Transcript
t8Q-_GIhsDo • Kitab Al-Adab Al-Mufrad #59: Memuliakan Orang Tua - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2604_t8Q-_GIhsDo.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukr lahu ala taufiqihi wamtinanih wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim lnih wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwanumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala kita masuk pada bab yang baru babu ijlalil kabir. Bab tentang memuliakan orang tua. memuliakan orangorang tua. Ee al Imam Bukhari membawakan hadisnya. Beliau berkata rahimahullah. Qala hadasana Bisyr bin Muhammad qala akhbarana Abdullah qala akhbarana auf an Ziyad bin Mikhraq. Qala qala Abu Kinanah anil asy'ari. Q inna min ijalillahi ikr syaibah almuslim waamilil quran ghairal ghali fihi walal jafi anhu wa ikromi sulanil muqsit. Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah, di antara konsekuensi dari mengagungkan Allah adalah memuliakan orang tua yang muslim. Ya. Ya. Orang tua yang muslim dan juga memuliakan pembawa Al-Qur'an yaitu yang menghafal Quran, mengamalkannya, mengetahui batasan-batasannya. Ghairal ghali fi yang tidak berlebih-lebihan dalam Al-Qur'an. Walal jafi anhu. Dan tidak kaku atau kurang dalam ee bersikap terhadap Al-Qur'an. Wa ikrami sultanil muqsid. Demikian juga memuliakan sultan atau penguasa yang adil. Ya, penguasa yang yang adil. Ee di sini salah satu bentuk mengagungkan Allah adalah mengagungkan syiar-syiar Allah. Allah berfirman, "Dzalika w yuadim syaairallah fainnaha min taqwal qulub." Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka ini termasuk dari takwanya hati. Dan di antara syariat Allah adalah seorang memuliakan orang yang sudah tua, seorang muslim yang sudah tua ya. Dan tentunya orang yang sudah tua ya memiliki banyak ya hak ya. Di antaranya hak sebagai orang yang sudah tua, dia sudah lebih berusia daripada kita ya. dia lebih banyak merasakan ee pahitnya, manisnya kehidupan. Apalagi dia muslim, dia lebih dahulu beribadah daripada kita. Dia lebih banyak ibadahnya daripada kita. Ya, oleh karenanya orang yang lebih muda hendaknya menghormati orang yang tua dan sampai disebutkan salah satu bentuk pemuliaan kepada Allah adalah memuliakan orang tua. Maka ini adalah adab yang sangat sangat indah. Sebagaimana sudah kita singgung sebelumnya, Rasulullah bersabda, "Laisa minna man lam yuwaqqir kabirana walam yarham shirana." Bukan dari golongan kami orang yang tidak memuliakan yang tua dan tidak sayang kepada yang lebih lebih muda. Ya. Ee di sini Rasulullah mengatakan iqrami dyaib. Ikrama syaibah, yaitu yang memiliki uban muslim ya, rambutnya sudah beruban ya dan adanya banyak uban menunjukkan dia sudah tua ya. Ini mengingatkan kita ya dan menunjukkan bagaimana dia di masa tua masih di atas Islam. Berarti menunjukkan dia adalah orang yang ee saleh ya. Meskipun sudah tua masih terus beribadah ya. Maka seorang harus mengetahui kondisi atau kedudukan orang yang sudah tua. Maka misalnya kalau kita naik bis ada yang lebih tua, kita suruh duduk kita yang berdiri. Misalnya kalau ada antrian kita bilang, "Silakan, Pak. Bapak di luaran, ya." ya karena Bapak tua ya. Ini bentuknya kita memuliakan. Silakan ya. Kalau ada cara makan-makan Bapak di luaran, ya. Karena waktu makan bapak tidak banyak lagi. K sudah tua mau diapain didahulukan. Ya, ini harus kita hidupkan. Pokoknya antrian apa dia di luar orang tua ya. Ya. Jadi orang tua lebih lebih dahulu lebih dahulu ya. Apalagi seorang tua dan muslim ya. Maka harus di dihormati ya. Dan kita ajarkan anak-anak kita sejak kecil hormati orang orang tua. Sudah kakek kita tolong kita papa. Kalau dia berbicara kita dengar ya. Kalau apa namanya dia punya kesalahan kita beri uzur namanya juga sudah tua ya. Tib yang kedua Rasulullah mengatakan wahamilal Quran ya. Yaitu wa ikrama hamil Quran. Hamilil Quran yaitu memuliakan yang pembawa Al-Qur'an. tanpa yang tidak berlebihan dalam Al-Qur'an dan juga tidak kurang dalam Al-Qur'an. Ya, maksudnya orang yang hafal Quran ini ya dia tidak berlebihan dalam Al-Qur'an. Jadi yang dimaksud hamil Quran sebag dijelaskan oleh Ibnu Abdil Bar rahimahullah bahwasanya yang dimaksud pembawa Al-Qur'an bukan sekedar menghafal, bukan sekedar menghafal tetapi yang mengerti tentang Al-Qur'an. Betapa banyak orang yang sekedar hafal tapi tidak menjalankan Al-Qur'an sama sekali. Oleh karenanya ee seorang salaf ya ee berkata, "Unzilal Quran liymala bih fatasu qiraatahu amala." Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan tetapi orang menjadikan amalan Al-Qur'an hanya sekedar membaca saja. Hanya sekedar membaca. Menyangka bahwasanya Al-Qur'an itu amalannya dengan membaca tilawah saja. Tidak. Tilawah itu sarana agar kita memahami dan untuk kita mengamalkan kandungan Al-Qur'an. Ya, ini perkataan Fudhail bin Iyad. Dia mengatakan, "Unzilal Quran liyumala bih fattakasuqatu amala." Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan. Orang-orang menjadikan bacaannya hanyalah untuk bacaan. Itulah amalan dari Al-Qur'an. Ee oleh karenanya disebutkan Hasan Al Bashri rahimahullah ya ketika di ceritakan kepada Hasan al Basri di zaman tabiin. Hasan Al Basri salah seorang ulama tabiin. Ada yang memuji yaitu atau seorang ahli Quran menyebutkan tentang kelebihannya. Dia berkata, "Qul qurana kullahu walam usqit minhu harfan." Saya sudah baca Quran seluruhnya dan tidak ada satu huruf pun yang aku jatuhkan. Yaitu aku telah membacanya dengan tajwid yang baik dari awal sampai akhir. Tidak ada satu huruf pun yang kurang jelas apalagi sampai jatuh. Ya, maksudnya dia ahli dalam tajwid dalam makhrajil huruf ya. Dia ahli. Maka apa Hasan Al Basri komentar tentang perkataan orang tersebut? Kata dia, waqad asqathu wallahi kullahu la jur alaihil quran la fi khuluqin wala amal. Kata S Basri, "Demi Allah, bukan satu huruf yang dia jatuhkan. Seluruh huruf dalam Al-Qur'an sudah dia gugurkan seluruhnya." Kenapa? Tidak nampak dalam amalnya, dalam perangainya bekas-bekas Al-Qur'an enggak ada. Enggak ada ayat-ayat dia amalkan. Maka menurut Hasan Al Basri, kalau orang tidak mengamalkan Al-Qur'an, justru dia telah menggugurkan isi Al-Qur'an. Ya. Kemudian beliau berkata, "Ma haula qur mereka itu bukan ahli Quran. Ma haulai bil ulama. Mereka bukan ulama ya. Ma haulai bil waraah. Mereka bukanlah orang-orang yang wara. Ya. Kemudian beliau berkata, "Katil qur mla haula laarallahu finasi mlahum." Kalau ternyata ahli Quran hanya seperti model mereka, semoga Allah tidak membanyakkan manusia-manusia seperti mereka itu di tengah-tengah manusia. Itu hanya ada orang yang hanya baca Quran, perhatian tajwid, tapi tidak memperhatikan amalan. Padahal Al-Qur'an diturunkan bukan sekedar untuk dibaca. Allah mengatakan, "Alladzina atainahumul kitaba ya alladina atainahumul kitaba yatlunahu haqqo tilawatih ulaika yminuna bih." Dan orang-orang yang kami berikan kepada mereka alkitab yatlunahu haqqo tilawatih. Mereka yatlunahu haqq tilawati. Ini maknanya membacanya dan mengamalkannya ya. Mengikuti Al-Qur'an tersebut ya. ee dan memahami dan mengamalkannya. Ya, jadi maksud dari haqqo tilawatih yaitu mengamalkan isi Al-Qur'an. Itu yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa taala. Itulah yang dikatakan orang beriman. Adapun sekedar baca kemudian tidak mengamalkan maka ini bisa tercela. Orang-orang Khawarij baca Al-Qur'an tapi tidak diamalkan. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Yaqraunal Quran la yujawizu tarqiahum." Mereka baca Al-Qur'an namun tidak melampaui kerongkongan mereka. tidak masuk ke hati, tidak diresapi sehingga tidak diamalkan. Oleh karenanya kalau kita dapati seorang ahli Quran kemudian dia nampak pada dirinya akhlak, nampak pada dirinya wara, nampak dirinya takwa, ah ini yang dianjurkan untuk dihormati. Dihormati ya. Tapi kalau hafal Quran tapi tukang maksiat, hafal Quran tapi joget sana joget sini, ya hafal Quran tapi nipu orang, ini ya tidak tidak disuruh. Karena ini justru ini yang berbahaya seperti ini. Membuat fitnah. Orang bilang hafal Quran kok kayak begini tidak nampak pada diri mereka asar dampak dari baca Al-Qur'an. Sebagian salaf berkata, "Ma jalasa ahadunal Quran illa q minhu imiadati nuqsan." Imadtin nuqsan. "Tidaklah seorang duduk membaca Al-Qur'an kecuali dia berdiri Al-Qur'an setelah selesai baca cuma dua kemungkinan. Bertambah imannya atau kurang?" Kurang imannya. Yaitu bertambah jika dia mengerjakan isi Al-Qur'an dan kurang jika dia menyia-nyiakan perintah Al-Qur'an. Makanya Rasul sahu alaihi wasallam bersabda, "Wal quranu hujjatun lak alaik." Al-Qur'an itu membelamu atau akan menyerangmu pada hari kiamat kelak. Kapan membelamu jika engkau membacanya, mengamalkannya? Kapan menyerangmu jika kau tidak membacanya? Bahkan dalam hadis disebutkan di antara orang yang diazab dalam alam barzakh, rajulun atahullahul quran, seorang yang Allah berikan kepadanya Al-Qur'an. Fahua yanamu anhu bail walam yamal bihi fin nahar. Malam hari dia tidak baca, tidur aja tidak murajaah, siang hari dia tidak amalkan. Justru ternyata dia diazab dalam alam bar barzakh padahal dia sudah hafal Qur Quran. Jadi ini yang perlu kita ingatkan pada diri pribadi dan juga kepada pondok-pondok tahfiz ya. Sekarang lagi alhamdulillah di tanah air lagi semerbak atau lagi viral atau lagi booming orang-orang suka hafal Quran itu suatu keindahan suatu perubahan yang luar biasa yang dulu tidak kita temukan. Tapi jangan lupa baca Al-Qur'an itu hanyalah sarana. Yang lebih penting adalah memahaminya dan mengamal mengamalkannya. Kalau khawatir kalau hanya sekedar hafal-hafal, akhirnya bangga-banggaan. Anak saya sudah berapa juz? Anak saya sudah berapa juz. Tib. Hafal Quran sunah tapi mengamal Quran kewajiban. Hafal Quran sunah, mengamal Quran apa? Kewa kewajiban. Yang saya fokus pada yang sunah kemudian yang wajib tidak di dikerjakan. Nah, ini hati-hati kita punya anak jangan jangan terlalu ah sudah berapa juz, sudah berapa juz, sudah berapa juz. Oke, bagus. Tapi itu bukan yang paling utama. Yang paling utama adalah dia mengamalkan isi Al-Qur'an. Dia pahami. Paham enggak apa yang gua baca? Kalau enggak dia paham, ya suruh belajar untuk memahami. Mungkin tidak seluruh Al-Qur'an, tapi paling tidak ayat-ayat penting yang terkait dengan ibadah, terkait dengan akidah, terkait dengan akhlak, dia memahami. Maka seandainya ee pondok-pondok tahfiz tidak hanya fokus pada tahfiz, tapi ada kurikulum yang terkait dengan isi global Al-Qur'an, mengambil beberapa ayat-ayat atau perwakilan dari Al-Qur'an, ayat-ayat untuk dipahami sehingga bisa diamalkan oleh para penuntut ilmu. Sehingga akhirnya ketika dihafal Quran terlihat pada perilakunya keseharian. Kita dapati sebagian orang hafal Quran tambah sombong, tambah angkuh. Melihat orang meremehkan. Ini nampak sekali. Melihat orang hafal Quran dia maunya dihormati berlebihan. Subhanallah. Apalagi kalau dia cuma sendiri yang hafal Quran. Kelihatan ya. Ini kenapa? Karena pendidikan yang diberikan kepada dia hanya sekedar menghafal. Kalau para salaf dahulu mereka hafal 10 ayat. Para sahabat dulu hafal 10 ayat, mereka mengerti maknanya dan mereka amalkan. Kemudian mereka tambah lagi 10 ayat. Mereka tambah lagi 10 10 ayat cara mereka. Ya, sekarang mungkin kita metode berbeda. Kita tidak bisa seperti para salaf dahulu. Tetapi paling tidak kita ajarkan kepada murid-murid tentang kandungan Al-Qur'an dan praktik nyatanya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ketika seorang hafal Quran bukan sekedar hafal tapi nampak bagaimana efek dari Al-Qur'an tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Nah, karena sebagian orang fokusnya tajwidnya gimana, hafalannya berapa. Kan sudah berapa juz. berapa juz? Kalau gak anaknya enggak capai target, maka diomelin, merasa rendah, merasa anaknya ee hina-dina, ya apalagi dia banding-bandingkan dengan anak orang lain. Itu yang penting seorang baca hafal Quran sunah tapi mengamalkannya hukumnya wa wajib. Ya, akhirnya kadang-kadang timbul kasus macam-macam. Kasus di pondok tahfidlah, kasus inilah ya. Kenapa? Karena tidak ada hanya sekedar hafal doang. Maka kurikulumnya harus ditambah. Menghafal bagus, tapi perlu ditambah kurikulum ee tadabur sebagian isi Al-Qur'an dan praktik keseharian terhadap isi Al-Qur'an. Makanya di sini Rasulullah mengatakan inna atau dalam riwayat ini ya min ikrami min ijlalillah ikrabaih almuslim waamilil quran dan memuliakan pembawa al-qur penghafal alquran girir goli fi w jafi anhu tidak berlebihan dan tidak kurang jadi di sini Rasulullah menyebutkan penghafal Quran ada tiga model ada yang berlebihan ada yang kurang ada yang wasat yang tengah yang dipuji adalah yang tengah yang tidak berlebihan dan tidak kurang. Apa yang dimaksud berlebihan? Berlebihan dalam Al-Qur'an itu dia sebutkan itu berlebihan dalam ee apa namanya? Sampai berusaha memahami ayat-ayat mutasyabihat yang kita dilarang tidak boleh melampaui batas kita dalam ya. Ada ayat-ayat sifat kemudian dibahas tentang bagaimana bagaimananya. Tentu tidak boleh. Ya, sifat Allah yang tahu hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Ya, kita beriman tapi kita enggak tahu bagaimana. Yang tahu hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Ya. Ya, intinya tidak boleh ber ee berlebihan. Mungkin juga wallahuam berlebihan dalam tajwid sampai menyusahkan orang. Orang kalau baca sampai berlebihan, sampai baca al-Fatihah saja sampai seminggu enggak bisa-bisa, sampai sebulan enggak bisa-bisa. Ini maksudnya akhirnya Al-Qur'an bukan walaqad yasarnal Quran lidzikr. Al-Qur'an jadi Allah mengatakan sungguh kami telah memudahkan Al-Qur'an malah menjadi su sulit. Sebagian orang akhirnya enggak mau belajar karena terlalu sulit. Ya. Ya. Ajar aja yang biasa nanti kalau ada yang mungkin yang mahir ajarkan lebih lagi. Al-Qur'an tidak sesulit yang dibayangkan. Tidak sulit yang dibayangkan. Saya dulu pernah nyetor sama orang Al-Fatihah. Setor lagi enggak bisa. sudah ngantri lama kemudian ternyata susah disalah-salahin harus sekian-sekian lama enggak saya enggak enggak mau saya setor sama syekh yang lain yang tidak seperti itu. Alhamdulillah bisa setoran ya memang saya bukan ahli baca Quran, tapi maksudnya saya setoran sama yang yang menurut saya masuk akal saya bisa belajar ya saya bisa setoran hafalan ya. Adapun yang susah-susah sampai harus ya akhirnya kan terjadi perselisihan juga di antara ahli tajwid. Sebagian terlalu tahkik sehingga qof-nya sampai qof sampai berlebihan ya. Ya. Sampai ditegur juga sama yang ahli itu ditegur. Saya sempat dengar sebagian ahli Quran bilang, "Kau baca terlalu berlebihan." Ya, Al-Qur'an itu kan seperti orang bicara, orang Arab bicara tapi ee di di ditartilkan ya. Ya, ditartilkan. Adapun berlebih-lebihan sampai miuk ter mi biasa aja ter berlebihan ya jangan berlebihan ya sehingga susah kalau terlalu susah baca Quran capek ini apa namanya rahang ini capek apakah seperti itu para ulama dulu baca Al-Qur'an ya sehingga ada sebagian ulama mengatakan itu mungkin gurumu waktu ngajar kamu dia pengin kau serius tetapi ketika praktik tidak usah berlebihan seperti itu ya karena terlalu ber berlebihan ya. Sehingga kita dengar pun tidak enak. Ca kita dengar imam-imam haram santai ya enggak s baca enak lancar mereka bisa berdiri lama baca kita dengar pun enak. Tapi kita dengar sebagian orang uh tajwidnya terlalu apa terlalu mendalam sehingga ini saya rasa berlebihan ya. Akhirnya ketika dia ngajar juga merepotin orang, orang akhirnya susah juga. Intinya jangan berlebihan dan juga jangan kekurangan yaitu baca asal baca, tidak mentajwidkan apa yang dibaca ya dan juga jarang murajaah ya ini juga adalah sikap yang kurang kurang tepat ya. Ada yang menafsirkan algha fi berlebih-lebi Al-Qur'an yaitu hualladzi waqila Ya. Hualladzi yaakulu fil Quran biryin mini nafsihi. Yaitu yang berbicara tentang Al-Qur'an dengan pendapatnya ya, tanpa dalil, tanpa memperhatikan tafsiran para salaf ya. ini menafsirkan dengan apa namanya ee menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapatnya. Ada yang mengatakan yang dimaksud dengan berlebih-lebih dalam Al-Qur'an yaitu berlebih-lebihan dalam ee ibadah ya. Karena kita diperintahkan untuk tengah dalam segala urusan di antaranya dalam urusan ibadah. Tib kita lanjutkan. Dan perkara yang tengah itulah yang diperintahkan oleh Allah dalam segala urusan. Sebisa mungkin kita bersikap tengah. Terlalu banyak ayat yang menunjukkan sikap tengah. adalah sikap yang yang terbaik. Seperti firman Allah Subhanahu wa taala, "Wadika jaalnakum umatan was." Demikianlah kami jadikan kalian sebagai umat yang tengah. Contoh lagi dalam berinfak atau belanja dalam konsumtif. Kata Allah, "Walladina anfaqu lam yusrifu yaqturu wana baina qama." Ciri-ciri penghuni surga adalah orang-orang yang jika mereka berinfak atau belanja tidak berlebih-lebihan dan juga tidak pelit. Tapi di antara keduanya jangan berlebihan yang juga pelit. Allah juga berfirman. Jangan kau jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu itu pelit. Dan jangan juga kau bentangkan sebentang-bentangnya maka kau akan duduk dalam kondisi menyesal. Ya itu maksudnya uang habis ya karena terlalu boros tengah-tengah ya. Kemudian juga dalam berbicara, dalam berjalan kata Allah, "Waqsid fi masjid w minutik." Kalau berjalan biasa aja, jangan terlalu loyo, jangan juga terlalu sombong. Biasa-biasa jalan berjasa saja ya. Wit masjid, yaitu tengah-tengahlah dalam berjalan. Wutik, suara dikecilkan, jangan besar-besar ya. Maka ini menunjukkan bahwasanya sikap dituntut dalam segala hal. Dalam masalah ibadah dituntut, dalam Al-Qur'an juga di dituntut ya. Kemudian di antara orang yang di kita perintahkan untuk ee memuliakannya adalah Sultan Al-Muqsit, yaitu ee seorang penguasa yang adil. Ya, Ikrami Sultani almuqsid. Ya, memuliakan orang yang memiliki kekuasaan yang dia adil. Kalau dia adil, maka kita muliakan. Dia telah berjuang untuk menjadi penguasa yang adil tidak mudah. Karena banyak hal yang menggoda dia untuk dia tidak adil. Ya, misalnya dia untuk menyenangkan dirinya, menyenangkan keluarganya, ya menyenangkan nepotisme bisa jadi ya. Tetapi ketika dia adil ya, menegakkan hukum dengan baik, maka orang ini wajib untuk dimuliakan. Bab kemudian al Imam Bukhari bawakan hadis yang lain. Beliau berkata qa hadasana Muhammad bin Salam qala akhbarana Jarir an Muhammad bin Ishaq an Amr bin Syuaib an abihi an Abdillah bin Amr bin As Q Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Ru alaii wasallam bersabda, "Laisa minna man lam yarham shirana wauwaqir kabirana." Bukan dari golongan kami orang yang tidak sayang kepada yang muda yang lebih kecil dan tidak menghormati yang tua. Ini apa namanya? Ee menguatkan bab yang sedang kita bahas yaitu bab tentang memuliakan orang yang tua. Ya, tentunya semakin tua semakin kita hormati. Semakin rambutnya putih semua semakin kita hormati. Ya. Tib. Kemudian Imam Bukhari membawakan bab berikutnya terkait dengan bentuk salah satu praktik atau aplikasi dari menghormati yang tua. Yaitu kalau ada orang tua biarkan dia yang bicara terlebih dahulu ya. Karena waktu berbicara mereka tidak banyak lagi. Sudah mereka lebih berpengalaman, mereka lebih ngerti, mereka lebih ya intinya karena mereka tua kita disuruh hormati. bisa hormati. Jadi kalau ada berbicara dan memang dia tua maka dia lebih utama untuk berbicara daripada yang yang muda ya. Meskipun terkadang yang muda lebih punya ilmu hendaknya dia diam kecuali yang tua mempersilakan. Ya, kalau ada yang tua ngapain kita yang muda yangcari muka yang tua biar dia yang berbicara ya. Babu yabdaul kabiru bil kalam wasal. Bab yang tua yang lebih tua yang mulai berbicara dan yang yang yang bertanya. Biarkan yang tua berbicara, yang tua lebih dahulu bertanya. Lebih dulu berbicara, lebih dulu bertanya. Al Imam Bukhari bawahkan hadis. Beliau berkata, "Qal hadasana Sufyan bin Harf, qal hadasana Muhammad bin Zaid, an Yahya bin Said, an Busyir bin Yasar, Maulal Anshar, an Rafi bin Khudij, Rafi bin Khadij, Sahal bin Abi Hasmah, Annahuma haddasa au haddasahu anna Abdullah bin Sahal wa Muhayisah ibna Mas'ud ataya Khaibar." bahwasanya ee Rafi bin Khadij dan Sahl bin Abi Hasmah menyampaikan bahwasanya dua orang namanya Abdullah bin Sahal, sahabat Abdullah bin Sahal dan satu namanya Muhaisah. Muhayisah bin Mas'ud. Abdullah bin Sahal dan Muhayisah ini pergi menuju Khaibar. Khaibar tempatnya orang-orang apa? Yahu Yahudi. Fatafarqo fin nakli. Kemudian mereka masuk di kebun kurma. Kemudian mereka terpisah berdua berpisah. Faqutila Abdullah bin Sahal. Ternyata Abdullah bin Sahal terbunuh di kebun kurma ya dan tidak tahu siapa yang bunuh. Faja'a Abdurrahman bin Sahal wa Huawaisah wa Muhayisah ibn Mas'ud. Maka datanglah tiga orang melapor kepada Nabi. Tiga orang tersebut adalah Abdurrahman bin Sahal. Saudaranya yang terbunuh. Yang terbunuh tadi siapa? Abdullah bin Sahal. Maka saudaranya Abdurrahman datang ditemani dengan Huwaisah, Huwaisiyah, Huwaisiyah dan Muhayisah. Muhayisah tadi teman yang datang bersama Abdullah bin Sahal. Tapi Abdullah terbunuh. Huwaisiyah dan Muhayisah atau Huwaisah dan Muhayisah adalah anak dari Mas'ud. Ketiga orang ini datang menemui Nabi. Fatakallamu fi amri shahibihi. Maka mereka pun menyampaikan kepada Nabi urusan kawan mereka yang terbunuh yaitu Abdullah bin Sahal. Fabada Abdurrahman. Abdurrahman mulai berbicara wana dan dia yang paling muda di antara tiga orang ini yang datang kepada Nabi. Mungkin dia berbicara karena yang terbunuh saudaranya yaitu kakaknya atau adiknya maka dia berbicara duluan. Maka Nabi ingatkan karena ada tiga orang yang dua lebih tua. Kata Nabi, "Kabbiril kubr." liya lial kalam al-akbar. Kata Yahya maknanya liya lial kalam albar. hendaknya yang berbicara yang paling tua. Ya Rasulullah suruh Rasulullah ajarin yang tua yang berbicara. Ya Rasulullah dia masih muda. Kenapa dia yang berbicara? Maka Rasulullah tegur, suruh yang paling tua yang berbicara. Fatakallamu fi amri shahibihim. Maka mereka laporkan kepada Nabi bahwasanya tadi ada kawan kita yang datang ke Khaibar masuk ke kebun kemudian mati tapi tidak tahu siapa yang bunuh. Yang jelas di kompleksnya orang Yahudi. Faq Nabi sallallahu alaihi wasallamakumakuminkum. Kalau kalian ingin mendapatkan hak kawan kalian yang terbunuh yaitu mendapatkan diat, maka hendaknya kalian 50 orang bersumpah bahwasanya si fulan Abdullah bin Sahal telah dibunuh oleh seseorang di sana. Ya Rasulullah amrun lamaru. Bagaimana kami bersumpah? Kami enggak lihat dia dibunuh. Siapa yang bunuh kami enggak lihat. Kalau begitu orang Yahudi bersumpah 50 kali bahwasanya bukan mereka yang bunuh. Q ya Rasulullah kaumun kuffar. Ya, bagaimana kami minta mereka sumpah? Mereka kafir ya Rasulullah. Mereka akan sumpah-sumpah aja 50 orang. Rasul washi maka ras akhirnya fidyahnya sahal ibilat mirbadan lahumadahumijilihak ibil aku pun mengejar apa ada seekor unta dari unta-unta tersebut aku pun masuk ke salah satu tempat mirbat mirbat tempat pengeringan kurma tiba-tiba Tiba unta tersebut menendangku dengan kakinya. Ya, Tayib. Hadis ini dikenal dengan nama ee atau hukum terkait disebut dengan al-qasamah. Al-Qasamah itu ada seorang terbunuh tapi tidak diketahui siapa yang bunuh. Maka gak mungkin orang ini di mati begitu saja tanpa ee tanpa ada pertanggungjawaban. Maka ketika tidak diketahui siapa yang membunuhnya, tetapi diketahui sebelumnya ada permasalahan dengan seseorang di kompleks tersebut. Misalnya dia datang ke satu kompleks, dia tahu di situ ada musuh dia pernah bertengkar sebelumnya, pernah ribut sebelumnya, sering gontong-gontongan, tahu-tahu dia mati. Maka Auliya Al-Maktul, seluruh keluarga wali-walinya yang terbunuh menduga yang bunuh si fulan, si fulan dari kompleks tersebut. Kenapa kau kalian menduga dia dibunuh oleh si fulan? Karena sebelumnya si fulan sama dia ribut. Ribut di mana? Berkelai di mana. Kemungkinan besar dia yang bunuh atau gengnya yang bunuh. Ya, kalian melihat tidak. Tapi kalian yakin dia yang bunuh. Kami yakin. Ya, kalau gitu sumpah 50 orang di antara kalian bahwasanya yang si bunuh si fulan. Kalau kalian berani bersumpah maka kalian berhak minta dia dari mereka. Itu tetapi tidak boleh qisas. Karena qisas harus terlihat jelas si fulan bunuh si fulan. Ini sekarang yang bunuh tidak ketahuan kan. Kalau si fulan bunuh si fulan, asal terbukti secara nyata, maka dia juga dikisos karena dia bunuh dengan senga sengaja. Nah, kalau ternyata yang bunuh tidak ketahuan, tetapi diduga dengan dugaan kuat dengan syarat sebelumnya sudah terjadi permusuhan berat antara yang terbunuh dengan membunuh, maka wali-wali yang terbunuh boleh menuduh yang membunuh adalah si fulan dengan ee indikasi-indikasi yang ada. Ya, tapi syaratnya kata Nabi harus sumpah 50 orang. Berani sumpah demi Allah yang bunuh si fulan. Kalau berani sumpah 50 orang maka dikasih dia. Kalau mereka bilang, "Kami enggak berani, ya sudah enggak berani enggak bisa nuntut diat dari mereka." Ya, diet berapa? 100 ekor unta. Diet 100 ekor unta. Akhirnya Nabi minta kepada mereka, "Ya sudah, kalian lihat enggak?" "Enggak lihat." Ya sudah, kalau gitu kalian sumpah 50 orang. Kami bersumpah demi Allah bahwasanya si fulan telah dibunuh oleh si fulan, musuhnya. Kata mereka, "Bagaimana kami mau sumpah? Kami gak lihat." Ya, kalau enggak sumbah enggak bisa. Enggak dapat diat. Ya, kalau Yahudi kemudian bersumpah 50 kali, dia mereka juga bebas. Ya sudah, jangan tuduh kami. Kami bersumpah bahwa bukan orang kami yang bunuh orang kalian. Yahudi sumpah 50 kali. Apa kata para sahabat? Yahudi apa yang diharapkan sumpahnya? Mereka orang kafir, sumpah seenaknya aja. Gimana mau kita percaya? Akhirnya Rasulullah yang bayar diahnya. Rasulullah yang bayar diah dari sisi dari itu baitul mal memberikan diah kepada ee wali-wali Abdullah bin Sahl yang terbunuh. Ya, ini namanya Qosamah. Yaitu di mana sumpah dibagi kepada 50 orang. Ini aturan dalam syariat ya. Tapi di sini yang jadi perhatian kita adalah ee ketika tiga orang datang kepada Nabi, yaitu Abdurrahman bin Sahal, kemudian Huwaisiyah bin Mas'ud dan Muhayisah bin Mas'ud. Maka ketika Abdurrahman mulai berbicara, Rasulullah tegur. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Kabirul kabbiril kubr." Biarkan yang paling tua yang berbicara. Maka adab kalau kita lagi ramai-ramai yang biarkan yang tua yang berbicara dan jangan yang muda berbicara ya kurang sopan. Dan ini menunjukkan Islam menghargai sopan sopan santun. Dan di antara sopan santun yang sangat dijunjung adalah menghargai yang lebih lebih tua ya lebih tua ya kesopanan. dan dia mengatakan ee di akhir ee riwayat ya ee sang perawi Sahal dia berkata ya ee tentang bagaimana dia ditendang oleh seekor unta di kakinya menunjukkan bahwasanya kejadian tersebut dia ingat persis bagaimana kejadiannya terbunuh. Kemudian mereka datang datang kepada Nabi meminta fatwa sampai di akhir kisah kakinya ditendang oleh unta. Menunjukkan bahwasanya dia benar-benar ngerti kisah tersebut. Dia tidak lupa kejadian yang di luar daripada peristiwa punduhan tersebut dia pun ingat. Ini sekedar dia tambahkan untuk menjelaskan saya ingat betul tentang kejadian tersebut. Tib. Bab berikutnya bab idza lam yatakallamal id lam yatakallamil kabiru halil asghar an yatakallam. Babnya dalam bentuk pertanyaan. Kalau ada berkumpul yang tua sama yang kecil kemudian yang tua enggak ada yang ngomong apakah yang kecil akhirnya berbicara? Ditunggu-tunggu yang tua enggak ngomong-ngomong. Terus yang kecil ngomong atau tidak? Ini pertanyaan dari Imam Bukhari. Jawabannya dalam hadis yang beliau sampaikan. Imam Bukhari berkata, "Qdasana Musaddad qala hadasana Yahya bin Said an Ubaidillah Q hadani nafi an ibni Umar qala Rasul wasallam akbiruni bisyajarin matsaluha matsalul muslim." Rasulullah pernah kasih teka-teki kepada para sahabat. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Ini hadis diriwayatkan Ibnu Umar. Kabarkanlah kepadaku tentang sebuah pohon yang perumpamaannya seperti perumpamaan seorang muslimulahain bidha yang dia memberikan buahnya setiap saat dengan izin Allah subhanahu wa taala. La tahutu warquha. Dan bahwasanya daunnya tidak pernah gugur. Teka-tekinya demikian. Ada pohon buahnya selalu bisa dimanfaatkan, daunnya tidak pernah gugur. Perumpamanya seperti muslim. Jadi sifat-sifat ciri-ciri pohon tersebut pertama sifatnya seperti muslim. Buahnya selalu bisa dimanfaatkan. Daunnya tidak pernah gugur. Kata Ibnu Umar, "Fawaqa fi nafsi anaklah." Terbetik dalam benakku yang dimaksud oleh Nabi adalah pohon kurma. Karena pohon kurma seperti itu. Buahnya bisa dimakan kapan saja. Kalau sudah berbuah dari mulai yang ee merah balah kemudian jadi ee menjadi apa namanya kuning yang menjadi rutab ya kemudian jadi kurma sudah mulai menghitam dan kalau sudah jadi hitam dipanen bisa disimpan sampai bertahun-tahun sehingga bisa dimakan kapan kapan saja dengan proses yang mereka lakukan ya berapa proses untuk membuat kurma tahan lama mereka ahli tapi kapan saja bisa di dimakan kemudian di antara ciri kurma daunnya tidak pernah gugur enggak ada daun Daun kurma berguguran enggak ada. Kalau daun jambu banyak ya. Ada enggak daun kurma berguguran? Enggak ada. Ya sudah memang bagaimana ya begitu memang meskipun musim panas, meskipun musim hujan, meskipun dihantam oleh angin yang sangat keras, daunnya tidak pernah berguguran. Wla basiqat laha. Bahkan kata Allah, dan pohon kurma yang batangnya menjulang ke atas. Ya, pohon kurma tidak seperti pohon kelapa yang miring-miring begini. Hah, pohon kelapa kan ada yang indah, miring begini, batangnya tak tahu miring begini ya di ujungnya ya. Kalau kurma enggak ada yang miring-miring begini apa lurus ke atas dan daunnya tidak pernah gu gugur. Maka dan ciri-cirinya seperti muslim. Seorang muslim bermanfaat dalam segala perilakunya, perkataannya, tindak tanduknya, semua bermanfaat bagi dirinya maupun bagi yang lain. Seperti pohon kurma, tidak ada satupun bagian dari pohon kurma kecuali ber bermanfaat dan selalu memberikan buahnya setiap saat memberikan keberkahan. Ya. Kemudian kata Ibnu Umar, menurut saya itu adalah pohon kurma. Fakarihtu an atakallam watamma Abu Bakrin wa Umar radhiallahu anhuma. Tapi saya enggak berani jawab kenapa ketika itu ada Abu Bakar dan Umar falam falam yatakallama dan mereka berdua tidak jawab. Qalan Nabi sallallahu alaihi wasallam karena tidak ada yang jawab ayo apa enggak ada yang jawab akhirnya Rasulullah jawab sendiri hian nakhlah itu adalah pohon kurma. Falamma khjtu maa abi. Tatkala aku keluar bersama ayahku yaitu Umar bin Khattab. Ya abati ya ayahanda. Tadi waktu Rasulullah nanya sebenarnya saya tahu dalam hatiku itu pohon kurma. Umar bertanya kenapa kau tidak jawab wahai putraku lahaba. Seandainya tadi kau jawab lebih aku sukai daripada ini dan itu. Katanya Umar senang kalau siapa? Ibnu Umar bisa jawab ya. senang anaknya berarti cerdas dan mungkin didoakan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam ya berarti adanya ngerti namanya anak seorang ayah bangga dengan apa anaknya terutama di hadapan Nabi dan bisa jadi Nabi doakan sang anak apa kata Ibnu Umar adabnya q ma mana illa lam aroka wala aba bakrin takalamtuma faqarihtu saya tidak berani ngomong karena saya lihat engkau dan Abu Bakar tidak jawab gimana saya mau jawab karena mereka orang senior kok tidak jawab Tib. Hadis ini tentang teka-teki yang disampaikan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, bahkan dalam sebagian riwayat utian Nabi Sallah Wasallam bij jumar. Rasulullah sedang makan jumar. Jumar itu adalah ee kurma. Kurma kalau ditebang kemudian di bagian atasnya dilubangin batangnya. batangnya dilubangin bagian atas itu dalamnya berwarna putih dan dia enak dimakan jumar. Makanya jumar tidak diambil kecuali kurma sudah mati ya. Kalau sudah ditebang maka di bagian atas bagian tempat tumbuh-tumbuh daun itu dibolongin. Maka setelah kulitnya ada batangnya dalamnya putih bisa dimakan namanya jum. Sebagian orang senang dengan makanan tersebut ya. Seb dalam hadis ketika kalau tidak salah Usamah atau siapa dia mengatakan, "Ibuku minta jumar." Maka aku pun pergi ke ee pohon kurma, aku tebang, aku ambil jumarnya sampai aku dicela sama orang. "Kenapa kau tebang kurma?" "Korma lagi mahal." Kata dia, "Ibuku lagi pengin makan ini. Kalau saya mampu saya kasih. Ngapain? Meskipun mahal, tapi kalau ibu lagi mau, saya siapkan." Artinya kalau sudah diambil jumar pohon itu kurma sudah ma mati. Ya. Nah, disebutkan ee Rasulullah sedang makan itu jumar dan Rasulullah kasih teka-teki ada pohon begini begini. Namun sebagian sahabat mungkin malu jawab. Dan sebagian sahabat disebut fadzahabanasu ila syajaril bawadi. Sebagian yang bilang, "Oh, pohon ini pohon anu." Mereka pergi ke pohon-pohon yang ada di ee apa? Kampung-kampung ya. Karena mereka pikir ini teka-teki susah ya. Teka-teki susah. Apalagi pohon apa yang daunnya enggak pernah gugur. Padahal Nabi sedang makan kor kurma, makan jumar, jantung kurma ya atau bagian dalam kurma. Jawaban di depan mata. Tapi mereka menganggap mungkin pertanyaan susah sehingga mereka tidak jawab atau mereka jawab salah-salah. Ternyata jawabannya adalah pohon ee pohon kurma. Ya, di sini yang menjadi perhatian kita dalam sebagian riwayat ya. Eh dalam riwayat kata Ibnu Umar, "Faidza ana asyiru asratin ana ahdatuhum fasakatu." Saya mau jawab, saya tengok-tengok ternyata saya mereka 10 orang. Saya adalah orang ke-10 dan saya yang paling muda daripada yang lain. Sudah ada yang jawab tapi salah-salah. Tapi yang masalahnya Abu Bakar dan Umar belum belum jawab. Ada yang lebih tua belum jawab. Maka akhirnya dia memilih, Ibnu Umar memilih untuk tidak jawab. Ya, dalam riwayat dia berkata, "Fahabu an atakallam." Aku segan untuk berbicara. Dan ini adalah sopan santun yang harus diperhatikan ya. Kalau ada orang tua, biar orang tua yang berbicara. Ngapain kita berbicara? Tib. Adapun ee sifat kurma tadi yang Rasulullah sebutkan titiulaha kulinin bidniha ya bahwasanya kurma itu ya ee dalam setahun penuh bisa bisa dimakan ya terkadang bisa dimakan dalam bentuk rutab seperti buah sering kalau kita buka puasa terkadang seperti makanan pokok dalam bentuk kalau sudah jadi kor kurma tadi kurma juga bisa diolah sehingga bisa bertahan bertahun-tahun ya ada alat kadang mereka masukkan dalam satu alat kemudian di dipres kemudian dikeluarkan airnya sehingga menjadi kurma yang lebih manis dan bisa bertahan lama. Mereka punya metode-metode metode-metode hingga menjadikan kurma bisa bertahan bertahan lama. Tapi kalau dibiarkan rutab rusak, tapi kalau dibiarkan terus sampai menjadi kurma, menjadi hitam ah ini bisa bertahan bertahan lama. Makanya kurma memberikan buahnya setiap saat. Dan ini disyarat kepada seorang mukmin karena Rasulullah menyatakan pohon kurma itu seperti seorang mukmin. Bahkan dalam sebagian riwayat eh inna minasyajari lama barokatuha kabarokatil muslim. Sesungguhnya ada sebuah pohon yang keberkahannya seperti keberkahan seorang muslim. Maka seorang muslim dalam hidupnya hendaknya berkah. Berkah itu memberi kebaikan buat dirinya maupun kepada orang orang lain. Sebagaimana pohon kurma tidak ada satupun yang diambil darinya kecuali bermanfaat. Dari ujung atas kurma sampai ujung bawah kurma. batangnya bermanfaat, daunnya bermanfaat, pelepahnya bermanfaat, bahkan yang yang buat pijakan itu juga bermanfaat, bahkan bijinya bermanfaat. Tidak ada dari kurma yang terbuang. Apalagi kalau kita bicara 100 tahun lalu di mana kehidupan masih sederhana di daerah Jazirah Arab, maka pohon kurma itu adalah ee pohon yang sangat berkah. Ya, demikian juga orang yang punya pohon kurma tidak akan kelaparan. tidak akan kelaparan karena dia punya makanan sepanjang sepanjang tahun. Benar dia berbuah setahun sekali tetapi bisa dimanfaatkan buah tersebut sampai bertahun-tahun. Ya. Ya. Biji kurma bagaimana caranya? Biji kurma diambil dibasahin kemudian ditumbuk jadikan makanan buat unta. Jadikan makan buat unta. Dulu biji kurma ditumbuk kemudian dimakan buat dan ini mengandung gizi yang tinggi. Sekarang ada yang bikin ide bikin kopi biji kurma. Saya belum pernah coba ya. Tapi saya pernah dikasih kopi biji kurma. Dikeringkan, disangrai, di apa, enggak tahu. Jadi enggak tahu ini ide bagus atau ide buruk. Saya wallahualam ya. Tapi intinya sekarang sudah ada kopi, biji kor kurma. Ada dibuat kemasan. Silakan dicoba ya. Kalau unta kan bijinya, ini kan kopinya beda. Tapi intinya tidak ada bagian kurma yang terbuang. Nah, seharusnya seorang mukmin demikian ya kata Rasulullah, tidak ada yang datang dari pohon kurma illa nafa kecuali bermanfaat bagimu. Maka seorang mukmin di mana pun dia berada dia beri manfaat kepada dirinya atau kepada orang-orang lain. Kalau dia sendirian dia baca Quran, berzikir, belajar yang bermanfaat, mendengar yang bermanfaat. Kalau sama orang menyenangkan istrinya, menyenangkan anaknya, menyenangkan orang tuanya, menyenangkan tetangganya, tidak ada pun di mana pun dia berada kecuali memberi manfaat kepada orang di sekitarnya. Berusahalah jadi seorang muslim yang berkah, yaitu memberi manfaat kepada orangor lain. Seperti Nabi Isa alaihi salam, dia berkata, "Waja'al mubarokan ainama kuntu." Allah menjadikan aku berkah di mana pun aku berada. Ditafsirkan yaitu muallimanil khair atau nafaan eh qadaan lihawaijinas. Yaitu suka mengajarkan kebaikan. atau membantu orang orang lain. Jangan kita diam ee apa namanya? Ngelamun ya. Jangan. Siapa depan kita, kita berusaha memberi manfaat kepada orang depan kita. Sebisa mungkin ya. Makanya ketika Rasulullah mengambil baiat dari Jarir bin Abdillah ya Rasulullah mengambil di antara baiatnya selain syahadatain. Kata Rasulull sallallahu alaihi wasallam, "Wann nush likulli muslim." agar engkau menjadi nasih bagi setiap muslim yang kau temui. Nasih itu maksudnya bagaimana bersikap yang terbaik bagi orang di depannya. Bagi setiap muslim. Kau ketemu siapa saja berusaha menjadi terbaik bagi setiap muslim. Ketemu orang tua, ketemu anak kecil, ketemu kerabat, ketemu orang jauh, ketemu pedagang, ketemu siapapun. Kalau kau bisa menjadi terbaik baginya, lakukan. Dan ini Rasulullah tidak ambil baiat ini kepada sahabat lain. Disebutkan Rasulullah ambil baiat ini dari Jarir bin Abdillah. Ada yang mengatakan, "Kenapa?" Karena Jarir bin Abdillah akan balik ke kabilah ee Bujailah dan dia akan berdakwah. Maka Rasul sahu alaihi wasallam ingin seorang dai sifatnya seperti itu. Di mana pun dia berada berusaha memberi manfaat kepada orang orang lain. Maka Rasulullah ambil baiat dari dari dia sehingga di mana pun dia berada dia ber. Nah, kita pun demikian berusaha meskipun tidak sempurna. Kita lagi sama siapa saja berusaha beri manfaat sama dia. Pikir apa yang saya bisa manfaat kasih manfaat buat dia. Sama pembantu pikir apa yang bisa kasih kebaikan sama dia. Sama pegawai apa yang saya bisa berikan kebaikan bagi dia. Bukan cuma berpikir apa yang bisa saya keruk dari dia, apa yang bisa saya ambil dari dia, apa yang bisa saya manfaat dari dia. Kalau enggak bermanfaat pisah gak. Sekarang kita harus berpikir apa yang bisa saya berikan sama orang lain demi akhirat kita. Demi akhirat kita. Sehingga jadilah kita berkah di mana pun kita berada. Orang yang paling utama merasakan keberkahan kita, orang terdekat. Istri dan anak-anak kalau orang terdekat kita merasakan berkah dari kita, mereka akan nyaman dengan kita dan selalu merindukan kehadiran kehadiran kita. Makanya kalau anak-anak suka telepon kita, istri suka telepon kita, berarti mereka merasakan manfaat keberadaan kita di sisi mereka. Tapi kalau istri sudah malas telepon kita, kita telepon dia pun tidak angkat, ini berarti bermasalah ya. Anak-anak pun malas telepon kita. Kita telepon anak, "Abi ini ganggu aja lagi main." Dia sudah malas juga dapat telepon dari abinya. Ini ada masalah. Mungkin kita bermasalah, mungkin mereka yang bermasalah. Khawatir kita yang bermasalah. Ternyata keberadaan kita tidak menyenangkan mereka, tapi justru mengusik kebahagiaan mereka. Mana? Abinya ngomel melulu, abinya selalu kalau ketemu hafalanmu sampai mana? Hafalmu sampai mana? Enggak pernah nanya lain. Hafalanmu sampai mana? Namanya anak-anak juga pengin bercanda. enggak ditanya pelajaran terus ya. Intinya kita berusaha di mana pun kita berada, kita bermanfaat seperti kurma yang bermanfaat di mana pun dia berada. Kemudian juga di antara ciri kurma la yatahattu waraquha. Seorang mukmin berusaha tegar seperti kurma. Rasulullah sebutkan daunnya tidak pernah gugur. Dihantam oleh angin, ditimpa dengan panas matahari ya daunnya tidak tidak gugur. Seorang mukmin harusnya kuat karena namanya terpaan musibah ya angin cobaan akan terus menimpanya, akan menerpanya, tidak akan berhenti. Selama dia hidup dia akan ditimpa dengan berbagai macam cobaan dan musibah. Maka harusnya ditegar. Bahkan semakin iman seorang semakin tinggi maka angin terpaan musibah akan semakin banyak. angin ujian akan semakin berhembus dan ini sudah konsekuensi dari orang yang beriman maka harus dia tegar. Daunnya tidak boleh ja jatuh. Dia tegar ingat kurma ya. Bertegar dengan pertolongan Allah Subhanahu wa taala ya. Ya jangan sampai bunuh diri maksudnya sedih sedikit kemudian apa? bunuh diri, gugur, jatuh, ya seakan-akan sudah tidak ada solusi. Putus asa kepada Allah, suudon kepada Allah, ini gugur dia. Gugur dia. Tapi kalau dia dekat kepada Allah, dia ibadah, dia akan husnuzan kepada Allah. Dia tegar apapun yang terjadi. Tib. Ee hadis berikutnya bab Taswidil Akabir. Bab yaitu menjadikan pemimpin dari kalangan orang-orang ee tua. Ya, maksudnya kalau kita punya anak misalnya ee ada yang besar, ada yang kecil, kita yang tua yang suruh ngurus, kamu yang ngurus. Ya. Dan itu manfaatnya banyak. dia merasa bertanggung jawab, adik-adiknya pun hormat sama dia. Ya, orang lain pun lihat benar ini benar, kakaknya yang jadi bertanggung jawab, yang diserahkan kepemimpinan. Ya, tapi kalau seandainya serahkan kepada anak kecil, akhirnya yang lain enggak nurut. Ah, kamu perintah-perintah saya. Saya yang dulu cebok kamu, sekarang perintah-perintah saya. Misalnya jadi enggak hormat. Kemudian orang yang lihat juga kok ini gimana sih bapaknya kok anak adiknya yang suruh jadi apa? ngurusin. Jadi enggak enak juga bagi pandangan orang dan juga tidak etis. Maka kalau bisa yang besar jadi pemimpin itu yang terbaik. Kecuali kalau memang ada halangan atau ada maslahat tertentu yang menjadikan kepemimpinan dipindahkan dari yang besar kepada yang lebih lebih kecil. Misalnya orang kakaknya ternyata fasik, tukang maksiat, tidak bisa memegang amanah, ya itu baru dipindahkan kepada yang yang lain. Tapi selama kakaknya mampu, bisa meskipun tidak sesempurna adiknya misalnya, maka dia yang jadi memegang segala ee pertanggungjawaban kalau bisa. Seya akan hormat sama dia. Karena ini kakak tib kita bacakan hadisnya. Al Imam Bukhari berkata q hadana Amr bin Marzuq qala hadasana Sybah an Qatadah samu mutifan an Hakim bin Qais bin Asim. Anna abahu aa mautihi banihi. Ini kisah dari hakim. Dia cerita tentang bapaknya yang bernama Qais bin Asim ketika mau meninggal dia wasiat kepada anak-anaknya. Ini di antara kebiasaan para salaf sebelum meninggal berwasiat kepada anak-anaknya agar diperhatikan oleh anak-anaknya agar anaknya tidak salah melangkah setelah bapaknya meninggal meninggal dunia. Maka kalau kita punya wasiat pada anak-anak misalnya sudah tua, kita sudah mau meninggal atau kita merasa hidup kita tidak lama lagi, maka bikin wasiat supaya dipegang oleh anak-anak agar di bisa dijalankan dengan baik. Karena anak-anak butuh butuh arahan. Butuh arahan. Di antara wasiatnya beliau berkata, "Ittaqulah." Ya, Qais bin Asim berkata, "Ittaqulah." Wahai anak-anakku, bertakwalah kepada Allah. Wasiat yang terbaik adalah takwa. Waswidu akbarakum. dan jadikanlah di antara anak yang paling besar di antara kalian jadi pemimpin di antara kalian. Kemudian disebutkan, dijelaskan, "Fainnal kauma id sawadu akbarahum khalafu abahum." Ya. Ya. Maka jika suatu kaum ee menjadikan yang paling besar ee menjadi pemimpin, maka ee mereka akan seperti mensikapi seperti bapaknya. yaitu bahwasanya ee mereka telah bersikap seperti ee orang ayah mereka, seperti ayah ayah mereka ya. Makanya yang paling tua adalah yang ee besar. Kalau kalau besar dia bisa bersikap seperti apa? Bapaknya namanya paling tua seb ini pengganti bapak sehingga yang lain akan nu nurut. Tapi kalau yang jadi pemimpin anak kecil atau adik paling bungsu mungkin tidak seperti ayah mereka, tidak dianggap seperti ayah ayah mereka. Wa sawadu asgarahum azra bihim dalika fi akifaiim atau fi akfaiihim. Adapun kalau ternyata yang kecil ya dijadikan pemimpin maka mereka akan dicela ya dan mereka akan direndahkan gara-gara hal tersebut. Jadilah mereka bahan hinaan. Ya, jadilah akfauhum yaitu orang-orang yang setara dengan mereka akan mencela mereka dan ini menimbulkan permusuhan di antara mereka. Makudnya kalau keluarga ini adik-adik kecil jadi pemimpin, maka yang lain akan mencela itu gimana sih? Ah, kalian apa? Masa yang jadi pimpin kalian adik adik kalian. Kalian ini goblok-goblok masa bahlul-bahlul adik yang jadi pemimpin. Jadi bahan hinaan oleh tetangga mereka, oleh teman-teman mereka, oleh sejawat-sejawat mereka. Ya, maka jangan, jangan jadikan adik kecil yang menjadi pemimpin, tapi yang paling besar di antara kalian karena sebabnya demikian. Jadi di sini Qais bin ee Asim menjelaskan sebab-sebab jangan sampai anak kecil yang jadi pemimpin. Wa alaikum bil maal wastinaiihi. Hendaknya kalian perhatian sama harta dan cara mencari harta. Ya. Jadi kalau cari harta ya ee berusaha ee berjuanglah untuk mencari harta karena harta penting ya dan ikhtiar untuk mencari harta dengan cara-cara yaitu wastinaihi itu cara-cara untuk mencari harta. Kenapa demikian? Fainnahu munabbihatun lil karim. ya. Karena ee kalau orang asalnya dia baik kemudian dia punya dia punya harta, maka dia akan menjadi orang yang dimuliakan ya karena dia bisa menggunakan harta tersebut dengan baik ya. Orang-orang pun tahu ternyata dia adalah orang yang mulia ya. Karena kalau orang mulia punya harta, harta itu akan dimanfaatkan dengan baik dan akan mengingatkan kepada orang lain, ya mengingatkan dirinya dan mengingatkan orang lain bahwasanya dia adalah orang yang mulia. Waustaqna bihi anil laim. Dan dengan harta dia tidak butuh kepada orang yang suka mencela. Kalau enggak punya harta akhirnya apa? Pinjam sama orang, pergi kepada orang. Dan kalau sudah pergi sama orang pinjam uang, terkadang jadi bahan cercaan, bahan hinaan. Apa itu pinjam-injam uang? Dasar gak bisa cari duit. Ini keluarga kayak apa? Keluarga bodoh. Ya, maka jangan kita harus jaga harga diri keluarga. Di antara cara untuk jaga diri harga keluarga, cari uang yang benar sehingga tidak butuh kepada yang lain. Ya, karena kalau kita butuh sama orang, kita jadi bahinan. Kemudian dia berkata, "Wa iyakum wa musaalatanas." Waspadalah. Jangan minta-minta sama orang. Fa innaha min akhiri kasbir rajul. Terakhir kalau sudah enggak bisa semuanya gak bisa cari duit baru pikir itu. Jangan pertama sekali pikir cari minta uang sama orang. Jangan. Jangan pikir minta uang sama sama ponakan pasuh sama om. Enggak. Pertama pikir kita cari uang sendiri. Itu yang kita pikirkan. Kalau sudah tertutup semua jalan baru mikir minta bantuan sama orang. Makanya alaikum bil maal wastinaihi. cari harta yang benar dan ee berusaha untuk ee berusaha ee apa namanya? Tidak minta sama orang. Makanya Allah Rasulullah bersabda, "Waman yastagni yugnihillah." Siapa yang berusaha untuk mencukupkan diri, Allah akan buat dia cukup. Yaitu jangan kita ajar anak kita sejak kini mikir, "Nanti tenang, nanti minta bantuan sama om. Kalau Abi mati minta sama teman Abi. Jangan. Kita ajarin cari duit sendiri. Kalau Abi mati, kau cari uang sendiri. Jangan sampai bergantung kepada orang lain. Jangan memalukan diri. Keluargaan malu minta sama orang kamu jadi bahan hinakan. Jadi dihina oleh orang, direndahkan orang. Jangan cari uang sendiri. Terakhir kalau sudah buntut semua baru teman teman Abi. Jangan kawar teman Abi baik. Ada kawan kemarin cerita, "Saya kenal juga meninggal dunia kena COVID. Malamnya dia sudah merasa bakalan meninggal. Kemudian dia WA sama teman saya, tolong perhatikan anak saya, keluarga saya. Ya, sepertinya saya mau meninggal. Gitu. Akhirnya besok dia meninggal. Teman saya belum belum belum buka WA sudah meninggal selesai. Sorenya atau malamnya lah tadi malam dia sudah WA saya enggak buka WA. Benar. Akhirnya meninggal diri. Akhirnya anak-anaknya diperhatikan. Ya. Ya, mungkin anaknya masih kecil belum bisa disuruh cari apa? Cari duit. Itu lain cerita. Lain cerita. J. Kalau ana sudah besar, sudah ngerti, suruh dia berusaha semaksimal mungkin. Kemudian dia beliau berkata, "Waidu fala tanuhu, kalau saya meninggal dunia janganlah kalian niaha yaitu meratapi." Fainnahu lam yunha ala rasulillah sallallahu alaihi wasallam. Karena ketika Rasul sahu alaihi wasallam meninggal dunia maka tidak ada yang niahah kepada Nabi. Yaitu teriak ratapan. Ya Rasulullah, engkaulah engkaulah ya. Kenapa kau tinggalkan kami? Enggak ada sahabat, enggak ada yang begitu. Karena mereka tahu Nabi tidak suka. Seandainya niaha meratapi itu baik, tentu yang paling utama untuk diratapi adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Tapi Rasulullah tidak diratapi ketika beliau meninggal dunia. Ini wasiat terkait dengan bagaimana kita disikapi setelah kita meninggal dunia. Ini penting ya. Karena kita tahu dalam suatu hadis kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Innal mayitabu bibuk ahli alaih." Sesungguhnya mayat disiksa gara-gara tangisan keluarganya atas dia. Para ulama menafsirkan hadis ini. Maksudnya mayat ditambah siksaan kalau keluarganya menangisinya. Kalau dia mewasiatkan kepada keluarganya, "Kalau saya mati tolong tangisin." Berarti dia menyuruh keluarganya untuk maksiat. Padahal niaha dosa besar. Sehingga kalau keluarganya nangisin dia, berarti dia dapat dosa, dosa jariah. Karena dia yang mewasiatkan. Atau dia tahu anak-anaknya tukang niaha, tukang meratapi, terus dia tidak nasihati sehingga dia tidak melakukan amar makruf nahi mungkar. Sehingga kalau dia meninggal anaknya nangis, dia juga kena kena dosa semakin tambah azabnya. Maka Rasulullah berkata, "Innalabu ahli alaih." "Sesungguhnya mayat semakin disiksa gara-gara ee keluarganya yang menangisinya." Dan kita tahu di sebagian kalau dalam Islam dilarang seperti itu. Mengangkat suara, "Kemudi apa kau tinggalkan aku?" "Ya Allah, kenapa kau ambil dia?" "Ya Allah, dia terlalu baik bagiku ya Allah." Ini namanya protes sama Allah. Tapi kalau nangis biasa ya. "Kami sedih engkau pergi." Biasa itu dalam hal yang wajar. Tapi kalau menunjukkan seakan-akan protes, kenapa kau pergi? Kenapa kau pergi? Ya, ini sudah protes. Ini niaha angkat suara meratap. Adapun dalam sebagian agama yang lain, ratapan itu suatu kebanggaan. Ada yang nangis senang. Menunjukkan orang ini terhormat makanya banyak yang nangisin. Bahkan saya dengar ada sebagian dibayar untuk tukang menangis. Saya dengar saya dibayar, Ustaz. Datang kemudian nangis ya. drama nangisnya supaya orang menyangka dia ini adalah orang yang terhormat sehingga orang meratapi. Islam enggak kau nangis biasa tapi gak boleh mera meratapi. Makanya Qais bin Asim mengatakan kalau memang ada yang di lihatlah Rasul sahu alaih wasallam saja tidak diratapi. Kalau memang ada orang yang mau diratapi yang paling utama adalah siapa? Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Kemudian beliau berkata di akhirnya, "Waidu fadfanuni biardin laur bidrun bin wail failum fil jahiliyah." Kata dia, "Kalau saya meninggal dunia, kuburkan aku di tempat yang jauh yang tidak diketahui oleh kabilah Bakar bin Wail." Ya, Bakar bin itu suatu kabilah, ya. Kenapa? Agar tidak diketahui oleh kabilah Bakar bin Wail, dia jelaskan ya dulu waktu zaman jahiliah saya pernah nyerang mereka ketika mereka dalam kondisi lalai saya serang mereka. Ini kesalahan ada permusuhan antara dia dengan kabilah Bakar bin Wail. Maka dia bilang khawatir nanti ada orang bodoh di antara mereka galik kuburanku kemudian bikin masalah dengan jasadku. Makanya kalau kubur saya jauh-jauhkan. Jangan diketahuan oleh mere mereka. Ini semua wasiat yang penting-penting harus di diketahui ya. Karena sebagian orang tidak bisa balas dendam ketika masih hidup. dibalas ketika sudah sudah mati. Maka pentingnya seorang memberi wasiat kepada kerabatnya ketika dia akan meninggal meninggal dunia. Dalam satu hadis kata rasul sahu al wasallam muslim lahu itu di antara yang perkara yang hendaknya dilakukan seorang muslim kalau dia punya sesuatu ingin disampaikan ya yaitu dia tidur ee kecuali dia apa tulis wasiat di sisinya ya seorang menulis wasiat karena kematian bisa datang kepadanya tiba tiba-tiba. Yang menjadi perhatian kita di sini bahwasanya Qais bin Asim ee dia mewasiatkan kepada anak-anaknya, "Kalau saya meninggal dunia atau jadikanlah orang yang paling tua di antara kalian jadi pengurus atau pemimpin." Sehingga ini ajaran bahwasanya adik-adik hendaknya menghormati ka kakak. Bahkan kalau kakak misalnya susah kita harus hormati dia. Kakak dia, kakak ya harus di dihormati. Kadang terkadang orang sombong dia sudah lebih kaya daripada kakaknya. Dia lebih tinggi kedip daripada kakaknya. Dia merendahkan kakaknya. Kakaknya enggak dianggap sama sama sekali. Gak boleh. Namanya kakak tetap apa, Kak? Kakak tetap dihormati, didengar perkataannya, diskusi dengan dia. Ya, bagaimanapun kakak tetap tetap kakak. Jangan karena kita lebih alim atau karena kita lebih kaya sehingga kita meremehkan kakak gak. Ini ee wasiat Nabi sallallahu alaihi wasallam untuk menghormati yang lebih tu lebih tua. Meskipun mungkin kita bantu dia, meskipun mungkin dia bergantung kepada kita, tetap namanya kakak kita hormati. Ada faedah di sini ee Al-Ahnaf ee pernah berkata ya tentang kesabaran, tentang kebijakan ya. Dia mengata, "Alamtul Hilm min Qais bin Asim, aku belajar ilm ya sikap apa? Kesantunan eh kebijakan ya. kebaikan dari Qais bin Asim. Qais bin Asim tadi yang kita bilang dia berwasiat buat anak-anaknya sebelum meninggal dunia. Kenapa? Karena Qais bin Asim ini orang terkenal dengan akhlak yang baik dan dia terkenal dengan orang yang mulia ya, dermawan ya. Bagaimana ceritanya dia masuk Islam padahal waktu di zaman jahiliah dia suka minum khamar dan akhirnya dia meninggalkan khamar gara-gara kelakuannya ketika sedang minum khamar dia tidak sadar. Satu hari dia minum khamar kemudian dia melakukan perbuatan-buatan buruk ya karena orang minum khamar lupa diri akalnya hilang ya. Makanya Rasulullah mengatakan khamar adalah ummul khabait induk dari segala perbuatan buruk. Kalau akal sudah hilang, dia bisa lakukan apa saja. Mungkin dia bisa macam-macam. Dia bisa menzinahi mahramnya sendiri. Banyak hal yang bisa dilakukan karena sedang minum kh bisa bunuh orang, dia bisa menceraikan istrinya, dia bisa macam-macam. Ya. Suatu hari dia minum khamar, ee akhirnya dia pukul belakang putrinya ya. Di bagian pantat putrinya dia pegang ya. Dan ini kan memalukan gimana seorang ayah memegang bagian belakang putrinya sendiri ya. Kemudian dia buang-buang hambur-hamburkan hartanya. Kemudian dia jalan di jalan. Kemudian dia pengin ambil bulan katanya dia lagi gila lagi mabuk. Ketika dia sadar orang-orang bilang, "Kau tadi pas mabuk begini-begini." Wah dia malu sekali ya. Padahal dia terkenal baik orang baik. Kemudian jadi kayak orang gila ngambil bulan ya kemudian melakukan bag buang-buang uang. Akhirnya setelah itu dia berjanji tidak akan minum khamar khamar lagi. Dialah orang yang orang yang sangat mulia dan di antara wasiat dia tadi kita sudah dengarkan kepada wasiat kepada anaknya. Wallahuam bawab. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.