Kitab Riyadush Shalihin 2.95: Kewajiban Menaati Pemerintah Dalam Perkara Yang Bukan Maksiat
M3J0mm5VHeQ • 2026-01-19
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu ala taufqih wamtinani asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarika lahu wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh da ridwan allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan. Hadirin hadirat Allah subhanahu wa taala. Kita masih melanjutkan pembahasan tentang bab ujubi taatiil umur fi ghairi maksiah. Bab tentang wajibnya taat kepada penguasa jika pada perkara selain maksiat. Watahrimiatihim fil maksih. Dan haram untuk taat kepada mereka jika menyeru kepada maksiat. Dan pada pertemuan lalu telah kita sampaikan hadis panjang dan kita berhenti di tengah hadis tersebut. Saya lanjutkan hadisnya ya. Eh Rasul sahu wasallam mengatakanul fitnatu muhlikati. Sebelumnya Rasulullah mengatakan eh fitnatun ba akan datang fitnah-fitnah yang akhirnya sebagian menjadikan fitnah yang sebelumnya menjadi ringan. Yaitu fitnah akan datang dan semakin berat semakin berat. yang dulunya dianggap ringan, yang dulunya dianggap berat, kemudian datang fitnah yang lebih besar, maka menjadi ringan ya karena fitnah semakin berkembang ya. Dulu hanya sekedar mungkin syahwat, sekarang syubhat. Sekarang bukan cuma syubhat, sampai fitnah ateisme dan semisalnya ya. Jadi fitnah semakin ee besar. Kalau maksiat pun dulu cuma sepele. Mungkin kita anggap berbahaya dulu. Sekarang semakin parah, semakin parah, semakin liar. Dan demikianlah demikianlah kondisi fitnah-fitnah yang ada. Jika datang maka akan menjadikan fitnah sebelumnya terasa terasa ringan karena semakin dahsyat. Watajiul fitnatu faylul mukmin. Akan datang suatu fitnah. Maka seorang mukmin berkata, "Hadi muhlikati, aku akan binasa dalam fitnah ini." Ya, mungkin fitnah pertumpahan darah atau semisalnyaif. Kemudian fitnah tersebut ternyata sirna. Watajiul fitnatu. Kemudian datang lagi fitnah yang lebih dahsyat. Fakulul mukmin. Maka seorang mukmin akan berkata, "Hadi, hadi." Ha, sekarang ini saya akan binasa. Kalau kemarin saya lolos, sekarang ini saya akan bi binasa. Itu sangat dahsyatnya fitnah itu. Rasulullah menggambarkan bahwasanya fitnah itu datang sili perganti terkadang berat, terkadang lebih berat lagi. Kemudian Rasul Sallahu Alaihi Wasallam menjelaskan tentang ee bagaimana kondisi seorang ketika meninggal. Apa kondisi yang terbaik? Karena semua orang akan meninggal. Jadi masalah bukan meninggalnya semua orang akan meninggal, tapi bagaimana kondisi ketika meninggal meninggal dunia itu seorang berusaha husnul khatimah. Seorang berusaha husnul khatimah kata Rasul Sallahu Alaihi Wasallam itu jika datang fitnah, jika datang bencana caranya bagaimana meninggal husn khatimah kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Faman ahabba an yuzahzaharinar wudkhalal jannah." Siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surgaiatuhu wahu billahi walumil akhir maka hendaknya kematian mendatanginya dan dia dalam kondisi beriman kepada Allah dan hari akhirat yuhibai dan hendaknya dia melakukan kepada manusia apa yang dia suka jika dilakukan kepadanya ini dua syarat agar dapat husnul khatimah pertama meninggal dalam kondisi beriman Dan ini mengkonsekuensikan seorang berusaha menjaga imannya bahwasanya imannya merupakan ee modal dasar yang paling utama. Sebisa mungkin dia tidak spekulasi dengan imannya. Kalau dia melakukan sesuatu, dia khawatir imannya bakalan kurang, dia khawatir dia akan terfitnah, maka jangan dia spekulasi karena ini modal terbesar bagi dia sebelum dia meninggal meninggal dunia. Jangan sampai dia spekulasi kemudian dia lagi bermaksiat, imannya lagi turun kemudian dia meninggal. Kita enggak tahu kapan iman kita turun. Maka kalau iman turun segera kita naikkan. Yang pertama berusaha menjaga keimanan semaksimal mungkin. Cara menjaga keimanan banyak dengan ibadah yang rutin, dengan ngaji, dengan membaca tafsir, dengan tadabur ayat-ayat. Ini menambah keimanan. Membaca sejarah para ulama bagaimana kesabaran mereka. Ini semua menambah keimanan. Yang kedua ini juga tidak kalah penting agar seorang husnul khatimah walati yuhibai. Bersikaplah kepada orang lain dengan sikap yang kau suka jika disikapi pada dirimu. Ini salah satu definisi tentang akhlak yang mulia yaitu seorang berusaha bersikap kepada orang lain dengan sikap yang dia suka pada dirinya. Bahkan terkadang Syekh Utsimin menjelaskan rahimahullah, kalau ada orang tanya datang kepada engkau dan bertanya tentang suatu masalah muamalah, bagaimana hukumnya? Bagaimana kalau saya melakukan demikian kepada partner saya dalam berdagang? Bagaimana kalau saya melakukan ini terhadap customer saya? Ya, mungkin kita tidak bicara halal haram. Mungkin secara hukum boleh-boleh saja, tapi kita ajarkan kepada yang lebih baik daripada itu. Kita bilang, "Bagaimana jika engkau dalam pada posisi customer?" Bagaimana jika kau dalam posisi partnermu? Apakah kau suka digitukan? Kalau kau suka, lakukan. Kalau kau enggak suka, jangan. Jadi, kita melatih diri kita dan juga melatih orang untuk ee memikirkan hal ini. Bahwasanya kalau kau tidak suka hal itu diberi, dilakukan kepadamu, maka jangan lakukan pada orang lain. Kalau kau suka, silakan lakukan kepada orang lain. Ini salah satu sebab untuk husnul khatimah. Karena kalau kita punya metode ini, kita jadikan pedoman hidup, kita mungkin tidak akan menzalimi orang lain. Kan setiap kita lakukan sesuatu, wah kalau saya yang diginikan tentu saya tidak rida. Mungkin orang tidak akan zalim. Mungkin orang tidak akan zalim, ya. Mungkin seorang tidak akan zalim. Makanya ada seorang ahli pendidik dia pernah berkata, "Seringlah engkau mentalkinkan kepada anakmu enam madluman laziman." Tidurlah anakku dalam kondisi terzalimi. Jangan dalam kondisi menzalimi. Oh, tidur terzalimi gak apa-apa, tapi jangan menzalimi orang orang lain. Ya, sehingga terulang-ulang. Kamu gak apa-apa tidur. Terzalimi enggak ada masalah terzalimi. Jangan sampai zalimi orang orang lain. Kalau kau terzalimi tidur. Kalau kau zalim, jangan tidur. Jangan tidur ya. Karena repot nanti di akhirat. Nah, di antara hal yang untuk mencegah seorang berbuat zalim dan kezaliman adalah sebab suul khatimah adalah bersikap kepada orang lain dengan sikap yang kita suka untuk diri diri kita. Ini jadikan pedoman hidup. Oke enggak kalau itu dilakukan pada kita? Kalau oke, lakukan pada orang-orang. Kalau kau enggak nyaman, enggak oke, jangan lakukan sama orangor lain. Mungkin secara hukum syari boleh-boleh saja belok kanan, belok kiri melakukan trik-trik. Tapi tanyakan kepada hatimu, ini kalau dilakukan padamu nyaman enggak? Kalau enggak nyaman, jangan lakukan pada orang lain. Ini apa? Pedoman hidup. Dan itulah kata Syekh Abdur Razzaq hafidahullahu taala, parameter akhlak mulia. Kalau kita ingin berakhlak mulia sama orang tua kita, maka kita bayangkan kita sebagai orang tua. Kira-kira orang tua kita ee maunya gimana? Saya kalau jadi orang tua saya maunya apa? Saya mau anak saya nurut, saya mau anak saya berbakti, saya mau anak saya sering telepon saya, ya. Apalagi kalau sudah tua, ya lakukanlah kepada orang tuamu, ya. tahukanlah kepada orang tuamu. Makanya saya sering sampaikan tentang kisah seorang yang dia menyadari bahwasanya dia ternyata kurang berakhlak kepada orang tuanya. Kapan dia sadari? Ketika dia sudah tua. Ketika dia sudah tua, anaknya sering bilang, "Abi, ayah mau ini." Terus dia jawab, "Enggak." Karena dia sungkan, dia malu. Anaknya datang lagi, "Ayah, mau ini, mau saya belikan ini." Kata dia, "Enggak." Padahal dia mau, cuma dia malu. Setelah itu dia baru sadar, dia juga dulu gitukan orang tuanya. Abi mau gini. Abinya bilang, "Enggak, akhirnya enggak dibelikan. Namanya kadang orang tua sungkan kepada anak. Harusnya kau enggak usah tanya tanya-tanya. Kalau tahu orang tua suka sesuatu hadirkan aja. Enggak perlu tanya-tanya. Tinggal oh saya dulu salah. Saya baru sadar ternyata orang tua saya juga dulu begitu. Sebagaimana sekarang saya ditawarin oleh anak saya bilang, "Enggaklah, Nak. Abi enggak perlu." Tapi anak yang cerdas dia melihat raut wajah ayahnya, raut wajah ibunya. Bawoknya anak ibunya ingin, ayahnya ingin. Ya harusnya gak usah banyak tanya. Ah, belikan aja ya belikan. Karena ada orang tua yang tungkan ya, ada yang malu. Maka kalau ingin berbuat baik kepada istri, ya kita coba bayangkan saya sebagai istri kira-kira saya sukanya apa? Sukanya apa? Dibelikan emas. Ya dibelikan emas kalau punya uang. Itu akhlak baik. Kalau ingin seorang wanita berbuat berakhlak baik kepada suami dia, bayangkan kalau dia posisi suaminya. Kira-kira dia suka enggak kalau dia gitukan suaminya? Kira-kira dia suka enggak kalau suaminya suruh dia angkat suara dia membangkang? suaminya suruh ke mana? Ke masjid, dia malah ke mall misalnya ya. Seperti itu. Jadi dia bayangkan, dia memposikkan dirinya kepada pihak yang sedang dia ber apa interaksi dengannya. Ini jadikan pedoman hidup dan ini sebab husnul khatimah. Makanya Nabi berkata di sini, ahabahinar, siapa yang ingin selamat dari neraka jahanam dan masuk surga. Dua syaratnya. dia meninggal dalam kondisi wahua yu billahiumil akhir dalam kondisi beriman jaga benar iman kita jangan spekulasi jangan spekulasi kapan kita terjatuh segera bertobat jangan spekulasi saya mau tobat besok jangan jangan pernah tund kau gak tahu kau mati sekarang enggak tahu tiba-tiba kecelakaan tiba-tiba dibunuh orang tiba-tiba kematian datang kapan saja yang kedua walati ilanasilladzi yuhibbu yuta ilai lakukanlah bersikap kepada orang lain kepada manusia siapapun orang tersebut ayahmu, ibumu, mu, tetanggamu, kakakmu, adikmu, anakmu, ommu, ya semua dengan sikap yang kau suka jika dilakukan pada dirimu. Ya, maka dengan pedoman hidup seperti itu, dengan customer, dengan bos, dengan semua orang, lakukan dengan sikap kira-kira kalau saya jadi bos, saya pengin anak buah saya seperti apa. Ya, kalau saya jadi anak buah pegawai, kira-kira apa yang saya suka dari pegawai? Sukanya apa? Ya, bosnya mikirin gimana. Kalau yang jadi bos yang baik, dia renungkan. Kalau saya jadi pegawai, kira-kira saya pengin gimana? Ya, renungkan dengan suatu yang sikap yang masuk akal yang logis dia lakukan. Adapun kalau tidak baik jangan dilakukan. Jadi ini pedoman hidup maka niscaya seorang akan mendapatkan husnul khatimah. Kenapa? Kalau dia bersikap seperti ini, niscaya dia tidak akan pernah berbuat zalim. Karena tu orang tidak suka dizalimi, maka jangan menzalimi orang-orang lain. Kalau dia tidak berbuat zalim, niscaya dia husnul khatimah. Karena di antara sebab sebab husnul khatimah, suul khatimah adalah berbuat apa? Zalim. Dan di antara sebab husnul khatimah adalah berbuat baik kepada orang lain. Tib. Setelah itu Rasul Sallahu Alaihi Wasallam menjelaskan tentang kondisi ee ada kondisi di mana terjadi pemberontakan kepada penguasa. Ini juga apa yang harus dilakukan. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Waman baya imaman fauq yadihiar qolbihi falyu ina." Siapa yang membaiat seorang imam dan dia memberikan ee apa namanya? Tangannya ya dan dia memberikan isi hatinya, maka hendaknya dia taat kepada pemimpin tersebut semampunya. Dahulu kalau orang baiat seperti itu. Telapak dengan telapak kemudian berjanji menunjukkan sumpah setia. dahulu seperti itu biasanya penguasa kemudian dibaiat oleh pembesar-pembesar. Adapun rakyat tidak perlu. Kalau perlu silakan, kalau tidak maka enggak mengapa. Karena cukup diwakili oleh pemuka-pemuka agama, pemimpin suku, perwakilan-perwakilan. Mereka membaiat memimpin. Ya, sampai sekarang juga masih demikian ya. Jadi mereka baat dengan apa? Dengan tangan. Kemudian menunjukkan kepada sang penguasa dari isi hatinya. Kata Nabi, maka hendaknya dia taat kepada penguasa tersebut semampunya. Kalau di luar kemampuan ya itu uzur. Kemudian Rasulullah berkata jauh setelah dia membaiat suatu seorang pemimpin yang sudah diakui tahu-tahu datang orang lain ingin merebut kekuasaan dari pemimpin yang pertama. Ak kata Nabi, bunuh orang kedua. Dalam riwayat yang lain, kainan mana. Siapapun dia, siapapun dia. Ini adalah penerapan kaidah irtikabu akadara difar akbar. Menempuh kemudaratan yang lebih ringan dalam rangka untuk menolak mudarat yang lebih besar. Karena kalau seorang sudah berkumpul pada satu pemimpin, satu penguasa terus datang satu orang ini kalau dituruti maka akan terjadi dua kubu dan akan terjadi pertumpahan darah. Dualisme kepemimpinan sangat berbahaya dalam suatu negara, dalam suatu wilayah. Maka hukum Islam mengatakan kalau ada yang kedua, satu disepakati datang orang kedua sesaleh apapun bunuh. Kainan manana kata Nabi sallallahu alaihi wasallam boleh dibunuh. Kenapa? Ini bikin masalah. Oh, lebih saleh yang kedua daripada yang pertama. Iya, aturannya ada tetap bunuh yang kedua. Ya, mumpung dia belum besar, mumpung baru muncul. Tapi kalau sudah besar kemudian sebagian membelot ke situ ya sudah pertumpahan darah akan banyak yang meninggal meninggal dunia. Untuk mencegah pertumpahan darah yang lebih besar lebih baik dikorbankan yang ke kedua ini dalam negara terkadang ada aturan seperti ini. Yaitu menempuh kemudroratan lebih ringan dalam rangka menolak untuk menolak kemudroratan yang lebih lebih besar. Makanya ini salah satu dalil untuk membantah baiat-baiat bidah yang ada di tanah air. Muncul kelompok ini, ada pemimpinnya baiat. Muncul kelompok ini ada baiatnya. Harusnya bunuh yang lain satu aja dong. Yang mana nih? Yang lainnya kita bunuh aja. Nanti ngaku-ngaku. Kita diluan. Kita dan, kita duluan. Ini baiat amir-amir bahlul semuanya ya. Apa amir-amir apa? Apa kekuasaannya? Kekuasaannya enggak ada, polisinya enggak ada, tentaranya enggak ada. Haji pun numpang. Saya pernah haji sama seorang pemimpin khalifah. Khalifah satu tenda sama saya. Khalifah Balul kata benar khalifah. Saya pernah satu tenda dengan khalifah Islam jamaah di hajian. Ini khalifah macam apa begini? Tenda dengan saya. Saya ceramah aja biarin aja didengarnya. Khalifah satu tenda dengan saya. Subhanallah. Apa khalifah seperti ini? Pemimpin enggak ada. Namanya wulatul umur tuh yang memegang kepu keputusan. Bukan amir-amir, amir-amiran. Yang penting anak buah toran pajak, amirnya kaya, dibodoh-bodohin oleh amirnya. Kalau kita menerapkan hadis ini, kalau ada pemimpin datang pemimpin yang kedua, dibunuh atau tidak dibunuh? Akhirnya yang satu bilang, "Ah, amir kami di luaran, kami jamah di luar." Itu jemah belakangan. Ya sudah, ya sudah harus pokoknya satu harus mati cuma satu aja. Ini semuanya ini amir tidak benar. Ini baiat-baiat bidah yang tersebar yang menjadikan ee kaum muslimin terpecah-pecah sehingga terjadi dualisme. Ada tiga kepimpinan, empat kepimpinan saling menghujat di antara mereka, saling mengkafirkan satu dengan yang lainnya. Dan itu sangat menyedihkan sampai sekarang masih masih ada. Masih ada tentunya kita tahu ee mohon maaf kadang-kadang dipelihara demi kepentingan politik. Ya sudah, jangan bicara politik di sini. Kita lanjut. Tayib. Jadi Rasulullah menyuruh untuk taat kepada ee penguasa pertama dan untuk mencegah timbulnya dualisme kepemimpinan. Karena kalau muncul dualisme kepemimpinan maka mudarat lebih besar. Ya. Tib. Kita lanjutkan hadis berikutnya. Wan Abi Hunaidata Wail ibn Hujar radhiallahu anhu qala. Dari sahabat Wail bin Huj radhiallahu berkata, "Saala salamatu ibnu Yazid aljufi." Rasulullah sallallahu alaihi wasallam faqal. Salamah bin Yazid aljufi bertanya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, "Ya Nabi Allah, wahai Rasulullah, arita inqat al umar yasalunaqahum." Bagaimana menurut Anda ya Rasulullah? Jika muncul pemimpin-pemimpin yang hanya meminta hak mereka kepada kami, kalian rakyat harus begini, harus begini, harus begini, harus begini. minta hak pemimpin, minta hak mereka untuk ditaati, untuk misalnya ditarik ini, ditarik anui misalnyaunaqona, sebaliknya mereka tidak menunaikan hak kami sebagai rakyat. Kami tidak merasakan atau tidak mendapatkan pelayanan. Hak kami diabaikan ya curhatan kami di tidak digubris. Fama takmuruna. Apa yang kau perintahkan kepada kami jika mendapati penguasa seperti ini? Faad anhu. Rasulullah berpaling dari jawabannya. Ini tentu pertanyaan ya ee tentang suatu yang bukan mengada-ngada yang mungkin terjadi ya. Karena kita dilarang untuk banyak bertanya hal-hal yang jauh mungkin tidak terjadi atau pertanyaan yang mustahil ya yang tidak kita perlu ya seperti ini kita enggak usah jawab ya. Tapi kalau mungkin terjadi maka boleh ditanya. Seperti ada yang pernah tanya seorang ustaz, "Ustaz, kalau saya di bulan saya salatnya kapan?" Ya, kata ustaz, "Nanti sampai di bulan SMS saya." Dulu belum ada WA SMS saya ini saya jawab. Kalau kau SMS saya itu tanya-tanya yang kadang-kadang tidak ya, "Ustaz, bagaimana hukum makan daging dinosaurus?" E, "Kamu tangkap dulu, sembelih tanya saya nanti habis itu." Hal-hal yang tidak logis, tidak perlu ditanyakan. Ya, ada bertanya, "Ustadz, bagaimana kalau kita lagi salat Ka'bah hilang? Terbang Ka'bahnya. Kita ikut hadap Ka'bah atau hadap tempat Ka'bah?" Ti nanti kalau terbang tanya saya coba pertanyaan enggak perlu yang mungkin tidak dialami oleh seseorang. Berbeda kalau di akhir zaman. Bagaimana kalau Ka'bah runtuh? Mungkin karena Ka'bah akan runtuh suatu hari tapi kalau sekarang terlalu jauh ya. Artinya akhirnya ketika seorang sibuk dengan hal-hal yang tidak penting bagi dia, dia melupakan untuk bertanya hal-hal yang bermanfaat dalam kehidu kehidupannya. Nah, ini seperti ini tidak tahu prioritas. Maka orang ini bertanya pada hal yang mungkin terjadi. Ya saalahu, dia tanya lagi kepada Nabi. Rasulullah, faqala Rasulullah sallallahu alaihi wasallam wasallam mengatakan, "Ismau wa atiu." Kalau kalian dapati penguasa yang seperti itu yang hanya menuntut hak mereka dan tidak menunaikan hak rakyat, dengarlah wa atiu dan taatlah. Fainnama alaihim humilu. Mereka bertanggung jawab atas kewajiban mereka. Waaikum ma humiltum. Dan kalian bertanggung jawab atas kewajiban kalian. Sudah Rasul maksudnya kata Rasulullah, "Sudah kalau memang hak mereka tunaikan. Adapun hak mereka tidak tunaikan kepada kalian urusan mereka dengan Allah Subhanahu wa taala." Sehingga ini juga kaidah ikhwan, ini juga pedoman hidup. Dalam kehidupan ini kita ada hak dan kewajiban. Siapapun kita ada hak, ada apa kewajiban. Kita punya kewajiban terhadap istri, kita punya kewajiban terhadap anak, kita punya kewajiban terhadap suami, kita punya kewajiban terhadap orang tua, kita punya kewajiban terhadap tetangga, kita punya kewajiban terhadap teman, kita punya kewajiban mungkin terhadap bos, kita punya kewajiban terhadap pegawai. Pastikan kewajiban kita kita tunaikan dan kita juga punya hak. Kita punya hak sebagai seorang suami, kita punya hak sebagai seorang ayah, kita punya hak sebagai adik, kita punya hak sebagai anak misalnya, kita punya hak. Dalam dunia ini, hidup ini ada hak dan apa? Kewajiban. Yang penting bagi seorang ketika dia meninggal dunia, semua kewajiban sudah dia tunaikan. Adapun hak dia tidak dikasih, dia dapat di akhirat lebih bagus daripada dapat di dunia. Dia dapat hak dia di akhirat lebih utama atau dapat di dunia? Di akhirat. Di dunia apa? Kita enggak terlalu perahu dengan hak kita. Kita diambil uang kita, kita masih bisa makan. Itu sakit hati. Iya. Tapi kita lebih butuh hak itu nanti di akhirat. Ya sudah, kita sudah minta dia enggak kasih sudah nanti di akhirat. Maka pastikan antum hidup ini semua kewajiban orang antum sudah kewajiban antum pada orang lain. Hak orang lain yang antum pikul harus antum tunaikan. Pastikan. Karena Rasulullah berkata, "Fainnama alaihim ma humilu wa alaikum ma humiltum." Karena mereka akan bertanggung jawab dengan kewajiban mereka. Sementara kalian akan ditanya oleh Allah tentang kewajiban ka kalian. Maka sebelum kita meninggal, coba cek-cek, ada enggak hak orang yang kita pikul? Cek-cek, istri sudah ditunaikan haknya belum. Jangan-jangan kita belum kasih makan pagi ini. Jangan-jangan kita belum berikan hak dia, hak ee keuangan, hak biologis. Coba tanya sama diri sendiri. Saya sudah temukan hak istri belum? T hak orang tua. Coba kita cek sudahkah hak orang tua saya tunaikan? Sesudahkah saya menjadi anak yang berbakti kalau kita mesti punya orang tua? Cek hak anak-anak. Sudahkah kita menuaikan hak anak? Kita perhatikan bukan sekedar makan dan minumnya, tapi pribadinya, akhlaknya juga kita perhatikan. Pendidikan sudah kita perhatikan. Tetangga kita sudahkah kita tunaikan hak tetangga kita? Pastikan sudah kok. Kalau dia sakit saya jenguk. Kalau dia perlu saya bantu, alhamdulillah. Tib pembantu kita, sopir kita sudah, sudahkah kita tunaikan haknya? Pegawai kita? Kalau sudah tidur nyaman. Kalau belum jangan tidur. Tunaikan dulu hak orang. Ini kalau antum bermasalah sama orang, pastikan antum di posisi benar. Jangan sampai antum di posisi menzalimi. Tadi enam mazluman lazaliman. Tidurlah engkau dalam kondisi terzalimi. Jangan sampai kau tidur dalam kondisi men zalimi. Karena berat. Maka seorang ini pedoman hidup ya. Jadi berusaha semua hak orang kita tunaikan. Semua kewajiban kita kita tunaikan. Adapun hak kita enggak ditunaikan di dunia kita akan ambil di akhirat. Dan kita lebih butuh hak kita di akhirat. Maka sini Rasulullah menyuruh seorang mengenali apa kewajiban dia. Dan ini juga faedah kita yang perlu kita perhatikan bahwasanya seorang mengenali kewajiban dia sehingga dia tunaikan. Jangan terlalu sibuk sama kewajiban orang. Kewajiban dia tunaikan. Tentu berbeda-beda antara orang awam seperti antum. Kewajibannya tidak sama seperti ustaz, tidak sama dengan seperti ulama, tidak sama seperti penguasa. Kewajiban beda-beda seorang mengenali ranah dia. Kalau di luar ranah dia, ya sudah. Itu bukan bukan bukan urusan dia ya. bukan urusan urusan dia. Oleh karenanya kenali kita jangan terlalu mikir jauh-jauh sementara ternyata ranah kita kita lalaikan. Hati-hati. Mikir jauh-jauh ternyata anak istri tidak kita perhatikan. Mikir terlalu jauh-jauh ternyata kakak adik kita ee abaikan. Kerabat kita abaikan. Ya. Maka kenali ranahmu. Ya. Jangan terlalu mikir jauh-jauh sehingga prioritas salah sehingga engkau melalaikan ranahmu sendiri. Tentu di sini nasihat dari Nabi memang tidak mengenakkan bagi kita. Penguasa hanya ngambil hak dia. Waktu kita nuntut tidak dikasih. Tetapi sebagaimana saya sering dengar Syekh Abdul Razak menyampaikan sebagaimana kalian taat kepada Nabi ketika disuruh yang mungkin tidak menyenangkan hawa nafsu seperti harus puasa, harus bangun subuh, ya kalian tetap kerjakan. Maka ada hal yang tidak juga tidak mengenakkan seperti ini. Ketika penguasa zalim, sabar, tidak mengenakkan tapi sabar. Kalau sabar karena Allah, seorang bisa ber bersabar. Memang tidak mengenakkan ya. Siapa yang tidak mengenakkan tapi lakukan karena Allah subhanahu wa taala. Tib. Hadis berikutnya. Waan Abdillah bin Mas'ud. Ini dalil bahwasanya harus tetap taat kepada penguasa meskipun puasa penguasa zalim. selama dia menyuruh kepada keba kebaikan. Kalau dia menyuruh kepada maksiat, maka tidak boleh taat. Tapi tidak boleh memprovokasi masa untuk memberontak. Tidak boleh memprovokasi masa untuk memberontak. Dan jangan juga ikut memprovokasi masa untuk membenci penguasa. Syekh Utsimin rahimahullah yang menyampaikan nasihat. intinya ee beliau mengatakan dalam syarah Ridus Shihin itu beliau mengatakan ee ee saya pengin baca perkataannya lebih saya bacakan Amma idza amaru bisyaaiin laisa maksih wajaba alaina anuti. Kalau pemerintah menyuruh kita pada perkara yang bukan maksiat, maka wajib bagi kita untuk kita taat. Perkara yang bukan maksiat ada dua. Perkara yang pas ada perintahnya dari Al-Qur'an dan sunah. Maka kita taat. Meskipun penguasa tidak suruh pun kita taat. Karena ada Al-Qur'an dan sunah. Misalnya penguasa bilang salat, puasa, haji, ya ikut aja. Tanpa disuruh penguasa pun kita akan taat. Perkara yang kedua yang juga kita wajib taat adalah aturan-aturan yang dibuat oleh penguasa yang tidak secara tegas menyelisihi Al-Qur'an dan sunah. Tapi perkara tersebut perkara ijtihadiah, perkara yang melihat maslahat dan mudarat. Selama tidak tegas mengisi Al-Qur'an dan sunah maka kita menghormati keputusan tersebut. Ini wajib untuk kita taat ya. Kemudian yang kedua ya, kalau dia menyuruh kepada maksiat maka kita tidak boleh taat. Tetapi la yajuzu lana anunabatal umur. Tidak boleh kita memberontak. Tidak boleh kita memberontak. Yang ketiga, ini mungkin berat zaman ini saya sampaikan aja ini bukan perkataan saya. Perkataan siapa? Kata beliau, tidak boleh bagi kita untuk berbicara di depan orang awam dengan perkara-perkara yang menimbulkan kedongkolan, kejengkelan kepada penguasa. Ya, dengan perkara-perkara yang menyebabkan masyarakat benci kepada penguasa. maadun kabir karena pada perkara ini ada mafsadah yang yang besar bil terkadang seorang menampakkan bahwasanya ini adalah girah kepada agama maka kita membuat masyarakat benci kepada penguasa atau ini adalah bentuk tegar di atas kebenaran kata Syekh Utimak hijab namanya nya ingin kebenaran bukan di balik tabir asod bilhaq yakunu asod bilhaq anyakunul amr amamaka watakullahu yang benar engkau di depan penguasa langsung dan engkau nasihati anta faalta kad w lajus nasihati secara langsung itu baru benar adapun kalau menasihati depan banyak orang tentunya masyarakat semakin jengkel penguasa pun mungkin tidak terima karena dia dijelek-jelekkan di di belakang Saya tanya sama antum ya. Di zaman para sahabat Anas bin Malik, ada seorang terkenal yang kenal zalim, membunuh sahabat, membunuh tabiin. Siapa? Hajaj bin Yusuf Attaqafi. Tapi apakah para sahabat kemudian berbicara depan umum provokasi masa? Tidak. Siapa yang lebih buruk daripada Hajiz bin Yusuf atauqafi sekarang? Enggak ada. Ya. Jadi para sahabat tidak memprovokasi masa ya. Kalau mau nasid dengan cara yang yang baik. Saya bacakan lagi perkataan Syekh Utim terakhir ya. Muif rahimahullah mazhabu ahli sunah. Apa yang disampaikan oleh penulis adalah mazhab ahli sunah wal jamaah. Wahab salafush. Ini mazhab para salafah umara yaitu dengar dan taat kepada penguasa. dan tidak taat dan tidak tidak membangkang mereka pada perkara yang kita wajib taati alai dan tidak memprovokasi masa untuk membenci mereka ahqai tidak memprovokasi masa untuk dongkol kepada mereka mazhabu ahli sunah wal jamaah dan ini mazhab ahlusunah wal jamaah selesai pernyataan Syekh Ibnu Utsimin rahimahullah masing-masing silakan lakukan apa yang dia lakukan Bu tentu masing-masing ada tanggung jawabnya di hadapan Allah Subhanahu wa taala. Tugas saya hanya menyampaikan. Mau saya ikhwan ee semua ee apa namanya? Semua ada pintunya ya. Ya. Bahwasanya rumah dimasuki lewat pintunya kalau ingin menasihati ada pintu pintu-pintunya ya. Jangan sampai kita terprovokasi, akhirnya memprovokasi, akhirnya terjadi pergolakan, akhirnya yang rusak, negara rusak, terjadi demonstrasi, kemudian pertumpahan darah dan macam-macamnya. Ada seorang kawan menasehati seorang ustaz yang lain. Ada ustaz kemudian provokasi masa ketika musim-musim demo. Dan kemudian ada sebagian kawan menulis nasihat bahwasanya bukan begitu cara manhaj ahli sunah sebagaimana yang ditakrir oleh para ulama. Ya, bukan caranya demikian ya. Kemudian akhirnya ustaz itu tersinggung dia telepon, "Kenapa kau tulis seperti itu?" Ya, nanti kau akan dibenci oleh kaum muslimin kalau kau tidak mencela penguasa dan macam-macamnya. Maka kata kawan saya, "Tib ustaz kalau ustaz memprovokasi terjadi demo, ada yang meninggal, ustaz tanggung jawab ada yang meninggal gak usah banyak. Satu saja meninggal gara-gara provokasi antum. Antum tanggung jawab hari kiamat tersebut terdiam. yaitu seorang fitnah kalau bisa menjauh dari fitnah tersebut. Kalau ingin beri nasihat dengan cara yang baik, saya sudah sampaikan untuk masalah penguasa. Kalau mereka baik, kita dukung kebaikan mereka. Kalau mereka suruh maksiat, jangan dukung sama sekali. Tapi tidak harus kemudian memprovokasi apa? Masa. Kalau menasihati dengan cara yang yang benar, dengan jalur yang yang benar, bukan kemudian memprovokasi masa, kemudian masa memberontak. Ini yang kita khawatirkan dengan cara-cara yang yang baik. Wallahuam bab. Tib kita lanjutkan. Waan Abdillah bin Mas'ud radhiallahu taala anhu qa q Rasulullah sallallahu alaihi wasallam innaha satakunu ba'diatun wa umurun tunkirunaha. Sesungguhnya akan datang setelahku sikap ararah. Ararah sudah kita sebutkan dua makna. Makna pertama penguasa hanya ngumpulin harta buat dia. Kurang perhatian sama masyarakat. Memperkaya diri sendiri. Adakah penguasa seperti itu? Di mana-mana. Adakah pengas seperti itu? Jawabannya apa? Di mana-mana. Di mana-mana. Saya ulang lagi. Apakah ada penguasa seperti itu? Apakah antum ragu dengan jawaban saya? Paham jawabannya di mana? Di mana-mana. Kalau saya jadi penguasa, tidak ngomong kosong. Betapa banyak orang yang mengatakan kami tuntut keadilan-keadilan ketika dia jadi penguasa. Iya atau tidak? Iya. untuk tidak boleh korupsi korupsi ketika jadi penguasa dia yang korupsi. Benar atau tidak? Jadi perkaranya bukan masalah Allah dan Rasul-Nya, bukan masalah membela agama. Ini semuanya membela perut cuma memaikan memakai label apa? Agama. kenyataan membuktikan maksudnya oleh karena itu jangan terlalu terbawa dengan label casing belum tentu saudara kita ikut manis ahlusunah juga menasihati dengan cara yang yang baik sekarang Rasulullah mengatakan innahu satakunu ba'di arar akan ada setelahku arar asarah adalah penguasa yang mengumpulkan harta untuk dirinya kurang perhatian sama masyarakat atau makna asarah yaitu nepotisme. Mendahulukan koleganya, mendahulukan keluarganya untuk jadi pemimpin. Padahal masih banyak yang lebih layak. Apakah ada penguasa seperti itu? Di mana di ya antum? Maksudnya antum harus sadar, bukan antum aja yang begini. Maksudnya maksudnya antum janganitu antum di mana-mana juga begitu ya. Bukannya kita pasrah, enggak. Kita semua ingin kebaikan. Kita selalu ingin agar negeri yang kita cintai lebih lebih baik dan lebih apa? baik. Tapi harus menyadari bahwasanya ini di mana-mana. Cuma kita harus banyak bersyukur. Kita alhamdulillah masih kedaulatan masih oke. Di mana-mana yang lain tidak seperti ini. Belum tentu. Di mana-mana yang lain mungkin bunuh-bunuhan, mungkin perang-perangan, perang antar kabilah, kemudian ekonomi hancur, demo melulu. Di mana-mana belum tentu seperti di sini. Ingat ya, saya bukan ngajak ya sudah pasra aja. Enggak. berusaha, berusaha, dakwah, nasihati, nasihati. Tapi agar kita sadar bahwasanya ini bukan perkara cuma yang kita hai, tapi perkara di mana-mana. Tib ararah tadi maknanya dua. Pertama, ngumpulin harta buat dia, untuk dia, untuk keluarganya. Yang kedua, menjadikan orang yang tidak layak jadi penguasa karena koleganya, karena partainya, karena temannya, karena adiknya, karena mbahnya. Ya sudah. Itu namanya asar. Tib. Bukan cuma itu, kata Nabi, "Wa umurun tunkirunaha." Dan ada perkara-perkara yang kalian ingkari. Kata para ulama di antaranya seperti mengakhirkan salat. Di zaman Nabi tidak ada orang akhirkan salat. Datang umara-umara berikutnya dari kalangan Bani Umayyah atau yang lainnya mengakhirkan salat. Ini sahabat namanya salat perkara penting diakhirkan. Ah, ini Rasulullah pernah kabarkan akan ada seperti ini. Qolu ya Rasulullah. Hanya Rasulullah yang kasih wacana akan ada berarti akan terjadi dan benar-benar terjadi. Sahabat bertanya, sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, kaifa tamuru man adrak minalik?" Apa yang kau wasiatkan jika di antara kami mendapati kondisi seperti itu? Qala tuadunal haqqadzi alaikum. Ingat ini kaidah. Tunaikan kewajiban kalian, yaitu hak yang kalian pikul, yaitu kewajiban kalian hendaknya kalian tunaikan. Adapun hak kalian yang tidak dikasih, minta sama Allah. Minta sama siapa? Allah. Karena kalian minta sama penguasa enggak dikasih, tinggal minta sama siapa? Allah. Tapi Rasulullah ajarkan yang penting kewajiban kalian kalian tunai tunaikan. Itu yang penting dalam kehidupan. Antum meninggal pastikan seluruh kewajiban antum sudah antum kerjakan. Jangan sampai nyimpan hak orang lain. Jangan sampai. Kalau antum jadi bos, pastikan anak buah semua sudah dikasih haknya. Kalau antum jadi suami, pastikan hak istri dikasih di telah antum berikan. Hak anak sudah antum berikan. Pastikan sebelum antum mati. Hak orang tua, hak tetangga pastikan. Hak kakak, hak ke adik, kalau punya hak kasih. Hidup tenang, nyaman, tidak ada waswas, tidak ada deg-degan. Malaikat maut cabut, nyaman. Semua hak sudah saya tunaikan. Tapi malaikat maut cabut. Waduh, hutang belum lunas nih. Waduh, ini belum saya bayar. itu saya bohongin, itu saya zalimi. Wah, gimana enggak deg-degan kalau malaikat maut apa datang seperti ini. Sekarang ada penguasa ngambilin harta, nepotisme. Orang yang pintar digoblok-goblokin, orang goblok dipintar-pintarin. Sudah mau diapain? Mau apa? Ya sudah, hak kamu minta sama Allah, hak orang, hak penguasa tunaikan. Muttafaqun alaihi hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Ini semua memang tidak mengenakkan ya. Tapi ini wasiat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Makanya Syekh Abdul Razak telah menyampaikan sebagaimana antum taat kalau Nabi suruh salat, Nabi suruh puasa, Nabi suruh bayar zakat, Nabi suruh sedekah kalian taat. Nabi suruh sabar juga hendaknya apa? Taat. Agar kita bertemu dengan Allah dengan menjalankan sunah-sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Hadis berikutnya. Abu Abi Hurairah radhiallahu taala anhu qa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dari Abu Hurairah radhiallahu anhu rasul sahu al wasallam bersabda man atani faqad Allah siapa yang taat kepadaku maka dia telah taat kepada Allah waman asoni faqad asallah siapa yang maksiat kepadaku dia telah maksiat kepada Allah amir faq siapa yang taat kepada amir maksudnya pada perkara yang baik maka sungguh dia telah taat kepadakuqani amir siapa yang membangkang kepada penguasa kalau penguasa nyuruh kebaikan dia bangkang faqad asani maka dia telah maksiat kepadaku. Kenapa? Karena Nabi yang suruh mewanti-wanti berulang-ulang untuk taat kepada penguasa meskipun mereka zalim jika perintah mereka pada keba kebaikan. Maka kalau penguasa zalim tapi dia nyuruh kepada kebaikan kita membangkang maka kitalah membangkang kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Karena Rasulullah yang menyuruh kita untuk taat meskipun penguasa yang zalim kalau mereka perintah kepada ketaatan. Kalau perintah kepada maksiat haram taat kepada mereka. Tapi tidak boleh provokasi massa untuk kemudian memberontak dan yang lainnya. Antum kan suka lihat berita. Iya. Enggak. Di mana-mana sering antum lihat kan berita. Kita masih bersyukur enggak atau enggak? Sudah lihat berita di mana mah enggak. Sudah lihat berita di Palestina? Sudah. Sudah lihat berita di Yaman? Sudah. Sudah berita lihat berita di Libya? Sudah lihat berita di Suria? Sudah lihat berita di Iran banyak yang menyedihkan yang kalau kita mungkin tinggal di situ kita belum tentu kuat ya. Ini karenanya berusaha bertakwa kepada Allah ya. Wa ibni abbas radhiallahu anhuma dari sahabat ibn abu an rasul sahu al wasallam q dari sahabat ibnu abbas radhallahu anhuma bahwasanya rasul sahu al wasallam bersabda manha min amirianbir siapa yang benci sesuatu dari penguasanya maka bersabarlah faahu man khaja minani syibron mata mitatan jahiliyah karena siapa yang keluar dari sultan itu memberontak kemudian dia mati maka matinya mati jahiliyah Ya muttafaqun alai. Rasulullah mengatakan, "Man karya min amiriaian falyasir." Siapa yang melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dari penguasanya, maka bersabarlah. Jangan sampai ketidaksabarannya membuat dia membangkang keluar dari kekuasaan. Mulai bikin cara untuk memberontak dan yang lainnya. Karena siapa yang keluar dari kekuasaan sultan meskipun syibron, meskipun sejengkal, lantas dia mati maka mati jahiliah. Tib maksudnya bukan mati kafir ya. mitatan jahiliyatu mati selayaknya orang-orang jahiliah. Di mana caranya orang jahiliah mereka tidak mau punya pemimpin. Ketika Nabi diutus, Nabi diutus kepada orang-orang Arab yang mereka jahiliah. Orang jahiliah itu enggak mau punya pemimpin. Masing-masing pemimpin kepalanya sendiri. Masing pimpinnya kepalanya sendiri. Ya, sehingga mereka sangat mudah terprovokasi untuk perang-perangan, untuk bunuh-bunuhan. Sehingga kalau metode orang yang tidak mau dipimpin, maunya pemimpin sempurna, kalau ada sel sedikit dia keluar memberontak, maka ini seperti orang jahi jahiliah. Kenapa saya perlu ingat ini? Karena kelompok-kelompok bidah tersebut mereka gunakan hadis ini untuk pemimpin mereka. Kalau pemimpin mereka macam-macam, sabar. Rasulullah bilang suruh apa? Sabar. Kalau kau keluar, mati jahiliah kafir. Sehingga enggak ada yang berani apa? Keluar. Padahal pimpin bahlul. Ya, padahal kelompok bidah ini tidak digunakan untuk mereka. Ini digunakan untuk amir yang sesungguhnya, untuk pemimpin sesungguhnya bulatul umur yang memegang kekuasaan terhadap kaum muslimin yang mengatur urusan kaum kaum muslimin. Maka ini isyarat hati-hati jangan sampai kita ingin merusak kedaulatan negara kita. Memprovokasi orang untuk merusak kedaulatan. Karena kalau mati bisa mati apa? Jahiliah. Para ulama mengatakan kapan boleh berontak? Memberontak boleh. Syaratnya dua. Pertama pemimpin kafir antar fi kufran bawahanum fi minallahi burhan. Kata Nabi, "Boleh kaum berontak. Angkat senjata perangi mereka jika penguasa melakukan kekufuran yang nyata." Kufuran nyata seperti apa? Yang tidak ada syubhat bahwasanya dia kafir. Seperti apa? Dia injak Al-Qur'an, dia maki-maki Nabi, dia mengejek agama, dia pindah agama. Ya, ini benar-benar dia kafir. Ini satu. Yang kedua, kau punya kemampuan untuk memberontak, untuk merubah. Karena amar nahi mungkar disyaratkan harus punya kemampuan. Jika tidak, maka tidak tidak boleh. Jika tidak, maka tidak tidak boleh. Adapun kalau hanya melakukan maksiat tidak sampai pada kekufuran, maka aturan ketaatan tetap berlaku. Apa yang dia perintahkan berupa ketaatan, maka taati. Kalau maksiat jangan ditaati. Hadis terakhir dalam bab ini. Wa Abi Bakr radhiallahu anhu qala samu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yaakul kata Abu Bakrah radhiallahu anhu, beliau berkata, "Aku mendengar Rasul sahu alaihi wasallam bersabda," Man ahahanan ahanahullah. Siapa yang menghina sultan maka Allah akan menghinakannya. Rahu Tirmidzi. Hadis riwayat Tirmidzi waqala haditun hasanun. Ya, berkata hadis yang hasan. Maka ini aturan ya. Ee kalau ada penguasa ya kemudian dia melakukan kebijakan yang baik misalnya, maka jangan kita provokasi dengan menghinanya dan merendahkannya ya. Kalau ternyata terjadi apa yang terjadi, dia marah kemudian dia melakukan hal-hal yang buruk, maka jangan salahkan orang lain. Jangan salahkan orang orang lain. Maka seorang bertakwa kepada Allah ikut aturan akidah ahlusunah wal jamaah terkait dengan penguasa. Kemudian al Imam Nawi berkata, "Wafil babi ahaditu." Dalam bab ini banyak hadis-hadis yang sahih. Waqquq ba fi abwabin. Dan telah berlalu beberapa hadis dalam bab-bab sebelumnya. Kesimpulannya, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala, maka suatu kedaulatan negara tidak bisa tegak kecuali ada ketaatan. Kecuali ada ketaatan. Maka syariat mendatangkan ee hukum yang jelas jika penguasa sudah terpilih ya, apakah dengan cara syari atau tidak syari. Syari itu semua tunjuk. Tidak syari seperti dia kudeta misalnya tidak syari namanya tagallub. Dia kudeta, dia maksa akhirnya dia kekuasaan dia pegang. Maka kalau dia sudah berkuasa jadilah dia pemegang kepengurusan. Jadilah dia waliul amr. Maka kalau dia sudah menjadi waliul amr, pemegang kekuasaan, pemegang keputusan dalam mengendalikan negara, maka dia telah menjadi penguasa. Nah, kalau dia seperti itu, bagaimana? Jika dia taat, itu yang kita sukai, ya. Itu yang kita sukai. Tapi kalau dia tidak taat, maka ada aturan-aturan tadi berlaku. Tib. Ee sampai sini saja nanti habis azan kalau ada yang bertanya saya persilakan. Bab demikian saja. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Requeue
Categories