Transcript
B61q8f2q9p4 • Sirah Nabawiyah #21 : Pembebasan Kota Makkah [Part 2] - Khalid Basalamah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0329_B61q8f2q9p4.txt
Kind: captions Language: id Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Tidak pernah berhenti kita memuji Sang Pencipta, Allah, atas segala nikmat yang dilimpahkan kepada kita. Dan juga kita panjatkan salam hormat kita, shalawat dan taslim kepada manusia terbaik yang diutus kepada kita, Nabi Besar Muhammad ﷺ. Melanjutkan bahasan kita, sirah... dan tadi kita sudah lihat... bagaimana... Nabi ﷺ dengan sangat mudah menaklukkan Kota Mekkah... tanpa perlawanan, kecuali sangat kecil sekali. Yang dipimpin oleh ‘Ikrimah bin Abi Jahl dan Shafwan bin Umayyah bin Khalaf, yang berusaha untuk... menghadang pasukan Khalid bin Walid. Itu pun... mereka terkalahkan, dan dua puluh sekian orang dari Quraisy terbunuh. Nabi عليه الصلاة والسلام... pada saat itu... menuju ke... Ka'bah, dan sempat membaca akhir Surah Al-Fath. Dan beliau pada saat itu... membaca tapi belum melakukan... Khilaf di antara ahli sejarah, apakah Nabi ﷺ tawaf pada saat itu atau cuma sekadar... lewat sambil membaca kembali akhir Surah Al-Fath, untuk memastikan kepada orang-orang Quraisy... kalau, <i>“Aku adalah utusan Allah.”</i> Karena bunyi ayatnya: "مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ" (QS. Al-Fath [48]:29) <i>"Kemudian yang bersamaku ini</i> <i>bukan orang-orang biasa,"</i> (Para sahabat) mereka adalah orang-orang pilihan Sang Pencipta, Allah, dan sudah disebutkan ciri-ciri mereka di dalam Taurat dan Injil. Terus Nabi ﷺ mengumandangkan akhir Surah Al-Fath ini, sampai akhirnya Nabi ﷺ mendekati sumur Zamzam. Dan ini lanjutan bahasan kita dari yang bahasan tadi pagi. Nabi ﷺ menuju ke sumur Zamzam, lalu beliau ﷺ bersabda pada saat itu, sambil memanggil Abbas: <i>“Hai Abbas, kesinilah...</i> <i>dan timbahkanlah air buat kami.”</i> Kata Nabi ﷺ: <i>“Kalau bukan...</i> <i>karena khawatir orang saling berebut,</i> <i>maka niscaya aku akan timbah sendiri.”</i> Khawatirnya kalau Nabi ﷺ yang menimbah air Zamzam, maka akhirnya umat akan berebut untuk mengambil hasil timbahan Nabi عليه الصلاة والسلام. Maka beliau menyuruh Abbas untuk menimbahnya, paman beliau yang baru saja masuk Islam, رضي الله عنه. Juga dikatakan oleh para ulama, bila Nabi ﷺ menimbah sendiri air Zamzam tersebut, maka nanti akan menjadi sunnah. Yang berarti setiap orang kalau minum di sumur Zamzam menimbah sendiri. Padahal sebenarnya mungkin kesulitan, apalagi kayak di zaman kita sekarang umat Islam makin banyak. Maka mungkin lebih dimudahkan... kalau seperti ini hukumnya. Abbas lalu berkata: <i>“Wahai utusan Allah...</i> <i>tidakkah Anda,”</i> setelah Nabi ﷺ ambil air Zamzam, beliau meminumnya. Dan para sahabat menyaksikan bagaimana Nabi ﷺ meminum air Zamzam tersebut, dan menjadi sebuah sunnah, di mana banyak hadits Nabi ﷺ yang berbunyi: <i>“Zamzam adalah...</i> <i>minuman sekaligus makanan</i> <i>yang mengenyangkan.”</i> Juga dalam hadits yang lain, kata Nabi ﷺ: <i>“Zamzam sesuai dengan niat orang yang meminumnya.”</i> Setelah itu, Nabi عليه الصلاة والسلام —dan keluar juga sebuah hukum tentunya, ya— disunnahkan setiap selesai habis thawaf... atau keliling Ka'bah untuk minum air Zamzam. Sebagaimana yang kita tahu dalam masalah... umrah dan haji. Abbas رضي الله عنه lalu setelah minum Zamzam tadi... bersama Nabi ﷺ, dia mengatakan, <i>“Wahai utusan Allah, tidakkah Anda...</i> <i>mendatangi rumah Anda yang dahulu</i> <i>Anda tinggal bersama Khadijah?”</i> Jadi ada rumah Nabi ﷺ dulu, besar. Khadijah رضي الله عنها tinggal di komplek elitnya Mekkah. Bersebelahan dengan Abu Jahl, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, orang-orang tokoh Mekkah. Nabi ﷺ dulu tinggal di komplek itu. Tetapi, waktu Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, bersama dengan seluruh sahabat, hijrah, maka seluruhnya menjadi rampasan orang-orang Mekkah. Dirampas secara paksa. Dan uniknya, yang mengambil rumah Nabi ﷺ adalah... sepupunya sendiri. Namanya ‘Aqil. 'Aqil bin Abi Thalib. Nah ini saudaranya Ali bin Abi Thalib, tapi dia tidak masuk Islam. Maka kata Abbas: <i>“Tidakkah Anda, ya Rasulullah, mendatangi rumah Anda?</i> <i>Sekarang Anda sudah menang.”</i> Mekkah sudah direbut. Satu Mekkah sekarang miliknya Nabi. Bukan cuma rumah beliau, rumahnya orang kafir semua, dengan orang-orang kafirnya, semua jadi hak Nabi ﷺ. Karena... pasukan Muslimin masuk dengan kekuatan di sini, walaupun mereka tidak sempat melawan. Beda hukumnya kalau ada kesepakatan damai sebelumnya. Tapi kalau pasukan masuk di satu wilayah dan berkuasa, maka seluruh wilayah itu... menjadi harta rampasan perang. Maka Nabi ﷺ menunjukkan adab dan akhlak yang luar biasa di dalam Islam. Yang luar biasa di dalam Islam. Beliau mengatakan, <i>“Wahai Abbas,</i> <i>apakah ‘Aqil bin Abi Thalib</i> <i>masih meninggalkan tempat tinggal buat kami?</i> <i>‘Aqil adalah salah satu kerabatku.”</i> Nabi ﷺ jelaskan. Padahal Abbas tahu... kalau itu adalah... keponakannya. Tapi Nabi ﷺ menjelaskan agar Muslimin tahu. Kata Nabi ﷺ, <i>“’Aqil adalah kerabatku,</i> <i>dan ia telah menjualnya.”</i> Jadi waktu Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, diambillah rumah itu oleh ‘Aqil, lalu ‘Aqil menjualnya. Dan Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Bagaimana aku masih menganggap itu rumahku?”</i> Jadi ini juga keluar sebuah hukum syar’i. Kalaupun sampai misalnya... — semoga tidak terjadi bagi Muslimin — ada wilayah dicaplok oleh orang-orang kafir, dikuasai, lalu kemudian mereka sudah mentransaksikan rumah-rumah kita di situ, walaupun kita merebutnya kembali, sudah bukan rumah kita. Seperti itulah. Maka Nabi ﷺ pun tidak mengambil kembali rumah itu. Menganggap rumah itu adalah hak orang kafir yang sudah membeli dari ‘Aqil. Nabi ﷺ sempat tinggal selama 19 hari di Mekkah pada saat itu. Dan selama itu beliau mengqashar shalatnya tanpa jamak. Dzuhur di waktu Dzuhur, dua rakaat. Ashar di waktu Ashar, dua rakaat. Tapi beliau mengqashar selama 19 hari. Makanya ini salah satu dalil yang sangat jelas dipegang oleh sebagian ulama tentang... bolehnya menjamak qashar lebih daripada... 6 hari. Karena ada pendapat juga mengatakan maksimal 6 hari, tapi khilaf di antara ulama. Di antaranya adalah... dalil shahih yang menjelaskan bagaimana Nabi ﷺ tinggal di sana... selama 19 hari dan beliau tentunya mengqashar, tapi tanpa jamak. Dan ini juga sebuah hukum syar’i, dikatakan lebih afdol seseorang kalau musafir, kalau dia sudah tiba di satu lokasi, merasa aman, tidak butuh untuk dijamak, maka dia cukup mengambil keutamaan qasharnya saja. Waktu Dzuhur dia shalat dua rakaat, nanti di waktu Ashar juga dia shalat lagi dua rakaat, kalau dia merasa... tidak ada sesuatu yang mendesak dia... untuk menjamak qashar-nya. Nabi ﷺ lalu memerintahkan agar Quraisy semuanya — karena mereka tawanan perang — satu kota Mekkah dikumpulkan di sekitar Bukit Shafa. Jadi waktu itu kebetulan memang masyarakat kalau dikumpulkan dekat Bukit Shafa, dan belum ada bangunan kayak kita sekarang, ya. Shafa dan Marwah dulu diibaratkan... gunung. Dua gunung yang kosong. Tidak ada bangunan di situ. Memang betul dipakai sa’i berjalan, karena dari zaman Ibrahim عليه السلام, tapi tidak dibangun bangunan di zaman Quraisy dulu. Maka seperti masih lembah, padang pasir. Dikumpulkanlah seluruh orang Quraisy di situ. Dan Nabi ﷺ menyampaikan... ceramahnya atau khutbahnya yang masyhur, yang isinya sangat tegas, yaitu memberantas semua... keputusan-keputusan jahiliyah. Mulai hari itu tidak ada lagi kemusyrikan di Mekkah, semuanya harus bertauhid. Dan juga tidak boleh ada riba, praktik zina, semuanya yang haram diterapkan. Dan Nabi ﷺ setelah menyampaikan tidak ada lagi kemusyrikan, tidak ada lagi riba, tidak ada lagi zina di Mekkah, lalu beliau menutup, mengatakan, <i>"Semua perkara jahiliyah...</i> <i>mulai hari ini di bawah</i> <i>telapak kakiku,</i> <i>kecuali pengurusan Ka'bah</i> <i>dan jemaah haji."</i> Yang lain semua sudah tidak ada lagi, dihapus. Seperti mengundi nasib, penyihir, segala macam, dukun, ini sudah tidak ada semua. Islam yang diterapkan pada saat itu. Lalu Nabi ﷺ bersabda... dalam pernyataannya yang masyhur. Setelah mengingatkan semua hukum Islam, Quraisy sekarang merasa takluk, mendengar, kata Nabi ﷺ, <i>“Wahai Quraisy,</i> <i>kira-kira menurut kalian,</i> <i>apa yang akan aku lakukan pada kalian?”</i> Sekarang pasukan menguasai satu lokasi, bebas mau buat apa saja. Mau dibunuh, mau dibebaskan, mau dijadikan budak, bebas-bebas saja. Hukum syar'i pun membolehkan itu. Dalam arti kata, kalau memang... dianggap mereka adalah pembangkang-pembangkang yang berbahaya bagi Muslim, bisa saja dihukum mati. Maka Quraisy serentak menjawab, mengatakan: <i>“Engkau adalah saudara dan kerabat kami</i> <i>yang mulia dan dermawan.”</i> Maka Nabi ﷺ mengucapkan kalimat masyhur, dan ini yang membebaskan seluruh Mekkah... dari tawanan perang, dan juga tidak ada ghanimah dari Mekkah, tidak ada harta yang diambil sedikit pun dari Mekkah pada saat itu. Kata Nabi ﷺ: <i>“Pergilah, kalian telah aku bebaskan.”</i> Nggak ada tawanan perang walaupun dalam keadaan kafir. <i>“Nggak ada tawanan perang,</i> <i>nggak ada juga diambil harta-harta kalian.”</i> Dan ini luar biasa, melunakkan hati orang-orang Quraisy. Bagaimana pasukan telah berhasil menang, apalagi beberapa tahun saja sebelumnya, itu sudah sempat Quraisy menyerang. Berperang di Badr, berperang di Uhud, berperang di Khandaq. Banyak sekali. Dan permusuhan-permusuhan yang sangat jelas. Bagaimana Nabi ﷺ setelah menguasai itu tidak menghukum mereka, malah membebaskan. Pada saat itu, seluruh Mekkah di bawah kekuasaan Nabi ﷺ, dan seluruhnya dalam keadaan aman. Seluruh pintu gerbang Mekkah dijaga oleh pasukan Muslimin. Semua sisi jalan-jalan Mekah dikuasai oleh Muslimin. Prajurit Islam semua menyebar di situ. Dan itu selalu saja aman dalam kurang lebih hitungan 2–3 hari, sampai datang seseorang bernama Fudhola. Fudhola ini... dia mengiklankan masuk Islam... pada saat itu, tapi ada tujuan dia: dia ingin... membunuh Nabi عليه الصلاة والسلام. Dia menyembunyikan sebuah pisau... dengan berharap... kalau sudah dekat dengan Nabi ﷺ, dia langsung menusuk Nabi عليه الصلاة والسلام. Begitu dia mendekat dengan Nabi ﷺ, tidak ada yang mengerti. Karena ini Nabi ﷺ disampaikan wahyu, dan ini salah satu mujizat yang terjadi di Mekkah pada saat itu, maka Nabi ﷺ melihat Fudhola waktu mendekat, langsung Nabi tegur dia: <i>“Wahai Fudhola,</i> <i>apa yang sedang</i> <i>terlintas di benakmu?”</i> Maka Fudhola mengatakan: <i>“Aku ingin beribadah dan istighfar.”</i> Ini kebetulan dekat Ka'bah... di sekitar tempat tawaf. Maka Nabi ﷺ mengatakan sambil mendekati Fudhola: <i>“Beristighfarlah, hai Fudhola.”</i> Dia mengatakan, <i>“Astaghfirullah.”</i> Lalu Nabi ﷺ mengatakan yang kedua kali, <i>“Beristighfarlah, hai Fudhola.”</i> Fudhola beristighfar lagi, <i>“Astaghfirullah,”</i> sampai tiga kali. Setelah tiga kali, Nabi ﷺ lalu meletakkan telapak tangannya yang suci dan mulia di dada Fudhola. Lalu tiba-tiba, dengan meletakkan telapak tangan di dada... Fudhola, kata Fudhola: <i>"Pisau di tanganku,"</i> atau, <i>"di simpananku,"</i> dia menyembunyikan di antara bajunya, <i>"Jatuh."</i> <i>"Dan pada saat itu, demi Allah,</i> <i>tidak ada orang yang paling aku benci...</i> <i>sebelum Nabi Muhammad ﷺ meletakkan</i> <i>telapak tangannya pada dadaku, melebihi dirinya.</i> <i>Orang yang paling aku benci</i> <i>adalah Nabi Muhammad ﷺ.</i> <i>Dan setelah Nabi ﷺ melepaskan</i> <i>telapak tangannya dari dadaku,</i> <i>maka aku menemukan dia adalah</i> <i>orang yang paling aku cintai."</i> Sisi yang lain, teman-teman sekalian, masih ingat tadi Abu Sufyan. Sempat saya katakan, kalau beliau masuk Islam tapi masih bimbang. Karena ketakutan saja. Dan kebimbangan ini terus terjadi. Abu Sufyan waktu itu pemimpin Mekkah. Kalau masih ingat kita review kembali, selesai Perang Badr, waktu terbunuh mayoritas... pimpinan Quraisy —Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Syaibah, Walid— banyak tokoh-tokoh Quraisy meninggal, dan akhirnya yang paling tua waktu itu tersisa Abu Sufyan, maka Abu Sufyan seperti ditokohkanlah, seperti jadi pemimpin Mekkah pada saat itu. Dan dialah yang memicu... peperangan terjadinya... Perang Uhud setelahnya. Kemudian dia juga menjadi pemimpin untuk Perang Ahzab, sebagaimana sudah pernah kita ceritakan itu, sudah kita ceritakan panjang lebar masalah Ahzab dalam surah nomor 33, Surah Al-Ahzab. Panjang lebar ceritanya sudah disampaikan juga. Maka Abu Sufyan ini... seperti orang yang tidak percaya. Dia duduk menghadap Ka'bah, kemudian dia mulai berpikir, melihat... orang-orang Quraisy... semuanya... banyak yang datang, syahadat, ada yang kembali berkumpul dengan kerabatnya, Muslimin, kemudian Nabi ﷺ dengan seluruh pasukannya menguasai Mekkah. Di mana-mana prajurit Muslimin. Dia kayak tidak menyangka, seperti orang yang mimpi, <i>“Apa yang terjadi ini?”</i> Maka sempat terpikir di benak dia, sepintas, dia ingin... mengumpulkan kembali Quraisy diam-diam di malam hari, kemudian mengajak suku-suku Arab yang masih bisa diajak untuk menyerang Muslimin. Lagi sementara dia berpikir itu, tiba-tiba dia merasakan pundaknya dari belakang ada yang memegang. Dia kaget, seperti kita kalau lagi melamun ada orang pegang pundak kita. Maka dia balik, ternyata Nabi ﷺ. Tiba-tiba dia kaget, dan ini salah satu yang menambah akhirnya Islamnya bisa... tidak ragu lagi, ya. Walaupun ini masih ada poin lagi setelahnya yang lebih menguatkan, setelah itu Abu Sufyan tidak ragu lagi dengan keislaman. Maka Nabi ﷺ mengatakan: <i>“Allah akan menghinakanmu, wahai Abu Sufyan,</i> <i>kalau kau lakukan niatmu.”</i> Kaget dia. Abu Sufyan kaget, bagaimana Nabi ﷺ bisa tahu? Belum dia ungkapkan, baru di otaknya. Dan dia sudah tahu kalau Nabi paham masalah itu. <i>“Allah akan menghinakanmu Abu Sufyan,</i> <i>kalau kau jalankan niatmu.”</i> Maka pada saat itu Abu Sufyan heran. Berkecamuk di benak dia: <i>“Ini kayaknya benar Rasulullah ini.</i> <i>Nggak mungkin dia bisa tahu seperti ini.”</i> Pada saat itu Nabi ﷺ tinggalkan Abu Sufyan. Cuma ucapkan kalimat itu saja, ditinggalkan. Abu Sufyan berkecamuk di pikirannya antara dua pikiran tadi: mengumpulkan orang-orang Arab dan Quraisy untuk menyerang Muslimin, dengan ketakutan karena Nabi tahu. Maka ada dua orang temannya. Dua orang ini pimpinan Quraisy juga. Namanya Utad ibn Usaid. Dan Harith ibn Hisham. Usaid... dan Hisham... ayahnya kedua orang ini. Utad ibn Usaid, Usaid ini mati terbunuh dalam keadaan kafir. Harith ibn Hisham, Hisham juga terbunuh dalam keadaan kafir. Ini anak mereka ini. Dua-duanya sahabat dekatnya Abu Sufyan. datang duduk di sebelah Abu Sufyan, menghadap ke Ka'bah... melihat kejadian tersebut. Lalu ketiga orang sahabat ini masing-masing seperti orang yang terdiam, tidak tahu apa yang harus dilakukan, bingung gitu. Lalu tiba-tiba saja si Utad berkata... Maaf, pada saat itu sebelumnya... waktu mereka lagi melamun, mengkhayal melihat keadaan ini, waktu shalat masuk. Nabi ﷺ suruh Bilal naik ke atas Ka'bah. Adzan di atas Ka'bah. Utad, Abu Sufyan... ini semuanya, dan Harith, tahu betul Bilal ini siapa, budak. Dulu dia diperjualbelikan. Bagi mereka tidak ada nilainya Bilal di Mekkah itu. Ini di pandangan mereka. Tapi Bilal رضي الله عنه di dalam Islam tentu punya kemuliaan. Bahkan Abu Bakar pun setelah membebaskan dia, dan setelah ikut ke Madinah hijrah, kata Abu Bakar: <i>“Bilal Sayyiduna. Bilal itu tuan kita."</i> Dalam Islam berbeda. Tapi mereka tahu, dalam pandangan mereka masih pikiran jahiliyah. <i>“Ini siapa?</i> <i>Ini budak diperjualbelikan...</i> <i>naik ke atas Ka'bah.</i> <i>Tokoh-tokoh Quraisy saja tidak ada</i> <i>yang pernah injak ke atas Ka'bah."</i> Maka sementara mereka melihat kejadian tersebut, Bilal karena mau mengumandangkan adzan, Utad tadi bilang: <i>“Sungguh beruntung Usaid,</i> (ayahnya dia) <i>karena tidak melihat bagaimana hamba sahaya ini</i> <i>naik ke atas Ka'bah seraya bertakbir.</i> <i>Kalau ayah saya masih hidup (Usaid)</i> <i>ini pasti dihukum, nih.</i> <i>Nggak mungkin ada budak</i> <i>bisa naik ke atas Ka'bah.”</i> Harith bin Hisham juga bilang sama. Harith bilang: <i>“Sungguh beruntung Hisham,</i> <i>karena tidak melihat budak ini, hamba sahaya,</i> <i>naik ke atas Ka'bah dan bertakbir.”</i> Kalau Abu Sufyan, dia bilang begini: <i>“Sungguh aku tidak mau berkata apa-apa.</i> <i>Karena demi Allah,</i> <i>kalau aku ucapkan kata-kata,</i> <i>maka batu ini akan</i> <i>sampaikan ke dia.”</i> dia tunjuk batu di depannya. Uniknya dalam riwayat ini, Subhanallah, baru mereka habis bicara begitu, Nabi ﷺ lewat. Lalu Nabi bilang: <i>“Wahai Utad!</i> <i>sungguh beruntung Usaid karena tidak melihat</i> <i>hamba sahaya di atas Ka'bah.</i> <i>Wahai Harith!</i> <i>sungguh beruntung Hisham tidak melihat</i> <i>budak ini di atas Ka'bah bertakbir.</i> <i>Wahai Abu Sufyan!</i> <i>sungguh aku tidak akan berkata apa-apa.</i> <i>Karena kalau aku ucapkan,</i> <i>batu itu akan menyampaikan.</i> Semenjak kejadian ini, Abu Sufyan tidak ragu lagi dengan keislamannya. Ini kejadian terakhir yang membuat Abu Sufyan رضي الله عنه tidak ragu dengan Islam. Maka pada saat itu, kata ahli sejarah, Abu Sufyan seluruh hatinya dipenuhi dengan Islam. Nggak ada keraguan lagi. Pada saat itu dikumandangkan iqamah, lalu shalatlah baginda Nabi عليه الصلاة والسلام. Dan memerintahkan setelah selesai shalat, memimpin shalat... bagi masyarakat Mekkah. Pada saat itu Nabi ﷺ qashar... shalatnya, dan tepatnya waktu itu di waktu shalat Dzuhur. Karena pasukan Muslimin masuk tadi di Mekkah di waktu dhuha. Setelah mengatur semuanya tadi di dalam Mekah, maka tiba waktu shalat Dzuhur. Nabi ﷺ suruh kumandangkan adzan, lalu iqamah, lalu Nabi ﷺ shalatnya qasar, dua rakaat Dzuhur. Bagi masyarakat Mekkah, mereka ikut dengan Nabi ﷺ. Lalu mereka menyempurnakan dua rakaat yang tersisa. Dan ini keluar juga sebuah hukum syar’i: bolehnya imamnya musafir. Kemudian dia salam, lalu makmumnya menambah rakaat yang tersisa. Setelah selesai shalat, Nabi عليه الصلاة والسلام memerintahkan seluruh Muslimin dan juga orang-orang kafir pada saat itu yang ada, untuk menyingkir dari sekitar Ka'bah, kosongkan semua. Dan waktu itu, Ka'bah dikelilingi dengan 375 berhala. Banyak sekali. Sepuluh berhala saja sudah penuh, apalagi 375. Sampai dikatakan zaman itu, orang kalau tawaf, dia seperti jalan di antara patung-patung, saking banyaknya. Dan setiap orang bebas buat patung, taruh lagi patung, dia namakan sendiri, lalu dia sembah sendiri di depan Ka'bah. Dan ada patung paling besar waktu itu yang paling ditakuti oleh... orang-orang Mekkah, namanya... Hubal. Patung Hubal. Tentu ada patung juga yang lain: Al-Lat dan Al-‘Uzza, ya. Ini patung-patung. Kalau Al-Lat dan Al-‘Uzza ini, ini nama orang yang dulu dimuliakan oleh mereka... di Mekkah. Mereka dulu suka memberikan makan jemaah haji, menggilingkan gandum, lalu kemudian dimuliakan. Sampai akhirnya dibuat patungnya dan disembah selain daripada Allah ﷻ. Dan patung yang paling besar adalah patung Hubal. Tinggi, besar, dan dirantai dengan sekian banyak rantai supaya tidak ada yang mengambilnya. Seperti itulah. Dan banyak sekali yang diletakkan... hal-hal yang... berupa perhiasan, segala macam, ditempelkan. Ada yang menghancurkan, melunakkan emas, dioleskan ke Hubal, dan seterusnyalah. Jadi membuat sebuah patung yang dianggap agung, bersih, mewah, dan segalanya. Nabi عليه الصلاة والسلام pada saat itu sengaja... menyuruh seluruh Muslimin untuk menyaksikan, dan orang-orang kafir. Umat Islam membuat lingkaran, lalu orang kafir berada di belakang mereka untuk melindungi Nabi عليه الصلاة والسلام. Lalu Nabi ﷺ mendatangi satu per satu patung tersebut. Sambil membawa tongkat beliau, dan beliau di atas untanya, عليه الصلاة والسلام, dan membaca ayat Al-Qur’an yang masyhur. وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا (Surah Al-Isra’, 17:81) <i>Katakanlah (hai Muhammad),</i> <i>"Al-Haq telah datang</i> <i>dan batil telah hilang musnah."</i> <i>Dan kebatilan pasti akan musnah.</i> Setiap kali Nabi عليه الصلاة والسلام mendekatkan tongkatnya ke patung-patung tersebut, belum tersentuh, hancur. Sebagai mukjizat. Dan disaksikan oleh semua orang. Ini mukjizat juga termasuk yang besar di Mekkah. Karena patung-patung ini dibuat dari batu-batu yang keras. Tapi biasanya juga mereka kalau mau hancurkan pakai kampak, pakai alat-alat yang besar. Ini tidak. Nabi ﷺ cuma pakai tongkat, dan belum disentuh, hancur sendiri. Dan hancurnya itu uniknya menjadi tanah. Selalu begitu. Semua 300 lebih patung itu dilakukan begitu oleh Nabi ﷺ. Dan mereka kaget melihat itu. Patung yang ratusan tahun mereka sembah, mereka yakini sebagai tuhan, bahkan mereka takut berbicara keras suara di dekat patung tersebut. Mereka menganggap kalau bersumpah atas namanya akan diijabah, dan segala macam keyakinan yang selama itu di zaman jahiliyah mereka percaya. Maka patung-patung tersebut, semuanya berjatuhan di hadapan Nabi ﷺ dan melebur dengan tanah. Jatuh. Dan Nabi عليه الصلاة والسلام sengaja menyisakan Hubal. Tinggal satu, Hubal, patung yang paling besar. Dan keyakinan orang-orang Quraisy, kalau Hubal ini tidak akan pernah ada yang bisa kalahkan. Dan selama ada Hubal di Mekkah, berarti tidak akan pernah Mekkah bisa diserang. Seperti itu keyakinan mereka. Sekarang, Nabi ﷺ ingin membatalkan keyakinan itu. Maka beliau pun, عليه الصلاة والسلام, mendekati Hubal. Dan beliau sengaja memegang tongkatnya, memperlihatkan kepada Quraisy, lalu mencolok matanya Hubal Sambil mengatakan: وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا (Surah Al-Isra’, 17:81) Perlu teman-teman tahu, Hubal ini... kalau dipikul, itu mungkin 20 orang baru bisa angkat. Beratnya. Patung besar. mungkin lebih besar daripada tiang besi ini. Tapi Nabi ﷺ di atas untanya, Nabi ﷺ juga tinggi besar, lalu tongkatnya pun dicolokkan ke matanya. Begitu satu kali dicolok saja, disentuhkan Nabi ﷺ, goncang Hubal. Goyang, seperti lagi ada yang menggoyangkan, gitu. Lalu Nabi ﷺ menarik tongkatnya, ingin menunjukkan kepada Quraisy, <i>"Lihat."</i> Lalu Nabi ﷺ melakukannya yang kedua kali, sambil membaca: وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا (Surah Al-Isra’, 17:81) Lebih keras lagi suara Nabi ﷺ. Memberitahukan kepada mereka karena ini dalam bahasa Arab: <i>"Kebenaran telah datang,</i> <i>kebatilan pasti akan musnah.</i> <i>Dan kebatilan pasti akan musnah,"</i> nggak mungkin tidak. Maka Hubal pun akhirnya jatuh, rubuh, dan menjadi kepingan-kepingan pecah. Jadi saking besarnya Hubal, sampai dia nggak melebur jadi tanah. Dan Nabi ﷺ melihat itu jatuh, lalu mengatakan kepada para sahabat: <i>"Hancurkanlah!"</i> Dihancurkan sampai tidak tertinggal sedikitpun dari potongan... Hubal tadi. Melihat kejadian tersebut, teman-teman sekalian, yang luar biasa terjadi: semua Quraisy... tiba-tiba bersyahadat. Sudah nggak ada keraguan lagi. Ini patung yang selama ini mereka sembah, mereka pertahankan, ternyata hancur... lebur di tangan Nabi ﷺ. Dan hancurnya dengan cara seperti tadi. Terhina. Bukan dikeroyok ramai-ramai, nggak. Hancur hanya dengan sentuhan-sentuhan tongkat saja, dan firman Allah yang berbunyi tadi sudah kita bacakan. Setelah hancur semua, dan berbondong-bondong orang mengucapkan syahadat, Nabi عليه الصلاة والسلام sekarang ingin menyempurnakan pembersihan Kota Mekkah dari segala kesyirikan dengan masuk ke dalam Ka'bah. Perlu kita tahu, teman-teman sekalian, Ka'bah di zaman itu di dalamnya pun banyak patung. Ada patung-patung juga. bahkan dindingnya itu dilukis-lukis, digambar-gambar oleh mereka. Rupakah-rupakah, jadi bentuk-bentuk. Jadi seperti kita kalau dipahat, dibuat, gitu, ya. Maka Nabi ﷺ waktu itu mengetahui yang pegang kunci Ka'bah, ada dari keturunan Abdid Dar, bernama Utsman bin Thalhah. Utsman bin Talhah... waktu dia lihat kejadian tadi... patung-patung itu hancur, syahadat dia. Sudah tidak ada lagi kebatilan, tidak ada lagi kebenaran kecuali ini, gitu. Maka... Nabi عليه الصلاة والسلام mengatakan kepada Utsman bin Thalhah... untuk... bukakan pintu Ka'bah. Maaf. Utsman bin Thalhah ini keliru saya, bukan... bukan dia masuk Islam pada saat penghancuran batu patung-patung, tapi dia masuk Islam bersamaan dengan... Khalid bin Walid dan Amr bin Ash. Beberapa saat sebelum pembebasan Kota Mekkah waktu itu. Yang waktu Khalid bin Walid keluar dari Mekkah, kemudian... Utsman bin Thalhah ini sahabat dekatnya Amr bin Ash, dengan Khalid bin Walid didatangi oleh Amr bin Ash. Amr bin As masuk Islam di tangannya Najasyi, lalu kemudian diajaklah... masuk Islam oleh Amr bin Ash, dan akhirnya mereka bertiga masuk Islam. Dan setelah mereka tiba di Madinah, kata Nabi ﷺ: <i>"Telah datang kepada kalian</i> <i>anak-anak muda terbaiknya Quraisy."</i> Utsman bin Thalhah memegang kunci Ka'bah, dan dia turun-temurun dari kakek-kakeknya, dari keturunan Abdid Dar. Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Hai Utsman, pergilah...</i> <i>ke rumahmu, ambil kunci Ka'bah, bukakan.</i> <i>Saya ingin masuk.”</i> Maka Utsman pun pergi ke sana, ke rumahnya. Kebetulan di rumahnya ada ibunya Utsman, tapi masih dalam keadaan kafir. Dan dia yang pegang kunci Ka'bah. Waktu Utsman pergi ke Madinah, masuk Islam, sama Amr bin Ash dan Khalid bin Walid, رضي الله عنهم اجمعين, maka yang pegang kunci ibunya. Lalu Utsman mengatakan, <i>“Wahai ibuku...</i> <i>Rasulullah ﷺ memerintahkan aku</i> <i>untuk mengambil kunci Ka'bah dan kemudian...</i> <i>membukanya.”</i> Kata ibunya: <i>“Wahai Utsman...</i> <i>apakah kau tidak mengingat kejadian</i> <i>antara dirimu dengan Muhammad mengenai kunci Ka'bah?”</i> Ibunya mengingatkan dia. Apa kejadian teman-teman sekalian? Waktu Nabi ﷺ masih di Mekkah dulu, masih awal-awal dakwah, Utsman bin Thalhah ini... termasuk tokoh Quraisy. Dan dia membenci Nabi ﷺ... sebelum masuk Islam, di awal-awal Islam dulu. Dan Nabi ﷺ pernah mengatakan, <i>“Hai Utsman...</i> <i>izinkan aku masuk</i> <i>ke dalam Ka'bah.”</i> Kata Utsman, <i>“Tidak mungkin aku bukakan untukmu.</i> <i>Demi Allah, aku tidak akan</i> <i>membukakannya untukmu</i> <i>dan membiarkanmu memasukinya selamanya,”</i> kata Utsman. Kata Nabi ﷺ, <i>“Wahai Utsman,</i> <i>bukakan sebelum kunci Ka'bah</i> <i>berada di tanganku,</i> <i>dan aku akan berikan kepada</i> <i>siapa pun yang aku inginkan.”</i> Ini kejadian di Mekkah sebelum Utsman masuk Islam, dulu. Maka Utsman mengatakan: <i>“Bila kunci Ka'bah berada</i> <i>di tanganmu, hai Muhammad,</i> <i>sungguh mati lebih baik bagiku</i> <i>daripada hidup dan menyaksikannya.”</i> Tapi ini cerita sebelum masuk Islam. Sekarang Utsman sudah Muslim, gitu, kan. Ibunya mengingatkan itu. <i>“Kau lupa perkataanmu dulu sama Muhammad?</i> <i>Dulu kau tidak mau masukkan dia dalam Ka'bah,</i> <i>walaupun kau mati.”</i> Kata Utsman: <i>“Walaupun, ibuku.</i> <i>Itu di zaman dulu,</i> <i>bukan sekarang.</i> <i>Dia adalah utusan Allah,</i> <i>dan aku telah beriman.</i> <i>Maka aku wajib patuh padanya.</i> <i>Berikanlah kuncinya.”</i> Maka ibu Utsman... merasa ini kemuliaan. Dia mengatakan: <i>“Bagaimana engkau memberikan</i> <i>kepada Muhammad kunci Ka'bah,</i> yang berarti dia akan memilikinya, <i>dan dia bisa berikan kepada</i> <i>siapa yang dia suka?</i> <i>Berarti semua kemuliaan nenek moyang</i> <i>sudah tidak ada.”</i> Lalu dia ambil kunci tersebut, dalam riwayat ini dikatakan, dimasukkan ke dalam bajunya. Ibunya Utsman menyembunyikan. Dia bilang, <i>“Saya tidak akan memberikan kepadamu.”</i> Utsman terus merayu, karena dia tahu hukum syar'i: kalau ibu pun dalam keadaan kafir tetap harus dirayu, santun, baik, tidak boleh mengatakan kalimat, <i>“Ah.”</i> Dia terus merayu. Karena lama, Nabi ﷺ utus Umar bin Khattab. <i>“Hai Umar,</i> <i>susul Utsman.</i> <i>Kenapa nggak datang-datang, tuh?”</i> Nabi ﷺ berdiri di depan Ka'bah, ini. Tinggal nunggu ini saja. Orang semua juga nunggu, gitu, kan. Maka Umar bin Khattab datang. Pas di depan rumah Utsman, nggak pakai banyak bicara: <i>“Hai Utsman,</i> <i>mana kunci Ka'bah?”</i> Pada saat mendengar suara Umar, ibunya ketakutan. Lalu dia segera keluarkan kunci, dia kasih. <i>“Hai Utsman, kasihlah.</i> <i>Daripada nanti Umar</i> <i>membongkar rumah kita.”</i> Pada saat itu akhirnya, pergilah Utsman membawa kunci tersebut ke Nabi عليه الصلاة والسلام, kemudian membukakan pintu Ka'bah. Pada saat itu, waktu diberikan kunci tersebut, Nabi ﷺ mengetahui serta mengingat sebenarnya perkataan Utsman. Waktu sebelum masuk Islam, dulu pernah mengucapkan itu. Maka Nabi ﷺ... tidak menyinggungnya, dan ini sebuah adab syar'i. Hal itu dulu, masa Jahiliyah, masa bodoh. Belum mengerti. Seperti kita mungkin punya teman-teman dulu... sama-sama... zina lah, apalah, mabuk. Nggak, sekarang sudah sadar, sama-sama di pengajian. Termasuk adab dan akhlak dalam Islam, tidak boleh lagi kita mengatakan: <i>“Dulu kan kau lebih buruk dari saya,”</i> <i>“Dulu kan kamu begini,”</i> <i>“Kamu kan juga begini.”</i> Itu dulu. Sekarang orang ke depan, gitu, ya. Tidak perlu kita lihat masa lalunya seseorang. Maka Nabi ﷺ tidak singgung, tapi Nabi tahu. Melihat matanya Utsman, Utsman seperti sedikit takut dengan kalimat itu, jangan sampai Nabi ﷺ mengingatkan kembali. Tapi Nabi tidak mengucapkan. Mengatakan, <i>“Hai Utsman, bukalah, aku akan masuk.”</i> Dibuka. Setelah selesai, Nabi ﷺ memegang kunci Ka'bah. Dan waktu itu, Abbas bin Abdul Muttalib, paman Nabi ﷺ, mengurus Masjidil Haram dan jemaah haji. Maka dia ingin mengambil kemuliaan tersebut sambil dia mengatakan, <i>“Ya Rasulullah,</i> <i>gabungkanlah padaku</i> <i>pengurusan Masjidil Haram,</i> <i>jemaah haji,</i> <i>dan juga kunci Ka'bah.”</i> Maka Nabi ﷺ bersabda dengan sabda yang masyhur. Dan ini menandakan juga kemuliaan jiwa Nabi ﷺ. Setiap muslim harus begini. Maka Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Tidak, hai Abbas.</i> <i>Hari ini adalah hari kemuliaan dan bakti.</i> <i>Hari ini hari kebaikan.</i> <i>Sebarkan kebaikan.</i> <i>Peganglah kunci Ka'bah,</i> <i>wahai suku Abdid Dar.</i> <i>Dan suku Syaibah, selamanya.”</i> Maksudnya, sukunya Talhah. Lalu Nabi ﷺ mengembalikan kepada Talhah, mengatakan, <i>“Peganglah ini kepada anak keturunanmu.”</i> Dan Subhanallah, sampai hari ini, di Kerajaan Saudi pun, turun-temurun, kerajaan Islam... Datang setelahnya (Nabi ﷺ meninggal) Khulafaur Rasyidin, datang... Umayyah, ‘Abbasiyah, ‘Utsmaniyah, sampai sekarang pemerintah Saudi, semuanya... dari keturunan Abdid Dar yang pegang kunci Ka'bah. Sesuai dengan wasiat Nabi ﷺ. Setelah pintu Ka'bah dibuka, Nabi ﷺ menyuruh Umar bin Khattab masuk lebih dulu, kemudian menghapus semua gambar-gambar yang terletak di dinding Ka'bah sebelum beliau masuk. Jadi waktu itu banyak sekali digambar-gambar, ya. Mereka lukis-lukis, diukir-ukir, gitu. Oleh Umar bin Khattab dibersihkan. Di antara gambar yang ada dalam Ka'bah waktu itu adalah gambar Ibrahim dan Ismail menurut mereka. Versi mereka, versi Quraisy. Dan dalam gambarnya itu seakan-akan keduanya sedang memohon pada berhala. Juga ada gambar... Maryam عليها السلام. Mereka gambarkan menurut pemandangan mereka saja. Siapa yang dianggap tokoh masyarakat waktu itu, dianggap beriman sama Allah, digambar-gambarkan sama mereka. Maka oleh Umar dihapuslah. Setelah selesai, Umar bin Khattab keluar, mengatakan, <i>“Sudah ya Rasulullah.”</i> Maka Nabi ﷺ masuk, dan ternyata beliau menemukan masih ada sisa gambar Ibrahim dan Ismail عليهم السلام. Maka Nabi ﷺ kemudian bersabda: <i>“Semoga Allah membinasakan mereka,</i> <i>karena telah memperlakukan</i> <i>orang tua kami begini.”</i> Lalu Nabi ﷺ menghapus dengan lengan baju beliau sendiri, sisa... gambar daripada Ibrahim dan Ismail .عليهم الصلاة والسلام Lalu Nabi ﷺ shalat dua rakaat. Dan waktu itu kebetulan, waktu masuk setelah Umar bin Khattab keluar, Nabi ﷺ tidak mengizinkan orang masuk kecuali Bilal. Dan ini kemuliaan Bilal رضي الله عنه. Ini saya sudah ceritakan dalam serial sahabat Bilal رضي الله عنه, bagaimana ini termasuk kemuliaan yang khusus. Karena Nabi ﷺ masuk waktu itu tidak mengajak orang lain. Siapapun tidak boleh ikut, kecuali Bilal. Lalu Nabi ﷺ shalat dua rakaat di situ. Dan ini niatnya shalat tahiyatul masjid. Tentu teman-teman, sekarang kalau mau shalat dalam Ka'bah, ditutup, ada pintunya. Nggak dibuka kecuali untuk tamu-tamu kerajaan. Tapi ada di sebelah Ka'bah, ada Hijir Ismail... yang melengkung dan ada tiga lampu itu juga termasuk bagian dari Ka'bah. Sebagaimana sudah pernah kita jelaskan di awal-awal Sirah kita. Kalau di zaman Abdul Muthalib, pernah Ka'bah mau dibangun, tapi karena harta mereka nggak cukup yang halal, maka Ka'bah menjadi kecil dan Hijir Ismail tidak masuk. Di zaman Ibrahim عليه السلام sampai ukuran... Hijir Ismail. Jadi kalau orang shalat dalam Hijir Ismail, sama dengan shalat dalam Ka'bah, dan diniatkan untuk tahiyatul masjid. Setelah selesai shalat dua rakaat, Nabi ﷺ keluar bersama Bilal. Dan ternyata di depan pintu sudah ditunggu oleh... Abdullah bin Umar, رضي الله عنهما. Abdullah bin Umar ini sahabat Nabi, terkenal dengan sahibut taʾassi. Artinya orang yang luar biasa... mengikuti sunnah-sunnah Nabi ﷺ dengan sangat detil. Betul-betul luar biasa. Apa saja yang Nabi kerjakan, ﷺ, jangankan bicara wajib, yang sunnah-sunnah, bahkan perilaku biasa... cara jalannya Nabi, Nabi pernah mampir di mana, semuanya diikuti oleh Abdullah bin Umar. Makanya dikenal dengan <i>sahibut taʾassi.</i> Di zaman setelah Nabi ﷺ meninggal, pernah satu kali Abdullah bin Umar memimpin kafilah haji... dari Madinah. Di tengah jalan, dia berhentikan. Ada 70 ekor unta, berhenti semua. Lalu kemudian... dia mengatakan: <i>“Tunggulah dan saksikanlah.”</i> Turunlah dia dari untanya, dia jalan. Orang semua lihat, Abdullah bin Umar sahabat Nabi, ulamanya sahabat waktu itu, ulamanya Muslimin. Orang semua lihat sampai ke kejauhan, tinggal bayangan. Lalu Abdullah bin Umar datang ke sebuah tempat itu, lalu beliau buang air kecil di situ. Lalu kembali lagi. Ada beberapa sahabat Nabi yang masih hidup waktu itu dan tidak mengerti, lalu bertanya: <i>“Wahai Abdullah bin Umar,</i> <i>apakah Anda memberhentikan kami semua ini...</i> <i>hanya menyaksikan Anda</i> <i>kencing di situ?”</i> Kata Abdullah bin Umar, <i>“Iya.</i> <i>Karena saya ingin menyampaikan kepada kalian,</i> <i>pada saat saya sedang berjalan bersama Nabi ﷺ menuju ke Mekkah,</i> <i>beliau pernah mampir di sini,</i> <i>beliau pernah buang air kecil di situ.”</i> Saking luar biasanya mengikuti kehidupan Nabi ﷺ. Maka pada saat itu... Abdullah bin Umar tanya Bilal, <i>“Hai Bilal,</i> <i>apa yang Nabi</i> <i>kerjakan di dalam?”</i> Kata Bilal, <i>“Nabi ﷺ shalat.”</i> Kata Abdullah bin Umar, <i>“Di mana tempatnya?”</i> Ditunjukkan oleh Bilal. Lalu kemudian Abdullah bin Umar orang yang pertama mengerjakan shalat tersebut setelah... Nabi ﷺ dan Bilal. Baik, kita lanjutkan dengan kisah Hindun binti Utbah. Masih ingat tadi saya sampaikan, ada 10 orang yang pasti disuruh bunuh. Termasuk di antaranya Hindun, istrinya Abu Sufyan. Abu Sufyan sekarang sudah masuk Islam. Hindun ini... karena dia tidak mau masuk Islam, dia berusaha menyelinap di antara masyarakat Mekkah. Tapi dia termasuk target, kalau ditemukan harus dibunuh. Rupanya Nabi عليه الصلاة والسلام karena melihat masyarakat Mekkah banyak yang masuk Islam —Hindun belum masuk Islam waktu itu— maka Nabi ﷺ kumpulkan. Salah satu yang dikumpulkan Nabi ﷺ, khusus kaum wanita, dikumpulkan sendiri. Ada tradisi-tradisi jahiliyah yang harus dihilangkan, tidak boleh ada. Maka Nabi ﷺ mengumpulkan mereka... setelah syahadat... pada saat itu mereka mengikrarkan syahadat di depan Nabi ﷺ, maka Nabi mengatakan, <i>“Kalian harus mengambil janji setia,”</i> menyebutkan janji setia, <i>“ikrarkan itu.”</i> Yang pertama, kata Nabi ﷺ, <i>“Tidak boleh lagi ada syirik...</i> <i>bersama Allah سبحانه وتعالى.</i> <i>Tidak lagi ada sekutu-Nya Allah.</i> <i>Tidak ada patung, tidak ada jimat, tidak ada apa-apa.</i> <i>Tawakal, dan berpasrah kepada Allah.”</i> Rupanya waktu Nabi ﷺ ucapkan itu, terdengar di dalam saf perempuan-perempuan ini ada suara. Lalu dia mengatakan, karena Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Ikrarkan:</i> لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ” Dalam bahasa Arab, <i>“ikrarkan itu.”</i> Maka tiba-tiba ada suara dari saf perempuan mengatakan: <i>“Wahai utusan Allah,</i> <i>bila seandainya tuhan-tuhan selain Allah berguna,</i> <i>maka akan bermanfaat</i> <i>buat kami hari ini.”</i> Ternyata suara itu suaranya Hindun. Hindun, ratunya mekah, gitu, ya. Waktu dia ngomong di antara kelompok perempuan, kerumun banyak perempuan begitu, Nabi ﷺ kenal. Nabi mengatakan, <i>“Hindun?”</i> Hindun, kan, ini target harus dibunuh. Langsung Hindun mengatakan: “أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ ٱللّٰهِ Baru syahadat waktu itu. Lalu Nabi ﷺ tersenyum. Nabi menerima itu. Subhanallah, mulianya jiwanya Nabi ﷺ, padahal... Hindun adalah pembunuh pamannya. Dan termasuk target untuk dibunuh. Maka Nabi ﷺ terima. Lalu Nabi lanjutkan, Nabi tidak terlalu hiraukan. Sudah syahadat, sudah, Nabi biarkan. Nabi mengatakan, <i>“Yang kedua,</i> <i>tidak boleh zina...</i> <i>dan memperlihatkan perhiasan kalian,</i> <i>baik di tubuh maupun di telapak kaki kalian.”</i> Orang Mekkah semua diam, tahu ini penaklukan Mekkah. Dan sekarang sudah Islam, harus dengar ini utusan Allah. Maka Hindun nyeletuk lagi. Dia mengatakan: <i>“Apakah wanita bebas bisa berzina, ya Rasulullah?”</i> Karena tradisi orang di Mekkah, yang berzina kalau wanita, hanya perempuan hamba sahaya. Nggak ada wanita bebas berzina walaupun mereka di zaman jahiliyah. Maka... pada saat itu Nabi ﷺ tersenyum. Tidak menjawab apa-apa. Yang penting sekarang, poinnya tidak boleh berzina. <i>“Yang ketiga, tidak boleh membunuh anak</i> <i>karena khawatir miskin.”</i> Hindun nyeletuk lagi. Ini masih muallaf, ya. Dia mengatakan, <i>“Wahai utusan Allah,</i> <i>kami membesarkan anak-anak kami,</i> <i>lalu kalian membunuhnya di Badar.”</i> Kan di Perang Badar banyak dibunuh orang Quraisy. Termasuk yang mati ayahnya dia sama kakaknya dia. <i>“Kami besarkan anak-anak kami,</i> <i>lalu kalian membunuhnya di Badar.”</i> Nabi ﷺ senyum saja, nggak ditanggapi sama sekali, gitu. Dan ini, teman-teman sekalian, poin-poin ini ditekankan oleh Nabi ﷺ, dan ini menandakan kemuliaan hati dan kesucian hati Nabi ﷺ, bagaimana beliau... tetap menerima keislaman. Karena targetnya menyampaikan Islam. Kalau orang itu belum masuk Islam dan punya keburukan terhadap Islam, mungkin itu bisa dihukum. Tapi orang kalau sudah syahadat, syahadat ini memberhentikan semuanya. Nggak ada lagi dendam dengan dia. Nggak ada lagi apa-apa sama sekali. Dan ini pelajaran penting, teman-teman sekalian. Maka pada saat itu, Nabi ﷺ menunjukkan kepada kita bagaimana mendahulukan syariat Allah ﷻ, dan akhirnya menerima keislaman Hindun. Dan ini pelajaran yang luar biasa kita ambil dari kehidupan dia. Bagaimana jahatnya pun seseorang, dan bencinya dengan Islam, tapi pada saat iman masuk ke dalam hati, maka dia pasti akan bisa menerima kebenaran. Dan bagaimana baginda Nabi ﷺ tidak pernah putus asa dalam berdakwah. sehingga beliau tetap menerima. Bisa dibayangkan kalau kasus kita berada di posisi baginda Nabi ﷺ, Bagaimana beliau... melihat depan matanya, pamannya, sampai Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata, <i>“Kami tidak pernah melihat Nabi ﷺ menangis terisak-isak,</i> <i>yang mengalahkan tangisan beliau pada saat</i> <i>di Uhud melihat jenazahnya Hamzah.”</i> Hidungnya dipotong, dadanya terbelah, darah semuanya, gitu, kan. Dan itu perilaku Hindun, dan Hindun ini termasuk motivator... terkuatnya Quraisy di Perang Uhud. Bahkan dia mengeluarkan syair-syair yang mengatakan kepada pasukan Quraisy: <i>“Kalau kalian lari dari kancah peperangan,</i> <i>maka kami akan meninggalkan kalian.”</i> Dia instruksikan semua wanita Mekkah tidak boleh melayani suaminya. Dan orang-orang, perempuan, pada saat itu patuh. Jadi luar biasa bagaimana bencinya dengan Islam dan sekian banyak kisah berhubungan dengan masalah Hindun ini. Tapi setelah masuk Islam, Nabi ﷺ betul-betul target utamanya agama Allah, bukan yang lain. Maka beliau pun menerima masalah itu. Kisah yang lain adalah Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh. Siapa orang ini? Penulis wahyu yang? Murtad, ya. Tapi malam ini tidak ada buku. Tadi pagi saya kasih buku. Karena sekarang sudah tinggal mengulangi saja. Dia adalah saudara susuannya... Utsman bin Affan رضي الله عنه. Utsman bin Affan... tahu betul permasalahannya... saudara susunya ini, Abdullah ini. Dan dia menginginkan agar... hidayah juga datang kepada Abdullah. Sebagaimana Hindun masuk Islam, sebagaimana Abu Sufyan masuk Islam, dan banyak tokoh-tokoh Quraisy yang masuk Islam. Maka dia menjadikan target untuk mengejar... di mana Abdullah bin Sa'ad ini, saudara susuannya. Dikejar, dicari sama dia. Dan dia tahu, karena ini saudaranya. Dan dia tahu di tempat-tempat mana kira-kira di Mekkah sembunyi, sampai Utsman bin Affan menemukan dia. Dia berada di dalam sebuah rumah, yang terpencil di pinggir kota Mekkah, kemudian oleh Utsman ditemukan. Lalu Utsman... Lalu Utsman mengatakan kepada dia: <i>“Wahai Abdullah...</i> <i>sungguh ini kebenaran.</i> <i>Dan kamu telah melakukan</i> <i>kesalahan besar.</i> <i>Kamu telah masuk Islam, lalu kamu murtad</i> <i>dan kamu munafik pada saat itu.</i> <i>Terbongkar kedokmu sekarang.</i> <i>Dan apa yang selama ini kau pikir Quraisy</i> <i>akan mengalahkan Nabi ﷺ,</i> <i>sekarang sudah terbukti,</i> <i>Quraisy takluk tanpa perlawanan.”</i> Maka dalam kondisi... dia ketakutan, dia mengatakan: <i>“Lalu apa saranmu, wahai Utsman?”</i> Kata Utsman, <i>“Masuk Islamlah!</i> <i>tapi dengan tulus,</i> <i>ikuti kebenaran.</i> Dia mengatakan, <i>“Bagaimana aku bisa aman?</i> <i>Sementara, aku termasuk dalam daftar</i> <i>dari 10 orang yang harus dibunuh.”</i> Dia juga sudah tahu itu. Maka Utsman mengatakan, <i>“Bercadarlah. Tutup wajahmu.</i> <i>Pakai imamah, tutup wajahmu</i> <i>dan ikut dengan aku.</i> <i>Aku akan bawa kamu bertemu</i> <i>dengan Nabi ﷺ.”</i> Jalanlah mereka terus menuju ke kemah. Karena ramainya kota Mekkah tidak terlihat, Utsman pun mengajak dia jalan bersama. Maka orang melihat Utsman bin Affan, orang tahu. Dan karena Abdullah bin Sa'ad ini menutup wajahnya, tidak kelihatan. Bola matanya saja, alisnya pun tertutup, gitu. Jadi nggak dikenal, gitu. Pada saat itu kebetulan di dalam kemah Nabi ﷺ di sekitar Ka'bah, ada seorang sahabat... yang pada saat Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Siapa yang menemukan fulan, fulan, fulan...”</i> 10 orang disebutkan namanya yang harus dibunuh, <i>“bunuh mereka! Walaupun mereka</i> <i>bergantung pada kiswah Ka'bah.”</i> Waktu dia dengar... sahabat ini dengar namanya “Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh,” kebetulan dia punya masalah dengan Abdullah dulu di Mekkah. Maka dia mengatakan, <i>“Demi Allah,</i> <i>kalau saya temukan Abdullah,</i> <i>saya akan penggal dia.</i> <i>Walaupun dia bergantung</i> <i>di depan kiswah Ka'bah, ya Rasulullah.”</i> Duduklah orang itu di sebelah Nabi ﷺ. Tapi saya mohon maaf, tidak ditemukan nama sahabat ini siapa. Cuma kisahnya begitu. Duduklah seorang sahabat yang pernah bersumpah akan membunuh Abdullah bin Sa'ad di hadapan Nabi ﷺ. Masuklah Utsman bin Affan di kemah Nabi ﷺ membawa Abdullah. Maka... Utsman berkata: <i>“Wahai utusan Allah,</i> bersamaku sekarang, di sebelahku ini saudara susuanku. <i>Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh.”</i> Mendengar perkataan tersebut, orang-orang semua melihat ke arah Abdullah. Ini orang jadi target utama, tapi sekarang sudah di kemah Nabi ﷺ. <i>“Saya ingin...</i> <i>Anda menerimanya,</i> <i>karena dia...</i> <i>niat mau masuk Islam tulus.</i> <i>Bukan seperti awal dulu.”</i> Abdullah waktu itu membuka tutup wajahnya, segera mengulurkan tangannya ke Nabi ﷺ. ingin menunjukkan baiatnya dan ingin syahadat di hadapan Nabi ﷺ. Tapi terjadi sesuatu yang unik di sini. Nabi ﷺ tidak mau menerima tangannya. Diam saja Nabi ﷺ. Utsman kembali mengulangi permintaannya, seraya berkata: <i>“Wahai utusan Allah...</i> <i>Abdullah datang ingin masuk Islam, tulus.</i> <i>Terimalah dia.</i> <i>Walaupun dia punya kesalahan dulu.”</i> Abdullah ulurkan lagi tangannya yang kedua kali, Nabi ﷺ tidak menerimanya. Yang kedua kali. Yang ketiga kali, Utsman bin Affan ulangi lagi: <i>“Ya Rasulullah...</i> <i>maafkanlah dia.</i> <i>Dia saudara susuan saya.</i> <i>Dia sudah datang ke kemah Anda</i> <i>dan dia merasa ketakutan.</i> <i>Dia ingin masuk Islam.</i> <i>Mudah-mudahan saja dia bisa kokoh</i> <i>dengan keislamannya.”</i> Lalu Abdullah ulurkan lagi tangannya, Nabi ﷺ tidak terima tangannya. Juga tidak melihat wajahnya Abdullah ini. Ternyata di sini, kata ulama, memang Nabi ﷺ sangat marah dengan dia. Bagaimana dia menjadi penulis wahyu, dan Nabi ﷺ sudah percaya, terus kemudian sudah termasyhur di kalangan sahabat, lalu dia sengaja pulang, iklankan kemurtadannya. Karena itu masalah besar. Yang keempat kalinya, Utsman mengulangi seperti yang sama sambil memohon-mohon kepada Nabi ﷺ. Akhirnya, Abdullah mengulurkan tangan, Nabi ﷺ terima. Syahadatlah dia. Diterimalah keislamannya. Lalu Utsman bin Affan karena gembiranya, dia merangkul saudara susuannya ini (Abdullah), lalu dibawa keluar dari kemah. <i>“Sudah, jangan lama-lama di sini.</i> <i>Sudah cukup. Sudah syahadat,</i> <i>Nabi ﷺ sudah terima. Sudah, keluar.”</i> Lalu waktu keluar dari kemah, Nabi ﷺ bersabda kepada sahabat tadi di sebelahnya. Yang sudah bersumpah mau membunuh Abdullah, kalau ditemukan walaupun di kiswah Ka'bah. Lalu Nabi ﷺ mengatakan, <i>“Tidak adakah orang yang berakal di antara kalian?</i> <i>Kalian melihat aku menolaknya</i> <i>sampai tiga kali.</i> <i>Kenapa tidak seorang pun</i> <i>berdiri membunuhnya?</i> <i>Orang ini harus mati mestinya.</i> <i>Saya sengaja tolak,</i> <i>supaya pakai akal bunuh ini.</i> <i>Tapi karena tidak ada juga</i> <i>yang berdiri, ya sudah.</i> <i>Akhirnya saya terima dia.</i> Lalu Nabi ﷺ menghadap ke arah orang tadi yang sudah bersumpah itu. Kata Nabi ﷺ, <i>“Bukankah kamu dulu bertekad membunuhnya?</i> <i>Walaupun dia bergantung</i> <i>di kiswah Ka'bah.”</i> Kata orang itu: <i>“Wahai utusan Allah, aku benar-benar</i> <i>tidak mengetahui maksud anda.</i> <i>Andai saja Anda memberiku</i> <i>dengan isyarat mata saja,</i> <i>niscaya aku akan membunuhnya.”</i> Kata Nabi ﷺ: <i>“Tidak layak bagi seorang Nabi</i> <i>memberi isyarat untuk membunuh,</i> tapi semua... dengan kejelasan. <i>Kalau aku suruh bunuh,</i> <i>aku bilang bunuh.</i> <i>Nggak ada isyarat.</i> Dan Nabi ﷺ di sini... bukan memberikan isyarat, artinya memberikan... kode mata supaya bunuh, tidak. Nabi ﷺ di sini makanya diam saja. Tidak mau menerima Abdullah tadi. Itu sebagai tanda juga sebenarnya, tapi bukan isyarat tangan atau... Kalau mereka bunuh, ya sudah. Karena belum syahadat. Tapi sekarang sudah Muslim, sudah tidak bisa. Maka dengan kejadian ini, selamatlah Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh. Sekarang kita masuk ke kisah Ikrimah bin Abi Jahl. Anaknya Abu Jahl, yang juga termasuk... masuk Islam nantinya. Dan dia termasuk dalam 10 orang yang harus di... bunuh. Ikrimah bin Abi Jahl, setelah... menyerang pasukan Khalid bin Walid رضي الله عنه... di pintu gerbang Mekkah dan akhirnya dikalahkan oleh Khalid bin Walid, dan akhirnya dia melarikan diri. Pada saat itu bersama dengan temannya, Shafwan bin Umayyah bin Khalaf. Mereka menuju ke kota Jeddah sekarang, ke pelabuhan, —zaman dulu sudah ada pelabuhan tentunya di sana— dan ingin menyebrang. Shafwan ingin pergi ke negeri Syam, Ikrimah... juga sama. Istrinya, istri Ikrimah, namanya Ummu Hakim, masuk Islam bersama dengan kelompok wanita yang ada Hindun tadi, Sempat syahadat. Tapi karena terpisah dengan suaminya (suaminya ditarget), maka dia tidak tahu suaminya di mana. Ummu Hakim... pada saat itu sudah masuk Islam, رضي الله عنها, dan dia berkata kepada Nabi ﷺ, <i>“Wahai utusan Allah,</i> bila aku membawa Ikrimah... <i>untuk ke Mekkah, masuk Islam,</i> <i>apakah Anda menerimanya?”</i> Kata Nabi ﷺ, <i>“Iya.</i> <i>Asal dia mau masuk Islam, iya.”</i> Maka Ummu Hakim lalu bertanya ke sana-sini. <i>“Mana ini?”</i> dari informasi tentang Ikrimah. Sampai dia mendapatkan informasi Ikrimah... telah menaiki kapal untuk menyebrang Laut Merah. Dia menuju ke Afrika dulu, baru kemudian dia pergi ke negeri Syam, ke atas itu. Pada saat itu, dengan hikmah Allah ﷻ, terjadi sesuatu. Allah kalau mau memberikan hidayah pada orang, Subhanallah, dengan caranya. Dan cara Allah ﷻ ini memang susah untuk bisa ditangkap dengan akal sehat manusia. Allah ﷻ punya cara yang manusia mungkin tidak akan sampai idenya ke sana. Pada saat itu terjadi ombak besar, dan kapal yang ditunggangi atau dinaiki oleh Ikrimah ini dihantam dengan ombak yang besar. Dan Ikrimah kebetulan tokoh Mekkah, diketahui siapa orang ini. Dan di atas kapal, mayoritasnya adalah... orang-orang yang menyembah berhala dan juga tokoh-tokoh suku Arab. Tidak harus dari Mekkah, banyak mereka yang mau pergi berdagang dan seterusnya. Dan Ikrimah tahu semua ini penyembah berhala. Waktu dihantam oleh ombak, awalnya waktu ombak datang, masing-masing pegang patungnya, lalu mohon-mohon sama patung itu. Ikrimah nggak bawa patung. Tapi dia lihat semua orang ini. Nggak lama kemudian ombak tambah besar. Sehingga akhirnya... mayoritas mereka... melempar patung-patung mereka ke lautan, lalu mereka mengatakan, <i>“Ya Tuhan, selamatkanlah kami!”</i> Lalu Ikrimah berpikir pada saat itu: <i>“Kenapa begitu bodohnya saya,</i> <i>meyakini patung-patung yang akhirnya</i> <i>dalam keadaan seperti ini pun...</i> <i<nggak bisa menolong?”</i> Mereka-mereka pun, penyembah berhala, sekarang melempar patung-patung mereka. Sampai depan mata Ikrimah, patung-patung yang dilempar itu ada yang patah kepalanya, patah tangannya, rusak. Patung batu dilempar, hancur semuanya. Maka gara-gara itu, Ikrimah akhirnya mulai masuk Islam dalam hatinya. <i>“Kayaknya benar yang dibawakan</i> <i>oleh Muhammad, nih.”</i> Gara-gara kejadian tersebut, maka... dia minta pada saat itu, bersamaan sewaktu sudah mereka melempar semua patung-patung mereka dan mereka memohon kepada Allah tulus... maka berhenti ombak. Lewatlah kapal yang lain, bersimpangan. Yang satu mau ke Afrika, yang satu balik dari Afrika menuju ke Jeddah. Dia minta berhenti, mau pindah kembali ke Jeddah. Pindahlah dia ke kapal yang sebelah, kemudian itu sudah dibayar sama dia. Kemudian dia pergi kembali ke Jeddah. Bersamaan dengan dia tiba di Jeddah tadi, istrinya sudah nunggu di pelabuhan. Ummu Hakim. Padahal tidak janjian sebelumnya, dengan hikmah Allah ﷻ. Maka pada saat itu pun, Ummu Hakim mengatakan, <i>“Wahai Ikrimah...</i> <i>sungguh aku telah datang</i> <i>dari sisi utusan Allah.</i> <i>Aku sendiri sudah masuk Islam.</i> <i>Hatinya sangat mulia.</i> <i>Bayangkan satu kota Mekah,</i> <i>semuanya dimaafkan.</i> <i>Nggak satu pun harta kita diambil,</i> <i>padahal dia sudah menang.</i> <i>Nggak satupun orang dibunuh</i> <i>kecuali yang membangkang.</i> <i>Perlu kamu tahu,</i> <i>Hindun binti Utbah...</i> <i>termasuk daftar</i> <i>yang akan dibunuh,</i> <i>tapi dia mengucapkan syahadat</i> <i>dan diterima oleh Nabi ﷺ.</i> <i>Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh masuk Islam.</i> <i>Si Fulan masuk Islam. Si Fulan masuk Islam,”</i> disebutkan semuanya. <i>“Tinggal kau, hai Ikrimah.</i> <i>Kau orang berakal,</i> <i>kenapa kau tidak mau ikut?</i> <i>Masuk Islamlah!</i> <i>Ini agama yang benar.”</i> Maka Ikrimah berkata, <i>“Apakah kau yakin kalau aku kembali ke Mekkah,</i> <i>aku tidak akan ada masalah?”</i> Kata Ummu Hakim: <i>“Aku telah memohon kepada Nabi ﷺ</i> <i>untuk memberikanmu jaminan.</i> <i>Asal dengan syarat kamu memang</i> <i>mau kembali ke Mekkah dan masuk Islam.”</i> Ikrimah lalu berkata, <i>“Baiklah kalau begitu, saya akan kembali.”</i> Di tengah perjalanan... dalam sebuah atsar disebutkan kisah begitu, dikatakan bahwasannya Ikrimah ingin menyentuh Ummu Hakim, istrinya, dalam perjalanan menuju ke Mekkah pulang. Di malam hari, dia mau menyentuhnya. Ummu Hakim mengatakan, <i>“Engkau masih musyrik,</i> <i>dan aku seorang muslimah.</i> <i>Maka tidak halal lagi</i> <i>hubungan biologis ini.”</i> Maka Ikrimah pada saat itu merasa makin terpojok. <i>“Luar biasa, sampai seperti ini.</i> <i>Istri saya pun tidak bisa saya gauli.</i> <i>Berarti betul-betul saya</i> <i>dalam keadaan salah, nih.”</i> Sampai akhirnya mereka jalan menuju ke Mekkah keesokan harinya, dan ketemu dengan Nabi ﷺ. Ikrimah langsung bertemu dengan Nabi ﷺ, dan kebetulan... Ummu Hakim sebelum masuk ke Mekkah, mengirim sepucuk surat kepada Nabi ﷺ dan memberitakan: <i>“Ya Rasulullah, Ikrimah sudah bersama dengan saya.</i> <i>Tolong berikan keamanan di jalan.”</i> Maka diiklankanlah di Mekkah Ikrimah akan datang. Maka tidak boleh ada yang ganggu. Karena, kan, targetnya harus dibunuh. Bisa saja ada orang Islam yang tidak tahu tentang kejadian Ummu Hakim, lalu kemudian main dibunuh saja. Diberikanlah keamanan. Lalu Ikrimah pun jalan, Orang-orang semua menyaksikan. Dia termasuk tokoh Mekkah, anaknya Abu Jahl. Abu Jahl adalah Fir’aunnya umat ini. Tidak ada yang tidak kenal. Dan... Ikrimah sebelum masuk Islam adalah anaknya Fir’aun. Sangat benci dengan Islam. Maka dia pun bertemu dengan Nabi ﷺ dan mengatakan, <i>“Wahai Muhammad, apakah engkau memberikanku keamanan?”</i> Kata Nabi ﷺ, <i>“Iya.”</i> Ikrimah lalu berkata lagi: <i>“Pada apa engkau mengajakku,</i> <i>hai Muhammad?</i> <i>Apa ajaranmu sebenarnya?”</i> Karena dia tidak pernah dengar secara langsung dari Nabi ﷺ. Cuma membenci-benci dari jarak jauh saja. Dengar-dengar orang bilang apa. <i>“Saya mau dengar langsung!”</i> Kata Nabi ﷺ: <i>“Engkau menyembah Allah Yang Maha Esa.</i> <i>Jangan sekutukan.</i> <i>Nggak ada patung-patung lagi.</i> <i>Kamu, kan, tahu ada Tuhan namanya Allah,</i> <i>sudah, murnikan ibadah sama Dia.</i> <i>Hanya mohon sama Dia, takut pada Dia,</i> <i>cinta pada Dia. Selesai.</i> <i>Nggak ada lagi patung-patung, jimat-jimat,</i> <i>dukun-dukun. Nggak ada semuanya.</i> <i>Engkau mendirikan shalat lima waktu,</i> <i>dan aku akan ajarkan caranya.</i> <i>Keluarkan zakat dari hartamu</i> <i>untuk penyucian.</i> <i>Hajilah selama engkau mampu.”</i> Lalu Ikrimah berkata— Waktu itu belum disebutkan, atau dalam riwayat ini tidak disebutkan Ramadhan. Ada riwayat yang menjelaskan Nabi ﷺ mengatakan: <i>“Engkau berpuasa pada bulan Ramadhan,</i> <i>dan engkau haji bila engkau mampu.”</i> Ikrimah berkata: <i>“Engkau tidak mengajak</i> <i>kecuali pada kebaikan.</i> <i>Kalau itu ajaranmu,</i> <i>baik semuanya.</i> <i>Maka...</i> <i>aku ingin mengikrarkan syahadatku.”</i> Maka dia pun mengucapkan: “أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمد رسول الله” Ikrimah begitu syahadat, dia menceritakan tentang kondisinya. Dia merasa tubuhnya semuanya merinding. Dan merasa seperti ada sesuatu yang terlepas dari beban kehidupan selama ini. Lalu dia menangis. Pada saat di hadapan Nabi ﷺ, dia mendengarkan beberapa ayat Al-Qur’an. Dia mengatakan, <i>“Ya Rasulullah...</i> <i>sungguh ini adalah...</i> <i>ayat-ayat Tuhanku yang aku</i> <i>bengkalaikan selama ini.</i> <i>Dan aku bersumpah atas nama Allah,</i> <i>ya Rasulullah,</i> <i>aku akan menginfakkan harta</i> <i>di jalan Allah,</i> <i>sebesar dulu yang aku infakkan</i> <i>untuk memerangi Islam.”</i> Dan ini ulama mengambil sebuah hukum dari kejadian Ikrimah رضي الله عنهم أجمعين ini. Bagaimana seorang Muslim kalau pernah melakukan perbuatan-perbuatan salah, dia harus, selain tobat kepada Allah, menutupi itu dengan melakukan... yang seimbang lagi tapi dalam kebaikan. Seperti kasus misalnya, orang dulu di masa jahiliah sebelum kenal... agama yang benar, dia suka ke diskotik, traktir orang. Biayai orang mabuk-mabukan misalnya, berzina, traktir temannya zina di hotel, apalah, segala macam. Dan dia tahu itu dia keluarkan, karena dia punya kemampuan. Maka dia semestinya setelah tobat sekarang, dia kira-kira mentaksir. Dulu dia setiap malam minggu sering traktir temannya, lima juta. Habis mabuk-mabukan, segala macam. Sekarang dia nilai itu, dia infakkan di jalan Allah senilai itu untuk menutupi kesalahan itu. Itu yang Ikrimah lakukan, رضي الله عنه, dan Nabi ﷺ mendukung itu. Maka akhirnya... diterimalah keislamannya, dan Ikrimah akhirnya... lebih fokus ke dalam... Islam. Dan tentu, Ikrimah ini punya kisah sendiri. Dia mati syahid, رضي الله عنه. Mati syahid di... peperangan melawan Musailamah al-Kadzab. Itu ada kisah sendiri dan teman-teman bisa kembali... ke kisah serial sahabat dari sekian 29 kisah sahabat yang sudah kita tabligh akbarkan di Makassar, di antaranya sudah saya bahas panjang lebar Ikrimah bin Abi Jahl. Tapi yang kita fokuskan adalah bagaimana masuk Islamnya dia. Sekarang kita masuk ke kisah masuk Islamnya Shafwan bin Umayyah bin Khalaf. Umayyah bin Khalaf juga musuh Islam, meninggal dalam Perang Badar. Ini Shafwan juga sama, mirip dengan Ikrimah, membenci Islam awalnya. Kasusnya sama juga... istrinya dia masuk Islam. Bersama dengan... wanita-wanita Mekkah. Setelah mendengarkan... istrinya Shafwan mendengar kalau istrinya Ikrimah... berhasil mengislamkan suaminya, maka ia pun datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, <i>"Wahai utusan Allah...</i> apabila aku membawa Shafwan, <i>apakah Anda akan memberikannya keamanan</i> <i>sebagaimana Anda berikan kepada Ikrimah?"</i> Kata Nabi ﷺ, <i>"Iya, asal dia datang masuk Islam, silakan."</i> Lalu... dikatakan oleh istrinya: <i>"Bagaimana kalau Shafwan belum mau</i> <i>masuk Islam, ya Rasulullah?</i> <i>Cuma dia mau masuk ke Mekkah.</i> <i>Apakah Anda tetap memberikan dia keamanan?"</i> Kata Nabi ﷺ, <i>"Iya.</i> Tetapi... <i>aku hanya akan memberikan dia waktu</i> <i>maksimal empat bulan bulan berpikir."</i> Nabi ﷺ berikan waktu Shafwan, khusus, empat bulan maksimal. Kalau dia tidak mau masuk Islam, berarti hukum pembunuhannya terjadi. Dia berpikir, silakan. Maka istri Shafwan berkata, <i>"Apakah Anda bisa memberikan tanda keamanan?</i> Saya takut kalau dia masuk ke Mekkah nanti akhirnya... <i>dibunuh oleh kaum muslimin."</i> Nabi ﷺ membuka imamah beliau, lalu kemudian memberikan ke istri Shafwan dan mengatakan, <i>"Ini tanda keamanan.</i> <i>Bawalah ini,</i> <i>orang-orang muslimin sudah tahu."</i> Lalu Nabi ﷺ mengiklankan di Mekkah kalau... <i>"Istri Shafwan sudah masuk Islam</i> <i>dan aku memberikan imamah sebagai tanda.</i> <i>Imamah itu akan dipegang olehnya sambil membawa Shafwan</i> <i>dan tidak boleh ada yang membunuh Shafwan...</i> <i>kalau dia datang bersama istrinya."</i> Shafwan pun pada saat itu, diberitakan oleh istrinya, lalu ia masuk ke Mekkah dalam keadaan musyrik. Dia enggak masuk Islam waktu itu. Dan sempat ikut Perang Hunain. Nanti kita jelaskan, insyaAllah, ada Perang Hunain setelahnya, setelah memasuki kota Mekkah ini. Dan itu Ikrimah ikut dalam peperangan tapi masih dalam keadaan musyrik. Bahkan dia sempat... Ikrimah ini punya seperti... kalau kita sekarang pabrik kali, ya. Zaman dulu itu memang... tempat yang sangat besar memproduksi alat-alat perang. Pedang, perisai, tombak, anak panah, busur panah, memang dia punya dan terbesar di Mekkah pada saat itu. Maka Nabi ﷺ sempat... meminjam dari dia... anak-anak panah, busur panah, segala macam, pedang. Dan nanti akan kita ceritakan dalam Perang Hunain itu. Pada saat dia masuk ke Mekkah, dan bertemu dengan Nabi ﷺ, maka dia pun mengatakan, <i>"Hai Muhammad,</i> <i>apakah engkau memberikan kepadaku keamanan?"</i> Kata Nabi ﷺ, <i>"Iya."</i> <i>"Kalau aku belum ingin masuk ke agamamu,</i> <i>apakah tetap engkau memberikan aku keamanan?"</i> Kata Nabi ﷺ, <i>"Iya.</i> <i>Tapi aku memberikan waktu kepadamu</i> <i>empat bulan untuk berpikir.</i> <i>Silakan renungi."</i> Maka dia pun mengatakan, "Baiklah, saya setuju kalau begitu." Maka tinggallah Shafwan di Mekkah pada saat itu, selama empat bulan. Punya waktu 4 bulan untuk mengambil keputusan. Tapi Subhanallah, setelah Perang Hunain, nanti dia akan syahadat, karena melihat keajaiban yang terjadi di Perang Hunain. Nanti kita ceritakan. Nah, di Perang Hunain juga ini... salah satu peperangan yang dihadiri oleh malaikat, mirip dengan Badar. Tapi di Perang Badar malaikat terlibat, di Perang Hunain malaikat tidak terlibat dalam... menghukum orang-orang kafir. Demikianlah, teman-teman sekalian, pemuka-pemuka Quraisy masuk Islam satu per satu. Dan dengan takluknya Mekkah, maka pusat kekufuran Jazirah Arab... telah berakhir. Terlebih lagi di situ ada Ka’bah, pusat kiblatnya kaum muslimin. Dan seluruh berhala di situ sudah dihancurkan. Yang berarti, selama ini Mekkah ternyata menjadi sumber patung. Jadi masyarakat Mekkah pekerjaan utamanya yang paling menguntungkan mereka: jual patung. Terutama di musim haji. Dan gara-gara perbuatan ini, makin banyak tersebar penyembahan berhala. Jadi dengan hancurnya sumber patung-patung ini, jamaah haji yang datang sudah tidak ada lagi. Terlebih lagi Nabi ﷺ sudah menguasai, dan nanti kita akan belajar dalam Haji Wada' bagaimana Nabi ﷺ menunjukkan haji yang benar. Dan itu yang diterapkan sampai hari kita, Alhamdulillah. Pembebasan Kota Mekkah ini terjadi di bulan Ramadhan pada tahun 8 Hijriyah. Nabi ﷺ tinggal di Mekkah, sudah kita jelaskan pada saat itu, selama 19 hari dan beliau shalat qashar tanpa jamak. Sekarang kita tutup, teman-teman sekalian, dengan beberapa sariyyah. Pasukan-pasukan kecil Nabi ﷺ yang diutus pasca pembebasan Kota Mekkah. Nabi ﷺ mengirim beberapa... sariyyah dari Mekkah, ya. Dikirimlah sariyyah-sariyyah, pasukan-pasukan kecil. Dan saya pernah jelaskan, sariyyah ini diistilahkan kalau 3 orang ke atas jumlahnya. Dan ini dianggap pasukan kecil. Selalu Nabi ﷺ menggunakan strategi ini: kirim pasukan inti, 10 orang, 20 orang, 30 orang, 70 orang. Sebagian ahli sejarah mengatakan, sariyyah dinamakan dengan 100 orang. Tapi ada beberapa sariyyah Nabi ﷺ yang lebih dari ini. Nabi ﷺ mengirim yang pertama sekali, sariyyah dikenal dengan Musyallil. Dan ini terdiri dari 30 personel perang... dipimpin oleh Khalid bin Walid, untuk menghancurkan patung Uzza. Jadi rupanya, perjalanan antara Mekkah dengan Thaif ada patung besar, mereka namakan Uzza. Al-Lat dan Uzza itu, ya. Yang mereka kalau bersumpah atas nama itu, mereka takut kualat. Maka Khalid bin Walid hancurkan itu. Dan itu berhasil. Yang kedua, dikirimnya Hisyam bin al-Ash. diutus oleh Nabi ﷺ untuk menakut-nakuti suku Hawazin. Tapi ternyata Hawazin sudah siap dengan jumlah yang sangat banyak, sehingga membuat Hisyam kembali ke Mekkah dan melaporkan kepada Nabi ﷺ. Jadi jumlahnya tidak banyak, waktu itu sekitar mungkin 30 orang juga, hanya untuk datang menunjukkan kekuatan muslimin kepada suku Hawazin. Hawazin besar sekali. Kota Thaif, ya. Dan beda dengan keadaan Mekkah pada saat itu. Nanti kita ceritakan dalam Perang Hunain, mereka sudah siap mau perang. Kemudian kembali ke Mekkah. Dan Nabi ﷺ sudah berbenteng di Mekkah sekarang. Bentengnya kuat sekali, gitu, kan. Kemudian yang ketiga, diutusnya Khalid bin 'Asim... ke beberapa pemukiman kecil di sekitar Mekkah guna menghancurkan semua berhala yang tersisa. Dan kita lihat di sini Nabi ﷺ, teman-teman sekalian, menghancurkan semua berhala. Tak ditinggalkan satu pun. Sayangnya kita sekarang malah buat berhala itu, ya. Kita buat patung, ada umat Islam malah ikut-ikutan buat-buat patung. Semoga Allah berikan hidayah. Tentunya ini tidak boleh ada. Sampai Nabi Ibrahim عليه السلام mengatakan... tentang patung-patung tersebut: أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ رَبِّ اِنَّهُنَّ اَضْلَلْنَ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِۚ (QS. Ibrahim [14]:36) <i>"Ya Allah, patung-patung ini</i> <i>banyak sekali menyesatkan manusia."</i> Maka tak perlu ada patung sama sekali. Hindari semua yang berhubungan dengan patung-patung ini. Baik itu hanya untuk ukiranlah, atas nama senilah, atau apa saja, setiap muslim harus jauhi. Dan kita tahu, sebab kekufuran dan kesyirikan justru karena adanya patung. Awalnya cuma dianggap bagus, lama-lama... disembah. Dan apa pun yang berhubungan dengan patung-patung atau memiliki patung ini, hindari saja semua. Termasuk, teman-teman, biasakan anak-anak kita untuk... main dengan mainan dengan cara menghindari... boneka-boneka. Hindari saja. Lebih aman. Walaupun ada riwayat menjelaskan ‘Aisyah رضي الله عنها pernah bermain dengan... boneka. Tetapi... seseorang muslim, kata ulama, berjaga-jaga untuk tidak membiasakan anaknya... memegang boneka-boneka seperti ini. Apalagi boneka ini ceritanya khurafat, bohong. Doraemon, misalnya. Doraemon bohong semua. Dusta. Dalam gambarannya, dia bisa keluarkan apa saja dari perutnya. Kalau kita orang dewasa nonton, ketawa saja. Tapi anak kecil? Bayangkan kalau antum berikan boneka Doraemon, taruh di sebelah ranjangnya. Apa yang dia pikir? Kalau dia lagi mau tidur, dia bicara sama boneka itu. Mungkin dia minta sesuatu pada boneka itu. Bener enggak? Kita mungkin, orang tua, hanya sekadar menjadikan bantalnya misalnya. Tapi akidahnya dia sedang terganggu. Bahaya sekali. Bahayas kan? Beranjak dari situ. Itu bahaya sekali. Belikan mainan robot-robot. Untuk apa kita belikan robot-robot ini? Sesuatu yang mengkhayal. Robot bentukan Amerika, bentukan Jepang, segala macam, dengan nama-namanya. Sampai itu yang dihafal oleh mereka. Untuk apa? Kenapa harus begini, gitu. Lebih baik kita hindari, tidak usah. Lebih aman, kan, gitu. Enggak usah dilakukan. Mungkin... mungkin mobil-mobilan masuk akal. Mobil, tak ada hubungannya. Tapi kalau patung, robot, berbentuk seperti manusia segala macam, hewan, lebih baik dihindari. Enggak usah. Apalagi sekarang, Alhamdulillah media kita kan bagus, banyak, ya. Daripada gambar, lebih baik kita lihatkan cuplikan. Mau lihatkan misalnya harimau, <i>"Ini loh harimau, nak."</i> Ada cuplikannya. Mungkin secara ilmiah menunjukkan ini harimau. Kita bisa tunjukkan. Nanti sudah bisa kita hindari, ya. Artinya untuk menjaga-jaga saja. Karena bahaya sekali, gitu, kan. Bahaya sekali, ini bisa membawa pada hal-hal yang tidak diinginkan. Kita lihat Nabi ﷺ betul-betul membersihkan Mekkah dan sekitar Jazirah Arab sekarang. Dan kita lihat nanti setelah ini pun, setelah menang di Perang Hunain, melawan suku Hawazin nanti, itu betul-betul bersih Jazirah Arab. Enggak ada satu pun, karena di Thaif... Thaif itu kota kedua sumber patung setelah Mekkah. Yang nanti akan diserang oleh Nabi عليه الصلاة والسلام. Kemudian yang keempat, Nabi ﷺ mengutus lagi Khalid bin Walid ke suku Jadhimah. Saat Khalid bin Walid tiba di sana, ternyata suku Jadhimah telah menyambutnya dengan maksud ingin masuk Islam pada saat itu. Dan tradisi Jadhimah ini, bila menyambut tamu mereka kalau dimuliakan, mereka biasa keluar dengan persenjataan lengkap. Maka Khalid bin Walid mengira bahwasanya mereka mau melawan. Jadi tradisi suku ini kalau keluar menyambut... tamu atau apa, mereka pakai baju perang, Bawa pedang, menunjukkan keterampilan. Khalid bin Walid kira ini menantang, gitu, kan. Maka Khalid bilang, <i>“Masuk Islamlah kalian!</i> <i>Kalau tidak, perang!”</i> Mereka mengatakan, <i>“Saba’na.”</i> Kalimat <i>saba’</i> ini juga, bagi orang Arab dulu... dikatakan <i>saba’</i> kalau dia tinggalkan ajaran nenek moyangnya. Itu nama <i>saba’</i>. Khalid bin Walid tangkap </i>"Saba’na"<i>. Maksudnya mereka siap mau masuk Islam, tapi Khalid bin Walid menangkap ini <i>"Saba'na"</i> artinya, <i>“Kami kafir.”</i> Karena kan <i>"saba’"</i>, kenapa dia enggak bilang, <i>“Iya, kami mau masuk Islam”.</i> Kenapa harus pakai bahasa isyarat, gitu, kan? Maka Khalid bin Walid memerintahkan pasukannya menyerang. Serang ini. Waktu diserang, terbunuh sebagian dari mereka. Dan tertawan sebagian lagi. Di malam harinya, Khalid bin Walid... membunuh sebagian tawanan lagi yang tersisa, yang dianggap memang mereka... ahli-ahli perangnya. lagi yang tersisa yang dianggap memang mereka ahli-ahli perangnya. Kemudian... Ada sebagian dari mereka yang mengatakan, <i>“Kami mau masuk Islam.”</i> Khalid bin Walid mengatakan: <i>“Kalian masuk Islam</i> <i>karena takut sama pedang saja.</i> <i>Kenapa dari awal tidak ucapkan syahadat?</i> <i>Kenapa sekarang setelah ditawan?”</i> Khalid bin Walid juga termasuk orang yang dianggap baru masuk Islam pada saat itu, baru beberapa tahun, gitu, kan. Maka di antara sahabat ada yang melakukan, ada juga yang menolak. Di antaranya yang menolak untuk membunuh adalah Abdullah bin Umar رضي الله عنهما. <i>“Jangan, Khalid.</i> <i>Mereka mau masuk Islam.</i> <i>Biarkan syahadat,</i> <i>kenapa harus dibunuh?”</i> Khalid bin Walid bilang, <i>“Tidak bisa.</i> <i>Tadinya saya sudah tawarkan Islam,</i> <i>mereka tidak mau.</i> <i>Hukum dalam syariat Islam,</i> <i>kalau nolak Islam, ya dibunuh.”</i> Seperti itulah. Pada saat pasukan Khalid bin Walid kembali ke Mekkah dan Nabi ﷺ mengetahui kejadian tersebut, maka beliau sempat marah. Dan mengangkat tangan Khalid bin Walid juga pedangnya, seraya bersabda. Diangkat tangan Khalid, lalu juga diangkat pedangnya, lalu Nabi ﷺ mengatakan: <i>“Sungguh, ya Allah, aku berlepas diri</i> <i>dari apa yang dilakukan oleh Khalid.”</i> Dan beliau ﷺ mengulanginya sampai tiga kali. Lalu beliau lanjutkan: <i>“Sungguh, pada pedang Khalid</i> <i>ada keberanian dalam membunuh.”</i> Lalu Nabi ﷺ memaafkan, karena ini masih permasalahan syubhat. Khalid bin Walid juga sebenarnya tidak salah di situ, karena dia menganggap... apa yang dia tangkap instruksi Nabi ﷺ: masuk Islam, bebaskan. Tidak masuk Islam, perangi. Sederhana konsepnya, gitu. Maka Nabi ﷺ maafkan pada saat itu. Ini terakhir sariyyah Nabi ﷺ, dan kita akan tutup... pelajaran dari pembebasan kota Mekkah. Yang pertama, teman-teman sekalian, rahmat Allah yang luas dan janji-Nya yang benar, sehingga Mekkah takluk tanpa ada perlawanan yang berarti. Kalau Allah mau, sekuat apa pun musuh, kalah. Sekarang banyak umat Islam secara kejiwaan, karena mereka tidak mau belajar, tidak mau mereview kembali histori mereka. Dan salah satu target kita pelajari sirah, teman-teman, untuk itu. Ini kejadian 1400 tahun yang lalu, untuk apa kita bahas? Apakah hanya sekadar untuk dijadikan sebagai sebuah hiburan? Tidak. Ambil pelajaran. Sejarah tidak akan bohong. Karena sudah terjadi, gitu, kan. Orang yang menjadi orang baik dari dulu sampai menjelang hari kiamat akan diberikan balasan dan kemenangan oleh Allah. Orang yang buruk pasti dibinasakan, sudah ada kisah. Kisah para nabi-nabi, Allah menangkan. Walaupun awalnya punya hambatan-hambatan dalam dakwah. Tapi akhirnya Fir’aun tenggelam, Musa عليه السلام menang. Akhirnya Nabi Nuh selamat, kaumnya hancur. Akhirnya Namrud hancur, Ibrahim عليه السلام selamat, gitu, kan. Yang mengikuti yang ini pasti selamat, yang mengikuti yang ini pasti... juga akan dihukum oleh Allah. Sunnatullah. Kita ikuti orang baik, kita baik. Kita ikuti orang buruk, kita akan buruk. Dan kuasa Allah ﷻ, tidak akan pernah ada yang sulit. Jangan kecilkan jiwa kita karena kita tidak belajar history Islam. Seakan-akan kita tidak akan maju kecuali kita harus bergantung pada orang kafir. Tidak sama sekali. Saya review-kan kembali dan saya ingatkan teman-teman, waktu baginda Nabi ﷺ pertama sekali hijrah ke Madinah... Ingat baik-baik, Madinah kampung kecil. Penghasilannya hanya kurma. Segelintir orang yang kita kenal dengan Anshar, itu kecil sekali jumlahnya mereka. Kota kecil. Waktu itu Jazirah Arab, bahkan dunia ini, dihimpit dengan dua negara adikuasa: Romawi... dan juga Persia. Dan mereka sudah punya peradaban. Ekonomi. Militer. Segala macam mereka miliki. Setengah dunia dikuasai. Setengah Romawi, setengah Persia. Tapi Nabi ﷺ tidak pernah sekalipun... mengutus orang atau beliau sendiri berangkat untuk belajar masalah ekonomi ke sana, militer ke sini. Tidak pernah. Beliau mulai fondasi negara yang baru, landasannya Al-Qur’an dan Sunnah. Semua dimulai dari nol. Termasuk militer sendiri, termasuk ekonomi sendiri, segala sosial, segala macam, dibangun dari baru. Dan akhirnya menjadi peradaban dunia. Ini yang banyak umat Islam tidak sadari. Seakan-akan tidak akan maju kalau anaknya tidak sekolah di Eropa, tidak sekolah di Amerika. Tapi kalau di negara Islam: <i>“Ah, untuk apa ke sini?</i> <i>Untuk apa ke sana?”</i> Negara Islam dianggap nomor dua atau nomor tiga, kayak terpuruk. Padahal sebenarnya... umat Islam harus jaya dan merasa bangga dengan... wilayah dan agama mereka. Sama halnya dengan banyak juga orang tua tidak mau masukkan anaknya ke pesantren. Kalau teman-teman mau buru-buru keluar karena khawatir nanti macet, macet pun itu sudah pahalanya. Bubar dari majelis ilmu, enggak usah khawatir. Jangan buru-buru. Tunggu saja. Ada berkahnya itu, ya. Orang berdesak-desakan bubar dari diskotik, dari joget-joget, dari segala macam. Mau nunggu, mau begadang malam minggu. masa antum bubar dari ta’lim merasa terganggu? Nikmati saja prosesnya. Selama kita di jalan Allah, berpahala. Sudah, biarin saja, nikmati. Gak masalah. Yang kedua, setelah rahmat Allah yang luas dan janji-Nya benar sehingga Mekkah takluk tanpa ada perlawanan, yang berarti, teman-teman, kita tinggal berusaha saja, taufiknya Allah akan datang. Yang ketiga, kebaikan hati Nabi ﷺ dalam bermuamalah dengan siapa saja. Dan ini pelajaran penting, tidak ada dendam bagi kaum Muslimin. Enggak ada dendam. Kalau orang itu dulu berbuat buruk, tetap dalam keburukan, boleh dihukum. Tapi kalau dia sudah mengaku kesalahannya dan memperbaiki, selesai. Kecuali dia kepergok berbuat, dihukum. Tapi kalau dia seperti kasus Hindun, Abu Sufyan, segala macam, dulunya benci Islam, sekarang masuk Islam, sudah selesai. Yang keempat, masuk Islamnya mayoritas pemimpin Quraisy, serta seluruh penduduk Mekkah, tidak tertinggal satu pun, akhirnya masuk Islam. Yang terakhir masuk Islam tadi disebutkan Shafwan. Oleh sebagian ahli sejarah mengatakan karena dia menunda sampai... beberapa waktu, terutama setelah selesai Perang Hunain. Yang keempat, bebasnya Muslimin beribadah di Mekkah... selamanya, yang sebelumnya sangat tertutup buat mereka. Yang kelima, hancurnya semua sesembahan Quraisy, terutama di sekitar Ka'bah. Dan ini pertanda selesainya penyembahan berhala di Mekkah, bahkan seluruh Jazirah Arab. Karena kita katakan tadi, dia sumber pembuatan patung di situ. Bahkan teman-teman perlu tahu, Abu Lahab, Abu Jahal itu... punya... toko-toko berhala terbesar di Mekkah. Dan mereka kaya gara-gara itu. Karena jemaah haji belanja berhala. Seperti itulah. Yang keenam, bertambahnya jumlah dan pasukan Muslimin, terutama di kalangan para muallaf. Nanti kita belajar di Perang Hunain insyaAllah, bagaimana jumlah pasukan Muslimin 10.000 itu bertambah jadi 12.000. Ada 2.000 orang bertambah yang bergabung dari para muallaf yang baru masuk Islam. Yang ketujuh, terlihatnya beberapa mu'jizat Nabi Muhammad ﷺ, terutama janji Allah... Yang Maha Mulia, yang berhubungan dengan masalah pembebasan kota Mekkah. Yang kedelapan, terhapusnya semua hukum jahiliyah. Di antaranya yang sangat fatal waktu itu adalah tawaf telanjang. Jadi di Mekkah mereka... keluarkan instruksi, semua orang yang tawaf harus beli baju dari Mekkah. Harus. Kalau yang tidak punya duit, tawaf telanjang. Enggak boleh tawaf dengan bajunya dari luar kota, harus beli dari Mekkah. Dan ini dihapus. Mengundi nasib. Setiap mau safar, mau bekerja, mau menikah, taruh kertas, ambil bulu burung merpati, diundi, ditaruh dalam kotak, diterka-terka. Memakan bangkai bagi mereka halal. Meminum darah, menyembah berhala, dan seterusnya, ini semua dihapus... dalam syariat Islam. Yang kesembilan, pembebasan Mekkah berarti pembebasan Jazirah Arab dari kekufuran. Karena setelah itu, seluruh suku Arab masuk Islam. Tidak tertinggal satu pun yang tidak masuk Islam setelah itu. Dan turun firman Allah ﷻ pada saat itu, surah An-Nasr yang masyhur: أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ (QS. An-Nashr [110]:1) <i>“Apabila telah datang pertolongan Allah</i> <i>dan kemenangan (pembebasan kota Mekkah berhasil),</i> وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ (QS. An-Nashr [110]:2) <i>dan engkau akan melihat (hai Muhammad), setelah itu,</i> <i>manusia akan berbondong-bondong masuk Islam.”</i> Nanti kita ceritakan ini, ya. Subuh, insyaAllah besok. Pada saat Nabi ﷺ balik ke Madinah —tentu ini belum kita ceritakan, pertemuan akan datang— Besok Perang Hunain dulu. Tapi Nabi ﷺ waktu pulang dari Perang Hunain menuju ke Madinah, maka seluruh Jazirah Arab pada saat itu datang ke Madinah. Saking banyaknya orang mau masuk Islam, maka sampai Madinah tidak bisa orang bergerak, padatnya orang. Suku-suku datang, syahadat, pulang. Syahadat, pulang. Satu Jazirah Arab. Ini yang Allah bilang: وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ (QS. An-Nashr [110]:2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًاࣖ (QS. An-Nashr [110]:3) <i>Oleh karena itu bertasbihlah selalu</i> <i>dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.</i> <i>Sungguh Dia Maha Penerima tobat hamba-hamba-Nya.</i> Sampai sini, insyaAllah, bahasan kita. Dan kita akan lanjutkan, dengan izin Allah, besok subuh, insyaAllah. Sebagaimana sudah saya bahasakan dari awal, kalau kita akan usahakan... dalam tiga kali pertemuan saya sebulan sekali ini, semuanya kita bahas sirah, agar bisa menyelesaikan bahasan kita. Mungkin begitu saja. Kita tutup dengan berdoa kepada Allah ﷻ, semoga majelis kita diberkahi oleh-Nya, dan dijadikan sebagai tambahan amal kita pada hari kiamat. Semoga seluruh amal yang pernah kita kerjakan, yang sedang kita kerjakan, dan akan kita kerjakan semuanya diterima dengan pahala yang sempurna. Semoga seluruh dosa yang pernah kita kerjakan, tidak terkecuali, baik yang sudah berlalu ataupun yang sedang dikerjakan, semoga Allah mudahkan tobatnya, dan juga Allah ganti dengan kemahamurahan-Nya menjadi pahala. Selalu kita doakan Indonesia menjadi negara yang aman, tenteram, damai. Seluruh umat Islam dibawah naungan ukhuwah Islamiyah dan juga diangkat perselisihan di antara mereka. Dan juga dalam ibadah mereka kembali kepada wahyu: Al-Qur'an dan Sunnah. Dan siapapun yang menginginkan keburukan bagi Indonesia, negara tercinta ini, Islam, Muslimin, semuanya dikembalikan tipu daya mereka kepada diri mereka sendiri. Dan semoga saja selama Indonesia ini ada sampai menjelang hari kiamat dikaruniai oleh Allah pemimpin Muslim yang adil, kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, dan semoga menjadi contoh bagi negara-negara yang lain. Selalu kita doakan saudara kita di Palestina, di Suriah, di Yaman, di Irak, di Myanmar, di Ashok, di mana pun mereka berada yang sedang tertindas, semoga Allah ikhlaskan niat mereka, terima para syuhada mereka, muliakan Islam di tangan mereka dan tangan kita semua. Dan semoga Allah ikut sertakan kita bersama mereka di pahala, baik dengan doa, dengan harta, juga dengan jiwa kita. Dan semoga Allah dengan kemahamurahan-Nya, baik yang hadir di masjid ini, ataupun yang mengikuti acara kita live, ataupun juga yang mendengarkan dengan siaran ulang, semuanya disatukan di surga Firdaus-Nya tanpa hisab, sebagaimana Dia satukan kita di majelis ilmu yang mulia ini. Wa Shalallahu 'alaa Nabiyyina Muhammadin. Walhamdulillahirabbil 'aalamin. Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.