Sirah Nabawiyah #22 : Perang Hunain - Khalid Basalamah
nvFapPyXzUk • 2018-02-04
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah.
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ
Segala puji bagi
Sang Pencipta, Allah.
Dan juga kita panjatkan
shalawat dan taslim
kepada utusan-Nya,
Nabi besar Muhammad ﷺ.
Melanjutkan bahasan sirah kita,
dan kita masuk, insyaAllah,
pada subuh ini,
semoga Allah berkahi,
Perang Hunain.
Dan ini berlanjut langsung setelah
perang pembebasan Kota Mekkah.
Ada satu suku,
namanya Hawazin.
Dan Hawazin ini adalah:
suku terbesar setelah Quraisy,
serta tempat mereka itu di Kota Thaif.
Kota yang kurang lebih
jaraknya 60–70 km dari Kota Mekkah.
Dan Abrahah, sebelum menyerang Mekkah,
melewati kota ini.
Dan dari kota inilah,
keluar seseorang yang bernama Abu Rugal dulu.
Kalau masih ingat, orang ini yang menunjukkan
Abrahah untuk menuju ke Mekkah,
dan akhirnya dia meninggal di tengah jalan,
kemudian kuburannya dijadikan sebagai marjam—
tempat orang-orang Arab kalau lewat,
di lempari batu.
Karena dianggap dia pengkhianat,
bagaimana dia menunjukkan Abrahah, Ka'bah.
Dan ada julukan atau
ada istilah dalam...
atau di Jazirah Arab:
kalau ada pengkhianat,
diistilahkan dengan "Abu Rugal",
karena nama orang ini.
Tentu kota ini...
itu kisah dulu, ya.
Setelah pembebasan Kota Mekkah,
Nabi 'alaihi sholatu wassalam
berpikir untuk mengekspansi
lebih jauh lagi Islam,
Terlebih lagi, memang suku Hawazin
yang ada di Kota Thaif ini,
sebelum Nabi ﷺ keluar
dari Madinah,
memang sudah mempersiapkan diri
untuk memerangi...
Madinah.
Dan pada saat itu,
memang Madinah menjadi target.
Karena, dianggap Madinah adalah
markas kekuatan Muslimin.
Andai saja...
ada yang bisa menyerang Madinah dan mengalahkan,
berarti dia mengalahkan negara adikuasa,
atau kota adikuasa lah
pada saat itu.
Hawazin ini mengumpulkan kekuatan bersama
dengan suku-suku Arab yang masih tersisa,
dan terkumpullah kurang lebih
12.000 personel perang.
Dan pada saat itu, untuk memberikan
semangat perang yang besar,
maka Hawazin menunjuk satu orang anak muda
dengan postur tubuh yang sangat kekar,
gagah, suaranya lantang, pemberani,
yang waktu itu umurnya masih 24 tahun,
namanya Malik bin Auf.
Ditunjuklah dia sebagai pimpinan suku,
sekaligus pemimpin perang.
Seluruh pecahan suku Hawazin ini banyak sekali,
ada puluhan pecahan cabang daripada suku Hawazin.
Dan sebagaimana saya jelaskan,
teman-teman sekalian,
di Jazirah Arab,
dan sampai sekarang masih berlaku itu,
kalau seandainya ada seseorang
memiliki kelebihan fisik,
keturunan yang banyak, kaya raya,
pintar, dikenal di tengah masyarakat,
bisa dinisbatkan suku padanya.
Dinisbatkan suku padanya.
Maka Hawazin induknya,
seperti Quraisy.
Nanti di bawah Quraisy dan di bawah Hawazin ini
banyak sekali suku-suku kecil.
Dan semua pecahan suku Hawazin ikut berperang,
kecuali dua suku, namanya Ka'ab dan Kilab.
Ini nggak ikut-ikutan.
Tentu, tidak saya temukan sebabnya
kenapa dua suku ini tidak ikut berperang.
Tapi yang jelas, dua suku ini disebutkan
tidak ikut berperang melawan Muslimin.
Nabi ﷺ waktu itu mengutus mata-mata
yang berhasil memasuki Kota Thaif,
menyamar menjadi
masyarakat di situ,
dan bergabung dengan
pasukan musuh,
sehingga ia mengetahui
seluruh informasi...
tentang kekuatan musuh,
strategi perangnya,
kemudian siapa pemimpinnya,
dan seterusnya.
Namun, sebelum ia tiba di Mekkah,
waktu sudah bawa informasi ini,
ternyata pasukan musuh telah keluar
meninggalkan Kota Thaif
tanpa sepengetahuan
orang tersebut,
sahabat tadi itu.
Sehingga, pada saat dia
tiba di Mekkah,
dia masih menginformasikan kepada Nabi ﷺ
tentang kondisi di Kota Thaif.
Dia tidak tahu-menahu kalau
pasukan sudah bergerak
dari Thaif keluar,
ingin menuju...
ke Mekkah.
Karena Malik bin Auf
sudah dengar,
kalau Muslimin dan Nabi ﷺ
sudah menguasai Mekkah.
Maka dia akan bergerak
menuju ke Mekkah.
Tapi subhanallah,
Nabi ﷺ memiliki...
panduan wahyu.
Dan wahyu waktu itu
memerintahkan Nabi ﷺ
untuk segera keluar,
menuju ke Kota Thaif juga.
Keluarlah Nabi ‘alaihi sholatu wassalam
dengan niat mengejar Kota Thaif,
tetapi, Nabi ﷺ sendiri tidak tahu
kalau ternyata pasukan
sudah keluar.
Dan juga sudah diinformasikan masalah tadi.
Perintah wahyu menyuruh dia keluar,
‘alaihi sholatu wassalam.
Musuh keluar pada saat itu
(keluar dari Kota Thaif),
dan melewati sebuah lembah,
namanya Hunain.
Dan Hunain ini lembah yang sangat luas,
sampai sekarang masih ada.
Saya tidak tahu apakah teman-teman kalau umrah
bisa melewati lembah itu atau menuju ke Kota Thaif.
Kalau bisa dengan visa umrahnya,
bagus sekali untuk mampir.
Lembah yang sangat luas,
dihimpit dengan gunung-gunung
batu yang besar.
Dan memang dia lembah yang sangat dalam.
Dari atas itu harus turun ke lembah yang dalam.
Dikenal dengan Hunain.
Sampai hari ini pun masih...
dikenal dengan nama yang sama.
Musuh pada saat itu
sudah berhasil tiba di Hunain.
Dan ternyata,
Malik bin Auf mengirim mata-matanya,
dan dia mendengar kalau Nabi ﷺ
sudah keluar dari Mekkah.
Jarak antara Mekkah sama Thaif
kurang lebih 60 atau 70 km.
Sangat dekat.
Kurang lebih setengah hari saja
perjalanan pada zaman itu.
Maka, Malik bin Auf meletakkan pasukannya
di lembah Hunain itu.
Dan ada strategi yang luar biasa
yang dia lakukan,
nanti akan diberikan masukan oleh
salah satu orang yang sangat tua,
namanya Duraid
bin ash-Shimmah.
Orang ini...
orang ini sangat dituakan di...
suku Hawazin dan umurnya waktu itu
sudah mencapai 160 tahun.
Sangat tua.
Tapi orang ini,
sangat cerdas dan belum pikun.
Ia hanya memiliki
kelemahan fisik saja.
Maka dia ditaruh di keranda lalu diikutkan dalam
pasukan perang karena pendapatnya selalu bagus.
Pada saat itu, tibalah mereka di sebuah lembah
yang bernama Hunain tadi.
Dan juga, lembah Hunain ini diberikan nama lain:
Authas. Lembah Authas.
Malik bin Auf pada saat itu mengeluarkan
sebuah instruksi yang unik.
Pada saat pasukan mulai bergerak dari Kota Thaif,
ia menyuruh seluruh pasukan
—yang 12.000 itu—
membawa keluarga mereka semuanya.
Seluruh prajurit bawa keluarganya:
bawa istri, bawa anaknya.
Semua, tidak boleh ada
yang tinggal di rumahnya.
Dan itu tujuan utamanya agar
tidak ada di antara pasukan yang melarikan diri.
Itu tujuannya.
Duraid bin ash-Shimmah,
yang sudah 160 tahun tadi,
bagaimanapun dia dulu
bekas kepala suku.
Dan sekarang karena sudah tua,
tidak dinobatkan lagi.
Tapi pendapatnya
selalu didengarkan.
Apa yang dia bilang sudah menjadi seperti
sebuah hukum di suku Hawazin itu sendiri.
Waktu dia mendengar, karena dia buta matanya,
sudah tua sekali,
dia mendengar suara perempuan
dan anak-anak,
dia bertanya kepada orang-orang
di sekitarnya:
“Kenapa saya dengar ada suara
perempuan dan anak-anak?
Bukankah pasukan sudah bergerak?”
Kata mereka:
“Itu para istri dan anak-anak prajurit yang telah
diperintahkan oleh Malik bin Auf untuk ikut serta.”
Duraid lalu berkata,
“Panggilkan untukku Malik bin Auf.”
Umurnya masih 24 tahun,
ini (Duraid) 160 tahun.
Maka Malik waktu datang, Duraid bertanya,
“Keputusan apa yang kau sudah ambil ini?
Kenapa perempuan dan anak-anak
disuruh dibawa dalam kancah peperangan?”
Kata Malik,
“Agar mereka tidak melarikan diri dari kancah peperangan.
Malu, karena ada istri,
ada anaknya.”
Maka Duraid marah,
lalu berkata:
“Demi Allah, engkau sama sekali
tidak mengerti strategi perang.
Kami adalah ahlinya.
Apakah orang yang kalah itu masih akan memikirkan
menyelamatkan orang lain selain dirinya sendiri?
Kalau sampai kalah,
orang nggak akan pikirkan
keluarganya lagi.
Istri, anaknya,
dia nggak pusingin.
Dia bagaimana selamat.
Maka nggak ada gunanya bawa
perempuan dan anak-anak.
Plus lagi, mereka akan bisa
menghambat pasukan perang.”
Malik bin Auf rupanya,
pemimpin yang masih muda ini,
tidak mau peduli
dengan Duraid.
“Sudahlah, orang tua,
nggak ngerti apa-apa.”
Tetap saja dia jalan
dengan strateginya.
Duraid lalu mengeluarkan instruksi,
pada saat Malik menolak pendapatnya,
agar semua pasukan kembali.
Dan tidak boleh ada satu pun
yang bawa anak-anak, juga wanita.
Nggak boleh ada yang ikut.
Kecali pasukan keluar
tanpa wanita dan anak-anak.
Mereka lebih baik
berbenteng di Kota Thaif.
Malik bin Auf, pada saat melihat pasukan mendengar Duraid
dan meninggalkan perjalanan tersebut ingin kembali,
karena Duraid dianggap orang
lebih tua dan dituakan,
dan tidak ada yang mengikuti dia
kecuali sedikit sekali,
maka ia lalu melakukan satu kejadian
pada saat itu. Perilaku dia.
Dia meletakkan
pedangnya di tanah.
Bagian pegangan gagang pedangnya ditaruh di tanah,
ujungnya yang tajam ditaruh di atas, diberdirikan.
Lalu dia menempelkan dadanya
di pedang itu.
Si Malik bin Auf.
Lalu dia mengatakan kepada orang-orang
yang saat itu mau pulang:
“Demi Allah, bila kalian tidak mengikuti keputusanku,
aku bunuh diri saja.
Kalau kalian tidak mau ikuti aku, bawa semua ini,
untuk apa pilih aku sebagai pemimpin?
Aku bunuh diri saja,
tidak ada gunanya."
Maka para pemuka, pada saat itu,
suku Hawazin berkumpul.
Lalu mereka bermusyawarah:
"Kira-kira seperti apa ini?
Yang kita ikuti Duraid,
atau ikuti Malik?"
Duraid adalah orang yang berpengalaman.
Sudah tua, dan punya pengalaman perang banyak.
Sementara Malik masih muda,
belum punya pengalaman perang.
Bahkan dalam beberapa riwayat yang menjelaskan
dalam buku-buku sejarah,
Malik bin Auf belum pernah memimpin peperangan
kecuali peperangan itu.
Sebelumnya belum punya
pengalaman sama sekali.
Tapi setelah bermusyawarah,
maka mereka mengambil kesimpulan:
"Lebih baik ikuti Malik bin Auf.
Dia masih muda, energik.
Daripada Duraid yang sudah tua."
Apalagi dia pada saat itu buta.
Tidak bisa melihat.
Maka pada saat itu, akhirnya kembalilah pasukan
dan Duraid sudah tahu, diberitakan kepada dia
kalau tetap pasukan akan bergerak
seperti keputusan Malik.
Duraid lalu berkata,
“Sungguh, walaupun aku hadir dalam peperangan ini,
tapi seakan-akan aku tidak mau menyaksikannya
karena resikonya sangat berat.”
Duraid lalu bertanya,
“Lembah apa ini?”
pada saat mereka sudah turun
di lembah Hunain tadi, atau Authas.
Para prajurit mengatakan,
“Hunain.”
Duraid tahu betul lokasi itu, maka dia mengatakan,
“Tempat yang sangat bagus untuk peperangan.
Karena dia dihimpit oleh
gunung-gunung batu.
Kalau kita lebih dulu tiba di lokasi itu,
maka musuh pada saat turun bisa kita serang langsung.”
Lalu dia mengatakan,
“Panggilkan untukku Malik bin Auf lagi.”
Malik datang lagi.
Lalu Duraid berkata,
“Bila di pendapat pertamaku engkau tidak mau dengar,
maka jangan engkau tolak
pendapatku yang kedua.
Ini saranku."
Kata Malik,
“Baik, apa itu?”
Kata Duraib,
“Sungguh lembah ini sangat bagus untuk peperangan.
Maka buatlah benteng-benteng pertahanan untuk pasukan.”
Sebagian athar menyebutkan,
"Buatlah lubang-lubang di padang pasir."
Jadi, antara tebing-tebing gunung
dengan lembah itu dibuat lubang-lubang.
Sembunyikan pasukan
di dalam situ.
Kesannya lembah kayak kosong.
Nanti begitu musuh masuk,
maka semuanya bisa keluar dari...
padang pasir yang dibuat lubang,
yang ditutup dengan batu-batu,
lalu mereka bisa menyerang
musuh tiba-tiba.
Maka pada saat itu Malik pun
setuju dengan pendapat tadi
dan akhirnya dia membuat...
posko-posko pertahanan tadi.
Tapi unik, digalilah
gunung tersebut,
dan lubang-lubang padang pasir itu
dibuat lubang-lubang di lembah itu,
kemudian dimasukkanlah setiap lubang
sekian jumlah prajurit-prajurit perangnya.
Nanti kalau mereka sudah dengar
ada suara pasukan musuh datang
—maksudnya Muslimin—
maka mereka keluar menyerang.
Dari sisi lain,
Nabi ﷺ bersama pasukan Muslimin sudah bersiap-siap
meninggalkan Mekkah dan menuju ke Hunain juga.
Maksudnya ke kota Thaif.
Dan Nabi ﷺ sempat mengirim
mata-mata beliau.
Dan beliau mendengarkan kalau
Malik ibn Auf juga sudah keluar.
Tapi waktu itu belum ada informasi
kalau mereka sudah membuat benteng di Hunain.
Kejadian tersebut terjadi
di hari kedua dari bulan Syawal.
Hari ini Idul Fitri, besoknya.
Setelah Nabi ﷺ menghabiskan
kurang lebih 19 hari di Mekkah,
bersama Nabi ﷺ keluar pasukan lengkap
dari Muslimin yang datang dari Madinah,
10.000 orang.
dan ditambah lagi 2.000
dari para muallaf yang masih musyrik—
maaf, 2.000 orang bercampur antara muallaf
dan ada yang masih musyrik—
seperti Shafwan bin Umayyah bin Khalaf.
Hanya partisipasi berperang karena
antara Quraisy dengan Hawazin
memang ada persaingan dari dulu,
ada permusuhan sebelum Islam.
Dan Shafwan bin Umayyah bin Khalaf yang keluar karena
membela kaumnya sementara dia masih dalam keadaan musyrik.
Dan ini juga keluar sebuah hukum di sini:
kalau ada pasukan jihad berjalan,
misalnya dari Indonesia keluar
—contoh saja—
kemudian ada warga Indonesia yang ikut
karena ingin membela Indonesia sendiri,
mereka non-Muslim,
itu dibiarkan saja ikut.
Tapi tidak ada urusannya dengan masalah pahala jihad
atau segala macam, tidak ada urusannya masalah itu.
Karena Nabi ﷺ melibatkan
kaum musyrikin pada saat itu.
Tapi mereka tidak punya
peran sama sekali.
Bukan jadi pemimpin pasukan, bukan.
Prajurit biasa.
Nabi ﷺ melihat di pasukan terdapat banyak
dari prajurit tidak punya senjata waktu itu.
Karena yang baru bergabung kurang lebih hampir 2.000 orang
ini nggak punya senjata, yang 10.000 punya senjata.
Dan Nabi ﷺ mengetahui kalau
Shafwan bin Umayyah bin Khalaf
pada saat itu yang masih
dalam keadaan musyrik,
dia punya, sebagaimana saya
jelaskan kemarin,
seperti pabrik atau
tempat produksi senjata perang.
Maka Nabi ﷺ menemui Shafwan,
lalu berkata kepadanya,
“Wahai Shafwan, berilah untukku senjata untuk
melengkapi pasukan yang tidak bersenjata.”
Lalu Shafwan berkata—
Shafwan ini orang yang sudah kalah semestinya,
dan belum masuk Islam pada saat itu,
dia mengatakan,
“Apakah secara paksa, hai Muhammad,
kau minta ini secara paksa karena
kau mau memimpin sekarang...
atau ada cara lain?”
Kata Nabi ﷺ,
“Sama sekali tidak.
Tapi pinjaman,
dengan jaminan, sepenuhnya
akan kembali padamu utuh.”
Artinya:
"Saya pinjam sekarang semuanya,
kemudian nanti akan dikembalikan utuh.
Kalaupun ada yang rusak,
saya akan ganti dengan yang baru."
Maka Shafwan pun setuju.
Dan ini juga menandakan, ada pintu muamalah
dengan orang-orang kafir dalam senjata perang.
Kalau muslimin butuh,
beli dari mereka.
Boleh kita beli,
boleh kita pakai.
Kalau ada di antara mereka yang mau menunjukkan tentang
kantong-kantong tempat orang-orang kafir
—sebagaimana terjadi pada Perang Khaibar—
kita sudah jelaskan, benteng-benteng Khaibar banyak terbuka
justru karena orang-orang Yahudi yang ketakutan,
akhirnya mereka menyampaikan kepada Nabi ﷺ
dan terbukalah benteng-benteng tersebut.
Jadi kita tidak boleh dalam peperangan,
teman-teman, kaku.
Akhirnya kita menganggap,
"Pokoknya kafir, bunuh saja."
Nggak.
Mungkin dia bisa mendapatkan hidayah.
Mungkin dia bisa menjadi petunjuk bagi Muslimin.
Maka harus para pemimpin cerdas
pada saat itu.
Shafwan lalu meminjamkan Nabi ﷺ kurang lebih
3.000 baju besi dan perlengkapan lainnya.
Seperti pedang, tombak,
anak panah, dan seterusnya.
Nabi ﷺ juga melihat ada di antara para prajurit yang tidak
memiliki harta yang cukup untuk melanjutkan perjalanan jihad.
Ini menandakan juga,
teman-teman sekalian,
bahwasanya jihad itu butuh pengorbanan.
Bukan cuma jiwa, tapi juga harta.
Dan pentingnya seorang Muslim
memiliki sumber-sumber harta
yang akhirnya membantu dia
untuk bersedekah.
Membangun masjid, rumah anak yatim, bersedekah,
apa saja dia lakukan, kebaikan-kebaikan.
Karena memang harta ini,
sebagaimana sabda Nabi ﷺ
dalam sebuah hadits:
نِعمَ المالُ الصالحُ للعبدِ الصالحِ
Senikmat-nikmat harta adalah yang halal
yang baik di tangannya orang saleh.
Berarti orang memiliki harta
sehingga mereka bisa berinfak.
Dan tadi dalam surat subuh kita itu,
ustadz Mukhlis sempat membaca masalah ayat infak dan sadaqah,
di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala akan
memberikan perumpamaan kalau orang
berinfak di jalan Allah, maka seperti
dia menanam sebuah bibit
dan memiliki tujuh cabang
ranting pohon.
Dan di setiap cabang juga ada sekian banyak,
ada seratus biji dari hasilnya.
Dan Allah melipatgandakan
siapapun yang Dia inginkan
dari balasan-Nya.
Nabi ﷺ melihat ada sebagian pasukan yang
tidak punya harta untuk melakukan jihad,
maka Nabi ﷺ meminjamkan dari
penduduk Mekkah harta secukupnya
dan akan dikembalikan setelah
pembebasan atau Perang Hunain.
Ini juga sebuah poin penting,
tentang bolehnya seseorang
kalau mau pergi jihad,
meminjam biaya-biaya peperangan,
tetapi dengan keyakinan penuh
kalau akan bisa dikembalikan.
Dalam bab utang juga seperti itu.
Kalau misal contoh,
tiba Idul Adha.
Idul Adha misalnya terjadi
di pertengahan bulan Masehi,
anggap tanggal 15 misalnya,
ini contoh saja.
Dan antum bekerja,
terima gajinya tanggal 30.
Sekarang kita mau kurban,
nggak ada duit.
Bolehkah saya utang dulu?
Jawabannya: boleh saja dia utang.
Karena sudah yakin ada sumbernya.
Tahu itu, dia akan bisa membayarnya.
Kalau tidak dia lakukan sekarang,
mungkin luput.
Karena kalau lewat hari Nahr, tanggal 10 Dzulhijjah,
dan hari-hari Tasyrik tiga hari setelahnya,
maka sudah tidak ada lagi kesempatan untuk berkurban di hari
yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Luput itu.
Sama dengan akikah.
Anak kita lahir,
di hari ke-7 diakikahkan.
Baik, mungkin jatuh temponya
pas di pertengahan bulan.
Kalau kita tidak lakukan, maka lewat hari ke-7
yang merupakan hari yang paling afdal.
Maka dia utang dulu.
Asal dia sudah tahu sumbernya bisa dia bayar,
nggak ada masalah.
Masuk dalamnya juga jihad.
Yang penting seorang muslim,
pada saat utang, dia menulis wasiat.
Ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ:
“Janganlah seseorang yang di antara kalian
memiliki sesuatu yang jadi bebannya nanti di akhirat,
lewat dari tiga hari dibenaknya,
kecuali sudah ditulis dalam bentuk wasiat."
Saya punya utang sama si Fulan,
saya berharap ahli waris saya membayarnya.
Dan tentu dia juga menjalankan
sunnah Nabi ﷺ dalam hadits yang lain:
“Siapa yang utang dengan niat membayarnya,
maka Allah akan memudahkan dia membayarnya.
Dan siapa yang utang tidak niat membayar dari awal,
maka Allah akan mempersulit dia untuk membayarnya."
Dan ini tentu, teman-teman sekalian,
kemuliaan Islam dan Nabi ﷺ,
bagaimana bisa pasukan yang menang,
yang sudah pasti menang,
menguasai Mekkah, memiliki semuanya.
Jadi, satu Mekkah ini sebenarnya
harta rampasan perang.
Tapi Nabi ﷺ, pada saat
sudah memaafkan, selesai.
Orang Mukmin tidak akan
menjilat ludahnya lagi.
Sudah selesai, sudah dimaafkan, bebas.
Tidak ada lagi apa-apa.
Jadi, orang Mekkah
memiliki hak itu.
Lalu Nabi ﷺ utang dari
musuh yang sudah dikalahkan.
Ini sebuah kemuliaan
yang luar biasa.
Nabi ﷺ kemudian
meninggalkan Mekkah
dan meletakkan di Mekkah
sebagai pemimpin,
pengganti beliau,
'alaihi sholatu wasssalam,
adalah seseorang yang masuk Islam,
baru masuk Islam,
sahabat dekatnya Abu Sufyan:
Utab ibn Usaid.
Masih ingat kisahnya, nggak?
Utab bin Usaid yang duduk sama Abu Sufyan
bersama dengan Harith bin Hisham,
yang dia mengatakan waktu
Bilal naik azan dari Ka'bah:
"Bersyukur, Usaid tidak melihat hamba sahaya ini adzan,
naik di atas Ka'bah dan bertakbir."
Maka, ini Utab masuk Islam
bersama dengan Abu Sufyan.
Utab ini memang orang yang dewasa, pintar.
Memang pemimpin, kepala suku.
Maka Nabi ﷺ memberikan dia jabatan.
Ini juga pelajaran penting,
teman-teman sekalian.
walaupun muallaf, tapi kalau orang itu
layak di bidangnya,
dikasih.
Sama juga kasus yang pernah saya ceritakan
tentang Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu.
Baru tiga bulan masuk Islam,
sudah dijadikan pemimpin perang.
Padahal di pasukannya ada Abu Bakar,
ada Umar, ada Utsman, ada Ali,
ada sahabat-sahabat yang senior.
Karena khusus untuk penyerangan suku itu,
Amr bin Ash yang paling menguasainya.
Maka kita di sini melihat,
teman-teman sekalian,
jangan karena dia muallaf
lalu kita mengatakan,
“Sudah, kamu belum bisa.
Ini saja yang senior.”
Nggak.
Islam melihat seseorang
sesuai dengan keterampilannya.
Kemudian Nabi ﷺ juga,
sebagian ahli sejarah mengatakan,
menunjuk Utab, karena Utab
memiliki fisik yang sangat kuat,
menguasai Mekkah.
Dan juga, Nabi ﷺ menemukan dia berakal,
cerdas, dan punya prinsip.
Pada saat dia syahadat,
Nabi ﷺ tahu orang ini tidak akan murtad.
Karena orang yang punya prinsip.
Sekali berpegang pada sesuatu, dia berpegang.
Pasukan Muslimin waktu itu
berjumlah 12.000.
Dan juga pasukan kafir, 12.000.
Tetapi, pasukan kafir ini,
pasukannya Malik bin Auf,
karena membawa istri
dan anak-anak mereka,
jumlahnya jadi 30.000.
karena ada perempuan
dan ada anak-anak.
Di tengah-tengah pasukan,
tersebar berita pada saat itu.
Mulai sahabat waktu melihat
pasukan jalan, 12.000 orang.
Belum pernah pasukan
muslimin sebesar itu.
Baru kali itu.
Sebagian sahabat,
bahkan sebagian ulama mengatakan
mayoritasnya sahabat,
berbicara,
bukan niat sombong.
Tapi mereka mengatakan,
“Kami tidak akan terkalahkan dengan jumlah ini.”
Maka, kalimat-kalimat ini
membuat sebagian besar mereka akhirnya
mengembangkan kalimat itu sambil mengatakan,
“Musuh mana pun tidak ada yang bisa mengalahkan ini.”
Dan ini dalam Islam
namanya shamāṭah.
Shamāṭah itu artinya
menganggap remeh orang lain.
Hati-hati,
teman-teman sekalian.
nanti kita ambil pelajaran besar
dari kasus Hunain ini.
Poin ini sangat penting.
Musuh pun, tidak boleh
kita menganggap remehnya.
Nggak boleh.
Musuh, jelas-jelas kita akan berperang,
nggak boleh kita anggap remeh.
“Kami Muslim, kami pasti akan menang.”
Nggak boleh ada kalimat itu.
Kalimat itu saja, sudah cukup
bisa berbahaya buat kita.
Maka kita berperang, berperang ikhlas
karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan pasrahkan kepada Allah.
Masalah Allah berikan kemenangan,
nggak berikan kemenangan,
maka, itu kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tugas kita ikhtiar.
Abu Bakar radhiallahu 'anhu
sempat berkata kepada Nabi ﷺ:
“Demi Allah, wahai utusan Allah,
kita tidak akan dikalahkan
dengan jumlah sebanyak ini.
Bila kita kalah,
maka pasti karena sebab lainnya.”
Nabi ﷺ diam saja dengan
perkataan-perkataan seperti ini.
lalu pasukan sempat melewati sebagian
suku Arab yang masih menyembah berhala.
Dan mereka menjadikan pohon terbesar di wilayah
mereka sebagai sesembahan selain Allah Yang Maha Kuat.
Sesembahan mereka ini
diberikan nama Dzatu Anwath.
Sebagian dari pasukan yang baru masuk Islam,
tiba-tiba berkata,
“Wahai utusan Allah,
buatkanlah kami Dzatu Anwath
sebagaimana mereka juga memilikinya.”
Jadi, pohon itu kebetulan dijadikan sebagai tempat
menggantungkan pedang, menggantungkan perisai,
mohon-mohon sama pohon tersebut.
Syirik kepada Allah, kufur.
Tapi mereka muallaf,
baru masuk Islam.
Maka Nabi ﷺ
menjawab, mengatakan:
Allahu Akbar!
Sungguh kalian telah
mengucapkan kalimat
seperti yang diucapkan oleh
Bani Israil kepada Musa 'alaihissalam.”
Mereka mengatakan,
pada saat baru depan matanya,
Allah tenggelamkan Fir'aun—
mereka semua saksikan—
waktu mereka menuju ke Palestina,
mereka temukan ada satu suku
lagi menyembah-nyembah berhala.
Lalu mereka (Bani Israil) sempat bilang:
“Wahai Musa,
اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌۗ
“Wahai Musa, buatkan kami Tuhan-Tuhan
seperti Tuhan-Tuhannya orang-orang ini.”
Maka Musa ‘alaihissalam marah, mengatakan:
اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ
“Sungguh kalian kaum yang sangat bodoh.
Baru saja Allah tenggelamkan Fir’aun depan mata,
masih minta Tuhan selain Allah?”
Maka Nabi ﷺ mengatakan:
“Sungguh demi Allah, kalian telah meminta sesuatu
seperti yang diminta Bani Israil...
kepada Musa ‘alaihissalam.”
Nabi ﷺ lalu memerintahkan sahabat-sahabat ini,
atau orang-orang yang baru masuk Islam ini,
untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan mereka pun akhirnya baru memahami
kalau itu adalah hal yang tidak boleh.
Saat Nabi ﷺ tiba di sekitar lembah,
sudah melihat dari atas tempat yang tinggi,
karena Thaif itu adalah gunung-gunung,
puncaknya gunung itu, di situ kotanya, gitu.
Nabi ﷺ sudah melihat lembah Hunain
dan tidak tahu kalau di bawah ini
sudah ada pasukan-pasukan Malik bin Auf
yang membuat lubang-lubang tersembunyi.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar
seorang sahabat mendaki bukit tertinggi,
dan memantau keadaan pasukan Hawazin.
Ia tidak boleh pindah dari atas kudanya
kecuali shalat atau hajat mendesak saja.
Ada satu orang disuruh naik ke atas
gunung yang tinggi sekali, sahabat.
Tugasnya tidak boleh
turun dari kuda.
Di situ saja, pantau.
Dia hanya boleh turun kalau mau
shalat atau ada hajat mendesak.
Maka sahabat itu pun melakukannya.
Ia terus saja sampai malam memantau,
tetapi pasukan Hawazin tidak terlihat.
Ia lalu turun di malam hari dan melaporkan kepada Nabi ﷺ
bahwa tidak melihat pasukan Hawazin.
Di sini tidak diketahui kalau Hawazin
sudah ada di lembah sebenarnya.
Dari sisi musuh,
Duraid bin Shumma
yang matanya sudah buta
dan berumur 160 tahun tadi,
memerintahkan agar seluruh wanita dan
anak-anak menunggangi semua unta dan kuda
yang mereka bawa dari
Hawazin tanpa penunggangan.
Jadi biasanya di kancah peperangan dulu,
teman-teman sekalian,
misalnya saya kalau pergi berperang
saya bawa kuda satu
untuk saya tunggangi,
saya bawa kuda cadangan—
dua ekor, tiga ekor kuda.
Satu orang bisa bawa kuda lebih,
atau dia bawa unta.
Karena ini tujuannya
kalau kudanya mati,
kudanya hilang, dicuri orang, segala macam,
dia masih punya kuda tunggangan yang lain.
Duraid lalu berkata:
"Pasukan musuh tidak akan membedakan
apakah wanita atau anak-anak
kalau mereka berada
di atas kuda atau unta.
Bahkan mereka tidak bisa membedakan
apakah itu perempuan atau laki-laki.
Maka letakkanlah seluruh
wanita dan anak-anak
di unta-unta,
tapi di bagian belakang pasukan."
Dan strategi ini sempat berhasil karena,
tadinya pasukan musuh yang jumlahnya
hanya sekitar 12.000,
itu terlihat seperti
kurang lebih 30.000 pasukan.
Jadi banyak sekali.
Pasukan Hawazin yang sembunyi di lembah,
dan mereka—
pada saat itu membuat lubang-lubang
seperti yang saya bahasakan tadi,
Malik bin Auf memerintahkan
agar semua sarung pedang dibuang.
agar tidak ada alasan untuk
menghindari peperangan,
dan ia menitahkan agar pasukannya
menyerang dengan satu serangan saja.
Nabi ﷺ saat melihat
lembah kosong,
tidak ada orang
di lembah itu,
maka Nabi ﷺ memerintahkan
agar 1.000 prajurit
Muslimin dari suku Sulaim, semuanya,
dipimpin oleh Khalid bin Walid
turun ke lembah duluan.
Tapi karena lembah Hunain
ini terjal sekali, ya.
Mungkin di Google bisa ditemukan kalau ditulis “Lembah Hunain,”
insyaAllah akan keluar gambarnya itu.
Jadi memang dia gunung, ada banyak gunung-gunung,
lalu terjal sekali ke bawah.
Dan di bawah itu adalah lembah yang sangat luas.
Di situ terjadi peperangan.
Jadi orang kalau
turun dari atas,
sementara ada pasukan
di atas menunggu...
1.000 orang turun—
pasukan Khalid bin Walid ini...
pada saat mereka turun, yang di atas tidak tahu
apa yang terjadi pada pasukan Khalid ini karena terjalnya.
Pada saat itu,
turunlah Khalid bin Walid
ke lembah.
Tiba-tiba saja,
pada saat 1.000 pasukan tersebut
sudah turun di lembah,
Nabi ‘alaihi sholatu wassalam memerintahkan
setelah melihat sudah turun semuanya,
turun lagi nyusul yang lainnya.
Tambah lagi 1.000 orang.
Maksudnya bertahap turunnya.
Tapi rupanya,
di bawah ini, Malik bin Auf
sudah berusaha menunggu.
Dan begitu dia lihat pasukan
Muslimin sudah mulai turun,
sebelum memposisikan kaki yang tepat
di lembah Hunain,
maka tiba-tiba saja diserang.
Dan serangan tersebut betul-betul luar biasa
karena membuat pasukan suku Sulaim dari Muslimin
kocar-kacir.
Karena tiba-tiba.
Kuda mereka masih, sementara,
turun ke bawah,
dan turun ini terjal,
apalagi padang pasir.
Bukan batu-batuan, tapi padang pasir
yang memang bisa licin dan seterusnya.
Pada saat itu,
teman-teman sekalian,
pasukan Muslimin dari Sulaim ini kocar-kacir.
Dan Ada di antara mereka yang berusaha kembali lari ke atas.
Waktu mereka berusaha kembali ke atas,
dan ada pasukan Muslimin yang turun dari atas,
maka bentrok satu sama yang lain.
Dan mereka menyampaikan kalau di bawah
sudah ada pembantaian Muslimin.
Pada saat itu,
teman-teman sekalian,
karena luasnya lembah itu,
dan juga pasukan Muslimin turun 1.000—
jumlahnya 1.000, banyak,
1.000 orang turun—
sudah tidak kelihatan lagi dari atas.
Turun lagi 1.000, jadi ini nonstop turun terus.
Sehingga yang dari atas pun turun,
tidak tahu apa yang terjadi di bawah.
Maka ada di antara mereka yang terbunuh
di tangan pasukan atau suku Hawazin.
Ada di antara mereka
yang melarikan diri.
Dan tersebar berita pada saat itu
di pasukan Muslimin,
kalau pasukan musuh sudah menyerang di bawah
dan terjadi kekacauan yang luar biasa.
Apalagi mereka ada yang
mengatakan bahwasannya,
"Terbunuhlah si Fulan!
Terbunuhlah si Fulan!"
Tersebar berita-berita.
Kebetulan juga,
sebagaimana sudah kita jelaskan
pada saat awal akan menyerang Mekkah,
suku Sulaim ini muallaf,
orang baru masuk Islam.
Mereka baru masuk Islam, jumlahnya juga 1.000 orang ini,
semuanya baru masuk Islam dengan kepala suku mereka.
Maka dengan kejadian pukulan seperti itu,
mereka pun kocar-kacir, lari semuanya.
Akhirnya, Nabi ﷺ yang turun.
Nabi juga turun bersama para sahabat.
Dan pada saat itu,
Nabi ﷺ melihat semuanya pada bubar—
para sahabat ini.
Pasukan musuh pada bersorak-sorak
di bawah lembah,
menunggu, gitu.
Maka Nabi ﷺ tetap turun,
dan pada saat beliau turun,
sendirian waktu itu Nabi ﷺ,
karena sahabat-sahabat
banyak yang kocar-kacir.
Maka Nabi ﷺ berteriak dengan
suara yang keras, mengatakan:
“Kumpullah di sekitarku,
wahai hamba-hamba Allah!”
Tetapi karena kekacauan
sangat luar biasa pada saat itu,
dan pada saat itu...
orang pada berlari-lari,
maka para sahabat senior
saja yang bertahan.
Di sebagian buku sejarah dikatakan bahwasannya
yang tertinggal bersama Nabi ﷺ hanya 100 orang,
dari 12.000.
Sisanya semua lari.
Bahkan ada di antara para muallaf yang dari Mekkah,
yang dari 2.000 orang itu,
itu melarikan diri
sampai ke Mekkah.
Ya.
Pada saat itu, ada seseorang yang bernama
Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah.
Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah ini,
ayahnya mati terbunuh di tangan Muslimin.
Dia pura-pura masuk Islam hanya untuk
membalas kematian ayahnya.
Dan ia ikut di Hunain hanya untuk
mencari kesempatan membunuh Nabi ﷺ.
Jadi ini kejadian mukjizat yang lain.
Waktu Nabi ﷺ lagi sendirian,
dan memanggil para sahabat
untuk berkumpul,
sementara proses 100 orang yang
bersama Nabi ﷺ ini berkumpul,
orang ini,
melihat kesempatan itu.
Nabi ﷺ sendirian—
Syaibah ini.
Maka dia menghunuskan pedangnya,
lalu mendekati Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ melihatnya, lalu berkata padanya:
“Ada apa denganmu, wahai Syaibah?”
Kata dia:
“Aku ingin membelamu, wahai Utusan Allah.”
Nabi ﷺ berkata:
“Beristighfarlah kepada Allah.”
Waktu itu Nabi sendirian.
Sahabat lagi tidak ada.
Syaibah beristighfar, mengatakan:
“Astaghfirullah.”
Lalu Nabi ﷺ meletakkan tangannya
yang mulia di dada Syaibah.
Yang saat telapak tangan Nabi ﷺ diangkat,
Syaibah pun berkata:
“Tiba-tiba aku menemukan Nabi ﷺ
manusia yang paling aku cintai,
padahal sebelumnya
aku sangat membenci dia.
Dan aku tiba-tiba merasa dadaku
terlapangkan buat Islam."
Dan sekarang terbalik.
gara-gara perbuatan
Nabi ﷺ ini,
maka Syaibah,
balik...
menghunuskan pedangnya tadi.
pedang yang tadinya
untuk membunuh Nabi ﷺ,
dia membela Nabi ﷺ.
Jadi berdua dengan Nabi.
Kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sampai akhirnya terkumpullah
sahabat-sahabat Nabi di situ.
Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali,
Thalhah, Zubair, berkumpul semua.
Termasuk paman Nabi ﷺ, Abbas—
yang kurang lebih tadi saya katakan
jumlah mereka 100 orang.
Maka Nabi ﷺ berkata kepada Abbas,
"Wahai Abbas,"
panggillah orang-orang.
Suruh mereka kembali."
Abbas ini, saya sudah katakan kemarin,
suaranya sangat lantang, keras.
Sampai kalau dia mau panggil pengembala
dombanya dari depan rumahnya saja.
suaranya kedengaran
di padang pasir.
Abbas pula memanggil,
“Wahai hamba-hamba Allah! Kumpullah!
Ini adalah utusan Allah!”
Tapi masih saja pasukan
berserakan, nih.
Karena kacau ini.
Kalau mereka lagi lari,
ini susah untuk ditahan.
Maka pada saat itu tidak berkumpul,
serta umumnya masih melarikan diri.
Nabi ﷺ mengatakan,
“Wahai Abbas, panggil!
Katakan: Wahai orang-orang yang telah
berbaiat di bawah pohon, kumpullah!”
Yang 1.400 orang di kesepakatan Hudaibiyah,
yang juga ikut di Khaibar.
"Panggil mereka!"
Maka Abbas mengatakan,
“Wahai para pembaiat
di bawah pohon!
Mana baiat kalian?!”
Mendengarkan kalimat
“Baiat Ridwan,”
dan sudah pernah kita jelaskan
pada saat kesepakatan Hudaibiyah,
kalau Nabi ﷺ setelah dibaiat,
para sahabat meletakkan tangan
di atas tangan Nabi ﷺ, lalu mengatakan:
“Aku janji setia, ya Rasulullah,
hidup-mati untuk agama Allah.”
Maka Nabi ﷺ mengatakan:
“Tidak ada seorang pun di antara kalian
kecuali pasti ahli surga.”
Ada jaminan surga.
Begitu dipanggil,
“Wahai ahli Baiat Ridwan!
Wahai ahli Syajarah!
Yang baiat di bawah pohon!”
Maka para sahabat tiba-tiba mulai mendengarkan.
Tersebar berita,
“Rasulullah memanggil ahli Syajarah!
Ahli Syajarah dipanggil!”
Sebagian mereka menceritakan kejadian tersebut.
Saat Nabi ﷺ memanggil
para pembaiat di bawah pohon,
sebagian dari mereka sedang melarikan diri
dan tidak bisa lagi menghentikan kudanya—
yang sedang berlari kencang.
Maka ia pun loncat dari kudanya—
dan kembali ke kancah peperangan,
dan akhirnya bergabung dengan Nabi ‘alaihi sholatu wassalam.
Tapi karena suara,
walaupun suara Abbas besar, lembah Hunain luas,
kancah peperangan,
perang lagi berkecamuk,
maka yang berkumpul—
saya katakan tadi, hanya 100 orang saja.
Dan uniknya,
di antara 100 orang itu,
ada 2 wanita.
Namanya Ummu Umarah.
Ini terkenal.
Nusaibah binti Ka'ab radhiyallahu 'anha.
Ini memang wanita,
hampir semua peperangan Nabi ﷺ hadir.
Ummu Umarah.
Yang pada saat Nabi ﷺ
di Perang Uhud mengatakan,
“Waktu seluruh anak-anak panah
dan tombak-tombak Quraisy
terarahkan padaku di Uhud,
aku menemukan Ummu Umarah
atau Nusaybah binti Ka'ab," radhiyallahu 'anha,
"itu Nusaybah binti Ka'ab mematah-matahkan
anak panah dan tombak tersebut."
Dia bersama dengan Ummu Hakim.
Maka Ummu Umarah berkata,
“Wahai Rasulullah,
apakah kami bisa menghukum mati para prajurit
yang melarikan diri dari kancah peperangan?”
Jadi ini luar biasa imannya
perempuan ini.
Waktu dia lagi membela Nabi ﷺ
bersama dengan sahabat Nabi yang 100 orang,
sambil menangkis-nangkis serangan musuh,
Ummu Umarah mengatakan,
"Ya Rasulullah,"
boleh nggak kami, setelah ini,
kalau kami menang,
kami menghukum mati semua orang
yang lari dari kancah peperangan itu?”
Kata Nabi ﷺ,
“Tidak perlu.
Biarkan saja mereka.
Nanti ada hukum tersendiri."
Sementara Ummu Hakim,
siap dengan pedangnya di tangannya.
Dan ditanya oleh Nabi ﷺ,
“Apa yang kau lakukan dengan pedangmu, hai Ummu Hakim?”
Kata Ummu Hakim,
“Bila aku menemukan siapapun dari musyrik
di depanku, maka aku
akan menyobek perutnya.”
Maka Nabi ﷺ tersenyum dengan
keputusan Ummu Hakim itu,
sambil mereka terus menangkis
serangan-serangan musuh.
Jadi cuma 100
melawan 12.000 pasukan itu.
Tapi subhanallah,
pada saat genting seperti itu,
pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala datang.
Para malaikat yang maha suci.
Mereka turun.
Diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Para malaikat diturunkan oleh Allah
Yang Maha Suci dan Maha Perkasa dari langit.
Kaum Muslimin
pada saat itu
sempat melihat
warna hitam
di langit,
gelap.
dan saat warna hitam
itu mendekati lembah,
dan tersebar di seluruh lembah,
ada salah seorang
dari mereka mengatakan,
“Kami kesulitan membersihkan
lebah-lebah hitam
yang menempel di badan
salah seorang di antara kami.”
Jadi pada saat itu tiba,
ternyata,
warna hitam itu mendekati lembah.
Dan yang menimpa Muslimin adalah
seperti lebah-lebah warna hitam.
Dan mereka berusaha membersihkan,
saking banyaknya lebah-lebah itu.
Tapi,
Orang-orang Hawazim, nanti ada di antara mereka
yang masuk Islam menceritakan masalah itu.
Di antaranya Malik bin Auf nanti masuk Islam,
pimpinan perang mereka.
Itu menyaksikan
banyak sekali
pasukan berkuda putih
Yang di atas kuda tersebut terdapat laki-laki
menggunakan baju-baju yang berwarna putih dan berbadan kekar,
serta mereka bercahaya.
Ini tentu pasukan malaikat yang datang
membantu Nabi ‘alaihi sholatu wassalam,
karena pasukan
kocar-kacir pada saat itu.
Saat melihat kejadian tersebut,
Hawazin ketakutan
karena jumlah pasukan
malaikat banyak sekali.
Walaupun tidak disebutkan jumlahnya.
Kalau di Perang Badar disebutkan
tentang jumlah mereka,
berapa ribu malaikat yang datang,
tapi di sini tidak disebutkan.
Tetapi,
pasukan malaikat penuh
di lembah tersebut.
Maka pasukan Hawazin, waktu melihat
pasukan malaikat datang, mereka pun bubar.
Lari, kocar-kacir sekarang.
Seluruh lembah
pada saat itu
penuh dengan ghanimah.
Spontan saja mereka
lari semuanya,
meninggalkan pedang, perisai,
segala macam.
Dan seperti yang
dikatakan oleh Duraid,
kalau pasukan pada
saat kocar-kacir,
mereka tidak akan membawa lagi
atau memikirkan istri dan anak-anak mereka.
maka akhirnya,
tertinggallah seluruh
unta-unta dan kuda Hawazin,
wanita mereka,
anak-anak mereka,
dan tinggal laki-lakinya.
Semuanya mereka melarikan diri,
termasuk Malik bin Auf sendiri
melarikan diri.
Pada saat itu mereka lari
ke ujung lembah Hunain.
Kemudian mereka naik ke atas posisi gunung
yang cukup tinggi pada saat itu.
Kemudian Malik mulai lagi
mengumpulkan kekuatan.
"Kita berkumpul dulu.
Pedang-pedang dan perisai
kita semuanya ada di bawah.
Anak perempuan kita di bawah.
Kita harus melawan lagi."
Pada waktu yang bersamaan,
Muslimin yang tadinya
kocar-kacir itu,
mulai masuk.
Mulai masuk bersama Nabi ﷺ.
Lalu,
Nabi ﷺ memerintahkan,
“Kejar!”
Dikejarlah oleh sebagian sahabat.
Lalu kemudian,
Malik bin Auf
terus mengumpulkan pasukannya,
mengatakan,
“Biarkan.
Mereka menyerang, biarkan.
Kita kumpul terus.”
Sampai jumlah mereka terkumpul,
waktu itu Malik bin Auf, kurang lebih 10.000 orang.
Karena mereka jumlahnya 12.000.
Mereka kumpul 10.000 orang.
Lalu pasukan Muslimin,
karena Nabi ﷺ mengatakan,
“Siapa yang sudah masuk lembah, kejar Malik bin Auf! Kejar!”
Jadi ada yang 2 orang, ada 5 orang,
ada 10 orang, ada 100 orang, kejar.
Jadi pasukan Muslimin
tidak berkumpul jadi satu.
Maka setiap kali ada pasukan
Muslimin yang mendekat,
kata Malik bin Auf,
“Kira-kira dari suku mana itu?
Siapa yang menyerang ini?"
Mereka bilang,
"Dari ciri khasnya, ini suku Sulaim."
Rupanya suku Sulaim ini,
mereka punya ciri khas dikenal.
Setiap suku Arab dulu
punya ciri khas dalam berperang.
Di antaranya suku Sulaim ini meletakkan
cemeti mereka di bagian kepala kuda.
Jadi tempat meletakkan anak panah,
itu bukan ditaruh di punggung belakang,
tapi ditaruh di bagian kepalanya kuda.
Di depan, untuk mudah diambil.
Itu ciri khasnya suku Sulaim.
Maka mereka tahu dari situ, gitu.
Maka kata Malik bin Auf,
“Biarin saja. Suku Sulaim bukan ahli perang.
Kumpul aja terus."
Selang beberapa waktu,
datang lagi beberapa orang
dari muslimin,
lalu ditanya oleh Malik bin Auf,
"Siapa mereka ini?"
Kata orang-orang,
“Ini adalah penduduk Madinah,
dari sahabat-sahabat Muhammad.”
Dan ciri mereka, mereka meletakkan
cemeti panah mereka di bagian belakang kuda.
Jadi caranya untuk mengambil anak panah,
mereka dari belakang, ambil.
Itu penduduk Madinah,
ciri khasnya.
Kata Malik,
“Tidak usah khawatir. Tetap berkumpul.
Kita masih bisa
melawan mereka.”
Selang beberapa waktu, datang lagi kelompok
Muslimin yang ketiga, jumlahnya lebih besar lagi.
Dan mereka meletakkan cemeti mereka
di bagian kuping kudanya.
Jadi diikat dengan bagian
tali pinggirnya itu ada
cemeti ditaruh di situ,
tempat peletakan anak-anak panah.
Maka Malik bertanya,
“Siapa mereka ini?”
Kata mereka,
“Sahabat Muhammad, tapi dari penduduk Mekkah.”
Lalu Malik bertanya lagi,
“Siapa yang bersama mereka itu
yang memiliki imamah berwarna kuning?”
Kebetulan di pasukan
penduduk Mekkah,
ada satu orang ikut,
tapi imamanya kuning.
Maka mereka berkata,
“Itu Zubair bin Awwam.”
Apa kata Malik?
“Kalau begitu sekarang lari!”
Kenapa terjadi ini,
teman-teman sekalian?
Rupanya Malik bin Auf ini
punya kisah sendiri dengan Zubair.
Zubair bin Awwam orang yang sangat berani,
Yang kita sudah ceritakan di Perang Khaibar,
bagaimana dia membunuh tokoh-tokoh Yahudi.
Dan setiap kali perang berkecamuk,
pasti dia selalu di depan.
Baru takbir,
dia serang sendiri pasukan musuh.
Pemberani sekali.
Di masa kecil,
Malik bin Auf ini pernah duel,
berantem-berantem sama
Zubair dan selalu kalah.
Selalu kalah.
Maka dia begitu lihat Zubair,
dan disampaikan itu adalah Zubair,
dia lari.
karena secara pribadi punya—
ketakutan masa kecil.
Hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka pada saat itu,
gara-gara kejadian tersebut,
Malik tidak jadi melawan.
Pergi, lari.
Malik waktu itu melarikan diri
ke wilayah Lay, namanya,
yang merupakan benteng terkuat
di wilayah kota Thaif.
Nabi ﷺ berkata kepada
para sahabat,
“Carikan untukku Khalid bin Walid.”
Jadi sudah, waktu lembah sudah
dikuasai oleh Nabi ﷺ,
sahabat sudah mulai berkumpul,
suruh cari Khalid bin Walid.
Perlu kita review kembali,
Khalid bin Walid memimpin pasukan Sulaim.
Suku Sulaim waktu awal turun di lembah,
Kan langsung diserang tiba-tiba.
Suku Sulaim kan bubar,
Khalid bin Walid rupanya jadi korban pada saat itu,
radhiyallahu 'anhu.
Dikatakan dalam riwayat-riwayat sahih, bahwasanya
tidak tertinggal satu pun celah di badan
Khalid bin Walid kecuali kena sabetan pedang,
dan tombak,
ataupun anak panah.
Jadi sudah dalam keadaan
seperti orang sakarat,
radhiallahu 'anhu,
pada saat itu.
Maka Nabi ﷺ datang.
Pada saat melihat
Khalid sudah ditemukan,
maka beliau pun, ‘alaihi sholatu wassalam,
berdoa kepada Allah,
lalu menyemburkan ludah beliau
ke seluruh lukanya Khalid.
Tapi ingat,
ini ludah siapa?
Rasulullah ﷺ.
Kemudian beliau pun mengusap ludah tersebut
di seluruh lukanya Khalid bin Walid.
Dan Subhanallah,
pada saat itu,
lukanya sembuh semua,
dan para sahabat menyaksikan.
Padahal sabetan-sabetan pedang,
tombak,
ada yang lubang, anak panah,
luka di wajahnya pun penuh.
Tapi Nabi ﷺ,
dengan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala,
berhasil menyembuhkan itu.
Lalu Nabi ﷺ. berkata kepada Khalid,
“Bangunlah dan pimpinlah peperangan.”
Maka Khalid pun tiba-tiba bangun
dan menyerang musuh.
Duraid bin Shumma,
salah satu yang melarikan diri—
yang orang tadi tua, buta,
160 tahun umurnya,
itu lari dengan pemikul-pemikulnya,
orang yang memikul.
Lari dari kancah perperangan.
Tapi karena ia buta,
pada saat itu,
dia cuma bisa bilang,
“Mau ke mana?
Pasukan sudah kalah, larilah!"
Nah, karena rupanya pemikul-pemikul
dia ini merasa berat,
maka ditinggal.
Ada sebagian atsar menyebutkan,
Duraid ini, dia berada di atas unta.
Jadi cuma ada satu orang
yang pegang tali kekangan untanya.
Itu lari orangnya.
Maka dia (Duraid) pegang tali unta tersebut,
tapi karena dia buta, dia tidak tahu
ke arah mana unta ini
mau diarahkan.
Uniknya pada saat itu,
dia mengarahkan untahnya
ke arah pasukan Muslimin.
Maka dia ditangkap oleh satu prajurit Muslim,
namanya Rabiah bin Rufai’ Al-Aslami.
Rabiah bin Rufai al-Aslami.
Dan ini orang,
Rabiah ini orang
yang masih sangat muda,
umurnya juga masih
di bawah 30 tahun,
tidak punya pengalaman perang.
Sebagian buku menyebutkan
Rabiah ini baru ikut perang di situ.
Pembebasan kota Mekkah,
lalu perang yang pertama kali di sini.
Maka, dia melihat di atas
unta ini ada kotak.
Dia lihat untanya musuh,
ada kotak di atas.
Dia pikir di dalamnya
ini perempuan.
Mungkin wanita, anak kecil.
Maka Rabiah kaget waktu dia
lihat suara laki-laki,
Duraid.
Lalu Rabiah menurunkan kotak itu,
karena Duraid orang yang kecil sekali.
Sudah 160 tahun,
badannya mengecil.
Diturunkan kotak tersebut,
lalu dibuka tirainya.
Kemudian Rabiah karena belum punya
pengalaman dalam membunuh,
dia lalu memukul
ke arah lengannya Duraid,
ambil pedang, dia mau bunuh
sebenarnya niatnya.
Tapi belum berpengalaman,
titik mana yang dia harus tekan
supaya bisa mati,
maka dia mengarahkan pedang,
kena lengan kanannya.
Jadi saking kerasnya
badannya Duraid ini,
dan tinggal tulang-tulang saja, gitu.
keras sekali,
sampai tidak mempan itu.
Tebasan pedang,
mungkin karena tidak terlalu keras,
seperti pedangnya mental.
Lalu kemudian pada saat itu
keluar sedikit darah, luka sedikit.
Duraid berkata kepada Rabiah,
“Siapa namamu?”
Dia mengatakan,
“Saya Rabiah.”
Duraib berkata,
“Bukan begitu caranya membunuh, hai anakku.”
Maka Duraid mengajarkan Rabiah,
“Begini caranya membunuh.”
Lalu Duraid mengatakan,
“Hai anak muda,
jangan pakai pedangmu, karena pedangmu
kurang bagus untuk membunuh.”
Kata Duraid,
“Sini pedangmu dulu.”
Dilihatkan.
Karena dia orang buta,
Rabiah kasih, gitu.
Dipegang sama dia,
“Nggak bagus pedangmu ini,
nggak bisa dipakai membunuh.”
Lalu dia ambil pedangnya.
Dia bilang, “Ini pakai pedang saya, membunuh.”
Kata si Duraid ini.
Diambillah pedangnya tersebut,
lalu kemudian Duraid mengajarkan:
"Cara membunuh itu seperti ini:
tusuklah bagian ulu hati,
tusuklah bagian perut, tebaslah leher.”
Dia ajarkan, tapi dia dengan
memberikan isyarat saja.
Lalu kemudian setelah
mengajarkan instruksi seperti itu,
lalu kemudian Duraid berkata,
“Sekarang kamu coba praktekin.”
Suruh bunuh dirinya.
Tapi sebelum dibunuh,
maka Duraid berkata,
“Bila aku terbunuh,
sampaikan kepada ibumu,
kenanglah bagaimana
para wanita terselamatkan.”
Kebetulan, Duraid ini
mengenal ibunya Rabiah.
Karena dia sudah senior, tua,
dia rupanya dulu pernah punya jasa.
Duraid ini pernah menyelamatkan
wanita-wanita dari Mekkah
pada saat satu waktu
dalam peperangan besar
melawan Hawazin—
Quraisy melawan Hawazin.
Maka akhirnya Duraid menyelamatkan
wanita-wanita Quraisy, disuruh pergi.
Salah satunya ibunya Rabiah ini.
Tapi Rabiah tidak
mengerti masalah itu.
Dia mengetahui instruksi adalah bunuh orang kafir,
maka dibunuhlah Duraid ini. Mati.
Tapi uniknya dia yang
ajarkan cara untuk membunuh.
Ini orang kafir unik ini.
Maka setelah pulang ke Mekkah,
Rabiah menceritakan kejadian tersebut.
Maka ibunya Rabia sempat menangis.
Lalu Rabiah bertanya,
“Apa gerangan?
Kenapa Anda menangis, Ibu?"
Kata ibunya,
“Dulu di masa Jahiliyah,
ibu beserta sebagian keluarga
dari kalangan ibu-ibu Mekkah tertawan
dan Duraid-lah yang menyelamatkan kami.”
Sebagian buku sejarah juga menyebutkan
kalau Rabiah waktu itu umurnya masih 16 tahun.
Jadi tidak punya
pengalaman sama sekali.
Rabiah lalu mengatakan
pada ibunya,
“Aku benar-benar tidak
mengerti masalah itu.
Aku cuma tahu...
kita di kancah peperangan
boleh membunuh orang kafir.”
Seperti itulah.
Ringkas cerita,
teman-teman sekalian,
terkumpullah ghanimah pada saat itu,
kurang lebih 40.000 domba,
24.000 unta.
Ini sebagian buku sejarah menyebutkan,
ini riwayat yang paling kuat sebenarnya:
terkumpul 40.000 domba,
24.000 unta,
8.000 wanita,
dan ada 10.000 anak-anak.
Serta lembah itu penuh dengan emas dan perak
dan tidak bisa terhitung lagi jumlahnya.
Seperti yang dikatakan oleh Duraid,
yang kalah pasti tidak akan pernah bisa membawa apa-apa.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan untuk
mengumpulkan seluruh ghanimah tadi.
Dikumpulkan di sebuah wilayah,
namanya—
Bi’rana atau Ji’ranah.
Nabi ﷺ memerintahkan agar Hudhail
atau Hudhail bin Warqa—
ini dari suku, kepala suku Khuza'ah
yang memimpin pada saat itu sukunya,
untuk mengumpulkan seluruh ghanimah
dan kemudian membawanya di hadapan Nabi ﷺ,
atau membawanya ke Bi’rana.
Dan disuruhlah
Hudhail bin Warqa radhiallahu 'anhu,
yang merupakan kepala suku Khuza'ah,
Untuk menjaga itu.
Baik, kita akan tutup,
teman-teman sekalian, dengan...
penyerangan terhadap kota Taif.
Nabi ﷺ lalu menggerakkan seluruh pasukan
yang sudah berkumpul untuk menuju kota Thaif.
Karena,
lembah Hunian sudah dikuasai.
Pasukan musuh sudah melarikan diri,
Malik bin ‘Auf juga melarikan diri dan sembunyi di benteng,
sebagaimana sudah kita jelaskan, di kota Thaif.
Saat tiba di depan kota Thaif,
pintu gerbang utamanya
dikepung oleh Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ memerintahkan agar seseorang
yang bernama Yazid bin Zum’ah
Yazid bin Zum’ah ini,
radhiallahu 'anhu,
agar bernegosiasi dengan
penduduk kota Thaif,
dengan menawarkan Islam.
Bila mereka menolak,
mereka harus bayar upeti.
Bila mereka menolak,
maka barulah terjadi peperangan.
Saat mendekati benteng,
tiba-tiba seseorang yang bernama
Huzail bin Abi Sharah
melemparkan anak panahnya
yang akhirnya membunuh
Yazid bin Zum’ah,
radhiallahu 'anhu.
Mati syahid.
Sementara sudah disepakati,
seperti sebuah kesepakatan
internasional waktu itu,
setiap utusan perang,
utusan untuk membawa surat segala macam,
tidak boleh dibunuh.
Kalau dibunuh,
berarti sudah iklan perang.
Nabi ﷺ dengan ini mengetahui kalau
penduduk Thaif tidak ingin bernegosiasi
Dan siap perang, karena sampai pada tingkat
membunuh utusan Nabi 'alaihi sholatu wassalam.
Pada saat itu juga,
Nabi ﷺ mempersiapkan Muslimin.
Muslimin dipersiapkan oleh Nabi ﷺ.
Huzail bin Abi Sharah—
yang telah membunuh Yazid bin Zum’ah—
keluar dari benteng
sambil menunggangi kuda,
dengan maksud ingin
memata-matai muslimin.
Jadi tadi yang membunuh
dengan anak panah itu,
dia turun.
Ini salah satu
kesatrianya kota Thaif.
Hudhail juga namanya.
Lalu dia keluar untuk memata-matai Muslimin,
tapi ternyata tertangkap oleh seseorang yang bernama...
Ya’qub bin Zum’ah.
Ini saudaranya tadi
yang dibunuh itu.
Yang merupakan saudara kandungnya Yazid.
Nabi ﷺ lalu memberi kesempatan pada Ya’qub
untuk membalas kematian saudaranya.
Maaf.
memberikan kesempatan baginya untuk membunuh
siapa yang telah membunuh saudaranya tadi.
Lalu dia mengatakan, dia sambil mengatakan,
“Ya Rasulullah,
ini Huzail, pengkhianat sekaligus
pembunuh saudaraku.
Izinkan aku membunuhnya.”
Maka Nabi ﷺ pun mengizinkan.
Beberapa dari pahlawan Muslimin
mulai menyerang benteng, tapi gagal.
Karena kota Thaif ini,
bentengnya, tuh,
di atas gunung, terjal-terjal.
Dan dengan cara seperti ini,
mereka kalau melepaskan anak-anak panah
ke tengah-tengah Muslimin
itu akan sangat mudah.
Maka kewalahan sekali Muslimin untuk
memenangkan peperangan pada saat itu.
Dan Nabi ﷺ mengepung
lama sekali
Wilayah kota Thaif,
40 harian.
Nabi ﷺ memerintahkan agar seluruh wilayah benteng Thaif
ditanamkan tombak-tombak dan anak-anak panah,
agar penduduk Thaif tidak bisa melarikan diri,
tapi juga belum berhasil.
Jadi, di sekitar pintu gerbangnya,
di depan-depannya semua itu digali,
ditancapkan tombak-tombak, sehingga keluar
runcing-runcingnya tombak tersebut
dengan anak-anak panah,
supaya mereka tidak bisa keluar.
Tapi juga belum berhasil
pada saat itu.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar perkebunan
penduduk Thaif yang berada di luar benteng,
mereka akan tebang,
Tebanglah pohon-pohon kurma tersebut.
karena mereka tidak bisa meletakkan
perkebunan mereka di dalam benteng, sempit,
tidak akan cukup untuk masyarakat tinggal.
Abdu Yalail—
ini kebetulan rajanya Thaif
yang pernah mengusir Nabi ﷺ
pada saat beliau sedang di kota Thaif,
di awal dakwah dulu.
Mengirim surat kepada Nabi ﷺ yang berbunyi:
"Wahai Muhammad,
apa urusannya peperangan ini
dengan perkebu
Resume
Read
file updated 2026-02-14 05:10:08 UTC
Categories
Manage