Transcript
kqab29lgg_g • Syarah Rinci Rukun Iman #56: Penyimpangan Kelompok-Kelompok Dalam Takdir - Ust Dr. Firanda Andirja
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2602_kqab29lgg_g.txt
Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wasahbihi wa w ba'ad. Para hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Sebagaimana telah kita jelaskan pada pertemuan-perteman berikutnya di mana al Imam Ahmad berkata, "Al-qadar qudratullah." Bahwasanya takdir itu justru menunjukkan kemahakuasaan Allah Subhanahu wa taala. Kenapa? Karena sebelum Allah menciptakan makhluknya, Allah telah merencanakan, mencatat dan memplanning dengan sempurna. Setelah itu Allah eksekusi sehingga semua yang terjadi yang Allah eksekusi tidak ada yang keluar dari planning Allah Subhanahu wa taala. Karena karena itu hal ini takdir menunjukkan tentang kudrah kemahakuasaan Allah Subhanahu wa taala. ya ee maka semua perkara yang ee menunjukkan penyimpangan terhadap takdir yaitu mengakibatkan atau berefek menunjukkan keraguan terhadap kemampuan Allah Subhanahu wa taala ya. Ya, berefek pada keraguan terhadap kemampuan Allah Subhanahu wa taala. Nah, pada kesempatan kali ini ya kita akan menjelaskan tentang kelompok-kelompok yang menyimpang ya yang menyimpang dalam masalah takdir dalam ee masalah takdir. di antaranya yang pertama ya adalah golongan Yahudi ya Yahudi dalam perjanjian lama yang termaktub sekarang dalam Bibel ya tentunya kita yakini bahwasanya perjanjian lama telah banyak mengalami perubahan ya Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Wasu hadum maukkiru bih." Banyak yang mereka lupakan. Kata Allah mereka lupa banyak hal ya. Kemudian juga Allah menyebutkan mimma kuntum tukfuna ya itu ada yang mereka sembunyikan, ada yang tidak semuanya mereka tampilkan, ada yang mereka sembunyikan ya. Jadi ada yang mereka lupakan, ada yang mereka sembunyikan, ada yang mereka karang sendiri. Seperti Allah Subhanahu wa taala kitab aidihimillah. Di antara penyimbangan mereka terhadap Taurat mereka karang sendiri. Mereka karang sendiri. Ya, demikian juga ee apa namanya? ee mereka juga ya terkadang menafsirkan dengan yang tidak sesuai ya. Ya. Yuharifunal kalim mawadiihi. Mereka merubah tafsir dari yang seharusnya. Jadi saya ulangi, penyimpangan Yahudi sebelumnya. Penyimpangan Yahudi terhadap Taurat ada empat sisi, ya. Yang pertama adalah banyak yang dilupakan. Banyak ayat yang mereka lupa. Wasu mimukiru bih. Banyak ayat yang mereka lupa. Karena mereka enggak ada yang hafal apa? Taurat. Jadi banyak yang lupa. Yang kedua, tuhfuna. Mereka sembunyikan. Ada yang mereka sembunyikan. Seperti mereka pernah di hadapan Nabi berusaha menyembunyikan air rajam. Sembunyikan. Kemudian yang ketiga adalah ee ayat-ayat mereka karang sendiri. Yang mereka karang sendiri. Allah sebutkan dalam Alquran, "Celaka orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka." Kata mereka ini dari Allah, "Celaka atas apa yang mereka catat mereka tuliskan." Fawaaksibun dan celaka atas apa yang mereka kerjakan. Itu Allah sebutkan mereka celaka sampai tiga kali. Celaka, celaka, celaka karena berani ngarang ayat sen sendiri. Kemudian yang keempat merubah tafsir. Yfunal kaliman mawadi ya merubah menafsirkan dengan keliru. Menafsirkan sengaja menafsirkan dengan keliru. Ayat-ayat dengan tafsiran yang salah. Tafsir yang salah. Makanya ee apa namanya? Untuk apa? untuk dapat dunia. Untuk dapat dunia mereka ngarang ayat dapat dunia mereka rubah tafsir untuk dapat dunia. Makanya ketika saya akan sampaikan sini Yahudi menyimpang terdapat dalam Taurat ini bukan berarti ee teks yang asli ini pasti ada penyim penyimpangan ya. Pasti ada penyimpangan. Di antaranya dalam Taurat atau Bibel yang sekarang ya di antaranya ya tentang takdir ada dalam surat dalam kejadian pertama kejadian kitab kejadian 6 5 sampai 12 yaitu Tuhan menyesal ya yaitu mereka menyatakan ee Tuhan menyesal. Bab, kalau Tuhan menyesal berarti dia salah prediksi, enggak? Salah prediksi. Kalau Tuhan menyesal berarti tidak sesuai yang dia persangkakan, tidak yang dia planningkan. Berarti tidak sempurna. Makanya saya bilang tadi, siapa yang tidak beriman kepada takdir sebagaimana konsepnya agama Islam, maka dia pasti mencoreng ke maha kuasa siapa? Al. Karena di antara bentuk maha kuasa sebelum Allah menciptakan, Allah planningkan dulu. Allah catat kemudian seketika Allah eksekusi persis seperti yang Allah rencanakan tidak ada perubahan sama sekali. Rufiatil aklamati suhuf bahwasanya pena sudah diangkat dan lembaran sudah kering. Nah, kalau ada pernyataan Allah menyesal berarti menunjukkan tidak sesuai dengan yang Allah prediksi. Seperti dalam kejadian 6 5 sampai 12 dikatakan ketika dilihat Tuhan bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. Dia ternyata manusia jahat selalu condong kepada hawa nafsunya. Maka menyesallah Tuhan. Tuhan menyesal bahwa ia telah menjadikan manusia di bumi. Terat dia menyesal cipta manusia di bumi dan hal itu memilukan hatinya. Berfirmanlah Tuhan, "Aku akan menghapuskan manusia yang telah kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara. Sebab aku menyesal aku telah menjadikan mereka." Sini Tuhan menyesal ciptakan manusia. Allah menyesal ciptakan manusia. Ternyata nakal-nakal manusia. Ya, tentunya. Ee adapun dalam Al-Qur'an tidak. Memang Nabi Adam Allah ciptakan di surga dan Allah sudah bilang sama malaikat Allah akan turunkan Nabi Adam di bumi prosesnya dengan dia melanggar. Ini semua sudah ditakdirkan oleh Allah sesuai dengan planning Allah Subhanahu wa taala. Tapi dalam ee konteks ee Yahudi, Allah menyesal salam. Seperti juga dalam Samuel ya, Samuel 1 15 sampai 11. Di situ dikatakan, "Aku menyesal karena aku telah menjadikan Saul raja sebab ia telah berbalik daripada aku dan tidak melaksanakan firmanku." Maka hak sakit hatilah Samuel dan ia bers kepada Tuhan semalam-malaman. Ya. Jadi Allah di zaman Nabi Samuel disebutkan Allah mengangkat raja namanya Saul ya. Ternyata Allah menyesal menjadikan Saul sebagai raja. Karena ternyata Saul berubah, tidak beriman. Kalau dalam istilah Islam, Tolut. Saul ini apa? Tolud. Dan Allah puji thlut luar biasa. Bagaimana? Innallaha ba lakum ba thuta malikah. Thauta Malikah. Allah jadikan Tulut sebagai raja. Itu zaman Nabi Samuel. Tapi di sini intinya Allah menyesal. Sama juga dalam Samuel 2 24 sampai 16. Intinya ketika malaikat mengajungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, maka menyesalah Tuhan karena malapetaka itu. Lalu ia berfirman kepada malaikat yang mendatangkan kemusahan kepada bangsa itu, "Cukup, turunkan sekarang tanganmu." Jadi Allah marah, Allah kirim malaikat untuk basmi manusia. Ya, dikasih dikasih penyakit sampai banyak mati di antara Bani Israil. Sampai disebut 70.000 orang mati. Ketika malaikat angkat tangan untuk musnahkan. Jadi Allah kirim malaikat untuk musnahkan apa? Bikin penyakit orang Bani Israil. Bahkan mereka mati puluhan ribu. Ketika malaikat ingin matikan mereka lebih banyak lagi, maka Allah bilang tahan. Allah menyesal. Jadi ketika menyesal menunjukkan bahwasanya Allah ketika mengeksekusi tidak sesuai dengan planning. Dan ini tentu celaan terhadap Allah Subhanahu wa taala. ee ini adalah Yahudi. Adapun Nasrani tentu kita tidak mendapati nas jelas dalam Injil, tapi orang Nasrani juga meyakini Bible. Orang yakin juga meyakini apa? Bible. Jadi kalau kita bilang dalam Taurat salah versi mereka, maka kesalahan itu juga akan diyakini oleh orang-orang apa? Nasra. Babara kesalahan adalah ahli filsafat. filsuf. Filsuf. Para filsuf. Filsuf itu ahli filsafat. Ya, kita ini sudah Ibu-ibu ya. E belum? Nanti di lembaran berikutnya. Tib. Ee yang kedua tadi filsuf. Para filsuf. Filsuf. Para filsuf ada dua. Ada namanya falasifatul Yunan, para filsuf Yunani. Yang kedua ada falasifatul muslimin, yaitu para filsuf dari kalangan kaum muslimin. Para filsuf kaum muslimin. Adapun para filsuf Yunani yang terkenal adalah misalnya Plato dan Aristoteles. Ini terkenal Plat Aristoteles. Para filsuf muslimin yang mereka mengambil ilmu dari Plato Aristoteles. Di antara kenal Al-Farabi Al-Farabi dan Ibnu Sina atau dengan Afi Sena. Kalau mereka Afi apa? Ai Sena. Nah, pelato dari Soteles ketika mereka berbicara Tuhan, mereka mengatakan bahwasanya Tuhan itu hanya mengetahui secara global, tidak mengetahui secara detail. Ya. Dan ini kemudian ditiru oleh Farabi dan Ibnu Sina. Dan saya sudah nukil perkataan mereka dalam syarah akidah wasitiyah. Mereka mengatakan Allah hanya tahu tentang makhluknya, makhluk-makhluknya dengan ilmu global. Ilmu global atau mereka sebut dengan al-ilmu alquulli. Namun tidak tahu secara detail. secara detail yaitu alilmu tafsili dan ini bertentangan dengan takdir. Jadi kata mereka gampangannya Allah hanya tahu ilmu kulli. Maksudnya begini, maksudnya ilmu kulli misalnya alilmu alkulli atau ilmu global yaitu Allah hanya tahu secara kaidah. Yaitu Allah hanya tahu secara kaidah tapi gak tahu secara detail. Hanya tahu secara kaidah. Contoh kaidah, contoh contoh misalnya ee misalnya e sapi makan rumput misalnya sapi itu makanannya apa? Rumput. Sapi makan rumput karena dia adalah herbivora. Allah tahu ini seperti ini. Allah tahu. Terus misalnya anak muncul setelah bapak. Iya. Enggak ada enggak anak muncul sebelum bapak? Anak muncul setelah apa? Bapak misalnya ya, misalnya ee anak adalah hasil pernikahan lelaki dan wanita misalnya. Ini namanya ilmu-ilmu global. Anak adalah hasil nikah lelaki dan wanita. Jadi ini disebut ilmu global. Tetapi sapinya yang mana, rumput yang mana, Allah enggak tahu. Allah hanya tahu kaidah. Paham? kaidah atau aturan anak muncul setelah bapak. Secara urutan anak bapak dulu baru apa? Anak. Kemudian secara atur aturan anak itu hasil pernikahan antara seorang laki dan seorang wa wanita. Tapi siapa sapinya, apa rumputnya, siapa anaknya, siapa bapaknya, Allah tidak tahu. Tentunya ada syubhat di kepala mereka. Mereka saya tidak ingin sampaikan itu masalah semua sifat terlalu sulit ya. Tapi saya cuma bilang ini melazimkan. melazimkan. Allah tidak tahu apa-apa tentang makhluknya. Allah tahu secara global. Padahal dalam takdir Allah tahu kaidah, Allah juga tahu siapa-siapanya. Allah tahu saya seperti apa, saya sedang apa, saya nanti bagaimana. Detail semua. Karena tidak ada yang terjadi kecuali Allah telah caat. Dari sini mereka mengatakan ulama membantah, berarti sapi lebih pintar daripada Allah. Kenapa? Karena Allah hanya tahu kaidah sapi makan rum rumput. Tetapi Allah tidak tahu sapinya seperti yang mana, rumputnya yang mana. Adapun sapi sendiri tahu rumput yang mana dia makan. Sapi tahu enggak rumput yang dia makan? Sapi tahu enggak rumput yang dia makan? Tahu. Makanya dia makan kan ini rumput jelek, rumput bagus, dia pilih rumput bagus. Sehingga ilmu sapi lebih tinggi daripada ilmu Allah. Mereka mengatakan ilmi karena ada syubhat, syubhat masalah pemikiran sampai mengantarkan bahwasanya Allah tidak tahu secara terperinci. Padahal Allah berfirman, "Tidak ada satu daun pun yang jatuh kecuali Allah tahu." Kata Allah, "Kau bicara terang-terang atau kau sembunyikan. Allah tahu isi hati isi hati kalian. Allah tahu gerak-gerak kita secara detail. Jan gerakan dada pun Allah tahu. Inahu alim btiur." Allah mengatakan Allah mengetahui penghinatan lirikan mata dan apa yang di oleh dada. Semua musha tidak ada satuan melata pun kecuali Allah tanggung rezekinya. Allah tahu di mana sarangnya. Allah tahu di mana dia cari makan. Allah tahu semua. Ini kata mereka Allah cuma tahu kaidah sapi makan rumput. Ya, manusia itu e begini cuma enggak tahu secara cuma ilmu global. Dan inilah kemudian gara-gara inilah Al-Ghazali mengkafirkan Ibnu Sina. Karena kelaziman dari Allah hanya ilmu global, berarti makhluk lebih pintar daripada Allah. Karena ada yang Allah tidak tahu, saya tahu. Allah hanya tahu bahwasanya saya ee bahwasanya anak itu bahwasanya anak adalah hasil pernikahan dari suami dan is istri. Tapi anaknya siapa? Suaminya siapa? Istrinya saya enggak Allah enggak tahu kenapa mereka begitu ada syubhat. Tapi saya gak mau sampaikan ya. Khawatir antum kena syub syubhat ya. Tapi ini pembahasan kalau kita bahas asma sifat secara runut baru kita bisa jelaskan. Tapi ini di antara penyimpangan ahlat. Makanya Allah berfirman, "Inna kullain khalaqnahu biqadar." Segala sesuatu kami telah ciptakan dengan takdir, dengan ukuran. Tidak ada satupun yang keluar dari takdir Allah Subhanahu wa taala. segala sesuatu detail-detail apapun ya Allah berfirman eh waahu mafatihul gaibi yalama illahu wa fil bar wal bahr wamuha ya w habin ardin ard ya dalam surat alam illa fi kitabi mubin ya kita bacain ayatnya sebentar Dalam surat coba kita buka surat Al-An'am ayat 59 ya Quran surah Al-An'am 59 saya bacakan waahumil gaibi illahu di sisi Allah ada ilmu-ilmu gaib yang tidak ada yang tahu kecuali fil bar wal bahr Allah mengetahui seluruh yang di daratan dan seluruh yang di lautan secara terperinci Allah tahu semuanya tidak ada daun yang jatuh yang sedang jatuh Kecuali Allah tahu. W habulum ard. Tidak ada satu biji pun dalam yang tenggelam dalam tanah. Wbin wala yabisin illa fi kitabi mubin. Tidak ada suatu yang basah, tidak ada sesuatu yang kering kecuali fi kitab mubin. Illa fi kitabim mubin. Kesuai semuanya telah tercatat di lauhil mahfuz di lauh mahfuz. Ya semuanya saya ulangi. Allah tahu semua yang di daratan lautan. Contohnya tidak ada daun yang jatuh kecuali Allah. Dalam saat ini ada berapa daun jatuh? Mungkin banyak ribuan jutaan daun sedang jatuh sekarang. Allah tahu masing-masing daun tersebut. W habin fulumatil ard. Tidak ada biji yang ditanam dalam bumi. Orang tanam petani, tanam biji kita tahu. Wala ratbin wala yabisin. Tidak ada suatu yang basah, tidak ada yang kering. Illa fi kitabin mubin. Kecuali sudah tercatat di lauhil mahfud. Maka pernyataan Ibnu Sina bahwasanya Allah hanya tahu secara global adalah kekufuran. Itu di antara salah satu sebab kenapa Al-Ghazali mengkafirkan Ibnu Sina. Ada tiga sebab. Di antaranya satunya ini Allah hanya tahu ilmu global. Di antaranya Allah hanya membangkitkan ruh tanpa jasad. Di antaranya dia mengatakan alam itu azali bersama Allah. Tib. Paham ibu-ibu? Kita lanjutkan. Di antara yang menyimpang adalah musyrikin Arab. Tapi kita lanjutkan [Musik] musyrikin Arab. Musyrikin Arab mereka menjadikan takdir, meyakini takdir, tapi menjadikan takdir sebagai argumentasi untuk menyimpang, untuk melanggar perintah Allah, menyimpang. melanggar perintah Allah, melanggar syariat. Contoh dalam surat Al-An'am, Quran surah Al-An'am ayat 148. Saya bacakan. Sayaqulululladzina asrqu la Allahumma asrqna. Berkata orang-orang musyrikin, "Kalau Allah berkehendak kami tidak akan syirik." Kata mereka, "Lau sya Allahu ma asyrokna." Kalau Allah berkehendak kami tidak syirik. Yaitu mungkin mereka mengatakan syirik itu kami syirik karena Allah mau kami syirik. Kata mereka, "Kami syirik atas kehendak Allah." Dan kehendak Allah pasti baik, kata mereka. "Ya, wala abauna wala haramna minai." Demikian juga nenek moyang kami tidak bakalan syirik dan kami tidak akan mengharamkan yang halal sama sekali. Allah bantah mereka. Kata Allah, "Kadzalika kadzaballadina minqlim." Demikianlah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan. Hattaquana sampai akhirnya mereka merasakan azab kami. Ya kata jadi mereka ingin menjadikan dalil bahwasanya penyimpangan yang mereka lakukan adalah takdir Allah menyelesaikan. Jadi kalau gampangannya ada dia syirik ah ini kan kehendak Allah. Dia bunuh orang ini kehendak Allah. Dia berzina ini kehendak apa? Allah. Ini berbahaya karena melegalkan maksiat dan melawan syariat. Melegalkan maksiat melawan apa? syariat. Ya. Jadi seakan mereka berkatakan berbuat syirik atas kehendak Allah sehingga mereka menegalkan kesyirikan. Dan ini juga disebutkan dalam ayat yang lain Quran surah An-Nahl ayat 35. Saya bacakan kata Allah subhanahu wa taala waqalladzina asrakuqu la Allahu ma abna min duni minai. Berkata orang-orang musyrik, "Kalau Allah berkehendak maka kami tidak akan menyembah selain Allah. Dannen nenek moyang kami pun tidak akan membias selain Allah. Kami tidak mengharamkan apapun yang Allah halalkan. Demikianlah perbuatan orang sebelum mereka. Demikianlah tidak ada kewajiban bagi para rasul kecuali hanya menyampaikan dengan jelas. Ya sudah mereka disuruh beriman mereka ngeyal. Kata mereka kami syirik pun atas kehendak siapa? Allah. Dan ini kekufuran. Kenapa? Perhatikan. Melazimkan melazimkan pertama melegalkan keharaman. melegalkan keharaman atau kesyirikan dengan alasan takdir. Yang kedua, membatalkan atau membatalkan syariat, menonfungsikan syariat. Nah, kalau semua alasan takdir, akhirnya semua akan melanggar syariat. Kita gini karena takdir Allah, kita zina, takdir Allah, kita rampok, karena takdir Allah, kita korupsi, karena takdir Allah, kita syirik karena takdir Allah durhaka sama orang tua takdir Allah. Ini enggak boleh. Sudah kita jelaskan untuk takdir jika digunakan dalil untuk melegakan melegalkan keharam maka ini hukumnya haram. Tapi kalau maksudnya adalah untuk bertobat menyesal maka ini boleh. Seorang ya sudah qadarullah saya salah kemarin menyesal sehingga ini sudah takdir Allah sudah ini kemudian dalam rangka untuk penyesalan tobat maka boleh seorang beril dengan tak takdir. Sebagaimana Adam alaihi salam kalah mengalahkan debatnya Nabi Musa Alaih Salam. Kata Adam, "Atalumuni, wahai Musa, kau ingin mencela aku pada perkara yang sudah Allah takdirkan 50.000 tahun seb menciptakan langit dan bumi." Ini sudah takdir saya akan makan buah yang dilarang kemudian turun ke atas muka muka bumi. Sudah takdir ya. Tapi bukan Nabi Adam melegalkan hal-hal tersebut. Makanya ketika dia makan buah tersebut dia menyesal. Bahkan dia berdoa, "Rabbanaamna anfusana waam tagfirana khin." Ketika dia makan itu tahu dia bersalah, maka dia minta ampun dan Allah hukum dia. Dia tidak bilang, "Ya Allah, kan kau sudah rencana saya turun di atas muka bumi, saya pasti makan dong." Enggak. Tapi dia tetap menggai kesalahannya. Ketika Nabi Musa mendebat dia, dan dia sudah bertobat. Ini yang kemudian Adam Alaihi Salam membela diri mengatakan, "Kau mencela saya wahai cucuku sementara kau mencela aku dengan kejadian yang sudah Allah takdirkan. Saya akan makan dari buah tersebut dan saya akan tu turun. Jadi kita katakan berdalil dengan takdir. Kalau untuk maksiat tidak boleh. Apalagi untuk membatalkan syariat, menonfungsikan syariat. Untuk melegalkan maksiat maka ini tidak boleh. Tapi kalau untuk tobat boleh. Ini musyrikin Arab. Sudah ibu-ibu paham? Jadi kita kembali ulangi berdalil dengan takdir haram jika untuk apa? Melegalkan apa? Melegalkan maksiat. Boleh jika telah tobat. Bukan untuk mendukung mak, tapi telah tobat mengakui kesalahan. Telah tobat yaitu mengakui kesalahan. Mengakui kesalahan. Ada orang musyrikin Arab mereka ingin melegalkan kesyirikan mereka. Maka tentunya ini merupakan kekufuran. Ya, ini penyimpangan dalam takdir. Dan sudah kita jelaskan bahwasanya takdir itu rahasia Allah Subhanahu wa taala. Terkadang Allah mentakdirkan suatu yang buruk karena ada sesuatu di balik itu. Seperti Allah mentakdirkan adanya iblis. Karena di balik adanya iblis ada banyak maslahat ya. Seperti adanya jihad, adanya dakwah, adanya surga dan neraka. Kalau enggak ada iblis, enggak ada neraka. Cuma surga doang. Kalau enggak ada iblis, enggak ada jihad. Kalau enggak ada iblis, enggak ada dakwah. Kalau enggak ada iblis, semua baik-baik. Padahal Allah ingin ciptakan bumi sebagai darul ibtila. Sebagai tempat untuk apa? Uji. Ujian. Kalau ujian harus ada iblis. Kalau enggak ada iblis selesai cerita. Enggak ada. Maka ini rahasia Allah Subhanahu wa taala. Ini yang ketiga. Sekarang yang keempat. Ibu-ibu sudah belum? Kalau ada ibu-ibu misalnya ditelepon sama penelepon asing terus suruh transfer kemudian dibilang ada jual tas branded kemudian bayar Rp20 juta, ternyata bodong. Terus suaminya marah-marah, "Kamu itu makanya cek-cek dulu." Terus sang istri bilang, "Qadarullah." Benar atau salah, Ibu-ibu? Hah? Coba dulu. Ada kasus nih seorang wanita dibohongin. Dia masuk aplikasi-aplikasi dilihat ada harga tas branded biasanya Rp40 juta ternyata jual 20 misalnya. Terus dia masing-masing proses ternyata barangnya tidak tidak ada. Saya lapor sama suaminya nangis ya. Terus suaminya bilang kamu nih kenapa dia bilang qadarul qadarullah. Boleh atau tidak? Boleh atau tidak? Ya bolehlah. Memang takdir. Tapi jangan bilang saya enggak salah. Sudah takdir ya. Saya menyesal minta maaf qadarullah saya ketipu. Itu boleh. Tapi Abi kok marah-marah sudah takdir lah duit Abi. Kalau duit kamu sendiri gak apa-apa. Kalau duit saya ya saya marah ya kamu. Makanya jangan teledor ya. Jadi kalau dia minta maaf ee bilang tak qadarullah karena untuk membenarkan apa yang dia lakukan itu enggak boleh. Tapi kalau datang menyesal, maafin bi qadarullah, ya okelah itu berarti dia minta uzur qadarullah. Dia sudah salah mengakui apa? Kesalahan. Jadi beda. Orang musyrikin ini mereka beril dengan takdir untuk melegalkan kesyirikan mereka, untuk ngeyel dengan kesyirikan mereka. Kata Nabi, "Jangan syirik." Kata mereka, "La Allahumma asrqna." Kalau Allah berkehendak kami gak bakalan syirik. Berarti kami syiriknya Allah yang punya mau. Ya sudah, kita jalani kemauan Allah. Nah, ini namanya melegalkan kemaksiatan. Ini enggak boleh. Kalau sampai pada penghalalan syariat, maka sampai pada kekufuran. Bab yang berikutnya yang juga menyimpang dan ini sampai pada kekufuran juga qadariah ekstrem. Ini semua kesalahan sampai pada kekufuran ya. Yang berikutnya qadarah ekstrem yaitu gulat al-Qadariyah. Qadariah ada dua, ada yang gulat, ada yang tidak gulat. Ya, jadi qadariah nanti mungkin kita bahas secara khusus ya singgul aja di sini. Qadariah ada dua, yang ekstrem, yang tidak ekstrem. Kalau yang ekstrem dia mereka mengatakan Allah tidak tahu apa-apa. Sebelum mencipta Allah baru tahu kalau sudah terjadi. Kata mereka alamru unuf. Unuf. Alamru unuf. Al amru unf itu perkara baru. Jadi Allah ciptakan nanti ada begini, oh Allah di luar. Allah enggak tahu sama sekali. Allah hanya tugasnya menciptakan. Setelah itu Allah lihat begini begini ternyata begini ternyata begini. Allah tidak tidak tahu. Kalau yang tidak ekstrem mereka mengatakan Allah tahu semua apa yang terjadi. Hanya saja manusia Allah ciptakan manusia adalah makhluk sementara perbuatannya bukan makhluk. Dan ini ini mereka mengingkari khal ibad. Kalau kita ahlusunah semua selain Allah adalah makhluk yang bukan makhluk cuma khaliq cuma Allah subhan selain Allah apa? Alam semesta, hewan, burung semua adalah makhluk. Kita adalah manusia makhluk dan semua perbuatan kita juga makhluk. Ini ahlusunah. Mereka punya syubhat. Kata mereka, "Enggak, manusianya makhluk, perbuatannya bukan makhluk." Kenapa mereka punya syubhat? Itu kadarnya yang tidak ekstrem. Kalau ini kafir, yang ini kafir, ini tidak kafir. Hanya ahlul bidah ya. Tapi tidak kafir. Karena mereka masih menetapkan Allah mengetahui segala sesuatu. Hanya saja tidak semua ciptaan Allah Subhanahu wa taala. Tib qadar ekstrem inah yang pernah kita singgung yaitu Alma'bad. Ma'bad Aljuhani yang dia hidup di zaman Ibnu Umar dari Basrah ya. Dia mengatakan Allah hanya baru tahu setelah ter terjadi. Ya sebabnya dia begini karena terlalu berdalam-dalam tentang takdir. Terlalu berdalam-dalam tentang takdir. Menggunakan akalnya sampai pada ranah yang tidak boleh dia pikirkan. Sehingga menurut dia logikanya kalau Allah sudah tahu dulu terus Allah ciptakan ini gimana ini nanti enggak adil enggak anu ya sudahlah berarti Allah tidak tahu. Supaya kita bilang Allah adil berarti Allah tidak tahu apa yang ter terjadi. Tapi kalau Allah sudah tahu kayaknya enggak adil. Jadi dia masuk pada ranah yang di luar gak boleh. Dia memikirkan suatu yang tidak tidak boleh. Dia merasa kalau dia bilang Allah tidak tahu berarti dia akan menetapkan keadilan. Tapi dia lupa bahwasanya ketika dia bilang Allah tidak tahu berarti Allah bahlul. Berarti Allah tidak sempurna. Berarti Allah tidak tahu apa yang akan dia kerjakan. Berarti Allah tidak tahu masa de depan. Dan ini tidak pantas jadi Tuhan. Jadi ingin lari dari sesuatu terjunut pada sesuatu yang yang lain. Makanya disebutkan ketika ee seorang bertanya kepada Umar, mereka yataqaruna fil ilm. Mereka ini berlebih-lebihan dalam ilmu. Jadi membahas terlalu berdalam berlebihan. Makanya Rasul sahu alaihi wasallam ee mengatakan ukiralqaramsiku. Kalau disebut tentang takdir, maka tahan diri. Jangan berdalam-dalam di luar daripada ranah Al-Qur'an dan sunah. Karena kalau berdalam-dalam di luar ranah Al-Qur'an, sunah, akhirnya ujungnya tadi. Berarti Allah tidak tahu. Terjadi baru Allah tahu. Ini adalah kekufuran. Makanya Ibnu Umar berkata, "Ahahumun." Jika engkau bertemu dengan mereka, sampaikan kabarkan kepada mereka bahwasanya saya Ibnu Umar berlepas dari mereka dan mereka berlepasti dari saya. Kalau salah seorang dari mereka punya emas sebesar gunung Uhud kemudian diinfakkan di jalan Allah maka dan mereka tidak beriman dengan takdir tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa taala. Hanya diterima jika mereka beriman kepada takdir. [Musik] Ini namanya qadariah ekstrm. Yang ke berapa tadi? Yang keempat. Yang kelima Jabariyah. Ya. Tib. Ini sudah belum ya? Contoh qadariah tidak ekstrem, sederhana. Seperti ada yang menganalogikan manusia seperti makhluk, ee manusia seperti murid, Allah seperti guru. Kata dia, si guru tahu tentang murid-murid. Si guru tahu nanti kasih ujian dia tahu si murid ini yang juara satu, yang ini juara dua, yang ini tinggal kelas karena dia tahu kemampuan mereka. Terus ketika ujian ternyata benar. Ini seakan-akan contoh yang benar, tapi ini salah. Karena berarti apa? Perbuatan murid-murid gak ada urusan dari guru. Guru hanya sekedar mengetahui. Padahal dalam konsep kita takdir semua yang eksekusi siapa? Allah. Cuma kita enggak tahu eksekusinya bagaimana, nasib kita bagaimana. Enggak ada yang tahu itu rahasia Allah. Ya, karena kelaziman dari begitu kalau hanya sekedar mengetahui, berarti Allah tidak punya tasaruf, tidak punya tindakan dalam semesta. Hanya tahu doang. Itu apa faedahnya? Tuhan tidak demikian. Tuhan tuh dia yang mengatur, dia yang ngurusin, dia yang menentukan, dia yang semuanya. Jadi sebenarnya kita kalau enggak tunduk sama dalil kita akan kejebak. Kita harus tunduk aja sudah aturannya begini, percaya aja. Kenapa begini itu urusan la yus'alu amma yaf'alu? Jangan tanya Allah. Allah tidak ditanya terlalu tinggi kita enggak tahu. Tapi semua ini yang ngatur siapa? Allah. Dan kita punya berhak milih, kita punya kekuatan, kita bisa menentukan. Ada yang tidak bisa kita tentukan, ada yang bisa kita pilih. Ti yang kelima dilanjutkan jabariah ekstrem. Jabariah ada dua. Ada dua. Ada yang ekstrem, ada yang tidak ekstrem. Yang ekstrem dia mengatakan bahwasanya manusia tidak ada kudrah sama sekali. Dia hanya terpaksa gerakannya terpaksa. Ibarat buluh diterbangkan angin. Diterbangkan angin. Ibarat guru diterbang apa? Bulu diterbangkan apa? angin. Sehingga melazimkan semua yang terjadi adalah benar, adalah baik, baik dan benar karena ciptaan Allah. Karena ciptaan dan kehendak Allah. Nah, mereka yang dikafirkan. Kenapa dikafirkan? Ini sama seperti kaum musyrikin tadi. Karena me akhirnya mengakibatkan nonfungsi syariat. Apa? Nonfungsi apa? Syariat. Menonfungsikan. Karena kata mereka semua ini kehendak Allah. J. Semua kehendak Allah baik. ya sudah, enggak usah pakai syariat. Maka dan ini adalah kufur. Maka mereka kufur. Kenapa kufur? Karena menjadikan syariat tidak berlaku. Syariat tidak berlaku. Seperti tadi kaum musyrikin Arab. Musirin Arab mereka ngomong secara khusus spesifik tentang syirik dan pengharaman yang halal. Kalau ini semuanya semua yang kita lakukan ini semua kehendak Allah tunduk aja kamu. Kalau kamu kalau pengin meminum khamar, minum aja. Karena kamu minum khamar pun takdir Allah. Jangan lawan takdir, pasrah aja katanya. J repot. Jangan lawan takdir, pasrah aja. Kalau lagi pilih minum khamar, minum aja ya. Jangan lawan lawan tak takdir. Jangan lawan takdir ini. Jadi ee contohnya ya jika minum khamar, jika ingin minum khamar minum aja. Gak usah melawan apa? Takdir. Melawan takdir Allah. Saya bagikan pertanyaan Ibnu Taimiyah. qadar wahil amah fahr m amahya siapa yang menetapkan takdir kemudian berdalil berargumentasi dengan takdir tersebut untuk membatalkan menonfungsikan syariat perintah dan larangan fahuaal amah ybitilqadar maka ini lebih buruk daripada orang yang tetap menetapkan syariat menolak takdir seperti qadariah nonek ekstrem qadariah non ekstrem itu mereka menolak takdir kata Mereka e perbuatan manusia tidak Allah ciptakan, tapi mereka mengagungkan syariat. Halal haram tetap berlaku. Kalau ini sebaliknya mereka bilang semua takdir Allah tapi mereka menjadikan syariat tidak berfungsi bahkan menolak. W muttafaqun alaihi bainal muslimin. Perkara yang disepakati oleh kaum muslimin whairihim min ahlil milal bal jamiil khalqi. Ya. Dan ini disepakati oleh kaum muslim. Bahkan seluruh penganut agama menyetujui ini ya. bahwasanya orang yang menolak syariat tidak benar ya bilqadar sesungguhnya siapa yang beril dengan takdiram yufqinal makmur wal mahdur sehingga dengan takdir mereka tidak membedakan antara yang diperintahkan dilarang walmin wal kuffar tidak membedakan kaummin orang kafir ahli maksih pelaku ketaatan pelaku maksiat tidak ada bedanya lam ymin biahadin minar rasul maka berarti konsekuensinya tidak beriman kepada seorang pun daripada rasul karena rasul semuanya nya menyampaikan syariat ada halal haram ada yang diperintah ada yang dilarang kalau disamain semua ini enggak benar sama wala minal kutub dan orang yang menolak atau membatilkan, menonfungsikan syariat hakikatnya dia telah menolak seluruh kitab-kitab suci karena seluruh kitab suci menyeru kepada syariat wana indahu adam wa iblis sawa dan menurut dia seharusnya iblis dan sama saja sama-sama menjalankan takdir Allah Nuh wau sawa Nuh dan kaumnya sama-sama pasrah dengan takdir Allah gak ada bedanya. Wa Musa, Firaun sawa. Musa dan Firaun sama saja. Wasabi awalun kuffar Makkah sawa. Dan sabikul awalun, Muhajirin Anshar dan kaum orang-orang Makkah sama saja ya. Maka inilah kekufuran yang nyata. Karena kelaziman dari menyatakan kita ini enggak bisa berbuat apa seperti buluh yang berterbangan di udara berarti semuanya taat. Iblis sedang taat. Adam juga sedang taat. Abu Jahal juga taat karena sedang berjalan ditiup angin. Jangan dilawan. Ini kekufuran. Konsekuensinya dari sini ya. Berarti manusia terpaksa sehingga tidak berdosa. Manusia terpaksa tidak berdosa. Konsekuensi berikutnya ya. Ya. Ya. Dampaknya perhatikan dampaknya. Berarti yang pertama ee manusia terpaksa tidak berdosa, tidak dosa karena semuanya terpaksa. Tidak ada beda beda antara maksiat dan ketaatan. Justru semua maksiat adalah ketaatan. Karena semua maksiat atas takdir Allah. Ya. Kalau gitu syariat tidak perlu syariat dibuang. Karena syat itu memerintah. Ngapain perintah manusia yang manusia tidak bisa kerjakan? Sayaat tidak perlu karena tidak mungkin dikerjakan. Nah, kalau kita kalau kita tidak punya kemampuan apa-apa, Allah perintah ya main-main doang. Kita cuma kayak bulu terbang disuruh ke kiri kanan. Ayo kita cuma kayak bulu berterbangan. Terus syariat buat apa? Jadi syariat harus dibuang ya. Ini menunjukkan konsekuensi Allah suka dengan kemaksiatan dan seterusnya. Ini lebih parah daripada Yahudi Nasrani. Lebih parah dari Yahudi dan Nasrani. Karena Yahudi Nasrani masih mengangungkan syariat. Mereka masih punya syariat. Adapun kalau jabar ekstrem maka mereka tidak mengakui syariat. Karena kata mereka semuanya sesuai dengan takdir Allah Subhanahu wa taala. Adapun yang non ekstrem nonekstrem mereka tidak sampai membatalkan syariat. non ekstrem itu ee kata mereka manusia punya kudrah tapi tidak punya pengaruh. Sebenarnya mirip dengan yang ekstrem. Syariat tetap dijalankan. Sehingga yang nonek ekstrem tidak kafir. Ini tidak kafir. Beda dengan siapa beda ekstrem maka kafir. Yang ekstrem itu kafir. Yang nonek ekstrem tidak kafir. Ini bedanya. Kenapa mereka kafir? Karena mereka membuang syariat. Membuang syariat. Paham, Ibu-ibu? Paham tidak? Atau pusing? Pusing sudah takdir Tib. Kalau gitu kita lanjutkan. sudah berikutnya di antara yang menyimpang adalah Syiah Rafidah. Ini yang ke berapa? Yang keenam. [Musik] Syiah Rafidah mereka punya ee kaid apa namanya? Ee akidah al-bada. albada yaitu bada lillah yaitu bada lillah yaitu nampak bagi Allah kalau bahasa kita berarti melazimkan sebelumnya tidak nampak melazimkan sebelumnya Allah tidak tahu atau tidak nampak bagi Allah. Dan ini sebenarnya melazimkan kekufuran ya badalillah. Bada lillah. Ee bagaimana ini? Mereka keyakinan mereka rafidah. Mereka meyakini bahwasanya imam mereka yang 12 meyakini ilmu gaib. Tahu ilmu gaib? Jadi mereka mengangkat derajat para imam yang 12 lebih afdal daripada para rasul. Kalau kita baca dalam misalnya kitab alkafilul Qulai ini. Sifat imam begini, sifat imam begini. Di antara sifat-sifat para imam, mereka mengetahui ilmu yang ilmu gaib. Padahal Nabi sallallahu alaihi wasallam tidak tahu ilmu gaib. Hanya sebagian yang Allah kasih tahu. Kata mereka, para imam tahu ilmu gaib, tahu masa depan. Kemudian kata mereka, imam tersebut terkadang menyampaikan akan terjadi begini, menyampaikan terjadi tentang masa depan. Ketika imam tersebut meramal terjadi sesuatu, terjadi masa depan, ternyata tidak terjadi. Ini masalah. Kenapa tidak terjadi? Imam katanya kau bilang begini-begini. Kata imam tersebut, badalillah, kayaknya Allah punya ide lain. Itu maksudnya kayaknya enggak pas yang kemarin sudah saya kabarkan kayaknya badalillah nampak bagi Allah untuk merubah keputusannya. Ya namanya akidah bada ya. Dan ini juga merupakan apa? Kekufuran. Karena melazimkan berarti Allah tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Ini saya sudah jelaskan nukilan-nukilan dalam buku saya 33 banyolan akidah Syiah itu pada banyolan ke-16 akidah pada bab ke-16 tentang banyolan-banyolan akidah Syiah ya. Dan ada yang mengatakan bahwasanya akidah ini diambil dari Yahudi. Karena dalam kitab Taurat tadi sudah disebutkan dikatakan Allah menyesal. Allah menyesal berarti menaiknya berubah nih. Enggak enggak begini enggak pas. Allah menyesal. Tadi disebutkan Allah menyesal. Allah menyesal. Allah menyesal dalam tiga tempat. Ini mirip dengan bada. Kayaknya enggak pas Allah nyesal rubah rubah keputusan. Rubah keputusan. Maka ini adalah akidahnya Syiah Rafidah yang mengatakan akidatul bada bada lillah. Tampaknya Allah rubah keputusannya. Tayib. Ini sudah, Ibu-ibu. Sekarang saya akan singgung tentang tadi ada aljabiyah, jabariyah non ekstrem. Itulah akidahnya Asyairah. Sudah ini Tib tadi kita singgung tadi jawab dia tadi ada berapa, Ibu-ibu? Oh, belum. Baik. Tadi kita bilang Jebriyah ada berapa tadi? Ada dua. Yang pertama yang ekstrem. Ekstremnya kafir. Yang kedua nonek ekstrem. Non ekstrem. Di sini ini sebenarnya asalnya dari akidah Jahmiyah. Hanya saja Jaham bin Safwan tidak membatalkan syariat. Ya, yaitu secara logika manusia sama seperti bulu. Seperti bulu yang berterbangan ya. Hakikatnya sama seperti hakikatnya mirip ya. Saya saya bacakan. Jadi mereka mengatakan seperti akidahnya di antara contoh adalah alkasbul al-Asy'ari. Alkasb. Alkasb itu artinya usaha atau perbuatan. Jadi keyakinan mereka, keyakinannya begini. Manusia punya kdrah. Kudrah itu apa? Kemampuan atau kekuasaan. Yaitu kemampuan. Tetapi kdrahnya, sifatnya adalah hadisah baru. Karena dia makhluk, karena makhluk. Kemudian dia giriro muatrah, tidak punya pengaruh. Tidak punya pengaruh maksudnya tidak bisa menimbulkan sebab. Tidak punya pengaruh dalam artian tidak bisa menimbulkan akibat, tidak bisa berdampak akibat apapun. Ini manusia punya krah ee tapi dia haditah dia baru ya. Adapun kudrah Allah, adapun Allah ya kan kudrahnya azaliah. Kudrahnya azali dan satu-satunya kdrah yang bisa menimbulkan yang berdampak mereka. mengatakan hal ini disebabkan karena mereka menafsirkan ada sebab diafirkan lailahaillallah dengan la qodiral ik la qodir alal ikhtir illallah. Sehingga ketika mereka mengatakan demikian, mereka mengatakan siapa yang mengatakan bahwasanya manusia punya kdrah yang bisa punya pengaruh juga maka dia musyrik karena menganggap ada yang bisa berpengaruh selain kudrahnya Allah. Dari sini disimpulkan kesimpulan jika manusia punya kudrah yang berdampak, maka syirik. Karena lailahaillallah. Lailahaillallah maknanya adalah la qodiro alal ikhtira illallah. Itu tidak ada yang bisa membuat dampak dan tidak ada yang bisa menciptakan. Mencipta di antaranya membuat dampak kecuali Allah kecuali Allah. Ini ini ini kalau kita lailahaillallah artinya tidak ada yang berhak disembah kecuali siapa? Allah. Jadi mereka dalam sehingga mereka mengatakan tidak ada sebab menimbulkan akibat. Dari sini mereka punya akidah yang lain. Kata mereka tidak ada hukum sebab akibat. Sebab akibat pada makhluk. Karena tidak ada makhluk yang bisa menung akibat. Kapan makhluk bisa melakukan sesuatu berdampak berarti syirik. Sehingga mereka mengatakan kalau kita mukul kepala orang benjol dengan besi, bukan besi yang membuat kepalanya benjol, tetapi besi itu cuma tanda gitu nempel Allah ciptakan benjol. Jadi besi itu enggak bisa membenjolkan. Cuma tanda seperti apa? Seperti pelangi. Bukan sebab hujan. Cuma kalau hujan muncul tanda pela pelangi. Jadi mereka karena kata mereka mengatakan semua yang bisa menimbulkan sebab berarti syirik. Karena yang bisa menimbulkan akibat cuma siapa? Allah. Ini tentu secara panjang lebar ada pembahasannya. Cuma secara singkatnya ini kekeliruan. Makanya ketika dan Allah menyebut dalam Al-Qur'an banyak sebab. Kata Allah ya misalnya ee ee misalnya apa namanya? Allah menyebutkan tentang sebab ee air hujan menunjukkan memunculkan tumbuhan ya. Ya. Kata Allah, "Allahulladzi khalaqas samawati wal ard wa anzala minasama maan faakhroja bihi minsamarati rizq lakum." Allah yang turunkan apa? Hujan dari langit. Kemudian dari air hujan tersebut Allah tumbuhkan dengan air hujan tersebut tumbuh apa? Tuh tumbuhan. Berarti hujan merupakan sebab tumbuhnya apa? Pertumbuhan. Allah mengatakan akhrajna bihi. Ya, makanya Rasulullah suruh berusaha. Kenapa? Karena ada sebab akibat. Allah telah menciptakan potensi dalam sebab-sebab untuk menimbulkan akibat. Semuanya di izin Allah. Tapi Allah menciptakan apa? Poten potensi. Sama seperti apa? Api punya potensi membakar enggak? Punya. Makanya ketika Nabi Ibrahim dilempar ke api, api harusnya membakar. Tapi Allah perintah balik. Kata Allah, "Ya naru kuni bardan wasalam albam." Wahai Ibrahim, wahai api, jadilah dingin. Seandainya Allah tidak perintah api bakar atau tidak bakar. Yang membakar api Allah dengan letakkan potensi bakar pada api. Jadi kata mereka, makanan tidak bisa mengenyangkan, air minum tidak bisa menghilangkan rasa haus. Tidak ada yang menimbulkan apa akibat. Maka akidah ini sempat ditertawakan oleh mereka sendiri oleh karena namanya Aljuwaini. Alju ini salah seorang tokoh Asyairah yang kemudian dia dalam kitabnya Risalah Nidamiyah dia membantah ya bagi orang-orang yang menolak sebab akibat ya. Beliau mengatakan saya bacakan beliau berkata, "Rukun yang pertama tentang kudrah hamba dan pengaruhnya terhadap perbuatannya." Jamba itu punya kdrah dan punya pengaruh ya. Kalau tidak begitu maka repot syariat. Ya, kalau hamba ternyata punya kdrah tidak cuma nama doang kdrah, kekuasaan, tapi tidak bisa menimbul akibat, ngapain dia disuruh suruh oleh Allah? Disuruh ini, disuruh ini, tidak punya kdrah seperti bulu berterbangan. Kalau gitu, kalau itu kita perintahkan seorang yang tidak punya kdrah sama sekali omong kosong, makan kau, berdiri kau. Sebenarnya tidak bisa berdiri berarti kan hanya bualan aja. Eh, berdiri. Padahal dia enggak bisa berdiri. Ya, bergeraklah. Padahal tidak bisa bergerak. Dia hanya seperti bulu berterbangan. Maka ini kalau gitu syariat tidak bisa dibebankan kepada orang seperti ini. Hanya kita boleh sampaikan silakan berdiri kalau dia memang punya kemampuan untuk berdiri. Cuma dia mau berdiri atau tidak dia terserah dia. Cuma kemampuan dia untuk berdiri baru kita perintahkan dia untuk berdiri. Tapi kalau sejak awal tidak bisa berdiri kita bilang suruh berdiri ngapain kita perintah? Sehingga Aljuid ingin mengatakan manusia itu punya potensi punya kudrah yang punya pengaruh tentu atas izin Allah. Kalau dia tidak punya pengaruh sama sekali ngapain diperintah? Saya bacakan tentang kudru hamba dan pengaruhnya terhadap perbuatannya. Maka kami katakan bahwa telah tetap bagi setiap orang yang berakal dan telah bebas dari tahapan-tahapan takqlid dalam kaidah-kaidah itu. Kata dia, "Orang yang mengatakan tidak ada sebab akibat tu taklid. Takqlid buta. Bahwasanya Rabb subhanahu wa taala menuntut para hambanya untuk beramal dalam kehidupan mereka." Benar atau tidak? Allah suruh kita beramal enggak ya? Dan Allah menyuruh mereka untuk beramal serta memberi ganjaran jika mereka beramal dan hukuman jika mereka bermaksiat di akhirat. Dan telah jelas dalam nasas yang tidak bisa menerima takwil bahwasanya Allah telah memberikan mereka kemampuan untuk melakukan apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Makanya kalau tidak mampu Allah mengatakan la yuklifulahu nafsan illa usa'aha. Itu menunjukkan ada yang mereka mampu ada yang mereka tidak mampu. Kalau semua tidak mampu ya ngapain? Allah juga mengatakan fattaqulaha matatum. Bertakwalah semampu kalian. Berarti yang di luar kemampuan ya sudah dimaafkan. Tapi kalau tidak ada kemampuan sama sekali, buat apa syariat tidak mampu sama sekali? Dan Allah memberikan mereka kesempatan untuk menjalankan perintah Allah serta untuk mencegah diri dari hal-hal yang dilarang. Jika aku membacakan ayat-ayat yang menunjukkan akan hal ini tentu sangat panjang. Itu dalilnya sangat banyak. Nah, ini tidak perlu bagi orang yang berakal dengan adil. Kemudian berkata, "Siapa yang mengamati kitab-kitab suci yang di mana dalamnya ada banyak dalil yang menyeru kepada perbuatan-perbuatan mulia." semua kitab suci, Taurat, Injil, semuanya pasti ada perintah dan larangan. Ee demikian juga ada hukum-hukum H di balik itu dan juga ancaman-ancaman bagi yang melanggar, janji bagi yang bertaat. Ya. Ya. Apa yang di wajib diyakini berupa membenarkan para rasul tentang pengkabaran mereka mengenai hukuman yang akan menimpa para pembangkang dan orang-orang sombong, baik hisab maupun azab serta kesudahan yang buruk. Dan perkataan Allah kepada mereka pada hari kiamat, kenapa kalian melanggar apa dengan? Kenapa kalian bermaksiat membangkang? Allah akan hisab. Kenapa kalian melanggar? Kenapa kalian melanggar? Kalau mereka bilang, "Kami seperti bulu berterbangan. Kalau mereka seperti bulu berterbangan, mereka bisa bantah Allah. Ya gimana kami tidak melanggar. Kami hanyalah seperti bulu berterbangan, tidak punya kemampuan." Tapi padahal ee kata Allah lialla yakun Allah hujah. Para rasul diutus supaya manusia tidak punya hujah pada hari kiamat kelak. Ya. Sehingga beliau terakhir berkata, saya bacain kesimpulan, "Faman ahat bidzalika kullihi." Siapa yang mengerti ini semua bahwasanya Allah turunkan syariat memerintah, tidak Allah perintah karena kau punya kemampuan. Cuma kau taat atau tidak. Manusia bukan seperti bulu berterbangan di uda udara yang tidak punya kemampuan sama sekali. Siapa yang tahu ini semua? Kemudian dia masih ragu bahwasanya perbuatan hamba itu sesuai dengan kemauan mereka dan sesuai dengan ke apa dampak yang mereka lakukan. Wiarihim dan pilihan mereka dan kemampuan mereka fahua musobun fiqli. Orang yang masih mengingkari ini akalnya terganggu kata aljiwa ini mustakirun alqlidi. Mungkin akalnya tidak terung tapi ngeyel dalam taklid. Musimun ala jah tetap bertahan dalam kebodohannya. Siapa yang mengatakan manusia tidak punya kemampuan maka sebenarnya dia telah membatilkan syariat. Syariat percuma kalau gitu dan mendustakan apa yang Rasulullah perintahkan, para rasul perintahkan. Jadi intinya disebut dengan qadariah nonekstrem mereka tidak sampai kafir. Kenapa? Karena mereka masih menetapkan apa? syariat. Hanya saja mereka mengatakan secara teoritis mereka gak ada hukum sebab akibat. Tidak ada yang bisa menimbulkan akibat. Semua yang terjadi hanyalah tanda hanyalah tan tanda pukul kepala orang itu bukan besi tidak menjolkan kepala tapi tanda bakal benjol. Yang bikin benjol siapa? Allah. Adapun besi tidak punya potensi memonjolkan kepala. Makan kamu makan tidak mengenyangkan. Orang dibilang gini kan aneh ya. Makan ini mengenyangkan gak mengenyangkan. Yang mengenyangkan adalah Allah. Terus ini ya makan besi juga bisa mengenyangkan ya. Kita makan apa aja kali ya Allah bikin ada beda-beda karena potensi berbeda berbeda-beda. Kalau enggak apa bedanya kita makan besi sama makan nasi. Kenapa beda? Karena potensi nasi beda dengan potensi be besi. Kenapa kita buang potensi tersebut? Potensi tersebut yang taruh juga Allah. Jangan dinafikan. Jadi kalau kita ahlusunah, nasi potensi kenyang enggak? Potensi kenyang. Potensi tersebut yang ciptakan siapa? Allah. Jangan kita nafikan potensi tadi. Potensi tadi ada. Beda kalau mereka potensi enggak ada. Sudah nasi tidak menyebabkan apa? Kenyang. Ini kata kata Aljuwa ini musabun fi aqlihi. Akalnya enggak jalan ya. Ini perkataan Asyairah sendiri membantah mereka sendiri. Wallahuam bawab. Demikian saja. Subhanakallah wabihamdik asadu alalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.