Transcript
nvFapPyXzUk • Sirah Nabawiyah #22 : Perang Hunain - Khalid Basalamah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0330_nvFapPyXzUk.txt
Kind: captions Language: id Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ Segala puji bagi Sang Pencipta, Allah. Dan juga kita panjatkan shalawat dan taslim kepada utusan-Nya, Nabi besar Muhammad ﷺ. Melanjutkan bahasan sirah kita, dan kita masuk, insyaAllah, pada subuh ini, semoga Allah berkahi, Perang Hunain. Dan ini berlanjut langsung setelah perang pembebasan Kota Mekkah. Ada satu suku, namanya Hawazin. Dan Hawazin ini adalah: suku terbesar setelah Quraisy, serta tempat mereka itu di Kota Thaif. Kota yang kurang lebih jaraknya 60–70 km dari Kota Mekkah. Dan Abrahah, sebelum menyerang Mekkah, melewati kota ini. Dan dari kota inilah, keluar seseorang yang bernama Abu Rugal dulu. Kalau masih ingat, orang ini yang menunjukkan Abrahah untuk menuju ke Mekkah, dan akhirnya dia meninggal di tengah jalan, kemudian kuburannya dijadikan sebagai marjam— tempat orang-orang Arab kalau lewat, di lempari batu. Karena dianggap dia pengkhianat, bagaimana dia menunjukkan Abrahah, Ka'bah. Dan ada julukan atau ada istilah dalam... atau di Jazirah Arab: kalau ada pengkhianat, diistilahkan dengan "Abu Rugal", karena nama orang ini. Tentu kota ini... itu kisah dulu, ya. Setelah pembebasan Kota Mekkah, Nabi 'alaihi sholatu wassalam berpikir untuk mengekspansi lebih jauh lagi Islam, Terlebih lagi, memang suku Hawazin yang ada di Kota Thaif ini, sebelum Nabi ﷺ keluar dari Madinah, memang sudah mempersiapkan diri untuk memerangi... Madinah. Dan pada saat itu, memang Madinah menjadi target. Karena, dianggap Madinah adalah markas kekuatan Muslimin. Andai saja... ada yang bisa menyerang Madinah dan mengalahkan, berarti dia mengalahkan negara adikuasa, atau kota adikuasa lah pada saat itu. Hawazin ini mengumpulkan kekuatan bersama dengan suku-suku Arab yang masih tersisa, dan terkumpullah kurang lebih 12.000 personel perang. Dan pada saat itu, untuk memberikan semangat perang yang besar, maka Hawazin menunjuk satu orang anak muda dengan postur tubuh yang sangat kekar, gagah, suaranya lantang, pemberani, yang waktu itu umurnya masih 24 tahun, namanya Malik bin Auf. Ditunjuklah dia sebagai pimpinan suku, sekaligus pemimpin perang. Seluruh pecahan suku Hawazin ini banyak sekali, ada puluhan pecahan cabang daripada suku Hawazin. Dan sebagaimana saya jelaskan, teman-teman sekalian, di Jazirah Arab, dan sampai sekarang masih berlaku itu, kalau seandainya ada seseorang memiliki kelebihan fisik, keturunan yang banyak, kaya raya, pintar, dikenal di tengah masyarakat, bisa dinisbatkan suku padanya. Dinisbatkan suku padanya. Maka Hawazin induknya, seperti Quraisy. Nanti di bawah Quraisy dan di bawah Hawazin ini banyak sekali suku-suku kecil. Dan semua pecahan suku Hawazin ikut berperang, kecuali dua suku, namanya Ka'ab dan Kilab. Ini nggak ikut-ikutan. Tentu, tidak saya temukan sebabnya kenapa dua suku ini tidak ikut berperang. Tapi yang jelas, dua suku ini disebutkan tidak ikut berperang melawan Muslimin. Nabi ﷺ waktu itu mengutus mata-mata yang berhasil memasuki Kota Thaif, menyamar menjadi masyarakat di situ, dan bergabung dengan pasukan musuh, sehingga ia mengetahui seluruh informasi... tentang kekuatan musuh, strategi perangnya, kemudian siapa pemimpinnya, dan seterusnya. Namun, sebelum ia tiba di Mekkah, waktu sudah bawa informasi ini, ternyata pasukan musuh telah keluar meninggalkan Kota Thaif tanpa sepengetahuan orang tersebut, sahabat tadi itu. Sehingga, pada saat dia tiba di Mekkah, dia masih menginformasikan kepada Nabi ﷺ tentang kondisi di Kota Thaif. Dia tidak tahu-menahu kalau pasukan sudah bergerak dari Thaif keluar, ingin menuju... ke Mekkah. Karena Malik bin Auf sudah dengar, kalau Muslimin dan Nabi ﷺ sudah menguasai Mekkah. Maka dia akan bergerak menuju ke Mekkah. Tapi subhanallah, Nabi ﷺ memiliki... panduan wahyu. Dan wahyu waktu itu memerintahkan Nabi ﷺ untuk segera keluar, menuju ke Kota Thaif juga. Keluarlah Nabi ‘alaihi sholatu wassalam dengan niat mengejar Kota Thaif, tetapi, Nabi ﷺ sendiri tidak tahu kalau ternyata pasukan sudah keluar. Dan juga sudah diinformasikan masalah tadi. Perintah wahyu menyuruh dia keluar, ‘alaihi sholatu wassalam. Musuh keluar pada saat itu (keluar dari Kota Thaif), dan melewati sebuah lembah, namanya Hunain. Dan Hunain ini lembah yang sangat luas, sampai sekarang masih ada. Saya tidak tahu apakah teman-teman kalau umrah bisa melewati lembah itu atau menuju ke Kota Thaif. Kalau bisa dengan visa umrahnya, bagus sekali untuk mampir. Lembah yang sangat luas, dihimpit dengan gunung-gunung batu yang besar. Dan memang dia lembah yang sangat dalam. Dari atas itu harus turun ke lembah yang dalam. Dikenal dengan Hunain. Sampai hari ini pun masih... dikenal dengan nama yang sama. Musuh pada saat itu sudah berhasil tiba di Hunain. Dan ternyata, Malik bin Auf mengirim mata-matanya, dan dia mendengar kalau Nabi ﷺ sudah keluar dari Mekkah. Jarak antara Mekkah sama Thaif kurang lebih 60 atau 70 km. Sangat dekat. Kurang lebih setengah hari saja perjalanan pada zaman itu. Maka, Malik bin Auf meletakkan pasukannya di lembah Hunain itu. Dan ada strategi yang luar biasa yang dia lakukan, nanti akan diberikan masukan oleh salah satu orang yang sangat tua, namanya Duraid bin ash-Shimmah. Orang ini... orang ini sangat dituakan di... suku Hawazin dan umurnya waktu itu sudah mencapai 160 tahun. Sangat tua. Tapi orang ini, sangat cerdas dan belum pikun. Ia hanya memiliki kelemahan fisik saja. Maka dia ditaruh di keranda lalu diikutkan dalam pasukan perang karena pendapatnya selalu bagus. Pada saat itu, tibalah mereka di sebuah lembah yang bernama Hunain tadi. Dan juga, lembah Hunain ini diberikan nama lain: Authas. Lembah Authas. Malik bin Auf pada saat itu mengeluarkan sebuah instruksi yang unik. Pada saat pasukan mulai bergerak dari Kota Thaif, ia menyuruh seluruh pasukan —yang 12.000 itu— membawa keluarga mereka semuanya. Seluruh prajurit bawa keluarganya: bawa istri, bawa anaknya. Semua, tidak boleh ada yang tinggal di rumahnya. Dan itu tujuan utamanya agar tidak ada di antara pasukan yang melarikan diri. Itu tujuannya. Duraid bin ash-Shimmah, yang sudah 160 tahun tadi, bagaimanapun dia dulu bekas kepala suku. Dan sekarang karena sudah tua, tidak dinobatkan lagi. Tapi pendapatnya selalu didengarkan. Apa yang dia bilang sudah menjadi seperti sebuah hukum di suku Hawazin itu sendiri. Waktu dia mendengar, karena dia buta matanya, sudah tua sekali, dia mendengar suara perempuan dan anak-anak, dia bertanya kepada orang-orang di sekitarnya: “Kenapa saya dengar ada suara perempuan dan anak-anak? Bukankah pasukan sudah bergerak?” Kata mereka: “Itu para istri dan anak-anak prajurit yang telah diperintahkan oleh Malik bin Auf untuk ikut serta.” Duraid lalu berkata, “Panggilkan untukku Malik bin Auf.” Umurnya masih 24 tahun, ini (Duraid) 160 tahun. Maka Malik waktu datang, Duraid bertanya, “Keputusan apa yang kau sudah ambil ini? Kenapa perempuan dan anak-anak disuruh dibawa dalam kancah peperangan?” Kata Malik, “Agar mereka tidak melarikan diri dari kancah peperangan. Malu, karena ada istri, ada anaknya.” Maka Duraid marah, lalu berkata: “Demi Allah, engkau sama sekali tidak mengerti strategi perang. Kami adalah ahlinya. Apakah orang yang kalah itu masih akan memikirkan menyelamatkan orang lain selain dirinya sendiri? Kalau sampai kalah, orang nggak akan pikirkan keluarganya lagi. Istri, anaknya, dia nggak pusingin. Dia bagaimana selamat. Maka nggak ada gunanya bawa perempuan dan anak-anak. Plus lagi, mereka akan bisa menghambat pasukan perang.” Malik bin Auf rupanya, pemimpin yang masih muda ini, tidak mau peduli dengan Duraid. “Sudahlah, orang tua, nggak ngerti apa-apa.” Tetap saja dia jalan dengan strateginya. Duraid lalu mengeluarkan instruksi, pada saat Malik menolak pendapatnya, agar semua pasukan kembali. Dan tidak boleh ada satu pun yang bawa anak-anak, juga wanita. Nggak boleh ada yang ikut. Kecali pasukan keluar tanpa wanita dan anak-anak. Mereka lebih baik berbenteng di Kota Thaif. Malik bin Auf, pada saat melihat pasukan mendengar Duraid dan meninggalkan perjalanan tersebut ingin kembali, karena Duraid dianggap orang lebih tua dan dituakan, dan tidak ada yang mengikuti dia kecuali sedikit sekali, maka ia lalu melakukan satu kejadian pada saat itu. Perilaku dia. Dia meletakkan pedangnya di tanah. Bagian pegangan gagang pedangnya ditaruh di tanah, ujungnya yang tajam ditaruh di atas, diberdirikan. Lalu dia menempelkan dadanya di pedang itu. Si Malik bin Auf. Lalu dia mengatakan kepada orang-orang yang saat itu mau pulang: “Demi Allah, bila kalian tidak mengikuti keputusanku, aku bunuh diri saja. Kalau kalian tidak mau ikuti aku, bawa semua ini, untuk apa pilih aku sebagai pemimpin? Aku bunuh diri saja, tidak ada gunanya." Maka para pemuka, pada saat itu, suku Hawazin berkumpul. Lalu mereka bermusyawarah: "Kira-kira seperti apa ini? Yang kita ikuti Duraid, atau ikuti Malik?" Duraid adalah orang yang berpengalaman. Sudah tua, dan punya pengalaman perang banyak. Sementara Malik masih muda, belum punya pengalaman perang. Bahkan dalam beberapa riwayat yang menjelaskan dalam buku-buku sejarah, Malik bin Auf belum pernah memimpin peperangan kecuali peperangan itu. Sebelumnya belum punya pengalaman sama sekali. Tapi setelah bermusyawarah, maka mereka mengambil kesimpulan: "Lebih baik ikuti Malik bin Auf. Dia masih muda, energik. Daripada Duraid yang sudah tua." Apalagi dia pada saat itu buta. Tidak bisa melihat. Maka pada saat itu, akhirnya kembalilah pasukan dan Duraid sudah tahu, diberitakan kepada dia kalau tetap pasukan akan bergerak seperti keputusan Malik. Duraid lalu berkata, “Sungguh, walaupun aku hadir dalam peperangan ini, tapi seakan-akan aku tidak mau menyaksikannya karena resikonya sangat berat.” Duraid lalu bertanya, “Lembah apa ini?” pada saat mereka sudah turun di lembah Hunain tadi, atau Authas. Para prajurit mengatakan, “Hunain.” Duraid tahu betul lokasi itu, maka dia mengatakan, “Tempat yang sangat bagus untuk peperangan. Karena dia dihimpit oleh gunung-gunung batu. Kalau kita lebih dulu tiba di lokasi itu, maka musuh pada saat turun bisa kita serang langsung.” Lalu dia mengatakan, “Panggilkan untukku Malik bin Auf lagi.” Malik datang lagi. Lalu Duraid berkata, “Bila di pendapat pertamaku engkau tidak mau dengar, maka jangan engkau tolak pendapatku yang kedua. Ini saranku." Kata Malik, “Baik, apa itu?” Kata Duraib, “Sungguh lembah ini sangat bagus untuk peperangan. Maka buatlah benteng-benteng pertahanan untuk pasukan.” Sebagian athar menyebutkan, "Buatlah lubang-lubang di padang pasir." Jadi, antara tebing-tebing gunung dengan lembah itu dibuat lubang-lubang. Sembunyikan pasukan di dalam situ. Kesannya lembah kayak kosong. Nanti begitu musuh masuk, maka semuanya bisa keluar dari... padang pasir yang dibuat lubang, yang ditutup dengan batu-batu, lalu mereka bisa menyerang musuh tiba-tiba. Maka pada saat itu Malik pun setuju dengan pendapat tadi dan akhirnya dia membuat... posko-posko pertahanan tadi. Tapi unik, digalilah gunung tersebut, dan lubang-lubang padang pasir itu dibuat lubang-lubang di lembah itu, kemudian dimasukkanlah setiap lubang sekian jumlah prajurit-prajurit perangnya. Nanti kalau mereka sudah dengar ada suara pasukan musuh datang —maksudnya Muslimin— maka mereka keluar menyerang. Dari sisi lain, Nabi ﷺ bersama pasukan Muslimin sudah bersiap-siap meninggalkan Mekkah dan menuju ke Hunain juga. Maksudnya ke kota Thaif. Dan Nabi ﷺ sempat mengirim mata-mata beliau. Dan beliau mendengarkan kalau Malik ibn Auf juga sudah keluar. Tapi waktu itu belum ada informasi kalau mereka sudah membuat benteng di Hunain. Kejadian tersebut terjadi di hari kedua dari bulan Syawal. Hari ini Idul Fitri, besoknya. Setelah Nabi ﷺ menghabiskan kurang lebih 19 hari di Mekkah, bersama Nabi ﷺ keluar pasukan lengkap dari Muslimin yang datang dari Madinah, 10.000 orang. dan ditambah lagi 2.000 dari para muallaf yang masih musyrik— maaf, 2.000 orang bercampur antara muallaf dan ada yang masih musyrik— seperti Shafwan bin Umayyah bin Khalaf. Hanya partisipasi berperang karena antara Quraisy dengan Hawazin memang ada persaingan dari dulu, ada permusuhan sebelum Islam. Dan Shafwan bin Umayyah bin Khalaf yang keluar karena membela kaumnya sementara dia masih dalam keadaan musyrik. Dan ini juga keluar sebuah hukum di sini: kalau ada pasukan jihad berjalan, misalnya dari Indonesia keluar —contoh saja— kemudian ada warga Indonesia yang ikut karena ingin membela Indonesia sendiri, mereka non-Muslim, itu dibiarkan saja ikut. Tapi tidak ada urusannya dengan masalah pahala jihad atau segala macam, tidak ada urusannya masalah itu. Karena Nabi ﷺ melibatkan kaum musyrikin pada saat itu. Tapi mereka tidak punya peran sama sekali. Bukan jadi pemimpin pasukan, bukan. Prajurit biasa. Nabi ﷺ melihat di pasukan terdapat banyak dari prajurit tidak punya senjata waktu itu. Karena yang baru bergabung kurang lebih hampir 2.000 orang ini nggak punya senjata, yang 10.000 punya senjata. Dan Nabi ﷺ mengetahui kalau Shafwan bin Umayyah bin Khalaf pada saat itu yang masih dalam keadaan musyrik, dia punya, sebagaimana saya jelaskan kemarin, seperti pabrik atau tempat produksi senjata perang. Maka Nabi ﷺ menemui Shafwan, lalu berkata kepadanya, “Wahai Shafwan, berilah untukku senjata untuk melengkapi pasukan yang tidak bersenjata.” Lalu Shafwan berkata— Shafwan ini orang yang sudah kalah semestinya, dan belum masuk Islam pada saat itu, dia mengatakan, “Apakah secara paksa, hai Muhammad, kau minta ini secara paksa karena kau mau memimpin sekarang... atau ada cara lain?” Kata Nabi ﷺ, “Sama sekali tidak. Tapi pinjaman, dengan jaminan, sepenuhnya akan kembali padamu utuh.” Artinya: "Saya pinjam sekarang semuanya, kemudian nanti akan dikembalikan utuh. Kalaupun ada yang rusak, saya akan ganti dengan yang baru." Maka Shafwan pun setuju. Dan ini juga menandakan, ada pintu muamalah dengan orang-orang kafir dalam senjata perang. Kalau muslimin butuh, beli dari mereka. Boleh kita beli, boleh kita pakai. Kalau ada di antara mereka yang mau menunjukkan tentang kantong-kantong tempat orang-orang kafir —sebagaimana terjadi pada Perang Khaibar— kita sudah jelaskan, benteng-benteng Khaibar banyak terbuka justru karena orang-orang Yahudi yang ketakutan, akhirnya mereka menyampaikan kepada Nabi ﷺ dan terbukalah benteng-benteng tersebut. Jadi kita tidak boleh dalam peperangan, teman-teman, kaku. Akhirnya kita menganggap, "Pokoknya kafir, bunuh saja." Nggak. Mungkin dia bisa mendapatkan hidayah. Mungkin dia bisa menjadi petunjuk bagi Muslimin. Maka harus para pemimpin cerdas pada saat itu. Shafwan lalu meminjamkan Nabi ﷺ kurang lebih 3.000 baju besi dan perlengkapan lainnya. Seperti pedang, tombak, anak panah, dan seterusnya. Nabi ﷺ juga melihat ada di antara para prajurit yang tidak memiliki harta yang cukup untuk melanjutkan perjalanan jihad. Ini menandakan juga, teman-teman sekalian, bahwasanya jihad itu butuh pengorbanan. Bukan cuma jiwa, tapi juga harta. Dan pentingnya seorang Muslim memiliki sumber-sumber harta yang akhirnya membantu dia untuk bersedekah. Membangun masjid, rumah anak yatim, bersedekah, apa saja dia lakukan, kebaikan-kebaikan. Karena memang harta ini, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam sebuah hadits: نِعمَ المالُ الصالحُ للعبدِ الصالحِ Senikmat-nikmat harta adalah yang halal yang baik di tangannya orang saleh. Berarti orang memiliki harta sehingga mereka bisa berinfak. Dan tadi dalam surat subuh kita itu, ustadz Mukhlis sempat membaca masalah ayat infak dan sadaqah, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan perumpamaan kalau orang berinfak di jalan Allah, maka seperti dia menanam sebuah bibit dan memiliki tujuh cabang ranting pohon. Dan di setiap cabang juga ada sekian banyak, ada seratus biji dari hasilnya. Dan Allah melipatgandakan siapapun yang Dia inginkan dari balasan-Nya. Nabi ﷺ melihat ada sebagian pasukan yang tidak punya harta untuk melakukan jihad, maka Nabi ﷺ meminjamkan dari penduduk Mekkah harta secukupnya dan akan dikembalikan setelah pembebasan atau Perang Hunain. Ini juga sebuah poin penting, tentang bolehnya seseorang kalau mau pergi jihad, meminjam biaya-biaya peperangan, tetapi dengan keyakinan penuh kalau akan bisa dikembalikan. Dalam bab utang juga seperti itu. Kalau misal contoh, tiba Idul Adha. Idul Adha misalnya terjadi di pertengahan bulan Masehi, anggap tanggal 15 misalnya, ini contoh saja. Dan antum bekerja, terima gajinya tanggal 30. Sekarang kita mau kurban, nggak ada duit. Bolehkah saya utang dulu? Jawabannya: boleh saja dia utang. Karena sudah yakin ada sumbernya. Tahu itu, dia akan bisa membayarnya. Kalau tidak dia lakukan sekarang, mungkin luput. Karena kalau lewat hari Nahr, tanggal 10 Dzulhijjah, dan hari-hari Tasyrik tiga hari setelahnya, maka sudah tidak ada lagi kesempatan untuk berkurban di hari yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Luput itu. Sama dengan akikah. Anak kita lahir, di hari ke-7 diakikahkan. Baik, mungkin jatuh temponya pas di pertengahan bulan. Kalau kita tidak lakukan, maka lewat hari ke-7 yang merupakan hari yang paling afdal. Maka dia utang dulu. Asal dia sudah tahu sumbernya bisa dia bayar, nggak ada masalah. Masuk dalamnya juga jihad. Yang penting seorang muslim, pada saat utang, dia menulis wasiat. Ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ: “Janganlah seseorang yang di antara kalian memiliki sesuatu yang jadi bebannya nanti di akhirat, lewat dari tiga hari dibenaknya, kecuali sudah ditulis dalam bentuk wasiat." Saya punya utang sama si Fulan, saya berharap ahli waris saya membayarnya. Dan tentu dia juga menjalankan sunnah Nabi ﷺ dalam hadits yang lain: “Siapa yang utang dengan niat membayarnya, maka Allah akan memudahkan dia membayarnya. Dan siapa yang utang tidak niat membayar dari awal, maka Allah akan mempersulit dia untuk membayarnya." Dan ini tentu, teman-teman sekalian, kemuliaan Islam dan Nabi ﷺ, bagaimana bisa pasukan yang menang, yang sudah pasti menang, menguasai Mekkah, memiliki semuanya. Jadi, satu Mekkah ini sebenarnya harta rampasan perang. Tapi Nabi ﷺ, pada saat sudah memaafkan, selesai. Orang Mukmin tidak akan menjilat ludahnya lagi. Sudah selesai, sudah dimaafkan, bebas. Tidak ada lagi apa-apa. Jadi, orang Mekkah memiliki hak itu. Lalu Nabi ﷺ utang dari musuh yang sudah dikalahkan. Ini sebuah kemuliaan yang luar biasa. Nabi ﷺ kemudian meninggalkan Mekkah dan meletakkan di Mekkah sebagai pemimpin, pengganti beliau, 'alaihi sholatu wasssalam, adalah seseorang yang masuk Islam, baru masuk Islam, sahabat dekatnya Abu Sufyan: Utab ibn Usaid. Masih ingat kisahnya, nggak? Utab bin Usaid yang duduk sama Abu Sufyan bersama dengan Harith bin Hisham, yang dia mengatakan waktu Bilal naik azan dari Ka'bah: "Bersyukur, Usaid tidak melihat hamba sahaya ini adzan, naik di atas Ka'bah dan bertakbir." Maka, ini Utab masuk Islam bersama dengan Abu Sufyan. Utab ini memang orang yang dewasa, pintar. Memang pemimpin, kepala suku. Maka Nabi ﷺ memberikan dia jabatan. Ini juga pelajaran penting, teman-teman sekalian. walaupun muallaf, tapi kalau orang itu layak di bidangnya, dikasih. Sama juga kasus yang pernah saya ceritakan tentang Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu. Baru tiga bulan masuk Islam, sudah dijadikan pemimpin perang. Padahal di pasukannya ada Abu Bakar, ada Umar, ada Utsman, ada Ali, ada sahabat-sahabat yang senior. Karena khusus untuk penyerangan suku itu, Amr bin Ash yang paling menguasainya. Maka kita di sini melihat, teman-teman sekalian, jangan karena dia muallaf lalu kita mengatakan, “Sudah, kamu belum bisa. Ini saja yang senior.” Nggak. Islam melihat seseorang sesuai dengan keterampilannya. Kemudian Nabi ﷺ juga, sebagian ahli sejarah mengatakan, menunjuk Utab, karena Utab memiliki fisik yang sangat kuat, menguasai Mekkah. Dan juga, Nabi ﷺ menemukan dia berakal, cerdas, dan punya prinsip. Pada saat dia syahadat, Nabi ﷺ tahu orang ini tidak akan murtad. Karena orang yang punya prinsip. Sekali berpegang pada sesuatu, dia berpegang. Pasukan Muslimin waktu itu berjumlah 12.000. Dan juga pasukan kafir, 12.000. Tetapi, pasukan kafir ini, pasukannya Malik bin Auf, karena membawa istri dan anak-anak mereka, jumlahnya jadi 30.000. karena ada perempuan dan ada anak-anak. Di tengah-tengah pasukan, tersebar berita pada saat itu. Mulai sahabat waktu melihat pasukan jalan, 12.000 orang. Belum pernah pasukan muslimin sebesar itu. Baru kali itu. Sebagian sahabat, bahkan sebagian ulama mengatakan mayoritasnya sahabat, berbicara, bukan niat sombong. Tapi mereka mengatakan, “Kami tidak akan terkalahkan dengan jumlah ini.” Maka, kalimat-kalimat ini membuat sebagian besar mereka akhirnya mengembangkan kalimat itu sambil mengatakan, “Musuh mana pun tidak ada yang bisa mengalahkan ini.” Dan ini dalam Islam namanya shamāṭah. Shamāṭah itu artinya menganggap remeh orang lain. Hati-hati, teman-teman sekalian. nanti kita ambil pelajaran besar dari kasus Hunain ini. Poin ini sangat penting. Musuh pun, tidak boleh kita menganggap remehnya. Nggak boleh. Musuh, jelas-jelas kita akan berperang, nggak boleh kita anggap remeh. “Kami Muslim, kami pasti akan menang.” Nggak boleh ada kalimat itu. Kalimat itu saja, sudah cukup bisa berbahaya buat kita. Maka kita berperang, berperang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan pasrahkan kepada Allah. Masalah Allah berikan kemenangan, nggak berikan kemenangan, maka, itu kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tugas kita ikhtiar. Abu Bakar radhiallahu 'anhu sempat berkata kepada Nabi ﷺ: “Demi Allah, wahai utusan Allah, kita tidak akan dikalahkan dengan jumlah sebanyak ini. Bila kita kalah, maka pasti karena sebab lainnya.” Nabi ﷺ diam saja dengan perkataan-perkataan seperti ini. lalu pasukan sempat melewati sebagian suku Arab yang masih menyembah berhala. Dan mereka menjadikan pohon terbesar di wilayah mereka sebagai sesembahan selain Allah Yang Maha Kuat. Sesembahan mereka ini diberikan nama Dzatu Anwath. Sebagian dari pasukan yang baru masuk Islam, tiba-tiba berkata, “Wahai utusan Allah, buatkanlah kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka juga memilikinya.” Jadi, pohon itu kebetulan dijadikan sebagai tempat menggantungkan pedang, menggantungkan perisai, mohon-mohon sama pohon tersebut. Syirik kepada Allah, kufur. Tapi mereka muallaf, baru masuk Islam. Maka Nabi ﷺ menjawab, mengatakan: Allahu Akbar! Sungguh kalian telah mengucapkan kalimat seperti yang diucapkan oleh Bani Israil kepada Musa 'alaihissalam.” Mereka mengatakan, pada saat baru depan matanya, Allah tenggelamkan Fir'aun— mereka semua saksikan— waktu mereka menuju ke Palestina, mereka temukan ada satu suku lagi menyembah-nyembah berhala. Lalu mereka (Bani Israil) sempat bilang: “Wahai Musa, اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌۗ “Wahai Musa, buatkan kami Tuhan-Tuhan seperti Tuhan-Tuhannya orang-orang ini.” Maka Musa ‘alaihissalam marah, mengatakan: اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ “Sungguh kalian kaum yang sangat bodoh. Baru saja Allah tenggelamkan Fir’aun depan mata, masih minta Tuhan selain Allah?” Maka Nabi ﷺ mengatakan: “Sungguh demi Allah, kalian telah meminta sesuatu seperti yang diminta Bani Israil... kepada Musa ‘alaihissalam.” Nabi ﷺ lalu memerintahkan sahabat-sahabat ini, atau orang-orang yang baru masuk Islam ini, untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan mereka pun akhirnya baru memahami kalau itu adalah hal yang tidak boleh. Saat Nabi ﷺ tiba di sekitar lembah, sudah melihat dari atas tempat yang tinggi, karena Thaif itu adalah gunung-gunung, puncaknya gunung itu, di situ kotanya, gitu. Nabi ﷺ sudah melihat lembah Hunain dan tidak tahu kalau di bawah ini sudah ada pasukan-pasukan Malik bin Auf yang membuat lubang-lubang tersembunyi. Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar seorang sahabat mendaki bukit tertinggi, dan memantau keadaan pasukan Hawazin. Ia tidak boleh pindah dari atas kudanya kecuali shalat atau hajat mendesak saja. Ada satu orang disuruh naik ke atas gunung yang tinggi sekali, sahabat. Tugasnya tidak boleh turun dari kuda. Di situ saja, pantau. Dia hanya boleh turun kalau mau shalat atau ada hajat mendesak. Maka sahabat itu pun melakukannya. Ia terus saja sampai malam memantau, tetapi pasukan Hawazin tidak terlihat. Ia lalu turun di malam hari dan melaporkan kepada Nabi ﷺ bahwa tidak melihat pasukan Hawazin. Di sini tidak diketahui kalau Hawazin sudah ada di lembah sebenarnya. Dari sisi musuh, Duraid bin Shumma yang matanya sudah buta dan berumur 160 tahun tadi, memerintahkan agar seluruh wanita dan anak-anak menunggangi semua unta dan kuda yang mereka bawa dari Hawazin tanpa penunggangan. Jadi biasanya di kancah peperangan dulu, teman-teman sekalian, misalnya saya kalau pergi berperang saya bawa kuda satu untuk saya tunggangi, saya bawa kuda cadangan— dua ekor, tiga ekor kuda. Satu orang bisa bawa kuda lebih, atau dia bawa unta. Karena ini tujuannya kalau kudanya mati, kudanya hilang, dicuri orang, segala macam, dia masih punya kuda tunggangan yang lain. Duraid lalu berkata: "Pasukan musuh tidak akan membedakan apakah wanita atau anak-anak kalau mereka berada di atas kuda atau unta. Bahkan mereka tidak bisa membedakan apakah itu perempuan atau laki-laki. Maka letakkanlah seluruh wanita dan anak-anak di unta-unta, tapi di bagian belakang pasukan." Dan strategi ini sempat berhasil karena, tadinya pasukan musuh yang jumlahnya hanya sekitar 12.000, itu terlihat seperti kurang lebih 30.000 pasukan. Jadi banyak sekali. Pasukan Hawazin yang sembunyi di lembah, dan mereka— pada saat itu membuat lubang-lubang seperti yang saya bahasakan tadi, Malik bin Auf memerintahkan agar semua sarung pedang dibuang. agar tidak ada alasan untuk menghindari peperangan, dan ia menitahkan agar pasukannya menyerang dengan satu serangan saja. Nabi ﷺ saat melihat lembah kosong, tidak ada orang di lembah itu, maka Nabi ﷺ memerintahkan agar 1.000 prajurit Muslimin dari suku Sulaim, semuanya, dipimpin oleh Khalid bin Walid turun ke lembah duluan. Tapi karena lembah Hunain ini terjal sekali, ya. Mungkin di Google bisa ditemukan kalau ditulis “Lembah Hunain,” insyaAllah akan keluar gambarnya itu. Jadi memang dia gunung, ada banyak gunung-gunung, lalu terjal sekali ke bawah. Dan di bawah itu adalah lembah yang sangat luas. Di situ terjadi peperangan. Jadi orang kalau turun dari atas, sementara ada pasukan di atas menunggu... 1.000 orang turun— pasukan Khalid bin Walid ini... pada saat mereka turun, yang di atas tidak tahu apa yang terjadi pada pasukan Khalid ini karena terjalnya. Pada saat itu, turunlah Khalid bin Walid ke lembah. Tiba-tiba saja, pada saat 1.000 pasukan tersebut sudah turun di lembah, Nabi ‘alaihi sholatu wassalam memerintahkan setelah melihat sudah turun semuanya, turun lagi nyusul yang lainnya. Tambah lagi 1.000 orang. Maksudnya bertahap turunnya. Tapi rupanya, di bawah ini, Malik bin Auf sudah berusaha menunggu. Dan begitu dia lihat pasukan Muslimin sudah mulai turun, sebelum memposisikan kaki yang tepat di lembah Hunain, maka tiba-tiba saja diserang. Dan serangan tersebut betul-betul luar biasa karena membuat pasukan suku Sulaim dari Muslimin kocar-kacir. Karena tiba-tiba. Kuda mereka masih, sementara, turun ke bawah, dan turun ini terjal, apalagi padang pasir. Bukan batu-batuan, tapi padang pasir yang memang bisa licin dan seterusnya. Pada saat itu, teman-teman sekalian, pasukan Muslimin dari Sulaim ini kocar-kacir. Dan Ada di antara mereka yang berusaha kembali lari ke atas. Waktu mereka berusaha kembali ke atas, dan ada pasukan Muslimin yang turun dari atas, maka bentrok satu sama yang lain. Dan mereka menyampaikan kalau di bawah sudah ada pembantaian Muslimin. Pada saat itu, teman-teman sekalian, karena luasnya lembah itu, dan juga pasukan Muslimin turun 1.000— jumlahnya 1.000, banyak, 1.000 orang turun— sudah tidak kelihatan lagi dari atas. Turun lagi 1.000, jadi ini nonstop turun terus. Sehingga yang dari atas pun turun, tidak tahu apa yang terjadi di bawah. Maka ada di antara mereka yang terbunuh di tangan pasukan atau suku Hawazin. Ada di antara mereka yang melarikan diri. Dan tersebar berita pada saat itu di pasukan Muslimin, kalau pasukan musuh sudah menyerang di bawah dan terjadi kekacauan yang luar biasa. Apalagi mereka ada yang mengatakan bahwasannya, "Terbunuhlah si Fulan! Terbunuhlah si Fulan!" Tersebar berita-berita. Kebetulan juga, sebagaimana sudah kita jelaskan pada saat awal akan menyerang Mekkah, suku Sulaim ini muallaf, orang baru masuk Islam. Mereka baru masuk Islam, jumlahnya juga 1.000 orang ini, semuanya baru masuk Islam dengan kepala suku mereka. Maka dengan kejadian pukulan seperti itu, mereka pun kocar-kacir, lari semuanya. Akhirnya, Nabi ﷺ yang turun. Nabi juga turun bersama para sahabat. Dan pada saat itu, Nabi ﷺ melihat semuanya pada bubar— para sahabat ini. Pasukan musuh pada bersorak-sorak di bawah lembah, menunggu, gitu. Maka Nabi ﷺ tetap turun, dan pada saat beliau turun, sendirian waktu itu Nabi ﷺ, karena sahabat-sahabat banyak yang kocar-kacir. Maka Nabi ﷺ berteriak dengan suara yang keras, mengatakan: “Kumpullah di sekitarku, wahai hamba-hamba Allah!” Tetapi karena kekacauan sangat luar biasa pada saat itu, dan pada saat itu... orang pada berlari-lari, maka para sahabat senior saja yang bertahan. Di sebagian buku sejarah dikatakan bahwasannya yang tertinggal bersama Nabi ﷺ hanya 100 orang, dari 12.000. Sisanya semua lari. Bahkan ada di antara para muallaf yang dari Mekkah, yang dari 2.000 orang itu, itu melarikan diri sampai ke Mekkah. Ya. Pada saat itu, ada seseorang yang bernama Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah. Syaibah bin Utsman bin Abi Thalhah ini, ayahnya mati terbunuh di tangan Muslimin. Dia pura-pura masuk Islam hanya untuk membalas kematian ayahnya. Dan ia ikut di Hunain hanya untuk mencari kesempatan membunuh Nabi ﷺ. Jadi ini kejadian mukjizat yang lain. Waktu Nabi ﷺ lagi sendirian, dan memanggil para sahabat untuk berkumpul, sementara proses 100 orang yang bersama Nabi ﷺ ini berkumpul, orang ini, melihat kesempatan itu. Nabi ﷺ sendirian— Syaibah ini. Maka dia menghunuskan pedangnya, lalu mendekati Nabi ﷺ. Nabi ﷺ melihatnya, lalu berkata padanya: “Ada apa denganmu, wahai Syaibah?” Kata dia: “Aku ingin membelamu, wahai Utusan Allah.” Nabi ﷺ berkata: “Beristighfarlah kepada Allah.” Waktu itu Nabi sendirian. Sahabat lagi tidak ada. Syaibah beristighfar, mengatakan: “Astaghfirullah.” Lalu Nabi ﷺ meletakkan tangannya yang mulia di dada Syaibah. Yang saat telapak tangan Nabi ﷺ diangkat, Syaibah pun berkata: “Tiba-tiba aku menemukan Nabi ﷺ manusia yang paling aku cintai, padahal sebelumnya aku sangat membenci dia. Dan aku tiba-tiba merasa dadaku terlapangkan buat Islam." Dan sekarang terbalik. gara-gara perbuatan Nabi ﷺ ini, maka Syaibah, balik... menghunuskan pedangnya tadi. pedang yang tadinya untuk membunuh Nabi ﷺ, dia membela Nabi ﷺ. Jadi berdua dengan Nabi. Kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sampai akhirnya terkumpullah sahabat-sahabat Nabi di situ. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, berkumpul semua. Termasuk paman Nabi ﷺ, Abbas— yang kurang lebih tadi saya katakan jumlah mereka 100 orang. Maka Nabi ﷺ berkata kepada Abbas, "Wahai Abbas," panggillah orang-orang. Suruh mereka kembali." Abbas ini, saya sudah katakan kemarin, suaranya sangat lantang, keras. Sampai kalau dia mau panggil pengembala dombanya dari depan rumahnya saja. suaranya kedengaran di padang pasir. Abbas pula memanggil, “Wahai hamba-hamba Allah! Kumpullah! Ini adalah utusan Allah!” Tapi masih saja pasukan berserakan, nih. Karena kacau ini. Kalau mereka lagi lari, ini susah untuk ditahan. Maka pada saat itu tidak berkumpul, serta umumnya masih melarikan diri. Nabi ﷺ mengatakan, “Wahai Abbas, panggil! Katakan: Wahai orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon, kumpullah!” Yang 1.400 orang di kesepakatan Hudaibiyah, yang juga ikut di Khaibar. "Panggil mereka!" Maka Abbas mengatakan, “Wahai para pembaiat di bawah pohon! Mana baiat kalian?!” Mendengarkan kalimat “Baiat Ridwan,” dan sudah pernah kita jelaskan pada saat kesepakatan Hudaibiyah, kalau Nabi ﷺ setelah dibaiat, para sahabat meletakkan tangan di atas tangan Nabi ﷺ, lalu mengatakan: “Aku janji setia, ya Rasulullah, hidup-mati untuk agama Allah.” Maka Nabi ﷺ mengatakan: “Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali pasti ahli surga.” Ada jaminan surga. Begitu dipanggil, “Wahai ahli Baiat Ridwan! Wahai ahli Syajarah! Yang baiat di bawah pohon!” Maka para sahabat tiba-tiba mulai mendengarkan. Tersebar berita, “Rasulullah memanggil ahli Syajarah! Ahli Syajarah dipanggil!” Sebagian mereka menceritakan kejadian tersebut. Saat Nabi ﷺ memanggil para pembaiat di bawah pohon, sebagian dari mereka sedang melarikan diri dan tidak bisa lagi menghentikan kudanya— yang sedang berlari kencang. Maka ia pun loncat dari kudanya— dan kembali ke kancah peperangan, dan akhirnya bergabung dengan Nabi ‘alaihi sholatu wassalam. Tapi karena suara, walaupun suara Abbas besar, lembah Hunain luas, kancah peperangan, perang lagi berkecamuk, maka yang berkumpul— saya katakan tadi, hanya 100 orang saja. Dan uniknya, di antara 100 orang itu, ada 2 wanita. Namanya Ummu Umarah. Ini terkenal. Nusaibah binti Ka'ab radhiyallahu 'anha. Ini memang wanita, hampir semua peperangan Nabi ﷺ hadir. Ummu Umarah. Yang pada saat Nabi ﷺ di Perang Uhud mengatakan, “Waktu seluruh anak-anak panah dan tombak-tombak Quraisy terarahkan padaku di Uhud, aku menemukan Ummu Umarah atau Nusaybah binti Ka'ab," radhiyallahu 'anha, "itu Nusaybah binti Ka'ab mematah-matahkan anak panah dan tombak tersebut." Dia bersama dengan Ummu Hakim. Maka Ummu Umarah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kami bisa menghukum mati para prajurit yang melarikan diri dari kancah peperangan?” Jadi ini luar biasa imannya perempuan ini. Waktu dia lagi membela Nabi ﷺ bersama dengan sahabat Nabi yang 100 orang, sambil menangkis-nangkis serangan musuh, Ummu Umarah mengatakan, "Ya Rasulullah," boleh nggak kami, setelah ini, kalau kami menang, kami menghukum mati semua orang yang lari dari kancah peperangan itu?” Kata Nabi ﷺ, “Tidak perlu. Biarkan saja mereka. Nanti ada hukum tersendiri." Sementara Ummu Hakim, siap dengan pedangnya di tangannya. Dan ditanya oleh Nabi ﷺ, “Apa yang kau lakukan dengan pedangmu, hai Ummu Hakim?” Kata Ummu Hakim, “Bila aku menemukan siapapun dari musyrik di depanku, maka aku akan menyobek perutnya.” Maka Nabi ﷺ tersenyum dengan keputusan Ummu Hakim itu, sambil mereka terus menangkis serangan-serangan musuh. Jadi cuma 100 melawan 12.000 pasukan itu. Tapi subhanallah, pada saat genting seperti itu, pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala datang. Para malaikat yang maha suci. Mereka turun. Diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para malaikat diturunkan oleh Allah Yang Maha Suci dan Maha Perkasa dari langit. Kaum Muslimin pada saat itu sempat melihat warna hitam di langit, gelap. dan saat warna hitam itu mendekati lembah, dan tersebar di seluruh lembah, ada salah seorang dari mereka mengatakan, “Kami kesulitan membersihkan lebah-lebah hitam yang menempel di badan salah seorang di antara kami.” Jadi pada saat itu tiba, ternyata, warna hitam itu mendekati lembah. Dan yang menimpa Muslimin adalah seperti lebah-lebah warna hitam. Dan mereka berusaha membersihkan, saking banyaknya lebah-lebah itu. Tapi, Orang-orang Hawazim, nanti ada di antara mereka yang masuk Islam menceritakan masalah itu. Di antaranya Malik bin Auf nanti masuk Islam, pimpinan perang mereka. Itu menyaksikan banyak sekali pasukan berkuda putih Yang di atas kuda tersebut terdapat laki-laki menggunakan baju-baju yang berwarna putih dan berbadan kekar, serta mereka bercahaya. Ini tentu pasukan malaikat yang datang membantu Nabi ‘alaihi sholatu wassalam, karena pasukan kocar-kacir pada saat itu. Saat melihat kejadian tersebut, Hawazin ketakutan karena jumlah pasukan malaikat banyak sekali. Walaupun tidak disebutkan jumlahnya. Kalau di Perang Badar disebutkan tentang jumlah mereka, berapa ribu malaikat yang datang, tapi di sini tidak disebutkan. Tetapi, pasukan malaikat penuh di lembah tersebut. Maka pasukan Hawazin, waktu melihat pasukan malaikat datang, mereka pun bubar. Lari, kocar-kacir sekarang. Seluruh lembah pada saat itu penuh dengan ghanimah. Spontan saja mereka lari semuanya, meninggalkan pedang, perisai, segala macam. Dan seperti yang dikatakan oleh Duraid, kalau pasukan pada saat kocar-kacir, mereka tidak akan membawa lagi atau memikirkan istri dan anak-anak mereka. maka akhirnya, tertinggallah seluruh unta-unta dan kuda Hawazin, wanita mereka, anak-anak mereka, dan tinggal laki-lakinya. Semuanya mereka melarikan diri, termasuk Malik bin Auf sendiri melarikan diri. Pada saat itu mereka lari ke ujung lembah Hunain. Kemudian mereka naik ke atas posisi gunung yang cukup tinggi pada saat itu. Kemudian Malik mulai lagi mengumpulkan kekuatan. "Kita berkumpul dulu. Pedang-pedang dan perisai kita semuanya ada di bawah. Anak perempuan kita di bawah. Kita harus melawan lagi." Pada waktu yang bersamaan, Muslimin yang tadinya kocar-kacir itu, mulai masuk. Mulai masuk bersama Nabi ﷺ. Lalu, Nabi ﷺ memerintahkan, “Kejar!” Dikejarlah oleh sebagian sahabat. Lalu kemudian, Malik bin Auf terus mengumpulkan pasukannya, mengatakan, “Biarkan. Mereka menyerang, biarkan. Kita kumpul terus.” Sampai jumlah mereka terkumpul, waktu itu Malik bin Auf, kurang lebih 10.000 orang. Karena mereka jumlahnya 12.000. Mereka kumpul 10.000 orang. Lalu pasukan Muslimin, karena Nabi ﷺ mengatakan, “Siapa yang sudah masuk lembah, kejar Malik bin Auf! Kejar!” Jadi ada yang 2 orang, ada 5 orang, ada 10 orang, ada 100 orang, kejar. Jadi pasukan Muslimin tidak berkumpul jadi satu. Maka setiap kali ada pasukan Muslimin yang mendekat, kata Malik bin Auf, “Kira-kira dari suku mana itu? Siapa yang menyerang ini?" Mereka bilang, "Dari ciri khasnya, ini suku Sulaim." Rupanya suku Sulaim ini, mereka punya ciri khas dikenal. Setiap suku Arab dulu punya ciri khas dalam berperang. Di antaranya suku Sulaim ini meletakkan cemeti mereka di bagian kepala kuda. Jadi tempat meletakkan anak panah, itu bukan ditaruh di punggung belakang, tapi ditaruh di bagian kepalanya kuda. Di depan, untuk mudah diambil. Itu ciri khasnya suku Sulaim. Maka mereka tahu dari situ, gitu. Maka kata Malik bin Auf, “Biarin saja. Suku Sulaim bukan ahli perang. Kumpul aja terus." Selang beberapa waktu, datang lagi beberapa orang dari muslimin, lalu ditanya oleh Malik bin Auf, "Siapa mereka ini?" Kata orang-orang, “Ini adalah penduduk Madinah, dari sahabat-sahabat Muhammad.” Dan ciri mereka, mereka meletakkan cemeti panah mereka di bagian belakang kuda. Jadi caranya untuk mengambil anak panah, mereka dari belakang, ambil. Itu penduduk Madinah, ciri khasnya. Kata Malik, “Tidak usah khawatir. Tetap berkumpul. Kita masih bisa melawan mereka.” Selang beberapa waktu, datang lagi kelompok Muslimin yang ketiga, jumlahnya lebih besar lagi. Dan mereka meletakkan cemeti mereka di bagian kuping kudanya. Jadi diikat dengan bagian tali pinggirnya itu ada cemeti ditaruh di situ, tempat peletakan anak-anak panah. Maka Malik bertanya, “Siapa mereka ini?” Kata mereka, “Sahabat Muhammad, tapi dari penduduk Mekkah.” Lalu Malik bertanya lagi, “Siapa yang bersama mereka itu yang memiliki imamah berwarna kuning?” Kebetulan di pasukan penduduk Mekkah, ada satu orang ikut, tapi imamanya kuning. Maka mereka berkata, “Itu Zubair bin Awwam.” Apa kata Malik? “Kalau begitu sekarang lari!” Kenapa terjadi ini, teman-teman sekalian? Rupanya Malik bin Auf ini punya kisah sendiri dengan Zubair. Zubair bin Awwam orang yang sangat berani, Yang kita sudah ceritakan di Perang Khaibar, bagaimana dia membunuh tokoh-tokoh Yahudi. Dan setiap kali perang berkecamuk, pasti dia selalu di depan. Baru takbir, dia serang sendiri pasukan musuh. Pemberani sekali. Di masa kecil, Malik bin Auf ini pernah duel, berantem-berantem sama Zubair dan selalu kalah. Selalu kalah. Maka dia begitu lihat Zubair, dan disampaikan itu adalah Zubair, dia lari. karena secara pribadi punya— ketakutan masa kecil. Hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka pada saat itu, gara-gara kejadian tersebut, Malik tidak jadi melawan. Pergi, lari. Malik waktu itu melarikan diri ke wilayah Lay, namanya, yang merupakan benteng terkuat di wilayah kota Thaif. Nabi ﷺ berkata kepada para sahabat, “Carikan untukku Khalid bin Walid.” Jadi sudah, waktu lembah sudah dikuasai oleh Nabi ﷺ, sahabat sudah mulai berkumpul, suruh cari Khalid bin Walid. Perlu kita review kembali, Khalid bin Walid memimpin pasukan Sulaim. Suku Sulaim waktu awal turun di lembah, Kan langsung diserang tiba-tiba. Suku Sulaim kan bubar, Khalid bin Walid rupanya jadi korban pada saat itu, radhiyallahu 'anhu. Dikatakan dalam riwayat-riwayat sahih, bahwasanya tidak tertinggal satu pun celah di badan Khalid bin Walid kecuali kena sabetan pedang, dan tombak, ataupun anak panah. Jadi sudah dalam keadaan seperti orang sakarat, radhiallahu 'anhu, pada saat itu. Maka Nabi ﷺ datang. Pada saat melihat Khalid sudah ditemukan, maka beliau pun, ‘alaihi sholatu wassalam, berdoa kepada Allah, lalu menyemburkan ludah beliau ke seluruh lukanya Khalid. Tapi ingat, ini ludah siapa? Rasulullah ﷺ. Kemudian beliau pun mengusap ludah tersebut di seluruh lukanya Khalid bin Walid. Dan Subhanallah, pada saat itu, lukanya sembuh semua, dan para sahabat menyaksikan. Padahal sabetan-sabetan pedang, tombak, ada yang lubang, anak panah, luka di wajahnya pun penuh. Tapi Nabi ﷺ, dengan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala, berhasil menyembuhkan itu. Lalu Nabi ﷺ. berkata kepada Khalid, “Bangunlah dan pimpinlah peperangan.” Maka Khalid pun tiba-tiba bangun dan menyerang musuh. Duraid bin Shumma, salah satu yang melarikan diri— yang orang tadi tua, buta, 160 tahun umurnya, itu lari dengan pemikul-pemikulnya, orang yang memikul. Lari dari kancah perperangan. Tapi karena ia buta, pada saat itu, dia cuma bisa bilang, “Mau ke mana? Pasukan sudah kalah, larilah!" Nah, karena rupanya pemikul-pemikul dia ini merasa berat, maka ditinggal. Ada sebagian atsar menyebutkan, Duraid ini, dia berada di atas unta. Jadi cuma ada satu orang yang pegang tali kekangan untanya. Itu lari orangnya. Maka dia (Duraid) pegang tali unta tersebut, tapi karena dia buta, dia tidak tahu ke arah mana unta ini mau diarahkan. Uniknya pada saat itu, dia mengarahkan untahnya ke arah pasukan Muslimin. Maka dia ditangkap oleh satu prajurit Muslim, namanya Rabiah bin Rufai’ Al-Aslami. Rabiah bin Rufai al-Aslami. Dan ini orang, Rabiah ini orang yang masih sangat muda, umurnya juga masih di bawah 30 tahun, tidak punya pengalaman perang. Sebagian buku menyebutkan Rabiah ini baru ikut perang di situ. Pembebasan kota Mekkah, lalu perang yang pertama kali di sini. Maka, dia melihat di atas unta ini ada kotak. Dia lihat untanya musuh, ada kotak di atas. Dia pikir di dalamnya ini perempuan. Mungkin wanita, anak kecil. Maka Rabiah kaget waktu dia lihat suara laki-laki, Duraid. Lalu Rabiah menurunkan kotak itu, karena Duraid orang yang kecil sekali. Sudah 160 tahun, badannya mengecil. Diturunkan kotak tersebut, lalu dibuka tirainya. Kemudian Rabiah karena belum punya pengalaman dalam membunuh, dia lalu memukul ke arah lengannya Duraid, ambil pedang, dia mau bunuh sebenarnya niatnya. Tapi belum berpengalaman, titik mana yang dia harus tekan supaya bisa mati, maka dia mengarahkan pedang, kena lengan kanannya. Jadi saking kerasnya badannya Duraid ini, dan tinggal tulang-tulang saja, gitu. keras sekali, sampai tidak mempan itu. Tebasan pedang, mungkin karena tidak terlalu keras, seperti pedangnya mental. Lalu kemudian pada saat itu keluar sedikit darah, luka sedikit. Duraid berkata kepada Rabiah, “Siapa namamu?” Dia mengatakan, “Saya Rabiah.” Duraib berkata, “Bukan begitu caranya membunuh, hai anakku.” Maka Duraid mengajarkan Rabiah, “Begini caranya membunuh.” Lalu Duraid mengatakan, “Hai anak muda, jangan pakai pedangmu, karena pedangmu kurang bagus untuk membunuh.” Kata Duraid, “Sini pedangmu dulu.” Dilihatkan. Karena dia orang buta, Rabiah kasih, gitu. Dipegang sama dia, “Nggak bagus pedangmu ini, nggak bisa dipakai membunuh.” Lalu dia ambil pedangnya. Dia bilang, “Ini pakai pedang saya, membunuh.” Kata si Duraid ini. Diambillah pedangnya tersebut, lalu kemudian Duraid mengajarkan: "Cara membunuh itu seperti ini: tusuklah bagian ulu hati, tusuklah bagian perut, tebaslah leher.” Dia ajarkan, tapi dia dengan memberikan isyarat saja. Lalu kemudian setelah mengajarkan instruksi seperti itu, lalu kemudian Duraid berkata, “Sekarang kamu coba praktekin.” Suruh bunuh dirinya. Tapi sebelum dibunuh, maka Duraid berkata, “Bila aku terbunuh, sampaikan kepada ibumu, kenanglah bagaimana para wanita terselamatkan.” Kebetulan, Duraid ini mengenal ibunya Rabiah. Karena dia sudah senior, tua, dia rupanya dulu pernah punya jasa. Duraid ini pernah menyelamatkan wanita-wanita dari Mekkah pada saat satu waktu dalam peperangan besar melawan Hawazin— Quraisy melawan Hawazin. Maka akhirnya Duraid menyelamatkan wanita-wanita Quraisy, disuruh pergi. Salah satunya ibunya Rabiah ini. Tapi Rabiah tidak mengerti masalah itu. Dia mengetahui instruksi adalah bunuh orang kafir, maka dibunuhlah Duraid ini. Mati. Tapi uniknya dia yang ajarkan cara untuk membunuh. Ini orang kafir unik ini. Maka setelah pulang ke Mekkah, Rabiah menceritakan kejadian tersebut. Maka ibunya Rabia sempat menangis. Lalu Rabiah bertanya, “Apa gerangan? Kenapa Anda menangis, Ibu?" Kata ibunya, “Dulu di masa Jahiliyah, ibu beserta sebagian keluarga dari kalangan ibu-ibu Mekkah tertawan dan Duraid-lah yang menyelamatkan kami.” Sebagian buku sejarah juga menyebutkan kalau Rabiah waktu itu umurnya masih 16 tahun. Jadi tidak punya pengalaman sama sekali. Rabiah lalu mengatakan pada ibunya, “Aku benar-benar tidak mengerti masalah itu. Aku cuma tahu... kita di kancah peperangan boleh membunuh orang kafir.” Seperti itulah. Ringkas cerita, teman-teman sekalian, terkumpullah ghanimah pada saat itu, kurang lebih 40.000 domba, 24.000 unta. Ini sebagian buku sejarah menyebutkan, ini riwayat yang paling kuat sebenarnya: terkumpul 40.000 domba, 24.000 unta, 8.000 wanita, dan ada 10.000 anak-anak. Serta lembah itu penuh dengan emas dan perak dan tidak bisa terhitung lagi jumlahnya. Seperti yang dikatakan oleh Duraid, yang kalah pasti tidak akan pernah bisa membawa apa-apa. Maka Nabi ﷺ memerintahkan untuk mengumpulkan seluruh ghanimah tadi. Dikumpulkan di sebuah wilayah, namanya— Bi’rana atau Ji’ranah. Nabi ﷺ memerintahkan agar Hudhail atau Hudhail bin Warqa— ini dari suku, kepala suku Khuza'ah yang memimpin pada saat itu sukunya, untuk mengumpulkan seluruh ghanimah dan kemudian membawanya di hadapan Nabi ﷺ, atau membawanya ke Bi’rana. Dan disuruhlah Hudhail bin Warqa radhiallahu 'anhu, yang merupakan kepala suku Khuza'ah, Untuk menjaga itu. Baik, kita akan tutup, teman-teman sekalian, dengan... penyerangan terhadap kota Taif. Nabi ﷺ lalu menggerakkan seluruh pasukan yang sudah berkumpul untuk menuju kota Thaif. Karena, lembah Hunian sudah dikuasai. Pasukan musuh sudah melarikan diri, Malik bin ‘Auf juga melarikan diri dan sembunyi di benteng, sebagaimana sudah kita jelaskan, di kota Thaif. Saat tiba di depan kota Thaif, pintu gerbang utamanya dikepung oleh Nabi ﷺ. Nabi ﷺ memerintahkan agar seseorang yang bernama Yazid bin Zum’ah Yazid bin Zum’ah ini, radhiallahu 'anhu, agar bernegosiasi dengan penduduk kota Thaif, dengan menawarkan Islam. Bila mereka menolak, mereka harus bayar upeti. Bila mereka menolak, maka barulah terjadi peperangan. Saat mendekati benteng, tiba-tiba seseorang yang bernama Huzail bin Abi Sharah melemparkan anak panahnya yang akhirnya membunuh Yazid bin Zum’ah, radhiallahu 'anhu. Mati syahid. Sementara sudah disepakati, seperti sebuah kesepakatan internasional waktu itu, setiap utusan perang, utusan untuk membawa surat segala macam, tidak boleh dibunuh. Kalau dibunuh, berarti sudah iklan perang. Nabi ﷺ dengan ini mengetahui kalau penduduk Thaif tidak ingin bernegosiasi Dan siap perang, karena sampai pada tingkat membunuh utusan Nabi 'alaihi sholatu wassalam. Pada saat itu juga, Nabi ﷺ mempersiapkan Muslimin. Muslimin dipersiapkan oleh Nabi ﷺ. Huzail bin Abi Sharah— yang telah membunuh Yazid bin Zum’ah— keluar dari benteng sambil menunggangi kuda, dengan maksud ingin memata-matai muslimin. Jadi tadi yang membunuh dengan anak panah itu, dia turun. Ini salah satu kesatrianya kota Thaif. Hudhail juga namanya. Lalu dia keluar untuk memata-matai Muslimin, tapi ternyata tertangkap oleh seseorang yang bernama... Ya’qub bin Zum’ah. Ini saudaranya tadi yang dibunuh itu. Yang merupakan saudara kandungnya Yazid. Nabi ﷺ lalu memberi kesempatan pada Ya’qub untuk membalas kematian saudaranya. Maaf. memberikan kesempatan baginya untuk membunuh siapa yang telah membunuh saudaranya tadi. Lalu dia mengatakan, dia sambil mengatakan, “Ya Rasulullah, ini Huzail, pengkhianat sekaligus pembunuh saudaraku. Izinkan aku membunuhnya.” Maka Nabi ﷺ pun mengizinkan. Beberapa dari pahlawan Muslimin mulai menyerang benteng, tapi gagal. Karena kota Thaif ini, bentengnya, tuh, di atas gunung, terjal-terjal. Dan dengan cara seperti ini, mereka kalau melepaskan anak-anak panah ke tengah-tengah Muslimin itu akan sangat mudah. Maka kewalahan sekali Muslimin untuk memenangkan peperangan pada saat itu. Dan Nabi ﷺ mengepung lama sekali Wilayah kota Thaif, 40 harian. Nabi ﷺ memerintahkan agar seluruh wilayah benteng Thaif ditanamkan tombak-tombak dan anak-anak panah, agar penduduk Thaif tidak bisa melarikan diri, tapi juga belum berhasil. Jadi, di sekitar pintu gerbangnya, di depan-depannya semua itu digali, ditancapkan tombak-tombak, sehingga keluar runcing-runcingnya tombak tersebut dengan anak-anak panah, supaya mereka tidak bisa keluar. Tapi juga belum berhasil pada saat itu. Maka Nabi ﷺ memerintahkan agar perkebunan penduduk Thaif yang berada di luar benteng, mereka akan tebang, Tebanglah pohon-pohon kurma tersebut. karena mereka tidak bisa meletakkan perkebunan mereka di dalam benteng, sempit, tidak akan cukup untuk masyarakat tinggal. Abdu Yalail— ini kebetulan rajanya Thaif yang pernah mengusir Nabi ﷺ pada saat beliau sedang di kota Thaif, di awal dakwah dulu. Mengirim surat kepada Nabi ﷺ yang berbunyi: "Wahai Muhammad, apa urusannya peperangan ini dengan perkebunan kami? Bila kalian menang, maka perkebunan tersebut menjadi hak kalian. Dan bila kalian kalah, maka tetap akan menjadi hak penduduk kota Thaif." Akhirnya Nabi ﷺ memberhentikan penebangan pohon tersebut. Perlu kita garis bawahi, teman-teman sekalian. Sebenarnya, pemimpin Thaif yang sebenarnya adalah ‘Urwah bin Mas’ud. Tapi waktu itu dia keluar meninggalkan Thaif, maka digantikan oleh Abdu Yalail. Waktu itu ‘Urwah bin Mas’ud ada di negeri Syam, tepatnya di kota Jarash, dalam rangka mempelajari pembuatan meriam, dengan tujuan menyerang Madinah. Memang tujuannya untuk itu. Dia pergi ke negeri Syam mempelajari— waktu itu ada bola-bola batu yang besar, dibentuk sedemikian rupa lalu ditaruh di dalam sebuah alat, dilepas talinya, kemudian terlempar dengan jarak jauh untuk menghancurkan benteng-benteng. Pada saat itu, ‘Uyainah bin Husun menawarkan diri kepada Nabi ﷺ. Masih ingat ‘Uyainah bin Hishn, ya? Masih nggak? Masih hidup nggak ini? Senyap sekali. Hidup, ya? ‘Uyainah bin Hishn, atau bin Muhsin, ini adalah pemimpin Ghatafan, yang awal ikut bergabung di Madinah, ikut dengan kecemburuannya. Dia menawarkan diri kepada Nabi ﷺ, “Ya Rasulullah, biarkan saya negosiasi sama orang Thaif. Saya tahu siapa mereka ini.” Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Baik, pergilah ke sana.” Kemudian uniknya, pada saat dia masuk ke dalam sana— waktu di iyakan oleh Nabi ﷺ— Uyainah, diizinkan masuk, karena mereka tahu Uyainah ini. Uyainah ini dianggap orang kafir dulunya, nggak tahu kalau sudah gabung dengan pasukan Muslimin. Maka kemudian mereka berkata, “Ada berita apa denganmu, hai Uyainah?” Uyainah bilang, “Ketahuilah, bahwa pasukan Muslimin sangat lemah, maka jangan pernah kalian menyerah.” Padahal dia sudah Muslim sekarang. “Bukankah kalian telah menyaksikan sendiri kalau di Hunain, di awal peperangan, kalian telah mengalahkan mereka? Maka sekali lagi, bertahanlah. Dan kalian adalah ahli perang dan pemilik benteng yang kokoh.” Itu pengkhianatan. Pada saat Uyainah kembali ke pasukan Muslimin, Nabi ﷺ bertanya kepadanya, “Ada berita apa yang kau bawa, hai Uyainah?” Dia bilang, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah menakut-nakuti mereka. Seraya berkata, ‘Siapa kalian sampai ingin melawan Muhammad? Apakah kalian tidak melihat bagaimana pasukan Muslimin telah menaklukkan Khaybar? Maka menyerahlah.’” Dia lupa kalau ini Nabi ﷺ. Nabi, ada wahyu. Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Apakah benar yang kau ucapkan, hai Uyainah? Benar yang kau ucapkan ini?" Dia bilang, "Iya, benar. Nabi ﷺ mengatakan, “Engkau telah berdusta. Tapi engkau telah mengucapkan begini dan begitu." Nabi rincikan kata-katanya Uyainah. Pada saat itu Uyainah akhirnya ketakutan. Dan dia baru tahu kalau Nabi ﷺ ini tahu semuanya, seperti kasusnya Abu Sufyan yang akhirnya kokoh imannya gara-gara itu. Maka dia pun akhirnya terdiam, dia nggak bisa ngomong apa-apa. Umar bin Khattab menghunuskan pedang. “Ya Rasulullah, izinkan tebas lehernya.” Jadi kalau Umar hidup sekarang enak sekali ini, ya. Maka Nabi ﷺ menjawab, “Biarkan saja dia, hai Umar. Agar orang-orang jangan mengatakan, 'Muhammad membunuh sahabatnya.'” Subhanallah, ini perkataan Nabi ﷺ luar biasa. Sayangnya banyak dari kaum Muslimin tidak memahami kalimat ini. Maksudnya, kata para ulama, adalah: jangan sampai ada statement “Muslim bunuh Muslim.” Di sini takbir, di sana takbir. Mau masuk ke surga, bagaimana caranya, nih? Membunuh sesama Muslim, nggak mungkin. Dan dalam hadits sahih, kata Nabi ﷺ: “Sungguh, murkanya Allah memuncak pada orang yang membunuh— seorang mukmin atau muslim.” Tidak boleh, kecuali ada udzur syar’i-nya, gitu kan. Maka kita semestinya harus paham masalah ini. Abu Bakar radhiallahu 'anhu juga pada saat itu, sempat berkata pada Uyainah, “Wahai Uyainah, apakah engkau mengucapkan, ‘Aku bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad benar-benar utusan Allah’? kau benar tidak syahadatmu ini? Uyainah lalu mengatakan, “Ya Rasulullah, maafkanlah aku. Jiwaku masih lemah secara keimanan.” Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Baiklah, kau dimaafkan. Selesai. Tapi mulai sekarang, tidak ada lagi utusan-utusan." Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu kemudian keluar menghadap ke benteng musuh pada saat itu dan menantang duel. “Ayo, siapa kalian yang ahli perang, keluar! Lawan saya! Siapa yang akan men-duel melawanku?” Khalid bin Walid terus mengangkat suaranya. Tidak ada yang keluar satu pun. Lalu kemudian Khalid terus menantang-menantang sampai akhirnya... mereka melempar surat ke Khalid bin Walid pakai anak panah. Isinya: “Hai Khalid, biar kau berdiri di tempatmu setahun, kami tidak akan keluar. Nggak ada duel.” Mereka tahu siapa Khalid bin Walid. beberapa sahabat lalu membawa benteng kayu, atau manjaniq. Kalau masih ingat di Perang Khaibar, di antara ghanimah adalah, ada kayu yang besar, disusun sampai tingginya– kalau sekarang mungkin mencapai 10–15 meter. Itu ada rodanya, rodanya pun masih dari kayu waktu itu. Dan ada tangga-tangga, sehingga untuk ke atas paling puncak pun bisa. Jadi dia seperti kotak, kurang lebih tingginya sekitar 10–15 meter, lebarnya sekitar 5 meter. Dan di situ bisa diisi banyak pasukan-pasukan, lalu didorong. Tujuannya adalah ditempelkan ke tembok benteng musuh, mereka bisa naik ke atas nanti. Seperti itulah. Dan di bagian depannya itu ditempel kulit-kulit hewan, karena biasanya cara menghancurkan alat seperti ini zaman dulu, mereka melemparkan anak-anak panah mereka yang ada apinya, sehingga kayu itu terbakar dan jadi rontok, gitu kan. Nah, untuk menahan supaya tidak dilempari panah-panah api ini, mereka letakkan kulit-kulit hewan. Itu pun dilumuri, dibasahi dengan air. Kemudian pada saat itu, berusaha para sahabat untuk mendorong, mendekatkan dengan tembok benteng. Namun penduduk Thaif melempari benteng kayu tersebut dengan batu, dan akhirnya merusaknya. Karena proses pembuatannya masih sangat sederhana waktu itu, maka cukup banyak di antara mereka yang... merusak, berhasil merusak kayu-kayu tersebut, dan kelihatanlah sahabat yang ada di dalamnya. Lalu mereka melemparkan dengan anak-anak panah. Maka cara ini pun gagal pada saat itu. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, mendatangi Nabi ﷺ: “Ya Rasulullah, apa strategi perang baru? Semua sudah kita coba ini, tapi belum berhasil.” Saat tiba di kemah Nabi ﷺ, Nabi pun berkata: “Wahai Abu Bakar, Allah baru saja, memberitahukan kepadaku wahyu, kalau Ia belum mengizinkan untuk membebaskan kota Thaif. Upaya apa pun yang kalian lakukan tidak akan menang." Allah sudah suruh cukup. Habis ini, disuruh pulang. Abu Bakar berkata: “Apakah aku perintahkan orang-orang untuk pulang, ya Rasulullah?” Kata Nabi ﷺ, “Iya, suruh pulang semuanya. Sudah nggak ada gunanya lagi di sini.” Pada waktu itu, ada seseorang yang bernama Abu Muhjid al-Tsaqafi, salah satu tokoh kota Thaif, sedang ribut mulut dengan Umar bin Khattab. Jadi Umar bin Khattab keluar duel, “Keluarlah, tantang saya!” Perang, gitu, segala macam. Abu Muhjid ini, dari atas benteng mengatakan, “Hey Umar, percuma! Kami tidak akan lawan kamu.” Umar mengatakan, “Kalian pengecut!” Apalah segala macam, lagi saling duel mulut. Abu Muhjid lalu berkata, “Sungguh kalian tidak tahu berperang. Bahkan mengepung benteng saja sampai sekian puluh hari, tidak bisa menembusnya.” Tadi saya sempat keliru, bukan 40 sekian hari ya, 20 sekian hari Nabi ﷺ mengepung benteng ini. Umar lalu menjawab, “Kalian hanya seperti biawak yang sedang sembunyi dalam lubangnya, karena takut pada musuh. Mau ke mana kalian? Demi Allah kami akan menunggu walaupun setahun, sampai kalian menyerah!” Abu Bakar lalu mendekati Umar dan berkata, “Hai Umar, jangan ucapkan kalimat itu. Karena Nabi ﷺ telah memberitahukan kepadaku bahwasannya kota Thaif tidak diizinkan oleh Allah untuk dibuka.” Maka Umar bertanya kepada Abu Bakar, “Apakah engkau mendengar langsung dari Nabi ﷺ?” Kata Abu Bakar, “Iya.” Umar lalu berkata lagi, “Berarti kita balik?” Kata Abu Bakar, "Iya. Beberapa sahabat yang masih semangat mau berperang, terutama orang-orang yang sempat melarikan diri di Lembah Hunain, mereka kembali. Mereka tidak menghadapi musuh sekarang. Mau berperang, mau menunjukkan penyesalan mereka. Lalu mereka pun... berkata kepada... satu sama yang lain, “Demi Allah, kita jangan balik sampai membuka kota Thaif.” Mereka belum dengar kalau Nabi ﷺ sudah terima wahyu, ini. Mereka mendatangi Nabi ﷺ seraya berkata, “Wahai utusan Allah, izinkan kami menyerang dan menembus, atau menebus kesalahan-kesalahan kami.” Kata Nabi ﷺ, “Tidak bisa, Allah belum mengizinkan untuk membuka ini.” Ini poin penting, teman-teman sekalian. Bayangkan, peperangan dipimpin oleh Nabi ﷺ, pasukannya Nabi ﷺ 12.000, dan ada sebuah hadis yang berbunyi: “Pasukan Muslim 12.000, tidak akan terkalahkan.” Ada hadis yang seperti itu, dihasankan oleh para ulama. Maka di sini, teman-teman sekalian, kita perlu ambil pelajaran. Ada peperangan— Nabi ﷺ menang. Di Badar, menang. Di Perang Ahzab, menang. Kemudian ada peperangan yang Nabi ﷺ dan pasukan Muslim terkalahkan, di Uhud misalnya. Ada peperangan, yang Nabi ﷺ menyerang tapi tidak ada perlawanan (Mekkah). Ada peperangan yang Nabi ﷺ menyerang tapi tidak sama sekali diizinkan oleh Allah untuk menang. Dan ini bisa terjadi. Beragam macam kejadian ini adalah pelajaran buat kita semua. walaupun kita kuat, kita punya strategi, kita sudah berdoa, kalau Allah belum izinkan, maka tidak bisa. Mirip dengan kasus penyerangan Konstantinopel. Nabi ﷺ sudah menyebutkan, “Kalian akan membebaskan Konstantinopel.” Bayangkan, dari zaman Yazid bin Muawiyah, sampai... kurang lebih berjalan itu Yazid bin Muawiyah berkuasa di tahun 60-an Hijriah— itu sampai terjadinya nanti di Sultan Fatih, itu tahun 1453 Masehi. Jadi sudah... sekian ribu tahun, ratus tahun, baru kemudian terjadi. Padahal penyerangan non-stop, terus terjadi. Kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ingin bukakan di tangan siapa itu di Kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, kena mereka mendesak, kata Nabi ﷺ, “Cobalah, kalau kalian mau coba. Tetapi, tidak akan ada kemenangan. Nggak bisa. Allah sudah tutup itu." Maka mereka pun mencoba dengan kekuatan penuh, namun juga gagal. Karena anak-anak panah kota Thaif banyak sekali. Mereka lempar anak-anak panah dari dalam kota, akhirnya menyerang Muslimin. Nabi ﷺ, waktu mereka melihat mereka kembali, banyak yang luka, segala macam, kata Nabi ﷺ, “Bukankah sudah aku katakan? Allah belum izinkan. Sekarang baliklah." Maka mereka pun mengatakan, “Wahai utusan Allah, kalau demikian, doakan saja agar mereka binasa. Kalau kita tidak diizinkan oleh Allah, doakan supaya Allah hancurkan saja mereka.” Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Ya Allah, berikanlah hidayah penduduk kota Thaif.” Bukan malah Nabi ﷺ doakan kehancuran, tapi Nabi ﷺ doakan— hidayah. Nabi ﷺ saat itu belum langsung bubar, dan masih menunggu sekitar 10 hari, dengan harapan penduduk Thaif datang dan masuk Islam. Juga memohon agar para tawanan dari kaum wanita dan anak-anak mereka dibebaskan. Tapi juga mereka tidak kunjung datang. Maka Nabi ﷺ pada saat itu mulai membagi harta rampasan perang. Kan banyak harta rampasan perang, ya kan? Ada wanita, ada anak-anak. Nabi tunggu. 10 hari tidak ada penyerangan, supaya orang Thaif tahu kalau kita bukan mau menyerang. Sudah, tidak usah diserang. Berhenti, tapi masih disitu. Nunggu, ada tidak yang mereka datang mau menyerahkan diri, mau masuk Islam? Nabi ﷺ melihat tidak ada sama sekali, maka mulailah Nabi ﷺ membagi-bagi harta rampasan perang. Nabi ﷺ mulai membagi harta rampasan perang kepada— para muallaf. Dan dimulai pada saat itu dengan Abu Sufyan. Nabi ﷺ menyuruh Abu Sufyan diberikan 100 ekor unta, ditambah dengan 100 uqiyah emas dan perak. Banyak sekali harta ini, melimpah. Satu ekor unta saja sudah mahal sekali. Apalagi 100 ekor unta plus 100 uqiyah. Ya, uqiyah itu mungkin bisa... satu uqiyah itu bisa belasan atau mungkin puluhan kilo emas. Ini 100 uqiyah, banyak sekali. Abu Sufyan waktu itu karena masih muallaf, dan walaupun dia sudah merasa tenang dengan Islam, dia lalu mengatakan juga, “Anakku Muawiyah, wahai Rasulullah." Minta juga harta buat anaknya. Di depan orang-orang. Kata Nabi ﷺ, “Berikan anaknya juga 100 ekor unta, sama 100 uqiyah emas dan perak.” Abu Sufyan bilang lagi, “Anakku Yazid, ya Rasulullah.” Kata Nabi ﷺ, “Berikan juga anaknya, Yazid, 100 ekor unta dan 100 uqiyah emas dan perak.” Abu Sufyan pada saat itu meletakkan semua itu di atas lembar kain besar. Dia bawa kain besar, ditaruh semua disitu. Punya dia, punya anaknya, Muawiyah, punya anaknya, Yazid. Dan pada saat itu saking banyaknya, dia berusaha mengangkat tapi tidak bisa, karena beratnya. Lalu dia berkata, “Bantulah aku mengangkatnya.” Kata Nabi ﷺ, “Jangan. Tidak boleh ada yang bantu. Angkat sendiri.” Maka Abu Sufyan— Subhanallah, orang kalau depan mata dia lihat harta, sudah lain. Dia lihat begitu, maka dia berusaha mengangkat kain tersebut. Terus saja dia berusaha mengangkat di punggungnya sampai berhasil. Kuasa Allah, dia bisa mengangkat, ya. Takut harta ini ditarik kembali oleh Nabi ﷺ, maka dibawa. Nabi ﷺ pada saat melihat hal tersebut, menggeleng-gelengkan kepala. Dalam riwayat dikatakan, karena heran melihat cinta dunia para muallaf ini. Nabi ﷺ lalu memanggil yang kedua, Uyainah bin Muhsin tadi, yang selalu cemburu dari awal itu. Pemimpin Ghatafan. Kata Nabi ﷺ, “Berikan dia 100 ekor unta, dan 100 uqiyah dari emas dan perak.” Bayangkan di sini, teman-teman sekalian, bagaimana Nabi ﷺ menarik hati para muallaf. Uyainah baru saja berkhianat tadi. Berkhianat kan tadi? Dia masuk ke Thaif lalu dia mengatakan, “Bertahanlah,” segala macam. Nabi ﷺ maafkan, masih dikasih uqiyah. Masih dikasih 100 ekor unta dan 100 uqiyah. Nabi ﷺ panggil lagi Akra’ bin Habis. Ini juga salah satu— pimpinan suku Tamim yang masuk Islam, masih muallaf. Kasih juga sama: 100 ekor unta, 100 uqiyah. Sampai itu dikenal dengan— Hari Seratusan. Begitu dikatakan dalam buku sejarah, karena Nabi ﷺ suruh bagi seratus-seratus-seratus. Kemudian dipanggil lagi Shafwan bin Umayyah. Shafwan bin Umayyah ini masih dalam keadaan— kafir, tapi kan dia ikut berperang. Dia juga pinjamkan senjatanya. Nabi suruh kasih 100 ekor unta. Kasih juga dia 100 ekor unta dan 100 uqiyah emas dan perak. Terus saja Nabi ﷺ membagi-bagi kepada para pemimpin dengan nilai yang sama. Dan keluarlah istilah pada saat itu dari para sahabat: orang-orang pemilik 100. Maksudnya adalah orang yang menerima selalu dengan angka 100. Seorang badui, baru masuk Islam, mendatangi Nabi ﷺ Dan dia berkata, “Wahai Muhammad, berikanlah aku seekor kambing.” Maka Nabi ﷺ melihat ada di Lembah Hunain, kambing banyak sekali, jadi mengelompok-ngelompok gitu. Nabi tunjuk satu kelompok kambing, mengatakan, “Ambillah, semua ini buat kamu.” Orang ini mengatakan, “Wahai Muhammad, jangan olok-olok aku.” Dia cuma minta satu ekor. Kata Nabi ﷺ, “Tidak sama sekali. Ambil, untuk kamu semuanya.” Maka orang itu pun mendatangi Lembah Hunain, untuk mengambil kelompok— jadi banyak kelompok kambing itu, terlalu banyak. 40.000. Nabi ﷺ kasih dia. Mungkin sekitar 100–200 ekor, bawa. Maka dia waktu jalan ke Lembah Hunain, dia pikir ada Muslim yang akan menghalangi dia. Dia lihat kiri kanan, dihalangi nggak ini? Dia masih mualaf, nggak ngerti Lalu kemudian dia lihat semua sahabat biarkan dia jalan. Tidak ada satu pun yang memegang dia. Kemudian diambillah sama dia semua... kambing tersebut. Dibawa ke sukunya. Dan pada saat itu, diambil, langsung dia pergi. Kebetulan suku dia di dekat Lembah Hunain. Dia muallaf, baru masuk Islam di Mekkah. Maka pada saat itu pun dia teriak dari depan gerbang sukunya, mengatakan, “Wahai kaumku, masuk Islamlah! Karena Muhammad mengajarkan agama yang tidak akan pernah membuat kita miskin.” Maka pada saat itu, kaumnya mengerumuni dia, mengatakan, “Apa yang terjadi?” Dia bilang, “Saya masuk Islam. Lihat apa yang saya bawa ini, sekian ratus ekor kambing.” Kata mereka, “Dari mana?” “Muhammad kasih saya cuma-cuma, hanya dengan syahadat saja. Masuk Islamlah kalian." Berbondong-bondong sukunya datang, waktu Nabi ﷺ lagi bagi-bagi harta rampasan perang. Maka mereka berkumpul, dan tersebar berita di seluruh lembah Hunain. Dan lembah-lembah ini penuh dengan suku-suku yang tadinya— takut dengan Hawazin. Masih dalam keadaan kafir, mereka semua tiba-tiba masuk Islam gara-gara ghanimah tadi. Dan saking banyaknya orang-orang badui datang memenuhi sekitar Nabi ﷺ— syahadat, minta ghanimah, syahadat, minta ghanimah— akhirnya Nabi ﷺ pada saat itu tidak bisa bergerak. Dan orang-orang badui, orang-orang kasar. Ada di antara mereka yang datang lalu menarik baju Nabi ﷺ, mengatakan, “Ya Rasulullah, berikan kepadaku!” Sampai baju Nabi ﷺ jatuh. Lalu beliau mengatakan, “Tenanglah, hai manusia. Kembalikan bajuku dulu." Dikembalikan baju Nabi ﷺ, lalu beliau mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan menahan apa pun untuk kalian. Aku akan bagi, tenang aja. Nggak usah berebut." Sampai... pada saat itu mereka tenang dan Nabi ﷺ membagikan semua. Ada di antara orang Badui mengatakan: “Wahai Muhammad, berikan aku bagian! karena sesungguhnya Quraisy kaum yang tidak adil.” Omongannya kasar sekali. Minta ghanimah. baru mencaci-maki, gitu kan. Umar dengar. Umar marah, ini. Sudah biasalah. Maka Umar mengatakan, “Ya Rasulullah, penggal lehernya!” Nabi ﷺ mengatakan, “Biarkan, hai Umar.” Lalu kemudian Nabi mengatakan kepada orang badui tadi— luar biasa, ya. orang ini, sudah berkata begitu, minta ghanimah— dikasih oleh Nabi ﷺ. Lalu Nabi masih tanya, “Apa kau sudah ridha?” Orang itu mengatakan, “Iya, aku sudah ridha.” Maka Nabi ﷺ terus memberi suku-suku Arab, kecuali Anshar. Anshar nggak dikasih waktu itu. Dari Madinah, belum dibagi. Ini semua orang-orang muallaf ini. Di dalam tawanan perang, nanti kita akan kembali ke kisah Anshar, ya. Di dalam tawanan perang wanita, ada satu wanita tua sekali, umurnya sudah 70 tahunan, namanya Syaymah binti Harits. Siapa orang ini, teman-teman sekalian, Syaymah binti Harits? Harith ini adalah... suaminya... Halimah as-Sa’diyah, yang dulu menyusui Nabi ﷺ di Mekkah. Dari suku Sa'di. Nama suaminya... Halimah adalah Harits. Ini Syaimah, anaknya Halimah as-Sa’diyah. Tapi sudah tua, lebih tua dari Nabi ﷺ. Waktu Nabi lagi disusui, oleh Halimah, ini sudah jadi kakak susuannya Nabi ﷺ. Dia teriak-teriak dalam harta rampasan perang, di kumpulan tawanan. Dia mengatakan, “Aku adalah saudari Nabi kalian.” Para sahabat menjawab, “Kami tidak tahu kalau Nabi kami punya saudari." Nabi, meninggal ibunya, umur 6 tahun. Ayahnya juga meninggal, dia masih 6 bulan di perut ibunya. Nggak ada saudaranya Nabi ﷺ, gitu. Maka Syaimah berkata, “Bawalah aku kepadanya.” Lalu dibawalah Syaimah ke hadapan Nabi ﷺ. Lalu kemudian para sahabat mengatakan, “Wahai utusan Allah, ada wanita yang mengaku sebagai saudari Anda. Ini orangnya." Nabi ﷺ bertanya kepadanya, “Siapa engkau?” Nabi tidak kenal, karena sudah tua, sudah 70 tahun. Nabi ﷺ waktu itu sampai umur 6 tahun saja tinggal di suku Sa’diyah. Selebihnya sudah tinggal di Mekkah, gitu kan. Dan kemudian hijrah ke Madinah. Maka Syaimah berkata, “Aku Syaimah binti Harits as-Sa’di. Aku adalah anaknya Halimah as-Sa’diyah.” Nabi ﷺ berkata, “Apakah ada tanda kalau engkau adalah saudari sesusuanku? Ada sesuatu yang kau tahu? Kisah apa yang kau ingat?” Maka kata Syaimah, “Di pundakku terdapat tanda bekas gigitanmu dulu. Itu yang aku ingat, dulu pernah kau gigit pundakku.” Maka Nabi ﷺ menjawab, “Engkau benar.” Maka Nabi ﷺ pun memerintahkan agar Syaimah dibebaskan. Bahkan sempat Nabi ﷺ tawarkan agar Syaimah ikut ke Madinah, tapi dia lebih memilih untuk tinggal bersama kaumnya— di kota Thaif. Termasuk dalam tawanan perang adalah Suraqah bin Malik al-Ju’syumi. Masih ingat kisah Suraqah ini? Suraqah ini waktu Nabi ﷺ mau hijrah ke Madinah dengan Abu Bakar, dia sempat mengejar. Kemudian kaki untanya tenggelam, kemudian dia sampai tiga kali, karena dia ketakutan, maka dia mengatakan, “Hai Muhammad, berikanlah kepadaku— jaminan.” Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Baiklah.” Suruh Abu Bakar tulis surat jaminan, bahwa Surakah punya jaminan dari Nabi ﷺ. Dan pada saat itu tentu, ditulis pada saat itu oleh Abu Bakar di atas sebuah tulang, dan disimpan oleh Suraqah. Nabi ﷺ pada saat itu, dilaporkan oleh para sahabat, “Ada dalam— tawanan, Suraqah, minta tolong bertemu dengan Anda, ya Rasulullah.” Kata Nabi ﷺ, “Pertemukan dengan saya.” Kata dia, “Wahai Muhammad, apakah kau masih ingat aku punya— jaminan darimu?” Lalu dikeluarkanlah tulang tersebut, tulisannya Abu Bakar. Kata Nabi ﷺ, “Iya. Hari ini adalah hari kemuliaan dan penepatan janji. Bebaskan dia.” Dibebaskan. Melihat kejujuran dan kebaikan hati Nabi ﷺ, tiba-tiba Suraqah syahadat, masuk Islam gara-gara itu. Sekarang kita masuk, teman-teman sekalian, ke keadaan kaum Anshar. Orang-orang Anshar, di depan mata mereka— mereka yang tadinya menyambut Nabi ﷺ hijrah dari Mekkah ke Madinah dalam kondisi— di Mekkah ditolak, diusir— maka mereka terpukul. Kok bisa? Bahkan mereka yang membuat pasukan inti yang menembus Mekkah, sekarang di Hunain pun mereka juga pasukan inti, kok semua orang dapat ghanimah kecuali Anshar? Sebagian di antara mereka, satu sama yang lain orang Anshar ini saling bicara, “Kenapa, ya, Rasulullah melupakan kita? Apakah karena Rasulullah ﷺ sudah bertemu dengan kaumnya? Sudah ke Mekkah, ketemu kaumnya, sudah menang membebaskan kotanya sampai lupa sama kita. Mestinya kita lebih dulu diperhatikan.” Pimpinan orang Anshar waktu itu salah satunya, namanya Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu, mendatangi Nabi ﷺ dan mengatakan, “Wahai utusan Allah, sesungguhnya Anshar memiliki beban pada jiwa mereka terhadap keputusan Anda.” Kata Nabi ﷺ, “Kenapa?” Dia mengatakan: “Karena Anda membagikan ghanimah untuk seluruh orang kecuali Anshar.” Kata Nabi ﷺ, “Bagaimana dengan engkau, hai Sa’ad?” Sa’ad bin ‘Ubadah ini orang pimpinan Anshar yang terkenal dengan keimanannya. Dia mengatakan, “Aku juga hanya bagian dari kaumku.” "Aku juga merasakan hal yang sama, ya Rasulullah." Butuh jawaban ini. Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Kumpulkan kaummu. Jangan tinggalkan satu pun dari Anshar, kecuali sudah berkumpul. Dan tidak boleh ada yang hadir kecuali Anshar." Setelah mereka berkumpul, dan hadir pada saat itu, Nabi ﷺ berkhutbah di hadapan mereka. Setelah tahmid dan shalawat untuk diri beliau ﷺ, beliau bersabda: “Wahai kaum Anshar, bukankah aku datang pada kalian di saat kalian sesat, lalu Allah beri hidayah? Bukankah saat aku datang, kalian miskin, lalu Allah kayakan kalian? Bukankah aku datang saat kalian berpecah belah, lalu kalian disatukan oleh Allah? Bukankah terkalahkannya, Yahudi, musuh kalian, itu dengan datangnya aku?” Jadi dulu, waktu di Madinah sebenarnya, waktu sebelum Nabi ﷺ hijrah, suku Anshar ini terdiri dari dua suku, namanya Aus dan Khazraj. Itu oleh orang-orang Yahudi dibuat berantem terus, perang, dan dibiayai. Sehingga perang lah terus. Setiap pertanyaan Nabi ﷺ ini, selalu jawaban orang Anshar: “Allah dan Rasul-Nya pemilik karunia dan kebaikan.” Lalu Nabi ﷺ berkata lagi: “Dan pastilah kalian juga benar, kalau kalian berkata, kalian bisa jawab, ‘Hai Muhammad, engkau telah datang kepada kami dalam keadaan tersesat, lalu kami menerimamu. Kamu nggak tahu harus ke mana, Madinah dulu menerimamu. Datang dalam keadaan miskin, dan kami memberimu. Terusir, dan kami melindungimu.’” Kaum Anshar serentak semuanya menjawab mengatakan “Sungguh... milik Allah dan Rasul-Nya karunia dan kebaikan.” Nabi ﷺ lalu bersabda: “Wahai Anshar, apakah kalian kecewa, karena aku telah mengobati dan mengokohkan hati orang-orang lemah, dan aku bergantung dengan iman mereka? Aku berikan itu karena mereka bisa murtad, mereka masih muallaf. Sementara aku melihat kalian beda, kalian adalah orang-orang yang sudah tertanam iman dalam hatinya. Bagaimana pendapat kalian, wahai Anshar? Sementara manusia membawa unta dan kambing, dan kalian membawa pulang Rasulullah ﷺ?” Maka serentak seluruh Anshar waktu itu menutup wajah-wajah mereka, sambil menangis dan berkata: “Kami telah ridha dengan Allah dan Rasul-Nya. Kami telah ridha dengan Allah dan Rasul-Nya.” Mereka terus menangis sampai akhirnya suara mereka terdengar ke seluruh penjuru lokasi pada saat itu. Di sini, teman-teman sekalian, tentu kita ambil pelajaran penting. Bagaimana bisa dipertemukan dan dipertaruhkan antara harta rampasan perang dengan Rasulullah ﷺ? Nggak mungkin. Maka pada saat itu pun Nabi ﷺ berdoa kepada Allah, dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah Anshar, dan anak-anak Anshar, juga cucu-cucu Anshar.” Dalam riwayat lain dikatakan: “Ya Allah, berkahilah, rahmatilah Anshar, dan anak-anak Anshar, dan keturunan-keturunan Anshar. Ya Allah, musuhilah, semua yang memusuhi Anshar, dan kasihanilah semua yang mengasihani Anshar.” Maka seluruh Anshar pada saat itu bergembira dengan doa Nabi ﷺ, dan akhirnya mereka mengambil, atau menerima keputusan itu. Dan ini juga pelajaran penting, teman-teman sekalian, bagaimana para sahabat ridwanallahi 'alaihim bagi mereka yang terpenting adalah masalah kenikmatan iman, bukan harta. Dan yang membuat orang-orang Anshar bisa menerima, sementara orang lain menerima 100 ekor unta, 100 ekor unta, 100 ukiyah emas, sementara mereka tidak, hanya karena masalah keimanannya. Pada saat Nabi ﷺ akan kembali ke Mekkah, tiba-tiba utusan Hawazin datang, kepada Nabi ﷺ. Kita tutup dengan ini tentunya. “Wahai Muhammad, kasihanilah kami.” Setelah Nabi ﷺ bagi-bagi harta rampasan perang semuanya, Wanita-wanitanya, anak-anak, hartanya semua sudah dibagi, maka baru datang utusan Kota Thaif. Hawazin ini. Baru keluar dari benteng, setelah Nabi tunggu 10 hari. Dia mengatakan, “Wahai Muhammad, kasihanilah kami. Apalagi nikmatnya hidup setelah seluruh wanita dan anak-anak, tidak lagi bersama dengan kami.” Mereka rupanya selama 10 hari, semuanya laki-laki di benteng itu merasa sedih. Bagaimana tidak ada lagi istri, tidak ada anak, tidak ada lagi wanita, tidak ada lagi anak-anak. Hilang semuanya. Dibawa pulang oleh orang-orang karena jadi rampasan perang. Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Demi Allah, aku tidak menunggu selama waktu ini semua— 10 hari— kecuali berharap kalian datang, dan memohon serta masuk Islam. Sekarang semua sudah di tangan orang-orang, tidak mungkin aku ambil kembali.” Lalu utusan Hawazin mengatakan, “Tolonglah, hai Muhammad, lakukan sesuatu.” Kata Nabi ﷺ pada saat itu, bertanya kepada mereka, “Mana yang kalian lebih sukai, keluarga kalian atau harta kalian? Pilih salah satunya: istri, anak, atau harta?” Maka mereka mengatakan, “Tentu kami tidak akan mendahulukan— sesuatu dari nasab kami.” Artinya, "Pasti keluarga kami, kami dahulukan." Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Nanti aku akan kumpulkan manusia. Bila aku sudah kumpulkan manusia, aku akan memberikan kalian kesempatan untuk menyampaikan hajat kalian. Sampaikanlah hajat kalian." Saat Muslimin dikumpulkan oleh Nabi ﷺ, semua disuruh kumpul, sementara mereka sudah punya harta rampasan perang, maka Nabi ﷺ memerintahkan agar seluruh... Pasukan pada saat itu mendengarkan keluhan suku Hawazin. Mulailah pimpinan mereka, Hawazin, berkata, “Wahai sekalian manusia, kasihanilah kami. Sungguh nasab kami telah terputus atau akan terputus. Maka kembalikanlah keluarga kami kepada kami.” Nabi ﷺ waktu mendengar itu, sebelum sahabat menjawab, beliau berdiri. Lalu Nabi ﷺ mengatakan, “Kalau harta, maka kami tidak akan kembalikan. Tetapi, wanita dan anak-anak yang ada di bawah naunganku, yang aku sudah miliki sekarang, dibagianku, maka ambillah untuk kalian semua.” Karena tadi Nabi sudah bilang, kalau seluruh harta juga ditarik, susah. Kalau emas, perak, unta, sudah tidak bisa lagi diambil. “Maka, aku kembalikan yang di bawah naunganku.” Mendengar pernyataan Nabi ﷺ, maka serentak kaum Muhajirin berdiri, dan berkata, “Siapapun di bawah naungan kami, milik kalian. Demi kemuliaan Rasulullah ﷺ.” Dan perlu juga kita garis bawahi, ya. Orang-orang Anshar tadi— yang mereka tidak dapat ghanimah, itu maksudnya harta, ya. unta, emas, perak— tapi, tawanan dapat. Perempuan dan anak-anak dibagiin. Jadi tawanan mereka. Maka orang Anshar pun berdiri— padahal mereka tidak dapat harta tadi. mereka mengatakan, “Semua yang di tangan kami, milik kalian. Demi kemuliaan Rasulullah ﷺ.” Tinggal ada beberapa orang ini. Yang pertama, Uyainah bin Muhsin. Berdiri mengatakan. Semua orang bilang, "Ini milik kalian." kecuali dia. Dia mengatakan: “Kalau yang di tanganku bukan punya kalian. Ini punya saya. Tidak mau. Tidak mau dikembalikan.” Kemudian berdiri juga seseorang, namanya Abbas bin Mirdas, kepala sukunya Sulaim. Dia berdiri mengatakan, “Siapapun di bawah naunganku, tidak akan aku kembalikan.” Abbas ibn Mirdas ini, kepala suku Sulaim, kaget waktu dia bilang, “Semua di bawah naunganku— wanita dan anak-anak— tidak akan aku kasih. Ini harta rampasan perangku.” Dia kaget waktu sukunya, Sulaim, malah berdiri. Serentak 1.000 orang. Ada beberapa jadi korban, kurang lebih 900 sekian orang berdiri semua, lalu mengatakan, “Siapapun yang di bawah naungan kami, adalah milik kalian. Demi kemuliaan Rasulullah ﷺ.” Abbas ini lalu kaget, dia mengatakan kepada sukunya, “Sungguh kalian telah mempermalukan aku. Aku bertahan supaya tetap berada di medan perang. Kenapa kalian kasih kembali?” Lalu mereka mengatakan, “Hai Abbas, ini adalah Rasulullah. Jangan kita tolak. Sudahlah, kasih saja. Kan ada uang, ada emas, ada perak, ada unta. Untuk apa kita rebut wanita dan anak-anaknya orang?” Lalu Nabi ﷺ datangi Uyainah— karena tinggal Uyainah di sini. Abbas akhirnya mengatakan, “Baiklah, saya bebaskan juga.” Jadi tinggal Uyainah sendiri. Kata Nabi ﷺ— Nabi nego dengan dia ini. “Hai Uyainah, bebaskanlah.” Lalu kemudian Uyainah mengatakan, “Wahai utusan Allah, sudah jadi milik saya. Ini milik kami." Waktu itu kebetulan Nabi ﷺ dekatkan Abbas sama Uyainah. Abbas waktu itu juga belum bebaskan. Dia nanti akan bebaskan. Nabi ﷺ nego dengan keduanya. Nabi mengatakan, “Bebaskanlah.” Kata mereka berdua, “Wahai utusan Allah, Ini sudah milik kami. Kenapa harus dibebaskan?" Masih muallaf, masih lebih cinta harta, gitu. Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Aku akan gantikan kalian. Asal bebaskan saja. Ganti dengan apa saja yang kalian mau, saya gantikan.” Uyainah, uniknya, dia nego dengan Nabi. Dia bilang, “Berapa?” Padahal ini dapat tanpa peperangan, gitu ya. Kata Nabi ﷺ, “Setiap satu jiwa, 4 ekor unta.” “Berapa orang di bawah naungan kamu?” “10 perempuan, 10 anak-anak.” “Baik, saya bayar setiap orang, 4 ekor unta.” Maka dia mengatakan, “Baik, saya setuju. Terima itu. Kembalikan semua wanita dan anak-anaknya Hawazin. Demikian pula dengan Abbas. Diajak negosiasi, tapi kelebihannya Abbas, Abbas mengatakan, “Sudah, ya Rasulullah. Nggak perlu ada negosiasi. Saya bebaskan sebagaimana kaum saya bebaskan.” Maka dengan cara seperti ini, Hawazin bebas keluarganya. Istri, anak mereka kembali semuanya. Pada saat itu, dengan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala, masuklah Islam di dalam hatinya pemimpin Hawazin, namanya— Malik bin Auf tadi, yang panglima perang, yang 24 tahun itu. Malik bin Auf berkata kepada para prajuritnya, “Sungguh, kita ini hanyalah setetes air— di pulau yang besar. Semua suku Arab sudah tunduk dengan Muhammad. Kita tidak akan bisa menghadapi muslimin." “Dan setiap orang di antara kita bahkan tidak bisa menuju Thaif," karena dia sembunyi di satu benteng dari benteng-benteng Thaif, "Ibu kota ini, kita tidak bisa datangi. Dan di dalamnya tidak bisa lagi keluar dengan aman.” Malik bin Auf meminta bertemu dengan Nabi ﷺ, lalu dia mengikrarkan Islamnya. Nabi ﷺ menguji kebenaran masuk Islamnya Malik bin Auf dengan mengutusnya menyerang Thaif: “Sekarang kau sudah masuk Islam, coba serang kotamu sendiri.” Maka Malik bin Auf menunjukkan kejujuran Islamnya. Dia pun menyerang dan mengepung Thaif. Tapi, tentu saja sebagaimana sudah disampaikan, Thaif tidak akan bisa dibuka pada saat itu. Nabi ﷺ lalu menuju ke kota atau wilayah Ji’ranah, tempat berkumpulnya tadi ghanimah itu. Lalu kemudian beliau miqat di situ. Beliau pakai ihram, lalu kemudian beliau masuk untuk umrah lagi di Mekkah. Maka, keluarlah istilah pada saat itu dalam buku-buku fikih kita, ada miqat lain namanya Ji’ranah, sekitar 30 km dari Kota Mekkah. Pada bulan Dzulhijjah, tahun 8 Hijriah, Nabi ﷺ kembali ke Madinah dan memerintahkan agar haji— dilindungi dan dijaga oleh gubernur Mekkah dari pihak Nabi ﷺ yang bernama ‘Utat bin Usaid, tadi. Dan Nabi ﷺ juga memerintahkan agar Abu Bakar radhiallahu 'anhu memimpin haji, dari Madinah pada tahun 8 Hijriah itu. Jadi, waktu pulang— tadi kan penyerangan Hawazin tahun 2, hari kedua dari bulan Syawal, gitu kan. Kemudian mereka sudah menang, sampai di Madinah kurang lebih di akhir bulan Dzulqa'dah. Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan agar tahun itu ada haji. Lalu menyuruh Abu Bakar memimpin haji, tapi Nabi belum haji pada saat itu. Kemudian Nabi ﷺ haji tahun depannya, di tahun 9 Hijriah, yang dikenal dengan Haji Wada'. Dan pada tahun itu, kebetulan, pemimpin kota Thaif yang bernama ‘Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi, balik dari negeri Syam. Tepatnya, dari kota Jarash. Dan dalam perjalanan dari Jarash ke Thaif, ‘Urwah mendengarkan semua kejadian dengan izin Allah. Maka Islam pun masuk dalam hatinya, dan ‘Urwah langsung menuju ke Madinah dan mengikrarkan Islamnya. Ini pimpinan Thaif. Nabi ﷺ sangat gembira dengan masuk Islamnya ‘Urwah ini, karena dia raja Thaif dan yakin Thaif setelah itu akan takluk. Karena Thaif pada saat itu, mereka cuma minta wanita dan anak-anak mereka, tapi mereka belum— belum masuk Islam. ‘Urwah lalu kemudian belajar banyak tentang Islam, dan kemudian pulang dan berkata, “Ya Rasulullah, izinkan aku mendakwahi kaumku.” Kata Nabi ﷺ, “Tapi mereka akan membunuhmu nanti.” Kata ‘Urwah, “Wahai utusan Allah, ini kewajibanku. Aku harus mendakwahi mereka.” Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Baiklah. Tapi hati-hati, mereka akan bisa membunuhmu. Tapi kalau kamu terbunuh, maka mati syahid.” Maka ‘Urwah mengatakan, “Walaupun mereka membunuhku, ya Rasulullah.” Akhirnya Nabi ﷺ mengizinkan dia. Saat tiba di kota Thaif, seluruh penduduk Thaif menyambutnya dengan meriah karena dia pimpinannya. Dan mereka tidak tahu kalau dari kota negeri Syam, ini ‘Urwah sudah menuju ke Madinah dan masuk Islam. Maka pada saat itu pun mereka menyambut dengan meriah. Dan tradisi masyarakat Thaif waktu itu, mereka datang, setiap datang pasti menyembah patung mereka yang dikenal dengan al-Lat. Jadi al-‘Uzza ada di perjalanan antara Mekkah sama Thaif. Sementara al-Lat ada di kota Thaif itu. ‘Urwah bin Zubair tidak ke sana, dan langsung ke rumahnya. Penduduk Thaif tidak tahu, mereka mengatakan, “Mungkin dia letih dari perjalanan jauh.” Beberapa pemuka Thaif mendatangi ‘Urwah di rumahnya, dan ternyata ‘Urwah mendakwahkan Islam kepada mereka. Dan spontan mereka semua menolak. Izinkan saya tutup dengan ini, teman-teman sekalian, karena kita harus rangkumkan tentang masalah Thaif ini, ya. Pada saat melihat peluang mendakwahi kaumnya tertolak, maka ‘Urwah pun naik di atas rumahnya, kemudian dia adzan untuk shalat dengan suara keras. Maka para pemuka kaumnya melemparkan anak panah kepadanya, sampai akhirnya ‘Urwah— mati syahid, radhiallahu ‘anhu. Masyarakat Thaif makin bingung. Sampai kapan mereka menolak Islam, sementara mereka sendiri sangat terpukul dengan masuk Islamnya pemimpin mereka, namanya ‘Urwah bin Mas’ud, dan Malik bin ‘Auf, radhiallahu ‘anhuma. Serta setiap kali mereka— setiap saat mereka bisa diserang oleh Muslimin. Setelah bermusyawarah, maka mereka pun mengambil sebuah kesimpulan: "Kita masuk Islam saja." Seluruh Thaif masuk Islam. Lalu diutuslah utusan ke Madinah. Namun mereka punya permintaan yang unik, nih. Nabi ﷺ menerima utusan mereka, lalu mereka berkata, “Wahai Muhammad, kami akan masuk Islam, tapi syaratnya, halalkan buat kami zina.” Masuk Islam, tapi zina boleh. Kata Nabi ﷺ, “Tidak boleh. Allah sudah haramkan itu." Mereka bermusyawarah lagi, “Baiklah, kita terima, zina pun haram.” Mereka mengatakan, “Baik, kami mau masuk Islam, kami terima juga semuanya. Tapi halalkan buat kami khamr." Minuman keras. Ini minuman keras di Mekkah sama Thaif seperti air putih buat kita. Bangun tidur minum khamr, siang minum khamr, malam minum khamr. Minuman seperti itu. Kata Nabi ﷺ, “Tidak mungkin. Allah telah mengharamkannya. Muslim harus haram khamr.” Musyawarah lagi. Setelah musyawarah, kembali lagi, “Baiklah, kami mau masuk Islam, kami terima zina juga haram, khamr haram, tapi halalkan buat kami riba.” Jadi boleh rentenir, pinjamin orang uang berbunga. Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Tidak mungkin. Allah juga sudah mengharamkan riba, dan menjadikan riba, lebih besar daripada zina.” Mereka bermusyawarah lagi. Lalu kemudian mereka mengatakan, “Baiklah, kami akan masuk Islam. Tapi dengan syarat, jangan hancurkan patung-patung kami. Terutama al-Lat." Al-Lat ini seperti Hubal di Mekkah, yang paling besar. Nabi ﷺ mengatakan, “Tidak bisa. Allah telah mengharamkan penyembahan berhala. Di wilayah muslim nggak boleh ada patung." Ini pelajaran penting. sudah saya tekankan ini ya: tidak boleh di kota Muslim, di rumah seorang Muslim ada patung. Alasan apapun, harus dihilangkan. Mereka bermusyawarah, lalu kemudian mereka datang lagi, mengatakan, “Baiklah, kami akan masuk Islam. Tapi... kalau pun engkau mau hancurkan al-Lat dan patung-patung, jangan kami yang hancurkan. Kami tidak berani, takut kualat.” Maka kata Nabi ﷺ, “Tidak apa-apa, akan dihancurkan oleh selain kalian.” Maka Nabi ﷺ mengutus kepada mereka ‘Amr bin al-‘As, radhiallahu ‘anhu, untuk menghancurkan tuhan-tuhan mereka. Pada saat tiba di kota Thaif, seluruh masyarakat Thaif menunggu pada saat itu. Karena ini adalah hari penghancuran berhala mereka. Dan saya sudah katakan tadi, Thaif adalah kota kedua terbanyak patungnya setelah Mekkah. Mekkah itu ada di sekitar Ka’bah saja 375. Di seluruh Mekkah, itu ada ribuan patung. Dihancurkan semua. Di Thaif adalah kota kedua. Maka kota Thaif waktu itu masyarakat menunggu semua. Datanglah ‘Amr bin al-‘As dengan beberapa sahabat, lalu kemudian mereka menghancurkan tuhan-tuhan orang-orang Thaif tadi. Mereka berkata, pada saat melihat al-Lat sudah hancur, dan batu-batu semuanya hancur lebur, maka mereka semuanya masuk Islam dan berkata, “Bila al-Lat membunuh ‘Amr, tentu berarti al-Lat kuat. Tapi al-Lat telah dibunuh oleh ‘Amr. Maka kita harus masuk Islam." Maka ‘Amr bin al-‘As pun akhirnya, menerima syahadat mereka semuanya. Dengan demikian, seluruh masyarakat Thaif baru menyadari bahwa, selama ratusan tahun, mereka sembah hanyalah patung dan kebohongan, serta kekeliruan. Maka seluruhnya akhirnya masuk Islam. Pada saat Mekkah, Thaif, dan suku terbesarnya, Hawazin, masuk Islam, maka suku-suku Arab semuanya berbondong-bondong untuk masuk Islam. Sebagaimana sudah kita jelaskan dalam surat An-Nasr, surat nomor 110, ayat 1 sampai ayat 3, yang Allah berfirman, A‘ūdzu billāhi minash-shaitānir-rajīm. ini penutupan kita tentunya. اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ Dan Apabila telah datang pertolongan Allah dan juga kemenangan. Kemenangan kata ulama tafsir, Mekkah dimulai, dan kemudian, Hawazin atau Hunain yang kedua. وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًاࣖ Maka, engkau akan melihat, hai Muhammad, orang-orang akan masuk ke dalam— دِيْنِ atau agama Allah secara berbondong-bondong, maka bertasbihlah kepada Tuhanmu dan beristighfarlah. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat hamba-hambaNya." InsyaAllah kita akan bahas nanti di pertemuan akan datang: sisa beberapa ayat berhubungan dengan masalah atau penyebutan tentang Hunain di dalam Al-Qur’an, kemudian pelajaran yang bisa kita ambil dari Perang Hunain. Lalu kemudian, insyaAllah kita akan masuk ke Perang Tabuk di tahun 9 Hijriyah, peperangan Muslimin melawan bangsa Romawi. Allahu a‘lam. Sampai sini, insyaAllah. Sudah masuk jam 7, ya? 4 menit lagi. Ada pertanyaan? Nggak ada? Alhamdulillah. Rupanya bagus pengajian subuh ini, ya. Antara lesu sama serius, ya. Tapi khairan, InsyaAllah. Mungkin begitu saja. Kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: Semoga majelis kita diberkahi oleh-Nya, dan ini dijadikan sebagai tambahan amal kita pada hari kiamat. Semoga seluruh dosa yang pernah kita kerjakan dimaafkan dan diganti dengan keMaha-murahan-Nya menjadi pahala. Dan tidak pernah lupa, kita doakan Indonesia menjadi negara yang aman, tenteram, dan damai. Seluruh umat Islam di bawah naungan ukhuwah Islamiyah, dan juga dalam ibadah mereka kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Dan siapa pun yang menginginkan keburukan bagi Indonesia, bagi seluruh wilayah Islam, tidak terkecuali, bagi Islam dan Muslimin, dikembalikan tipu daya mereka kepada diri mereka sendiri. Wa Shallallahu Ala Nabiyyina Muhammadin, walhamdulillahirabbil 'alamin. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.