Sirah Nabawiyah #21 : Pembebasan Kota Makkah [Part 1] - Khalid Basalamah
bib6rzG4OR8 • 2018-01-29
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah,
lisan kita selalu memuji
Sang Pencipta, Allah,
dalam segala keadaan.
Baik kita lagi sehat
ataupun sakit,
kaya ataupun miskin,
muda ataupun tua,
dalam segala keadaan,
seorang mu’min di dunia—
sampai di surga pun
selalu memuji Tuhannya: Alhamdulillah.
Dan seorang mu’min sangat memahami
dengan setulus hatinya,
kalau kalimat "Alhamdulillah" adalah kalimat
yang telah dijadikan oleh Sang Pencipta, Allah,
untuk "menyambung hubungan dengan-Nya".
Karena dianggap atau dijadikan
sebagai kalimat syukur,
berterima kasih,
atas adanya penciptaan dan
segala nikmat yang melimpah.
Maka tentu sangat wajar kalau seorang Muslim
dan mu’min selalu mengucapkan Alhamdulillah.
Dan juga kita menjadikan salam hormat kita,
selalu saja shalawat dan taslim—
penuh dengan cinta, rindu,
dan ketulusan hati—
kepada manusia yang paling layak
untuk dijadikan sebagai suri teladan,
manusia yang telah membawa—
seluruh manusia,
tidak terkecuali,
setelah beliau diutus—
menjadi Nabi dan Rasul,
dari kegelapan kepada keterangan,
dari syirik dan kufur
kepada tauhid dan beriman.
Serta membawa manusia agar lebih
mengenal Tuhannya, Allah,
dan juga membawa agama terakhir,
atau ajaran yang terakhir,
atau syariat yang terakhir, yang dibawa oleh Allah
atau yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala
dalam menyempurnakan agama Islam
yang telah Allah turunkan sebelumnya.
Dan seorang mu’min dianjurkan agar mengucapkan salam hormat kepadanya,
dan akan dibalas langsung sepuluh kali tambahan rahmat
oleh Sang Pencipta, Allah,
dengan mengucapkan satu
kali saja salam hormat.
Yang berarti rahmat tersebut adalah pengampunan dosa,
peninggian derajat, dan juga tentu pemenuhan segala kebutuhan.
Maka sangat wajar sebagai seorang mu’min kita mengatakan
shalawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad
Shallallahu Ala Alihi Wa Sahbihi Wassalam.
Melanjutkan bahasan
Sirah Nabawi,
yang mulia—
sejarah manusia terbaik
di muka bumi ini—
dan beruntunglah orang-orang
yang menjadi pengikutnya.
Kita melanjutkan, dan pagi ini
semoga Allah berkahi,
serta juga nanti malam
dan besok pagi.
Saya sudah meminta
kepada teman-teman panitia,
agar tiga pertemuan semuanya,
diisi dengan sirah.
Termasuk besok Subuh insyaAllah,
agar materi kita tidak terlalu jarak
atau tidak terlalu lama waktunya,
dan bisa diselesaikan.
Dan pada pagi ini insyaAllah
kita masuk ke Pembebasan Kota Mekkah.
Sebab utama terjadinya penyerangan
ke Mekkah oleh Baginda Nabi ﷺ,
adalah:
perseteruan yang terjadi
antara dua suku:
suku Bakar,
dan suku Khuza’ah.
Kalau teman-teman masih ingat,
di Kesepakatan Hudaibiyah,
waktu Nabi ﷺ dilarang dan dihadang oleh Quraisy
untuk masuk ke Mekkah mengerjakan umrah,
terjadi Kesepakatan Hudaibiyah.
Banyak sekali poin-poin
yang sudah kita jelaskan.
Salah satunya adalah,
akan—
dihilangkan peperangan selama 10 tahun antara Muslimin
dengan orang-orang Quraisy.
Dan siapa suku Arab yang ingin
bergabung menjadi sekutu Quraisy,
dipersilakan.
Dan siapa suku Arab yang mau bersekutu
dengan Muslimin, dipersilakan.
Maka ada dua suku yang
tinggal di sekitar Mekkah—
mereka dari dulu berseteru,
perang terus.
Suku Bakar,
yang akhirnya,
menjadikan diri mereka
sebagai sekutu Quraisy,
dan suku Khuza’ah,
yang akhirnya menjadikan—
diri mereka sekutu Muslimin.
Dan tentu makna sekutu adalah,
kalau dalam perjanjian peperangan,
kalau seandainya ada yang
mengganggu sekutu tersebut,
berarti sama saja—
mengganggu pemilik perjanjian asal.
Jadi misal,
ada yang mengganggu suku Bakar,
berarti mereka mengganggu Quraisy.
Ada yang mengganggu suku Khuza’ah,
berarti mereka mengganggu Muslimin.
Sepertitulah.
Teman-teman sekalian,
setelah terjadi kesepakatan tersebut,
yang tadinya suku Bakar sama suku Khuza’ah sering berperang,
akhirnya mereka berhenti berperang karena harus mengikuti akad—
10 tahun tidak boleh berperang.
Sebelumnya,
sebelum akad ini,
suku Bakar ini,
yang menjadi sekutu Quraisy,
selalu dikalahkan
oleh suku Khuza’ah.
Tidak pernah menang,
selalu kerugian di pihak mereka.
Dan mereka berpikir menjadikan Quraisy sebagai sekutu karena
mereka menganggap bahwa Quraisy lebih kuat dari Muslimin.
Seperti itu gambaran mereka.
Dan tidak ada satu pun dari
suku Bakar yang masuk Islam.
Sementara suku Khuza’ah,
dan kalau teman-teman review
jauh lebih ke belakang lagi,
Khuza’ah ini,
suku yang pertama hijrah dari—
dari Yaman,
terus kemudian ketemu dengan
Hajar dan Ismail di Mekkah.
Jadi mereka termasuk penduduk
Mekkah yang pertama.
Suku Khuza’ah ini,
mayoritasnya masuk Islam.
sebagian kecil di antara mereka
yang belum masuk Islam.
Makanya mereka memilih Muslimin
sebagai sekutunya.
Suku Khuza’ah karena menganggap
bahwa sudah ada kesepakatan damai,
maka mereka pun melucutkan senjata,
dan mereka masuk ke dalam
Mekkah tidak bawa senjata.
Sebelum ada kesepakatan perdamaian ini,
selalu setiap orang siap siaga dengan senjata.
Karena bisa diserang setiap saat.
Salah satu pimpinan suku Bakar,
yang bernama Naufal,
bin Muawiyah Ad-Daili.
Naufal bin Muawiyah Ad-Daili ini,
adalah pimpinan suku bakar.
Dia merasa terganggu,
dengan akad ini.
Karena dia berharap,
melihat atau mendapatkan
kelalaian Khuza’ah,
lalu dia membalas kekalahan-kekalahan yang dulu.
Karena belum pernah
menang dalam peperangan.
Pasti mereka kalah.
Naufal pada saat itu,
melihat rupanya,
ada banyak dari suku—
Khuza’ah,
masuk ke Mekkah
di depan mata dia,
tidak pakai senjata.
Sementara dia sendiri,
karena sekutu Quraisy—
seperti orang Quraisy—
di kota sendiri
boleh bawa senjata,
yang penting tidak
mengganggu orang.
Maka Naufal melihat
ada banyak suku-suku—
Khuza’ah yang berlalu-lalang di depan mata dia,
dan dia tahu ini dulu adalah para prajurit-prajurit Khuza’ah.
Maka dia pun terganggu,
lalu dia mengatakan kepada tokoh-tokoh Quraisy,
“Sungguh ini kesempatan kami membalas
kekalahan-kekalahan kami sebelumnya,
dari suku Khuza'ah.
Dan kami ingin, wahai Quraisy,
kalian mendukung kami.
Sekarang ini saya mau bunuh nih orang-orang ini.
Kesempatan.
Bantai sekarang,
dukung kami.
Walaupun harus berkhianat
dari kesepakatan.”
Sebagian besar tokoh-tokoh Quraisy menolak,
“Nggak bisa.
Akad.
Kita harus sepakat.
Orang-orang nanti di Jazirah Arab
akan berkata apa tentang Quraisy?
Mengkhianati kesepakatan?
Nggak mungkin.
Setelah 10 tahun silakan."
Tapi rupanya ada beberapa tokoh-tokoh
muda Quraisy yang mendukung itu.
Karena memang mereka jengkel
dengan kaum Muslimin.
Dan juga,
mereka berpikir,
akad ini sebenarnya hanya untuk membuat
Quraisy menyusun kekuatan mereka.
Seperti misalnya
Ikrimah bin Abi Jahl,
tentu ini nanti akan masuk Islam,
pembebasan kota Mekkah—
karena dia tahu ayahnya, Abu Jahl,
terbunuh di Perang Badar,
dan dia masih jengkel,
menyimpan dendam itu.
Maka dia mengatakan,
“Lakukan.
Saya akan di belakang kalian.”
Dan suku Abu Jahl yang dipimpin oleh Ikrimah—
anaknya ini—
termasuk suku yang
terbesar di Mekkah.
Makanya Abu Jahl waktu masih hidup
dianggap sebagai pemimpin Mekkah,
karena dari sekian banyak suku Quraisy di Mekkah,
suku dia yang paling banyak pengikutnya atau anggotanya.
Kemudian juga,
uniknya pada saat itu,
karena Ikrimah ini bersahabat dekat
dengan tokoh Quraisy yang lain, yang juga—
ayahnya terbunuh
di Perang Badar,
namanya Shafwan,
bin Umayyah bin Khalaf.
Ayahnya juga, Umayyah bin Khalaf,
terbunuh di Perang Badar.
Makanya dia juga berdiri
memberikan dukungan.
Yang lebih unik lagi adalah,
seseorang tokoh Quraisy,
yang bernama Suhail bin Amr.
Suhail bin Amr ini penulis akad.
Dia yang datang bernegosiasi dengan Nabi ﷺ
untuk menulis akad,
bahwasannya tidak akan
ada pengkhianatan.
Dia juga berdiri
dan memberikan dukungan.
Dan yang terakhir, yang keempat, adalah Huwaid.
Huwaid bin Abdul ‘Izz ini,
dia adalah saksi di
Kesepakatan Hudaibiyah.
Dia pun berdiri mengatakan,
“Saya dukung kamu, hai Naufal.”
Maka dengan berdirinya empat orang
ini berarti ada empat suku besar—
di Mekkah yang mendukung
pengkhianatan kesepakatan itu.
Maka dengan kesepakatan ini, tokoh-tokoh Quraisy yang lain,
yang tadinya tidak mendukung, diam.
Tidak mendukung,
tidak juga mengatakan tidak.
Maka Naufal melihat
dukungannya besar sekali.
Dia pun mengajak sukunya,
lalu menunggu kesempatan yang tepat.
Beberapa malam setelah
kejadian tersebut,
Naufal mendapatkan mayoritas
suku Khuza'ah, mayoritasnya,
jumlahnya ribuan orang—
itu sedang menginap
di luar wilayah Haram,
karena itu tradisi mereka.
Besoknya,
mereka masuk untuk tawaf,
baik itu di antara mereka, Muslimin,
atau orang kafirnya.
Di malam itu,
Naufal membawa pasukannya
dalam kondisi Muslimin dan orang-orang
non-Muslim ini sedang beristirahat.
Kaum Muslimin mayoritasnya bahkan
sedang shalat malam waktu itu.
Mereka sedang membaca Al-Qur’an.
Maka diserang tiba-tiba.
Penyerangan tiba-tiba ini karena mayoritasnya
suku Khuza'ah Muslimin dan mereka lagi shalat malam.
Maka mereka engah,
tapi tidak sempat punya persiapan.
Terbunuhlah tiga orang
pada saat itu.
Setelah terbunuh tiga orang,
mayoritas suku Khuza'ah berlarian,
melarikan diri karena suku Bakar ini
menyerang dengan pasukan intinya.
Maka mereka pun lari di malam hari,
sampai mereka masuk ke wilayah haram.
Dan tepatnya,
mereka mendekati rumah pimpinan mereka.
Suku Khuza'ah punya pimpinan pada satu kepala suku.
Kebetulan tidak ada di situ,
bernama:
Budail ibn Warqa.
Budail ibn Warqa ini,
radhiyallahu ‘anhu: sahabat.
Dia masuk Islam,
tapi dia tidak ada di situ.
Karena dia kepala suku,
dia beli rumah di Mekkah.
Setiap kali dia datang ke Mekkah,
dia menginap di situ.
Dan itu diizinkan oleh Quraisy,
karena dia kepala suku.
Orang-orang—
Khuza'ah sempat teriak mengingatkan Naufal sambil berkata,
“Hai Naufal, ingatlah ini wilayah haram,
ini wilayah haram.
Takutlah pada Tuhanmu!”
Karena Naufal juga beriman kepada Allah sebenarnya,
cuma mereka adalah orang-orang musyrik.
Mereka menyekutukan Allah ﷻ
dengan patung-patungnya.
Tahu Allah subhanahu wa ta'ala,
tahu kalau Ka'bah ini adalah rumahnya Allah.
Sebagaimana kita tahu juga
pada saat Abrahah akan menyerang,
mayoritas masyarakat Mekkah
penyembah berhala.
Tapi mereka—
mengetahui kalau Ka'bah rumahnya Allah.
Dan setelah kejadian Abrahah yang dihancurkan
oleh Allah subhanahu wa ta'ala, mereka—
mengenang itu dengan mengatakan
itu adalah Tahun Gajah,
tahun di mana Baginda Nabi ﷺ lahir.
Jadi mereka sebenarnya mengenal Allah.
Waktu diingatkan begitu, Naufal—
karena yang bergelora dalam hatinya adalah dendam—
maka dia mengatakan,
“Tidak ada lagi Tuhan kalian hari ini,
dan kami akan membunuh kalian semuanya.”
Pada saat itu,
waktu pas suku Khuza'ah tiba
di depan rumahnya Budail bin Warqa
radhiyallahu ‘anhu,
dan karena tengah malam,
tidak ada yang bukain pintu,
akhirnya terjadilah pembantaian massal pada saat itu.
Dan mereka mencoba melawan,
mempertahankan diri,
sehingga akhirnya terbunuh 20 orang.
Jadi total yang terbunuh
dari suku Khuza'ah 23 orang:
3 orang di luar
wilayah Haram,
20-nya di dalam
wilayah Haram.
Tentu ini—
tercoreng sekali.
Kalau orang-orang Quraisy,
penduduk Mekkah asli,
diserang oleh pasukan dari luar,
lalu Mereka terbunuh di wilayah Haram,
itu kemuliaan.
Tapi kalau orang-orang Quraisy Mekkah yang berkhianat,
dan membunuh orang lain di wilayah Haram,
ini pelanggaran besar.
Baik dalam syariat kita,
tidak boleh membunuh di wilayah Haram,
tidak boleh mencabut pohonnya,
tidak boleh membunuh hewannya, dan seterusnya.
Kecuali hewan-hewan yang dibolehkan
dibunuh, seperti tikus,
kalajengking, ular, dan seterusnya.
Maka di dalam pemahaman mereka pun (orang Quraisy) ini pelanggaran.
Kodi etiknya itu
dilanggar sama dia.
Wilayah Haram tidak
boleh sama sekali.
Terus saja terjadi peperangan
sampai menjelang pagi.
Pada saat tiba pagi,
karena orang-orang Quraisy
sudah khawatir,
jangan sampai tersebar
berita ke Madinah,
terhadap pengkhianatan ini,
maka mereka pun memerintahkan
agar suku Bakar bubar.
Nggak boleh lagi,
Naufal pun disuruh berhenti.
“Sudah selesai.
Malam hari kami masih bisa alasan
kalau kami tidak tahu kejadian.”
Maka dibubarkanlah.
Bubarlah pada saat itu.
Dan ini jelas sekali, teman-teman,
pengkhianatan terhadap akad.
Sebagaimana saya jelaskan tadi,
akadnya adalah:
yang mengganggu sekutu,
berarti sekutunya juga terganggu.
Seperti itulah.
Suku Khuza'ah sekutu Muslimin,
berarti sama saja Quraisy yang
sedang menyerang Muslimin.
Berarti akad batal.
10 tahun itu batal.
Berarti tidak lagi ada akad,
tidak ada peperangan 10 tahun.
Bisa setiap saat terjadi peperangan.
Terlebih lagi pembunuhan tersebut
terjadi di wilayah Haram.
Dan ini masalah yang sangat besar, ya.
Khuza'ah lalu segera berkumpul
pada saat itu dan membicarakan kejadian—
bersama dengan pimpinan mereka,
Budail bin Warqa radhiyallahu ‘anhu ajma'in.
Maka mereka mengutus
seorang penyair ke Madinah,
namanya Amr bin Salim
radhiyallahu ‘anhu,
sahabat Nabi juga yang mulia ini.
Amr bin Salim ini
seorang penyair.
Dan zaman dulu,
orang kalau mengantar...
surat, informasi penting,
penyair yang dikirim.
Kalau kita mungkin
seorang duta.
Orang yang punya orasi, orang yang bisa berbicara, tutur katanya atur rapi,
dan dia bisa menyusun kata
yang ringkas, padat,
memberikan informasi yang tepat.
Seperti itulah.
Amr bin Salim disuruh oleh Budail,
pergi ke Madinah.
Jangan berhenti.
Non-stop jalan,
nggak ada istirahat.
Dia pun pergi.
Ini masalah besar.
Karena pagi harinya ini—
tadi malam pembantaian—
jangan sampai suku Bakar
menyerang lagi hari ini.
Satu orang ini pergi ke Madinah
menyampaikan kepada Nabi ﷺ.
Yang lainnya,
siap siaga, jangan sampai
ada penyerangan.
Bahkan lebih jauh daripada itu,
Budail radhiyallahu ‘anhu,
bin Warqa ini,
berusaha untuk menyusun pasukan
dan niat untuk menyerang Mekkah,
di mana Nabi ﷺ memberikan isyarat
kepada beliau untuk menyerang.
Amr bin Salim lalu menuju
ke Madinah non-stop, tanpa istirahat.
Dan kemudian sampai di Madinah,
melihat dan menemui Nabi ﷺ sedang duduk
di dalam masjid bersama dengan para sahabat.
Langsung,
begitu dia berdiri,
mengucapkan salam,
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Langsung dia menyebutkan syairnya.
Syairnya yang masyhur.
Dia mengatakan:
“اللَّهُمَّ إِنِّي نَاشِدٌ مُحَمَّدًا”
“Ya Allah, sungguh aku sedang menyampaikan informasi penting kepada Muhammad.”
“حِلْفَ أَبِينَا وَأَبِيهِ أَفْلَدَا”
“Sesungguhnya, kesepakatan ayah kami dan ayahnya telah dikhianati.”
Ini bahasa orang Arab.
Maksudnya:
"Kesepakatan yang sudah kita iyakan,
dan ayah kita yang menjadi taruhannya—
artinya,
“membawa nasab kita ini—
itu dikhianati.
"قَدْ كُنتُمْ مُوْلًى وَكُنَّا وَالِدَا"
“Ingatlah,
kalian adalah anak-anak kami
dan kami di posisi orang tua kalian.”
Apa maknanya ini?
Suku Khuza'ah—
sebagaimana saya jelaskan tadi,
teman-teman sekalian, adalah:
suku yang hijrah dari Yaman.
Di awal sekali ketemu dengan
Hajar dan Ismail ‘alaihimussalam.
Kemudian waktu itu
belum ada Quraisy.
Belum ada suku Quraisy.
Khuza'ah yang pertama datang.
Kemudian menikahlah Ismail ‘alaihissalam
dengan anak kepala suku Khuza'ah.
Dalam awal-awal kisah sirah kita dulu,
kita pernah sampaikan itu.
Kemudian lahirlah keturunan-keturunan
yang cukup banyak,
dan di antaranya Fikhr.
Fikhr ini nama lainnya Quraisy.
Lalu lahirlah suku-suku yang sangat banyak
di Mekkah pada saat itu.
Maka di sini diingatkan,
"Kalian adalah anak-anak kami,"
bahasa ini kepada Muslimin di Madinah
yang asalnya dari Mekkah,
"dan kami adalah di posisi
ayah-ayah kalian."
"ثَمَّ إِسْلَمْنَا وَلَمْ نَنْزِعْ يَدًا"
"Ingatlah,
ketika kami telah masuk Islam,
kami tidak pernah berkhianat."
"إِنَّ قُرَيْشًا أَخْلَفُوكَ الْمَيْعَدَا"
"Ketahuilah,
Quraisy telah mengkhianati kesepakatan Anda."
"وَنَقَضُوا الْمِيثَاقَ قَسْمًا مُؤَكَّدًا"
"Dan mereka telah mencoreng—
kesepakatan suci yang telah dibakukan."
"فَانْصُرْ هَدَاكَ اللَّهُ نَصْرًا أَيَّدَا"
"Maka tolonglah, semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk dengan pertolongan yang benar."
"وَادْعُ عِبَادَ اللَّهِ يَأْتُوا مَدَدَا"
"Kumandangkanlah,
panggilkanlah seluruh
hamba-hamba Allah,
biar mereka datang seluruhnya."
"فِيهِمْ رَسُولُ اللَّهِ قَدْ تَجَرَّدَا"
"Di antara mereka, Rasulullah sendiri akan memimpin."
Permintaannya agar Rasulullah
memimpin peperangan,
"Dan, mereka sudah tahu itu,
tapi mereka tetap berkhianat."
Maksudnya orang-orang Quraisy.
"فِي فَيْلَقٍ كَالْبَحْرِ يَجْرِي مُزْبِدَا"
Pada pasukan yang banyak,
dan di wilayah Faydaq,
atau Faylaq,
ini wilayah di Mekkah.
Sebagian ulama juga mengatakan
bikal bahr ini juga nama wilayah.
Bisa saja berarti Faylaqin adalah jumlah pasukan yang besar, atau Faylaqin nama wilayahnya.
Dikatakan, pada wilayah Faylaqin telah terjadi
perkara pengkhianatan, pembantaian massal.
"هُمْ بَيَّتُونَا بِالْوَتِيرِ هُجَّدَا"
"Mereka menyerang kami saat kami
lagi istirahat di malam hari."
"نَتْلُو الْقُرْآنَ رُكَّعًا وَسُجَّدَا"
"Sebagian besar di antara kami
sedang membaca Al-Qur’an,
baik dalam keadaan rukuk
ataupun sujud."
"وَجَعَلُوا بِفِدَاءٍ رَصَدَا"
"Mereka menjadikan tebusan
diri-diri mereka itu,
dengan menyangka mereka akan selamat."
"وَزَعَمُوا أَنْ لَسْتُ أَدْعُو أَحَدَا"
"Mereka mengira bahwasanya aku tidak akan
memberitahukan kepada siapa pun."
"وَهُمْ أَذَلُّ وَأَقَلُّ عَدَدَا"
"Sementara mereka sebenarnya terhina."
Jumlahnya tidak banyak pada saat itu.
Orang Quraisy pun kalau bergabung tidak banyak.
"Dan, kekuatannya sangat sedikit."
Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām,
paham betul isi syair ini,
tahu apa yang dimaksud.
Dan orang-orang Arab tahu kalau penyair
yang datang berarti informasi penting.
Maka Nabi ﷺ tidak banyak bertanya.
Beliau cuma mengatakan:
“Engkau telah dimenangkan,
wahai ‘Amr bin Salim.
Engkau telah dimenangkan,
wahai ‘Amr bin Salim,”
Seraya Nabi ﷺ berubah raut
wajah beliau karena marahnya,
dan menepuk paha beliau.
Dari sisi lain,
Budail bin Warqa radhiyallahu ‘anhu,
di Mekkah,
di sekitar Mekkah, bukan di Mekkah—
di luar Mekkah, karena suku Khuza‘ah tinggal di luar Mekkah,
mayoritasnya.
Sebagaimana pernah saya jelaskan,
waktu jauh sebelum lahir Nabi ﷺ,
sempat suku Khuza‘ah
berkuasa full di Mekkah.
kemudian datang suku—
oh, mohon maaf saya keliru
menyebutkan ini.
yang datang ke Mekkah dulu suku Jurhum, ya.
Suku Khuza‘ah ini justru suku yang
datang pada saat itu merebut Mekkah.
Keliru saya, mohon maaf ini.
Saya luruskan kembali.
Kalau suku yang datang ke Mekkah dulu suku Jurhum—ini suku Khuza‘ah.
Dan yang dimaksud dengan perkataan tadi
suku Khuza‘ah ini adalah suku Khuza‘ah yang—
datang dan menguasai Mekkah setelahnya.
Maka Budail bin Warqa,
membagi pasukannya atau membentuk sukunya
di luar Mekkah untuk menyerang Mekkah.
Dan setelah tersusun
pasukan yang kuat,
persiapan untuk menyerang Mekkah,
beliau pun pergi
ke Madinah sendiri,
menyampaikan secara khusus berita ini dengan lengkap kepada Nabi ﷺ.
Karena tadi ‘Amr bin Salim,
hanya menyampaikan garis besarnya: pengkhianatan.
Maka datanglah Budail
mengingatkan tentang semuanya,
atau menyampaikan informasi lengkapnya.
Dari sisi lain,
Quraisy juga sudah mulai
berkumpul di hari itu,
bermusyawarah tentang kejadian
pengkhianatan tersebut.
"Bagaimana ini sekarang?
"Terlanjur terjadi,"
sebagian mereka mendukung.
Salah satu yang ikut dalam musyawarah: seseorang yang bernama ‘Abdullah bin Sa‘d bin Abī Sarḥ.
‘Abdullah bin Sa‘d bin Abī Sarḥ.
Ini ikut dengan Quraisy.
Siapa orang ini?
Orang ini nanti,
teman-teman sekalian,
kita akan temukan—
salah satu dari 10 orang
yang wajib dibunuh,
pada saat Nabi ﷺ
masuk ke dalam—
kota Mekkah nantinya.
Orang ini pernah masuk Islam,
tapi dia pura-pura masuk Islam.
Diutus oleh Quraisy,
khusus untuk menjadi
orang munafik.
Dia ke Madinah,
iklankan Islamnya.
Karena dia orangnya,
memiliki bahasa yang bagus,
dan dia ahli menulis,
maka oleh Nabi ﷺ ditunjuk
sebagai penulis wahyu.
Dia menulis wahyu,
wahyu turun dia tulis.
Dia kemudian juga,
beberapa orang sahabat-sahabat Nabi yang lain,
yang memang ahli tulis dari Mekkah disuruh menulis.
Di antaranya: ‘Abdullah bin Abi Sarḥ ini,
Abdullah bin Sa'ad ini.
‘Abdullah bin Sa‘d ini,
teman-teman sekalian,
setelah dia dipercaya oleh Nabi ﷺ,
dia tulis banyak ayat-ayat Al-Qur’an,
setelah sudah mapan, dianggap dia adalah
salah satu sahabat yang dimuliakan,
maka dia pulang ke Mekkah,
lalu dia iklankan kalau dia murtad,
untuk memukul—
kejiwaan, keimanan muslimin.
Lalu dia mengatakan,
bahwasanya:
"Dulu, saya waktu di Madinah,
menulis wahyu, saya sudah mengarang-arang
dan menambah-nambah Al-Qur’an.
Itu semua banyak yang tidak benar itu,
karena saya yang tulis."
Maka Nabi ﷺ menerangkan kepada Muslimin,
dan tentu karena—
Nabi ﷺ seorang Nabi,
maka Muslimin percaya.
maka Nabi ﷺ mengatakan:
“Demi Allah, ia telah dusta!”
Karena ia,
pada saat itu tidak memalsukan tulisan Al-Qur’an sama sekali.
Allah telah menjaga.”
Dia betul-betul murni
menulis apa adanya,
kemudian dia murtad.
‘Abdullah ini berkata kepada Quraisy:
“Akulah,
orang yang paling mengenal Muhammad dari kalian semua.
Aku kan sudah jadi sahabatnya,
sekian tahun tinggal bersamanya.
Ketahuilah,
kalau Muhammad tidak akan memerangi kalian sampai ia menawarkan kepada kalian tiga hal.”
Itu peraturan dalam agamanya dia,
harus seperti itu,
terutama kalau terjadi
pengkhianatan seperti ini.
Maka Quraisy berkata,
“Apa itu, wahai ‘Abdullah? Apa tiga hal itu?”
‘Abdullah berkata,
“Kalau yang pertama,
ia pasti akan menawarkan kepada kalian untuk membayar diyat,"
atau denda korban
suku Khuza‘ah tadi,
yang 23 orang,
"dan masalah akan selesai.
Bayar saja."
Berapa diyat-nya 1 orang,
kali 23, bayarkan.
Quraisy menjawab,
“Demi Allah,
Khuza‘ah tidak akan
membiarkan harta kita,
kecuali akan menghabiskannya.
Maka kami tidak akan menerima poin itu.”
Karena nanti,
dalam peraturan pada saat itu—
atau sampai sekarang pun,
teman-teman sekalian,
diyat ini, kalau ada orang
membunuh orang lain,
maka keluarganya orang yang dibunuh
punya hak untuk menentukan diyat.
Misal dia minta:
"Bayarlah kepada kami 100 juta,
maka kami bebaskan.
Tidak ada hukum."
misalnya contoh.
Itu namanya diyat.
Dan biasanya ini yang menentukan, keluarga mayit.
Maka Quraisy bilang,
“Kalau Khuza‘ah kita berikan kesempatan
untuk menuntut 23 orang dari anggotanya itu,
maka dia bisa ambil satu Mekkah, nih.
Mereka minta bayar tapi dengan
satu Mekkah, misalnya.
Kami tidak mau terima itu.”
"Apa poin kedua,
hai ‘Abdullah?"
tanya orang-orang Quraisy.
‘Abdullah menjawab,
“Kalian akan diminta membiarkan
suku Bakar dihukum oleh Muhammad,
tanpa kalian campuri,
karena mereka yang telah berkhianat.”
Maka Quraisy menjawab lagi,
“Demi Allah,
bila kita tidak
membela sekutu kita,
maka setelah hari ini tidak akan lagi ada orang yang mau bersekutu dengan kita.
Walau mereka berkhianat,
tetap kita bela.”
Ini prinsip orang kafir.
Kalau kaum muslimin, tidak mungkin.
Orang berkhianat,
ya berkhianat, gitu kan.
Tapi ada konsep taubat.
Kalau dia sudah bertobat, itu beda.
Maka,
kata Quraisy,
“Apa yang ketiga?”
Kata Abdullah,
“Pedang.
Perang.
Nggak ada lagi sudah.
Kalau kalian nolak bayar diyat,
kalian nolak juga membiarkan
Bakar dihukum oleh Muhammad.”
Tentu kita mengatakan, "ﷺ",
ini bahasanya Abdullah pada saat itu.
"Maka tentu dia akan memerangi kalian."
Abdullah pada saat itu
mengatakan perang, maka—
mereka pun (orang-orang Quraisy) pada saat itu bingung.
"Nggak ada pilihan lain,
berarti kita harus perang sekarang masalahnya."
Dan waktu itu kebetulan,
kondisi Mekkah berbeda sekali dengan kondisi—
pada saat persiapan Perang Uhud.
Karena kebanyakan waktu itu
mayoritas penduduk Mekkah,
dari tokoh-tokohnya,
sedang keluar.
Berdagang
ke negeri Syam.
Kemudian juga,
mereka tidak punya
persiapan untuk perang.
Sementara Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām—
ini keutamaan, ya.
Semestinya terjadi pada pemerintahan muslim:
selalu punya persiapan.
Ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ
Persiapkanlah dari kekuatan yang kalian miliki.
Untuk punya persiapan, kapan dibutuhkan, siap,
maka itu menjadi prinsip dasar.
Maka di Madinah,
setiap saat kalau Nabi
mengatakan, "Jihad!"
kumpul tiba-tiba.
Sebagaimana nanti kita lihat,
dalam satu kali ucapan
panggilan jihad saja,
7.500 pasukan sudah terkumpul
di depan Masjid Nabi
‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām.
Jadi beda dengan orang kafir.
Harus dirayu dulu,
ditawarkan apa, negosiasi dulu.
Butuh waktu yang lama.
Karena ini masalahnya mati,
dan mereka tidak tahu mati itu punya surga,
dan beda dengan
kaum muslimin umumnya.
Maka pada saat itu Abu Sufyan berkata,
“Aku punya pendapat.
Kita utus saja
seseorang ke Madinah,
untuk menemui Muhammad
dan memperbarui akad,
agar permasalahan selesai.
Sebelum informasi tiba ke Muhammad."
Mereka tidak tahu kalau ‘Amr bin Salim tadi sudah tiba,
dan Nabi ﷺ sudah tahu permasalahannya.
Seseorang berkata,
“Apakah kita memberitahukan Muhammad,
sebelum Khuza’ah mendatanginya?
Dan apakah kita akan mengatakan,
kalau telah terjadi
pengkhianatan di Mekkah,
lalu kemudian kita mau memperbarui akad
supaya tidak ada peperangan?”
Kata Abu Sufyan,
“Kita katakan, ‘Iya,
perbarui akad,’
tapi tidak usah diceritakan kalau—
Bakar berkhianat.”
Maka serentak orang Quraisy mengatakan,
“Kalau begitu, berangkatlah wahai Abu Sufyan ke Madinah.
Engkau yang mewakili kami.”
Dalam buku-buku sirah disebutkan,
Abu Sufyan pun berangkat waktu itu ke Madinah,
dengan beberapa orang yang mengawalnya,
sampai ia memasuki
pintu gerbang Madinah,
dan ia menemui:
Budail bin Warqa,
dan beberapa suku Khuza’ah
baru keluar dari Madinah.
Lalu Abu Sufyan tanya,
“Apa yang membuat kalian berada di Madinah?”
Kata Budail,
“Kami hanya datang berkunjung.”
Abu Sufyan bertanya,
“Apakah kalian memiliki kurma dari Madinah yang kalian makan juga untuk unta-unta kalian?
Ada bukti nggak kalau
kalian dari Madinah?"
Kalau cuma jalan-jalan
biasanya bawa oleh-oleh.
Ada kurmanya.
Dan yang paling banyak dibawa dari Madinah: kurma.
Dari dulu sampai sekarang itu.
Maka kata Budail,
“Nggak ada.”
Abu Sufyan sudah paham di situ,
kalau orang datang menyampaikan informasi perang,
nggak ada waktu makan-makannya.
Itu kejeliannya mereka dalam
memahami pada saat itu.
Karena tidak ada—
tidak ada media kayak kita sekarang
untuk komunikasi, untuk mengetahui hal-hal,
kecuali dengan cara seperti itu.
Maka akhirnya,
Budail pun tidak memperdulikan
Abu Sufyan dan dia kembali ke Mekkah,
karena Nabi ﷺ suruh kepada Budail bin Warqa:
“Kembali, Temani sukumu.
Tunggu sampai instruksi ku datang."
Pulanglah Budail ke Mekkah,
Abu Sufyan masuk ke Madinah.
Abu Sufyan bingung mau temuin
siapa di Madinah ini,
supaya bisa dapat informasi
apa yang bergelora,
bergejolak di Madinah ini,
apa informasi yang tidak ada yang ditahu, gitu.
Maka dia berpikir,
dan teringat dia
punya anak kandung,
Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha.
Ini istri Nabi ﷺ,
anaknya Abu Sufyan
muslimah waktu itu,
yang pernah kita ceritakan
kalau Ummu Habibah ini—
hijrah ke—
Habasyah.
Dan akhirnya,
Nabi ﷺ maharnya diberikan oleh:
An-Najasyi.
Dan setelah itu dikirimlah,
Ummu Habibah ke Madinah pada saat itu
untuk menjadi pendamping Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām.
Datanglah Abu Sufyan mengetuk rumahnya Ummu Habibah,
setelah menanyakan sana-sini.
Kemudian ditemukan alamatnya,
datanglah ketuk.
Lalu dibuka sama Ummu Habibah,
disambut, ayahnya,
mahramnya, walaupun dalam kondisi kafir.
Belum saja berbicara,
Ummu Habibah tetap diam,
tunggu ayahnya mau bicara apa.
Abu Sufyan masih berdiri, mau duduk.
Rupanya rumah Ummu Habibah,
zaman dulu orang tidak terlalu banyak
ada kursi-kursi, orang banyak melantai.
Ada satu tikar,
tikar itu cukup tua,
dilantai.
Abu Sufyan lihat, dia mau duduk.
Baru sambil duduk, baru berbicara gitu.
Rumah anaknya sendiri.
Dia kaget waktu dia mau duduk,
tiba-tiba Ummu Habibah
dengan cepat lari,
menarik tikar itu.
Tikarnya, tikar tua, gitu.
Kata Abu Sufyan,
bingung, dia bertanya,
“Ada apa denganmu,
wahai Ummu Habibah?
Apakah tikar itu mahal sekali,
padahal terlihat sudah sangat tua?
Atau memiliki kedudukan khusus di matamu,
sampai ayahmu saja nggak boleh dudukin?”
Kata Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha,
dengan sangat jelas dan tegas:
“Wahai ayahku,
ini adalah tikar Rasulullah ﷺ,
dan engkau dalam keadaan kafir
dan najis,
maka tidak layak engkau mendudukinya.”
Maka Abu Sufyan kaget, heran.
Anaknya, Ummu Habibah ini,
terkenal sangat lembut sekali,
santun sekali sama orang tuanya.
Tapi pada saat itu tegas, gitu kan.
Maka kata Abu Sufyan,
“Wahai Ummu Habibah,
sungguh engkau telah ditimpa
keanehan dalam hidupmu,
setelah meninggalkan Mekkah
dan masuk Islam.”
Akhirnya Abu Sufyan
keluar dari rumah itu.
Dia yakin,
tikar saja nggak mau diduduki,
apalagi dapat informasi, gitu.
Ditinggalkan sama dia.
Dia muter-muter, nyari
apa yang harus dilakukan.
Maka dia ambil kesimpulan:
dia mau ke masjid langsung.
Ketemu dengan Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām.
Masuk ke masjid.
Nabi ﷺ paling banyak
waktunya habis di masjid.
Kalau lagi nggak ada kegiatan di rumah,
di luar, pasti duduk di masjid.
Walaupun cuma ngobrol
dengan sahabat-sahabat, gitu.
Duduklah Nabi ﷺ waktu itu.
Waktu Abu Sufyan masuk,
Nabi ﷺ sedang duduk
dengan para sahabat.
Lalu Nabi ﷺ bilang waktu Abu Sufyan
sedang menuju ke masjid,
“Sebentar lagi Abu Sufyan akan masuk ke masjid ini.”
Ada wahyu menyampaikan kepada Nabi ﷺ.
Belum kelihatan Abu Sufyan.
Tapi kata Nabi ﷺ:
“Sebentar lagi Abu Sufyan akan datang
menemui kalian di masjid ini,
dalam rangka memperbarui
kesepakatan Hudaibiyah.
Karena mereka tidak setuju
bayar denda pembunuhan,
juga tidak mau menyerahkan suku Bakar.”
Jadi apa yang mereka sepakati di Mekkah,
Nabi sampaikan kepada muslimin.
Wahyu.
Pada saat itu,
teman-teman sekalian,
baru beberapa saat saja Nabi ﷺ mengucapkan itu,
tiba-tiba Abu Sufyan masuk masjid,
dan duduk di hadapan
Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām.
Lalu Nabi tanya,
“Ada apa, wahai Abu Sufyan?”
Mertuanya Nabi, ini.
“Ada apa, wahai Abu Sufyan?”
Abu Sufyan bilang,
“Wahai Muhammad,
sesungguhnya kesepakatan
di antara kita sudah bagus.
Kita sama-sama merasa aman
dengan tidak adanya peperangan.
Juga kafilah-kafilah dagang kami
sudah tidak terganggu lagi.
Maka kami ingin memperbarui
dan memperpanjang kesepakatan.”
Ini lucunya, Nabi dan para sahabat
sudah tahu kejadian ini.
Dia bicara seakan-akan
tidak ada yang mengerti, gitu.
Nabi ﷺ bertanya, “Apakah kalian melakukan sesuatu sehingga kalian mau memperbarui dan memperpanjang akad?”
Ditanya.
Kata Abu Sufyan,
“Tidak ada.
Hanya saja kami mau memperbaruinya.”
Kata Nabi ﷺ,
“Kami tetap dalam kesepakatan.
Dan kami tidak akan pernah
berkhianat selamanya.”
Perkataan Nabi ﷺ ini,
memiliki makna yang sangat tinggi
sebagai seorang pemimpin.
Bagaimana menerima delegasi,
dan mengatur kata-kata.
Sehingga,
walaupun dalam kondisi marah,
tidak perlu emosional.
Karena emosi membubarkan ide.
Membubarkan semua ide-idenya.
Kemudian dari sisi yang lain,
Nabi ﷺ sudah mengatur.
Sudah niat ingin menyerang Mekkah pada saat itu.
Dan kalau ditunjukkan emosinya kepada Abu Sufyan, Abu Sufyan tahu nanti.
Maka Nabi ﷺ cuma menjelaskan
secara umum saja.
Dan pada saat itu,
teman-teman sekalian,
kata sebagian ahli sejarah,
ini merupakan strategi perang Nabi ﷺ.
Beliau luar biasa dalam peperangan.
Bisa dikatakan tidak pernah menginformasikan—
pasukannya akan menyerang ke mana.
Nanti ada dua saja,
dalam buku-buku
sejarah disebutkan,
dua peperangan Nabi ﷺ
dari sekian banyak peperangan,
yang Nabi iklankan:
Perang Khaibar—
menyerang Khaybar, dan sudah
kita jelaskan kisahnya pada—
bahasan yang sebelum-sebelumnya.
Bagaimana Nabi ﷺ iklankan,
pulang dari kesepakatan Hudaibiyah,
Nabi iklankan,
“Kita akan menyerang Khaibar
dan kita akan menang.”
Iklan resmi.
Kemudian nanti juga kita lihat,
setelah pembebasan Kota Mekkah,
setelah Perang Hunain,
akan ada—
Perang Tabuk.
Ini juga Nabi ﷺ iklankan resmi.
Dua saja peperangan.
Yang lain, Nabi ﷺ selalu rahasiakan,
sampai pasukan tidak tahu
mau nyerang ke mana.
Pokoknya ikut jihad.
Pertama supaya niat mereka ikhlas.
Yang kedua supaya rahasia—
penyerangan terjaga.
Abu Sufyan melihat kalau Nabi ﷺ
tidak mau membuka diri,
maka ia keluar dari masjid,
guna mencari siapa kira-kira di antara Muslimin
yang bisa diajak negosiasi ini.
Setelah dia pikir-pikir,
ternyata dia temukan memang Abu Bakar
adalah sahabat Nabi yang paling dekat,
sekaligus juga mertua.
Berarti dia sama Abu Bakar,
sama posisinya.
Cuma, ini kafir (Abu Sufyan),
ini Muslim (Abu Bakar).
Lalu dia pergi ke rumahnya
Abu Bakar dan berkata,
“Engkau adalah sahabat Muhammad dan orang terdekatnya,
maka perbaruilah akad.
Kita buat akad baru sekarang,
yang lalu anggap batal."
Sepertitulah.
“Dan,
perbaruilah akad dan keamanan,
serta lindungi orang-orang
dari peperangan,
dan engkau akan dikenang sepanjang masa.
Abu Bakar radhiallahu 'anhu menjawab:
“Demi Allah, kami tetap
pada kesepakatan awal.
Dan kami tidak akan
pernah berkhianat,
juga tidak akan melindungi
di atas perlindungan Nabi Muhammad ﷺ.
Kalau Nabi yang lakukan, kami ikut.
Kalau nggak, nggak bakalan. Mustahil.
Apa yang Nabi katakan,
kami katakan.”
Abu Sufyan melihat,
Abu Bakar nggak ada gunanya.
Maka dia pergi ke siapa?
Ke Umar bin Khattab.
Umar bin Khattab,
siapa yang tidak kenal dengan ketegasannya?
Dia pergi ke sana
dan mengatakan,
“Wahai Umar,
engkau adalah sahabat
terdekatnya Muhammad.
Salah satu dari mertuanya.
Maka perbaharuilah akad,
selamatkan orang-orang
dari peperangan.”
Maka Umar berkata apa?
“Aku melindungi kalian?”
Tanda tanya.
“Demi Allah, bila aku tidak menemukan kecuali
seekor semut saja yang menyerang kalian,
aku akan ikut sama semut itu
untuk menyerang kalian.
Kalau nggak ada yang bisa
serang kalian kecuali semut,
aku ikut sama semut itu.
Nggak ada nih.
Dari mana ini?
Abu Sufyan berkata,
“Semoga Allah balas engkau dengan keburukan,
atas pemutusan silaturahim mu ini.”
Abu Sufyan keluar dari rumahnya Umar.
Nggak ada gunanya.
Siapa nih?
Cari orang terdekat.
Dua anak mantu Nabi:
Ali dan Utsman.
Datang kepada Ali bin Abi Thalib.
“Wahai Ali,”
Ali dimulai, bukan Utsman.
Utsman nanti setelahnya.
“Engkau orang terdekat
dari Muhammad,
dan kami tahu engkau sangat dekat dengan Muhammad
dari jalur nasab dan rahim.
Sudah keluarga,
anak mantu lagi.
Maka lindungilah orang-orang
dari peperangan.”
Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu berkata:
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ
sedang berpegang pada kesepakatan.
yang tidak akan pernah ada yang berani melanggarnya
kecuali beliau sendiri, ﷺ, yang melakukannya.
Akad sudah ada,
untuk apa diperbarui?
Dan Rasulullah ﷺ tidak memberi informasi
kepada kami untuk memperbaharui akad.
Untuk apa diperbarui?”
Abu Sufyan melihat,
tidak ada lagi peluang kepada Ali.
Ali bin Abi Thalib di rumah,
kebetulan ada istrinya, Fatimah.
Ada anaknya Hassan dan Hussein.
Maka Abu Sufyan
menghadap ke Fatimah.
lalu berkata,
“Wahai Fatimah,
engkau adalah
anaknya Muhammad,
lindungilah orang-orang
dari peperangan.”
Saking takutnya Abu Sufyan di sini,
teman-teman sekalian,
sampai ke perempuan
pun minta tolong.
Karena waktu itu Mekkah kondisinya nggak bisa,
nggak siap untuk berperang.
Dan ada kejadian sebelumnya,
kalau kita rentet sebelumnya,
kalau mau dibicarakan bukan masalah keimanan,
masalah umumnya kehidupan sosial manusia,
maka ada Perang Ahzab,
kalau antum masih ingat sebelumnya,
Perang Khandaq,
di mana Muslimin sebelum
kesepakatan Hudaibiyah itu dikepung.
Kalau secara history manusia, bukan masalah keimanan,
ini sesuatu yang mendendamkan ini.
Menyerang, kesempatan Muslim
menyerang Mekkah semestinya.
Tapi Muslim tidak menjadikan itu sebagai kesempatan untuk menyerang.
Karena dianggap Perang Ahzab menang.
Pasukan Quraisy dipermalukan.
Selama 43–45 hari mengepung Madinah, tidak bisa tembus.
Abu Sufyan lalu berkata,
“Wahai Fatimah, engkau adalah anak Muhammad,
maka lindungilah orang-orang
dari peperangan.”
Fatimah menjawab,
“Sesungguhnya aku hanya seorang wanita.”
Abu Sufyan lalu tunjuk anaknya—
ada Hasan di situ, radhiallahu 'anhu.
“Bawalah anakmu ini,
atas namakan dia,
supaya lindungi
orang-orang.”
Jadi saking takutnya,
sampai anak kecil pun suruh lindungi.
Maka Fatimah menjawab,
“Dia masih kecil.
Dan ketahuilah,
tidak akan pernah ada yang berani melampaui
Rasulullah ﷺ dalam kesepakatannya.
Mustahil.
Kamu datang ke siapa pun,
tidak akan ada yang bisa bantu dalam masalah ini
kecuali Rasulullah sendiri.”
Abu Sufyan keluar dari rumah itu.
Bingung, cari siapa lagi?
Tinggal satu anak mantu Nabi ﷺ:
Utsman bin Affan.
Datang,
“Wahai Utsman,
engkau kan satu suku dengan aku.
Sama-sama suku Umayyah.”
Kalau masih ingat di
kesepakatan Hudaibiyah dulu,
itu ada—
Nabi ﷺ pernah panggil Umar bin Khattab
dan berkata, “Hai Umar,
aku berpikir mengutusmu ke Mekkah,
Temuilah Abu Sufyan,
kemudian bilang,
'kita ini mau umrah, nggak usah ditahan.'”
Tapi Umar kan bilang,
“Ya Rasulullah, Anda tahu permusuhanku dengan Quraisy.
Kalau mereka hina aku sedikit,
perang loh di Mekkah ini.”
Maka utus Utsman.
Karena Utsman sesuku
dengan Abu Sufyan.
Sama-sama dari Bani Umayyah.
Utsman juga lebih lembut.
SUdahlah,
utus dia saja."
Kata Nabi ﷺ,
“Pendapat yang benar.”
Lalu diutuslah
Utsman bin Affan.
Ada kisah sendiri,
pernah kita jelaskan masalah itu.
Yang jelas,
didatangilah, dan kata Abu Sufyan:
“Wahai Utsman,
kamu kan sesuku dengan aku,
sama-sama dari suku Umayyah.
Perbaruilah kesepakatan
dan hentikan peperangan.”
Utsman radhiallahu 'anhu mengatakan,
“Aku mengikuti kesepakatan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah tetap dengan akadnya,
kami iya.
Rasulullah mengganti,
ya kami ganti.
Nggak ada pilihan lain.”
Abu Sufyan keluar lagi,
harus ada jalan keluar.
Maka dia kembali
kepada Ali.
Lalu dia mengatakan,
“Wahai Ali, berikan aku pendapat.
Apa saranmu sekarang?"
Ali bilang,
“Aku tidak punya pendapat, karena permasalahannya berat.”
Lalu Ali menyebutkan kalimat ini:
“Pengkhianatan kesepakatan.”
Abu Sufyan jadi menangkap,
ternyata ini sudah
diketahui oleh Muslimin.
Karena Ali bin Abi Thalib
mengucapkan “pengkhianatan.”
Artinya, "Tanpa dijelaskan pun, kami sudah tahu
sebenarnya kalian berkhianat."
"Kalau engkau mau memperbarui,"
ini pendapatnya Ali,
"maka perbaruilah sendiri.
Bukankah kau pemimpin Quraisy,
dan terkukuhkan di kalangan Arab?
Kata Abu Sufyan,
“Apakah kau lihat itu?
Bagus nggak itu?
Bisa nggak?"
Kata Ali:
“Tidak.
Tapi tidak ada lagi pendapat lain,
kecuali itu yang paling dekat.
Kau masuk ke masjid,
lalu kau perbarui sendiri.”
Abu Sufyan karena
dalam keadaan bingung,
dia akhirnya lakukan itu.
Dia pergi ke masjid Nabi ﷺ.
Nabi masih duduk dengan para sahabat,
lalu Abu Sufyan tiba-tiba berdiri berkata,
“Aku Abu Sufyan,
pemimpin Quraisy dan Mekkah.
Aku telah memutuskan pembaruan kesepakatan
dan melindungi orang-orang dari peperangan.”
Dia sendiri ngomong, di masjid.
Kata Nabi ﷺ,
“Itu perkataan engkau,
wahai Abu Sufyan.
Dan kami tidak pernah mengucapkannya,
apalagi mengakuinya.”
Abu Sufyan akhirnya
kembali ke Mekkah,
dan menceritakan semua
apa yang terjadi.
Yang paling disoroti oleh
orang Quraisy adalah,
perkataannya Ali bin Abi Thalib dan sarannya.
Kata mereka:
“Hai Abu Sufyan, di mana pikiranmu?
Bagaimana bisa kau dipermainkan
oleh Ali bin Abi Thalib?”
Ali bin Abi Thalib
dianggap masih kecil,
dibanding dengan Abu Sufyan, umurnya jauh.
Kata Abu Sufyan,
“Memang kenapa?”
Mereka bilang,
“Bagaimana bisa kau memperbarui akad,
di masjid mereka,
di depan mereka,
sendirian?
Mustahil terjadi.
Kau sedang dipermainkan sama Ali.”
Padahal Ali bin Abi Thalib
tidak bermaksud mempermainkan, gitu ya.
Maka pada saat itu pun
Quraisy bingung.
Khawatir apa yang akan terjadi.
Apakah Muhammad ﷺ
akan menyerang atau tidak?
Sementara penduduk Mekkah
tidak punya persiapan.
Seperti saya bilang,
teman-teman.
Orang Quraisy,
orang kafir,
kalau mau perang,
lama persiapannya itu.
Nggak bisa mereka tiba-tiba,
“Ayo perang!” langsung perang.
Nggak bisa.
Harus ada janji-janji, harus ada ini, harus ada duit,
harus macam-macam jaminannya.
Karena mereka takut mati.
Muslimin beda, gitu.
Sementara di Madinah,
begitu Abu Sufyan pergi,
Nabi ﷺ tidak tunda.
Langsung pada saat itu,
kumandangkan jihad.
Rasulullah ﷺ akan keluar berjihad.
Ke mana?
Nggak tahu,
nggak diiklankan.
Pokoknya iklankan
ke seluruh Madinah,
di luar Madinah,
seluruh suku Arab,
iklankan: Rasulullah ﷺ akan keluar berperang.
Yang mau ikut jihad, datang.
Lalu Nabi ﷺ pulang
ke rumahnya,
menyuruh Aisyah radhiallahu 'anha mempersiapkan—
seluruh yang berhubungan dengan peperangan:
makanan, minuman, pakaian ganti, pakaian perang.
Dan Nabi ﷺ mengatakan
kepada istrinya,
Aisyah,
juga istri yang lain Nabi ﷺ
datangi sambil mengatakan:
“Rahasiakan aku akan menyerang ke mana.”
Nabi ﷺ sampaikan kepada Aisyah
dan para istri (Ummahatil Mukminin):
“Saya akan serang Mekkah.”
Waktu itu pesan Nabi ﷺ
kepada Aisyah dalam riwayat—
tentu istri yang lain
juga dipesankan yang sama.
Tapi riwayat yang dinukil ini adalah riwayatnya Aisyah radhiallahu 'anha dalam hadits Bukhari.
Abu Bakr sempat mendatangi rumah Aisyah.
Dan heran melihat kenapa
Aisyah mempersiapkan—
persiapan perang Nabi ﷺ.
Tahu ini pedangnya Nabi,
ini busur panahnya,
ini tombaknya,
ini baju-baju gantinya,
ada perisainya,
segala macam.
Ini Aisyah lagi siapkan,
radhiallahu 'anha.
Maka kata Abu Bakr:
“Wahai Aisyah, apakah Rasulullah ﷺ akan berperang?”
Kata Aisyah:
“Iya.”
Kata Abu Bakr:
“Mau ke mana target Rasulullah ﷺ?”
Aisyah tidak menjawab
satu patah pun.
Kenapa?
Karena wasiat Nabi apa?
Rahasiakan.
Bayangkan di sini, teman-teman sekalian,
yang bertanya itu Abu Bakr,
sahabat dekatnya Nabi,
ayahnya dia sendiri.
Tapi karena suaminya bilang, "Rahasiakan,"
tidak diceritakan sama sekali.
Ini pelajaran penting bagi setiap muslimah.
Suami di atas segala-galanya.
Di kalangan manusia tentunya.
Dan juga kita tidak bicara
Nabi Muhammad ﷺ,
Nabi Muhammad ﷺ
di atas semuanya,
orang tua, diri kita sendiri bahkan.
Tapi bicara tentang lingkup keluarga, teman-teman,
maka suami di atas segalanya.
Apa yang dia katakan
harus dirahasiakan,
harus dijaga amanahnya,
tidak boleh kita ekspos sana-sini.
Dan ini banyak—
benteng Muslimah jebol di poin ini.
Mereka banyak sekali curhat sembarangan dengan orang ketiga,
akhirnya rumah tangganya rusak.
Semua orang tahu tentang dia,
semua orang tahu
tentang permasalahannya.
Seakan-akan akhirnya suaminya
dikeroyoki oleh sekian banyak orang.
Ini masalah besar.
Karena pintu surganya,
tertutup dengan itu.
Sama dia durhaka
dengan ayahnya.
Aisyah radhiallahu 'anha merahasiakan,
walaupun ayahnya yang tanya.
Nabi mengatakan “Rahasia,"
rahasia.
Pelajaran yang lain juga:
kalau seorang suami,
memang boleh menyampaikan
rahasia kepada istrinya.
Karena istrinya,
atau suami-istri dibahasakan
dalam Al-Qur’an:
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“…هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ…”
“…para istri kalian, pakaian kalian. Dan kalian juga pakaian buat mereka…”
Apa makna pakaian?
Pakaian untuk apa kita pakai ini,
teman-teman sekalian?
Menutup aurat.
Sisi lain apa?
Memperindah penampilan, ya.
Jadi memang ada hal
yang bermanfaat di situ.
Istri dan suami adalah:
pelindung aib.
Yang tahu ada—
penyakit kulit,
ada luka,
bekas luka,
ada apalah
di tubuh kita,
adalah istri kita,
dan suami kita.
Orang tua kita juga
belum tentu tahu.
Maka itu dikatakan “لِبَاسٌ”,
makanya mereka tempat rahasia sebenarnya.
Dan Allah telah menjadikan suami-istri
sebagai tempat rahasia pasangannya.
Maka tidak boleh diekspos.
Amanah.
Sampai kata Nabi ﷺ,
"Orang yang paling buruk
di sisi Allah pada hari kiamat
adalah orang yang telah
menggauli pasangannya—
suami mendatangi istrinya atau istri mendatangi suaminya—
lalu mereka menyebarkan rahasia masing-masing."
Di antaranya menceritakan
tentang biologisnya,
kebaikan ataupun keburukannya.
Hal-hal yang sifatnya rahasia
tidak boleh sama sekali dikeluarkan.
Ini penting digarisbawahi.
Makin tertutup rumah tangga tersebut
dari orang-orang ketiga, dari luar,
maka makin aman.
Makanya harus hati-hati.
Setiap Muslim dan Muslimah
pegang baik-baik poin rahasia ini.
Dari sekian banyak,
99% kasus rumah tangga yang
disampaikan kepada saya,
kasusnya karena orang ketiga,
dan tidak bisanya suami istri
menjaga lisan mereka
menceritakan sana sini masalahnya.
Abu Bakar lalu berusaha
memancing Aisyah,
sambil berkata—
radhiyallahu ‘anhum ajma'in,
“Mungkin Rasulullah ﷺ ingin menyerang Romawi.”
Aisyah tetap diam.
Tanya lagi,
“Mungkin Rasulullah ﷺ mau menyerang Hawazin?”
Hawazin ini suku Thaif,
nanti akan ada Perang Hunain dengan mereka
setelah Pembebasan kota Mekkah.
Aisyah tetap diam.
Aisyah ini anak, gitu.
Ayahnya lagi bertanya,
nggak dijawab.
Abu Bakar berkata lagi,
“Mungkin Rasulullah ﷺ ingin menyerang Quraisy?”
Aisyah tetap diam.
Beberapa saat kemudian,
karena Abu Bakar tidak bisa
dapat informasi,
duduk di situ tunggu,
Rasulullah ﷺ masuk rumah.
Abu Bakar bertanya,
“Wahai utusan Allah,
apakah Anda akan berperang?”
Kata Nabi ﷺ,
“Iya.”
“Apakah kami juga mempersiapkan diri bersama Anda?”
Kata Nabi ﷺ,
“Iya.
Pulanglah, persiapkan peperangan.”
Abu Bakar bertanya lagi,
“Apakah Anda akan menyerang Romawi?”
Kata Nabi ﷺ,
“Tidak.
Bukan.
“Apakah Anda akan menyerang Hawazin?”
Nabi ﷺ mengatakan,
“Bukan.”
Lalu ditanya,
“Apakah Anda akan menyerang Quraisy?”
Kata Nabi ﷺ,
“Iya.”
Maka Abu Bakar berkata,
“Wahai utusan Allah,
bukankah antara kita dengan mereka
ada kesepakatan damai 10 tahun?”
Kata Nabi ﷺ—
kalimat yang jelas menjadi hukum syar’i bagi setiap Muslim
Kata Nabi ﷺ
“Wahai Abu Bakar,
sungguh mereka telah
membatalkan kesepakatan itu.
Mereka berkhianat,
mereka yang memulai.
Dan semua pengkhianat
harus dihukum.
Nggak ada pengkhianat
itu dibiarkan.
Dan kita lihat, teman-teman sekalian,
dalam histori Islam, subhanallah,
setiap pemimpin yang
tidak mengikuti poin ini,
pasti jadi masalah buat dia.
Di antara juga banyak
kisah histori itu,
di antara yang sangat terkenal,
pengkhianatan dalam sejarah Islam adalah:
seseorang yang telah mengkhianati
Muhammad Al-Fatih.
Setelah pembebasan Konstantinopel,
itu banyak histori
yang orang tidak kenal.
Ada pengkhianat-pengkhianat yang muncul,
mengaku Muslim tapi mereka munafik.
Lalu ketangkap nih,
nggak dihukum sama Muhammad Al-Fatih.
Dia mohon-mohon ampun,
“Maafkan saya,”
segala macam,
tapi nggak dihukum, padahal kepergok
sedang melakukan perbuatan.
Dimaafkan.
Ternyata dia susun
pasukan lebih besar,
dan membunuh banyak sekali
perdana menterinya Muhammad Al-Fatih.
Walaupun akhirnya dibunuh,
terbunuh,
tapi sudah banyak korban.
Dan dia kejam sekali.
Cara menghukum orang-orangnya
kerajaan pada saat itu,
Dia membuat pohon-pohon—
ada pohon-pohon yang besar—
itu dipahat sama dia sampai menjadi seperti runcing sekali,
kayak jadi tombak tapi besar.
Lalu diangkat
para perdana menteri—
Utsmaniyah itu,
lalu ditancapkan
dari bokongnya sampai ke mulutnya.
Dipajang sekian banyak orang.
Penyiksaan.
Gara-gara pengkhianatan orang ini.
Subhanallah.
Pengkhianat ini nggak boleh dibiasakan.
Bahkan tidak boleh hidup
kalau kepergok.
Dihukum oleh pemerintah setempat.
Bahaya sekali.
Nabi ﷺ memberikan kepada kita
kaidah syar’i di sini.
Nabi ﷺ akhirnya mengatakan,
“Mereka telah membatalkan akad tersebut.”
Lalu Nabi ﷺ waktu itu suruh iklankan
agar seluruh Muslimin siap-siap,
“Kita akan berperang.”
Tapi, Nabi ﷺ kumpulkan tokoh-tokoh sahabat yang penting:
Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Talhah, Zubair,
sahabat-sahabat terutama
yang hadir di Perang Badar,
dikumpulkan oleh Nabi ﷺ.
Lalu Nabi mengatakan,
“Saya akan menyerang Quraisy,
tapi rahasiakan.
Tidak boleh ada yang berita.
Jangan diekspos.
Pasukan tidak boleh tahu.
Tapi kalian ini, karena pasukan-pasukan inti,"
orang-orang yang hadir di Badar
maksudnya dianggap pasukan inti,
karena mereka yang pertama sekali berperang
bersama Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām.
Maka pada saat itu,
teman-teman sekalian,
juga diambil pelajaran penting di sini,
terutama bagi seorang pemimpin.
Umumnya seorang muslim.
Kalau kita ditanya—
pertanyaan, teman-teman sekalian,
jawab sesuai dengan kadar kebutuhan.
Nggak usah panjang lebar.
Ditanya,
“Mau ke mana?”
“Ke masjid.”
Nggak usah cerita,
“Saya ke masjid, habis itu saya mau ke pasar, habis itu saya mau ke rumah teman.”
Nggak perlu.
Orang tanya sekarang,
“Mau ke mana?”
Ya ke situ, selesai.
Nggak perlu.
Kita nggak perlu jelaskan,
kecuali materi pelajaran,
harus dirincikan, mungkin.
Sebagaimana juga kalau antum
dikhianati orang, atau orang berbicara masalah ghibah-fitnah,
ada orang konfirmasi,
tabayyun,
jelaskan poin penting saja.
Selesai.
Nggak perlu panjang lebar.
Kuasa Allah Subhanahu wa Ta'ala
nanti menjelaskan masalah itu.
Karena kita nggak perlu
habisin waktu umur untuk itu.
Makanya ini pelajaran penting
bagaimana Nabi ﷺ ditanya.
"Ya Rasulullah,"
Abu Bakar yang tanya, sahabat dekatnya.
“Apakah Anda mau menyerang Romawi?”
“Bukan.”
Kalau Abu Bakar nggak nanya lagi,
Nabi nggak akan jelasin.
“Apakah Anda mau Hawazin?”
“Bukan.”
“Apakah Anda mau Quraisy?”
“Iya.”
Titik.
Nggak pakai,
“Iya, kita akan serang dari sini, masuk dari sana.”
Nggak ada.
Padahal Abu Bakar.
“Iya,”
selesai.
"Siapkan peperangan."
Nabi nanti yang atur strateginya.
Dan kita akan lihat nanti
dalam menyerang Mekkah ini,
Nabi ﷺ berikan instruksi bertahap,
sampai tiba nanti di Mekkah.
Jadi nggak semua dari awal diinstruksikan.
Pasukan jalan ikuti saja instruksi, tunggu.
Istirahat, istirahat.
Melangkah ke kanan, ke kanan.
Instruksi seperti itu dan mereka dilatih
untuk patuh dengan pemimpin.
Nabi 'alaihi sholatu wassalam,
teman-teman sekalian,
memerintahkan agar semua sahabat terdekatnya
merahasiakan penyerangan tersebut.
Lalu Nabi ﷺ juga mengutus beberapa sahabat
untuk mengajak seluruh suku Arab
yang tinggal di sekitar Madinah,
yang sudah masuk Islam,
untuk bersiap-siap.
Dan dalam hari itu saja,
waktu Abu Sufyan tinggalkan
untuk pulang ke Mekkah,
butuh tiga hari
tiga malam perjalanan.
Maka waktu itu,
hari yang sama Abu Sufyan keluar,
Nabi ﷺ sudah mengumpulkan pasukan.
Dan terkumpul waktu hari itu saja:
7.500 orang.
7.500 orang sudah cukup
untuk meruntuhkan Mekkah.
Dan ini pasukan jihad.
Orang yang mau mati syahid.
Para sahabat bingung,
akan ke mana kira-kira Nabi ﷺ,
karena jumlahnya banyak.
Kalau sekarang kan bisa orang melalui media,
melalui handphone, sebarin,
“Rasulullah akan ke Mekkah,” misalnya.
Orang zaman dulu nggak ada.
Pasukan yang di belakang
nggak ngerti mau ke mana.
Apalagi ini pasukan intinya
disuruh diam semuanya.
Beberapa sahabat,
berpikir:
“Mau ke mana, ya?
Bagaimana caranya kita tahu?”
Tanya Nabi ﷺ,
Nabi cuma mengatakan,
“Jihad.”
Nggak ada penjelasan.
Maka mereka mencari siapa
di antara sahabat yang ahli syair.
Ditemukan Sa’d ibn Malik
radhiyallahu ‘anhu.
Sa’d ibn Malik ini penyair
yang masyhur sekali.
Dia termasuk yang masuk Islam
pada Bai’at ‘Aqabah di Mekkah,
awal kaum Muslimin.
Lalu dia mendatangi Nabi ﷺ seray
Resume
Read
file updated 2026-02-14 05:17:00 UTC
Categories
Manage