Sirah Nabawiyah #21 : Pembebasan Kota Makkah [Part 2] - Khalid Basalamah
B61q8f2q9p4 • 2018-02-02
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Tidak pernah berhenti kita memuji Sang Pencipta, Allah, atas segala nikmat yang dilimpahkan kepada kita. Dan juga kita panjatkan salam hormat kita, shalawat dan taslim kepada manusia terbaik yang diutus kepada kita, Nabi Besar Muhammad ﷺ. Melanjutkan bahasan kita, sirah... dan tadi kita sudah lihat... bagaimana... Nabi ﷺ dengan sangat mudah menaklukkan Kota Mekkah... tanpa perlawanan, kecuali sangat kecil sekali. Yang dipimpin oleh ‘Ikrimah bin Abi Jahl dan Shafwan bin Umayyah bin Khalaf, yang berusaha untuk... menghadang pasukan Khalid bin Walid. Itu pun... mereka terkalahkan, dan dua puluh sekian orang dari Quraisy terbunuh. Nabi عليه الصلاة والسلام... pada saat itu... menuju ke... Ka'bah, dan sempat membaca akhir Surah Al-Fath. Dan beliau pada saat itu... membaca tapi belum melakukan... Khilaf di antara ahli sejarah, apakah Nabi ﷺ tawaf pada saat itu atau cuma sekadar... lewat sambil membaca kembali akhir Surah Al-Fath, untuk memastikan kepada orang-orang Quraisy... kalau, <i>“Aku adalah utusan Allah.”</i> Karena bunyi ayatnya: "مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ" (QS. Al-Fath [48]:29) <i>"Kemudian yang bersamaku ini</i> <i>bukan orang-orang biasa,"</i> (Para sahabat) mereka adalah orang-orang pilihan Sang Pencipta, Allah, dan sudah disebutkan ciri-ciri mereka di dalam Taurat dan Injil. Terus Nabi ﷺ mengumandangkan akhir Surah Al-Fath ini, sampai akhirnya Nabi ﷺ mendekati sumur Zamzam. Dan ini lanjutan bahasan kita dari yang bahasan tadi pagi. Nabi ﷺ menuju ke sumur Zamzam, lalu beliau ﷺ bersabda pada saat itu, sambil memanggil Abbas: <i>“Hai Abbas, kesinilah...</i> <i>dan timbahkanlah air buat kami.”</i> Kata Nabi ﷺ: <i>“Kalau bukan...</i> <i>karena khawatir orang saling berebut,</i> <i>maka niscaya aku akan timbah sendiri.”</i> Khawatirnya kalau Nabi ﷺ yang menimbah air Zamzam, maka akhirnya umat akan berebut untuk mengambil hasil timbahan Nabi عليه الصلاة والسلام. Maka beliau menyuruh Abbas untuk menimbahnya, paman beliau yang baru saja masuk Islam, رضي الله عنه. Juga dikatakan oleh para ulama, bila Nabi ﷺ menimbah sendiri air Zamzam tersebut, maka nanti akan menjadi sunnah. Yang berarti setiap orang kalau minum di sumur Zamzam menimbah sendiri. Padahal sebenarnya mungkin kesulitan, apalagi kayak di zaman kita sekarang umat Islam makin banyak. Maka mungkin lebih dimudahkan... kalau seperti ini hukumnya. Abbas lalu berkata: <i>“Wahai utusan Allah...</i> <i>tidakkah Anda,”</i> setelah Nabi ﷺ ambil air Zamzam, beliau meminumnya. Dan para sahabat menyaksikan bagaimana Nabi ﷺ meminum air Zamzam tersebut, dan menjadi sebuah sunnah, di mana banyak hadits Nabi ﷺ yang berbunyi: <i>“Zamzam adalah...</i> <i>minuman sekaligus makanan</i> <i>yang mengenyangkan.”</i> Juga dalam hadits yang lain, kata Nabi ﷺ: <i>“Zamzam sesuai dengan niat orang yang meminumnya.”</i> Setelah itu, Nabi عليه الصلاة والسلام —dan keluar juga sebuah hukum tentunya, ya— disunnahkan setiap selesai habis thawaf... atau keliling Ka'bah untuk minum air Zamzam. Sebagaimana yang kita tahu dalam masalah... umrah dan haji. Abbas رضي الله عنه lalu setelah minum Zamzam tadi... bersama Nabi ﷺ, dia mengatakan, <i>“Wahai utusan Allah, tidakkah Anda...</i> <i>mendatangi rumah Anda yang dahulu</i> <i>Anda tinggal bersama Khadijah?”</i> Jadi ada rumah Nabi ﷺ dulu, besar. Khadijah رضي الله عنها tinggal di komplek elitnya Mekkah. Bersebelahan dengan Abu Jahl, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, orang-orang tokoh Mekkah. Nabi ﷺ dulu tinggal di komplek itu. Tetapi, waktu Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, bersama dengan seluruh sahabat, hijrah, maka seluruhnya menjadi rampasan orang-orang Mekkah. Dirampas secara paksa. Dan uniknya, yang mengambil rumah Nabi ﷺ adalah... sepupunya sendiri. Namanya ‘Aqil. 'Aqil bin Abi Thalib. Nah ini saudaranya Ali bin Abi Thalib, tapi dia tidak masuk Islam. Maka kata Abbas: <i>“Tidakkah Anda, ya Rasulullah, mendatangi rumah Anda?</i> <i>Sekarang Anda sudah menang.”</i> Mekkah sudah direbut. Satu Mekkah sekarang miliknya Nabi. Bukan cuma rumah beliau, rumahnya orang kafir semua, dengan orang-orang kafirnya, semua jadi hak Nabi ﷺ. Karena... pasukan Muslimin masuk dengan kekuatan di sini, walaupun mereka tidak sempat melawan. Beda hukumnya kalau ada kesepakatan damai sebelumnya. Tapi kalau pasukan masuk di satu wilayah dan berkuasa, maka seluruh wilayah itu... menjadi harta rampasan perang. Maka Nabi ﷺ menunjukkan adab dan akhlak yang luar biasa di dalam Islam. Yang luar biasa di dalam Islam. Beliau mengatakan, <i>“Wahai Abbas,</i> <i>apakah ‘Aqil bin Abi Thalib</i> <i>masih meninggalkan tempat tinggal buat kami?</i> <i>‘Aqil adalah salah satu kerabatku.”</i> Nabi ﷺ jelaskan. Padahal Abbas tahu... kalau itu adalah... keponakannya. Tapi Nabi ﷺ menjelaskan agar Muslimin tahu. Kata Nabi ﷺ, <i>“’Aqil adalah kerabatku,</i> <i>dan ia telah menjualnya.”</i> Jadi waktu Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, diambillah rumah itu oleh ‘Aqil, lalu ‘Aqil menjualnya. Dan Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Bagaimana aku masih menganggap itu rumahku?”</i> Jadi ini juga keluar sebuah hukum syar’i. Kalaupun sampai misalnya... — semoga tidak terjadi bagi Muslimin — ada wilayah dicaplok oleh orang-orang kafir, dikuasai, lalu kemudian mereka sudah mentransaksikan rumah-rumah kita di situ, walaupun kita merebutnya kembali, sudah bukan rumah kita. Seperti itulah. Maka Nabi ﷺ pun tidak mengambil kembali rumah itu. Menganggap rumah itu adalah hak orang kafir yang sudah membeli dari ‘Aqil. Nabi ﷺ sempat tinggal selama 19 hari di Mekkah pada saat itu. Dan selama itu beliau mengqashar shalatnya tanpa jamak. Dzuhur di waktu Dzuhur, dua rakaat. Ashar di waktu Ashar, dua rakaat. Tapi beliau mengqashar selama 19 hari. Makanya ini salah satu dalil yang sangat jelas dipegang oleh sebagian ulama tentang... bolehnya menjamak qashar lebih daripada... 6 hari. Karena ada pendapat juga mengatakan maksimal 6 hari, tapi khilaf di antara ulama. Di antaranya adalah... dalil shahih yang menjelaskan bagaimana Nabi ﷺ tinggal di sana... selama 19 hari dan beliau tentunya mengqashar, tapi tanpa jamak. Dan ini juga sebuah hukum syar’i, dikatakan lebih afdol seseorang kalau musafir, kalau dia sudah tiba di satu lokasi, merasa aman, tidak butuh untuk dijamak, maka dia cukup mengambil keutamaan qasharnya saja. Waktu Dzuhur dia shalat dua rakaat, nanti di waktu Ashar juga dia shalat lagi dua rakaat, kalau dia merasa... tidak ada sesuatu yang mendesak dia... untuk menjamak qashar-nya. Nabi ﷺ lalu memerintahkan agar Quraisy semuanya — karena mereka tawanan perang — satu kota Mekkah dikumpulkan di sekitar Bukit Shafa. Jadi waktu itu kebetulan memang masyarakat kalau dikumpulkan dekat Bukit Shafa, dan belum ada bangunan kayak kita sekarang, ya. Shafa dan Marwah dulu diibaratkan... gunung. Dua gunung yang kosong. Tidak ada bangunan di situ. Memang betul dipakai sa’i berjalan, karena dari zaman Ibrahim عليه السلام, tapi tidak dibangun bangunan di zaman Quraisy dulu. Maka seperti masih lembah, padang pasir. Dikumpulkanlah seluruh orang Quraisy di situ. Dan Nabi ﷺ menyampaikan... ceramahnya atau khutbahnya yang masyhur, yang isinya sangat tegas, yaitu memberantas semua... keputusan-keputusan jahiliyah. Mulai hari itu tidak ada lagi kemusyrikan di Mekkah, semuanya harus bertauhid. Dan juga tidak boleh ada riba, praktik zina, semuanya yang haram diterapkan. Dan Nabi ﷺ setelah menyampaikan tidak ada lagi kemusyrikan, tidak ada lagi riba, tidak ada lagi zina di Mekkah, lalu beliau menutup, mengatakan, <i>"Semua perkara jahiliyah...</i> <i>mulai hari ini di bawah</i> <i>telapak kakiku,</i> <i>kecuali pengurusan Ka'bah</i> <i>dan jemaah haji."</i> Yang lain semua sudah tidak ada lagi, dihapus. Seperti mengundi nasib, penyihir, segala macam, dukun, ini sudah tidak ada semua. Islam yang diterapkan pada saat itu. Lalu Nabi ﷺ bersabda... dalam pernyataannya yang masyhur. Setelah mengingatkan semua hukum Islam, Quraisy sekarang merasa takluk, mendengar, kata Nabi ﷺ, <i>“Wahai Quraisy,</i> <i>kira-kira menurut kalian,</i> <i>apa yang akan aku lakukan pada kalian?”</i> Sekarang pasukan menguasai satu lokasi, bebas mau buat apa saja. Mau dibunuh, mau dibebaskan, mau dijadikan budak, bebas-bebas saja. Hukum syar'i pun membolehkan itu. Dalam arti kata, kalau memang... dianggap mereka adalah pembangkang-pembangkang yang berbahaya bagi Muslim, bisa saja dihukum mati. Maka Quraisy serentak menjawab, mengatakan: <i>“Engkau adalah saudara dan kerabat kami</i> <i>yang mulia dan dermawan.”</i> Maka Nabi ﷺ mengucapkan kalimat masyhur, dan ini yang membebaskan seluruh Mekkah... dari tawanan perang, dan juga tidak ada ghanimah dari Mekkah, tidak ada harta yang diambil sedikit pun dari Mekkah pada saat itu. Kata Nabi ﷺ: <i>“Pergilah, kalian telah aku bebaskan.”</i> Nggak ada tawanan perang walaupun dalam keadaan kafir. <i>“Nggak ada tawanan perang,</i> <i>nggak ada juga diambil harta-harta kalian.”</i> Dan ini luar biasa, melunakkan hati orang-orang Quraisy. Bagaimana pasukan telah berhasil menang, apalagi beberapa tahun saja sebelumnya, itu sudah sempat Quraisy menyerang. Berperang di Badr, berperang di Uhud, berperang di Khandaq. Banyak sekali. Dan permusuhan-permusuhan yang sangat jelas. Bagaimana Nabi ﷺ setelah menguasai itu tidak menghukum mereka, malah membebaskan. Pada saat itu, seluruh Mekkah di bawah kekuasaan Nabi ﷺ, dan seluruhnya dalam keadaan aman. Seluruh pintu gerbang Mekkah dijaga oleh pasukan Muslimin. Semua sisi jalan-jalan Mekah dikuasai oleh Muslimin. Prajurit Islam semua menyebar di situ. Dan itu selalu saja aman dalam kurang lebih hitungan 2–3 hari, sampai datang seseorang bernama Fudhola. Fudhola ini... dia mengiklankan masuk Islam... pada saat itu, tapi ada tujuan dia: dia ingin... membunuh Nabi عليه الصلاة والسلام. Dia menyembunyikan sebuah pisau... dengan berharap... kalau sudah dekat dengan Nabi ﷺ, dia langsung menusuk Nabi عليه الصلاة والسلام. Begitu dia mendekat dengan Nabi ﷺ, tidak ada yang mengerti. Karena ini Nabi ﷺ disampaikan wahyu, dan ini salah satu mujizat yang terjadi di Mekkah pada saat itu, maka Nabi ﷺ melihat Fudhola waktu mendekat, langsung Nabi tegur dia: <i>“Wahai Fudhola,</i> <i>apa yang sedang</i> <i>terlintas di benakmu?”</i> Maka Fudhola mengatakan: <i>“Aku ingin beribadah dan istighfar.”</i> Ini kebetulan dekat Ka'bah... di sekitar tempat tawaf. Maka Nabi ﷺ mengatakan sambil mendekati Fudhola: <i>“Beristighfarlah, hai Fudhola.”</i> Dia mengatakan, <i>“Astaghfirullah.”</i> Lalu Nabi ﷺ mengatakan yang kedua kali, <i>“Beristighfarlah, hai Fudhola.”</i> Fudhola beristighfar lagi, <i>“Astaghfirullah,”</i> sampai tiga kali. Setelah tiga kali, Nabi ﷺ lalu meletakkan telapak tangannya yang suci dan mulia di dada Fudhola. Lalu tiba-tiba, dengan meletakkan telapak tangan di dada... Fudhola, kata Fudhola: <i>"Pisau di tanganku,"</i> atau, <i>"di simpananku,"</i> dia menyembunyikan di antara bajunya, <i>"Jatuh."</i> <i>"Dan pada saat itu, demi Allah,</i> <i>tidak ada orang yang paling aku benci...</i> <i>sebelum Nabi Muhammad ﷺ meletakkan</i> <i>telapak tangannya pada dadaku, melebihi dirinya.</i> <i>Orang yang paling aku benci</i> <i>adalah Nabi Muhammad ﷺ.</i> <i>Dan setelah Nabi ﷺ melepaskan</i> <i>telapak tangannya dari dadaku,</i> <i>maka aku menemukan dia adalah</i> <i>orang yang paling aku cintai."</i> Sisi yang lain, teman-teman sekalian, masih ingat tadi Abu Sufyan. Sempat saya katakan, kalau beliau masuk Islam tapi masih bimbang. Karena ketakutan saja. Dan kebimbangan ini terus terjadi. Abu Sufyan waktu itu pemimpin Mekkah. Kalau masih ingat kita review kembali, selesai Perang Badr, waktu terbunuh mayoritas... pimpinan Quraisy —Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Syaibah, Walid— banyak tokoh-tokoh Quraisy meninggal, dan akhirnya yang paling tua waktu itu tersisa Abu Sufyan, maka Abu Sufyan seperti ditokohkanlah, seperti jadi pemimpin Mekkah pada saat itu. Dan dialah yang memicu... peperangan terjadinya... Perang Uhud setelahnya. Kemudian dia juga menjadi pemimpin untuk Perang Ahzab, sebagaimana sudah pernah kita ceritakan itu, sudah kita ceritakan panjang lebar masalah Ahzab dalam surah nomor 33, Surah Al-Ahzab. Panjang lebar ceritanya sudah disampaikan juga. Maka Abu Sufyan ini... seperti orang yang tidak percaya. Dia duduk menghadap Ka'bah, kemudian dia mulai berpikir, melihat... orang-orang Quraisy... semuanya... banyak yang datang, syahadat, ada yang kembali berkumpul dengan kerabatnya, Muslimin, kemudian Nabi ﷺ dengan seluruh pasukannya menguasai Mekkah. Di mana-mana prajurit Muslimin. Dia kayak tidak menyangka, seperti orang yang mimpi, <i>“Apa yang terjadi ini?”</i> Maka sempat terpikir di benak dia, sepintas, dia ingin... mengumpulkan kembali Quraisy diam-diam di malam hari, kemudian mengajak suku-suku Arab yang masih bisa diajak untuk menyerang Muslimin. Lagi sementara dia berpikir itu, tiba-tiba dia merasakan pundaknya dari belakang ada yang memegang. Dia kaget, seperti kita kalau lagi melamun ada orang pegang pundak kita. Maka dia balik, ternyata Nabi ﷺ. Tiba-tiba dia kaget, dan ini salah satu yang menambah akhirnya Islamnya bisa... tidak ragu lagi, ya. Walaupun ini masih ada poin lagi setelahnya yang lebih menguatkan, setelah itu Abu Sufyan tidak ragu lagi dengan keislaman. Maka Nabi ﷺ mengatakan: <i>“Allah akan menghinakanmu, wahai Abu Sufyan,</i> <i>kalau kau lakukan niatmu.”</i> Kaget dia. Abu Sufyan kaget, bagaimana Nabi ﷺ bisa tahu? Belum dia ungkapkan, baru di otaknya. Dan dia sudah tahu kalau Nabi paham masalah itu. <i>“Allah akan menghinakanmu Abu Sufyan,</i> <i>kalau kau jalankan niatmu.”</i> Maka pada saat itu Abu Sufyan heran. Berkecamuk di benak dia: <i>“Ini kayaknya benar Rasulullah ini.</i> <i>Nggak mungkin dia bisa tahu seperti ini.”</i> Pada saat itu Nabi ﷺ tinggalkan Abu Sufyan. Cuma ucapkan kalimat itu saja, ditinggalkan. Abu Sufyan berkecamuk di pikirannya antara dua pikiran tadi: mengumpulkan orang-orang Arab dan Quraisy untuk menyerang Muslimin, dengan ketakutan karena Nabi tahu. Maka ada dua orang temannya. Dua orang ini pimpinan Quraisy juga. Namanya Utad ibn Usaid. Dan Harith ibn Hisham. Usaid... dan Hisham... ayahnya kedua orang ini. Utad ibn Usaid, Usaid ini mati terbunuh dalam keadaan kafir. Harith ibn Hisham, Hisham juga terbunuh dalam keadaan kafir. Ini anak mereka ini. Dua-duanya sahabat dekatnya Abu Sufyan. datang duduk di sebelah Abu Sufyan, menghadap ke Ka'bah... melihat kejadian tersebut. Lalu ketiga orang sahabat ini masing-masing seperti orang yang terdiam, tidak tahu apa yang harus dilakukan, bingung gitu. Lalu tiba-tiba saja si Utad berkata... Maaf, pada saat itu sebelumnya... waktu mereka lagi melamun, mengkhayal melihat keadaan ini, waktu shalat masuk. Nabi ﷺ suruh Bilal naik ke atas Ka'bah. Adzan di atas Ka'bah. Utad, Abu Sufyan... ini semuanya, dan Harith, tahu betul Bilal ini siapa, budak. Dulu dia diperjualbelikan. Bagi mereka tidak ada nilainya Bilal di Mekkah itu. Ini di pandangan mereka. Tapi Bilal رضي الله عنه di dalam Islam tentu punya kemuliaan. Bahkan Abu Bakar pun setelah membebaskan dia, dan setelah ikut ke Madinah hijrah, kata Abu Bakar: <i>“Bilal Sayyiduna. Bilal itu tuan kita."</i> Dalam Islam berbeda. Tapi mereka tahu, dalam pandangan mereka masih pikiran jahiliyah. <i>“Ini siapa?</i> <i>Ini budak diperjualbelikan...</i> <i>naik ke atas Ka'bah.</i> <i>Tokoh-tokoh Quraisy saja tidak ada</i> <i>yang pernah injak ke atas Ka'bah."</i> Maka sementara mereka melihat kejadian tersebut, Bilal karena mau mengumandangkan adzan, Utad tadi bilang: <i>“Sungguh beruntung Usaid,</i> (ayahnya dia) <i>karena tidak melihat bagaimana hamba sahaya ini</i> <i>naik ke atas Ka'bah seraya bertakbir.</i> <i>Kalau ayah saya masih hidup (Usaid)</i> <i>ini pasti dihukum, nih.</i> <i>Nggak mungkin ada budak</i> <i>bisa naik ke atas Ka'bah.”</i> Harith bin Hisham juga bilang sama. Harith bilang: <i>“Sungguh beruntung Hisham,</i> <i>karena tidak melihat budak ini, hamba sahaya,</i> <i>naik ke atas Ka'bah dan bertakbir.”</i> Kalau Abu Sufyan, dia bilang begini: <i>“Sungguh aku tidak mau berkata apa-apa.</i> <i>Karena demi Allah,</i> <i>kalau aku ucapkan kata-kata,</i> <i>maka batu ini akan</i> <i>sampaikan ke dia.”</i> dia tunjuk batu di depannya. Uniknya dalam riwayat ini, Subhanallah, baru mereka habis bicara begitu, Nabi ﷺ lewat. Lalu Nabi bilang: <i>“Wahai Utad!</i> <i>sungguh beruntung Usaid karena tidak melihat</i> <i>hamba sahaya di atas Ka'bah.</i> <i>Wahai Harith!</i> <i>sungguh beruntung Hisham tidak melihat</i> <i>budak ini di atas Ka'bah bertakbir.</i> <i>Wahai Abu Sufyan!</i> <i>sungguh aku tidak akan berkata apa-apa.</i> <i>Karena kalau aku ucapkan,</i> <i>batu itu akan menyampaikan.</i> Semenjak kejadian ini, Abu Sufyan tidak ragu lagi dengan keislamannya. Ini kejadian terakhir yang membuat Abu Sufyan رضي الله عنه tidak ragu dengan Islam. Maka pada saat itu, kata ahli sejarah, Abu Sufyan seluruh hatinya dipenuhi dengan Islam. Nggak ada keraguan lagi. Pada saat itu dikumandangkan iqamah, lalu shalatlah baginda Nabi عليه الصلاة والسلام. Dan memerintahkan setelah selesai shalat, memimpin shalat... bagi masyarakat Mekkah. Pada saat itu Nabi ﷺ qashar... shalatnya, dan tepatnya waktu itu di waktu shalat Dzuhur. Karena pasukan Muslimin masuk tadi di Mekkah di waktu dhuha. Setelah mengatur semuanya tadi di dalam Mekah, maka tiba waktu shalat Dzuhur. Nabi ﷺ suruh kumandangkan adzan, lalu iqamah, lalu Nabi ﷺ shalatnya qasar, dua rakaat Dzuhur. Bagi masyarakat Mekkah, mereka ikut dengan Nabi ﷺ. Lalu mereka menyempurnakan dua rakaat yang tersisa. Dan ini keluar juga sebuah hukum syar’i: bolehnya imamnya musafir. Kemudian dia salam, lalu makmumnya menambah rakaat yang tersisa. Setelah selesai shalat, Nabi عليه الصلاة والسلام memerintahkan seluruh Muslimin dan juga orang-orang kafir pada saat itu yang ada, untuk menyingkir dari sekitar Ka'bah, kosongkan semua. Dan waktu itu, Ka'bah dikelilingi dengan 375 berhala. Banyak sekali. Sepuluh berhala saja sudah penuh, apalagi 375. Sampai dikatakan zaman itu, orang kalau tawaf, dia seperti jalan di antara patung-patung, saking banyaknya. Dan setiap orang bebas buat patung, taruh lagi patung, dia namakan sendiri, lalu dia sembah sendiri di depan Ka'bah. Dan ada patung paling besar waktu itu yang paling ditakuti oleh... orang-orang Mekkah, namanya... Hubal. Patung Hubal. Tentu ada patung juga yang lain: Al-Lat dan Al-‘Uzza, ya. Ini patung-patung. Kalau Al-Lat dan Al-‘Uzza ini, ini nama orang yang dulu dimuliakan oleh mereka... di Mekkah. Mereka dulu suka memberikan makan jemaah haji, menggilingkan gandum, lalu kemudian dimuliakan. Sampai akhirnya dibuat patungnya dan disembah selain daripada Allah ﷻ. Dan patung yang paling besar adalah patung Hubal. Tinggi, besar, dan dirantai dengan sekian banyak rantai supaya tidak ada yang mengambilnya. Seperti itulah. Dan banyak sekali yang diletakkan... hal-hal yang... berupa perhiasan, segala macam, ditempelkan. Ada yang menghancurkan, melunakkan emas, dioleskan ke Hubal, dan seterusnyalah. Jadi membuat sebuah patung yang dianggap agung, bersih, mewah, dan segalanya. Nabi عليه الصلاة والسلام pada saat itu sengaja... menyuruh seluruh Muslimin untuk menyaksikan, dan orang-orang kafir. Umat Islam membuat lingkaran, lalu orang kafir berada di belakang mereka untuk melindungi Nabi عليه الصلاة والسلام. Lalu Nabi ﷺ mendatangi satu per satu patung tersebut. Sambil membawa tongkat beliau, dan beliau di atas untanya, عليه الصلاة والسلام, dan membaca ayat Al-Qur’an yang masyhur. وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا (Surah Al-Isra’, 17:81) <i>Katakanlah (hai Muhammad),</i> <i>"Al-Haq telah datang</i> <i>dan batil telah hilang musnah."</i> <i>Dan kebatilan pasti akan musnah.</i> Setiap kali Nabi عليه الصلاة والسلام mendekatkan tongkatnya ke patung-patung tersebut, belum tersentuh, hancur. Sebagai mukjizat. Dan disaksikan oleh semua orang. Ini mukjizat juga termasuk yang besar di Mekkah. Karena patung-patung ini dibuat dari batu-batu yang keras. Tapi biasanya juga mereka kalau mau hancurkan pakai kampak, pakai alat-alat yang besar. Ini tidak. Nabi ﷺ cuma pakai tongkat, dan belum disentuh, hancur sendiri. Dan hancurnya itu uniknya menjadi tanah. Selalu begitu. Semua 300 lebih patung itu dilakukan begitu oleh Nabi ﷺ. Dan mereka kaget melihat itu. Patung yang ratusan tahun mereka sembah, mereka yakini sebagai tuhan, bahkan mereka takut berbicara keras suara di dekat patung tersebut. Mereka menganggap kalau bersumpah atas namanya akan diijabah, dan segala macam keyakinan yang selama itu di zaman jahiliyah mereka percaya. Maka patung-patung tersebut, semuanya berjatuhan di hadapan Nabi ﷺ dan melebur dengan tanah. Jatuh. Dan Nabi عليه الصلاة والسلام sengaja menyisakan Hubal. Tinggal satu, Hubal, patung yang paling besar. Dan keyakinan orang-orang Quraisy, kalau Hubal ini tidak akan pernah ada yang bisa kalahkan. Dan selama ada Hubal di Mekkah, berarti tidak akan pernah Mekkah bisa diserang. Seperti itu keyakinan mereka. Sekarang, Nabi ﷺ ingin membatalkan keyakinan itu. Maka beliau pun, عليه الصلاة والسلام, mendekati Hubal. Dan beliau sengaja memegang tongkatnya, memperlihatkan kepada Quraisy, lalu mencolok matanya Hubal Sambil mengatakan: وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا (Surah Al-Isra’, 17:81) Perlu teman-teman tahu, Hubal ini... kalau dipikul, itu mungkin 20 orang baru bisa angkat. Beratnya. Patung besar. mungkin lebih besar daripada tiang besi ini. Tapi Nabi ﷺ di atas untanya, Nabi ﷺ juga tinggi besar, lalu tongkatnya pun dicolokkan ke matanya. Begitu satu kali dicolok saja, disentuhkan Nabi ﷺ, goncang Hubal. Goyang, seperti lagi ada yang menggoyangkan, gitu. Lalu Nabi ﷺ menarik tongkatnya, ingin menunjukkan kepada Quraisy, <i>"Lihat."</i> Lalu Nabi ﷺ melakukannya yang kedua kali, sambil membaca: وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا (Surah Al-Isra’, 17:81) Lebih keras lagi suara Nabi ﷺ. Memberitahukan kepada mereka karena ini dalam bahasa Arab: <i>"Kebenaran telah datang,</i> <i>kebatilan pasti akan musnah.</i> <i>Dan kebatilan pasti akan musnah,"</i> nggak mungkin tidak. Maka Hubal pun akhirnya jatuh, rubuh, dan menjadi kepingan-kepingan pecah. Jadi saking besarnya Hubal, sampai dia nggak melebur jadi tanah. Dan Nabi ﷺ melihat itu jatuh, lalu mengatakan kepada para sahabat: <i>"Hancurkanlah!"</i> Dihancurkan sampai tidak tertinggal sedikitpun dari potongan... Hubal tadi. Melihat kejadian tersebut, teman-teman sekalian, yang luar biasa terjadi: semua Quraisy... tiba-tiba bersyahadat. Sudah nggak ada keraguan lagi. Ini patung yang selama ini mereka sembah, mereka pertahankan, ternyata hancur... lebur di tangan Nabi ﷺ. Dan hancurnya dengan cara seperti tadi. Terhina. Bukan dikeroyok ramai-ramai, nggak. Hancur hanya dengan sentuhan-sentuhan tongkat saja, dan firman Allah yang berbunyi tadi sudah kita bacakan. Setelah hancur semua, dan berbondong-bondong orang mengucapkan syahadat, Nabi عليه الصلاة والسلام sekarang ingin menyempurnakan pembersihan Kota Mekkah dari segala kesyirikan dengan masuk ke dalam Ka'bah. Perlu kita tahu, teman-teman sekalian, Ka'bah di zaman itu di dalamnya pun banyak patung. Ada patung-patung juga. bahkan dindingnya itu dilukis-lukis, digambar-gambar oleh mereka. Rupakah-rupakah, jadi bentuk-bentuk. Jadi seperti kita kalau dipahat, dibuat, gitu, ya. Maka Nabi ﷺ waktu itu mengetahui yang pegang kunci Ka'bah, ada dari keturunan Abdid Dar, bernama Utsman bin Thalhah. Utsman bin Talhah... waktu dia lihat kejadian tadi... patung-patung itu hancur, syahadat dia. Sudah tidak ada lagi kebatilan, tidak ada lagi kebenaran kecuali ini, gitu. Maka... Nabi عليه الصلاة والسلام mengatakan kepada Utsman bin Thalhah... untuk... bukakan pintu Ka'bah. Maaf. Utsman bin Thalhah ini keliru saya, bukan... bukan dia masuk Islam pada saat penghancuran batu patung-patung, tapi dia masuk Islam bersamaan dengan... Khalid bin Walid dan Amr bin Ash. Beberapa saat sebelum pembebasan Kota Mekkah waktu itu. Yang waktu Khalid bin Walid keluar dari Mekkah, kemudian... Utsman bin Thalhah ini sahabat dekatnya Amr bin Ash, dengan Khalid bin Walid didatangi oleh Amr bin Ash. Amr bin As masuk Islam di tangannya Najasyi, lalu kemudian diajaklah... masuk Islam oleh Amr bin Ash, dan akhirnya mereka bertiga masuk Islam. Dan setelah mereka tiba di Madinah, kata Nabi ﷺ: <i>"Telah datang kepada kalian</i> <i>anak-anak muda terbaiknya Quraisy."</i> Utsman bin Thalhah memegang kunci Ka'bah, dan dia turun-temurun dari kakek-kakeknya, dari keturunan Abdid Dar. Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Hai Utsman, pergilah...</i> <i>ke rumahmu, ambil kunci Ka'bah, bukakan.</i> <i>Saya ingin masuk.”</i> Maka Utsman pun pergi ke sana, ke rumahnya. Kebetulan di rumahnya ada ibunya Utsman, tapi masih dalam keadaan kafir. Dan dia yang pegang kunci Ka'bah. Waktu Utsman pergi ke Madinah, masuk Islam, sama Amr bin Ash dan Khalid bin Walid, رضي الله عنهم اجمعين, maka yang pegang kunci ibunya. Lalu Utsman mengatakan, <i>“Wahai ibuku...</i> <i>Rasulullah ﷺ memerintahkan aku</i> <i>untuk mengambil kunci Ka'bah dan kemudian...</i> <i>membukanya.”</i> Kata ibunya: <i>“Wahai Utsman...</i> <i>apakah kau tidak mengingat kejadian</i> <i>antara dirimu dengan Muhammad mengenai kunci Ka'bah?”</i> Ibunya mengingatkan dia. Apa kejadian teman-teman sekalian? Waktu Nabi ﷺ masih di Mekkah dulu, masih awal-awal dakwah, Utsman bin Thalhah ini... termasuk tokoh Quraisy. Dan dia membenci Nabi ﷺ... sebelum masuk Islam, di awal-awal Islam dulu. Dan Nabi ﷺ pernah mengatakan, <i>“Hai Utsman...</i> <i>izinkan aku masuk</i> <i>ke dalam Ka'bah.”</i> Kata Utsman, <i>“Tidak mungkin aku bukakan untukmu.</i> <i>Demi Allah, aku tidak akan</i> <i>membukakannya untukmu</i> <i>dan membiarkanmu memasukinya selamanya,”</i> kata Utsman. Kata Nabi ﷺ, <i>“Wahai Utsman,</i> <i>bukakan sebelum kunci Ka'bah</i> <i>berada di tanganku,</i> <i>dan aku akan berikan kepada</i> <i>siapa pun yang aku inginkan.”</i> Ini kejadian di Mekkah sebelum Utsman masuk Islam, dulu. Maka Utsman mengatakan: <i>“Bila kunci Ka'bah berada</i> <i>di tanganmu, hai Muhammad,</i> <i>sungguh mati lebih baik bagiku</i> <i>daripada hidup dan menyaksikannya.”</i> Tapi ini cerita sebelum masuk Islam. Sekarang Utsman sudah Muslim, gitu, kan. Ibunya mengingatkan itu. <i>“Kau lupa perkataanmu dulu sama Muhammad?</i> <i>Dulu kau tidak mau masukkan dia dalam Ka'bah,</i> <i>walaupun kau mati.”</i> Kata Utsman: <i>“Walaupun, ibuku.</i> <i>Itu di zaman dulu,</i> <i>bukan sekarang.</i> <i>Dia adalah utusan Allah,</i> <i>dan aku telah beriman.</i> <i>Maka aku wajib patuh padanya.</i> <i>Berikanlah kuncinya.”</i> Maka ibu Utsman... merasa ini kemuliaan. Dia mengatakan: <i>“Bagaimana engkau memberikan</i> <i>kepada Muhammad kunci Ka'bah,</i> yang berarti dia akan memilikinya, <i>dan dia bisa berikan kepada</i> <i>siapa yang dia suka?</i> <i>Berarti semua kemuliaan nenek moyang</i> <i>sudah tidak ada.”</i> Lalu dia ambil kunci tersebut, dalam riwayat ini dikatakan, dimasukkan ke dalam bajunya. Ibunya Utsman menyembunyikan. Dia bilang, <i>“Saya tidak akan memberikan kepadamu.”</i> Utsman terus merayu, karena dia tahu hukum syar'i: kalau ibu pun dalam keadaan kafir tetap harus dirayu, santun, baik, tidak boleh mengatakan kalimat, <i>“Ah.”</i> Dia terus merayu. Karena lama, Nabi ﷺ utus Umar bin Khattab. <i>“Hai Umar,</i> <i>susul Utsman.</i> <i>Kenapa nggak datang-datang, tuh?”</i> Nabi ﷺ berdiri di depan Ka'bah, ini. Tinggal nunggu ini saja. Orang semua juga nunggu, gitu, kan. Maka Umar bin Khattab datang. Pas di depan rumah Utsman, nggak pakai banyak bicara: <i>“Hai Utsman,</i> <i>mana kunci Ka'bah?”</i> Pada saat mendengar suara Umar, ibunya ketakutan. Lalu dia segera keluarkan kunci, dia kasih. <i>“Hai Utsman, kasihlah.</i> <i>Daripada nanti Umar</i> <i>membongkar rumah kita.”</i> Pada saat itu akhirnya, pergilah Utsman membawa kunci tersebut ke Nabi عليه الصلاة والسلام, kemudian membukakan pintu Ka'bah. Pada saat itu, waktu diberikan kunci tersebut, Nabi ﷺ mengetahui serta mengingat sebenarnya perkataan Utsman. Waktu sebelum masuk Islam, dulu pernah mengucapkan itu. Maka Nabi ﷺ... tidak menyinggungnya, dan ini sebuah adab syar'i. Hal itu dulu, masa Jahiliyah, masa bodoh. Belum mengerti. Seperti kita mungkin punya teman-teman dulu... sama-sama... zina lah, apalah, mabuk. Nggak, sekarang sudah sadar, sama-sama di pengajian. Termasuk adab dan akhlak dalam Islam, tidak boleh lagi kita mengatakan: <i>“Dulu kan kau lebih buruk dari saya,”</i> <i>“Dulu kan kamu begini,”</i> <i>“Kamu kan juga begini.”</i> Itu dulu. Sekarang orang ke depan, gitu, ya. Tidak perlu kita lihat masa lalunya seseorang. Maka Nabi ﷺ tidak singgung, tapi Nabi tahu. Melihat matanya Utsman, Utsman seperti sedikit takut dengan kalimat itu, jangan sampai Nabi ﷺ mengingatkan kembali. Tapi Nabi tidak mengucapkan. Mengatakan, <i>“Hai Utsman, bukalah, aku akan masuk.”</i> Dibuka. Setelah selesai, Nabi ﷺ memegang kunci Ka'bah. Dan waktu itu, Abbas bin Abdul Muttalib, paman Nabi ﷺ, mengurus Masjidil Haram dan jemaah haji. Maka dia ingin mengambil kemuliaan tersebut sambil dia mengatakan, <i>“Ya Rasulullah,</i> <i>gabungkanlah padaku</i> <i>pengurusan Masjidil Haram,</i> <i>jemaah haji,</i> <i>dan juga kunci Ka'bah.”</i> Maka Nabi ﷺ bersabda dengan sabda yang masyhur. Dan ini menandakan juga kemuliaan jiwa Nabi ﷺ. Setiap muslim harus begini. Maka Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Tidak, hai Abbas.</i> <i>Hari ini adalah hari kemuliaan dan bakti.</i> <i>Hari ini hari kebaikan.</i> <i>Sebarkan kebaikan.</i> <i>Peganglah kunci Ka'bah,</i> <i>wahai suku Abdid Dar.</i> <i>Dan suku Syaibah, selamanya.”</i> Maksudnya, sukunya Talhah. Lalu Nabi ﷺ mengembalikan kepada Talhah, mengatakan, <i>“Peganglah ini kepada anak keturunanmu.”</i> Dan Subhanallah, sampai hari ini, di Kerajaan Saudi pun, turun-temurun, kerajaan Islam... Datang setelahnya (Nabi ﷺ meninggal) Khulafaur Rasyidin, datang... Umayyah, ‘Abbasiyah, ‘Utsmaniyah, sampai sekarang pemerintah Saudi, semuanya... dari keturunan Abdid Dar yang pegang kunci Ka'bah. Sesuai dengan wasiat Nabi ﷺ. Setelah pintu Ka'bah dibuka, Nabi ﷺ menyuruh Umar bin Khattab masuk lebih dulu, kemudian menghapus semua gambar-gambar yang terletak di dinding Ka'bah sebelum beliau masuk. Jadi waktu itu banyak sekali digambar-gambar, ya. Mereka lukis-lukis, diukir-ukir, gitu. Oleh Umar bin Khattab dibersihkan. Di antara gambar yang ada dalam Ka'bah waktu itu adalah gambar Ibrahim dan Ismail menurut mereka. Versi mereka, versi Quraisy. Dan dalam gambarnya itu seakan-akan keduanya sedang memohon pada berhala. Juga ada gambar... Maryam عليها السلام. Mereka gambarkan menurut pemandangan mereka saja. Siapa yang dianggap tokoh masyarakat waktu itu, dianggap beriman sama Allah, digambar-gambarkan sama mereka. Maka oleh Umar dihapuslah. Setelah selesai, Umar bin Khattab keluar, mengatakan, <i>“Sudah ya Rasulullah.”</i> Maka Nabi ﷺ masuk, dan ternyata beliau menemukan masih ada sisa gambar Ibrahim dan Ismail عليهم السلام. Maka Nabi ﷺ kemudian bersabda: <i>“Semoga Allah membinasakan mereka,</i> <i>karena telah memperlakukan</i> <i>orang tua kami begini.”</i> Lalu Nabi ﷺ menghapus dengan lengan baju beliau sendiri, sisa... gambar daripada Ibrahim dan Ismail .عليهم الصلاة والسلام Lalu Nabi ﷺ shalat dua rakaat. Dan waktu itu kebetulan, waktu masuk setelah Umar bin Khattab keluar, Nabi ﷺ tidak mengizinkan orang masuk kecuali Bilal. Dan ini kemuliaan Bilal رضي الله عنه. Ini saya sudah ceritakan dalam serial sahabat Bilal رضي الله عنه, bagaimana ini termasuk kemuliaan yang khusus. Karena Nabi ﷺ masuk waktu itu tidak mengajak orang lain. Siapapun tidak boleh ikut, kecuali Bilal. Lalu Nabi ﷺ shalat dua rakaat di situ. Dan ini niatnya shalat tahiyatul masjid. Tentu teman-teman, sekarang kalau mau shalat dalam Ka'bah, ditutup, ada pintunya. Nggak dibuka kecuali untuk tamu-tamu kerajaan. Tapi ada di sebelah Ka'bah, ada Hijir Ismail... yang melengkung dan ada tiga lampu itu juga termasuk bagian dari Ka'bah. Sebagaimana sudah pernah kita jelaskan di awal-awal Sirah kita. Kalau di zaman Abdul Muthalib, pernah Ka'bah mau dibangun, tapi karena harta mereka nggak cukup yang halal, maka Ka'bah menjadi kecil dan Hijir Ismail tidak masuk. Di zaman Ibrahim عليه السلام sampai ukuran... Hijir Ismail. Jadi kalau orang shalat dalam Hijir Ismail, sama dengan shalat dalam Ka'bah, dan diniatkan untuk tahiyatul masjid. Setelah selesai shalat dua rakaat, Nabi ﷺ keluar bersama Bilal. Dan ternyata di depan pintu sudah ditunggu oleh... Abdullah bin Umar, رضي الله عنهما. Abdullah bin Umar ini sahabat Nabi, terkenal dengan sahibut taʾassi. Artinya orang yang luar biasa... mengikuti sunnah-sunnah Nabi ﷺ dengan sangat detil. Betul-betul luar biasa. Apa saja yang Nabi kerjakan, ﷺ, jangankan bicara wajib, yang sunnah-sunnah, bahkan perilaku biasa... cara jalannya Nabi, Nabi pernah mampir di mana, semuanya diikuti oleh Abdullah bin Umar. Makanya dikenal dengan <i>sahibut taʾassi.</i> Di zaman setelah Nabi ﷺ meninggal, pernah satu kali Abdullah bin Umar memimpin kafilah haji... dari Madinah. Di tengah jalan, dia berhentikan. Ada 70 ekor unta, berhenti semua. Lalu kemudian... dia mengatakan: <i>“Tunggulah dan saksikanlah.”</i> Turunlah dia dari untanya, dia jalan. Orang semua lihat, Abdullah bin Umar sahabat Nabi, ulamanya sahabat waktu itu, ulamanya Muslimin. Orang semua lihat sampai ke kejauhan, tinggal bayangan. Lalu Abdullah bin Umar datang ke sebuah tempat itu, lalu beliau buang air kecil di situ. Lalu kembali lagi. Ada beberapa sahabat Nabi yang masih hidup waktu itu dan tidak mengerti, lalu bertanya: <i>“Wahai Abdullah bin Umar,</i> <i>apakah Anda memberhentikan kami semua ini...</i> <i>hanya menyaksikan Anda</i> <i>kencing di situ?”</i> Kata Abdullah bin Umar, <i>“Iya.</i> <i>Karena saya ingin menyampaikan kepada kalian,</i> <i>pada saat saya sedang berjalan bersama Nabi ﷺ menuju ke Mekkah,</i> <i>beliau pernah mampir di sini,</i> <i>beliau pernah buang air kecil di situ.”</i> Saking luar biasanya mengikuti kehidupan Nabi ﷺ. Maka pada saat itu... Abdullah bin Umar tanya Bilal, <i>“Hai Bilal,</i> <i>apa yang Nabi</i> <i>kerjakan di dalam?”</i> Kata Bilal, <i>“Nabi ﷺ shalat.”</i> Kata Abdullah bin Umar, <i>“Di mana tempatnya?”</i> Ditunjukkan oleh Bilal. Lalu kemudian Abdullah bin Umar orang yang pertama mengerjakan shalat tersebut setelah... Nabi ﷺ dan Bilal. Baik, kita lanjutkan dengan kisah Hindun binti Utbah. Masih ingat tadi saya sampaikan, ada 10 orang yang pasti disuruh bunuh. Termasuk di antaranya Hindun, istrinya Abu Sufyan. Abu Sufyan sekarang sudah masuk Islam. Hindun ini... karena dia tidak mau masuk Islam, dia berusaha menyelinap di antara masyarakat Mekkah. Tapi dia termasuk target, kalau ditemukan harus dibunuh. Rupanya Nabi عليه الصلاة والسلام karena melihat masyarakat Mekkah banyak yang masuk Islam —Hindun belum masuk Islam waktu itu— maka Nabi ﷺ kumpulkan. Salah satu yang dikumpulkan Nabi ﷺ, khusus kaum wanita, dikumpulkan sendiri. Ada tradisi-tradisi jahiliyah yang harus dihilangkan, tidak boleh ada. Maka Nabi ﷺ mengumpulkan mereka... setelah syahadat... pada saat itu mereka mengikrarkan syahadat di depan Nabi ﷺ, maka Nabi mengatakan, <i>“Kalian harus mengambil janji setia,”</i> menyebutkan janji setia, <i>“ikrarkan itu.”</i> Yang pertama, kata Nabi ﷺ, <i>“Tidak boleh lagi ada syirik...</i> <i>bersama Allah سبحانه وتعالى.</i> <i>Tidak lagi ada sekutu-Nya Allah.</i> <i>Tidak ada patung, tidak ada jimat, tidak ada apa-apa.</i> <i>Tawakal, dan berpasrah kepada Allah.”</i> Rupanya waktu Nabi ﷺ ucapkan itu, terdengar di dalam saf perempuan-perempuan ini ada suara. Lalu dia mengatakan, karena Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Ikrarkan:</i> لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ” Dalam bahasa Arab, <i>“ikrarkan itu.”</i> Maka tiba-tiba ada suara dari saf perempuan mengatakan: <i>“Wahai utusan Allah,</i> <i>bila seandainya tuhan-tuhan selain Allah berguna,</i> <i>maka akan bermanfaat</i> <i>buat kami hari ini.”</i> Ternyata suara itu suaranya Hindun. Hindun, ratunya mekah, gitu, ya. Waktu dia ngomong di antara kelompok perempuan, kerumun banyak perempuan begitu, Nabi ﷺ kenal. Nabi mengatakan, <i>“Hindun?”</i> Hindun, kan, ini target harus dibunuh. Langsung Hindun mengatakan: “أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللّٰهِ Baru syahadat waktu itu. Lalu Nabi ﷺ tersenyum. Nabi menerima itu. Subhanallah, mulianya jiwanya Nabi ﷺ, padahal... Hindun adalah pembunuh pamannya. Dan termasuk target untuk dibunuh. Maka Nabi ﷺ terima. Lalu Nabi lanjutkan, Nabi tidak terlalu hiraukan. Sudah syahadat, sudah, Nabi biarkan. Nabi mengatakan, <i>“Yang kedua,</i> <i>tidak boleh zina...</i> <i>dan memperlihatkan perhiasan kalian,</i> <i>baik di tubuh maupun di telapak kaki kalian.”</i> Orang Mekkah semua diam, tahu ini penaklukan Mekkah. Dan sekarang sudah Islam, harus dengar ini utusan Allah. Maka Hindun nyeletuk lagi. Dia mengatakan: <i>“Apakah wanita bebas bisa berzina, ya Rasulullah?”</i> Karena tradisi orang di Mekkah, yang berzina kalau wanita, hanya perempuan hamba sahaya. Nggak ada wanita bebas berzina walaupun mereka di zaman jahiliyah. Maka... pada saat itu Nabi ﷺ tersenyum. Tidak menjawab apa-apa. Yang penting sekarang, poinnya tidak boleh berzina. <i>“Yang ketiga, tidak boleh membunuh anak</i> <i>karena khawatir miskin.”</i> Hindun nyeletuk lagi. Ini masih muallaf, ya. Dia mengatakan, <i>“Wahai utusan Allah,</i> <i>kami membesarkan anak-anak kami,</i> <i>lalu kalian membunuhnya di Badar.”</i> Kan di Perang Badar banyak dibunuh orang Quraisy. Termasuk yang mati ayahnya dia sama kakaknya dia. <i>“Kami besarkan anak-anak kami,</i> <i>lalu kalian membunuhnya di Badar.”</i> Nabi ﷺ senyum saja, nggak ditanggapi sama sekali, gitu. Dan ini, teman-teman sekalian, poin-poin ini ditekankan oleh Nabi ﷺ, dan ini menandakan kemuliaan hati dan kesucian hati Nabi ﷺ, bagaimana beliau... tetap menerima keislaman. Karena targetnya menyampaikan Islam. Kalau orang itu belum masuk Islam dan punya keburukan terhadap Islam, mungkin itu bisa dihukum. Tapi orang kalau sudah syahadat, syahadat ini memberhentikan semuanya. Nggak ada lagi dendam dengan dia. Nggak ada lagi apa-apa sama sekali. Dan ini pelajaran penting, teman-teman sekalian. Maka pada saat itu, Nabi ﷺ menunjukkan kepada kita bagaimana mendahulukan syariat Allah ﷻ, dan akhirnya menerima keislaman Hindun. Dan ini pelajaran yang luar biasa kita ambil dari kehidupan dia. Bagaimana jahatnya pun seseorang, dan bencinya dengan Islam, tapi pada saat iman masuk ke dalam hati, maka dia pasti akan bisa menerima kebenaran. Dan bagaimana baginda Nabi ﷺ tidak pernah putus asa dalam berdakwah. sehingga beliau tetap menerima. Bisa dibayangkan kalau kasus kita berada di posisi baginda Nabi ﷺ, Bagaimana beliau... melihat depan matanya, pamannya, sampai Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata, <i>“Kami tidak pernah melihat Nabi ﷺ menangis terisak-isak,</i> <i>yang mengalahkan tangisan beliau pada saat</i> <i>di Uhud melihat jenazahnya Hamzah.”</i> Hidungnya dipotong, dadanya terbelah, darah semuanya, gitu, kan. Dan itu perilaku Hindun, dan Hindun ini termasuk motivator... terkuatnya Quraisy di Perang Uhud. Bahkan dia mengeluarkan syair-syair yang mengatakan kepada pasukan Quraisy: <i>“Kalau kalian lari dari kancah peperangan,</i> <i>maka kami akan meninggalkan kalian.”</i> Dia instruksikan semua wanita Mekkah tidak boleh melayani suaminya. Dan orang-orang, perempuan, pada saat itu patuh. Jadi luar biasa bagaimana bencinya dengan Islam dan sekian banyak kisah berhubungan dengan masalah Hindun ini. Tapi setelah masuk Islam, Nabi ﷺ betul-betul target utamanya agama Allah, bukan yang lain. Maka beliau pun menerima masalah itu. Kisah yang lain adalah Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh. Siapa orang ini? Penulis wahyu yang? Murtad, ya. Tapi malam ini tidak ada buku. Tadi pagi saya kasih buku. Karena sekarang sudah tinggal mengulangi saja. Dia adalah saudara susuannya... Utsman bin Affan رضي الله عنه. Utsman bin Affan... tahu betul permasalahannya... saudara susunya ini, Abdullah ini. Dan dia menginginkan agar... hidayah juga datang kepada Abdullah. Sebagaimana Hindun masuk Islam, sebagaimana Abu Sufyan masuk Islam, dan banyak tokoh-tokoh Quraisy yang masuk Islam. Maka dia menjadikan target untuk mengejar... di mana Abdullah bin Sa'ad ini, saudara susuannya. Dikejar, dicari sama dia. Dan dia tahu, karena ini saudaranya. Dan dia tahu di tempat-tempat mana kira-kira di Mekkah sembunyi, sampai Utsman bin Affan menemukan dia. Dia berada di dalam sebuah rumah, yang terpencil di pinggir kota Mekkah, kemudian oleh Utsman ditemukan. Lalu Utsman... Lalu Utsman mengatakan kepada dia: <i>“Wahai Abdullah...</i> <i>sungguh ini kebenaran.</i> <i>Dan kamu telah melakukan</i> <i>kesalahan besar.</i> <i>Kamu telah masuk Islam, lalu kamu murtad</i> <i>dan kamu munafik pada saat itu.</i> <i>Terbongkar kedokmu sekarang.</i> <i>Dan apa yang selama ini kau pikir Quraisy</i> <i>akan mengalahkan Nabi ﷺ,</i> <i>sekarang sudah terbukti,</i> <i>Quraisy takluk tanpa perlawanan.”</i> Maka dalam kondisi... dia ketakutan, dia mengatakan: <i>“Lalu apa saranmu, wahai Utsman?”</i> Kata Utsman, <i>“Masuk Islamlah!</i> <i>tapi dengan tulus,</i> <i>ikuti kebenaran.</i> Dia mengatakan, <i>“Bagaimana aku bisa aman?</i> <i>Sementara, aku termasuk dalam daftar</i> <i>dari 10 orang yang harus dibunuh.”</i> Dia juga sudah tahu itu. Maka Utsman mengatakan, <i>“Bercadarlah. Tutup wajahmu.</i> <i>Pakai imamah, tutup wajahmu</i> <i>dan ikut dengan aku.</i> <i>Aku akan bawa kamu bertemu</i> <i>dengan Nabi ﷺ.”</i> Jalanlah mereka terus menuju ke kemah. Karena ramainya kota Mekkah tidak terlihat, Utsman pun mengajak dia jalan bersama. Maka orang melihat Utsman bin Affan, orang tahu. Dan karena Abdullah bin Sa'ad ini menutup wajahnya, tidak kelihatan. Bola matanya saja, alisnya pun tertutup, gitu. Jadi nggak dikenal, gitu. Pada saat itu kebetulan di dalam kemah Nabi ﷺ di sekitar Ka'bah, ada seorang sahabat... yang pada saat Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Siapa yang menemukan fulan, fulan, fulan...”</i> 10 orang disebutkan namanya yang harus dibunuh, <i>“bunuh mereka! Walaupun mereka</i> <i>bergantung pada kiswah Ka'bah.”</i> Waktu dia dengar... sahabat ini dengar namanya “Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh,” kebetulan dia punya masalah dengan Abdullah dulu di Mekkah. Maka dia mengatakan, <i>“Demi Allah,</i> <i>kalau saya temukan Abdullah,</i> <i>saya akan penggal dia.</i> <i>Walaupun dia bergantung</i> <i>di depan kiswah Ka'bah, ya Rasulullah.”</i> Duduklah orang itu di sebelah Nabi ﷺ. Tapi saya mohon maaf, tidak ditemukan nama sahabat ini siapa. Cuma kisahnya begitu. Duduklah seorang sahabat yang pernah bersumpah akan membunuh Abdullah bin Sa'ad di hadapan Nabi ﷺ. Masuklah Utsman bin Affan di kemah Nabi ﷺ membawa Abdullah. Maka... Utsman berkata: <i>“Wahai utusan Allah,</i> bersamaku sekarang, di sebelahku ini saudara susuanku. <i>Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh.”</i> Mendengar perkataan tersebut, orang-orang semua melihat ke arah Abdullah. Ini orang jadi target utama, tapi sekarang sudah di kemah Nabi ﷺ. <i>“Saya ingin...</i> <i>Anda menerimanya,</i> <i>karena dia...</i> <i>niat mau masuk Islam tulus.</i> <i>Bukan seperti awal dulu.”</i> Abdullah waktu itu membuka tutup wajahnya, segera mengulurkan tangannya ke Nabi ﷺ. ingin menunjukkan baiatnya dan ingin syahadat di hadapan Nabi ﷺ. Tapi terjadi sesuatu yang unik di sini. Nabi ﷺ tidak mau menerima tangannya. Diam saja Nabi ﷺ. Utsman kembali mengulangi permintaannya, seraya berkata: <i>“Wahai utusan Allah...</i> <i>Abdullah datang ingin masuk Islam, tulus.</i> <i>Terimalah dia.</i> <i>Walaupun dia punya kesalahan dulu.”</i> Abdullah ulurkan lagi tangannya yang kedua kali, Nabi ﷺ tidak menerimanya. Yang kedua kali. Yang ketiga kali, Utsman bin Affan ulangi lagi: <i>“Ya Rasulullah...</i> <i>maafkanlah dia.</i> <i>Dia saudara susuan saya.</i> <i>Dia sudah datang ke kemah Anda</i> <i>dan dia merasa ketakutan.</i> <i>Dia ingin masuk Islam.</i> <i>Mudah-mudahan saja dia bisa kokoh</i> <i>dengan keislamannya.”</i> Lalu Abdullah ulurkan lagi tangannya, Nabi ﷺ tidak terima tangannya. Juga tidak melihat wajahnya Abdullah ini. Ternyata di sini, kata ulama, memang Nabi ﷺ sangat marah dengan dia. Bagaimana dia menjadi penulis wahyu, dan Nabi ﷺ sudah percaya, terus kemudian sudah termasyhur di kalangan sahabat, lalu dia sengaja pulang, iklankan kemurtadannya. Karena itu masalah besar. Yang keempat kalinya, Utsman mengulangi seperti yang sama sambil memohon-mohon kepada Nabi ﷺ. Akhirnya, Abdullah mengulurkan tangan, Nabi ﷺ terima. Syahadatlah dia. Diterimalah keislamannya. Lalu Utsman bin Affan karena gembiranya, dia merangkul saudara susuannya ini (Abdullah), lalu dibawa keluar dari kemah. <i>“Sudah, jangan lama-lama di sini.</i> <i>Sudah cukup. Sudah syahadat,</i> <i>Nabi ﷺ sudah terima. Sudah, keluar.”</i> Lalu waktu keluar dari kemah, Nabi ﷺ bersabda kepada sahabat tadi di sebelahnya. Yang sudah bersumpah mau membunuh Abdullah, kalau ditemukan walaupun di kiswah Ka'bah. Lalu Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Tidak adakah orang yang berakal di antara kalian?</i> <i>Kalian melihat aku menolaknya</i> <i>sampai tiga kali.</i> <i>Kenapa tidak seorang pun</i> <i>berdiri membunuhnya?</i> <i>Orang ini harus mati mestinya.</i> <i>Saya sengaja tolak,</i> <i>supaya pakai akal bunuh ini.</i> <i>Tapi karena tidak ada juga</i> <i>yang berdiri, ya sudah.</i> <i>Akhirnya saya terima dia.</i> Lalu Nabi ﷺ menghadap ke arah orang tadi yang sudah bersumpah itu. Kata Nabi ﷺ, <i>“Bukankah kamu dulu bertekad membunuhnya?</i> <i>Walaupun dia bergantung</i> <i>di kiswah Ka'bah.”</i> Kata orang itu: <i>“Wahai utusan Allah, aku benar-benar</i> <i>tidak mengetahui maksud anda.</i> <i>Andai saja Anda memberiku</i> <i>dengan isyarat mata saja,</i> <i>niscaya aku akan membunuhnya.”</i> Kata Nabi ﷺ: <i>“Tidak layak bagi seorang Nabi</i> <i>memberi isyarat untuk membunuh,</i> tapi semua... dengan kejelasan. <i>Kalau aku suruh bunuh,</i> <i>aku bilang bunuh.</i> <i>Nggak ada isyarat.</i> Dan Nabi ﷺ di sini... bukan memberikan isyarat, artinya memberikan... kode mata supaya bunuh, tidak. Nabi ﷺ di sini makanya diam saja. Tidak mau menerima Abdullah tadi. Itu sebagai tanda juga sebenarnya, tapi bukan isyarat tangan atau... Kalau mereka bunuh, ya sudah. Karena belum syahadat. Tapi sekarang sudah Muslim, sudah tidak bi
Resume
Categories