Transcript
ls9I8tc8B-0 • Sirah Nabawiyah #23 : Perang Tabuk [Part 1] - Khalid Basalamah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0432_ls9I8tc8B-0.txt
Kind: captions
Language: id
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah,
puja dan puji kita...
selalu kita panjatkan ke hadirat
Sang Pencipta, Allah.
Satu-satunya Pencipta,
Pemilik, Penguasa...
semua yang di langit, semua yang di bumi,
dan semua yang di kedalaman lautan.
Maha Kuat, Maha Adil,
Maha Bijaksana.
Maha Luas rahmat-Nya bagi orang-orang
yang beriman dan patuh,
dan juga...
Maha Berat siksaan-Nya...
bagi orang-orang yang
durhaka dan kafir.
Dia dengan keMaha Murahan-Nya
telah menggantungkan segala...
roda kehidupan di muka bumi ini
dengan memuji nama-Nya, Alhamdulillah.
Maka jadilah orang yang selalu menjadikan
bibirnya basah dengan kalimat yang mulia ini.
Juga kita panjatkan selanjutnya salam hormat kita
penuh dengan cinta dan rindu kepada...
panduan,
panutan semua orang beriman.
Penutup para nabi dan rasul.
Manusia yang telah disempurnakan
jalur nasabnya, fisik, dan ilmunya
oleh Sang Pencipta, Allah,
secara langsung.
Dan juga,
Sang Pencipta, Allah, memerintahkan kita
untuk menjadikannya sebagai suri teladan.
Semua kehidupan manusia terbaik ini
adalah kemenangan, ketenteraman jiwa,
dan juga...
kebahagiaan.
Mengucapkan satu kali
salam hormat kepadanya...
akan dibalas oleh Allah
sepuluh kali tambahan rahmat
yang berarti pengampunan dosa,
peninggian derajat,
dan juga pemenuhan
segala kebutuhan.
Maka jadilah orang-orang yang selalu mengucapkan
shalawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad
shallallahu ala alihi wa sahbihi wasallam.
Setelah beberapa bulan
sempat terputus kajian kita
karena satu dan dua hal dari
teman-teman Masjid Istiqomah,
dan Alhamdulillah kita bisa
melanjutkannya pada hari ini.
Siang ini sampai
menjelang Ashar, insyaAllah.
Dan nanti malam juga,
Maghrib sampai...
menjelang jam 8 malam.
Dan insyaAllah dilanjutkan
besok pagi juga,
untuk menyelesaikan sisa
daripada kajian Sirah kita.
Terakhir sekali, saudaraku seiman,
kita sudah membahas...
Perang Hunain.
Dan...
pada penutupan saya sempat mengatakan
kita akan menjelaskan...
pelajaran-pelajaran...
yang bisa diambil
dari Perang Hunain.
Dan ini sekaligus tentu
menjelaskan tentang...
kejadian-kejadian atau hal-hal
yang berhubungan dengan masalah...
peperangan Nabi ﷺ sebelumnya;
Perang Mekkah
(Pembebasan Kota Mekkah),
kemudian Perang Thaif,
atau Thaif yang datang
setelah Perang Hunain itu.
Pelajaran pertama, saudaraku seiman,
yang bisa diambil dari Perang Hunain,
dan ini tentu melengkapkan
bahasan sebelumnya.
Pada kesempatan ini, kita akan
membahas Perang Tabuk,
yang terjadi pada tahun 9 Hijriah.
Tapi, ini sisa bahasan kita
dari Perang Hunain,
sudah panjang lebar kita paparkan
pada pertemuan yang sebelumnya.
Pelajaran yang pertama adalah...
janji Allah benar,
dan tidak mungkin luput.
Sebab Allah ﷻ telah berfirman
dalam banyak ayat-Nya, di antaranya:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Dalam ayat lain:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا
"Allah tidak akan pernah
memungkiri janji-janji-Nya."
Dan juga Allah...
"Siapakah yang lebih jujur daripada Allah
dari sisi pernyataan?"
Jadi Allah ﷻ
sudah pastikan.
Dan juga, dalam banyak ayat yang lain,
diantaranya:
وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
"Kalian tidak akan pernah temukan adanya perubahan
dari sistem yang telah Allah buat."
Beriman, beramal saleh,
diberikan kemenangan.
Kufur, maka akan dihukum.
Dan Ini tidak akan berubah
sunnatullah ini.
Maka janji Allah benar.
Setelah...
kesusahan yang menimpa kaum Muslimin
di Mekkah selama 13 tahun,
yang jadi pengikut baginda Nabi ﷺ
dalam buku-buku sejarah dikatakan 153 orang.
Itu pun 83 orang
hijrah ke Ethiopia...
sampai Perang Khaibar,
baru kembali ke Madinah.
Jadi kurang lebih sampai tahun ke-5 Hijriah
baru kembali ke Madinah.
Yang beriman pada Nabi ﷺ tinggal
di Mekkah hanya 70 orang.
Itu pun dengan siksaan, dengan hinaan,
dan segala macam hal.
Sampai akhirnya terjadilah
hijrah yang mulia...
ke Madinah di awal
tahun Hijriah.
Masih tahun pertama Nabi ﷺ
hijrah ke Madinah,
maka sudah mulai ada...
upaya Nabi ﷺ mengembangkan agama
Islam ini dengan mendirikan...
sebuah negara di Madinah
dengan sistem yang Nabawi,
atau mengikuti sistem
yang Nabi ﷺ terima...
dari wahyu.
Kemudian dikatakan sistem Nabawiyah,
atau Nabi ﷺ yang memimpin sendiri.
Kemudian juga, dengan tentu
sudah saya jelaskan,
pendirian dua masjid:
Masjid Quba dan Masjid Nabawi.
Kemudian mu'akhah (persaudaraan)
antara Muhajirin dan Anshar,
lalu kemudian mu'ahadah (kesepakatan)
dengan orang-orang kafir di Madinah
agar sama-sama membela Madinah.
Lalu terjadilah prosesi selama...
lima tahun, enam tahun pertama saja,
sampai delapan tahun.
Kalau kita bahasakan sampai
Perang Hunain terjadi,
Itu Nabi ﷺ kita lihat
dalam delapan tahun,
menutupi semua...
hal-hal yang dianggap
pada saat itu...
di Mekkah “belum dicapai”.
Terjadinya penyerangan-penyerangan
atau peperangan-peperangan dari Nabi ﷺ.
Ada Perang Badar.
janjian sama orang kafir menuju ke sana,
lalu menyerang orang kafir.
Tadinya kafilah,
lalu kemudian tidak jadi.
Akhirnya bertemu dengan pasukan
kafir Quraisy dan dimenangkan.
Perang Uhud, pada saat
akan diserang Madinah.
Kemudian di awal peperangan,
Nabi ﷺ menang dengan kaum Muslimin.
Dan Ini cuma selisih tahun 2 Hijriah, Badar.
Tahun 3 Hijriah...
Perang Uhud.
Kemudian terjadi kekalahan
di akhir peperangan
karena sebagian pemanah Nabi ﷺ
turun dari bukit.
Lalu kemudian Nabi ﷺ membentuk...
pasukan yang sama...
satu hari setelah
kejadian Perang Uhud.
Di hari Sabtu,
di tahun 3 Hijriah,
hari Ahadnya,
Nabi ﷺ langsung mengejar
Quraisy kembali
dengan orang-orang
yang luka parah.
Pada saat itu tidak boleh ada
pasukan baru yang bergabung.
Orang yang kemarin ikut di Uhud
dan semuanya luka-luka parah.
Sampai ada di antara mereka
memiliki 70 luka di badannya.
Menyerang sampai terjadi dikenal
dengan Perang Hamra al-Asad.
Dan akhirnya orang-orang Quraisy tidak berani
bertemu dengan Nabi ﷺ karena kaget:
<i>“Masa orang yang luka
masih mau menyerang?”</i>
Setelah itu terjadi history
lagi berlanjut: Perang Khandaq,
di mana orang Quraisy berusaha
menyerang Nabi عليه الصلاة والسلام.
Kemudian terjadilah pengepungan
selama 43 atau 45 hari,
sampai akhirnya Allah ﷻ
usir mereka dengan angin yang kencang,
dan Muslimin memenangkan peperangan.
Kita lihat setelah Peperangan Ahzab
atau Perang Khandaq ini,
—dalam surah Al-Ahzab, Allah sebutkan, surah nomor 33—
Allah ﷻ
memerintahkan Nabi ﷺ...
menyapu bersih, menyisir semua suku Arab
dan suku Yahudi,
atau orang-orang Yahudi,
yang berusaha untuk...
ikut di Perang Ahzab.
Maka...
dari prosesi tahun ke-5 Hijriah itu,
Perang Khandaq sampai...
terjadinya pembebasan Kota Mekkah
di tahun 8 Hijriah,
dan juga Perang Hunain
dan Perang Thaif ini,
kita lihat di situ Nabi ﷺ
setiap dua bulan sekali...
kalau ditarik secara...
akumulasi semuanya,
setiap dua bulan sekali pasti ada jihad.
Terus Nabi ﷺ menghukum
suku-suku yang berusaha...
mengganggu Nabi ﷺ.
Dan dalam prosesi
penyerangan-penyerangan itu,
Nabi عليه الصلاة والسلام juga...
melakukan Umratul Qadha,
masuk ke Mekkah dengan kemuliaan
setelah di Hudaibiyah ditahan.
Kemudian juga Nabi عليه الصلاة والسلام...
menyerang Mekkah karena
terjadi pengkhianatan
oleh orang Quraisy
atau sekutu Quraisy pada saat itu.
sampai akhirnya Nabi عليه الصلاة والسلام...
berhasil menaklukkan Mekkah tanpa perlawanan,
dan menyerang Kota Thaif.
Sebelum menyerang Kota Thaif, terjadi Perang Hunain
yang jadi bahasan kita pada pertemuan sebelumnya.
Tapi kalau kita rentet histori semua,
termasuk nanti Perang Tabuk yang akan kita bahas,
dan sampai akhirnya
Nabi ﷺ meninggal dunia,
seluruh Jazirah Arab
telah masuk Islam.
Ini semua rentetan
yang kita lihat:
13 tahun masa himpit di Mekkah,
diganti oleh Allah ﷻ
dengan 10 tahun di Madinah,
masa ekspansi dan penguasaan Islam.
Jadi, janji Allah tidak akan luput.
Cuma butuh kesabaran.
Butuh kesabaran dalam berdakwah,
dalam menyampaikan kebenaran, dalam menyampaikan agama.
Dan tidak akan mungkin berubah,
agama Islam agama yang benar.
<i>"الإِسْلاَمُ يَعْلُو وَلاَ يُعْلَى عَلَيْهِ"</i>
Islam itu selalu unggul,
dan tidak akan pernah ada yang mengunggulinya.
Tidak akan pernah berubah syariat
Allah ﷻ,
yang berubah adalah kitanya.
Para pengikut dan penganutnya
yang kadang-kadang...
memiliki pemikiran-pemikiran
yang keluar dari wahyu.
Sehingga akhirnya...
membuat ada perubahan wajah,
atau perubahan penampilan,
tapi sebenarnya dia bukan
menggambarkan Islam.
Dia menggambarkan tentang
diri dia sendiri.
Sementara Islam tidak
akan pernah berubah.
Ini pelajaran pertama yang harus kita ambil,
teman-teman sekalian.
Jadi, janji Allah tidak akan luput,
sebagaimana kita lihat...
di dalam kehidupan Nabi ﷺ.
Yang kedua:
setiap muslim harus ikhtiar.
Betul, poin pertama:
janji Allah benar.
orang mukmin akan menang,
orang mukmin akan bahagia,
orang mukmin akan begini dan begitu.
Betul.
Dan pernah saya sebutkan di sini, teman-teman sekalian,
dalil-dalil syar'i ada 17 manfaat menjadi orang saleh.
Ayat-ayat Al-Qur'an semuanya.
diberikan rezeki, diberikan keturunan,
diberikan kemenangan, diberikan kepemimpinan.
Banyak manfaatnya.
Tapi ini butuh ikhtiar.
Ini butuh ikhtiar.
Nabi عليه الصلاة والسلام
dijanji kemenangan.
Perang Khaibar dijanjikan kemenangan.
Kemudian waktu pulang
dari Hudaibiyah.
Kemudian pembebasan Kota Mekkah dijanjikan.
Peperangan Hunain setelahnya,
dijanjikan kemenangan.
Nabi عليه الصلاة والسلام...
pulang dari kesepakatan Hudaibiyah,
masih membentuk pasukan di Madinah.
Dan kemudian menyerang Khaibar.
Itu pun mengepung Khaybar
40 hari sekian.
43 hari mengepung benteng pertama Khaybar,
belum bisa ditembus.
Dan tangan Nabi ﷺ, jari kelingking beliau,
itu sempat terkena anak panah Yahudi.
Sahabat sempat kelaparan,
sampai-sampai akhirnya mereka...
menangkap keledai...
lalu mereka memasaknya.
Yang keluarlah hukum
pengharaman keledai...
yang hidup bersama manusia, ya.
Keledai yang berwarna
coklat atau abu-abu.
beda dengan zebra
yang dasarnya halal.
Maka terjadilah pengharaman tersebut.
Lalu Nabi ﷺ juga mengharamkan
semua yang bertaring.
Karena sahabat kelaparan,
akhirnya mereka mau makan.
Terjadi cobaan-cobaan,
tapi akhirnya menang.
Cuma ada ikhtiar itu.
Artinya, teman-teman sekalian,
kita kalau melalui dunia ini...
dengan sakit, dengan cobaan,
gangguan orang.
Ada kesalahan kita, lalu kita meminta maaf.
Atau kita benar, kita memaafkan.
Itu...
sistem kehidupan.
Tapi ujung-ujungnya
orang beriman pasti...
menang, gitu kan.
Yang penting dia
di rel yang benar.
Maka butuh ikhtiar.
Nabi ﷺ ikhtiar.
Walaupun sudah dijanjikan kemenangan,
tetap ikhtiar.
Beberapa peperangan Nabi ﷺ digambarkan,
beliau kadang...
bahkan berijtihad
dalam strategi perang.
Seperti kasus waktu Perang Badr.
Kalau masih ingat,
kita review beberapa...
bahasan kita yang sebelumnya,
bagaimana Nabi ﷺ sempat meletakkan pasukan
di tengah-tengah lokasi Perang Badr,
yang akhirnya terjadi
kecamuk perang.
Lalu ada beberapa sahabat
datang mengatakan,
<i>“Wahai Rasulullah...</i>
<i>kami ingin bertanya.</i>
<i>Apakah ini Anda meletakkan pasukan
di tengah-tengah lokasi medan perang ini...</i>
<i>wahyu,</i>
<i>sehingga kami tidak bisa
lagi mengubahnya,</i>
<i>atau ijtihad dari Anda?”</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>“Ini ijtihad dari saya, strategi perang.”</i>
Kata sahabat:
<i>“Bisakah kami berikan masukan, ya Rasulullah?</i>
<i>Kami punya pengalaman dalam peperangan.”</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>“Baiklah.”</i>
Kata beberapa sahabat dari Anshar:
<i>“Bagaimana kalau pasukan kita tarik mundur
sampai ke dekat sumur?</i>
<i>Sehingga...</i>
<i>pasukan bisa minum kalau haus.</i>
<i>Musuh juga kalau mau menyerang,
kita punya benteng di bagian belakang kita.</i>
<i>Tidak bisa serang dari belakang.</i>
<i>Banyak hal yang dilakukan."</i>
Lalu Nabi ﷺ mengatakan,
<i>“Pendapat yang baik.”</i>
Beliau terima masukan itu.
Jadi memang ada ijtihad, ada upaya.
Ijtihad ini bisa benar, bisa salah.
Maka ini juga termasuk yang...
diambil pelajaran.
Ada ikhtiar-ikhtiar.
Yang penting, ikhtiar kita benar
sesuai dengan agama
Allah ﷻ.
Ini pelajaran penting.
Pelajaran yang ketiga,
teman-teman sekalian:
Haramnya lari dari kancah perperangan.
Tidak boleh.
Ini termasuk dosa besar.
Dan ini terjadi
di Perang Hunain.
Waktu pasukan Khalid bin Walid,
kalau masih ingat dengan Bani Sulaim.
Waktu Nabi ﷺ mau menyerang Mekkah,
ada Bani Sulaim 1.000 orang,
semua penunggang kuda,
ikut bersama pasukan Muslimin.
Tembus Mekkah,
mereka tetap utuh,
tidak ada yang mati.
Kemudian, waktu menyerang...
suku Hawazim di Perang Hunain
—Hunain sebuah lembah
antara Mekkah sama Thaif.
waktu menyerang ke sana,
Nabi ﷺ menyuruh...
suku Sulaim bersama Khalid bin Walid turun duluan
di lembah Hunain.
Ternyata di bawah sudah
diserang tiba-tiba.
Akhirnya, Khalid bin Walid pun luka seluruh tubuhnya
dan sempat pingsan, رضي الله عنه.
Beberapa suku Sulaim menjadi korban dan kocar-kacir,
pasukan Muslimin pada lari.
Sampai Nabi ﷺ waktu turun
di lembah Hunain,
menemukan tidak ada orang.
Yang ada tinggal korban-korban para sahabat.
Yang lainnya pada lari.
Beberapa buku sejarah menjelaskan,
ada di antara sahabat yang baru masuk Islam (muallaf),
sekitar 2.000 orang jumlah mereka.
Karena pasukan Muslimin dari
Madinah 10.000, ini 2.000.
2.000 ini ada yang lari
sampai mendekati Mekkah,
karena mereka belum terbiasa
dengan peperangan.
Maka Nabi ﷺ tetap kokoh
waktu itu di Hunain...
dengan 100 orang saja.
Sampai turun Jibril عليه السلام
menyampaikan...
kalau 100 orang ini,
dijamin rezekinya.
Di dunia dan juga di surga.
Dijamin masuk surga 100 orang tersebut.
Ini tentu sahabat-sahabat yang berkumpul
sahabat-sahabat yang mulia:
Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali...
beberapa sahabat-sahabat Nabi yang lain,
semuanya banyak yang berkumpul pada saat itu.
Di situ termasuk
Muawiyah bin Abi Sufyan,
Harithah bin Nu’man,
dan beberapa...
ridwanallahi 'alaihim, sahabat Nabi
yang mulia ini tetap mereka di sana.
Dan ini pelajaran,
teman-teman sekalian.
Ternyata...
orang-orang yang lari
dari kancah peperangan itu...
dihardik, disalahkan.
Dan Nabi ﷺ mengatakan
tujuh induk dosa besar:
syirik, sihir, durhaka sama orang tua,
kemudian...
lari dari kancah peperangan di antaranya.
Jadi, nggak boleh.
Orang Muslim kalau masuk
di medan perang,
maka kasusnya cuma dua:
target pertama mati syahid.
Dan kalau mati semua pasukan,
tidak ada kekalahan namanya.
Itu menang, karena itu targetnya:
mati syahid, masuk surga.
Atau mereka membawa kemenangan
pada saat pulang.
Tidak ada lagi yang lainnya.
Makanya ini hukumnya tidak boleh,
teman-teman sekalian.
Ini juga pelajaran dari Hunain.
Pelajaran yang keempat:
tidak boleh mentasymit
atau mensyamata musuh.
Tidak boleh menganggap remeh musuh.
Karena waktu itu
jumlah Muslimin...
itu 12.000.
Jumlah pasukan...
suku Hawazin 12.000.
Belum pernah selama peperangan
Muslimin sebelumnya,
jumlah berimbang seperti ini.
Belum pernah.
Di Perang Badr, kita tahu:
314 lawan 1.000.
Di Perang Uhud:
700 lawan 3.000.
Di Perang Khandaq...
itu 1.000 sahabat di Khandaq...
itu melawan 10.000.
Kemudian di Perang Khaybar,
menyerang Khaybar pada saat itu,
pasukan Muslimin 1.400 orang.
Khaibar berisi 10.000
pasukan Yahudi.
Selalu jumlahnya tidak berimbang.
Selalu mereka lebih banyak.
Waktu penyerangan Kota Mekkah,
10.000 pasukan Muslimin keluar.
Mekkah itu terdiri dari...
kurang lebih 200.000 penduduk
pada saat itu.
Pasukannya mereka besar sekali,
puluhan ribu orang.
Tapi juga, Muslimin menang.
Nah, di Perang Hunain...
rupanya berimbang.
Karena 10.000 tetap utuh pasukan Muslimin,
tidak ada yang korban.
Kemudian ada 2.000 muallaf
baru datang, jadi 12.000.
Semua sahabat waktu itu umumnya, ya.
"Umumnya".
Tanda kutip.
Bukan semuanya,
tapi "umumnya",
mereka menganggap...
bukan niat sombong, tapi...
sampai Abu Bakar pun dikatakan,
saya sudah sebutkan riwayatnya
pada pertemuan lain,
mengatakan:
<i>“Ya Rasulullah,</i>
<i>kita tidak akan dikalahkan dengan jumlah seperti ini,
karena belum pernah pasukan seperti ini.”</i>
Statement ini saja yang banyak
disampaikan oleh para sahabat.
Merasa...
bangga dengan jumlah yang banyak
dan musuh tidak akan kalahkan.
Sudah masuk dalam istilah syamatah.
Ternyata gara-gara itu,
Allah ﷻ...
memberikan kekalahan
di awal peperangan.
Kocar-kacir pasukan muslimin.
Sampai karena Nabi ﷺ
kokoh pada saat itu,
dan yang mengumpulkan
sampai 100 orang,
itu termasuk suaranya
Abbas رضي الله عنه.
Paman Nabi ﷺ,
yang berteriak mengatakan:
<i>“Hai Muslimin!</i>
<i>ini Rasulullah!
Jangan kalian lari!”</i>
Tetap saja banyak yang lari.
Lalu Nabi ﷺ mengatakan:
<i>“Panggil mereka!
Bilang, ‘Hai Ahlu Syajarah,</i>
<i>mana orang yang membaiat
di bawah pohon</i>
<i>pada saat terjadi
kesepakatan Hudaibiyah?’”</i>
Lalu kemudian berkumpullah...
100 sahabat.
Karena Nabi ﷺ tetap kokoh
dengan 100 orang itu,
sampai akhirnya berhasil mengalahkan...
12.000 pasukan...
memukul-mukul pasukan Hawazin.
Dan itu disebabkan juga
karena turunnya malaikat.
Dan saya sudah ceritakan bagaimana proses
turunnya malaikat di Lembah Hunain.
Para sahabat mengatakan:
<i>“Kami menyaksikan langit
berwarna hitam,</i>
<i>dan kami melihat banyak sekali
seperti lebah yang berwarna hitam</i>
<i>itu banyak yang jatuh menyerang
pasukan orang-orang kafir.</i>
<i>Dan kami pun sempat terkena,
tapi kami tidak bisa...</i>
<i>sampai sesuatu di antara kita,</i>
atau, <i>di antara kami,</i>
<i>sulit untuk melepaskan
dari baju dan...</i>
<i>dari tangannya karena banyaknya...</i>
<i>semacam lebah hitam itu.”</i>
Tapi orang-orang kafir
melihat itu bukan lebah.
Mereka melihat itu adalah...
pasukan yang berwarna putih.
Dan itu diceritakan oleh
beberapa orang-orang...
suku Hawazin yang
akhirnya masuk Islam
setelah kekalahan mereka.
Ringkas cerita tentunya
pada saat itu,
Nabi ﷺ akhirnya diberikan bantuan
oleh Allah ﷻ dengan...
dengan kekuatan,
tapi setelah kokoh dan sabar.
Awalnya, terjadinya kekalahan
karena masalah...
syamata ini.
Dan saya sudah pernah jelaskan, teman-teman,
bukan cuma pasukan musuh.
Dan di antara doa Nabi ﷺ juga:
Dan jangan sampai ada...
syamata terhadap musuh.
Juga kita tidak boleh syamata
kepada siapa saja.
kepada Muslim, non-Muslim,
anggap remeh mereka.
Yang masih ingat statement
Umar bin Khattab:
<i>“Kalau ada perempuan lewat
sementara perutnya besar,</i>
<i>dan saya katakan,
‘Ih, perutnya besar.'</i>
<i>Bisa saja perut saya
juga jadi besar.”</i>
Karena tidak maunya...
mensyamata orang lain.
Ini pelajaran, teman-teman.
Dan ini penyebab kalah terkalahkan Muslimin
di awal Perang Hunain.
Yang kelima:
turunnya para malaikat.
Dan ada dua peperangan...
yang ikut serta malaikat.
Tapi yang satu ikut serta langsung,
yang satunya cuma hadir.
Yang ikut berperang,
di Perang Badr.
Dan sudah kita bacakan panjang lebar
dalam surah Al-Anfal,
pada saat menjelaskan Perang Badr.
Bagaimana memang mereka datang,
dan Nabi ﷺ di penutupan Perang Badr
sempat mengatakan:
<i>“Apakah kalian mau melihat</i>
<i>atau membedakan mana korban kalian
dan mana korban...</i>
<i>malaikat?”</i>
Para sahabat mengatakan,
<i>“Tentu, ya Rasulullah.”</i>
Kata Nabi ﷺ:
<i>“Yang kalian temukan di tebasan
kepala musuh itu ada luka bakar...</i>
<i>dan jari-jari mereka terpotong,
itulah korban para malaikat.”</i>
Allah sebutkan dalam
surah Al-Anfal
bagaimana Allah ﷻ menyuruh...
memenggal leher-leher orang kafir
dan memotong jari-jari mereka...
kepada para malaikat-malaikat-Nya.
Dan juga ada sahabat
yang mengatakan:
<i>“Saya pernah...</i>
<i>saya waktu di Badr...</i>
<i>akan menebas leher seorang kafir,
karena pedangnya sudah lepas.</i>
<i>Begitu saya mau ayunkan pedang saya,
kepalanya sudah terpental sendiri.”</i>
Karena adanya...
ikut serta malaikat.
Ada sahabat yang mendengar
panggilan nama-nama yang asing,
tidak ada di kalangan sahabat.
Lalu mereka bertanya,
<i>“Ya Rasulullah...</i>
<i>kami dengar ada suara begini.”</i>
Kata Nabi ﷺ:
<i>“Itu malaikat yang memanggil...</i>
<i>sahabat-sahabatnya
untuk menyerang.”</i>
Ringkas cerita, mereka hadir
pada saat itu.
Di Perang Hunain,
hadir juga para malaikat.
Tetapi mereka tidak ikut
dalam peperangan.
Hanya muncul,
dan dengan munculnya sudah cukup
membuat suku Hawazin jadi...
bubar dan kocar-kacir.
Bubar dan kocar-kacir.
Jadi ini ada keterlibatan malaikat
dalam peperangan Nabi عليه الصلاة والسلام.
Sebagian ulama mengatakan,
bukan mustahil di setiap medan jihad,
Allah ﷻ berikan pertolongan
dengan datangnya para malaikat.
Tapi umumnya...
kaum mukminin tidak
melihat mereka.
Karena, mereka sudah tahu,
mereka sudah beriman.
Sebagian ulama misalnya, memberikan contoh saja
agar kita bisa lebih paham poin ini.
Kenapa sekarang yang banyak
mengadakan penelitian...
di langit...
di udara...
dengan pesawat terbang...
melihat bulan,
bintang-bintang,
yang di bumi...
penelitian tentang hewan-hewan,
tumbuh-tumbuhan, segala macam,
di dalam laut,
kenapa kebanyakan
orang non-Muslim?
Kenapa bukan orang Islam?
Maka ulama memberikan rincian,
mengatakan:
<i>“Sederhana saja,</i>
<i>karena umat Islam sudah
yakin kepada Allah.”</i>
Maka apa saja yang mereka
lihat atau tidak lihat,
mereka sudah katakan:
<i>“Ini adalah ciptaan Allah.
Dan Laa ilaaha illallah.”</i>
Orang-orang kafir ini
justru karena ragu,
Allah buat mereka
mengadakan penelitian.
Penutupannya nanti adalah
mereka yakin:
<i>“Oh, ternyata ini luar biasa.
Pasti ada penciptanya.”</i>
Dan itu betul.
Terjadilah seperti itu.
Kita lihat banyak sekali para ilmuwan atheis
yang akhirnya masuk Islam.
Karena mereka tadinya tidak yakin,
awalnya tidak yakin,
lama-lama jadi yakin karena
penelitian-penelitian mereka.
Dan ini juga termasuk...
pelajaran yang bisa kita...
ambil dari masalah
Perang Hunain.
Yang ke berapa sekarang?
Yang keenam?
Yang keenam.
Siang-siang sudah
mulai ngantuk.
Baik, yang keenam.
Afwan, cuma bercanda tadi, ya.
Yang keenam...
adalah halalnya ghanimah.
Dan itu merupakan
hak muslimin.
Sebagaimana kita tahu,
dari seluruh peperangan Nabi ﷺ,
ada dua peperangan yang
sangat banyak ghanimah.
Di Perang Khaibar,
dan di Perang Hunain.
Ini paling banyak
ghanimah-nya.
Di Perang Hunain itu,
seluruh suku Hawazin...
perempuannya...
orang tuanya,
dan anak-anaknya...
semuanya jadi ghanimah.
Karena...
pimpinan mereka...
itu menyuruh seluruh perempuan
dan anak-anak kecil ikut.
Kalau masih ingat kisahnya dulu.
Masih ingat nggak?
Anggap ingat.
Walaupun sudah lupa.
Jadi...
pimpinannya mereka mengatakan,
<i>"Harus semua perempuan bawa!"</i>
Jadi semua pasukan Hawazin itu...
harus bawa istrinya
dan anak-anaknya,
dengan alasan supaya
mereka tidak lari...
dari kancah peperangan.
Akhirnya...
tadinya 12.000,
menjadi 30.000 orang...
pasukan.
Tapi mereka tidak berperang,
mereka di akhir pasukan.
Waktu pasukan laki-lakinya pada lari semua,
ini jadi ghanimah semua.
Harta rampasan perang.
Kemudian...
juga termasuk unta,
emas-emas mereka, semuanya.
Harta waktu itu kaum musyrikin,
semua direbut oleh kaum muslimin,
dan itu banyak sekali.
Dan Nabi ﷺ sempat menyimpannya di...
daerah bernama Ji’ranah
(atau Birranah—Ji’ranah lebih tepat).
Yang akhirnya Nabi ﷺ setelah itu...
berihram dan masuk umrah lagi...
ke Mekkah setelah...
selesai pembagian ghanimah.
Dan ada kasus, kalau teman-teman
masih ingat masalah itu,
bagaimana Nabi ﷺ sengaja menyimpan
ghanimah tersebut dan tidak membagikannya.
Yang berarti keputusan ghanimah
ada di tangan pemimpin.
Maka Nabi ﷺ tidak bagi, sengaja.
Menunggu kurang lebih 10 hari.
Dengan harapan...
orang-orang...
suku Hawazin ini yang sudah
kalah dalam peperangan,
mereka berlindung
di benteng-benteng Thaif mereka...
dan Nabi ﷺ sempat
mengepung kota Thaif.
Kemudian Allah belum izinkan
untuk dibuka.
Nabi ﷺ berharap mereka datang.
Minta kembali...
apa namanya...
keluarga mereka, anak-anak mereka, harta mereka.
Minta, dan mereka masuk Islam.
Tapi Nabi ﷺ tunggu lama,
nggak datang-datang.
Maka Nabi ﷺ membagi-bagi
pada saat itu.
Dibagilah semua ghanimah ini,
termasuk bagi para muallaf
yang baru masuk Islam
dari orang-orang Badui.
Karena ada di antara mereka yang...
datang lalu mengatakan,
<i>"Hai Muhammad, saya minta...</i>
<i>satu kambing."</i>
—orang Badui.
Kata Nabi ﷺ:
<i>"Itu lembah...</i>
<i>penuh dengan kambing.
Ambillah semuanya."</i>
Sampai orang itu kaget:
<i>"Jangan kau olok-olok saya, Muhammad."</i>
<i>"Tidak...</i>
<i>ambil."</i>
Dalam riwayat dikatakan...
saking tidak percayanya,
dia disuruh ambil sekian ratus ekor kambing,
orang baru masuk Islam.
Ada riwayat menjelaskan bahkan
orang ini belum syahadat.
kemudian dikasih oleh Nabi ﷺ.
Tapi riwayat yang paling kuat
dia sudah syahadat, ya.
Karena orang yang menerima
ghanimah adalah...
kaum muslimin.
Maka dia syahadat,
kemudian dia minta kambing.
Nabi ﷺ suruh ambil ratusan.
Dia bilang:
<i>"Waktu saya jalan menuju ke kambing-kambing tersebut,
saya mengira akan ada orang yang menghalangiku."</i>
Ternyata semua sahabat minggir, kasih dia.
Dia jalan sampai dia pulang ke sukunya,
lalu dia teriak di depan pintu gerbang sukunya:
<i>"Hai kaumku! Berimanlah kepada Muhammad,</i>
<i>karena dia mengajarkan agama
yang tidak akan membuat kita...</i>
<i>kelaparan."</i>
Artinya, ini ada harta
yang sangat banyak.
Maka mereka ramai-ramai
masuk Islam.
Dan setelah masuk Islam,
Nabi ﷺ terus membagikan kepada mereka...
harta rampasan, terus.
Saking banyaknya...
sampai dibagikan kepada seluruh...
orang-orang Badui yang baru datang,
tambah pasukan muslimin,
masih ada banyak
yang tertinggal dari...
ghanimah tersebut.
Dan ini...
halal bagi kaum muslimin untuk...
menikmatinya.
Dan ada sebuah pelajaran
penting juga di sini.
Ternyata...
setelah pembagian ghanimah...
ada utusan dari suku Hawazin
dari benteng Thaif
yang sudah dikepung oleh Nabi ﷺ
dan tidak berhasil...
ditembus, karena Allah belum izinkan.
Datang, baru minta.
<i>"Hai Muhammad...</i>
<i>walaupun kalian belum berhasil
menembus benteng kami, Thaif,</i>
<i>tapi apalagi enaknya hidup?</i>
<i>Kami nggak punya istri,
kami nggak punya anak.</i>
<i>orang-orang tua kami pun...</i>
<i>harta kami,
semuanya diambil.</i>
<i>Sudah nggak ada lagi.</i>
<i>Kami harus mulai dari
nol lagi semuanya.</i>
<i>Maka lakukanlah sesuatu."</i>
Kata Nabi ﷺ:
<i>"Saya menunggu selama 10 hari,
kalian tidak muncul.</i>
<i>Sekarang...</i>
<i>baru kalian mau bicara?</i>
<i>Saya sudah bagi kepada orang.
Ini sudah di tangan-tangan orang semuanya.</i>
<i>Nggak mungkin."</i>
Dia bilang:
<i>"Tolonglah, hai Muhammad. Bantulah kami."</i>
Mereka bukan mau masuk Islam, ya.
Mereka cuma ucapkan itu.
<i>"Tolonglah kami."</i>
Minta tolong.
Ini dalam kondisi kafir.
Maka Nabi ﷺ mengatakan:
<i>"Baik.</i>
<i>Mana yang kalian lebih sukai:</i>
<i>keluarga...</i>
<i>atau harta?</i>
<i>Pilih salah satunya.</i>
<i>Dua-duanya nggak mungkin."</i>
Maka mereka bilang:
<i>"Tentu tidak ada yang lebih mahal
daripada keluarga.</i>
<i>Kami ingin istri, anak kami kembali.</i>
<i>Kalau harta nggak bisa lagi.</i>
<i>Harta nggak apa-apa,
bisa dicari."</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>"Baiklah.</i>
<i>Semua yang di bawah tangan saya, punya kalian."</i>
Yang Nabi ﷺ punya bagiannya,
dikembalikan semua.
<i>“Dan saya akan kumpulkan orang-orang,
nanti kalian sampaikan keluh kesah kalian.”</i>
Dikumpulkanlah pasukan muslimin...
12.000 orang.
Lalu Nabi ﷺ mengatakan:
<i>“Hai Muslimin...</i>
<i>sesungguhnya telah datang
utusan Hawazin</i>
<i>dan mereka ingin berbicara.</i>
<i>Sampaikanlah."</i>
Maka mereka mengatakan,
<i>“Hai manusia...</i>
<i>kasihanilah kepada kami.</i>
<i>Walaupun kalian belum
menembus benteng kami,</i>
<i>tapi apa lagi enaknya hidup?</i>
<i>Tidak ada keluarga, tidak ada istri,
tidak ada anak, tidak ada orang tua.</i>
<i>Harta kami sudahlah,</i>
<i>tapi keluarga kami.”</i>
Rupanya...
mereka terdiam.
Para sahabat terdiam.
Mau kembalikan atau tidak,
ini sudah hak milik sekarang.
Ghanimah.
Maka Nabi ﷺ memulai statement mengatakan:
<i>“Semua yang di bawah tanganku, milik kalian.</i>
<i>Keluarga kalian semua kembali:
istri, anak, semua jadi hak milik kalian.</i>
<i>Tidak ada lagi...</i>
<i>perbudakan.</i>
<i>Tapi kalau harta...</i>
<i>tidak bisa,”</i>
kata Nabi ﷺ.
Maka rupanya ada sahabat-sahabat
pada berdiri, nih.
<i>“Di tangan saya juga, saya serahkan
karena menghormati Nabi ﷺ.”</i>
Di sana berdiri, di sana berdiri, di sana berdiri.
Banyak sahabat...
mengizinkan semua agar dikembalikan.
Kecuali ada beberapa orang,
sudah saya jelaskan itu.
Kepala suku Ghatafan, ya.
Masih ingat?
Anggap ingat.
Dia nggak mau.
Bin Muhsin.
Dia nggak mau.
Dia mengatakan:
<i>“Ya Rasulullah, ini sudah milik saya.
Saya nggak mau.”</i>
Lalu Nabi ﷺ nego sama dia,
<i>“Kembalikanlah.</i>
<i>Saya akan ganti.”</i>
Lalu dia...
karena baru masuk Islam (muallaf),
nggak ngerti.
dia nego sama Nabi.
Dia bilang:
<i>“Berapa negonya, ya Rasulullah?”</i>
Artinya:
<i>“Satu perempuan dan satu anak-anak
ini mau ditukar berapa?”</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>“Setiap jiwa, empat ekor unta.”</i>
Dia bilang,
<i>“Baiklah.”</i>
Negosiasi.
Akhirnya ditukarlah
dengan unta-unta.
Sampai akhirnya,
kembalilah seluruh...
wanita dan anak-anak dari...
suku Hawazin.
Lalu mereka kembali.
Mereka kembali membawa itu,
tapi harta mereka sudah menjadi...
milik Muslimin.
Dan ini tentu sudah kita panjang lebar jelaskan
history-nya pada pertemuan sebelumnya.
Tapi ini pelajarannya...
yang kita ambil,
adanya ghanimah.
Dan Nabi ﷺ mengatakan:
<i>“Sesungguhnya...</i>
telah diberikan kepadaku enam hal
yang tidak diberikan kepada Nabi sebelumku.
Di antaranya adalah...
dihalalkan bagiku ghanimah.”
Jadi, harta rempasan perang.
Dan Nabi ﷺ juga...
mengatakan dalam riwayat
yang lain, kalau...
ada...
kalau zaman dulu, di zaman
nabi-nabi terdahulu,
kalau mereka berperang...
maka akan...
dikumpulkan ghanimah,
lalu nabi tersebut berdoa.
Lalu datanglah petir dari langit
menyambar ghanimah tersebut,
karena haram bagi mereka.
<i>“Dan telah terhalalkan untukku dan umatku.”</i>
Jadi ini semua...
pelajaran-pelajaran
yang kita ambil.
Pelajaran selanjutnya,
yang ketujuh adalah...
belum diizinkannya Nabi ﷺ
membebaskan Kota Thaif.
Dan ini menandakan kemenangan full...
memang dari Allah ﷻ.
Jadi, setelah pembebasan Kota Mekkah...
terus menang Muslimin
di Lembah Hunain...
rupanya pasukan...
orang-orang musyrik ini
larinya ke Kota Thaif.
Dan Kota Thaif sempat dikepung...
oleh Nabi ﷺ.
Itu juga dikepung puluhan hari.
Sampai Nabi ﷺ menyuruh menancapkan...
anak-anak panah dan tombak-tombak ke tanah,
sehingga menjadi penghalang jalan
orang-orang dari Kota Thaif,
nggak bisa lari keluar.
Tapi rupanya mereka punya
perbekalan makanan banyak di dalam.
Akhirnya...
Allah ﷻ
menjelaskan dalam Al-Qur’an
kalau Allah belum mengizinkan...
untuk membuka Kota Thaif.
Maka Nabi ﷺ pun pulang.
Ada sahabat yang sempat semangat,
karena waktu di Lembah Hunain mereka lari,
sekarang mereka kembali lagi.
<i>“Ya Rasulullah, izinkan kami menyerang.”</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>“Percuma. Allah belum izinkan.</i>
Sudah turun ayat.
Jangan, tidak usah diserang.”
Tapi mereka tetap saja mengatakan,
<i>“Coba, ya Rasulullah. Kami ingin dapat…”</i>
Nabi bilang,
<i>“Silakan, tapi tidak akan bisa tembus.”</i>
Ternyata betul.
Mereka coba menyerang,
beberapa kali, Kota Thaif,
atau Benteng Thaif,
mereka tidak berhasil.
Sampai akhirnya...
mereka semuanya pulang.
Dan terakhir itu adalah...
bagaimana Umar bin Khattab...
bertengkar mulut dengan...
satu orang pimpinan Thaif.
Dia dari atas benteng,
Umar bin Khattab dari bawah.
Pimpinan Thaif terus mengatakan:
<i>“Kalian percuma!</i>
<i>Walaupun kalian...</i>
<i>mengepung kami sekian tahun,
tidak akan bisa menembus benteng kami.</i>
<i>Kalian tidak punya kekuatan!”</i>
Apalah, dicaci maki Muslimin.
Umar bin Khattab mengatakan:
<i>“Demi Allah, kami akan tinggal di sini
walaupun sekian tahun.</i>
<i>Kalian hanya seperti biawak
yang tahu sembunyi di lubangnya.”</i>
Mendengar statement tersebut,
rupanya Abu Bakar mendengar
Nabi ﷺ mengatakan:
<i>“Telah turun wahyu melarang kita.</i>
<i>Ini nggak bisa dibuka, Thaif.”</i>
Maka...
Abu Bakar pun datang kepada Umar
dan mengatakan:
<i>“Hai Umar, berhentilah dari...</i>
<i>perdebatanmu itu, karena...</i>
<i>sudah turun wahyu.</i>
<i>Kita sudah disuruh pulang."</i>
Lalu kata Umar:
<i>“Apakah ini engkau dengar dari Nabi ﷺ?”</i>
Kata Abu Bakar,
<i>“Iya.”</i>
Maka Umar pun akhirnya memberhentikan
dan pulang bersama...
kaum Muslimin.
Ini pelajaran-pelajaran,
teman-teman sekalian.
Dan tentu saja...
sejarah tidak akan pernah bisa didustakan.
Kemenangan Muslimin sudah
kelihatan di depan mata
dan akan terjadi bila kita
kembali kepada agama kita.
Kita masuk sekarang,
teman-teman sekalian, ke...
Perang Tabuk.
Tepatnya terjadi di bulan Rajab
tahun 9 Hijriah.
Setelah pulang dari...
Perang Hunain,
tiba di Madinah,
عليه الصلاة والسلام,
beliau pun...
ingin menunjukkan kekuatan Islam.
Dan kejayaan Islam,
serta menyebarluaskan agama Allah ini.
Jadi...
Jazirah Arab sudah dianggap selesai.
Khaibar sudah takluk,
Yahudi sudah kalah,
Mekkah juga sudah takluk.
Ini dua kekuatan Jazirah Arab pada saat itu
yang berkuasa ditaklukkan.
Maka Nabi ﷺ menganggap
sudah selesai.
Maka Nabi ﷺ...
setelah itu menerima
utusan-utusan para suku Arab
dan mereka semuanya banyak
yang masuk Islam.
Dan...
Nabi ﷺ langsung pada saat itu
menyusun pasukan.
Jadi kita lihat ya,
bagaimana baginda Nabi ﷺ
sangat memuliakan jihad ini.
Seperti tidak ada waktu
untuk istirahat.
Baru pulang jihad, jihad lagi.
Pulang jihad, jihad lagi.
Karena memang saat itu
ekspansi Islam.
Bagaimana diekspansikan Islam...
ke seluruh muka bumi ini.
Sebagaimana Allah menjelaskan,
beliau diutus untuk rahmatan lil 'aalamin.
Maka Nabi ﷺ pada saat itu
mengiklankan lagi akan menyerang Tabuk.
Dan Tabuk ini, teman-teman sekalian,
lokasinya cukup jauh dari Madinah.
Dari Madinah...
mungkin sekarang jaraknya...
mungkin sekitar 300–500 kilo lah.
Kalau saya tidak salah,
sekitar begitu.
Yang jelas, wilayahnya namanya Tabuk
dan sekarang masuk...
di dalam negara Saudi.
Dulu ini dikuasai
oleh Romawi.
Jadi ini benteng Romawi
yang ada di Jazirah Arab.
Nabi ﷺ ingin menunjukkan
kekuatan Muslimin.
Dan ada dua peperangan Nabi ﷺ
yang beliau juga iklankan resmi.
Selama ini, Nabi ﷺ
kalau berperang...
nggak diiklankan resmi.
Nabi cuma bilang,
<i>“Kita akan jihad, ikutlah!”</i>
Maka semua sahabat siap-siap.
Sahabat juga termasuk orang-orang
yang sangat patuh dengan Nabi ﷺ.
Dijelaskan mau ke mana...
ya sudah.
Nggak dijelaskan,
mereka diam.
Mereka ikut saja
dengan pasukan.
Nabi suruh ke kanan, ke kiri,
ikut saja.
Tapi ada dua peperangan Nabi ﷺ
yang diiklankan terang-terangan.
Perang Khaibar,
waktu mau menyerang benteng Yahudi,
karena Nabi ﷺ sudah
dijanjikan kemenangan.
Dan yang kedua adalah...
Perang Tabuk ini.
ini juga diiklankan resmi
oleh Nabi عليه الصلاة والسلام.
Tentu ada sebabnya, ya.
Kalau Perang Khaibar, untuk menunjukkan
bahwasannya Yahudi akan kalah,
dan ayat Al-Qur’an
telah turun.
Kalau Perang Tabuk,
karena jaraknya yang sangat jauh...
pada saat itu dan butuh memang pengorbanan...
kaum Muslimin, ya.
agar mereka...
mempersiapkan diri.
Baik, perlu digarisbawahi,
teman-teman sekalian.
jihad yang dikumandangkan oleh Nabi ﷺ
di Perang Tabuk ini...
wajib...
untuk semua laki-laki Muslim.
Sebelumnya, ada peperangan
yang Nabi ﷺ kasih pilihan.
Ada yang dikasih udzur,
tapi di Perang Tabuk ini...
wajib semuanya ikut.
Maka...
tidak ada udzur ini.
Maksudnya...
harus ada udzur syar’i
yang betul-betul baru bisa.
Orang buta matanya...
dalam Al-Qur’an dikatakan
ada orang pincang, ya.
Orang yang betul-betul udzur,
tidak bisa sama sekali.
Para kaum wanita, orang tua,
dan seterusnya ini mungkin.
anak-anak kecil.
Tapi yang lain ini,
nggak bisa lagi.
Wajib.
Perang Tabuk ini, teman-teman,
diberikan nama juga...
dengan Perang 'Usrah,
atau perang yang sulit, ya.
Kenapa dikatakan 'Usrah, ini sulit?
karena memang dia...
dilakukan di musim panas.
Puncak musim panas.
Ini lawannya Perang Khandaq.
Perang Khandaq itu perang...
parit, atau Perang Ahzab,
itu terjadi di puncak musim dingin.
Tapi ini, di puncak musim panas.
Dan di musim panas ini perlu kita
garis bawahi, teman-teman sekalian.
kalau makin panas, maka...
buah kurma makin bagus kualitasnya.
Jadi kalau antum pas lagi umrah
atau lagi haji pas puncak musim panas,
itu buah kurma paling
bagus kualitasnya.
Dan ada kurma-kurma yang keluar yang mungkin tidak keluar
di selain musim-musim panas itu.
Jadi kualitasnya sangat bagus.
Nah kebetulan,
pendapatan Muslimin...
atau penduduk Madinah secara khusus,
atau Jazirah Arab secara umum,
itu dari kurma.
Ini musim panas puncak.
Dan tepatnya, beberapa hari lagi
akan panen kurma.
Jadi akan panen.
Dan panen ini berarti akan panen makanan,
penuh gudang-gudang persiapan makanan mereka,
dan juga akan kaya
karena akan di...
dijual.
Dan kurma ini termasuk buah yang...
bisa bertahan lama sampai setahun, dua tahun,
tidak rusak kalau kurma-kurma kering.
Maka ini keuntungan
yang sangat besar.
Tapi Subhanallah...
justru cobaan Allah
datang di situ.
Disuruh mereka jihad...
dan wajib...
di musim panas,
lagi panas sekali.
Orang kalau pergi perang bukan kayak
kita sekarang pergi ta'lim.
Pakai baju kaos.
Maksudnya kain kaos maksud saya, ya.
Pakai kain yang tipis,
kita santai saja.
Tapi ini pergi perang
pakai baju besi...
tebal...
pakai topi besi.
Panas, gitu.
Ini musim panas.
Tambah lagi...
mereka semua adalah pedagang...
petani kebun, petani kurma.
Baik pemilik ataupun
petaninya sendiri.
Baik dia pemilik kebunnya
atau petaninya, pekerjanya.
Dan mereka akan panen sebentar lagi.
Disuruh jihad.
Istri-istri mereka
tidak ada yang bisa...
cabut, naik ke atas pohon,
turunkan buah kurma.
Ini berarti...
kalau tidak diambil,
matang di pohon, bisa rusak.
Jatuh pun dipungut,
maka mereka mungkin tidak tahu sortir.
Ini kerjanya laki-laki semuanya.
Tapi Subhanallah,
pada saat itu...
memang Allah ﷻ
datangkan cobaannya.
Ini sudah puncak...
mendekati meninggalnya Nabi ﷺ.
Ini terjadi tahun 9 Hijriah.
Nabi ﷺ tinggal setahun saja...
setahun sekian bulan itu
sudah meninggal dunia,
عليه الصلاة والسلام.
Maka di sini puncak-puncaknya,
bagaimana Allah ﷻ menguji.
Dan...
Perang Tabuk ini walaupun nanti Muslimin
melawan Romawi, saudaraku seiman...
sebenarnya yang terjadi adalah
perang antara Muslimin...
dengan kaum munafikin.
Di sini nanti kita lihat bagaimana Perang Tabuk ini
membongkar kedok orang-orang munafik.
Dan kita juga bisa mengambil
pelajaran yang sangat besar
bagaimana di tengah-tengah kita...
di zaman sekarang pun,
atau di zaman yang akan datang pun,
munafik akan selalu ada.
Dan di sini banyak sekali...
pembongkaran tentang kedok-kedok mereka
di Perang Tabuk ini.
Orang-orang munafik dan orang-orang Badui
yang masih lemah imannya,
mereka pada berdatangan
kepada Nabi ﷺ.
Karena jihad wajib sekarang.
Nggak ada lagi udzur.
Kecuali dia...
sakit, betul-betul
ada udzur syar’i-nya.
Kalau nggak, nggak boleh.
Maka mereka...
mencari-cari alasan agar bisa
tidak ikut jihad.
Salah satu ada di antara mereka yang meminta...
pertama sekali meminta izin
agar tidak jihad...
seorang munafik,
namanya Al-Jad ibn Qais.
Nama ini, kalau teman-teman review kembali,
bukan nama yang asing.
Waktu kesepakatan Hudaibiyah terjadi,
antara Muslimin
dengan orang-orang...
musyrik Mekkah,
ada 1.400 orang sahabat.
Tepatnya, ahli sejarah mengatakan
1.400 dengan Nabi ﷺ,
maka sahabatnya 1.399.
Semuanya Nabi ﷺ jamin masuk surga,
kecuali satu orang.
Karena mereka semuanya datang
membaiat Nabi di bawah pohon:
<i>“Ya Rasulullah, saya hidup, mati, untuk agama Islam.”</i>
Disuruh perang—ya, iya.
Disuruh pulang—ya, iya.
Pada saat itu bisa serang Mekkah,
bisa pulang ke Madinah.
Setelah 1.397 sahabat semuanya
membaiat Nabi dan bersalaman,
ada sahabat, Utsman bin Affan,
lagi di Mekkah ditahan oleh Abu Sufyan.
Kemudian Nabi ﷺ memegang tangan...
kiri beliau dengan tangan kanan
sambil mengatakan:
<i>“Ini tangannya Utsman.”</i>
Jadi sudah 1.398 sahabat.
Karena jumlah mereka 1.399,
yang satu ini rupanya munafik.
Itulah Al-Jad bin Qais ini.
Dia berusaha sembunyi-sembunyi
di belakang unta.
Maka Nabi ﷺ mengatakan dalam
statement yang masyhur:
<i>"Tidak ada seorang pun yang membaiat
di bawah pohon ini kecuali masuk surga.</i>
<i>Pasti masuk surga.</i>
<i>Kecuali yang sembunyi
di belakang unta merah."</i>
Nah, itu Al-Jad bin Qais.
Dia yang di situ.
Subhanallah, dia sudah tahu,
dia dengar hadits ini.
Gara-gara dia munafik...
kemudian dia tidak mau membaiat pada saat itu,
tidak dijamin surga baginya.
Di perang ini, kembali lagi dia
dengan kemunafikannya.
Dia orang yang paling pertama...
minta izin dengan Nabi ﷺ.
Dan statement-nya
nggak masuk di akal.
Dia bilang,
<i>"Ya Rasulullah...</i>
<i>Anda akan menuju ke...</i>
<i>wilayah Romawi.</i>
<i>Dan tidak ada satu pun bangsa Arab...</i>
<i>yang tidak mengenal bagaimana aku
sangat mudah terkena fitnah wanita."</i>
Jadi dia buka kedoknya,
kalau dia ini...
ya apalah bahasa kita sekarang...
"playboy."
<i>"Nggak ada satu pun orang bangsa Arab
yang tidak kenal saya...</i>
<i>yang mudah kena fitnah wanita.</i>
<i>Dan saya takut kena
fitnahnya wanita...</i>
<i>orang Romawi.</i>
<i>Wanita bule ini saya takut kena fitnah."</i>
Seperti itulah.
Bahasanya dia.
<i>"Maka izinkan saya, ya Rasulullah.</i>
<i>Saya nggak mau ikut jihad."</i>
Alasannya gara-gara takut
kena fitnah wanita.
Orang pergi jihad bukan
mau lihat perempuan.
Tapi Subhanallah,
dia bahasanya begitu.
Nabi عليه الصلاة والسلام...
akhirnya mengizinkan dia,
tapi ada alasan.
Ya, Nabi ﷺ ada alasan mengizinkan.
Pertama, Nabi ﷺ menganggap...
orang ini sudah dikenal munafik.
Dia pun ikut tidak ada gunanya.
Tidak bermanfaat nanti buat dia.
Kasus waktu 300 orang ikut
di Perang Uhud,
kalau masih ingat,
tadi kan jumlahnya muslimin 1.000.
700 orang, orang mu'min.
300 orang, orang munafik.
Buat masalah mereka.
Begitu pergi ke Uhud,
mereka pulang tuh, 300.
Dan mereka sebarkan berita,
<i>"Untuk apa kita melawan?</i>
<i>Lebih baik kita dalam benteng."</i>
Seperti itulah.
Nanti kita lihat juga di Perang Tabuk,
mereka buat begitu, tuh.
Menahan-nahan pasukan muslimin
untuk berperang.
Dari sisi lain...
Nabi ﷺ berijtihad.
Berijtihad:
<i>"Mungkin orang ini punya udzur, ya sudahlah."</i>
Diizinkan oleh Nabi ﷺ.
Nanti kita lihat bagaimana ayat
mengingatkan masalah itu, ya.
Nanti kita akan banyak membaca Surah At-Taubah
pada kesempatan ini, insyaAllah.
Allah ﷻ membongkar
atau membuka kebohongan Al-Jad bin Qais ini
dalam Surah At-Taubah...
surah nomor 9,
ayat 49.
Surah nomor 9,
ayat 49.
Yang bunyinya,
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ:
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ٱئْذَن لِّى وَلَا تَفْتِنِّىٓ ۚ أَلَا فِى ٱلْفِتْنَةِ سَقَطُوا۟ ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌۢ بِٱلْكَـٰفِرِينَ
<i>Ada di antara mereka yang berkata
kepadamu, wahai Muhammad,</i>
<i>"Berilah aku izin,</i>
<i>untuk tidak ikut
berperang di Tabuk</i>
<i>dan jangan...</i>
<i>kamu menjadikan aku
terjerumus dalam fitnah,’</i>
maksudnya fitnah wanita.
<i>"Ketahuilah, bahwa mereka telah
terjerumus dalam fitnah,"</i> kata Allah.
<i>"Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar
meliputi orang-orang kafir."</i>
Ada penjelasan para ulama tafsir,
ada beberapa orang munafik yang tidak mau
ikut berperang ke Tabuk,
atau daerah kekuasaan Romawi,
dengan berdalih khawatir akan tergoda
oleh wanita-wanita Romawi.
Berhubungan dengan itu,
turunlah ayat ini...
untuk membukakan rahasia mereka,
dan menjelaskan bahwa keengganan mereka
pergi berperang itu adalah...
karena kelemahan iman mereka,
dan bukan karena takut fitnah wanita.
Allah yang Maha Perkasa
juga mengingatkan Nabi-Nya...
tentang keputusan mengizinkan
kaum munafik untuk tidak ikut.
Jadi ada selain Al-Jad bin Qais
juga yang datang.
<i>"Ya Rasulullah, izinkan."</i>
Oleh Nabi ﷺ diizinkan semua.
Allah mengingatkan itu
dalam Al-Qur'an.
Bahkan Allah ﷻ...
memastikan kalau itu...
perbuatan yang...
tidak diinginkan oleh
Allah ﷻ.
Lalu Allah memaafkan Nabi-Nya
عليه الصلاة والسلام.
Kita dengarkan di sini bagaimana Allah ﷻ
menyebutkan dalam Surah At-Taubah,
surah sama tadi,
surah nomor 9, ayat 43.
Allah ﷻ berfirman:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَتَعْلَمَ ٱلْكَـٰذِبِينَ
<i>Semoga Allah memaafkanmu, hai Muhammad.</i>
<i>Mengapa kamu memberi izin kepada mereka
untuk tidak ikut berperang,</i>
<i>sebelum jelas bagimu...</i>
<i>orang-orang yang benar
dalam udzurnya,</i>
<i>dan sebelum kamu mengetahui
orang-orang yang berdusta?"</i>
Tapi di sini Nabi عليه الصلاة والسلام
sudah dimaafkan oleh Allah ﷻ.
Di antara kaum munafikin ada juga
yang beralasan bahwa ini musim panas.
<i>"Janganlah pergi!"</i>
Nanti kita akan jelaskan,
ini adalah statement-nya...
Abdullah bin Abi Salul, ya.
Kepala munafikin.
<i>"Oleh karena itu, jangan keluar jihad!"</i>
Allah juga membongkar dan
menceritakan statement mereka.
Turun ayat.
Sebelum terjadi peperangan ini,
ayat terus turun.
Sudah membongkar,
<i>"Ini orang-orang tidak mau ikut karena dusta semua, nih."</i>
Dalam surah At-Taubah, sama,
surah nomor 9 ayat 81.
Allah berfirman.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَرِحَ ٱلْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَـٰفَ رَسُولِ ٱللَّهِ وَكَرِهُوٓا۟ أَن يُجَـٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَالُوا۟ لَا تَنفِرُوا۟ فِى ٱلْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّۭا ۚ لَّوْ كَانُوا۟ يَفْقَهُونَ
<i>Orang-orang yang ditinggal...</i>
<i>tidak ikut berperang
dari kalangan munafikin,</i>
<i>mereka gembira...</i>
<i>dengan tinggalnya mereka
di belakang Rasulullah ﷺ,</i>
maksudnya tidak ikut pasukan.
<i>Dan mereka tidak suka berjihad
dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah,</i>
<i>dan mereka berkata,</i>
<i>"Janganlah kamu berangkat pergi berperang
dalam panas terik seperti ini."</i>
<i>Katakanlah, hai Muhammad,
kepada mereka,</i>
<i>"Api neraka Jahannam itu
lebih sangat panas."</i>
<i>Jika mereka mengetahui.</i>
Jadi, ini Allah ﷻ bongkar.
Jadi makanya nanti saya bilang...
seperti yang saya sebutkan,
teman-teman sekalian.
dan kita juga lihat dalam closing
Perang Tabuk nanti...
penutupannya...
memang ini adalah pembongkaran
kedok orang-orang munafik.
Sampai umumnya ulama mengatakan:
<i>"Perang Tabuk...</i>
<i>sebenarnya hakikatnya bukan antara
muslimin sama orang Romawi,"</i>
karena memang tidak terjadi peperangan
di antara mereka nanti.
Dan kita akan jelaskan sebabnya,
kenapa Romawi tidak mau
melawan Nabi ﷺ.
Dan akhirnya di situ terjadilah...
keributan antara muslimin
dengan orang-orang munafik.
Dari sisi lain,
ada di antara kaum mukminin...
yang mendatangi Nabi ﷺ,
justru terbalik.
Kalau orang munafik izin supaya...
tidak ikut perang.
Kaum mukminin justru menangis,
minta supaya bisa ikut perang.
Tapi mereka miskin.
Ada di antara mereka yang sangat miskin,
tidak punya kemampuan membiayai diri mereka...
untuk berangkat jihad.
Maka mereka berkata
kepada Nabi ﷺ.
di antaranya ada satu sahabat
yang disebutkan dalam buku sejarah:
Salim bin Umair رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
Ada beberapa sahabat Nabi yang lain,
tapi ini yang paling masyhur disebutkan namanya.
Dan ini yang ayat Al-Qur'an
turun pada dia ini.
Salim bin Umair رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
Jadi dia mengatakan,
mereka mengatakan, beberapa orang:
<i>"Ya Rasulullah...</i>
<i>kami ingin jihad.</i>
<i>Mintalah agar...</i>
<i>muslimin menyumbang buat kami."</i>
Supaya ada yang biayai.
Karena perjalanan butuh makan,
butuh minum,
butuh kuda, butuh pedang, butuh perisai.
Nggak ada duit.
Nggak ada sama sekali uang.
Maka Nabi ﷺ waktu itu mengumumkan...
mengiklankan secara terang-terangan sadaqah.
<i>"Bersadaqahlah. Kumpulin. Ini jihad.</i>
<i>Perjalanan jauh, Muslimin banyak
butuh makanan, butuh bekal.</i>
<i>Harus ada sadaqah."</i>
Terdapat ada sahabat...
dan ini kita lihat bagaimana
peran orang munafik lagi, ya.
Mereka, Subhanallah...
bukan cuma tinggal di rumahnya,
Hadir dalam majelis Nabi ﷺ,
hadir dalam peperangan Nabi ﷺ,
pergi bersama dengan hajinya...
dan umrahnya Nabi ﷺ.
Jadi mereka hadir,
tapi ini connect satu
sama yang lain, nih.
Ini menginformasikan
teman-teman yang di sana,
lalu mereka ngatur strategi untuk
mencari kesalahan muslimin.
Ini sudah terjadi
di zaman dulu.
Jadi jangan heran
kalau sekarang cari...
macam-macam untuk umat Islam
jadi bentrok ini,
itu sudah biasa.
Ciri orang munafik
dari dulu itu.
Di sini dikatakan...
waktu Nabi ﷺ bilang,
<i>"Sadaqahlah."</i>
Ada satu sahabat,
bawa harta yang banyak.
Tapi di dalam riwayatnya
tidak disebutkan namanya.
Saya tidak temukan, ya.
Mungkin keterbatasan ilmu saya.
Maka, dia membawa harta yang banyak.
Saking beratnya...
sampai susah dia mengangkatnya.
Ditaruh di kain
yang besar.
Langsung ditaruh di depan Nabi ﷺ,
<i>"Ya Rasulullah, ini sadaqah."</i>
Ini orang pertama bersadaqah waktu itu.
Ternyata di majelis Nabi,
ada orang munafik.
Apa mereka bilang?
<i>"Oh, riya ini."</i>
Padahal mereka sendiri
tidak bersadaqah, gitu.
Mereka nggak ada andilnya.
Begitu lihat orang,
<i>"Oh, riya."</i>
Begitu masjid lagi dibangun,
ada penyumbang Fulan, Fulan...
<i>"Tsk, riya."</i>
Dia sendiri nggak masukin uang.
Ada nggak begitu sekarang?
Nggak ada?
Masa?
Ada, banyak.
Mudah-mudahan
tidak ada yang hadir.
Kalau di majelis Rasulullah saja hadir,
apalagi di majelis kita, gitu ya.
Tapi insyaAllah, tidak ada.
Yang jelas pada saat itu,
teman-teman sekalian...
dibilang riya.
Dan mereka sebarin gosip itu
di majelisnya Nabi, itu.
<i>"Riya, riya, riya, riya."</i>
Ini, sahabat ini nyumbang baik-baik.
Rupanya...
setelah sahabat itu,
ada sahabat satu lagi datang.
Miskin, nggak punya apa-apa.
Dia cuma bawa satu
keranjang kecil, satu...
<i>sha</i> kurma.
Ya, mungkin dua setengah kilo kurma
dibawa sama dia.
Ditaruh.
Begitu disumbang,
<i>"Ya Rasulullah, cuma yang saya bisa,"</i>
Yang paling pertamanya nyeletuk,
munafik lagi.
<i>"Mau bikin apa satu sha kurma?</i>
<i>Apa gunanya?</i>
<i>Untuk pasukan yang banyak,"</i>
ini...
statement itu dibuang,
dilemparin.
Diolok-olok kaum muslimin.
Dan itu terjadi.
Zaman sekarang di media keluar.
olok ini, olok itu.
Salah semua umat Islam.
Apa saja.
Bangun masjid ini salah,
pengajian ini salah, itu salah.
Dibuat masalah terus.
Itu terjadi.
Ini di depan Nabi ﷺ, ini.
Orang bawa banyak,
<i>"Riya."</i>
Orang bawa sedikit,
<i>"Mana bisa cukup?"</i>
Allah ﷻ
membongkar kedok mereka.
Dalam surah At-Taubah,
masih sama.
Surah nomor 9, ayat 79.
Ayat demi ayat, ini terus...
menjelaskan kepada kita.
Jadi...
pembongkaran kedok yang masal
ini luar biasa.
Nanti kita lihat juga,
setelah pulang dari Perang Tabuk...
Nabi ﷺ akhirnya...
secara terang-terangan
di masjid beliau.
<i>"Siapa yang saya sebut namanya, berdiri!
Itu berarti munafik."</i>
Nabi sebut:
<i>"Fulan, berdiri! Fulan, berdiri! Fulan, berdiri!"</i>
Terbongkar semua kedoknya...
nanti setelah selesai itu.
Tapi ini masih dalam
proses Perang Tabuk.
At-Taubah ayat 79 berbunyi,
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
ٱلَّذِينَ يَلْمِزُونَ ٱلْمُطَّوِّعِينَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ فِى ٱلصَّدَقَـٰتِ وَٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ ٱللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
<i>Orang-orang munafik itu...</i>
<i>adalah orang-orang yang mencela orang-orang mukmin
yang memberi sadaqah dengan sukarela.</i>
Tadi, orang yang membawa
sumbangan banyak itu...
dicela,
<i>"Riya!"</i>
<i>Dan mencela orang-orang yang tidak memperoleh untuk disadaqahkan
selain sekadar kesanggupannya</i> (sahabat yang kedua).
Jelas nggak?
Dibuka Al-Qur’an-nya, ya.
Kalau Bapak punya Al-Qur’an
di handphone-nya dibuka, dilihat.
Karena secara leterlek di sini,
Allah menceritakan kejadian itu, Subhanallah.
Kejadian dua tadi sahabat ini.
<i>Dan...</i>
<i>mereka juga mencela orang-orang
yang tidak memperoleh</i>
<i>untuk disadaqahkan selain
sekadar kemampuan mereka.</i>
<i>Maka orang-orang munafik itu
menghina mereka.</i>
<i>Allah akan membalas
penghinaan mereka itu</i>
<i>dan untuk mereka azab yang pedih.</i>
Nyata sekali ayat ini turun, Subhanallah.
Namun karena yang miskin cukup banyak—
jadi sudah banyak sahabat yang menyumbang,
Ada dua orang, tiga orang, namun ada yang datang,
tapi dua orang yang disebutkan dalam ayat tadi.
Tapi karena banyak sahabat
yang miskin yang mau ikut,
maka...
dan fasilitas jihad besar,
harus ada kuda.
Biasanya orang kalau pergi jihad zaman dulu,
itu bawa dua ekor kuda.
Satu kuda yang dia tunggangi,
satu kuda cadangan.
Untuk membawa bekal makanan.
Nanti di tengah jalan,
misalnya sudah jalan 50–60 kilo,
dia turun dari kudanya.
Kuda yang tadi dia pakai
tunggangi, diganti.
ditaruh makanan.
Yang tadi istirahat itu...
dipakai sama dia untuk...
ditunggangi,
dan seterusnya.
Atau kalau mati kudanya,
ada kuda cadangan.
Seperti itu.
Ada yang bahkan bawa banyak.
Ada yang bawa...
kambingnya.
Ada banyak sahabat
yang bawa kambing.
10 ekor, 20 ekor,
nanti di tengah jalan dipotongin
untuk muslimin makan sebagai sadaqah.
Jadi, mereka pergi jihad itu
bawa banyak bekal.
Nabi ﷺ akhirnya berkata kepada mereka
karena banyaknya orang yang datang minta.
Satu-dua orang sudah terbantukan,
tapi yang lain mau.
<i>“Ya Rasulullah, mau jihad.</i>
<i>Biayai kami.”</i>
Maka Nabi ﷺ mengatakan
statement yang masyhur:
<i>“Sungguh, aku tidak memiliki tunggangan
yang bisa membawa kalian.”</i>
Maka sahabat-sahabat ini...
pulang dari Masjid Nabi.
Keluar...
menangis.
Karena mereka tidak bisa jihad.
Allah ceritakan juga dalam
surah At-Taubah.
Ini semua kejadian Allah buka
dalam Al-Qur’an.
Surah nomor 9,
ayat 91 sampai 93.
Ayat 91-nya, bunyinya,
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
لَّيْسَ عَلَى ٱلضُّعَفَآءِ وَلَا عَلَى ٱلْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا۟ لِلَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۚ مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍۢ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
<i>Tidak ada dosa lantaran
tidak pergi berjihad...</i>
<i>atas orang-orang yang lemah...</i>
<i>orang-orang sakit...</i>
<i>dan atas orang-orang yang tidak memperoleh
apa yang akan mereka nafkahkan.</i>
Tadi orang miskin ini.
Mereka nggak bisa
biayai hidupnya...
untuk jihad.
<i>Apabila mereka berlaku ikhlas
kepada Allah dan Rasul-Nya,</i>
<i>tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan
orang-orang yang berbuat baik.</i>
<i>Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</i>
Ayat 92:
وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ إِذَا مَآ أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَآ أَجِدُ مَآ أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا۟ وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا۟ مَا يُنفِقُونَ
<i>Dan tidak ada pula dosa...</i>
<i>atas orang-orang yang apabila
mereka datang kepadamu, wahai Muhammad,</i>
<i>supaya kamu memberikan mereka tunggangan,</i>
<i>lalu engkau berkata,</i>
<i>“Aku tidak memperoleh kendaraan untuk kalian.”</i>
Tadi kan ada sahabat begitu.
<i>“Ya Rasulullah, biayai kami.”</i>
<i>“Nggak ada lagi, saya tidak punya apa-apa.”</i>
Rasulullah pun tidak bisa, ﷺ.
<i>Lalu mereka kembali meninggalkan masjid...</i>
<i>sedang mata mereka bercucuran
air mata karena kesedihan,</i>
<i>lantaran mereka...</i>
<i>tidak memperoleh...</i>
<i>apa yang mereka nafkahkan,</i>
atau, <i>apa yang akan mereka nafkahkan.</i>
Ayat 93-nya:
اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَسْتَأْذِنُوْنَكَ وَهُمْ اَغْنِيَاۤءُۚ رَضُوْا بِاَنْ يَّكُوْنُوْا مَعَ الْخَوَالِفِۙ وَطَبَعَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
<i>Sesungguhnya jalan untuk menyalahkan...</i>
atau...
boleh kita salahkan orang
yang tidak ikut jihad,
<i>hanyalah terhadap orang-orang
yang meminta izin kepadamu,</i>
tadi orang-orang munafik itu.
<i>Padahal mereka itu adalah
orang-orang kaya.</i>
<i>Mereka rela berada bersama dengan
orang-orang yang tidak ikut berperang.</i>
<i>Dan Allah telah mengunci mati hati mereka.</i>
<i>Maka mereka tidak mengetahui akibat
perbuatan mereka sendiri.</i>
Dengan adanya anjuran
Nabi عليه الصلاة والسلام...
agar muslimin bersadaqah
dengan janji pahala yang besar,
maka para sahabat mulai berlomba-lomba membawa
sadaqah mereka untuk mengejar pahala...
jihad.
Karena ayat Al-Qur’an turun...
disuruh jihad:
بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ
<i>Dengan harta dan jiwa kalian.</i>
Dan Nabi عليه الصلاة والسلام pada saat itu...
terus saja memotivasi
para sahabat.
<i>"Bersedekahlah!
Ini kesempatan besar.</i>
<i>Ini adalah tabungan
untuk akhirat."</i>
Maka Umar bin Khattab,
disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih,
riwayat Bukhari-Muslim,
beliau pun mengatakan—
ini tentu hal yang positif,
tidak dilarang dalam agama Islam:
bersaing dengan saudara Muslim
dalam hal yang positif.
Umar mengatakan,
pada saat mendengar...
Nabi kumandangkan sedekah,
dia mengatakan:
<i>"Hari ini saya akan kalahkan Abu Bakar."</i>
Karena...
kasusnya dia merasa Abu Bakr selama ini
selalu lebih dari dia,
dari sisi ibadah.
<i>"Hari ini saya akan kalahkan Abu Bakr."</i>
Sebagian ahli hadits mengatakan...
kemungkinan Umar bin Khattab menganggap
Abu Bakar belum mendengar...
penyampaian Nabi masalah sadaqah,
atau memang dasarnya...
Umar...
membawa harta yang paling banyak
menurut dia pada saat itu.
Dalam hadis ini dikatakan,
maka Umar pun akhirnya membawa setengah hartanya.
Dan menghadap Nabi ﷺ, lalu mengatakan:
<i>"Ya Rasulullah...</i>
<i>ini setengah hartaku."</i>
Atau dia mengatakan:
<i>"Ya Rasulullah, ini sedekah di jalan Allah."</i>
Kata Nabi ﷺ:
<i>"Apa yang kau tinggalkan
buat keluargamu?"</i>
Kata Umar:
<i>"Seperti ini juga."</i>
Maksudnya:
setengah untuk jihad, setengah untuk...
keluarga.
Tidak lama kemudian,
Abu Bakar muncul.
Lalu membawa harta.
Umar masih melihat.
Lalu dikatakan:
<i>"Ya Rasulullah, ini sedekah di jalan Allah."</i>
Kata Nabi ﷺ:
<i>"Apa yang kau tinggalkan buat keluargamu?"</i>
Dia mengatakan:
<i>"Allah dan Rasul-Nya."</i>
Artinya:
<i>“Semua harta saya, saya bawa ini.”</i>
Kata Umar:
<i>"Mulai hari ini, saya sudah tahu.
Saya tidak akan pernah kalahkan Abu Bakar."</i>
Tapi hal ini,
kata sebagian ulama dibolehkan.
Karena dia merasa...
bukan mau menjatuhkan saudaranya,
tapi dia mau menyamai pahalanya
atau bisa berbuat lebih dari itu,
tanpa berharap hilang dari...
saudaranya tadi.
Ini dibolehkan.
Ini namanya <i>ghibtah</i>
dalam istilah agama kita.
Kita...
cemburu pada seseorang tapi
tidak berharap nikmat itu hilang...
dari dia.
Kita berharap seperti dia atau lebih.
Itu dibolehkan.
Kalau kita berharap hilang
dari dia namanya...
hasad, iri, dengki.
Ini tidak boleh.
Nabi ﷺ masih terus saja
memotivasi para sahabat
untuk...
menyumbang, bersedekah, terutama para
pedagang-pedagang yang kaya raya.
Maka beliau ﷺ naik atas mimbar
lalu menyampaikan keutamaan sadaqah.
Lalu beliau ﷺ bersabda dalam
penutupan motivasi tentang sodaqohnya:
<i>"Siapa yang mempersiapkan,
membiayai apa saja,</i>
<i>pasukan ‘Usrah ini,</i>
<i>maka baginya surga."</i>
Sekarang, siapa saja
yang bersedekah di sini...
walaupun belum pergi jihad...
sudah dapat surga.
Maka, Utsman bin Affan pada saat itu hadir
—anak mantu Nabi ﷺ.
Dia pun berdiri sambil mengatakan:
<i>"Ya Rasulullah...</i>
<i>aku sumbangkan...</i>
<i>100 ekor kuda.</i>
<i>Siap sama...</i>
<i>seluruh perbekalannya."</i>
Jadi, mujahidnya datang...
naik kuda itu,
sudah ada.
Kudanya sudah siap dengan...
kendi minumannya, airnya.
Kemudian makanannya,
bekal untuk ke Tabuk pulang-pergi.
Begitu juga baju perangnya,
pedangnya, perisainya, lengkap.
Topi besinya—lengkap semua.
Mujahid tinggal berperang saja.
100 ekor.
Ini besar sekali biayanya.
Maka Nabi ﷺ pun...
menerima itu.
Dan mengatakan:
<i>"Bagus yang kamu lakukan, hai Utsman."</i>
Rupanya Nabi ﷺ masih bilang:
<i>"Siapa lagi yang mau membiayai pasukan ‘Usrah,
maka dia akan masuk surga."</i>
Utsman tadi pikir
100 kuda sudah cukup.
Lalu dia mengatakan:
"Ya Rasulullah, kalau begitu saya sumbang lagi 100 kuda,
<i>lengkap dengan semua perbekalannya
untuk 100 mujahid."</i>
Kata Nabi ﷺ:
<i>"Bagus yang kau kerjakan, hai Utsman.</i>
<i>Siapa lagi yang mau menyumbang?"</i>
Masih dimotivasi.
Utsman bilang lagi untuk ketiga kali:
<i>"Ya Rasulullah, 100 lagi."</i>
300 ekor.
Nabi bilang:
<i>"Bagus.</i>
<i>Siapa lagi?"</i>
Terus...
sampai 10 kali.
Waktu Nabi ﷺ ulangi
yang ke-10,
Utsman bilang:
<i>“Ya Rasulullah...</i>
<i>kuda saya jumlahnya...</i>
<i>990 ekor.</i>
<i>Saya akan genapkan 1000
dengan 10 ekor unta.</i>
<i>Maka saya menyumbang, ya Rasulullah,"</i>
yang terakhir itu 90 ekor kuda,
<i>“berikut 10 ekor unta.”</i>
Maka Nabi ﷺ mengatakan,
<i>“Bagus yang kau kerjakan.”</i>
Lalu pada saat itu Nabi ﷺ pun mendoakan Utsman.
Dan Nabi ﷺ mengatakan
dengan doa yang masyhur:
<i>“Sungguh...</i>
<i>ya Allah, luaskan rezekinya Utsman.</i>
<i>Angkatlah permasalahan dari hidupnya.”</i>
Banyak doa-doa Nabi ﷺ,
tapi yang penutupnya, kata Nabi ﷺ:
<i>“Sungguh...</i>
<i>tidak akan ada lagi yang
membahayakan apa pun, Utsman,</i>
<i>setelah apa yang dia lakukan
pada hari ini.”</i>
Pada saat itu
Nabi ﷺ juga sempat...
menyampaikan dalam riwayat yang lain.
Ada satu sumur...
di Madinah yang dibutuhkan untuk minum.
Kaum muslimin butuh untuk minum,
supaya mujahidin bisa isi.
Di rumah mereka nggak cukup, gitu kan.
Sumur di Madinah waktu itu
cuma ada beberapa, punya Yahudi.
Yahudi ini rupanya...
dia tahu bahwa muslimin butuh.
Karena dia tidak mau muslimin
pergi berperang,
maka dia jual mahal.
Maka Nabi ﷺ mengatakan,
“Siapa yang membeli sumur...”
Sumur Raumah, namanya.
‘Pemanah’.
<i>"Siapa yang membeli,
maka dia akan dapat surga."</i>
Uthman pergi ke sana,
negosiasi langsung.
Berapa?
20 ribu dinar.
Nggak ada sumur semahal itu.
Kurang lebih rupiah sekarang: 6 miliar.
Ini zaman dulu.
Sumur sekarang paling mahal
100 juta, sudah mewah.
Ini...
20 ribu dinar, emas.
Jadi 6 miliar,
sumur apa ini?
Tapi Yahudi ini begitu,
dia maunya begitu.
Utsman bin Affan beli.
Tidak pakai nawar,
langsung dibeli sama dia.
Baiklah, dibeli.
Habis itu setelah dibeli, dikasih.
Wakafin untuk muslimin.
Kemudian setelah itu...
Nabi ﷺ juga...
memuji Utsman.
lalu mengatakan kalimat
yang mirip sama tadi:
“Tidak ada lagi yang bisa...
<i>Tidak ada lagi yang berbahaya bagi Utsman
setelah apa yang dia kerjakan hari ini.”</i>
Maksudnya, kalau pun ada dosanya
setelah ini, akan dimaafkan.
Allah ﷻ akan memaafkan.
Nabi ﷺ waktu itu
mengamanahkan Kota Madinah...
dipimpin oleh...
Ali bin Abi Thalib, رضي الله عنه.
Ali bin Abi Thalib
orang yang kuat, perkasa.
Tapi...
Nabi ﷺ suruh jaga Madinah.
Tentunya Nabi ﷺ pilih.
Dan selalu Nabi ﷺ kalau...
keluar begini pasti memilih
orang-orang yang pantas.
Subhanallah, orang munafik kembali lagi.
Mereka membuat masalah lagi, nih.
Rupanya waktu Nabi ﷺ sudah keluar...
Mereka sebarin isu
di Madinah.
Isu—jadi tidak jelas siapa yang ngomong,
tapi tersebar isu
—kalau Rasulullah ﷺ sengaja tidak membawa Ali,
karena Ali lemah.
<i>"Ali penakut, lemah,
jadi sengaja tidak dibawa sama Nabi.</i>
<i>Buktinya semua laki-laki diwajibkan,
kenapa dia tidak?"</i>
Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
begitu dengar, jengkel.
Tapi Ali tidak tahu
siapa yang bilang.
Langsung dia pakai baju perangnya,
naik kuda, menyusul pasukan.
Pas bergabung dengan pasukan,
—Nabi ﷺ punya tradisi setiap...
beberapa langkah,
beberapa jauh
(tidak disebutkan berapa milnya)
—pasti Nabi ﷺ istirahat dulu.
Berikan kesempatan pasukan istirahat,
kemudian baru jalan lagi.
Di sini Ali bin Abi Thalib bergabung
di tempat istirahat pertama Nabi ﷺ.
Nabi melihat dia.
Nabi ﷺ tanya:
<i>“Hai Ali,</i>
<i>apa yang membuatmu meninggalkan Madinah?”</i>
Dia bilang,
<i>“Ya Rasulullah...</i>
<i>telah tersebar berita,
wahai utusan Allah,</i>
kalau Anda tidak membawa aku
karena aku ini lemah
<i>dan penakut,
tidak layak ikut perang.”</i>
Kata Nabi ﷺ:
<i>“Tidak, demi Allah.</i>
<i>Apakah engkau merasa menjaga keluargaku,”</i>
—istri-istri Nabi ada di Madinah—
<i>“dan menjaga keluargamu...</i>
<i>bukan hal yang penting?</i>
<i>Apa engkau tidak ingin, hai Ali...</i>
<i>terposisikan seperti Harun dari Musa?</i>
<i>Tetapi ketahuilah,
tidak ada nabi setelahku.”</i>
Nah ini...
sering kali hadits ini juga disalahgunakan,
yang diambil potongan saja.
Bahwasannya, kalau ada nabi setelah...
Nabi Muhammad ﷺ adalah Ali bin Abi Thalib.
Padahal, maksud hadits ini adalah:
waktu Nabi Musa عليه السلام menerima
wahyu 40 hari di Bukit Thur Sina,
yang diamanahkan siapa?
Harun عليه السلام.
Untuk menjaga.
Sekarang kasusnya kan Ali bin Abi Thalib
disuruh jaga Madinah.
Maka Nabi menarik itu, mengatakan:
<i>“Tidakkah kau mau seperti
kasusnya dulu Harun</i>
<i>waktu dipercayakan oleh Musa menjaga
pada saat dia pergi?”</i>
Begitulah.
<i>“Tapi bukan Nabi lho,</i>
<i>karena tidak ada Nabi setelahku.”</i>
Ini kata Nabi عليه الصلاة والسلام.
Akhirnya Ali pun kembali ke Madinah
dan tidak lagi memperdulikan perkataan kaum munafikin.
Kurang lebih dihitung oleh ahli sejarah,
khilaf di antara mereka,
berapa jumlah sahabat yang
tidak sempat ikut karena punya udzur,
dan berapa yang...
tidak punya udzur.
Jadi saking detailnya pada saat itu,
mereka sampai menghitung.
Yang saya temukan nama-nama mereka...
ada tiga orang
yang tidak punya udzur...
dan ini turun
ayat Al-Qur’an.
Surah At-Taubah juga
menjelaskan masalah itu.
Kurang lebih, kalau tidak salah,
At-Taubah ayat 118
nanti menceritakan
tentang tiga orang ini.
Tiga orang ini adalah:
Ka’ab ibn Malik,
kemudian Hilal bin Umayyah,
dan Murarah bin Rabi’.
Ada tiga orang.
Ka’ab bin Malik,
ini yang pertama.
Ini yang paling masyhur kisahnya.
Nanti akan kita jelaskan kisahnya dia, رضي الله عنه.
Ka’ab bin Malik,
kemudian Hilal bin Umayyah,
kemudian yang ketiga
Murarah bin Rabi’.
Jadi tiga orang ini,
semuanya ahli Badr.
Dan tiga orang ini khusus,
mereka tidak ikut,
tidak punya udzur.
Tidak ada udzur. Nanti kita jelaskan
bagaimana kisah mereka.
Jadi hanya sekitar waswas setan
yang membuat menunda.
Mereka bahasanya tiga orang ini:
<i>"Nanti saja, kan pasukan lambat.</i>
<i>Nanti sebentar lagi saya ikut,
sebentar lagi saya ikut."</i>
Sampai akhirnya pasukan sudah hilang,
mereka nggak jadi ikut.
Nanti ada kisah sendiri.
Kemudian ada sahabat
yang punya udzur.
Kemudian...
Maaf, sahabatnya ini tidak punya udzur,
tapi dia akhirnya...
segera ngeh, sadar,
lalu dia menyusul pasukan.
Itu namanya Abu Haithamah.
رضي الله عنه.
Abu Haithamah ini...
juga tidak punya udzur,
hampir dia tidak ikut berperang.
Nanti kita jelaskan apa sebabnya
dalam kisah Abu Haithamah رضي الله عنه.
Jadi dia akhirnya berhasil selamat
dan tidak kena ancaman,
dan hukuman dari Allah ﷻ,
justru karena dia menyusul pasukan
walaupun pasukan sudah jauh.
Kemudian ada sahabat
yang tidak punya udzur...
Maaf, yang punya udzur.
Lalu dimaafkan oleh Nabi ﷺ,
yaitu adalah Abu Lubabah.
Abu Lubabah رضي الله عنه.
Dan ada beberapa sahabat Nabi lain,
yang jelas jumlah mereka 11.
Jumlah mereka 11,
yang saya temukan namanya-namanya ini.
Tiga orang tadi yang tidak ada udzur,
nanti akan turun ayat dan ada hukuman bagi mereka.
Diboikot oleh Nabi ﷺ
selama 50 hari.
Tadi Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah,
dan juga Murarah bin Rabi’.
Kemudian ada Abu Haithamah.
Awalnya dia tidak mau
pergi perang,
tidak ada udzur,
tapi akhirnya dia menyusul pasukan.
Nanti kita jelaskan kisahnya.
Dan ada Abu Lubabah. Jadi kurang lebih di sini
cuma lima yang saya dapatkan namanya,
tapi jumlah mereka umumnya
dikatakan 11 orang.
Kita mulai dengan kisah Abu Haithamah.
Abu Haithamah رضي الله عنه...
memiliki dua orang istri.
Dia menunda datang,
dengan harapan akan bisa menyusul.
Pada saat itu kebetulan
pas pasukan lagi jalan,
sudah mulai ada
pohon kurma yang...
panen.
Abu Haithamah رضي الله عنه
termasuk punya kebun.
Dan kebun dia ada di posisi kebun
yang sangat luas,
rumah dia berada di kebun itu
dengan kedua istrinya.
Nah, biasanya di musim
panen kurma ini,
maka...
kurma-kurma tersebut diturunkan
oleh pegawainya, lalu di taruhlah.
Di depan rumah masing-masing istri
ini dibuat tenda,
khusus untuk menikmati kurma tadi.
Jadi...
Abu Haithamah duduk
dengan istrinya.
Begitu juga umumnya sahabat
pada saat itu.
Mereka menikmati pada saat kurma baru turun,
lalu dinikmati di situ.
Dibuatkan tenda khusus.
Abu Haithama ini...
memiliki dua orang istri yang sangat akur
dan dua-duanya, di depan rumahnya, taruh tenda itu untuk dia.
Dihidangkanlah kurma-kurma
yang terbaik.
Dan dalam riwayat ini dikatakan,
keduanya bahkan berdandan
untuk Abu Haithamah.
Ya, ini yang bujang-bujang miskin.
Ikut dengar saja.
Ini orang sudah dua orang istri, dua-duanya akur,
dua-duanya menyiapkan makanan.
Yang jelas...
pada saat melihat kejadian tersebut—
Abu Haithamah رضي الله عنه melihat...
istrinya berdandan,
duduk di bawah tenda,
kurmanya banyak—
dia tiba-tiba pada saat itu,
dalam riwayatnya dikatakan, terpikirkan.
Ia tiba-tiba mengingat ada...
peringatan dari Allah ﷻ
dalam hatinya.
Ia pun merasa...
<i>“Masa saya menikmati...</i>
<i>dinginnya udara di bawah tenda,</i?
<i>kemudian didampingi istri
yang berdandan,</i>
<i>kemudian dengan kurma yang bagus,
matang, di musim panas ini,</i>
<i>sementara Rasulullah ﷺ kepanasan.”</i>
Maka dia bilang kepada
kedua istrinya:
<i>“Saya tidak akan, demi Allah,
menikmati satu butir kurma pun di sini,</i>
<i>dan juga menyentuh kalian,</i>
<i>sampai saya menyusul
pasukan Nabi ﷺ.”</i>
Jadi dia tinggalkan
kurma yang matang,
dia tinggalkan istrinya yang siap
untuk biologis sama dia, رضي الله عنه.
Ini karena memikirkan jihad.
Dan nanti kita lihat, gara-gara perbuatan ini,
dia selamat dari hukuman Allah.
Karena ini jihad wajib,
dia kan nggak punya udzur.
Maka dia pun berkata kepada kedua istrinya,
<i>“Siapkan perlengkapan perang saya.”</i>
Lalu dua-duanya mempersiapkannya.
Setelah selesai, Abu Haithamah sendirian
pergi menyusul pasukan.
Subhanallah,
Nabi ﷺ orangnya sangat jeli.
Setiap kali pasukan istirahat,
Nabi pasti mengecek satu-satu.
Keliling di semua
tempat istirahat.
<i>“Mana si Fulan?
Mana si Fulan?”</i>
Nabi hafal nama-nama mereka.
Jumlahnya banyak sekali ini.
Dihafal sama Nabi ﷺ.
Dan Perang Tabuk ini, teman-teman,
terjadi setelah Perang Hunain tadi.
Perang Hunain saja jumlah
muslimin sudah 12.000.
Itu pun Perang Hunain...
masih ada yang tidak ikut di Madinah,
ini semua Muslimin ikut.
Jumlahnya banyak sekali.
Kalau saya tidak salah, waktu itu
jumlahnya mencapai 30.000 orang
pasukan Muslimin.
Jumlahnya besar sekali.
Makanya Nabi ﷺ cek satu per satu.
Dan Nabi tahu siapa
yang tidak hadir.
Nabi ﷺ selalu tanya:
<i>“Si Fulan kenapa nggak hadir?</i>
<i>Ada yang tahu alasannya?"</i>
Sahabat banyak yang tidak tahu,
<i>“Tidak tahu, ya Rasulullah. Tidak tahu, ya Rasulullah.”</i>
Tidak di mengerti.
Maka Nabi ﷺ terus mengecek mereka.
Karena takut, jangan sampai nanti...
mereka-mereka yang tidak datang
ini dihukum sama Allah.
Dan memang betul nanti, setelah...
pulang dari Tabuk, nanti tiga orang nama
yang tadi saya sebutkan itu...
itu akan dihukum oleh Allah ﷻ.
Pada saat itu Nabi ﷺ...
mengecek satu per satu,
lalu tahu siapa yang tidak hadir.
Dari kejauhan,
kelihatan ada satu orang.
Samar-samar, gitu, dari jauh.
Maka sahabat pada melihat semua.
Mereka sudah tersebar berita di dalam pasukan:
<i>“Nabi ﷺ kayaknya marah
dengan orang yang tidak ikut, nih.</i>
<i>Kenapa beliau tanya terus,
'udzurnya apa, siapa yang tahu.'?”</i>
Sampai muncul satu orang.
Sahabat mengatakan,
<i>“Ya Rasulullah, ada satu orang datang.”</i>
Tapi mereka belum tahu siapa.
Maka Nabi ﷺ menerima wahyu.
Beliau mengatakan:
<i>“Pasti itu adalah Abu Haithamah.”</i>
Maka begitu mendekat ke pasukan,
ternyata betul Abu Haithamah,
sebagaimana penyampaian Nabi ﷺ.
Begitu ketemu Nabi...
baru mau salaman dengan Nabi, kata Nabi ﷺ:
<i>“Hampir saja engkau binasa, wahai Abu Haithamah.”</i>
Iya, gitu.
Diulangi Nabi ﷺ:
<i>“Hampir saja engkau binasa.
Andai kau tidak datang, nih...</i>
<i>habis ceritanya.”</i>
Tidak ada udzur.
<i>“Hampir saja kau binasa,
wahai Abu Haithamah.”</i>
Terus Nabi ﷺ ulangi.
Sampai Abu Haithamah meminta maaf
berulang-ulang.
Dan akhirnya...
Nabi ﷺ menerima.
Nabi ulangi terus,
dan ini tradisi Nabi ﷺ.
Kalau sampai ada sahabat,
yang berbuat perbuatan yang bisa menjerumuskan
pada neraka dan murka Allah ini,
Nabi ﷺ selalu bilang itu,
diulang-ulangi.
Kita juga ingat statement
hadits dalam Bukhari
yang masalah dosa-dosa besar,
induk dosa besar, gitu, kan.
Syirik.
Durhaka pada orang tua.
Lalu Nabi ﷺ lagi...
baring...
duduk.
Lalu mengatakan,
<i>“Perkataan dusta, persaksian dusta.”</i>
Terus diulangi oleh Nabi ﷺ.
Sampai sahabat Abu Bakr رضي الله عنه,
perawi hadits ini, mengatakan:
<i>“Kami berharap Nabi diam.”</i>
Karena bahayanya, gitu, loh.
<i>“Hati-hati, nih.
Bahaya saksi palsu, ini....”</i>
Hati-hati, diingatkan.
Usamah bin Zaid waktu membunuh orang,
masih ingat kan?
Nabi ﷺ ingatkan,
<i>“Hai Usamah, kenapa kau bunuh orang itu?”</i>
<i>“Ya Rasulullah, dia ucapkan syahadat
karena takut dengan pedang saya.”</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>“Apa kau belah dadanya, hai Usamah,</i>
<i>sampai kau tahu dia
jujur atau tidak?”</i>
Diulangi Nabi ﷺ,
<i>“Apa kau belah dadanya...</i>
<i>sampai kau tahu dia
jujur atau tidak?”</i>
Terus diulangi sampai Usamah mengatakan,
<i>“Aku berharap baru masuk Islam hari itu.”</i>
Artinya kalau orang
baru masuk Islam,
masih muallaf,
bisa dimaafkan dosa-dosanya.
Jadi, ini salah satu strategi
yang Nabi ﷺ lakukan.
Kaum Munafik...
masih terus buat masalah, nih.
Terus buat masalah di sini.
Khusus dalam Perang Tabuk ini,
ada satu perbuatan yang luar biasa dilakukan.
Di antaranya pimpinan mereka,
Abdullah bin Ubay bin Salul.
Jadi waktu pasukan muslimin sudah
mulai jalan tinggalkan Madinah
—kita review dulu kembali—
mulai keluar...
Abdullah bin Ubay bin Salul mengiklankan.
Karena, kan, dia termasuk tokohnya
suku Khazraj di Madinah.
Maka dia iklankan pada saat itu:
<i>“Yang mau ikut sama saya, ayo bergabung!”</i>
Sukunya banyak yang bergabung.
Banyak, ratusan orang yang bergabung sama dia.
Dia biarkan terus.
<i>“Bergabung! Bergabung! Bergabung!”</i>
Pasukan sudah mulai jalan.
Mereka mau jalan,
<i>“Tunggu sebentar! Tunggu!</i>
<i>Kita akan nyusul.
Gampang, mudah.”</i>
Dibuat supaya muslimin
tidak bergerak.
Dan karena orang ada yang percaya
sama dia, maka ikut-ikutan.
Setelah pasukan tidak kelihatan,
apa kata Abdullah ini?
<i>“Sekarang musim panas.</i.
<i>Dan sebentar lagi kita panen kurma.</i>
<i>Maka lebih baik kita tunggu,</i>
<i>panen.</i>
<i>Besok kita nyusul.”</i>
Artinya,
<i>“Minimal ada kurma yang kita bisa ambil dulu.”</i>
Terus saja dia melakukan itu.
<i>“Agar kita panen dulu,
baru kita nyusul pasukan Muslimin.”</i>
Dengan tujuan sebenarnya agar pasukan Muslimin
berkurang, dan ia berhasil melakukannya.
Ternyata banyak yang ikut.
Tidak keluar akhirnya, gitu.
Namun...
ia juga, dari satu sisi,
teman-teman sekalian,
sudah mengutus dengan pasukan Muslimin,
orang-orang munafik.
Tujuannya untuk mengintai...
perkembangan Muslimin,
mengacaukan pasukan.
Nanti kita lihat dalam...
dalam perjalanan ini,
banyak perbuatan-perbuatan mereka
yang buruk sekali.
Mengacaukan Muslimin.
Dan ini pelajaran, teman-teman:
sejarah tidak akan bohong.
Apalagi ini adalah...
sejarah Nabi عليه الصلاة والسلام.
Dan ini keadaan kaum munafikin
di setiap waktu dan tempat.
Mereka berkedok seakan-akan Muslim,
yang dengan demikian mereka leluasa
memerangi dan mengganggu kaum Muslimin.
Kita bedakan, teman-teman:
munafik yang tulen dengan orang
yang ada ciri kemunafikan padanya.
Beda, ya.
Beda, itu.
Munafik tulen ini adalah...
memang dia non-Muslim,
tapi pura-pura Islam.
Itu munafik yang sekarang
kita bahas ini.
Bisa dia pakai nama Islam,
bisa dia berpenampilan sebagai umat Islam,
tapi pura-pura.
Memang dasarnya
tidak mau masuk Islam.
Dia sengaja mencari
kesalahan umat Islam.
Ada orang yang kena
ciri-ciri munafik.
Yang kata Nabi ﷺ:
<i>“Ciri-ciri orang munafik ada tiga,”</i>
—riwayat lain ada empat—
<i>Kalau berbicara, bohong.
Kalau diberikan amanah, dia berkhianat.</i>
<i>Kalau berjanji, dia memungkiri.
Kalau dia bertengkar atau berdebat, dia curang.”</i>
Maka ini ciri-ciri.
Kalau terus dibiarkan pada diri kita,
kita bisa sampai pada munafik yang besar nanti.
Tapi di sini, munafik tulen
yang dimaksud adalah pura-pura Islam.
Memang orang non-muslim.
Tapi namanya, nama Islam.
Ciri mereka adalah yang disebutkan
dalam banyak kisah ini,
kalau mereka sengaja mencari
kesalahan umat Islam.
Nabi ﷺ bilang, <i>“A.”</i>
Dia bilang, <i>“B.”</i>
<i>"Jihad,"</i>
<i>"Jangan jihad."</i>
Orang berbuat kebaikan,
tadi sadaqah, <i>“Riya.”</i>
Orang ini dicari masalah
supaya umat Islam itu merasa...
atau supaya mereka tidak mau
melakukan perintah-perintah agama.
Yang jelas, ringkas cerita,
teman-teman sekalian, kita...
masuk ke masalah...
peperangan Nabi ﷺ.
Waktu sudah tiba
di lokasi Tabuk...
Nabi ﷺ adalah yang paling pertama,
dan ini adalah instruksi Nabi ﷺ.
Dan ini instruksi...
berlaku bagi semua
pemimpin perang.
Begitu sudah tiba di lokasi perang,
sebelum menyerang,
kirim dulu surat.
Nabi ﷺ mengirim surat kepada...
Heraklius.
bahasa Arabnya “هرقل”
dalam riwayat Bukhari.
Ini kalau masih ingat,
Heraklius ini yang pernah menanyakan...
tentang siapa Nabi ﷺ
kepada Abu Sufyan.
Dan akhirnya Heraklius ini
sempat syahadat waktu itu.
tapi dia murtad lagi
dari Islam,
gara-gara takut
kekuasaannya hilang.
Suratnya masyhur adalah setelah...
tahmid dan shalawat pada diri beliau ﷺ, isinya:
<i>“Aku mengajakmu,</i>
<i>menuju kepada surga yang luasnya
seperti langit dan bumi.</i>
<i>Bila engkau menolak,</i>
<i>maka engkau akan menanggung
dosa semua masyarakatmu,</i>
<i>termasuk para petani-petani
yang ada di pedalaman.”</i>
Heraklius waktu itu
sudah membaca surat Nabi ﷺ,
Maka dia memerintahkan
para pengawal mendatangkan...
seorang anak muda...
yang kuat fisiknya,
cerdas akalnya,
bisa dipercaya,
dan kuasai bahasa Arab.
Cari di seluruh
lokasi Tabuk.
Ditemukan satu orang.
Saya tidak tahu orang ini
dalam bahasa Inggris namanya siapa,
tapi ada dalam buku-buku sejarah itu.
Bahkan suratnya Heraklius ini ada disimpan
di museum-museum mereka.
Yang jelas, Heraklius waktu itu
sempat menemukan,
kalau dalam bahasa Arab,
namanya anak muda ini "Tanukhi".
Tanukh, ya.
Tanukh ini,
teman-teman sekalian...
waktu sudah dites ternyata
bahasa Arabnya bagus.
Memang anaknya cerdas dan loyal
terhadap agama Kristen.
Tidak mudah murtad.
Kemudian...
Heraklius berkata kepadanya:
<i>“Aku akan mengutusmu kepada seseorang
yang bernama Muhammad,</i>
<i>yang mengaku sebagai
seorang Nabi.</i>
<i>Maka pastikan
tiga hal darinya...</i>
<i>saat kau bertemu.</i>
<i>Kalau ada padanya
tiga hal ini...</i>
<i>berarti dia nabi betul.</i>
<i>Pastikan dulu itu.</i>
<i>Yang pertama...</i>
<i>pastikan kalau kau ketemu,
pertama kali pertanyaan dia:</i>
<i>‘Apakah suratku sudah tiba pada rajamu?’</i>
<i>Kalau dia tanya itu...</i>
<i>berarti itu sudah
tanda kenabian.”</i>
Karena Heraklius ini kebetulan
salah satu pendeta Nasrani.
Nanti juga akan kita
lihat lagi statement-nya...
pada saat dia...
bertemu kembali dengan...
Tanukhi ini, pada saat balik
dari kemah Muslimin.
<i>Yang kedua, pastikan...</I>
saya akan bertanya
dalam surat ini tentang surga.
<i>Pastikan jawabannya.</i>
<i>Yang ketiga...</i>
<i>pastikan tanda kenabian ada
di punggung sebelah kanannya.</i>
<i>Lihat, punggungnya sebelah kanan itu.
Ada tanda kenabian tidak?”</i>
Disebutkan cirinya:
gumpalan seperti daging berwarna merah,
ada bulu kehitam-hitaman.
Maka Tanukhi pun menjalankan.
Datang ke pasukan Muslimin sebagai utusan.
Dan Nabi ﷺ langsung bertemu dengannya,
disuruh pertemukan.
Dan begitu ketemu,
pertanyaan pertama Nabi ﷺ adalah:
<i>“Apakah suratku sudah tiba ke rajamu?”</i>
Berarti tanda pertama sudah...
terjawab di sini.
Dan pada saat itu Tanukhi mengatakan,
<i>“Iya, sudah tiba.”</i>
Lalu dia pun menyerahkan surat balasan
Heraklius ini, atau هرقل, ke tangan...
Nabi ﷺ atau kepada sahabat.
Dan sahabat pun membacakan
kepada Nabi ﷺ.
Isi surat itu adalah:
<i>“Engkau telah mengajakku menuju ke surga
yang luasnya seluas langit dan bumi.</i>
<i>Ini langit dan bumi,
maka dimana surga?</i>
<i>Ini langit dan bumi,
mana surganya?"</i>
Maka Nabi ﷺ menjawab, mengatakan:
<i>“Maha Suci Allah...</i>
<i>Kalau begitu, mana malam
di saat siang datang?"</i>
Ini jawaban yang sangat cerdas.
Dan ini wahyu tentunya, penyampaian.
Luas langit dan bumi, iya.
Sekarang, langit ini
siang begini terang.
Baik, mana malam hari sekarang?
Padahal dia juga
makhluknya Allah.
Begitu juga denggan pada saat
malam datang, mana siangnya?
Maka ini jawaban...
rupanya Heraklius sudah menyampaikan
kepada Tanukhi jawabannya seperti ini.
<i>"Kalau dia jawab seperti itu,</i>
<i>bahwasannya mana malam dari siang,</i>
<i>atau mana malam
kalau siang datang,</i>
<i>maka itu adalah
jawaban kenabian."</i>
Sekarang tinggal tanda yang ketiga:
melihat tanda di badan Nabi ﷺ.
Tapi Tanukhi tidak mau bilang:
<i>“Saya mau lihat tanda kenabianmu.”</i>
Nggak.
Maka dia coba menjaga.
Dia lalu meminta kepada Nabi ﷺ untuk tinggal
di perkemahan Muslimin beberapa hari.
Tinggallah dia tiap hari.
Dan Subhanallah,
setiap hari Nabi ﷺ
khusus datang mendakwahi dia ini.
Diajak Islam,
tetap kokoh.
Nggak mau murtad.
Dari agamanya, maksudnya.
Karena mereka anggap
kalau masuk Islam murtad, gitu, kan.
Kemudian Nabi ﷺ
terus dakwahi, sampaikan...
dalil-dalil, bukti-bukti,
tetap tidak mau.
Jawabannya selalu, Tanukhi.
Sampai lima hari Nabi dakwahin.
Dan sebagian ahli sejarah mengatakan:
<i>“Belum ada orang yang didakwahi Nabi
langsung lima hari seperti ini.</i>
Biasanya cuma sekali,
dua kali disampaikan, masuk Islam.
Ini lima hari, setiap hari
Nabi dakwahin sendiri.
Selalu jawabannya:
<i>“Sesungguhnya aku hanya
bagian dari kaumku.</i>
<i>Bila mereka masuk islam,
aku juga masuk islam.”</i>
Setelah melihat Tanukhi menghabiskan
beberapa hari di tengah pasukan Muslimin,
Nabi ﷺ sudah tahu ini,
ada sesuatu yang sedang dia tunggu.
Maka Nabi ﷺ panggil dia
ke dalam kemah.
Begitu datang dalam kemah Nabi ﷺ,
Nabi bukain bajunya.
<i>"Apakah ini yang kau tunggu?"</i>
Dilihatkan tanda kenabiannya.
Kata Tanukhi,
<i>“Iya.”</I>
Maka setelah itu
dia pun pulang.
Waktu ia pulang, ia melaporkan
kepada Heraklius semuanya.
Heraklius sudah tahu ini,
kalau ini adalah Nabi.
Nabi ﷺ waktu melihat Tanukhi pergi,
beliau membaca Surah Al-Qasas.
Surah nomor...
28, ayat 56.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Ayat 56, surah Al-Qasas:
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
<i>"Sesungguhnya engkau, hai Muhammad,</i>
<i>tidak akan dapat memberi petunjuk
kepada orang yang engkau kasihani,”</I>
Yang kau kasihi—
ini ayat turun pada saat
meninggalnya Abu Thalib, ya,
paman Nabi ﷺ.
Nabi sedih karena meninggal,
tapi Allah turunkan ayat ini.
Sekarang Nabi ﷺ membaca lagi ini:
<i>"Sesungguhnya, hai Muhammad, kau tidak akan dapat
memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi,</i>
<i>tapi Allah memberi petunjuk
kepada orang yang dikehendaki-Nya.</i>
<i>Dan Allah lebih mengetahui
orang-orang yang mau menerima petunjuk."</i>
Perhatikan kalimat di sini:
<i>"Allah lebih mengetahui orang-orang
yang mau menerima petunjuk."</i>
Artinya...
kalau ada adzan terdengar
dan kita respon pergi ke masjid,
Allah tahu kita mau, memang.
Allah mudahkan kita
melangkah ke masjid.
Kalau ada dasarnya orang mau dengar adzan,
tidak mau shalat, maka Allah juga sudah tahu.
Dan ini makna juga daripada...
firman Allah:
يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ.
Allah memberikan petunjuk ke siapa yang Dia inginkan,
karena Allah tahu kebaikan dalam hatinya.
Atau Allah sesatkan.
Maksudnya memang dasarnya
Allah tahu dia sesat orang ini,
memang nggak mau berbuat baik.
Seperti itulah.
Setelah seluruh informasi sampai
kepada Heraklius ini...
dan ia sangat yakin
dengan informasi tadi,
dia sudah tahu ini.
Pasukan Muslimin di depan
bentengnya mereka.
Maka dia tanya orang-orang Romawi
pada saat itu.
Pasukan perangnya, tangan-tangannya,
dikumpulkan semua.
Lalu ia mengatakan,
<i>“Apakah kalian telah siap berperang?”</i>
Mereka jawab,
<i>"Iya."</i>
<i>“Bukankah kita penguasa terbesar di bumi sekarang?”</i>
Yang waktu itu pasukan Romawi terkuat.
Apalagi setelah...
kejadian mereka mengalahkan Persia,
dalam Surah Ar-Rum diceritakan.
Ini kejadian setelah itu.
Dan mereka betul-betul
jadi penguasa.
Persia sudah jadi nomor dua.
Dulunya Persia sama mereka bersaing.
Heraklius lalu mengumpulkan lagi
atau mengatakan kepada mereka lagi,
<i>“Kalian sangat mengetahui
pengetahuanku tentang Injil,</i>
<i>dan keteguhanku terhadap agama Nasrani.
Apakah kalian yakin itu?</i>
Kata mereka,
<i>“Iya...</i>
<i>kami tidak ragu sedikit pun.</i>
<i>Kamu adalah raja kami dan pendeta kami.”</i>
Kata Heraklius lagi:
<i>“Sungguh kalian sudah mengetahui kalau sekarang
masa atau zaman keluarnya Nabi terakhir.</i>
<i>Dan semua tanda-tanda kenabian
yang disebutkan dalam Injil...</i>
<i>ada pada orang ini.</i>
<i>Maka aku mengajak kalian...</i>
<i>kepada salah satu
dari tiga perkara.”</i>
Kata mereka,
<i>“Apa saja pilihan itu?”</i>
<i>“Yang pertama,”</i> kata Heraklius,
<i>“kita semua beriman kepadanya.</i>
<i>Karena dia adalah Nabi terakhir
yang disebutkan dalam Injil.”</i>
Jadi sebenarnya dia sudah
mendakwahi kaumnya.
Tapi, Subhanallah,
cinta dunia mengalahkan itu.
Nanti kita lihat dalam
closing pertemuan ini,
atau statement ini.
Dan ini juga terjadi pada saat dia...
menerima surat Nabi ﷺ...
untuk mengajak masuk Islam.
Dan dia syahadat.
Tapi karena banyak pendeta yang menolak
pada saat itu, maka dia pun...
murtad dari agama Islam.
Kemudian kaumnya mengatakan:
<i>“Kami tidak akan pernah meninggalkan
agama ‘Isa, apapun alasannya.”</i>
Heraklius sudah lihat,
ternyata mereka tidak respon, nih.
<i>“Kalau demikian, pilihan kedua.</i>
<i>kita bayar saja upeti kepadanya.</i>
<i>Nggak usah berperang."</i>
Mereka di suratnya Nabi ﷺ,
disuruh masuk Islam, akan selamat.
Kalau nggak, bayar jizya.
Kalau nggak, diperangi.
Maka kaumnya menjawab lagi,
<i>“Sungguh memalukan!</i>
<i>Seluruh dunia membayar
kepada kita, upeti.</i>
<i>Lalu kenapa kita membayar
kepada orang lain?"</i>
Apalagi ini dianggap pasukan dari...
Jazirah Arab yang pada saat itu
tidak dianggap punya kekuatan bagi mereka.
Yang dianggap waktu itu Persia,
yang punya di atas daripada...
500.000 pasukan.
Maka Heraklius mengatakan.
Kata mereka apa?
<i>“Apa yang akan dikatakan oleh dunia nanti?”</i>
Kata Heraklius,
<i>“Kalau begitu, yang ketiga.</i>
<i>jangan kalian melawannya.</i>
<i>Karena pasti kalau kita melawan,
dia akan membinasakan kita.</i>
<i>Kita pasti kalah. Ini Nabi.</i>
<i>Tidak usah dilawan, percuma.”</i>
Ternyata, yang ketiga ini
disetujui oleh kaumnya.
Karena mereka setuju,
maka keluarlah keputusan resmi...
raja romawi, Kaisar,
pada saat itu bahwa...
tidak boleh ada
satu orang pun dari...
bangsa Romawi, di bawah kekuasaan Romawi,
atau sekutu Romawi,
untuk melawan umat Islam.
Termasuk sekutu-sekutunya.
Dan seluruh Romawi
pada saat itu setuju.
Mereka tidak keluar.
Nabi ﷺ tunggu...
satu hari, dua hari,
sekian belas hari,
sampai puluhan hari,
tidak ada yang keluar.
Nabi ﷺ melihat
tidak ada yang keluar.
Mau diserang juga...
diserang, bentengnya mereka kuat, tinggi.
Tunggu perlawanan.
Maka, Romawi pun mengirim surat
kepada Nabi ﷺ, mengatakan:
<i>“Hai Muhammad,
walaupun kau menunggu setahun,</i>
<i>maka kami pasti tidak akan
keluar melawanmu.”</i>
Maka Nabi ﷺ pun menunggu
waktu itu sampai sebulan.
Sampai sebulan.
29 hari Nabi ﷺ
tunggu di situ.
Dan pada saat itu,
tujuan utama Nabi ﷺ selain memang sengaja
ingin memerangi Romawi kalau mereka keluar,
sehingga menunjukkan kebesaran Islam
dan mengajak mereka masuk Islam,
juga menyebarkan berita
di Jazirah Arab
kalau ternyata kekuatan Muslimin
bukan hanya sekadar mengalahkan Mekkah,
mengalahkan suku Hawazin yang besar,
mengalahkan suku-suku Arab.
Tapi orang...
yang berkuasa pun waktu itu di muka bumi,
dianggap kekuatan paling besar (Romawi),
juga takut dengan Nabi ﷺ.
Dan itu betul, tersebar.
Dan ini nanti...
penyebab utama datangnya...
suku-suku Arab masuk Islam.
Setelah pulang
dari Perang Tabuk ini,
nanti banyak sekali suku-suku Arab yang masuk Islam
karena mereka sudah takut dengan Nabi عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ.
Dan ternyata karena masuk
Islamnya mereka karena takut ini,
nanti juga akan jadi penyebab
waktu Nabi ﷺ meninggal,
ada di antara mereka
yang menolak membayar zakat,
ada mereka yang murtad
dari agama, gitu, kan.
Nanti akan kita jelaskan historinya.
Baik, ada beberapa kejadian, teman-teman,
saat Nabi ﷺ balik dari Tabuk ke Madinah.
Tentu ini Tabuk
tidak ada peperangan,
dan tidak ada disebutkan secara khusus
kejadian-kejadian besar di situ.
Tetapi, pada saat akan balik ke Madinah,
ada beberapa kejadian.
Yang pertama:
kisah hilangnya unta Nabi عليه الصلاة والسلام.
Unta Nabi ﷺ sempat hilang
dan para sahabat sibuk mencarinya.
Ini unta Nabi,
unta raja,
bukan sembarangan.
Bukan unta seperti masyarakat biasa.
Maka dicarilah.
Pada saat itu, kebetulan...
ini kita lihat ulah
orang munafik lagi.
Apa saja celah yang bisa menghina Nabi ﷺ,
menghina agama, cari masalah, pasti dibuat.
Beberapa sahabat kebetulan...
ada yang istirahat
di satu kemah.
Jadi ada kemah Nabi ﷺ,
ada kemah satu orang sahabat.
Di situ, di kemah sahabat ini ada beberapa sahabat,
orang beriman, lagi istirahat di situ.
Ada satu orang munafik
di situ rupanya.
Di kemah.
Kita anggap ini kemah Nabi,
ini kemah seorang sahabat.
Pemilik kemah ini,
lagi ada di kemah Nabi.
Jelas nggak ini?
Saya ulangi?
Tak usah, ya.
Baik.
Yang jelas, di kemah sahabat
yang sedang ada di kemah Nabi ini,
ada beberapa sahabat duduk
di situ lagi istirahat,
dan ada satu orang munafik.
Rupanya si munafik ini ngomong.
Dia mengatakan apa?
<i>“Inikah yang mengaku
sebagai Nabi,</i>
<i>sementara dia tidak tahu
di mana untanya?</i>
<i>Dia tidak tahu untanya hilang,
dan untanya kemana."</i>
Orang ini, isu.
Dan memang begitu
orang-orang munafik ini.
Lempar isu, pergi.
Nanti umat Islam
sudah kacau di sini.
Sudah memanas, gitu kan.
Apalagi, kata-kata ini,
seperti pepatah mengatakan:
<i>“Kalau kau titipkan emas pada orang,
pastikan tidak bertambah.</i>
<i>Kalau kau titipkan kata-kata,
pasti akan...</i>
<i>bertambah.”</i>
Kita cerita dua paragraf,
jadi lima nanti.
Itu sudah biasa manusia begitu.
Maka Nabi ﷺ waktu itu...
di kemahnya beliau,
pemilik kemah ini lagi ada di situ.
Nabi ﷺ bilang:
“Sungguh ada seseorang dari kalian...”
Lihat adabnya Nabi.
Nabi tidak bilang, “Ada munafik yang bilang,”
Nabi cuma bilang,
“Ada seseorang dari kalian...
berkata,
<i>‘Inikah yang mengaku Nabi, sementara untanya saja hilang,
tapi dia tidak tahu ke mana atau di mana tempatnya?’”</i>
Lalu Nabi ﷺ mengeluarkan statement
wahyu yang luar biasa.
Ini hadis sahih.
Kata Nabi ﷺ:
<i>“Ketahuilah, wahai manusia,</i>
<i>Aku hanya mengetahui
apa yang Allah beritakan kepadaku.</i>
<i>Dan aku sama sekali
tidak mengetahui yang gaib.</i>
<i>Serta, sekarang Allah telah memberitahukan kepadaku
di mana posisi untaku itu.</i>
<i>Sesungguhnya dia berada di lembah Fulan,
talinya terikat di salah satu dahan pohon.</i>
<i>Maka cari dan temukanlah di sana.</i>
Lalu sahabat pergi ke sana,
ditemukan betul unta tersebut.
Nah, ini pelajaran penting,
teman-teman sekalian:
kalau Nabi ﷺ saja tidak tahu hal gaib,
bagaimana dengan...
orang biasa?
Sekarang banyak orang begitu,
mengaku datang gaib di rumahnya,
datang gaib di musalanya, segala macam.
Ketemu Jibril,
ketemu ini...
dan seterusnya.
Ini jadi tanda tanya.
Nabi ﷺ sendiri tidak,
kecuali wahyu datang.
Sering kali Nabi ﷺ
menemui sahabat bertanya,
lalu wahyu belum turun,
beliau tidak jawab.
Nanti setelah wahyu turun,
baru mengatakan, <i>“Mana tadi penanya?</i>
<i>Oh, si Fulan.
Jawabannya begini.”</i>
Tunggu wahyu.
Pemilik kemah yang ada si munafik tadi ini,
balik dari kemah Nabi ﷺ ke kemahnya dia.
Dia sekarang pulang ke kemahnya.
Lalu, si munafik sama sahabat
lagi pada ngobrol, nih.
Pemilik kemah datang,
lalu dia bilang,
<i>“Tadi, saya waktu lagi
di kemah Nabi ﷺ,</i>
<i>beliau bersabda sesuatu yang masih...</i>
<i>membuat saya...</i>
<i>butuh jawabannya.”</i>
Kata Nabi ﷺ:
<i>“Bahwa ada seseorang dari kalian,”</i>
maksudnya dari kita,
dari Muslimin,
<i>“yang berkata, ‘Inikah yang mengaku Nabi,
sementara untanya saja hilang</i>
<i>dan dia tidak tahu
di mana tempatnya?’”</i>
Dan Nabi ﷺ bersabda:
<i>“Ketahuilah, wahai manusia,</i>
<i>sungguh aku tidak mengetahui kecuali
apa yang telah Allah beritakan kepadaku.</i>
<i>Dan aku sama sekali tidak mengetahui
hal-hal yang gaib.</i>
<i>Sekarang, Allah telah memberitahukan
kepada aku melalui wahyu, tempat unta tersebut.</i>
<i>Di lembah Fulan, dan tali kekangannya terikat
di salah satu dahan pohon.”</i>
Maka disuruhlah para
sahabat untuk mencari.
maka setelah dicari pun,
para sahabat menemukannya.
Setelah itu,
ada seorang sahabat
di situ bilang:
<i>“Apakah engkau tahu siapa yang Nabi maksudkan?”</i>
Kata dia,
<i>"Tidak."</i>
Kata mereka, satu kemah bicara:
<i>“Ini orangnya!"</i>
<i>"Ini orang yang tadi ngomong, ini!"</i>
Dan mereka juga kaget bagaimana bisa
Nabi sampaikan di kemah sebelah, gitu.
Maka pemilik kemah tersebut berdiri,
lalu menggebuki si munafik tadi.
Dipukul.
Itu kisah tentang unta Nabi عليه الصلاة والسلام.
Yang kedua,
kisah...
Wasyal.
Wasyal ini...
air terjun kecil.
Mata air tapi di atas,
di tengah-tengah batu biasanya itu keluar.
Jadi dia jatuh.
Jadi dianggap kayak mata air kecil,
tapi dia karena di atas, dinamakan dengan Wasyal.
Nabi ﷺ waktu itu...
menyampaikan kepada seluruh pasukan—
lagi menuju ke Madinah ini,
Sudah mulai bergerak
pasukan pulang.
Bahwa...
mereka nanti akan melewati
Wasyal ini, air terjun ini.
Maka siapa pun yang tiba
di lokasi tersebut duluan,
jangan meminum sedikit pun
dan jangan sentuh air itu.
Karena kan jalanan
padang pasir, tuh.
Dari wilayah Tabuk ke Madinah
itu padang pasir.
Sampai sekarang pun...
masih padang pasir, kecuali yang sudah ada
bangunan-bangunan, rumah, kota-kota.
Dari zaman dulu tuh masih...
gunung-gunung batu, gitu, ya.
Maka Nabi ﷺ titip pesan:
<i>“Kalau ada yang tiba duluan,
jangan sentuh mata air itu."</i>
<i>"Tunggu saya.”</i>
Satu pasukan sudah tahu instruksinya.
Orang munafik, lagi, buat masalah.
Ulang lagi.
Rupanya mereka dengar hadis itu,
penyampaian Nabi itu.
Mereka sengaja memicu kudanya
lebih dulu sampai ke sana.
Dan begitu dapat air, diminum.
Buat masalah, ini.
Diminum sama dia.
Dan perhatikan, teman-teman,
gara-gara pelanggaran ini, lihat efeknya.
Maka diminumlah oleh mereka.
Pesta-pesta, ketawa-ketawa di sana.
Memang tujuannya mau mengacaukan, nih.
Begitu Nabi ﷺ tiba, lihat sudah ada
orang yang tiba, dan sudah minum air di situ.
Dan mereka bukan minum
terus sembunyi, nggak.
Minum, sengaja memperlihatkan
kalau mereka minum.
Tujuannya juga untuk mengajak pasukan untuk melanggar
sunnah Nabi عليه الصلاة والسلام.
Maka Nabi ﷺ waktu tiba di situ,
beliau marah.
Lalu beliau mengatakan,
<i>“Semoga Allah melaknat mereka.”</i>
Orang-orang itu.
<i>“Bukankah sudah aku larang
jangan mengambil sedikit pun dari air tersebut?”</i>
Maka para sahabat
semua terdiam.
Dan orang yang minum air
ini pada lari.
Yang tadi, pergi.
Maka Nabi ﷺ bilang:
<i>“Ambilkan saya seember air.”</i>
Diambilkanlah seember air untuk Nabi ﷺ,
lalu beliau berwudhu.
Setelah wudhu,
air wudhu beliau dilempar,
disiram ke...
mata air itu.
Ini air wudhu Nabi عليه الصلاة والسلام.
Saya ingatkan dari sekarang.
Maka setelah itu,
kata para sahabat:
<i>“Kami tiba-tiba mendengar...</i>
<i>seperti suara guntur yang keras...</i>
<i>dari dalam sumber air itu.</i>
<i>Dan ternyata ada sebuah
batu yang pecah.</i>
<i>Dan muncullah sebuah mata air
yang mengalir dengan deras."</i>
Lalu Nabi ﷺ bersabda,
<i>“Semoga Allah melaknat mereka.”</i>
diulangi lagi.
<i>“Sungguh, bila mereka
tidak menyentuhnya tadi,</i>
<i>maka akan menjadi lautan yang mengalir
dengan deras di Jazirah Arab.</i>
<i>Demi Allah, bila kalian masih hidup,</i>
<i>maka kalian akan melihat seluruh wilayah ini
menjadi lautan yang bermanfaat.”</i>
Dan Subhanallah, hari ini,
sebagian ahli sejarah mengatakan:
<i>“Seluruh wilayah Tabuk,”</i>
—seluruh wilayah Tabuk sekarang wilayahnya sangat luas—
<i>“seluruh wilayah Tabuk ini, perkebunan-perkebunan mereka
dan masyarakatnya hidup justru dari mata air itu.”</i>
Yang Nabi ﷺ tadi temukan,
yang diistilahkan dengan Wasyal tadi.
Ada kisah yang lain, teman-teman,
yang ketiga, kejadian pas saat lagi pulang
adalah kisah Abu Rahal Al-Ghifari.
Tentu ini kisah-kisah, ya, yang terjadi.
kejadian-kejadian kecil dan mungkin
perlu diangkat supaya kita tahu.
Jadi bukan hanya sekitar,
<i>“Oh, Perang Tabuk begini,”</i> selesai.
Abu Rahal ini seorang
sahabat Nabi yang mulia.
Dia lagi naik unta, jalan.
Karena ngantuk,
karena ngantuk,
—dia dekat Nabi ﷺ—
Kemudian tiba-tiba,
untanya mendekati Nabi ﷺ.
Dan akhirnya nyerempet, gitu.
Dan tanpa dia sadari,
karena orang di atas unta,
kakinya ke samping perut unta,
maka karena dempet untanya
ke unta Nabi ﷺ,
Maka kakinya menginjak kaki Nabi ﷺ.
Dan itu cukup keras terinjak.
Maka kata Abu Rahal:
<i>“Demi Allah, aku sama sekali tidak sadar
dan tidak bermaksud untuk itu.</i>
<i>Sampai aku mendengarkan suara, ‘Ish!’”</i>
Jadi orang biasa mengingatkan, gitu.
“Lalu aku sadar, ternyata untaku
telah menyakiti Nabi ﷺ.”
Lalu Nabi ﷺ menyentuh Abu Rahal ini
dengan tongkat beliau
sambil membangunkannya.
Kata Abu Rahal:
<i>“Aku setelah melihat kejadian
tersebut merasa ketakutan.</i>
<i>Jangan sampai...</i>
<i>Jangan sampai ini ada masalah."</i>
Maka Abu Rahal mengatakan,
<i>“Aku pun pergi ke belakang pasukan.</i>
<i>Aku pindah ke belakang pasukan agar tidak
mengganggu Nabi عليه الصلاة والسلام.</i>
<i>Dan saat pasukan istirahat,
aku pergi jauh membawa kambing-kambing dan untaku.”</i>
Dan ini salah satu sahabat
yang bawa kambing...
untuk memberikan makan mujahidin.
<i>“Aku bawa kambing-kambingku jauh,
menggembala di padang pasir dengan untaku.</i>
<i>Dan itu tujuannya agar aku
tidak dicari oleh Nabi ﷺ.”</i>
Takutnya Nabi tegur gara-gara itu.
<i>“Pada saat aku balik,</i>
<i>lihat pasukan sudah mulai
bergerak dari jauh, aku balik.</i>
<i>Lalu aku bertanya,
‘Apakah Rasulullah ﷺ mencari aku?’”</i>
dia tanya temen-temennya.
Mereka bilang,
<i>"Iya."</i>
Abu Rahal mengatakan:
<i>“Demi Allah, aku khawatir.
Jangan sampai ayat Al-Qur’an turun...</i>
<i>padaku."</i>
Jangan sampai gara-gara ini jadi masalah.
Al-Qur’an di tilawah sampai hari kiamat.
Jadi orang kalau berbuat baik zaman itu,
maka dikenang sampai hari kiamat.
Orang kalau buat jahat bahaya juga.
Pada saat tiba
di hadapan Nabi ﷺ,
maka beliau pun berkata:
<i>“Wahai Abu Rahal,
sungguh kau telah menyakitiku.</i>
<i>Tadi kakimu itu, injaknya itu sakit.”</i>
Abu Rahal mengatakan,
<i>“Demi Allah, aku tidak menyadari, wahai Rasulullah.</i>
<i>Dan aku minta maaf."</i>
Maka Nabi ﷺ pun mengatakan:
<i>“Baiklah, aku maafkan.</i>
<i>Tapi tadi,</i>
<i>aku waktu membangunkanmu,
aku sempat menyentuhmu dengan tongkatku.”</i>
Dibangunkan dengan tongkat,
karena jaraknya cukup jauh.
Dibangunkan dengan tongkat.
<i>“Maka ambillah tongkat ini,</i>
<i>dan lakukan hal yang sama
pada tubuhku sebagai balasan.”</i>
Qisas.
Nabi ﷺ dengan adilnya.
Betul, Abu Rahal menyakiti kaki beliau.
Tapi begitu Abu Rahal minta maaf, dimaafkan.
Berarti sudah selesai.
Tapi tadi Nabi ﷺ sentuh dengan tongkat,
nah itu juga masalah.
<i>"Ini qisas saya sekarang."</i>
Maka Abu Rahal رضي الله عنه,
dengan gembira mengatakan:
<i>“Tidak, ya Rasulullah.</i>
<i>Itu hak anda dan aku tidak akan membalas,
dan sudah memaafkannya."</i>
Maka Nabi ﷺ sempat bertanya
kepada Abu Rahal.
“Di mana orang-orang
yang berpostur tinggi...
<i>dari sukumu?</i>
<i>Ada orang-orang dari sukumu tinggi-tinggi,
kelihatan di pasukan.</i>
<i>Kekar-kekar badannya.</i>
<i>Mana mereka?"</i>
Kata Abu Rahal:
<i>"Mereka tidak ikut, wahai Rasulullah."</i>
Ini kebetulan Abu Rahal
bukan dari penduduk Madinah.
Dia dari luar Madinah. Tapi waktu dengar
ada Perang Tabuk, mereka ikut bergabung.
Nabi ﷺ bertanya lagi:
<i>“Lalu mana yang berpostur pendek
dan berkulit sawo matang?”</i>
Dan nanti ahli sejarah
punya poin penting di sini, ya.
Bagaimana jelinya Nabi ﷺ sampai tahu.
Abu Rahal menjawab:
<i>“Kami tidak punya satupun dari suku kami
orang yang berkulit gelap dan juga...</i>
<i>berpostur pendek, ya Rasulullah.”</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>“Ada. Aku sempat melihat mereka.”</i>
Maka Abu Rahal pun [inaudible 01:39:29]
waktu Perang Hunain, mereka hadir.
Kenapa sekarang nggak ada, nih?
Kata Abu Rahal, setelah memikirkan,
<i>“Oh, itu mungkin sekutu kami dari suku Aslam.</i>
<i>Mereka tidak ikut setelah Hunain,
wahai utusan Allah.”</i>
Maka Nabi ﷺ mengatakan,
<i>“Sungguh, yang paling berat bagi aku adalah...</i>
<i>bila Muhajirin dan Anshar,</i>
<i>juga Gifar dan Aslam, tidak ikut.</i>
Kalau selain suku ini tidak ikut,
mungkin masih mudah.
Tapi kalau ini...
empat ini tidak boleh.
Harusnya ikut.
Dan ini menandakan kedudukan
empat kelompok sahabat ini:
Muhajirin, dari Mekkah.
Anshar, penduduk asli Madinah.
Gifar dan Aslam,
ini suku dari luar Madinah,
tapi mereka pendukung Nabi عليه الصلاة والسلام.
Kisah selanjutnya adalah kisah
meninggalnya sahabat mulia,
namanya Abdullah Dzul Bijadain.
Abdullah Dzul Bijadain.
<i>Bujadain</i> artinya kain kasar yang pendek.
Jadi bajunya kasar
dan agak pendek kainnya.
Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه
menceritakan:
<i>“Saat pasukan lagi istirahat...</i>
<i>di malam hari, tiba-tiba
aku mendengar suara galian tanah,</i>
<i>dan orang nyangkul tanah.</i>
<i>Aku pada saat itu tiba-tiba
terbangun dan ingin melihat.</i>
<i>Siapa yang sedang
menggali tanah malam-malam?</i>
<i>Pada saat aku keluar,
aku ternyata melihat di situ ada Nabi ﷺ</i>
<i>bersama Abu Bakar dan Umar.
Bertiga saja.</i>
<i>Dan mereka sedang menguburkan...</i>
<i>sahabat mulia namanya Abdullah,
yang berjulukan dengan Dzul Bijadain.”</i>
atau pemilik kain kasar, ya.
Kain pendek yang kasar.
Nabi ﷺ pada saat itu berada
di dekat lahat atau di dalam lahat,
turun langsung ke dalam.
Dan Abu Bakar serta Umar
yang menurunkan jenazahnya.
Dan ini...
bisa dikatakan tidak terjadi
oleh sahabat Nabi yang lain.
Biasanya Nabi ﷺ hadir,
para sahabat yang memikul,
para sahabat yang menurunkan,
lalu Nabi ﷺ mendoakan.
Tapi ini tidak, Nabi ﷺ sendiri
yang turun ke dalam liang lahat,
memegang jenazahnya.
Abu Bakar sama Umar
yang menyetor dari atas.
Abdullah bin Mas’ud mengatakan:
<i>"Aku mendengarkan...</i>
<i>Nabi ﷺ mengatakan, ‘Ya Allah,’</i>
(setelah meletakkan jenazahnya Abdullah)
<i>‘sungguh aku telah meridhainya,
maka ridhai lah dia.’"</i>
Kata Abdullah bin Mas’ud, pada saat itu,
waktu mendengar doa Nabi ﷺ,
<i>“Aku berharap akulah si jenazah itu.”</i>
Bagaimana Nabi ﷺ mendoakan.
<i>“Kemuliaan apalagi,”</i>
kata ahli sejarah,
<i>“bagaimana Nabi ﷺ sendiri
yang mengurus jenazah seseorang,</i>
serta didampingi oleh Abu Bakar dan Umar,
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ.
<i>Apalagi sampai...</i>
<i>memasukkannya ke liang lahat dengan
tangan mulia Nabi عليه الصلاة والسلام.”</i>
Abdullah Dzul Bijadain ini adalah seorang sahabat
yang pada saat hijrah dari Mekkah ke Madinah,
ia sama sekali tidak memiliki apa-apa.
Dia dari kaum Muhajirin.
Kecuali sehelai kain kasar yang juga
hanya bisa menutupi sampai lututnya saja.
Dan karena itu, dia diberikan
julukan dengan <i>Dzul Bijadain.</i>
Atau pemilik kain yang kasar.
Selanjutnya adalah kisah Aqabah.
Kisah Aqabah.
Nabi عليه الصلاة والسلام
tiba di sebuah lokasi yang berbukit.
Jadi antara Tabuk dengan Madinah
ada lokasi yang berbukit.
Yang biasanya orang Arab menyebutkan,
kalau ada tempat...
misalnya rata terus ada bukit sedikit,
mereka katakan bukit itu Aqabah.
Makanya tempat jumrah
dikatakan Jumrah Aqabah,
karena khusus di tempat jumrah itu
memang ada gundukan gunung sedikit
yang dulu dikenal oleh bangsa Arab
dengan istilah Aqabah.
Beliau ﷺ berkata,
<i>“Aku akan ke bukit...</i>
<i>itu bersama dengan...</i>
<i>tidak seorang pun boleh mengikutiku kecuali
Ammar bin Yasir dan Hudzaifah bin Yaman.”</i>
Ammar bin Yasir, masyhur,
sahabat Nabi yang ayahnya, Yasir,
dan juga ibunya, Sumayyah, wafat
dibunuh oleh Abu Jahal di Mekkah.
Sudah kita ceritakan kisahnya.
Kemudian Hudzaifah bin Yaman masyhur sebagai...
pemegang rahasia Nabi عليه الصلاة والسلام.
Dan ini Nabi tunjuk
waktu pasukan lagi lewat,
<i>“Saya akan ke bukit itu.
Jangan ada yang ikut.</i>
<i>Cuma dua orang boleh ikut:
Ammar bin Yasir dan Hudzaifah bin Yaman.”</i>
Nabi ﷺ pada saat itu segera mendahului
pasukan ke Aqabah, naik ke gunung itu.
Tujuannya adalah...
Nabi ﷺ ingin melihat dari kejauhan lokasi tersebut,
ada musuh mau menyerang atau tidak.
Kemudian juga...
menyuruh Ammar dengan Hudzaifah
untuk melihat ke arah yang lainnya.
Nabi ﷺ lihat juga,
lihat ada pasukan musuh nggak.
Sambil memantau pasukan muslimin dari jauh:
mereka rapi, nggak?
Ada yang bubar, nggak?
Ada yang berhenti, nggak?
Ada yang sakit,
ada segala macam, gitu.
Rupanya beberapa orang munafik
pada saat itu
—ini kembali ulah kaum munafikin—
Mereka melihat Nabi ﷺ
di atas bukit itu.
Lalu mereka berkata
satu sama yang lain.
Sebagian ahli sejarah mengatakan
mereka dari Bani Tamim.
Kaum munafik ini.
Tentu ini kebetulan dari Bani Tamim,
bukan berarti Bani Tamim itu buruk, ya.
Karena Abu Bakar pun, رضي الله عنه,
dari Bani Tamim.
Qa'qa' dari Bani Tamim.
Mereka berkata satu sama lain
—dan tidak disebutkan.
Saya pribadi, bukan tidak disebutkan.
Saya pribadi belum menemukan nama-nama kaum munafik ini
Tapi yang jelas...
di sini mereka mengatakan:
<i>“Sungguh kalian tidak akan menemukan
keadaan orang itu seperti sekarang,”</i>
maksudnya Nabi ﷺ,
<i>“untuk dibunuh.</i>
<i>Tidak ada yang mendampinginya
kecuali cuma dua orang saja.</i>
<i>Maka mari kita beramai-ramai menyerangnya
dan menjatukannya dari bukit."</i>
Maka sepakat waktu itu kurang lebih
14 orang dari Bani Tamim,
dari kaum munafikin,
mereka menggunakan cadar,
dan mereka naik ke atas gunung.
Saat mereka mendekati
dan mulai mendaki,
Hudzaifah رضي الله عنه berkata,
<i>“Tiba-tiba aku melihat...</i>
<i>marah wajah Nabi ﷺ,</i>
<i>dan...</i>
<i>dan itu sangat jarang terjadi.</i>
<i>Aku lalu mengeluarkan pedangku
dan mengusir mereka,</i>
<i>karena mengira bahwa mereka hanyalah
orang-orang yang mau ikut-ikutan naik ke bukit.</i>
<i>Dan saat melihatku,
mereka semua berlarian ketakutan.”</i>
<i>“Pada saat aku balik ke Nabi ﷺ”</i>—
Jadi...
Hudzaifah رضي الله عنه melihat mereka naik,
maka Hudzaifah pun turun dari bukit,
coba mengejar mereka.
Rupanya Allah sudah tanamkan rasa takut.
Bubar semua 14 orang itu.
<i>“Saat aku kembali bertemu dengan Nabi ﷺ,
maka beliau bersabda, ‘Wahai Hudzaifah,</i>
<i>apakah engkau tahu
siapa mereka?’”</i>
Hudzaifah mengatakan,
<i>“Tidak, wahai utusan Allah,</i>
<i>karena semuanya bercadar.”</i>
Maka Nabi ﷺ menyebutkan
satu per satu nama mereka.
Dan beliau ﷺ berkata:
<i>“Sungguh, mereka bermaksud untuk membunuhku.”</i>
Sebagian ahli sejarah mengatakan:
<i>“Penyebutan 14 nama orang ini,</i>
<i>juga tidak ternukil pada saat itu,</i>
<i>karena memang...</i>
<i>Nabi ﷺ memerintahkan
Hudzaifah untuk merahasiakannya.”</i>
Umumnya nama-nama munafik,
kecuali Nabi sebut secara umum, di depan umum,
baru itu terbongkar.
Tapi kalau nggak,
maka nggak.
Makanya Umar bin Khattab
sering bertanya kepada Hudzaifah:
<i>“Apakah Rasulullah ﷺ menghitungku
sebagai orang munafik?”</i>
Dan dirahasiakan.
Dan Umar bin Khattab kalau ingin...
di zaman khilafah-nya beliau,
kalau ingin...
menunjuk satu gubernur,
pasti tanya Hudzaifah dulu.
<i>“Bagaimana, munafik atau bukan?”</i>
Atau dia lihat,
kalau ada jenazah...
lagi di shalati,
maka dia bilang.
Umar mengatakan:
<i>“Saya akan shalati
kalau Hudzaifah shalati.</i>
<i>Kalau (Hudzaifah) tidak shalati,
berarti orang munafik.</i>
<i>Nggak usah di shalati.”</i>
Seperti itu. Jadi Hudzaifah
jadi patokan, gitu.
Sampai pernah satu kali
di zaman khilafahnya Umar,
Umar mengatakan,
<i>"Hai Hudzaifah,</i>
<i>apakah ada orang munafik
di dalam kepemimpinanku?"</i>
Umar bin Khattab ini.
Orang yang luar biasa jelinya,
orang yang luar biasa
luas ilmunya, kekuatan imannya.
Kata Hudzaifah,
<i>"Ada.</i>
<i>Ada orang munafik."</i>
Lalu Umar tanya,
<i>"Siapa?"</i>
Kata Hudzaifah,
<i>"Saya tidak akan bilang.</i>
<i>Rasulullah larang bongkar.</i>
<i>Nggak boleh.</i>
<i>Amanah."</i>
Maka Umar pun...
terus menelusuri sampai ia temukan
siapa orang munafik itu,
dan dikeluarkan,
diturunkan dari jabatannya.
Bayangkan,
Umar saja terkelabui.
Itu bagaimana jelinya mereka...
menunjukkan sikapnya seakan-akan
mereka itu ahli ibadah dan seterusnya.
Dan di sini, ulama—
—saya coba mencari—
belum saya temukan,
bagaimana dengan Ammar bin Yasir.
Apakah dia juga hafal
14 orang itu atau tidak?
Allahu a'lam.
Tapi Hudzaifah yang disebutkan.
Dan Nabi ﷺ mengatakan, <i>"Sungguh,"</i>
setelah menyebutkan nama-nama mereka,
<i>"mereka bermaksud membunuhku."</i>
Maka Hudzaifah lalu berkata,
<i>"Wahai utusan Allah,</i>
<i>apakah perlu aku sampaikan
kepada kepala suku mereka</i>
<i>agar mendatangkan kepala
setiap pengkhianat itu?"</i>
Maka Nabi ﷺ mengatakan,
<i>"Jangan, wahai Hudzaifah.</i>
<i>Jangan sampai orang-orang berkata,
'Muhammad membunuh sahabatnya.'"</i>
Dan ini sebuah poin penting,
teman-teman sekalian, masalah...
bagaimana kita bermuamalah
dengan kaum munafikin.
Karena mereka menggunakan
nama-nama Islam.
Muhammad, Yusuf
—nama-nama Islam.
Tapi Abdullah, di zaman Nabi ﷺ,
Abdullah bin Ubay bin Salul.
Dan Nabi ﷺ ajarkan,
bukan dengan cara dipenggal lehernya,
dibunuh, tapi ada banyak hal.
Mereka diketahui,
di hati-hati perbuatannya.
Kalau mereka seberkan isu,
maka di <i>counter</i> isunya.
Dan mereka sama sekali
tidak dikasih jabatan.
Bahkan imam adz-Dzahabi, رحمه الله, mengangkat
sebuah hadits dalam kitab Al-Kabair beliau,
kalau termasuk dosa besar:
menjadikan orang munafik
sebagai pemimpin.
Sudah jelas, lalu dijadikan
sebagai pemimpin.
Para sahabat, setelah wafatnya Nabi ﷺ,
bila akan menshalati jenazah,
maka mereka menunggu Hudzaifah
ada di tengah-tengah mereka.
Bila Hudzaifah menshalati,
berarti mu’min.
Dan bila tidak,
berarti orang munafik.
Karena hanya Hudzaifah yang tahu siapa
orang-orang munafik yang ditunjuk oleh Nabi ﷺ.
Oleh karena itu, Hudzaifah mendapatkan
julukan dari para sahabat:
"Pemilik Rahasia Nabi ﷺ".
Kasus Aqabah ini,
Allah Yang Maha Sempurna menurunkan
dalam firman-Nya, Surah At-Taubah.
Surah nomor 9,
ayat 73–74.
أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْۗ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُواۗ
Sebentar, itu ayat 73.
Saya baca dulu terjemahannya sampai وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
<i>"Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir
dan orang-orang munafik itu,</i>
<i>dan bersikap tegaslah kepada mereka.</i>
<i>Tempat mereka adalah neraka Jahannam.
Dan ini adalah tempat kembali yang paling buruk."</i>
Ayat selanjutnya,
ayat 74-nya:
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا ۚ وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا ۚ وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ ۚ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
<i>Mereka (orang-orang munafik itu)
bersumpah dengan nama Allah</i>
<i>bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu
yang menyakitimu, wahai Muhammad.</i>
<i>Sesungguhnya mereka telah
mengucapkan perkataan kekafiran</i>
Maksudnya tadi waktu mereka bilang:
<i>“Tidak ada kesempatan untuk...</i>
<i>yang lebih baik untuk membunuh
kecuali pada saat ini.”</i>
<i>Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran,
dan telah menjadi kafir sesudah Islam.</i>
<i>Dan mengingini apa yang mereka
tidak dapat mencapainya.</i>
Maksudnya adalah membunuh Nabi ﷺ.
<i>Dan mereka tidak mencela Allah dan Rasul-Nya
kecuali karena Allah dan Rasul-Nya</i>
<i>telah melimpahkan karunia-Nya
kepada mereka.</i>
Mereka dikasih rezeki, dikasih nikmat,
kesempatan hidup dengan Nabi ﷺ, justru mereka kufur.
<i>Maka jika mereka bertobat,</i>
—Allah masih kasih kesempatan—
<i>itu lebih baik bagi mereka,</i>
<i>dan jika mereka berpaling,</i>
—tetap saja dalam kemunafikannya—
<i>niscaya Allah akan mengazab mereka
dengan azab yang pedih di dunia dan juga di akhirat;</i>
<i>dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung,
dan tidak pula penolong di muka bumi.</i>
Kasus yang lain,
teman-teman sekalian,
adalah penghancuran Masjid Dhirar.
Ini terjadi...
dalam prosesi pulangnya
Nabi ﷺ ke Madinah.
Pasukan Muslimin pada saat
mendekati kota Madinah...
Sebentar dulu,
saya perbaiki sedikit.
Pada saat pasukan Muslimin
mendekati Kota Madinah,
Nabi ﷺ mengutus
dua orang sahabat.
Dan perintah ini belum pernah sama sekali
Nabi ﷺ sampaikan kepada sahabat yang lain.
Yaitu, membakar masjid.
Dan sahabat yang dikirim
ada dua orang, namanya:
Malik bin Dukhsyum,
dan Ma’an bin ‘Adi.
Malik bin Dukhsyum dan Ma’an bin ‘Adi.
رَضِيَ ٱللّٰهُ عَنْهُم أَجْمَعِينَ.
Untuk datang ke Madinah sebelum pasukan tiba
dan membakar sebuah masjid,
yang dibangun oleh kaum
munafikin di Madinah.
Jumlah orang-orang munafik di Madinah,
kata ahli sejarah, sangat banyak.
Cukup banyak.
Dan mereka sudah bermusyawarah
dalam hal mengatur strategi
untuk memerangi Nabi ﷺ dan Muslimin.
Pemimpin mereka...
yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul
dan Abu ‘Amir al-Fasiq.
Kalau Abdullah bin Ubay bin Salul, antum sudah tahu,
dari suku Khazraj, dan dia orang-orang munafik.
Masyhur sekali kisahnya.
Termasuk waktu dia meninggal,
Nabi ﷺ dilarang untuk menshalatinya.
Dan satu Madinah
tahu siapa dia.
Dia penyebar gosip juga zinanya...
bohong...
Berita bohong zina Aisyah dengan Shafwan,
رضي الله عنهم أجمعين‪.‬
Kalau Abu ‘Amir al-Fāsiq ini adalah pimpinan Madinah
sebelum Nabi ﷺ hijrah ke Madinah.
Namanya "Abu ‘Amir",
julukannya "Abu ‘Amir".
Saya tidak tahu namanya.
Tapi Abu ‘Amir dipanggil "al-Fasiq",
ini gelar yang Nabi ﷺ berikan.
<i>Al-Fasiq</i> artinya orang yang buruk.
Fasik, ya.
Dia adalah orang yang dulu mau
mencalonkan diri menjadi pemimpin Madinah.
Tapi setelah...
Nabi ﷺ hijrah ke Madinah,
malah masyarakatnya Madinah memilih Nabi ﷺ.
Gara-gara itu,
dia pergi ke negeri Syam.
Abu ‘Amir ini...
mengatur strategi dengan Abdullah bin Ubay bin Salul
untuk selalu mencari kelemahan Muslimin.
Termasuk, kalau antum masih ingat,
kita review, Perang Uhud.
Waktu terjadi Perang Uhud,
Abu ‘Amir ini pulang dari negeri Syam ke Madinah.
Lalu dia membuat lubang-lubang
di tempat pasukan muslimin.
Dan Nabi ﷺ sempat jatuh ke dalam lubang itu.
Itu dibuat oleh Abu ‘Amir al-Fasiq ini.
Dia sepakat dengan Abdullah bin Ubay bin Salul
untuk membangun masjid.
Lalu dia berkata kepada Abdullah:
<i>“Bangunlah masjid itu, dan aku akan datang
berpura-pura menjadi muslim,</i>
<i>lalu dari sana kita mengatur
penghancuran Muslimin.”</i>
Jadi nyata sekali mereka
ingin memerangi Muslimin.
Masjid ini berhasil mereka bangun sebelum
pasukan Muslimin meninggalkan Madinah ke Tabuk.
Bahkan, sempat mereka meminta Nabi ﷺ
untuk shalat di dalamnya.
Tetapi dengan hikmah Allah,
Nabi ﷺ waktu itu sibuk dan menjawab:
<i>“Kalau sekarang aku sibuk
dengan Perang Tabuk.</i>
<i>Bila balik nanti,
kita lihat saja perintahnya Allah.”</i>
Jadi Nabi ﷺ juga waktu itu belum mendapat
perintah untuk merusak masjid tersebut.
Pada saat balik...
dari perang tabuk,
Nabi عليه الصلاة والسلام mendapat
perintah dari Allah secara langsung...
untuk bukan shalat di masjid tersebut,
tapi membakarnya.
Dan itu Allah ceritakan dalam Al-Qur’an,
dalam Surah At-Taubah.
Surah nomor 9,
ayat 107–110.
Tentang perintah pembakaran Masjid Dhirar,
masjid yang dibangun oleh kaum munafikin
dengan tujuan memerangi kaum Muslimin.
At-Tawbah 107-110 ini berbunyi:
أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
107-nya:
وَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَّكُفْرًا وَّتَفْرِيْقًا ۢ بَيْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ مِنْ قَبْلُۗ وَلَيَحْلِفُنَّ اِنْ اَرَدْنَآ اِلَّا الْحُسْنٰىۗ وَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ
<i>Dan di antara orang-orang munafik itu
ada orang-orang yang mendirikan masjid</i>
<i>untuk menimbulkan kemudharatan
pada orang-orang mukmin,</i>
<i>untuk kekafiran,</i>
<i>dan memecah belah antara
orang-orang mukmin,</i>
<i>serta menunggu kedatangan orang-orang
yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya.</i>
Maksudnya Abu Amir Al-Fasiq tadi.
Mereka tunggu datang
dari negeri Syam.
<i>Mereka sesungguhnya bersumpah,
“Kami tidak menghendaki kecuali kebaikan.</i>
<i>Kami membangun masjid juga untuk baik-baik,
untuk mendapatkan pahala dari Allah.”</i>
<i>Dan Allah menjadi saksi bahwasannya
sesungguhnya mereka itu adalah pendusta.</i>
Itu ayat 107.
108-nya:
Maaf.
Iya betul, ya.
107-108, ya.
108:
لَا تَقُمْ فِيْهِ اَبَدًاۗ لَمَسْجِدٌ اُسِّسَ عَلَى التَّقْوٰى مِنْ اَوَّلِ يَوْمٍ اَحَقُّ اَنْ تَقُوْمَ فِيْهِۗ فِيْهِ رِجَالٌ يُّحِبُّوْنَ اَنْ يَّتَطَهَّرُوْاۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِيْنَ
<i>Janganlah kamu shalat dalam masjid itu
selama-lamanya, wahai Muhammad.</i>
<i>Sesungguhnya...</i>
<i>masjid yang didirikan
atas dasar takwa,</i>
—maksudnya karena Allah SWT, Masjid Quba yang dimaksud di sini—
<i>sejak hari pertama kamu hijrah ke Madinah,
adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya.</i>
Sebagian ulama mengatakan,
<i>“Karena masjid Dhirar dekat dengan Masjid Quba.”</i>
<i>Di dalamnya masjid itu ada orang-orang
yang ingin membersihkan diri,</i>
<i>suka membersihkan diri.</i>
<i>Dan sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bersih.</i>
Ini maksudnya adalah pujian bagi...
penduduk sekitar Quba,
karena mereka...
kalau mereka bersuci, mereka menggabungkan
antara istinja dengan istijmar.
Mereka cebok dengan air,
mereka juga menggunakan batu.
Maka Allah menyebutkan, di situ sekitarnya
ada orang-orang yang suka...
bersih, dan Allah suka
dengan orang-orang yang bersih.
109-nya:
اَفَمَنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى تَقْوٰى مِنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ اَمْ مَّنْ اَسَّسَ بُنْيَانَهٗ عَلٰى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهٖ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
<i>Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya
di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-Nya itu...</i>
<i>baik,</i>
<i>yang baik,</i>
<i>ataukah orang-orang yang mendirikan
bangunannya di tepi jurang yang runtuh,</i>
<i>lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama
dengan dia ke dalam neraka Jahannam?</i>
<i>Dan Allah tidak memberikan petunjuk
kepada orang-orang yang zalim.</i>
110:
لَا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِيْ بَنَوْا رِيْبَةً فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلَّآ اَنْ تَقَطَّعَ قُلُوْبُهُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌࣖ
<i>Bangunan-bangunan yang telah mereka dirikan itu
senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka,</i>
<i>kecuali bila hati mereka itu telah hancur.</i>
<i>Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.</i>
Maksudnya adalah, perasaan mereka
lenyap dari benda-benda itu,
barulah mereka...
atau mereka bertobat,
baru mereka tidak ingin shalat di situ.
Tapi dasarnya,
mereka suka dengan itu.
Kaum munafik pada saat...
melihat kedua sahabat ini datang,
mereka berusaha untuk menghalau
yaitu Malik bin Dukhsyum
dan juga Ma’an bin Adi,
رضي الله عنهم أجمعين‪.‬
Yang akan membakar masjid sesuai
dengan instruksi dari Nabi ﷺ,
yang diambil dari
ayat Al-Qur’an tadi.
Namun keduanya karena dari penduduk asli Madinah,
maka mereka tidak bisa menghalaunya.
Dan akhirnya,
mereka berdua membakar,
sambil mengatakan:
“Ini adalah perintah Allah dan Rasul-Nya.”
Termasuk kejadian, teman-teman sekalian,
adalah kisah telatnya Nabi ﷺ.
Jadi kisah telat sholat maksudnya, ya.
Kisah telat shalatnya Nabi ﷺ,
ini ada kisah sendiri.
Pada saat pasukan lagi istirahat,
saudaraku seiman...
sebelum tiba di Madinah,
maka para sahabat...
menunggu Nabi ﷺ.
Jadi menginap di situ.
Pada saat shalat Subuh,
maka para sahabat menunggu
Nabi ﷺ seperti biasa.
Mereka tidak shalat sampai
Nabi ﷺ mengimami mereka.
Tapi mereka menunggu sampai
matahari mau terbit.
Nabi ﷺ tidak muncul-muncul, nih.
Nggak ada.
Maka para sahabat bingung:
apakah mereka shalat saja atau menunggu Nabi ﷺ.
Dan ini juga nanti keluar
sebuah hukum syar’i, ya.
Iqomah itu...
Azan itu milik muazzin,
artinya dia yang azan di waktunya.
Tapi iqamah adalah milik imam.
Milik imam.
Jadi kalau antum jadi imam,
antum harus pastikan:
<i>“Saya kalau telat 10 menit nggak datang, sudah.
Iqamah saja. Saya digantikan.”</i>
Karena kalau tidak,
termasuk sunnah Nabi ﷺ, ditunggu
imam itu.
Yang jelas, Nabi ﷺ tidak muncul-muncul pada saat itu.
Sampai mau terbit matahari, mereka bingung.
<i>“Sekarang nunggu Nabi,”</i>
ini sebuah hukum, tunggu imam.
<i>“keluar waktu Subuh hilang.
Atau kita tetap shalat saja,</i>
<i>dan kita akhirnya melanggar itu.”</i>
Setelah mereka menyimpulkan dan bermusyawarah,
akhirnya mereka sepakat untuk shalat.
Dan majulah Abdurrahman bin Auf, رضي الله عنه, sebagai imam.
Karena mereka menganggap pada saat itu
Abdurrahman adalah orang yang paling layak untuk itu.
Pada raka'at kedua,
Nabi ﷺ tiba-tiba datang.
(Raka'at kedua Subuh)
Dan beliau pun
masbuk satu raka'at,
shalat di shaf belakang.
Waktu salam,
sahabat-sahabat yang ada di belakang ini
tidak tahu kalau itu Nabi ﷺ.
Begitu mereka lihat,
mereka semua mengatakan, <i>“Subhanallah.”</i>
Maka para sahabat di depan pun balik ke belakang
dan melihat Nabi ﷺ ada di shaf belakang.
Belum pernah ada dalam sejarah, ini.
Pasti Nabi ﷺ ada di depan
dan memimpin shalat, gitu.
Maka mereka tunggu sampai
Nabi ﷺ selesai shalat.
Selesai shalat, Nabi ﷺ mengucapkan kalimat
yang menjadi hukum syar’i.
Beliau mengatakan:
<i>“Ahsantum.”</i>
<i>“Bagus yang kalian lakukan ini, sudah benar.”</i>
Dan ini menjadi sebuah hukum syar’i.
Kalau sudah mau keluar waktu,
sudah lewat,
harus shalat.
Walaupun imamnya nggak datang.
Karena bisa saja imamnya
meninggal, sakit, ada udzur.
Maka walaupun iqamah...
itu di tangan dia, tetap saja
kalau sudah mau keluar waktu,
maka shalat.
Juga ada hadits Nabi ﷺ,
sedikit saya tambahkan dalam tulisan saya ini.
Ada hadits Nabi ﷺ yang berbunyi:
“Tidak akan terjadi kiamat sampai salah seorang
dari kalian mengimami Nabi kalian.”
Dan ini sudah terjadi, yang berarti
masa kematian Nabi ﷺ sudah dekat.
Ini termasuk terjadi
pada saat itu.
Nabi ﷺ juga bersabda,
<i>“Ketahuilah, di Madinah terdapat...”</i>
Jadi sudah selesai tadi
masalah kasus itu, ya.
Sekarang Nabi ﷺ selesai salam,
lalu mengatakan pada para sahabat,
<i>“Bagus yang kalian lakukan.”</i>
Lalu beliau berdiri
dan beliau pun berceramah.
Beliau mengatakan:
<i>“Ketahuilah,</i>
<i>di Madinah terdapat beberapa orang
yang tidak ada langkah,</i>
<i>juga lembah, yang kalian lalui</i>
<i>kecuali akan mendapatkan pahala
yang sama dengan kalian.</i>
<i>Karena mereka tertahan oleh udzur.”</i>
Karena mereka tertahan oleh Udzur.
Para sahabat bertanya,
<i>“Wahai utusan Allah,</i>
<i>mereka di Madinah,</i>
<i>tapi mereka mendapatkan
seperti pahala kami?”</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>“Iya,</i>
<i>karena mereka tertahan oleh udzur.”</i>
Mereka tertahan oleh udzur.
Berapa menit lagi azannya?
Masih 15 menit.
Baik.
Lanjutan materi ngak usah bertanya, ya.
Setuju nggak?
Cuma tiga orang yang setuju.
Baiklah, kita sekarang masuk lagi...
kisah beberapa sahabat
yang tidak ikut Perang Tabuk.
Ini kisah cukup panjang, ya.
Tapi kita coba insyaAllah sampaikan.
Kalau tidak selesai,
kita akan lanjutkan nanti Maghrib, biidznillah.
Saat Nabi ﷺ tiba di Madinah,
maka mulailah berdatangan kaum munafikin
untuk minta maaf kepada beliau ﷺ.
Ada pertanyaan yang masuk?
Nggak ada?
Bagus.
Ahli surga, MashaAllah.
Nggak banyak bertanya itu bagus.
Saat Nabi ﷺ mulai datang
atau datang ke Madinah,
kaum munafikin...
berdatangan sekarang.
Pada minta maaf kepada Nabi ﷺ.
Lalu Allah menceritakan tentang
kedatangan mereka itu.
Dalam Surah At-Taubah.
Surat nomor 9, ayat 94 sampai 96.
Mereka takut dihukum,
maka mereka datang minta maaf sekarang.
Ayat 94-nya, bunyinya:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يَعْتَذِرُوْنَ اِلَيْكُمْ اِذَا رَجَعْتُمْ اِلَيْهِمْۗ قُلْ لَّا تَعْتَذِرُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ لَكُمْ قَدْ نَبَّاَنَا اللّٰهُ مِنْ اَخْبَارِكُمْ وَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
<i>Mereka orang-orang munafik itu,
mengemukakan udzurnya kepadamu, hai Muhammad,</i>
<i>apabila pada saat kamu kembali kepada mereka,
dari medan perang ke Madinah.</i>
<i>Katakanlah, “Janganlah kalian mengemukakan udzur;</i>
<i>kami tidak percaya lagi
kepada kalian.</i>
<i>Karena sesungguhnya,</i>
<i>Allah telah memberitahukan kepada kami
tentang berita yang sebenarnya tentang kalian.”</i>
<i>Maksudnya: “Allah sudah bongkar siapa kalian.”</i>
<i>Dan Allah serta Rasul-Nya
akan melihat pekerjaanmu.</i>
Artinya, <i>"kalau kalian tobat, masih bisa.
Tapi kalau nggak, maka tetap akan dihukum."</i>
<i>Kemudian kalian akan dikembalikan kepada
Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata,</i>
maksudnya Allah, hari kiamat.
<i>Dan Dia memberitahukan kepada kalian
apa yang telah kalian kerjakan.</i>
Ayat 95-nya:
سَيَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَكُمْ اِذَا انْقَلَبْتُمْ اِلَيْهِمْ لِتُعْرِضُوْا عَنْهُمْۗ فَاَعْرِضُوْا عَنْهُمْۗ اِنَّهُمْ رِجْسٌۙ وَّمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ جَزَاۤءً ۢ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Kelak mereka akan bersumpah kepadamu
dengan nama Allah
apabila kamu kembali kepada mereka,
supaya kamu berpaling dari mereka.
Maksudny: <i>supaya kamu tidak mencela mereka.</i>
Jadi mereka mengatakan,
<i>“Demi Allah, ya Rasulullah. Demi Allah.”</i>
Dusta semua.
<i>Maka berpalinglah dari mereka.</i>
Jangan terima sumpah-sumpahnya mereka, jangan dengar.
<i>Karena sesungguhnya,
mereka itu adalah najis</i>
dan tempat mereka Jahannam sebagai balasan
atas apa yang telah mereka kerjakan.
Jadi kalau ada ciri orang
suka memerangi Islam,
bersumpah sama Allah pun,
jangan dengar.
Nggak ada gunanya.
Ayat 96-nya:
يَحْلِفُوْنَ لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْۚ فَاِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يَرْضٰى عَنِ الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ
<i>Mereka akan bersumpah kepadamu
agar kamu rida kepada mereka.</i>
<i>Tapi jika sekiranya
kamu ridha kepada mereka,</i>
<i>sesungguhnya Allah tidak rida
kepada orang-orang yang fasik itu.</i>
Jadi ayat ini turun...
kepada orang-orang
yang tadi meminta udzur itu.
Pada saat tiba
di Masjid Nabawi,
Nabi ﷺ menemukan beberapa sahabat
yang mengikat diri...
mereka di tiang-tiang masjid
sambil berkata:
<i>“Wahai utusan Allah,</i>
<i>ini hukuman kami tidak ikut dengan Anda.</i>
<i>Maka...</i>
<i>kami sudah bertekad tidak akan membuka
ikatan kaki dan tangan kami</i>
<i>sampai Anda sendiri
yang membukanya.”</i>
Jadi ini ijtihad
sebagian sahabat yang...
tidak ikut,
yang tidak punya udzur.
Nabi ﷺ menjawab,
<i>“Sungguh, aku pun tidak memiliki wewenang...</i>
<i>melakukannya kecuali Allah
yang memaafkan kalian.</i>
<i>Sekarang kalian tidak ikut,
tidak ada udzur.</i>
<i>Biar kalian mau ikat diri kalian,
mau hukum sendiri, itu tidak ada hubungannya.</i>
<i>Tunggu Allah yang ambil keputusan.”</i>
Lalu Allah turunkan Surah At-Taubah,
surah nomor 9, ayat 102:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
<i>Dan ada pula orang-orang
yang mengakui dosa-dosa mereka,</i>
<i>Mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik
dengan pekerjaan lain yang buruk.</i>
<i>Mudah-mudahan Allah
menerima tobat mereka.</i>
<i>Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.</i>
Para sahabat yang...
tidak ikut...
sangat gembira dengan
turunnya ayat ini.
Maka mereka ramai-ramai
membawa harta mereka
sambil berkata,
<i>"Wahai utusan Allah,</i>
<i>sesungguhnya tidak ada yang membuat kami tidak ikut
kecuali karena harta-harta ini.</i>
<i>Maka ambillah sebagai sedekah
di jalan Allah.</i>
<i>Silakan Anda letakkan ke siapa
dan mana pun yang Anda sukai."</i>
Sebagai bentuk taubat mereka:
<i>"Ini harta kami, ya Rasulullah.
Ambil semuanya.</i>
<i>Mau kebun, mau emas, ambil semua."</i>
Mereka menyesal.
Allah turunkan At-Taubah.
Lanjutan ayat tadi,
tadi 102,
turunan lanjutannya adalah
103 sampai 105.
Allah mengatakan menerima sedekah mereka:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
<i>Ambillah zakat dari
sebagian harta mereka,</i>
<i>dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka</i>
<i>dan doakanlah mereka.</i>
<i>Sesungguhnya doa kamu itu menjadi
ketenteraman jiwa bagi mereka.</i>
<i>Dan Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.</i>
Maksudnya adalah, di sini:
zakat yang mereka keluarkan di sini
umumnya adalah sedekah yang dimaksud.
Walaupun ayat ini digunakan
oleh para ulama
untuk menjadi...
dalil tentang perintah zakat.
Ayat selanjutnya,
104:
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ ۚ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
<i>Tidakkah mereka mengetahui
bahwasanya Allah menerima taubat</i>
<i>dari hamba-hamba-Nya</i>
<i>dan juga...</i>
<i>menerima zakat,</i>
<i>dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat
lagi Maha Penyayang?</i>
Ayat 105-nya:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
<i>Katakanlah,</i>
<i>"Berbuatlah kalian,
Bekerjalah kalian,</i>
Mau taubat, silakan. Mau amal salih, silakan.
Mau buruk, silakan.
Allah dan Rasul-Nya
serta orang-orang mukmin,
<i>akan melihat pekerjaan kalian itu,</i>
<i>dan kamu...</i>
<i>akan dikembalikan</i>
<i>kalian akan dikembalikan kepada Allah</i>
<i>Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata,</i>
<i>lalu diberitakan kepada kalian
apa yang telah kalian kerjakan."</i>
Ini tentu kita berbicara
tentang umumnya sahabat yang tidak ikut.
Tadi saya sempat bilang ada 11 orang,
tapi saya tidak temukan semua namanya.
Tapi ada sahabat yang perlu kita
sebutkan kisahnya secara khusus,
yaitu Ka’ab bin Malik رضي الله عنه,
dan tadi sahabat yang kita sebutkan: Hilal,
dan juga...
Murarah.
InsyaAllah kita lanjutkan
nanti malam ini, ya.
Saya akan lanjutkan dengan kisah...
tiga orang sahabat yang mulia,
di mana...
di mana mereka yang secara khusus turun ayat...
Surah At-Taubah ayat 118
yang menyebutkan...
mereka itu sendiri dengan bagaimana tobatnya,
bagaimana kisahnya, bagaimana pemboikotannya.
Karena itu kisah panjang.
Kurang lebih 50 hari diboikot
oleh Nabi ﷺ dan kaum muslimin.
Mudah-mudahan bermanfaat,
saudaraku seiman.
Kalau ada benar, itu dari Allah.
Kalau ada salah, dari saya. Mohon dimaafkan.
Subhānaka Allāhumma wa bihamdika.
Asyhadu allā ilāha illā anta.
Astaghfiruka wa atūbu ilaik.
Wassalāmu ‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.