Transcript
vfmCkebcm24 • Dosa-Dosa Besar #120 – Berbisik Empat Mata dan Membiarkan Kawan Yang Ketiga – Khalid Basalamah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0629_vfmCkebcm24.txt
Kind: captions
Language: id
[Musik]
Baiklah, kita akan lanjutkan bahasan
dosa-dosa besar insyaallah.
Dan kita masuk yang ke berapa ini? 120
ya. Semoga Allah Subhanahu wa taala
selamatkan kita dari semua dosa-dosa
ini.
Judulnya berbisik empat mata dan
membiarkan kawan yang ketiga.
Jadi fenomenanya kalau lagi duduk
bertiga enggak boleh bisik-bisik berdua.
Sementara orang ketiga itu tidak
mendengarkan.
Nanti kita rincikan.
Kita mulai apa yang ditulis oleh penulis
ini dikatakan dalam suatu majelis dan
pergaulan, sikap dan tindakan ini
sungguh amat tidak terpuji.
Bahkan sikap dan tindakan seperti ini
sebenarnya merupakan langkah setan untuk
memecah belah umat Islam dan menebarkan
kecemburuan, kecurigaan, dan kebencian
di antara mereka.
Untuk lebih jelasnya di buku kita ini
tidak dituliskan dalil Al-Qur'annya.
Saya akan bacakan surah Al-Mujadilah
di ayat 9 sampai ayat 10. Allah
Subhanahu wa taala berfirman,
"Azubillahiminasyaitanirrajim."
Ya ayyuhalladina amanuitumwatul
watanajau bil birri watqwa
wattaqulahadzi ilaihi tuhsyarun.
Hai orang-orang beriman, kalau kalian
ingin berbisik-bisik
berbicara sesuatu yang rahasia
maka jangan pernah berbisik-bisik dan
berbicara sesuatu yang rahasia itu yang
berbau dosa dan permusuhan.
serta maksiat kepada Rasul. Tapi
kalaupun harusnya dibicarakan rahasia,
harusnya penuh dengan kebaikan dan
ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah
karena hanya kepadanya kalian akan
dikembalikan.
Maksudnya kalian rahasiakan seperti
apapun Allah akan tahu nantinya dan ada
pertanggungjawaban hari kiamat. Itu ayat
9. Ayat 10-nya. Innam najwa minasit
liyahzunalladina
amanu waisa bidan
illa bidnillah waallahiatawakalil
mminun.
Sesungguhnya bisik-bisik itu yang
sifatnya rahasia kalau bukan albir wat
taqwa, kebaikan dan ketakwaan kepada
Allah dari setan untuk memasukkan rasa
sedih di dalam hati orang-orang beriman.
Dan mereka tidak akan bisa membahayakan
orang-orang beriman itu kecuali dengan
izin Allah. Dan hanya kepada Allahlah
orang-orang beriman itu bertawakal.
Ayat ini sangat mulia ya. Bagaimana
Allah turunkan khusus ayat Al-Qur'an
kekal ditalawakan oleh orang beriman
sampai hari kiamat. Hanya larang untuk
bisik-bisik sementara ada orang ketiga
yang tidak ikut mendengarkan itu.
Sementara memang duduk dalam satu
majelis. Nanti akan kita rincikan ya.
Ini masih dalam awal-awal.
Kemudian hadis Nabi alaihialatu wasalam
yang merincikan surah almujadilah ini
adalah hadis yang sahih diriwayatkan
Imam Bukhari di jilid 11 halaman 83.
Dan juga tentu ini diriwayatkan oleh
Imam Muslim yang kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam kuntumun
atau
min ajli
yuhzinuhu.
Jika kalian sedang bertiga,
maka janganlah dua orang berbisik tanpa
orang yang lainnya sehingga kalian
berbaur dalam pergaulan dengan manusia.
Artinya kalau lebih dari tiga orang gitu
kan
tidak masalah.
Sebab yang demikian itu akan membuatnya
sedih.
Di sini Syekh Muhammad menekankan
termasuk dalamnya berbisik dengan tiga
orang yang meninggalkan orang keempat
dan demikian seterusnya. Nabi yang kita
jelaskan paragraf ini itu dijawab oleh
para ulama tentang masalah ini ya.
Karena kalau sudah lebih dari tiga orang
maka tidak ada masalah ya. Intinya kalau
kita cuma bertiga yang duanya
bisik-bisik yang satu enggak diikutkan
sementara dalam satu majelis maka itu
tidak boleh. Itu yang dilarang.
Tidak diragukan lagi kata penulis ya,
berbisik hanya berdua dengan tidak
menghiraukan orang ketiga adalah salah
satu bentuk penghinaan kepadanya atau
memberi asumsi bahwa keduanya
menginginkan suatu kejahatan terhadap
dirinya atau mungkin menimbulkan
asumsi-asumsi lain yang tidak
menguntungkan bagi kehidupan pergaulan
mereka di kemudian hari. Itu yang
ditulis oleh penulis sampai di situ saya
menambahkan dengan beberapa tulisan,
Teman-teman sekalian.
Kalau lebih dari tiga orang, misal kita
bertiga kemudian ingin ngobrol yang dua
orang ini ada rahasia. Misal bujang sama
bujang mau bicara masalah pernikahan.
Mungkin dia tidak mau temannya yang
ketiga dengar.
Bolehkah mereka ngobrol berdua?
Maka boleh. Tapi syaratnya panggil orang
yang keempat untuk bisa terlibat.
Ya, sehingga akhirnya tidak bertiga
saja. Itu dikuatkan dengan riwayat
riwayat Abu Daud dan disahihkan oleh
para ulama bahwasanya Ibnu Umar
radhiallahu anhuma pernah ditanya hadis
ini menjelaskan bertiga. Bagaimana kalau
empat orang? Kata Abdullah bin Umar
radhiallahu anhuma, itu tidak
membahayakanmu.
Karena larangan hadis fokus kepada tiga
orang. Kalau sudah empat orang berarti
dia tidak perlu curiga.
Karena kalau memang betul yang dua ini
berbicara sesuatu tentang orang lain,
berarti lebih dari dua orang atau dua
orang atau lebih ke atas baru
dibicarakan. Intinya bukan cuma satu
orang karena targetnya dalam hadis agar
jangan dia merasa sedih.
Begitu juga dengan Imam Malik
rahimahullah meriwayatkan dalam kitab
Muwattya dari Abdullah bin Dinar.
Beliau berkata, "Aku pernah menemui
Abdullah bin Umar di rumah seseorang
yang bernama Khalid bin Uqbah
yang kebetulan waktu itu berada di pasar
posisi rumahnya. Datanglah seseorang
yang berbisik kepada Abdullah bin Umar
kesannya mau bertanya sambil
bisik-bisik.
Dan tidak ada orang lain kecuali aku
bersama mereka berdua." Berarti cuma
tiga orang. Maka Abdullah bin Umar pun
memanggil seseorang yang lain sehingga
kami menjadi empat. Lalu Abdullah bin
Umar berkata kepadaku dengan orang yang
baru dipanggil tadi, "Menjauhlah
sedikit. Aku telah mendengar Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam bersabda,
"Janganlah dua orang berbisik-bisik
sendirian tanpa melibatkan yang satu
lagi." Dan hadis ini hadis sahih. Ya,
berarti intinya kalau lebih dari tiga
orang enggak ada masalah ya. Tapi kalau
cuman dua orang, kemudian ada satunya
takut satu merasa sedih, ini yang enggak
boleh. Nanti kita jelaskan
fenomena-fenomenanya ya. Ini sebagian
ulama berikan syarat-syarat.
Jadi supaya selamat dari pelanggaran
ini, maka ada beberapa poin-poin gitu
kan. Yang pertama yang masuk dalam hadis
ini, ancaman hadis ini kalau dalam satu
majelis misalnya kita satu meja duduk
bertiga lalu kita bisik-bisik sama teman
di sebelah dia ada di depan.
pasti dia akan sangka buruk nanti karena
satu meja gitu kan. Kenapa harus
dibisikkan
itu poin. Kemudian poin yang lain tidak
ada orang yang lain
termasuk di sini yang satu majelis ini
teman-teman sekalian misal ee dalam satu
majelis itu satu tempat posisi ya. Tapi
kalau kita lagi di restoran,
kebetulan restorannya besar kita cuma
bertiga pembeli. Kita sama teman duduk
di meja sini di sebelah sana ada orang
lain. Kita enggak kenal. Beda majelis
enggak ada masalah. I kan karena ini
harus dalam satu tempat duduk majelis.
Kalau orang itu jauh di sana enggak ada
masalah ya. Kemudian juga seperti kasus
di kereta api, di bus, fasilitas umum
lah ya. Misalnya lagi kosong busnya,
kita cuma bertiga. Kita sama teman lagi
ngobrol ada orang duduk di depan ya
maksudnya agak jauh maka itu tidak ada
masalah. Tapi kalau dalam satu tempat
duduk misalnya duduknya berhadap-hadapan
orang itu di depan kita walaupun tidak
dikenal tetap kita tidak boleh di sini
ya kalau berbisik-bisik ya kalau ada
rahasia bicara di tempat lain jangan di
tempat umum seperti itu. Tapi ini contoh
fenomena juga masuk dalam masalah ini
ya. Kalau dikatakan majelis ya atau ada
sebagian ulama keluarkan kalau zaman
sekarang suir nis
naik di mobil sama suir bawa mobil ada
yang mereka mau bicarakan supirnya
enggak perlu dengar. Ini enggak masuk
dalam ancaman. Itu tidak masuk dalam
ancaman. Karena di sini dia harus
membicarakan sesuatu. Misal gajinya
supir itu, misal suami bilang sama
istrinya, "Kamu sudah kasih gaji belum?"
Misal contoh dia enggak mau supirnya
dengar. Enggak ada tujuan menyakitinya.
Karena ini tujuannya berbeda, ya. Ini
ulama juga keluarkan permasalahannya.
Begitu juga dengan pesanan makanan di
restoran. Wetresnya datang mau bawa
pesan makanan. Lalu kita ngobrol sama
teman, "Kira-kira kamu mau pesan makanan
apa?" Sambil bisik-bisik gitu kan. itu
tidak masuk dalam ancaman-ancaman
seperti ini. Jadi yang ditekankan di
sini adalah dalam hadis tadi akan
menyakiti dia atau menyedihi dia atau
menyedihkan dia. Ya, misalnya orang satu
ruangan kantor ngobrol berdua gitu kan.
Itu semua masuk dalam larangan. Termasuk
dalam masalah ini dibolehkan kalau
seseorang berbicara via telepon dengan
pasangannya misalnya dia sengaja
kecilkan suara dia enggak mau temannya
dengar itu hak dia juga tidak masuk
dalam ancaman hadis ini.
Kemudian juga jadi yang pertama bukan
satu majelis. Yang kedua adalah
tidak ada orang lain ya selain mereka
bertiga.
Kemudian
juga tidak ada niat ingin menyakiti ya
seperti berbisik mau bantu berapa
misalnya ada orang fakir miskin datang
minta-minta lalu kita musyawarah sama
pasangan, sama teman mau dikasih berapa
kira-kira kita bisik-bisik supaya dia
enggak dengar, supaya dia enggak malu.
Maka ini semua tidak ada niat untuk
menyakiti orang gitu kan. atau orang tua
bermusyawarah tentang menerima atau
tidak lamaran orang yang sedang melamar.
Hah? Bujang-bujang.
Kalau antum pas lagi melamar, diskusilah
orang tuanya. Antum sudah suka anaknya
orang, bagaimana pendapatnya?
Mereka lagi diskusi berdua ya, ngobrol
di depan kita. Kita enggak perlu dengar.
Mungkin dia lagi bilang, "Kayaknya
kupingnya besar dong."
Allahuam.
Tapi enggaklah kan dia tidak mau. Yang
penting bukan menyakiti. Kalau niat
mereka menyakiti tidak boleh walaupun
masalah itu ya. Tapi kalau misalnya kita
musyawarah apa kita minta waktu atau
tidak terima atau enggak sekarang
lamarannya misal mereka sifatnya
berbisik dan itu tidak ada urusannya
sama menyakiti. Hanya sekedar untuk
mengatur waktu yang tepat.
Kemudian juga kalau memang betul-betul
ee ini masih ada contoh-contohnya ya,
seperti misalnya
juga ee diskusi dosen pengetes di sidang
ya biasanya orang kalau lagi tes tesis
S2, skripsi S1 ya, disertasi S3
misalnya. Kadang-kadang kalau memang
bukan di sebuah ruangan yang besar, ada
beberapa diskusi hanya dosen dua sama
dia siswa atau mahasiswa yang sedang
dites. Maka atau tiga orang misalnya
walaupun kalau tiga orang sudah masuk
enggak ada masalah ya. Tapi kalau dua
orang pun mengetesnya dan mereka harus
diskusi ini kita kasih nilai A atau A+
nih atau enggak lulus gitu. Maka itu
tidak ada niat untuk menyakiti. Tapi
memang dia harus diskusikan masalah itu
ya. atau antara hakim dengan hakim di
sebelahnya ya atau antara orang tua yang
diskusi
tentang hukuman anaknya.
Anak lagi melanggar buat pelanggaran.
Orang tuanya diskusi satu sama yang lain
berbisikan, "Ini kira-kira seperti apa
anak ini. Kita hukum bagaimana nih?"
misalnya itu semua fenomena yang keluar
daripada ancaman tadi. Tapi intinya
teman-teman sudah bisa tangkap yang
dimaksud di sini adalah bagaimana
seseorang itu tidak menyakiti temannya
yang sedang ada di hadapannya ataupun
orang lain ya sampai dia melibatkan
orang ketiga tadi atau orang lain yang
bisa berbicara atau menjadi penengah
atau mengajak orang yang lainnya untuk
berbicara ataupun dia pindah ya. Kalau
kita sudah pindah majelis sudah bisa ya.
Saya ada orang datang mau ngomong, saya
mau ngomong, mau bertanya sesuatu. Ada
teman kita, "Baik bisa saya bisa bicara
di depan sini sekalian dia dengar." "Oh,
enggak, saya mau pribadi." Baik, kita ke
samping. Misalnya ini ada sebuah riwayat
Bukhari kalau Nabi alaihiatu wasalam
pernah didatangi oleh seorang hamba
sahaya kemudian mengatakan, "Ya
Rasulullah, saya punya hajat dengan
Anda." Maka Nabi sallallahu alaihi
wasallam pun menyeberang jalan dan
berbicara dengan dia.
Semua ini, Teman-teman sekalian,
sebenarnya tujuannya untuk tidak
menyakiti seseorang.
Dan ini berarti menandakan Islam datang
untuk menjaga perasaan orang lain. Ya,
bagaimana kita subhanallah tidak boleh
menyakiti orang lain. Bahkan kita
disunahkan memasukkan kegembiraan di
dalam hati seorang muslim. Senyum aja
dengan muslim sedekah pahala gitu kan.
Maka Allah seperti Nabi sallallahu
alaihi wasallam mengatakan dalam hadis
sahih riwayat Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
Tabassumuka fi waji akhika sodqah atau
sedekah. Engkau senyum di wajah
saudaramu muslim adalah sedekah. Senyum
untuk apa? Menggembirakan kita. Biar
tidak kenal. Subhanallah kalau tiba-tiba
orang senyum gembira itu disunahkan di
dalam syariat. Jadi lawan daripada
menyakiti adalah disunahkan
menggembirakan. Juga sabda Nabi
sallallahu alaihi wasallam dalam hadis
sahih riwayat Muslim. La tahkirana minal
ma'rufi walau analj.
Jangan kalian pelit-pelit ya dengan satu
kebaikan walaupun kalian bertemu dengan
saudara kalian atau janganlah kamu pelit
dengan satu kebaikan yang kamu anggap
remeh ya walaupun bertemu dengan saudara
muslim dalam kondisi tersenyum berarti
memasukkan kegembiraan kenal gak kenal
pun kita senyum ramah gitu begitu juga J
Jarir bin Abdillah radhiallahu anhuma
berkata,
"Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
tidak pernah melarangku untuk menemui
beliau sejak aku masuk Islam. Kapan saja
aku perlu? Nabi sallallahu alaihi
wasallam selalu siap. Dan belum pernah
Nabi sallallahu alaihi wasallam
memandang ke arahku kecuali beliau
tersenyum. Hadis ini diriwayatkan oleh
Imam Bukhari Muslim. Jadi bagaimana Nabi
alaihialatu wasalam mengajarkan
kebaikan-kebaikan kepada setiap muslim
agar tidak sampai memasukkan kesedihan
di dalam hatinya ya hati seorang muslim
dan memasukkan kegembiraan ini ibadah
yang sangat besar sekali pahalanya.
Begitu juga disebutkan di dalam hadis
Nabi alaihialatu wasalam tentang
bagaimana menggembirakan seorang muslim
dengan cara memenuhi hajatnya ya
menolongnya. Apa saja bantuan-bantuan
itu? Intinya memasukkan kegembiraan
dalam hati seorang muslim. Kata Nabi
sallallahu alaihi wasallam dalam hadis
riwayat Muslim hadis sahih. Wallahu fi
aunil abdi ma kanal abdu fi auni akhih.
Allah terus akan menolong seorang hamba
selama ia menolong saudaranya. Inti
menolong sebenarnya memenuhi kebutuhan
dan itu memasukkan kegembiraan di dalam
hati seseorang gitu kan. Jadi lawan dari
yang tadi itu apa yang sedang kita bahas
tadi malah memasukkan kesedihan kita
malah tidak memasukkan kegembiraan juga.
Dalam hadis yang lain riwayat Bukhari
Muslim kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam kana fi hajati akhiallahu fi
hajati. Barang siapa yang membantu hajat
saudaranya, hajat apapun kata ulama
hadis walaupun itu hal yang kecil, maka
Allah senantiasa menolongnya dalam
hajatnya.
Apa saja? Kegembiraan, senyum, tanya
kabarnya, ya penuhi kebutuhannya, jenguk
kalau dia sakit, apa saja hajat sekecil
apapun ya membantunya menunjukkan
alamat, membantunya membeli kebutuhannya
semua itu masuk dalam masalah ini. Kita
penuhi hajat saudara kita, kita akan
dipenuhi hajatnya.
Hasan Basri rahimahullah
pernah di akhir Ramadan, di akhir
Ramadan
beliau dapat informasi ada orang di kota
Basrah di Irak itu punya hajat penting
sekali tapi enggak disebutkan hajatnya
apa nih dia sampaikan suratnya kepada
Hasan Basri kalau dia ada hajat minta
bantuan beberapa murid-murid Hasan Basri
dikirim ke sana Hasan Basri rahimahullah
kirim murid-muridnya di antara muridnya
yang masyhur ya ada Al-Amasy ya orang
yang terkenal sebagai salah satu perawi
hadis yang masyhur. Ya, hampir semua
buku-buku hadis menyebutkan diriwayatkan
dari Amasy. Dari Amasy ini orang luar
biasa ilmunya muridnya Hasan Basri.
Hasan Basri sempat bilang, "Nanti
pada saat kalian pergi jemput juga
Tsabit Al-Bunani." Ya, ini salah satu
muridnya. Betul. Tsabit Albunani atau
Albanani. Iktikaf di masjid. Kata Hasan
Basri, "Jemput juga dia ya. Bawa juga ke
sana bilang pesan dari saya.
Begitu teman-temannya, murid-muridnya
Hasan Basir semua pada mampir ke masjid
itu lalu berkata, "Wahai Tsabit, kita
disuruh oleh Hasan Basri, guru kita
untuk datangi rumah seseorang. Katanya
ada hajat mau dibantu." Dia bilang,
"Maaf, saya lagi iktikaf."
Lalu pergilah murid-murid ini
menyelesaikan urusannya. Setelah
kembali, Hasan Basri masih ditanya,
"Tadi si tsabit ini ikut enggak?" Kata
mereka tidak. Ya, karena katanya lagi
iktikaf. Maka kata Hasan Basri
rahimahullah, "Apakah kau tidak tahu hai
A'masy bahwasanya memenuhi hajat seorang
muslim lebih besar daripada haji,
kemudian haji lagi, kemudian haji lagi?"
Artinya mengalahkan pahala haji. Berapa
biayanya pergi haji? Berapa waktu yang
harus disita? Keutamaannya besar sekali.
Sampai orang kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, kalau haji tidak rafat
mengucapkan kalimat syahwat kepada
selain pasangannya, tidak fusuk berbuat
kejahatan, tidak berdebat, berantem di
musim haji. Dia pulang seperti baru
dilahirkan oleh ibunya. Tapi biayanya
besar gitu kan. Waktu yang diita besar.
Subhanallah. Memenuhi hajat seorang
muslim lebih besar daripada
haji ini. Dan haji berulang-ulang kata
Hasan Basri. Waktu Tsabit Albunani
mendengarkan penyampaian Hasan Basri,
dia keluar dari masjid lalu dia memenuhi
hajat muslim yang lain. Tentu iktikaf
tetap. Tapi kalau bertemu antara dua
perbuatan ini, maka sangat luar biasa.
Bagaimana seorang muslim memperhatikan
hajat-hajat saudaranya. Ya, ini semua
tujuannya adalah tidak lain kecuali
untuk memasukkan kegembiraan di dalam
hati seorang muslim. Jadi, kita lihat
bagaimana pekahnya Islam menanamkan
tentang poin-poin seperti ini
juga sama dengan salaman ya masukkan
kegembiraan yang kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam ma muslimini yaltaqiani
fayatasafahani
illa gufir lahuma qobla yatafarqa. Hadis
sahih riwayat Abu Daud dan Tirmidzi.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi
yang artinya tidak ada dua orang muslim
yang bertemu lalu kemuduannya salaman
kecuali keduanya akan dibersihkan
dosa-dosanya pada saat mereka berpisah
atau sebelum mereka berpisah. Apa
susahnya ya? Kalau salaman saja senyum
dengan muslim keutamaannya besar begini.
Dan larangan tadi hadis yang pertama
membuat seorang muslim sedih karena
bisik-bisik. Kenapa kita harus lakukan
menyedihkan dia? Dan kenapa kita tidak
gembirakan? Karena ini bukan hanya
sekedar membuat dia tidak sedih saja,
tapi ternyata banyak keutamaan yang lain
yang kita bisa dapatkan
juga. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Tidak ada dua orang muslim,
tidak ada seorang mukmin, tidak ada
seorang mukmin." Hadis ini sahih riwayat
Tabarani. "Tidak ada seorang mukmin yang
bertemu dengan saudaranya mukmin yang
lain. Kemudian dia mengucapkan salam dan
dia menyalaminya." Ya, kecuali
berguguran dosa-dosanya sebagaimana
gugurnya daun-daun dari pohon.
Masukkan kegembiraan saja.
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh. Salaman. Apa kabar, akhi?
Baik. Apa susahnya, Teman-teman, senyum
cuma gerakkan bibir? Apa susahnya
salaman? Mudah sekali. Cuma apa kabar?
Selesai. Ya, tidak mengambil waktu yang
lama. Itu semua untuk memasukkan
gembiraan dalam hati seorang muslim dan
akhirnya mendapatkan keutamaan pahala.
Juga dalam hadis yang lain diriwayatkan
Ibnu Abid dunya kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Afdolu amalan
ala akhikal mukmin surur,"
ketahuilah amal yang paling afdal, yang
paling besar pahalanya di sisi Allah
subhanahu wa taala ya itu adalah engkau
memasukkan kegembiraan di dalam hati
atau dalam diri seorang mukmin atau
saudaramu mukmin. Juga kita tahu dalam
surah Al-Hasyr ayat 9 di mana Allah
Subhanahu wa taala memuji penduduk
Madinah. Ubillah minasyaitan
kh. Dan mereka memaksakan diri-diri
mereka untuk memberikan kegembiraan dan
hajat, memenuhi hajat saudara-saudara
mereka walaupun mereka butuh itu. Ya,
itu sifatnya orang-orang Madinah. Itar
artinya memaksakan diri ya untuk
mendahulukan saudara muslim yang lain
walaupun dia butuh. Banyak kisah
berhubung dengan itu. Pernah ada seorang
muhajir hijrah agak telat sedikit
datangnya. Yang lain semua sudah tinggal
di rumah orang-orang ansar di Madinah.
Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam
mengatakan, "Siapa yang punya siapa yang
bisa menjadikan orang ini sebagai tamu?"
Ada satu orang dari Anshar mengatakan,
"Saya, ya Rasulullah." Kebetulan orang
miskin dia enggak punya apa-apa, tapi
dia enggak mau nolak, gitu. Maka ikutlah
Muhajir ini. Kata Nabi sallallahualaihi
wasallam, "Bawa ke rumahmu." Dia bawa ke
rumahnya. Dia tanya istrinya, "Ada
makanan enggak?" Kata istrinya, "Enggak
ada lagi kecuali makanan anak kecil,
anak bayi kita saja. Enggak ada lagi
yang lain." gitu. Dia bilang, "Baiklah.
buatkan saja, hidangkan buat tamu. Nanti
saya akan padamkan ya sumbu lampu kalau
kita sekarang. Dan kita buat diri kita
seperti orang mau tidur untuk tamu. Maka
dibuatkanlah makanan tersebut kemudian
dikasih kepada tamunya tadi. Kemudian
mereka tidur dalam kondisi kelaparan
semalam suntuk. Dan Nabi sallallahu
alaihi wasallam waktu ketemu Nabi
sallallahu alaihi wasallam mengatakan
sesungguhnya Allah kagum dengan
perbuatan kalian berdua semalam. Jadi
memberikan kepada seorang muslim sesuatu
kegembiraan segala macam ini adalah
pahalanya besar ya. Pahalanya besar.
Maksud dalam ini adalah menghiburnya di
saat sedih. Kalau kita lihat sedih,
tanya kenapa sedih? Ada sesuatu yang
bisa saya bantu misal. Kemudian membantu
di saat sulit ya apapun sifatnya.
Mendukung di saat terzalimi dan
memberikan pertolongan ya.
Kemudian memudahkan juga dalam
melaksanakan semua jenis ibadah.
membantu kekurangan dana. Orang kalau
mau umrah atau mau haji atau orang kalau
mau merenovasi rumah atau orang mau beli
bayar kendaraan. Mungkin antum punya
kelebihan rezeki. Ada antum melihat
seorang yang penuntut ilmu yang baik,
motornya masih belum selesai dan dia
masih terikat dengan riba. Sisa berapa,
akhi? Sekian. Baik, saya bayarkan. Ini
rumah lagi dicicil. Baik, berapa saya
selesaikan. Bayangkan, Teman-teman.
Selama dia pakai motor itu, mobil itu,
rumah itu ditinggalin semuanya pahala.
Ya kalau rumah itu dia sudah jual. Kalau
dia tidak jual, dijual pun uangnya tetap
berguna. Tapi kalau dia tinggal,
anak-anaknya sampai cucu-cucunya, berapa
banyak yang didapatkan pahala dari semua
itu? Ya, termasuk juga ada yang saya mau
singgung tapi bujang-bujang. Ini berita
gembira buat antum yang bujang. Ada
bujang enggak di sini?
Coba yang bujang. Saya mau dengar
takbirnya coba. Allahu Akbar.
Oh, sedikit.
Pak Yoyo ikut takbir
sedikit rupanya. Hah. Baiklah. Yang
jelas membantu orang menikah juga bagus
ibadah.
Kalau ada teman-teman belum menikah
bilang sama dia, "Belum menikah, akhi
baik saya punya saudari mau enggak
tawarkan?" Daripada saudari antum nikah
sama sembarangan laki-laki, kenapa bukan
orang satu majelis gitu kan? Ditawarkan
pbilian itu bukan aib menawarkan saudara
kita gitu kan. Bukan aib itu. Karena
para sahabat melakukan itu. Umar bin
Khattab radhiallahu anhu pada saat ee
Hafsah cerai dengan suaminya, maka dia
keliling mencarikan suami. Diaangi
Utsman bin Affan, Utsman menolak.
Datangi Abu Bakar, Abu Bakar diam. Maka
Umar sempat sedih dan berdoa sama Allah,
"Ya Allah berikan jodoh yang terbaik.
Enggak bisa tenang, anaknya masih belum
punya pasangan suami." Maka kemudian dia
berdoa 3 hari kemudian datang lamaran
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Waktu
menikah, Abu Bakar datang lalu
mengatakan, "Hai Umar, kayaknya kamu
marah dengan saya gara-gara kasus Hafsah
nih." Gitu kan. Gara-gara kasus Hafsah
dia, "Ee kamu tawarkan saya tidak
menikah. Kalau bukan ketahuilah. Kalau
bukan saya dengar Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam sebut-sebut nama Hafsah,
maka mungkin saya sudah menikahinya."
Tapi Nabi pernah Hafsah dan itu sebagai
adab kepada beliau. "Saya tidak akan
melamarnya." Maka Umar pun akhirnya
paham kenapa Abu Bakar waktu itu tidak
menerima penawarannya. Tapi itu bukan
aib gitu kan. Dan bagi semua muslim
termasuk dianjurkan untuk menikahkan
orang-orang yang belum menikah. Baik itu
ditawarkan, dimudahkan, dibantu dana ya
dan segala macam. Sebagaimana Allah
berfirman dalam Al-Qur'an.
Auzubillahiminasyaitanirrajim.
Waul ayama minkum wasihina
min ibadikum wa imikum. Dan nikahkanlah
orang-orang yang sendirian di antara
kalian ya dan orang-orang saleh dari
hamba-hamba sahaya kalian laki-laki dan
hamba sahaya kalian perempuan.
Kalau misalnya dia mengatakan, "Tapi kan
miskin, Ustaz." Allah bilang tentang
masalah pernikahan.
Kalau mereka miskin, Allah akan berikan
kekayaan kepada mereka dari sisinya.
Wallahu wasiun alim. Dan Allah maha luas
dan juga maha mengetahui.
Kembali ke masalah kita tadi,
Teman-teman sekalian. Intinya yang
sedang dibahas dalam dosa besar kita
pada 120 adalah tidak boleh memasukkan
kesedihan di dalam hati seseorang.
Terutama kalau dalam satu majelis dengan
membisik-bisikkan sesuatu. Tetapi ingat
tadi ayat yang kita baca surah
almujadilah Allah mengatakan boleh
bermunaja atau tanaju ya berbicara
berdua bisik-bisikan kalau dalam bir dan
takwa. Ketakwaan dan kebaikan. Saya
sudah kasih contoh-contoh tadi ya. Kalau
orang berdua sedang diskusi tentang
memberikan keputusan kepada orang lain
dan itu kebaikan, tidak niat untuk
menyedihkan. Kemudian dosen tadi ya dan
seterusnya itu semua masuk dalam
fenomena bahasan ini ya. Allahuam. Ini
bahasannya Allahuam. Baik begitu saja.
Mudah-mudahan apa yang kita bahas malam
ini bermanfaat insyaallah.
Subhanakallahumma wabihamdika ashadu
alla ilaha illa anta astagfiruka wa
atubu ilaik. Sebelum salam jangan lupa
insyaallah hari Sabtu tablig akbar kita
serial sahabat Tumama bin Utsar
radhiallahu anhu yang akan kita bahas
seperti biasa antara zuhur ke asar
insyaallah. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik]