Transcript
t8Q-_GIhsDo • Kitab Al-Adab Al-Mufrad #59: Memuliakan Orang Tua - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2604_t8Q-_GIhsDo.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukr lahu
ala taufiqihi wamtinanih wa ashadu alla
ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim
lnih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa
rasuluh daila ridwanumma
sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi
wa ikhwani. Hadirin hadirat yang
dirahmati Allah subhanahu wa taala kita
masuk pada bab yang baru babu ijlalil
kabir. Bab tentang
memuliakan orang tua. memuliakan
orangorang tua.
Ee
al Imam Bukhari membawakan hadisnya.
Beliau berkata rahimahullah. Qala
hadasana Bisyr bin Muhammad qala
akhbarana Abdullah qala akhbarana auf an
Ziyad bin Mikhraq. Qala qala Abu Kinanah
anil asy'ari. Q inna min ijalillahi
ikr syaibah almuslim
waamilil quran ghairal ghali fihi walal
jafi anhu wa ikromi sulanil muqsit.
Sesungguhnya di antara bentuk
mengagungkan Allah,
di antara konsekuensi dari mengagungkan
Allah adalah memuliakan
orang tua yang muslim. Ya. Ya. Orang tua
yang muslim dan juga memuliakan
pembawa Al-Qur'an yaitu yang
menghafal Quran, mengamalkannya,
mengetahui batasan-batasannya. Ghairal
ghali fi yang tidak berlebih-lebihan
dalam Al-Qur'an. Walal jafi anhu. Dan
tidak kaku atau kurang dalam ee bersikap
terhadap Al-Qur'an. Wa ikrami sultanil
muqsid. Demikian juga memuliakan
sultan atau penguasa yang adil. Ya,
penguasa yang yang adil.
Ee
di sini
salah satu bentuk mengagungkan Allah
adalah mengagungkan syiar-syiar Allah.
Allah berfirman, "Dzalika w yuadim
syaairallah fainnaha min taqwal qulub."
Siapa yang mengagungkan syiar-syiar
Allah, maka ini termasuk dari takwanya
hati.
Dan di antara syariat Allah adalah
seorang memuliakan orang yang sudah tua,
seorang muslim yang sudah tua ya. Dan
tentunya orang yang sudah tua ya
memiliki banyak ya hak ya. Di antaranya
hak sebagai orang yang sudah tua, dia
sudah lebih berusia daripada kita ya.
dia lebih banyak merasakan
ee pahitnya, manisnya kehidupan.
Apalagi dia muslim, dia lebih dahulu
beribadah daripada kita.
Dia lebih banyak ibadahnya daripada
kita. Ya, oleh karenanya orang yang
lebih muda hendaknya menghormati orang
yang tua dan sampai disebutkan salah
satu bentuk pemuliaan kepada Allah
adalah memuliakan orang tua. Maka ini
adalah adab yang sangat sangat indah.
Sebagaimana sudah kita singgung
sebelumnya, Rasulullah bersabda, "Laisa
minna man lam yuwaqqir kabirana walam
yarham shirana." Bukan dari golongan
kami orang yang tidak memuliakan yang
tua dan tidak sayang kepada yang lebih
lebih muda. Ya. Ee
di sini Rasulullah mengatakan iqrami
dyaib. Ikrama syaibah, yaitu yang
memiliki uban muslim ya, rambutnya sudah
beruban ya dan adanya banyak uban
menunjukkan dia sudah tua ya. Ini
mengingatkan kita
ya dan menunjukkan bagaimana dia di masa
tua masih di atas Islam. Berarti
menunjukkan dia adalah orang yang ee
saleh ya. Meskipun sudah tua masih terus
beribadah ya.
Maka seorang harus mengetahui kondisi
atau kedudukan orang yang sudah tua.
Maka misalnya kalau kita naik bis ada
yang lebih tua, kita suruh duduk kita
yang berdiri. Misalnya kalau ada antrian
kita bilang, "Silakan, Pak. Bapak di
luaran, ya." ya karena Bapak tua ya. Ini
bentuknya kita memuliakan. Silakan ya.
Kalau ada cara makan-makan Bapak di
luaran, ya.
Karena waktu makan bapak tidak banyak
lagi.
K sudah tua mau diapain didahulukan. Ya,
ini harus kita hidupkan. Pokoknya
antrian apa dia di luar orang tua ya.
Ya. Jadi orang tua lebih lebih dahulu
lebih dahulu ya.
Apalagi seorang tua dan muslim ya. Maka
harus di dihormati ya. Dan kita ajarkan
anak-anak kita sejak kecil hormati orang
orang tua. Sudah kakek kita tolong kita
papa. Kalau dia berbicara kita dengar
ya. Kalau apa namanya dia punya
kesalahan kita beri uzur namanya juga
sudah tua
ya. Tib yang kedua Rasulullah mengatakan
wahamilal Quran ya. Yaitu wa ikrama
hamil Quran. Hamilil Quran yaitu
memuliakan yang pembawa Al-Qur'an.
tanpa yang tidak berlebihan dalam
Al-Qur'an dan juga tidak kurang dalam
Al-Qur'an. Ya, maksudnya orang yang
hafal Quran ini ya dia tidak berlebihan
dalam Al-Qur'an. Jadi yang dimaksud
hamil Quran sebag dijelaskan oleh Ibnu
Abdil Bar rahimahullah bahwasanya yang
dimaksud pembawa Al-Qur'an bukan sekedar
menghafal,
bukan sekedar menghafal tetapi yang
mengerti tentang Al-Qur'an.
Betapa banyak orang yang sekedar hafal
tapi tidak menjalankan Al-Qur'an sama
sekali.
Oleh karenanya ee
seorang salaf ya ee berkata, "Unzilal
Quran liymala bih fatasu qiraatahu
amala." Sesungguhnya Al-Qur'an
diturunkan untuk diamalkan tetapi orang
menjadikan amalan Al-Qur'an hanya
sekedar membaca saja. Hanya sekedar
membaca. Menyangka bahwasanya Al-Qur'an
itu amalannya dengan membaca tilawah
saja. Tidak. Tilawah itu sarana agar
kita memahami dan untuk kita mengamalkan
kandungan Al-Qur'an. Ya, ini perkataan
Fudhail bin Iyad. Dia mengatakan,
"Unzilal Quran liyumala bih
fattakasuqatu amala." Al-Qur'an
diturunkan untuk diamalkan. Orang-orang
menjadikan bacaannya hanyalah untuk
bacaan. Itulah amalan dari Al-Qur'an.
Ee
oleh karenanya disebutkan Hasan Al
Bashri rahimahullah
ya ketika di ceritakan kepada Hasan al
Basri di zaman tabiin. Hasan Al Basri
salah seorang ulama tabiin.
Ada yang memuji yaitu atau seorang ahli
Quran menyebutkan tentang kelebihannya.
Dia berkata, "Qul qurana kullahu walam
usqit minhu harfan." Saya sudah baca
Quran seluruhnya dan tidak ada satu
huruf pun yang aku jatuhkan. Yaitu aku
telah membacanya dengan tajwid yang baik
dari awal sampai akhir. Tidak ada satu
huruf pun yang kurang jelas apalagi
sampai jatuh. Ya, maksudnya dia ahli
dalam tajwid dalam makhrajil huruf ya.
Dia ahli. Maka apa Hasan Al Basri
komentar tentang perkataan orang
tersebut? Kata dia, waqad asqathu
wallahi kullahu la jur alaihil quran la
fi khuluqin wala amal. Kata S Basri,
"Demi Allah, bukan satu huruf yang dia
jatuhkan. Seluruh huruf dalam Al-Qur'an
sudah dia gugurkan seluruhnya." Kenapa?
Tidak nampak dalam amalnya, dalam
perangainya
bekas-bekas Al-Qur'an enggak ada. Enggak
ada ayat-ayat dia amalkan. Maka menurut
Hasan Al Basri, kalau orang tidak
mengamalkan Al-Qur'an, justru dia telah
menggugurkan isi Al-Qur'an. Ya. Kemudian
beliau berkata, "Ma haula qur mereka itu
bukan ahli Quran. Ma haulai bil ulama.
Mereka bukan ulama ya. Ma haulai bil
waraah. Mereka bukanlah orang-orang yang
wara. Ya.
Kemudian beliau berkata, "Katil qur mla
haula laarallahu finasi mlahum."
Kalau ternyata ahli Quran hanya seperti
model mereka, semoga Allah tidak
membanyakkan manusia-manusia seperti
mereka itu di tengah-tengah manusia. Itu
hanya ada orang yang hanya baca Quran,
perhatian tajwid, tapi tidak
memperhatikan amalan. Padahal Al-Qur'an
diturunkan bukan sekedar untuk dibaca.
Allah mengatakan, "Alladzina atainahumul
kitaba ya
alladina atainahumul kitaba yatlunahu
haqqo tilawatih ulaika yminuna bih." Dan
orang-orang yang kami berikan kepada
mereka alkitab yatlunahu haqqo
tilawatih.
Mereka yatlunahu haqq tilawati. Ini
maknanya membacanya dan mengamalkannya
ya. Mengikuti Al-Qur'an tersebut ya.
ee dan memahami dan mengamalkannya. Ya,
jadi maksud dari haqqo tilawatih yaitu
mengamalkan isi Al-Qur'an. Itu yang
dipuji oleh Allah Subhanahu wa taala.
Itulah yang dikatakan orang beriman.
Adapun sekedar baca kemudian tidak
mengamalkan maka
ini bisa tercela. Orang-orang Khawarij
baca Al-Qur'an tapi tidak diamalkan.
Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam,
"Yaqraunal Quran la yujawizu tarqiahum."
Mereka baca Al-Qur'an namun tidak
melampaui kerongkongan mereka. tidak
masuk ke hati, tidak diresapi sehingga
tidak diamalkan.
Oleh karenanya kalau kita dapati seorang
ahli Quran kemudian dia nampak pada
dirinya akhlak, nampak pada dirinya
wara, nampak dirinya takwa, ah ini yang
dianjurkan untuk dihormati.
Dihormati
ya. Tapi kalau hafal Quran tapi tukang
maksiat, hafal Quran tapi joget sana
joget sini, ya hafal Quran tapi nipu
orang, ini ya tidak tidak disuruh.
Karena ini justru ini yang berbahaya
seperti ini. Membuat fitnah. Orang
bilang hafal Quran kok kayak begini
tidak nampak pada diri mereka asar
dampak dari baca Al-Qur'an.
Sebagian salaf berkata, "Ma jalasa
ahadunal Quran illa q minhu imiadati
nuqsan." Imadtin nuqsan. "Tidaklah
seorang duduk membaca Al-Qur'an kecuali
dia berdiri Al-Qur'an setelah selesai
baca cuma dua kemungkinan. Bertambah
imannya atau kurang?" Kurang imannya.
Yaitu bertambah jika dia mengerjakan isi
Al-Qur'an dan kurang jika dia
menyia-nyiakan perintah Al-Qur'an.
Makanya Rasul sahu alaihi wasallam
bersabda, "Wal quranu hujjatun lak
alaik." Al-Qur'an itu membelamu atau
akan menyerangmu pada hari kiamat kelak.
Kapan membelamu jika engkau membacanya,
mengamalkannya? Kapan menyerangmu jika
kau tidak membacanya? Bahkan dalam hadis
disebutkan di antara orang yang diazab
dalam alam barzakh, rajulun atahullahul
quran, seorang yang Allah berikan
kepadanya Al-Qur'an.
Fahua yanamu anhu bail walam yamal bihi
fin nahar. Malam hari dia tidak baca,
tidur aja tidak murajaah, siang hari dia
tidak amalkan. Justru ternyata dia
diazab dalam alam bar barzakh padahal
dia sudah hafal Qur Quran.
Jadi ini yang perlu kita ingatkan pada
diri pribadi dan juga kepada
pondok-pondok tahfiz ya. Sekarang lagi
alhamdulillah di tanah air lagi semerbak
atau lagi viral atau lagi booming
orang-orang suka hafal Quran itu suatu
keindahan suatu perubahan yang luar
biasa yang dulu tidak kita temukan. Tapi
jangan lupa baca Al-Qur'an itu hanyalah
sarana. Yang lebih penting adalah
memahaminya dan mengamal mengamalkannya.
Kalau khawatir kalau hanya sekedar
hafal-hafal, akhirnya bangga-banggaan.
Anak saya sudah berapa juz? Anak saya
sudah berapa juz.
Tib. Hafal Quran sunah tapi mengamal
Quran kewajiban.
Hafal Quran sunah, mengamal Quran apa?
Kewa kewajiban. Yang saya fokus pada
yang sunah kemudian
yang wajib tidak di dikerjakan. Nah, ini
hati-hati kita punya anak jangan jangan
terlalu ah sudah berapa juz, sudah
berapa juz, sudah berapa juz. Oke,
bagus. Tapi itu bukan yang paling utama.
Yang paling utama adalah dia mengamalkan
isi Al-Qur'an. Dia pahami. Paham enggak
apa yang gua baca?
Kalau enggak dia paham, ya suruh belajar
untuk memahami. Mungkin tidak seluruh
Al-Qur'an, tapi paling tidak ayat-ayat
penting yang terkait dengan ibadah,
terkait dengan akidah, terkait dengan
akhlak, dia memahami.
Maka seandainya
ee pondok-pondok tahfiz tidak hanya
fokus pada tahfiz, tapi ada kurikulum
yang terkait dengan isi global
Al-Qur'an, mengambil beberapa ayat-ayat
atau perwakilan dari Al-Qur'an,
ayat-ayat untuk dipahami sehingga bisa
diamalkan oleh para penuntut ilmu.
Sehingga akhirnya ketika dihafal Quran
terlihat
pada perilakunya keseharian.
Kita dapati sebagian orang hafal Quran
tambah sombong, tambah angkuh. Melihat
orang meremehkan.
Ini nampak sekali.
Melihat orang hafal Quran dia maunya
dihormati berlebihan. Subhanallah.
Apalagi kalau dia cuma sendiri yang
hafal Quran. Kelihatan ya. Ini kenapa?
Karena pendidikan yang diberikan kepada
dia hanya sekedar menghafal. Kalau para
salaf dahulu mereka hafal 10 ayat. Para
sahabat dulu hafal 10 ayat, mereka
mengerti maknanya dan mereka amalkan.
Kemudian mereka tambah lagi 10 ayat.
Mereka tambah lagi 10 10 ayat cara
mereka. Ya, sekarang mungkin kita metode
berbeda. Kita tidak bisa seperti para
salaf dahulu. Tetapi paling tidak kita
ajarkan kepada murid-murid tentang
kandungan Al-Qur'an dan praktik nyatanya
dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga
ketika seorang hafal Quran bukan sekedar
hafal tapi nampak
bagaimana efek dari Al-Qur'an tersebut
dalam kehidupannya sehari-hari.
Nah, karena sebagian orang fokusnya
tajwidnya gimana, hafalannya berapa. Kan
sudah berapa juz. berapa juz? Kalau gak
anaknya enggak capai target, maka
diomelin, merasa rendah, merasa anaknya
ee hina-dina, ya apalagi dia
banding-bandingkan dengan anak orang
lain. Itu yang penting seorang baca
hafal Quran sunah tapi mengamalkannya
hukumnya wa wajib. Ya,
akhirnya kadang-kadang timbul kasus
macam-macam.
Kasus di pondok tahfidlah, kasus inilah
ya. Kenapa? Karena tidak ada hanya
sekedar hafal doang.
Maka kurikulumnya harus ditambah.
Menghafal bagus, tapi perlu ditambah
kurikulum ee tadabur sebagian isi
Al-Qur'an dan praktik keseharian
terhadap isi Al-Qur'an.
Makanya di sini Rasulullah mengatakan
inna atau dalam riwayat ini ya min
ikrami min ijlalillah ikrabaih
almuslim waamilil quran dan memuliakan
pembawa al-qur penghafal alquran girir
goli fi w jafi anhu tidak berlebihan dan
tidak kurang jadi di sini Rasulullah
menyebutkan penghafal Quran ada tiga
model ada yang berlebihan ada yang
kurang ada yang wasat yang tengah yang
dipuji adalah yang tengah yang tidak
berlebihan dan tidak kurang. Apa yang
dimaksud berlebihan? Berlebihan dalam
Al-Qur'an itu dia sebutkan itu
berlebihan dalam ee apa namanya?
Sampai berusaha memahami ayat-ayat
mutasyabihat yang kita dilarang tidak
boleh melampaui batas kita dalam ya. Ada
ayat-ayat sifat kemudian dibahas tentang
bagaimana bagaimananya. Tentu tidak
boleh. Ya, sifat Allah yang tahu
hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Ya,
kita beriman tapi kita enggak tahu
bagaimana. Yang tahu hanyalah Allah
Subhanahu wa taala. Ya.
Ya, intinya tidak boleh ber ee
berlebihan. Mungkin juga wallahuam
berlebihan dalam tajwid sampai
menyusahkan orang. Orang kalau baca
sampai berlebihan, sampai
baca al-Fatihah saja sampai seminggu
enggak bisa-bisa, sampai sebulan enggak
bisa-bisa. Ini maksudnya
akhirnya Al-Qur'an bukan walaqad
yasarnal Quran lidzikr. Al-Qur'an jadi
Allah mengatakan sungguh kami telah
memudahkan Al-Qur'an malah menjadi su
sulit. Sebagian orang akhirnya enggak
mau belajar karena terlalu sulit. Ya.
Ya. Ajar aja yang biasa nanti kalau ada
yang mungkin yang mahir ajarkan lebih
lagi. Al-Qur'an tidak sesulit yang
dibayangkan. Tidak sulit yang
dibayangkan. Saya dulu pernah nyetor
sama orang Al-Fatihah.
Setor lagi enggak bisa. sudah ngantri
lama kemudian ternyata susah
disalah-salahin harus sekian-sekian lama
enggak saya enggak enggak mau saya setor
sama syekh yang lain yang tidak seperti
itu. Alhamdulillah bisa setoran ya
memang saya bukan ahli baca Quran, tapi
maksudnya saya setoran sama yang yang
menurut saya masuk akal saya bisa
belajar ya saya bisa setoran hafalan ya.
Adapun yang susah-susah
sampai harus ya akhirnya kan terjadi
perselisihan juga di antara ahli tajwid.
Sebagian terlalu tahkik sehingga qof-nya
sampai qof sampai berlebihan ya. Ya.
Sampai ditegur juga sama yang ahli itu
ditegur. Saya sempat dengar sebagian
ahli Quran bilang, "Kau baca terlalu
berlebihan."
Ya, Al-Qur'an itu kan seperti orang
bicara, orang Arab bicara tapi ee di di
ditartilkan ya.
Ya, ditartilkan.
Adapun berlebih-lebihan
sampai miuk ter mi biasa aja ter
berlebihan ya jangan berlebihan ya
sehingga susah kalau terlalu susah baca
Quran capek ini apa namanya rahang ini
capek apakah seperti itu para ulama dulu
baca Al-Qur'an ya sehingga ada sebagian
ulama mengatakan itu mungkin gurumu
waktu ngajar kamu dia pengin kau serius
tetapi ketika praktik tidak usah
berlebihan seperti itu ya karena terlalu
ber berlebihan ya. Sehingga kita dengar
pun tidak enak. Ca kita dengar imam-imam
haram santai ya enggak s baca enak
lancar mereka bisa berdiri lama baca
kita dengar pun enak. Tapi kita dengar
sebagian orang uh tajwidnya terlalu apa
terlalu mendalam sehingga ini saya rasa
berlebihan ya. Akhirnya ketika dia
ngajar juga merepotin orang, orang
akhirnya susah juga.
Intinya jangan berlebihan dan juga
jangan kekurangan yaitu baca asal baca,
tidak mentajwidkan apa yang dibaca ya
dan juga jarang murajaah ya ini juga
adalah sikap yang kurang kurang tepat
ya.
Ada yang menafsirkan
algha fi berlebih-lebi Al-Qur'an
yaitu hualladzi waqila Ya.
Hualladzi yaakulu fil Quran biryin mini
nafsihi. Yaitu yang berbicara tentang
Al-Qur'an dengan pendapatnya ya, tanpa
dalil, tanpa memperhatikan tafsiran para
salaf ya.
ini menafsirkan dengan apa namanya ee
menafsirkan Al-Qur'an dengan
pendapatnya.
Ada yang mengatakan yang dimaksud dengan
berlebih-lebih dalam Al-Qur'an
yaitu berlebih-lebihan dalam ee ibadah
ya. Karena kita diperintahkan untuk
tengah dalam segala urusan di antaranya
dalam urusan ibadah.
Tib kita lanjutkan.
Dan perkara yang tengah itulah yang
diperintahkan oleh Allah dalam segala
urusan. Sebisa mungkin kita bersikap
tengah. Terlalu banyak ayat yang
menunjukkan sikap tengah. adalah sikap
yang yang terbaik. Seperti firman Allah
Subhanahu wa taala, "Wadika jaalnakum
umatan was." Demikianlah kami jadikan
kalian sebagai umat yang tengah. Contoh
lagi dalam berinfak atau belanja dalam
konsumtif. Kata Allah, "Walladina anfaqu
lam yusrifu yaqturu wana baina qama."
Ciri-ciri penghuni surga adalah
orang-orang yang jika mereka berinfak
atau belanja tidak berlebih-lebihan dan
juga tidak pelit. Tapi di antara
keduanya jangan berlebihan yang juga
pelit.
Allah juga berfirman.
Jangan kau jadikan tanganmu terbelenggu
di lehermu itu pelit. Dan jangan juga
kau bentangkan sebentang-bentangnya maka
kau akan duduk dalam kondisi menyesal.
Ya itu maksudnya uang habis ya karena
terlalu boros tengah-tengah ya. Kemudian
juga dalam berbicara, dalam berjalan
kata Allah, "Waqsid fi masjid w
minutik." Kalau berjalan biasa aja,
jangan terlalu loyo, jangan juga terlalu
sombong. Biasa-biasa jalan berjasa saja
ya. Wit masjid, yaitu tengah-tengahlah
dalam berjalan. Wutik, suara dikecilkan,
jangan besar-besar ya.
Maka ini menunjukkan bahwasanya sikap
dituntut dalam segala hal. Dalam masalah
ibadah dituntut, dalam Al-Qur'an juga di
dituntut ya.
Kemudian di antara orang yang di kita
perintahkan untuk ee memuliakannya
adalah Sultan Al-Muqsit, yaitu ee
seorang penguasa yang adil. Ya, Ikrami
Sultani almuqsid. Ya, memuliakan orang
yang memiliki kekuasaan yang dia adil.
Kalau dia adil, maka kita muliakan. Dia
telah berjuang untuk menjadi penguasa
yang adil tidak mudah. Karena banyak hal
yang menggoda dia untuk dia tidak adil.
Ya, misalnya dia untuk menyenangkan
dirinya, menyenangkan keluarganya, ya
menyenangkan nepotisme bisa jadi ya.
Tetapi ketika dia adil ya, menegakkan
hukum dengan baik, maka orang ini wajib
untuk dimuliakan.
Bab kemudian al Imam Bukhari bawakan
hadis yang lain. Beliau berkata qa
hadasana Muhammad bin Salam qala
akhbarana Jarir an Muhammad bin Ishaq an
Amr bin Syuaib an abihi an Abdillah bin
Amr bin As Q Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam. Ru alaii wasallam
bersabda, "Laisa minna man lam yarham
shirana wauwaqir kabirana." Bukan dari
golongan kami orang yang tidak sayang
kepada yang muda yang lebih kecil dan
tidak menghormati yang tua. Ini apa
namanya? Ee
menguatkan bab yang sedang kita bahas
yaitu bab tentang memuliakan orang yang
tua. Ya, tentunya semakin tua semakin
kita hormati. Semakin rambutnya putih
semua semakin kita hormati. Ya.
Tib. Kemudian Imam Bukhari membawakan
bab berikutnya terkait dengan bentuk
salah satu praktik atau aplikasi dari
menghormati yang tua. Yaitu kalau ada
orang tua biarkan dia yang bicara
terlebih dahulu ya. Karena waktu
berbicara mereka tidak banyak lagi.
Sudah mereka lebih berpengalaman, mereka
lebih ngerti, mereka lebih ya intinya
karena mereka tua kita disuruh hormati.
bisa hormati. Jadi kalau ada berbicara
dan memang dia tua maka dia lebih utama
untuk berbicara daripada yang yang muda
ya. Meskipun terkadang yang muda lebih
punya ilmu hendaknya dia diam kecuali
yang tua mempersilakan. Ya, kalau ada
yang tua ngapain kita yang muda yangcari
muka yang tua biar dia yang berbicara
ya.
Babu yabdaul kabiru bil kalam wasal. Bab
yang tua yang lebih tua yang mulai
berbicara dan yang yang yang bertanya.
Biarkan yang tua berbicara, yang tua
lebih dahulu bertanya.
Lebih dulu berbicara, lebih dulu
bertanya. Al Imam Bukhari bawahkan
hadis. Beliau berkata, "Qal hadasana
Sufyan bin Harf, qal hadasana Muhammad
bin Zaid, an Yahya bin Said, an Busyir
bin Yasar, Maulal Anshar, an Rafi bin
Khudij, Rafi bin Khadij, Sahal bin Abi
Hasmah,
Annahuma haddasa au haddasahu
anna Abdullah bin Sahal wa Muhayisah
ibna Mas'ud ataya Khaibar."
bahwasanya
ee Rafi bin Khadij dan Sahl bin Abi
Hasmah menyampaikan
bahwasanya dua orang namanya Abdullah
bin Sahal, sahabat Abdullah bin Sahal
dan satu namanya Muhaisah. Muhayisah bin
Mas'ud. Abdullah bin Sahal dan Muhayisah
ini pergi menuju Khaibar. Khaibar
tempatnya orang-orang apa? Yahu Yahudi.
Fatafarqo fin nakli. Kemudian mereka
masuk di kebun kurma. Kemudian mereka
terpisah berdua berpisah. Faqutila
Abdullah bin Sahal. Ternyata Abdullah
bin Sahal terbunuh di kebun kurma ya
dan tidak tahu siapa yang bunuh. Faja'a
Abdurrahman bin Sahal wa Huawaisah wa
Muhayisah ibn Mas'ud. Maka datanglah
tiga orang melapor kepada Nabi. Tiga
orang tersebut adalah Abdurrahman bin
Sahal. Saudaranya yang terbunuh. Yang
terbunuh tadi siapa? Abdullah bin Sahal.
Maka saudaranya Abdurrahman datang
ditemani dengan Huwaisah, Huwaisiyah,
Huwaisiyah dan Muhayisah. Muhayisah tadi
teman yang datang bersama Abdullah bin
Sahal. Tapi Abdullah terbunuh.
Huwaisiyah dan Muhayisah atau Huwaisah
dan Muhayisah adalah anak dari Mas'ud.
Ketiga orang ini datang menemui Nabi.
Fatakallamu fi amri shahibihi. Maka
mereka pun menyampaikan kepada Nabi
urusan kawan mereka yang terbunuh yaitu
Abdullah bin Sahal.
Fabada Abdurrahman. Abdurrahman mulai
berbicara wana dan dia yang paling muda
di antara tiga orang ini yang datang
kepada Nabi. Mungkin dia berbicara
karena yang terbunuh saudaranya yaitu
kakaknya atau adiknya maka dia berbicara
duluan. Maka Nabi ingatkan karena ada
tiga orang yang dua lebih tua. Kata
Nabi, "Kabbiril kubr."
liya lial kalam al-akbar. Kata Yahya
maknanya liya lial kalam albar.
hendaknya yang berbicara yang paling
tua.
Ya Rasulullah suruh Rasulullah ajarin
yang tua yang berbicara. Ya Rasulullah
dia masih muda. Kenapa dia yang
berbicara? Maka Rasulullah tegur, suruh
yang paling tua yang berbicara.
Fatakallamu fi amri shahibihim. Maka
mereka laporkan kepada Nabi bahwasanya
tadi ada kawan kita yang datang ke
Khaibar masuk ke kebun kemudian mati
tapi tidak tahu siapa yang bunuh. Yang
jelas di kompleksnya orang Yahudi.
Faq Nabi sallallahu alaihi
wasallamakumakuminkum.
Kalau kalian ingin mendapatkan hak
kawan kalian yang terbunuh yaitu
mendapatkan diat,
maka hendaknya kalian 50 orang bersumpah
bahwasanya si fulan Abdullah bin Sahal
telah dibunuh oleh seseorang di sana.
Ya Rasulullah amrun lamaru. Bagaimana
kami bersumpah? Kami enggak lihat dia
dibunuh. Siapa yang bunuh kami enggak
lihat.
Kalau begitu orang Yahudi bersumpah 50
kali bahwasanya bukan mereka yang bunuh.
Q ya Rasulullah kaumun kuffar.
Ya, bagaimana kami minta mereka sumpah?
Mereka kafir ya Rasulullah. Mereka akan
sumpah-sumpah aja 50 orang.
Rasul washi maka ras akhirnya fidyahnya
sahal
ibilat
mirbadan lahumadahumijilihak
ibil aku pun mengejar apa ada seekor
unta dari unta-unta tersebut aku pun
masuk ke salah satu tempat mirbat mirbat
tempat pengeringan kurma tiba-tiba Tiba
unta tersebut menendangku dengan
kakinya. Ya, Tayib. Hadis ini dikenal
dengan nama ee atau hukum terkait
disebut dengan al-qasamah. Al-Qasamah
itu ada seorang terbunuh
tapi tidak diketahui siapa yang bunuh.
Maka gak mungkin orang ini di mati
begitu saja tanpa ee tanpa ada
pertanggungjawaban.
Maka ketika tidak diketahui siapa yang
membunuhnya, tetapi diketahui sebelumnya
ada permasalahan dengan seseorang di
kompleks tersebut.
Misalnya dia datang ke satu kompleks,
dia tahu di situ ada musuh dia pernah
bertengkar sebelumnya, pernah ribut
sebelumnya, sering gontong-gontongan,
tahu-tahu dia mati. Maka Auliya
Al-Maktul, seluruh keluarga wali-walinya
yang terbunuh menduga yang bunuh si
fulan, si fulan dari kompleks tersebut.
Kenapa kau kalian menduga dia dibunuh
oleh si fulan? Karena sebelumnya si
fulan sama dia ribut. Ribut di mana?
Berkelai di mana. Kemungkinan besar dia
yang bunuh atau gengnya yang bunuh. Ya,
kalian melihat tidak. Tapi kalian yakin
dia yang bunuh. Kami yakin. Ya, kalau
gitu sumpah 50 orang di antara kalian
bahwasanya yang si bunuh si fulan. Kalau
kalian berani bersumpah maka kalian
berhak minta dia dari mereka.
Itu tetapi tidak boleh qisas. Karena
qisas harus terlihat jelas si fulan
bunuh si fulan. Ini sekarang yang bunuh
tidak ketahuan kan. Kalau si fulan bunuh
si fulan, asal terbukti secara nyata,
maka dia juga dikisos
karena dia bunuh dengan senga sengaja.
Nah, kalau ternyata yang bunuh tidak
ketahuan, tetapi diduga dengan dugaan
kuat dengan syarat sebelumnya sudah
terjadi permusuhan berat antara yang
terbunuh dengan membunuh, maka wali-wali
yang terbunuh boleh menuduh yang
membunuh adalah si fulan dengan
ee indikasi-indikasi yang ada. Ya, tapi
syaratnya kata Nabi harus sumpah 50
orang. Berani sumpah demi Allah yang
bunuh si fulan. Kalau berani sumpah 50
orang maka dikasih dia.
Kalau mereka bilang, "Kami enggak
berani, ya sudah enggak berani enggak
bisa nuntut diat dari mereka." Ya, diet
berapa? 100 ekor unta. Diet 100 ekor
unta. Akhirnya Nabi minta kepada mereka,
"Ya sudah, kalian lihat enggak?" "Enggak
lihat." Ya sudah, kalau gitu kalian
sumpah 50 orang. Kami bersumpah demi
Allah bahwasanya si fulan telah dibunuh
oleh si fulan, musuhnya. Kata mereka,
"Bagaimana kami mau sumpah? Kami gak
lihat."
Ya, kalau enggak sumbah enggak bisa.
Enggak dapat diat. Ya,
kalau Yahudi kemudian bersumpah 50 kali,
dia mereka juga bebas. Ya sudah, jangan
tuduh kami. Kami bersumpah bahwa bukan
orang kami yang bunuh orang kalian.
Yahudi sumpah 50 kali. Apa kata para
sahabat? Yahudi apa yang diharapkan
sumpahnya? Mereka orang kafir, sumpah
seenaknya aja. Gimana mau kita percaya?
Akhirnya Rasulullah yang bayar diahnya.
Rasulullah yang bayar diah dari sisi
dari itu baitul mal memberikan diah
kepada ee wali-wali Abdullah bin Sahl
yang terbunuh. Ya, ini namanya Qosamah.
Yaitu di mana sumpah dibagi kepada 50
orang.
Ini aturan dalam syariat ya.
Tapi di sini yang jadi perhatian kita
adalah
ee ketika tiga orang datang kepada Nabi,
yaitu Abdurrahman bin Sahal, kemudian
Huwaisiyah bin Mas'ud dan Muhayisah bin
Mas'ud. Maka ketika Abdurrahman mulai
berbicara, Rasulullah tegur. Kata Rasul
sahu alaihi wasallam, "Kabirul kabbiril
kubr." Biarkan yang paling tua yang
berbicara. Maka adab kalau kita lagi
ramai-ramai yang biarkan yang tua yang
berbicara
dan jangan yang muda berbicara ya kurang
sopan. Dan ini menunjukkan Islam
menghargai sopan sopan santun. Dan di
antara sopan santun yang sangat
dijunjung adalah menghargai yang lebih
lebih tua ya lebih tua ya
kesopanan.
dan dia mengatakan ee di akhir ee
riwayat ya
ee sang perawi Sahal dia berkata ya
ee tentang bagaimana dia ditendang oleh
seekor unta di kakinya menunjukkan
bahwasanya kejadian tersebut dia ingat
persis
bagaimana kejadiannya terbunuh. Kemudian
mereka datang datang kepada Nabi meminta
fatwa sampai di akhir kisah kakinya
ditendang oleh unta. Menunjukkan
bahwasanya dia benar-benar ngerti kisah
tersebut. Dia tidak lupa kejadian yang
di luar daripada peristiwa punduhan
tersebut dia pun ingat. Ini sekedar dia
tambahkan untuk menjelaskan saya ingat
betul tentang kejadian tersebut.
Tib.
Bab berikutnya
bab idza lam yatakallamal id lam
yatakallamil kabiru halil asghar an
yatakallam.
Babnya dalam bentuk pertanyaan. Kalau
ada berkumpul yang tua sama yang kecil
kemudian yang tua enggak ada yang
ngomong apakah yang kecil akhirnya
berbicara? Ditunggu-tunggu yang tua
enggak ngomong-ngomong.
Terus yang kecil ngomong atau tidak? Ini
pertanyaan dari Imam Bukhari.
Jawabannya dalam hadis yang beliau
sampaikan.
Imam Bukhari berkata, "Qdasana Musaddad
qala hadasana Yahya bin Said an
Ubaidillah Q hadani nafi an ibni Umar
qala Rasul wasallam akbiruni bisyajarin
matsaluha matsalul muslim." Rasulullah
pernah kasih teka-teki kepada para
sahabat. Kata Rasul sahu alaihi
wasallam, "Ini hadis diriwayatkan Ibnu
Umar.
Kabarkanlah kepadaku tentang sebuah
pohon yang perumpamaannya seperti
perumpamaan seorang muslimulahain
bidha yang dia memberikan buahnya setiap
saat dengan izin Allah subhanahu wa
taala. La tahutu warquha. Dan bahwasanya
daunnya tidak pernah gugur. Teka-tekinya
demikian. Ada pohon buahnya selalu bisa
dimanfaatkan, daunnya tidak pernah
gugur. Perumpamanya seperti muslim. Jadi
sifat-sifat ciri-ciri pohon tersebut
pertama sifatnya seperti muslim. Buahnya
selalu bisa dimanfaatkan.
Daunnya tidak pernah gugur.
Kata Ibnu Umar, "Fawaqa fi nafsi
anaklah." Terbetik dalam benakku yang
dimaksud oleh Nabi adalah pohon kurma.
Karena pohon kurma seperti itu. Buahnya
bisa dimakan kapan saja. Kalau sudah
berbuah dari mulai yang ee merah balah
kemudian jadi ee menjadi apa namanya
kuning yang menjadi rutab ya kemudian
jadi kurma sudah mulai menghitam dan
kalau sudah jadi hitam dipanen bisa
disimpan sampai bertahun-tahun sehingga
bisa dimakan kapan kapan saja dengan
proses yang mereka lakukan ya berapa
proses untuk membuat kurma tahan lama
mereka ahli tapi kapan saja bisa di
dimakan kemudian di antara ciri kurma
daunnya tidak pernah gugur enggak ada
daun Daun kurma berguguran enggak ada.
Kalau daun jambu banyak ya. Ada enggak
daun kurma berguguran? Enggak ada. Ya
sudah memang bagaimana ya begitu memang
meskipun musim panas, meskipun musim
hujan, meskipun dihantam oleh angin yang
sangat keras, daunnya tidak pernah
berguguran.
Wla basiqat laha. Bahkan kata Allah, dan
pohon kurma yang batangnya menjulang ke
atas. Ya, pohon kurma tidak seperti
pohon kelapa yang miring-miring begini.
Hah, pohon kelapa kan ada yang indah,
miring begini, batangnya tak tahu miring
begini ya di ujungnya ya. Kalau kurma
enggak ada yang miring-miring begini apa
lurus ke atas dan daunnya tidak pernah
gu gugur.
Maka
dan ciri-cirinya seperti muslim. Seorang
muslim bermanfaat dalam segala
perilakunya, perkataannya, tindak
tanduknya, semua bermanfaat bagi dirinya
maupun bagi yang lain. Seperti pohon
kurma, tidak ada satupun bagian dari
pohon kurma kecuali ber bermanfaat dan
selalu memberikan buahnya setiap saat
memberikan keberkahan. Ya. Kemudian kata
Ibnu Umar, menurut saya itu adalah pohon
kurma. Fakarihtu an atakallam watamma
Abu Bakrin wa Umar radhiallahu anhuma.
Tapi saya enggak berani jawab kenapa
ketika itu ada Abu Bakar dan Umar falam
falam yatakallama dan mereka berdua
tidak jawab.
Qalan Nabi sallallahu alaihi wasallam
karena tidak ada yang jawab ayo apa
enggak ada yang jawab akhirnya
Rasulullah jawab sendiri hian nakhlah
itu adalah pohon kurma.
Falamma khjtu maa abi. Tatkala aku
keluar bersama ayahku yaitu Umar bin
Khattab.
Ya abati
ya ayahanda. Tadi waktu Rasulullah nanya
sebenarnya saya tahu dalam hatiku itu
pohon kurma. Umar bertanya
kenapa kau tidak jawab wahai putraku
lahaba.
Seandainya tadi kau jawab lebih aku
sukai daripada ini dan itu. Katanya Umar
senang kalau siapa? Ibnu Umar bisa jawab
ya. senang anaknya berarti cerdas dan
mungkin didoakan oleh Nabi sallallahu
alaihi wasallam ya berarti adanya ngerti
namanya anak seorang ayah bangga dengan
apa anaknya terutama di hadapan Nabi dan
bisa jadi Nabi doakan sang anak apa kata
Ibnu Umar adabnya q ma mana illa lam
aroka wala aba bakrin takalamtuma
faqarihtu saya tidak berani ngomong
karena saya lihat engkau dan Abu Bakar
tidak jawab gimana saya mau jawab
karena mereka orang senior kok tidak
jawab
Tib. Hadis ini tentang teka-teki yang
disampaikan oleh Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Ya,
bahkan dalam sebagian riwayat
utian Nabi Sallah Wasallam bij jumar.
Rasulullah sedang makan jumar. Jumar itu
adalah ee kurma.
Kurma kalau ditebang kemudian di bagian
atasnya dilubangin batangnya. batangnya
dilubangin bagian atas itu dalamnya
berwarna putih dan dia enak dimakan
jumar. Makanya jumar tidak diambil
kecuali kurma sudah mati ya. Kalau sudah
ditebang maka di bagian atas bagian
tempat tumbuh-tumbuh daun itu
dibolongin. Maka setelah kulitnya ada
batangnya dalamnya putih bisa dimakan
namanya jum. Sebagian orang senang
dengan makanan tersebut ya. Seb dalam
hadis ketika kalau tidak salah Usamah
atau siapa dia mengatakan, "Ibuku minta
jumar." Maka aku pun pergi ke ee pohon
kurma, aku tebang, aku ambil jumarnya
sampai aku dicela sama orang. "Kenapa
kau tebang kurma?" "Korma lagi mahal."
Kata dia, "Ibuku lagi pengin makan ini.
Kalau saya mampu saya kasih. Ngapain?
Meskipun mahal, tapi kalau ibu lagi mau,
saya siapkan." Artinya kalau sudah
diambil jumar pohon itu kurma sudah ma
mati. Ya. Nah, disebutkan ee Rasulullah
sedang makan itu jumar dan Rasulullah
kasih teka-teki ada pohon begini begini.
Namun sebagian sahabat mungkin malu
jawab. Dan sebagian sahabat disebut
fadzahabanasu ila syajaril bawadi.
Sebagian yang bilang, "Oh, pohon ini
pohon anu." Mereka pergi ke pohon-pohon
yang ada di ee apa? Kampung-kampung ya.
Karena mereka pikir ini teka-teki susah
ya. Teka-teki susah. Apalagi pohon apa
yang daunnya enggak pernah gugur.
Padahal Nabi sedang makan kor kurma,
makan jumar, jantung kurma ya atau
bagian dalam kurma. Jawaban di depan
mata. Tapi mereka menganggap mungkin
pertanyaan susah sehingga mereka tidak
jawab atau mereka jawab salah-salah.
Ternyata jawabannya adalah pohon ee
pohon kurma. Ya, di sini yang menjadi
perhatian kita dalam sebagian riwayat
ya.
Eh dalam riwayat kata Ibnu Umar, "Faidza
ana asyiru asratin ana ahdatuhum
fasakatu." Saya mau jawab, saya
tengok-tengok ternyata saya mereka 10
orang. Saya adalah orang ke-10 dan saya
yang paling muda daripada yang lain.
Sudah ada yang jawab tapi salah-salah.
Tapi yang masalahnya Abu Bakar dan Umar
belum belum jawab. Ada yang lebih tua
belum jawab.
Maka akhirnya dia memilih, Ibnu Umar
memilih untuk tidak jawab. Ya, dalam
riwayat dia berkata, "Fahabu an
atakallam." Aku segan untuk berbicara.
Dan ini adalah sopan santun yang harus
diperhatikan ya. Kalau ada orang tua,
biar orang tua yang berbicara. Ngapain
kita berbicara?
Tib. Adapun ee
sifat kurma tadi yang Rasulullah
sebutkan titiulaha kulinin bidniha ya
bahwasanya kurma itu ya ee dalam setahun
penuh bisa bisa dimakan ya terkadang
bisa dimakan dalam bentuk rutab seperti
buah sering kalau kita buka puasa
terkadang seperti makanan pokok dalam
bentuk kalau sudah jadi kor kurma tadi
kurma juga bisa diolah sehingga bisa
bertahan bertahun-tahun ya ada alat
kadang mereka masukkan dalam satu alat
kemudian di dipres kemudian dikeluarkan
airnya sehingga menjadi kurma yang lebih
manis dan bisa bertahan lama. Mereka
punya metode-metode metode-metode hingga
menjadikan kurma bisa bertahan bertahan
lama. Tapi kalau dibiarkan rutab rusak,
tapi kalau dibiarkan terus sampai
menjadi kurma, menjadi hitam ah ini bisa
bertahan bertahan lama. Makanya kurma
memberikan buahnya setiap saat. Dan ini
disyarat kepada seorang mukmin karena
Rasulullah menyatakan pohon kurma itu
seperti seorang mukmin. Bahkan dalam
sebagian riwayat eh inna minasyajari
lama barokatuha kabarokatil muslim.
Sesungguhnya ada sebuah pohon yang
keberkahannya seperti keberkahan seorang
muslim. Maka seorang muslim dalam
hidupnya hendaknya berkah. Berkah itu
memberi kebaikan buat dirinya maupun
kepada orang orang lain. Sebagaimana
pohon kurma tidak ada satupun yang
diambil darinya kecuali bermanfaat. Dari
ujung atas kurma sampai ujung bawah
kurma. batangnya bermanfaat, daunnya
bermanfaat, pelepahnya bermanfaat,
bahkan yang yang buat pijakan itu juga
bermanfaat, bahkan bijinya bermanfaat.
Tidak ada dari kurma yang terbuang.
Apalagi kalau kita bicara 100 tahun lalu
di mana kehidupan masih sederhana di
daerah Jazirah Arab, maka pohon kurma
itu adalah ee pohon yang sangat berkah.
Ya, demikian juga orang yang punya pohon
kurma tidak akan kelaparan. tidak akan
kelaparan karena dia punya makanan
sepanjang sepanjang tahun. Benar dia
berbuah setahun sekali tetapi bisa
dimanfaatkan buah tersebut sampai
bertahun-tahun. Ya. Ya.
Biji kurma bagaimana caranya? Biji kurma
diambil dibasahin kemudian ditumbuk
jadikan makanan buat unta. Jadikan makan
buat unta. Dulu biji kurma ditumbuk
kemudian dimakan buat dan ini mengandung
gizi yang tinggi. Sekarang ada yang
bikin ide bikin kopi biji kurma.
Saya belum pernah coba ya. Tapi saya
pernah dikasih kopi biji kurma.
Dikeringkan, disangrai, di apa, enggak
tahu. Jadi enggak tahu ini ide bagus
atau ide buruk. Saya wallahualam ya.
Tapi intinya sekarang sudah ada kopi,
biji kor kurma. Ada dibuat kemasan.
Silakan dicoba ya.
Kalau unta kan bijinya, ini kan kopinya
beda.
Tapi intinya tidak ada bagian kurma yang
terbuang. Nah, seharusnya seorang mukmin
demikian ya
kata Rasulullah, tidak ada yang datang
dari pohon kurma illa nafa kecuali
bermanfaat bagimu. Maka seorang mukmin
di mana pun dia berada dia beri manfaat
kepada dirinya atau kepada orang-orang
lain. Kalau dia sendirian dia baca
Quran, berzikir, belajar yang
bermanfaat, mendengar yang bermanfaat.
Kalau sama orang menyenangkan istrinya,
menyenangkan anaknya, menyenangkan orang
tuanya, menyenangkan tetangganya, tidak
ada pun di mana pun dia berada kecuali
memberi manfaat kepada orang di
sekitarnya. Berusahalah jadi seorang
muslim yang berkah,
yaitu memberi manfaat kepada orangor
lain. Seperti Nabi Isa alaihi salam, dia
berkata, "Waja'al mubarokan ainama
kuntu." Allah menjadikan aku berkah di
mana pun aku berada. Ditafsirkan yaitu
muallimanil khair atau nafaan eh qadaan
lihawaijinas. Yaitu suka mengajarkan
kebaikan. atau membantu orang orang
lain. Jangan kita diam ee apa namanya?
Ngelamun ya. Jangan. Siapa depan kita,
kita berusaha
memberi manfaat kepada orang depan kita.
Sebisa mungkin ya.
Makanya ketika Rasulullah mengambil
baiat dari Jarir bin Abdillah ya
Rasulullah mengambil di antara baiatnya
selain syahadatain. Kata Rasulull
sallallahu alaihi wasallam, "Wann nush
likulli muslim."
agar engkau menjadi nasih bagi setiap
muslim yang kau temui. Nasih itu
maksudnya bagaimana bersikap yang
terbaik bagi orang di depannya. Bagi
setiap muslim. Kau ketemu siapa saja
berusaha menjadi terbaik bagi setiap
muslim. Ketemu orang tua, ketemu anak
kecil, ketemu kerabat, ketemu orang
jauh, ketemu pedagang, ketemu siapapun.
Kalau kau bisa menjadi terbaik baginya,
lakukan. Dan ini Rasulullah tidak ambil
baiat ini kepada sahabat lain.
Disebutkan Rasulullah ambil baiat ini
dari Jarir bin Abdillah. Ada yang
mengatakan, "Kenapa?" Karena Jarir bin
Abdillah akan balik ke kabilah ee
Bujailah dan dia akan berdakwah. Maka
Rasul sahu alaihi wasallam ingin seorang
dai sifatnya seperti itu. Di mana pun
dia berada berusaha memberi manfaat
kepada orang orang lain. Maka Rasulullah
ambil baiat dari dari dia
sehingga di mana pun dia berada dia ber.
Nah, kita pun demikian berusaha meskipun
tidak sempurna. Kita lagi sama siapa
saja berusaha beri manfaat sama dia.
Pikir apa yang saya bisa manfaat kasih
manfaat buat dia. Sama pembantu pikir
apa yang bisa kasih kebaikan sama dia.
Sama pegawai apa yang saya bisa berikan
kebaikan bagi dia. Bukan cuma berpikir
apa yang bisa saya keruk dari dia, apa
yang bisa saya ambil dari dia, apa yang
bisa saya manfaat dari dia. Kalau enggak
bermanfaat pisah gak. Sekarang kita
harus berpikir apa yang bisa saya
berikan sama orang lain demi akhirat
kita. Demi akhirat kita. Sehingga
jadilah kita berkah di mana pun kita
berada. Orang yang paling utama
merasakan keberkahan kita, orang
terdekat. Istri dan anak-anak kalau
orang terdekat kita merasakan berkah
dari kita, mereka akan nyaman dengan
kita dan selalu merindukan kehadiran
kehadiran kita. Makanya kalau anak-anak
suka telepon kita, istri suka telepon
kita, berarti mereka merasakan manfaat
keberadaan kita di sisi mereka. Tapi
kalau istri sudah malas telepon kita,
kita telepon dia pun tidak angkat,
ini berarti bermasalah ya. Anak-anak pun
malas telepon kita. Kita telepon anak,
"Abi ini ganggu aja lagi main." Dia
sudah malas juga dapat telepon dari
abinya. Ini ada masalah. Mungkin kita
bermasalah, mungkin mereka yang
bermasalah. Khawatir kita yang
bermasalah. Ternyata keberadaan kita
tidak menyenangkan mereka, tapi justru
mengusik kebahagiaan mereka. Mana?
Abinya ngomel melulu, abinya selalu
kalau ketemu hafalanmu sampai mana?
Hafalmu sampai mana? Enggak pernah nanya
lain. Hafalanmu sampai mana?
Namanya anak-anak juga pengin bercanda.
enggak ditanya pelajaran terus ya.
Intinya kita berusaha di mana pun kita
berada, kita bermanfaat
seperti kurma yang bermanfaat di mana
pun dia berada. Kemudian juga di antara
ciri kurma la yatahattu waraquha.
Seorang mukmin berusaha tegar seperti
kurma. Rasulullah sebutkan daunnya tidak
pernah gugur. Dihantam oleh angin,
ditimpa dengan panas matahari ya daunnya
tidak tidak gugur. Seorang mukmin
harusnya kuat karena namanya terpaan
musibah ya angin cobaan akan terus
menimpanya, akan menerpanya, tidak akan
berhenti. Selama dia hidup dia akan
ditimpa dengan berbagai macam cobaan dan
musibah. Maka harusnya ditegar. Bahkan
semakin iman seorang semakin tinggi maka
angin terpaan musibah akan semakin
banyak. angin ujian akan semakin
berhembus dan ini sudah konsekuensi dari
orang yang beriman maka harus dia tegar.
Daunnya tidak boleh ja jatuh. Dia tegar
ingat kurma ya. Bertegar dengan
pertolongan Allah Subhanahu wa taala ya.
Ya jangan sampai bunuh diri maksudnya
sedih sedikit kemudian apa? bunuh diri,
gugur, jatuh, ya seakan-akan sudah tidak
ada solusi. Putus asa kepada Allah,
suudon kepada Allah, ini gugur dia.
Gugur dia.
Tapi kalau dia dekat kepada Allah, dia
ibadah, dia akan husnuzan kepada Allah.
Dia tegar apapun yang terjadi.
Tib. Ee hadis berikutnya
bab Taswidil Akabir. Bab yaitu
menjadikan
pemimpin dari kalangan orang-orang ee
tua. Ya,
maksudnya kalau kita punya anak misalnya
ee ada yang besar, ada yang kecil, kita
yang tua yang suruh ngurus, kamu yang
ngurus. Ya. Dan itu manfaatnya banyak.
dia merasa bertanggung jawab,
adik-adiknya pun hormat sama dia. Ya,
orang lain pun lihat benar ini benar,
kakaknya yang jadi bertanggung jawab,
yang diserahkan kepemimpinan. Ya, tapi
kalau seandainya serahkan kepada anak
kecil, akhirnya yang lain enggak nurut.
Ah, kamu perintah-perintah saya. Saya
yang dulu cebok kamu, sekarang
perintah-perintah saya. Misalnya jadi
enggak hormat. Kemudian orang yang lihat
juga kok ini gimana sih bapaknya kok
anak adiknya yang suruh jadi apa?
ngurusin. Jadi enggak enak juga bagi
pandangan orang dan juga tidak etis.
Maka kalau bisa yang besar jadi pemimpin
itu yang terbaik. Kecuali kalau memang
ada halangan atau ada maslahat tertentu
yang menjadikan kepemimpinan dipindahkan
dari yang besar kepada yang lebih lebih
kecil. Misalnya orang kakaknya ternyata
fasik, tukang maksiat, tidak bisa
memegang amanah, ya itu baru dipindahkan
kepada yang yang lain. Tapi selama
kakaknya mampu, bisa meskipun tidak
sesempurna adiknya misalnya, maka dia
yang jadi memegang segala ee
pertanggungjawaban kalau bisa. Seya akan
hormat sama dia. Karena ini kakak
tib kita bacakan hadisnya. Al Imam
Bukhari berkata q hadana Amr bin Marzuq
qala hadasana Sybah an Qatadah samu
mutifan an Hakim bin Qais bin Asim.
Anna abahu aa mautihi banihi. Ini kisah
dari hakim. Dia cerita tentang bapaknya
yang bernama Qais bin Asim
ketika mau meninggal dia wasiat kepada
anak-anaknya. Ini di antara kebiasaan
para salaf sebelum meninggal berwasiat
kepada anak-anaknya agar diperhatikan
oleh anak-anaknya agar anaknya tidak
salah melangkah setelah bapaknya
meninggal meninggal dunia. Maka kalau
kita punya wasiat pada anak-anak
misalnya sudah tua, kita sudah mau
meninggal atau kita merasa hidup kita
tidak lama lagi, maka bikin wasiat
supaya dipegang oleh anak-anak agar di
bisa dijalankan dengan baik. Karena
anak-anak butuh butuh arahan. Butuh
arahan.
Di antara wasiatnya beliau berkata,
"Ittaqulah." Ya, Qais bin Asim berkata,
"Ittaqulah." Wahai anak-anakku,
bertakwalah kepada Allah. Wasiat yang
terbaik adalah takwa.
Waswidu akbarakum. dan jadikanlah di
antara anak yang paling besar di antara
kalian jadi pemimpin di antara kalian.
Kemudian disebutkan, dijelaskan,
"Fainnal kauma id sawadu akbarahum
khalafu abahum." Ya. Ya. Maka jika suatu
kaum ee menjadikan yang paling besar
ee menjadi pemimpin, maka ee mereka
akan seperti mensikapi seperti bapaknya.
yaitu bahwasanya ee mereka telah
bersikap seperti ee orang ayah mereka,
seperti ayah ayah mereka ya. Makanya
yang paling tua adalah yang ee
besar. Kalau kalau besar dia bisa
bersikap seperti apa? Bapaknya namanya
paling tua seb ini pengganti bapak
sehingga yang lain akan nu nurut. Tapi
kalau yang jadi pemimpin anak kecil atau
adik paling bungsu mungkin
tidak seperti ayah mereka, tidak
dianggap seperti ayah ayah mereka.
Wa sawadu asgarahum azra bihim dalika fi
akifaiim atau fi akfaiihim.
Adapun kalau ternyata yang kecil ya
dijadikan pemimpin maka mereka akan
dicela ya dan mereka akan direndahkan
gara-gara hal tersebut. Jadilah mereka
bahan hinaan.
Ya, jadilah akfauhum yaitu orang-orang
yang setara dengan mereka akan mencela
mereka dan ini menimbulkan permusuhan di
antara mereka. Makudnya kalau keluarga
ini adik-adik kecil jadi pemimpin, maka
yang lain akan mencela itu gimana sih?
Ah, kalian apa? Masa yang jadi pimpin
kalian adik adik kalian. Kalian ini
goblok-goblok masa bahlul-bahlul adik
yang jadi pemimpin. Jadi bahan hinaan
oleh tetangga mereka, oleh teman-teman
mereka, oleh sejawat-sejawat mereka. Ya,
maka jangan, jangan jadikan adik kecil
yang menjadi pemimpin, tapi yang paling
besar di antara kalian karena sebabnya
demikian. Jadi di sini Qais bin ee Asim
menjelaskan sebab-sebab jangan sampai
anak kecil yang jadi pemimpin. Wa
alaikum bil maal wastinaiihi. Hendaknya
kalian perhatian sama harta dan cara
mencari harta.
Ya.
Jadi kalau cari harta ya ee berusaha ee
berjuanglah untuk mencari harta karena
harta penting ya dan ikhtiar untuk
mencari harta dengan cara-cara yaitu
wastinaihi itu cara-cara untuk mencari
harta.
Kenapa demikian? Fainnahu munabbihatun
lil karim. ya.
Karena ee
kalau orang asalnya dia baik kemudian
dia punya dia punya harta, maka dia akan
menjadi orang yang dimuliakan ya karena
dia bisa menggunakan harta tersebut
dengan baik ya. Orang-orang pun tahu
ternyata dia adalah orang yang mulia ya.
Karena kalau orang mulia punya harta,
harta itu akan dimanfaatkan dengan baik
dan akan mengingatkan kepada orang lain,
ya mengingatkan dirinya dan mengingatkan
orang lain bahwasanya dia adalah orang
yang mulia.
Waustaqna bihi anil laim.
Dan dengan harta dia tidak butuh kepada
orang yang suka mencela. Kalau enggak
punya harta akhirnya apa? Pinjam sama
orang, pergi kepada orang. Dan kalau
sudah pergi sama orang pinjam uang,
terkadang jadi bahan cercaan, bahan
hinaan. Apa itu pinjam-injam uang? Dasar
gak bisa cari duit. Ini keluarga kayak
apa? Keluarga bodoh. Ya, maka jangan
kita harus jaga harga diri keluarga. Di
antara cara untuk jaga diri harga
keluarga, cari uang yang benar
sehingga tidak butuh kepada yang lain.
Ya,
karena kalau kita butuh sama orang, kita
jadi bahinan. Kemudian dia berkata, "Wa
iyakum wa musaalatanas."
Waspadalah. Jangan minta-minta sama
orang.
Fa innaha min akhiri kasbir rajul.
Terakhir kalau sudah enggak bisa
semuanya gak bisa cari duit baru pikir
itu. Jangan pertama sekali pikir cari
minta uang sama orang. Jangan. Jangan
pikir minta uang sama sama ponakan pasuh
sama om. Enggak. Pertama pikir kita cari
uang sendiri. Itu yang kita pikirkan.
Kalau sudah tertutup semua jalan baru
mikir minta bantuan sama orang. Makanya
alaikum bil maal wastinaihi. cari harta
yang benar dan ee berusaha untuk ee
berusaha ee apa namanya? Tidak minta
sama orang. Makanya Allah Rasulullah
bersabda, "Waman yastagni yugnihillah."
Siapa yang berusaha untuk mencukupkan
diri, Allah akan buat dia cukup. Yaitu
jangan kita ajar anak kita sejak kini
mikir, "Nanti tenang, nanti minta
bantuan sama om. Kalau Abi mati minta
sama teman Abi. Jangan. Kita ajarin cari
duit sendiri. Kalau Abi mati, kau cari
uang sendiri. Jangan sampai bergantung
kepada orang lain. Jangan memalukan
diri. Keluargaan malu minta sama orang
kamu jadi bahan hinakan. Jadi dihina
oleh orang, direndahkan orang. Jangan
cari uang sendiri. Terakhir kalau sudah
buntut semua baru teman teman Abi.
Jangan kawar teman Abi baik.
Ada kawan kemarin cerita, "Saya kenal
juga meninggal dunia kena COVID.
Malamnya dia sudah merasa bakalan
meninggal. Kemudian dia WA sama teman
saya, tolong perhatikan anak saya,
keluarga saya. Ya,
sepertinya saya mau meninggal. Gitu.
Akhirnya besok dia meninggal. Teman saya
belum belum belum buka WA
sudah meninggal selesai. Sorenya atau
malamnya lah tadi malam dia sudah WA
saya enggak buka WA. Benar. Akhirnya
meninggal diri. Akhirnya anak-anaknya
diperhatikan. Ya. Ya, mungkin anaknya
masih kecil belum bisa disuruh cari apa?
Cari duit. Itu lain cerita. Lain cerita.
J. Kalau ana sudah besar, sudah ngerti,
suruh dia berusaha semaksimal mungkin.
Kemudian dia beliau berkata, "Waidu fala
tanuhu, kalau saya meninggal dunia
janganlah kalian niaha yaitu meratapi."
Fainnahu lam yunha ala rasulillah
sallallahu alaihi wasallam. Karena
ketika Rasul sahu alaihi wasallam
meninggal dunia maka tidak ada yang
niahah kepada Nabi. Yaitu teriak
ratapan. Ya Rasulullah, engkaulah
engkaulah ya. Kenapa kau tinggalkan
kami? Enggak ada sahabat, enggak ada
yang begitu. Karena mereka tahu Nabi
tidak suka. Seandainya niaha meratapi
itu baik, tentu yang paling utama untuk
diratapi adalah Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam. Tapi Rasulullah tidak
diratapi ketika beliau meninggal dunia.
Ini wasiat terkait dengan
bagaimana kita disikapi setelah kita
meninggal dunia. Ini penting ya. Karena
kita tahu dalam suatu hadis kata Rasul
sahu alaihi wasallam, "Innal mayitabu
bibuk ahli alaih." Sesungguhnya mayat
disiksa gara-gara tangisan keluarganya
atas dia. Para ulama menafsirkan hadis
ini. Maksudnya mayat ditambah siksaan
kalau keluarganya menangisinya. Kalau
dia mewasiatkan kepada keluarganya,
"Kalau saya mati tolong tangisin."
Berarti dia menyuruh keluarganya untuk
maksiat. Padahal niaha dosa besar.
Sehingga kalau keluarganya nangisin dia,
berarti dia dapat dosa, dosa jariah.
Karena dia yang mewasiatkan.
Atau dia tahu anak-anaknya tukang niaha,
tukang meratapi, terus dia tidak
nasihati
sehingga dia tidak melakukan amar makruf
nahi mungkar. Sehingga kalau dia
meninggal anaknya nangis, dia juga kena
kena dosa semakin tambah azabnya. Maka
Rasulullah berkata, "Innalabu
ahli alaih." "Sesungguhnya mayat semakin
disiksa gara-gara ee keluarganya yang
menangisinya."
Dan kita tahu di sebagian kalau dalam
Islam dilarang seperti itu. Mengangkat
suara, "Kemudi apa kau tinggalkan aku?"
"Ya Allah, kenapa kau ambil dia?" "Ya
Allah, dia terlalu baik bagiku ya
Allah." Ini namanya protes sama Allah.
Tapi kalau nangis biasa ya. "Kami sedih
engkau pergi." Biasa itu dalam hal yang
wajar. Tapi kalau menunjukkan
seakan-akan protes, kenapa kau pergi?
Kenapa kau pergi? Ya, ini sudah protes.
Ini niaha angkat suara meratap. Adapun
dalam sebagian agama yang lain, ratapan
itu suatu kebanggaan. Ada yang nangis
senang. Menunjukkan orang ini terhormat
makanya banyak yang nangisin.
Bahkan saya dengar ada sebagian dibayar
untuk tukang menangis.
Saya dengar saya dibayar, Ustaz. Datang
kemudian
nangis ya. drama nangisnya
supaya orang menyangka dia ini adalah
orang yang terhormat sehingga orang
meratapi. Islam enggak kau nangis biasa
tapi gak boleh mera meratapi. Makanya
Qais bin Asim mengatakan kalau memang
ada yang di lihatlah Rasul sahu alaih
wasallam saja tidak diratapi. Kalau
memang ada orang yang mau diratapi yang
paling utama adalah siapa? Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam. Kemudian
beliau berkata di akhirnya, "Waidu
fadfanuni biardin laur bidrun
bin wail failum
fil jahiliyah." Kata dia, "Kalau saya
meninggal dunia,
kuburkan aku di tempat yang jauh yang
tidak diketahui oleh kabilah Bakar bin
Wail."
Ya, Bakar bin itu suatu kabilah, ya.
Kenapa? Agar tidak diketahui oleh
kabilah Bakar bin Wail, dia jelaskan ya
dulu waktu zaman jahiliah saya pernah
nyerang mereka ketika mereka dalam
kondisi lalai saya serang mereka. Ini
kesalahan ada permusuhan antara dia
dengan kabilah Bakar bin Wail. Maka dia
bilang khawatir nanti ada orang bodoh di
antara mereka galik kuburanku kemudian
bikin masalah dengan jasadku. Makanya
kalau kubur saya jauh-jauhkan. Jangan
diketahuan oleh mere mereka. Ini semua
wasiat yang penting-penting harus di
diketahui ya. Karena sebagian orang
tidak bisa balas dendam ketika masih
hidup. dibalas ketika sudah sudah mati.
Maka
pentingnya seorang memberi wasiat kepada
kerabatnya ketika dia akan meninggal
meninggal dunia. Dalam satu hadis kata
rasul sahu al wasallam
muslim lahu
itu di antara yang perkara yang
hendaknya dilakukan seorang muslim kalau
dia punya sesuatu ingin disampaikan ya
yaitu dia tidur ee
kecuali dia apa tulis wasiat di sisinya
ya
seorang menulis wasiat karena kematian
bisa datang kepadanya tiba tiba-tiba.
Yang menjadi perhatian kita di sini
bahwasanya
Qais bin Asim ee
dia mewasiatkan kepada anak-anaknya,
"Kalau saya meninggal dunia atau
jadikanlah orang yang paling tua di
antara kalian jadi pengurus atau
pemimpin." Sehingga ini ajaran
bahwasanya adik-adik hendaknya
menghormati ka kakak. Bahkan kalau kakak
misalnya susah kita harus hormati dia.
Kakak dia, kakak ya harus di dihormati.
Kadang terkadang orang sombong dia sudah
lebih kaya daripada kakaknya. Dia lebih
tinggi kedip daripada kakaknya. Dia
merendahkan kakaknya. Kakaknya enggak
dianggap sama sama sekali. Gak boleh.
Namanya kakak tetap apa, Kak? Kakak
tetap dihormati, didengar perkataannya,
diskusi dengan dia. Ya, bagaimanapun
kakak tetap tetap kakak. Jangan karena
kita lebih alim atau karena kita lebih
kaya sehingga kita meremehkan kakak gak.
Ini ee wasiat Nabi sallallahu alaihi
wasallam untuk menghormati yang lebih tu
lebih tua. Meskipun mungkin kita bantu
dia, meskipun mungkin dia bergantung
kepada kita, tetap namanya kakak kita
hormati.
Ada faedah di sini
ee Al-Ahnaf ee
pernah berkata ya tentang kesabaran,
tentang kebijakan ya. Dia mengata,
"Alamtul Hilm min Qais bin Asim, aku
belajar ilm ya sikap apa? Kesantunan eh
kebijakan ya. kebaikan dari Qais bin
Asim. Qais bin Asim tadi yang kita
bilang dia berwasiat buat anak-anaknya
sebelum meninggal dunia. Kenapa? Karena
Qais bin Asim ini orang terkenal dengan
akhlak yang baik dan dia terkenal dengan
orang yang mulia ya, dermawan ya.
Bagaimana ceritanya dia masuk Islam
padahal waktu di zaman jahiliah dia suka
minum khamar dan akhirnya dia
meninggalkan khamar gara-gara
kelakuannya ketika sedang minum khamar
dia tidak sadar.
Satu hari dia minum khamar
kemudian dia melakukan perbuatan-buatan
buruk ya karena orang minum khamar lupa
diri akalnya hilang ya. Makanya
Rasulullah mengatakan khamar adalah
ummul khabait induk dari segala
perbuatan buruk. Kalau akal sudah
hilang, dia bisa lakukan apa saja.
Mungkin dia bisa macam-macam. Dia bisa
menzinahi mahramnya sendiri. Banyak hal
yang bisa dilakukan karena sedang minum
kh bisa bunuh orang, dia bisa
menceraikan istrinya, dia bisa
macam-macam. Ya.
Suatu hari dia minum khamar,
ee akhirnya dia pukul
belakang putrinya ya.
Di bagian pantat putrinya dia pegang ya.
Dan ini kan memalukan gimana seorang
ayah memegang bagian belakang putrinya
sendiri ya. Kemudian dia buang-buang
hambur-hamburkan hartanya.
Kemudian dia jalan di jalan. Kemudian
dia pengin ambil bulan katanya dia lagi
gila lagi mabuk.
Ketika dia sadar orang-orang bilang,
"Kau tadi pas mabuk begini-begini." Wah
dia malu sekali ya. Padahal dia terkenal
baik orang baik. Kemudian jadi kayak
orang gila ngambil bulan ya kemudian
melakukan bag buang-buang uang. Akhirnya
setelah itu dia berjanji tidak akan
minum khamar khamar lagi. Dialah orang
yang orang yang sangat mulia dan di
antara wasiat dia tadi kita sudah
dengarkan kepada wasiat kepada anaknya.
Wallahuam bawab. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.