Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasahbihi walah. Kita masih membahas ee perkataan Imam Thahawi rahimahullah taala yang tersisa terkait bagaimana bolehkah kita bersaksi atau menghukumi seorang secara langsung secara person dia di neraka atau di surga ya. At Thaahawi berkata kita belum sempat syarah ini. Wala nasyhadu lahum dan kami tidak bersaksi tidak menyaksikan sebagian mereka bil jannah. Yaitu orang-orang muhsin bil jannah. Kami mohon ampunan bagi para pendosa dari kaum muslimin wako alaihim dan kami khawatir neraka atas mereka para pendosa. W nuqituhum dan kami tidak menjadikan mereka putus asa. Ya. Jadi di sini Imam Thahawi mengatakan di antara akidah ahlusunah wal jamaah tidak menyaksikan seorang meskipun dia sangat saleh bahwasanya dia masuk surga dan juga orang pendosa tidak kita bisa pastikan yang masuk surga eh masuk neraka sebesar apapun dosanya tapi kita khawatir dia masuk neraka dan kita doakan dia. Namun kita tidak boleh membuat dia putus putus asa. Maka ini permasalahan bersaksi bahwasanya orangorang masuk surga atau masuk neraka. pertama terkait dengan orang Islam, kedua terkait dengan orang kafir. Ya, kalau kita baca buku-buku akidah ahlusunah semuanya terkait dengan orang Islam. Wala naquulu liahlil kiblah. Kami tidak berkata kepada kiblat, kepada kaum muslimin. Adapun tentang bagaimana persaksian terhadap orang kafir, apakah pasti setiap orang masuk neraka? Ini tidak dibahas atau saya belum temukan dalam buku-buku akidah yang ditulis oleh para salaf. Tetapi yang mereka bahas adalah tentang orang Islam. Orang Islam yang baik, bolehkah kita mengatakan dia di surga? Orang Islam yang buruk, bolehkah kita kli neraka? Jawabannya tidak boleh kalau secara person. Babincian ya. Jadi saya ulangi lagi nanti akan kita kembalikan kembali lagi masalah ini. Tib kita perincinya sebagaimana berikut ini ya. Sekarang kita bahas tentang orang Islam atau muslim atau mukmin yang saleh. Maka yang diperbolehkan bagi kita adalah kita bersaksi secara umum bahwa mukminin atau muttaqin di surga, yaitu kita bersaksi dengan sifat. Orang beriman pasti di surga, orang bertakwa pasti di surga. Kenapa? Karena dalil menunjukkan akan hal tersebut ya. bahwasanya orang beriman di surga, orang bertakwa di surga secara sifat kita boleh. Makanya Allah berfirman, "Innalladzina amanu wailus shihati lahum jannatun tajri min tahtihal anhar." Ya, sungguhnya orang beriman dan beramal saleh bagi mereka surga yang berada di bawahnya sungai-sungai dan banyak amilai shihan minakinum. Itu orang beriman pasti masuk surga. Sama orang bertakwa juga. Sari wasari magfirbikum janntin ardu ardid lil muttaqin. Bersegeralah menuju surga yang luasnya luasluas langit dan bumi yang disiapkan untuk orang-orang bertakwa. Jadi orang bertakwa pasti masuk surga, orang beriman pasti masuk surga. Kita boleh mengatakan demikian, tapi kalau secara person kita tidak bisa. Kenapa? Karena kita enggak tahu apa benar dia ini bertakwa. Banyak hal yang membuat kita gak tahu. Karena banyak hal yang gaib tidak bisa kita ketahui. Nanti akan saya jelaskan. Benar. Orang beriman pasti masuk surga. Tapai apakah dia sekarang orang beriman? Pasti. Ah itu kita enggak tahu. Ketika kita tidak bisa memastikan dia orang beriman, maksudnya beriman orang yang saleh, tidak bisa pastikan dia orang bertakwa yang saleh, maka dari situ kita enggak bisa surga atau tidak. Ini umum. Namun ada yang lebih spesifik lagi umum. Umumnya lebih spesifik seperti Muhajirin Anshar. Kita boleh mengatakan seluruh kaum Muhajirin, seluruh kaum ansar masuk surga. Dalam Allah berfirman, "Wasabiquunal awaluna minal muhajirin wal ansar walladzina tabauhum biihsan radhiallahu anhum waraduan." Surah at-Taubah ayat 100. Ini surah at-Taubah ayat 100. 9 ayat 100. Allah mengatakan, "Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan kaum dan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Dan orang yang mengitu mereka dengan cara yang baik radhiallahu anhum waraduan." Allah rida kepada mereka dan mereka rida kepada Allah. Waahum jannatin tajri tahtahal anhar. Dan Allah janjikan bagi mereka surga yang melahnya sungai-sungai. Ya. Dan Allah memuji kaum Muhajirin, kaum Anshar dan umat Alquran banyak. Contoh juga peserta perang Badar ya. Allah dalam hadis qudsi Nabi berkata, "Laallah tha ala ahli bad." Bisa jadi Allah melihat kepada para peserta perang Badar. Kemudian Allah berkata, "Imalu maum qod gofartu lakum." Kata Allah kepada peserta perang Badar, "Lakukanlah apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya aku telah ampuni kalian." Ini Rasulullah sampaikan hadis ini ketika ada peserta perang Badar yaitu Hatib bin Abi Baltaah melakukan dosa besar. Perang Badar terjadi pada tahun 2 Hijriah. Pada tahun 8 Hijriah 6 tahun kemudian Hatib bin Abi Baltaah melakukan dosa besar yaitu dia menulis surat kepada koleganya di Makkah bahwasanya Nabi akan menyerang mereka. Dan ini berbahaya kalau surat ini sampai kepada orang-orang kafir kemudian tersebar mereka akan persiapan. Padahal Nabi ingin menyerang dengan apa? Tiba-tiba ya tanpa sehingga mereka tidak punya persiapan. Akhirnya dia kirim lewat seorang wanita. Allah kasih tahu Nabi sallallahu alaihi wasallam bahwasanya Hatib bin Abi Baltaah mengirim surat. Akhirnya Rasulullah mengutus Ali dan sebagian sahabat untuk menangkap wanita tersebut agar mengambil suratnya. Dan ternyata ada. Akhirnya Rasulullah bertanya, "Ma h ya Habib? Apa ini ya Hib? Sampai Umar mengatakan unuqahu biarkan aku penggal kepalanya. Ya, ini munafik. Bagaimana dia mengabarkan tentang eh berita bahaya rencana kita kepada orang kafir. Maka Rasulullah mengatakan laallah ala ahlil badar. Bisa jadi Allah melihat kepada peserta perang Badar dan Allah berkata kepada merekau masum. Lakukan yang kalian kehendaki. Qod gofartu lakum. Sesungguhnya aku telah mengampuni dosa-dosa kalian. Artinya kalian sudah lebih dahulu pada tahun 2 Hijriah melakukan kebaikan yang seluas seluas lautan. Kemudian kalau kalian melakukan keburukan-keburukan di kemudian hari, enggak ada bandingannya dengan kebaikan yang pernah kalian laku lakukan. Karena perang Badar perang yang luar biasa. Sehingga Allah mengatakan, "Qod gfartu lakum." Karena kebaikan kalian terlalu banyak sehingga dosanya hatib ini tidak ada pengaruhnya dibandingkan dengan kebaikan yang dia lakukan. Maka ini dalil bahwasanya peserta perang Badar dijamin sur surga. Ketika mendengar hadis itu, maka Umar pun menangis karena Umar juga ikut serta dalam perang perang Badar. Ya, sampai kisah seorang ee lelaki yang pemuda yang dia ketika perang Badar dia hanya sekedar bukan ikut perang, dia di pinggiran cuma ngatur sesuatu. Kemudian tiba-tiba dia kena panah kemudian dia mati. Maka ibunya datang kepada Nabi, "Ya Rasulullah, bagaimana putraku? Engkau tahu bagaimana kedudukanku? Kedudukannya di hatiku. Kalau dia di surga, saya akan gembira. Tapi kalau dia tidak di surga maka kau akan melihat apa yang akan aku lakukan. Maka Rasulam mengatakan, "Aw awa habilti. Apa kau tidak tahu? Kau lupa bahwasanya anakmu di bukan cuma di surga, bahkan di surga-surga." Sehingga hadis ini padahal Rasulullah mengatakan si fulan ini di surga. Padahal dia bukan di medan pertempuran. Ketika perang Badar, dia cuma di pinggiran, cuma ngurus urusan kaum muslimin. Tapi karena dia dalam nuansa perang dan dalam rangka membantu kaum muslimin, dia meninggal. Kata Nabi, dia di surga. Bagaimana lagi yang ikut serta perang perang Badar? Ya, maka lebih spesifik. Kemudian juga peserta baiat ridwan kata Allah, "Laqad radhiallahu anil mukminin id yubayunaka tahta syajar." Dalam surah al-Fat, dalam surah al-Fath surah 481. Surah 48 ayat 18. Sungguh Allah telah rida kepada kaum mukminin ketika mereka membayat engkau di bawah sebuah pohon. Faalima ma fi qulubihim yaitu Allah rida kepada mereka. Allah tahu isi hati mereka. Allah puji keikhlasan mereka. Dalam hadis kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Lan yadkulanar ahadun bayat tahta syajarah." Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tidak seorang pun yang membaiatku di bawah sebuah di pohon itu yang akan masuk neraka. Tidak ada yang akan masuk neraka. Ini dalil bahwasanya seluruh peserta perang eh seluruh peserta Baiatur Ridwan semuanya dijamin dijamin sur surga. Jumlah mereka kurang lebih 1400 orang. Ini kurang lebih 1400 sahabat. Ya, ini dia masih umum tapi lebih spesifik. Masih umum tapi lebih spesifik. lebih lebih spesifik daripada umum yang sebelumnya. Beriman, bertakwa ini tib. Makanya ada sebagian sebagian kalau tidak salah ulama kalau enggak salah Ibnu Hazam mengatakan seluruh sahabat masuk surga dengan takyin. Setiap sahabat pasti masuk surga. Dia berdasarkan dengan hadis-hadis yang umumnya lebih spesifik ini tentang para sahabat seperti Muhajirin Anshar di surga. Ya sudah secara person-person semuanya di surga. Tib. Adapun secara persoalan perorangan, maka ada tiga pendapat secara umum. Pendapat pertama yang bersaksi di surga hanya para nabi saja. Hanya para nabi Rasulullah dan para sahabat. Adapun selain nabi dan nabi dan nabi-nabi sebelumnya ya. Adapun selain itu tidak disaksikan di surga ya. Ada yang mengatakan kami hanya mengatakan di surga tapi kami tidak bersaksi jadi di surga. Intinya ada pendapat yang mengatakan hanya para nabi saja yang di kitaab mengatakan kami bersaksi bahwasanya di surga hanya ini hanya untuk para nabi. Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan nabi-nabi sebelumnya. Pendapat yang kedua, bersaksi surga bagi para nabi dan orang-orang yang telah datang nas menunjukkan mereka di surga. Ya. Dan ini banyak yang datang nas bahwasanya mereka di surga seperti al-Asyrah almasyaruna bil jannah 10 orang. yang dijamin masuk surga. Siapa saja? Asr mubasyarina bil jannah. Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Saad bin Abi Waqqas di surga, Thalah bin Ubaidillah di surga, Abdurrahman bin Auf di surga. Kemudian siapa? Zubair bin Awwam di surga, Said bin Zaid di surga, Abu Ubaid bin Jarrah di surga. Ada 10 orang yaitu Khulafar Rasyidin ditambah Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Saad dan Said, Saad bin Abi Waqqas, Said bin Zaid. Ya. Kemudian ada Thalhah dan ada Abu Ubaidah Ibnu Jarrah itu semuanya dijamin surga. Rasulullah sebutkan secara terperinci. Si fulan di surga, si fulan di surga, si fulan di surga. Dan dalil-dalil secara spesifik juga ada ya. Dalil-dil spesifik bagi mereka masing-masing juga ada. Tapi secara Rasulullah pernah gabungkan langsung 10 orang dalam satu konteks adalah 10 orang yang dikenal dengan al-Asyrah almubasyaruna bil jannah. 10 orang yang diberi kabar gembira masuk surga. Ya, seperti Umar dikatakan syahid. Rasulullah pernah ke surga, Rasulullah lihat istananya Umar. Kemudian ada wanita yang berwudu di sampingnya kemudian masuk ke istana Umar. Rasulullah mau masuk. Rasulullah khawatir Umar cemburu. Maka Rasulullah bilang, "Ya tadi saya mau masuk cuma saya takut kau cemburu." Kata Umar, "Masuk saja ya Rasulullah. Alaika agar apakah saya cemburu kepadamu?" "Masuk saja." Artinya dalil-delesifik juga banyak ya. Kemudian Fatimah ya juga di surga ya khairun nisail alamin. Wanita terbaik di antaranya Fatimah, di antaranya Khadijah, di antaranya siapa? Ee Asia bintu Muzahim sama Maryam bintu Imran. Ahah. Ini termasuk orang-orang yang di surga dari orang-orang terdahulu. Para salihat dari orang-orang terdahulu. Di antaranya Asiah bintu Muzahim, istrinya Firaun dan Maryam binu Imran ibunya Nabi Isa. Hasan dan Husein contohnya Rasulullah mengatakan, "Huma sayida syababi ahlil jannah." Sesungguhnya dua cucuku ini, Hasan dan Husein, adalah pemimpin para pemuda di surga. Hasan dan Husein pemimpin para pemuda di surga. Istri-istri Nabi seperti ee apa namanya? Aisyah, istrinya di surga. Kemudian Hafsah ketika Rasulullah menceraikan Hafsah maka Jibril datang suruh kembali ke Hafsah. Fainnaha zaujatuka atau zaujuka dunia fil jannah. Kama qala bahwasanya istrimu adalah istrimu di dunia dan istri juga di surga. Ini dalil bahwasanya istri-istri Nabi di surga. Contohnya Bilal. Bilal Rasulullah mendengar suara terampahnya, suara sendalnya di surga. Berarti dipastikan dia masuk surga. Tsabit bin Qais bin Syammas. Tsabit bin Qais bin Syammas yang ketika turun firman Allah, "Wala tajharu lahu bilquli kajahri ba'dikum'inukum tas'urun." Dalam surat alhujurat, "Jangan kalian angkat mengeraskan suara kalian di depan Nabi. Khawatir bahwasanya amal kalian gugur sementara kalian tidak sadar." Akhirnya Tsabit bin Qais bin Syammas tidak berani ke masjid karena suaranya besar kalau ngomong sama Nabi sallallahu alaihi wasallam. Akhirnya Nabi tanya, "Mana Tsabit?" Ada yang datang ke dia, "Kenapa kau tidak ke masjid?" Kata Tsabit, "Inni min ahlinar." "Saya termasuk penghuni neraka." Kenapa demikian? Karena amalku gugur. Karena aku kalau bicara Nabi keras. Maka Rasulullah suruh kabarkan, kabarkan kepada dia innahu min ahlil jannah. Bahwasanya dia termasuk penghuni apa? surga. Di antaranya Ukasyah bin Mihsan. Ukasyah yang dia berdoa ya Allah minhum. Ya Rasulullah doakan aku termasuk dari 70.000 orang masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab. Kata Rasul sahu alaihi wasallam anta minhum. Kau termasuk yang masuk surga tanpa azab dan tanpa hisab. Intinya banyak yang dijuk surga secara person dalam dalil-dalil baik Al-Qur'an maupun sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tib ini pendapat kedua dan ini pendapat mayoritas ulama. Ini mayoritas jumhur. Pendapat ketiga dan ini dalam sebagian perkataan Syekh Islam Ib Taimiyah rahimahullah. Bersaksi surga juga selain bagi orang-orang para nabi dan juga yang telah disebut dalam nas juga bagi orang-orang yang disepakati umat mereka orang saleh seperti Umar bin Abdul Aziz, Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad dan lain-lain yang semua orang mengatakan mereka orang apa? Saleh. Dalilnya ijma. Ijma bahwasanya umat mengatakan mereka orang orang saleh. Dan kalau ijma gak mungkin salah. Kalau sudah masyhur umat mengatakan ini orang saleh, gak mungkin Allah biarkan umat bersatu di atas kesesatan. Laamiu umati alalah. Kata Nabi, "Umatku tidak akan bersepakat dalam satu kesesatan." Dan semua orang tidak ada yang bilang Imam Syafi'i tidak saleh. Enggak ada. Semua bilang Imam Syafi'i saleh. Semua memuji Umar bin Abdul Aziz. Padahal Aziz bukan sahabat, dia tabiin. Ya. Kemudian juga Imam Malik, Imam Ahmad semuanya mengatakan mereka ini orang-orang saleh. Sehingga Imam Syafi'i, Imam Imam Ibnu Taimiyah mengatakan mereka ini juga bisa kita saksikan mengatakan dia di surga. Meskipun tidak nas tapi bersandar kepada ijma. Wallahuam bisawab. Ini karena apa? Karena ijma. Tib ini terkait dengan ee orang-orang saleh. Maka kita tidak boleh mengatakan secara person mereka di surga kecuali yang telah kita sebutkan ini ada khilaf di kalangan para ulama ya yang hanya boleh tiga sesuai dengan tiga pendapat ini. Adapun selain daripada para nabi atau selain orang-orang ada nasnya mereka masuk surga atau yang disaksikan oleh umat mereka orang saleh, maka tidak boleh kita persaksikan karena itu hal yang gaib. Sebab perhatikan sini, karena kita tidak bisa memastikan seorang benar-benar termasuk muttaqin atau tidak. Lihat perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam Minhajus Sunah jilid 3 496 497. Karena kita tidak bisa ini karena gaib karena kita tidak bisa memastikan seorang benar-benar termasuk muttaqin atau tidak. Terkait dengan satu misalnya amal hati seorang kita tidak tahu. Amal hati seorang kita tidak tahu. Nabi bersabda, "Innar rajula lalamalu biamali ahlil jannah fima yabdulinas wahua min ahlinar." Sungguh seorang melakukan amal penghuni surga, yaitu dia beramal saleh di depan manusia. Fa yabdulinas menurut yang nampak bagi manusia. Wahua min ahlinar. Padahal dia termasuk penghuni neraka jahanam. Dia beramal saleh tapi penghuni neraka jahanam kata para ulama. Karena ternyata dia punya masalah dalam hatinya. Mungkin dia ria, mungkin dia sombong, mungkin dia ujub. Ya, padahal dia beramal saleh. Yang kita lihat kan yang zahirnya, yang batinnya kita tidak tahu. Buktinya Rasulullah mengatakan demikian. Ada orang beramal saleh di depan fima yabdulinnas menurut pandangan manusia, ternyata dia penghuni neraka. Berarti kita enggak tahu amal hati hatinya. kita enggak tahu amal hati hati dia. Ya, sama sebaliknya. Ada orang kelihatan biasa-biasa ternyata amal hatinya luar biasa. Seperti kisah dalam hadis al Imam Ahmad ketika ada seorang Anshari keluar baru habis wudu. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Yatlu alaikum rajulun min ahlul jannah." Akan muncul sekarang seorang penghuni surga. Orang itu muncul di depan para sahabat. Nabi bilang, "Ini penghuni surga." Besoknya dia habis wudu muncul lagi. Lewat depan sahabat. Nabi mengatakan yatlu alikum. Sekarang akan muncul seorang pun di surga. Dia lagi, dia lagi sampai 3 hari. Ternyata kemudian diikuti oleh Abdullah bin Amr bin Ash. Ikuti dia. Dia bilang, "Saya dengan bapakku ada masalah padahal tidak ada. Bolehkah kalau kau mau saya nginap di rumahmu?" Boleh. Akhirnya nginap di rumah. Ternyata orang ini amalnya biasa-biasa aja. Siang juga tidak puasa, malam juga tidak salat malam. Gua banget gitu ya. Sama dong. Bedanya bedanya dia kalau terjaga di malam hari langsung ingat Allah. Kalau terjaga di tengah-tengah malam dia langsung ingat Allah. Akhirnya setelah 3 hari dia bilang, "Ya akhi, saya minta maaf sebenarnya saya tidak ada masalah dengan orang tua saya. Cuma 3 hari berturut-turut Rasulullah bilang, "Engkau penghuni surga." Apa amalku? Apa amalmu yang buat kau mau surga? Kata dia, "Tidak ada illa marait kecuali yang kau lihat itu amalku." Masa enggak? Enggak ada. Falama wait. Tatkala aku pergi kata nadani dia panggil sungguhnya ada amal yang yang amal hati yang apa namanya yang tidak kelihatan yaitu la ahsudu e ala ahadin ala nikmatinallahuullahu iyaha. Aku tidak la ahsudu ahadan ala nikmatin aahullahu iyaha. Aku tidak pernah hasad kepada seorang pun atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Dan aku tidak punya grundul dalam hatiku kepada siapapun. Tidak punya niat buruk, jengkel kepada siapapun. Subhanallah. Dia punya amal yang tidak kelihatan. Kelihatannya biasa-biasa ternyata hatinya sangat bersih. Maka Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhu berkata, "Hadalladzi balag bika alladzi la natiquhu." Inilah yang sampai pada dirimu kami tidak mampu. Seperti itu. Hati suci. Oleh karenanya hati adalah amal yang gaib. Kita tidak tahu sehingga kita tidak bisa pastikan orang ini penghuni bertakwa atau tidak. Karena bisa jadi zahirnya bertakwa ternyata hatinya enggak enggak beres. Yang kedua, ada amal tersembunyi seorang tatkala bersendirian juga kita tidak tahu ya. Kita tidak tahu ya. Bisa jadi kita lihat dia saleh ternyata dia melakukan maksiat ketika diam-diam tidak ada yang lihat. Contohnya dikatakan kepada budak Nabi, ada seorang berikan budak kepada Nabi melayani Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam perang Khaibar. Ketika budak ini sedang mengurusin ee unta Nabi atau pelana Nabi, ingin sedang bantu Nabi, tiba-tiba ada panah yang mengenainya. Maka dia pun mati budak ini. Maka para sahabat berkata, "Faqala lahunas hanian lahu bil jannah." Selamat masuk surga. Gimana tidak dia ikut perang perang Khaibar kemudian dia bantu Nabi melayani Nabi. Surgalah apalagi kurang ikut perang Khaibar bantu Nabi. Apalagi kurang sudah surga. Maka sahabat serta-merta berkata, "Hanian lahu bil jannah." Selamat masuk surga. Maka Rasulullah mengomentari kalla kata Rasulullah sekali-sekali tidak. Ternyata dia punya amal buruk yang tidak ketahuan. Walladzi nafsi biyadihi inamlati akhabar minalim lamal maqimai. Kata Nabi sekali-sekali tidak masuk surga. Kenapa? Demi zat yang jiwaku berada di tangannya. Sesungguhnya kain yang dia ambil, dia telah mengambil kain, yaitu dia ambil gulul. Dia ngambil kain dari gonimah yang belum dibagi. Harusnya kan bagi dulu baru dia dapat. Tapi sebelum pembagian gonima diambil dulu. Padahal cuma secari kain. Saya cari kain. Kata kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, alaihiaron. Sekarang kain itu menyalakan api buat dia. Akan akan menyalakan api buat buat dia. Berarti ada amal kita yang kita lihat cuma zahirnya. Ada amal mungkin buruk yang dilakukan oleh seorang kita tidak tahu. Dari situ, dari situ dia tidak bisa memastikan si fulan ini takwa atau tidak. Yang kita bisa lihat secara zahirnya. Tapi hakikat orang ini kita tidak tahu. Maka kita tidak bisa pastikan dia bertakwa. Oleh karenanya kita tidak bisa pastikan dia di sur surga. Karena memastikan seorang di surga dibangun dia termasuk bertakwa atau tidak. Sementara memastikan seorang bertakwa atau tidak secara hakiki kita enggak tahu. Makanya kalau orang harus memuji orang lain kita hanya mengatakan ahsabuhuik wallahu hasibuhu. Menurut saya dia orang saleh tapi Allah yang lebih tahu tentang hakikatnya. Dan aku tidak mau mendahului Allah. Itu di antara adab kalau kita muji Allah, muji seorang. Kalau terpaksa kita muji kita mengatakan, "Arohu rajulan shihan." Menurutku dia orang saleh zahirnya. Tapi kita enggak boleh menyaksikan batinnya. Enggak boleh. Kita hanya mengatakan menurutku zahirnya dia orang saleh. Ahuh. Ini persangkaan saya. Wallah hasibu. Dan Allah beritahu tentang dirinya. W uzak alallahi ahada. Dan aku tidak mendahului Allah ya dalam mentazkiah merekomendasi seorang pun. Paham Tib? Ini sebab kedua kenapa kita tidak bisa masih di pengun sebab ketiga kita juga tidak tahu bagaimana akhir hayatnya. Bima mata alaihi kita enggak tahu sekarang dia saleh ujungnya gimana. Gimana kita saksikan dia di surga sebentar enggak tahu akhirnya bagaimana. Akhirnya bagaimana Rasulullah sahu al wasam bersabda, "Inna ahadakumalu biamali ahlil jannah hatta ma yakunu bainahu wainahbiqu alaihil kitabalu biamali ahlinar. Sungguh salah seorang dari kalian benar-benar melakukan amalan penghuni surga sampai jarak dia dengan surga tinggal sehasta. Fayasbiqu alaihil kitab. Ternyata sudah tertulis di lauhil mahfud. Dia termasuk penghuni neraka jahanam. Fayalu biamali ahlinar. Ternyata di ujung hayatnya dia beramal dengan amalan penghuni neraka. Kemudian dia mati faydkhulu. Kemudian dia masuk neraka jahanam. Ya, kita enggak tahu ya. Seperti kisah seorang yang berjihad. berjihad sampai sahabat mengatakan hebat kata Nabi, "Pohoni neraka." Padahal dia bunuh musuh banyak sekali. Sampai ada seorang sahabat nguntiti apa ngikutin dia. Ini gimana ini orang ini? Kok Nabi bilang dia masuk neraka? Padahal dia hebat perang. Ternyata diikuti, diikuti di akhir hayatnya dia terluka dan dia tidak kuat. Maka dia tegakkan pedangnya kemudian dia tindihkan dadanya. Sodqah Rasulullah. Benar sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bahwasanya ternyata dia masuk neraka. Kata Rasul sallallahu alaihi wasallam, "Innamal a'malu bil khawatim." Sesungguhnya amalan tergantung apa? Akhirnya. Maka karena kita tidak tahu akhir seorang, maka maka kita tidak bisa pastikan surga atau neraka. Maka sungguh indah perkataan Ibnu Mas'ud, manana mustannan falyastanna bimanq mat. Siapa yang ingin mencontohi, contohi yang sudah mati, yang sudah jelas matinya baik. Fainnal hay la yman alaihil fitnah. Karena yang masih hidup kita enggak tahu dia tidak selamat dari fitnah. ikut-ikutnya ternyata ujungnya kacau ya. Ngapain ya sudah ya kita enggak tahu. Oleh karenanya karena kita tidak tahu bagaimana akhir seseorang hakikatnya meninggalnya seperti apa kita enggak tahu. Maka ini di antara sebab kita tidak bisa memastikan seorang di surga atau tidak. Yang keempat kita tidak tahu hakikat amal salehnya. Tidak tahu hak hadis Ummul Ala ketika jadi Utsman bin Maz'un radhiallahu anhu seorang yang sangat saleh, terkenal saleh dan dia salah satu dari tiga orang yang datang kepada Nabi yang semua semangat ibadah. Utsman bin Maz'un, Ali bin Abi Thalib sama Abdullah bin Amr bin Ash. Tiga orang ini pernah datang kepada istri Nabi bertanya tentang ibadah Nabi di rumah. Ketika Nabi istri Nabi menjelaskan ibadah Nabi di rumah, fakaahum taqalu maka mereka sedikitlah. Kalau ibadah Nabi cuma segitu, bagi kita sedikit karena Nabi sudah dijamin masuk surga. Adapun kita, kita enggak terjamin. Oleh karenanya ibadah kita harus lebih banyak. Maka satu mengatakan, "Saya akan salat malam terus tidak tidur." Satu bilang, "Saya akan tidak mau nikah sama sekali." Yang satu mengatakan, "Saya tidak akan berbuka." Satu bilang apa? Saya tidak akan salat tidur. Salat malam dari bakda isya sampai apa? Subuh. Subhanallah. Semangat ibadah. Dan kalau mereka sudah bilang gitu, mereka komitmen sahabat ini bukan kita. Kalau kita ngomong gitu paling 3 hari sudah tumbang. Sahabat bilang gitu serius ya. Satu bilang, "Saya tidak tidak akan berbuka puasa tiap hari." Kalau sahabat bilang gitu, serius enggak? Serius. Dia akan bikin kalau tidak dilarang. Satu bilang, "Saya tidak taazilun nisa. Saya enggak mau sama nikah sama sekali. Perempuan bikin capek, nyadarikin duit apalah ngurusinlah maintenance-nya mahalah. Urusan banyak belum punya anak urusan macam-macam gak. Saya enggak mau nikah sama wanita sama sekali karena wanita mengganggu ibadah. Ini pikiran mereka. Ternyata Rasulull sahu alaihi wasallam larang bahwa yang terbaik bukan demikian. Yang terbaik adalah justru menikah, justru puasa dan berbuka dan tidur baru salat. Tapi di antara tiga orang tersebut adalah Utsman bin Mas'un. Saya ingin menyampaikan dia semangat sekali ibadah. Semangat sekali ibadah. Sampai kalau seandainya Rasulullah membolehkan kami akan mengkebiri ya supaya bisa ibadah. Tapi Rasulullah larang ruhbaniah. Rohbaniah cuma jadi nasra. Tib dia meninggal. Dia meninggal. Ummul Ala. Ummul Ala ketika lihat Utsman bin Maz'un meninggal maka dia memuji Utsman bin Mazun. Kenal siapa Utsman bin Maz'un radhiallahu anhu. Maka dia berkata, "Ummul Alahai rahmatullahi alaika abasib." Abu Said maksudnya kuniahnya. Semoga Allah merahmati merahmati engkau wahai Abu Saib. Fasyahadati alaika laqad akramakallah. Aku bersaksi kepada engkau bahwasanya persaksianku untukmu bahwasanya Allah telah memuliakan engkau. Kira-kira ada masalah? Harusnya enggak ada masalah. Apalagi Utsman bin Mad'un termasuk peserta perang Badar. Saya ulangi. Apalagi Utsman bin Mad'un termasuk peserta perang perang Badar. Jadi masuk dalam keumuman yang spesifik yang tadi kita sebutin. Apalagi yang kurang ibadahnya luar biasa mujahid. Apalagi yang kurang ibadah. Maka Ummul Ala mengatakan, "Fasyahadati alaika laqad akramakallah." Saksi saksiku untukmu bahwasanya Allah telah muliakan engkau. Maka Rasulullah menegur, "Wama yudrik." Dari mana kau tahu wahai Ummul Ala? Subhanallah. Nabi tegur. Nabi lagi di situ. Kata Nabi, "Wama yudrik." Dari mana kau tahu dia sudah dimuliakan oleh Allah? Ini perkara gaib. Amma Utsman kata Nabi, amma Utsman faqad jaahul yaakin. Adapun Utsman bin Mad'un, telah datang keyakinan baginya yaitu kematian. Wa inni laarjulahul khair. Dan aku berharap dia mendapatkan kebaikan karena orang saleh. Wallahi ma adri wa Rasulullah wasallam ma yuf'alu bi. Sedangkan saya saja, saya Rasulullah saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku. Itu Nabi sallallahu alaihi wasallam menegur ini orang saleh. Tapi jangan bilang gitu. Jangan langsung persaksikan secara takyin, secara person. Kau telah dimuliakan. Enggak ada yang tahu. Enggak ada yang tahu bagaimana hakikat yang sebenarnya. Tib. Demikian juga ketika dalam hadis Abu Hurairah ketika ada seorang wanita meninggal dunia, maka mereka berkata, "Mata inna fulana matat wastarahat." Sesungguhnya si fulan telah meninggal dan istirahat istirahat. Maka Nabi gadiban Nabi Nabi marah karena berani memastikan dia istirahat. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam berkata, "Innama yastaru manufir lahu." Sesungguhnya yang istirahat di alam barzakh, yang nyaman di alam barzakh adalah yang diampuni oleh Allah. Yaitu mengat dari mana kau tahu dia diampuni Allah? Dari mana kau tahu dia diampuni Allah? Makanya kalau ada mayat dikatakan almagfur lahu yang telah diampuni. Repot. Kalau maksudnya orang biasanya berdoa gfarallahu lahu semoga Allah mengampuninya. Tapi kalau almagfur lahu yang telah diampuni, maksudnya pasti diampuni maka gak boleh. Tapi kalau maksudnya semoga diampuni maka kita mendoakan semuanya. Jadi kadang-kadang istilah almagfur lahu itu kalau maknanya zahirnya seakan-akan yang telah diampuni. Nah, kalau maksudnya demikian gak boleh. Karena kita enggak tahu dia diampuni atau tidak. Makanya memastikan hal-hal yang gaib ini kadang-kadang hati-hati memastikan ngeri karena hal yang gaib. seperti mengatakan, "Tenang, kalau kau ditanya sama malaikat, bilang saja, saya pengikut Mbah Fulan." Kan repot. "Emang Mbah Fulan pasti di surga?" Enggak bisa. Akidah ahlusunah enggak seperti itu. Kita bilang dia orang saleh. Siapa yang lebih saleh daripada Utsman bin Maz'un? Siapa yang bilang dia lebih saleh? Utsman bin Maz'un. Ada yang lebih saleh Utsman bin Maz'un? Ya, bicara gaib-gaib hati-hati kadang-kadang. Ya, malaikat Munkar dan Nakir sampai sekarang enggak bisa nanya. Subhanallah. Karena terlalu banyak yang ziarah, enggak pulang sehingga malaikat Mkar. Ini kan perkara gaib. Perkara gaib. Maka seorang waspada hati-hati dalam berbicara, dalam berkata-kata. Jangan mendahului Allah. Tadi kalau kita pun harus muji kita bilang zahirnya ee wala uzaki allahi ahada. Makanya ketika seorang sahabat Nabi membagi gonimah kepada orang-orang dan ada satu orangorang saleh kemudian Rasulullah tidak kasih dia. Maka sahabat ini bertanya Rasulullah kenapa kau tidak kasih dia? Arahu mukminan kata musliman. Padahal dia orang mukmin kata Nabi. Muslim. Kenapa? Kalau mukmin terkait dengan merekomendasi hatinya. Maka Nabi bilang, "Kau cukup aja rekomendasi zahirnya. Karena masalah hati yang tahu adalah Allah." Maka, maka ketika dia mengatakan, "Bagaimana kau tidak kasih dia ya Rasulullah? Sementara menurutku dia seorang mukmin." Kata Rasulullah, "Menimpali au musliman atau menurutku dia seharusnya kau bilang menurutku dia seorang muslim." Jangan kau bilang menurutku dia seorang mukmin. Karena mukmin terkait dengan amalan hati. Maka makanya kalau ada kita kasih rekomendasi kita bilang, "Menurutku dia orang baik. Allah yang lebih tahu tentang dirinya dan aku tidak mau mendahului siapa? Allah dalam menilai seseorang yang tahu hati hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Tib. Inilah hal-hal yang kemudian menyebabkan kita tidak bisa memastikan seorang pasti masuk surga kecuali yang telah datang nas menyatakan demikian. Paham sampai sini? Baik. Sekarang kita masuk pada pelaku maksiat. Pelaku maksiat. Tib pelaku dosa. Jika dosanya tidak sampai kafir maka tidak boleh memastikan masuk neraka. Enggak boleh. Jika tidak sampai kafir tidak boleh pastikan masuk neraka. Kenapa? Karena semua dosa tahta masyiatillah kecuali musyrik. Allah berfirman, "Innallaha la yagfirusaka bihfiru maunalika lima yasya." Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa selain syirik bagi yang Allah kehendaki. Maka orang mati dia bunuh diri, dia zalim, dia bakar kaum muslimin, dia apapun selama tidak kafir kita bilang wallahualam. Kita khawatir dia masuk neraka tapi wallahualam. Dia masih apa? Muslim. Ya. Ya. Selama bukan kufuran maka masih tahtah masyiatillah. Di antara yang menguatkan hal ini tentang larangan taali alallah ya dalam hadis larangan larangan mendahului Allah. Kisah dua orang dari Bani Israil. Yang satu rajin ibadah, yang satu rajin maksiat. Ada yang mengatakan mereka dua bersaudara, yang mengatakan dua mereka sahabat. Akhirnya yang tukang maksiat ditegur sama yang rajin ibadah. Ya had aksir, wahai fulan, berhentilah. Tapi dia cuek aja. Ketemu lagi suatu saat maksiat lagi. Wi fulan, berhentilah. Cuek aja. emang gue pikirin. Kemudian terakhir ketemu lagi dia maksiat lagi. Ditegur lagi. H ya h aksir wattaqillah. Wahai fulan, berhentilah bertakwa kepada Allah. Orang yang ditegur ni marah. Dia bilang ya da warabbiarkan saya dengan Tuhanku. Ngapain kau ikut-ikut campur urusanku? Ini benar enggak perkataan ini? Enggak benarlah. Harus amar nahi mungkar harus berjalan. Kemudian bikin jengkel lagi dia mengatakan, "Abu alqiba emang kau diutus untuk ngawasin aku? Emang malaikat rakib ati tidak cukup? Emang harus kau yang ngawasin aku?" Ini kan bikin jengkel. Akhirnya orang bertakwa tadi marah. Akhirnya dia mengatakan, "Wallahi layagfirallahu laka." Demi Allah, Allah tidak akan ampuni engkau. Ya, berarti di neraka kalau tidak diampuni. Ya enggak berarti menjadikan saksi dia di neraka. Dia bersumpah maka Allah matikan mereka berdua. Allah marah. Allah berkata, "Manadzial fulan." Siapa yang berani bersumpah mendahuluiku atas namaku, mengatakan, "Aku tidak akan mengampuni si fulan." Laqad gofartu lahu. Aku telah ampuni si fulan ahbatu amal. Dan aku gugurkan amalanmu karena berani-berani memvonis seorang di neraka bahwasanya aku tidak akan mengampuninya. Kata Abu Hurairah radhiallahu anhuqunahu dia ngomong satu perkataan tidak dia renungkan. ternyata menghabiskan atau menghancurkan dunianya dan akhiratnya. Dia mati dan di akhirat masuk apa? Neraka. Kenapa? Karena berani mvonis. Makanya hati-hati jangan emosi kemudian kita vonis. Ya, padahal yang salah orang lakum asah bikin jengkel lagi. Tapi ketika dia berani memvonis maka bahaya. Oleh karenanya. Akan tetapi kita khawatir atas orang ini kalau dia melakukan dosa-dosa. Khawatir dia masuk nera neraka karena terlalu banyak dalil-dalil yang menunjukkan pelakunya neraka. Pelaku neraka banyak namun kita tidak menjadikannya putus asa dan kita mohonkan ampunan baginya. Ya. Seperti orang yang mati bunuh diri. Rasul sahu alaihi wasallam tidak menyalatkannya tapi Rasulullah suruh sahabat menyalatkannya. Ya, dia lagi butuh butuh doa. Rasulullah tidak menyalatkan sebagai zajar, sebagai efek jera agar orang tidak ada yang bunuh diri. Kalau bunuh diri Rasulullah tidak mau salatkan. Padahal semua orang sangat butuh dengan doa dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan itu sunah yang hendaknya dilakukan. Kalau ada pelaku dosa besar, kiai jangan salatin ya. Biar yang lain. Supaya orang kalau mau macam-macam nanti nak gak disalatin sama kiai, gak disalatin sama ustaz ya. Tapi yang lain doain karena dia masih muslim dan dia butuh apa? Do doa ya. Tib berikutnya jika melakukan dosa sampai kafir baik kafir asli atau kafir mur murtad bab ini saya apa namanya Tib. ee ada khilaf ya tapi sebelumnya terkait orang kafir Tib. Pertama terkait hukum dunia. terkait hukum dunia. Orang kafir asli atau murtad? Asli atau murtad? Asli maksudnya sejak kecil dia sudah kafir. Maksudnya dia kafir Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, dan lain-lainnya. Konghuchu. Maka terkait hukum dunia zahirnya kita kafirkan. Kita katakan dia kafir gak ada boleh ragu. kita katakan dia kafir, berlaku padanya hukum-hukum orang kafir. Hukum-hukum orang kafir sudah seperti hukum kafir seperti kita pernah singgung ya. Di antaranya tidak didoakan kemudian dikuburkan di dikuburkan di mana? Di kuburan apa? di kuburan kafirin, kuburan kaum kafir misalnya, tidak ada waris-warisan, tidak ada saling mewarisi. Ini di antaranya yang kedua terkait hukum di akhirat. Hukum di akhirat. Pertama, hukum umum. Hukum umum secara umum. Siapa yang mati kafir pasti di neraka kekal tanpa ada ragu. Ini tidak boleh ragu. Innalladina kafaru min ahl kitabi musyrikina fiari jahannama khidina fiha ulaik hum syarrul bariah. Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan musyrikin dari ahlul kitab mereka di mana? Di neraka jahanam. Khina fiha laq kafaradina q inallah. Sungguh telah kafir yang mengatakan Tuhan tiga yang mengatakan eh Isa adalah Allah Subhanahu wa taala ya. Dan banyak ayat menunjukkan akan hal ini ya, bahwasanya orang-orang kafir di neraka ya, semua orang kafir di neraka. Orang musyrik semuanya di neraka. Dalam hadis juga banyak seperti Rasul sahu alaih wasallam mengatakan, "La yasma bi ahadun min hadil ummah yahudiyun wala nasraniyun tumma yamutu walam ymin billadzi ursilu bihi illa min ahlinar." Tidak seorang pun dari umat ini yang mendengar tentang aku Yahudi maupun Nasrani kemudian meninggal dalam kondisi tidak beriman yang aku kepada yang aku bawa kecuali pasti masuk neraka. Ini jelas tidak boleh ragu. Siapa yang ragu justru kafir. Saya ulangi, siapa yang ragu justru kafir. Justru kafir. Makanya di antara pembatal pembatal Islam adalah meragukan kekafiran orang kafir. Meragukan mereka masuk neraka. Ada yang bilang Yahudi surga, Nasrani surga. Yahudi surga, Nasrani surga. Semua agama surga. Ateis bagaimana? Orangnya baik, saleh, ateis. Iya. Dibandingkan ini muslim tapi pencuri. Ini ateis tapi dermawan. Tib. Mana yang masuk surga? Ateis masuk surga. Jadi siapa yang mengatakan ragu bahwasanya mereka ini di kafir dan di neraka justru mereka itu yang kafir. Kenapa? Karena berarti mendustakan ayat Allah. Karena mendustakan ayat-ayat Allah. Allah bilang mereka di neraka. Kata orang kafir di neraka. Kata mereka orang kafir di surga. Tib. Sekarang hukum secara person. Hukum secara person. Baik. Bagaimana ini? Khilaf tidak ditemukan. Saya belum menemukan dan saya saya belum temukan-pembahasan di buku-buku akidah terdahulu. akidah salaf secara detail. Semua yang saya dapati seperti buku Thahawi yang kita bahas bicentang ahlul kiblah. Demikian Imam Ahmad dalam ushulus sunah juga bicara tentang ahlul kiblah. Sunah lil barbahari juga bicara tentang apa? Ahlul kiblah. Tidak ada yang bicara tentang orang kafir. Ya, oleh karenanya pembahasan ini tidak belum saya temukan. Mungkin ada tapi saya belum temukan ya. Dalam karenanya di sini ada khilaf di kalangan ulama sekarang. Khilaf di kalangan ulama kontemporer. Khilaf di kalangan ulama kontemporer. Oke, saya sebutkan khilafnya. Ini sudah ada dua pendapat. Tib khilaf. Tap saya mungkin saya perlu tambahkan lagi ya ee sebelumnya ya. Tayib. ee secara umum siap hukum secara person sebelumnya tentu yang dinaskan oleh dalil kita kafirkan kecuali yang disebutkan dalam nas. Dalam nas siapa aja mereka ya misalnya siapa? Abu Lahab. Abu Lahab di mana? Neraka. Istrinya di mana? Neraka. Firaun neraka. Haman, Qarun di neraka. Semua yang meninggal di zaman Nabi Nuh ketika kena banjir semuanya di neraka. Ya, semua kaum Sodom yang homoseksual semuanya berada di neraka. Kaum Tsamud yang binasa, kaum Muad yang binasa semuanya di neraka. Allah yang bilang mereka semua di neraka. Kemudian Abu Jahal dan teman-temannya yang mati dalam perang Badar semuanya di neraka ya. Karena disebut secara pers. Kemudian siapa? Amru bin Luha Al-Khuzai'u di neraka. Dalam hadis kata orangorang bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, aina abi? Di mana ayahku?" Kata Nabi, "Ayahmu di neraka." Maka dia pun sedih. Kemudian Rasulullah menghibur dia. Kata Rasulullah, "Bukan cuma aku saja yang sedih." Rasulullah mengatakan, "Inna abi wa abaka finar." Ya, itu maksudnya Rasulullah agar dia tidak sedih. Rasulullah mengatakan, "Inna abi wa abaka fin." Ayahku dan ayahmu juga di neraka. Intinya yang datang nas di neraka kita bilang di neraka. Bagaimana yang tidak ada nas? Ya, ini khilaf di kalangan secara detail ya, khilaf di kalangan para ulama pada yang tidak ada nas. Nasnya ya secara umum orang kafir secara umum ya. Tib di sini ada dua pendapat di kalangan para ulama. Khilaf yang pertama jika diketahui mati kafir pasti secara pasti secara pasti yakin telah yakin tidak ada yakin telah diqamat telah iqamatul hujjah maka Ini boleh kita takyin person di neraka. Boleh kita katakan secara person di neraka. Di neraka. Baik. Ini pendapat siapa yang terkenal? Pendapat ulama sekarang misalnya adalah Syekh Abdul Aziz Arrajhi. Syekh Abdul Aziz Arrajhi dalam sebagian ee dalam syarah akidah tahawiyah syarah kalau enggak salah juga ee akidah salaf ashabil hadis. Saya sempat baca tadi Abdullah Rajhi. Di antaranya juga adalah Syekh Salh Alus Syekh. Saleh alu Syekh dalam syarah akidah thahawiyah. Mereka mengatakan deraka. Adapun yang perkataan kita tidak boleh memastikan secara pasti itu terkait dengan orang muslim. terkait dengan orang muslim. Karena orang kafir hukum asalnya di neraka. Maka kita berpegang pada asal ya. Kenapa? Hukum asal orang kafir di mana? Orang kafir di neraka. Ya, kita pegang hukum asal. Beda dengan hukum asal orang beriman di sur surga. Makanya untuk memastikan mereka di surga ee apa namanya? Kita belum tahu karena imannya enggak je jelas. Kalau yakin beriman di surga, tapi karena kita enggak jelas dia beriman atau tidak, kita tidak bisa pastikan dia surga. Tapi kalau hukum asal orang kafir di neraka. Sehingga mereka mengambil mafhum mukhalafah dari perkataan para ulama yang menulis dalam buku akidah ya. Karena yang dibahas dibahas oleh para ulama ulama salaf adalah tentang hukum orang muslim tentang muslim pendosa. Muslim pendosa tidak boleh dipastikan tidak boleh dipastikan masuk neraka. tidak boleh dipastikan masuk neraka. Berarti kalau orang kafir ya sudah pasti paham kalau yang kita bahas adalah muslim pendosa. Karena orang Islam asalnya dia masuk surga maka dia pendosa. Ya enggak tahu ini bisa enggak. Makanya kita tidak boleh pastikan dia di neraka. Maka ketika kita bahas orang kafir ya sudah. Kemudian datang dalam hadis tapi hadisnya difaiifkan ada rukutnya ada khilaf. Ketika ada orang Arab Badui datang ketemu Nabi ki kalau enggak salah dia masuk Islam. Kemudian Rasul sahu alaihi wasallam menugaskan dia. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Haitsu ma mar biqobri kafirin fabasyirhu binar." Kapan kau lewat kuburan orang kafir bilang selamat masuk neraka? Sampai dia bilang, "Rasulullah telah menugaskan aku dengan tugas yang berat." Kara lihat, "Eh, kuburan kafir." Heh, selamat masuk neraka. Eh, capek. Karena kuburan orang kafir banyak. Dia bilang, "Aku ditugaskan dengan tugas yang berat." Tapi hadis ini diperselisihkan. Wallahualam. Yang benar hadisnya apa? Dif. Tetapi inilah pendapat sebagian ulama. Mereka meng hukum asal orang kafir di neraka. Ini ini kita bicara tentang hukum di akhirat. Paham? Hukum di akhirat. Kalau mereka kita pastingkan dia mati dalam kondisi tidak ada diragukan lagi bahwasanya tidak ada uzur, sudah sampai hujah, dia pasti masuk neraka. Pendapat kedua ini pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dan ini mayoritas ee kita tidak kita tidak boleh tidak boleh pastikan secara person ya karena kita tidak tahu hakikatnya hakikat orang tersebut. Misalnya bisa jadi dia beriman menjelang mati ya bisa jadi dia sembunyikan imannya imannya karena dunia misalnya karena takut atau karena dunia seperti waqalladzi waq Qala rajulun min al firauna yaqtumu imanahu. Berkata lelaki dari keluarga Firaun yang menyembunyikan apa? Imannya sehingga Firaun kira dia orang ber orang kafir padahal dia beriman. Bisa jadi dia sembunyikan imannya entah karena takut entah karena dunia entah karena masalah tapi dia sebenarnya beriman. Bisa jadi ada karena uzur. Karena uzur misalnya dia seperti kita bahas waktu pertemuan sebelumnya dia tidak sampai kepada Islamnya sama sekali. dia tinggal di tempat yang jauh atau dia dengar samar-samar tentang Islam tapi Islam teroris sehingga dia enggak mau mendalami lagi. Dan ini hakikatnya kita tidak tahu ya, kita tidak tahu. Dan ini pendapat Ibnu Taimiyah saya bacakan dalam Majmu Fatawa 2435. Majum Fatawa ee 24 305. E Ibnu Tim mengatakan, "Waq yakunu fi ba' mat." Bisa jadi sebagian orang yang meninggal wahiruhu kafir. Zahirnya kafir. Dan kalau zahirnya kafir kita muamalahnya muamalah orang kafir atau bukan? Orang kafir. Kubur di kuburan kafir dan seterusnya seterusnya tidak disalatin. Anyakunu anyakuna amana billah qbl yargir. Bisa jadi dia beriman kepada Allah sebelum nyawanya di kerongkongan. Di akhir hayatnya dia mengatakan lailahaillallah. Contoh orang Yahudi. Yahudi yang sakit kemudian pernah jadi pembantu Nabi. Nabi datang kata Nabi, "Aslim, masuklah kau Islam." Dia lihat kepada bapaknya. Kata bapaknya, "Ati Abal Qasim, ikuti Muhammad." Akhirnya masuk Islam. Di akhir hayat dia masuk Islam. Maka Rasulam mengatakan, "Alhamduadzi anqadani anqadahu minanar bi anqadahu bi minanar." Segala puji bagi Allah telah menyelamatkan dia dari neraka dengan sebabku. Dia kapan Islamnya? Di ujung ha hayatnya. Taruhlah Benyamin Ncanyahu sebelum meninggal kemudian lailahaillallah. Kita sih enggak pengin. Cuma kalau dia masuk Islam sudah selesai. Kita enggak tahu bagaimana ujungnya. Paham? Jangan bilang mustahil. Belum tentu kita enggak ada yang kita bisa enggak mendahului Allah. Tapi kita enggak pengin aja. Kalau masuk Islam sekarang maksudnya jangan pas mau mati tapi Allah yang lebih tahu. Seandainya saya bilang dia teraj di penghujung hayatnya mengatakan lailahaillallah masuk Islam selamat enggak? Selamat artinya dia tidak kekal dia kekal di neraka tidak pasti dipastikan dia kekal di neraka bisa jadi walam yakun indahu mukmin watama ahlahu dalalik. Bisa jadi dia sembunyikan imannya sehingga istrinya tidak tahu. Imma liajli mirat mungkin untuk dapat warisan. Dia pura-pura kafir, istrinya mati dia ambil dapat. Kalau dia muslim, dia tidak dapat apa? Warisanik atau karena urusan dunia lain? Fakunu maal mukminin, maka dia sebenarnya orang beriman. Waana maqburan maal kuffar. Meskipun dikubur di kuburan orang kafir karena zahirnya dia ka kafir. Ini pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Wallahuam bisawab. Intinya ee dua-dua saya tidak tahu mana yang lebih kuat, tapi intinya dua-dua punya. Dua-dua punya punya apa namanya? Dalil ya. Disebutkan ada namanya Ibn siapa tadi? Saya baca Ibnut Ibnu Taran apa Ibnu siapa lupa. Seorang ada seorang dari Jahmi yang dia meninggal. Kemudian anak-anak di zaman itu berkata ee menuju neraka. Menuju neraka. Imam Ahmad hanya terdiam tidak mengingkari. Wallahu alam bawab. Tapi inilah khilaf di kalangan para ulama tentang masap itu. Jahmi pun bukan bukan kafir asli ya. Maksudnya dia kafir yang murtad. Dianggap murtad oleh Imam Ahmad. Kemudian ketika orang ini mati Ibnu Tarrah namanya Ibnu Tarrah aljahmi. Ibnu Tarrah Aljahmi ketika dia mati maka anak-anak ee mengatakan intinya bahwa dia selamat menuju kepada penjaga neraka. Kemudian Imam Ahmad lewat Imam Ahmad hanya diam tidak e mengomentari kata Imam Ahmad yasihun yasihun. Mereka teriak dia menuju neraka. Mereka teriak dia menjuaka. Seakan-akan Imam Ahmad tidak mengingkari perkataan anak-anak tersebut. Dan ini juga dalil kata para ulama anak-anak di zaman itu sudah kenal akidah yang benar sehingga mereka tahu Jahmi ini salah. Jahmiyah. Ya. Tapi demikian saja. Wabillah taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.