Transcript
kqab29lgg_g • Syarah Rinci Rukun Iman #56: Penyimpangan Kelompok-Kelompok Dalam Takdir - Ust Dr. Firanda Andirja
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2602_kqab29lgg_g.txt
Kind: captions
Language: id
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah
wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala
alihi wasahbihi wa w ba'ad. Para hadirin
hadirat yang dirahmati Allah subhanahu
wa taala. Sebagaimana telah kita
jelaskan pada pertemuan-perteman
berikutnya
di mana al Imam Ahmad berkata, "Al-qadar
qudratullah." Bahwasanya takdir itu
justru menunjukkan kemahakuasaan Allah
Subhanahu wa taala. Kenapa? Karena
sebelum Allah menciptakan makhluknya,
Allah telah merencanakan, mencatat
dan memplanning dengan sempurna. Setelah
itu Allah eksekusi sehingga semua yang
terjadi yang Allah eksekusi tidak ada
yang keluar dari planning Allah
Subhanahu wa taala. Karena karena itu
hal ini takdir menunjukkan tentang
kudrah kemahakuasaan
Allah Subhanahu wa taala. ya ee maka
semua perkara yang
ee
menunjukkan
penyimpangan terhadap takdir yaitu
mengakibatkan atau berefek menunjukkan
keraguan terhadap kemampuan Allah
Subhanahu wa taala ya. Ya, berefek pada
keraguan terhadap kemampuan Allah
Subhanahu wa taala. Nah, pada kesempatan
kali ini ya kita akan menjelaskan
tentang kelompok-kelompok yang
menyimpang ya
yang menyimpang dalam masalah takdir
dalam ee masalah takdir.
di antaranya yang pertama ya
adalah golongan Yahudi ya Yahudi
dalam perjanjian lama yang termaktub
sekarang dalam Bibel ya tentunya kita
yakini bahwasanya
perjanjian lama telah banyak mengalami
perubahan ya Allah Subhanahu wa taala
berfirman, "Wasu hadum maukkiru bih."
Banyak yang mereka lupakan. Kata Allah
mereka lupa banyak hal ya. Kemudian juga
Allah menyebutkan
mimma kuntum tukfuna ya itu ada yang
mereka sembunyikan, ada yang tidak
semuanya mereka tampilkan, ada yang
mereka sembunyikan ya. Jadi ada yang
mereka lupakan, ada yang mereka
sembunyikan, ada yang mereka karang
sendiri. Seperti Allah Subhanahu wa
taala
kitab aidihimillah.
Di antara penyimbangan mereka terhadap
Taurat mereka karang sendiri. Mereka
karang sendiri. Ya, demikian juga ee apa
namanya?
ee mereka juga ya terkadang menafsirkan
dengan yang tidak sesuai ya. Ya.
Yuharifunal kalim mawadiihi. Mereka
merubah tafsir dari yang seharusnya.
Jadi saya ulangi, penyimpangan Yahudi
sebelumnya. Penyimpangan Yahudi
terhadap Taurat
ada empat sisi,
ya. Yang pertama adalah banyak yang
dilupakan. Banyak ayat yang mereka lupa.
Wasu mimukiru bih. Banyak ayat yang
mereka lupa.
Karena mereka enggak ada yang hafal apa?
Taurat. Jadi banyak yang lupa. Yang
kedua, tuhfuna. Mereka sembunyikan.
Ada yang mereka sembunyikan.
Seperti mereka pernah di hadapan Nabi
berusaha menyembunyikan air rajam.
Sembunyikan.
Kemudian yang ketiga adalah
ee
ayat-ayat mereka karang sendiri.
Yang mereka karang sendiri.
Allah sebutkan dalam Alquran,
"Celaka orang-orang yang menulis Alkitab
dengan tangan mereka."
Kata mereka ini dari Allah,
"Celaka atas apa yang mereka catat
mereka tuliskan." Fawaaksibun dan celaka
atas apa yang mereka kerjakan. Itu Allah
sebutkan mereka celaka sampai tiga kali.
Celaka, celaka, celaka karena berani
ngarang ayat sen sendiri.
Kemudian yang keempat merubah tafsir.
Yfunal kaliman mawadi ya merubah
menafsirkan dengan keliru. Menafsirkan
sengaja menafsirkan dengan keliru.
Ayat-ayat dengan
tafsiran yang salah.
Tafsir yang salah.
Makanya ee apa namanya? Untuk apa?
untuk dapat dunia. Untuk dapat dunia
mereka ngarang ayat dapat dunia mereka
rubah tafsir untuk dapat dunia. Makanya
ketika saya akan sampaikan sini Yahudi
menyimpang terdapat dalam Taurat ini
bukan berarti ee teks yang asli ini
pasti ada penyim penyimpangan ya. Pasti
ada penyimpangan. Di antaranya dalam
Taurat atau Bibel yang sekarang ya
di antaranya ya tentang takdir
ada dalam surat dalam kejadian pertama
kejadian
kitab kejadian 6 5 sampai 12 yaitu Tuhan
menyesal ya yaitu mereka menyatakan ee
Tuhan menyesal.
Bab, kalau Tuhan menyesal berarti dia
salah prediksi, enggak? Salah prediksi.
Kalau Tuhan menyesal berarti tidak
sesuai yang dia persangkakan, tidak yang
dia planningkan. Berarti tidak sempurna.
Makanya saya bilang tadi, siapa yang
tidak beriman kepada takdir sebagaimana
konsepnya agama Islam, maka dia pasti
mencoreng
ke maha kuasa siapa? Al. Karena di
antara bentuk maha kuasa sebelum Allah
menciptakan, Allah planningkan dulu.
Allah catat kemudian seketika Allah
eksekusi persis seperti yang Allah
rencanakan tidak ada perubahan sama
sekali. Rufiatil aklamati suhuf
bahwasanya pena sudah diangkat dan
lembaran sudah kering. Nah, kalau ada
pernyataan Allah menyesal berarti
menunjukkan tidak sesuai dengan yang
Allah prediksi.
Seperti dalam
kejadian 6 5 sampai 12 dikatakan ketika
dilihat Tuhan bahwa kejahatan manusia
besar di bumi dan bahwa segala
kecenderungan hatinya selalu membuahkan
kejahatan semata-mata. Dia ternyata
manusia jahat selalu condong kepada hawa
nafsunya. Maka menyesallah Tuhan.
Tuhan menyesal bahwa ia telah menjadikan
manusia di bumi. Terat dia menyesal
cipta manusia di bumi dan hal itu
memilukan hatinya. Berfirmanlah Tuhan,
"Aku akan menghapuskan manusia yang
telah kuciptakan itu dari muka bumi,
baik manusia maupun hewan dan
binatang-binatang melata dan
burung-burung di udara. Sebab aku
menyesal aku telah menjadikan mereka."
Sini Tuhan menyesal ciptakan manusia.
Allah menyesal
ciptakan manusia. Ternyata nakal-nakal
manusia.
Ya, tentunya.
Ee adapun dalam Al-Qur'an tidak. Memang
Nabi Adam Allah ciptakan di surga dan
Allah sudah bilang sama malaikat Allah
akan turunkan Nabi Adam di bumi
prosesnya dengan dia melanggar. Ini
semua sudah ditakdirkan oleh Allah
sesuai dengan planning Allah Subhanahu
wa taala. Tapi dalam ee konteks ee
Yahudi, Allah menyesal
salam.
Seperti juga dalam Samuel ya,
Samuel 1 15 sampai 11. Di situ
dikatakan, "Aku menyesal karena aku
telah menjadikan Saul raja sebab ia
telah berbalik daripada aku dan tidak
melaksanakan firmanku."
Maka hak sakit hatilah Samuel dan ia
bers kepada Tuhan semalam-malaman. Ya.
Jadi Allah di zaman Nabi Samuel
disebutkan Allah mengangkat raja namanya
Saul ya. Ternyata Allah menyesal
menjadikan Saul sebagai raja. Karena
ternyata Saul berubah, tidak beriman.
Kalau dalam istilah Islam, Tolut. Saul
ini apa? Tolud. Dan Allah puji thlut
luar biasa. Bagaimana?
Innallaha ba lakum ba thuta malikah.
Thauta Malikah. Allah jadikan Tulut
sebagai raja. Itu zaman Nabi Samuel.
Tapi di sini intinya Allah menyesal.
Sama juga dalam Samuel 2 24 sampai 16.
Intinya ketika malaikat mengajungkan
tangannya ke Yerusalem untuk
memusnahkannya, maka menyesalah Tuhan
karena malapetaka itu. Lalu ia berfirman
kepada malaikat yang mendatangkan
kemusahan kepada bangsa itu, "Cukup,
turunkan sekarang tanganmu." Jadi Allah
marah, Allah kirim malaikat untuk basmi
manusia.
Ya,
dikasih dikasih penyakit sampai banyak
mati di antara Bani Israil. Sampai
disebut 70.000 orang mati.
Ketika malaikat angkat tangan untuk
musnahkan. Jadi Allah kirim malaikat
untuk musnahkan apa? Bikin penyakit
orang Bani Israil. Bahkan mereka mati
puluhan ribu. Ketika malaikat ingin
matikan mereka lebih banyak lagi, maka
Allah bilang tahan. Allah menyesal.
Jadi ketika menyesal menunjukkan
bahwasanya Allah ketika mengeksekusi
tidak sesuai dengan planning. Dan ini
tentu celaan terhadap Allah Subhanahu wa
taala.
ee ini adalah Yahudi. Adapun Nasrani
tentu kita tidak mendapati nas jelas
dalam Injil, tapi orang Nasrani juga
meyakini Bible. Orang yakin juga
meyakini apa? Bible. Jadi kalau kita
bilang dalam Taurat salah versi mereka,
maka kesalahan itu juga akan diyakini
oleh orang-orang apa? Nasra.
Babara
kesalahan adalah ahli filsafat.
filsuf. Filsuf. Para filsuf.
Filsuf itu ahli filsafat.
Ya, kita ini sudah Ibu-ibu ya.
E belum?
Nanti di lembaran berikutnya.
Tib. Ee yang kedua tadi filsuf.
Para filsuf.
Filsuf. Para filsuf ada dua. Ada namanya
falasifatul Yunan, para filsuf Yunani.
Yang kedua ada falasifatul muslimin,
yaitu para filsuf dari kalangan kaum
muslimin. Para filsuf
kaum muslimin.
Adapun para filsuf Yunani yang terkenal
adalah misalnya Plato dan Aristoteles.
Ini terkenal Plat Aristoteles. Para
filsuf muslimin yang mereka mengambil
ilmu dari Plato Aristoteles. Di antara
kenal Al-Farabi
Al-Farabi
dan Ibnu Sina
atau dengan Afi Sena. Kalau mereka Afi
apa? Ai Sena.
Nah, pelato dari Soteles ketika mereka
berbicara Tuhan, mereka mengatakan
bahwasanya Tuhan itu hanya mengetahui
secara global, tidak mengetahui secara
detail. Ya. Dan ini kemudian ditiru oleh
Farabi dan Ibnu Sina. Dan saya sudah
nukil perkataan mereka dalam syarah
akidah wasitiyah. Mereka mengatakan
Allah hanya tahu
tentang makhluknya,
makhluk-makhluknya
dengan ilmu global.
Ilmu global atau mereka sebut dengan
al-ilmu alquulli.
Namun tidak tahu secara detail.
secara detail
yaitu alilmu tafsili
dan ini bertentangan dengan takdir. Jadi
kata mereka gampangannya Allah hanya
tahu ilmu kulli. Maksudnya begini,
maksudnya ilmu kulli misalnya alilmu
alkulli atau ilmu global
yaitu Allah hanya tahu secara kaidah.
Yaitu
Allah hanya tahu secara kaidah
tapi gak tahu secara detail. Hanya tahu
secara kaidah.
Contoh kaidah, contoh contoh misalnya
ee misalnya e sapi makan rumput misalnya
sapi itu makanannya apa? Rumput. Sapi
makan rumput karena dia adalah
herbivora. Allah tahu ini seperti ini.
Allah tahu. Terus misalnya anak
muncul setelah bapak. Iya. Enggak ada
enggak anak muncul sebelum bapak?
Anak muncul setelah apa?
Bapak misalnya ya,
misalnya ee anak adalah hasil pernikahan
lelaki dan wanita misalnya. Ini namanya
ilmu-ilmu global. Anak
adalah hasil
nikah
lelaki dan wanita.
Jadi ini disebut ilmu global. Tetapi
sapinya yang mana, rumput yang mana,
Allah enggak tahu. Allah hanya tahu
kaidah. Paham? kaidah atau aturan anak
muncul setelah bapak. Secara urutan anak
bapak dulu baru apa? Anak. Kemudian
secara atur aturan anak itu hasil
pernikahan antara seorang laki dan
seorang wa wanita. Tapi siapa sapinya,
apa rumputnya, siapa anaknya, siapa
bapaknya, Allah tidak tahu. Tentunya ada
syubhat di kepala mereka. Mereka saya
tidak ingin sampaikan itu masalah semua
sifat terlalu sulit ya. Tapi saya cuma
bilang ini melazimkan. melazimkan. Allah
tidak tahu apa-apa tentang makhluknya.
Allah tahu secara global. Padahal dalam
takdir Allah tahu kaidah, Allah juga
tahu siapa-siapanya. Allah tahu saya
seperti apa, saya sedang apa, saya nanti
bagaimana. Detail semua. Karena tidak
ada yang terjadi kecuali Allah telah
caat.
Dari sini mereka mengatakan ulama
membantah, berarti sapi lebih pintar
daripada Allah. Kenapa? Karena Allah
hanya tahu kaidah sapi makan rum rumput.
Tetapi Allah tidak tahu sapinya seperti
yang mana, rumputnya yang mana. Adapun
sapi sendiri tahu rumput yang mana dia
makan. Sapi tahu enggak rumput yang dia
makan?
Sapi tahu enggak rumput yang dia makan?
Tahu. Makanya dia makan kan ini rumput
jelek, rumput bagus, dia pilih rumput
bagus. Sehingga ilmu sapi lebih tinggi
daripada ilmu Allah. Mereka mengatakan
ilmi karena ada syubhat, syubhat masalah
pemikiran
sampai mengantarkan bahwasanya Allah
tidak tahu secara terperinci. Padahal
Allah berfirman,
"Tidak ada satu daun pun yang jatuh
kecuali Allah tahu." Kata Allah,
"Kau bicara terang-terang atau kau
sembunyikan. Allah tahu isi hati isi
hati kalian. Allah tahu gerak-gerak kita
secara detail. Jan gerakan dada pun
Allah tahu. Inahu alim btiur." Allah
mengatakan
Allah mengetahui penghinatan lirikan
mata dan apa yang di oleh dada. Semua
musha tidak ada satuan melata pun
kecuali Allah tanggung rezekinya. Allah
tahu di mana sarangnya. Allah tahu di
mana dia cari makan. Allah tahu semua.
Ini kata mereka Allah cuma tahu kaidah
sapi makan rumput. Ya, manusia itu e
begini cuma enggak tahu secara cuma ilmu
global.
Dan inilah kemudian gara-gara inilah
Al-Ghazali mengkafirkan Ibnu Sina.
Karena kelaziman dari Allah hanya ilmu
global, berarti makhluk lebih pintar
daripada Allah. Karena ada yang Allah
tidak tahu, saya tahu.
Allah hanya tahu bahwasanya
saya ee bahwasanya anak itu bahwasanya
anak adalah
hasil pernikahan dari suami dan is
istri. Tapi anaknya siapa? Suaminya
siapa? Istrinya saya enggak Allah enggak
tahu kenapa mereka begitu ada syubhat.
Tapi saya gak mau sampaikan ya. Khawatir
antum kena syub syubhat ya. Tapi ini
pembahasan kalau kita bahas asma sifat
secara runut baru kita bisa jelaskan.
Tapi ini di antara penyimpangan ahlat.
Makanya Allah berfirman, "Inna kullain
khalaqnahu biqadar." Segala sesuatu kami
telah ciptakan dengan takdir, dengan
ukuran. Tidak ada satupun yang keluar
dari takdir Allah Subhanahu wa taala.
segala sesuatu
detail-detail apapun ya Allah berfirman
eh waahu mafatihul gaibi yalama illahu
wa fil bar wal bahr wamuha
ya w habin ardin
ard ya dalam surat alam illa fi kitabi
mubin ya
kita bacain ayatnya sebentar
Dalam surat coba kita buka surat
Al-An'am ayat 59 ya Quran surah Al-An'am
59 saya bacakan waahumil gaibi illahu di
sisi Allah ada ilmu-ilmu gaib yang tidak
ada yang tahu kecuali fil bar wal bahr
Allah mengetahui seluruh yang di daratan
dan seluruh yang di lautan secara
terperinci Allah tahu semuanya
tidak ada daun yang jatuh yang sedang
jatuh Kecuali Allah tahu. W habulum ard.
Tidak ada satu biji pun dalam yang
tenggelam dalam tanah. Wbin wala yabisin
illa fi kitabi mubin. Tidak ada suatu
yang basah, tidak ada sesuatu yang
kering kecuali fi kitab mubin. Illa fi
kitabim mubin.
Kesuai semuanya telah tercatat di lauhil
mahfuz
di lauh mahfuz.
Ya semuanya saya ulangi.
Allah tahu semua yang di daratan lautan.
Contohnya tidak ada daun yang jatuh
kecuali Allah. Dalam saat ini ada berapa
daun jatuh? Mungkin banyak ribuan jutaan
daun sedang jatuh sekarang. Allah tahu
masing-masing daun tersebut. W habin
fulumatil ard. Tidak ada biji yang
ditanam dalam bumi. Orang tanam petani,
tanam biji kita tahu. Wala ratbin wala
yabisin. Tidak ada suatu yang basah,
tidak ada yang kering. Illa fi kitabin
mubin. Kecuali sudah tercatat di lauhil
mahfud. Maka pernyataan Ibnu Sina
bahwasanya Allah hanya tahu secara
global adalah kekufuran.
Itu di antara salah satu sebab kenapa
Al-Ghazali mengkafirkan Ibnu Sina. Ada
tiga sebab. Di antaranya satunya ini
Allah hanya tahu ilmu global. Di
antaranya Allah hanya membangkitkan ruh
tanpa jasad. Di antaranya dia mengatakan
alam itu azali bersama Allah.
Tib. Paham ibu-ibu?
Kita lanjutkan. Di antara yang
menyimpang adalah musyrikin Arab.
Tapi
kita lanjutkan
[Musik]
musyrikin Arab.
Musyrikin Arab
mereka menjadikan takdir, meyakini
takdir,
tapi menjadikan takdir
sebagai argumentasi untuk menyimpang,
untuk melanggar perintah Allah,
menyimpang.
melanggar perintah Allah,
melanggar syariat.
Contoh dalam surat Al-An'am, Quran surah
Al-An'am ayat 148.
Saya bacakan. Sayaqulululladzina asrqu
la Allahumma asrqna. Berkata orang-orang
musyrikin, "Kalau Allah berkehendak kami
tidak akan syirik." Kata mereka, "Lau
sya Allahu ma asyrokna."
Kalau Allah berkehendak kami tidak
syirik.
Yaitu mungkin mereka mengatakan syirik
itu kami syirik karena Allah mau kami
syirik. Kata mereka, "Kami syirik atas
kehendak Allah."
Dan kehendak Allah pasti baik, kata
mereka. "Ya, wala abauna wala haramna
minai." Demikian juga nenek moyang kami
tidak bakalan syirik dan kami tidak akan
mengharamkan yang halal sama sekali.
Allah bantah mereka. Kata Allah,
"Kadzalika kadzaballadina minqlim."
Demikianlah orang-orang sebelum mereka
telah mendustakan. Hattaquana sampai
akhirnya mereka merasakan azab kami.
Ya kata jadi mereka ingin menjadikan
dalil bahwasanya penyimpangan yang
mereka lakukan adalah takdir Allah
menyelesaikan. Jadi kalau gampangannya
ada dia syirik ah ini kan kehendak
Allah. Dia bunuh orang ini kehendak
Allah. Dia berzina ini kehendak apa?
Allah. Ini berbahaya karena melegalkan
maksiat dan melawan syariat. Melegalkan
maksiat melawan apa? syariat. Ya. Jadi
seakan mereka berkatakan berbuat syirik
atas kehendak Allah sehingga mereka
menegalkan kesyirikan. Dan ini juga
disebutkan dalam ayat yang lain Quran
surah An-Nahl ayat 35.
Saya bacakan kata Allah subhanahu wa
taala waqalladzina asrakuqu la Allahu ma
abna min duni minai. Berkata orang-orang
musyrik, "Kalau Allah berkehendak maka
kami tidak akan menyembah selain Allah.
Dannen nenek moyang kami pun tidak akan
membias selain Allah.
Kami tidak mengharamkan apapun yang
Allah halalkan.
Demikianlah perbuatan orang sebelum
mereka.
Demikianlah tidak ada kewajiban bagi
para rasul kecuali hanya menyampaikan
dengan jelas. Ya sudah mereka disuruh
beriman mereka ngeyal. Kata mereka kami
syirik pun atas kehendak siapa? Allah.
Dan ini kekufuran. Kenapa? Perhatikan.
Melazimkan
melazimkan pertama melegalkan keharaman.
melegalkan keharaman
atau kesyirikan
dengan alasan takdir.
Yang kedua,
membatalkan atau membatalkan syariat,
menonfungsikan syariat.
Nah, kalau semua alasan takdir, akhirnya
semua akan
melanggar syariat. Kita gini karena
takdir Allah, kita zina, takdir Allah,
kita rampok, karena takdir Allah, kita
korupsi, karena takdir Allah, kita
syirik karena takdir Allah durhaka sama
orang tua takdir Allah. Ini enggak
boleh. Sudah kita jelaskan untuk takdir
jika digunakan dalil untuk melegakan
melegalkan keharam maka ini hukumnya
haram. Tapi kalau maksudnya adalah untuk
bertobat menyesal maka ini boleh.
Seorang ya sudah qadarullah saya salah
kemarin menyesal sehingga ini sudah
takdir Allah sudah ini kemudian dalam
rangka untuk penyesalan tobat maka boleh
seorang beril dengan tak takdir.
Sebagaimana Adam alaihi salam kalah
mengalahkan debatnya Nabi Musa Alaih
Salam. Kata Adam, "Atalumuni,
wahai Musa, kau ingin mencela aku pada
perkara yang sudah Allah takdirkan
50.000 tahun seb menciptakan langit dan
bumi." Ini sudah takdir saya akan makan
buah yang dilarang kemudian turun ke
atas muka muka bumi. Sudah takdir ya.
Tapi bukan Nabi Adam melegalkan hal-hal
tersebut. Makanya ketika dia makan buah
tersebut dia menyesal. Bahkan dia
berdoa, "Rabbanaamna anfusana waam
tagfirana khin." Ketika dia makan itu
tahu dia bersalah, maka dia minta ampun
dan Allah hukum dia. Dia tidak bilang,
"Ya Allah, kan kau sudah rencana saya
turun di atas muka bumi, saya pasti
makan dong." Enggak. Tapi dia tetap
menggai kesalahannya. Ketika Nabi Musa
mendebat dia, dan dia sudah bertobat.
Ini yang kemudian Adam Alaihi Salam
membela diri mengatakan, "Kau mencela
saya wahai cucuku sementara kau mencela
aku dengan kejadian yang sudah Allah
takdirkan. Saya akan makan dari buah
tersebut dan saya akan tu turun. Jadi
kita katakan berdalil dengan takdir.
Kalau untuk maksiat tidak boleh. Apalagi
untuk membatalkan syariat,
menonfungsikan syariat. Untuk melegalkan
maksiat maka ini tidak boleh. Tapi kalau
untuk tobat boleh.
Ini musyrikin Arab.
Sudah ibu-ibu paham? Jadi kita kembali
ulangi berdalil dengan takdir
haram
jika
untuk apa? Melegalkan apa? Melegalkan
maksiat.
Boleh
jika
telah tobat.
Bukan untuk mendukung mak, tapi telah
tobat mengakui kesalahan. Telah tobat
yaitu mengakui kesalahan.
Mengakui kesalahan.
Ada orang musyrikin Arab mereka ingin
melegalkan kesyirikan mereka. Maka
tentunya ini merupakan kekufuran.
Ya, ini penyimpangan dalam takdir. Dan
sudah kita jelaskan bahwasanya takdir
itu rahasia Allah Subhanahu wa taala.
Terkadang Allah mentakdirkan suatu yang
buruk karena ada sesuatu di balik itu.
Seperti Allah mentakdirkan
adanya iblis. Karena di balik adanya
iblis ada banyak maslahat ya. Seperti
adanya jihad, adanya dakwah, adanya
surga dan neraka. Kalau enggak ada
iblis, enggak ada neraka. Cuma surga
doang. Kalau enggak ada iblis, enggak
ada jihad. Kalau enggak ada iblis,
enggak ada dakwah. Kalau enggak ada
iblis, semua baik-baik. Padahal Allah
ingin ciptakan bumi sebagai darul
ibtila. Sebagai tempat untuk apa? Uji.
Ujian. Kalau ujian harus ada iblis.
Kalau enggak ada iblis selesai cerita.
Enggak ada. Maka ini rahasia Allah
Subhanahu wa taala.
Ini yang ketiga. Sekarang yang keempat.
Ibu-ibu
sudah belum?
Kalau ada ibu-ibu misalnya ditelepon
sama penelepon asing terus suruh
transfer
kemudian dibilang ada jual tas branded
kemudian bayar Rp20 juta, ternyata
bodong.
Terus suaminya marah-marah, "Kamu itu
makanya cek-cek dulu." Terus sang istri
bilang, "Qadarullah."
Benar atau salah, Ibu-ibu? Hah? Coba
dulu.
Ada kasus nih seorang wanita dibohongin.
Dia masuk
aplikasi-aplikasi dilihat ada harga tas
branded biasanya Rp40 juta ternyata jual
20 misalnya. Terus dia masing-masing
proses ternyata barangnya tidak tidak
ada. Saya lapor sama suaminya nangis ya.
Terus suaminya bilang kamu nih kenapa
dia bilang qadarul qadarullah. Boleh
atau tidak?
Boleh atau tidak? Ya bolehlah. Memang
takdir. Tapi jangan bilang saya enggak
salah. Sudah takdir ya. Saya menyesal
minta maaf qadarullah saya ketipu. Itu
boleh. Tapi Abi kok marah-marah sudah
takdir lah duit Abi. Kalau duit kamu
sendiri gak apa-apa.
Kalau duit saya ya saya marah ya kamu.
Makanya jangan teledor ya. Jadi kalau
dia minta maaf ee bilang tak qadarullah
karena untuk membenarkan apa yang dia
lakukan itu enggak boleh. Tapi kalau
datang menyesal, maafin bi qadarullah,
ya okelah itu berarti dia minta uzur
qadarullah. Dia sudah salah mengakui
apa? Kesalahan. Jadi beda. Orang
musyrikin ini mereka beril dengan takdir
untuk melegalkan kesyirikan mereka,
untuk ngeyel dengan kesyirikan mereka.
Kata Nabi, "Jangan syirik." Kata mereka,
"La Allahumma asrqna." Kalau Allah
berkehendak kami gak bakalan syirik.
Berarti kami syiriknya Allah yang punya
mau. Ya sudah, kita jalani kemauan
Allah. Nah, ini namanya melegalkan
kemaksiatan. Ini enggak boleh.
Kalau sampai pada penghalalan syariat,
maka sampai pada kekufuran.
Bab yang berikutnya yang juga menyimpang
dan ini sampai pada kekufuran juga
qadariah ekstrem. Ini semua kesalahan
sampai pada kekufuran
ya. Yang berikutnya qadarah ekstrem
yaitu gulat al-Qadariyah.
Qadariah ada dua, ada yang gulat, ada
yang tidak gulat. Ya, jadi qadariah
nanti mungkin kita bahas secara khusus
ya singgul aja di sini. Qadariah
ada dua, yang ekstrem,
yang tidak ekstrem.
Kalau yang ekstrem dia mereka mengatakan
Allah
tidak tahu apa-apa.
Sebelum
mencipta
Allah baru tahu kalau sudah terjadi.
Kata mereka alamru unuf.
Unuf.
Alamru unuf.
Al amru unf itu perkara baru. Jadi Allah
ciptakan nanti ada begini, oh Allah di
luar. Allah enggak tahu sama sekali.
Allah hanya tugasnya menciptakan.
Setelah itu Allah lihat begini begini
ternyata begini ternyata begini. Allah
tidak tidak tahu. Kalau yang tidak
ekstrem mereka mengatakan Allah tahu
semua
apa yang terjadi.
Hanya saja
manusia Allah ciptakan manusia adalah
makhluk
sementara perbuatannya bukan makhluk.
Dan ini ini mereka mengingkari khal
ibad. Kalau kita ahlusunah
semua selain Allah adalah makhluk
yang bukan makhluk cuma khaliq cuma
Allah subhan selain Allah apa? Alam
semesta, hewan, burung semua adalah
makhluk. Kita adalah manusia makhluk dan
semua perbuatan kita juga makhluk. Ini
ahlusunah. Mereka punya syubhat. Kata
mereka, "Enggak, manusianya makhluk,
perbuatannya bukan makhluk." Kenapa
mereka punya syubhat? Itu kadarnya yang
tidak ekstrem. Kalau ini kafir, yang ini
kafir,
ini tidak kafir.
Hanya ahlul bidah ya. Tapi tidak kafir.
Karena mereka masih menetapkan Allah
mengetahui segala sesuatu. Hanya saja
tidak semua ciptaan Allah Subhanahu wa
taala. Tib qadar ekstrem inah yang
pernah kita singgung yaitu Alma'bad.
Ma'bad Aljuhani yang dia hidup di zaman
Ibnu Umar dari Basrah ya. Dia mengatakan
Allah hanya baru tahu setelah ter
terjadi. Ya
sebabnya dia begini karena terlalu
berdalam-dalam tentang takdir. Terlalu
berdalam-dalam tentang takdir.
Menggunakan akalnya sampai pada ranah
yang tidak boleh dia pikirkan. Sehingga
menurut dia logikanya kalau Allah sudah
tahu dulu terus Allah ciptakan ini
gimana ini nanti enggak adil enggak anu
ya sudahlah berarti Allah tidak tahu.
Supaya kita bilang Allah adil berarti
Allah tidak tahu apa yang ter terjadi.
Tapi kalau Allah sudah tahu kayaknya
enggak adil. Jadi dia masuk pada ranah
yang di luar gak boleh.
Dia memikirkan suatu yang tidak tidak
boleh. Dia merasa kalau dia bilang Allah
tidak tahu berarti dia akan menetapkan
keadilan. Tapi dia lupa bahwasanya
ketika dia bilang Allah tidak tahu
berarti Allah bahlul.
Berarti Allah tidak sempurna. Berarti
Allah tidak tahu apa yang akan dia
kerjakan. Berarti Allah tidak tahu masa
de depan. Dan ini tidak pantas jadi
Tuhan. Jadi ingin lari dari sesuatu
terjunut pada sesuatu yang yang lain.
Makanya disebutkan ketika
ee seorang bertanya kepada Umar, mereka
yataqaruna fil ilm. Mereka ini
berlebih-lebihan dalam ilmu. Jadi
membahas terlalu berdalam berlebihan.
Makanya Rasul sahu alaihi wasallam ee
mengatakan ukiralqaramsiku. Kalau
disebut tentang takdir, maka tahan diri.
Jangan berdalam-dalam di luar daripada
ranah Al-Qur'an dan sunah. Karena kalau
berdalam-dalam di luar ranah Al-Qur'an,
sunah, akhirnya ujungnya tadi. Berarti
Allah tidak tahu. Terjadi baru Allah
tahu. Ini adalah kekufuran. Makanya Ibnu
Umar berkata, "Ahahumun."
Jika engkau bertemu dengan mereka,
sampaikan kabarkan kepada mereka
bahwasanya saya Ibnu Umar berlepas dari
mereka
dan mereka berlepasti dari saya.
Kalau salah seorang dari mereka punya
emas sebesar gunung Uhud kemudian
diinfakkan di jalan Allah maka dan
mereka tidak beriman dengan takdir tidak
akan diterima oleh Allah subhanahu wa
taala. Hanya diterima jika mereka
beriman kepada takdir.
[Musik]
Ini namanya qadariah ekstrm.
Yang ke berapa tadi? Yang keempat.
Yang kelima Jabariyah. Ya.
Tib. Ini sudah
belum ya?
Contoh qadariah tidak ekstrem,
sederhana. Seperti ada yang
menganalogikan
manusia seperti makhluk,
ee manusia seperti murid, Allah seperti
guru. Kata dia,
si guru tahu tentang murid-murid. Si
guru tahu nanti kasih ujian dia tahu si
murid ini yang juara satu, yang ini
juara dua, yang ini tinggal kelas karena
dia tahu kemampuan mereka. Terus ketika
ujian ternyata benar.
Ini seakan-akan contoh yang benar, tapi
ini salah. Karena berarti apa? Perbuatan
murid-murid gak ada urusan dari guru.
Guru hanya sekedar mengetahui.
Padahal dalam konsep kita takdir semua
yang eksekusi siapa? Allah. Cuma kita
enggak tahu eksekusinya bagaimana, nasib
kita bagaimana. Enggak ada yang tahu itu
rahasia Allah. Ya,
karena kelaziman dari begitu kalau hanya
sekedar mengetahui, berarti Allah tidak
punya tasaruf, tidak punya tindakan
dalam semesta. Hanya tahu doang. Itu apa
faedahnya? Tuhan tidak demikian. Tuhan
tuh dia yang mengatur, dia yang
ngurusin, dia yang menentukan, dia yang
semuanya.
Jadi sebenarnya kita kalau enggak tunduk
sama dalil kita akan kejebak. Kita harus
tunduk aja sudah aturannya begini,
percaya aja. Kenapa begini itu urusan la
yus'alu amma yaf'alu? Jangan tanya
Allah. Allah tidak ditanya terlalu
tinggi kita enggak tahu. Tapi semua ini
yang ngatur siapa? Allah. Dan kita punya
berhak milih, kita punya kekuatan, kita
bisa menentukan. Ada yang tidak bisa
kita tentukan, ada yang bisa kita pilih.
Ti yang kelima dilanjutkan
jabariah ekstrem.
Jabariah ada dua.
Ada dua.
Ada yang ekstrem,
ada yang tidak ekstrem.
Yang ekstrem dia mengatakan bahwasanya
manusia
tidak ada
kudrah sama sekali.
Dia hanya terpaksa gerakannya terpaksa.
Ibarat
buluh diterbangkan angin.
Diterbangkan angin.
Ibarat guru diterbang apa? Bulu
diterbangkan apa? angin. Sehingga
melazimkan
semua yang terjadi adalah benar,
adalah baik,
baik dan benar karena ciptaan Allah.
Karena
ciptaan dan kehendak Allah.
Nah, mereka yang dikafirkan. Kenapa
dikafirkan? Ini sama seperti kaum
musyrikin tadi. Karena me akhirnya
mengakibatkan
nonfungsi syariat. Apa? Nonfungsi apa?
Syariat.
Menonfungsikan.
Karena kata mereka semua ini kehendak
Allah. J. Semua kehendak Allah baik. ya
sudah, enggak usah pakai syariat. Maka
dan ini adalah kufur. Maka mereka kufur.
Kenapa kufur? Karena menjadikan syariat
tidak berlaku.
Syariat tidak berlaku.
Seperti tadi kaum musyrikin Arab.
Musirin Arab mereka ngomong secara
khusus spesifik tentang syirik dan
pengharaman yang halal. Kalau ini
semuanya semua yang kita lakukan ini
semua kehendak Allah tunduk aja kamu.
Kalau kamu kalau pengin meminum khamar,
minum aja.
Karena kamu minum khamar pun takdir
Allah. Jangan lawan takdir, pasrah aja
katanya.
J repot. Jangan lawan takdir, pasrah
aja. Kalau lagi pilih minum khamar,
minum aja ya. Jangan lawan lawan tak
takdir. Jangan lawan takdir
ini. Jadi ee contohnya ya
jika minum khamar, jika ingin minum
khamar
minum aja.
Gak usah melawan apa? Takdir.
Melawan takdir Allah.
Saya bagikan pertanyaan Ibnu Taimiyah.
qadar wahil amah fahr m amahya siapa
yang menetapkan takdir kemudian berdalil
berargumentasi dengan takdir tersebut
untuk membatalkan menonfungsikan syariat
perintah dan larangan fahuaal amah
ybitilqadar maka ini lebih buruk
daripada orang yang tetap menetapkan
syariat menolak takdir
seperti qadariah nonek ekstrem qadariah
non ekstrem itu mereka menolak takdir
kata Mereka e perbuatan manusia tidak
Allah ciptakan, tapi mereka mengagungkan
syariat. Halal haram tetap berlaku.
Kalau ini sebaliknya mereka bilang semua
takdir Allah tapi mereka menjadikan
syariat tidak berfungsi bahkan menolak.
W muttafaqun alaihi bainal muslimin.
Perkara yang disepakati oleh kaum
muslimin whairihim min ahlil milal bal
jamiil khalqi. Ya. Dan ini disepakati
oleh kaum muslim. Bahkan seluruh
penganut agama menyetujui ini ya.
bahwasanya orang yang menolak syariat
tidak benar ya
bilqadar sesungguhnya siapa yang beril
dengan takdiram yufqinal makmur wal
mahdur sehingga dengan takdir mereka
tidak membedakan antara yang
diperintahkan dilarang walmin wal kuffar
tidak membedakan kaummin orang kafir
ahli maksih pelaku ketaatan pelaku
maksiat tidak ada bedanya lam ymin
biahadin minar rasul maka berarti
konsekuensinya tidak beriman kepada
seorang pun daripada rasul karena rasul
semuanya nya menyampaikan syariat ada
halal haram
ada yang diperintah ada yang dilarang
kalau disamain semua ini enggak benar
sama wala minal kutub dan orang yang
menolak atau membatilkan, menonfungsikan
syariat hakikatnya dia telah menolak
seluruh kitab-kitab suci karena seluruh
kitab suci menyeru kepada syariat wana
indahu adam wa iblis sawa dan menurut
dia seharusnya iblis dan sama saja
sama-sama menjalankan takdir Allah Nuh
wau sawa Nuh dan kaumnya sama-sama
pasrah dengan takdir Allah gak ada
bedanya. Wa Musa, Firaun sawa. Musa dan
Firaun sama saja. Wasabi awalun kuffar
Makkah sawa. Dan sabikul awalun,
Muhajirin Anshar dan kaum orang-orang
Makkah sama saja ya. Maka inilah
kekufuran yang nyata. Karena kelaziman
dari menyatakan kita ini enggak bisa
berbuat apa seperti buluh yang
berterbangan di udara berarti semuanya
taat. Iblis sedang taat. Adam juga
sedang taat. Abu Jahal juga taat karena
sedang berjalan ditiup angin. Jangan
dilawan.
Ini kekufuran.
Konsekuensinya dari sini ya.
Berarti manusia terpaksa sehingga tidak
berdosa. Manusia terpaksa tidak berdosa.
Konsekuensi berikutnya ya. Ya. Ya.
Dampaknya perhatikan dampaknya.
Berarti yang pertama
ee manusia terpaksa tidak berdosa,
tidak dosa karena semuanya terpaksa.
Tidak ada beda
beda antara
maksiat
dan ketaatan.
Justru semua maksiat adalah ketaatan.
Karena semua maksiat atas takdir Allah.
Ya.
Kalau gitu syariat tidak perlu syariat
dibuang.
Karena syat itu memerintah. Ngapain
perintah manusia yang manusia tidak bisa
kerjakan? Sayaat tidak perlu karena
tidak mungkin dikerjakan.
Nah, kalau kita kalau kita tidak punya
kemampuan apa-apa, Allah perintah ya
main-main doang. Kita cuma kayak bulu
terbang disuruh ke kiri kanan. Ayo kita
cuma kayak bulu berterbangan. Terus
syariat buat apa? Jadi syariat harus
dibuang ya.
Ini menunjukkan konsekuensi Allah suka
dengan kemaksiatan dan seterusnya. Ini
lebih parah daripada Yahudi Nasrani.
Lebih parah
dari Yahudi dan Nasrani.
Karena Yahudi Nasrani masih
mengangungkan syariat. Mereka masih
punya syariat. Adapun kalau jabar
ekstrem maka mereka
tidak mengakui syariat. Karena kata
mereka semuanya sesuai dengan takdir
Allah Subhanahu wa taala.
Adapun yang non ekstrem nonekstrem
mereka tidak sampai membatalkan syariat.
non ekstrem itu
ee kata mereka manusia punya kudrah
tapi tidak punya pengaruh. Sebenarnya
mirip dengan yang ekstrem.
Syariat tetap dijalankan.
Sehingga yang nonek ekstrem tidak kafir.
Ini tidak kafir.
Beda dengan siapa beda ekstrem maka
kafir. Yang ekstrem itu kafir. Yang
nonek ekstrem tidak kafir. Ini bedanya.
Kenapa mereka kafir? Karena mereka
membuang syariat. Membuang syariat.
Paham, Ibu-ibu?
Paham tidak?
Atau pusing? Pusing sudah takdir
Tib. Kalau gitu kita lanjutkan.
sudah
berikutnya di antara yang menyimpang
adalah Syiah Rafidah.
Ini yang ke berapa? Yang keenam.
[Musik]
Syiah Rafidah mereka punya ee kaid apa
namanya? Ee akidah al-bada.
albada yaitu bada lillah yaitu bada
lillah yaitu
nampak bagi Allah kalau bahasa kita
berarti melazimkan sebelumnya tidak
nampak melazimkan
sebelumnya Allah tidak tahu
atau tidak nampak bagi Allah.
Dan ini sebenarnya melazimkan kekufuran
ya
badalillah.
Bada lillah.
Ee bagaimana ini? Mereka keyakinan
mereka rafidah. Mereka meyakini
bahwasanya imam mereka yang 12 meyakini
ilmu gaib. Tahu ilmu gaib?
Jadi mereka mengangkat derajat para imam
yang 12 lebih afdal daripada para rasul.
Kalau kita baca dalam misalnya kitab
alkafilul Qulai ini. Sifat imam begini,
sifat imam begini. Di antara sifat-sifat
para imam, mereka mengetahui ilmu yang
ilmu gaib. Padahal Nabi sallallahu
alaihi wasallam tidak tahu ilmu gaib.
Hanya sebagian yang Allah kasih tahu.
Kata mereka, para imam tahu ilmu gaib,
tahu masa depan.
Kemudian kata mereka, imam tersebut
terkadang menyampaikan akan terjadi
begini, menyampaikan terjadi tentang
masa depan.
Ketika imam tersebut meramal terjadi
sesuatu, terjadi masa depan, ternyata
tidak terjadi. Ini masalah.
Kenapa tidak terjadi? Imam katanya kau
bilang begini-begini. Kata imam
tersebut, badalillah, kayaknya Allah
punya ide lain.
Itu maksudnya kayaknya enggak pas yang
kemarin sudah saya kabarkan kayaknya
badalillah nampak bagi Allah untuk
merubah keputusannya.
Ya namanya akidah bada ya. Dan ini juga
merupakan apa? Kekufuran. Karena
melazimkan berarti Allah tidak tahu apa
yang terjadi sebelumnya. Ini saya sudah
jelaskan nukilan-nukilan dalam buku saya
33 banyolan akidah Syiah itu pada
banyolan ke-16
akidah pada bab ke-16 tentang
banyolan-banyolan akidah Syiah ya.
Dan ada yang mengatakan bahwasanya
akidah ini diambil dari Yahudi. Karena
dalam kitab Taurat tadi sudah disebutkan
dikatakan Allah menyesal. Allah menyesal
berarti menaiknya berubah nih. Enggak
enggak begini enggak pas. Allah
menyesal. Tadi disebutkan Allah
menyesal. Allah menyesal. Allah menyesal
dalam tiga tempat. Ini mirip dengan
bada. Kayaknya enggak pas Allah nyesal
rubah rubah keputusan. Rubah keputusan.
Maka ini adalah akidahnya Syiah Rafidah
yang mengatakan akidatul bada bada
lillah. Tampaknya Allah rubah
keputusannya.
Tayib.
Ini sudah, Ibu-ibu.
Sekarang saya akan singgung tentang
tadi ada aljabiyah, jabariyah non
ekstrem. Itulah akidahnya Asyairah.
Sudah ini Tib tadi kita singgung tadi
jawab dia tadi ada berapa, Ibu-ibu?
Oh, belum.
Baik. Tadi kita bilang Jebriyah
ada berapa tadi? Ada dua. Yang pertama
yang ekstrem.
Ekstremnya kafir.
Yang kedua nonek ekstrem.
Non ekstrem.
Di sini ini sebenarnya asalnya dari
akidah Jahmiyah. Hanya saja Jaham bin
Safwan tidak membatalkan syariat. Ya,
yaitu secara logika manusia sama seperti
bulu. Seperti bulu yang berterbangan ya.
Hakikatnya sama seperti hakikatnya mirip
ya. Saya saya bacakan. Jadi mereka
mengatakan seperti akidahnya di antara
contoh adalah alkasbul al-Asy'ari.
Alkasb. Alkasb itu artinya usaha atau
perbuatan.
Jadi keyakinan mereka, keyakinannya
begini.
Manusia
punya kdrah.
Kudrah itu apa? Kemampuan atau
kekuasaan. Yaitu kemampuan.
Tetapi kdrahnya, sifatnya adalah hadisah
baru. Karena dia makhluk, karena
makhluk.
Kemudian dia giriro muatrah,
tidak punya pengaruh. Tidak punya
pengaruh maksudnya tidak bisa
menimbulkan sebab. Tidak punya pengaruh
dalam artian tidak bisa menimbulkan
akibat, tidak bisa berdampak akibat
apapun.
Ini manusia punya krah
ee tapi dia haditah
dia baru ya.
Adapun kudrah Allah,
adapun Allah
ya kan
kudrahnya
azaliah.
Kudrahnya azali
dan satu-satunya kdrah
yang bisa menimbulkan yang berdampak
mereka. mengatakan hal ini disebabkan
karena mereka menafsirkan ada sebab
diafirkan lailahaillallah dengan la
qodiral ik la qodir alal ikhtir
illallah.
Sehingga ketika mereka mengatakan
demikian, mereka mengatakan siapa yang
mengatakan bahwasanya manusia punya
kdrah yang bisa punya pengaruh juga maka
dia musyrik karena menganggap ada yang
bisa berpengaruh selain kudrahnya Allah.
Dari sini disimpulkan
kesimpulan
jika
manusia punya kudrah
yang berdampak,
maka syirik.
Karena lailahaillallah.
Lailahaillallah
maknanya adalah la qodiro alal ikhtira
illallah.
Itu tidak ada yang bisa membuat dampak
dan tidak ada yang bisa menciptakan.
Mencipta di antaranya membuat dampak
kecuali Allah
kecuali Allah.
Ini ini ini kalau kita lailahaillallah
artinya tidak ada yang berhak disembah
kecuali siapa? Allah. Jadi mereka dalam
sehingga mereka mengatakan tidak ada
sebab menimbulkan akibat. Dari sini
mereka punya akidah yang lain. Kata
mereka tidak ada
hukum sebab akibat.
Sebab akibat pada makhluk.
Karena tidak ada makhluk yang bisa
menung akibat.
Kapan makhluk bisa melakukan sesuatu
berdampak berarti syirik.
Sehingga mereka mengatakan
kalau kita mukul kepala orang benjol
dengan besi, bukan besi yang membuat
kepalanya benjol, tetapi besi itu cuma
tanda gitu nempel Allah ciptakan benjol.
Jadi besi itu enggak bisa membenjolkan.
Cuma tanda seperti apa? Seperti pelangi.
Bukan sebab hujan. Cuma kalau hujan
muncul tanda pela pelangi. Jadi mereka
karena kata mereka mengatakan semua yang
bisa menimbulkan sebab berarti syirik.
Karena yang bisa menimbulkan akibat cuma
siapa? Allah. Ini tentu secara panjang
lebar ada pembahasannya. Cuma secara
singkatnya ini kekeliruan. Makanya
ketika dan Allah menyebut dalam
Al-Qur'an banyak sebab. Kata Allah ya
misalnya ee
ee misalnya apa namanya? Allah
menyebutkan tentang sebab ee air hujan
menunjukkan memunculkan tumbuhan ya. Ya.
Kata Allah, "Allahulladzi khalaqas
samawati wal ard wa anzala minasama maan
faakhroja bihi minsamarati rizq lakum."
Allah yang turunkan apa? Hujan dari
langit. Kemudian dari air hujan tersebut
Allah tumbuhkan dengan air hujan
tersebut tumbuh apa? Tuh tumbuhan.
Berarti hujan merupakan sebab tumbuhnya
apa? Pertumbuhan. Allah mengatakan
akhrajna bihi. Ya, makanya Rasulullah
suruh berusaha. Kenapa? Karena ada sebab
akibat. Allah telah menciptakan potensi
dalam sebab-sebab untuk menimbulkan
akibat. Semuanya di izin Allah. Tapi
Allah menciptakan apa? Poten potensi.
Sama seperti apa? Api punya potensi
membakar enggak?
Punya. Makanya ketika Nabi Ibrahim
dilempar ke api, api harusnya membakar.
Tapi Allah perintah balik. Kata Allah,
"Ya naru kuni bardan wasalam albam."
Wahai Ibrahim, wahai api, jadilah
dingin. Seandainya Allah tidak perintah
api bakar atau tidak bakar. Yang
membakar api Allah dengan letakkan
potensi bakar pada api. Jadi kata
mereka, makanan tidak bisa
mengenyangkan, air minum tidak bisa
menghilangkan rasa haus. Tidak ada
yang menimbulkan apa akibat. Maka akidah
ini sempat ditertawakan oleh mereka
sendiri oleh karena namanya Aljuwaini.
Alju ini salah seorang tokoh Asyairah
yang kemudian dia dalam kitabnya Risalah
Nidamiyah dia membantah ya bagi
orang-orang yang menolak sebab akibat
ya.
Beliau mengatakan saya bacakan
beliau berkata, "Rukun yang pertama
tentang kudrah hamba dan pengaruhnya
terhadap perbuatannya." Jamba itu punya
kdrah dan punya pengaruh ya. Kalau tidak
begitu maka repot syariat. Ya, kalau
hamba ternyata punya kdrah tidak cuma
nama doang kdrah, kekuasaan, tapi tidak
bisa menimbul akibat, ngapain dia
disuruh suruh oleh Allah? Disuruh ini,
disuruh ini, tidak punya kdrah seperti
bulu berterbangan. Kalau gitu, kalau itu
kita perintahkan seorang yang tidak
punya kdrah sama sekali omong kosong,
makan kau, berdiri kau. Sebenarnya tidak
bisa berdiri berarti kan hanya bualan
aja. Eh, berdiri. Padahal dia enggak
bisa berdiri.
Ya, bergeraklah. Padahal tidak bisa
bergerak. Dia hanya seperti bulu
berterbangan. Maka ini kalau gitu
syariat tidak bisa dibebankan kepada
orang seperti ini. Hanya kita boleh
sampaikan silakan berdiri kalau dia
memang punya kemampuan untuk berdiri.
Cuma dia mau berdiri atau tidak dia
terserah dia. Cuma kemampuan dia untuk
berdiri baru kita perintahkan dia untuk
berdiri. Tapi kalau sejak awal tidak
bisa berdiri kita bilang suruh berdiri
ngapain kita perintah?
Sehingga Aljuid ingin mengatakan manusia
itu punya potensi punya kudrah yang
punya pengaruh tentu atas izin Allah.
Kalau dia tidak punya pengaruh sama
sekali ngapain diperintah? Saya bacakan
tentang kudru hamba dan pengaruhnya
terhadap perbuatannya. Maka kami katakan
bahwa telah tetap bagi setiap orang yang
berakal dan telah bebas dari
tahapan-tahapan takqlid dalam
kaidah-kaidah itu. Kata dia, "Orang yang
mengatakan tidak ada sebab akibat tu
taklid. Takqlid buta. Bahwasanya Rabb
subhanahu wa taala menuntut para
hambanya untuk beramal dalam kehidupan
mereka." Benar atau tidak? Allah suruh
kita beramal enggak ya? Dan Allah
menyuruh mereka untuk beramal serta
memberi ganjaran jika mereka beramal dan
hukuman jika mereka bermaksiat di
akhirat. Dan telah jelas dalam nasas
yang tidak bisa menerima takwil
bahwasanya Allah telah memberikan mereka
kemampuan untuk melakukan apa yang Allah
perintahkan kepada mereka. Makanya kalau
tidak mampu Allah mengatakan la
yuklifulahu nafsan illa usa'aha. Itu
menunjukkan ada yang mereka mampu ada
yang mereka tidak mampu. Kalau semua
tidak mampu ya ngapain? Allah juga
mengatakan fattaqulaha matatum.
Bertakwalah semampu kalian. Berarti yang
di luar kemampuan ya sudah dimaafkan.
Tapi kalau tidak ada kemampuan sama
sekali, buat apa syariat tidak mampu
sama sekali?
Dan Allah memberikan mereka kesempatan
untuk menjalankan perintah Allah serta
untuk mencegah diri dari hal-hal yang
dilarang. Jika aku membacakan ayat-ayat
yang menunjukkan akan hal ini tentu
sangat panjang. Itu dalilnya sangat
banyak. Nah, ini tidak perlu bagi orang
yang berakal dengan adil. Kemudian
berkata, "Siapa yang mengamati
kitab-kitab suci yang di mana dalamnya
ada banyak dalil yang menyeru kepada
perbuatan-perbuatan mulia." semua kitab
suci, Taurat, Injil, semuanya pasti ada
perintah dan larangan.
Ee demikian juga ada hukum-hukum H di
balik itu dan juga ancaman-ancaman bagi
yang melanggar, janji bagi yang bertaat.
Ya. Ya. Apa yang di wajib diyakini
berupa membenarkan para rasul tentang
pengkabaran mereka mengenai hukuman yang
akan menimpa para pembangkang dan
orang-orang sombong, baik hisab maupun
azab serta kesudahan yang buruk. Dan
perkataan Allah kepada mereka pada hari
kiamat, kenapa kalian melanggar apa
dengan? Kenapa kalian bermaksiat
membangkang? Allah akan hisab. Kenapa
kalian melanggar? Kenapa kalian
melanggar? Kalau mereka bilang, "Kami
seperti bulu berterbangan.
Kalau mereka seperti bulu berterbangan,
mereka bisa bantah Allah. Ya gimana kami
tidak melanggar. Kami hanyalah seperti
bulu berterbangan, tidak punya
kemampuan." Tapi padahal ee kata Allah
lialla yakun Allah hujah. Para rasul
diutus supaya manusia tidak punya hujah
pada hari kiamat kelak. Ya. Sehingga
beliau terakhir berkata, saya bacain
kesimpulan, "Faman ahat bidzalika
kullihi." Siapa yang mengerti ini semua
bahwasanya Allah turunkan syariat
memerintah, tidak Allah perintah karena
kau punya kemampuan. Cuma kau taat atau
tidak. Manusia bukan seperti bulu
berterbangan di uda udara yang tidak
punya kemampuan sama sekali. Siapa yang
tahu ini semua?
Kemudian dia masih ragu bahwasanya
perbuatan hamba itu sesuai dengan
kemauan mereka dan sesuai dengan ke apa
dampak yang mereka lakukan. Wiarihim dan
pilihan mereka dan kemampuan mereka
fahua musobun fiqli. Orang yang masih
mengingkari ini akalnya terganggu kata
aljiwa ini
mustakirun alqlidi. Mungkin akalnya
tidak terung tapi ngeyel dalam taklid.
Musimun ala jah tetap bertahan dalam
kebodohannya.
Siapa yang mengatakan manusia tidak
punya kemampuan maka sebenarnya dia
telah
membatilkan syariat. Syariat percuma
kalau gitu dan mendustakan apa yang
Rasulullah perintahkan, para rasul
perintahkan. Jadi intinya disebut dengan
qadariah
nonekstrem mereka tidak sampai kafir.
Kenapa? Karena mereka masih menetapkan
apa? syariat. Hanya saja mereka
mengatakan secara teoritis mereka gak
ada hukum sebab akibat. Tidak ada yang
bisa menimbulkan akibat. Semua yang
terjadi hanyalah tanda hanyalah tan
tanda
pukul kepala orang itu bukan besi tidak
menjolkan kepala tapi tanda bakal
benjol. Yang bikin benjol siapa? Allah.
Adapun besi tidak punya potensi
memonjolkan kepala. Makan kamu makan
tidak mengenyangkan. Orang dibilang gini
kan aneh ya. Makan ini mengenyangkan gak
mengenyangkan. Yang mengenyangkan adalah
Allah. Terus ini ya makan besi juga bisa
mengenyangkan ya. Kita makan apa aja
kali ya Allah bikin ada beda-beda karena
potensi berbeda berbeda-beda. Kalau
enggak apa bedanya kita makan besi sama
makan nasi.
Kenapa beda? Karena potensi nasi beda
dengan potensi be besi. Kenapa kita
buang potensi tersebut? Potensi tersebut
yang taruh juga Allah. Jangan dinafikan.
Jadi kalau kita ahlusunah,
nasi potensi kenyang enggak? Potensi
kenyang. Potensi tersebut yang ciptakan
siapa? Allah. Jangan kita nafikan
potensi tadi. Potensi tadi ada. Beda
kalau mereka potensi enggak ada. Sudah
nasi tidak menyebabkan apa? Kenyang. Ini
kata kata Aljuwa ini musabun fi aqlihi.
Akalnya enggak jalan ya. Ini perkataan
Asyairah sendiri membantah mereka
sendiri. Wallahuam bawab. Demikian saja.
Subhanakallah wabihamdik asadu
alalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.