Transcript
AIOc648Lw74 • Kitab Zadul Ma'ad #13: Petunjuk Nabi Dalam Membaca Al Quran - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2667_AIOc648Lw74.txt
Kind: captions Language: id Tes. Tes. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukr lahu ala taufihin asadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalahu wa asadu anna muhammadan abduhuasulidw allahumma shli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwan. Eh, hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, kita masuk pada fasal yang baru. Faslun fi hadiihi shallallahu alaihi wasallam fi qiraatil Quran waasttimaihi. Bab tentang bagaimana teladan Nabi sallallahu alaihi wasallam, petunjuk Nabi dalam membaca Al-Qur'an dan juga dalam mendengarkan Al-Qur'an. Khusyuihi wukai qiroatihi. Dan bagaimana beliau khusyuk dan menangis ketika membaca Al-Qur'an dan juga wastimaihi ketika mendengarkan lantunan Al-Qur'an. Demikian juga permasalahan watahsinutihi bihi wa tawabiik dan juga memperindah suara ketika membaca Al-Qur'an dan hal-hal yang terkait dengannya. Jadi pada kesempatan ini kita akan bahas tentang adab-adab dalam membaca maupun mendengarkan Al-Qur'an. Ibnu Qayyim rahimahullah berkata adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam ya beliau punya hizbun yaqrauhu yaitu beliau punya ee apa namanya kebiasaan harian baca Al-Qur'an sekian dan sekian. Dan ini menunjukkan sunah seorang membiasakan dirinya untuk membaca ee Al-Qur'an dengan ukuran tertentu. Ya, la yukillu bihi. Kata Ibnu Qayyim yaitu Rasulullah komitmen dengan ee apa namanya? Banyaknya dia baca Al-Qur'an. Ya, kalau kita tentunya karena kesibukan berbeda-beda mungkin kita bisa mulai dari dua halaman kek, tiga halaman kek, tapi kita berusaha untuk komitmen. Kapan kita merasa bisa menambah, kita nambah lagi. Dan ada hari-hari tertentu yang di mana kita baca banyak-banyak sebagaimana para salaf mencontohkan. Misalnya ketika bulan Ramadan ya ee ya Al Imam Syafi'i rahimahullah dalam bulan Ramadan sehari khatam Al-Qur'an dua kali ya. Sehari khatam Al-Qur'an dua kali. Adapun kalau dalam keseharian maka dianjurkan seminggu atau sebulan ya sebulan khatam ya. Dan Rasulullah ada larangan kurang dari 3 hari. Karena dikhawatirkan kalau dalam 3 hari baca Quran kurang bisa mentadaburi kata para ulama. Kecuali ketika waktu-waktu utama seperti bulan Ramadan maka seorang bisa ee baca Quran dengan cepat. Apalagi sekelas Al Imam Syafi'i yang semua tafsir Quran mungkin sudah di kepala beliau. Sehingga ketika beliau baca, semua tafsiran sudah beliau ketahui sehingga beliau mengkhatam Quran ee sehari dua dua kali. E intinya seorang berusaha untuk komitmen dengan ukuran Quran yang dia baca dan melatih dari sedikit kemudian dinaikkan dan dinaikan dan demikian itu sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Wat qiraatuhu tartilan. Dan Rasul sahu alaihi wasallam bacaannya adalah tartil. La hadan wala ajala. Tidak buru-buru, tidak, enggak. Tapi tartil baca dengan tajwid. Bal qiraatan mufassaratan harfan harfan. Bahkan disebut dengan qiraah mufassarah. Qiraah mufassarah ditafsirkan oleh para ulama itu qiraah yang kalau kita dengar hurufnya jelas semua. Misalnya alhamdulillahi rabbil alamin. Jadi alhamdulillahi rabbil alamin itu enggak jelas. Tapi Nabi kalau baca Quran setiap huruf kedengaran dengan apa? Jelas. Kadang-kadang orang baca enggak jelas saking cepatnya atau dengungnya kebanyakan sehingga akhirnya tidak jelas satu huruf dengan huruf yang yang lain. Adapun Nabi sallallahu alaihi wasallam beliau ee membaca Quran dengan tartil dengan qiraah mufassarah. qiraatah mufassarah yaitu datang dalam ee hadis Abu Daud dan Tirmidzi ditafsirkan oleh para ulama itu bacaan Nabi hurufnya jelas semua. Tidak ada huruf yang terjatuhkan atau tersamarkan. Semua huruf kedengaran dengan jelas. Wana yaqt atau yuqatiu qiraatahu ayatan ayatan. Maka beliau satu ayat satu ayat. Jadi beliau tidak satu nafas langsung misalnya dua ayat satu nafas langsung tiga ayat beliau berhenti setiap ayat ya. Bahkan misalnya surat-surat yang ayatnya pendek-pendek tetap beliau baca setiap ayat beliau berhenti. Setiap ayat beliau berhenti. Dan itu salah satu hal yang membantu kita mentadaburi Al-Qur'an dengan dibaca per ayat. Ya, dengan dibaca per ayat. Makanya Ibnu Qayyim punya perkataan indah. Beliau berkata, "Qiro ayatu ee qiroatu ayatin wahidatin bitadabburin wa tafahumin khairum min khatmah bila tadabbur wala tafahum wala taakul." Baca satu ayat saja tapi dengan dipahami maknanya, ditadaburi kandungannya lebih afdal daripada khatam Quran tapi tidak paham maknanya. Wakana yamudu hurufil mad fayamudurman wamudurrahim. Dan beliau kalau mad beliau matkan misalnya arrahman jadi dipanjangkan arrahim bukan arrahmanurrahim. Nah itu itu namanya tidak dimadkan. Jadi waktunya mad beliau panjang arrahman arrahim. Dan beliau sebelum baca Quran, beliau beristiadah, bertaawud kepada Allah Subhanahu wa taala dengan azubillahim minasyaitanirrajim atau dengan membaca Allahumma inni azubika minasyaitanirrajim min hamzihi wa nafhihi wa nafsih. Yaitu aku berlindung kepada engkau dari tiupan-tiupan setan, dari godaan-godaan setan. Boleh kita baca auzubillah minasyaitanirrajim. Boleh kita dengan tambahan auzubillahissamil alim minasyaitanirrajim min hamzihi wa nafhihi wa nafsih. Dan beliau bertaawud sebelum membaca Al-Qur'an ya. Dan di antara sunah beliau bukan hanya beliau membaca Al-Qur'an, beliau juga suka mendengar orang lain membaca Al-Qur'an. Jadi beliau suka ee mendengar lantunan orang lain membaca Al-Qur'an. Dan beliau pernah menyuruh Ibnu Mas'ud untuk membaca Al-Qur'an. Ee kemudian Ibnu Mas'ud baca kalau tidak salah surah An-Nisa dan beliau mendengar dengan khusyuk sampai akhirnya beliau menangis ya karena mendengar lantunan bacaan Ibnu Mas'ud ya. Ibnu Mas'ud inilah yang Rasulullah pernah puji kata Rasul sahu alaihi wasallam, "Man ahabba an yaqraal Quran gaddon thiyan kama unzil falyaqra biqirati ibnu ummi abd." Ya. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Siapa ingin baca Quran yang asli seperti dia baru turun, masih segar, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Mas'ud." Bacaan Ibnu Mas'ud. Dan Rasul Sallahu Alaihi Wasallam pernah suruh beliau baca Quran dan beliau menyimak sampai akhirnya beliau menangis karena bacaan Ibnu Mas'ud. Dan dalam kondisi apapun tidak menghalangi seorang baca Quran wanaqraul Quran qoiman waqidan. Rasulullah sahu alai wasallam baca Quran dalam kondisi berdiri beliau baca Quran waqaidan Rasulullah dalam kondisi duduk baca Quran wa muttaji'an baca Quran sambil berbaring juga boleh ya mungkin orang bilang tidak beradab tapi enggak apa-apa Rasulullah pernah berbaring Rasulullah pernah bersandar kepada apa namanya Aisyah radhiallahu taala anha ya makanya Rasulullah pernah bersandar kepada Aisyah sambil baca Al-Qur'an padahal Aisyah dalam kondisi haid ini sunah antum juga gitu sama istri sandaran sambil baca Al-Qur'an murajaah ya. Qul huallahu ahad. Allahusad [tertawa] lam jadi Abi lagi baca Quran apa lagi ngerukiah. [tertawa] Jadi ee Rasulullah terkadang baca Quran sambil berbaring, sambil bersandar ee mutawad'an wa muhditan dalam kondisi berwudu maupun dalam kondisi berhadas. Ya. Jadi kalau ee hadas kecil tidak menghalangi baca Al-Qur'an. Hadas kecil dengan sepakatan ulama tidak menghalangi membaca Al-Qur'an. Walam yakun yamnauhu minqatihial janabah. Dan Rasul sahu al wasallam tidak melarang beliau dari membaca Al-Qur'an kecuali dalam kondisi junub. Ada hadis tentang hal ini bahwasanya Rasul Sallahu Alaihi Wasallam melarang ee orang baca Quran dalam kondisi junub. Tetapi hadis ini diperselisihkan oleh para ulama. Hadis ini diperselisih oleh para ulama. Oleh karenanya, bolehkah seorang baca Al-Qur'an dalam kondisi junub? Dua pendapat. Pendapat jumhur ulama empat mazhab, yaitu mazhab ee Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali mengatakan tidak boleh orang junub baca Al-Qur'an. Ada hadis tapi dalam sanadnya bermasalah. Dan sebagian ulama membolehkan seperti Zahiriah dan juga ee al Imam albukhari. Karena Imam Bukhari memandang hadis yang melarang hadisnya apa? Lemah. Ya. Ya. Kemudian ada hadis yang sepertinya berlawanan bahwasanya Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam mengingat Allah fi kulli dalam segala kondisi. Yaitu Rasulullah tidak terhalang baca Al-Qur'an kapan kapan saja. Intinya dua pendapat ya. Kalau kita hati-hati kita jangan baca Quran kecuali dalam kondisi apa? junub. Karena ini juga masalah khilaf, maka banyak ulama membolehkan kalau baca Quran yang terkait dengan zikir pagi petang boleh meskipun dalam kondisi junub. Dia tidak berniat untuk tilawah tapi dalam rangka untuk zikir pagi petang. Contohnya dalam zikir pagi petang ada tiga qul. Ada enggak? Nah, kita boleh baca. Dalam zikir pagi petang ada ayat kursi. Maka kalaupun kita junub belum sempat mandi, kita boleh baca. Tapi niatnya bukan untuk bertilawah. Adapun kalau untuk bertilawah maka khilaf di kalangan para ulama saya sendiri lebih cenderung bahwasanya hadisnya difetapi untuk kehati-hatian ee maka seorang tidak baca Quran dalam kondisi apa? Ee junub. Pernah saya masih ingat kawan saya waktu di kuliah. Jadi kita ada apa ee mata kuliah ee baca Quran dan setoran hafalan. hanya guru suruh sat sampai ada teman teman kita orang Indonesia ee disuruh baca dia enggak mau baca jam itu jam 10. lagi baca katanya. Enggak enggak. Kenapa junub syekh? [tertawa] Kata syekh pulang mandi. Maksud dia hadir dia hadir. Dia subhanallah dia bertahan. Mungkin kalau malu baca aja mungkin. Tapi dia demi karena Allah dia tidak perlu malu. Dia bilang junub. Akhirnya saya suruh pulang untuk mandi. Ao keluar dari kelas sudah mandi. Saya lupa balik atau tidak. [tertawa] Tapi ini masalah khila khilafiah ya. Tapi hati-hati seorang jangan baca Quran ketika junub. Itu lebih lebih itu jumhur ulama dan lebih hati-hati. Adapun kalau hadas kecil maka enggak ada masalah. Hadas kecil buang air kecil, buang air besar, buang angin. Ini tidak menghalangi seorang untuk baca Al-Qur'an. Berbeda ketika menyentuh Al-Qur'an. Ini juga masalah khilaf. Boleh enggak nyentuh Al-Qur'an dalam kondisi berhadas? Ini khilaf menurut mayoritas ulama, kalau seorang dalam kondisi hadas meskipun hadas kecil, dia tidak boleh menyentuh lembaran Al-Qur'an. Sampulnya oke, tapi lembaran Al-Qur'an tidak boleh. Sebagian ulama mengatakan boleh. Yang dimaksud oleh firman Allah, "La yamassuhu illal mutahaharun." Al-Qur'an tidak disentuh kecuali orang-orang kecuali makhluk yang disucikan. Maksudnya malaikat. Maksudnya malaikat ya. Eh, adapun hadis yamasuh thaahir tidak ada yang menyentuhnya kecuali orang yang bersuci. Maka ini khilaf di kalangan para ulama. Intinya kalau kita memilih pendapat jumhur dalam kondisi tidak dalam kondisi tidak berwudu, dalam kondisi hadas kecil, kita jangan menyentuh lembaran apa? Al-Qur'an. Maka di antara solusi kita baca Quran pakai HP, pakai HP, pakai iPad. Karena pendapat yang benar HP dan iPad tidak mengambil hukum lembaran Al-Qur'an. tidak mengambil hukum lembaran Al-Qur'an sehingga orang boleh baca Al-Qur'an lewat HP, lewat iPad dengan disentuh tidak jadi masalah. Jadi perlu dibedakan antara hukum menyentuh lembaran Al-Qur'an dengan membaca Al-Qur'an. Kalau membaca Al-Qur'an berhadas kecil boleh baca atau tidak boleh? Kalau menyentuh lembaran Al-Qur'an maka banyak yang bilang tidak boleh. Tidak boleh. Itu pun yang dimaksud Al-Qur'an yang murni. Kalau buku tafsir kata peramal, lihat mana yang lebih banyak tafsirnya atau Al-Qur'annya. Kalau tafsirnya lebih banyak maka dia tidak mengambil hukum mushaf. Maka kita boleh sentuh. Ini namanya buku tafsir, bukan buku Al-Qur'an, bukan mushaf Al-Qur'an. Catat ya. Itu masuk ujian semua. [tertawa] Diulang ya. Diulang. Kalau enggak catat gimana nyonteknya nanti? Harus. [tertawa] Tib wakana yataghi adalah Nabi sallallahu alaihi wasallam kalau baca Quran maka beliau melantunkan. Jadi bukan baca datar alhamdulillahirabbil alamin arrahmanirrahim maliki tidak di dilantunkan dilantunkanjiuahu bihi ahyanan dan terkadang beliau melakukan tarji. Apa itu tarj akan kita bahas kama raja yaumal fatti fiq qiraati inna fatahna laka fat mubina waka Abdullah bin Mugffal tarjiahu marat disebut oleh Imam Bukhari apa itu tarji? Ada namanya alqiraah bitarji. Tarji secara bahasa artinya mengulang. Rasulullah meng inna fatahna laka fatham mubina. Banyak ulama menafsirkan yang dimaksud dengan tarji yaitu ada goyangan di akhirnya. Misalnya inna fatahna laka fatham mubina. Ada ada gitu. Maka Rasulullah pernah baca seperti itu terkadang. Ini bukan kebiasaan beliau. Beliau pernah baca begitu. Inna fatahna laka fatham mubina. Ada ada kayak gitunya. Ada kayak ada goyangannya. Namanya tarji. Yaitu ada suara yang berulang. Nah, masalah ini pun khilaf. Sebag ulama mengatakan bahwasanya Rasulullah baca sambil goyang seperti itu karena beliau sedang di atas unta. Karena waktu itu mereka beliau sedang di atas unta. Namun Ibnu Qayyim rahimahullah membantah kata beliau pendapat yang benar bukan karena untanya tapi memang beliau sengaja karena sampai sahabat mengatakan saya bisa mengulangi lagi meniru mengkisahkan bagaimana cara Nabi membaca dengan tarji. Yaitu di akhirnya ada goyangan. Namun ini sesekali. Dan ini kata Ibnu Qayyim menguatkan bahwasanya kalau baca Quran dengan dilantunkan bukan bacaan dengan bacaan daftar ya. Bacaan datar. Kita Indonesia rata-rata kalau baca Quran dengan lantunan. Kalau orang Arab banyak di antara mereka baca Quran seperti baca koran karena mereka seperti baca apa ya? Jadi enggak enggak dinyanyikan. Saya sering dapati orang Arab mereka baca hamdabbil alamin arrahmanirrahim maliki yaumiddin. Jadi seperti apa? Karena mereka tulisan mereka dari kecil bacaannya begitu. [tertawa] Jadi seperti baca buku biasa tapi dengan tajwid cuma tidak di dilakukan. Itu sudah sah tentunya dan itu sudah baik. Tapi di antara sunah adalah dibaca ee Al-Qur'an dengan di dilantunkan. Dengan dilantunkan. Ee di antaranya Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Zayyinul qurana biaswatikum." Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian. Ya, Al-Qur'an dibaca dengan menghiasi suara. Rasul sahu alaihi wasallam juga pernah bersabda, "Laisa minna man lam yataganna bil Quran." Bukan dari kalangan kami orang yang tidak membaca Al-Qur'an dengan dilantunkan. Yaitu sunahnya sangat di tekankan agar seorang baca Quran dengan dilantunkan sehingga dia nyaman dan dia menikmati bacaan Quran tersebut. Kalau lantunannya wajar-wajar saja akan menambah tadabur. Akan mempermudah tadabur Al-Qur'an ya. Akan mempermudah tadabur Al-Qur'an. Baik dia yang membaca maupun misalnya jadi imam makmum juga menikmati sehingga bisa ikut terbawa dengan lantunan tersebut. Mudah mentadaburi ayat-ayat Allah Subhanahu wa taala. Dan kita tahu bahwasanya mentadaburi ayat-ayat Allah sangat dituntut. Dan Rasul sahu alaih wasallam juga pernah bersabda, "Ma adinallahu lyain kaanihi linabin hasanuti yatagil Quran." Rasul Allah tidak pernah mendengar sesuatu dengan senang seperti Allah mendengar Nabi yang suaranya indah kemudian melantunkan Al-Qur'an. Dari sini kita tahu kata Ibnu Qayyim bahwasanya ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam melakukan tarjih dengan ee kayak gitu itu Rasulullah adalah menyengaja. Bukan karena goyangan apa? Unta ya. Kalau apa namanya? Eh, kalau memang itu karena goyangan unta, maka sahabat Abdullah bin Mugffal radhiallahu anhu tidak akan menghikayatkan. Ketika Abdullah bin Mugffal menghikayatkan, "Nabi baca begitu, berarti dia memahami memang Nabi sengaja untuk baca seperti itu, seperti itu agar ditiru." Jadi, sesekali enggak mengapa kita ee melantunkan seperti itu, sesekali tidak jadi tidak jadi masalah ya. Cuma e sebagian ulama melarang misalnya kita ya itu enggak boleh tardid itu beda. Jadi ya itu enggak ya. Tapi Rasulullah tarjid itu di ujungnya. Inna fatahna laka fatham mubina di ujung ya. Jadi bukan setiap ngaji gitu enggak. itu disebut tardid dan itu dibenci oleh para qura ya. Ya, itu apa? Naik turun, naik turun. Ee kalau seandainya kata Ibnu Qayyim, kalau seandainya Nabi membaca dengan tarji dengan digoyangkan di akhir kata adalah karena goyangan unta, tentu perbuatannya tidak disebut dengan sebutan tersendiri. Ketika Abdullah bin Gfalah menyatakan Rasulullah baca dengan tarji, berarti tarji itu salah satu metode membaca Al-Qur'an. Ya, dengan tadi itu menunjukkan Rasulullah melantunkan Al-Qur'an. Dan suatu hari Rasul sahu alaihi wasallam suatu malam pernah mendengar bacaan Abu Musa al-Asy'ari radhiallahu taala anhu. Rasulullah malam mendengar, besoknya Rasulullah kabarkan, "Saya tadi malam dengar kau baca." Apa kata Musa al Asyari? Lau kuntu a'lamu annak tastamiu lahabartuhu laka tahbiran. Seandainya saya tahu tadi malam kau dengar saya baca, saya akan lebih menghiasi lagi bacaan Quranku. Saya akan lebih menghiasi lagi bacaan Quran. Maka ini dalil bahwasanya seorang kalau baca Quran dengan indah bukan untuk ri tapi untuk menyenangkan orang yang mendengar agar bisa dia bisa mentadaburi dan juga makmum bisa nyaman sehingga mungkin dia ketika tarawih dia baca panjang-panjang karena dia bacaannya enak bukan untuk dipuji maka ini tidak mengapa bahkan itu sunah karena Abu Musa al-Asyari mengatakan seandainya saya tahu kau dengar saya saya tahu engkau mendengar lantunanku lahabbartuhu laka tahbir maka saya akan tambah lagi mengindahkan baca bacaanku karena ada orang yang mendengar sambil menik menikmati. Jadi beda antara tujuan menyenangkan hati orang karena Allah agar dia mudah tadabur. Beda seorang beramal saleh untuk dipuji. Kalau untuk dipuji namanya riya dan dosa ya. Kalau jadi imam kita baca yang ee enak. Jangan Allahu Akbarin arrahmanirrahim. Maliki yaumiddin. Ya kenapa enggak dibawa? Saya takut riak. Bukan takut riak. Kau punya tugas baca Quran dengan enak agar makmum bisa menikmati bacaan Quranmu. Dan itu punya pengaruh. Al-Qur'an tuh bacaan dengan indah punya pengaruh terhadap makmum. Ya, kalau bacanya enggak enak, makmum berat di belakang sehingga sering apalagi imamnya lama ya, enggak habis-habis ya, enggak selesai-selesai. J. Kalau imam baca enak, kita selesai pengin tambah lagi. Selesai pengin tambah tambah lagi. Dalam satu hadis dari ee kata Abdul Jabbar bin Alad qala samu ibna Abi Mulaikah yaakul qala Ubaidillah bin Abi Yazid. Kata Ubaidillah bin Yazid, "Marbina Abu Lubabah." Kami dilewati oleh Abu Lubabah ya radhiallahu taala anhu. Fattahu eh hatta dakala baitahu. Kami pun ikut dia sampai dia masuk ke rumahnya. Faidza rajulun rul haitah. Eh, tiba-tiba ada seorang penampilannya kurang kurang baik ya. Fasami yaakul. Aku mendengar beliau berkata samu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yaaklisa minna manam yatagna bil Quran. Aku mendengar Rasul wasallam bersabda, "Bukan dari golongan kami seorang baca Quran tidak dilantunkan." Qala faqulu liibni Abi Mulaikah. Kata Ubaidillah bin Abi Yazid, "Wahai Ibnu Abi Mulaikah, ya Aba Muhammad, arroita idam yakun hasanud." Bagaimana kalau ternyata suaranya enggak indah? Suaranya enggak indah. Qala yuhasinuhua, yaitu dia berusaha mengindahkannya semampunya. Ada orang dari sananya suaranya kurang kurang enak ya, suanya kurang enak. Dulu ada muadin orang tua di kampung dulu. Dia kalau azan suaranya sangat tidak enak. Sangat tidak enak. Terus ada yang tegur, "Bapak kalau azan yang bagus-bagus sedikit suaranya." Kata bila, "Kalau saya azan bagus orang tidur. [tertawa] Tapi kalau saya azan begini orang bangun tidur terganggu." Kaget karena suaranya melengking dan kurang enak. Tapi dia luar biasa azan tepat waktu luar biasa. Sementara orang mungkin tidur sore-sore dia azan, subuh-subuh dia azan bangun kalau dengar suara beliau. Melengking tanpa nada. Saya masih ingat dia bilang gitu. Kalau saya azan bagus-bagus, orang ti tidur. Memang dia enggak bisa azan bagus. [tertawa] Kalau azan begini orang pada bangun untuk salat. Tujuannya kan bangunkan orang salat, bukan buat tambah tidur. Tib. Di sini Ibnu Qayyim menyebutkan tentang khilaf di kalangan para ulama tentang hukum bagaimana ee membaca Al-Qur'an dengan alhan dengan nada. Dengan nada. Ada dua pendapat secara umum. Ada yang mengatakan makruh baca Quran dengan nada. Di antara yang menaskan menyatakan hal ini adalah Imam Ahmad dan Imam Malik dan selain mereka berdua. Al Imam Ahmad, Imam Ahlusunah pernah berkata dari riwayat Ali bin Said, dia berkata, "Qiroatul alhan ma tujibuni wahua muhdat." Bacaan dengan nada-nada naik turun tidaklah menyenangkan aku. Dan itu bidah. Dan itu bidah. Maksudnya Imam Ahmad ingin mengatakan baca Quran untuk ibadah maka ikut aturan. Jangan bikin-bikin nada sendiri. Cara-cara baca sen sendiri. Kalau tidak sesuai sunah, maka qira itu qiraah yang bidah. Seperti tadi ya itu enggak enggak ada sunah Nabi seperti itu. Mungkin ada yang dengar enak ya, tapi enggak. Itu bukan sunah Nabi ya. Ee demikian juga dalam riwayat Almarrudhizi beliau berkata Imam Ahmad, "Alqiraatu bil alhan bidatun la tusma." bacaan Quran dengan lantunan-lantunan, nada-nada naik turun-naik turun, maka ini bidah, jangan didengar. Imam tidak suka. Tentu ada banyak pertimbangan. Pertama, tidak diajarkan oleh Nabi. Yang kedua, orang bakalan fokus dengan nada-dada tersebut. Yang ketiga, mungkin orang fokus kepada nadanya, bukan kepada kontennya. Banyak hal yang dipertimbangkan oleh Al Imam Ahmad. Dalam riwayat yang lain, beliau berkata, "Qiraatul alhan bid'atun bidatun." Baca Al-Qur'an dengan naik turun, naik turun, dengan nada-nada adalah bidah dan bidah. Beliau tekankan sampai dua dua kali. Kemudian beliau berkata dalam riwayat yang lain, ini riwayat agak beda dalam riwayat ee Arram ee dalam riwayat banyak ini riwayat Abdullah, riwayat Yusuf bin Musa, Yaakub bin Bakhtan, riwayat Alathram, riwayat Ibrahim bin Harit. Kata Imam Ahmad, alqiroatu bil alhan la tujibuni illa any yakuna dalalika jirmah. Sesungguhnya bacaan Al-Qur'an dengan nada naik turun na turun tidak menyenangkan aku. Kecuali kalau itu memang secara tabiatnya memang suaranya indah dan nadanya bukan dibuat-buat. Memang dari sananya dia suaranya apa? Ee aslinya begitu enak didengar tidak dia terikat dengan nada-ada tertentu ya. Fqru bi huznin ml Abi Musa atau dia dia baca dengan bacaan sedih seperti suara Abu Musa al-Asyari. Maksudnya begini, ada orang terkadang suaranya serak-serak basah kita dengar dia baca Quran enak. Ada orang suaranya memang melengking kalau kita dengar indah. Jadi memang dia dari sananya kalau baca Quran memang enak ya. Bacaan Quran enak ya. Apalagi Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam riwayat dalam riwayat yang lain ee apa namanya? Dalam riwayat yang lain Imam Ahmad meriwayatkan hadis Nabi. Kata Imam Ahmad Rasulullah bersabda, "Zayinul Quran biaswatikum." Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian. Mannahu an yuhassinahu. Ya, indahkan bacaan. Jadi bukan bacaan datar, bukan bacaan datar tetapi dengan dihiasi tapi tidak denganada tertentu yang wajar-wajar saja. Tib. Kemudian Imam Ahmad ee membawakan dalil-dalil yang lain ya. Adapun Ibnu Uyainah beliau berkata, "Yang dimaksud dengan malam yatagonna bil Quran." Yatagonna di sini dia tafsirkan dengan yastagni bihi. Siapa yang tidak menjadikan Al-Qur'an cukup baginya maka bukan bagian dari kami. Namun ini dibantah oleh Imam Syafi'i dan yang lainnya yang tafsiran Ibnu Uyainah tidak tepat. Maksud dari hadis Nabi, malam yatagna bil Quran falaisa minni. Maksudnya siapa yang tidak melantunkan bukan maksudnya siapa yang tidak merasa cukup dengan Al-Qur'an ya. Karena didung didukung dengan hadis-hadis yang lain. Rasul sahu alaihi wasallam suruh menghiasi Al-Qur'an dengan suara yang indah. Maka yang benar ee bukanlah tafsiran dari Ibnu Uyainah yang mengatakan hadis siapa malam Nabi Alquran. Maksudnya siapa yang tidak merasa cukup dalam Al-Qur'an itu tafsiran yang salah yang benar. Siapa yang tidak melantunkan Al-Qur'an dengan suara yang indah, maka bukan dari golongan kami. Maka seorang berusaha membaca Al-Qur'an dengan dilantunkan. Demikian juga Imam Malik tadi, Imam Ahmad, Imam Malik juga tegas ketika ditanya tentang baca Al-Qur'an dengan alhan dengan nada-nada. Beliau berkata, "La tujibuni." Tidak menyenangkan aku. Dan dia berkata, "Innama hua ginaun yataganun." Itu hanya nyanyian-nyanyian. Mereka gunakan nyanyian untuk pasang di Al-Qur'an. Sekarang kita tahu ada kemarin kasus ramai berlebihan orang membaca Al-Qur'an dengan lagu metal, lagu rock. Zulzilatil ardu zilzalaha itu jadi nyanyian luar biasa ngeri seperti itu. Jadi mereka jadi main-main. Ada yang lagu pop, lagu rege, bisa sekarang pakai AI atau pakai program bisa dibikin ya. Ya, kalau kalau orang bilang lagu boleh, musik boleh, Quran boleh, gabung kan bagus katanya. Gak enggak boleh. Kalau tepung boleh, gula boleh, kacang boleh, kenapa martabak tidak boleh? [tertawa] Enggak, enggak beda ibadah tidak boleh campur-campur. Ibadah ada aturannya, ya. Ibadah ada aturannya, ya. Maka Imam Ahmad eh Imam Malik mengatakan itu hanyalah nyanyian yang mereka pasangkan pada Al-Qur'an. liudu alaihim. Agar mereka dapat duit. Mereka baca depan orang dengan nyanyian-nyanyian yang indah. Orang dengar senang kasih kasih duit. Demikian juga diriwayatkan tidak suka baca Quran dengan nada-nada tertentu. Anas bin Malik, Said bin Musayib, Sayid bin Zubair dan banyak tabiin. Dan yang lain Ibrahim Nakhai, Ibnu Sirin, Alhan Albashri, Alqasim bin Muhammad dan yang lainnya. Demikian juga Imam pernah ditanya, "Bagaimana menurut Anda bacaan Quran dengan nada?" Kata beliau, "Siapa namamu?" Kata orang bertanya, "Muhammad." Kata dia, kata Imam Ahmad, "Apakah senang kau dipanggil ya Muhammad?" "Ya Muhammad." Ya, Muhammad saja. Ini isyarat bahwasanya kalau nada-nada terkadang orang terbawa dengan apa? Nada. sehingga bisa merubah ee mad-mad dalam bacaan tayib. Namun datang dalam riwayat ee sebagian ulama yang lain ya seperti Imam Ibnu Qayyim berkata dan di antara yang bolehkan alhan nada dalam Al-Qur'an adalah Thabari. Eh diriwayatkan Thabari dari Umar bin Khattab ya. Ya. Imam Umar pernah berkata, "Wahai Abu Musa al-Asy'ari, zakirna rabbana. Ingatkan kami kepada Allah." Fayqra Abu Musaatalahan. Maka Musa berbaca dengan lantunan. Ya Umar berkata juga, "Manag quran Abi Musafal." Siapa yang mampu untuk membaca Al-Qur'an seperti nadanya Abu Musa al-Asy'ari, maka lakukanlah. Ya, Tib. Maka sebagian ulama melarang dan ini juga banyak sebagian ulama membolehkan dari situ Ibnu Qayyim rahimahullahu taala kemudian ee memadukan keduanya ya. maka ee panjang. Beliau menyebutkan dua pendapat ya. Kemudian beliau menyimpulkan, beliau berkata, "Adapun pemutus dari dua khilaf dalam hal ini ya, bahwasanya lantunan itu ada dua model. Ahaduhuma yang pertama maakt thatu wasamahat bihi min giri takallufin w tamrinin wim." yaitu nada yang memang itu secara tabiat dan tanpa di dipaksa-paksakan dan tanpa belajar. Jadi, nada yang keluar secara alami bukan dipelajari, bukan dilatih-latihkan. Gimana naik nadanya kurang tinggi, naik lagi, turun lagi. Itu itu gak itu terlalu dibuat-buat. Bal id khulya wa wa eh apa namanya? Eh ahin. Kalau dibiarkan dia akan keluar dengan sendirinya e nada-nada tersebut. Maka ini boleh yaahu q Abu Musa nabi laimakah. Dan kalau tabiatnya sudah begitu kemudian dia tambah lagi untuk dia baguskan, maka ini juga boleh. Karena Abu Musa al-Asy'ari berkata kepada Nabi, "Kalau saya tahu kau dengar bacaanku, tentu aku akan tambah baguskan lagi baca bacaanku." Ya, maka inilah yang dilakukan oleh para para salaf ya, bahwasanya mereka secara tabiat tidak dibuat-buat. Ini boleh. Alwajhutani. Adapun lantunan model kedua maana minzalika sinatan minasai laisa f asamahatu bihi. Ya, itu yang dibuat-buat. Secara tabiat tidak pas, tapi dibuat-buat ya. Bal yahsulu illa bitakallufinasin tamarunin. Tapi tidak bisa dia bisa kecuali dengan dipaksa-paksa, dibuat-buat dan latihan baru dia bisa punya nada seperti itu. Kama yataallamu aswatal gina bianwail alhan alasitah wal murakkabah. Sebagaimana seorang belajar nada-nada nyanyian dengan kunci-kunci tertentu, dengan not-note tertentu yang tersusun ala iqit makhsusatin sesuai dengan ketukan-ketukan tertentu ya. Waanin mukhtarah dan kunci-kunci tertentu ya. La tahsulu illa bit taallum tidak mungkin atau la tual illa bit taalum. Tidak mungkin dia bisa ahli kecuali dengan belajar watakaluf dengan dipaksa-paksa. salafu. Inilah yang dibenci oleh para para salaf. Wa abuha wammuha. Dan mereka cela dan mereka ingkari. Ya, mereka abu itu mereka mencela. qata biha dan mereka melarang baca Quran dengan cara seperti ini. Waaru biha dan para salaf mengingkari orang baca Quran dengan model seperti ini. Adapun yang melarang eh bacaan dengan Quran dengan nada, maksudnya nada yang seperti ini. Dari sini kemudian timbul perselisihan di kalangan para qura tentang baca Quran dengan maqamat. dengan makam ini, makam ini, makam ini, masuk dengan makam ini. Mereka ada beberapa makam saya juga kurang tahu ya. Mereka yang ahli nadanya seperti ini. Kalau makam ini seperti ini. Kalau kita ikut pendapat Ibnu Qayyim berarti boleh atau tidak boleh? Tidak boleh. Karena itu dipelajari nadanya ada kapan mulainya, kapan ref-nya, kapan turun lagi, ada ketukan-ketukan tertentu. Maka ini ee seorang baru bisa dengan apa? Dengan takaluf, dengan belajar. Nah, ini yang tidak boleh menurut Ibnu Qayyim rahimahullahu taala. Dan banyak imam-imam haram mereka baca biasa aja dipaksa-paksain, "Oh, imam ini lagi baca dengan makam ini." Padahal mereka gak mereka baca-baca aja ya. Syekh Sudis makam apa? Baca aja dia. Syekh Syuraim bacanya masyaallah indah tanpa makam-makam indah. Ya, yang mereka baca tidak makam-makam, tidak ada nada- ketukan-ketukan tertentu. Ee sebagian ulama membolehkan selama tidak merubah ee selama tidak merubah hukum tajwid. Tapi saya lebih cenderung kepada penjelasan Imam Ahmad, Imam Malik, bahwasanya ada model nada yang dilarang yang tadi yang dijelaskan oleh Ibnu Qayyim, yaitu ada ketukan-ketukan tertentu, nada-nada tertentu, aturan-aturan tertentu seperti lagu musik tertentu yang ada nadanya naiknya, turunnya seperti ini. Ah, ini tidak boleh karena ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi dan para sahabat. Nabi dan para sahabat baca Al-Qur'an dengan biasa-biasa saja, dengan lantunan biasa. sudah cukup menjadikan mereka bertakwa kepada Allah subhanahu wa taala. Khawatirnya kalau ada nada seperti ini buat orang akhirnya sibuk dengan nada-ada tersebut sehingga oh nadam salah, nadam kurang tepat. Sehingga akhirnya memalingkan orang dari kesibukan untuk mentadaburi konten dari Al-Qur'an. Silakan baca dengan mudah dan akhirnya oh kau enggak tahu nada begini loh yang benar. Akhirnya sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi dianggap sebagai apa? suatu yang syari. Oleh karenanya banyak para ee ahli qiraah yang terkenal banyak yang melarang ya meskipun ada yang bolehkan dengan syarat tidak merubah tajwid, tidak merubah mad panjang pendek, tapi saya lebih cenderung bahwasanya tidak tidak boleh. Tidak boleh ya. Kalau antum misalnya niru siapa Imam Haram, insyaallah enggak ada masalah ya. Selama tabiat biasa saja tidak ada aturan-aturan belajar tertentu, nada inada ini, ikut aja. Karena kita dengar kita kebawa, kita kebawa boleh. Ya, makanya Rasulullah mengatakan, "Siapa yang ingin baca Quran bacalah seperti Ibnu Mas'ud." Tadi kata Umar bin Khattab, "Kalau bisa baca seperti Abu Musa al-Asy'ari." Berarti niru boleh. Niru boleh. Ya kan? Kita kalau dengar orang baca kita terba terbawa. Tapi belajar ini nada ini, ini ketukan ini ketukan ini. Maka banyak ulama yang melarang. Di antaranya Ibnu Qayyim rahimahullahu taala. Kata Ibnu Qayyim rahimahullah, "Dengan perincian ini maka kesamaran telah hilang dan telah jelas kebenaran." Wullu man lahu ilmun biahwal salaf yamuqanahum burun minal qira alhanil musqi almutakallafah. Siapa yang punya ilmu tentang bagaimana kegiatan kondisi para salaf, tentu dia pasti tahu dengan yakin bahwasanya para salaf dahulu berlepas diri dari bacaan Quran dengan nada-nada musik. Allati hiya ala iqaat wa harakat mauzunah. Yang nada-nada musik tersebut sesuai dengan ketukan-ketukan tertentu, timbangan-timbangan tertentu, dengan hitungan tertentu makdudah-mahdudah. Waahum atq lillah min yaqra biha wausawiha. Dan mereka tentu bertakwa kepada Allah. Tidak bakalan baca Quran dengan model begini apalagi membolehkan baca Quran dengan model begini. Wamuqan annahum kanu yaqrauna bitahzin watrib yuhsin aswatum. Dan mereka juga pasti tahu bahwasanya para salaf dahulu baca Quran tidak datar. Tapi mereka baca Quran dengan lantunan, lantunan kesedihan untuk menggerakkan hati ya. Mereka baguskan suara mereka ya dan seterusnya ya. Maka ini makna dari laisa minna man lam yataganna bil Quran. Bukan dari golongan kami. Siapa yang baca Quran tanpa lantunan. Jadi kalau kita ada orang baca Quran ee gak datar kita suruh dia bikin lagu. Bikin lagu apa? Supaya enak di dibaca. Supaya kok enak baca. Saya dengar juga enak. Tapi kalau dia enggak bisa, ya sudah. Tadi ditanya, "Wahai Ibnu Abi Mulaikah, kalau dia enggak bisa suaranya bagus, yuhassin mastataa." Berusaha semaksimal mungkin baguskan. Karena ini sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Jadi, baca berusaha supaya indah di didengar. Ada orang baca fals dulu waktu belum ngaji kalau nyanyi fals, baca Quran juga fals. Ya sudah gak apa-apa. [tertawa] Dia sudah berusaha gak apa-apa. Yang penting dia nikmati, dia berusaha semaksimal mungkin. Tapi jangan sampai terjebak dengan lagu-lagu tertentu, nada-nada tertentu yang sekarang di ee sebarkan sampai parah. Akhirnya ada yang bikin nyanyian Al-Qur'an dengan nada rap, dengan nada rock and roll, dengan nada metal. Sekarang alhamdulillah kayaknya sudah dilaporkan sehingga sudah tidak ada lagi. Dulu sempat beredar bacaan-bacaan Quran dengan nada-nada seperti itu. Maka enggak boleh kita baca Quran sengaja dengan menciptakan nada tertentu. Kemudian kita terjebak dengan nada tersebut. kita pelajari nadanya begini donasolasidya seperti ini untuk baca Quran enggak boleh ya menyibukkan orang dengan hal yang tidak perlu melainkan orang dari ee keutamaan baca Al-Qur'an sesuai dengan sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ini bab berikutnya baca apa sudah dulu? Sudah tanya jawab aja ya. Iya tanya jawab aja. Khawatir pulangnya telat [tertawa] enggak? Sebenarnya khawatir soalnya tambah susah. Ingat ya, semua apa yang saya sampaikan masuk ujian ya. Tapi demikian saja kalau ada yang bertanya saya persilakan. Wallahu taala alam bawab. Yeah.