Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqihiani ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahuim wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh daila ridwan. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Pada kesempatan kali ini kita akan bahas tentang kaidah-kaidah terkait sabar. tidak lain agar kita bisa lebih bersabar dan bisa meraih banyak pahala di balik kesabaran. Karena kita semua sadar ee terlalu atau banyak perkara yang tidak sesuai dengan keinginan kita, tidak sesuai dengan cita-cita kita, sering meleset dari harapan kita dan kita tahu sebuah orang diuji ya. Tidak ada yang tidak diuji ya. Oleh karenanya kesabaran adalah suatu sifat yang harus kita lazimi dalam kehidupan sehari-hari. Namun terkadang seorang tidak bisa bertahan lama sabar karena mungkin sabarnya tidak benar bukan karena Allah subhanahu wa taala. Mungkin terkadang seorang tidak bersabar karena dia tidak mengingat tentang ganjaran akhirat. Maka kita membahas pada kesempatan kali ini kaidah-kaidah untuk memacu kita agar bisa lebih bersabar. Ya. Ee sebelumnya bahwasanya jangankan e kita bahkan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam pun disuruh bersabar oleh Allah. Apa kurangnya sabar Nabi sallallahu alaihi wasallam? Nabi sendiri sudah sabar luar biasa, tetapi Allah menyuruh Nabi untuk bersabar. Kata Allah subhanahu wa taala, "Wasbir wama shabruka illa billah." Wasbir wobruka illa billah. Bersabarlah dan kau tidak bisa bersabar kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa taala. Ya, kata Allah juga, wasbir kama shobaro ulul azmi minar rasul. Bersabarlah engkau wahai Muhammad sebagaimana para rasul ulul azmi bersabar. Jadi, Nabi sendiri butuh diingatkan untuk bersabar. Sampai Allah menyebutkan kisah-kisah para nabi terdahulu. Ya Allah sebutkan kisah Nabi Nuh Alaih Salam. Kata Allah tilka minil gaibi ilaik maunta anta wuka minq fbir innalqib lil muttaqin. Demikianlah berita gaib yaitu tentang masa lalu tentang kisah Nuh dan kaumnya. Kami ceritakan kepada engkau sebelumnya engkau tidak tahu dan juga kaum Quraisy kaummu juga tidak tahu. Kalau gitu bersabarlah. Sebagaimana Nabi Nuh bersabar maka bersabarlah. Jadi Nabi sendiri butuh untuk diingatkan untuk bersabar. Allah sengaja menyebutkan kisah-kisah dalam Al-Qur'an supaya Nabi bersabar. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Wa naquu alaika minir rusuli maabitu bihi fuada." Dan demikianlah kami ceritakan kisah-kisah para rasul itu sebelum Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Buat apa? Mausabbitu bihi fuada yang dengan kisah-kisah tersebut bisa mengkokohkan hatimu. Jadi ee Nabi aja disuruh bersabar ya, apalagi ki kita. Nah, kalau kita memang sudah sabar, terus ada yang bilang sabar, maksudnya bertahanlah dalam sabarmu atau naikkanlah level dalam sabarmu. Karena sabar butuh diingatkan agar bisa continue. Dan kalau sudah sabar, sabar itu bertingkat-tingkat. Perlu dinaikkan lagi level sabar. Dan orang yang selamat dari segala kerugian, di antaranya orang yang bersabar dan menasihati, saling menasihati untuk bersabar. Allah berfirman, "Wal asr innal insana lafi khusr." Adzina amanuil shihat wataw bilhaq watu bisabar. Demi masa sesungguhnya manusia, seluruh manusia tenggelam dalam kerugian. Siapa yang selamat dari kerugian tersebut? Kecuali orang yang beriman. Apakah sudah selamat belum? Iman kemudian beramal saleh sudah selamat belum? Tambah lagi. Watawasau bilhaq. Saling berwasiat dalam melakukan kebenaran. Yang terakhir, watwu bisar, saling menasihati dalam bersabar. Jadi, butuh kita saling menasihati. Demikian juga disebutkan para salaf jika mereka bertemu kemudian mereka berpisah, sebelum berpisah mereka bacakan surah wal asr yang di akhir ayat tersebut watawasau bisabar hendaknya saling bersabar. Ya Allah juga menyebutkan tentang sifat penghuni surga. Watawasau bisobri watawu bil marhamah. Siapa? Ulaika ashabul maimanah. Ciri penghuni surga itu saling berwasiat untuk bersabar dan saling berwasiat untuk saling kasih sayang. Maka butuh di antara kita untuk saling mengingatkan bahwasanya hidup ini adalah ujian. Dan ujian dihadapi dengan apa? Kesa kesabaran. Karena terkadang sabar kita pupus kemudian hilang. Sabar, tidak bertahan lama, tidak bisa continue. Ya, jangan bosan-bosan kalau ditegur untuk apa? Sabar. Ada orang kirim pertanyaan sama saya, "Ustaz, saya ada masalah tapi jangan nasihati saya sabar." Nasihat yang lain. Ya, ada seorang hidupnya dengan penuh kesabaran. Dia lagi mancing ikan kemudian tidak dapat-dapat ditegur, "Sabar supaya ikannya nyantol. Sabar kata dia, "Kau enggak usah ngajarin saya sabar. Hidup saya sudah penuh dengan apa?" Kesabaran. Orang sabar pun perlu diingatkan. Kalau kau pun sabar, harus diingatkan supaya apa? Bertahan dalam kesabaranmu dan menambah apa? Level sabarmu. Rasulullah dibilang sabar. Ya ayyuhan nabiyuttaqillah. Ya Rasulullah bertakwalah. Ya bukan Rasulullah tidak bertakwa. Rasul sahu alaihi wasallam bertakwa tapi agar kontinue dalam takwanya agar bertambah apa? Takwanya. Ya ayyuhalladzina amanu aminu billahi wa rasulih. Wahai orang yang beriman berimanlah. Sudah iman dibilang apa? Berimanlah. Maksudnya apa? Kinue istiqamah dalam imanmu. Dan tambahlah level apa? ImanMu. Dan ini kaidah bahasa Arab. Kalau seseorang sedang melakukan sesuatu kemudian disuruh melakukan suatu yang sama, berarti maksudnya kalau bukan tetap agar kontinue atau menambah levelnya. Paham? Antum lagi makan terus dibilang makan. Ini sedang makan terus dibilang makan berarti apa? Lanjut atau nam nambah? Paham? Paham yang makannya apa yang sabarnya? Ini sekedar contoh maksud saya. Oleh karenanya semua kita butuh sabar. Jangan merasa saya sudah ustaz, saya sudah lama ngaji. Setiap orang butuh diingatkan sabar. Nabi saja diingatkan untuk sabar, apalagi kita yang imannya naik turun, naik turun, kembang kempis kembang kempis, jelas enggak jelas nyala redup, kita lebih butuh untuk diingatkan. Dan itu ciri-ciri orang beriman. Watawasau sabri watwasau bil marhamah bilhaq, watu bisar tib. Oleh karenanya dalam rangka menjalankan ee atau menjalankan wasiat Allah wat tawasau bisabr saling berwasiat dalam salinglah berwasiat dalam bersabar ya yaitu benar-benar serius. Tawasi bisabr itu wasiat. Wasiat suatu pesan serius. Sampai Allah sebutkan dengan kata wasiat yaitu pesan serius untuk bersabar. Ada sekitar 10 kaidah tentang sabar. tentunya kaidah banyak daripada ini cuma saya memilih sebagian aja. Yang pertama ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala bahwasanya sabar itu ada tiga macam ya. Disebutkan oleh para ulama Ibnul Qayyim Ibnu Taimiyah dan yang lainnya. Sabar ada tiga macam. Sabar yang pertama disebut asabru ala thaatillah. Sabar dalam menjalankan ketaatan. Bahwasanya dalam menjalankan ketaatan butuh kesabaran. Untuk salat lima waktu butuh sabar, untuk salat di masjid butuh sabar. Untuk bersedekah butuh kesabaran. Berbakti kepada orang tua butuh kesabaran, nyambung silaturahmi butuh apa? Sabar. Kalau enggak sabar enggak bisa. Yang kedua, sabar dalam meninggalkan maksiat. Sabru an maksiatillah ini juga butuh kesabaran. Tidak nonton film Korea butuh apa? Kesabaran ya. Tidak nonton ee apa namanya? Tidak mendengar lagu-lagu, musik-musik yang haram butuh apa? Kesa kesabaran. Tidak melototi cewek cantik butuh apa? Kesabaran. Ya. Tidak terjerumus dalam muamalah yang haram juga butuh apa? Kesabaran. Sabar. Lagi zaman sekarang sarana maksiat di mana-mana. Ini butuh kesabaran tingkat tingkat tinggi. Ketika sedang bersendirian untuk bersabar tidak maksiat meskipun tidak ada yang lihat. Ini butuh kesabaran. Ketika akses maksiat begitu mudah, butuh kesabaran untuk tidak mengakses maksiat tersebut. Ini juga butuh kesabaran. Dan contoh yang nyata kisah Nabi siapa? Yusuf alaih salam yang digoda oleh siapa? Imratul Aziz yang konon namanya siapa? Zulaiha. Yang ketiga, sabar dalam menghadapi musibah atau ujian yang disebut dengan asabru ala aqdadillahil mlimah. Sabar. atas takdir-takdir Allah yang mungkin membuat hati menjadi sakit, menjadi pilu, menjadi pedih. Sebagian ulama mengungkapkan dengan asabru ala ahkamillah. Sabar terhadap hukum-hukum Allah subhanahu wa taala. Sabar terhadap hukum-hukum Allah subhanahu wa taala. Inilah tiga sabar. Sehingga kita tidak membatasi sabar pada makna yang ketiga saja. Sering kalau kita bicara sabar, kita hanya membatasi pada makna yang ketiga itu sabar menghadapi apa? Ujian. Ternyata pertama, kedua juga termasuk sabar. K. Para ulama membahas di antara tiga sabar ini secara jenis mana yang lebih mulia di sisi Allah Subhanahu wa taala. Maka mereka membagi dua terlebih dahulu. Pertama disebut asabrul ikhtiyari. Sabar jenis pertama dalam jalan ketaatan dan meninggalkan maksiat disebut dengan asabru alikhtiyari. Sabar pilihan. Kenapa dikatakan sabar pilihan? Karena kita bisa milih azan subuh dikumandangkan, kita bisa pilih bangkit untuk ke masjid atau lanjutkan tidur. Kita bisa milih atau tidak bisa. Sama. Ini namanya sabar ikhtiar ya. Kita bersedekah bisa kita milih. Mau sedekah atau pelit kita bisa mi milih seperti itu. Makanya ketaatan itu disebut sabar ikhtiari. Karena kita bisa milih melakukan ketaatan atau meninggalkan ketaatan tersebut. Ya, demikian juga sabar dari dalam meninggalkan kemaksiatan juga ikhtiari, pilihan. Kita bisa milih ngeklik film Korea atau enggak jadi klik. Tangan sudah mengeklik sabar. Sudah cerita-cerita ada cewek lewat mundurin lagi enggak? Sabar terus. Kalau mundurin lagi berarti kita kalah. Berarti kita enggak sabar. Untuk tidak mengklik itu juga butuh apa? Kesabaran. Tapi kita juga punya pilihan. Mau ngeklik atau tidak punya pilihan. Kedua, sabar ini disebut dengan sabar alikhtiari. Sabar pilihan. Sabar. Jenis ketiga. Sabar dalam menghadapi ujian disebut dengan asabru altirari. Sabar terpaksa enggak ada pilihan. Anak meninggal enggak ada pilihan. Meninggal atau hidup enggak ada pilihan. Mobil kecuri enggak ada pilihan. Ya. Sakit enggak ada pilihan. Kalau bisa pilih kita pilih sehat. Tapi kita enggak bisa mi milih ya. Suami selingkuh enggak ada pilihan terjadi. Istri selingkuh enggak ada pilihan. Suami poligami enggak ada pilihan. Kalau bisa milih, jangan, tapi sudah terlanjur. Enggak ada pi pilihan. Itu musibah atau anugerah? Musibah bagi wanita. Ya, maksud saya enggak ada pilihan. Sabar. Nah, disebut sabar terpaksa sabrul ittirari. Dan contohnya seperti Nabi Yusuf ketika dimasukkan dalam su sumur enggak ada pilihan jadikan budak dijual oleh kakak-kakaknya. Enggak ada pilihan. Contohnya Nabi Ayub ketika Nabi Yusuf hilang entah ke mana, enggak ada pilihan. Kalau dia bisa milih, dia pengin Nabi Yusuf kembali, tapi dia enggak ada pilihan. Contohnya Nabi Ayub ketika terkena penyakit bertahun-tahun, enggak ada pilihan. namanya sabr al-itiirari, sabar terpaksa. Nah, dua jenis ini ternyata dikerucutkan menjadi dua jenis. Pertama namanya sabrul ikhtiari dan kedua namanya sabr al-itiirari. Dua ini mana yang lebih utama? Secara jenis, bukan secara sampel persampel permasalahan bukan. Tapi secara jenis sabar ikhtiari lebih afdal daripada sabar ittirari. Dari sisi bahwasanya sabar pilihan dia milih untuk bersabar padahal dia punya opsi yang lain. Adapun sabar ittirari dia enggak punya opsi dia harus mi tidak ada pilihan ya sudah dia harus jalani. Dari sisi itu makaabr al-ikhtiyari afdal daripada sabr al-tirari. Sabar pilihan lebih afdal daripada sabar apa? Terpaksa. Kemudian para ulama khilaf lagi. Di antara dua sabar ikhtiari ini yang lebih afdal sabar menjalan ketaatan atau sabar meninggalkan maksiat. Maka ini khilaf di kalangan para ulama. Ditinjau dari ketaatan adalah tujuan kita diciptakan. W khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun. Tidak tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Ketaatan diinginkan oleh Allah. Maka sabar untuk ketaatan lebih afdal. Ada yang mengatakan lebih afdal. Adapun maksiat dijauhi bukan tujuan utama. Dia adalah wasilah untuk bisa menjalankan apa? ketaatan, maka sabar menjalan ketaatan lebih afdal. Ada yang mengatakan tidak, sabar menahan diri maksiat lebih afdal. Kenapa? Karena karena melawan hawa nafsu, melawan keinginan dan itu lebih berat daripada menjalankan ketaatan. Ya, lebih berat daripada menjalankan ketaatan. Intinya tiga-tiganya adalah apa? Kesabaran. Sehingga mereka mengatakan sabarnya Nabi Nuh Alaihi Salam dalam dakwah 950 tahun. Ya, sabarnya Ibrahim untuk mau menyembelih anaknya menjalankan ketaatan lebih afdal daripada sabarnya Nabi Yakub ketika kehilangan Yusuf Alaih Salam. Lebih afdal daripada sabarnya Nabi Ayub ketika harus sakit bertahun-tahun. Kenapa? Karena sabarnya Nuh, sabarnya Ibrahim, sabarnya Ismail untuk disembelih. Ini ikhtiari pilihan. Adapun sabar Nabi Yakub, sabar siapa? Nabi Nuh sabar Nabi Yunus dalam perut ikan apa? Paus. Itu adalah ittirari. Terpaksa. Sekali lagi ini adalah hanya sekedar perbandingan dari jenis kesabaran. Tapi kalau sudah masuk satu persatu tentunya bisa berbeda. Contoh lebih lebih banyak mana pahalanya? Sabar suatu pagi pergi ke masjid untuk salat subuh atau sabar digodain cewek ditelepon-telepon untuk berzina? Ceweknya cantik, duitnya banyak. Jarang-jarang seumur hidup belum tentu terjadi. Secara jenis sabar menjalankan ketaatan lebih afdal daripada sabar meninggalkan apa? Maksiat. Tetapi secara poin demi poin, sampel perampel belum tentu. Tapi semuanya butuh apa? Kesabaran. Jadi kita menghadirkan dalam diri kita bahwasanya sabar itu bukan cuma satu jenis tapi tiga apa? Jenis dan semuanya dicintai oleh Allah. Wallahu yuhibbusirin. Allah mencintai orang-orang yang sabar. Salat subuh bangunlah sabar. Insyaallah Allah cinta sama saya. Bangun malam, salat malam sabar, ngantuk wudu Allah cinta saya. Kenapa Allah suka orang yang sabar dalam menjalankan ketaatan? Apalagi sebagian ulama mengatakan sabar dalam ketaatan adalah sabar yang tertinggi. Sabar juga ketika meninggalkan maksiat. Maueklik jangan ngeklik. Kalau saya ngeklik Allah tidak cinta sama saya. Kalau saya enggak ngeklik, Allah cinta sama saya. Tiga-tiganya adalah kesabaran. Bab ini yang kaidah pertama. Paham? Insyaallah. Insyaallah. Tib. Yang kedua, tingkatan-tingkatan terkait sabar. Ini kapan sabar? Ee ee kapan tidak sabar, maka berdosa, dan kapan sabar mendapatkan pahala. Kita bisa bagi dua. Yang pertama disebut jaza. Jaz artinya keluh kesah, meronta tidak sabar. Ini berdosa. Innal insana khuliqo halu massahusarru jazua waidza mahul khairu manua. Manusia itu kalau ditimpa dengan keburukan jazua berkeluh kesah. Berkeluh kesah. Ngomong sana ngomong sini. Ngomel sana ngomel sini. Ini dosa. Kalau orang ditimpa musibah kemudian dia berkeluh kesah maka dia do dosa. Ya, harusnya dia sabar ya. Oleh karenanya Rasulullah bersabda, "Laisa minna manabal khududa wasqal juuba widwal jahiliyah." Bukan dari golongan kami orang tatkala terkena musibah dia pukul-pukul pipinya, dia robek-robek bajunya dan dia menyeru dengan seruan jahiliah. Kenapa? Dia jaza. Saawan alaina ajazna amarnaana m. Kata penghuni neraka jahanam, sama saja di neraka. Kita mau sabar, kita enggak sabar enggak ada faedahnya. Mau teriak, enggak teriak tetap aja kekal di neraka. Jazna maksudnya tidak bersabar. Maka kalau jaza itu berdosa. Kemudian yang wajib adalah sabar. Dan sabar ini ada tingkatan. Yang pertama sabar, menahan diri. Apa maknanya sabar? Sabar maknanya dari asabru maknanya alhafsu. Alhabsu artinya menahan. Maksudnya mana apa? Menahan diri, menahan lisan, menahan komentar dari semua perbuatan yang menunjukkan protes kepada keputusan Allah. Contohnya robek-robek, banting-banting, ya maki-maki, ngomel-ngomel. Itu semua menunjukkan tidak sa sabar. Kita bisa ngaca diri. Dengar suatu berita, banting piring klang tidak sa sabar. Pukul tembok waduh tidak sabar. Kamu sih, kamu sih, kamu sih, kamu sih juga tidak sa sabar. Semua perkataan yang menunjukkan perbuatan tulisan yang menunjukkan protes dengan keputusan Allah itu namanya tidak sabar. Sabar menahan. Ada gejolak untuk teriak, ada gejolak untuk merontta-ronta, tapi dia tahan. Meskipun ada gejolak, dia tahan, itulah sabar dan itulah pahalanya besar. Dan ini hukumnya wa wajib. Ini kadar paling minim. Dan ini hukumnya wajib, pahalanya besar. Wajib, pahalanya besar. Ini kadar minimal. Jadi tidak bersabar itu yang penting menahan itu sudah dapat pahala. Tidak harus ee apa namanya? rida gak harus. Maksudnya senang dikasih musibah gak gak harus kita meskipun enggak senang tapi kita tahan sudah dapat pahala. Itulah sabar. Itulah sabar. Tib tingkatan kedua rida. Rida itu terima keputusan tanpa gejolak hati. Yaitu dia diken dia terkena musibah terus dia mikir, renungkan, saya rida. Rida maksudnya ini yang terbaik. Dia rida dia tidak dia tidak menahan. Dia rida tanpa ada gejolak ke hati. Ini tingkatan lebih tinggi dari sabar tetapi tidak wajib. Tidak wa wajib. Artinya dapat pahala tidak harus seperti itu. Dengan bersabar sudah dapat apa pahala? Tingkatan lebih lagi namanya syukur. Syukur itu tidak ingin jika tidak terkena musibah. Dia dapat musibah bilang alhamdulillah. Alhamdulillah. Ini pasti yang terbaik. Pasti Allah punya hikmah di balik ini. Kalau disuruh pilih kena musibah atau enggak, kata dia, lebih baik saya kena musibah. Saya syukuri musibah ini. Dan itu derajat lebih susah lagi. Lebih susah lagi. Tunggu. Butuh orang yang imannya sangat tinggi. Tetapi, tetapi yang wajib cuma bersa sabar. itu derajat tidak wajib. Itu sunah. Kalau bisa alhamdulillah. Kalau enggak juga enggak enggak apa-apa. Dan terkadang orang bisa sampai derajat rida musibah tertentu dia bisa rida terkadang dia tidak rida. Terkadang dia pada derajat sabar terus dia memikir-mikir kemudian dia rida. Dia mikir-mikir renungkan lagi dia bersyukur. Bisa berubah derajat. Setelah dia mengadakan perenungan direnung, "Oh, ternyata memang lebih afdal saya terkena mu musibah." Ternyata ada hikmah di balik itu sehingga dia mensyukuri musibah tersebut. Tayib. Paham? Kita lanjutkan ee kaidah yang ketiga. Kaidah yang ketiga, seorang tidak bisa bersabar kecuali dengan izin Allah. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, "Wasbir wobruka illa billah." Dan sabarlah wahai Muhammad, sungguhnya tiada tidaklah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Ini harus kita yakini bahwasanya kita hanya bisa bersabar kalau Allah jadikan kita ber bersabar. Makanya ketika kita bersabar hendaknya kita bersandar kepada Allah. Paham? Jangan bersandar pada diri kita, pada ilmu kita, pada kemampuan kita. Kalau kita bersandar pada diri kita, kita sabarnya enggak bisa lama. Tapi kalau kita sandarkan kepada Allah, yang bikin saya sabar adalah siapa? Allah. Yakin saya bisa sabar dengan pertolongan Allah. Wasbir wuka illa billah. Sabarlah. Sesungguhnya sabarmu itu dari Allah Subhanahu wa taala. Maka ketika bersabar, bersandar kepada Allah. Bukan kepada diri kita. Bukan karena duit kita banyak. Bukan karena kita sudah berpengalaman terkena musibah dak. Hati ini mudah berubah. Iman naik dan turun. Yang bisa bikin kita sabar siapa? Allah. Kemudian kita minta bersabar hanya kepada Allah Subhanahu wa taala. Datang dalam satu hadis, ada seorang minta sabar, maka ditegur oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ya, saya bacakan hadis ya. Riwayat Tirmidzi. Anan Nabi sallallahu alaihi wasallam sami rajulan yasalullaha sabro. Nabi mendengar ada seorang minta sabar. Ya Allah sabarkan aku. Faqala saallaha albala. Maka Nabi bilang, "Kau minta sabar berarti kau minta musibah." Artinya kau minta dikasih musibah terus kau bersabar. Mintalah keselamatan. Ini hadis larangan minta sabar. Hadisnya diif. Hadisnya apa? Dif. Yang benar kita boleh minta sabar. Dua kondisi. Kalau sudah terkena musibah tentu boleh minta sabar. Seperti dalam Al-Qur'an ee ketika tentaranya Thalut bertemu dengan Jalut, mereka berkata, "Rabbana afrik alain watbit aqdamana alalil kafirin." Mereka berdoa, "Ya Allah, afrik ala curahkan sabar pada diri kami." Karena jumlah mereka sedikit sementara pasukan Jalut ba. Maka butuh sabar. Mereka minta karena sudah musibah di depan mata sedikit lawan banyak. Mereka minta sabar dengan berdoa, "Rabbana afrig alain curahkan sabar sebanyak-banyaknya kepada kami. Watabit aqdamana dan kokohkan kami. Kami kokohkan kaki kami. Wansurna alalil kafirin. Tolonglah kami menang atas orang kafir." Demikian juga ketika Firaun mengancam untuk membunuh para penyihir yang melawan Musa kemudian masuk Islam. Laq aidakumjulakum min khilaf wibakum. Saya akan salib kalian, saya akan potong kalian secara menyilang. Tangan kiri kaki kanan, tangan kanan kaki kiri mau dibunuh. Ketika itu mereka berdoa, "Rabbana afrik alro watana muslimin." Ya Allah sabarkanlah kami dan wafatkanlah kami dalam kondisi Islam. Karena mereka sedang diuji. Bayangkan beriman mati. Pilih iman atau pilih. Pilih hidup atau pilih mati. Kalau beriman berarti dibunuh. Kalau kafir berarti hidup. Itu butuh kesabaran. Saat saat itu, saat itu mereka minta sa sabar. Jadi kalau sudah terkena musibah, seorang minta sabar kepada Allah, "Ya Allah sabarkan aku. Ya Allah sabar." Tidak ada sabar kecuali dari Engkau. Supaya kita kuat. Jangan bersandar pada diri. Diri kita itu lemah. Ilmu kita lemah. Kita banyak teori penerapan enggak bisa ya. Penerapan enggak bisa. Kita minta kepada Allah Subhanahu wa taala. Jadi boleh atau subhanallah mengatakan meskipun kita tidak terkena musibah, kita minta sabar bukan maksudnya untuk dikasih musibah. Karena sabar tuh ada bermacam-macam. Sabar untuk menjalankan ketaatan dan kita setiap hari disuruh menjalan ketaatan dan kita minta sabar untuk meninggalkan apa? Maksiat. Meninggalkan maksiat. Dan kalau kita terkena musibah kita bisa sabar. Jadi boleh juga meskipun kita sedang tidak sedang tidak terkena musibah, kita boleh minta sa sabar dalam artian sabar untuk taat, sabar untuk meninggalkan maksiat dan sabar jika dikasih musibah kita dijadikan apa saar karena musibah pasti menimpa. Adapun hadis yang melarang minta sabar hadisnya difit [Musik] kalau belum terkena musibah itu terkena musibah boleh minta kesabaran ini. Wasbir wama shobruka illa billah. Kemudian juga dengan ayat ini kita tidak ujub ketika sabar. Subhanallah. Kok saya bisa sabar? Subhanallah ternyata saya hebat. Saya jagoan. Enggak. Kau sabar. Yang bikin kau sabar siapa? Allah Subhanahu wa taala. Yang bikin kau sabar Allah subhanahu wa taala. Dan dengan kita bersandar kepada Allah maka sabar bisa tahan lama, bisa continue. Karena kita bersandar kepada Allah subhanahu wa taala. Berapa menit lagi azan? Tib. Ee yang berikutnya, kaidah berikutnya, kaidah yang keempat, sabar harus ikhlas. Kenapa? Sabar adalah ibadah. Dan ibadah kaidahnya tidak dapat pahala kecuali jika ikhlas kepada Allah. Ini poin yang sangat krusial, sangat penting, sangat fatal. Karena terkadang orang sabar bukan karena Allah, tapi karena duniawi. Allah berfirman dalam surat Arraad, walladina wajibhim. Dan orang-orang yang bersabar karena mencari wajah Allah Subhanahu wa taala. Kau sebar sabar nih kenapa? Mencari pahala atau karena duniawi? Maka ketika dia bersabar, dia mencari pahala dari Allah Subhanahu wa taala. Tiib. Allah Subhanahu wa taala berfirman, walladzinaar wajhibihim. Ini poin sangat krusial. Kalau kita sabar harus karena Allah agar kita dapat pahala. Kita dapat pahala. Maka kalau orang ikhlas ketika bersabar, maka biasanya sabarnya bisa bertahan lama karena dia ikhlas. Karena dia mencari pahala di balik kesabarannya tersebut. Yang kedua, kalau dia bersabar karena Allah maka terasa lebih ringan karena dia lakukan semuanya karena Allah. Tapi kalau karena duniawi belum tentu. Namun ingat jika tidak ikhlas tidak dapat pahala. Tidak dapat pahala. Tidak ikhlas seperti dia ri atau sumah dengan sabarnya. Dia pamer-pamerkan saya sabar, saya kuat. Ya, tujuannya dia cerita-cerita sana sini untuk orang memujinya karena dia seorang yang bersabar. Ini dia sabar tapi bukan karena Allah maka dia tidak dapat pahala. Justru bisa dapat dosa karena sabarnya karena riperlihatkan pengin kasih tahu saya ini sabar atau cerita sumah atau sabar karena sekedar duniawi. Sebenarnya ini boleh tapi bukan utama seperti sabar demi anak-anak saya sabar. Jangan kamu bersabar karena Allah. Dan di antara hikmahnya agar anak-anak lebih baik. Ada seorang wanita tidak suaminya zalim tapi dia tidak minta cerai. Kenapa? Demi anak-anak. Ya itu secara dunia. Tapi harusnya hatinya ini semua karena siapa? Karena Allah yang mentakdirkan ini, maka saya ber bersabar. Jangan sekedar karena anak-anak. Karena kalau karena sekedar karena anak-anak ini bukan dapat pahala. Karena berarti sabarmu bukan karena Allah subhanahu wa taala. Ini yang terkadang buat orang sabarnya enggak kuat. Karena sabarnya bukan karena Allah, tapi karena duniawi murni. Maka jangan seperti sabar. Saya bersabar demi harga diri. Ya, saya bersabar karena tidak mampu membalas. Kalau bisa balas saya sabar. Ya, itu bukan karena Allah. Ya, saya sabar agar tidak tambah parah kondisinya. Itu juga bukan karena Allah. Harus ini perlu kita ingatkan sabar karena Allah. Nah, kalau kita perhatikan antara poin ketiga dengan poin poin empat, perhatikan. Poin ketiga, kita merasa sabar karena Allah yang kasih sabar itu terkait dengan rububiyah. Itu makna la haula wala quwwata illa billah. Yaitu wala illa billah. Tidak ada daya, tidak ada upaya saya bisa sabar kecuali dengan izin Allah. Ini terkait dengan rububiyah. Bahwasanya Allah yang bisa bikin saya seperti namanya istianah dengan Allah Subhanahu wa taala. Ini wasilah ini dapat pahala. Karena dia merasa ketika dia merasa saya bisa sabar karena Allah dia sedang menghayati tauhid rububiyah. Tapi itu wasilah untuk tauhid uluhiyah. Adapun ketika saya bersabar karena Allah, itulah ibadah yang dituntut dari saya. Dan ini terkait dengan tauhid uluhiyah. Karena sabar saya bukan karena ri sabar saya karena bukan karena duniawi, tapi saya sabar karena Allah. Dan ini adalah tujuan. Maka Ibnu Qayyim membantah orang yang mengatakan sabar billah lebih afdal daripada sabar lillah. Asabru billah lebih afdal daripada sabru lillah. Ibnu Qayyim bantah yang benar. Asobru lillah yaitu sabar karena Allah lebih afdal daripada asabru billah. Sabar karena dengan pertolongan Allah. Karena asabru billah terkait dengan rububiyah dan dia wasilah. Dan asabru lillah terkait dengan uluhiyah dan dia adalah tujuan. Paham atau tidak? Paham ya? Dua-duanya harus dijalankan. Kalau seorang bersabar, dia tahu Allah yang bisa bikin dia sabar. Kalau tanpa Allah dia tidak bersabar. Yang kedua, dia bersabar karena mencari rida Allah. wajibhim waqu mimqahum sir waaniah waahika lahum jannatuin yadunahariikaiamunikum bimartum lanjutan dari surat arat tersebut. Dan orang-orang yang bersabar karena mencari wajah Allah, mendirikan salat, ya berinfak, membalas keburukan dengan kebaikan. Mereka itulah kesudahan mereka yang terindah. Mereka masuk surga bersama orang tua mereka yang saleh, bersama istri mereka yang salehah, dan bersama anak-anak mereka yang saleh. Dan malaikat masuk menemui mereka di surga. Malaikat berkata kepada mereka penghuni surga, "Salamun alaikum bima shobartum. keselamatan atas kalian dalam surga karena kesabaran kalian. Ingat, sabar karena Al Allah. Sabar karena mencari rida Allah. Sabar karena ingin melihat wajah Allah. Ini harus ini krusial banget ini. Kadang-kadang kita lupa untuk sabar karena Allah. Sabar karena duniawi. Jangan. Jangan sekedar duniawi. Tapi sabar mencari rida Allah. Ini membuat sabar seorang menjadi kontinue. Tapi kita lanjutkan. Ini masih lama. Antum sabar enggak? Tib. Yang kelima, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. Sabar itu bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar, tanpa usaha. Ini di antara kesalahan saya sabar kemudian tidak ada usaha. Tidak benar. Sabar itu tidak menafikan usaha. Sabar tuh kita sabar dengan keputusan Allah, tapi kita berusaha mencari solusi. Makanya Allah berfirman kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, "Fasbir kama shar ulul azmi minar rasul." Bersabarlah engkau wahai Muhammad sebagaimana para ulmi dari kalangan rasul yang bersabar. Yaitu sebagaimana Nuh, siapa lagi? Ibrahim, Musa, Isa. Mereka sabar luar biasa. Tapi mereka disifati dengan al-Azmi, Ulul azmi. Ulul Azmi itu pemilik azam. Azam tekad yang kuat. Dan nabi-nabi tersebut, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa bukan orang yang begitu gagal diam aja. Enggak. Mereka berusaha terus. Berusaha terus. Nabi Nuh bersabar 950 tahun. Itu menunjukkan namanya orang sabar tuh bukan pasrah, tapi dia berikhtiar. Karena Allah memuji para rasul yang sabar dengan disebut ulul azmi itu meskipun mereka dihantam, diuji, mereka tetap berazam kuat. bertekad kuat. Jadi bukan berarti sabar tidak berobat, sabar sakit ya saya terima, saya rida dengan keputusan Allah tapi saya tetap berobat karena Rasulullah menyuruh bertobat. Berobat tadaw ibadallah wala tada bil haram. Berobatlah jangan berobat dengan yang haram. Ya. Ya. Saya bersabar jomblo sampai umur segini tapi bukan pasrah. Nadar ditolak, nadar ditolak. Nah, sudahlah sabar. Bukan sabar. Sabar bukan berarti pasrah, berusaha. Sabar bukan berarti pasrah. Sabar disertai dengan ikhtiar. Hasilnya serahkan kepada Allah. Dan para rasul sabarnya luar biasa. Makanya Allah mengatakan, "Wasbir lihukmi rabbika." Wahai Muhammad, bersabarlah dengan keputusan Rabbmu. Yaitu dengan ujian-ujian Allah. Wala takun huti idbahu wahua makum. Dan janganlah kau seperti seorang yang dimakan ikan paus. Maksudnya jangan seperti Nabi Yunus. Kenapa ya? Nabi Yunus ketika dia berdakwah kepada kaumnya, mereka tidak beriman. Dia jengkel, dia pergi. Dia jengkel. Sehingga akhirnya Allah uji dia dengan dimakan oleh ikan ikan ditelan bukan dimakan. Ditelan oleh ikan ikan paus. Ya. Maka Allah mengatakan, "Wala takun kasahibut." Kau sabarlah. Sabarlah seperti Nuh yang sabar sama kaumnya 950 tahun. Jangan seperti Nabi Yunus Alaih Salam yang sempat melakukan dia pergi meninggalkan kaumnya alai. Ketika Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya karena tidak mau beriman, dia marah, dia pergi. Sudahlah dakwah enggak dengar-dengar. Di sini Allah tegur, "Jangan kau seperti Yunus, tapi sepertilah Nabi siapa?" Nuh. Ulul azmi minar minar rasul. Jadi sabar tidak berarti pasrah. Ngelamar kerja enggak diterima sabar. Mungkin belum waktunya tapi ngelamar terus enggak apa-apa sabar bukan berarti pasrah. Yang keenam, Ikhwan, perhatikan. Datangnya musibah bukan berarti otomatis dapat pahala. Datangnya musibah belum belum berarti otomatis dapat pahala. Kenapa? Karena musibah itu dari ketetapan Allah. Adapun yang dinilai oleh Allah adalah sikap hamba terhadap musibah tersebut. Ya, datangnya musibah, bencana alam, gempa bumi, sakit kita sakit dizalimi orang, ada keluarga yang meninggal ya ini semua Allah yang mentakdirkan. Maka pahalanya bukan berarti kalau terjadi musibah otomatis dapat pahala. Tidak. Tetapi pahala itu ditinjau bagaimana sikap kita menghadapi musibah tersebut. Bagaimana sikap kita menghadapi ujian tersebut? Lulus atau tidak? Makanya kalau tidak bersabar menghadapi musibah berdosa. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam tadi, "Laisa minna manabal khududa wasqal juuyuba w bidwal jahiliyah." Bukan dari golongan kami orang yang ketika terkena musibah mukul-mukul pipi, terus merobek-robek baju. Yang itu menunjukkan protes. Anai illam tetup. Orang yang meratapi ketika orang meninggal. Kalau tidak bertobat maka sampai dia meninggal maka di dibangkitkan pada hari kiamat. Kalau disiksa dipakai-pakaian dari api wadirun min jarab dan kemudian mantel dari yang membuat kulitnya gatal. Kenapa? Karena dia niaha meratap w itu dia tidak sabar. Dosa besar. Jadi maksud saya adanya musibah tidak otomatis menjadikan seorang dapat pahala. Tapi kalau dia bersabar dapat pahala. Jika tidak bersabar tidak dapat pahala. Bahkan bisa jadi dapat do dosa. Jika sahabat dapat pahala, maka berusaha mencari pahala dari setiap musibah yang dialami. Bab yang ketujuh, Ikhwan, sabar itu ada batasnya. Eh, sabar tuh tidak ada batas batasnya. Sabar tidak ada batasnya. Sabar ya terus kapan kamu tidak sabar selesai pahalanya berhenti. Jangan bilang sabar saya sudah habis. Ah, sabar enggak habis, enggak boleh habis sabar. Sabar tetap jalan terus. Adapun menyikapi yang terbaik tidak bertentangan dengan sabar. Ya, misalnya ada orang mukilin kita, kita sabar. Dipukul lagi, kita sabar, pukul lagi, kita lapor polisi, kau sudah tidak sabar? Saya sabar, cuma supaya kau berhenti, saya sabar. Tu jadi sabar tidak ada ba batasnya. Harus sabar terus. Tetapi bukan berarti kita tidak mengambil sikap yang terbaik. Dan bilang sabar ada sabar tidak batas. Sabar terus. Kapan kita berhenti dari sabar maka pahala kita berhenti. Yang berikutnya ikhwan, sabar yang terbaik adalah sejak awal terkena musibah. Ada seorang wanita, dia meratapi anak kecilnya yang meninggal. Meratap di kuburan shobiyin laha. Qobri shobiyin laha. Anak anak kecil masih anak kecil yang meninggal dia meratap di situ. Berarti dia meratap. angkat suara. Maka Rasulullah sahu alaihi wasallam melihat Rasulullah tegur dan itu di antara kebiasaan Nabi menegur. Mungkin dia lagi menghadap kuburan, Rasulullah tegur dari belakang atau dia tidak lihat Nabi. Rasulullah mengatakan, "Ya hadihi ittaqillaha wasbiri." Wahai Fulanah, bertakwalah kepada Allah dan sabarlah. Maka wanita ini marah ketika ditegur sabar. Banyak orang seperti itu. Kalau ditegur sabar marah dia. Kata dia, "Ila anniini, pergi engkau dariku." Innaka lam tusob musibati. Kau tidak ditimpa musibah seperti musibahku. Makanya kau hanya enak ngomong sabar, sabar, sabar. Seakan-akan dia berkata, "Kalau kau ditimpa dengan musibah sepertiku, belum tentu kau sabar." Maka dia bilang, "Ila anni pergi engkau." Dia tidak tahu kalau itu nabi. "Ila anni." Dia pikir orang biasa. Innakaam tus bimba. Kau tidak mengalami musibah yang seperti aku alami. Subhanallah. Padahal Nabi mengalami lebih dari dia. Nabi anaknya berapa? Tujuh. semuanya mening meninggal. Ini baru satu ya. Nabi tujuh meninggal. Ibrahim meninggal dalam pangkuannya. Yang satu meninggal setelah Nabi. Fatimah doang radhiallahu anha. Yang lainnya meninggal dalam kehidupan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan Nabi tidak marah digituin. Eh, saya ini Rasulullah sampai bilang musibah saya lebih besar daripada kamu. Enggak. Itu kalau kita, "He eh eh ngaca nente baru satu. Gue sudah enam." Enggak Rasulullah enggak ya. Rasulullah dibilang itu pergi. Akhirnya ada yang kasih tahu ya tadi itu Nabi. Maka wanita ini pun enggak enak. Dia pun cari Nabi. Pergi ke rumah Nabi. Walam tajid indahu bawwabah. Dan dia langsung bisa nemui Nabi. Tidak ada bodyguard-nya Nabi. Tidak ada tukang jaga rumah pintu Nabi. Maka dia bilang, Rasulullah, dia minta maaf saya tidak mengenali engkau tadi. Kata Rasul sahu alaihi wasallam, innamruil ula. Kesabaran yang sungguhnya adalah ketika hantaman yang pertama. Hantaman yang pertama inilah p sabar yang ganjarannya besar. Kata al Imam Nawi rahimahullah dalam alminhaj asabru yaitu asabrul kamil alladzi yataratab alaihi al ajrul jazilu likatril masyaqqati fihi. Yang dimaksud oleh Nabi, "Sesungguhnya sabar adalah ketika hantaman yang pertama." Kenapa? Itu maksudnya sabar yang sempurna yang dapat pahala besar. Karena beratnya menghadapi musibah di awal hantaman sampai Nabi mengatakan shodmah. Shadmah itu hantaman. Orang ketika terkena musibah seperti dihantam dan itu berat. Tapi kalau dia bisa bersabar di awal kena hantaman, pahalanya sangat tinggi. Adapun kalau dia bersabar 3 hari lagi, 4 hari lagi ya kata sebagian ulama apa bedanya dengan hewan? Hewan juga gitu. Kalau sudah 3 hari lupa. Coba ada induk ayam anaknya dimakan kucing. Dia ngambung enggak? Kotek tek kotek kotek kotek kek. Besok udah main-main lagi. Sudah lupa. Orang beriman tidak terkena musibah pertama dia langsung ingat Allah. Di situlah banyak faktor yang buat dia harus emosi, harus marah. Harus marah tapi dia ingat. Di situlah dia diuji karena saking beratnya dia untuk sabar. Tapi kalau dia bersabar dalam hantaman pertama, pahalanya sangat sangat besar. Ada yang bertanya, "Ustaz, kalau dia sabar hari ketiga, hari keempat, tetap dapat pahala, tapi tidak sebagaimana sabar pertama kali di hantaman pertama. Itu pahalanya lebih besar." Ya, oleh karenanya di antara doa-doa yang mungkin membantu seorang ketika terkena musibah, zikir-zikir agar dia bisa sabar di hantaman pertama adalah zikir-zikir berikut ini. Yang pertama, alladzina idza asobatum musibatun qolu inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Kalau kita terkena musibah, bilang ini. Karena Allah puji itu orang terkena musibah mereka mengucapkan zikir ini. Innalillah sungguhnya kita ini milik Allah. Innillah. Kita ini milik Allah. Wa inna ilaihi rojiun. Dan kita akan kembali kepada Allah. Ketika kita mengatakan kita ini milik Allah, maka terserah Allah bikin apa buat kita. Dia yang lebih tahu apa yang dia lakukan. Kita hanya pasrah sebagai hamba menjalankan apa yang Allah putuskan kepada kita. Kita ini milik Allah. Kalau harta kita diambil, jangankan mauambil, kita aja milik Allah. Apalagi harta kita. Allah mau ambil terserah Allah. Anak kita meninggal, kita bilang innalillah. Saya milik Allah. Anak saya milik Allah. Memang berat tapi kita ucapkan ini dengan penuh keyakinan agar kita bisa sabar. Wa inna ilaihi rojiun. Kita akan kembali kepada Allah. Cepat atau lambat akan kembali kepada Allah dan kita akan kembali kepada Allah dan kita akan dihisab. Makna ini kandungannya banyak. Kita ini b Allah kita akan kembali kita akan di dilaporkan bagaimana hasil ujian kita. Kita ini milik Allah dan kita akan kembali kepada Allah. Kemudian kita juga berkata qaddarallahu wa fa'al. Qadarallah wya fa'al. Ini semua takdir Allah dan Allah melakukan apa yang dia kehendaki. Ini mirip ya. Agar kita tahu bahwasanya yang terjadi ini atas kehendak siapa? Allah. Innallaha kataba maqadir khalaq qakqina aman alfanah. Ya Allah telah mencatat takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi. Sudah takdir enggak bisa kita hindari. Ya ma asobam yakuntiak. Apa yang Allah tetapkan kepadamu tidak akan bisa meleset darimu. W akaka lamakun liusibak. Apa yang meleset darimu tidak akan bisa mengenaimu. Saya baru kemarin baca ada orang sahabat yang kirim Twitter isinya dia satu keluarga. Dia anak seorang syekh. Dia melamar seorang wanita. Dia melamar seorang wanita dari keluarga tertentu. Maka ibu wanita ini menolak. Kata ibu wanita ini, "Saya tidak mau terima kamu karena mau kamu keluarga terkenal poligami. Kakek, nenek, kakak, adik, bapak semua poligami." Dan dia terkenal keluarga suka poligami. Akhirnya dia pun ditolak lamarannya. Karena kalau dia menikah kemungkinan dia juga poli poligami. Akhirnya ditolak. Akhirnya wanita ini dinikahi laki-laki lain dan saya juga menikah. Kata dia, "Saya pun menikah." Apa yang terjadi? Saya menikah dengan seorang wanita dan sampai sekarang saya tidak poligami. Wanita itu dinikahi dan dia dipoligami. Qadarallah. Masyaallah. Kalau Allah sudah takdirkan mau lari enggak enggak bisa. Ini contoh. Jadi kalau dapat musibah qaddarallah masya fa'al. Sudah takdir enggak bisa kabur. Kalau apa yang terjadi? Suami selingkuh qadarullah masya faal. Kalau suami menikah lagi alhamdulillah ala kullial gak bisa dihindari. Istri ngomel bilang Allah telah mencatat omelanmu 50.000 tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi. Sudah takdir diapain? Sehingga membuat kita sabar di awal terkena hantaman. Begitu kita terkena suatu yang menyakiti hati, kita bilang qaddarallah wa fa'al. Semua sudah takdir Allah. Allah sudah catat 50.000 tahun sebelum cciptakan langit dan bumi. Tidak mungkin kita hindari. Tidak akan kita bisa meleset darinya. Dan apa yang Allah kehendaki terserah Allah. Berikutnya kita ketika terkena musibah tambah lagi alhamdulillah ala kulli hal. Ini sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Segala puji bagi Allah atas segala kondisi. Maksudnya untuk ingat bahwasanya di balik ini pasti ada hikmah. Minimal hikmahnya mengurangi dosa kita. Minimal hikmahnya kalau kita sabar meninggikan derajat kita. Belum. Hikmah-hikmah yang lain. Kebaikan-kebaikan di balik musibah ini pasti ada. Mungkin belum kita lihat sekarang. Pasti ada. Namun kita belum lihat apa se sekarang kita bilang alhamdulillah ala kullial. Segala puji bagi Allah atas keputusannya kepadaku. Musibah ini menimpaku. Alhamdulillah ala kulli. Dan ini mengingatkan kita dari sisi hikmah bahwasanya Allah adalah alhakim. Dia maha bijak. Di balik ini pasti ada hik hikmah. Kemudian juga ingat pahala. Maka kita berdoa. Nabi juga ajarkan, "Allahummajurni fi musibati wa akhlifli khairon minha." Ya Allah berilah aku ganjaran di balik musibah ini. Musibah ini ada pahalanya gede. Berikanlah aku ganjaran tersebut sehingga kita bisa bersabar. Waakhlifli khairan minha dan gantikan dengan lebih baik. Gantikan lebih baik. Minta kepada Allah ganjaran tersebut unjung membuat kita sabar. Di antaranya kita doa dengan doa yang disucapkan oleh pasukan Thalut dan juga para penyihir Firaun yang sabar. Rabbana afrik alaina sabro. Ya Allah curahkanlah sabar kepadaku. Afrag itu mencurahkan seperti ada ember dituangin air yang namanya afrag adalwa. Curahkan air dalam ember. Kita pengin bukan sabar sedikit, sabar yang banyak. Sabar sedikit-sikit mung kita enggak sabar. Kita pengin dikasih sabar yang banyak oleh Allah. Diujani sabar. Diujani apa? Sabar. Rabbana afriq alainal sabr. Di antaranya mungkin kita boleh bilang Allahumarbit alaqbi. Ya Allah ikat hatiku. Karena kalau hati kita tidak diikat terkadang kita enggak sabar. Allah berfirman, warna ala qulubihim qqubunabusamawati wal ararduni ilaha laq. Ketika Ashabul Kahfi dipanggil oleh raja, disuruh sampaikan kenapa kalian begini? Maka mereka bisa tegar menyampaikan, "Kami tidak akan syirik meskipun banyak ancaman, kami tidak akan syirik." Kenapa mereka bisa tegar mengatakan kami tidak bakalan syirik? Allah mengatakan, "Warana ala qulubihim." Kami ikat hati mereka. Ketika mereka berdiri di hadapan raja yang zalim, mereka tegar. Demikian juga ketika ibunya Nabi Musa Alaih Salam meletakkan Musa dalam keranjang kemudian dilepaskan di sungai Nil ternyata melewati kerajaan Firaun. Ternyata diambil sama istrinya Firaun ternyata dilihat oleh Firaun. Maka dia lihat itu. Maka dia hampir teriak. Kata Allah, "Inkadat lubdi bihi laatna ala qolbiha." Hampir-hampir dia mengatakan, "Eh, anakku kembalikan." Tapi kalau dia bilang begitu, Musa langsung dibunuh. Kata Allah, "Laula anatna alaqbiha." Kalau bukan kami ikat apa? Hatinya. Makanya sebagian orang-orang Arab kalau mereka terkena musibah langsung berdoa, "Allahumit alqi." Ya Allah, ikat apa? Hatiku. Hati ini enggak kuat. Kalau enggak diikat sama Allah enggak enggak kuat. Insyaallah dengan baca seperti ini, doa-doa enam zikir ini seorang bisa kuat di awal musi musibah. Tinggal dua lagi. Sabar ya. Sekarang ke berapa? Ke-elapan. Ustaz, kalau saya sabarnya 4 hari berikutnya ya dapat pahala. Cuma tidak seperti sabar sejak a awal. Nangis gak apa-apa. Nangis tidak kuat hati ini tapi tetap sabar. Bisa sabar. Rasulullah juga menangis ketika anaknya meninggal tapi tetap sabar dan rida dengan keputusan Allah subhanahu wa taala. Rasulullah menangis menunjukkan rahmatnya kepada anak. Tib kita lanjutkan. Nah, ini yang semakin pilu semakin besar pahala. Semakin pilu semakin besar nikmat di akhirat. Semakin pilu semakin besar nikmat di akhirat. Dan ini ee dalilnya banyak. Rasulullah bersabda, "Inna idam amal jaza ma idamil bala." Sesungguhnya besarnya ganjaran berdasarkan besarnya ujian. Wa inallaha idza ahabbaan ibtalahum. Jika Allah sudah mencintai sebuah kaum Allah akan uji mereka. Tapi yang jadi perhatian kita inna idomal jaza maidomil bala. Sesungguhnya besarnya ganjaran berbanding lurus dengan besarnya ujian. Semakin pedih, semakin berat semakin besar pahala. Makanya orang yang paling dicintai oleh Allah semakin besar pahalanya. Asyhadunasi balaan. orang yang paling besar pahalanya, yang paling dicintai oleh para nabi, yang paling besar ujiannya, kemudian orang saleh, kemudian yang selanjutnya dan selanjutnya. Kemudian juga e Rasulullah tadi bersabda, "Innama indodil ula." Sungguhnya sabar yang sungguhnya yang pahalanya sempurna ketika hantaman pertama. Karena di hantaman pertama itu sangat pilu. Berbeda kalau sudah 3 hari 4 hari kepiluan semakin berkurang. Saat awal itu kepiluan sangat luar biasa. Sampai Rasulullah sebut dengan hantaman seperti ditabrak situlah pahalanya besar. Itu pahala sabarnya sempurna. Kalau pahalanya sempurna maka nikmat semakin sempurna. Demikian Rasul sahu alaihi wasallam bersabda yawaddu ahluliah yaumalqiamati hina y ahlul balawab la juludah fid dunya bil maqid. Ketika Allah bagi-bagi pahala di akhirat, Allah kasih kepada orang-orang ketika di dunia sering dapat musibah. Dan Allah juga kasih kepada penghuni surga yang mereka seringnya tidak terkena musibah. Itu orang kaya tapi masuk surga, orang sehat walafiat tapi masuk surga. Ada yang satu miskin masuk surga, menderita masuk surga, sakit-sakitan masuk surga. Ternyata pahalanya beda. Sampai ahlul afiah yang dapat pahala karena orang-orang selalu nyaman di dunia berangan-angan. Seandainya mereka di dunia dulu digunting kulit-kulit mereka karena mereka tahu ternyata semakin pilu pahalanya semakin be besar. Mereka berangan-angan. Seandainya kita duduk di dunia dikasih musibah seperti mereka bahkan lebih dengan digunting-gunting kulit kita. Ini menunjukkan bahwasanya semakin besar ujian, semakin piluh, semakin besar nikmat. Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya Madarijus Salikin. Beliau berkata, "Asabru fil balai bimulahadoti husnil jaza." Seorang di antara cara agar bisa bersabar yaitu dengan mengingat besarnya pahala. Bahwasanya semakin besar ujian semakin besar pahala. Kemudian beliau menjelaskan mulahadatu husnil jazai wa ala hasbi mulahadoti mulahadotihi. Maka seorang memperhatikan mengingat tentang besarnya pahala dan dia yakin akan adanya pahala tersebut. Maka kalau dia mengingat hal ini, maka bala tadi terasa ringan karena dia tahu pahalanya besar. Lisyuhudil iwad. Karena dia tahu gantinya apa. Nanti semakin berat semakin besar apa gantinya. W kama yakifu al mutahamilin masqatanimatan himlaha lima yulahu minqibatiha wri biha. Dan ini semisal seorang yang sedang memikul beban yang sangat berat menjadi ringan karena dia tahu ujungnya indah, lezat lezatnya kesudahannya. Maka dia tahu ujungnya di akhirat nanti lezat maka dia bersabar. Kemudian beliau berkata, "Wa inna ala qadr taab takunurohah." Sesuai dengan kadar kesulitan, di situlah kadar kebahagiaan. Kadar kesulitan, kadar kebahagiaan. Maka kaidah menyatakan semakin Anda pilu, semakin nikmat dalam kehidupan berikutnya. Semakin Anda pilu, Anda di alam barzah semakin bahagia. Tapi sabar. Semakin Anda pilu, maka Anda di surga akan semakin nikmat luar luar biasa. Kadar kesulitan sesuai dengan kadar keni kenikmatan. Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan contoh. Saya bacakan dalam kitab Madarus Salikin. Beliau berkata tentang seorang wanita. Beliau berkata, "Wuhka animatin minal ubat." Dikisahkan ada seorang wanita yang ahli ibadah. Anahaat fanqat isbuuha atau isbauha. Dia jatuh sampai jadinya putus atau jadinya patah. Salah satu jadinya putus. Jatuh kemudian terluka jadinya putus. Faqala fadikat. Dia pun tertawa ketika melihat darinya terputus. Dia tertawa. Faqalaha ba maaha. Maka ada sebagian orang yang sedang bersama dia berkata kepadanyauki. Apakah kau tertawa padahal jarimu sudah putus? Faqalat ukqri aklik. alqawu ajriha anatni marataikriha. Kata beliau, "Manisnya pahala jariku putus ini membuat aku lupa tentang pahitnya, sakitnya jari yang putus ini." Ya, maka dia ingin menyampaikan kepada orang tersebut, "Kau enggak ngerti apa yang saya ucapkan. Makanya saya ngomong sesuai dengan yang kau pahami ya. Karena orang kebanyakan ketika terkena musibah yang dia lihat musibahnya bukan pahalanya. Adapun wanita ini dia yang dia lihat adalah pahalanya. Maka dikatakan oleh Ibnu Qayyim ya ee watukrillahuidhu wa muqalatu ma jaa minqibalihi bilhamdi ya intinya dia yang dia perhatikan bukan sakitnya tapi dia perhatikan di balik ini pahala besar sehingga membuat dia lupa dengan sakitnya jarinya tersebut. Ini tentu kedudukan yang yang tinggi. Tetapi kaidah mengatakan semakin seorang pilu maka semakin pahalanya besar. Contoh seorang dikhianati sudah orang ini dari miskin kita angkat kerja, kita amanahi. Ternyata dia rebut usaha kita, dia ambil semuanya. Subhanallah. Sakit hati atau tidak sakit hati? Tapi pahalanya besar. Ada seorang sudah kita tolong, kita bantu, kita kerjakan di rumah. ternyata selingkuh sama istri. Sakit hati tidak sakit hati? Sama ada seorang wanita sudah bawa orang dari desa kerja di rumah tahu-tahu zina sama suaminya sakit hati sudah dibaikin malam balas dengan apa keburukan. Tapi di situlah semakin pilu semakin sakit pahala semakin besar. Yang terakhir pahala sabar tanpa batas. Allah berfirman dalam surat azzumar ayat 10. Innama yuwairuna ajrohum bighiri hisab. Sungguhnya yang pahalanya dipenuhi tanpa batas cuma orang bersabar. Sesungguhnya yang pahalanya dipenuhi tanpa batas hanya orang-orang yang bersabar. Ya, apa maknanya? Ee sebentar. Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dua makna. Beliau berkata, "Qal ai." Auzai menafsirkan ayat ini, "Laisa yuzanu lahum w yuk inama yugahum gfan." Dia ingin menjelaskan ketika orang sabar ingin di ingin ditimbang pahalanya, maka tidak ditimbang dengan timbangan atau tidak dengan volume dengan apa namanya ee timbangan atau apa dengan literan. Tidak tidak dengan berat, tidak dengan literan. Tetapi Allah menggayuh yang banyak. Ya. Ya. Itu apa bahasa Indonesia ya grif apa namanya? Kalau ambil air kita begini apa bahasa Indonesianya? Hah? Menimba. menimba dengan banyak. Menimba dengan apa? Banyak. Jadi tidak di ditimbang-timbang. Al-Qurtubi menjelaskan maksudnya yaitu kalau ibadah-ibadah yang lain ya ibadah-ibadah yang lain yaitu ditimbang sesuai dengan ganjarannya. Ya kata Alqurtubi qala ahlul ilmi kullu ajrin yukalu kailan wauzanu waan. Ya. Semua amal saleh. Mestinya salat ditimbang. Oh gini. Kemudian zakat ditimbang. Kalau sabar enggak ditimbang langsung dikasih pahala banyak tanpa hisab, tanpa timbangan. Pendapat yang kedua berkata Ibnu Jurij, "Balagani anna la yahsibu alaihimwaba amalihim q wakin yuzaduna alalik." Allah tidak menghisab mereka orang yang sabar, tapi Allah tambahin pahalanya. Allah tambahin pahalanya. Makanya diberi pahala tanpa hisab. Maksudnya ditambah-tambahin oleh Allah subhanahu wa taala menunjukkan bahwasanya pahala sabar sangat banyak. Oleh karenanya dalam Al-Qur'an banyak Allah sebutkan orang masuk karena sabar tadi. Wala malaikatu yaduna alaihim min kulli bab salamun alikum bimaartum. Malaikat berkata, "Kalian masuk surga karena kalian sabar." Ya Allah berfirman, "Wazahum bimaaru jann wair." Allah balas mereka karena kesabaran mereka, surga dan kain sutra. Allah juga eh berfirman, "Uika yujunal gurfata bimaaru." Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan surga yang tinggi karena bersabar. Jadi sabar ini di antara sebab utama maksud karena pahalanya tanpa tanpa batas. Demikian saja ee kurang lebih 10 kaidah yang disampaikan berkait dengan sabar. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bersabar. Tapi demikian saja apa yang dis sampaikan. Wabill taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.