Mukhtasor Zadul Ma'ad #12: Sunah-Sunah Terkait Safar - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
LrP5jDzi1yY • 2025-10-28
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu
ala taufiqihin ashadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarika lahu takiman wa
ashadu anna muhammadan abduhu wa rasul
ridwan allahumma sholli alaihi wa ala
alihi wa ashabihi wa ikhwani. Kita
lanjutkan pembahasan kita tentang
petunjuk-petunjuk Nabi. Pada pertemuan
lalu kita sampai pada di antaranya
petunjuk salat apa? Ger gerhana. Ya,
perlu kita ingatkan salat gerhana satu
rakaat dua kali ruku dan dua kali
al-Fatihah. Dua kali alfa fatihah. Tapi
al-Fatihah yang pertama rukun salat,
al-Fatihah kedua sunah. Seandainya
seorang lupa Al-Fatihah, dia langsung
baca surat, maka dia sujud sah sahwi.
Ya, yang yang yang al-Fatihah di rakaat
di rukuk pertamalah yang merupakan ee
rukun salat bab. Sekarang kita lanjutkan
salat al-istisqa. Al-istisqa
maknanya adalah meminta hujan. Meminta
hujan. Dan lawannya adalah al-istisha,
yaitu minta agar hujan berhenti. Rasul
sahu alaihi wasallam pernah melakukan
istisha tapi bukan salat, hanya doa ya.
Doa minta berhenti hujan ya. Kadapun
kalau istisqa ada salat ada juga tanpa
salat. Maka cara Nabi minta hujan
disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah
ada enam model Rasul Sallahu Alaihi
Wasallam minta hujan. Yang pertama,
Rasul Sallahu Alaihi Wasallam ketika
hari Jumat di atas mimbar ketika salat
Jumat kisahnya makruf ada seorang datang
mengatakan, "Ya Rasulullah ee halaqatil
amwal wqata subul ya udullah
anyugisana." Rasulullah sedang
berkhotbah Jumat, dia interupsi. Dia
mengatakan, "Ya Rasulullah, ee
hewan-hewan sudah ee mati, kemudian
jalan-jalan sudah terputus ya karena
musim kemarau yang panjang. Maka
berdoalah kepada Allah agar Allah
turunkan hujan. Maka Rasul sahu alaihi
wasallam kemudian di tengah-tengah
khotbah angkat tangan. Kemudian beliau
berdoa, "Allahumma agitna, Allahumma
agitna, Allahumma agitna." Ya. Maka
beliau pun berdoa ee Allahumqina, "Ya
Allah, turunkan hujan bagi kami.
Turunkan hujan bagi kami." Itu ketika
hari Jumat di atas mimbar ketika khotbah
salat Jumat. ketika
khotbah salat Jumat.
Khotbah
Jumat ya.
Ini cara pertama. Jadi tanpa salat. Ini
tanpa salat. Yang kedua dengan cara
salat. Ini ini dengan cara salat. Jadi
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
mengajak orang-orang untuk keluar ke
musalla ke tanah lapang. Tanah lapang.
Kemudian ee tatkala matahari terbit maka
Rasul sahu alaihi wasallam menuju ke
tempat lokasi musalla tempat salat
istisqa mutawadi'an mutabadilan yaitu
dengan penuh tawadu ya kemudian dengan
penuh merendah mutakhasyian dengan
khusyuk mutarasilan berjalan dengan
tenang mutadarrian dengan sangat
berharap kepada Allah subhanahu wa taala
kemudian Rasulullah sahu alaihi wasallam
pun ee ee setelah salat kemudian beliau
berkhot khotbah. Jadi setelah salat ada
khotbah ya.
ee di antaranya ee
jadi ee untuk salat istisqa ee khotbah
terlebih dahulu. Khotbah terlebih dahulu
berbeda dengan salat salat Id. Jadi
sampai ke lapangan beliau kemudian ee
naik mimbar kemudian beliau berkhotbah
di hadapan para sahabat. Di antara
khotbah yang disampaikan beliau
mengatakan alhamdulillahi rabbil alamin
arrahmanirrahim maliki yaumiddin. La
ilahaillallah yaf'alu ma yurid. Tidak
ada yang berhak disembah kecuali Allah.
Dia melakukan apa yang dikehendaki.
Allahumma antallahu la ilaha illa anta
taf'alu ma turid. Ya Allah, tidak ada
yang berhak disembah kecuali Engkau.
Engkau melakukan apa yang Kau kehendaki.
Allahumma antallahu la ilaha illa anta
antal ghaniyu wahnul fuqara. Ya Allah,
tidak ada sembahan selain Engkau.
Engkaulah yang maha kaya. Adapun kami
adalah fuqara. Anzil alainal gita.
Turunkanlah hujan bagi kami. Ya wajal ma
anzaltana quatanaganin. Jadikanlah apa
yang kau turunkan bagi kami adalah untuk
daya dan upaya kami. Kemudian beliau
mengangkat kedua tangan beliau. Ya.
Kemudian mengangkat tangan sangat tinggi
sampai terlihat putih ee ketiak beliau.
Kemudian beliau ee
balik menghadap kiblat ya menjadikan
punggung beliau ke jemaah. Kemudian
beliau menghadap kiblat. Kemudian juga
beliau membalikkan selendang beliau ya
ridak beliau. Beliau balik yang dari
kanan pindah ke kiri, yang kiri pindah
ke ke kanan. Kemudian yang di bawah
pindah ke atas, yang atas pindah ke ke
bawah. Ya.
Ee ketika itu Rasul Sallahu Alaihi
Wasallam ridanya berwarna hitam ya.
Kemudian beliau berdoa menghadap kiblat
dan orang-orang pun mengikuti.
Dan disebutkan Rasulullah membalikkan ee
rida beliau supaya Allah merubah suasana
dari musim kemarau menjadi musim apa?
Hujan. Dengan harapan demikian. Kemudian
Rasulullah turun dari mimbarnya atau
selesai khotbah. Kemudian Rasul Sallahu
Alaihi Wasallam salat dua rakaat seperti
salat Idan,
tanpa iqamat, tanpa ada panggilan sama
sekali dengan jahriyah. Di rakaat
pertama baca alfatihah dan sabbihisma
rabbikal a'la. Dan rakaat kedua
alfatihah sama hal ataka haditul
ghasiah.
Jadi di sini bedanya
khotbah dulu.
baru apa? Baru salat.
Bab ini model kedua ini yang kita
dikenal dengan apa? Salat. Salat istisqa
yang ketiga yaitu Rasulullah sahu alaihi
wasallam pernah berkhotbah di atas
mimbar ya beliau di atas mimbar berdoa
minta hujan bukan tatkala salat Jumat
dan juga bukan tatkala sedang sedang
salat ya. Jadi di atas mimbar berdoa
bukan hari Jumat dan juga tanpa salat.
Ini cara ketiga. Cara keempat beliau
pernah minta hujan ketika beliau sedang
duduk di masjid ya. Lalu beliau angkat
kedua tangan beliau kemudian berdoa. Di
antaranya doa yang diiwayatkan beliau
berdoa Allahumqina gitan marian thabaqan
ajilan giri roit nafian ghairar. Ya
Allah turunkanlah hujan kepada kami.
Hujan yang lebat ya yang apa namanya ee
meliputi ee tempat kami segera dan tidak
tertunda, bermanfaat dan tidak beri
mudarat. Ya,
ini yang model ketiga. Rasulullah juga
pernah minta
doa hujan dengan berdoa ketika beliau
keluar dari masjid, yaitu di sebuah
tempat yang sekarang dikenal dengan Babu
Salam. Kemudian beliau di sebelah kanan
masjid kalau keluar ya sekarang di
sampai sekarang juga tetap dikenal
dengan Babussalam. Maka beliau berdoa
minta hujan.
Ee ini yang kelima. Kemudian yang
keenam, ketika sedang perang, saya
bacakan riwayatnya. Ketika dalam
sebagian perang, kaum musyrikin terlebih
dahulu sampai ke sumber air. Akhirnya
sumber air dikuasai oleh kaum musyrikin.
Maka kaum muslimin pun mengalami
kehausan. Maka mereka pun mengadu kepada
Rasulullah sahu alaihi wasallam.
Kemudian sebagian orang munafik yang
ikut serta perang akhirnya mengejek.
Mereka berkata, "La kana nabian lastasq
liquiaasq Musa liquumi." Kalau memang
Muhammad seorang nabi, tentunya dia akan
berdoa minta hujan atau minta air hujan
sebagaimana Nabi Musa pernah berdoa
untuk kaumnya minta hujan. Maka omongan
orang munafik sampai kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Kemudian
Rasulullah berkata, "Awaqadqa, apakah
mereka mengucapkan demikian?" "Abukum
ayusqiakum atau ayasqiakum?" Semoga
Allah memberi air kepada kalian. Maka
Rasul Sallahu Alaihi Wasallam pun
membentangkan tangannya lalu beliau ee
berdoa. Tatkala beliau menurunkan kedua
tangannya maka datanglah ee awan
kemudian menurunkan hujan ya. Maka
akhirnya mereka pun minum air dari hujan
tersebut. Ini ketika ee di tengah-tengah
peperangan. Di antara doa yang beliau
baca ketika itu, Allahumasqi ibadaka wa
bahaaka. Ya Allah berilah minum kepada
hamba-hamba-Mu,
kepada hewan-hewanmu, ya. Wansyur
rahmatak wa ahyi baladakal mayit.
Tebarkanlah rahmatmu dan hidupkanlah
negerimu yang tandus. Ya Allahumqina
ghaitan mugitan marian marian nafian
ghair ajilan ghair ajil. Ya, maknanya ee
sama yaitu hujan yang lebat yang
meliputi segala tempat yang bermanfaat
dan tidak beri mudarat segera dan tidak
tertunda.
Tib ini ee
di antara Nabi doa minta hujan
dalam satu riwayat ya Rasulullah sahu
alaihi wasallam pun minta ee pernah
datang Abu Lubabah kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Kemudian dia
berkata, "Ya Rasulullah, ee kurma ya ee
ada ber di tempat pengeringan kurma."
Maka Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
kemudian berdoa, "Ya Allah, turunkanlah
hujan sampai Abu Lubabah berdiri tidak
menggunakan kain atas. Kemudian dia
menutup lubang di tempat pengeringan
kurma." Ya. Maka akhirnya turun hujan.
Hujan tidak berhenti. Orang-orang bilang
kepada Abu Lubabah, "Wahai Abu Lubabah,
hujan tidak akan berhenti sampai kau
pergi tidak pakai baju atasan. Kemudian
kau tutup lubang dengan sarungmu di apa?
Lubang di atap tempat pengeringan
kurma." Sebagaimana Rasulull sahu alaihi
wasallam berdoa maka Abu Lebab pun
melakukan demikian. Maka hujan pun
berhenti.
Itu namanya istisqa intinya istisqa
adalah doa minta hujan. Ini semua doa
minta hujan.
Hujan yang berkah ya. Jangan minta hujan
banjir ya. Hujan yang berkah ya. Dan
dianjurkan untuk banyak istigfar karena
di antara sebab tidak turunnya hujan
berkah karena dosa-dosa.
Ee bisa dengan salat, bisa juga dengan
tanpa salat.
Dan lawannya adalah istisha yaitu minta
berhenti doa ya. Ketika ada orang Arab
yang tadi ketika Nabi sedang khotbah
Jumat kemudian dia minta minta agar
Rasulullah mintakan hujan. Rasulullah
berdoa akhirnya turun hujan sampai
seminggu penuh tidak berhenti. Akhirnya
Jumat berikutnya masih hujan orang itu
pun datang. Dia bilang, "Ya Rasulullah,
sama halqatil amwal wa qata subul,
binatang-binatang kesusahan ya,
jalan-jalan terputus." Kenapa? Karena
hujan yang tidak berhenti. Ya, mintalah
hujan agar dihentikan. Maka Rasulullah
pun berdoa angkat tangan. Allahumma
hawalaina wala alaina. Ya Allah
palingkanlah hujan di sekitar kami.
Jangan menimpa tempat-tempat tinggal
kami. Allahumma alal akam wal jibal
wadab wunil audiah wab syajar. Ya Allah
pindahkan hujan-hujan tersebut ke
gunung-gunung, ke bukit-bukit, ke
lembah-lembah, ke tempat jalan-jalan
tumbuhan. Bukan di tempat lokasiemui
pemukiman. Maka awan pun akhirnya
berpisah menuju menjauh dari pusat kota
Madinah pergi ke tempat-tempat yang lain
yang tidak mengganggu kaum muslimin. Ini
namanya istisha. Minta agar hujan
diberhentikan atau dipalingkan ke tempat
yang bermanfaat.
Dan adalah Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
kalau lihat hujan beliau berkata,
"Allahumma sayyiban sayyiban nafi'an."
Yaitu curahkanlah ya Allah hujan yang
bermanfaat. Karena kita tahu ada kaum
yang binasa gara-gara hujan. Kaum siapa?
Nabi Nabi Nuh. Ya. Padahal Nabi Nuh
sudah bilang, "Faquluagfirbakum
innahuana garsilama alikum." Kata Nabi
Nuh kepada kaumnya, "Istigfarlah kalian
niscaya Allah akan turunkan hujan yang
deras, yaitu hujan yang berkah." Tatkala
mereka tidak mau istigfar, maka tetap
turun hujan. Tapi hujan yang membi
membinasakan. Jadi hujan ada yang
berkah, hujan tidak berkah. Maka ketika
turun hujan Rasul Sallahu Alaih Wasallam
berdoa, "Allahumma sayyiban nafi'an." Ya
Allah turunkan hujan yang bermanfaat
karena ada hujan yang tidak bermanfaat.
Demikian juga Rasul Sallahu Alaihi
Wasallam membuka bajunya kemudian ee
membiarkan tubuhnya kena air hujan.
Ketika ditanya, "Kenapa Anda buka baju
biar terkena hujan?" Kata Rasul
sallallahu alaihi wasallam, "Di annahu
haditu ahadin birabbihi."
dia baru saja ee istilahnya ee baru saja
dengan Rabbnya. Baru saja dengan Rabbnya
ya itu mungkin Allah perintahkan untuk
turun atau yang semisalnya. Jadi
disunahkan seorang kalau hujan boleh dia
buka bajunya untuk terkena air yang
berkah. Terkena air yang yang berkah.
Qa Syafi'i ya
riwayat akbar lahim yazid bin Nabi
wasallamu
q ukalahu
minhuahmadullah alaih. Imam Syafi'i
menyebutkan riwayat kata kata beliau
bahwasanya Nabi sallallahu alaihi
wasallam kalau turun hujan maka beliau
mengajak orang untuk pergi. Ayo kita
pergi menuju
hujan yang Allah jadikan air hujan
tersebut adalah air yang suci dan
mensucikan. Maka kita bersuci dengan air
hujan tersebut. Lantas kita memuji Allah
subhanahu wa taala.
Ini di antara sunah Nabi sallallahu
alaihi wasallam ya.
Dan intinya Nabi ketika berdoa minta
hujan, maka beliau angkat kedua
tangannya sampai terlihat kedua atau
putih kedua ketiak ee beliau ya.
Kemudian juga di antara ee
sunah adalah berdoa ketika hujan.
Ya, dalam hadis la yuraddu indad nida
waal ba'as watahtil watahtil matar.
tidak ditolak doa ketika azan, ketika
dalam kondisi berat ya dan ketika turun
hujan. Dan ketika turun hujan ya
bab kita selesai dari ee salat
al-istisqa atau terkait sunah ee terkait
hujan.
Ya, dalam riwayat yang lain juga
disebutkan eh tuftahu abwabus sama
dibukakan pintu-pintu langit.
Waustajabud doa fi arbaati mawatin. Dan
doa dikabulkan di empat tempat. Inda
iltiq sufuf ketika bertemu saf-saf yaitu
dalam perang. Waa nuzulil ghait. Ketika
turunnya hujan wa iqomatis salat ketika
ditegakkan salat. Wa ryatil Ka'bah
tatkala melihat Ka'bah. Tapi hadis ini
diif. Hadis ini apa? dif hadis ini dif
kita lanjutkan ee
terkait sunah-sunah ee safar ya. Ibnu
Qayyim rahimahullahu taala menyebutkan
bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam safar hanya empat tujuan.
Yang pertama karena hijrah Rasulullah
bersafar dari mana? Dari Makkah menuju
Madinah. Ini safarnya Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Yang kedua, beliau
bersafar karena jihad dan ini adalah
safar yang paling banyak. Tidak beliau
keluar kecuali karena untuk berjihad.
Ini safar yang paling banyak, ya. Yang
ketiga, safar untuk umrah, ya. Kemudian
yang keempat, safar untuk haji. Ini
setelah Nabi menjadi Nabi. Ketika Nabi
sebelum menjadi Nabi, tentu Nabi
bersafar di antaranya berdagang ke
negeri Syam. Ke negeri Syam ya. Tapi
setelah Nabi menjadi Nabi, tidak dicatat
beliau bersafar kecuali salah satu dari
empat tujuan ini. Ya, kalau kita
safarnya banyak, jalan-jalan, kuliner
banyak. Adapun Nabi safarnya salah satu
dari empat tujuan ini karena hijrah atau
karena jihad ini yang paling banyak
untuk umrah dan juga untuk haji. Adapun
sunah-sunah safar
pertama adalah bawa istri. Ini di antara
sunah yang penting kalau safar kalau
bisa memungkinkan bawa apa? Istri. Dan
ini disebutkan Nabi Musa juga demikian.
Wasar biahlihi. Nabi Musa berjalan
bersama istrinya itu bersafar bawa
istrinya. Kalau istrinya banyak diundi.
Diundi siapa yang keluar maka dia yang
mene menemani ya. Dia yang menemani ee
untuk ber bersafar.
Kalau tidak ada ya satu aja tidak usah
undian. Undian tanpa faedah ya karena
peserta undian cuma satu. Satu orang Tib
ketika haji Rasul Sallahu Alaihi
Wasallam bawa semua istrinya Rasulull
Sallahu Alaihi Wasallam haji cuma sekali
yang dikenal dengan haji wada'. Setelah
itu Rasul sahu alaihi wasallam meninggal
dunia. Di saat itu Rasulull sahu alaihi
wasallam bawa istrinya untuk berhaji.
Maka seorang kalau bisa membawa istrinya
berhaji maka itu adalah sunah Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Ya
Tib.
Dan disebutkan Nabi sallallahu alaihi
wasallam kalau safar ya
beliau safar di pagi hari. Di pagi hari
ya. Dan beliau suka kalau bersafar hari
Kamis ya. Ini kebiasaan Nabi sallallahu
alaihi wasallam tentunya kalau kita
zaman sekarang sesuai dengan kebutuhan
kita. Dan Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
berdoa agar Allah berkahi umatnya di
pagi harinya. Makanya Rasul sallallahu
alaihi wasallam safar senangnya di pagi
hari.
Kemudian beliau juga kalau mengirim
pasukan, beliau juga kirim pasukan di
pagi hari. Kemudian Rasul Sallahu Alaihi
Wasallam menganjurkan, jika musafir tiga
orang atau lebih, maka hendaknya satu
orang diangkat menjadi amir. Ya, menjadi
amir ya. Salah satu jadi amir maksudnya
amir safar. Jadi kalau ada perselisihan
mau singgah di mana, semuanya keputusan
di tangan amir. Dan ini di antara sunah
apalagi lebih daripada tiga tiga orang
ya. dia yang menentukan ee kita mau ke
mana, makan jam berapa, mau salat di
mana, maka dia diangkat menjadi amir.
Kalau sudah satu diangkat ya yang lain
taat ya. Tapi ini ketaatan terkait
dengan perkara-perkara safar ya. Tatkait
tatkala dengan terkait dengan
perkara-perkara safar ya. Seperti kapan
singgah, di hotel mana misalnya. Kalau
bisa kita jalankan sunah itu lebih lebih
baik. Apalagi lebih dari tiga orang
untuk mencegah adanya keributan,
pertikaian. Karena namanya safar,
apalagi zaman dahulu perjalanan jauh,
berat di bawah terik matahari, lewat
jalan darat bisa lama sekali ya. Dari
Makkah Madinah aja bisa 8 hari, bisa 10
hari. Maka ee potensi-potensi untuk
ribut, untuk emosi, untuk berjidal itu
ada saja. Ini salah satu manfaatnya
bersafar diangkat ee amir. Kemudian
Rasul Sallahu Alaihi Wasallam tidak suka
seorang bersafar sendirian. Beliau
pernah berkata eh roqib setan warqibani
setanani wasalat rqbun. Kata Nabi,
"Musafir seorang setan. Musafir dua
orang, dua dua setan. Dan kalau sudah
tiga orang itulah benar-benar
musafirun." Maksudnya apa? Para ulama
menjelaskan itu kalau sendirian bahaya.
Apalagi zaman dulu kalau orang mau
ganggu, orang mau apa atau dia ketika di
tengah jalan tergoda ya dan dia mudah
saja tergoda sehingga dia mudah di mudah
tersesat atau disesatkan orang atau
mudah dirampok orang apalagi zaman
dahulu. Kemudian dua orang pun demikian,
dua orang juga terkadang mudah untuk
diganggu orang lain ya. Tapi kalau sudah
tiga, maka mereka mudah untuk saling
tolong-menolong, saling bahu-membahu,
saling menasihati di antara mereka kalau
ada godaan-godaan yang menggoda atau
hal-hal yang tidak baik. Maka sunahnya
kalau bersafar tiga tiga orang ya, tiga
orang ya. Kalau tidak bisa ya tidak
sampai pada derajat haram tapi
derajatnya makruh ya. Salat kalau safar
sendirian bisa saja terganggu, bisa saja
tergoda ya. Tapi kalau tiga ada yang
menasihati, eh jangan lirik-lirik
tundukkan pandangan. Tapi kalau
sendirian kan bebas melihat sana sini
ya. Oleh karenanya ee tiga lebih baik.
Sunah Nabi demikian.
Kemudian ketika hendak safar ee doa-doa
yang dianjurkan oleh Nabi sallallahu
alaihi wasallam ya
ee
di antaranya adalah
doa ketika naik kendaraan,
ketika naikkan kaki di atas pijakan, di
atas rikap, maka bilang bismillah.
Seperti kalau kita mau naik motor atau
naik mobil, ketika kita pertama naik,
kita bilang apa? Bismillah. Ya. Kemudian
ketika kita sudah duduk, sudah nyaman,
kita baca subhanalladzi sakra lana had
wama kunna lahu muqrinin wa inna ila
rabbina lamunqalibun. Kemudian kita baca
lagi, alhamdulillah, alhamdulillah,
alhamdulillah Allahu Akbar, Allahu
Akbar. Allahu Akbar. Subhanaka inni
doamtu nafsi fagfirli innahu la
yagfirudzunuba illa anta. Ini doa naik
kendaraan. Safar atau tidak bersafar ini
yang dibaca. Jadi kalau kita mau naik
kendaraan, kita bilang bismillah terus
kita eh subhanalladzi sak wahu muqinin
wa innaqalibun.
Kemudian kita bilang alhamdulillah,
alhamdulillah, alhamdulillah. Takbir
tiga kali. Allahu Akbar, Allahu Akbar,
Allahu Akbar. Subhanaka inniamtu nafsi
fagfirli innahu la yagfirudzunuba illa
ant. Ya itu maha suci Engkau ya Allah.
Ya, aku telah berbuat dosa, berbuat
zalim kepada diriku. Ampunilah aku.
Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni
dosa-dosaku kecuali engkau. Nah, ketika
safar ada tambahan ya. Allahumma inna
nasaluka ffarin h albir wa taqwa minal
amali maard. Allahum haf
allahumf
ah. Allahfaril
munq ahl. Ini kalau bersafar dan itu
kita baca bukan pas di atas pesawat,
tapi ketika keluar dari ru rumah.
Misalnya saya mau ke Surabaya ya, saya
keluar dari rumah saya baca doa ini
lengkap naik mobil saya bilang
bismillah.
Subhanalladzi sak wna lahu mukrin
munqibun. Alhamdulillah alhamdulillah.
Alhamdulillah. Allahu akbar. Allahu
akbar. Allahu akbar. Subhanaka Allahumma
inniamtu nafsi fagfirli innahu la
yagfirun. Kemudian saya lanjutkan,
Allahumma nasaluka fi h albir wat taqwa
minal amali maard allahum haw dan
seterusnya sampai doa safar selesai
kemudian saya menuju ke ban ke bandara
ketika ke bandara saya naik pesawat saya
bilang lagi bis bismillah saya duduk
saya baca doa naik kendaraan
subhanalladzi sakar lana h w kunna lahuq
wa innabbinaqibun alhamdulillah
alhamdulillah alhamdulillah allahu akbar
allahu akbar allu akbar subhanakallamtu
nafsi fagfirli innahu la yagfirunuba an
jadi doa safar bukan pas naik pesawat,
tetapi ketika keluar dari ru rumah ya
setiap kita naik kendaraan kita baca doa
naik kenda kendaraan ya meskipun kita
berpindah kota karena safar kita belum
selesai itu cuma baca doa naik kenda
kendaraan naik doa naik kendaraan ini
penting hendaknya jangan kita tinggalkan
karena kita sering naik apa kendaraan ya
terserah motor
seped
apa saja ya kemudian kalau pulang pulang
kapan? Ketika kita mengakhiri safar
kita. Misalnya kita ujung safar kita
adalah di Makkah. Habis ini dari Makkah
kita mau pulang ke tanah air. Maka
ketika keluar dari hotel Makkah kita
baca doa naik kendaraan. Kemudian kita
baca dosa afar. Tapi di akhirnya kita
tambah aibun taiibun abidun lirabbina
hamidun.
Naik mobil naik bis menuju ke bandara
Jeddah. Bacanya kapan? Ketika kita
menuju pu menuju pulang, yaitu akhir
penghujung safar kita, kita membalik
lagi ke tanah air ya. Kita dari hotel
Makkah menuju Jeddah. Ketika naik
kendaraan dari di hotel Makkah, kita
baca doa safar lagi karena kita mau
safar pu pulang.
Ya, paham ya? Paham tidak? Saya ulangi.
Sekarang kita mau perjalanan dari tanah
air terus turun ke Madinah.
ee turun ke Madinah terus habis itu kita
mau ke mana? Umrah ke Makkah. Dari
Makkah baru kita pulang ke tanah air.
Maka doa safarnya kapan? Ketika menuju
ban bandara. Jadi baca doa naik
kendaraan terus baca doa sa safar.
Sampai di bandara naik pesawat ya doanya
doa apa? Doa naik kendaraan. Bisnis
kelas, ekonomi kelas sama saja.
Setelah itu kita berangkat sampai turun
di Jeddah atau Madinah kita turun kita
enggak ada doa baca safar lagi. Enggak
ada. Terus nanti kita dari Madinah
menuju ke Makkah mau umrah juga tidak
ada doa safar. Karena kita statusnya
masih musa musafir. Kita hanya baca doa
naik kenda kendaraan. Nanti kapan baca
kendaran lagi? Ketika doa safar lagi.
Ketika mau pulang dari Makkah menuju
tanah air lewat Jeddah. Maka keluar
hotel Makkah kita berdoa doa safar lagi.
Tetapi ada tambahan di akhir.
A aibun taiibun abidun lirabbina
hamidun. Aibin itu artinya kami kembali
ya Allah. Taibun kami bertobat ya Allah.
Abidun kami beribadah kepada Engkau ya
Allah. Labbina hamidun. Dan kami memuji
Rabb kami Allah Subhanahu wa taala. Baru
kita ulang.
Dan di antara sunah kalau dalam
perjalanan safar ataupun tidak safar
ketika naik kendaraan tinggi eh tempat
tinggi kita baca takbir. Allahu Akbar.
Allahu Akbar. Kalau turun ke tempat yang
rendah kita bertasbih ya. Bertasbih. Dan
kalau kita sudah masuk ke suatu kota,
misalnya kita naik kendaraan kemudian
mau tiba di Kota Madinah dari atas sudah
mau mendarat, kita baca doa masuk kota.
Doanya Allahumma samawati sablalna.
Ya, ya Allah penguasa eh langit yang
tujuh dan apa yang di bawah langit
tersebut. Warabbal ardin w adlalna ya
dan eh
wama aqlalna ya. Dan penguasa tujuh
bumi, tujuh lapis bumi dan apa yang ada
di dinaunginya.
Kemudian
w adlna dan tuhannya setan-setan dan apa
yang disesatkan oleh setan-setan
tersebut. Kemudian riahi wara
dan penguasa angin dan apa yang
dihembuskannya.
Asalukair hadil qah. Aku mohon kepada
engkau kebaikan negeri ini. Whair ahliha
dan kebaikan penduduknya. Penduduk
negeri ini. Ubika min syarriha. Aku
berlindung kepada engkau dari keburukan
kota ini. Wasyarri ahlihayarri ma fiha.
Dan keburukan penduduknya dan kebuk
keburukan yang ada di kota ini. Ini doa
penting juga. Setiap kita mau mampir di
suatu kota. Kita mau mampir Madinah baca
doa itu. Kita jalan dari Madinah menuju
Mekah mau sampai Makkah baca doa itu.
Ya, itu Makkah Madinah kita baca.
Apalagi kalau mau ke Spanyol.
Apalagi kalau mau ke Australia, apalagi
ke Paris nih lebih parah lagi. Ini
bahaya ini. Makkah Madinah aja kita baca
ya. Apa? Allahumma rabbas samawati
sablalna
warabbal ardinab w aqlalna. Ya warabayin
walna warabahi wina asalukairil qyahir
ma fiha wahair ahliha wubika min syar
hadil qah ahlihari ma fiha. Jangan lupa
agar kita safar nyaman, agar kita
senantiasa dilindungi oleh Allah
subhanahu wa taala. Mau berangkat kita
ingat Allah, mau mendarat kita ingat
Allah subhanahu wa taala.
Tib. Ini terkait dengan ee doa ketika
mau masuk kota. Sekarang bagaimana doa
ter ee sunah terkait salat dalam safar.
Sunah terkait salat dalam apa? Sa safar.
Ya, ini sudah ya. Tib kita lanjut
ee sunah-sunah terkait sunah-sunah salat
terkait safar.
Yang pertama hadirin hadirat yang
dirahmati Allah subhanahu wa taala.
Nabi selalu qasar empat rakaat. Beliau
selalu qasar jadi dua. Sejak keluar
Madinah hingga kembali. Beliau tidak
pernah salat empat rakaat. Beliau tidak
pernah salat empat rakaat sekalipun.
Adapun hadis dari Aisyah bahwasanya
Rasulull sallallahu alaihi wasallam
yaqsur wautim salat dua rakaat dan
terkadang empat rakaat hadisnya hadis
palsu. Hadis palsu. Yang benar Rasulull
sallahu alaihi wasallam selama bersafar
dalam sekian safarnya dalam
peperangannya, dalam hajinya, dalam
umrahnya ya beliau tidak pernah salat
empat ra rakaat selalu salat berapa? Dua
dua rakaat.
Dan meskipun ayat tentang ee salat qasar
kata Allahumikum
junahunumina
kafar inal kafirum. Kata Allah, "Jika
kalian berjalan di atas muka bumi, maka
tidak mengapa kalian mengqasar salat.
Jika kalian takut, orang kafir akan
menyerang kalian. Sesungguhnya orang
kafir adalah musuh yang nyata bagi
kalian.
Umar pernah berkata, "Ya Rasulullah,
sekarang kita sudah aman. Apakah masih
qasar?" Ayat ini terkait dengan dua
kondisi, sedang bersafar dan sedang
dalam kondisi takut. Itu dalam kondisi
perang. Maka boleh mengqasar. Sekarang
kita sudah aman ya Rasulullah. Kata
Rasul sahu alaihi wasallam, "Ini adalah
sedekah dari rabmu dari Rabbmu. Faqbalu
shodqatahu." Maka terimalah sedekah dari
Allah subhanahu wa taala. Jadi meskipun
sudah aman tetap kita disunahkan salat
qasar.
Jadi setiap empat jadi dua. Yang tiga
tetap tiga. Yang dua tetap dua. Jangan
jadi satu ya. Jadi empat jadi tiga itu
salat zuhur, salat asar, sama salat
isya. Empat jadi dua.
Jadi meskipun aman tetap ee salat dua
dua rakaat. Tib. Ada problem atau ada e
isykal sebagian sahabat
musafir salat 4 rakaat. Yang
diriwayatkan dari sahabat tersebut dua
orang, Utsman bin Affan radhiallahu anhu
dan Aisyah radhiallahu taala anha.
Mereka salat empat rakaat ketika safar
setelah wafatnya Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Apa sebabnya?
Adapun Utsman, beliau salat 4 rakaat.
Ma'ruf beliau salat di Mina empat
rakaat. Padahal kita tahu sunahnya di
Mina salat berapa rakaat? Dua rakaat.
Nabi salat dua rakaat. Abu Bakar salat
dua rakaat. Umar salat dua rakaat.
Ketika Utsman Utsman salat berapa? Empat
rakaat. Sampai Ibnu Mas'ud mengatakan
alkhilafus syar. Kita saya enggak pengin
berselisih. Ibnu Mas'ud ketika salat di
belakang Utsman salat empat rakaat ikut
apa? Utsman. Tetapi kenapa Utsman bin
Affan salat 4 rakaat? Maka di sini ada
enam pendapat
yang disebutkan oleh para ulama. Ibnu
Qayyim disebutkan dalam Zadul Maad. Yang
pertama disebutkan mungkin Utsman
khawatir orang-orang Arab Badui yang
baru masuk Islam menyangka salat dua
rakaat maka beliau tetap salat 4. Karena
ketika itu yang hajian banyak
orang-orang baru masuk Islam maka
dikhawatirkan mereka menyangka salat dua
rakaat. Maka beliau mentakwil atau
beliau sengaja salat empat rakaat agar
tidak disangka salat itu dua dua rakaat.
Namun ini pendapat dibantah oleh para
ulama. Di zaman Nabi juga banyak Arab
Badui yang baru hajian. Waktu Nabi haji
cuma sekali banyak juga orang baru masuk
Islam.
Pendapat kedua, beliau adalah imam. Imam
bagi kaum muslimin. Maka di mana pun
tempat tinggal beliau ini pun dibantah.
Yang lebih imam adalah Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Tapi Nabi pun tetap
salat dua rakaat. Abu Bakar, Umar juga
tetap salat dua rakaat. Kenapa empat?
Yang ketiga, ada yang mengatakan Mina
sudah jadi banyak tempat tinggal. Sudah
banyak rumah-rumah orang tinggal-tinggal
situ sehingga dianggap kota tidak lagi
di tempat safar. Maka dibantah itu sudah
ada sejak zaman Umar. Tapi Umar ketika
di Mina tetap salat dua rakaat.
Pendapat keempat, Rasulullah mengatakan
orang yang ee sudah ee misalnya umrah
atau haji mereka boleh bermukim kalau
sudah 3 hari dibilang mukim. Tetapi di
bantar Ibnu Qayyim ini mukim bukan mukim
istilah yang kita maksud. ini maksudnya
adalah hanya tempat setelah itu dia
harus pulang setelah 3 hari atau 4 hari
karena orang yang ee apa namanya ee
berhijrah harus pulang tidak boleh
tinggal di Makkah lebih dari empat 4
hari.
Pendapat berikutnya ada yang mengatakan
Utsman sudah berniat untuk iqamah di
kota Makkah sehingga Mina jadi tempat
tinggal dia. Sehingga dia tidak lagi
salat musafir karena dia niat untuk
iqamah di Makkah atau iqamah di Mina.
Dibantah semua muhajirin tidak boleh
tinggal di Makkah. Semua orang yang
berhijrah dari Makkah menuju Madinah
Rasulullah larang untuk kembali lagi di
Makkah. Mereka tidak boleh karena mereka
statusnya Muhajirin telah meninggalkan
Makkah karena Allah. Mereka tidak boleh
lagi balik tinggal di Makkah.
Sehingga mereka gak boleh tinggal di
Makkah lebih dari tiga atau empat ha.
Maka gak mungkin Utsman niatnya untuk
iqamah. Pendapat terakhir, ada yang
mengatakan Utsman menikah dengan wanita
di Makkah atau di Mina sehingga jadi
tempat tinggal dia. Maka kalau dia,
makanya para ulama mengatakan jika
seorang tinggal di suatu kota dan dia
punya istri di situ, kalau dia ke
istrinya di situ maka tidak musafir.
Jadi antum misalnya tinggal di Bandung,
di Jakarta, di Tegal sama di Paris.
Antum istrinya empat semua di sini.
Setiap antum ke Bandung tidak musafir
karena ada istri di mana? di Bandung.
Setiap antum ke Paris tidak ke ke apa
tidak musafir karena ada istri antum di
Paris. Satunya di mana tadi? Tegal.
Tegal. Di Tegal. Satunya Tegal. Maka
maka antum tidak mus karena ada istri
antum di Tegal. Ya. Antum kapan salat
qasarnya? Ketika dalam perjalanan menuju
Tegal. Ketika dalam perjalanan menuju
Bandung, ketika dalam perjalanan menuju
Paris. Tapi kalau sampai di Paris gak
bisa. Karena adik istri antum orang Pa
Paris. Maksudnya orang Indonesia yang
tinggal di Paris.
Intinya kalau punya istri orang sana,
orang setempat, maka tidak perlu salat
ko qasar karena dianggap dia bermukim
karena ada rumah dan keluarganya di
situ. Ini mungkin pendapat yang paling
kuat kenapa Utsman
salat empat rakaat padahal statusnya
musafir.
Padahal statusnya apa? musafir.
Orang kedua yang dikenal juga salat
empat rakaat meskipun musafir, Aisyah
radhiallahu anha. Dan ini beliau lakukan
setelah Nabi meninggal.
Ada yang mengatakan karena beliau adalah
bunda kaum mukminin. Bunda kaum mukminin
maka di mana pun beliau tinggal, beliau
adalah tempat tinggal beliau. Tapi hari
dibantah Rasulullah kalau gitu ayahnya
kaum mukminin dan Rasulullah tetap aja
qasar. Ada yang mengatakan Aisyah
mentakwil seperti Utsman. Wallahuam.
mengatakan Aisyah menganggap itu
keringanan maka dia tidak ingin ambil
keringanan dia ingin ambil azimah maka
beliau tetap salat empat empat rakaat.
Wallahuam bisawab. Tapi seluruh sahabat
yang lain mereka kalau musafir salat dua
rakaat itu lebih afdal karena sesuai
dengan sunah Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Tetapi ketika kita melihat ada
sahabat seperti ini, Utsman dan Aisyah
ini menunjukkan bahwasanya salat qasar
ketika musafir tidak wajib tapi hukumnya
sun.
sunah. Karena sebagi ulama mengatakan
wajib. Yang benar tidak wajib.
Seandainya wajib gak mungkin Utsman
salat 4 rakaat. Seandainya wajib enggak
mungkin Aisyah salat 4 rakaat. Tapi
mereka salat empat rakaat ketika safar
menunjukkan mereka menganggap salat dua
rakaat itu sunah bukan wa wajib.
Makanya terkadang kita musafir kita
sudah jadi imam. Jadi imam suatu daerah
yang orang daerah tersebut kurang ilmu
tidak ngerti kalau musafir salatnya dua
rakaat. Saya terkadang pengajian sudah
imam. Saya salat isya 4 rakaat.
Ya, karena kalau saya salat dua rakaat,
saya kasih pengumuman dulu. Ini saya
musafir, saya salat dua rakaat, nanti
antum tambah sendiri dua rakaat. Agak
repot. Ya sudah, saya salat 4 rakaat
aja. Karena salat dua rakaat hukumnya
sun sunah, tidak wajib.
Teman-teman musafir yang nemani enggak
senang kok jadi empat. Ustaz rombongan
kecewa
maunya dua dua rakaat. Tib. Jadi intinya
sunahnya adalah salat dua orang. Ini
antara dalil bahwasanya tidak semua yang
pahalanya besar harus lebih repot. Ada
perkara yang lebih ringan, pahalanya
lebih besar. Di antaranya salat qasar.
Salat qasar lebih sedikit rakaatnya,
lebih cepat selesainya, tapi pahalanya
lebih besar. Kenapa lebih besar? Lebih
sesuai sunah Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Yang semirip ini seperti haji.
Ada namanya haji tamatuk, ada namanya
haji qiran, ada namanya haji ifrad.
Paling susah haji ifrad. Harus pakai
ihram dari awal berangkat dari tanah air
sampai tanggal 10. berat. Bayangkan
kalau seorang pas mau hajian dia
berangkat ihram dari tanggal misalnya
dari awal Zulkaidah, tanggal 1 Zulkaidah
dia berangkat pakai baju ihram untuk
hajian, maka dia harus pakai baju ihram
terus sampai tanggal 10 Zulhijah 1 bulan
10 hari. Ini berat.
Tapi kalau tamatuk dia berangkat tanggal
1 Zulkadah dia pergi umrah selesai pakai
baju biasa. Nanti pakai baju ihram lagi
tanggal 8 Zulhijah. Lebih susah mana?
Ifrad atau tamatu?
lebih susah ifrad. Tamatuk lebih
menyenangkan. Namanya tamatuk
senang-senang. Tapi dari pahala lebih
besar pahala haji tamatuk. Jadi tidak
semua berarti harus lebih sulit
pahalanya lebih besar. Dalilnya ini di
antaranya salat sunah ee qasar. Orang
musafir salatnya qasar dan itu lebih af
lebih afdal.
Tayib. Kita lanjut.
Berikutnya di antara sunah Nabi
sallallahu alaihi wasallam,
beliau hanya salat fardu tanpa pernah
salat rawatib. Beliau hanya salat fardu
tanpa pernah salat rawatib kecuali salat
sunah qobliah fajar.
Ini beliau ee salat rawatib tidak pernah
beliau tinggalkan baik safar maupun
ketika hadar, ketika iqamah. Kemudian
ditambah juga beliau tidak pernah
meninggalkan salat wi wit witir. Tetapi
di antara salat qabliah yang beliau
tidak pernah tinggalkan adalah qobliah
qabliah fajar. Safar atau tidak safar.
Adapun selainnya qabliah zuhur, ba'diah
zuhur ya atau empat rakaat sebelum asar
atau bakdiyah magrib, ba'diyah isya,
beliau tidak kerjakan selama safar dan
beliau safar dalam safar yang banyak
tadi. Safar perang banyak sekali. safar
umrah, safar haji. Selama itu tidak
diriwayatkan beliau melakukan salat
rawatib qabliyah dan ba ba'diyah. Tetapi
beliau diriwayatkan salat ma malam.
Adapun salat malam beliau salat.
Beliau salat malam. Bahkan disebutkan
beliau salat di atas kendaraan beliau.
Adapun salat duha beliau juga salat
ketika Fathu Makkah. Beliau salat 8
rakaat di waktu dhha ketika beliau
menaklukkan kota Makkah tangg 8 Hijriah.
Beliau salat dhha atau salat 8 rakaat di
waktu dhha. Sehingga seb mengatakan,
"Tidak mengapa seorang musafir salat
duhha, tidak mengapa juga salat ma
malam. Yang tidak ada qobliah dan
ba'diyah." Bahkan beliau salat di atas
kendaraan. Adapun para sahabat, maka ada
dua mazhab secara umum disebut oleh Ibnu
Qayyim rahimahullahu taala. Pertama,
mazhabnya Umar, Ali, Ibnu Mas'ud, Jabir
bin Abdillah, Anas bin Malik, Ibnu
Abbas, dan Abu Dzar radhiallahu anhum.
Mereka salat mutlak sebelum dan sesudah
salat fardu. Tapi bukan salat qbliyah
ba'diah. Mereka salat mutlak. Jadi
sebelum salat mereka salat salat. Nanti
habis salat misalnya zuhur dua rakaat
mereka salat juga ya. Mereka salat mut
mutlak. Adapun Ibnu Umar, beliau tidak
salat sama sekali sebelum sesudah fardu.
Beliau hanya salat malam. Beliau
mengatakan, "Seandainya saya mau salat
qobliah ba'diyah, mending saya genapkan
salat zuhurku empat rakaat. Ini saya
sudah empat jadi dua, ngapain saya
tambah dua belakang, dua sebelum, dan
dua sesudah." Dan Ibnu Umar kata
ee bahwasanya ini lebih sesuai dengan
sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
bahwasanya Rasulull Sallahu Alaihi
Wasallam tidak salat qabliah dan
ba'diyah dan Rasulullah tidak ee dan
Ibnu Umar tidak melakukan salat sama
sekali sebelum salat fardu maupun
setelah salat fardu. Beliau tidak
lakukan sama sekali. Kata beliau,
"Seandainya saya ada tambah qbliah dan
ba'diyah, mending saya tambah salat
fardunya dua jadi empat." Yang empat
jadi dua, ngapain saya tambah dua
sebelumnya dan dua setelahnya?
Kata kata beliau, kata Ibnu Umar, "Lau
kuntu musabbihan laatmamtu." Kalau saya
memang mau salat sunah, saya mau
tambah-tambahin, mending saya tambahkan
salat fardu jadi empat rakaat kembali.
Dan kata Ibnu Qayyim mengomentari
pendapat Ibnu Umar, kata beliau, "Ini
yang lebih sesuai sunah Nabi. Ini
zahirnya sunah Nabi
seperti ini." Jadi kata beliau setelah
mengomentari Ibnu Umar ya, awama Ibnu
Umar fakana qlal farid w ba'da illa
minil. Adapun Ibnu Umar, beliau tidak
salat sunah sebelum fardu maupun setelah
fardu kecuali salat malam bersama witir.
Wahaza kana huair min hadyin Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Dan inilah
zahir dari sunah Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Annahu kana la yusolli qoblal
faridah almaqsurah wala ba'da syaian.
Rasul sahu alaihi wasallam tidak pernah
salat
sebelum salat fardu maupun setelah salat
fardu. Yang salat fardu tersebut
diqasar. Rasulullah tidak pernah
melakukan salat sunah rawatib kecuali
apa? Qliah apa? Fa fajar. Qobliah subuh.
Tetapi Rasulullah juga tidak melarang.
Yang ingin salat sunah mutlak, salat
sunah mutlqah itu salat aja. Pengin
salat sebelum zuhur, salat terserah. Mau
salat setelah zuhur terserah enggak ada
masalah. Karena kita boleh salat
kapan-kapan saja selama bukan waktu ter
terlar ter terlar ter terlarang. Ya,
bukan sebagai salat sunah rawatib. Jadi
kata Ibnu Qayyim, boleh salat sebelum
fardu, sesudah fardu, tapi bukan salat
sunah rawatib.
Tib. Ee ada permasalahan yang Ibnu
Qayyim tidak sebutkan. Bagaimana seorang
musafir ketika dia ikut salat bersama
orang yang mukim sehingga mekanisme
salatnya bukan mekanisme salat musafir.
Seperti misalnya kita umrah, kita salat
di Masjid Nabawi. Ketika kita salat di
Masjid Nabawi, kita ikut imam mukim atau
imam musafir?
Imam mukim. mekanisme salatnya empat
rakaat sempurna sehingga kita mekanisme
salatnya bukan salat qasar. Nah,
bolehkah kita salat rawatib ketika itu?
Maka Syekh Bin Bas mengatakan boleh
karena mekanisme salatnya bukan lagi
salat qasar.
Jadi pembahasan kita ketika kita salat
qasar, bolehkah kita rawatib sebelum dan
sudahnya? Ini khilaf di kalangan para
ulama. Mazhab Syafi'i mengatakan sunah.
Yang benar wallahuam bawab tidak sunah.
Tapi kalau mau salat mutlak boleh tapi
tidak ada rawatib kecuali qabliah fa
fajar.
Namun kalau kita salatnya sebagai
statusnya makmum kepada mukim, maka
boleh kita salat rawa rawatib. Karena
mekanisme salat kita seperti salat
mukim. Paham?
Tib.
Berikutnya Rasulullah salat malam bahkan
di atas kendaraan. Karena dalam safar
sering Rasulullah di atas kenda
kendaraan. Ya.
Maka salat sunah yang benar, salat sunah
ketika di atas kendaraan, ketika musafir
tidak harus menghadap kiblat. Ada
riwayat Rasulullah menghadap kiblat
dulu. Jadi untanya diarahkan ke kiblat.
Allahu Akbar. Baru terselah itu untanya
belok kanan kiri terserah. Ini ada
riwayat, tapi riwayatnya
menyelisihi banyak riwayat yang lain.
Kebanyakan sahabat yang meriwayatkan
salat Nabi ketika salat sunah di atas
kendaraan tidak perlu menghadap kiblat
saja. Langsung aja, Allahu Akbar. Jadi
kalau kita misalnya naik pesawat, kita
mau salat malam, mau salat duha,
langsung aja mau pesawatnya menghadap ke
mana terserah. Jadi tidak harus kita
hadap kiblat dulu. Gak itu kalau salat
fardu kita berusaha hadap kiblat
terlebih dahulu. Tapi kalau salat sunah
langsung saja Allahu Akbar. Karena
banyak dalam urusan salat sunah diberi
keringanan. Tidak seperti salat far
fardu.
Paham? Banyak dalam salat. Jadi salat
sunah yang benar tidak harus mengarah ke
kiblat terlebih dahulu. Langsung aja.
Allahu Akbar. Ini dijelaskan oleh Ibnu
Qayyim rahimahullahu taala ya.
Ibnu Qayim mengkritik kata beliau,
"Wasiru man wasofa shatahu al rahilati
atlaqu." Dan seluruh sahabat yang
meriwayatkan tentang salat Nabi di atas
tunggangannya, mereka secara mutlak ya
ke mana saja untanya menghadap.
Mereka tidak mengecualikan takbiratul
ihram. Jadi takbiratul ihram pun tidak
harus menghadap ki kiblat ketika salat
sunah di atas kenda kendaraan.
Ini meringankan.
Kita lagi pengin salat ya sudah salat
aja. Di atas pesawat, di atas mobil kita
lagi jalan menuju Tegal salat aja.
Bisa ke Bandung bisa ke Tegal bisa ke
mana? Paris. Kalau Paris pakai pesawat,
kalau Tegal Allahu Akbar. Salat. Salat.
Salat dua. Allahu Akbar. Allahu Akbar.
Allahu Akbar. Alhamdulillah. J ngisi
waktu dengan sa salat. Kalau terbiasa
nyaman.
Nanti ada khilaf.
Bolehkah kita salat sunah di atas
kendaraan meskipun tidak safar? Ini
khilaf di kalangan para ulama.
Ini khilaf di kalangan para ulama.
Mayoritas ulama berpendapat hanya boleh
salat sunah di atas kendaraan tanpa
menghadap kiblat. itu kalau dalam
kondisi musa musafir. Kalau tidak safar
misalnya saya dari Ceger menuju ke
Bertway Office
macet saya pengin qobliah zuhur di
masjid. Boleh enggak? Boleh enggak?
Khilaf.
Khilaf. Nantilah kita bahas ya
insyaallah. Tapi intinya ada yang
bolehkan, ada yang mengatakan tidak
boleh. Tapi kalau ketika musafir semua
sepakat boh.
Status Anda musafir. Misalnya Anda
keluar dari rumah menuju ke ee ke Tegal
ya. Tegal aja sini gampang ya. Sudah
dari rumah salat Allahu Akbar. Salat
malam, safar di malam hari salat malam
enggak ada masalah.
Tayib.
Adapun salat fardu, adapun salat fardu,
bolehkah salat fardu di atas
ee di atas di atas kendaraan?
Datang dalam riwayat Nabi pernah
melakukannya.
Saya bacakan riwayatnya ya.
Dari riwayat Ahmad dan Tirmidzi.
Annahutaha ila madyaqin hua wa ashabu
waahil. Rasul sahu alaih wasallam sedang
naik kendaraan bersama para sahabat.
Tiba-tiba mereka terbawa kepada tempat
yang sempit. Wasama fauqihim dan hujan
turun dari atas. Wal billatu min asfala
minhum. Sementara di bawah pecek. Turun
percum
di atas banyak hujan. Ya salat sementara
waktu salat sudah tiba.
Rasulullah hujan turun bau juga pecek.
Faamaral muadin faana waqam. Maka rasul
sahu alaihi wasallam menyuruh muadin
untuk mengakan azan kemudian iqamat.
Kemudian rasul sahu alaihi wasallam maju
dengan untanya
kemudian para sahabat di belakang.
Kemudian Rasul Sallah alaihi wasallam
salat salat jemah semua di atas on unta.
Rasulullah dengan isyarat ini salat
fardu. Tapi riwayatnya riwayat lemah.
Hadis ini hadis yang lemah. Akan tetapi
datang dalam sanad yang sahih dari Anas
bin Malik radhiallahu taala anhu. Ya. Ee
watabataalikan Anas min fi'lih. Anas bin
Malik pernah melakukannya. Salat fardu
di atas apa? Tungga tunggangan dalam
kondisi terdesak ya. Dan ini dijadikan
dalil oleh para ulama, boleh kita salat
misalnya di atas mobil atau di atas apa
kereta atau di atas pesawat
ya kalau ke Tegal naik kereta.
Jadi kita boleh salat tapi berusaha
menghadap kib kiblat sebisa mungkin
karena salat fardu berbeda dengan salat
sun sunah. Kalau bisa berdiri sebisa
mungkin berdiri. Kalau enggak bisa duduk
ya ketika di atas unta Rasul Sallahu
Alaihi Wasallam tidak berdiri ya. Karena
kalau berdiri bisa jatuh, tetapi tetap
duduk dengan beri apa? Isyarat. Ya,
Artinya kalau kita di atas pesawat kita
pesawat goyang jangan paksa berdiri. Ya
sudah, duduk biasa aja. Tapi kalau kita
bisa berdiri, berdiri. Kalau berdiri
dilarang sama pramugari ya duduk ya.
Kadang kita mau salat enggak boleh. Ya
sudah, duduk sebisanya ya. Sebisnya
semampunya.
Rukun yang bisa kita kerjaan, kita
kerjakan. Yang tidak bisa maka
mudah-mudahan dimaafkan.
Tayib.
Yang terakhir kita bahas terkait jamak
ketika safar. Bagaimana hukum jamak
ketika safar?
Jadi pertama ee
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
tidak pernah selalu jamak ketika safar.
Gak pernah.
Kata Ibnu Qayyim, "Lam yakun min hadihil
jamu ratiban." Rasul sahu alaihi
wasallam tidak pernah selalu jamak.
Safar jamak mulu gak pernah.
Kemudian yang kedua kata Ibnu Qayyim
ee
walal jamu hala nuzulhian. Tidak pernah
juga dinukil Rasul sahu alaihi wasallam
ketika singgah selalu jamak. Ini juga
enggak pernah juga
singgah maksudnya menetap.
tidak sedang dalam perjalanan.
Rasulullah menetap. Kemudian dalam
menetap itu Rasulullah tidak pernah
jamak. Beliau jamak dalam dua kondisi.
Jaddir jika safar berat, safar berat
butuh kegiatan berat repot
atau id kana alair. Ketika sedang dalam
perjalanan
maka beliau jamak. Misalnya kita ee
berangkat menuju Tegal ya. Maka sampai
sebelum sampai Tegal sampai di pomeni
salat jamak enggak ada masalah. Karena
justru sunahnya seperti itu. Ketika
sedang dalam perjalanan kita berusaha
untuk apa? Jamak. Atau ketika safar
repot. Kita lagi tidak dalam perjalanan
tapi safar repot. Ini harus beli ini,
harus ke sana, harus jamak enggak ada
masalah ada keperluan. Karena jamak
disyariatkan karena untuk meringankan
kesulitan. Tetapi kalau kita lagi santai
tinggal di hotel 4 hari ya selama tidak
ada keperluan mending kita salat pada
wak pada waktunya. Meskipun boleh kita
jamak tetapi yang afdal adalah salat
pada waktunya dengan diqasar. Salat pada
waktunya. Adapun ketika dalam perjalanan
sunahnya dija dijamak. Demikian juga
kalau safarnya repot maka sunahnya di
dijamak. Tidak dinukilkan Rasulull sahu
alaihi wasallam ketika singgah kemudian
salat jamak kecuali di Arafah. Kecuali
di Arafah. Rasul sahu alaihi wasallam
singgah di Arafah dari pagi sampai malam
terbenam matahari dan beliau jamak
ketika itu karena ada maslahat itu
Rasulull sahu alaihi wasallam ingin
lebih banyak waktu doa agar waktu doa
tidak terpotong dengan waktu salat
sehingga setelah salat zuhur asar beliau
berdoa sampai mag magrib. Ya. Jadi
intinya bukan sunah juga setiap kita
menetap kita selalu meskipun boleh ya
tapi tidak dikatakan sun sunah. Sunahnya
jamak safar kapan? Ada dua kondisi.
Ketika sedang berjalan dalam perjalanan
atau ketika safar dalam kondisi berat.
Itu banyak keperluan banyak. Maka tidak
mengapa kita menjamak salat. Jika tidak
kita berusaha salat pada waktunya. Bab
demikian. Wabillahi taufik hidayah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:15:45 UTC
Categories
Manage