Dosa-Dosa Besar #120 – Berbisik Empat Mata dan Membiarkan Kawan Yang Ketiga – Khalid Basalamah
vfmCkebcm24 • 2019-05-07
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id [Musik] Baiklah, kita akan lanjutkan bahasan dosa-dosa besar insyaallah. Dan kita masuk yang ke berapa ini? 120 ya. Semoga Allah Subhanahu wa taala selamatkan kita dari semua dosa-dosa ini. Judulnya berbisik empat mata dan membiarkan kawan yang ketiga. Jadi fenomenanya kalau lagi duduk bertiga enggak boleh bisik-bisik berdua. Sementara orang ketiga itu tidak mendengarkan. Nanti kita rincikan. Kita mulai apa yang ditulis oleh penulis ini dikatakan dalam suatu majelis dan pergaulan, sikap dan tindakan ini sungguh amat tidak terpuji. Bahkan sikap dan tindakan seperti ini sebenarnya merupakan langkah setan untuk memecah belah umat Islam dan menebarkan kecemburuan, kecurigaan, dan kebencian di antara mereka. Untuk lebih jelasnya di buku kita ini tidak dituliskan dalil Al-Qur'annya. Saya akan bacakan surah Al-Mujadilah di ayat 9 sampai ayat 10. Allah Subhanahu wa taala berfirman, "Azubillahiminasyaitanirrajim." Ya ayyuhalladina amanuitumwatul watanajau bil birri watqwa wattaqulahadzi ilaihi tuhsyarun. Hai orang-orang beriman, kalau kalian ingin berbisik-bisik berbicara sesuatu yang rahasia maka jangan pernah berbisik-bisik dan berbicara sesuatu yang rahasia itu yang berbau dosa dan permusuhan. serta maksiat kepada Rasul. Tapi kalaupun harusnya dibicarakan rahasia, harusnya penuh dengan kebaikan dan ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah karena hanya kepadanya kalian akan dikembalikan. Maksudnya kalian rahasiakan seperti apapun Allah akan tahu nantinya dan ada pertanggungjawaban hari kiamat. Itu ayat 9. Ayat 10-nya. Innam najwa minasit liyahzunalladina amanu waisa bidan illa bidnillah waallahiatawakalil mminun. Sesungguhnya bisik-bisik itu yang sifatnya rahasia kalau bukan albir wat taqwa, kebaikan dan ketakwaan kepada Allah dari setan untuk memasukkan rasa sedih di dalam hati orang-orang beriman. Dan mereka tidak akan bisa membahayakan orang-orang beriman itu kecuali dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allahlah orang-orang beriman itu bertawakal. Ayat ini sangat mulia ya. Bagaimana Allah turunkan khusus ayat Al-Qur'an kekal ditalawakan oleh orang beriman sampai hari kiamat. Hanya larang untuk bisik-bisik sementara ada orang ketiga yang tidak ikut mendengarkan itu. Sementara memang duduk dalam satu majelis. Nanti akan kita rincikan ya. Ini masih dalam awal-awal. Kemudian hadis Nabi alaihialatu wasalam yang merincikan surah almujadilah ini adalah hadis yang sahih diriwayatkan Imam Bukhari di jilid 11 halaman 83. Dan juga tentu ini diriwayatkan oleh Imam Muslim yang kata Nabi sallallahu alaihi wasallam kuntumun atau min ajli yuhzinuhu. Jika kalian sedang bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa orang yang lainnya sehingga kalian berbaur dalam pergaulan dengan manusia. Artinya kalau lebih dari tiga orang gitu kan tidak masalah. Sebab yang demikian itu akan membuatnya sedih. Di sini Syekh Muhammad menekankan termasuk dalamnya berbisik dengan tiga orang yang meninggalkan orang keempat dan demikian seterusnya. Nabi yang kita jelaskan paragraf ini itu dijawab oleh para ulama tentang masalah ini ya. Karena kalau sudah lebih dari tiga orang maka tidak ada masalah ya. Intinya kalau kita cuma bertiga yang duanya bisik-bisik yang satu enggak diikutkan sementara dalam satu majelis maka itu tidak boleh. Itu yang dilarang. Tidak diragukan lagi kata penulis ya, berbisik hanya berdua dengan tidak menghiraukan orang ketiga adalah salah satu bentuk penghinaan kepadanya atau memberi asumsi bahwa keduanya menginginkan suatu kejahatan terhadap dirinya atau mungkin menimbulkan asumsi-asumsi lain yang tidak menguntungkan bagi kehidupan pergaulan mereka di kemudian hari. Itu yang ditulis oleh penulis sampai di situ saya menambahkan dengan beberapa tulisan, Teman-teman sekalian. Kalau lebih dari tiga orang, misal kita bertiga kemudian ingin ngobrol yang dua orang ini ada rahasia. Misal bujang sama bujang mau bicara masalah pernikahan. Mungkin dia tidak mau temannya yang ketiga dengar. Bolehkah mereka ngobrol berdua? Maka boleh. Tapi syaratnya panggil orang yang keempat untuk bisa terlibat. Ya, sehingga akhirnya tidak bertiga saja. Itu dikuatkan dengan riwayat riwayat Abu Daud dan disahihkan oleh para ulama bahwasanya Ibnu Umar radhiallahu anhuma pernah ditanya hadis ini menjelaskan bertiga. Bagaimana kalau empat orang? Kata Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, itu tidak membahayakanmu. Karena larangan hadis fokus kepada tiga orang. Kalau sudah empat orang berarti dia tidak perlu curiga. Karena kalau memang betul yang dua ini berbicara sesuatu tentang orang lain, berarti lebih dari dua orang atau dua orang atau lebih ke atas baru dibicarakan. Intinya bukan cuma satu orang karena targetnya dalam hadis agar jangan dia merasa sedih. Begitu juga dengan Imam Malik rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Muwattya dari Abdullah bin Dinar. Beliau berkata, "Aku pernah menemui Abdullah bin Umar di rumah seseorang yang bernama Khalid bin Uqbah yang kebetulan waktu itu berada di pasar posisi rumahnya. Datanglah seseorang yang berbisik kepada Abdullah bin Umar kesannya mau bertanya sambil bisik-bisik. Dan tidak ada orang lain kecuali aku bersama mereka berdua." Berarti cuma tiga orang. Maka Abdullah bin Umar pun memanggil seseorang yang lain sehingga kami menjadi empat. Lalu Abdullah bin Umar berkata kepadaku dengan orang yang baru dipanggil tadi, "Menjauhlah sedikit. Aku telah mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Janganlah dua orang berbisik-bisik sendirian tanpa melibatkan yang satu lagi." Dan hadis ini hadis sahih. Ya, berarti intinya kalau lebih dari tiga orang enggak ada masalah ya. Tapi kalau cuman dua orang, kemudian ada satunya takut satu merasa sedih, ini yang enggak boleh. Nanti kita jelaskan fenomena-fenomenanya ya. Ini sebagian ulama berikan syarat-syarat. Jadi supaya selamat dari pelanggaran ini, maka ada beberapa poin-poin gitu kan. Yang pertama yang masuk dalam hadis ini, ancaman hadis ini kalau dalam satu majelis misalnya kita satu meja duduk bertiga lalu kita bisik-bisik sama teman di sebelah dia ada di depan. pasti dia akan sangka buruk nanti karena satu meja gitu kan. Kenapa harus dibisikkan itu poin. Kemudian poin yang lain tidak ada orang yang lain termasuk di sini yang satu majelis ini teman-teman sekalian misal ee dalam satu majelis itu satu tempat posisi ya. Tapi kalau kita lagi di restoran, kebetulan restorannya besar kita cuma bertiga pembeli. Kita sama teman duduk di meja sini di sebelah sana ada orang lain. Kita enggak kenal. Beda majelis enggak ada masalah. I kan karena ini harus dalam satu tempat duduk majelis. Kalau orang itu jauh di sana enggak ada masalah ya. Kemudian juga seperti kasus di kereta api, di bus, fasilitas umum lah ya. Misalnya lagi kosong busnya, kita cuma bertiga. Kita sama teman lagi ngobrol ada orang duduk di depan ya maksudnya agak jauh maka itu tidak ada masalah. Tapi kalau dalam satu tempat duduk misalnya duduknya berhadap-hadapan orang itu di depan kita walaupun tidak dikenal tetap kita tidak boleh di sini ya kalau berbisik-bisik ya kalau ada rahasia bicara di tempat lain jangan di tempat umum seperti itu. Tapi ini contoh fenomena juga masuk dalam masalah ini ya. Kalau dikatakan majelis ya atau ada sebagian ulama keluarkan kalau zaman sekarang suir nis naik di mobil sama suir bawa mobil ada yang mereka mau bicarakan supirnya enggak perlu dengar. Ini enggak masuk dalam ancaman. Itu tidak masuk dalam ancaman. Karena di sini dia harus membicarakan sesuatu. Misal gajinya supir itu, misal suami bilang sama istrinya, "Kamu sudah kasih gaji belum?" Misal contoh dia enggak mau supirnya dengar. Enggak ada tujuan menyakitinya. Karena ini tujuannya berbeda, ya. Ini ulama juga keluarkan permasalahannya. Begitu juga dengan pesanan makanan di restoran. Wetresnya datang mau bawa pesan makanan. Lalu kita ngobrol sama teman, "Kira-kira kamu mau pesan makanan apa?" Sambil bisik-bisik gitu kan. itu tidak masuk dalam ancaman-ancaman seperti ini. Jadi yang ditekankan di sini adalah dalam hadis tadi akan menyakiti dia atau menyedihi dia atau menyedihkan dia. Ya, misalnya orang satu ruangan kantor ngobrol berdua gitu kan. Itu semua masuk dalam larangan. Termasuk dalam masalah ini dibolehkan kalau seseorang berbicara via telepon dengan pasangannya misalnya dia sengaja kecilkan suara dia enggak mau temannya dengar itu hak dia juga tidak masuk dalam ancaman hadis ini. Kemudian juga jadi yang pertama bukan satu majelis. Yang kedua adalah tidak ada orang lain ya selain mereka bertiga. Kemudian juga tidak ada niat ingin menyakiti ya seperti berbisik mau bantu berapa misalnya ada orang fakir miskin datang minta-minta lalu kita musyawarah sama pasangan, sama teman mau dikasih berapa kira-kira kita bisik-bisik supaya dia enggak dengar, supaya dia enggak malu. Maka ini semua tidak ada niat untuk menyakiti orang gitu kan. atau orang tua bermusyawarah tentang menerima atau tidak lamaran orang yang sedang melamar. Hah? Bujang-bujang. Kalau antum pas lagi melamar, diskusilah orang tuanya. Antum sudah suka anaknya orang, bagaimana pendapatnya? Mereka lagi diskusi berdua ya, ngobrol di depan kita. Kita enggak perlu dengar. Mungkin dia lagi bilang, "Kayaknya kupingnya besar dong." Allahuam. Tapi enggaklah kan dia tidak mau. Yang penting bukan menyakiti. Kalau niat mereka menyakiti tidak boleh walaupun masalah itu ya. Tapi kalau misalnya kita musyawarah apa kita minta waktu atau tidak terima atau enggak sekarang lamarannya misal mereka sifatnya berbisik dan itu tidak ada urusannya sama menyakiti. Hanya sekedar untuk mengatur waktu yang tepat. Kemudian juga kalau memang betul-betul ee ini masih ada contoh-contohnya ya, seperti misalnya juga ee diskusi dosen pengetes di sidang ya biasanya orang kalau lagi tes tesis S2, skripsi S1 ya, disertasi S3 misalnya. Kadang-kadang kalau memang bukan di sebuah ruangan yang besar, ada beberapa diskusi hanya dosen dua sama dia siswa atau mahasiswa yang sedang dites. Maka atau tiga orang misalnya walaupun kalau tiga orang sudah masuk enggak ada masalah ya. Tapi kalau dua orang pun mengetesnya dan mereka harus diskusi ini kita kasih nilai A atau A+ nih atau enggak lulus gitu. Maka itu tidak ada niat untuk menyakiti. Tapi memang dia harus diskusikan masalah itu ya. atau antara hakim dengan hakim di sebelahnya ya atau antara orang tua yang diskusi tentang hukuman anaknya. Anak lagi melanggar buat pelanggaran. Orang tuanya diskusi satu sama yang lain berbisikan, "Ini kira-kira seperti apa anak ini. Kita hukum bagaimana nih?" misalnya itu semua fenomena yang keluar daripada ancaman tadi. Tapi intinya teman-teman sudah bisa tangkap yang dimaksud di sini adalah bagaimana seseorang itu tidak menyakiti temannya yang sedang ada di hadapannya ataupun orang lain ya sampai dia melibatkan orang ketiga tadi atau orang lain yang bisa berbicara atau menjadi penengah atau mengajak orang yang lainnya untuk berbicara ataupun dia pindah ya. Kalau kita sudah pindah majelis sudah bisa ya. Saya ada orang datang mau ngomong, saya mau ngomong, mau bertanya sesuatu. Ada teman kita, "Baik bisa saya bisa bicara di depan sini sekalian dia dengar." "Oh, enggak, saya mau pribadi." Baik, kita ke samping. Misalnya ini ada sebuah riwayat Bukhari kalau Nabi alaihiatu wasalam pernah didatangi oleh seorang hamba sahaya kemudian mengatakan, "Ya Rasulullah, saya punya hajat dengan Anda." Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam pun menyeberang jalan dan berbicara dengan dia. Semua ini, Teman-teman sekalian, sebenarnya tujuannya untuk tidak menyakiti seseorang. Dan ini berarti menandakan Islam datang untuk menjaga perasaan orang lain. Ya, bagaimana kita subhanallah tidak boleh menyakiti orang lain. Bahkan kita disunahkan memasukkan kegembiraan di dalam hati seorang muslim. Senyum aja dengan muslim sedekah pahala gitu kan. Maka Allah seperti Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan dalam hadis sahih riwayat Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Tabassumuka fi waji akhika sodqah atau sedekah. Engkau senyum di wajah saudaramu muslim adalah sedekah. Senyum untuk apa? Menggembirakan kita. Biar tidak kenal. Subhanallah kalau tiba-tiba orang senyum gembira itu disunahkan di dalam syariat. Jadi lawan daripada menyakiti adalah disunahkan menggembirakan. Juga sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis sahih riwayat Muslim. La tahkirana minal ma'rufi walau analj. Jangan kalian pelit-pelit ya dengan satu kebaikan walaupun kalian bertemu dengan saudara kalian atau janganlah kamu pelit dengan satu kebaikan yang kamu anggap remeh ya walaupun bertemu dengan saudara muslim dalam kondisi tersenyum berarti memasukkan kegembiraan kenal gak kenal pun kita senyum ramah gitu begitu juga J Jarir bin Abdillah radhiallahu anhuma berkata, "Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam. Kapan saja aku perlu? Nabi sallallahu alaihi wasallam selalu siap. Dan belum pernah Nabi sallallahu alaihi wasallam memandang ke arahku kecuali beliau tersenyum. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim. Jadi bagaimana Nabi alaihialatu wasalam mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada setiap muslim agar tidak sampai memasukkan kesedihan di dalam hatinya ya hati seorang muslim dan memasukkan kegembiraan ini ibadah yang sangat besar sekali pahalanya. Begitu juga disebutkan di dalam hadis Nabi alaihialatu wasalam tentang bagaimana menggembirakan seorang muslim dengan cara memenuhi hajatnya ya menolongnya. Apa saja bantuan-bantuan itu? Intinya memasukkan kegembiraan dalam hati seorang muslim. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis riwayat Muslim hadis sahih. Wallahu fi aunil abdi ma kanal abdu fi auni akhih. Allah terus akan menolong seorang hamba selama ia menolong saudaranya. Inti menolong sebenarnya memenuhi kebutuhan dan itu memasukkan kegembiraan di dalam hati seseorang gitu kan. Jadi lawan dari yang tadi itu apa yang sedang kita bahas tadi malah memasukkan kesedihan kita malah tidak memasukkan kegembiraan juga. Dalam hadis yang lain riwayat Bukhari Muslim kata Nabi sallallahu alaihi wasallam kana fi hajati akhiallahu fi hajati. Barang siapa yang membantu hajat saudaranya, hajat apapun kata ulama hadis walaupun itu hal yang kecil, maka Allah senantiasa menolongnya dalam hajatnya. Apa saja? Kegembiraan, senyum, tanya kabarnya, ya penuhi kebutuhannya, jenguk kalau dia sakit, apa saja hajat sekecil apapun ya membantunya menunjukkan alamat, membantunya membeli kebutuhannya semua itu masuk dalam masalah ini. Kita penuhi hajat saudara kita, kita akan dipenuhi hajatnya. Hasan Basri rahimahullah pernah di akhir Ramadan, di akhir Ramadan beliau dapat informasi ada orang di kota Basrah di Irak itu punya hajat penting sekali tapi enggak disebutkan hajatnya apa nih dia sampaikan suratnya kepada Hasan Basri kalau dia ada hajat minta bantuan beberapa murid-murid Hasan Basri dikirim ke sana Hasan Basri rahimahullah kirim murid-muridnya di antara muridnya yang masyhur ya ada Al-Amasy ya orang yang terkenal sebagai salah satu perawi hadis yang masyhur. Ya, hampir semua buku-buku hadis menyebutkan diriwayatkan dari Amasy. Dari Amasy ini orang luar biasa ilmunya muridnya Hasan Basri. Hasan Basri sempat bilang, "Nanti pada saat kalian pergi jemput juga Tsabit Al-Bunani." Ya, ini salah satu muridnya. Betul. Tsabit Albunani atau Albanani. Iktikaf di masjid. Kata Hasan Basri, "Jemput juga dia ya. Bawa juga ke sana bilang pesan dari saya. Begitu teman-temannya, murid-muridnya Hasan Basir semua pada mampir ke masjid itu lalu berkata, "Wahai Tsabit, kita disuruh oleh Hasan Basri, guru kita untuk datangi rumah seseorang. Katanya ada hajat mau dibantu." Dia bilang, "Maaf, saya lagi iktikaf." Lalu pergilah murid-murid ini menyelesaikan urusannya. Setelah kembali, Hasan Basri masih ditanya, "Tadi si tsabit ini ikut enggak?" Kata mereka tidak. Ya, karena katanya lagi iktikaf. Maka kata Hasan Basri rahimahullah, "Apakah kau tidak tahu hai A'masy bahwasanya memenuhi hajat seorang muslim lebih besar daripada haji, kemudian haji lagi, kemudian haji lagi?" Artinya mengalahkan pahala haji. Berapa biayanya pergi haji? Berapa waktu yang harus disita? Keutamaannya besar sekali. Sampai orang kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, kalau haji tidak rafat mengucapkan kalimat syahwat kepada selain pasangannya, tidak fusuk berbuat kejahatan, tidak berdebat, berantem di musim haji. Dia pulang seperti baru dilahirkan oleh ibunya. Tapi biayanya besar gitu kan. Waktu yang diita besar. Subhanallah. Memenuhi hajat seorang muslim lebih besar daripada haji ini. Dan haji berulang-ulang kata Hasan Basri. Waktu Tsabit Albunani mendengarkan penyampaian Hasan Basri, dia keluar dari masjid lalu dia memenuhi hajat muslim yang lain. Tentu iktikaf tetap. Tapi kalau bertemu antara dua perbuatan ini, maka sangat luar biasa. Bagaimana seorang muslim memperhatikan hajat-hajat saudaranya. Ya, ini semua tujuannya adalah tidak lain kecuali untuk memasukkan kegembiraan di dalam hati seorang muslim. Jadi, kita lihat bagaimana pekahnya Islam menanamkan tentang poin-poin seperti ini juga sama dengan salaman ya masukkan kegembiraan yang kata Nabi sallallahu alaihi wasallam ma muslimini yaltaqiani fayatasafahani illa gufir lahuma qobla yatafarqa. Hadis sahih riwayat Abu Daud dan Tirmidzi. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi yang artinya tidak ada dua orang muslim yang bertemu lalu kemuduannya salaman kecuali keduanya akan dibersihkan dosa-dosanya pada saat mereka berpisah atau sebelum mereka berpisah. Apa susahnya ya? Kalau salaman saja senyum dengan muslim keutamaannya besar begini. Dan larangan tadi hadis yang pertama membuat seorang muslim sedih karena bisik-bisik. Kenapa kita harus lakukan menyedihkan dia? Dan kenapa kita tidak gembirakan? Karena ini bukan hanya sekedar membuat dia tidak sedih saja, tapi ternyata banyak keutamaan yang lain yang kita bisa dapatkan juga. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Tidak ada dua orang muslim, tidak ada seorang mukmin, tidak ada seorang mukmin." Hadis ini sahih riwayat Tabarani. "Tidak ada seorang mukmin yang bertemu dengan saudaranya mukmin yang lain. Kemudian dia mengucapkan salam dan dia menyalaminya." Ya, kecuali berguguran dosa-dosanya sebagaimana gugurnya daun-daun dari pohon. Masukkan kegembiraan saja. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salaman. Apa kabar, akhi? Baik. Apa susahnya, Teman-teman, senyum cuma gerakkan bibir? Apa susahnya salaman? Mudah sekali. Cuma apa kabar? Selesai. Ya, tidak mengambil waktu yang lama. Itu semua untuk memasukkan gembiraan dalam hati seorang muslim dan akhirnya mendapatkan keutamaan pahala. Juga dalam hadis yang lain diriwayatkan Ibnu Abid dunya kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Afdolu amalan ala akhikal mukmin surur," ketahuilah amal yang paling afdal, yang paling besar pahalanya di sisi Allah subhanahu wa taala ya itu adalah engkau memasukkan kegembiraan di dalam hati atau dalam diri seorang mukmin atau saudaramu mukmin. Juga kita tahu dalam surah Al-Hasyr ayat 9 di mana Allah Subhanahu wa taala memuji penduduk Madinah. Ubillah minasyaitan kh. Dan mereka memaksakan diri-diri mereka untuk memberikan kegembiraan dan hajat, memenuhi hajat saudara-saudara mereka walaupun mereka butuh itu. Ya, itu sifatnya orang-orang Madinah. Itar artinya memaksakan diri ya untuk mendahulukan saudara muslim yang lain walaupun dia butuh. Banyak kisah berhubung dengan itu. Pernah ada seorang muhajir hijrah agak telat sedikit datangnya. Yang lain semua sudah tinggal di rumah orang-orang ansar di Madinah. Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, "Siapa yang punya siapa yang bisa menjadikan orang ini sebagai tamu?" Ada satu orang dari Anshar mengatakan, "Saya, ya Rasulullah." Kebetulan orang miskin dia enggak punya apa-apa, tapi dia enggak mau nolak, gitu. Maka ikutlah Muhajir ini. Kata Nabi sallallahualaihi wasallam, "Bawa ke rumahmu." Dia bawa ke rumahnya. Dia tanya istrinya, "Ada makanan enggak?" Kata istrinya, "Enggak ada lagi kecuali makanan anak kecil, anak bayi kita saja. Enggak ada lagi yang lain." gitu. Dia bilang, "Baiklah. buatkan saja, hidangkan buat tamu. Nanti saya akan padamkan ya sumbu lampu kalau kita sekarang. Dan kita buat diri kita seperti orang mau tidur untuk tamu. Maka dibuatkanlah makanan tersebut kemudian dikasih kepada tamunya tadi. Kemudian mereka tidur dalam kondisi kelaparan semalam suntuk. Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam waktu ketemu Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan sesungguhnya Allah kagum dengan perbuatan kalian berdua semalam. Jadi memberikan kepada seorang muslim sesuatu kegembiraan segala macam ini adalah pahalanya besar ya. Pahalanya besar. Maksud dalam ini adalah menghiburnya di saat sedih. Kalau kita lihat sedih, tanya kenapa sedih? Ada sesuatu yang bisa saya bantu misal. Kemudian membantu di saat sulit ya apapun sifatnya. Mendukung di saat terzalimi dan memberikan pertolongan ya. Kemudian memudahkan juga dalam melaksanakan semua jenis ibadah. membantu kekurangan dana. Orang kalau mau umrah atau mau haji atau orang kalau mau merenovasi rumah atau orang mau beli bayar kendaraan. Mungkin antum punya kelebihan rezeki. Ada antum melihat seorang yang penuntut ilmu yang baik, motornya masih belum selesai dan dia masih terikat dengan riba. Sisa berapa, akhi? Sekian. Baik, saya bayarkan. Ini rumah lagi dicicil. Baik, berapa saya selesaikan. Bayangkan, Teman-teman. Selama dia pakai motor itu, mobil itu, rumah itu ditinggalin semuanya pahala. Ya kalau rumah itu dia sudah jual. Kalau dia tidak jual, dijual pun uangnya tetap berguna. Tapi kalau dia tinggal, anak-anaknya sampai cucu-cucunya, berapa banyak yang didapatkan pahala dari semua itu? Ya, termasuk juga ada yang saya mau singgung tapi bujang-bujang. Ini berita gembira buat antum yang bujang. Ada bujang enggak di sini? Coba yang bujang. Saya mau dengar takbirnya coba. Allahu Akbar. Oh, sedikit. Pak Yoyo ikut takbir sedikit rupanya. Hah. Baiklah. Yang jelas membantu orang menikah juga bagus ibadah. Kalau ada teman-teman belum menikah bilang sama dia, "Belum menikah, akhi baik saya punya saudari mau enggak tawarkan?" Daripada saudari antum nikah sama sembarangan laki-laki, kenapa bukan orang satu majelis gitu kan? Ditawarkan pbilian itu bukan aib menawarkan saudara kita gitu kan. Bukan aib itu. Karena para sahabat melakukan itu. Umar bin Khattab radhiallahu anhu pada saat ee Hafsah cerai dengan suaminya, maka dia keliling mencarikan suami. Diaangi Utsman bin Affan, Utsman menolak. Datangi Abu Bakar, Abu Bakar diam. Maka Umar sempat sedih dan berdoa sama Allah, "Ya Allah berikan jodoh yang terbaik. Enggak bisa tenang, anaknya masih belum punya pasangan suami." Maka kemudian dia berdoa 3 hari kemudian datang lamaran Nabi sallallahu alaihi wasallam. Waktu menikah, Abu Bakar datang lalu mengatakan, "Hai Umar, kayaknya kamu marah dengan saya gara-gara kasus Hafsah nih." Gitu kan. Gara-gara kasus Hafsah dia, "Ee kamu tawarkan saya tidak menikah. Kalau bukan ketahuilah. Kalau bukan saya dengar Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sebut-sebut nama Hafsah, maka mungkin saya sudah menikahinya." Tapi Nabi pernah Hafsah dan itu sebagai adab kepada beliau. "Saya tidak akan melamarnya." Maka Umar pun akhirnya paham kenapa Abu Bakar waktu itu tidak menerima penawarannya. Tapi itu bukan aib gitu kan. Dan bagi semua muslim termasuk dianjurkan untuk menikahkan orang-orang yang belum menikah. Baik itu ditawarkan, dimudahkan, dibantu dana ya dan segala macam. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur'an. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Waul ayama minkum wasihina min ibadikum wa imikum. Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian ya dan orang-orang saleh dari hamba-hamba sahaya kalian laki-laki dan hamba sahaya kalian perempuan. Kalau misalnya dia mengatakan, "Tapi kan miskin, Ustaz." Allah bilang tentang masalah pernikahan. Kalau mereka miskin, Allah akan berikan kekayaan kepada mereka dari sisinya. Wallahu wasiun alim. Dan Allah maha luas dan juga maha mengetahui. Kembali ke masalah kita tadi, Teman-teman sekalian. Intinya yang sedang dibahas dalam dosa besar kita pada 120 adalah tidak boleh memasukkan kesedihan di dalam hati seseorang. Terutama kalau dalam satu majelis dengan membisik-bisikkan sesuatu. Tetapi ingat tadi ayat yang kita baca surah almujadilah Allah mengatakan boleh bermunaja atau tanaju ya berbicara berdua bisik-bisikan kalau dalam bir dan takwa. Ketakwaan dan kebaikan. Saya sudah kasih contoh-contoh tadi ya. Kalau orang berdua sedang diskusi tentang memberikan keputusan kepada orang lain dan itu kebaikan, tidak niat untuk menyedihkan. Kemudian dosen tadi ya dan seterusnya itu semua masuk dalam fenomena bahasan ini ya. Allahuam. Ini bahasannya Allahuam. Baik begitu saja. Mudah-mudahan apa yang kita bahas malam ini bermanfaat insyaallah. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Sebelum salam jangan lupa insyaallah hari Sabtu tablig akbar kita serial sahabat Tumama bin Utsar radhiallahu anhu yang akan kita bahas seperti biasa antara zuhur ke asar insyaallah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]
Resume
Categories