Kind: captions Language: id Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi ala ihsani wasyukrulahu ala taufiqihi wattinani ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarika lahu lya wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh da ridwan. Allahumma sholli alaihi wa ala alihi wa ashabihi wa ikhwani. Hadirin hadirat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, kita masih melanjutkan hadis tentang ziarah. Ya. Dan telah kita sebutkan di antara adab ziarah atau menerima tamu adalah kita menemui tamu dengan pakaian yang rapi sebagai bentuk pemuliaan terhadap tamu. Hadis berikutnya al Imam Bukhari berkata, "Qala haddasana almakki qala haddasana Hanzalah an Salim bin Abdillah qala samu Abdullah bin Umar qala wajada Umar hullatan istabraq." Umar melihat ada pakaian yang terbuat dari sutra. Faata bian Nabi sallallahu alaihi wasallam. Maka dia pun bawa pakaian sutra tersebut kepada Nabi. Faqala istri hadhi. Kata Umar, "Ya Rasulullah, berilah belilah eh pakaian dari sutra ini. Walasha indal jumah. Dan gunakanlah pakaian ini ketika hari Jumat. atau ketika tamu-tamu datang, utusan-utusan datang. Ya, saya sampaikan Nabi terima tamu di masjid dan di area tiangnya nanti dulu menerima tamu di tiang itu orang datang di masjid. Maka tamu-tamu dari jauh entah mau masuk Islam, entah mengenal Islam entah bertanya-tanya maka kata Umar hendaknya memakai pakaian yang bagus dari sutraq alaihiatu wasalam. Maka rasul sahu alaih wasallam berkata, "Inama yalbasuhaq akh." Yang boleh pakai pakaian sutra itu hanyalah orang yang tidak mendapat bagian di akhirat. Itu orang kafir boleh. Ya, makanya Rasul sahu alaihi wasallam pernah memegang ee kain sutra dan emas. Maka Rasulullah mengatakan, "Hani eh haramun ehuri umati." Dua perkara ini haram bagi lelaki dari umatku dan halal bagi para wanita, yaitu kain sutra dan juga apa? Emas. Adapun laki-laki gak boleh. Adapun orang kafir mereka pakai ya pakai. Makanya ee Rasulullah mengatakan ini dipakai bagi orang yang tidak punya bagian di akhirat. Laki-laki kafir silakan pakai. Rasul wasamulin. Kemudian di lain waktu Rasul wasallam didapat hadiah atau diberikan kepada beliau pakaian-pakaian dari sutra. Umar maka Rasulullah kasih hadiah kepada Umar satu pakaian sutra. Waamaullah. Rasulullah kirim kepada Usamah bin Zaid juga satu pakaian sutra. Waila Aliinah. Kemudian juga kepada Ali bin Abi Thalib satu kain sutra. Umar heran kemarin Umar suruh beli kata Nabi, "Gak boleh ini hanya untuk orang kafir. Sekarang malah Rasulullah kasih hadiah kepada Umar berupa kain sutra."Q Umar. Maka Umar bertanya, "Ya Rasulullah, engkau kirimkan kirimkan hadiah kepadaku berupa pakaian sultra. Sementara engkau pernah bahwasanya ini adalah pakaian yang pakai adalah orang-orang yang tidak dapat bagian di akhirat. Itu orang kafir. Kok bisa sekarang kirim hadiah kepadaku? Faqala Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Tabiuha biha hajataka." Saya tidak suruh kau pakai, tapi kalau kau mau jual silakan atau ada keperluan hajatmu, silakan kau ee kau gunakan. Jadi ee akhirnya disebutkan dalam sebagian riwayat Umar akhirnya ee menghadiahkan ini kepada saudaranya, saudara seibu yang masih musyrik. Rasul wasallam eh Umar tidak pakai karena itu tidak boleh pakai orang Islam. Umar berikan kepada saudara seibunya yang masih musyrik. Ya, yang menjadi perhatian kita di sini bahwasanya ee di antara sunah kalau kita bertemu dengan tamu atau bertamu, bertamu atau ketika menerima tamu hendaknya memakai pakaian yang terbaik yang kita miliki. Ya, dalam rangka untuk menghargai, menghormati ya. Kecuali mungkin kita teman dekat ya. Tapi kalau orang luar ya kita pakai ketemu tamu. Jangan jangan kaos oblong kun ketemu tamu. Kayak kayaknya gimana ya? Di antara sunah kita menunjukkan pemuliaan dan di antara sunahlah ikram diif memuliakan tamu. Di antara bentuk mulia tamu kita pakai pakaian yang rapi ketika tamu tamu datang. Ya itu sunah-sunah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Babu fadli ziarah. Bab keutamaan ee berziarah. Imam Bukhari berkata, "Quatan Sulaiman bin Harb wa Musa bin Ismail q hadana Hammad bin Salamah Tsabit an Abi Rafi Abi Hurairah Nabi wasamun qinahuakan." Ada seorang menziarahi saudaranya di sebuah di sebuah negeri atau sebuah kampung. Sepertinya ini terkait dengan bagaimana seorang ziarah meskipun harus bersafar, meskipun harus apa ber bersafar sehingga dia pergi ke negeri lain perjalanan jauh dan ini adalah ibadah berziarah menemui teman karena Allah meskipun harus bersafar maka harus mengeluarkan biaya harus menghabiskan waktu maka itu pada tempatnya. pada tempatnya. Apalagi teman karena Allah, teman seperjuangan, sudah lama tidak ketemu, maka kita merepotkan diri kita untuk bertemu dia adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wa taala. Maka orang ini pergi menuju ke saudaranya di negeri yang lain, kampung yang lain. Faarsadallahu lahu malakan ala madrajatihi. Maka Allah kirim siapkan malaikat yang menjelma menjadi manusia menunggu di jalan yang akan dia lewat. Ada malaikat yang nungguin dia. Akhirnya dia pun lewat ditegur oleh malaikat tersebut dalam bentuk manusia. Menjelma jadi manusia. Kata malaikat tersebut, "Aina turid? Ke mana kau gak pergi?" Qala akli fi hadil qarah. Saya pengin menuju ke saudara saya, teman saya di kampung ini atau di negeri ini. Malaikat bertanya, "Hallahu alaika min nikmatin tarubbuha." ya. Apakah ee ada urusan duniawi ya, urusan duniawi yaitu yang harus kau penuhi, yang harus kau lunasi ya ada urusan sehingga kau harus datang jauh-jauh untuk penuhi kewajibanmu kepada dia. Itu ada urusan duniawi enggak? Qa la gak ada urusan apa-apa. Saya tidak ada urusan duniawi. Tidak ada kewajiban yang harus saya tunaikan. Tidak ada harta yang harus saya urusin di sana. Inni uhibbuhu fillah. Saya ke sana karena saya mencintai dia karena Allah. Qini rasulullah ilaik. Maka malaikat itu pun mengaku dia mengatakan sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah telah mencintaimu sebagaimana kau telah mencintainya karena Allah Subhanahu wa taala. Dan ini di antara dalil tentang agungnya cinta karena Allah, bersaudaraan karena cinta karena Allah Subhanahu wa taala. Sampai begitu agungnya seorang bisa dicintai oleh Allah gara-gara dia mencintai saudaranya karena Allah. Amal tidak amal tidak begitu susah, namun hasilnya sangat luar biasa. Mencintai saudara karena Allah, dia akan dicintai oleh Allah. Ya, oleh karenanya sampai begitu agungnya amal ini sampai Allah kirim malaikat untuk nongkrong menunggu menunggui lelaki ini lewat untuk mengabarkan bahwasanya Allah telah mencintainya karena dia telah mencintai orang tersebut karena Allah subhanahu wa taala. Dan hadis ini menunjukkan akan agungnya niat. Bagaimana pengaruhnya niat yang luar biasa. Maka malaikat ingin cek kok itu ada keperluan apa? Murni karena Allah atau karena masih tercampur-campur? Mungkin ada hutang. mungkin mau minjam duit, datang-datang senyum-senyum, ketawa-ketiwi, ternyata mau minjam apa? Duit, ya. Atau untuk bayar utang atau untuk bikin proyek, urusan dagang, ya. Maka malaikat cek kok ke sana ada urusan apa? Mau bayar hutang kah? Ada urusan dagang kah? Urusan duitnya enggak ada. Sama sekali enggak ada. Benar-benar saya ke sana di ke sana itu karena Al Allah. Subhanallah. Lihat efeknya luar biasa. Begitu ternyata niatnya murni tulus karena Allah, maka langsung Allah mencintainya karena dia telah mencintai orang tersebut karena Allah subhanahu wa taala. Makanya seorang jangan sepelekan tentang masalah niat. Betapa banyak amal kecil jadi besar gara-gara niat. Dan betapa banyak amal yang besar tidak ada nilainya gara-gara niat. Kata Ibnu Mubarak, rubba amalinirin tuimuhunah. Betapa banyak amalan yang sepele jadi besar karena diagungkan oleh karena niat. Banyak amal besar jadi kecil gara-gara niat. Kita dalam aktivitas jangan sepelekan niat. Nabi berkata innamal bin niat. Amalan tergantung niat inwa. Seorang mendapatkan sesuai dengan niatnya. Dia kalau beraktivitas niatnya karena apa? Dia cek lagi saya niat ini. Saya ke masjid karena apa? Saya masuk dalam urusan dakwah karena apa? Saya bikin pengajian karena apa? Ya, saya bikin kegiatan karena apa? Saya bikin bakti sosial karena apa? Cek. Kita perlu berhenti sebentar kemudian kita cek. Makanya ketika ada seorang salaf ditanya kepadanya, "Al tahul janazah?" "Tidakkah kau melayat jenazah?" Kata dia, "Makanakum hatta uhir nih." Kata dia, "Sebentar, sebentar saya mau hadirkan niat terlebih dahulu. Bahwasanya saya ke sana itu benar-benar karena menunaikan hak sesama muslim. Bukan karena pekeewu, bukan karena enggak enak, bukan karena dikatakan ee apa dan itu, enggak. Benar-benar saya ke sana karena apa? Karena menunaikan hak seorang muslim. Karena menghadiri jenazah juga bisa niat macam-macam ya. Sayaat macam-macam untuk menunjukkan bahwasanya saya ini, untuk menunjukkan bahwasanya begini, macam-macam untuk biar supaya enak di di pandangan mata orang, supaya enggak ada omongan macam-macam. Niat yang tuh punya pengaruh luar luar biasa. Punya pengaruh luar biasa. Orang bisa dalam melayat jenazah pun bisa riak, bisa niat ya. Tapi Allah maha maha tahu. Oleh karenanya segala kegiatan kita cek dulu. saya ke sana sebenarnya apa sih tujuannya? [Musik] Apalagi perkara yang ukhrawi. Ingat eh perkara ukhrawi bisa rusak gara-gara niat duniawi. Siapa yang ya ee beramal saleh karena mencari dunia, kami berikan bagi yang kami kehendaki. Kata Allah Subhanahu wa taala, "Siapa yang menginginkan dunia dan perhiasannya itu di antaranya dengan amal akhirat. di amal akhirat tapi menghendaki dunia dan perhiasannya. Maka kami berikan kata Allah Subhanahu wa taala mereka ini di akhirat tidak mendapatkan apa-apa maka amal mereka gugur dan batilah apa yang telah mereka kerjakan. Maka niat ni hati-hati kita mungkin melakukan kegiatan sosial, kegiatan agama bertahun-tahun. Cek niat saya ini sebenarnya buat apa saya di sini? Apakah mencari dunia atau mencari akhirat? Kalau mencari dunia penting minggir, rugi, capek-capek. Dunia Allah kasih. Dunia macam-macam. Harta, ketenaran, wanita, jabatan, itu dunia semua. Kalau saya cari itu, mending berhenti. Cari dunia, cari fulus berhenti. Kalau itu dengan label amalan akhirat. Ya, makanya bukannya kita menuduh, tapi hendaknya seorang waspada. Kalau bisa hal-hal yang bisa menggelincirkan ke sana, mending kita tidak usah ya. Mending kita tidak usah. Seperti saya kapan saya pernah ngisi pengajian ada sponsor mau kasih sponsor tapi mau ditampilkan ee labelnya. Saya bilang, "Kamu sumbang aja. Kalau mau sumbang gak usah tampil label supaya kau lebih tulus. Tapi kalau kau sumbang terus langsung sponsormu saya khawatir. Saya tidak nuduh kau ria. Saya tidak nuduh kau cari duniawi. Tapi sangat rawan untuk tampilkan bahwasanya saya sponsor apalagi ada jualan di situ. Ini bukan masalah halal haram. Cuma saya pengin pahalamu lebih apa? Lebih murni. Lebih murni. Karena niat tu punya pengaruh luar luar biasa. Ee lebih baik. Akhirnya dia bantu tanpa harus pasang label sama sekali. Tanpa harus pasang label sama sama sekali. Dan alhamdulillah kalau mau sambung semangat kau lebih tulus. Orang enggak perlu tahu kau. Kalau kau ketahuan malah dikejar janda nanti. Repot orang pada pinjam uang sama kamu. Ya sudah ngapain ya? Ngapain enggak usah. M juga gitu saya ngisi pengajian terus ada yang bagi voucher. Vouernya ada labelnya. Siapa yang ini dapat voucher bisa belanja di toko tertentu dengan gratis sekian-sekian. Saya bilang enggak enggak enggak usah. Kalau mau kasih kasih duit aja hadiah. Jadi bilang voucher karena voucher disebut label. Enggak ada labelnya. Bukannya ini saya tidak bicara halal haram tapi saya bilang agar kita melatih orang agar niatnya apa? Tulus. Agarnya tulus. Kita aja sudah jadi ustaz sekian puluh tahun mau ikhlas aja susah apalagi baru ngaji. Maksud saya ini enggak gampang maksud saya ya enggak gampang. Kita jadi ustaz emang yang bilang kita ikhlas ya apa enggak ada yang tahu cuma Allah yang tahu. Kalau kelihatannya sih ikhlas kelihatannya tapi kan yang tahu hakikatnya siapa? Allah orang baru ngaji. Orang baru ngaji. Maka di antara tugas para dai memperhatikan juga audiens. Ini ada ada orang ee menyumbang sesuatu kasih tahu, "Eh, ini masyaallah ini masyaallah iman kita ini dia bikin ee rumah untuk para ustaz ya." Masyaallah yang mampir. Jadi, jadi terkenal dia. Jadi terkenal kan kasihan gimana hatinya mau ikhlas? Mungkin bisa ikhlas tapi susah maksud saya. Kalau antum di posisi dia susah ikhlas atau gampang ikhlas? Susah, susah, susah. Gimana? Ah, oh iya memang saya bangun ini niatnya karena Allah. Niatnya karena Allah berat maksud saya. Kita aja kalau saya di posisi dia, saya a susah. Saya a susah. Oleh karena para salaf dahulu mereka ngerti susahnya ikhlas sehingga mereka tidak mau minta amal saleh mereka. Bukannya ustaz nuduh dia riak gak saya enggak nuduh. Itu urusannya dengan Allah. Cuma saya bilang tindakan preventif sayangilah audiens. Kadang-kadang sebagian dai pansos sama seorang pansos nih. Dia yang pansos dainya nih. Ini ada artis kek, ada apa kek. Kasihan dia baru ngaji. Dia baru ngaji. Ya udah kalau mau kasih dekat sama dia di balik panggung, di balik layar kasihan dia baru apa ngaji. Belum tentu hatinya kuat ya. Apalagi sudah terbiasa tenar kemudian mau tenar lagi di dunia akhwat kan. Dunia ikhwan ini lain lagi. Tenernya beda ini. Jadi kita harus mikir audiens juga. Jangan mikir diri kita sendiri. Oh ini demiki kemaslahatan dakwah. Benar. Saya tahu tujuanmu mulia untuk masalah dakwah. Tapi kasihan dia. Bisahkan kita dengan cara yang lain. Selak beluk tentang cara setan menjerumuskan dalam riya. Maka menjaga niat sangat penting. Baik mencari ee apalagi niat-niat mencari duniawi. Dan duniawi luas. Duniawi itu luas. Ada harta, ada popularitas, ada ee ketenaran, ada ria, macam-macam. Maka malaikat ketika itu tanya pada orang ini, "Apakah kau ke sana ada urusan ingin bayar hutang kek? Ada kewajiban yang harus kut tunaikan kepada saudaramu?" Kata dia, "Enggak. ini uhibbuhu fillah. Saya menziarahi dia murni karena mencintainya karena Allah. Ya. Maka akibatnya Allah mencintainya karena dia telah mencintai orang tersebut karena Allah subhanahu wa taala. Lihat amalan kelihatannya sepele. Tapi subhanallah kalau dilakukan dengan niat yang benar bisa meninggikan derajat seseorang. sampai Allah kirim malaikat untuk mengabarkan kepada dia bahwasanya Allah telah mencintainya karena dia telah memurnikan ziarahnya benar-benar karena Allah subhanahu wa taala. Ini PR kita semua para pegiat dakwah, para panitia pengajian ya. Kita bikin kajian sebenarnya apa niat kita? Kita tanyalah kita tidak ada yang jamin kita apa? Ikhlas. Enggak ada yang jamin. Kalaupun kita ada ikhlasnya, saya tidak mengharap pujian manusia, tapi mungkin ada duniawinya. Numpang supaya jualan ya. Numpang ini numpang bisa iklan ya. Bisa iklan. Jadi kalau saya sarankan kepada panitia untuk ee mengambil tindakan preventif ya. Mengambil tindakan preventif. Tapi kalau panitianya juga ternyata broker ya sama aja. Ternyata juga memang senang begitu-begitu karena ada keuntungan di balik itu ya saya enggak bisa ngelarang ya. Maksud saya ini sekedar saran bukan keharusan tapi apa? Saran ee bukan menuduh tapi preventif karena masing-masing kita punya kekurangan. Dan saya ngomong gini juga ingatkan diri saya biar saya tidak ikut-ikutan ya. T bab berikutnya babur rajul yuhibbu kauman walamma yalhaq bihim. Bab tentang seorang yang mencintai suatu kaum sementara dia sendiri belum bisa menyamai kaum tersebut dalam satu amalan. Dan ini adalah bab yang sangat indah. Kenapa sangat indah? Karena dengan mencintai orang saleh, kita bisa dikumpulkan bersama mereka. Padahal kita enggak mampu beramal saleh seperti mereka. Bagi orang yang mengerti bab ini, maka inilah bab yang sangat indah dan kita diajarkan untuk mencintai para shihin. Ada orang lebih unggul daripada kita, kita cintai dia. Jangan hasad, tapi kita cinta sama dia. Kenapa? Kita berharap bisa dengan kecintaan kita kepada mereka, kita bisa dikumpulkan bersama mereka. Almaru ma aman ahab. Ya, ee seorang akan dikumpulkan bersama yang dia cintai. Tayib. Ee kita bacakan hadisnya. Q haddasana berkata al Imam Bukhari rahimahullah taala q hadana Abdullah bin Maslamah qala haddasana Sulaiman bin Mughirah an Humaid bin Hilal an Abdillah bin an Abi Dari Qultu ya Rasulullah yuhibbul wtiuq bialihim kata Abu Dzar bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, seorang mencintai suatu kaum namun dia tidak mampu untuk menyusul amal mereka itu tidak mampu. Siapa yang mampu seperti para sahabat?" Berat. Siapa yang mau bersih para sahabat? Mau jihad aja berjalan dulu ratusan kilo ngeri berat. Siapa yang mampu seperti para sahabat? Siapa yang mampu seperti Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya? Baru 1/10 aja masih mikir 1000 kali. Itu pun tidak jadi keluar. Mau keluar ditahan istri. Enggak ada repot. Gak apa-apa, Bi. Enggak usah, Bi. Yang penting Abi kan sudah niat pahala niat. Oh, benar juga ya. Enggak jadi. Yang penting pahala apa? Niat. Ada istri yang malah mendukung, ada istri yang nahan-nahan. Tergantung istri yang mana. [Tertawa] Maka siapa yang mampu seperti para sahabat? Enggak ada yang mampu. Berat, ya. Siapa yang mampu berjihad seperti para sahabat? Ya, yang kata dalam riwayat kata Khalid bin Walid, "Malam yang paling aku cintai adalah malam penantian aku bersama Muhajirin kaum Anshar menanti besok menyerang musuh." itu malam yang paling aku cintai lebih dari lebih aku sukai daripada kalau malam dihadirkan istri baru. Masih kurang lebih daripada malam dikabarkan kepadaku, "Saya punya anak baru." Kita paling bahagia, Pak Anak baru lahir bahagia enggak? Ya, kawin lagi bahagia juga. Tapi itu semua masih kalah di mata Khalid bin Walid. Dia lebih cinta. Yang paling dia ingin-inginkan, diangan-angankan. malam berkumpul sama para sahabat, besok perang. Itu yang paling dia cintai. Siapa yang bisa seperti hatinya seperti Khalid bin Walid? Kita kalau mau pikir amal mereka enggak bakalan bisa. Tapi kita cinta sama mereka. Kita cinta sama sama mereka. Maka Abu Dzar bertanya, "Arajulu yuhibbul wu yalhaq biamalihim." Ada seorang mencintai suatu kaum, namun amalnya tidak bisa menyamai mereka, tidak bisa nyusulin mereka. Qala anta ya Abu Dzar maaman ahbabta. Kata Rasulullah, "Engkau wahai Abu Dzar, kau akan dikumpulkan bersama yang orang yang kau cintai." Qullu, kata Abu Dzar, "Inni uhibbullah wa rasulah." Aku mencintai Allah dan rasul-Nya. Kata Nabi, "Anta ma aman ahbabta ya Aar." Kau akan bersama orang yang kau cintai wahai Abu Dzar. Subhanallah. Ini adalah nikmat yang sangat agung, yaitu dia belum berusaha namun belum mampu ya cinta suatu kaum namun belum mampu untuk seperti mereka. Di antara syair yang di disandarkan kepada Al Imam Syafi'i dengan tawadunnya dia berkata, "Uhibbus shihina wasastu minhum." Aku mencintai orang-orang saleh padahal aku bukan dari mereka. anhim syafaah. Aku berharap dengan cinta kepada mereka aku mendapatkan syafaat mereka. Subhanallah ya. Siapa bilang Imam Syafi'i tidak saleh? Pasti saleh ya. Siapa yang bisa seperti Imam Syafi'i? Imam Syafi'i mengatakan, "Wadidu annanas akadu al ilma minni walam yansibu ilaian aqala." Kata kata Imam Syafi'i, "Aku berkeinginan orang-orang ambil ilmu dariku, tapi enggak usah bilang ilmunya dari Imam Syafi'i. Yaitu aku ingin semua orang berguru kepadaku, dapat ilmu dariku. Tapi enggak usah bilang, "Guru saya Imam Syafi'i. Ini ilmu dari Syafi'i. Saya enggak perlu itu. Yang penting bagi saya ilmu saya bermanfaat." Siapa yang ba? Imam Syafi'i, Imam Syafi'i mengatakan, "Ma nadartu ahadan illa wadittu anallaha ajral haqq al lisanihi." "Tidaklah saya mendebat seseorang kecuali saya berharap Allah memunculkan kebenaran lewat lisan orang tersebut." Siapa yang berdebat pengin kalah? Semuanya pengin apa? Menang. Imam Syafi'i ingin bisa, saya pengin dia yang menang, tapi kebenaran lewat lisan lisan dia. Siapa yang seperti Imam Syafi'i? Meskipun demikian dia tidak angkut, tidak sombong. Beliau mengatakan, "Uhibus shihinau minhum laalli anala bihim syafaah." Aku mencintai para salehin meskipun aku bukan dari mereka. Yaitu mencintai salihin itu bagus. Karena dengan mencintai salihin berharap kita dikumpulkan dengan orang-orang sa saleh. Maka ee seorang ketika melihat ada salihin hendaknya mereka mencintai mereka. Cinta sama para saleh. Jangan hasad, jangan dengki, ee jangan oh kok mereka bisa unggul daripada kita. ini senang senang dengan orang saleh. Alhamdulillah dia berhasil. Kita senang saudara-saudara kita lebih berhasil dari kita dalam dan kita giipto cemburu bukan hasad. Kita pengin seperti mereka namun belum bi belum bisa. Belum bisa. Ya, makanya di sini Imam Imam Bukhari menggunakan kata lamma. Lamma itu artinya belum ya. Lamma belum. Yaitu kita mesti berharap siapa tahu kita bisa menuju mereka. Ada yang bisa kita susulin, ada yang memang gak bisa sama sekali. Tapi dengan mencintai mereka diharapkan kita dikumpulkan bersama mereka. Oleh karenanya hati bersih dituntut ya uhibbus shihin wasastu minhum. Aku mencintai orang salehin meskipun aku bukan dari mereka. Allah berfirman tentang hati orang-orang yang yang bersih hatinya. Kata Allah, "Walladina ja ba'dihim yaquun rabbanagfirlana walihwanadina sabaqu bil iman wala tajal fi qulubina lilladzina amanu rabbana innaka raufur rahim." Dan orang-orang yang datang setelah kaum Muhajirin kaum Anshar. Setelah Allah memuji kaum Muhajirin, kaum Anshar. Allah mengatakan tentang generasi berikutnya setelah kaum Muhajirin kaum ansar. Yaitu termasuk kita semua. Bagaimana sifat mereka? Yaquuluna rbagfirlana waliikhwanilladina sabaquuna bil iman. Mereka berkata, "Ya Rabb kami, ampunilah kami." Dan juga untuk saudara-saudara kami yang mendahului kami dengan iman yang dahulu mendahului kami. Beriman terlebih dahulu sebelum kami. Yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Wala tajal fi qulubina gill lilladzina amanu. Dan janganlah kau menjadikan dalam hati kami ada gil, ada kedongkolan, kejengkelan, tidak suka kepada orang beriman. Rabbana innaka rauf rahim. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau maha lembut, maha baik, dan maha penyayang. Jadi seorang berusaha hatinya bersih terhadap kaum mukminin, terutama kepada para salihin. Ya, jangan sampai sebaliknya malah hasad, malah dengki ini problemnya. Ya. Tib. Hadis berikutnya al Imam Bukhari berkata, "Qala hadasana Muslim bin Ibrahim, qal hadsana Hisyam, qal hadsana Qatada anasin radhiallahu anhu anna rajulan saalan Nabi sallallahu alaihi wasallam." Dari Anas bin Malik ada seorang bertanya kepada Nabi, "Ya Nabiallah mata saah wahai Rasulullah kapan hari kiamat?" Ya faqala wadata laha. Maka Rasulullah bertanya balik, "Apa yang kau siapkan untuk hari kiamat?" Dalam sebagian riwayat disebutkan ini Arab Badui. Dia tanya, "Ya Rasulullah, mata saa, kapan hari kiamat?" Pertanyaan juga luar biasa ya, "Kapan hari kiamat?" Dan Rasulullah tidak tahu kapan hari kiamat. Yang tahu cuma siapa? Allah. Maka waktu malaikat Jibril tanya kepada Nabi, "Faakbirni anisaah, kapan hari kiamat?" Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya, yaitu ee saya tidak lebih tahu daripada engkau wahai Jibril." Kita sama-sama tidak tahu. Yasalunati ayana mursaha f anta minikroha ilabika muntaha. Mereka bertanya kepada engkau tentang kapan hari kiamat. Apa urusanmu dengan hari kiamat? Itu urusan Allah Subhanahu wa taala. Tapi hari kiamat akan terjadi. Disebutkan dalam sebagian riwayat Rasulullah salat setelah Rasul salat bertanya. Rasulullah setelah salat Rasulullah langsung jawab Rasulullah salat. Rasulullah tanya tanya aina sail tadi mana yang bertanya? Saya Rasulullah. Maka Rasulullah balik bertanya kepada dia tentang pertanyaan yang bermanfaat. Karena Rasulullah juga tidak tahu jawaban kapan hari kiamat. Hari kiamat tahu enggak tahu akan terjadi. Cepat atau lambat akan terjadi. Inna saata atiatun waat atiatun laba fiha waallaha yab fil qubur. Bahwasanya hari kiamat akan datang cepat atau lambat tanpa ada keraguan dan Allah akan bangkitkan orang-orang dari kuburannya. Ya. Yang penting apa yang kau siapkan? Maka nabi balik bertanya wataha apa yang kau siapkan bertemu hari kiamat? Istilahnya kalau kita lagi di suatu kampung terus ada musuh mau datang. Musuh mau datang nih kapan-kapan datangnya? Jam berapa, hari apa? Mending kau siap-siap bikin senjata sebelum musuh datang. Jangan sibuk nanya kapan-kapan kapan-kapan. Nanya-nanya mulu tidak ada tidak ada apa aksi akhirnya diserang. Tiba-tiba diserang. Dan kita tahu hari kiamat kubra. Alqiyamatul Kubra enggak ada yang tahu. Tetapi alqiyamat bukan bukan cuma satu, bukan alqiyamul kubra. Ada namanya alqiyamatu sugra, kiamat kecil. Kiamat kecil itu matinya kita. Kata para ulama di antaranya disunukil oleh Al-Qurtubi rahimahullah, man mata faqad qomat qiamatuhu. Siapa yang mati sudah tegak hari kiamatnya berarti dia sudah berpindah ke alam lain, ke alam akhirat, ke alam barzakh. Maka meskipun belum datang hari kiamat besar, kita pasti mengalami hari kiamat apa? Kecil. Hari kiamat besar kita enggak tahu kapannya. Hari kiamat kecil pun kita enggak tahu kapannya. Tahu-tahu orang mati banyak sekali. Lagi sehat-sehatnya mati. Terlalu sehat mati. Jantungnya terlalu tewas. Betapa banyak orang meninggal sedang olahraga. Banyak atau tidak banyak? Dia olahraga buat sehat atau buat mati? Buat sehat. Justru mati di olahraga. Untuk menunjukkan bahwasanya benar olahraga adalah sebab kesehatan. Tapi ajal di tangan Allah. Ajal di tangan Allah. Betannya dokter ahli meninggal kena penyakitnya itu sendiri. Ahli jantung mati kena jantung. Ada yang ahli stroke, mati kena stroke. Ada yang disangka mati enggak? Mati-mati. Kirain sudah mati belum? Masyaallah. Enggak mati-mati aja tuh. Oleh karenanya kiamat kubra kita enggak ada yang tahu, kiamat sugra juga kita enggak ada yang yang tahu. Seorang keluar di tengah-tengah ke ke cita-citanya di mau ini mau anu di tengah dengan tengah kekayaannya, kesehatannya merasa super prima, tahu-tahu meninggal. Qarun fakaraja ala kaumhi fi zinati. Keluar ketemu kaumnya dengan kekayaannya, dengan hartanya, dengan anak buahnya, dengan budak-budaknya, dengan hartanya. Pamer lagi ajang pamer. Fakasafna bihi al ardfni wabidarihil ard. Kami benamkan dia dan rumahnya dalam bumi tiba-tiba. Tiba-tiba kematian tiba-tiba. Makanya sering-sering orang keluar dari rumah tidak terbetik dalam batinnya probability 1% pun dia akan meninggal. Enggak ada. 0,01% dia enggak ada mikir. Mungkin saya meninggal saat ini. Enggak ada sama sekali. Tahu-tahu meninggal. Tahu-tahu meninggal. Ya, maka itu rahasia. W w w tadri nafsun taksibu wadri nafsun bi ardin tamut. Tidak ada jiwa yang tahu apa yang dilakukan besok dan tidak ada jiwa yang tahu di mana dia akan meninggal meninggal dunia. Sebelah kemarin ada kerabat subhanallah dari Papua sakit berobat Jakarta meninggal kubur di Jogja. Subhanallah. Enggak tahu meninggal di mana. Dari Papua kubur di mana? Di Jogja. Enggak ada yang tahu gak tahu antum dikubur di mana? Semoga kita dikubur di Madinah di Baki. Tapi jangan sekarang nanti insyaallah kita enggak tahu kita kapan mati dan kita enggak tahu kapan kita di di mana kita di dikubur. Maka Rasulullah bertanya karena Rasulullah tidak tahu jawaban kapan hari kiamat. Rasulullah balik bertanya kepada orang ini, "Wza adatalah?" "Apa yang kau siapkan untuk bertemu hari kiamat? Qala Arab Badui ini ngaku dia dengan tawadunnya dengan rendah diri tidak tidak banyak yang disiapkan. Dia mengatakan maulaha min kabirin. Saya tidak mempersiapkan banyak ibadah. Ya artinya dalam riwayat yang lain bikrati shatinamin waka wqtin. Saya salat tapi tidak banyak, saya puasa namun tidak banyak. Saya sedekah namun tidak tidak banyak. Tidak ada amal yang besar yang mau saya andalkan ketemu hari kiamat. Illa anni uhibbullaha waasulah. Hanya saja aku cinta kepada Allah dan rasul-Nya. Faqala. Maka Rasulullah berkata, "Almaru maaman ahab." Seorang bersama yang dia cin cintai. Qala anasun. Anas berkata, "Fama roitul muslimina farihu ba'dal islami asad mim farhu yaumaidin." Aku tidak pernah melihat kaum muslimin gembira setelah gembira dengan masuk Islam seperti gembiranya pada hari itu mendengar sabda Nabi, "Almaru aman ahab, seorang bersama orang yang dia cintai." Ini menggembirakan. Dalam riwayat yang lain maka Anas berkata, "Fainni uhibbullah faini uhibbuah uhibbu Rasulullah wa abu Abu Bakrin wa Umar ya arju akuna maahumbium waamalim." Maka Anas berkata, "Ketahuilah, aku cinta kepada Nabi, aku cinta kepada Abu Bakar, aku cinta kepada Umar, dan aku berharap dikumpulkan bersama mereka karena aku cinta kepada mereka meskipun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka." Ya, fainni uhibbun Nabi wa Abu Bakr wa Umar. Kata Anas, "Aku cinta pada Nabi Abu Bakar dan Umar." Makanya dulu para salaf mengajarkan kepada anak-anak mereka untuk cinta kepada Abu Bakar dan Umar. Karena orang kalau cinta kepada tokoh-tokoh seperti ini, dia akan terobsesi untuk bisa seperti mereka. Sekarang lihat bagaimana anak-anak muda zaman sekarang yang mereka cintai siapa? Mana baca sejarah Abu Bakar, sejarah Umar, sejarah para sahabat. Ya, mereka enggak ngerti. Yang mereka baca terkadang sejarah orang kafir, terkadang pelaku maksiat, terkadang pezina, terkadang pemabuk yang mereka baca, yang mereka tempel di kamar-kamar mereka. poster-poster orang-orang pelaku maksiat. Ya, ingat Rasulullah bersabda, "Almaru maaman ahab." Seorang dikumpulkan bersama yang dia cintai. Jangan sampai salah jatuh cinta. Ya, ini PR besar bagi kita. PR besar bagi kita. Anak-anak yang dia cintai, siapa yang dia cintai? Kadang orang kafir, ya. Orang kafir. Bukan orang kafir yang dia sahabat enggak ngerti. yang orang kafir mungkin pezina, mungkin dia unggul dalam satu bidang dunia, bidang olahraga misalnya, dicintai oleh anak-anak. Itu aja bacaannya, bagaimana kegiatannya akhirnya kan diikuti tentang berita-berita orang ini begini begini begini. Jadi hal yang biasa entah gua entah ganti pasangan, entah minum bir, entah buka aurat, entah diskotik, entah lagi apa. Jadi yang penting adalah apa yang kau siapkan untuk bertemu dengan hari tersebut. Maka seorang peringatan bagi kita semua. Kita enggak tahu kapan kita meninggal dunia, tetapi kematian itu pasti akan akan datang. Maka seorang harus prepare terus. Harus ada progres dalam hidup ini. Apa progres saya, amalan saya semakin bertambah atau tidak? Saya ngaji tahun lalu sama ngaji tahun sekarang. Iman saya bertambah enggak? Amalan saya saya bertambah enggak? Saya lebih dekat kepada Allah tidak. Saya lebih nyambung silaturahmi enggak? Saya lebih banyak baca Quran? Enggak. Renungkan masing-masing. Saya lebih bersedekah enggak? Atau ternyata ngaji malah semakin duniawi. Ketemu ibu-ibu satu dengan yang lain malah ajang pamer-pamer tas branded. Di tempat pengajian gabung dengan ibu-ibu sosialita akhirnya malah pamer-pameran. Bicaranya dunia mulu. Bangga-banggaan sudah ke luar negeri satu ke Paris satu keang tritis. Yang di keparang tritis malu. Kamu kemarin liburan ke mana? Ee ke Paris juga. Paris mana? Paris Parang Tritis. Ya enggak sudah semakin ngaji malah bangga-banggaan. Pamer-pamer barang-barang kemewahan, pamer-pamer mobil-mobil mewah, parang motor-motor mewah. Kerjaannya begitu. Ah, ngaji, ngapain ngaji seperti ini? Ngaji itu harus progres, harus tambah iman, tambah zuhud kepada dunia. Bukan semakin apa? Bermewah-mewahan. Kalau ngajinya semakin mewah-mewahan itu salah ngaji. Itu salah salah ngaji. Segera berhenti. Perbaiki diri. Perbaiki diri. Kok ngaji semakin duniawi. Perbaiki diri. Kita ini semua akan ketemu dengan Allah. Harusnya kalau kita tambah ngaji semakin zuhud kepada dunia. Harusnya demikian. Pemikiran kita harus selalu apa yang amalan kita kerjakan, proyek akhirat apa yang mau kita kerjakan. dunia kita cari itu tugas kita semua orang cari makan ya tapi orientasi kita selalu akhirat kalau kita harusnya begitu kalau ngaji tapi kita semua melakukan kekurangan maka masih kita nasihat buat saya pribadi juga kepada kita semua agar kita ya ee berpikir kembali sebelum datang kiamat sugra sebelum kita meninggal meninggal dunia kalau kita baca para salaf di antara biograaf Tapi mereka seperti Mansur bin Zadan disebutkan la la malakul mautal bab. Seandainya malaikat maut di pintu rumahnya ketuk pintu mau cabut nyawanya dia tidak mampu menambah amal karena program dia sudah padat tiap hari punya amal tidak bisa dia tambah semua kegiatan dia ber berpahala. Sampai kalau dikatakan karena orang ini kagum sama dia. Tidak ada waktu dia sia-sia. Tidak ada perkataan yang sia-sia, tidak ada perbuatan sia-sia, tidak ada pandangan sia-sia, tidak ada pendengaran sia-sia. Sampai kalau malaikat maut datang di rumah dia, jemput dia untuk mati, dia tidak mampu menambah amal salehnya. Ini sebagian salaf kalau kita baca biografinya disebut demikian. Karena orang kagum, orang ini amal saleh selalu. Coba kalau kita malaikat maut di pintu, masih banyak bisa kita kerjakan. Masih banyak enggak? masih banyak karena memang kita kurang beramal saleh. Kita masih buang-buang umur, masih nonton macam-macam, masih lihat berita macam-macam yang enggak ada faedahnya. Bang Umur, sebagian kita nonton berita ijazah enggak habis-habis. Belum habis sudah datang ijazah yang baru lagi. Belum waktu kita nonton gitu habis habis enggak selesai. Kalau selesai kan enak. Oh, endingnya begini. Ending enggak ending-ending. Waktu habis. Waktu habis. Kepo menghabiskan umur kita. Kepo. Berita banyak enggak ending-ending. Belum berita baru lagi. Berita baru lagi. Kalau Baghdad cerita 1001 malam, Indonesia lebih lagi. Luar biasa. Karena kita renungkan ya ada yang bukan berarti kita enggak tahu berita dunia sama sekali. Perlu, ada seperlunya tapi berlebihan. Ini yang masalah. berlebihan dengan menumbalkan Quran. Membaca ini Quran jadi kurang i enggak? Menumbalkan zikir belum hati kita menjadi kacau ya. Jadi tanya pada diri kita wad a'dat laaha apa yang kau sudah siapkan untuk bertemu dengan hari kiamat? Di sini Anas bin Malik radhiallahu taala anhu menyebutkan bagaimana para sahabat kaum muslimin sangat gembira ketika mengetahui Rasulullah berkata, "Almaru maaman ahab." Seorang akan dikumpulkan bersama yang dia cintai. Dalam lafal tadi sebelumnya antama aman ahbabta engkau bersama yang kau cintai. Maka ini membuka pintu harapan dengan mencintai orang-orang saleh kita berharap dikumpulkan bersama mereka. Tapi ada konsekuensinya. Nama cinta pada orang saleh kita berusaha meniru meniru mereka. itu kita berusaha meniru mereka. Dan di sini kita mulai mengajarkan pada anak-anak kita untuk mencintai para shihin. Mencintai para salihin agar mereka terbiasa mencintai para salihin. Anak-anak terbawa dengan berita lihat ini akhirnya suka dengan ini suka. Kita rem-rem lah. Jangan kita biarkan los begitu saja. Khawatirnya terbawa terus. Ya, kita enggak bisa melarang karena sekarang dunia sudah susah. Kita enggak bisa mengontrol mereka. Tontonan sudah macam-macam. yang ditampilkan macam-macam sehingga kekaguman itu muncul dengan sendirinya. Ya sudah kita rem-rem lagi. Rem-rem kalau bisa kita arahkan itu yang ter terbaik. Tib berikutnya babu fadlil kabir. Bab tentang keutamaan orang tua. Orang tua saya bacakan hadisnya. Q hadasana Ahmad bin Isa q hadana Abdullah bin Wahbin an Abi Sakhr Abi Qusaitin an Abi Hurairah radhiallahu anhu. Nabi sallallahu alaihi wasallam q Rasul sahu alaihi wasallam bersabda manam yarham shirana waf haqqo kabirina falaisa minna. Siapa yang tidak menyayangi yang lebih kecil dari anak-anak kecil kami yang lebih muda daripada dia kabir dan tidak mengetahui hak orang besar kami yaitu tidak mengetahui hak orang-orang besar. orang tua fala maka bukan dari kami. Hadis berikutnya, qa hadasana Ali, qal hadasana Sufyan. Qa hadasana Ibnu Juraisy. An Ubaidillah bin Amir an Abdillah bin Amr bin Ash. Yablhu bihin Nabi shallallahu alaihi wasallam qal. Nabi bersabda dari hadis Abdullah bin Amr bin As radhiallahu anhuma. Man lam yarham shirana waf haqqo kabirina falaisa minna. Maknanya sama. Siapa yang tidak merahmati yang kecil dan tidak mengetahui hak yang besar maka bukan dari kami. Q hadasana Muhammad bin Salam. Qana Sufyan bin Uya ibni Abi nuj Ubaidillah bin Amir yuhadditsu an Abdillah bin Amr bin As radhiallahu anhuma yabl Nabi sallallahu alaihi wasallam mlahu Imam Bukhari berkata rahimahullah q hadana abdah an Muhammad bin Ishaq an Amr bin Syuaib an abi an jaddihi q rasul sahu al wasallam laisa minna man lam yif haqq kabirhamirana bukan dari golongan kami orang yang tidak mengenal hak orang tua dan tidak sayang kepada anak kecil Imam Bukhari berkata rahimahullah qala hadasana Mahmud qala hadasana Yazid bin Harun qala akbar al Walid bin Jamil anil Qasim bin Abdurrahman an Abi Umamah dari hadis Abu Umamah radhiallahu anhu an Rasulullah sahu alaihi wasallam qallahu alaihi wasallam bersabda man lam yarham shirana wujilla kabirana falaisa minna siapa yang tidak sayang kepada anak-anak dan tidak memuliakan yang tua maka bukan dari golongan kami. Di sini pembahasan adab yang sangat mulia yaitu hormat kepada yang yang tua. Sayang kepada yang kecil, hormat kepada yang yang tua. Ini dan fokusnya tentang menghormati yang tua. Orang tua punya hak dan terkadang terkumpul pada dirinya beberapa hak. Seperti orang tua tersebut. Dia sebagai seorang tua yang muslim, dia punya hak untuk kita hormati, untuk kita sayang, untuk kita perhatian, untuk kita kedepankan. Seorang tua muslim. Apalagi kalau orang tua tersebut punya hubungan kerabat dengan kita. Entah kakek kita, entah apalagi bapak kita, apalagi ternyata om kita, atau ada hubungan tetangga kita atau ternyata orang tua tersebut ternyata orang alim yang lebih dahulu berdakwah, yang lebih dahulu menuntut ilmu, yang lebih dahulu salat daripada kita, yang lebih dahulu mengajarkan Islam kepada masyarakat. Ya, ini terkumpul lagi pada dia beberapa hak. Seandainya dia bukan bapak kita, seandainya dia bukan tetangga kita, seandainya dia bukan kerabat kita, seandainya dia bukan ustaz kita, seandainya dia bukan orang alim, hanya seorang muslim, harus kita hormati. Apatah lagi terkumpul pada dia hak-hak yang yang lain. Maka tentunya ketika kita berbicara dengan orang tua, maka harus dengan penghormatan. Jangan bicara seakan-akan guru terhadap murid. Mas Om tidak tahu kakek sudah rambut putih semua enggak ngerti-ngerti kan apa begini kamu dengar ya bahasa dulu ada kawan-kawan sering kumpul di antara dai-dai ada satu orang dai ya dia pintar cuma dia kalau ngomong seperti ngajarin jadi orang enggak betah sama dia. Kalau dia ngajar seperti dosen kepada kita kan kawan kita ngobrol ya apalagi kita lebih tua daripada dia. Tapi kalau dia bicara, seakan-akan dia dosen, kita murid yang mantuk-mantuk. Jadi gaya dia ketika menyampaikan seperti itu tidak menyenangkan orang itu. Padahal kita sejawat. Bagaimana lagi kalau yang duduk depan dia orang tua bicara dengan menggurui. Kalau bahasa kita kenapa menggurui itu enggak enak ya. Kecuali memang benar-benar murid dan guru kita gurui. Tapi kalau sejawat tentu kita bicara dengan lebih kawan seperti kawan, tidak seperti memposikan diri di tinggi. Ini kesombongan. Apalagi depan kita orang tua meskipun kita alim dia enggak alim ya. Kita bicara dengan ee baik ya. Ada adab tersendiri berbicara dengan orang tua ya. Adab tersendiri bicara kalau kita makan di luar. Kalau duduk kita persilakan terlebih dahulu. Kalau kita pun harus kita minta maaf, mohon maaf ya. Kalau kita harus menjulurkan kaki karena suatu sakit, kita minta maaf. Namanya orang tua. Orang tua punya kepekaan tersendiri. Punya kepekaan. Ini adab islami. Adab islami ya. Dan saya rasa ini juga bukan cuma adab islami saja. Bahkan di secara tradisi misalnya tradisi di orang suku tertentu, suku Jawa atau suku yang lain, saya rasa semua tradisi sepakat namanya orang tua harus di dihargai, dihormati, bermuamalah dengan muamalah yang lebih lebih baik, lebih penghormatan. Dan Rasul sahu alaihi wasallam menyebutkan dalam hadis, "Man ahabba yuzahzaharinaril jann falyatuhu wahua yu billahi akirati." Siapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan masuk surga, maka hendaknya dia meninggal dalam kondisi dia beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dalam kondisi dia berbuat kepada orang lain dengan suatu yang dia sukai jika disikapi pada dirinya. Ini salah satu definisi akhlak. Kalau kamu di ingin bermuamalah sama orang tua, posisikan seandainya kau adalah orang tua itu apa yang kau suka sama anak muda? Posisikan. Ya, kita senangnya di ee disayang, dihormati, apalagi sebagian orang tua sudah seperti anak-anak ilail umur ya. Kita minta dimengerti, minta diberi uzur. Maka Rasulullah mengingatkan ya jangan lupa untuk menghargai orang tua. Dan ini PR bagi kita semua, Ikhwan ya. Sekarang banyak Genzi ya. Gen Z ya. Ya. Genzi apa Gen Z? Sama aja antum. Gen apa? Milenial atau aluminium? sebelumnya gen besi tua ya sudah bentar lagi meninggal gen besi tua jadi subhanallah karena saking banyak medsos gadget membuat mereka tidak belajar langsung di alam nyata kalau kita kan lihat dulu orang tua kita gimana sama tetangga sama orang tua ada n ee contoh nyata yang bisa dilihat sehingga bisa ditiru. Nah, ini contoh nyata ini mulai hilang dari anak-anak ada banyak sebab. Di antara sebabnya mereka sendiri sibuk dengan dunia maya. Mereka sibuk dengan komputer, sibuk dengan gadet, sibuk dengan sehingga mereka tidak melihat contoh nyata tentang kepekaan terhadap sesama muslim. Kepekaan terhadap tetangga, kepekaan terhadap orang tua kepada kawan, kepekaan terhadap ee yang lain. Ya, gak ada hilang. Mereka tidak pernah lihat. Kemudian ketika mereka dapat orang tuanya yang masih apa? milenial sama yang milenial juga sibuk dengan HP. sehingga yang dia lihat bapaknya main HP, ibunya main HP, ketawa ketiwi di WhatsApp. Sehingga contoh secara praktik tidak dilihat dan orang tuanya pun tidak sempat untuk mengarahkan dengan perkataan. Beda kalau mungkin di kampung-kampung masih misalnya kita di adat Jawa seperti apa perhatian ada ya secara umum secara suku baik Sulawesi, adat Jawa pasti ada tradisi yang enggak boleh sama orang tua seperti itu. Dengar langsung dan dipraktikkan oleh orang di depannya. sama tetangga enggak boleh begitu. Sekarang masing-masing sendiri-sendiri, egois-gois sendiri-sendiri sehingga hilanglah kepekaan ini. Maka anak-anak kita ini yang genzi-genzi ini harus kita mulai apa? Tekankan. Jadi ini adab islami sama orang tua ya. Kalau di meja makan dia mul eh jangan dulu kamu enggak boleh. Orang tua dulu. Eh kecil tapi orang tua dulu. Sehingga dia tahu adabnya. Harus orang tua terlebih dahulu. Harus dijaga adab seperti ini. Kalau lagi bicara motong, eh orang tua lagi bicara enggak boleh dipotong ya. Eh diam enggak boleh dipotong. Jadi kita apa kita ajarin lagi jalan jangan di depan kamu belakang anak kecil di belakang. Ya seperti jadi diajarin seperti itu sehingga mereka masih melihat contoh nyata yang menjadi masalah kepekaan mulai hilang itu. Kepekaan mulai mulai hilang. Sampai kita kadangkan bingung kenapa dia masa enggak ngerti gini aja sih? Ini kan enggak boleh secara adab ya. Dia enggak ngerti, dia cuek aja ya. Misalnya nanti ketemu jam segini, ternyata enggak jadi. Enggak jadi ya udah. Oh, Afwan saya ngantuk. Selesai. Loh, sederhana gitu aja. Sudah orang siap-siap kemudian tiba-tiba afwan saya ngantuk tidur enggak jadi. Meeting batal sama Genzi kita meeting. Misalnya dia tidak merasa berdosa karena dia biasa aja kata dia aman. Apa masalahnya? Karena dia enggak ngerti bahwasanya ini adalah muamalah yang keliru. Gak bisa cuma kepekaan itu enggak ada karena dia tidak pernah belajar kepekaan tersebut. Nanti akhirnya bicara sama orang tua juga santai-santai aja. Tidak ada hormat sama orang tua, tidak ada perhatian sama orang tua, tidak ada memberi uzur kepada orang tua. Ya, maka ini harus kita perhatikan. Jangan sampai ee anak-anak akhirnya tidak peka kepada orang tua. Maka di sini Rasul sahu alaihi wasallam ya mengatakan, "Laisa minna manam yarham shirana walam ya'rif haqqo kabirina." Bukan dari golongan kami orang yang tidak sayang kepada anak-anak dan tidak mengenal hak orang tua kami. Berarti menunjukkan orang tua itu punya hak-hak. Hak orang tua apa saja yang harus kita tahu ya. Dihormati, disayangi, dikedepankan, didahulukan. Kalau berbicara dia yang berbicara terlebih dahulu. Dia yang memimpin majelis ya orang tua ya. Karena tidak punya adab akhirnya nyelonong, motong. Ah ini yang bikin bikin heboh ya. Bikin heboh. Diberi uzur orang tua. Kan orang tua terkadang seperti anak-anak lagi, sensi ya dan macam-macamnya. Akhirnya anak muda bilang, "Ya, orang tua juga harus tahu hak anak muda." Iya. Tapi yang harus lebih memberi uzur adalah anak muda kepada orang tua. Orang tua kalau sudah tua sudah kemampuannya sudah menurun, daya berpikirnya sudah ee lambat ya, omongnya sudah terbata-bata, jalannya sudah pelan ya, tidak bisa aktif seperti dahulu ya. mereka-mereka yang lebih hendaknya di ee diperhatikan. Demikian saja mungkin ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. Insyaallah kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya masih tentang orang orang tua. Wallahu taala alam bawab. Wabillahi taufik hidayah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yeah.