Transcript
6SM9EaydeGY • Malu Kepada Allah - Hadist-Hadist Perbaikan Hati #6 - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2615_6SM9EaydeGY.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala
rasulillah wa ala alihi wasahbihi walah.
Pada ibu-ibu yang dirahmati Allah
subhanahu wa taala. Pada kesempatan kali
ini kita akan bahas poin yang sangat
penting bagi hati kita semua yaitu
bagaimana bisa merasa malu kepada Allah
Subhanahu wa taala.
Dan kita tahu bahwasanya di antara
ibadah yang agung adalah ibadah hati,
yaitu ee memiliki rasa malu. Dan Rasul
Sallahu Alaih Wasallam pernah bersabda,
"Alimanu
e bitunbun sybah." Iman itu 70 sekian ee
cabang. Alaha kalimatu lailahaillallah.
Yang paling tinggi kalimat laillah.
Waaha imul.
Dan yang paling rendah adalah
menghilangkan gangguan dari jalan.
Walbatun minal iman. Dan rasa malu
adalah bagian daripada ee iman.
Dan ee kita tahu rasa malu ya. Rasa malu
secara umum kita bisa bagi menjadi dua,
yaitu rasa malu kepada Allah.
Kepada Allah
dan rasa malu kepada makhluk.
Malu kepada makhluk.
Dan ee dua-duanya dituntut ya.
Dua-duanya dituntut. ee yang sering kita
bahas biasanya rasa malu kepada makhluk
ya. Seperti ee
dalam hadis inna mimma adrakas min
kalamin nubuatil ula tastahi ma. Ee di
antara warisan ilmu yang didapatkan oleh
manusia dari nabi-nabi terdahulu adalah
jika kau tidak punya rasa malu, lakukan
apa yang kau kehendaki. Ini biasanya
ditafsirkan terkait dengan rasa malu
kepada ee makhluk. Ya, makanya kalau
orang tidak punya malu, dia bikin apa
saja yang dia suka sukai. Tapi kalau dia
punya malu, maka ini sangat ee baik
baginya. Karena rasa malu itu fungsinya,
fungsinya
atau manfaatnya
ada dua, yaitu ee memotivasi atau
mengantarkan kepada amal kebaikan,
kepada amal-amal kebajikan.
Kemudian yang kedua adalah mencegah dari
ee
dari
perbuatan-perbuatan buruk atau yang
tidak pantas. Dari perbuatan-perbuatan
yang tidak pantas.
Jadi kalau orang misalnya saya sering
sampaikan misalnya seorang e wanita
kepada suaminya kalau dia memiliki rasa
malu dia pasti melakukan banyak
kebajikan. Dia malu misalnya suaminya
pulang dia tidak layi. Dia malu suaminya
pulang ternyata makan belum siap. Dia
malu kalau ternyata suaminya mau kerja
mungkin baju belum disetrika. Dia malu
jika tidak menyambut suaminya dengan
baik. Kalau dia punya dia punya rasa
malu akan mengantarkan pada amal-amal
kebajikan dan juga akan mencegah dari
keburukan. Dia malu kalau misalnya dia
ngobrol sama lelaki lain suaminya tahu
dia malu. Sehingga ee dia dia malu jika
dia membangkang suaminya. Dia malu kalau
tidak bersyukur kepada ee suaminya.
Sehingga dengan rasa malu itu
mengantarkan dia untuk melakukan
kebajikan dan mencegah dari
perbuatan-perbuatan yang tidak pantas.
Dan orang yang paling memiliki rasa malu
adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Dalam hadis kata ee riwayat kanan Nabi
sallallahu alaihi wasallam, "Ayadda
hayaan minal adra fi khidriha." Rasul
sahu alaih wasallam adalah orang yang
sangat pemalu lebih daripada malunya
seorang wanita gadis yang dipingit.
Ketua wanita gadis di pinggit dulu ada
ruangan khusus di pinggit dia malu.
Sangat malu ketemu orang. Nabi demikian
Rasulullah sangat pemalu. Waaraian
fi waji. Rasulullah kalau benci sesuatu
terlihat dari wajahnya itu e merah
merona, yaitu Rasulullah tidak suka,
tidak segera mengungkapkan k Rasulullah
memiliki rasa ee rasa malu ya. Dan ini
adalah bagian daripada iman dan secara
umum malu kepada orang tua kalau tidak
kita berbakti kepadanya. malu kepada
tetangga. Tetangga sakit kita cuekin
malu ee pada tetangga kita bikin acara
tidak kita undang. Ya, rasa malu itu
luar biasa ya. Malu kalau kita ee
memamerkan privasi kita di apa namanya?
Di medsos jadi bahan gunjingan, jadi
bahan komentar orang. Malu, malu, malu.
Sedikit-sedikit
ee
jadi bahan pembicaraan orang-orang ya.
Rasa malu itu subhanallah sangat baik.
Makanya Rasul sahu alaihi wasallam
mengatakan, "Alhaya la yati illa
bikhair." Rasa malu tidak mendatangkan
kecuali kebaikan. Ketika ada seorang
menasihati saudaranya supaya jangan
malu, Rasulullah tegur. Ada nasihat
saudaranya, "Jangan malu, jangan malu."
Rasulullah kata Rasulullah, "Da'u biarin
dia malu." Kenapa dilarang untuk malu?
Fainnal haya yati bikhair. Karena
kebaikan ee tidak mendatangkan e la yati
illa bikhair. Tidak mendatangkan kecuali
kebaikan. Kerasa malu mendatangkan
kebaikan. Ya. Tib. Tapi yang kita bahas
sekarang, Ibu-ibu yang dirahmati Allah
Subhanahu wa taala, bukan malu ini. Yang
kita bahas adalah jenis malu kedua,
yaitu rasa yang yang lebih utama, rasa
malu kepada Allah. Yang ini sama
fungsinya.
Fungsinya sama. Mengantar mengantar
kepada ketaatan kepada Allah
dan mencegah maksiat. mencegah
perbuatan-perbuatan maksiat.
Kalau orang benar-benar malu kepada
Allah, maka dia akan semangat beramal
saleh dan dia akan menghindarkan diri
pada kemaksiatan. Maka pada kesin kita
akan bahas tentang rasa malu kepada
Allah Subhanahu wa taala. Saya akan
bawakan hadis yang dibawakan, saya akan
bacakan hadis yang dibawakan oleh ee
Syekh Abdur Razzaq hafidahullahu taala.
Bab. Adapun hadis yang pertama saya
bacakan an Abdillah bin Mas'ud
radhiallahu anhu. Jadi kita akan bahas
apa itu malu kepada Allah dan bagaimana
cara menumbuhkan rasa malu kepada Allah
dan apa aplikasi ya. Jadi malu kepada
Allah caranya bagaimana dan aplikasi
keseharian bagaimana. Ya. Dan ini salah
satu ibadah luar biasa yang seandainya
orang memiliki sifat ini maka dia akan
jauh dari kemaksiatan. Dia akan semangat
beramal saleh. Hadis pertama an Abdullah
bin Mas'ud radhiallahu anhu qala
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
istahyu minallahi haqqal haya. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam malulah
kepada Allah dengan sebenar-benar malu.
Qna ya Rasulullah inna
nastahyuhamdulillah. Sebagian sahabat
mengatakan ya Rasulullah alhamdulillah
kami malu ya Rasulullah.
Q Rasulullah ingatkan laisak bukan itu
yang aku maksudkanakinalya
minallahqal tetapi yang dimaksud dengan
malu kepada Allah dengan benar-benar
malu adalah
kau menjaga kepala dengan apa yang
dibawa oleh kepala tersebut itu menjaga
mata, menjaga telinga, menjaga lisan.
Wal bat w hawa dan engkau menjaga
perutmu dan apa yang dikandung oleh
perut tersebut. Itu di antaranya kata
para ulama menjaga kemaluan. Ya,
mauta wal bila dan hendaknya engkau
mengingat kematian dan bagaimana kau
akan hancur lebur ya akan ee apa
namanya? Sirna, akan rusak tubuhmu akan
rusak. Kemudian yang berikutnya kata
Nabi, "Waman aral akirinad
dunya."
Siapa yang menginginkan akhirat dia
pasti meninggalkan perhiasan dunia
faalik. Siapa yang melakukan empat
perkara ini faqah minallahqal, maka dia
telah benar-benar malu kepada Allah.
yaitu anah w
waa kau menjaga kepalamu dengan isinya
wal batana w hawa dan menjaga perut
dengan isinya waluril mauta wal bila bil
engkau mengingat kematian dan rusaknya
tubuhmu, jasadmuan waman aral akhirat
dunia siapa yang ingin akhirat maka dia
akan tinggal perasan dunia. Siapa yang
melakukan empat ini maka dia telah malu
kepada Allah dengan sesungguhnya malu.
Ini satu hadis pertama nanti akan kita
jelaskan ya.
Eh kemudian yang kedua w an Abi Waqid
Alaihi dari Abu Waqid Aliti radhiallahu
anhu. Hadis riwayat Bukhari Rasul
wasallam baisun fil masjid maahu suatu
hari Rasul wasam sedang duduk di masjid
dan orang bersama Nabi.
Tiba-tiba datang ada tiga orang.
Rasulullah mungkin sedang pengajian tiga
orang datang terlambat. Faqbalani rasul
wasamba wahid. Maka dua masuk menuju
Nabi. Yang satu pergi.
Fawaqofa ala rasul sahu alaihi wasallam.
Yang kedua, kedua orang itu berdiri di
hadapan Rasulullah alaihi wasallam.
Faama ahaduhuma. Adapun salah satu dari
dua orang yang menuju Rasulullah sahu
alaihi wasallam. Yang satu sudah pergi
tinggal dua. Dua menuju Nabi. Kemudian
mereka berdiri yang satu farjatan fil
halaqah filq fajalasa fiha. Maka lihat
ada tempat kosong. Maka dia duduk di
tempat kosong tersebut ikut hadir di
majelis Nabi. Waal aku. Yang satu duduk
belakang. Duduk belakang
faahiban. Yang ketiga pergi meninggalkan
majelis. Falam far rasul was rasul sahu
alaihi wasallam setelah selesai
pengajian Rasulullah komentar ukirukum
maka aku kabarkan kalian tentang tiga
orang. Amma ahaduhum faawaha fawahullah.
Adapun yang pertama dia menuju kepada
naungan Allah. Maka A pun menaunginya.
Itu dia malu menuju eh dia menuju ke
majelis menuju naungan Allah. Maka Allah
pun mengayominya. Wa amal akharu
fastahyi fastahyallahu minhu. Yang satu
malu dia di belakang maka Allah pun
malu. Dia malu kepada Allah dan dia malu
maka Allah pun malu kepadanya.
Waal akharu faarad faaradallahu anhu.
Adapun yang satu maka dia pun berpaling.
Maka Allah pun berpaling darinya. N di
sini ada sebutan ee bahwasanya dia malu
ya malu maka Allah pun malu kepadanya.
Dia malu kepada orang ya sehingga Allah
pun malu kepadanya ya sehingga dia hanya
tidak seperti yang pertama yang kemudian
masuk kepada nawungan Allah subhanahu wa
taala.
Di sini ada ada hadis fastaahyallahu min
maka Allah pun malu kepadanya.
Said bin Zaid anahu Rasulullah wasallam.
Ada ada seorang
berkata kepada Nabi berilah wasiat
kepadaku. Q Rasulullah berkata usikaah
Allah. Aku wasiatkan kepadamu untuk malu
kepada Allah. K tastahyi rajulan shihan
minika. Sebagaimana kau malu kepada
seorang saleh. Kalau kita di depan orang
saleh kita malu mau bicara seenaknya.
Kita malu untuk makan seenaknya kita
malu untuk duduk sembarang di depan dia.
Kata Nabi, "Maka malulah kepada Allah
sebagaimana kau malu kepada orang saleh
dari kaumu."
Kemudian juga dari hadis berikutnya dari
Bahaz bin Hakim dia berkata, "Hadani Abi
an jaddi q ya Rasulullah auratuna ma
minha wadar."
Yaitu dia bertanya kepada Nabi, "Ya
Rasulullah, aurat kami mana yang kami
tutup? Mana kami yang buka?" Ya kata
Rasulullah,
jagalah auratmu jangan kau buka kecuali
kepada istrimu dan kepada budakmu. Yaitu
budak yang halal untuk digauliquul
ya. Kalau seorang lelaki bersama lelaki
yang lain,
ahadunal.
Kalau bisa seorang tidak melihat e
auratmu, maka lakukanlah.
Bagaimana kalau seorang sendirian?
Qallahu ahaqu yustahya minhu. Allah
lebih utama untuk dimalui ya itu masih
kalau sendirian jangan ngapain buka
aurat kalau enggak ada perlunya. Hadis
Abu Daud dan Tirmidzi.
Maka di sini dalil-dalil banyak
menunjukkan seorang berusaha untuk malu
kepada Allah Subhanahu wa taala dan ee
Allah Subhanahu wa taala mengetahui apa
yang dilakukan oleh semua hamba. Kata
Allah, "Alam yamallaha yaro." Bukankah
dia tidakkah dia tahu bahwasanya Allah
melihat apa yang dia lakukan? Ya, Allah
juga berfirman, "Innallaha alaikumiba."
Sesungguhnya Allah maha mengawasi
kalian. Allah juga berfirman, "Wallahu
bima tamaluna bir dan Allah maha melihat
apa yang kalian lakukan." Bab setelah
itu Syekh Abdur Razak setelah membawakan
hadis-hadis tentang malu ee di sini ada
nama Allah alhayyi ya. Di antara nama
Allah
alhayyiyu al hayyiyu
alhayyiyu
yaitu maha malu maha pemalu.
Adapun dalilnya eee di antaranya dalam
hadis kata Rasulullah sahu alaihi
wasallam, "Innallaha hayyun sittir." Ya
inallahir ya yuhibbul haya ya
sesungguhnya Allah
maha malu
dan suka sifat malu
dan juga suka malu dan juga suka orang
menutup ya karena ada orang
buang buang hajat kemudian terbuka rasul
Allah innallah hayyun sittir Allah itu
maha malu dan maha menutupi aib-aib
hamba yuhibbul haya wasitra Dan Allah
suka rasa malu dan suka juga menutup
aib. Faid sala ahadukum falyastatir.
Kalau salah seorang dari kalian mandi,
maka tutuplah auratnya. Jangan sampai
maksudnya bersembunyi. Jangan sampai
terlihat orang lain ya. Karena Allah
malu dan Allah suka sifat malu. Ini
hadis yang pertama. Hadis yang kedua,
hadis Salman alfarisi di mana rasul sahu
al wasallam bersabda, "Innabaka hayyun
karim yastahyi min abdiumifran."
Allah malu ya. Allah malu
dan maha baik.
Malu jika
jika mengembalikan
mengembalikan
tangan orang yang berdoa dengan kosong.
berdoa dengan kosong itu Allah malu
kalau tidak mengabulkan doa orang yang
sudah mengangkat tangan Allah kembalikan
dengan kosong di sini maka di sini ada
sifat ee malu Allah Subhanahu wa taala
apa bedanya ee
malu rasa malu kita paham tetapi
tentunya ee sifat malu Allah tidak sama
dengan sifat malunya makhluk ya karena
Allah berfirman laisa kamitli syai tidak
ada suatuun pun yang serupa dengan
Allah. Wahua samiul basir yang maha
mendengar lagi maha ee melihat. Maka
rasa malu Allah adalah rasa malu yang
tidak bisa kita bayangkan. Tapi di
antara makna sederhana ya Allah rasa
malu seperti yang disebutkan dalam hadis
ini. Innallah hayyiyun karimun. Allah
itu maha malu dan maha dermawan.
Yastahyi min abdiiahifa yadaihi
ilaihiurudahuma sifran. Allah malu jika
Allah mengembalikan tangan kosong. Jadi
saking baiknya Allah, kalau kita boleh
bahasakan saking baiknya Allah
sehingga
malu jika tidak
jika tidak
berbuat baik kepada hamba-Nya.
Ya, ini secara sederhana. Maksudnya
karena rasa malu Allah makanya Allah
beri kebaikan kepada kepada hambanya.
Sampai kalau ada hambanya berdoa kalau
memang itu maslahat Allah pasti kasih.
Cuma Allah tidak kasih terkadang karena
tidak maslahat. Kenapa Allah minta-minta
Allah enggak kasih saking baiknya Allah.
Beda kalau kita manusia malu terkadang
karena kekurangan. Allah malu karena
sempurna. Sempurna saking baiknya
kayaknya tidak pantas bagi Allah untuk
tidak memberi, untuk tidak merahmati dan
tidak mengasihi hamb-Nya. Itu saking
sempurnanya Allah. Jadi saking baiknya
Allah ya atau saking sempurnanya Allah,
saking sangat sempurnanya Allah,
sempurnanya Allah.
Ee adapun kalau malu kita manusia
biasanya karena kekurangan, karena
minder, karena tidak mampu, saya maluah
enggak mampu saya mau kasih dia, enggak
mampu saya tolong dia, saya malu minder
karena ada kekurangan. itu manusia malu
dan ee malu akhirnya malu dengan ee
dengan kerendahan misalnya ee B dengan
Allah malu karena saking sempurnanya,
saking dermawannya. Makanya dalam hadis
ini Allah mengatakan innallaha hayyun
karim. Sesungguhnya Allah itu maha malu
dan maha dermawan. Ya. Ee tib saya
bacakan perkata Ibnu Qayyim
rahimahullahu taala berkata rahimahullah
waqad wasofa nafsahu bil haya.
Sesungguhnya Allah telah mensifati
dirinya dengan rasa malu
wasofahu rasulahu. Demikian juga
Rasulullah telah mensifatkan Allah
dengan rasa malu. Fahual hayyul karim.
Maka Allah adalah maha malu dan maha
dermawan, maha baik. Kama q nabi
sallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana
nabi sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Innallah hayyun karim yastah
min abdi yadar sifron." Sesungguhnya
Allah itu maha malu dan maha baik. Allah
malu jika hambanya sudah angkat kedua
tangannya. Kemudian Allah kembalikan
dengan kosong. Waqat Ummu Sulaim. Dan
Ummu Sulaim pernah berkata, "Ya
Rasulullah, innallahatahyi minal haqq."
Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak
malu dengan kebenaran. Itu kalau
kebenaran tidak perlu malu. Ya sil
sampaikan saja. Waq alik. Berarti kalau
selain e kebenaran harusnya perkara yang
dipermalukan ya. Waq alik Rasulullah
membenarkan hal tersebut. Allah tidak
malu dengan kebenaran. Artinya saya akan
mencapai kebenaran. Tidak perlu ee hal
yang dipermalukan. Berarti kalau selain
kebenaran, maksiat harusnya
dipermalukan.
Harusnya malu kepada Allah. Waqala Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Nabi juga
berkata, "Innallaha la yastahi minal
haq." Dan suungguhnya Allah tidak malu
dengan kebenaran. Launisainna
Rasulullah mau menyampaikan suatu tapi
hal yang sensitif terkait dengan
hubungan intim. Tapi karena ini
kebenaran Rasulullah mengatakan Allah
tidak malu kalau urusan kebenaran. Maka
saya akan sampaikan tidak boleh lelaki
mendatangi wanita dari ee mohon maaf
dari belakang mereka atau dari dubur
mereka. Gak boleh ya.
Kemudian Ibnu Qayyim berkata, ini
dalil-dalil tentang bahwasanya Allah ee
malu kepada sesuatu dan tidak malu
kepada sesuatu ya. Wa hayaab kata Ibnu
Qayim, adapun rasa malu Allah min abdihi
naun akar, malu Allah kepada hambanya
ini jenis ini sejenis yang lain. La
tudrikul afham. Maka ini tidak bisa
dipahami oleh pemahaman. La tukaiful
uqul dan tidak bisa dibagaimanakan oleh
akal. Masalah sifat kita enggak tahu
bagaimana zat Allah, kita tidak tahu
bagaimana sifat malu Allah. Cuma kita
maknanya kita paham malu ya. Finnahuun
karamin win w judin wa jalalin. Malunya
Allah itu malu karena saking baiknya,
saking dermawannya, saking agungnya.
Saking agungnya sampai tadi saking
agungnya masa hamba ini berdoa tidak
dikasih. Allah maha baik. Allah malu
kalau enggak karena saking agungnya. Ya
saking agungnya ya.
Fainnahu beda dengan manusia tadi kalau
malu karena ada kekurangan. Fainnahu
tabaraka wa taala hayyun karim.
Sesungguhnya Allah itu hayyun karim.
Maha malu, maha baik. Yastahi abdi
malu jika ee
ada hamba minta-minta kemudian tidak
kasih. Ibarat kita kita kaya raya
misalnya ini walillahil matul ala Allah
maha kaya. Ada orang kaya tahu-tahu ada
orang miskin minta sedikit terus kita
enggak kasih kita malu. Ngapain kita
enggak kasih? Kita bisa malu enggak
kasih dia karena kita kaya kenapa enggak
kasih? Walillahilala bagi Allah
perempuan yang tinggi. Maka Allah saking
dermawannya, saking baiknya Allah malu
jika tidak memberi kebaikan kepada
hambanya. Kalau hambanya berdoa tidak,
Allah kabulkan. Maka asalnya Allah
kabulkan doa hamba yang angkat tangan
menangis, dia punya masalah dia minta
kepada Allah, Allah kabulkan. Hanya saja
kalau tidak kabulkan biasanya karena ada
sesuatu tidak maslahat atau memang Allah
ingin mengujinya lagi agar lebih baik.
Ya. Kemudian Syekh Abdul Raz kasih
faedah, wamahya minallah istahyallahu
minhu. Siapa yang malu dari Allah ya
maka Allah juga malu dari dia. Ya. Ya.
Wallahu jalla waala hayyun yuhibbul
haya. Allah maha pemalu dan Allah
menyukai rasa malu.
Maka wajib bagi seorang hamba mukmin
untuk malu kepada Allah. Untuk malu
kepada Allah. Kalau dia malu kepada
Allah akan malu tidak kasih kebaikan
kepada dia. Aljaza am balasan sesuai
dengan balasan sesuai dengan perbuatan.
Kalau dia malu kepada Allah
ya malu maksiat, malu tidak taat maka
Allah akan malu kepada dia. Tidak
memberikan kebaikan. Malu kalau Allah
tidak berikan kebaikan kepadanya maka
Allah akan berikan banyak kebaikan.
Wal wajib alilminahiqmi
bihi. Seorang hamba Allah yang mukmin
wajib untuk malu kepada Allah sesuai
dengan kadar kedekatannya kepada Allah.
Ya. Dan dia tahu bagaimana Allah
mengetahui dia dan Allah dia tahu Allah
menelaah dia yaitu Allah mengawasinya.
Muadiman lijanabir dia harus
mengagungkan sisi Allah subhanahu wa
taala muqaddiman mahabbahu ala klil
mahab. Dan dia mendah mendahulukan apa
yang Allah cintai daripada seluruh
perkara. Ya. Ya. Apa yang sukai dia
harus dahulukan yang Allah sukai.
Waomul haya waabuhu ajaluhu. Dan rasa
malu yang paling tinggi kedudukannya,
yang paling mulia adalah malu dari Allah
Subhanahu wa taala, pencipta seluruh
makhluk. Ya, malu dari zat yang telah
menciptakanmu
dan memberikan engkau berbagai macam
nikmat dan berbagai macam anugerah.
Tib. Kemudian setelah itu ini kita malu
kepada orang saleh baik. Kita malu
kepada suami, kita malu kepada istri,
kita malu kepada tetangga itu semua
baik. Malu kepada makhluk. Tapi malu
yang lebih agung adalah malu kepada
Allah Subhanahu wa taala. Kemudian Syekh
Abdur Razak hafidahullahu taala
menyebutkan tentang empat sebab agar
atau tiga sebab agar orang bisa malu.
Ini sekarang tiga sebab agar malu kepada
Allah.
Ini poin yang yang tadi hanya pengantar.
Maka ini adalah praktik yang ingin kita
bagaimana sih kita malu kepada Allah?
Yang pertama adalah
ee mengingat
mengingat nikmat-nikmat Allah kepada
kita.
Nikmat-nikmat Allah
kepada kita
yang begitu banyak. Yang Allah
berfirman, "Wain taudu nikmatallahi la
tuhsuha." Kalau kalian menghitung-hitung
nikmat Allah, kalian tidak bisa
menghitungnya. Kita ini apa yang kurang?
Masyaallah, begitu banyak kenikmatan.
Kenikmatan jasad, kenikmatan rohani,
kenikmatan berkeluarga.
kenikmatan bisa ngaji, kenikmatan bisa
beribadah, kenikmatan bisa banyak
kenikmatan kenikmatan aman ya kata Allah
waakumulum
kata Allah berikan apa yang kalian minta
dalam sebagian qiraat waakum minum Allah
berikan kepada kalian apa yang kalian
tidak minta banyak hal yang kita tidak
minta Allah berikan karena itu maslahat
bagi kita banyak kita enggak minta Allah
kasih ya berarti Allah perhatian banyak
sekali ada yang ada yang kita minta ada
yang Allah kasih, ada yang tidak Allah
kasih karena mungkin tidak masuk
tapi banyak perkara yang kita tidak
minta Allah kasih. Banyak sekali
petunjuk, hidayah, kenikmatan
banyak sekali. Maka kalau kita ingat
tersebut ee kita malu kepada Allah kalau
tidak taat kepada Allah. Kata Ibnu Rajab
Alhambali, waqwalladul minallah minatam.
Di antara
rasa malu kepada Allah bisa muncul
dengan mengingat nikmat-nikmat yang
Allah berikan kepada hamba.
Maka hamba akan malu. Dia sudah
diberikan nikmat banyak. Kemudian dia
gunakan nikmat tersebut untuk
membangkang kepada Allah.
Dan ini termasuk
iman yang tinggi. Benar. Kita malu
maksudnya ibaratnya kita [tertawa] apa
namanya kerja sama orang, orang itu baik
kasih kita gaji tiap bulan. Tapi kita
ternyata untuk berkhianat kepadanya.
Kita malu dia baik sama kita.
Apalagi Rabbul alamin yang menjaga kita
dari sejak kita kecil sampai kita besar.
Berbagai macam nikmat. Kemudian kita
gunakan nikmat tersebut untuk
bangkangnya. Kita diberikan nikmat
pandangan untuk melihat maksiat kita ya
banyak ya diberikan uang kita gunakan
foya-faya yang malu. Yang kasih ini
semua adalah Allah Subhanahu wa taala.
Kata Ibnu Rajab kalau orang mengingat
nikmat-nikmat ini semua dari Allah maka
dia malu untuk menggunakannya untuk
maksiat. Ya,
makanya di antara ee
ee sehingga malu
menggunakan nikmat tersebut
untuk maksiat.
Makanya di antara qiraah yang apa
namanya tafsir ketika Nabi Yusuf Alaih
Salam dirayu oleh Imraatul Aziz atau
Zulikha maka dia mengatakan kata Nabi
Yusuf innahu rbi
ahsana matwaya.
Kata Nabi Yusuf, "Sungguhnya Rabbku," di
antara tafsiran Rabbku, maksudnya
majikanku, di antara tafsiran,
"Sungguhnya Allah,
Allah telah berbuat baik kepadaku."
Telah baik kepadaku,
yaitu bagaimana Allah telah berbuat
kepadaku kemudian aku berzina.
Ini di antara hal yang mencegah seorang
untuk bermaksiat, dia ingat nikmat
terlalu banyak. Malu. Malu kita
membangkang perintah Allah. Malu kita
bersendirian kemudian kita lihat yang
enggak enggak malu. Allah kasih kita
nikmat. Allah nutup aib kita, Allah
kasih kita keluarga, Allah kasih istri,
Allah kasih suami, Allah kasih anak,
Allah kasih banyak nikmat. Kasih
pekerjaan Allah kasih makan, Allah.
Terus kita bermaksiat. Kita gunakan
nikmat tersebut untuk membangkang sang
pemberi nikmat. Maka kalau kita
renungkan ini, kita jadi malu untuk
bermaksiat. Maka ini menimbulkan rasa
malu. Kata Ibnu Rajab al-Hambali. Ini
yang pertama. Yang kedua, mengingat
mengingat mengingat-ngingat kekurangan
kita dalam menegakkan hak Allah.
Kekurangan kita
dalam menunaikan hak Allah.
Ya waqiamika bima yajibu lahu alaika
subhanahu min imtalil makmuril mahdur ya
itu kita renungkan kita ini kan
diperintah oleh Allah untuk ibadah dan
meninggalkan maksiat dan kita tahu kita
kurang kurang dalam apa dalam
menjalankan ketaatan
kurang dalam meninggalkan maksiat kita
masih kurang.
Masih sering
gibah, mungkin masih sering melihat yang
tidak-tidak, masih sering buang-buang
waktu, masih banyak
sehingga kita malu sama Allah Subhanahu
wa taala.
Ini ee makanya kalau kita habis salat,
kita bilang astagfirullah,
astagfirullah. Kita salat kayak apa?
Salat kita baca Quran enggak serius.
Baca Quran sambil mikir ke sana kemari.
Ngaji enggak serius ya seperti saya,
Ustaz mungkin dakwah enggak kurang
kurang semangat. dakwah kurang ikhlas
ya. Banyak hal yang kita malu kalau
dihisab oleh Allah Subhanahu wa taala.
Kurang berbakti pada orang tua. Ee masih
banyak kekurangan kita akui dan maksiat
masih sering kita melanggar-melanggar.
Maka kita malu karena belum bisa
menjalankan perintah Allah dengan
baik. Makanya eh Allah berfirman tentang
orang-orang yang saleh walladina yu
walladina yutuna ma atu waubum wajilah
annahumim rojiun. Dan orang-orang yang
melakukan amal s yang mereka lakukan
hati mereka takut. Mereka banyak beramal
s mereka takut karena mereka tahu amal
mereka enggak tahu amal mereka diterima
atau tidak. Tib di antara hal yang
menjadikan seorang timbul rasa malu
kepada Allah Subhanahu wa taala yaitu
dia tahu Allah maha mengawasinya.
Allah maha mengawasinya. Alam ya alam
biallah ya. Tidakkah dia tahu Allah maha
melihat? Inallah alikum rqibah.
Sesungguhnya Allah maha raqib. RQB itu
mengawasi. Melihat terus dengan seksama
dengan penilaian.
Ya tadi Rasulullah mengatakan, "Istahyi
minallah kama tastahyi."
Istahyi minallah kama tastahyi rajulan
shihan eh
min shihan min eh apa tadi kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam? Eh
antastahyallah kama tastahya rajulan
shihan minika. Antastahiyallah hendaknya
kau malu kepada Allah sebagaimana kau
malu terhadap orang saleh dari kaummu
kita. Kalau tadi
orang saleh lihat kita, kita malu.
Orang saleh lihat kita, kita malu. Kita
enggak enggak mungkin macam-macam. Nah,
ini Allah Subhanahu wa taala maha
melihat ya. Maha melihat. Kita tahu
Allah senantiasa mengawasi kita.
Seharusnya kita malu kepada Allah
Subhanahu wa taala. Ya, makanya dalam
suatu pernyataan salaf, la tajalillaha
ahwanirina
alaik. Jangan kau menjadikan Allah
adalah yang paling remeh dari
orang-orang yang mengawasimu. Ya,
artinya kita kita begini, kita kalau
melakukan maksiat, ada anak kecil aja
kita malu, ada orang lihat kita malu.
Tapi kalau Allah lihat kita, cuekin aja.
Seakan-akan Allah yang paling
tidak kita anggap. Kalau Allah yang
lihat, kita cuek aja.
Tapi kalau orang lain lihat kita malu,
ya. Maka seorang kalau yakin Allah
sedang melihatnya, sedang menilainya,
maka dia malu kepada Allah Subhanahu wa
taala. Ya.
Dan ini perlu kedekatan kepada Allah,
perlu punya hubungan batin connecting
dengan Allah. Seorang yang sering
connecting, menikmati kesendiriannya
dengan Allah, salat malamnya, dia baca
Quran, dia berinteraksi dengan Allah,
maka dia akan timbul rasa malu.
Ya, ini perlu dia. Jadi, maksud saya
Allah mengawasinya dan dia apa ya?
Baguskan hubungan dengan Allah. Baguskan
connecting hubungan dengan Allah.
Dalam salat malamnya ketika baca Quran
dia sedang membaca firman dia
menghadirkan dia sedang seperti salat
kata Nabi sahu alaihi wasallam in
ahadakum fati fahua yunajibahu
sesungguhnya seorang ketika sedang salat
dia sedang berbisik-bisik kepada Allah
subhanahu wa taala ya
Ibnu Rajab berkata ya
Islam waid hasuna al Islam kalau Islam
seorang baik
Ya, di antara aplikasi sekarang disebut
aplikasi bagaimana ee aplikasi orang
yang malu kepada Allah. Orang yang malu
kepada Allah dia Islamnya baik dan dia
akan meninggalkan perkara yang tidak
pantas dia lakukan. Minal muharramat,
dia akan meninggalkan perkara yang
haram. Wal musytabihat, perkara syubhat
dia akan tinggal. Dia malu sama Allah.
Wal makruhat, dia akan meninggal perkara
yang makruh. Wa fudulal mubahat. Bahkan
terlalu berlebih-lebihan dalam perkara
yang mubah pun dia enggak dia malu.
Terlalu banyak jalan-jalan, terlalu
banyak omong, terlalu banyak hura-hura,
terlalu banyak kulineran, terlalu banyak
yang begitu dia malu. Ya, dia malu.
Allati la yuhtaju ilaiha. Ya, yang tidak
perlu seorang muslim melakukannya. Jika
sempurna Islamnya maka dia telah
mencapai derajat ihsan dan dia malu
melakukan ini semua.
Ya wahuaudullahu
yarahu dia akan beribadah kepada Allah
seakan-akan Allah melihat dia.
Seakan-akan dia melihat Allah dia
beribadah kepada seakan dia melihat
Allah. Jika dia tidak mau melihat Allah
maka dia yakin Allah melihatnya.
Islam. Siapa yang beribadah kepada Allah
dengan menghadirkan bagaimana Allah
dekat dengan dia, bagaimana Allah selalu
menyaksi dan dia merasa dia dekat dengan
Allah dan dia dia menyaksikan Allah
dengan hatinya dan dia tahu Allah dekat
dengannya dan Allah selalu mengawasinya
melihat perbuatannya maka telah bagus
Islamnya dengan demikian dia akan
meninggalkan perkara yang tidak perlu
dan dia akan sibuk dengan perkara yang
perlu
fnahuatawalladu
minil maqini altihya minallah
Siapa yang sibuk dengan ee apa namanya?
Dengan dengan ihsan yaitu merasa Allah
Subhanahu wa taala selalu mengawasinya
dan dia juga menghadirkan bahwasanya
Allah dekat dengan dia, dia bisa melihat
Allah dengan hatinya, maka ini
melazimkan dia malu untuk melakukan yang
tidak perlu.
Ini di antara tadi ee harus ada
kedekatan dengan Allah, yaitu merasa
Allah mengawasi atau menghadirkan dia
sedang melihat keagungan Allah, maka dia
malu ee buang-buang waktu dia malu.
Tidak, ini bukan urusan dia, dia malu.
Dia harus beribadah kepada Allah.
Ngapain habiskan waktu untuk seperti
ini? Ini antara salah satu aplikasi malu
kepada Allah Subhanahu wa taala.
Maka kata Syekh,
"Inilah tiga perkara yang bisa
menggerakkan hati."
Kapan hati itu mengagungkan Allah, cinta
kepada Allah subhanahu wa taala, tahu
bahwasanya Allah senang melihatnya,
menelaahnya, mengawasinya dan tidak ada
satupun yang tersembunyi bagi Allah,
maka hatinya akan malu kepada Allah
Subhanahu wa taala. Kemudian kalau sudah
malu kepada Allah akan muncul kebaikan
dan meninggalkan segala kemaksiatan dan
akan muncul akhlak yang mulia. Tib. Di
akhir pembahasan
ee Syekh menyebutkan empat perkara yang
tadi di awal hadis Rasulullah mengatakan
istahyu minallahi haqqal haya. Malulah
kepada Allah.
Ini sekarang aplikasi ya. Kalau ini tadi
cara tiga sebab agar malu kepada Allah.
Sekarang empat aplikasi
agar benar-benar malu kepada Allah
dan malu kepada Allah berdasarkan tadi
berdasarkan hadis tadi yang kita
sebutkan. Yang pertama kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam eh anahfadar
waa jaga kepala
dan apa yang dikandungnya.
Maka di sini yang dikandung oleh kepala
banyak ya. Di antaranya adalah
penglihatan mata,
telinga,
apalagi lisan. Ya, ini perkara yang
urgen ya. Mata jangan melihat yang
haram, telinga jangan mendengar yang
gibah dan namimah, musik-musikan.
Lisan agar dijaga tidak mengucapkan
kata-kata yang haram. Ya.
Ya. Ini ini, ini yang pertama. Kemudian
yang kedua kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, jaga
perut dan apa yang dikandungnya
dan yang dikandungnya.
ee disebut sini yang dikandung oleh ee
perut misalnya jangan
makan haram.
Jangan sekali-sekali makan dari hasil
yang haram.
Kemudian juga ee jaga hati ya karena
dalam hati dalam perut kita ya itu
maksudnya dalam anggota dalam tubuh kita
ya. dimaksud jaga hati dari akhlak yang
buruk, dari yang tidak benar ya. Ee
kemudian juga jaga kemaluan ya.
Ya, ini namanya ee seorang menjaga perut
dan apa yang dikandungnya ya. Ini
benar-benar rasa malu dan benar ini
secara sederhana. Kalau malu sama Allah
pasti enggak berani lihat yang haram.
Kenapa kita nekad lihat yang haram?
Kenapa kita nekad ngeklik film-film
situ? menampakkan aurat yang tidak boleh
kita karena kita kurang rasa malu sama
Allah. Kenapa kita nekad mendengar
hal-hal yang haram, musik-musikan ya
karena kita kurang malu kepada Allah.
Kenapa di sana kita bicara? Karena kita
tidak merasa diawasi oleh Allah
Subhanahu wa taala. Kalau kita malu,
kita enggak akan menggunakan mata kita
untuk men yang haram. Ya, malu Allah ee
kenapa kita nekat makan yang haram?
Sementara rezeki Allah kasih. Cuma kita
nekad melanggar perintah Allah makan
yang haram. Kita enggak jaga mulut kita,
kita jaga hati kita. kita enggak jauh
kemaluan kita.
Ini perkara yang ketiga. Perkara yang
keempat
kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Wa ankural mauta wal bil." Ingat
kematian.
Ingat kematian
dan rusaknya jasad.
Ini penting sekali agar kita
mengaplikasikan rasa malu. Saya bacakan
ya. Ee
faman tadakaral maut kata Syekh Abdur
Razakaro
annahuamutabla. Siapa yang tahu dia
bakalan mati dan jasadnya akan rusak,
akan dimakan oleh cacing. Ya, sekarang
aja sudah mulai rusak, mulai tua, mulai
keriput, mulai rusak.
Dan dia akan berdiri di hadapan Allah
untuk dihisab.
Allah akan menghisabnya pada hari kiamat
kelak alq dan apa yang atas apa yang
telah dia lakukan dalam kehidupannya
istahya minallah maka dia akan malu
kepada Allah untuk bertemu dengan Allah
pada hari kiamat dengan amal-amal yang
buruk dengan perangnya perangnya yang
buruk dia malu kalau dia sudah malu dia
ingat dia bakalan mati akan ketemu Allah
cabut nyawa saya sekarang saya akan
ketemu Allah saya malu ketemu Allah
dengan amal seperti ini. Saya malu
ketemu Allah dengan ya kita amal masih
kayak gini ya masih banyak maksiat,
masih melanggar, masih pelit, malu ya.
Maka kalau dia ingat mati dan ingat akan
di diberdirikan oleh Allah akan dihisab,
dia malu bertemu Allah dengan amal yang
buruk, maka dia akan berbuat baik.
Ya,
ini ee ini di antara ee ingat kematian
membuat kita malu ya. Apakah kita rida
di rasanya gampangnya gini, apakah
engkau rida di mati kemudian dibukakan
catatan amalmu? Ternyata isinya
film Korea, film India, film box office.
Kemudian
bukan isinya bukan malaikat tidak
mencatat baca Quran amal saleh. Enggak.
Bukan isinya zikir, tapi isinya gibah
namimah. Malu ya. Malu. Malu dibuka
catatan amalnya. Ternyata seperti itu
malu. Maka ketika ingat kita akan
dihisab oleh Allah, dibuka catatan amal
kita, berusaha catatan amal kita ditulis
oleh malaikat yang baik-baik. Malu.
Kemudian yang berikutnya, yang keempat
eh waman aradal akhirat taraka zinatal
haid dunia.
Siapa yang ingat akhirat
akan meninggalkan
perhiasan dunia.
Perhiasan dunia ya. Ee saya bacakan ya.
Famin tahqiqil haya. Kata Syekh Abdul
Razak, "Di antara cara merealisasisikan
realisasikan rasa malu kepada Allah
alyagilal abdu bifitanid dunya
wugriatiha."
Jangan seorang hamba tersibuk dalam
fitnah-fitnah dunia dan yang menipu
menipunya wamuliyat yang melalaikan dia.
Ya, malulah.
Ee siapa yang kita bikin katanya ingin
cari akhirat tapi sibuk dengan kegiatan
tidak manfaat. Jalan sana, jalan sini,
hurah sana, hurah-hurah sini. Yaakaru
annahualu sayalqallah waahuat dia harus
ingat dia akan ketemu Allah dan dunia
akan dia tinggalkan kita akan ninggalk
tapi kita sibuk dengan dunia malu wa
innahu
yauman minalyamiqri dan suatu hari dia
akan dimasukkan dalam kuburan wahidan
sendirian ma amal dunia tidak akan dia
bawa dalam kuburan yang menama dia cuma
amal salehnyail
mauta wal bila dan hendaknya dia ingat
kematian dan rusaknya jasadnya.
Fa tadakaro annahu sayamutubu kalau dia
ingat dia bakalan mati, dia akan rusak
jasadnya dan dia akan dihisab oleh Allah
subhanahu wa taala dan dia akan
meninggalkan dunia ini, ya
maka
dia akan malu kepada Allah melakukan
ketaatan maksiat. Kemudian beliau
sebutkan
agar dia rasa malu timbul selalu kepada
Allah. Dia selalu ingat bahwasanya di
depan dia ada hari akhirat. Apa yang
Allah siapkan di akhirat ada dua.
Kemungkinan dapat nikmat, kemungkinan
dapat azab. Maka kemudian Nabi berkata,
akhir dunya. Siapa yang ingin akhirat
dia pasti meninggalkan perhiasan dunia.
ak dia malu kalau ternyata dia hidup ini
hanya mencari dunia. Beramal saleh untuk
mencari sanjungan. Malu beramal saleh
untuk mencari dunia.
Dia malu ya
karena dia mencari akhirat.
Fayuqbilu alal amalakiah wal akqil
fadilah mustamir alaiha. Maka kalau dia
ingat dia akan menuju akhirat maka
dia malu sehingga dia melakukan banyak
ketaatan.
dan dia meninggalkan perkara-perkara
yang buruk. Ya.
Kemudian Allah kemudian belia
menyebutkan firman Allah aral akhir was
wahua mmin siapa yang menginginkan
akhirat dan berusaha menuju akhirat maka
itulah orang beriman. Faulaik maskur
itulah orang-orang yang nanti usahanya
atau amalnya akan dibalas oleh Allah
dengan kebaikan.
Jadi
malu kalau cari dunia, malu kita dunia
akan kita tinggalkan. Kita bertemu Allah
ya. Kalau kita ingin akhirat harusnya
kita malu. Jangan sampai kita riak. Malu
amal saleh karena riak. Malu cari amal
saleh untuk dipuji saja, untuk
disanjung, untuk dapat like. Malu kita
beramal saleh karena Allah. Jadi malu
kita ee apa namanya? Ee tenggelam dalam
dunia. Malu ya.
Malu kita punya uang terus kita buat
foya-fe malu ya. Punya uang ya kita
sedekah ya. Kita bukannya tidak boleh
senang-senang. Boleh senang-senang tapi
terlalu banyak kita malu.
Malu untuk menggunakan uang berlebihan
urusan kesenangan dunia ya. Ya. Ya.
Jalan-jalan sana kemari malu. Waama
yunzaul minal abdi fala halakati. Kalau
rasa malu sudah dicabut dari seorang
hamba, maka jangan kau tanya tentang
kebinasaannya
dan akan berkumpul pada dirinya
keburukan-keburukan yang banyak. Ya,
telah Nabi telah mengabarkan di antara
nasihat yang diwariskan dari para nabi
sebelumnya, yaitu jika kau tidak malu,
lakukan apa yang kau sukai. Ya, apa yang
kau sukai. Ini menunjukkan bahwasanya
siapa yang dicabut rasa malunya dia
tidak peduli dengan keburukan yang dia
lakukan. Dia tidak peduli dengan maksiat
yang dia lakukan. Kenapa rasa malunya
sudah hilang? Ya, dia tidak malu kepada
Allah dengan dosa-dosa yang dilakukan.
Dia tidak malu ya tenggelam dalam
perbuatan-perbuatan nista ya. Jiwanya
menjadi hina ya. Ya, karena dia tidak
punya rasa malu kepada Allah Subhanahu
wa taala. Maka wajib bagi kita untuk
memperbaiki jiwa kita. Kalau jiwa kita
masih tidak punya malu, kita perbaiki.
Di antaranya tadi ingat kematian, ingat
akan ada hisab ya, sehingga kita malu
kepada ingat bahwasanya Allah melihat
kita, Allah selalu mengawasi kita, ingat
nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada
kita. Maka dengan demikian insyaallah
kita memiliki rasa malu kepada Allah
Subhanahu wa taala. Wallahu taala alam
bawab. Ini mungkin saya sampaikan
terkait dengan bab ini ya. Dan ini
sangat kita perlukan karena terus terang
tidaklah kita berani iseng-iseng lihat
yang tidak benar, tidak buang-buang
waktu yang tidak ada manfaatnya kecuali
karena rasa malu kita kepada Allah
kurang. Kalau kita tahu kita bakalan
ketemu Allah dan semua perbuatan akan
dibuka oleh Allah tentunya kita malu.
Tentunya kita malu. Makanya Fudil bin
Iyad mengatakan w sauata minka wain
afaut.
Malu kepada Engkau ya Allah meskipun kau
ampuni dosa-dosaku itu. Karena pada hari
kiamat kelak Allah akan buka dosa-dosa
seorang malu. Meskipun mungkin Allah
ampuni tapi dia malu. Ternyata pernah
ada catatan hitamnya dalam dia malu
kalau diungkap nanti pada hari kiamat.
K. Maka kalau orang malu dia tidak ingin
catatan amalnya tercoreng dengan yang
buruk-buruk. Dia ingat kalau melakukan
maksiat aduh nanti dicatat oleh
malaikat. Kalauat malaikat nanti Allah
buka pada hari kiamat kelak. Malu
sehingga dia berhenti. Wallah taalaam
baf. Demikian saja. Wabillahi taufik
hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.