Kitab Riyadush Shalihin 2.95: Kewajiban Menaati Pemerintah Dalam Perkara Yang Bukan Maksiat
M3J0mm5VHeQ • 2026-01-19
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi al ihsani wasyukrulahu
ala taufqih wamtinani asadu alla
ilahaillallah
wahdahu la syarika lahu wa ashadu anna
muhammadan abduhu wa rasuluh da ridwan
allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa
ashabihi wa ikhwan.
Hadirin hadirat Allah subhanahu wa
taala. Kita masih melanjutkan pembahasan
tentang
bab ujubi taatiil umur fi ghairi
maksiah. Bab tentang wajibnya taat
kepada penguasa
jika pada perkara selain maksiat.
Watahrimiatihim fil maksih. Dan haram
untuk taat kepada mereka jika menyeru
kepada maksiat. Dan pada pertemuan lalu
telah kita sampaikan hadis panjang dan
kita berhenti di tengah hadis tersebut.
Saya lanjutkan
hadisnya ya.
Eh Rasul sahu wasallam mengatakanul
fitnatu
muhlikati. Sebelumnya Rasulullah
mengatakan
eh
fitnatun
ba akan datang fitnah-fitnah yang
akhirnya sebagian
menjadikan fitnah yang sebelumnya
menjadi ringan. Yaitu fitnah akan datang
dan semakin berat semakin berat. yang
dulunya dianggap ringan, yang dulunya
dianggap berat, kemudian datang fitnah
yang lebih besar, maka menjadi ringan ya
karena fitnah semakin berkembang ya.
Dulu hanya sekedar mungkin syahwat,
sekarang syubhat. Sekarang bukan cuma
syubhat, sampai fitnah ateisme dan
semisalnya ya. Jadi fitnah semakin ee
besar. Kalau maksiat pun dulu cuma
sepele. Mungkin kita anggap berbahaya
dulu. Sekarang semakin parah, semakin
parah, semakin liar. Dan demikianlah
demikianlah kondisi fitnah-fitnah yang
ada. Jika datang maka akan menjadikan
fitnah sebelumnya terasa terasa ringan
karena semakin dahsyat.
Watajiul fitnatu faylul mukmin. Akan
datang suatu fitnah. Maka seorang mukmin
berkata, "Hadi muhlikati, aku akan
binasa dalam fitnah ini." Ya, mungkin
fitnah pertumpahan darah atau
semisalnyaif.
Kemudian fitnah tersebut ternyata sirna.
Watajiul fitnatu. Kemudian datang lagi
fitnah yang lebih dahsyat. Fakulul
mukmin. Maka seorang mukmin akan
berkata, "Hadi, hadi." Ha, sekarang ini
saya akan binasa. Kalau kemarin saya
lolos, sekarang ini saya akan bi binasa.
Itu sangat dahsyatnya fitnah itu.
Rasulullah menggambarkan bahwasanya
fitnah itu datang sili perganti
terkadang berat, terkadang lebih berat
lagi. Kemudian Rasul Sallahu Alaihi
Wasallam menjelaskan tentang ee
bagaimana kondisi seorang ketika
meninggal. Apa kondisi yang terbaik?
Karena semua orang akan meninggal.
Jadi masalah bukan meninggalnya semua
orang akan meninggal, tapi bagaimana
kondisi ketika meninggal meninggal dunia
itu seorang berusaha husnul khatimah.
Seorang berusaha husnul khatimah kata
Rasul Sallahu Alaihi Wasallam itu jika
datang fitnah, jika datang bencana
caranya bagaimana meninggal husn
khatimah kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Faman ahabba an
yuzahzaharinar wudkhalal jannah."
Siapa yang ingin diselamatkan dari
neraka dan dimasukkan ke dalam
surgaiatuhu
wahu billahi walumil akhir maka
hendaknya kematian mendatanginya dan dia
dalam kondisi beriman kepada Allah dan
hari akhirat
yuhibai dan hendaknya dia melakukan
kepada manusia apa yang dia suka jika
dilakukan kepadanya ini dua syarat agar
dapat husnul khatimah pertama meninggal
dalam kondisi beriman Dan ini
mengkonsekuensikan seorang berusaha
menjaga imannya bahwasanya imannya
merupakan
ee modal dasar yang paling utama. Sebisa
mungkin dia tidak spekulasi dengan
imannya. Kalau dia melakukan sesuatu,
dia khawatir imannya bakalan kurang, dia
khawatir dia akan terfitnah, maka jangan
dia spekulasi karena ini modal terbesar
bagi dia sebelum dia meninggal meninggal
dunia. Jangan sampai dia spekulasi
kemudian dia lagi bermaksiat, imannya
lagi turun kemudian dia meninggal. Kita
enggak tahu kapan iman kita turun. Maka
kalau iman turun segera kita naikkan.
Yang pertama berusaha menjaga keimanan
semaksimal mungkin. Cara menjaga
keimanan banyak dengan ibadah yang
rutin, dengan ngaji, dengan membaca
tafsir, dengan tadabur ayat-ayat. Ini
menambah keimanan. Membaca sejarah para
ulama bagaimana kesabaran mereka. Ini
semua menambah keimanan. Yang kedua ini
juga tidak kalah penting agar seorang
husnul khatimah walati yuhibai.
Bersikaplah kepada orang lain dengan
sikap yang kau suka jika disikapi pada
dirimu. Ini salah satu definisi tentang
akhlak yang mulia yaitu seorang berusaha
bersikap kepada orang lain dengan sikap
yang dia suka pada dirinya. Bahkan
terkadang Syekh Utsimin menjelaskan
rahimahullah, kalau ada orang tanya
datang kepada engkau dan bertanya
tentang suatu masalah muamalah,
bagaimana hukumnya? Bagaimana kalau saya
melakukan demikian kepada partner saya
dalam berdagang? Bagaimana kalau saya
melakukan ini terhadap customer saya?
Ya, mungkin kita tidak bicara halal
haram. Mungkin secara hukum boleh-boleh
saja, tapi kita ajarkan kepada yang
lebih baik daripada itu. Kita bilang,
"Bagaimana jika engkau dalam pada posisi
customer?"
Bagaimana jika kau dalam posisi
partnermu? Apakah kau suka digitukan?
Kalau kau suka, lakukan. Kalau kau
enggak suka, jangan. Jadi, kita melatih
diri kita dan juga melatih orang untuk
ee memikirkan hal ini. Bahwasanya kalau
kau tidak suka hal itu diberi, dilakukan
kepadamu, maka jangan lakukan pada orang
lain. Kalau kau suka, silakan lakukan
kepada orang lain. Ini salah satu sebab
untuk husnul khatimah. Karena kalau kita
punya metode ini, kita jadikan pedoman
hidup, kita mungkin tidak akan menzalimi
orang lain. Kan setiap kita lakukan
sesuatu, wah kalau saya yang diginikan
tentu saya tidak rida. Mungkin orang
tidak akan zalim. Mungkin orang tidak
akan zalim, ya. Mungkin seorang tidak
akan zalim. Makanya ada seorang ahli
pendidik dia pernah berkata, "Seringlah
engkau mentalkinkan kepada anakmu enam
madluman laziman." Tidurlah anakku dalam
kondisi terzalimi. Jangan dalam kondisi
menzalimi. Oh, tidur terzalimi gak
apa-apa, tapi jangan menzalimi orang
orang lain. Ya, sehingga terulang-ulang.
Kamu gak apa-apa tidur. Terzalimi enggak
ada masalah terzalimi. Jangan sampai
zalimi orang orang lain. Kalau kau
terzalimi tidur. Kalau kau zalim, jangan
tidur. Jangan tidur ya. Karena repot
nanti di akhirat. Nah, di antara hal
yang untuk mencegah seorang berbuat
zalim dan kezaliman adalah sebab suul
khatimah
adalah bersikap kepada orang lain dengan
sikap yang kita suka untuk diri diri
kita. Ini jadikan pedoman hidup. Oke
enggak kalau itu dilakukan pada kita?
Kalau oke, lakukan pada orang-orang.
Kalau kau enggak nyaman, enggak oke,
jangan lakukan sama orangor lain.
Mungkin secara hukum syari boleh-boleh
saja belok kanan, belok kiri melakukan
trik-trik. Tapi tanyakan kepada hatimu,
ini kalau dilakukan padamu nyaman
enggak?
Kalau enggak nyaman, jangan lakukan pada
orang lain. Ini apa? Pedoman hidup. Dan
itulah kata Syekh Abdur Razzaq
hafidahullahu taala, parameter akhlak
mulia. Kalau kita ingin berakhlak mulia
sama
orang tua kita, maka kita bayangkan kita
sebagai orang tua. Kira-kira orang tua
kita ee maunya gimana? Saya kalau jadi
orang tua saya maunya apa? Saya mau anak
saya nurut, saya mau anak saya berbakti,
saya mau anak saya sering telepon saya,
ya. Apalagi kalau sudah tua, ya
lakukanlah kepada orang tuamu, ya.
tahukanlah kepada orang tuamu. Makanya
saya sering sampaikan tentang kisah
seorang yang dia menyadari bahwasanya
dia ternyata kurang berakhlak kepada
orang tuanya. Kapan dia sadari? Ketika
dia sudah tua. Ketika dia sudah tua,
anaknya sering bilang, "Abi, ayah mau
ini." Terus dia jawab, "Enggak." Karena
dia sungkan, dia malu. Anaknya datang
lagi, "Ayah, mau ini, mau saya belikan
ini." Kata dia, "Enggak." Padahal dia
mau, cuma dia malu. Setelah itu dia baru
sadar, dia juga dulu gitukan orang
tuanya. Abi mau gini. Abinya bilang,
"Enggak, akhirnya enggak dibelikan.
Namanya kadang orang tua sungkan kepada
anak. Harusnya kau enggak usah tanya
tanya-tanya. Kalau tahu orang tua suka
sesuatu hadirkan aja. Enggak perlu
tanya-tanya. Tinggal oh saya dulu salah.
Saya baru sadar ternyata orang tua saya
juga dulu begitu. Sebagaimana sekarang
saya ditawarin oleh anak saya bilang,
"Enggaklah, Nak. Abi enggak perlu." Tapi
anak yang cerdas dia melihat raut wajah
ayahnya, raut wajah ibunya. Bawoknya
anak ibunya ingin, ayahnya ingin. Ya
harusnya gak usah banyak tanya. Ah,
belikan aja ya belikan. Karena ada orang
tua yang tungkan ya, ada yang malu. Maka
kalau ingin berbuat baik kepada istri,
ya kita coba bayangkan saya sebagai
istri kira-kira saya sukanya apa?
Sukanya apa? Dibelikan emas. Ya
dibelikan emas kalau punya uang. Itu
akhlak baik. Kalau ingin seorang wanita
berbuat berakhlak baik kepada suami dia,
bayangkan kalau dia posisi suaminya.
Kira-kira dia suka enggak kalau dia
gitukan suaminya? Kira-kira dia suka
enggak kalau suaminya suruh dia angkat
suara dia membangkang?
suaminya suruh ke mana? Ke masjid, dia
malah ke mall misalnya ya. Seperti itu.
Jadi dia bayangkan, dia memposikkan
dirinya kepada pihak yang sedang dia ber
apa interaksi dengannya. Ini jadikan
pedoman hidup dan ini sebab husnul
khatimah. Makanya Nabi berkata di sini,
ahabahinar, siapa yang ingin selamat
dari neraka jahanam
dan masuk surga. Dua syaratnya.
dia meninggal dalam kondisi wahua yu
billahiumil akhir dalam kondisi beriman
jaga benar iman kita jangan spekulasi
jangan spekulasi kapan kita terjatuh
segera bertobat jangan spekulasi saya
mau tobat besok jangan jangan pernah
tund kau gak tahu kau mati sekarang
enggak tahu tiba-tiba kecelakaan
tiba-tiba dibunuh orang tiba-tiba
kematian datang kapan saja
yang kedua walati ilanasilladzi yuhibbu
yuta ilai lakukanlah bersikap kepada
orang lain kepada manusia siapapun orang
tersebut ayahmu, ibumu, mu, tetanggamu,
kakakmu, adikmu, anakmu, ommu, ya semua
dengan sikap yang kau suka jika
dilakukan pada dirimu. Ya, maka dengan
pedoman hidup seperti itu, dengan
customer, dengan bos, dengan semua
orang, lakukan dengan sikap kira-kira
kalau saya jadi bos, saya pengin anak
buah saya seperti apa. Ya, kalau saya
jadi anak buah pegawai, kira-kira apa
yang saya suka dari pegawai? Sukanya
apa? Ya, bosnya mikirin gimana. Kalau
yang jadi bos yang baik, dia renungkan.
Kalau saya jadi pegawai, kira-kira saya
pengin gimana? Ya, renungkan dengan
suatu yang sikap yang masuk akal yang
logis dia lakukan. Adapun kalau tidak
baik jangan dilakukan. Jadi ini pedoman
hidup maka niscaya seorang akan
mendapatkan husnul khatimah. Kenapa?
Kalau dia bersikap seperti ini, niscaya
dia tidak akan pernah berbuat zalim.
Karena tu orang tidak suka dizalimi,
maka jangan menzalimi orang-orang lain.
Kalau dia tidak berbuat zalim, niscaya
dia husnul khatimah.
Karena di antara sebab sebab husnul
khatimah, suul khatimah adalah berbuat
apa? Zalim. Dan di antara sebab husnul
khatimah adalah berbuat baik kepada
orang lain. Tib. Setelah itu Rasul
Sallahu Alaihi Wasallam menjelaskan
tentang
kondisi ee ada kondisi di mana terjadi
pemberontakan kepada penguasa. Ini juga
apa yang harus dilakukan. Kata Rasul
sahu alaihi wasallam, "Waman baya imaman
fauq
yadihiar
qolbihi falyu ina." Siapa yang membaiat
seorang imam dan dia memberikan ee apa
namanya?
Tangannya ya dan dia memberikan isi
hatinya, maka hendaknya dia taat kepada
pemimpin tersebut semampunya. Dahulu
kalau orang baiat seperti itu. Telapak
dengan telapak kemudian berjanji
menunjukkan sumpah setia. dahulu seperti
itu biasanya penguasa kemudian dibaiat
oleh pembesar-pembesar. Adapun rakyat
tidak perlu. Kalau perlu silakan, kalau
tidak maka enggak mengapa. Karena cukup
diwakili oleh pemuka-pemuka agama,
pemimpin suku, perwakilan-perwakilan.
Mereka membaiat memimpin. Ya, sampai
sekarang juga masih demikian ya. Jadi
mereka baat dengan apa? Dengan tangan.
Kemudian menunjukkan kepada sang
penguasa dari isi hatinya. Kata Nabi,
maka hendaknya dia taat kepada penguasa
tersebut semampunya. Kalau di luar
kemampuan ya itu uzur. Kemudian
Rasulullah berkata jauh
setelah dia membaiat suatu seorang
pemimpin yang sudah diakui tahu-tahu
datang orang lain ingin merebut
kekuasaan dari pemimpin yang pertama.
Ak kata Nabi, bunuh orang kedua.
Dalam riwayat yang lain, kainan mana.
Siapapun dia, siapapun dia. Ini adalah
penerapan kaidah irtikabu akadara difar
akbar. Menempuh kemudaratan yang lebih
ringan dalam rangka untuk menolak
mudarat yang lebih besar.
Karena kalau seorang sudah berkumpul
pada satu pemimpin, satu penguasa terus
datang satu orang ini kalau dituruti
maka akan terjadi dua kubu dan akan
terjadi pertumpahan darah. Dualisme
kepemimpinan sangat berbahaya dalam
suatu negara, dalam suatu wilayah. Maka
hukum Islam mengatakan kalau ada yang
kedua, satu disepakati datang orang
kedua sesaleh apapun bunuh. Kainan
manana kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam boleh dibunuh. Kenapa? Ini
bikin masalah. Oh, lebih saleh yang
kedua daripada yang pertama. Iya,
aturannya ada tetap bunuh yang kedua.
Ya, mumpung dia belum besar, mumpung
baru muncul. Tapi kalau sudah besar
kemudian sebagian membelot ke situ ya
sudah pertumpahan darah akan banyak yang
meninggal meninggal dunia. Untuk
mencegah pertumpahan darah yang lebih
besar lebih baik dikorbankan yang ke
kedua ini dalam negara terkadang ada
aturan seperti ini. Yaitu menempuh
kemudroratan lebih ringan dalam rangka
menolak untuk menolak kemudroratan yang
lebih lebih besar.
Makanya ini salah satu dalil untuk
membantah baiat-baiat bidah yang ada di
tanah air. Muncul kelompok ini, ada
pemimpinnya baiat. Muncul kelompok ini
ada baiatnya. Harusnya bunuh yang lain
satu aja dong. Yang mana nih? Yang
lainnya kita bunuh aja. Nanti
ngaku-ngaku. Kita diluan. Kita dan, kita
duluan. Ini baiat amir-amir bahlul
semuanya ya. Apa amir-amir apa? Apa
kekuasaannya? Kekuasaannya enggak ada,
polisinya enggak ada, tentaranya enggak
ada. Haji pun numpang. Saya pernah haji
sama seorang pemimpin
khalifah. Khalifah satu tenda sama saya.
Khalifah Balul kata benar khalifah.
Saya pernah satu tenda dengan khalifah
Islam jamaah di hajian. Ini khalifah
macam apa begini? Tenda dengan saya.
Saya ceramah aja biarin aja didengarnya.
Khalifah satu tenda dengan saya.
Subhanallah. Apa khalifah seperti ini?
Pemimpin enggak ada. Namanya wulatul
umur tuh yang memegang kepu keputusan.
Bukan amir-amir, amir-amiran. Yang
penting anak buah toran pajak, amirnya
kaya, dibodoh-bodohin oleh amirnya.
Kalau kita menerapkan hadis ini, kalau
ada pemimpin datang pemimpin yang kedua,
dibunuh atau tidak dibunuh? Akhirnya
yang satu bilang, "Ah, amir kami di
luaran, kami jamah di luar." Itu jemah
belakangan. Ya sudah, ya sudah harus
pokoknya satu harus mati cuma satu aja.
Ini semuanya ini amir tidak benar. Ini
baiat-baiat bidah yang tersebar yang
menjadikan ee kaum muslimin
terpecah-pecah
sehingga terjadi dualisme. Ada tiga
kepimpinan, empat kepimpinan saling
menghujat di antara mereka, saling
mengkafirkan satu dengan yang lainnya.
Dan itu sangat menyedihkan sampai
sekarang masih masih ada. Masih ada
tentunya kita tahu ee mohon maaf
kadang-kadang dipelihara demi
kepentingan politik. Ya
sudah, jangan bicara politik di sini.
Kita lanjut.
Tayib.
Jadi Rasulullah menyuruh untuk taat
kepada ee penguasa pertama
dan untuk mencegah timbulnya dualisme
kepemimpinan. Karena kalau muncul
dualisme kepemimpinan maka mudarat lebih
besar. Ya. Tib. Kita lanjutkan hadis
berikutnya.
Wan Abi Hunaidata Wail ibn Hujar
radhiallahu anhu qala. Dari sahabat Wail
bin Huj radhiallahu berkata, "Saala
salamatu ibnu Yazid aljufi." Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam faqal.
Salamah bin Yazid aljufi bertanya kepada
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,
"Ya Nabi Allah, wahai Rasulullah, arita
inqat al umar yasalunaqahum."
Bagaimana menurut Anda ya Rasulullah?
Jika muncul pemimpin-pemimpin
yang hanya meminta hak mereka kepada
kami, kalian rakyat harus begini, harus
begini, harus begini, harus begini.
minta hak pemimpin, minta hak mereka
untuk ditaati, untuk misalnya ditarik
ini, ditarik anui misalnyaunaqona,
sebaliknya mereka tidak menunaikan hak
kami sebagai rakyat. Kami tidak
merasakan atau tidak mendapatkan
pelayanan. Hak kami diabaikan ya
curhatan kami di tidak digubris.
Fama takmuruna. Apa yang kau perintahkan
kepada kami jika mendapati penguasa
seperti ini?
Faad anhu. Rasulullah berpaling dari
jawabannya.
Ini tentu pertanyaan ya ee tentang suatu
yang bukan mengada-ngada yang mungkin
terjadi ya. Karena kita dilarang untuk
banyak bertanya hal-hal yang
jauh mungkin tidak terjadi atau
pertanyaan yang mustahil ya yang tidak
kita perlu ya seperti ini kita enggak
usah jawab ya. Tapi kalau mungkin
terjadi maka boleh ditanya.
Seperti ada yang pernah tanya seorang
ustaz, "Ustaz, kalau saya di bulan
saya salatnya kapan?" Ya, kata ustaz,
"Nanti sampai di bulan SMS saya." Dulu
belum ada WA SMS saya ini saya jawab.
Kalau kau SMS saya
itu tanya-tanya yang kadang-kadang tidak
ya, "Ustaz, bagaimana hukum makan daging
dinosaurus?" E, "Kamu tangkap dulu,
sembelih tanya saya nanti habis itu."
Hal-hal yang tidak logis, tidak perlu
ditanyakan. Ya, ada bertanya, "Ustadz,
bagaimana kalau kita lagi salat Ka'bah
hilang? Terbang Ka'bahnya. Kita ikut
hadap Ka'bah atau hadap tempat Ka'bah?"
Ti nanti kalau terbang tanya saya coba
pertanyaan enggak perlu yang mungkin
tidak dialami oleh seseorang. Berbeda
kalau di akhir zaman. Bagaimana kalau
Ka'bah runtuh? Mungkin karena Ka'bah
akan runtuh suatu hari tapi kalau
sekarang terlalu jauh ya. Artinya
akhirnya ketika seorang sibuk dengan
hal-hal yang tidak penting bagi dia, dia
melupakan untuk bertanya hal-hal yang
bermanfaat dalam kehidu kehidupannya.
Nah, ini seperti ini tidak tahu
prioritas. Maka orang ini bertanya pada
hal yang mungkin terjadi. Ya saalahu,
dia tanya lagi kepada Nabi. Rasulullah,
faqala Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam wasallam mengatakan, "Ismau wa
atiu." Kalau kalian dapati penguasa yang
seperti itu yang hanya menuntut hak
mereka dan tidak menunaikan hak rakyat,
dengarlah wa atiu dan taatlah. Fainnama
alaihim humilu.
Mereka bertanggung jawab atas kewajiban
mereka. Waaikum ma humiltum. Dan kalian
bertanggung jawab atas kewajiban kalian.
Sudah Rasul maksudnya kata Rasulullah,
"Sudah kalau memang hak mereka tunaikan.
Adapun hak mereka tidak tunaikan kepada
kalian urusan mereka dengan Allah
Subhanahu wa taala." Sehingga ini juga
kaidah ikhwan, ini juga pedoman hidup.
Dalam kehidupan ini kita ada hak dan
kewajiban. Siapapun kita ada hak, ada
apa kewajiban. Kita punya kewajiban
terhadap istri, kita punya kewajiban
terhadap anak, kita punya kewajiban
terhadap suami, kita punya kewajiban
terhadap orang tua, kita punya kewajiban
terhadap tetangga, kita punya kewajiban
terhadap teman, kita punya kewajiban
mungkin terhadap bos, kita punya
kewajiban terhadap pegawai. Pastikan
kewajiban kita kita tunaikan dan kita
juga punya hak. Kita punya hak sebagai
seorang suami, kita punya hak sebagai
seorang ayah, kita punya hak sebagai
adik, kita punya hak sebagai anak
misalnya, kita punya hak. Dalam dunia
ini, hidup ini ada hak dan apa?
Kewajiban. Yang penting bagi seorang
ketika dia meninggal dunia, semua
kewajiban sudah dia tunaikan. Adapun hak
dia tidak dikasih, dia dapat di akhirat
lebih bagus daripada dapat di dunia. Dia
dapat hak dia di akhirat lebih utama
atau dapat di dunia? Di akhirat. Di
dunia apa? Kita enggak terlalu perahu
dengan hak kita. Kita diambil uang kita,
kita masih bisa makan. Itu sakit hati.
Iya. Tapi kita lebih butuh hak itu nanti
di akhirat.
Ya sudah, kita sudah minta dia enggak
kasih sudah nanti di akhirat. Maka
pastikan antum hidup ini semua kewajiban
orang antum sudah kewajiban antum pada
orang lain. Hak orang lain yang antum
pikul harus antum tunaikan. Pastikan.
Karena Rasulullah berkata, "Fainnama
alaihim ma humilu wa alaikum ma
humiltum." Karena mereka akan
bertanggung jawab dengan kewajiban
mereka. Sementara kalian akan ditanya
oleh Allah tentang kewajiban ka kalian.
Maka sebelum kita meninggal, coba
cek-cek, ada enggak hak orang yang kita
pikul? Cek-cek, istri sudah ditunaikan
haknya belum. Jangan-jangan kita belum
kasih makan pagi ini. Jangan-jangan kita
belum berikan hak dia, hak ee keuangan,
hak biologis. Coba tanya sama diri
sendiri. Saya sudah temukan hak istri
belum? T hak orang tua. Coba kita cek
sudahkah hak orang tua saya tunaikan?
Sesudahkah saya menjadi anak yang
berbakti kalau kita mesti punya orang
tua? Cek hak anak-anak. Sudahkah kita
menuaikan hak anak? Kita perhatikan
bukan sekedar makan dan minumnya, tapi
pribadinya, akhlaknya juga kita
perhatikan. Pendidikan sudah kita
perhatikan. Tetangga kita sudahkah kita
tunaikan hak tetangga kita? Pastikan
sudah kok. Kalau dia sakit saya jenguk.
Kalau dia perlu saya bantu,
alhamdulillah.
Tib pembantu kita, sopir kita sudah,
sudahkah kita tunaikan haknya? Pegawai
kita?
Kalau sudah tidur nyaman. Kalau belum
jangan tidur.
Tunaikan dulu hak orang. Ini
kalau antum bermasalah sama orang,
pastikan antum di posisi benar. Jangan
sampai antum di posisi menzalimi. Tadi
enam mazluman lazaliman. Tidurlah engkau
dalam kondisi terzalimi. Jangan sampai
kau tidur dalam kondisi men zalimi.
Karena berat.
Maka
seorang ini pedoman hidup ya. Jadi
berusaha semua hak orang kita tunaikan.
Semua kewajiban kita kita tunaikan.
Adapun hak kita enggak ditunaikan di
dunia kita akan ambil di akhirat. Dan
kita lebih butuh hak kita di akhirat.
Maka sini Rasulullah menyuruh seorang
mengenali apa kewajiban dia. Dan ini
juga faedah kita yang perlu kita
perhatikan bahwasanya seorang mengenali
kewajiban dia sehingga dia tunaikan.
Jangan terlalu sibuk sama kewajiban
orang. Kewajiban dia tunaikan. Tentu
berbeda-beda antara orang awam seperti
antum. Kewajibannya tidak sama seperti
ustaz, tidak sama dengan seperti ulama,
tidak sama seperti penguasa. Kewajiban
beda-beda seorang mengenali ranah dia.
Kalau di luar ranah dia, ya sudah. Itu
bukan bukan bukan urusan dia ya. bukan
urusan urusan dia.
Oleh karenanya kenali kita jangan
terlalu mikir jauh-jauh sementara
ternyata ranah kita kita lalaikan.
Hati-hati. Mikir jauh-jauh ternyata anak
istri tidak kita perhatikan. Mikir
terlalu jauh-jauh ternyata kakak adik
kita ee abaikan. Kerabat kita abaikan.
Ya. Maka kenali ranahmu. Ya. Jangan
terlalu mikir jauh-jauh sehingga
prioritas salah sehingga engkau
melalaikan ranahmu sendiri.
Tentu di sini nasihat dari Nabi memang
tidak mengenakkan bagi kita.
Penguasa hanya ngambil hak dia. Waktu
kita nuntut tidak dikasih. Tetapi
sebagaimana
saya sering dengar Syekh Abdul Razak
menyampaikan sebagaimana kalian taat
kepada Nabi ketika disuruh
yang mungkin tidak menyenangkan hawa
nafsu seperti harus puasa, harus bangun
subuh, ya kalian tetap kerjakan. Maka
ada hal yang tidak juga tidak
mengenakkan seperti ini. Ketika penguasa
zalim, sabar, tidak mengenakkan tapi
sabar. Kalau sabar karena Allah, seorang
bisa ber bersabar. Memang tidak
mengenakkan ya. Siapa yang tidak
mengenakkan tapi lakukan karena Allah
subhanahu wa taala.
Tib. Hadis berikutnya.
Waan Abdillah bin Mas'ud. Ini dalil
bahwasanya harus tetap taat kepada
penguasa meskipun puasa penguasa zalim.
selama dia menyuruh kepada keba
kebaikan. Kalau dia menyuruh kepada
maksiat, maka tidak boleh taat. Tapi
tidak boleh memprovokasi masa untuk
memberontak.
Tidak boleh memprovokasi masa untuk
memberontak. Dan jangan juga ikut
memprovokasi masa untuk membenci
penguasa. Syekh Utsimin rahimahullah
yang menyampaikan nasihat.
intinya ee beliau mengatakan dalam
syarah Ridus Shihin
itu beliau mengatakan ee ee
saya pengin baca perkataannya lebih
saya bacakan
Amma idza amaru bisyaaiin laisa maksih
wajaba alaina anuti. Kalau pemerintah
menyuruh kita pada perkara yang bukan
maksiat, maka wajib bagi kita untuk kita
taat. Perkara yang bukan maksiat ada
dua. Perkara yang pas ada perintahnya
dari Al-Qur'an dan sunah. Maka kita
taat. Meskipun penguasa tidak suruh pun
kita taat. Karena ada Al-Qur'an dan
sunah. Misalnya penguasa bilang salat,
puasa, haji, ya ikut aja. Tanpa disuruh
penguasa pun kita akan taat. Perkara
yang kedua yang juga kita wajib taat
adalah aturan-aturan yang dibuat oleh
penguasa yang tidak secara tegas
menyelisihi Al-Qur'an dan sunah. Tapi
perkara tersebut perkara ijtihadiah,
perkara yang melihat maslahat dan
mudarat. Selama tidak tegas mengisi
Al-Qur'an dan sunah maka kita
menghormati keputusan tersebut. Ini
wajib untuk kita taat
ya.
Kemudian yang kedua ya, kalau dia
menyuruh kepada maksiat maka kita tidak
boleh taat. Tetapi la yajuzu lana
anunabatal
umur. Tidak boleh kita memberontak.
Tidak boleh kita memberontak. Yang
ketiga, ini mungkin berat zaman ini saya
sampaikan aja ini bukan perkataan saya.
Perkataan siapa?
Kata beliau,
tidak boleh bagi kita untuk berbicara di
depan orang awam dengan perkara-perkara
yang menimbulkan kedongkolan,
kejengkelan kepada penguasa.
Ya, dengan perkara-perkara yang
menyebabkan masyarakat benci kepada
penguasa.
maadun kabir karena pada perkara ini ada
mafsadah yang yang besar
bil terkadang seorang menampakkan
bahwasanya ini adalah girah kepada agama
maka kita
membuat masyarakat benci kepada penguasa
atau ini adalah bentuk tegar di atas
kebenaran kata Syekh Utimak
hijab namanya nya ingin kebenaran bukan
di balik tabir
asod bilhaq yakunu
asod bilhaq anyakunul amr amamaka
watakullahu yang benar engkau di depan
penguasa langsung dan engkau nasihati
anta faalta kad w lajus nasihati secara
langsung itu baru benar adapun kalau
menasihati depan banyak orang tentunya
masyarakat semakin jengkel penguasa pun
mungkin tidak terima karena dia
dijelek-jelekkan di di belakang
Saya tanya sama antum ya. Di zaman para
sahabat Anas bin Malik, ada seorang
terkenal yang kenal zalim, membunuh
sahabat, membunuh tabiin. Siapa? Hajaj
bin Yusuf Attaqafi. Tapi apakah para
sahabat kemudian
berbicara depan umum provokasi masa?
Tidak. Siapa yang lebih buruk daripada
Hajiz bin Yusuf atauqafi sekarang?
Enggak ada. Ya. Jadi para sahabat tidak
memprovokasi masa ya. Kalau mau nasid
dengan cara yang yang baik.
Saya bacakan lagi perkataan Syekh Utim
terakhir ya.
Muif rahimahullah mazhabu ahli sunah.
Apa yang disampaikan oleh penulis adalah
mazhab ahli sunah wal jamaah. Wahab
salafush. Ini mazhab para salafah
umara yaitu dengar dan taat kepada
penguasa.
dan tidak taat dan tidak tidak
membangkang mereka
pada perkara yang kita wajib taati
alai dan tidak memprovokasi masa untuk
membenci mereka
ahqai tidak memprovokasi masa untuk
dongkol kepada mereka mazhabu ahli sunah
wal jamaah dan ini mazhab ahlusunah wal
jamaah selesai pernyataan Syekh Ibnu
Utsimin rahimahullah masing-masing
silakan lakukan apa yang dia lakukan Bu
tentu masing-masing ada tanggung
jawabnya di hadapan Allah Subhanahu wa
taala. Tugas saya hanya menyampaikan.
Mau saya ikhwan ee semua ee apa namanya?
Semua ada pintunya ya. Ya. Bahwasanya
rumah dimasuki lewat pintunya kalau
ingin menasihati ada pintu
pintu-pintunya ya. Jangan sampai kita
terprovokasi, akhirnya memprovokasi,
akhirnya terjadi pergolakan, akhirnya
yang rusak, negara rusak, terjadi
demonstrasi, kemudian pertumpahan darah
dan macam-macamnya.
Ada seorang kawan menasehati seorang
ustaz yang lain. Ada ustaz kemudian
provokasi masa
ketika musim-musim demo. Dan kemudian
ada sebagian kawan menulis nasihat
bahwasanya bukan begitu cara manhaj ahli
sunah sebagaimana yang ditakrir oleh
para ulama. Ya,
bukan caranya demikian ya. Kemudian
akhirnya ustaz itu tersinggung dia
telepon, "Kenapa kau tulis seperti itu?"
Ya,
nanti kau akan dibenci oleh kaum
muslimin kalau kau tidak mencela
penguasa dan macam-macamnya. Maka kata
kawan saya, "Tib ustaz kalau ustaz
memprovokasi terjadi demo, ada yang
meninggal, ustaz tanggung jawab
ada yang meninggal gak usah banyak. Satu
saja meninggal gara-gara provokasi
antum. Antum tanggung jawab hari kiamat
tersebut terdiam.
yaitu seorang fitnah kalau bisa menjauh
dari fitnah tersebut. Kalau ingin beri
nasihat dengan cara yang baik, saya
sudah sampaikan untuk masalah penguasa.
Kalau mereka baik, kita dukung kebaikan
mereka. Kalau mereka suruh maksiat,
jangan dukung sama sekali. Tapi tidak
harus kemudian memprovokasi apa? Masa.
Kalau menasihati dengan cara yang yang
benar, dengan jalur yang yang benar,
bukan kemudian memprovokasi masa,
kemudian masa memberontak. Ini yang kita
khawatirkan dengan cara-cara yang yang
baik. Wallahuam bab.
Tib kita lanjutkan.
Waan Abdillah bin Mas'ud radhiallahu
taala anhu qa q Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam innaha satakunu
ba'diatun wa umurun tunkirunaha.
Sesungguhnya akan datang setelahku sikap
ararah. Ararah sudah kita sebutkan dua
makna. Makna pertama penguasa hanya
ngumpulin harta buat dia. Kurang
perhatian sama masyarakat. Memperkaya
diri sendiri. Adakah penguasa seperti
itu? Di mana-mana.
Adakah pengas seperti itu? Jawabannya
apa? Di mana-mana. Di mana-mana. Saya
ulang lagi. Apakah ada penguasa seperti
itu?
Apakah antum ragu dengan jawaban saya?
Paham
jawabannya di mana? Di mana-mana. Kalau
saya jadi penguasa, tidak ngomong
kosong. Betapa banyak orang yang
mengatakan kami tuntut keadilan-keadilan
ketika dia jadi penguasa.
Iya atau tidak? Iya.
untuk tidak boleh korupsi korupsi ketika
jadi penguasa dia yang korupsi. Benar
atau tidak?
Jadi perkaranya bukan masalah
Allah dan Rasul-Nya, bukan masalah
membela agama. Ini semuanya membela
perut cuma memaikan memakai label apa?
Agama. kenyataan membuktikan
maksudnya oleh karena itu jangan terlalu
terbawa dengan label casing belum tentu
saudara kita ikut manis ahlusunah juga
menasihati dengan cara yang yang baik
sekarang Rasulullah mengatakan innahu
satakunu ba'di arar akan ada setelahku
arar asarah adalah penguasa yang
mengumpulkan harta untuk dirinya
kurang perhatian sama masyarakat
atau makna asarah
yaitu nepotisme.
Mendahulukan koleganya, mendahulukan
keluarganya untuk jadi pemimpin. Padahal
masih banyak yang lebih layak.
Apakah ada penguasa seperti itu?
Di mana di
ya antum? Maksudnya antum harus sadar,
bukan antum aja yang begini. Maksudnya
maksudnya antum janganitu antum di
mana-mana juga begitu ya. Bukannya kita
pasrah, enggak. Kita semua ingin
kebaikan. Kita selalu ingin agar negeri
yang kita cintai lebih lebih baik dan
lebih apa? baik. Tapi harus menyadari
bahwasanya ini di mana-mana.
Cuma kita harus banyak bersyukur. Kita
alhamdulillah masih kedaulatan masih
oke. Di mana-mana yang lain tidak
seperti ini. Belum tentu. Di mana-mana
yang lain mungkin bunuh-bunuhan, mungkin
perang-perangan, perang antar kabilah,
kemudian ekonomi hancur, demo melulu. Di
mana-mana belum tentu seperti di sini.
Ingat ya, saya bukan ngajak ya sudah
pasra aja. Enggak. berusaha, berusaha,
dakwah, nasihati, nasihati. Tapi agar
kita sadar bahwasanya ini bukan perkara
cuma yang kita hai, tapi perkara di
mana-mana.
Tib ararah tadi maknanya dua. Pertama,
ngumpulin harta buat dia, untuk dia,
untuk keluarganya. Yang kedua,
menjadikan orang yang tidak layak jadi
penguasa karena koleganya, karena
partainya, karena temannya, karena
adiknya, karena mbahnya. Ya sudah. Itu
namanya asar.
Tib.
Bukan cuma itu, kata Nabi, "Wa umurun
tunkirunaha." Dan ada perkara-perkara
yang kalian ingkari. Kata para ulama di
antaranya seperti mengakhirkan salat.
Di zaman Nabi tidak ada orang akhirkan
salat. Datang umara-umara berikutnya
dari kalangan Bani Umayyah atau yang
lainnya mengakhirkan salat.
Ini sahabat namanya salat perkara
penting diakhirkan. Ah, ini Rasulullah
pernah kabarkan akan ada seperti ini.
Qolu ya Rasulullah. Hanya Rasulullah
yang kasih wacana akan ada berarti akan
terjadi dan benar-benar terjadi. Sahabat
bertanya, sahabat bertanya, "Ya
Rasulullah, kaifa tamuru man adrak
minalik?"
Apa yang kau wasiatkan jika di antara
kami mendapati kondisi seperti itu?
Qala tuadunal haqqadzi alaikum. Ingat
ini kaidah. Tunaikan kewajiban kalian,
yaitu hak yang kalian pikul, yaitu
kewajiban kalian hendaknya kalian
tunaikan.
Adapun hak kalian yang tidak dikasih,
minta sama Allah.
Minta sama siapa? Allah. Karena kalian
minta sama penguasa enggak dikasih,
tinggal minta sama siapa? Allah. Tapi
Rasulullah ajarkan yang penting
kewajiban kalian kalian tunai tunaikan.
Itu yang penting dalam kehidupan.
Antum meninggal pastikan seluruh
kewajiban antum sudah antum kerjakan.
Jangan sampai nyimpan hak orang lain.
Jangan sampai.
Kalau antum jadi bos, pastikan anak buah
semua sudah dikasih haknya.
Kalau antum jadi suami, pastikan hak
istri dikasih di telah antum berikan.
Hak anak sudah antum berikan. Pastikan
sebelum antum mati. Hak orang tua, hak
tetangga pastikan. Hak kakak, hak ke
adik, kalau punya hak kasih. Hidup
tenang, nyaman, tidak ada waswas, tidak
ada deg-degan. Malaikat maut cabut,
nyaman. Semua hak sudah saya tunaikan.
Tapi malaikat maut cabut. Waduh, hutang
belum lunas nih. Waduh, ini belum saya
bayar. itu saya bohongin, itu saya
zalimi. Wah, gimana enggak deg-degan
kalau malaikat maut apa datang
seperti ini. Sekarang ada penguasa
ngambilin harta, nepotisme.
Orang yang pintar digoblok-goblokin,
orang goblok dipintar-pintarin.
Sudah mau diapain?
Mau apa? Ya sudah, hak kamu minta sama
Allah, hak orang, hak penguasa tunaikan.
Muttafaqun alaihi hadis riwayat Bukhari
dan Muslim. Ini semua memang tidak
mengenakkan ya. Tapi ini wasiat Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Makanya
Syekh Abdul Razak telah menyampaikan
sebagaimana antum taat kalau Nabi suruh
salat, Nabi suruh puasa, Nabi suruh
bayar zakat, Nabi suruh sedekah kalian
taat. Nabi suruh sabar juga hendaknya
apa? Taat.
Agar kita bertemu dengan Allah dengan
menjalankan sunah-sunah Nabi sallallahu
alaihi wasallam.
Hadis berikutnya. Abu Abi Hurairah
radhiallahu taala anhu qa Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam dari Abu
Hurairah radhiallahu anhu rasul sahu al
wasallam bersabda man atani faqad Allah
siapa yang taat kepadaku maka dia telah
taat kepada Allah waman asoni faqad
asallah siapa yang maksiat kepadaku dia
telah maksiat kepada Allah amir faq
siapa yang taat kepada amir maksudnya
pada perkara yang baik maka sungguh dia
telah taat kepadakuqani
amir siapa yang membangkang kepada
penguasa kalau penguasa nyuruh kebaikan
dia bangkang
faqad asani maka dia telah maksiat
kepadaku. Kenapa? Karena Nabi yang suruh
mewanti-wanti berulang-ulang untuk taat
kepada penguasa meskipun mereka zalim
jika perintah mereka pada keba kebaikan.
Maka kalau penguasa zalim tapi dia
nyuruh kepada kebaikan kita membangkang
maka kitalah membangkang kepada
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
Karena Rasulullah yang menyuruh kita
untuk taat meskipun penguasa yang zalim
kalau mereka perintah kepada ketaatan.
Kalau perintah kepada maksiat haram taat
kepada mereka. Tapi tidak boleh
provokasi massa untuk kemudian
memberontak dan yang lainnya.
Antum kan suka lihat berita. Iya.
Enggak. Di mana-mana sering antum lihat
kan berita. Kita masih bersyukur enggak
atau enggak? Sudah lihat berita di mana
mah enggak. Sudah lihat berita di
Palestina? Sudah. Sudah lihat berita di
Yaman? Sudah. Sudah berita lihat berita
di Libya? Sudah lihat berita di Suria?
Sudah lihat berita di Iran
banyak yang menyedihkan
yang kalau kita mungkin tinggal di situ
kita belum tentu kuat ya. Ini karenanya
berusaha bertakwa kepada Allah ya.
Wa ibni abbas radhiallahu anhuma dari
sahabat ibn abu an rasul sahu al
wasallam q
dari sahabat ibnu abbas radhallahu
anhuma bahwasanya rasul sahu al wasallam
bersabda manha min amirianbir
siapa yang benci sesuatu dari
penguasanya maka bersabarlah
faahu man khaja minani syibron mata
mitatan jahiliyah karena siapa yang
keluar dari sultan itu memberontak
kemudian dia mati maka matinya mati
jahiliyah Ya muttafaqun alai. Rasulullah
mengatakan, "Man karya min amiriaian
falyasir." Siapa yang melihat sesuatu
yang tidak menyenangkan dari
penguasanya, maka bersabarlah. Jangan
sampai ketidaksabarannya membuat dia
membangkang keluar dari kekuasaan. Mulai
bikin cara untuk memberontak dan yang
lainnya. Karena siapa yang keluar dari
kekuasaan sultan meskipun syibron,
meskipun sejengkal, lantas dia mati maka
mati jahiliah. Tib maksudnya bukan mati
kafir ya.
mitatan jahiliyatu mati selayaknya
orang-orang jahiliah. Di mana caranya
orang jahiliah mereka tidak mau punya
pemimpin. Ketika Nabi diutus, Nabi
diutus kepada orang-orang Arab yang
mereka jahiliah. Orang jahiliah itu
enggak mau punya pemimpin. Masing-masing
pemimpin kepalanya sendiri. Masing
pimpinnya kepalanya sendiri. Ya,
sehingga mereka sangat mudah
terprovokasi untuk perang-perangan,
untuk bunuh-bunuhan. Sehingga kalau
metode orang yang tidak mau dipimpin,
maunya pemimpin sempurna, kalau ada sel
sedikit dia keluar memberontak, maka ini
seperti orang jahi jahiliah. Kenapa saya
perlu ingat ini? Karena
kelompok-kelompok bidah tersebut mereka
gunakan hadis ini untuk pemimpin mereka.
Kalau pemimpin mereka macam-macam,
sabar. Rasulullah bilang suruh apa?
Sabar. Kalau kau keluar, mati jahiliah
kafir. Sehingga enggak ada yang berani
apa? Keluar. Padahal pimpin bahlul. Ya,
padahal kelompok bidah ini tidak
digunakan untuk mereka. Ini digunakan
untuk amir yang sesungguhnya, untuk
pemimpin sesungguhnya bulatul umur yang
memegang kekuasaan terhadap kaum
muslimin yang mengatur urusan kaum kaum
muslimin.
Maka ini isyarat hati-hati jangan sampai
kita
ingin merusak kedaulatan negara kita.
Memprovokasi orang untuk merusak
kedaulatan.
Karena kalau mati bisa mati apa?
Jahiliah.
Para ulama mengatakan kapan boleh
berontak? Memberontak boleh. Syaratnya
dua. Pertama pemimpin kafir
antar fi kufran bawahanum
fi minallahi burhan. Kata Nabi, "Boleh
kaum berontak. Angkat senjata perangi
mereka jika penguasa melakukan kekufuran
yang nyata." Kufuran nyata seperti apa?
Yang tidak ada syubhat bahwasanya dia
kafir. Seperti apa? Dia injak Al-Qur'an,
dia maki-maki Nabi, dia mengejek agama,
dia pindah agama. Ya, ini benar-benar
dia kafir. Ini satu. Yang kedua, kau
punya kemampuan untuk memberontak, untuk
merubah. Karena amar nahi mungkar
disyaratkan harus punya kemampuan. Jika
tidak, maka tidak tidak boleh. Jika
tidak, maka tidak tidak boleh. Adapun
kalau hanya melakukan maksiat tidak
sampai pada kekufuran, maka aturan
ketaatan tetap berlaku. Apa yang dia
perintahkan berupa ketaatan, maka taati.
Kalau maksiat jangan ditaati.
Hadis terakhir dalam bab ini. Wa Abi
Bakr radhiallahu anhu qala samu
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
yaakul kata Abu Bakrah
radhiallahu anhu, beliau berkata, "Aku
mendengar Rasul sahu alaihi wasallam
bersabda," Man ahahanan
ahanahullah. Siapa yang menghina sultan
maka Allah akan menghinakannya.
Rahu Tirmidzi. Hadis riwayat Tirmidzi
waqala haditun hasanun. Ya, berkata
hadis yang hasan. Maka ini aturan ya. Ee
kalau ada penguasa ya kemudian dia
melakukan kebijakan yang baik misalnya,
maka jangan kita provokasi dengan
menghinanya dan merendahkannya ya. Kalau
ternyata terjadi apa yang terjadi, dia
marah kemudian dia melakukan hal-hal
yang buruk, maka jangan salahkan orang
lain. Jangan salahkan orang orang lain.
Maka seorang bertakwa kepada Allah ikut
aturan
akidah ahlusunah wal jamaah terkait
dengan penguasa. Kemudian al Imam Nawi
berkata, "Wafil babi ahaditu."
Dalam bab ini banyak hadis-hadis yang
sahih. Waqquq ba fi abwabin. Dan telah
berlalu beberapa hadis dalam bab-bab
sebelumnya.
Kesimpulannya,
ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
Subhanahu wa taala, maka suatu
kedaulatan negara tidak bisa tegak
kecuali ada ketaatan. Kecuali ada
ketaatan. Maka syariat mendatangkan ee
hukum yang jelas jika penguasa sudah
terpilih ya, apakah dengan cara syari
atau tidak syari. Syari itu semua
tunjuk. Tidak syari seperti dia kudeta
misalnya tidak syari namanya tagallub.
Dia kudeta, dia maksa akhirnya dia
kekuasaan dia pegang. Maka kalau dia
sudah berkuasa jadilah dia pemegang
kepengurusan. Jadilah dia waliul amr.
Maka kalau dia sudah menjadi waliul amr,
pemegang kekuasaan, pemegang keputusan
dalam mengendalikan negara, maka dia
telah menjadi penguasa. Nah, kalau dia
seperti itu, bagaimana? Jika dia taat,
itu yang kita sukai, ya. Itu yang kita
sukai. Tapi kalau dia tidak taat, maka
ada aturan-aturan tadi berlaku. Tib. Ee
sampai sini saja nanti habis azan kalau
ada yang bertanya saya persilakan. Bab
demikian saja. Wabillahi taufik hidayah.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Resume Requeue
Read
file updated 2026-02-12 01:19:19 UTC
Categories
Manage