Transcript
AIOc648Lw74 • Kitab Zadul Ma'ad #13: Petunjuk Nabi Dalam Membaca Al Quran - Ust Dr. Firanda Andirja, M.A
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/FirandaAndirjaOfficial/.shards/text-0001.zst#text/2667_AIOc648Lw74.txt
Kind: captions
Language: id
Tes. Tes.
Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi ala ihsani wasyukr lahu
ala taufihin asadu alla ilahaillallah
wahdahu la syarikalahu
wa asadu anna muhammadan abduhuasulidw
allahumma shli alaihi wa ala alihi wa
ashabihi wa ikhwan. Eh, hadirin hadirat
yang dirahmati Allah subhanahu wa taala,
kita masuk pada fasal yang baru. Faslun
fi hadiihi shallallahu alaihi wasallam
fi qiraatil Quran waasttimaihi. Bab
tentang bagaimana teladan Nabi
sallallahu alaihi wasallam, petunjuk
Nabi dalam membaca Al-Qur'an dan juga
dalam mendengarkan Al-Qur'an.
Khusyuihi wukai qiroatihi. Dan bagaimana
beliau khusyuk dan menangis ketika
membaca Al-Qur'an dan juga wastimaihi
ketika mendengarkan lantunan Al-Qur'an.
Demikian juga permasalahan watahsinutihi
bihi wa tawabiik dan juga memperindah
suara ketika membaca Al-Qur'an dan
hal-hal yang terkait dengannya. Jadi
pada kesempatan ini kita akan bahas
tentang adab-adab dalam membaca maupun
mendengarkan Al-Qur'an.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata adalah
Nabi sallallahu alaihi wasallam ya
beliau punya hizbun yaqrauhu yaitu
beliau punya ee
apa namanya kebiasaan harian baca
Al-Qur'an sekian dan sekian. Dan ini
menunjukkan sunah seorang membiasakan
dirinya untuk membaca ee Al-Qur'an
dengan ukuran tertentu. Ya, la yukillu
bihi. Kata Ibnu Qayyim yaitu Rasulullah
komitmen dengan ee apa namanya?
Banyaknya dia baca Al-Qur'an. Ya, kalau
kita tentunya karena kesibukan
berbeda-beda mungkin kita bisa mulai
dari dua halaman kek, tiga halaman kek,
tapi kita berusaha untuk komitmen. Kapan
kita merasa bisa menambah, kita nambah
lagi. Dan ada hari-hari tertentu yang di
mana kita baca banyak-banyak sebagaimana
para salaf mencontohkan. Misalnya ketika
bulan Ramadan ya ee ya Al Imam Syafi'i
rahimahullah dalam bulan Ramadan sehari
khatam Al-Qur'an dua kali ya. Sehari
khatam Al-Qur'an dua kali. Adapun kalau
dalam keseharian maka dianjurkan
seminggu atau sebulan ya sebulan khatam
ya. Dan Rasulullah ada larangan kurang
dari 3 hari. Karena dikhawatirkan kalau
dalam 3 hari baca Quran kurang bisa
mentadaburi kata para ulama. Kecuali
ketika waktu-waktu utama seperti bulan
Ramadan maka seorang bisa ee baca Quran
dengan cepat. Apalagi sekelas Al Imam
Syafi'i yang semua tafsir Quran mungkin
sudah di kepala beliau. Sehingga ketika
beliau baca, semua tafsiran sudah beliau
ketahui sehingga beliau mengkhatam Quran
ee sehari dua dua kali.
E intinya seorang berusaha untuk
komitmen dengan ukuran Quran yang dia
baca dan melatih dari sedikit kemudian
dinaikkan dan dinaikan dan demikian itu
sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Wat qiraatuhu tartilan. Dan Rasul sahu
alaihi wasallam bacaannya adalah tartil.
La hadan wala ajala. Tidak buru-buru,
tidak, enggak. Tapi tartil baca dengan
tajwid. Bal qiraatan mufassaratan harfan
harfan. Bahkan disebut dengan qiraah
mufassarah. Qiraah mufassarah
ditafsirkan oleh para ulama itu qiraah
yang kalau kita dengar hurufnya jelas
semua. Misalnya alhamdulillahi rabbil
alamin. Jadi alhamdulillahi rabbil
alamin itu enggak jelas. Tapi Nabi kalau
baca Quran setiap huruf kedengaran
dengan apa? Jelas. Kadang-kadang orang
baca
enggak jelas saking cepatnya atau
dengungnya kebanyakan sehingga akhirnya
tidak jelas satu huruf dengan huruf yang
yang lain. Adapun Nabi sallallahu alaihi
wasallam beliau ee membaca Quran dengan
tartil dengan qiraah mufassarah.
qiraatah mufassarah yaitu datang dalam
ee hadis Abu Daud dan Tirmidzi
ditafsirkan oleh para ulama itu bacaan
Nabi hurufnya jelas semua. Tidak ada
huruf yang terjatuhkan atau tersamarkan.
Semua huruf kedengaran dengan jelas.
Wana yaqt atau yuqatiu qiraatahu ayatan
ayatan. Maka beliau satu ayat satu ayat.
Jadi beliau tidak satu nafas langsung
misalnya dua ayat satu nafas langsung
tiga ayat beliau berhenti setiap ayat
ya.
Bahkan misalnya surat-surat yang ayatnya
pendek-pendek tetap beliau baca setiap
ayat beliau berhenti. Setiap ayat beliau
berhenti. Dan itu salah satu hal yang
membantu kita mentadaburi Al-Qur'an
dengan dibaca per ayat. Ya, dengan
dibaca per ayat. Makanya Ibnu Qayyim
punya perkataan indah. Beliau berkata,
"Qiro ayatu ee qiroatu ayatin wahidatin
bitadabburin wa tafahumin khairum min
khatmah bila tadabbur wala tafahum wala
taakul." Baca satu ayat saja tapi dengan
dipahami maknanya, ditadaburi
kandungannya lebih afdal daripada khatam
Quran tapi tidak paham maknanya.
Wakana yamudu hurufil mad fayamudurman
wamudurrahim. Dan beliau kalau mad
beliau matkan misalnya arrahman jadi
dipanjangkan arrahim bukan
arrahmanurrahim. Nah itu itu namanya
tidak dimadkan. Jadi waktunya mad beliau
panjang arrahman arrahim.
Dan beliau sebelum baca Quran, beliau
beristiadah, bertaawud kepada Allah
Subhanahu wa taala dengan azubillahim
minasyaitanirrajim
atau dengan membaca Allahumma inni
azubika minasyaitanirrajim min hamzihi
wa nafhihi wa nafsih. Yaitu aku
berlindung kepada engkau dari
tiupan-tiupan setan, dari godaan-godaan
setan. Boleh kita baca auzubillah
minasyaitanirrajim. Boleh kita dengan
tambahan auzubillahissamil alim
minasyaitanirrajim min hamzihi wa
nafhihi wa nafsih.
Dan beliau bertaawud sebelum membaca
Al-Qur'an ya.
Dan di antara sunah beliau bukan hanya
beliau membaca Al-Qur'an, beliau juga
suka mendengar orang lain membaca
Al-Qur'an. Jadi beliau suka ee mendengar
lantunan orang lain membaca Al-Qur'an.
Dan beliau pernah menyuruh Ibnu Mas'ud
untuk membaca Al-Qur'an.
Ee kemudian Ibnu Mas'ud baca kalau tidak
salah surah An-Nisa dan beliau mendengar
dengan khusyuk sampai akhirnya beliau
menangis ya karena mendengar lantunan
bacaan Ibnu Mas'ud ya. Ibnu Mas'ud
inilah yang Rasulullah pernah puji kata
Rasul sahu alaihi wasallam, "Man ahabba
an yaqraal Quran gaddon thiyan kama
unzil falyaqra biqirati
ibnu ummi abd." Ya. Kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Siapa ingin baca Quran
yang asli seperti dia baru turun, masih
segar, maka bacalah seperti bacaan Ibnu
Mas'ud." Bacaan Ibnu Mas'ud. Dan Rasul
Sallahu Alaihi Wasallam pernah suruh
beliau baca Quran dan beliau menyimak
sampai akhirnya beliau menangis karena
bacaan Ibnu Mas'ud. Dan dalam kondisi
apapun tidak menghalangi seorang baca
Quran wanaqraul Quran qoiman waqidan.
Rasulullah sahu alai wasallam baca Quran
dalam kondisi berdiri beliau baca Quran
waqaidan Rasulullah dalam kondisi duduk
baca Quran wa muttaji'an baca Quran
sambil berbaring juga boleh ya mungkin
orang bilang tidak beradab tapi enggak
apa-apa Rasulullah pernah berbaring
Rasulullah pernah bersandar kepada apa
namanya Aisyah radhiallahu taala anha ya
makanya Rasulullah pernah bersandar
kepada Aisyah sambil baca Al-Qur'an
padahal Aisyah dalam kondisi haid ini
sunah antum juga gitu sama istri
sandaran sambil baca Al-Qur'an murajaah
ya. Qul huallahu ahad. Allahusad
[tertawa]
lam jadi
Abi lagi baca Quran apa lagi ngerukiah.
[tertawa]
Jadi ee Rasulullah terkadang baca Quran
sambil berbaring, sambil bersandar ee
mutawad'an wa muhditan dalam kondisi
berwudu maupun dalam kondisi berhadas.
Ya.
Jadi kalau ee hadas kecil tidak
menghalangi baca Al-Qur'an. Hadas kecil
dengan sepakatan ulama tidak menghalangi
membaca Al-Qur'an. Walam yakun yamnauhu
minqatihial janabah. Dan Rasul sahu al
wasallam tidak melarang beliau dari
membaca Al-Qur'an kecuali dalam kondisi
junub. Ada hadis tentang hal ini
bahwasanya Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
melarang ee orang baca Quran dalam
kondisi junub. Tetapi hadis ini
diperselisihkan oleh para ulama. Hadis
ini diperselisih oleh para ulama.
Oleh karenanya,
bolehkah seorang baca Al-Qur'an dalam
kondisi junub? Dua pendapat. Pendapat
jumhur ulama empat mazhab, yaitu mazhab
ee Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali
mengatakan tidak boleh orang junub baca
Al-Qur'an. Ada hadis tapi dalam sanadnya
bermasalah. Dan sebagian ulama
membolehkan seperti Zahiriah dan juga ee
al Imam albukhari. Karena Imam Bukhari
memandang hadis yang melarang hadisnya
apa? Lemah. Ya. Ya. Kemudian ada hadis
yang sepertinya berlawanan bahwasanya
Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam
mengingat Allah fi kulli dalam segala
kondisi. Yaitu Rasulullah tidak
terhalang baca Al-Qur'an kapan kapan
saja. Intinya dua pendapat ya. Kalau
kita hati-hati kita jangan baca Quran
kecuali dalam kondisi apa? junub. Karena
ini juga masalah khilaf, maka banyak
ulama membolehkan kalau baca Quran yang
terkait dengan zikir pagi petang boleh
meskipun dalam kondisi junub. Dia tidak
berniat untuk tilawah tapi dalam rangka
untuk zikir pagi petang. Contohnya dalam
zikir pagi petang ada tiga qul. Ada
enggak? Nah, kita boleh baca. Dalam
zikir pagi petang ada ayat kursi. Maka
kalaupun kita junub belum sempat mandi,
kita boleh baca. Tapi niatnya bukan
untuk bertilawah.
Adapun kalau untuk bertilawah maka
khilaf di kalangan para ulama saya
sendiri lebih cenderung bahwasanya
hadisnya difetapi untuk kehati-hatian ee
maka seorang tidak baca Quran dalam
kondisi apa? Ee junub. Pernah saya masih
ingat kawan saya waktu di kuliah. Jadi
kita ada apa ee mata kuliah ee baca
Quran dan setoran hafalan.
hanya guru suruh sat sampai ada teman
teman kita orang Indonesia ee disuruh
baca dia enggak mau baca jam itu jam 10.
lagi
baca katanya. Enggak enggak. Kenapa
junub syekh? [tertawa]
Kata syekh pulang mandi.
Maksud dia hadir dia hadir. Dia
subhanallah dia bertahan. Mungkin kalau
malu baca aja mungkin. Tapi dia demi
karena Allah dia tidak perlu malu. Dia
bilang junub. Akhirnya saya suruh pulang
untuk mandi. Ao keluar dari kelas sudah
mandi. Saya lupa balik atau tidak.
[tertawa]
Tapi ini masalah khila khilafiah ya.
Tapi hati-hati seorang jangan baca Quran
ketika junub. Itu lebih lebih itu jumhur
ulama dan lebih hati-hati.
Adapun kalau hadas kecil maka enggak ada
masalah. Hadas kecil buang air kecil,
buang air besar, buang angin. Ini tidak
menghalangi seorang untuk baca
Al-Qur'an. Berbeda ketika menyentuh
Al-Qur'an. Ini juga masalah khilaf.
Boleh enggak nyentuh Al-Qur'an dalam
kondisi berhadas? Ini khilaf menurut
mayoritas ulama, kalau seorang dalam
kondisi hadas meskipun hadas kecil, dia
tidak boleh menyentuh lembaran
Al-Qur'an. Sampulnya oke, tapi lembaran
Al-Qur'an tidak boleh. Sebagian ulama
mengatakan boleh. Yang dimaksud oleh
firman Allah, "La yamassuhu illal
mutahaharun." Al-Qur'an tidak disentuh
kecuali orang-orang kecuali makhluk yang
disucikan. Maksudnya malaikat. Maksudnya
malaikat ya.
Eh, adapun hadis yamasuh thaahir tidak
ada yang menyentuhnya kecuali orang yang
bersuci. Maka ini khilaf di kalangan
para ulama. Intinya kalau kita memilih
pendapat jumhur dalam kondisi tidak
dalam kondisi tidak berwudu, dalam
kondisi hadas kecil, kita jangan
menyentuh lembaran apa? Al-Qur'an. Maka
di antara solusi kita baca Quran pakai
HP, pakai HP, pakai iPad. Karena
pendapat yang benar HP dan iPad tidak
mengambil hukum lembaran Al-Qur'an.
tidak mengambil hukum lembaran Al-Qur'an
sehingga orang boleh baca Al-Qur'an
lewat HP, lewat iPad dengan disentuh
tidak jadi masalah. Jadi perlu dibedakan
antara hukum menyentuh lembaran
Al-Qur'an dengan membaca Al-Qur'an.
Kalau membaca Al-Qur'an berhadas kecil
boleh baca atau tidak boleh? Kalau
menyentuh lembaran Al-Qur'an maka banyak
yang bilang tidak boleh. Tidak boleh.
Itu pun yang dimaksud Al-Qur'an yang
murni. Kalau buku tafsir kata peramal,
lihat mana yang lebih banyak tafsirnya
atau Al-Qur'annya. Kalau tafsirnya lebih
banyak maka dia tidak mengambil hukum
mushaf. Maka kita boleh sentuh. Ini
namanya buku tafsir, bukan buku
Al-Qur'an, bukan mushaf Al-Qur'an.
Catat ya. Itu masuk ujian semua.
[tertawa]
Diulang ya. Diulang.
Kalau enggak catat gimana nyonteknya
nanti? Harus. [tertawa]
Tib
wakana yataghi adalah Nabi sallallahu
alaihi wasallam kalau baca Quran maka
beliau melantunkan. Jadi bukan baca
datar alhamdulillahirabbil alamin
arrahmanirrahim maliki tidak di
dilantunkan dilantunkanjiuahu
bihi ahyanan dan terkadang beliau
melakukan tarji.
Apa itu tarj akan kita bahas kama raja
yaumal fatti fiq qiraati inna fatahna
laka fat mubina
waka Abdullah bin Mugffal tarjiahu
marat disebut oleh Imam Bukhari apa itu
tarji? Ada namanya alqiraah bitarji.
Tarji secara bahasa artinya mengulang.
Rasulullah meng inna fatahna laka fatham
mubina.
Banyak ulama menafsirkan yang dimaksud
dengan tarji yaitu ada goyangan di
akhirnya. Misalnya inna fatahna
laka fatham mubina.
Ada ada gitu.
Maka Rasulullah pernah baca seperti itu
terkadang.
Ini bukan
kebiasaan beliau. Beliau pernah baca
begitu. Inna fatahna laka fatham mubina.
Ada ada kayak gitunya. Ada kayak ada
goyangannya. Namanya tarji. Yaitu ada
suara yang berulang.
Nah, masalah ini pun khilaf. Sebag ulama
mengatakan bahwasanya Rasulullah baca
sambil goyang seperti itu karena beliau
sedang di atas unta.
Karena waktu itu mereka beliau sedang di
atas unta. Namun Ibnu Qayyim
rahimahullah membantah kata beliau
pendapat yang benar bukan karena untanya
tapi memang beliau sengaja karena sampai
sahabat mengatakan saya bisa mengulangi
lagi meniru mengkisahkan bagaimana cara
Nabi membaca dengan tarji. Yaitu di
akhirnya ada goyangan. Namun ini
sesekali. Dan ini kata Ibnu Qayyim
menguatkan bahwasanya kalau baca Quran
dengan dilantunkan bukan bacaan dengan
bacaan daftar ya. Bacaan datar. Kita
Indonesia rata-rata kalau baca Quran
dengan lantunan. Kalau orang Arab banyak
di antara mereka baca Quran seperti baca
koran karena mereka seperti baca apa ya?
Jadi enggak enggak dinyanyikan. Saya
sering dapati orang Arab mereka baca
hamdabbil alamin arrahmanirrahim maliki
yaumiddin. Jadi seperti apa? Karena
mereka tulisan mereka dari kecil
bacaannya begitu. [tertawa] Jadi seperti
baca buku biasa tapi dengan tajwid cuma
tidak di dilakukan. Itu sudah sah
tentunya dan itu sudah baik. Tapi di
antara sunah adalah dibaca ee Al-Qur'an
dengan di dilantunkan. Dengan
dilantunkan.
Ee di antaranya Rasulull Sallahu Alaihi
Wasallam bersabda, "Zayyinul qurana
biaswatikum." Hiasilah Al-Qur'an dengan
suara kalian. Ya, Al-Qur'an dibaca
dengan menghiasi suara. Rasul sahu
alaihi wasallam juga pernah bersabda,
"Laisa minna man lam yataganna bil
Quran." Bukan dari kalangan kami orang
yang tidak membaca Al-Qur'an dengan
dilantunkan. Yaitu sunahnya sangat di
tekankan agar seorang baca Quran dengan
dilantunkan sehingga dia nyaman dan dia
menikmati bacaan Quran tersebut. Kalau
lantunannya wajar-wajar saja akan
menambah tadabur. Akan mempermudah
tadabur Al-Qur'an ya. Akan mempermudah
tadabur Al-Qur'an. Baik dia yang membaca
maupun misalnya jadi imam makmum juga
menikmati sehingga bisa ikut terbawa
dengan lantunan tersebut. Mudah
mentadaburi ayat-ayat Allah Subhanahu wa
taala. Dan kita tahu bahwasanya
mentadaburi ayat-ayat Allah sangat
dituntut. Dan Rasul sahu alaih wasallam
juga pernah bersabda, "Ma adinallahu
lyain kaanihi
linabin hasanuti yatagil Quran." Rasul
Allah tidak pernah mendengar sesuatu
dengan senang seperti Allah mendengar
Nabi yang suaranya indah kemudian
melantunkan Al-Qur'an.
Dari sini kita tahu kata Ibnu Qayyim
bahwasanya ketika Nabi sallallahu alaihi
wasallam melakukan tarjih dengan ee
kayak gitu itu Rasulullah adalah
menyengaja. Bukan karena goyangan apa?
Unta ya.
Kalau apa namanya? Eh, kalau memang itu
karena goyangan unta, maka sahabat
Abdullah bin Mugffal radhiallahu anhu
tidak akan menghikayatkan. Ketika
Abdullah bin Mugffal menghikayatkan,
"Nabi baca begitu, berarti dia memahami
memang Nabi sengaja untuk baca seperti
itu, seperti itu agar ditiru." Jadi,
sesekali enggak mengapa kita ee
melantunkan seperti itu, sesekali tidak
jadi tidak jadi masalah ya.
Cuma e sebagian ulama melarang misalnya
kita ya itu enggak boleh tardid itu
beda. Jadi ya
itu enggak ya. Tapi Rasulullah tarjid
itu di ujungnya. Inna fatahna laka
fatham mubina
di ujung ya. Jadi bukan setiap ngaji
gitu enggak. itu disebut tardid dan itu
dibenci oleh para qura ya. Ya, itu apa?
Naik turun, naik turun.
Ee
kalau seandainya kata Ibnu Qayyim, kalau
seandainya Nabi membaca dengan tarji
dengan digoyangkan di akhir kata adalah
karena goyangan unta, tentu perbuatannya
tidak disebut dengan sebutan tersendiri.
Ketika Abdullah bin Gfalah menyatakan
Rasulullah baca dengan tarji, berarti
tarji itu salah satu metode membaca
Al-Qur'an.
Ya, dengan tadi itu menunjukkan
Rasulullah melantunkan Al-Qur'an.
Dan suatu hari Rasul sahu alaihi
wasallam suatu malam pernah mendengar
bacaan Abu Musa al-Asy'ari radhiallahu
taala anhu.
Rasulullah malam mendengar, besoknya
Rasulullah kabarkan, "Saya tadi malam
dengar kau baca." Apa kata Musa al
Asyari? Lau kuntu a'lamu annak tastamiu
lahabartuhu laka tahbiran. Seandainya
saya tahu tadi malam kau dengar saya
baca, saya akan lebih menghiasi lagi
bacaan Quranku. Saya akan lebih
menghiasi lagi bacaan Quran. Maka ini
dalil bahwasanya seorang kalau baca
Quran dengan indah bukan untuk ri tapi
untuk menyenangkan orang yang mendengar
agar bisa dia bisa mentadaburi dan juga
makmum bisa nyaman sehingga mungkin dia
ketika tarawih dia baca panjang-panjang
karena dia bacaannya enak bukan untuk
dipuji maka ini tidak mengapa bahkan itu
sunah karena Abu Musa al-Asyari
mengatakan seandainya saya tahu kau
dengar saya saya tahu engkau mendengar
lantunanku lahabbartuhu laka tahbir maka
saya akan tambah lagi mengindahkan baca
bacaanku karena ada orang yang mendengar
sambil menik menikmati. Jadi beda antara
tujuan menyenangkan hati orang karena
Allah agar dia mudah tadabur. Beda
seorang beramal saleh untuk dipuji.
Kalau untuk dipuji namanya riya dan dosa
ya.
Kalau jadi imam kita baca yang ee enak.
Jangan Allahu Akbarin arrahmanirrahim.
Maliki yaumiddin. Ya kenapa enggak
dibawa? Saya takut riak. Bukan takut
riak. Kau punya tugas baca Quran dengan
enak agar makmum bisa menikmati bacaan
Quranmu. Dan itu punya pengaruh.
Al-Qur'an tuh bacaan dengan indah punya
pengaruh terhadap makmum. Ya, kalau
bacanya enggak enak, makmum berat di
belakang sehingga sering
apalagi imamnya lama ya, enggak
habis-habis ya, enggak selesai-selesai.
J. Kalau imam baca enak, kita selesai
pengin tambah lagi. Selesai pengin
tambah tambah lagi.
Dalam satu hadis dari
ee kata Abdul Jabbar bin Alad qala samu
ibna Abi Mulaikah yaakul qala Ubaidillah
bin Abi Yazid. Kata Ubaidillah bin
Yazid, "Marbina Abu Lubabah." Kami
dilewati oleh Abu Lubabah ya radhiallahu
taala anhu. Fattahu
eh
hatta dakala baitahu. Kami pun ikut dia
sampai dia masuk ke rumahnya. Faidza
rajulun rul haitah.
Eh,
tiba-tiba ada seorang penampilannya
kurang kurang baik ya. Fasami yaakul.
Aku mendengar beliau berkata samu
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
yaaklisa minna manam yatagna bil Quran.
Aku mendengar Rasul wasallam bersabda,
"Bukan dari golongan kami seorang baca
Quran tidak dilantunkan."
Qala faqulu liibni Abi Mulaikah. Kata
Ubaidillah bin Abi Yazid, "Wahai Ibnu
Abi Mulaikah, ya Aba Muhammad, arroita
idam yakun hasanud." Bagaimana kalau
ternyata suaranya enggak indah? Suaranya
enggak indah. Qala yuhasinuhua, yaitu
dia berusaha mengindahkannya semampunya.
Ada orang dari sananya suaranya kurang
kurang enak ya, suanya kurang enak. Dulu
ada muadin orang tua di kampung dulu.
Dia kalau azan suaranya sangat tidak
enak. Sangat tidak enak. Terus ada yang
tegur, "Bapak kalau azan yang
bagus-bagus sedikit suaranya." Kata
bila, "Kalau saya azan bagus orang
tidur. [tertawa] Tapi kalau saya azan
begini orang bangun tidur terganggu."
Kaget karena suaranya melengking dan
kurang enak. Tapi dia luar biasa azan
tepat waktu luar biasa. Sementara orang
mungkin tidur sore-sore dia azan,
subuh-subuh dia azan bangun kalau dengar
suara beliau. Melengking tanpa nada.
Saya masih ingat dia bilang gitu. Kalau
saya azan bagus-bagus, orang ti tidur.
Memang dia enggak bisa azan bagus.
[tertawa]
Kalau azan begini orang pada bangun
untuk salat. Tujuannya kan bangunkan
orang salat, bukan buat tambah tidur.
Tib. Di sini Ibnu Qayyim menyebutkan
tentang khilaf di kalangan para ulama
tentang hukum bagaimana
ee membaca Al-Qur'an dengan alhan dengan
nada. Dengan nada.
Ada dua pendapat secara umum. Ada yang
mengatakan makruh baca Quran dengan
nada. Di antara yang menaskan menyatakan
hal ini adalah Imam Ahmad dan Imam Malik
dan selain mereka berdua. Al Imam Ahmad,
Imam Ahlusunah pernah berkata dari
riwayat Ali bin Said, dia berkata,
"Qiroatul alhan ma tujibuni wahua
muhdat." Bacaan dengan nada-nada naik
turun tidaklah menyenangkan aku. Dan itu
bidah. Dan itu bidah. Maksudnya Imam
Ahmad ingin mengatakan baca Quran untuk
ibadah maka ikut aturan.
Jangan bikin-bikin nada sendiri.
Cara-cara baca sen sendiri. Kalau tidak
sesuai sunah, maka qira itu qiraah yang
bidah. Seperti tadi ya itu enggak enggak
ada sunah Nabi seperti itu. Mungkin ada
yang dengar enak ya, tapi enggak. Itu
bukan sunah Nabi ya.
Ee demikian juga dalam riwayat
Almarrudhizi
beliau berkata Imam Ahmad, "Alqiraatu
bil alhan bidatun la tusma."
bacaan Quran dengan lantunan-lantunan,
nada-nada naik turun-naik turun, maka
ini bidah, jangan didengar.
Imam tidak suka.
Tentu ada banyak pertimbangan. Pertama,
tidak diajarkan oleh Nabi. Yang kedua,
orang bakalan fokus dengan nada-dada
tersebut. Yang ketiga, mungkin orang
fokus kepada nadanya, bukan kepada
kontennya. Banyak hal yang
dipertimbangkan oleh Al Imam Ahmad.
Dalam riwayat yang lain, beliau berkata,
"Qiraatul alhan bid'atun bidatun." Baca
Al-Qur'an dengan naik turun, naik turun,
dengan nada-nada adalah bidah dan bidah.
Beliau tekankan sampai dua dua kali.
Kemudian beliau berkata dalam riwayat
yang lain, ini riwayat agak beda dalam
riwayat ee Arram ee dalam riwayat banyak
ini riwayat Abdullah, riwayat Yusuf bin
Musa, Yaakub bin Bakhtan, riwayat
Alathram, riwayat Ibrahim bin Harit.
Kata Imam Ahmad, alqiroatu bil alhan la
tujibuni illa any yakuna dalalika
jirmah. Sesungguhnya bacaan Al-Qur'an
dengan nada naik turun na turun tidak
menyenangkan aku. Kecuali kalau itu
memang secara tabiatnya memang suaranya
indah dan nadanya bukan dibuat-buat.
Memang dari sananya dia suaranya apa? Ee
aslinya begitu enak didengar tidak dia
terikat dengan nada-ada tertentu ya.
Fqru bi huznin ml Abi Musa atau dia dia
baca dengan bacaan sedih seperti suara
Abu Musa al-Asyari. Maksudnya begini,
ada orang terkadang suaranya serak-serak
basah kita dengar dia baca Quran enak.
Ada orang suaranya memang melengking
kalau kita dengar indah. Jadi memang dia
dari sananya kalau baca Quran memang
enak ya. Bacaan Quran enak ya.
Apalagi Rasulull Sallahu Alaihi Wasallam
bersabda dalam riwayat dalam riwayat
yang lain ee apa namanya? Dalam riwayat
yang lain Imam Ahmad meriwayatkan hadis
Nabi. Kata Imam Ahmad Rasulullah
bersabda, "Zayinul Quran biaswatikum."
Hiasilah Al-Qur'an dengan suara kalian.
Mannahu an yuhassinahu. Ya, indahkan
bacaan. Jadi bukan bacaan datar, bukan
bacaan datar tetapi dengan dihiasi tapi
tidak denganada tertentu yang
wajar-wajar saja.
Tib. Kemudian Imam Ahmad ee membawakan
dalil-dalil yang lain ya. Adapun Ibnu
Uyainah beliau berkata, "Yang dimaksud
dengan malam yatagonna bil Quran."
Yatagonna di sini dia tafsirkan dengan
yastagni bihi. Siapa yang tidak
menjadikan Al-Qur'an cukup baginya maka
bukan bagian dari kami. Namun ini
dibantah oleh Imam Syafi'i dan yang
lainnya yang tafsiran Ibnu Uyainah tidak
tepat. Maksud dari hadis Nabi, malam
yatagna bil Quran falaisa minni.
Maksudnya siapa yang tidak melantunkan
bukan maksudnya siapa yang tidak merasa
cukup dengan Al-Qur'an ya. Karena didung
didukung dengan hadis-hadis yang lain.
Rasul sahu alaihi wasallam suruh
menghiasi Al-Qur'an dengan suara yang
indah. Maka yang benar ee bukanlah
tafsiran dari Ibnu Uyainah yang
mengatakan hadis siapa malam Nabi
Alquran. Maksudnya siapa yang tidak
merasa cukup dalam Al-Qur'an itu
tafsiran yang salah yang benar. Siapa
yang tidak melantunkan Al-Qur'an dengan
suara yang indah, maka bukan dari
golongan kami. Maka seorang berusaha
membaca Al-Qur'an dengan dilantunkan.
Demikian juga Imam Malik tadi, Imam
Ahmad, Imam Malik juga tegas ketika
ditanya tentang baca Al-Qur'an dengan
alhan dengan nada-nada. Beliau berkata,
"La tujibuni." Tidak menyenangkan aku.
Dan dia berkata, "Innama hua ginaun
yataganun." Itu hanya nyanyian-nyanyian.
Mereka gunakan nyanyian untuk pasang di
Al-Qur'an.
Sekarang kita tahu ada kemarin kasus
ramai berlebihan orang membaca Al-Qur'an
dengan lagu metal, lagu rock.
Zulzilatil ardu zilzalaha
itu jadi nyanyian
luar biasa ngeri seperti itu. Jadi
mereka jadi main-main. Ada yang lagu
pop, lagu rege, bisa sekarang pakai AI
atau pakai program bisa dibikin ya.
Ya, kalau kalau orang bilang lagu boleh,
musik boleh, Quran boleh, gabung kan
bagus katanya. Gak enggak boleh. Kalau
tepung boleh, gula boleh, kacang boleh,
kenapa martabak tidak boleh? [tertawa]
Enggak,
enggak beda ibadah tidak boleh
campur-campur. Ibadah ada aturannya, ya.
Ibadah ada aturannya, ya. Maka Imam
Ahmad eh Imam Malik mengatakan itu
hanyalah nyanyian yang mereka pasangkan
pada Al-Qur'an. liudu alaihim. Agar
mereka dapat duit. Mereka baca depan
orang dengan nyanyian-nyanyian yang
indah. Orang dengar senang kasih kasih
duit.
Demikian juga diriwayatkan tidak suka
baca Quran dengan nada-nada tertentu.
Anas bin Malik, Said bin Musayib, Sayid
bin Zubair dan banyak tabiin. Dan yang
lain Ibrahim Nakhai, Ibnu Sirin, Alhan
Albashri, Alqasim bin Muhammad dan yang
lainnya.
Demikian juga Imam pernah ditanya,
"Bagaimana menurut Anda bacaan Quran
dengan nada?" Kata beliau, "Siapa
namamu?" Kata orang bertanya,
"Muhammad." Kata dia, kata Imam Ahmad,
"Apakah senang kau dipanggil ya
Muhammad?"
"Ya Muhammad." Ya, Muhammad saja. Ini
isyarat bahwasanya kalau nada-nada
terkadang orang terbawa dengan apa?
Nada. sehingga bisa merubah ee
mad-mad dalam bacaan
tayib. Namun datang dalam riwayat ee
sebagian ulama yang lain ya seperti Imam
Ibnu Qayyim berkata dan di antara yang
bolehkan alhan nada dalam Al-Qur'an
adalah Thabari.
Eh diriwayatkan Thabari dari Umar bin
Khattab ya. Ya. Imam Umar pernah
berkata, "Wahai Abu Musa al-Asy'ari,
zakirna rabbana. Ingatkan kami kepada
Allah."
Fayqra Abu Musaatalahan. Maka Musa
berbaca dengan lantunan.
Ya
Umar berkata juga, "Manag
quran
Abi Musafal."
Siapa yang mampu untuk membaca Al-Qur'an
seperti nadanya Abu Musa al-Asy'ari,
maka lakukanlah.
Ya, Tib. Maka sebagian ulama melarang
dan ini juga banyak sebagian ulama
membolehkan dari situ Ibnu Qayyim
rahimahullahu taala kemudian ee
memadukan keduanya ya.
maka ee
panjang. Beliau menyebutkan dua pendapat
ya.
Kemudian beliau menyimpulkan, beliau
berkata,
"Adapun pemutus dari dua khilaf dalam
hal ini ya, bahwasanya lantunan itu ada
dua model.
Ahaduhuma yang pertama maakt thatu
wasamahat bihi min giri takallufin w
tamrinin wim."
yaitu nada yang memang itu secara tabiat
dan tanpa di dipaksa-paksakan dan tanpa
belajar.
Jadi, nada yang keluar secara alami
bukan dipelajari, bukan
dilatih-latihkan. Gimana naik nadanya
kurang tinggi, naik lagi, turun lagi.
Itu itu gak itu terlalu dibuat-buat.
Bal id khulya wa wa eh apa namanya?
Eh
ahin.
Kalau dibiarkan dia akan keluar dengan
sendirinya e nada-nada tersebut.
Maka ini boleh yaahu
q Abu Musa nabi laimakah.
Dan kalau tabiatnya sudah begitu
kemudian dia tambah lagi untuk dia
baguskan, maka ini juga boleh. Karena
Abu Musa al-Asy'ari berkata kepada Nabi,
"Kalau saya tahu kau dengar bacaanku,
tentu aku akan tambah baguskan lagi baca
bacaanku." Ya,
maka inilah yang dilakukan oleh para
para salaf ya, bahwasanya mereka secara
tabiat tidak dibuat-buat. Ini boleh.
Alwajhutani. Adapun lantunan model kedua
maana minzalika sinatan minasai laisa f
asamahatu bihi. Ya, itu yang
dibuat-buat. Secara tabiat tidak pas,
tapi dibuat-buat
ya. Bal yahsulu illa bitakallufinasin
tamarunin. Tapi tidak bisa dia bisa
kecuali dengan dipaksa-paksa,
dibuat-buat dan latihan baru dia bisa
punya nada seperti itu.
Kama yataallamu aswatal gina bianwail
alhan alasitah wal murakkabah.
Sebagaimana seorang belajar nada-nada
nyanyian dengan kunci-kunci tertentu,
dengan not-note tertentu yang tersusun
ala iqit makhsusatin sesuai dengan
ketukan-ketukan tertentu ya. Waanin
mukhtarah dan kunci-kunci tertentu ya.
La tahsulu illa bit taallum tidak
mungkin atau la tual illa bit taalum.
Tidak mungkin dia bisa ahli kecuali
dengan belajar watakaluf dengan
dipaksa-paksa.
salafu. Inilah yang dibenci oleh para
para salaf. Wa abuha wammuha. Dan mereka
cela dan mereka ingkari. Ya, mereka abu
itu mereka mencela.
qata biha dan mereka melarang baca Quran
dengan cara seperti ini. Waaru biha dan
para salaf mengingkari orang baca Quran
dengan model seperti ini.
Adapun yang melarang eh bacaan dengan
Quran dengan nada, maksudnya nada yang
seperti ini. Dari sini kemudian timbul
perselisihan di kalangan para qura
tentang baca Quran dengan maqamat.
dengan makam ini, makam ini, makam ini,
masuk dengan makam ini. Mereka ada
beberapa makam saya juga kurang tahu ya.
Mereka yang ahli nadanya seperti ini.
Kalau makam ini seperti ini. Kalau kita
ikut pendapat Ibnu Qayyim berarti boleh
atau tidak boleh? Tidak boleh. Karena
itu dipelajari nadanya ada kapan
mulainya, kapan ref-nya, kapan turun
lagi, ada ketukan-ketukan tertentu. Maka
ini ee seorang baru bisa dengan apa?
Dengan takaluf, dengan belajar. Nah, ini
yang tidak boleh menurut Ibnu Qayyim
rahimahullahu taala. Dan banyak
imam-imam haram mereka baca biasa aja
dipaksa-paksain, "Oh, imam ini lagi baca
dengan makam ini." Padahal mereka gak
mereka baca-baca aja ya. Syekh Sudis
makam apa? Baca aja dia. Syekh Syuraim
bacanya masyaallah indah tanpa
makam-makam indah. Ya, yang mereka baca
tidak makam-makam, tidak ada nada-
ketukan-ketukan tertentu. Ee sebagian
ulama membolehkan selama tidak merubah
ee selama tidak merubah hukum tajwid.
Tapi saya lebih cenderung kepada
penjelasan Imam Ahmad, Imam Malik,
bahwasanya ada model nada yang dilarang
yang tadi yang dijelaskan oleh Ibnu
Qayyim, yaitu ada ketukan-ketukan
tertentu, nada-nada tertentu,
aturan-aturan tertentu seperti lagu
musik tertentu yang ada nadanya naiknya,
turunnya seperti ini. Ah, ini tidak
boleh karena ini tidak pernah diajarkan
oleh Nabi dan para sahabat.
Nabi dan para sahabat baca Al-Qur'an
dengan biasa-biasa saja, dengan lantunan
biasa. sudah cukup menjadikan mereka
bertakwa kepada Allah subhanahu wa
taala. Khawatirnya kalau ada nada
seperti ini buat orang akhirnya sibuk
dengan nada-ada tersebut sehingga oh
nadam salah, nadam kurang tepat.
Sehingga akhirnya memalingkan orang dari
kesibukan untuk mentadaburi konten dari
Al-Qur'an. Silakan baca dengan mudah dan
akhirnya oh kau enggak tahu nada begini
loh yang benar. Akhirnya sesuatu yang
tidak ada di zaman Nabi dianggap sebagai
apa? suatu yang syari. Oleh karenanya
banyak para ee ahli qiraah yang terkenal
banyak yang melarang ya meskipun ada
yang bolehkan dengan syarat tidak
merubah tajwid, tidak merubah mad
panjang pendek, tapi saya lebih
cenderung bahwasanya tidak tidak boleh.
Tidak boleh ya.
Kalau antum misalnya niru siapa Imam
Haram, insyaallah enggak ada masalah ya.
Selama tabiat biasa saja tidak ada
aturan-aturan belajar tertentu, nada
inada ini, ikut aja. Karena kita dengar
kita kebawa, kita kebawa boleh. Ya,
makanya Rasulullah mengatakan, "Siapa
yang ingin baca Quran bacalah seperti
Ibnu Mas'ud." Tadi kata Umar bin
Khattab, "Kalau bisa baca seperti Abu
Musa al-Asy'ari." Berarti niru boleh.
Niru boleh. Ya kan? Kita kalau dengar
orang baca kita terba terbawa. Tapi
belajar ini nada ini, ini ketukan ini
ketukan ini. Maka banyak ulama yang
melarang. Di antaranya Ibnu Qayyim
rahimahullahu taala.
Kata Ibnu Qayyim rahimahullah, "Dengan
perincian ini maka kesamaran telah
hilang dan telah jelas kebenaran."
Wullu man lahu ilmun biahwal salaf
yamuqanahum
burun minal qira alhanil musqi
almutakallafah.
Siapa yang punya ilmu tentang bagaimana
kegiatan kondisi para salaf, tentu dia
pasti tahu dengan yakin bahwasanya para
salaf dahulu berlepas diri dari bacaan
Quran dengan nada-nada musik.
Allati hiya ala iqaat wa harakat
mauzunah. Yang nada-nada musik tersebut
sesuai dengan ketukan-ketukan tertentu,
timbangan-timbangan tertentu, dengan
hitungan tertentu makdudah-mahdudah.
Waahum atq lillah min yaqra biha
wausawiha. Dan mereka tentu bertakwa
kepada Allah. Tidak bakalan baca Quran
dengan model begini apalagi membolehkan
baca Quran dengan model begini.
Wamuqan annahum kanu yaqrauna bitahzin
watrib yuhsin aswatum. Dan mereka juga
pasti tahu bahwasanya para salaf dahulu
baca Quran tidak datar. Tapi mereka baca
Quran dengan lantunan, lantunan
kesedihan untuk menggerakkan hati ya.
Mereka baguskan suara mereka ya dan
seterusnya ya.
Maka ini makna dari laisa minna man lam
yataganna bil Quran. Bukan dari golongan
kami. Siapa yang baca Quran tanpa
lantunan. Jadi kalau kita ada orang baca
Quran ee gak datar kita suruh dia bikin
lagu. Bikin lagu apa? Supaya enak di
dibaca. Supaya kok enak baca. Saya
dengar juga enak.
Tapi kalau dia enggak bisa, ya sudah.
Tadi ditanya, "Wahai Ibnu Abi Mulaikah,
kalau dia enggak bisa suaranya bagus,
yuhassin mastataa." Berusaha semaksimal
mungkin baguskan. Karena ini sunah Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Jadi, baca
berusaha supaya indah di didengar. Ada
orang baca fals
dulu waktu belum ngaji kalau nyanyi
fals, baca Quran juga fals. Ya sudah gak
apa-apa. [tertawa] Dia sudah berusaha
gak apa-apa. Yang penting dia nikmati,
dia berusaha semaksimal mungkin. Tapi
jangan sampai terjebak dengan lagu-lagu
tertentu, nada-nada tertentu yang
sekarang di ee sebarkan sampai parah.
Akhirnya ada yang bikin nyanyian
Al-Qur'an dengan nada rap, dengan nada
rock and roll, dengan nada metal.
Sekarang alhamdulillah kayaknya sudah
dilaporkan sehingga sudah tidak ada
lagi. Dulu sempat beredar bacaan-bacaan
Quran dengan nada-nada seperti itu. Maka
enggak boleh kita baca Quran sengaja
dengan menciptakan nada tertentu.
Kemudian kita terjebak dengan nada
tersebut. kita pelajari nadanya begini
donasolasidya seperti ini untuk baca
Quran enggak boleh
ya menyibukkan orang dengan hal yang
tidak perlu melainkan orang dari ee
keutamaan baca Al-Qur'an sesuai dengan
sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Ini bab berikutnya baca apa sudah dulu?
Sudah tanya jawab aja ya. Iya tanya
jawab aja. Khawatir pulangnya telat
[tertawa]
enggak? Sebenarnya khawatir soalnya
tambah susah.
Ingat ya, semua apa yang saya sampaikan
masuk ujian ya. Tapi demikian saja kalau
ada yang bertanya saya persilakan.
Wallahu taala alam bawab.
Yeah.