu. Ini sekarang tiga sebab agar malu kepada Allah. Ini poin yang yang tadi hanya pengantar. Maka ini adalah praktik yang ingin kita bagaimana sih kita malu kepada Allah? Yang pertama adalah ee mengingat mengingat nikmat-nikmat Allah kepada kita. Nikmat-nikmat Allah kepada kita yang begitu banyak. Yang Allah berfirman, "Wain taudu nikmatallahi la tuhsuha." Kalau kalian menghitung-hitung nikmat Allah, kalian tidak bisa menghitungnya. Kita ini apa yang kurang? Masyaallah, begitu banyak kenikmatan. Kenikmatan jasad, kenikmatan rohani, kenikmatan berkeluarga. kenikmatan bisa ngaji, kenikmatan bisa beribadah, kenikmatan bisa banyak kenikmatan kenikmatan aman ya kata Allah waakumulum kata Allah berikan apa yang kalian minta dalam sebagian qiraat waakum minum Allah berikan kepada kalian apa yang kalian tidak minta banyak hal yang kita tidak minta Allah berikan karena itu maslahat bagi kita banyak kita enggak minta Allah kasih ya berarti Allah perhatian banyak sekali ada yang ada yang kita minta ada yang Allah kasih, ada yang tidak Allah kasih karena mungkin tidak masuk tapi banyak perkara yang kita tidak minta Allah kasih. Banyak sekali petunjuk, hidayah, kenikmatan banyak sekali. Maka kalau kita ingat tersebut ee kita malu kepada Allah kalau tidak taat kepada Allah. Kata Ibnu Rajab Alhambali, waqwalladul minallah minatam. Di antara rasa malu kepada Allah bisa muncul dengan mengingat nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada hamba. Maka hamba akan malu. Dia sudah diberikan nikmat banyak. Kemudian dia gunakan nikmat tersebut untuk membangkang kepada Allah. Dan ini termasuk iman yang tinggi. Benar. Kita malu maksudnya ibaratnya kita [tertawa] apa namanya kerja sama orang, orang itu baik kasih kita gaji tiap bulan. Tapi kita ternyata untuk berkhianat kepadanya. Kita malu dia baik sama kita. Apalagi Rabbul alamin yang menjaga kita dari sejak kita kecil sampai kita besar. Berbagai macam nikmat. Kemudian kita gunakan nikmat tersebut untuk bangkangnya. Kita diberikan nikmat pandangan untuk melihat maksiat kita ya banyak ya diberikan uang kita gunakan foya-faya yang malu. Yang kasih ini semua adalah Allah Subhanahu wa taala. Kata Ibnu Rajab kalau orang mengingat nikmat-nikmat ini semua dari Allah maka dia malu untuk menggunakannya untuk maksiat. Ya, makanya di antara ee ee sehingga malu menggunakan nikmat tersebut untuk maksiat. Makanya di antara qiraah yang apa namanya tafsir ketika Nabi Yusuf Alaih Salam dirayu oleh Imraatul Aziz atau Zulikha maka dia mengatakan kata Nabi Yusuf innahu rbi ahsana matwaya. Kata Nabi Yusuf, "Sungguhnya Rabbku," di antara tafsiran Rabbku, maksudnya majikanku, di antara tafsiran, "Sungguhnya Allah, Allah telah berbuat baik kepadaku." Telah baik kepadaku, yaitu bagaimana Allah telah berbuat kepadaku kemudian aku berzina. Ini di antara hal yang mencegah seorang untuk bermaksiat, dia ingat nikmat terlalu banyak. Malu. Malu kita membangkang perintah Allah. Malu kita bersendirian kemudian kita lihat yang enggak enggak malu. Allah kasih kita nikmat. Allah nutup aib kita, Allah kasih kita keluarga, Allah kasih istri, Allah kasih suami, Allah kasih anak, Allah kasih banyak nikmat. Kasih pekerjaan Allah kasih makan, Allah. Terus kita bermaksiat. Kita gunakan nikmat tersebut untuk membangkang sang pemberi nikmat. Maka kalau kita renungkan ini, kita jadi malu untuk bermaksiat. Maka ini menimbulkan rasa malu. Kata Ibnu Rajab al-Hambali. Ini yang pertama. Yang kedua, mengingat mengingat mengingat-ngingat kekurangan kita dalam menegakkan hak Allah. Kekurangan kita dalam menunaikan hak Allah. Ya waqiamika bima yajibu lahu alaika subhanahu min imtalil makmuril mahdur ya itu kita renungkan kita ini kan diperintah oleh Allah untuk ibadah dan meninggalkan maksiat dan kita tahu kita kurang kurang dalam apa dalam menjalankan ketaatan kurang dalam meninggalkan maksiat kita masih kurang. Masih sering gibah, mungkin masih sering melihat yang tidak-tidak, masih sering buang-buang waktu, masih banyak sehingga kita malu sama Allah Subhanahu wa taala. Ini ee makanya kalau kita habis salat, kita bilang astagfirullah, astagfirullah. Kita salat kayak apa? Salat kita baca Quran enggak serius. Baca Quran sambil mikir ke sana kemari. Ngaji enggak serius ya seperti saya, Ustaz mungkin dakwah enggak kurang kurang semangat. dakwah kurang ikhlas ya. Banyak hal yang kita malu kalau dihisab oleh Allah Subhanahu wa taala. Kurang berbakti pada orang tua. Ee masih banyak kekurangan kita akui dan maksiat masih sering kita melanggar-melanggar. Maka kita malu karena belum bisa menjalankan perintah Allah dengan baik. Makanya eh Allah berfirman tentang orang-orang yang saleh walladina yu walladina yutuna ma atu waubum wajilah annahumim rojiun. Dan orang-orang yang melakukan amal s yang mereka lakukan hati mereka takut. Mereka banyak beramal s mereka takut karena mereka tahu amal mereka enggak tahu amal mereka diterima atau tidak. Tib di antara hal yang menjadikan seorang timbul rasa malu kepada Allah Subhanahu wa taala yaitu dia tahu Allah maha mengawasinya. Allah maha mengawasinya. Alam ya alam biallah ya. Tidakkah dia tahu Allah maha melihat? Inallah alikum rqibah. Sesungguhnya Allah maha raqib. RQB itu mengawasi. Melihat terus dengan seksama dengan penilaian. Ya tadi Rasulullah mengatakan, "Istahyi minallah kama tastahyi." Istahyi minallah kama tastahyi rajulan shihan eh min shihan min eh apa tadi kata Nabi sallallahu alaihi wasallam? Eh antastahyallah kama tastahya rajulan shihan minika. Antastahiyallah hendaknya kau malu kepada Allah sebagaimana kau malu terhadap orang saleh dari kaummu kita. Kalau tadi orang saleh lihat kita, kita malu. Orang saleh lihat kita, kita malu. Kita enggak enggak mungkin macam-macam. Nah, ini Allah Subhanahu wa taala maha melihat ya. Maha melihat. Kita tahu Allah senantiasa mengawasi kita. Seharusnya kita malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya, makanya dalam suatu pernyataan salaf, la tajalillaha ahwanirina alaik. Jangan kau menjadikan Allah adalah yang paling remeh dari orang-orang yang mengawasimu. Ya, artinya kita kita begini, kita kalau melakukan maksiat, ada anak kecil aja kita malu, ada orang lihat kita malu. Tapi kalau Allah lihat kita, cuekin aja. Seakan-akan Allah yang paling tidak kita anggap. Kalau Allah yang lihat, kita cuek aja. Tapi kalau orang lain lihat kita malu, ya. Maka seorang kalau yakin Allah sedang melihatnya, sedang menilainya, maka dia malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Ya. Dan ini perlu kedekatan kepada Allah, perlu punya hubungan batin connecting dengan Allah. Seorang yang sering connecting, menikmati kesendiriannya dengan Allah, salat malamnya, dia baca Quran, dia berinteraksi dengan Allah, maka dia akan timbul rasa malu. Ya, ini perlu dia. Jadi, maksud saya Allah mengawasinya dan dia apa ya? Baguskan hubungan dengan Allah. Baguskan connecting hubungan dengan Allah. Dalam salat malamnya ketika baca Quran dia sedang membaca firman dia menghadirkan dia sedang seperti salat kata Nabi sahu alaihi wasallam in ahadakum fati fahua yunajibahu sesungguhnya seorang ketika sedang salat dia sedang berbisik-bisik kepada Allah subhanahu wa taala ya Ibnu Rajab berkata ya Islam waid hasuna al Islam kalau Islam seorang baik Ya, di antara aplikasi sekarang disebut aplikasi bagaimana ee aplikasi orang yang malu kepada Allah. Orang yang malu kepada Allah dia Islamnya baik dan dia akan meninggalkan perkara yang tidak pantas dia lakukan. Minal muharramat, dia akan meninggalkan perkara yang haram. Wal musytabihat, perkara syubhat dia akan tinggal. Dia malu sama Allah. Wal makruhat, dia akan meninggal perkara yang makruh. Wa fudulal mubahat. Bahkan terlalu berlebih-lebihan dalam perkara yang mubah pun dia enggak dia malu. Terlalu banyak jalan-jalan, terlalu banyak omong, terlalu banyak hura-hura, terlalu banyak kulineran, terlalu banyak yang begitu dia malu. Ya, dia malu. Allati la yuhtaju ilaiha. Ya, yang tidak perlu seorang muslim melakukannya. Jika sempurna Islamnya maka dia telah mencapai derajat ihsan dan dia malu melakukan ini semua. Ya wahuaudullahu yarahu dia akan beribadah kepada Allah seakan-akan Allah melihat dia. Seakan-akan dia melihat Allah dia beribadah kepada seakan dia melihat Allah. Jika dia tidak mau melihat Allah maka dia yakin Allah melihatnya. Islam. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan menghadirkan bagaimana Allah dekat dengan dia, bagaimana Allah selalu menyaksi dan dia merasa dia dekat dengan Allah dan dia dia menyaksikan Allah dengan hatinya dan dia tahu Allah dekat dengannya dan Allah selalu mengawasinya melihat perbuatannya maka telah bagus Islamnya dengan demikian dia akan meninggalkan perkara yang tidak perlu dan dia akan sibuk dengan perkara yang perlu fnahuatawalladu minil maqini altihya minallah Siapa yang sibuk dengan ee apa namanya? Dengan dengan ihsan yaitu merasa Allah Subhanahu wa taala selalu mengawasinya dan dia juga menghadirkan bahwasanya Allah dekat dengan dia, dia bisa melihat Allah dengan hatinya, maka ini melazimkan dia malu untuk melakukan yang tidak perlu. Ini di antara tadi ee harus ada kedekatan dengan Allah, yaitu merasa Allah mengawasi atau menghadirkan dia sedang melihat keagungan Allah, maka dia malu ee buang-buang waktu dia malu. Tidak, ini bukan urusan dia, dia malu. Dia harus beribadah kepada Allah. Ngapain habiskan waktu untuk seperti ini? Ini antara salah satu aplikasi malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka kata Syekh, "Inilah tiga perkara yang bisa menggerakkan hati." Kapan hati itu mengagungkan Allah, cinta kepada Allah subhanahu wa taala, tahu bahwasanya Allah senang melihatnya, menelaahnya, mengawasinya dan tidak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah, maka hatinya akan malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Kemudian kalau sudah malu kepada Allah akan muncul kebaikan dan meninggalkan segala kemaksiatan dan akan muncul akhlak yang mulia. Tib. Di akhir pembahasan ee Syekh menyebutkan empat perkara yang tadi di awal hadis Rasulullah mengatakan istahyu minallahi haqqal haya. Malulah kepada Allah. Ini sekarang aplikasi ya. Kalau ini tadi cara tiga sebab agar malu kepada Allah. Sekarang empat aplikasi agar benar-benar malu kepada Allah dan malu kepada Allah berdasarkan tadi berdasarkan hadis tadi yang kita sebutkan. Yang pertama kata Nabi sallallahu alaihi wasallam eh anahfadar waa jaga kepala dan apa yang dikandungnya. Maka di sini yang dikandung oleh kepala banyak ya. Di antaranya adalah penglihatan mata, telinga, apalagi lisan. Ya, ini perkara yang urgen ya. Mata jangan melihat yang haram, telinga jangan mendengar yang gibah dan namimah, musik-musikan. Lisan agar dijaga tidak mengucapkan kata-kata yang haram. Ya. Ya. Ini ini, ini yang pertama. Kemudian yang kedua kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, jaga perut dan apa yang dikandungnya dan yang dikandungnya. ee disebut sini yang dikandung oleh ee perut misalnya jangan makan haram. Jangan sekali-sekali makan dari hasil yang haram. Kemudian juga ee jaga hati ya karena dalam hati dalam perut kita ya itu maksudnya dalam anggota dalam tubuh kita ya. dimaksud jaga hati dari akhlak yang buruk, dari yang tidak benar ya. Ee kemudian juga jaga kemaluan ya. Ya, ini namanya ee seorang menjaga perut dan apa yang dikandungnya ya. Ini benar-benar rasa malu dan benar ini secara sederhana. Kalau malu sama Allah pasti enggak berani lihat yang haram. Kenapa kita nekad lihat yang haram? Kenapa kita nekad ngeklik film-film situ? menampakkan aurat yang tidak boleh kita karena kita kurang rasa malu sama Allah. Kenapa kita nekad mendengar hal-hal yang haram, musik-musikan ya karena kita kurang malu kepada Allah. Kenapa di sana kita bicara? Karena kita tidak merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa taala. Kalau kita malu, kita enggak akan menggunakan mata kita untuk men yang haram. Ya, malu Allah ee kenapa kita nekat makan yang haram? Sementara rezeki Allah kasih. Cuma kita nekad melanggar perintah Allah makan yang haram. Kita enggak jaga mulut kita, kita jaga hati kita. kita enggak jauh kemaluan kita. Ini perkara yang ketiga. Perkara yang keempat kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Wa ankural mauta wal bil." Ingat kematian. Ingat kematian dan rusaknya jasad. Ini penting sekali agar kita mengaplikasikan rasa malu. Saya bacakan ya. Ee faman tadakaral maut kata Syekh Abdur Razakaro annahuamutabla. Siapa yang tahu dia bakalan mati dan jasadnya akan rusak, akan dimakan oleh cacing. Ya, sekarang aja sudah mulai rusak, mulai tua, mulai keriput, mulai rusak. Dan dia akan berdiri di hadapan Allah untuk dihisab. Allah akan menghisabnya pada hari kiamat kelak alq dan apa yang atas apa yang telah dia lakukan dalam kehidupannya istahya minallah maka dia akan malu kepada Allah untuk bertemu dengan Allah pada hari kiamat dengan amal-amal yang buruk dengan perangnya perangnya yang buruk dia malu kalau dia sudah malu dia ingat dia bakalan mati akan ketemu Allah cabut nyawa saya sekarang saya akan ketemu Allah saya malu ketemu Allah dengan amal seperti ini. Saya malu ketemu Allah dengan ya kita amal masih kayak gini ya masih banyak maksiat, masih melanggar, masih pelit, malu ya. Maka kalau dia ingat mati dan ingat akan di diberdirikan oleh Allah akan dihisab, dia malu bertemu Allah dengan amal yang buruk, maka dia akan berbuat baik. Ya, ini ee ini di antara ee ingat kematian membuat kita malu ya. Apakah kita rida di rasanya gampangnya gini, apakah engkau rida di mati kemudian dibukakan catatan amalmu? Ternyata isinya film Korea, film India, film box office. Kemudian bukan isinya bukan malaikat tidak mencatat baca Quran amal saleh. Enggak. Bukan isinya zikir, tapi isinya gibah namimah. Malu ya. Malu. Malu dibuka catatan amalnya. Ternyata seperti itu malu. Maka ketika ingat kita akan dihisab oleh Allah, dibuka catatan amal kita, berusaha catatan amal kita ditulis oleh malaikat yang baik-baik. Malu. Kemudian yang berikutnya, yang keempat eh waman aradal akhirat taraka zinatal haid dunia. Siapa yang ingat akhirat akan meninggalkan perhiasan dunia. Perhiasan dunia ya. Ee saya bacakan ya. Famin tahqiqil haya. Kata Syekh Abdul Razak, "Di antara cara merealisasisikan realisasikan rasa malu kepada Allah alyagilal abdu bifitanid dunya wugriatiha." Jangan seorang hamba tersibuk dalam fitnah-fitnah dunia dan yang menipu menipunya wamuliyat yang melalaikan dia. Ya, malulah. Ee siapa yang kita bikin katanya ingin cari akhirat tapi sibuk dengan kegiatan tidak manfaat. Jalan sana, jalan sini, hurah sana, hurah-hurah sini. Yaakaru annahualu sayalqallah waahuat dia harus ingat dia akan ketemu Allah dan dunia akan dia tinggalkan kita akan ninggalk tapi kita sibuk dengan dunia malu wa innahu yauman minalyamiqri dan suatu hari dia akan dimasukkan dalam kuburan wahidan sendirian ma amal dunia tidak akan dia bawa dalam kuburan yang menama dia cuma amal salehnyail mauta wal bila dan hendaknya dia ingat kematian dan rusaknya jasadnya. Fa tadakaro annahu sayamutubu kalau dia ingat dia bakalan mati, dia akan rusak jasadnya dan dia akan dihisab oleh Allah subhanahu wa taala dan dia akan meninggalkan dunia ini, ya maka dia akan malu kepada Allah melakukan ketaatan maksiat. Kemudian beliau sebutkan agar dia rasa malu timbul selalu kepada Allah. Dia selalu ingat bahwasanya di depan dia ada hari akhirat. Apa yang Allah siapkan di akhirat ada dua. Kemungkinan dapat nikmat, kemungkinan dapat azab. Maka kemudian Nabi berkata, akhir dunya. Siapa yang ingin akhirat dia pasti meninggalkan perhiasan dunia. ak dia malu kalau ternyata dia hidup ini hanya mencari dunia. Beramal saleh untuk mencari sanjungan. Malu beramal saleh untuk mencari dunia. Dia malu ya karena dia mencari akhirat. Fayuqbilu alal amalakiah wal akqil fadilah mustamir alaiha. Maka kalau dia ingat dia akan menuju akhirat maka dia malu sehingga dia melakukan banyak ketaatan. dan dia meninggalkan perkara-perkara yang buruk. Ya. Kemudian Allah kemudian belia menyebutkan firman Allah aral akhir was wahua mmin siapa yang menginginkan akhirat dan berusaha menuju akhirat maka itulah orang beriman. Faulaik maskur itulah orang-orang yang nanti usahanya atau amalnya akan dibalas oleh Allah dengan kebaikan. Jadi malu kalau cari dunia, malu kita dunia akan kita tinggalkan. Kita bertemu Allah ya. Kalau kita ingin akhirat harusnya kita malu. Jangan sampai kita riak. Malu amal saleh karena riak. Malu cari amal saleh untuk dipuji saja, untuk disanjung, untuk dapat like. Malu kita beramal saleh karena Allah. Jadi malu kita ee apa namanya? Ee tenggelam dalam dunia. Malu ya. Malu kita punya uang terus kita buat foya-fe malu ya. Punya uang ya kita sedekah ya. Kita bukannya tidak boleh senang-senang. Boleh senang-senang tapi terlalu banyak kita malu. Malu untuk menggunakan uang berlebihan urusan kesenangan dunia ya. Ya. Ya. Jalan-jalan sana kemari malu. Waama yunzaul minal abdi fala halakati. Kalau rasa malu sudah dicabut dari seorang hamba, maka jangan kau tanya tentang kebinasaannya dan akan berkumpul pada dirinya keburukan-keburukan yang banyak. Ya, telah Nabi telah mengabarkan di antara nasihat yang diwariskan dari para nabi sebelumnya, yaitu jika kau tidak malu, lakukan apa yang kau sukai. Ya, apa yang kau sukai. Ini menunjukkan bahwasanya siapa yang dicabut rasa malunya dia tidak peduli dengan keburukan yang dia lakukan. Dia tidak peduli dengan maksiat yang dia lakukan. Kenapa rasa malunya sudah hilang? Ya, dia tidak malu kepada Allah dengan dosa-dosa yang dilakukan. Dia tidak malu ya tenggelam dalam perbuatan-perbuatan nista ya. Jiwanya menjadi hina ya. Ya, karena dia tidak punya rasa malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka wajib bagi kita untuk memperbaiki jiwa kita. Kalau jiwa kita masih tidak punya malu, kita perbaiki. Di antaranya tadi ingat kematian, ingat akan ada hisab ya, sehingga kita malu kepada ingat bahwasanya Allah melihat kita, Allah selalu mengawasi kita, ingat nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita. Maka dengan demikian insyaallah kita memiliki rasa malu kepada Allah Subhanahu wa taala. Wallahu taala alam bawab. Ini mungkin saya sampaikan terkait dengan bab ini ya. Dan ini sangat kita perlukan karena terus terang tidaklah kita berani iseng-iseng lihat yang tidak benar, tidak buang-buang waktu yang tidak ada manfaatnya kecuali karena rasa malu kita kepada Allah kurang. Kalau kita tahu kita bakalan ketemu Allah dan semua perbuatan akan dibuka oleh Allah tentunya kita malu. Tentunya kita malu. Makanya Fudil bin Iyad mengatakan w sauata minka wain afaut. Malu kepada Engkau ya Allah meskipun kau ampuni dosa-dosaku itu. Karena pada hari kiamat kelak Allah akan buka dosa-dosa seorang malu. Meskipun mungkin Allah ampuni tapi dia malu. Ternyata pernah ada catatan hitamnya dalam dia malu kalau diungkap nanti pada hari kiamat. K. Maka kalau orang malu dia tidak ingin catatan amalnya tercoreng dengan yang buruk-buruk. Dia ingat kalau melakukan maksiat aduh nanti dicatat oleh malaikat. Kalauat malaikat nanti Allah buka pada hari kiamat kelak. Malu sehingga dia berhenti. Wallah taalaam baf. Demikian saja. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.