Transcript
5poobvRyOXc • Wanita Tidak Punya Malu ? - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2594_5poobvRyOXc.txt
Kind: captions Language: id Inalhamdalillah nahmaduhu wainuhu wafiruhu watubu ilaih wa naudubillahi min syururi anfusinaatialina yahdihillahu fala mudhillalah wam yudlil fala hadiyaalah wa ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna muhammadan abduhu waasuluhu nabi Huda huda Muhammadinallahu alaihi wasallam bidha muslimin Ibnu Umar meriwayatkan Nabi wasamul Suatu hari Rasul wasallam melewati seseorang yang sedang menasehati saudaranya tentang malu. Yaitu dia nasihati saudaranya jangan suka malu. Ya, karena menurutnya bisa jadi kalau suka malu akhirnya banyak hak yang tidak bisa dia sempurnakan. Ya. Maka Rasul Sallahu Alaihi Wasallam menegur orang yang menegur saudaranya tadi. Rasulullah mengatakan dau. Biarkan dia punya rasa malu. Fainnal haya minal iman. Karena rasa malu adalah bagian daripada keimanan. Dan dalam hadis yang lain kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam al iman bitun wasabuna s'bah. Sesungguhnya iman itu 70 sekian cabang. Aahu kalimatu lailahaillallah. Yang paling tinggi kalimat lailahaillallah wahanaha imatul ya aaha lailahaillallah. Cabang yang paling tinggi lailahaillallah. Dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Kemudian kata Nabi sallallahu alaihi wasallam walya minabil iman. Dan rasa malu adalah bagian dari cabang keimanan. Dan rasa malu sifat malu merupakan sifat yang diwasiatkan oleh para nabi-nabi terdahulu. Rasul sahu wasam bersabda inimubilam tastahi ma. Sesungguhnya di antara ilmu yang didapatkan dari kenabian terdahulu yang diapatkan oleh manusia atau oleh orang-orang dari ajaran-ajaran nabi-nabi terdahulu adalah idam am tastahi fasna ma'ta. Jika kau tidak malu, maka lakukan apa yang kau kehendaki. Ini menunjukkan bahwasanya akhlak mulia ini, akhlak malu adalah telah ditekankan bukan cuma oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, bahkan ditekankan oleh nabi-nabi terdahulu. Di antaranya karena akhlak ini ya mencegah seorang dari melakukan keburukan. Orang yang malu maka dia malu untuk melakukan kemaksiatan. Dia malu untuk menzalimi orang. Dia tidak enakan sehingga tidak menyakiti hati orang sehingga dia terbawa dalam cara berbicara, cara bersikap. Kenapa? Dia pemalu. Makanya Rasul sahu alaihi wasallam mengatakan, "Alhaya la bikhair." Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan. Seandainya ada seorang suami malu, punya rasa malu, dia malu kalau istrinya tidak diayomi. Dia malu kalau tidak perhatian sama istrinya. Demikian juga wanita kalau punya rasa malu dia malu tidak melayani suaminya. Dia malu jika suaminya datang dia tidak siap untuk ya melayani suaminya. Sehingga rasa malu ini mendatangkan banyak kebaikan dan menghindarkan orang dari banyak keburukan. Oleh karena ketika ada orang tadi menasihati saudaranya, "Kamu jangan malu-malu, jangan malu-malu." Karena benar kalau orang malu terkadang sebagian haknya tidak bisa diambil secara sempurna. Tetapi di balik itu banyak sekali kebaikan. Maka Rasulullah mengatakan dau biarkan dia malu. Jangan dinasihati supaya tidak malu. Fainnal haya minal iman. Sesungguhnya rasa malu bagian dari iman. Maka seorang ketika punya rasa malu dalam dirinya sungguhnya dia memiliki salah satu dari cabang keimanan yang penting. Yaitu cabang keimanan yang merupakan amalan hati. Maasyiral muslimin. Oleh karenanya, menanamkan rasa malu kepada diri kita, kepada keluarga kita, kepada anak-anak kita adalah perkara yang sangat dituntut. Terutama di zaman sekarang yang di mana rasa malu sudah mulai sirna. Ketika tontonan-tontonan yang ditonton oleh anak-anak kita dari tayangan orang-orang yang tidak punya rasa malu, orang-orang kafir yang mereka mencampakkan rasa malu, tidak punya rasa malu sama sekali. ya, tampil dengan busana yang tidak benar, berciuman di hadapan umum, tidak ada rasa malu. Sehingga akhirnya tontonan ini memberi pengaruh kepada anak-anak kita yang menontonnya. Hilanglah rasa malu dari diri mereka. Demikian juga hilang rasa malu bukan dari anak-anak kita saja. Kalau istri kita sering nonton yang seperti itu, rasa malu pun hilang dari dirinya. Kita pun kalau sering nonton seperti itu, rasa malu hilang dari diri kita. sehingga hilanglah rasa kecemburuan yang harusnya ada pada diri seorang lelaki. Karenanya akhlak malu adalah akhlak yang sangat penting yang kita tanamkan bagi diri kita, bagi keluarga kita, istri dan anak-anak kita, terutama wanita. Sungguhnya malu adalah perhiasan mereka. Para wanita malu adalah keindahan mereka. Tanamkan rasa malu pada anak-anak sejak kecil. Ajarkan mereka rasa malu. Kalau lagi bersama majelis laki-laki, malu nak. Malu nak jauh. Itu majelis laki-laki. Jangan ngobrol di situ, jangan gabung di situ. Malu. Kalau keluar berbusana kurang baik, nak pakai baju yang benar. Malu. Sejak kecil mereka terdiring rasa malu sehingga nanti ketika mereka besar, mereka membawa akhlak yang sangat indah. yaitu akhlak malu astagfirullah wakumagfiru inahuahim alhamdulillahi ala ihsani wasyukrullahu ala taufiqihin ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuiman lani wa asadu anna muhammadan abduhuasul ridw allahumma alaihi Allah Subhanahu wa taala menyebutkan tentang contoh wanita pemalu dalam surat Al-Qasas tentang wanita seorang putri dari hamba yang saleh di negeri Madyan. Kata Allah Subhanahu wa taala tentang kisah Nabi Musa ketika Nabi Nabi Musa Alaih Salam kabur dari Mesir karena ingin dibunuh oleh Firaun dan bala tentaranya. Maka dia berjalan dengan jalan yang sangat jauh ratusan kilo dari benua Afrika menuju benua Asia. Dari Mesir menuju Madyan yang terletak di benua Asia. Sampai di sana dia bertemu dengan sumur milik penduduk di kota Madyan. Tiba-tiba orang-orang sedang mengambil air dari sumur tersebut. Ternyata ada dua wanita yang menahan-nahan kambing mereka untuk tidak ambil air. Maka Musa pun mendatangi dua wanita tersebut. Musa alaihalam berkata, "Kenapa kalian berdua tidak mengambil air?" Apa jawab kedua wanita tersebut? Kami tidak mungkin ambil air kecuali setelah bapak-bapak, laki-laki, kaum lelaki pergi dari sumur baru kami akan ambil. Kenapa? Wa abuna sikhun kabir yang harusnya mengambil air adalah ayah kami. Tapi ayah kami sudah tua, maka kami terpaksa harus keluar untuk mengambil air. Fasqahuma. Akhirnya Musa Alaih Salam pun mengambilkan air untuk mereka berdua. Lantas Musa Alaih Salam pun bersandar atau berbaring di bawah sebuah pohon kelaparan. Kemudian dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa taala agar Allah memberi makan kepadanya. Setelah itu tiba-tiba datang salah seorang dari wanita tersebut kemudian mengatakan jalan dengan malu-malu. Dia berkata, "Wahai Musa, sesungguhnya ayah kami mengundangmu untuk memberi ganjaran atas bantuanmu kepada kami di mana kau telah mengambilkan air buat kami." Kisah ini sungguh menakjubkan. Lihatlah dua wanita salehah ini ketika mereka ngambil air mereka tidak ingin bercampur dengan laki-laki. Mereka sabar menanti. Padahal seharusnya sebagaimana dikatakan ladies first harusnya wanita dahulu dibiarkan untuk ambil air apalagi cuma dua orang. Sementara mereka gerombolan para lelaki. Tetapi rupanya para lelaki tersebut sepertinya tidak berakhlak mulia sehingga membuat wanita yang terakhir untuk ambil air. Itu pun tidak menjadikan mereka berani untuk masuk kemudian mengambil air tapi mereka bersabar sampai rombongan lelaki pergi. Kemudian mereka mengapa harus keluar rumah? Mereka harusnya tidak keluar rumah, tetapi mereka keluar rumah karena terpaksa. Kata mereka, "Wa abuna sikhun kabir, ayah kami sudah tua sehingga tidak bisa mengambil air sehingga kamilah yang harus keluar mengambil air." Mereka keluar rumah karena terpaksa. Dan ketika mereka ngobrol dengan Musa, cuma alaihi salam, "Cuma secukupnya Musa Alaih Salam berkata," khatbukuma? Ada apa dengan kalian berdua? Mereka jawab dengan jawaban yang singkat, "Kami tidak akan ambil air berikhtilat bercampur dengan para lelaki. Para lelaki pergi lebih dahulu. Kami datang karena bapak kami sudah tua. Jawaban singkat padat, tidak berpanjang lebar dengan lelaki asing seperti Musa Alaih Salam. Lihatlah bagaimana rasa malu dua wanita ini tidak bercampur baur dengan para lelaki. Bersabar demi menjaga kehormatan mereka. Berbicara dengan lelaki dengan secukupnya. Setelah itu Nabi Musa Alaihi Salam bernaung di bawah sebuah pohon minta kepada Allah akan diberi makan karena dia sangat lapar. Telah berjalan jauh dari benua Afrika menuju benua Asia. Dari Mesir menuju ke Madyan. Kemudian Allah sebutkan bagaimana salah seorang dua tersebut datang dengan penuh malu-malu. Kata Allah, "Fajaathu ihdahuma tamsi altihya." Maka datanglah salah seorang dari dua wanita tersebut dengan berjalan dengan penuh rasa malu. Tamsi alasya malunya sampai terlihat kepada cara jalannya. Bahkan sebagian ulama mengatakan alastihya yaitu malunya benar-benar dia selalu memiliki sifat malu ya. bukan mengatakan fajau ihdahuma mustahiah datang dengan malu tapi alastihya di atas rasa malu seakan-akan rasa malu adalah sifat yang sudah bercokol dalam sifat wanita tersebut Umar bin Khattab radhiallahu anhu ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, "Qilatanha ala wajhiha laisat balfa wallah dia datang menuju Nabi Musa dengan malu-malu sambil menutup wajahnya. Padahal ketika itu di zaman itu wajah tidak harus ditutupin, tapi dia malu. Dia tutup wajahnya sambil berjalan dengan penuh malu. Laisat balfa. Dia bukan wanita yang salfa. Salfa artinya berani. Kalau ngobrol sama laki-laki berani ketemu laki-laki berani jariah. Tidak. Tapi dia pemalu. Kharajah wallajah. Bukan wanita yang suka keluar rumah tanpa ada keperluan. Maka dia keluar karena terpaksa dan dia mengatakan kepada Musa, dia mengatakan, "Inna abi yaduk." Wahai Musa, sesungguhnya ayahku mengundangmu." Undangan bukan dari saya, undangan dari ayahku. Tujuannya apa? Dia jelaskan. Ini ajana untuk membalas, memberimu ganjaran atau upah karena kau telah bantu mengambilkan air buat kami. Jelas. Karena kalau dia mengatakan kemarilah Musa. Akan timbul banyak pertanyaan. Kenapa dipanggil oleh seorang wanita yang ngundang? Bukan saya yang ngundang, bapak saya. Terus buat apa? Akan timbul pertanyaan, buat apa diundang? Maka dijelaskan untuk memberi upah kepadamu. Lihatlah wanita yang memiliki rasa malu luar biasa sampai Allah abadikan dan Allah puji wanita tersebut. Kata Umar, "Laisat balfa." Bukan wanita yang berani ngomong sama laki-laki, masuk di gerombolan laki-laki, nimbrung sama laki-laki. Kharaja wallajah, bukan suka keluar rumah, masuk rumah tanpa ada keperluan. Dia keluar rumah kalau ada keperluan mendesak seperti ngambil air atau keperluan yang lainnya. Sebagaimana Allah ceritakan, "Lihatlah bagaimana dengan para wanita zaman sekarang yang mulai hilang rasa malu dari sebagian mereka. Berani sama lelaki, ngomong sama lelaki dengan berani. Bahkan terkadang lelaki malu bicara dengan dia. Lebih malu lelaki daripada seorang wanita. Keluar rumah seenaknya, pergi jalan ke sana kemari seenaknya. Sementara Allah memuji istri-istri Nabi. Bahkan Allah berkata, jahil. Hendaknya kalian menetap di rumah-rumah kalian. Allah mengatakan buyutun menetaplah kalian di rumah-rumah kalian. Dalam sebagian qiraah waqirna fi buyutikunna. Maknanya yaitu menetaplah dalam rumah kalian wahai istri-istri Nabi. Bahkan Allah menisbahkan rumah kepada kepemilikan istri-istri. Kehendaknya kalian menetap di rumah-rumah kalian. Padahal rumah-rumah tersebut rumah-rumah milik Nabi. Tetapi Allah nisbahkan rumah tersebut kepada wanita agar mereka merasa nyaman. Itu rumah-rumah kalian. Waqorna fi buyutikunna. Wanita yang menetap di rumah keluar tidak keluar kecuali ada keperluan mendesak. Inilah wanita yang mulia. Maka waqorni buyutikunna diambil dari tiga makna. Sebagian ahli tafsir mengatakan maknanya qarar yaitu menetap. Sebagian ulama mengatakan makna dari waqar yaitu mulia. Sebagian ulama mengatakan yaitu quratul ain bahagia. Jadi siapa wanita yang sering di rumah tidak keluar seenaknya maka dia akan menjadi wanita yang bahagia. Dia akan menjadi wanita yang dimuliakan tidak direndahkan oleh para lelaki. Dia akan menjadi wanita yang salehah. Bahkan keberadaan wanita di rumah kalau niatnya karena Allah maka argo pahala akan jalan baginya. Kita harus ajarkan ini kepada putri-putri kita. pada istri kita bahwasanya wanita yang terbaik yang sering di rumah tidak keluar kecuali kalau ada keperluan. Ajarkan rasa malu agar mereka mulia di sisi Allah Subhanahu wa taala kemudian mulia di sisi manusia. Zaman sekarang zaman yang menyedihkan. Rasa malu di cabik-cabik, dirobek rasa malu sehingga banyak wanita tidak lagi punya rasa rasa malu. Maka tanamkan bahwasanya alhayau minal iman. Rasa malu adalah bagian daripada iman. Seorang wanita kalau punya rasa malu maka dia akan menjadi istri yang salehah. Dia akan malu kalau tidak melayani suaminya dengan baik. Dia akan malu kalau suaminya datang dia belum berhias. Dia akan malu kalau tidak beribadah sebagaimana suaminya. Dia akan malu kalau minta uang banyak-banyak dari suaminya. Dia akan mudah bersyukur kepada suaminya ketika suaminya memberi kepadanya. Adapun kalau sudah tidak punya malu, dia akan menuntut-menuntut tanpa melakukan menunaikan hak-hak suaminya. Semoga Allah Subhanahu wa taala menganugerahkan kepada kita rasa malu, menganugerahkan kepada putri-putri kita, kepada istri-istri kita rasa malu dan menganugerahkan kepada wanita-wanita kaum muslimin agar mereka memiliki rasa malu. Innallaha malaikatahu yusalluna alan nabi. Ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi wasallimu taslima.