Transcript
bib6rzG4OR8 • Sirah Nabawiyah #21 : Pembebasan Kota Makkah [Part 1] - Khalid Basalamah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0323_bib6rzG4OR8.txt
Kind: captions Language: id Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, lisan kita selalu memuji Sang Pencipta, Allah, dalam segala keadaan. Baik kita lagi sehat ataupun sakit, kaya ataupun miskin, muda ataupun tua, dalam segala keadaan, seorang mu’min di dunia— sampai di surga pun selalu memuji Tuhannya: Alhamdulillah. Dan seorang mu’min sangat memahami dengan setulus hatinya, kalau kalimat "Alhamdulillah" adalah kalimat yang telah dijadikan oleh Sang Pencipta, Allah, untuk "menyambung hubungan dengan-Nya". Karena dianggap atau dijadikan sebagai kalimat syukur, berterima kasih, atas adanya penciptaan dan segala nikmat yang melimpah. Maka tentu sangat wajar kalau seorang Muslim dan mu’min selalu mengucapkan Alhamdulillah. Dan juga kita menjadikan salam hormat kita, selalu saja shalawat dan taslim— penuh dengan cinta, rindu, dan ketulusan hati— kepada manusia yang paling layak untuk dijadikan sebagai suri teladan, manusia yang telah membawa— seluruh manusia, tidak terkecuali, setelah beliau diutus— menjadi Nabi dan Rasul, dari kegelapan kepada keterangan, dari syirik dan kufur kepada tauhid dan beriman. Serta membawa manusia agar lebih mengenal Tuhannya, Allah, dan juga membawa agama terakhir, atau ajaran yang terakhir, atau syariat yang terakhir, yang dibawa oleh Allah atau yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam menyempurnakan agama Islam yang telah Allah turunkan sebelumnya. Dan seorang mu’min dianjurkan agar mengucapkan salam hormat kepadanya, dan akan dibalas langsung sepuluh kali tambahan rahmat oleh Sang Pencipta, Allah, dengan mengucapkan satu kali saja salam hormat. Yang berarti rahmat tersebut adalah pengampunan dosa, peninggian derajat, dan juga tentu pemenuhan segala kebutuhan. Maka sangat wajar sebagai seorang mu’min kita mengatakan shalawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad Shallallahu Ala Alihi Wa Sahbihi Wassalam. Melanjutkan bahasan Sirah Nabawi, yang mulia— sejarah manusia terbaik di muka bumi ini— dan beruntunglah orang-orang yang menjadi pengikutnya. Kita melanjutkan, dan pagi ini semoga Allah berkahi, serta juga nanti malam dan besok pagi. Saya sudah meminta kepada teman-teman panitia, agar tiga pertemuan semuanya, diisi dengan sirah. Termasuk besok Subuh insyaAllah, agar materi kita tidak terlalu jarak atau tidak terlalu lama waktunya, dan bisa diselesaikan. Dan pada pagi ini insyaAllah kita masuk ke Pembebasan Kota Mekkah. Sebab utama terjadinya penyerangan ke Mekkah oleh Baginda Nabi ﷺ, adalah: perseteruan yang terjadi antara dua suku: suku Bakar, dan suku Khuza’ah. Kalau teman-teman masih ingat, di Kesepakatan Hudaibiyah, waktu Nabi ﷺ dilarang dan dihadang oleh Quraisy untuk masuk ke Mekkah mengerjakan umrah, terjadi Kesepakatan Hudaibiyah. Banyak sekali poin-poin yang sudah kita jelaskan. Salah satunya adalah, akan— dihilangkan peperangan selama 10 tahun antara Muslimin dengan orang-orang Quraisy. Dan siapa suku Arab yang ingin bergabung menjadi sekutu Quraisy, dipersilakan. Dan siapa suku Arab yang mau bersekutu dengan Muslimin, dipersilakan. Maka ada dua suku yang tinggal di sekitar Mekkah— mereka dari dulu berseteru, perang terus. Suku Bakar, yang akhirnya, menjadikan diri mereka sebagai sekutu Quraisy, dan suku Khuza’ah, yang akhirnya menjadikan— diri mereka sekutu Muslimin. Dan tentu makna sekutu adalah, kalau dalam perjanjian peperangan, kalau seandainya ada yang mengganggu sekutu tersebut, berarti sama saja— mengganggu pemilik perjanjian asal. Jadi misal, ada yang mengganggu suku Bakar, berarti mereka mengganggu Quraisy. Ada yang mengganggu suku Khuza’ah, berarti mereka mengganggu Muslimin. Sepertitulah. Teman-teman sekalian, setelah terjadi kesepakatan tersebut, yang tadinya suku Bakar sama suku Khuza’ah sering berperang, akhirnya mereka berhenti berperang karena harus mengikuti akad— 10 tahun tidak boleh berperang. Sebelumnya, sebelum akad ini, suku Bakar ini, yang menjadi sekutu Quraisy, selalu dikalahkan oleh suku Khuza’ah. Tidak pernah menang, selalu kerugian di pihak mereka. Dan mereka berpikir menjadikan Quraisy sebagai sekutu karena mereka menganggap bahwa Quraisy lebih kuat dari Muslimin. Seperti itu gambaran mereka. Dan tidak ada satu pun dari suku Bakar yang masuk Islam. Sementara suku Khuza’ah, dan kalau teman-teman review jauh lebih ke belakang lagi, Khuza’ah ini, suku yang pertama hijrah dari— dari Yaman, terus kemudian ketemu dengan Hajar dan Ismail di Mekkah. Jadi mereka termasuk penduduk Mekkah yang pertama. Suku Khuza’ah ini, mayoritasnya masuk Islam. sebagian kecil di antara mereka yang belum masuk Islam. Makanya mereka memilih Muslimin sebagai sekutunya. Suku Khuza’ah karena menganggap bahwa sudah ada kesepakatan damai, maka mereka pun melucutkan senjata, dan mereka masuk ke dalam Mekkah tidak bawa senjata. Sebelum ada kesepakatan perdamaian ini, selalu setiap orang siap siaga dengan senjata. Karena bisa diserang setiap saat. Salah satu pimpinan suku Bakar, yang bernama Naufal, bin Muawiyah Ad-Daili. Naufal bin Muawiyah Ad-Daili ini, adalah pimpinan suku bakar. Dia merasa terganggu, dengan akad ini. Karena dia berharap, melihat atau mendapatkan kelalaian Khuza’ah, lalu dia membalas kekalahan-kekalahan yang dulu. Karena belum pernah menang dalam peperangan. Pasti mereka kalah. Naufal pada saat itu, melihat rupanya, ada banyak dari suku— Khuza’ah, masuk ke Mekkah di depan mata dia, tidak pakai senjata. Sementara dia sendiri, karena sekutu Quraisy— seperti orang Quraisy— di kota sendiri boleh bawa senjata, yang penting tidak mengganggu orang. Maka Naufal melihat ada banyak suku-suku— Khuza’ah yang berlalu-lalang di depan mata dia, dan dia tahu ini dulu adalah para prajurit-prajurit Khuza’ah. Maka dia pun terganggu, lalu dia mengatakan kepada tokoh-tokoh Quraisy, “Sungguh ini kesempatan kami membalas kekalahan-kekalahan kami sebelumnya, dari suku Khuza'ah. Dan kami ingin, wahai Quraisy, kalian mendukung kami. Sekarang ini saya mau bunuh nih orang-orang ini. Kesempatan. Bantai sekarang, dukung kami. Walaupun harus berkhianat dari kesepakatan.” Sebagian besar tokoh-tokoh Quraisy menolak, “Nggak bisa. Akad. Kita harus sepakat. Orang-orang nanti di Jazirah Arab akan berkata apa tentang Quraisy? Mengkhianati kesepakatan? Nggak mungkin. Setelah 10 tahun silakan." Tapi rupanya ada beberapa tokoh-tokoh muda Quraisy yang mendukung itu. Karena memang mereka jengkel dengan kaum Muslimin. Dan juga, mereka berpikir, akad ini sebenarnya hanya untuk membuat Quraisy menyusun kekuatan mereka. Seperti misalnya Ikrimah bin Abi Jahl, tentu ini nanti akan masuk Islam, pembebasan kota Mekkah— karena dia tahu ayahnya, Abu Jahl, terbunuh di Perang Badar, dan dia masih jengkel, menyimpan dendam itu. Maka dia mengatakan, “Lakukan. Saya akan di belakang kalian.” Dan suku Abu Jahl yang dipimpin oleh Ikrimah— anaknya ini— termasuk suku yang terbesar di Mekkah. Makanya Abu Jahl waktu masih hidup dianggap sebagai pemimpin Mekkah, karena dari sekian banyak suku Quraisy di Mekkah, suku dia yang paling banyak pengikutnya atau anggotanya. Kemudian juga, uniknya pada saat itu, karena Ikrimah ini bersahabat dekat dengan tokoh Quraisy yang lain, yang juga— ayahnya terbunuh di Perang Badar, namanya Shafwan, bin Umayyah bin Khalaf. Ayahnya juga, Umayyah bin Khalaf, terbunuh di Perang Badar. Makanya dia juga berdiri memberikan dukungan. Yang lebih unik lagi adalah, seseorang tokoh Quraisy, yang bernama Suhail bin Amr. Suhail bin Amr ini penulis akad. Dia yang datang bernegosiasi dengan Nabi ﷺ untuk menulis akad, bahwasannya tidak akan ada pengkhianatan. Dia juga berdiri dan memberikan dukungan. Dan yang terakhir, yang keempat, adalah Huwaid. Huwaid bin Abdul ‘Izz ini, dia adalah saksi di Kesepakatan Hudaibiyah. Dia pun berdiri mengatakan, “Saya dukung kamu, hai Naufal.” Maka dengan berdirinya empat orang ini berarti ada empat suku besar— di Mekkah yang mendukung pengkhianatan kesepakatan itu. Maka dengan kesepakatan ini, tokoh-tokoh Quraisy yang lain, yang tadinya tidak mendukung, diam. Tidak mendukung, tidak juga mengatakan tidak. Maka Naufal melihat dukungannya besar sekali. Dia pun mengajak sukunya, lalu menunggu kesempatan yang tepat. Beberapa malam setelah kejadian tersebut, Naufal mendapatkan mayoritas suku Khuza'ah, mayoritasnya, jumlahnya ribuan orang— itu sedang menginap di luar wilayah Haram, karena itu tradisi mereka. Besoknya, mereka masuk untuk tawaf, baik itu di antara mereka, Muslimin, atau orang kafirnya. Di malam itu, Naufal membawa pasukannya dalam kondisi Muslimin dan orang-orang non-Muslim ini sedang beristirahat. Kaum Muslimin mayoritasnya bahkan sedang shalat malam waktu itu. Mereka sedang membaca Al-Qur’an. Maka diserang tiba-tiba. Penyerangan tiba-tiba ini karena mayoritasnya suku Khuza'ah Muslimin dan mereka lagi shalat malam. Maka mereka engah, tapi tidak sempat punya persiapan. Terbunuhlah tiga orang pada saat itu. Setelah terbunuh tiga orang, mayoritas suku Khuza'ah berlarian, melarikan diri karena suku Bakar ini menyerang dengan pasukan intinya. Maka mereka pun lari di malam hari, sampai mereka masuk ke wilayah haram. Dan tepatnya, mereka mendekati rumah pimpinan mereka. Suku Khuza'ah punya pimpinan pada satu kepala suku. Kebetulan tidak ada di situ, bernama: Budail ibn Warqa. Budail ibn Warqa ini, radhiyallahu ‘anhu: sahabat. Dia masuk Islam, tapi dia tidak ada di situ. Karena dia kepala suku, dia beli rumah di Mekkah. Setiap kali dia datang ke Mekkah, dia menginap di situ. Dan itu diizinkan oleh Quraisy, karena dia kepala suku. Orang-orang— Khuza'ah sempat teriak mengingatkan Naufal sambil berkata, “Hai Naufal, ingatlah ini wilayah haram, ini wilayah haram. Takutlah pada Tuhanmu!” Karena Naufal juga beriman kepada Allah sebenarnya, cuma mereka adalah orang-orang musyrik. Mereka menyekutukan Allah ﷻ dengan patung-patungnya. Tahu Allah subhanahu wa ta'ala, tahu kalau Ka'bah ini adalah rumahnya Allah. Sebagaimana kita tahu juga pada saat Abrahah akan menyerang, mayoritas masyarakat Mekkah penyembah berhala. Tapi mereka— mengetahui kalau Ka'bah rumahnya Allah. Dan setelah kejadian Abrahah yang dihancurkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, mereka— mengenang itu dengan mengatakan itu adalah Tahun Gajah, tahun di mana Baginda Nabi ﷺ lahir. Jadi mereka sebenarnya mengenal Allah. Waktu diingatkan begitu, Naufal— karena yang bergelora dalam hatinya adalah dendam— maka dia mengatakan, “Tidak ada lagi Tuhan kalian hari ini, dan kami akan membunuh kalian semuanya.” Pada saat itu, waktu pas suku Khuza'ah tiba di depan rumahnya Budail bin Warqa radhiyallahu ‘anhu, dan karena tengah malam, tidak ada yang bukain pintu, akhirnya terjadilah pembantaian massal pada saat itu. Dan mereka mencoba melawan, mempertahankan diri, sehingga akhirnya terbunuh 20 orang. Jadi total yang terbunuh dari suku Khuza'ah 23 orang: 3 orang di luar wilayah Haram, 20-nya di dalam wilayah Haram. Tentu ini— tercoreng sekali. Kalau orang-orang Quraisy, penduduk Mekkah asli, diserang oleh pasukan dari luar, lalu Mereka terbunuh di wilayah Haram, itu kemuliaan. Tapi kalau orang-orang Quraisy Mekkah yang berkhianat, dan membunuh orang lain di wilayah Haram, ini pelanggaran besar. Baik dalam syariat kita, tidak boleh membunuh di wilayah Haram, tidak boleh mencabut pohonnya, tidak boleh membunuh hewannya, dan seterusnya. Kecuali hewan-hewan yang dibolehkan dibunuh, seperti tikus, kalajengking, ular, dan seterusnya. Maka di dalam pemahaman mereka pun (orang Quraisy) ini pelanggaran. Kodi etiknya itu dilanggar sama dia. Wilayah Haram tidak boleh sama sekali. Terus saja terjadi peperangan sampai menjelang pagi. Pada saat tiba pagi, karena orang-orang Quraisy sudah khawatir, jangan sampai tersebar berita ke Madinah, terhadap pengkhianatan ini, maka mereka pun memerintahkan agar suku Bakar bubar. Nggak boleh lagi, Naufal pun disuruh berhenti. “Sudah selesai. Malam hari kami masih bisa alasan kalau kami tidak tahu kejadian.” Maka dibubarkanlah. Bubarlah pada saat itu. Dan ini jelas sekali, teman-teman, pengkhianatan terhadap akad. Sebagaimana saya jelaskan tadi, akadnya adalah: yang mengganggu sekutu, berarti sekutunya juga terganggu. Seperti itulah. Suku Khuza'ah sekutu Muslimin, berarti sama saja Quraisy yang sedang menyerang Muslimin. Berarti akad batal. 10 tahun itu batal. Berarti tidak lagi ada akad, tidak ada peperangan 10 tahun. Bisa setiap saat terjadi peperangan. Terlebih lagi pembunuhan tersebut terjadi di wilayah Haram. Dan ini masalah yang sangat besar, ya. Khuza'ah lalu segera berkumpul pada saat itu dan membicarakan kejadian— bersama dengan pimpinan mereka, Budail bin Warqa radhiyallahu ‘anhu ajma'in. Maka mereka mengutus seorang penyair ke Madinah, namanya Amr bin Salim radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi juga yang mulia ini. Amr bin Salim ini seorang penyair. Dan zaman dulu, orang kalau mengantar... surat, informasi penting, penyair yang dikirim. Kalau kita mungkin seorang duta. Orang yang punya orasi, orang yang bisa berbicara, tutur katanya atur rapi, dan dia bisa menyusun kata yang ringkas, padat, memberikan informasi yang tepat. Seperti itulah. Amr bin Salim disuruh oleh Budail, pergi ke Madinah. Jangan berhenti. Non-stop jalan, nggak ada istirahat. Dia pun pergi. Ini masalah besar. Karena pagi harinya ini— tadi malam pembantaian— jangan sampai suku Bakar menyerang lagi hari ini. Satu orang ini pergi ke Madinah menyampaikan kepada Nabi ﷺ. Yang lainnya, siap siaga, jangan sampai ada penyerangan. Bahkan lebih jauh daripada itu, Budail radhiyallahu ‘anhu, bin Warqa ini, berusaha untuk menyusun pasukan dan niat untuk menyerang Mekkah, di mana Nabi ﷺ memberikan isyarat kepada beliau untuk menyerang. Amr bin Salim lalu menuju ke Madinah non-stop, tanpa istirahat. Dan kemudian sampai di Madinah, melihat dan menemui Nabi ﷺ sedang duduk di dalam masjid bersama dengan para sahabat. Langsung, begitu dia berdiri, mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Langsung dia menyebutkan syairnya. Syairnya yang masyhur. Dia mengatakan: “اللَّهُمَّ إِنِّي نَاشِدٌ مُحَمَّدًا” “Ya Allah, sungguh aku sedang menyampaikan informasi penting kepada Muhammad.” “حِلْفَ أَبِينَا وَأَبِيهِ أَفْلَدَا” “Sesungguhnya, kesepakatan ayah kami dan ayahnya telah dikhianati.” Ini bahasa orang Arab. Maksudnya: "Kesepakatan yang sudah kita iyakan, dan ayah kita yang menjadi taruhannya— artinya, “membawa nasab kita ini— itu dikhianati. "قَدْ كُنتُمْ مُوْلًى وَكُنَّا وَالِدَا" “Ingatlah, kalian adalah anak-anak kami dan kami di posisi orang tua kalian.” Apa maknanya ini? Suku Khuza'ah— sebagaimana saya jelaskan tadi, teman-teman sekalian, adalah: suku yang hijrah dari Yaman. Di awal sekali ketemu dengan Hajar dan Ismail ‘alaihimussalam. Kemudian waktu itu belum ada Quraisy. Belum ada suku Quraisy. Khuza'ah yang pertama datang. Kemudian menikahlah Ismail ‘alaihissalam dengan anak kepala suku Khuza'ah. Dalam awal-awal kisah sirah kita dulu, kita pernah sampaikan itu. Kemudian lahirlah keturunan-keturunan yang cukup banyak, dan di antaranya Fikhr. Fikhr ini nama lainnya Quraisy. Lalu lahirlah suku-suku yang sangat banyak di Mekkah pada saat itu. Maka di sini diingatkan, "Kalian adalah anak-anak kami," bahasa ini kepada Muslimin di Madinah yang asalnya dari Mekkah, "dan kami adalah di posisi ayah-ayah kalian." "ثَمَّ إِسْلَمْنَا وَلَمْ نَنْزِعْ يَدًا" "Ingatlah, ketika kami telah masuk Islam, kami tidak pernah berkhianat." "إِنَّ قُرَيْشًا أَخْلَفُوكَ الْمَيْعَدَا" "Ketahuilah, Quraisy telah mengkhianati kesepakatan Anda." "وَنَقَضُوا الْمِيثَاقَ قَسْمًا مُؤَكَّدًا" "Dan mereka telah mencoreng— kesepakatan suci yang telah dibakukan." "فَانْصُرْ هَدَاكَ اللَّهُ نَصْرًا أَيَّدَا" "Maka tolonglah, semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk dengan pertolongan yang benar." "وَادْعُ عِبَادَ اللَّهِ يَأْتُوا مَدَدَا" "Kumandangkanlah, panggilkanlah seluruh hamba-hamba Allah, biar mereka datang seluruhnya." "فِيهِمْ رَسُولُ اللَّهِ قَدْ تَجَرَّدَا" "Di antara mereka, Rasulullah sendiri akan memimpin." Permintaannya agar Rasulullah memimpin peperangan, "Dan, mereka sudah tahu itu, tapi mereka tetap berkhianat." Maksudnya orang-orang Quraisy. "فِي فَيْلَقٍ كَالْبَحْرِ يَجْرِي مُزْبِدَا" Pada pasukan yang banyak, dan di wilayah Faydaq, atau Faylaq, ini wilayah di Mekkah. Sebagian ulama juga mengatakan bikal bahr ini juga nama wilayah. Bisa saja berarti Faylaqin adalah jumlah pasukan yang besar, atau Faylaqin nama wilayahnya. Dikatakan, pada wilayah Faylaqin telah terjadi perkara pengkhianatan, pembantaian massal. "هُمْ بَيَّتُونَا بِالْوَتِيرِ هُجَّدَا" "Mereka menyerang kami saat kami lagi istirahat di malam hari." "نَتْلُو الْقُرْآنَ رُكَّعًا وَسُجَّدَا" "Sebagian besar di antara kami sedang membaca Al-Qur’an, baik dalam keadaan rukuk ataupun sujud." "وَجَعَلُوا بِفِدَاءٍ رَصَدَا" "Mereka menjadikan tebusan diri-diri mereka itu, dengan menyangka mereka akan selamat." "وَزَعَمُوا أَنْ لَسْتُ أَدْعُو أَحَدَا" "Mereka mengira bahwasanya aku tidak akan memberitahukan kepada siapa pun." "وَهُمْ أَذَلُّ وَأَقَلُّ عَدَدَا" "Sementara mereka sebenarnya terhina." Jumlahnya tidak banyak pada saat itu. Orang Quraisy pun kalau bergabung tidak banyak. "Dan, kekuatannya sangat sedikit." Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām, paham betul isi syair ini, tahu apa yang dimaksud. Dan orang-orang Arab tahu kalau penyair yang datang berarti informasi penting. Maka Nabi ﷺ tidak banyak bertanya. Beliau cuma mengatakan: “Engkau telah dimenangkan, wahai ‘Amr bin Salim. Engkau telah dimenangkan, wahai ‘Amr bin Salim,” Seraya Nabi ﷺ berubah raut wajah beliau karena marahnya, dan menepuk paha beliau. Dari sisi lain, Budail bin Warqa radhiyallahu ‘anhu, di Mekkah, di sekitar Mekkah, bukan di Mekkah— di luar Mekkah, karena suku Khuza‘ah tinggal di luar Mekkah, mayoritasnya. Sebagaimana pernah saya jelaskan, waktu jauh sebelum lahir Nabi ﷺ, sempat suku Khuza‘ah berkuasa full di Mekkah. kemudian datang suku— oh, mohon maaf saya keliru menyebutkan ini. yang datang ke Mekkah dulu suku Jurhum, ya. Suku Khuza‘ah ini justru suku yang datang pada saat itu merebut Mekkah. Keliru saya, mohon maaf ini. Saya luruskan kembali. Kalau suku yang datang ke Mekkah dulu suku Jurhum—ini suku Khuza‘ah. Dan yang dimaksud dengan perkataan tadi suku Khuza‘ah ini adalah suku Khuza‘ah yang— datang dan menguasai Mekkah setelahnya. Maka Budail bin Warqa, membagi pasukannya atau membentuk sukunya di luar Mekkah untuk menyerang Mekkah. Dan setelah tersusun pasukan yang kuat, persiapan untuk menyerang Mekkah, beliau pun pergi ke Madinah sendiri, menyampaikan secara khusus berita ini dengan lengkap kepada Nabi ﷺ. Karena tadi ‘Amr bin Salim, hanya menyampaikan garis besarnya: pengkhianatan. Maka datanglah Budail mengingatkan tentang semuanya, atau menyampaikan informasi lengkapnya. Dari sisi lain, Quraisy juga sudah mulai berkumpul di hari itu, bermusyawarah tentang kejadian pengkhianatan tersebut. "Bagaimana ini sekarang? "Terlanjur terjadi," sebagian mereka mendukung. Salah satu yang ikut dalam musyawarah: seseorang yang bernama ‘Abdullah bin Sa‘d bin Abī Sarḥ. ‘Abdullah bin Sa‘d bin Abī Sarḥ. Ini ikut dengan Quraisy. Siapa orang ini? Orang ini nanti, teman-teman sekalian, kita akan temukan— salah satu dari 10 orang yang wajib dibunuh, pada saat Nabi ﷺ masuk ke dalam— kota Mekkah nantinya. Orang ini pernah masuk Islam, tapi dia pura-pura masuk Islam. Diutus oleh Quraisy, khusus untuk menjadi orang munafik. Dia ke Madinah, iklankan Islamnya. Karena dia orangnya, memiliki bahasa yang bagus, dan dia ahli menulis, maka oleh Nabi ﷺ ditunjuk sebagai penulis wahyu. Dia menulis wahyu, wahyu turun dia tulis. Dia kemudian juga, beberapa orang sahabat-sahabat Nabi yang lain, yang memang ahli tulis dari Mekkah disuruh menulis. Di antaranya: ‘Abdullah bin Abi Sarḥ ini, Abdullah bin Sa'ad ini. ‘Abdullah bin Sa‘d ini, teman-teman sekalian, setelah dia dipercaya oleh Nabi ﷺ, dia tulis banyak ayat-ayat Al-Qur’an, setelah sudah mapan, dianggap dia adalah salah satu sahabat yang dimuliakan, maka dia pulang ke Mekkah, lalu dia iklankan kalau dia murtad, untuk memukul— kejiwaan, keimanan muslimin. Lalu dia mengatakan, bahwasanya: "Dulu, saya waktu di Madinah, menulis wahyu, saya sudah mengarang-arang dan menambah-nambah Al-Qur’an. Itu semua banyak yang tidak benar itu, karena saya yang tulis." Maka Nabi ﷺ menerangkan kepada Muslimin, dan tentu karena— Nabi ﷺ seorang Nabi, maka Muslimin percaya. maka Nabi ﷺ mengatakan: “Demi Allah, ia telah dusta!” Karena ia, pada saat itu tidak memalsukan tulisan Al-Qur’an sama sekali. Allah telah menjaga.” Dia betul-betul murni menulis apa adanya, kemudian dia murtad. ‘Abdullah ini berkata kepada Quraisy: “Akulah, orang yang paling mengenal Muhammad dari kalian semua. Aku kan sudah jadi sahabatnya, sekian tahun tinggal bersamanya. Ketahuilah, kalau Muhammad tidak akan memerangi kalian sampai ia menawarkan kepada kalian tiga hal.” Itu peraturan dalam agamanya dia, harus seperti itu, terutama kalau terjadi pengkhianatan seperti ini. Maka Quraisy berkata, “Apa itu, wahai ‘Abdullah? Apa tiga hal itu?” ‘Abdullah berkata, “Kalau yang pertama, ia pasti akan menawarkan kepada kalian untuk membayar diyat," atau denda korban suku Khuza‘ah tadi, yang 23 orang, "dan masalah akan selesai. Bayar saja." Berapa diyat-nya 1 orang, kali 23, bayarkan. Quraisy menjawab, “Demi Allah, Khuza‘ah tidak akan membiarkan harta kita, kecuali akan menghabiskannya. Maka kami tidak akan menerima poin itu.” Karena nanti, dalam peraturan pada saat itu— atau sampai sekarang pun, teman-teman sekalian, diyat ini, kalau ada orang membunuh orang lain, maka keluarganya orang yang dibunuh punya hak untuk menentukan diyat. Misal dia minta: "Bayarlah kepada kami 100 juta, maka kami bebaskan. Tidak ada hukum." misalnya contoh. Itu namanya diyat. Dan biasanya ini yang menentukan, keluarga mayit. Maka Quraisy bilang, “Kalau Khuza‘ah kita berikan kesempatan untuk menuntut 23 orang dari anggotanya itu, maka dia bisa ambil satu Mekkah, nih. Mereka minta bayar tapi dengan satu Mekkah, misalnya. Kami tidak mau terima itu.” "Apa poin kedua, hai ‘Abdullah?" tanya orang-orang Quraisy. ‘Abdullah menjawab, “Kalian akan diminta membiarkan suku Bakar dihukum oleh Muhammad, tanpa kalian campuri, karena mereka yang telah berkhianat.” Maka Quraisy menjawab lagi, “Demi Allah, bila kita tidak membela sekutu kita, maka setelah hari ini tidak akan lagi ada orang yang mau bersekutu dengan kita. Walau mereka berkhianat, tetap kita bela.” Ini prinsip orang kafir. Kalau kaum muslimin, tidak mungkin. Orang berkhianat, ya berkhianat, gitu kan. Tapi ada konsep taubat. Kalau dia sudah bertobat, itu beda. Maka, kata Quraisy, “Apa yang ketiga?” Kata Abdullah, “Pedang. Perang. Nggak ada lagi sudah. Kalau kalian nolak bayar diyat, kalian nolak juga membiarkan Bakar dihukum oleh Muhammad.” Tentu kita mengatakan, "ﷺ", ini bahasanya Abdullah pada saat itu. "Maka tentu dia akan memerangi kalian." Abdullah pada saat itu mengatakan perang, maka— mereka pun (orang-orang Quraisy) pada saat itu bingung. "Nggak ada pilihan lain, berarti kita harus perang sekarang masalahnya." Dan waktu itu kebetulan, kondisi Mekkah berbeda sekali dengan kondisi— pada saat persiapan Perang Uhud. Karena kebanyakan waktu itu mayoritas penduduk Mekkah, dari tokoh-tokohnya, sedang keluar. Berdagang ke negeri Syam. Kemudian juga, mereka tidak punya persiapan untuk perang. Sementara Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām— ini keutamaan, ya. Semestinya terjadi pada pemerintahan muslim: selalu punya persiapan. Ayat Al-Qur’an yang berbunyi: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ Persiapkanlah dari kekuatan yang kalian miliki. Untuk punya persiapan, kapan dibutuhkan, siap, maka itu menjadi prinsip dasar. Maka di Madinah, setiap saat kalau Nabi mengatakan, "Jihad!" kumpul tiba-tiba. Sebagaimana nanti kita lihat, dalam satu kali ucapan panggilan jihad saja, 7.500 pasukan sudah terkumpul di depan Masjid Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Jadi beda dengan orang kafir. Harus dirayu dulu, ditawarkan apa, negosiasi dulu. Butuh waktu yang lama. Karena ini masalahnya mati, dan mereka tidak tahu mati itu punya surga, dan beda dengan kaum muslimin umumnya. Maka pada saat itu Abu Sufyan berkata, “Aku punya pendapat. Kita utus saja seseorang ke Madinah, untuk menemui Muhammad dan memperbarui akad, agar permasalahan selesai. Sebelum informasi tiba ke Muhammad." Mereka tidak tahu kalau ‘Amr bin Salim tadi sudah tiba, dan Nabi ﷺ sudah tahu permasalahannya. Seseorang berkata, “Apakah kita memberitahukan Muhammad, sebelum Khuza’ah mendatanginya? Dan apakah kita akan mengatakan, kalau telah terjadi pengkhianatan di Mekkah, lalu kemudian kita mau memperbarui akad supaya tidak ada peperangan?” Kata Abu Sufyan, “Kita katakan, ‘Iya, perbarui akad,’ tapi tidak usah diceritakan kalau— Bakar berkhianat.” Maka serentak orang Quraisy mengatakan, “Kalau begitu, berangkatlah wahai Abu Sufyan ke Madinah. Engkau yang mewakili kami.” Dalam buku-buku sirah disebutkan, Abu Sufyan pun berangkat waktu itu ke Madinah, dengan beberapa orang yang mengawalnya, sampai ia memasuki pintu gerbang Madinah, dan ia menemui: Budail bin Warqa, dan beberapa suku Khuza’ah baru keluar dari Madinah. Lalu Abu Sufyan tanya, “Apa yang membuat kalian berada di Madinah?” Kata Budail, “Kami hanya datang berkunjung.” Abu Sufyan bertanya, “Apakah kalian memiliki kurma dari Madinah yang kalian makan juga untuk unta-unta kalian? Ada bukti nggak kalau kalian dari Madinah?" Kalau cuma jalan-jalan biasanya bawa oleh-oleh. Ada kurmanya. Dan yang paling banyak dibawa dari Madinah: kurma. Dari dulu sampai sekarang itu. Maka kata Budail, “Nggak ada.” Abu Sufyan sudah paham di situ, kalau orang datang menyampaikan informasi perang, nggak ada waktu makan-makannya. Itu kejeliannya mereka dalam memahami pada saat itu. Karena tidak ada— tidak ada media kayak kita sekarang untuk komunikasi, untuk mengetahui hal-hal, kecuali dengan cara seperti itu. Maka akhirnya, Budail pun tidak memperdulikan Abu Sufyan dan dia kembali ke Mekkah, karena Nabi ﷺ suruh kepada Budail bin Warqa: “Kembali, Temani sukumu. Tunggu sampai instruksi ku datang." Pulanglah Budail ke Mekkah, Abu Sufyan masuk ke Madinah. Abu Sufyan bingung mau temuin siapa di Madinah ini, supaya bisa dapat informasi apa yang bergelora, bergejolak di Madinah ini, apa informasi yang tidak ada yang ditahu, gitu. Maka dia berpikir, dan teringat dia punya anak kandung, Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha. Ini istri Nabi ﷺ, anaknya Abu Sufyan muslimah waktu itu, yang pernah kita ceritakan kalau Ummu Habibah ini— hijrah ke— Habasyah. Dan akhirnya, Nabi ﷺ maharnya diberikan oleh: An-Najasyi. Dan setelah itu dikirimlah, Ummu Habibah ke Madinah pada saat itu untuk menjadi pendamping Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Datanglah Abu Sufyan mengetuk rumahnya Ummu Habibah, setelah menanyakan sana-sini. Kemudian ditemukan alamatnya, datanglah ketuk. Lalu dibuka sama Ummu Habibah, disambut, ayahnya, mahramnya, walaupun dalam kondisi kafir. Belum saja berbicara, Ummu Habibah tetap diam, tunggu ayahnya mau bicara apa. Abu Sufyan masih berdiri, mau duduk. Rupanya rumah Ummu Habibah, zaman dulu orang tidak terlalu banyak ada kursi-kursi, orang banyak melantai. Ada satu tikar, tikar itu cukup tua, dilantai. Abu Sufyan lihat, dia mau duduk. Baru sambil duduk, baru berbicara gitu. Rumah anaknya sendiri. Dia kaget waktu dia mau duduk, tiba-tiba Ummu Habibah dengan cepat lari, menarik tikar itu. Tikarnya, tikar tua, gitu. Kata Abu Sufyan, bingung, dia bertanya, “Ada apa denganmu, wahai Ummu Habibah? Apakah tikar itu mahal sekali, padahal terlihat sudah sangat tua? Atau memiliki kedudukan khusus di matamu, sampai ayahmu saja nggak boleh dudukin?” Kata Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, dengan sangat jelas dan tegas: “Wahai ayahku, ini adalah tikar Rasulullah ﷺ, dan engkau dalam keadaan kafir dan najis, maka tidak layak engkau mendudukinya.” Maka Abu Sufyan kaget, heran. Anaknya, Ummu Habibah ini, terkenal sangat lembut sekali, santun sekali sama orang tuanya. Tapi pada saat itu tegas, gitu kan. Maka kata Abu Sufyan, “Wahai Ummu Habibah, sungguh engkau telah ditimpa keanehan dalam hidupmu, setelah meninggalkan Mekkah dan masuk Islam.” Akhirnya Abu Sufyan keluar dari rumah itu. Dia yakin, tikar saja nggak mau diduduki, apalagi dapat informasi, gitu. Ditinggalkan sama dia. Dia muter-muter, nyari apa yang harus dilakukan. Maka dia ambil kesimpulan: dia mau ke masjid langsung. Ketemu dengan Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Masuk ke masjid. Nabi ﷺ paling banyak waktunya habis di masjid. Kalau lagi nggak ada kegiatan di rumah, di luar, pasti duduk di masjid. Walaupun cuma ngobrol dengan sahabat-sahabat, gitu. Duduklah Nabi ﷺ waktu itu. Waktu Abu Sufyan masuk, Nabi ﷺ sedang duduk dengan para sahabat. Lalu Nabi ﷺ bilang waktu Abu Sufyan sedang menuju ke masjid, “Sebentar lagi Abu Sufyan akan masuk ke masjid ini.” Ada wahyu menyampaikan kepada Nabi ﷺ. Belum kelihatan Abu Sufyan. Tapi kata Nabi ﷺ: “Sebentar lagi Abu Sufyan akan datang menemui kalian di masjid ini, dalam rangka memperbarui kesepakatan Hudaibiyah. Karena mereka tidak setuju bayar denda pembunuhan, juga tidak mau menyerahkan suku Bakar.” Jadi apa yang mereka sepakati di Mekkah, Nabi sampaikan kepada muslimin. Wahyu. Pada saat itu, teman-teman sekalian, baru beberapa saat saja Nabi ﷺ mengucapkan itu, tiba-tiba Abu Sufyan masuk masjid, dan duduk di hadapan Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Lalu Nabi tanya, “Ada apa, wahai Abu Sufyan?” Mertuanya Nabi, ini. “Ada apa, wahai Abu Sufyan?” Abu Sufyan bilang, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kesepakatan di antara kita sudah bagus. Kita sama-sama merasa aman dengan tidak adanya peperangan. Juga kafilah-kafilah dagang kami sudah tidak terganggu lagi. Maka kami ingin memperbarui dan memperpanjang kesepakatan.” Ini lucunya, Nabi dan para sahabat sudah tahu kejadian ini. Dia bicara seakan-akan tidak ada yang mengerti, gitu. Nabi ﷺ bertanya, “Apakah kalian melakukan sesuatu sehingga kalian mau memperbarui dan memperpanjang akad?” Ditanya. Kata Abu Sufyan, “Tidak ada. Hanya saja kami mau memperbaruinya.” Kata Nabi ﷺ, “Kami tetap dalam kesepakatan. Dan kami tidak akan pernah berkhianat selamanya.” Perkataan Nabi ﷺ ini, memiliki makna yang sangat tinggi sebagai seorang pemimpin. Bagaimana menerima delegasi, dan mengatur kata-kata. Sehingga, walaupun dalam kondisi marah, tidak perlu emosional. Karena emosi membubarkan ide. Membubarkan semua ide-idenya. Kemudian dari sisi yang lain, Nabi ﷺ sudah mengatur. Sudah niat ingin menyerang Mekkah pada saat itu. Dan kalau ditunjukkan emosinya kepada Abu Sufyan, Abu Sufyan tahu nanti. Maka Nabi ﷺ cuma menjelaskan secara umum saja. Dan pada saat itu, teman-teman sekalian, kata sebagian ahli sejarah, ini merupakan strategi perang Nabi ﷺ. Beliau luar biasa dalam peperangan. Bisa dikatakan tidak pernah menginformasikan— pasukannya akan menyerang ke mana. Nanti ada dua saja, dalam buku-buku sejarah disebutkan, dua peperangan Nabi ﷺ dari sekian banyak peperangan, yang Nabi iklankan: Perang Khaibar— menyerang Khaybar, dan sudah kita jelaskan kisahnya pada— bahasan yang sebelum-sebelumnya. Bagaimana Nabi ﷺ iklankan, pulang dari kesepakatan Hudaibiyah, Nabi iklankan, “Kita akan menyerang Khaibar dan kita akan menang.” Iklan resmi. Kemudian nanti juga kita lihat, setelah pembebasan Kota Mekkah, setelah Perang Hunain, akan ada— Perang Tabuk. Ini juga Nabi ﷺ iklankan resmi. Dua saja peperangan. Yang lain, Nabi ﷺ selalu rahasiakan, sampai pasukan tidak tahu mau nyerang ke mana. Pokoknya ikut jihad. Pertama supaya niat mereka ikhlas. Yang kedua supaya rahasia— penyerangan terjaga. Abu Sufyan melihat kalau Nabi ﷺ tidak mau membuka diri, maka ia keluar dari masjid, guna mencari siapa kira-kira di antara Muslimin yang bisa diajak negosiasi ini. Setelah dia pikir-pikir, ternyata dia temukan memang Abu Bakar adalah sahabat Nabi yang paling dekat, sekaligus juga mertua. Berarti dia sama Abu Bakar, sama posisinya. Cuma, ini kafir (Abu Sufyan), ini Muslim (Abu Bakar). Lalu dia pergi ke rumahnya Abu Bakar dan berkata, “Engkau adalah sahabat Muhammad dan orang terdekatnya, maka perbaruilah akad. Kita buat akad baru sekarang, yang lalu anggap batal." Sepertitulah. “Dan, perbaruilah akad dan keamanan, serta lindungi orang-orang dari peperangan, dan engkau akan dikenang sepanjang masa. Abu Bakar radhiallahu 'anhu menjawab: “Demi Allah, kami tetap pada kesepakatan awal. Dan kami tidak akan pernah berkhianat, juga tidak akan melindungi di atas perlindungan Nabi Muhammad ﷺ. Kalau Nabi yang lakukan, kami ikut. Kalau nggak, nggak bakalan. Mustahil. Apa yang Nabi katakan, kami katakan.” Abu Sufyan melihat, Abu Bakar nggak ada gunanya. Maka dia pergi ke siapa? Ke Umar bin Khattab. Umar bin Khattab, siapa yang tidak kenal dengan ketegasannya? Dia pergi ke sana dan mengatakan, “Wahai Umar, engkau adalah sahabat terdekatnya Muhammad. Salah satu dari mertuanya. Maka perbaharuilah akad, selamatkan orang-orang dari peperangan.” Maka Umar berkata apa? “Aku melindungi kalian?” Tanda tanya. “Demi Allah, bila aku tidak menemukan kecuali seekor semut saja yang menyerang kalian, aku akan ikut sama semut itu untuk menyerang kalian. Kalau nggak ada yang bisa serang kalian kecuali semut, aku ikut sama semut itu. Nggak ada nih. Dari mana ini? Abu Sufyan berkata, “Semoga Allah balas engkau dengan keburukan, atas pemutusan silaturahim mu ini.” Abu Sufyan keluar dari rumahnya Umar. Nggak ada gunanya. Siapa nih? Cari orang terdekat. Dua anak mantu Nabi: Ali dan Utsman. Datang kepada Ali bin Abi Thalib. “Wahai Ali,” Ali dimulai, bukan Utsman. Utsman nanti setelahnya. “Engkau orang terdekat dari Muhammad, dan kami tahu engkau sangat dekat dengan Muhammad dari jalur nasab dan rahim. Sudah keluarga, anak mantu lagi. Maka lindungilah orang-orang dari peperangan.” Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu berkata: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sedang berpegang pada kesepakatan. yang tidak akan pernah ada yang berani melanggarnya kecuali beliau sendiri, ﷺ, yang melakukannya. Akad sudah ada, untuk apa diperbarui? Dan Rasulullah ﷺ tidak memberi informasi kepada kami untuk memperbaharui akad. Untuk apa diperbarui?” Abu Sufyan melihat, tidak ada lagi peluang kepada Ali. Ali bin Abi Thalib di rumah, kebetulan ada istrinya, Fatimah. Ada anaknya Hassan dan Hussein. Maka Abu Sufyan menghadap ke Fatimah. lalu berkata, “Wahai Fatimah, engkau adalah anaknya Muhammad, lindungilah orang-orang dari peperangan.” Saking takutnya Abu Sufyan di sini, teman-teman sekalian, sampai ke perempuan pun minta tolong. Karena waktu itu Mekkah kondisinya nggak bisa, nggak siap untuk berperang. Dan ada kejadian sebelumnya, kalau kita rentet sebelumnya, kalau mau dibicarakan bukan masalah keimanan, masalah umumnya kehidupan sosial manusia, maka ada Perang Ahzab, kalau antum masih ingat sebelumnya, Perang Khandaq, di mana Muslimin sebelum kesepakatan Hudaibiyah itu dikepung. Kalau secara history manusia, bukan masalah keimanan, ini sesuatu yang mendendamkan ini. Menyerang, kesempatan Muslim menyerang Mekkah semestinya. Tapi Muslim tidak menjadikan itu sebagai kesempatan untuk menyerang. Karena dianggap Perang Ahzab menang. Pasukan Quraisy dipermalukan. Selama 43–45 hari mengepung Madinah, tidak bisa tembus. Abu Sufyan lalu berkata, “Wahai Fatimah, engkau adalah anak Muhammad, maka lindungilah orang-orang dari peperangan.” Fatimah menjawab, “Sesungguhnya aku hanya seorang wanita.” Abu Sufyan lalu tunjuk anaknya— ada Hasan di situ, radhiallahu 'anhu. “Bawalah anakmu ini, atas namakan dia, supaya lindungi orang-orang.” Jadi saking takutnya, sampai anak kecil pun suruh lindungi. Maka Fatimah menjawab, “Dia masih kecil. Dan ketahuilah, tidak akan pernah ada yang berani melampaui Rasulullah ﷺ dalam kesepakatannya. Mustahil. Kamu datang ke siapa pun, tidak akan ada yang bisa bantu dalam masalah ini kecuali Rasulullah sendiri.” Abu Sufyan keluar dari rumah itu. Bingung, cari siapa lagi? Tinggal satu anak mantu Nabi ﷺ: Utsman bin Affan. Datang, “Wahai Utsman, engkau kan satu suku dengan aku. Sama-sama suku Umayyah.” Kalau masih ingat di kesepakatan Hudaibiyah dulu, itu ada— Nabi ﷺ pernah panggil Umar bin Khattab dan berkata, “Hai Umar, aku berpikir mengutusmu ke Mekkah, Temuilah Abu Sufyan, kemudian bilang, 'kita ini mau umrah, nggak usah ditahan.'” Tapi Umar kan bilang, “Ya Rasulullah, Anda tahu permusuhanku dengan Quraisy. Kalau mereka hina aku sedikit, perang loh di Mekkah ini.” Maka utus Utsman. Karena Utsman sesuku dengan Abu Sufyan. Sama-sama dari Bani Umayyah. Utsman juga lebih lembut. SUdahlah, utus dia saja." Kata Nabi ﷺ, “Pendapat yang benar.” Lalu diutuslah Utsman bin Affan. Ada kisah sendiri, pernah kita jelaskan masalah itu. Yang jelas, didatangilah, dan kata Abu Sufyan: “Wahai Utsman, kamu kan sesuku dengan aku, sama-sama dari suku Umayyah. Perbaruilah kesepakatan dan hentikan peperangan.” Utsman radhiallahu 'anhu mengatakan, “Aku mengikuti kesepakatan Rasulullah ﷺ. Rasulullah tetap dengan akadnya, kami iya. Rasulullah mengganti, ya kami ganti. Nggak ada pilihan lain.” Abu Sufyan keluar lagi, harus ada jalan keluar. Maka dia kembali kepada Ali. Lalu dia mengatakan, “Wahai Ali, berikan aku pendapat. Apa saranmu sekarang?" Ali bilang, “Aku tidak punya pendapat, karena permasalahannya berat.” Lalu Ali menyebutkan kalimat ini: “Pengkhianatan kesepakatan.” Abu Sufyan jadi menangkap, ternyata ini sudah diketahui oleh Muslimin. Karena Ali bin Abi Thalib mengucapkan “pengkhianatan.” Artinya, "Tanpa dijelaskan pun, kami sudah tahu sebenarnya kalian berkhianat." "Kalau engkau mau memperbarui," ini pendapatnya Ali, "maka perbaruilah sendiri. Bukankah kau pemimpin Quraisy, dan terkukuhkan di kalangan Arab? Kata Abu Sufyan, “Apakah kau lihat itu? Bagus nggak itu? Bisa nggak?" Kata Ali: “Tidak. Tapi tidak ada lagi pendapat lain, kecuali itu yang paling dekat. Kau masuk ke masjid, lalu kau perbarui sendiri.” Abu Sufyan karena dalam keadaan bingung, dia akhirnya lakukan itu. Dia pergi ke masjid Nabi ﷺ. Nabi masih duduk dengan para sahabat, lalu Abu Sufyan tiba-tiba berdiri berkata, “Aku Abu Sufyan, pemimpin Quraisy dan Mekkah. Aku telah memutuskan pembaruan kesepakatan dan melindungi orang-orang dari peperangan.” Dia sendiri ngomong, di masjid. Kata Nabi ﷺ, “Itu perkataan engkau, wahai Abu Sufyan. Dan kami tidak pernah mengucapkannya, apalagi mengakuinya.” Abu Sufyan akhirnya kembali ke Mekkah, dan menceritakan semua apa yang terjadi. Yang paling disoroti oleh orang Quraisy adalah, perkataannya Ali bin Abi Thalib dan sarannya. Kata mereka: “Hai Abu Sufyan, di mana pikiranmu? Bagaimana bisa kau dipermainkan oleh Ali bin Abi Thalib?” Ali bin Abi Thalib dianggap masih kecil, dibanding dengan Abu Sufyan, umurnya jauh. Kata Abu Sufyan, “Memang kenapa?” Mereka bilang, “Bagaimana bisa kau memperbarui akad, di masjid mereka, di depan mereka, sendirian? Mustahil terjadi. Kau sedang dipermainkan sama Ali.” Padahal Ali bin Abi Thalib tidak bermaksud mempermainkan, gitu ya. Maka pada saat itu pun Quraisy bingung. Khawatir apa yang akan terjadi. Apakah Muhammad ﷺ akan menyerang atau tidak? Sementara penduduk Mekkah tidak punya persiapan. Seperti saya bilang, teman-teman. Orang Quraisy, orang kafir, kalau mau perang, lama persiapannya itu. Nggak bisa mereka tiba-tiba, “Ayo perang!” langsung perang. Nggak bisa. Harus ada janji-janji, harus ada ini, harus ada duit, harus macam-macam jaminannya. Karena mereka takut mati. Muslimin beda, gitu. Sementara di Madinah, begitu Abu Sufyan pergi, Nabi ﷺ tidak tunda. Langsung pada saat itu, kumandangkan jihad. Rasulullah ﷺ akan keluar berjihad. Ke mana? Nggak tahu, nggak diiklankan. Pokoknya iklankan ke seluruh Madinah, di luar Madinah, seluruh suku Arab, iklankan: Rasulullah ﷺ akan keluar berperang. Yang mau ikut jihad, datang. Lalu Nabi ﷺ pulang ke rumahnya, menyuruh Aisyah radhiallahu 'anha mempersiapkan— seluruh yang berhubungan dengan peperangan: makanan, minuman, pakaian ganti, pakaian perang. Dan Nabi ﷺ mengatakan kepada istrinya, Aisyah, juga istri yang lain Nabi ﷺ datangi sambil mengatakan: “Rahasiakan aku akan menyerang ke mana.” Nabi ﷺ sampaikan kepada Aisyah dan para istri (Ummahatil Mukminin): “Saya akan serang Mekkah.” Waktu itu pesan Nabi ﷺ kepada Aisyah dalam riwayat— tentu istri yang lain juga dipesankan yang sama. Tapi riwayat yang dinukil ini adalah riwayatnya Aisyah radhiallahu 'anha dalam hadits Bukhari. Abu Bakr sempat mendatangi rumah Aisyah. Dan heran melihat kenapa Aisyah mempersiapkan— persiapan perang Nabi ﷺ. Tahu ini pedangnya Nabi, ini busur panahnya, ini tombaknya, ini baju-baju gantinya, ada perisainya, segala macam. Ini Aisyah lagi siapkan, radhiallahu 'anha. Maka kata Abu Bakr: “Wahai Aisyah, apakah Rasulullah ﷺ akan berperang?” Kata Aisyah: “Iya.” Kata Abu Bakr: “Mau ke mana target Rasulullah ﷺ?” Aisyah tidak menjawab satu patah pun. Kenapa? Karena wasiat Nabi apa? Rahasiakan. Bayangkan di sini, teman-teman sekalian, yang bertanya itu Abu Bakr, sahabat dekatnya Nabi, ayahnya dia sendiri. Tapi karena suaminya bilang, "Rahasiakan," tidak diceritakan sama sekali. Ini pelajaran penting bagi setiap muslimah. Suami di atas segala-galanya. Di kalangan manusia tentunya. Dan juga kita tidak bicara Nabi Muhammad ﷺ, Nabi Muhammad ﷺ di atas semuanya, orang tua, diri kita sendiri bahkan. Tapi bicara tentang lingkup keluarga, teman-teman, maka suami di atas segalanya. Apa yang dia katakan harus dirahasiakan, harus dijaga amanahnya, tidak boleh kita ekspos sana-sini. Dan ini banyak— benteng Muslimah jebol di poin ini. Mereka banyak sekali curhat sembarangan dengan orang ketiga, akhirnya rumah tangganya rusak. Semua orang tahu tentang dia, semua orang tahu tentang permasalahannya. Seakan-akan akhirnya suaminya dikeroyoki oleh sekian banyak orang. Ini masalah besar. Karena pintu surganya, tertutup dengan itu. Sama dia durhaka dengan ayahnya. Aisyah radhiallahu 'anha merahasiakan, walaupun ayahnya yang tanya. Nabi mengatakan “Rahasia," rahasia. Pelajaran yang lain juga: kalau seorang suami, memang boleh menyampaikan rahasia kepada istrinya. Karena istrinya, atau suami-istri dibahasakan dalam Al-Qur’an: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “…هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ…” “…para istri kalian, pakaian kalian. Dan kalian juga pakaian buat mereka…” Apa makna pakaian? Pakaian untuk apa kita pakai ini, teman-teman sekalian? Menutup aurat. Sisi lain apa? Memperindah penampilan, ya. Jadi memang ada hal yang bermanfaat di situ. Istri dan suami adalah: pelindung aib. Yang tahu ada— penyakit kulit, ada luka, bekas luka, ada apalah di tubuh kita, adalah istri kita, dan suami kita. Orang tua kita juga belum tentu tahu. Maka itu dikatakan “لِبَاسٌ”, makanya mereka tempat rahasia sebenarnya. Dan Allah telah menjadikan suami-istri sebagai tempat rahasia pasangannya. Maka tidak boleh diekspos. Amanah. Sampai kata Nabi ﷺ, "Orang yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang telah menggauli pasangannya— suami mendatangi istrinya atau istri mendatangi suaminya— lalu mereka menyebarkan rahasia masing-masing." Di antaranya menceritakan tentang biologisnya, kebaikan ataupun keburukannya. Hal-hal yang sifatnya rahasia tidak boleh sama sekali dikeluarkan. Ini penting digarisbawahi. Makin tertutup rumah tangga tersebut dari orang-orang ketiga, dari luar, maka makin aman. Makanya harus hati-hati. Setiap Muslim dan Muslimah pegang baik-baik poin rahasia ini. Dari sekian banyak, 99% kasus rumah tangga yang disampaikan kepada saya, kasusnya karena orang ketiga, dan tidak bisanya suami istri menjaga lisan mereka menceritakan sana sini masalahnya. Abu Bakar lalu berusaha memancing Aisyah, sambil berkata— radhiyallahu ‘anhum ajma'in, “Mungkin Rasulullah ﷺ ingin menyerang Romawi.” Aisyah tetap diam. Tanya lagi, “Mungkin Rasulullah ﷺ mau menyerang Hawazin?” Hawazin ini suku Thaif, nanti akan ada Perang Hunain dengan mereka setelah Pembebasan kota Mekkah. Aisyah tetap diam. Aisyah ini anak, gitu. Ayahnya lagi bertanya, nggak dijawab. Abu Bakar berkata lagi, “Mungkin Rasulullah ﷺ ingin menyerang Quraisy?” Aisyah tetap diam. Beberapa saat kemudian, karena Abu Bakar tidak bisa dapat informasi, duduk di situ tunggu, Rasulullah ﷺ masuk rumah. Abu Bakar bertanya, “Wahai utusan Allah, apakah Anda akan berperang?” Kata Nabi ﷺ, “Iya.” “Apakah kami juga mempersiapkan diri bersama Anda?” Kata Nabi ﷺ, “Iya. Pulanglah, persiapkan peperangan.” Abu Bakar bertanya lagi, “Apakah Anda akan menyerang Romawi?” Kata Nabi ﷺ, “Tidak. Bukan. “Apakah Anda akan menyerang Hawazin?” Nabi ﷺ mengatakan, “Bukan.” Lalu ditanya, “Apakah Anda akan menyerang Quraisy?” Kata Nabi ﷺ, “Iya.” Maka Abu Bakar berkata, “Wahai utusan Allah, bukankah antara kita dengan mereka ada kesepakatan damai 10 tahun?” Kata Nabi ﷺ— kalimat yang jelas menjadi hukum syar’i bagi setiap Muslim Kata Nabi ﷺ “Wahai Abu Bakar, sungguh mereka telah membatalkan kesepakatan itu. Mereka berkhianat, mereka yang memulai. Dan semua pengkhianat harus dihukum. Nggak ada pengkhianat itu dibiarkan. Dan kita lihat, teman-teman sekalian, dalam histori Islam, subhanallah, setiap pemimpin yang tidak mengikuti poin ini, pasti jadi masalah buat dia. Di antara juga banyak kisah histori itu, di antara yang sangat terkenal, pengkhianatan dalam sejarah Islam adalah: seseorang yang telah mengkhianati Muhammad Al-Fatih. Setelah pembebasan Konstantinopel, itu banyak histori yang orang tidak kenal. Ada pengkhianat-pengkhianat yang muncul, mengaku Muslim tapi mereka munafik. Lalu ketangkap nih, nggak dihukum sama Muhammad Al-Fatih. Dia mohon-mohon ampun, “Maafkan saya,” segala macam, tapi nggak dihukum, padahal kepergok sedang melakukan perbuatan. Dimaafkan. Ternyata dia susun pasukan lebih besar, dan membunuh banyak sekali perdana menterinya Muhammad Al-Fatih. Walaupun akhirnya dibunuh, terbunuh, tapi sudah banyak korban. Dan dia kejam sekali. Cara menghukum orang-orangnya kerajaan pada saat itu, Dia membuat pohon-pohon— ada pohon-pohon yang besar— itu dipahat sama dia sampai menjadi seperti runcing sekali, kayak jadi tombak tapi besar. Lalu diangkat para perdana menteri— Utsmaniyah itu, lalu ditancapkan dari bokongnya sampai ke mulutnya. Dipajang sekian banyak orang. Penyiksaan. Gara-gara pengkhianatan orang ini. Subhanallah. Pengkhianat ini nggak boleh dibiasakan. Bahkan tidak boleh hidup kalau kepergok. Dihukum oleh pemerintah setempat. Bahaya sekali. Nabi ﷺ memberikan kepada kita kaidah syar’i di sini. Nabi ﷺ akhirnya mengatakan, “Mereka telah membatalkan akad tersebut.” Lalu Nabi ﷺ waktu itu suruh iklankan agar seluruh Muslimin siap-siap, “Kita akan berperang.” Tapi, Nabi ﷺ kumpulkan tokoh-tokoh sahabat yang penting: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Talhah, Zubair, sahabat-sahabat terutama yang hadir di Perang Badar, dikumpulkan oleh Nabi ﷺ. Lalu Nabi mengatakan, “Saya akan menyerang Quraisy, tapi rahasiakan. Tidak boleh ada yang berita. Jangan diekspos. Pasukan tidak boleh tahu. Tapi kalian ini, karena pasukan-pasukan inti," orang-orang yang hadir di Badar maksudnya dianggap pasukan inti, karena mereka yang pertama sekali berperang bersama Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Maka pada saat itu, teman-teman sekalian, juga diambil pelajaran penting di sini, terutama bagi seorang pemimpin. Umumnya seorang muslim. Kalau kita ditanya— pertanyaan, teman-teman sekalian, jawab sesuai dengan kadar kebutuhan. Nggak usah panjang lebar. Ditanya, “Mau ke mana?” “Ke masjid.” Nggak usah cerita, “Saya ke masjid, habis itu saya mau ke pasar, habis itu saya mau ke rumah teman.” Nggak perlu. Orang tanya sekarang, “Mau ke mana?” Ya ke situ, selesai. Nggak perlu. Kita nggak perlu jelaskan, kecuali materi pelajaran, harus dirincikan, mungkin. Sebagaimana juga kalau antum dikhianati orang, atau orang berbicara masalah ghibah-fitnah, ada orang konfirmasi, tabayyun, jelaskan poin penting saja. Selesai. Nggak perlu panjang lebar. Kuasa Allah Subhanahu wa Ta'ala nanti menjelaskan masalah itu. Karena kita nggak perlu habisin waktu umur untuk itu. Makanya ini pelajaran penting bagaimana Nabi ﷺ ditanya. "Ya Rasulullah," Abu Bakar yang tanya, sahabat dekatnya. “Apakah Anda mau menyerang Romawi?” “Bukan.” Kalau Abu Bakar nggak nanya lagi, Nabi nggak akan jelasin. “Apakah Anda mau Hawazin?” “Bukan.” “Apakah Anda mau Quraisy?” “Iya.” Titik. Nggak pakai, “Iya, kita akan serang dari sini, masuk dari sana.” Nggak ada. Padahal Abu Bakar. “Iya,” selesai. "Siapkan peperangan." Nabi nanti yang atur strateginya. Dan kita akan lihat nanti dalam menyerang Mekkah ini, Nabi ﷺ berikan instruksi bertahap, sampai tiba nanti di Mekkah. Jadi nggak semua dari awal diinstruksikan. Pasukan jalan ikuti saja instruksi, tunggu. Istirahat, istirahat. Melangkah ke kanan, ke kanan. Instruksi seperti itu dan mereka dilatih untuk patuh dengan pemimpin. Nabi 'alaihi sholatu wassalam, teman-teman sekalian, memerintahkan agar semua sahabat terdekatnya merahasiakan penyerangan tersebut. Lalu Nabi ﷺ juga mengutus beberapa sahabat untuk mengajak seluruh suku Arab yang tinggal di sekitar Madinah, yang sudah masuk Islam, untuk bersiap-siap. Dan dalam hari itu saja, waktu Abu Sufyan tinggalkan untuk pulang ke Mekkah, butuh tiga hari tiga malam perjalanan. Maka waktu itu, hari yang sama Abu Sufyan keluar, Nabi ﷺ sudah mengumpulkan pasukan. Dan terkumpul waktu hari itu saja: 7.500 orang. 7.500 orang sudah cukup untuk meruntuhkan Mekkah. Dan ini pasukan jihad. Orang yang mau mati syahid. Para sahabat bingung, akan ke mana kira-kira Nabi ﷺ, karena jumlahnya banyak. Kalau sekarang kan bisa orang melalui media, melalui handphone, sebarin, “Rasulullah akan ke Mekkah,” misalnya. Orang zaman dulu nggak ada. Pasukan yang di belakang nggak ngerti mau ke mana. Apalagi ini pasukan intinya disuruh diam semuanya. Beberapa sahabat, berpikir: “Mau ke mana, ya? Bagaimana caranya kita tahu?” Tanya Nabi ﷺ, Nabi cuma mengatakan, “Jihad.” Nggak ada penjelasan. Maka mereka mencari siapa di antara sahabat yang ahli syair. Ditemukan Sa’d ibn Malik radhiyallahu ‘anhu. Sa’d ibn Malik ini penyair yang masyhur sekali. Dia termasuk yang masuk Islam pada Bai’at ‘Aqabah di Mekkah, awal kaum Muslimin. Lalu dia mendatangi Nabi ﷺ seraya memuji-muji Nabi ﷺ dengan syairnya, dan di situ ada singgungan, “Dan Nabi Allah yang mulia, hendak ke manakah Anda?” Di antara bunyi syairnya, gitu. Nabi ﷺ cuma jawab dengan senyum. Nggak ada jawaban kata-kata. Nggak ada jawaban mau ke Mekkah, mau ke mana, nggak ada. Nabi ﷺ memerintahkan pada hari itu juga, seluruh pintu gerbang Madinah, Nggak boleh lagi ada orang yang masuk. Siapapun, nggak boleh masuk di Madinah. Ditutup. Hari itu tutup kota Madinah. Dan tidak boleh ada dari Madinah yang keluar. Nggak boleh sama sekali. Di depan pintu gerbang Madinah pasukan inti menjaga semuanya. Jadi pada hari itu diisolasi Madinah. Nggak boleh ada informasi masuk. Kalau ada orang masuk, nanti dia keluar bawa informasi. Atau orang Madinah yang keluar, tidak boleh. Pada saat itu Nabi ﷺ lagi mempersiapkan pasukan, rupanya ada satu orang kepala suku Ghathafan. Ini namanya nggak asing. Antum pernah dengar di kisah— Khaibar pada saat itu, yang Nabi ﷺ memberikan julukan dia sebelum dia masuk Islam dia belum masuk Islam sampai waktu ini, ya. dikatakan dia: “Si Bodoh yang Dipatuhi”. Kepala suku Ghathafan. Dia dulu yang mau membantu orang-orang Yahudi. Akhirnya dia mengirim pasukan 4000 atau 5000 masuk ke benteng Khaibar dan seterusnya. Akhirnya dikalahkan. Setelah kalah pun, masih minta ghanimah kepada Nabi ﷺ, padahal dia tadinya mau membela orang-orang Yahudi. Yang Nabi ﷺ mengatakan, “Ada ghanimah 'Aqabah.” kalau saya tidak salah disebutkan ‘Aqabah itu, saya lupa riwayatnya. Tapi lalu kemudian kata ‘Uyainah: ‘Uyainah pada saat itu mengatakan, “Iya, saya mau ‘Aqabah itu.” Kata Nabi ﷺ, “Bukankah tadi malam kau mimpi, kalau kau minta sama saya, ghanimah, kemudian saya mengatakan kamu akan dapatkan ‘Aqabah itu?” Dia mengatakan, “Iya. Di mana itu, wahai Muhammad?” Kata Nabi ﷺ, “Di padang pasir yang jauh sekali, itu ada gunung di sana, namanya ‘Aqabah. Nggak ada pemiliknya. Ambil saja.” Karena dia tadinya mau berkhianat, dia bantu Yahudi, tidak mau masuk Islam, dan coba mau menyerang pasukan Muslimin. Setelah itu pun, Muslimin menang, minta ghanimah. Kan aneh. Tapi Ghathafan ini suku besar. Sukunya ini jumlahnya di atas seratus ribu orang. Pasukan perangnya dia sepuluh ribu, pasukan kuda semuanya. ‘Uyainah bin Muhsin ini pernah mau masuk Islam. Saya juga pernah ceritakan, teman-teman sekalian, sama satu orang sahabatnya. Tapi ditahan oleh orang lain, temannya juga, dengan mengatakan, “Nggak usah buru-buru masuk Islam. Tunggu saja. Kalau Quraisy tetap dengan kesepakatannya dengan Muhammad, maka bisa saja. Mungkin karena mereka takut sama Muhammad. Tapi kalau mereka mengkhianat, nggak usah. Untuk apa? Berarti Quraisy masih kuat. Untuk apa kita beriman kepada Muhammad sementara pasukannya masih dikalahkan.” Seperti itulah. Ringkas cerita ‘Uyainah ini— subhanallah— dengan hikmah Allah, pada saat itu dia datang sendirian. Dia nggak bawa sukunya. Kemudian dia mau masuk ke Madinah, ditahan. Minta izin kepada Nabi ﷺ. Nabi dengar ‘Uyainah. Suruh masuk. Lalu kemudian dia mengiklankan Islamnya. Dia mengatakan, “Ya Rasulullah, saya datang mau masuk Islam.” Syahadat lah ‘Uyainah bin Muhsin. Maka Nabi ﷺ waktu itu gembira. Dan dia mengatakan: “Dan ketahuilah, wahai Rasulullah, seluruh Ghathafan akan saya bawa.” Ini banyak sekali, seratus ribu orang. "Saya akan masuk Islamkan semuanya." Kata Nabi ﷺ, “Bagus yang kamu lakukan.” Tak lama kemudian datang lagi Akra’ bin Habis. Ini termasuk kepala sukunya Bani Tamim, suku Tamim. Lalu juga sama, izin masuk ke Madinah, mengiklankan keislamannya, dan menyampaikan berita gembira kalau sukunya, Tamim, akan masuk Islam. Baik, sampai sini teman-teman sekalian, ada sebuah kisah “pengkhianatan” pada saat itu. Kisahnya Hatib bin Abi Balta’ah. Hatib ini, radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi yang mulia sebenarnya, dan ahli Badar, hadirin orang Badar. Karena dia termasuk ahli Badar, maka dia mengetahui penyerangan ke Mekkah. Waktu pasukan sahabat mulai bergerak keluar dari Madinah, Hatib bin Abi Balta’ah ini, menulis selembar surat. Dikasih kepada seorang budak wanita, yang disembunyikan di lilitan rambutnya, untuk disampaikan ke masyarakat Mekkah, kalau Muslimin akan menyerang Mekkah. Ini pengkhianatan, nggak boleh disampaikan. Nabi ﷺ suruh rahasiakan. Sedangkan tadi saya jelaskan, suami saja tidak boleh dikhianati, apalagi Rasulullah ﷺ. Berat sekali. Hatib lalu memberikan surat tersebut kepada wanita yang ia bayar, kemudian menyuruhnya segera menuju ke Mekkah, tapi melewati jalan yang tidak akan dilewati oleh pasukan Muslimin. Nabi ﷺ segera memanggil waktu itu Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, radhiallahu 'anhum ajma'in. Ini dua bisa dikatakan bodyguard-nya Nabi. Orang yang sangat dipercaya, punya keterampilan perang, dan luar biasa amanahnya. Maka setelah menghadap— tentu dua-duanya sepupu Nabi ﷺ, ya. Ali bin Abi Thalib: anak paman Nabi. Zubair bin Awwam: anak tantenya Nabi. Anaknya Shafiyyah. Baik. Keduanya kemudian menghadap Nabi ﷺ, lalu kata Nabi ﷺ: “Jibril baru saja datang kepada saya memberitahukan kalau Hatib bin Abi Balta’ah, telah mengutus surat membongkar rahasia kita kepada penduduk Mekkah. Surat itu dibawa oleh seorang budak wanita, dan sekarang dia sudah melewati jalan ini dan jalan itu.” Ali dan Zubair tahu jalan itu. “Kejarlah dia, dan ambillah surat itu darinya.” Tanpa banyak bicara, Ali dan Zubair keluar tanpa menginformasikan ke orang Madinah, “Kami diutus oleh Rasulullah, untuk membongkar kedoknya si wanita.” Nggak ada. Seperti sebagian orang begitu. Baru tugas kantor sedikit, satu kampung semua tahu. Ini rahasia. Jalan, rahasiakan tugas. Seperti itulah. Maka jalanlah dua orang ini sampai akhirnya menemui wanita tersebut. Dan pada saat ketemu dengan wanita tersebut, kata Ali bin Abi Thalib: “Berhentilah, wahai hamba Allah. Dan keluarkan surat yang ditulis oleh Hatib bin Abi Balta’ah dan serahkan kepada kami, karena Rasulullah ﷺ telah mendapatkan wahyu tentang masalah itu.” Awalnya, wanita itu terus menolak, karena dia sudah dibayar, Maka Ali bin Abi Thalib mengatakan kalimat: “Kalau seandainya kau tidak mau menyerahkan, maka kami akan mengambil secara paksa.” sambil menghunuskan pedang. Dan dalam masalah pengkhianatan seperti ini tidak mengenal lagi laki-laki atau perempuan. Kalaupun dia perempuan tapi dia pengkhianat, dia mata-mata, dihukum. Maka di sini, teman-teman sekalian, orang tersebut karena tahu Ali bin Abi Thalib siapa, Tahu orang ini sangat berkasa, kuat, tegas. Tidak main-main soal masalah ini. Maka dia pun takut, Maka dia mengatakan, “Baiklah. Alihkan pandangan mata kalian.” Karena rupanya dia sembunyikan di belakang hijabnya. Di rambutnya, dililit, lalu dia pakai jilbab. Muslimah ini. Maka pada saat itu pun Ali bin Abi Thalib dan Zubair mengalihkan, lalu kemudian surat tersebut dikeluarkan, lalu dilemparkan ke arah Ali bin Abi Thalib. Pada saat itu, Ali bin Abi Thalib dan Zubair pun membawakan surat itu kepada Nabi ﷺ. Lalu Nabi ﷺ mengatakan, “Kumpulkan seluruh sahabat pilihan tadi. Ahli Badr, termasuk Hatib, panggil.” Nabi ﷺ lalu bertanya di depan para sahabat, dihakimi Hatib ini, “Apa yang kau lakukan ini, Hatib?” Hatib berkata, “Wahai utusan Allah, aku sama sekali, demi Allah, tidak pernah meragukan sedikitpun tentang kenabian dan kerasulan Anda. Tapi kalian semua tahu, kalau keluarga kalian ada di Mekkah, dan keluarga itu dilindungi oleh masyarakat Mekkah. Sementara aku ini memiliki istri dan anak di Mekkah, yang tidak ada orang melindunginya. Maka aku ingin punya jasa kepada masyarakat Mekkah, supaya mereka melindungi keluarga aku minimal. Dan aku sudah yakin pasti juga akan menang Muslimin." Maka tidak ada niat sebenarnya berkhianat. Maka Nabi ﷺ mengatakan: “Tapi bagaimana caranya, kau bisa ingin membela keluargamu, istri, anakmu lalu kau mengkhianati Muslimin? Kalau mereka punya persiapan, maka itu akan memperpanjang peperangan.” Maka Hatib pun terdiam dan tahu kalau dia salah. Umar bin Khattab menghunuskan pedangnya, lalu berkata, “Ya Rasulullah, biarkan aku memenggal kepalanya Hatib. Ini pengkhianat, munafik! Jelas-jelas nggak boleh beritakan, kenapa diberitakan? Alasan istri sama anak." Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Tidak, hai Umar. Sungguh Allah telah berfirman kepada orang-orang yang hadir di Badr: ‘Berbuatlah semau kalian, karena Aku telah memaafkan kalian.’” Ini juga pelajaran penting, teman-teman sekalian, bagaimana— baginda Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām mengajarkan kepada kita poin penting, tentang harusnya menilai kebaikan dan jasa orang. Itu penting. Orang kalau punya jasa dalam kehidupan kita, punya kedudukan, punya ilmu, maka kebaikannya harus dikenang. Nggak boleh tidak. Umar bin Khattab berkata dalam satu kisah beliau, dalam sebuah atsar: “Aku akan terus berterima kasih pada seseorang yang mengingatkan satu kesalahanku.” Begitu pula dengan Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Aku siap berkhidmat dengan orang yang mengajarkan aku satu ilmu.” Islam mengajarkan kita mengetahui jasa orang lain. Jangan orang sudah khidmat kepada kita sekian tahun, kemudian dengan satu kesalahan kita lupakan semuanya. Nggak boleh. Suami-istri, misalnya. Berapa tahun istri kita berkhidmat dengan kita? Masak, cuci baju, urus anak. Lalu kemudian satu kesalahan diceraikan. Atau beberapa tahun suami kita telah membiayai kita, lalu kemudian dengan satu kesalahannya, lalu kemudian kita cerai. Rusak semuanya rumah tangga. Berapa kali sahabat kita berbuat baik dengan kita? Di malam hari menyambut kita, menerima apa yang kita sampaikan dari masalah keluh kesah, membantu. Lalu dengan satu kali dia tidak bisa bantu, ditinggalkan. Dan seterusnya. Makanya ini semua tidak boleh, teman-teman sekalian. Kita harus tahu, mengetahui jasa orang. Bagaimana dia telah berperan, bagaimana dia telah memberikan kepada kita sesuatu yang bisa membantu kita lebih baik. Ini perlu digarisbawahi juga, teman-teman sekalian, karena ini ajaran Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Hatib bin Abi Balta'ah telah berkhianat, tapi Nabi tahu ini ahli Badr, punya jasa dalam Islam. Nggak boleh sembarangan, gitu. Apalagi memang, apa yang sedang dia jadikan sebagai target, itu belum tercapai. Bedakan, ya. Antara sesuatu keburukan yang sudah tercapai targetnya, dengan yang belum. Hatib memang mau menyampaikan ke Mekkah, tapi belum terjadi. Walaupun sudah sementara dalam perjalanan. Lalu kemudian ditemukan dan diberhentikan. Berarti ini beda poinnya dengan kalau sudah terlanjur sampai ke masyarakat Mekkah, lalu Mekkah mempunyai persiapan, lalu kemudian menghadang Muslimin, lalu kemudian... dan seterusnya. Maka itu beda kasusnya. Maka seseorang harus bijak dalam menilai— hal-hal seperti ini. Nabi ﷺ saat keluar menuju ke Mekkah, tiba-tiba pasukan, ada pasukan yang sangat besar, jumlahnya seribu orang dari kejauhan. Pasukan kuda semuanya. Dan pasukan kuda ini, zaman sekarang seperti tank, kuat sekali. Karena kuda yang dipakai berperang itu dilatih untuk bisa menendang, menyeruduk. Bahkan kuda-kuda peperangan zaman dulu itu bisa menggigit. bisa menyerang musuhnya, dilatih untuk itu. Bahkan sering kali, kadang-kadang ada beberapa kuda yang diletakkan beberapa tombak-tombak yang tajam di sisi kiri-kanan, lengan atau kaki kanan dan kaki kiri depannya, sehingga pada saat dia menyeruduk, itu sambil membunuh musuh. Itu memang ada kuda-kuda terlatih. Maka kuda-kuda yang dipakai peperangan bukan kuda sembarangan ini. Kuda-kuda terlatih. Kalau seribu pasukan kuda bergabung, berarti kuat sekali. Kekuatan yang luar biasa, gitu. Seribu orang ini ternyata, waktu Nabi ﷺ lihat dan mendekat, Nabi mengatakan: “Berita gembira telah sampai kepada kalian, suku Sulaym.” Suku Sulaym, suku Badui, terkenal memang ahli perang. Dan mereka datang ingin masuk Islam sekaligus bergabung dengan pasukan Nabi ﷺ. Berarti sudah sekarang dari 7.500 menjadi 8.500 orang. Maka bergabunglah suku Sulaym, dan mereka syahadat dalam perjalanan itu. Mereka bersyahadat pada perjalanan tersebut. Nabi ﷺ sangat gembira. Kemudian, ada satu kejadian kecil di sini. Dan ini juga fenomena kehidupan, teman-teman, kita harus tahu, ya. Kalau di zaman Nabi ﷺ saja terjadi ini, apalagi di zaman kita. Biasa itu. kalau di sekitar kita ada orang hasud, ada orang cemburu, ada orang yang tidak suka, walaupun Muslim, ada saja. Terjadi di zaman Nabi ﷺ. Di antaranya adalah kejadian Uyaynah bin Mohsin ini, yang tadi kepala suku Ghatafan. Rupanya dia waktu lihat suku Sulaym datang bergabung dengan seribu orang, lalu bergabung baru masuk Islam sudah ikut jihad. Dan jihad bersama Nabi ﷺ ini berarti kemuliaan. Berperang bersama Nabi sebuah kemuliaan, dikenang sepanjang masa. Seperti sekarang kita sudah 1.400 tahun, kita masih mengenang nama-nama ini. Tahu, dipelajari. Mungkin sampai menjelang hari Kiamat akan banyak dai-dai yang menyampaikan tentang kisah mereka, terkenang sepanjang masa. Pahalanya besar. Dan Nabi ﷺ umumnya menang. Dan kalau menang, dapat ghanimah yang banyak. Nanti kita lihat ghanimah melimpah sekali, ini. Dari Perang Mekkah dan Perang Hunain, melimpah sekali ghanimah, harta rampasan perang. Maka Uyaynah cemburu. "Kenapa suku Sulaym berhasil datang dengan sukunya, saya datang sendiri?" Tapi dia bukan salahin dirinya sendiri, tidak. Dia buat masalah. Ada orang begitu. Dia bukan geram bawa dirinya sendiri, nggak. Dia gelorakan untuk buat masalah dengan orang lain. Maka apa yang terjadi, teman-teman sekalian? Dia menyebarkan isu, mengatakan: "Suku Sulaym bukan ahli perang. Ahli perang itu suku Ghatafan." Padahal sebenarnya bermula dari apa? Cemburu hatinya. Nggak ada hubungannya. Kenapa dia tidak bawa sukunya, itu salah dia sendiri, kan gitu. Tapi, subhanallah, dia gelorakan itu. Mendengar itu— suku Sulaym orang baru masuk Islam. Tidak ada ilmunya, baru syahadat. Dengar Uyainah bilang begitu, tiba-tiba kepala sukunya menyuruh seribu pasukan menghadap ke Uyainah. Lalu kata dia, “Hai Uyaynah, kalau kau mau, sekarang kami bisa melangkah pergi ke Ghatafan memerangi suku mu!” Hampir ribut ini gara-gara ini. Gara-gara ini saja, hasud hati, bahaya sekali. Sebenarnya tadi Uyainah sederhana, dia suka, sudah dia sendiri, kan gitu. Ini nggak, dia sebarin isu. Maka di sini pelajaran juga, teman-teman sekalian. Banyak hal yang diambil pelajaran. Dan insyaAllah dalam buku sirah yang akan diterbitkan, insyaAllah yang saya tulis ini, setiap beberapa lembar, akan ada satu lembar nanti khusus untuk pelajaran yang diambil. Kemudian saya juga sisipkan nanti satu lembar setelahnya, itu lembaran kosong. Tulisannya itu “Catatan”. Pembaca nanti bisa menulis sendiri apa yang dia bisa ambil pelajaran dari beberapa paragraf itu. Supaya bisa betul-betul mengambil hikmah-hikmah yang sangat besar. Karena kalau kita hanya sekadar lewat begitu saja, maka cuma seperti sebuah kisah saja. Tapi tidak, kita ambil ibrah dan pelajaran. Pelajaran banyak sekali, dan hukum-hukum syar'i banyak yang bisa diambil. Di antaranya juga adalah, bagaimana di tengah-tengah Muslimin bisa terjadi ini. Dan kita lihat bagaimana Nabi ﷺ menyelesaikan perkara seperti ini. Dan juga, bagaimana ada di antara kaum Muslimin, yang hatinya hasud. Jangan pernah berpikir, teman-teman, antum kalau sudah berhasil lalu tidak ada yang hasud. Ada. Ada orang yang hasud, dia kekang sendiri. Ada orang nggak. Digelorakan, dikeluarkan. Juga dari sisi lain, ilmu syar'i berpengaruh besar. Karena— Uyainah, dan suku Sulaym baru masuk Islam, belum punya ilmu agama, maka beda perilaku mereka seperti para sahabat, yang sudah lama masuk Islam, ilmunya sudah dalam. Maka ilmu bisa menjadi pengawas dan pengontrol buat dia. Uyainah, pada saat itu merasa rugi dan cemburu kenapa ia dan sukunya tidak mendapatkan kemuliaan tersebut. Bila ia kembali memanggil sukunya, maka sangat jauh. Ghatafan jauh sekali. Perjalanan kurang lebih seminggu, baru sampai ke sana. Dan tidak ada kayak zaman sekarang, kita media tinggal telepon, "Datang, ya!" Ada pesawat, ada apa, bisa cepat. Zaman dulu orang pakai kuda, itu pun kalau selamat pulang. Belum tentu, mungkin bisa diserang oleh penjahat, perampok di tengah jalan. Dan kemungkinan kalau dia pulang ngajak sukunya, butuh negosiasi dulu. Itu pun akan membuat dia luput dari peperangan bersama Nabi ﷺ. Akhirnya tidak dapat ghanimah. Karena targetnya juga dia adalah mendapatkan ghanimah, sebagaimana kita jelaskan nanti pada saat pembagian ghanimah di Perang Hunain. Uyainah lalu mendatangi Nabi ﷺ dan berkata: "Demi Allah, wahai utusan Allah, kami tidak tahu kalau anda akan berperang. Demi Allah, kalau seandainya kami tahu, kami akan datang semua." Nabi ﷺ menjawab, perhatikan, di sini, sistematis sekali. Kata Nabi ﷺ: “Ya sudah begini kejadiannya. Ini sekarang keadaannya. Kan dia bilang: "Kalau seandainya kami tahu, maka kami akan membawa, atau aku akan membawa seluruh suku ku dan ikut berperang." Sekarang depan mata kan tidak. "Kalau seandainya saya tahu ta'lim, saya akan datang." "Kalau" kenapa nggak datang? Kenapa nggak cari informasi? Makanya tidak ada “kalau seandainya saya tahu.” Begitulah, kamu lupa, ya sudah. Mau diapakan lagi? Lalai sendiri. Seperti itu, ya. Uyainah bin Muhsin waktu itu, melihat kekuatan Nabi ﷺ dan Muslimin, terutama kasus Khaibar. Bagaimana seluruh benteng Khaibar takluk di tangan Nabi ﷺ hanya dengan 1.400 orang pasukan pada saat itu, kurang lebih jumlahnya. Melawan 10.000 pasukan Yahudi. Dan seluruh Yahudi dikuasai. Akhirnya mereka menjadi budaknya muslimin, dan seluruh kekayaan Khaibar menjadi milik muslimin. Ini sudah kita pelajari di Perang Khaibar waktu itu. Dan bagaimana pada saat itu, Nabi ﷺ pulang membawa kemuliaan. Dan waktu itu 1.400 orang. Sekarang, pasukan yang keluar 7.500. Ini berarti lima kali lipat dari kekuatan yang dibawa ke Khaibar. Maka ini pasti lebih kuat, lebih besar. Dan akan menyerang wilayah yang lebih besar pastinya, walaupun Uyainah belum tahu kalau akan menyerang Mekkah. Selang beberapa langkah saja dalam perjalanan, menyusul lagi suku Arab yang lain bergabung, dan menyatakan masuk Islam. Hal ini makin menambah kegembiraan Nabi ﷺ. Hanya saja bagi Uyainah, ini semua kecemburuan. Orang-orang datang masuk Islam, satu suku masuk, setengah sukunya masuk. Minimal orang datang 10–20 orang masuk Islam, satu keluarga, dan ikut berperang. Dia sendiri. Dan ini sudah pernah kita jelaskan. Dulu dia pernah mau masuk Islam sebenarnya, tapi dia tunda sendiri karena ingin memastikan kekuatan Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Nabi ﷺ waktu itu memerintahkan 200 pasukan berkuda, disuruh maju ke depan jauh, ini salah satu strategi perang Nabi ﷺ. Pergi ke depan, jauh sampai tidak terlihat, membuka jalan-jalan. Membuka jalan-jalan agar memberitahukan informasi kalau ada sesuatu. Mereka lebih dulu, dan dipimpin di depannya, pada saat itu Khalid bin Walid. Dan Khalid bin Walid pada saat itu, baru masuk Islam. Belum lama masuk Islam. Dan waktu itu Khalid bin Walid tidak boleh melakukan apa-apa, kecuali mengikuti instruksi Nabi ﷺ. Nabi bilang berhenti, berhenti. Kanan, kanan. Kiri, kiri. Disuruh jalan, jalan lurus terus sampai ke bukit sana. Khalid jalan terus. Khalid jalan sampai berhenti di situ. Tunggu lagi. Disuruh Nabi ke kanan, ke kanan. Ke kiri, ke kiri. Seperti itulah. Nabi ﷺ mengarahkan pasukan waktu itu ke arah suku Hawazin, di sekitar kota Thaif. Jadi kalau kita gambarkan, misalnya layar laptop ini, wilayah kurang lebih selatannya Jazirah Arab. Karena Madinah itu ada di utara, di atas. Makanya dulu kafilah Quraisy, kalau mereka ke negeri Syam, ke utara Jazirah Arab, mereka harus melewati Madinah. Maka seringkali Muslimin menahan kafilah dagang mereka. Sekarang, dari Madinah menyerang ke Mekkah, berarti dari atas, dari utara ke selatan. Pada saat Nabi ﷺ mau ke selatan, di selatan ini ada dua arah jalan pada saat itu. Kalau lurus saja, itu akan ke Mekkah. Kalau ke arah timur, maka itu akan ke kota Thaif. Kota Thaif sekitar 60 Km dari kota Mekkah. Waktu itu ada suku Hawazin. Kebetulan memang, suku Hawazin ini, teman-teman sekalian, terkenal pada saat itu. Terdengar berita kalau mereka ingin menyerang Madinah. Maka para sahabat mengatakan: “Kalau begitu, Nabi ﷺ menginginkan Hawazin.” Nabi sengaja mengatur strategi itu. Nanti kalau sudah dekat Hawazin, baru Nabi belokkan ke arah Mekkah. Maka pada saat itu, teman-teman sekalian, Nabi ﷺ mengutus beberapa sahabat untuk memantau wilayah kiri-kanan. Dan perjalanan ini berjalan terus, sementara Quraisy belum tahu kalau pasukan sudah jalan. Karena Abu Sufyan juga tidak berpikir. hari pertama dia keluar, pasukan sudah terkumpul sebanyak itu. Nggak ada sama sekali pikiran dia. Pada saat itu, teman-teman sekalian, Hawazin memang sedang berpikir untuk menyerang Madinah. Dan secara tidak sengaja, dengan hikmah Allah, ada mata-mata yang diutus oleh Hawazin ingin ke Madinah. Dan waktu itu jalan untuk menuju ke Madinah jalan yang dilewati oleh Muslimin ini, yang sedang menuju ke sana. Lalu Khalid bin Walid menangkap mata-mata tersebut. Khalid bin Walid kebetulan bertanya kepada dia, “Dari mana kamu?” Dia bilang, “Dari suku Ghifar.” Suku Ghifar ini adalah salah satu cabang dari suku Hawazin. Khalid bin Walid ini, karena dia dulu tokoh Mekkah, dan dia tahu betul masyarakat Thaif, tetangganya. Seperti... saya tidak tahu kalau di sini kota terdekat, ya. Misal Jakarta sama Bekasi, sama Depok, dekat sekali. Maka dekat, dia tahu. Khalid bin Walid juga sangat paham suku Hawazin dengan cabang-cabangnya, pecahannya semua. Maka Khalid bertanya, “Dari pecahan mana dari suku Ghifar?” Dia tahu, "Suku ini, pecahan dari mana kamu? Kan banyak suku itu." Dia tidak mau jawab. Khalid bin Walid lalu bertanya, “Tinggal di bagian mana kamu di pemukiman Hawazin?” Orang itu juga tetap diam. Maka Khalid bin Walid angkat pedangnya. Dan orang ini tahu siapa Khalid bin Walid. Pimpinan perangnya orang-orang Mekkah, tapi sekarang sudah Muslim. Dia bilang, “Demi Allah, kau jawab dengan benar atau kepalamu melayang!” Nggak ada toleransi. Pedang. Dan Khalid bin Walid ini termasuk sahabat Nabi yang terkenal. Salah satu sahabat yang bisa berperang dengan dua tangannya. Jadi dia menjepit perut kuda dengan kakinya, dan dia berperang dengan dua pedang. Itu nggak semua orang bisa lakukan. Orang biasa pegang tali kekangan, berpegang pada kuda, mungkin pegang perisai. Ini nggak. Kiri-kanan. Jadi kanan mahir membunuh, kiri juga begitu. Dua-duanya. Maka saat orang itu melihat keseriusan Khalid bin Walid, ia pun akhirnya mengaku. Dan dia mengaku kalau dia mata-mata Hawazin. Maka Khalid bin Walid membawa dia menuju ke Nabi 'alaihi sholatu wassalam. Setelah tiba di kemah Nabi ﷺ, karena lagi istirahat, Nabi ﷺ bertanya padanya, “Siapa yang mengutusmu?” Dia bilang, “Pimpinan kami Malik ibn Auf.” Namanya dihafal, ya. Malik bin Auf ini punya peran besar nanti dalam Perang Hawazin. Nanti akan kita bahas. Orang ini masih muda sekali, tapi dia dipilih menjadi pemimpin pada saat itu karena kekarnya tubuhnya dan keterampilan perangnya. Nabi ﷺ lalu bertanya, “Apa yang sedang dilakukan oleh Hawazin saat ini?” Maka dia menjawab, “Mereka sedang mempersiapkan peperangan melawan Anda.” Tentu orang ini menjawab karena apa? Karena pedang Khalid bin Walid di lehernya sekarang. Bukan berarti didudukkan manis, kasih minuman— nggak bakal jawab dia. Khalid bin Walid giring, dibawa ke kemah Nabi ﷺ, diikat tangannya, didudukkan, pedangnya Khalid di lehernya. Bohong sedikit, melayang nih. Maka dijawab semua sama dia. Maka Nabi ﷺ bertanya— Nabi tidak larang waktu itu, ya, karena ini kondisi dalam peperangan. Dan ini mata-mata harus informasinya lengkap. maka Nabi ﷺ lalu menanyakan secara detail kekuatan musuh: Berapa kekuatannya, kapan rencana mau menyerang, berapa jumlah laki-laki, berapa jumlah perempuan, berapa jumlah kuda. Rupanya orang ini hafal semua, dia tahu. Dia menceritakan: jumlahnya sekian, sekian, begini, begitu, segala macam dirincikan. Sampai Nabi bertanya, “Apa yang sedang dilakukan oleh Sa’d dan Hilal?” Sa’d dan Hilal ini termasuk pemuka dan pemimpin Hawazin. Mata-mata tersebut enggan menjawab. Maka Nabi ﷺ mengatakan, “Kalau begitu, tawan orang ini.” Para sahabat bertambah yakin kalau Nabi ﷺ akan menyerang Hawazin, karena menahan mata-mata Hawazin. Dan ternyata Hawazin juga terkenal atau terdengar berita pada saat itu, tersebar di pasukan, sudah mempersiapkan menyerang Madinah. Dan kalau pun itu benar, berarti Nabi ﷺ ini strategi perangnya. Memang Nabi sering kali datang tiba-tiba, musuh nggak tahu. Itu strategi perang Nabi ﷺ. Bahkan kalau sedikit ada ancaman saja, Nabi sudah tidak pakai nunggu. Sudah tahu itu pasti akan menyerang, diserang lebih dulu. Itu salah satu strategi Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Pada saat mendekati wilayah suku Hawazin ini, tiba-tiba Nabi ﷺ sudah dekat sekali. Pintu gerbang Hawazin, kota Thaif sudah kelihatan. Sudah dekat. Jadi biasanya kalau begitu, Nabi ﷺ suruh tancapkan kemah, kepung. Biasanya begitu. Tiba-tiba Nabi keluarkan instruksi: belok ke arah barat. Hawazin di timur. Ke arah Barat, mau mengarah ke Mekkah. Dan jarak antara Thaif sama Mekkah cuma 60 km. Jarak Madinah-Mekkah 425 km. Jadi sudah dekat sekali. Bisa setengah hari saja sudah sampai ke Mekkah, atau bahkan kurang dari itu. Hal ini sangat membuat sahabat bingung. Namun, mereka mengikuti Nabi ﷺ. Dan Nabi ﷺ tiba-tiba pada saat itu, dari Hawazin, menuju ke Mekkah, membagi pasukan menjadi lima bagian. Ada bagian depan khusus, ada bagian kanan, kiri, belakang, dan ada pasukan inti di tengah-tengah. Itu yang ada Nabi 'alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Jadi Nabi dikelilingi oleh pasukan. Depan ada, kanan, kiri, belakang. Pasukan inti ada di tengah-tengah Juga Nabi ﷺ mengatur setiap bagian dari lima pasukan tersebut, terdiri dari gabungan suku-suku. Setiap suku harus bersama anggotanya, dengan tujuan mereka tidak melarikan diri karena malu dengan sukunya sendiri. Jadi suku ini berkumpul semua. "Kalian di bagian sayap sebelah kiri, suku ini sebelah kanan," dan seterusnya. Saat mendekati Mekkah, Nabi ﷺ memperkuat barisan depan dengan menggenapkan jumlah 1.000 personel, khusus bagian depan. Tadinya cuma 200 yang dipimpin oleh Khalid bin Walid itu. Dan semuanya dari suku Sulaym, nggak ada suku lain. Di depan, Sulaym. Hanya saja Nabi ﷺ menobatkan Khalid bin Walid sebagai pimpinan mereka. Dari sisi lain, Nabi ﷺ mengangkat Zubair bin Awwam dan Abu Ubaidah bin Jarrah, radhiyallahu ‘anhum ajma'in, memimpin sisa suku-suku Arab selain Sulaym. Sementara Sa’d ibn Ubadah radhiyallahu ‘anhu, menjadi pemimpin para Muhajirin dan Anshar. Pasukan Muslimin akhirnya, tiba sekitar empat mil saja dari kota Mekkah. Empat mil ini mungkin sekitar 15 km lah. Antara 10–15 km saja dari Mekkah. Jadi seperti dari rumah antum ke masjid ini saja jaraknya. Dan ini uniknya, pada saat itu penduduk Mekkah tidak ada yang tahu kalau pasukan Muslimin sudah sampai di situ. Pasukan besar, ya, pada saat itu. Dan jumlah Muslimin waktu itu, karena banyaknya yang bergabung, terkumpul sekitar 10.000 orang. Pasukan muslimin. Pada saat itu keluarlah seseorang dari Mekkah ingin hijrah ke Madinah. Dengan hikmah Allah terjadi semua ini. Dan orang ini Allah muliakan, Subhanallah. Dia adalah paman Nabi ﷺ, Abbas bin Abdul Muttalib, radhiallahu 'anhu. Waktu itu belum muslim. Masih di Mekkah. Tapi dalam hatinya bergelora, sudah nggak bisa lagi. Harus masuk Islam. Maka dia pun niat hijrah ke Madinah. Dia tidak tahu kalau Nabi ﷺ sudah keluar. Waktu dia keluar, dengan hikmah Allah, dia melewati pasukan Muslimin. Waktu dia lihat pasukan Muslimin ada di hadapannya, dia melihat— tadinya karena ini sudah menjelang malam, dia nggak kenal siapa mereka. Tapi dia mendengar mereka berbicara satu sama yang lain. Ini cara bicaranya umat Islam: “Allah, Rasulullah,” Bahasa-bahasa ini, bahasa Muslimin. Maka dia pun masuk bergabung. Pada saat itu sempat ditahan oleh pasukan pengaman, dan itu dipimpin oleh Umar bin Khattab malam itu. Dan selalu Nabi ﷺ meletakkan Umar karena ketegasannya di situ, sebagai pimpinan keamanan, lah. Maka Abbas mengatakan: “Hai Umar, saya akan bertemu dengan Rasulullah ﷺ karena ingin hijrah ke Madinah, dan saya ingin masuk Islam.” Dan Umar tahu kalau Abbas ini orangnya jujur. Maka dibawalah Abbas ketemu dengan Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Maka Abbas pun mengikrarkan syahadat. Dan Nabi ﷺ gembira. Para ulama mengatakan Abbas dimuliakan oleh Allah, radhiyallahu ‘anhu, sebagai paman Nabi— berarti pengganti ayahnya. Kemudian juga jadi sahabat Nabi, kemudian sempat masuk Islam. Sisi yang lain, sempat niat hijrah. Dan ulama sejarah mengatakan dia adalah orang terakhir yang hijrah dari Mekkah. Karena setelah ini tidak ada lagi orang hijrah. Berarti pahala hijrah Mekkah–Madinah, terakhir diambil oleh Abbas radhiyallahu ‘anhu. Abbas pada saat itu setelah syahadat, dia lihat jumlah pasukan muslimin. Dia keliling dengan Nabi SAW. Memang di Mekkah dia sudah banyak dukung Nabi ﷺ. Dia keliling, Nabi ﷺ lihatkan, “Ini suku Sulaym, ini suku ini, ini suku ini, ini Muhajirin dan Anshar.” Banyak sekali. Dan pasukan yang paling kokoh, pasukan inti, pasukan Muhajirin dan Ansar. Tidak terlihat kecuali mata mereka saja. Waktu mereka lagi duduk, Nabi ﷺ suruh bubar, baru bubar. Waktu itu mereka baru menancapkan kemahnya. Jadi masih utuh dengan pakaian perangnya. Maka Abbas bertanya, “Siapa mereka? Siapa mereka, ya Muhammad?” Nabi ﷺ jelaskan. Pada saat melihat Muhajirin dan Anshar, ditanya: "Siapa mereka?" Nabi ﷺ senyum, mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang kukenal, hai Abbas. Ini Muhajirin dan Anshar." Mereka dengan kemahiran perangnya. Dengan bajunya, dengan luar biasa kokohnya, tubuhnya, dan seterusnya. Akhirnya Abbas melihat ini pasukan tinggal 4 mil dari Mekkah, seperti orang baru keluar pintu gerbang Mekkah. Jalan sedikit, sudah ada pasukan besar, sementara kota itu tidak tahu. Maka dia bilang, “Pasti kalau pasukan ini masuk ke Mekkah, binasa Mekkah ini.” Pada malam itu, subhanallah, dengan hikmah Allah juga, Quraisy lagi berkumpul untuk memusyawarahkan perkara dengan Muslimin. Salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Abu Sufyan, sungguh telah terputus berita. Karena sama sekali sudah beberapa hari tidak ada satu orang pun yang datang dari Madinah.” karena kan Madinah ditutup, diblokir tadi. Nggak boleh ada yang keluar ke Mekkah. Kecuali pasukan ini. Pasukan pun tidak tahu kalau mereka akan ke Mekkah. Terakhir Hatib bin Abi Balta’ah mengirim orang, ditangkap juga oleh Nabi ﷺ. Jadi tidak ada informasi dari Madinah. Biasanya masih sering ada lalu lalang, maka masih ada orang yang bisa ditanya. Dan, "Kita," kata mereka, "sama sekali tidak mengetahui perkembangan. Sungguh kami khawatir Muslimin telah siap-siap untuk menyerang Mekkah." Ini bukan cuma siap-siap, sudah depan pintu gerbang, ya. Lalu mereka berkata, “Wahai Abu Sufyan, pergilah lagi ke Madinah, temui Muhammad. Bila engkau menemui di sekitarnya terkumpul banyak pasukan, maka serahkan saja Mekkah sebelum ia memasuki Mekkah dengan kekuatan. Bila di sisinya Muhammad ada pasukan kecil, nggak usah menyerah, dan kembali kepada kami, beritakan supaya kami punya persiapan untuk menghadapinya.” Itu di malam itu, yang pasukan Muslim sudah di depan pintu gerbang mereka. Baru mau mempersiapkan diri. Abu Sofian, pada saat itu mengatakan, “Baiklah, saya akan ke Madinah. Besok saya akan ke Madinah. Malam ini saya akan keliling-keliling dulu.” Dengan hikmah Allah, Abu Sufyan keluar sendirian dari pintu gerbang, jalan di tempat jalannya Abbas tadi. Dia lihat di depannya dia api unggun, kemah-kemah banyak. Sepuluh ribu orang. Banyak sekali, gitu kan. Mungkin bisa berapa kali lipat dari jumlah penduduk Mekkah yang siap berperang pada saat itu. Abu Sufyan lalu bertanya-tanya, “Siapa mereka ini? Ada apa mereka berkumpul di sini?” Waktu dia lagi sementara bertanya-tanya, dia menyelinap sana-sini, Tidak sengaja dia ketemu dengan pimpinan Khuza'ah, Budail bin Warqa Radhiallahu 'anhu, yang tadi sempat ke Madinah kemudian balik lagi. Budail bin Warqa ini sudah dapat informasi. Ada informasi yang Nabi kirimkan ke dia, kalau pasukan akan keluar. Dan sudah ada perhitungan kalau betul, berarti malam itu pasukan Muslimin sudah sampai. Dan ternyata betul, dia lagi keliling nyari-nyari mana pasukan ini, karena Nabi ﷺ belum kirim ke dia informasi. Dia lihat api unggun itu ramai-ramai. Dia dari satu sisi, Abu Sufyan dari satu sisi, tengah-tengah sana pasukan, gitu kan. Maka ketemu tidak sengaja. Dan Abu Sufyan bilang: “Wahai Budail, siapa mereka ini?” Budail waktu itu tahu, kalau ini Muslimin, tidak mungkin orang lain. Karena sudah ada kesepakatan janji pada saat itu. Maka pada saat itu pun... Budail berkata, “Mungkin mereka sukuku, Khuza'ah.” Kata Abu Sufyan, “Wahai Budail, kau pikir saya ini orang bodoh? Berapa jumlah pasukanmu, dan berapa jumlah yang ada di depan mata kita ini? Nggak mungkin!" “Kalau begitu mungkin orang lewat, Hawazin. Yang mau menyerang Madinah, katanya mau menyerang Madinah." "Nggak mungkin. Hawazin nggak punya pasukan sebanyak ini." Lagi mereka diskusi, bicara begitu, Abbas radhiallahu 'anhu, yang baru masuk Islam, dia izin dengan Nabi ﷺ, “Ya Rasulullah, izinkan saya mau ke Mekkah.” Kata Nabi ﷺ, “Silakan.” “Tapi, ya Rasulullah, saya mau membawa unta Anda.” Kata Nabi ﷺ, “Pakailah.” Dipakai. Niatnya Abbas ingin pulang, mau berbicara sama Abu Sufyan berdua. "Di luar ini ada pasukan Muslim. Nggak usah kau melawan. Percuma." Begitulah. Subhanallah, ketemu di titik itu. Di tempat Abu Sufyan lagi bicara sama Budail. Abbas lalu pada saat itu keluar. Ketemu di situ. Maka pada saat itu pun, Budail... yang lagi bicara sama Abu Sufyan, sama-sama melihat Abbas datang. Lalu mereka berkata: “Wahai Abu Fadhl.” Waktu itu kebetulan waktu Abbas mendekat, karena malam gelap tidak kelihatan, dia dengar pembicaraan antara Abu Sufyan sama Budail. Dia tahu suara dua orang ini. Maka dia pun mendekat, karena memang targetnya mau ketemu Abu Sufyan. Tapi dengan hikmah Allah ketemu di situ. Maka Abbas pun mengatakan, “Wahai Abu Sufyan!” Dan Abbas ini, suaranya keras sekali. Orangnya tinggi besar dan suaranya keras. Di antara cirinya, radhiallahu 'anhu, beliau itu kalau mau manggil penggembala kambingnya, dia nggak pergi ke padang pasir manggil. Dia dari depan rumahnya teriak, “Pulanglah, sudah mau sore!” Suaranya sampai ke sana. Dia luar biasa, orang yang jahr. Suaranya sangat keras. Maka Abu Sufyan dengar suaranya Abbas. lalu dia mengatakan, “Wahai Abu Fadhl, Dari mana kamu ini? Apa informasimu?" Maka Abbas memang karena targetnya mau ketemu, dia bilang: “Aku datang dari sisi Rasulullah ﷺ. Aku, demi Allah, sudah masuk Islam.” Langsung dia bahasakan. “Dan demi Allah, wahai Abu Sufyan, Muhammad telah datang membawa seluruh Arab! Yang depan matamu ini pasukan Muslimin. Demi Allah, bila Muhammad membawa pasukan ini, besok masuk ke Mekkah, binasa Quraisy. Habis ceritanya. Ini bukan main-main!” Kebetulan tadi kan waktu Abbas baru masuk Islam, dia kan sempat lihat keliling-keliling dengan Nabi ﷺ. Ini apa adanya. Memang pasukan perang, ini bukan main-main. Ini prajurit-prajurit pilihan. Abu Sufyan tahu siapa Abbas. Abbas nggak pernah bohong, radhiallahu 'anhu. Orang yang jujur, MashaAllah. Maka Abu Sufyan pun percaya. Lalu dia mengatakan, “Apa saranmu, wahai Abu Fadhl?” Maka Abbas mengatakan, “Ikutlah denganku. Dan aku akan membawamu bertemu dengan Rasulullah ﷺ. Dan lebih baik kau serahkan Mekkah tanpa peperangan, Sebelum pasukan— ini semua keesokan harinya menyerang Mekkah.” Abu Sufyan bilang, “Bagaimana bisa aku selamat sampai ke dalam kemah? Ini pasukan. Kalau mereka melihatku keluar dari Mekkah, maka mereka akan membunuhku, pasti.” Kata Abbas: “Nggak apa-apa. Ikut dengan aku. Aku yang akan memberikan kau keamanan. Sebab Muslimin— menerima jaminan keamanan walaupun dari orang terendah mereka." Walaupun tukang sapu jalan, dia pegang satu orang kafir dan mengatakan, "Orang ini di bawah naungan saya.” itu diterima perlindungannya. Maka Abbas mengatakan, “Naiklah ke sini.” Ada riwayat mengatakan unta, ada riwayat mengatakan kuda Nabi ﷺ. Maka naiklah waktu itu Abbas boncengan sama Abu Sufyan. Kebetulan dua orang ini tinggi besar. Gemuk-gemuk semuanya. Satu aja orang sudah berat di atas punggung hewan ini, kan. Dua, maka membuat unta itu atau kuda itu jadi lambat jalannya. Waktu masuk, karena malam, Abu Sufyan menutup bagian wajahnya di belakang Abbas. Orang di sini sudah tersebar berita kalau paman Nabi masuk Islam, Muslimin semua sudah tahu malam itu. Nabi ﷺ bawa keliling dan mengiklankan masalah itu. Waktu mereka lihat Abbas, sudah tahu paman Nabi sudah masuk Islam. Kemudian juga dari satu sisi yang lain, ini pakai kuda Nabi ﷺ. Maka umumnya muslimin membiarkan jalan. Tapi Umar bin Khattab jeli. Umar curiga. "Tadi Abbas jalan sendiri, bagaimana bisa kembali bonceng orang, nih? Siapa yang dibonceng, nih?" Umar bin Khattab jalan di sebelahnya. Umar tidak bicara sama Abbas, perhatikan siapa di belakangnya. "Abu Sufyan!" Umar bin Khattab teriak, "Abu Sufyan!" “Alhamdulillah yang telah mengutus kamu kepada aku, tanpa ada perdamaian. Ajalmu sudah tiba malam ini! Kepala kekufuran, nggak ada ceritanya. Maka kata Abbas, “Wahai Umar, dia di bawah naunganku.” “Nggak ada naungan bagi orang kafir kayak dia,” kata Umar. Abbas berkata, “Wahai Umar, ingatlah, ini di bawah naunganku.” Kata Umar, “Tidak bisa. Orang ini tidak akan dapat jaminan, kecuali Rasulullah yang kasih jaminan. Sekarang saya pemimpin keamanan. Tugas saya, orang kafir saya tebas atau tidak, itu hak saya.” Umar bin Khattab juga orangnya besar. Tapi waktu itu malam-malam kebetulan Umar waktu berjaga-jaga karena bukan waktu untuk berperang, Umar tidak pakai kuda, pakai keledai. Keledai kecil, Umar besar. Maka mulailah bertanding untanya Nabi ﷺ yang beratnya dua orang ini sama keledainya Umar. Menuju kemana? Ke kemahnya Nabi ﷺ. Mereka berlomba untuk itu, siapa lebih dulu sampai. Karena kalau Nabi bilang, Nabi amankan, aman. Kalau nggak, nggak. Maka Umar terus bersebelahan sama Abbas. Begitu tiba di kemah, Abbas turun, pegang tangannya Abu Sufyan, masuk kemah. Umar juga turun. Bersamaan. Di hadapan Nabi ﷺ, langsung Umar mengatakan, “Ya Rasulullah, kepalanya kekafiran, Abu Sufyan, datang tanpa keamanan. Izinkan saya tebas lehernya.” Maka Abbas mengatakan, “Ya Rasulullah, dia di bawah naungan saya. Saya lindungi.” Maka Nabi ﷺ mengatakan kepada Umar, “Biarlah, hai Umar.” Sudah sampai di kemah. Nasibnya Abu Sufyan lolos waktu itu, ya. Akhirnya pada saat itu, teman-teman sekalian, Nabi ﷺ bertanya kepada Abu Sufyan: “Wahai Abu Sufyan, apakah belum tiba saatnya... engkau mengaku bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya? Belum tiba saatnya kau masuk Islam?” Abu Sufyan bilang, “Demi Allah, bila ada tuhan selain Allah, maka pasti akan bermanfaat buat kami hari ini.” Tapi dia belum mau masuk Islam, belum ucapkan syahadat di sini. Nabi ﷺ berkata lagi, “Apakah belum tiba saatnya kau mengakui Allah itu adalah Tuhan satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku adalah utusan Allah?” Abu Sufyan mengatakan: “Kalau yang ini, masih ada keraguan dalam hatiku. Khusus mengakui kamu sebagai Nabi, masih ada keraguan dalam hatiku.” Abbas lalu, pada saat mendengar jawaban Abu Sufyan, marah seraya berkata: “Masuk Islamlah, wahai Abu Sufyan! Demi Allah, bila Rasulullah ﷺ memasuki Mekkah dengan kekuatan, maka sejarah Quraisy hilang selamanya. Bagaimana bisa kamu masih ragu akan kerasulannya, sementara sudah nyata di hadapan matamu kemenangan yang Allah berikan?” Akhirnya Abu Sufyan waktu itu, masih sempat ragu. Tapi dia takut. Maka dia masuk Islam. Di depan umat dan depan semua, dia syahadat. Di sini sebagian ahli sejarah mengatakan, sempat masih ada keraguan dalam hatinya. Dan itu nanti terlihat setelah Nabi ﷺ membebaskan kota Mekkah. Dan wahyu nanti yang akan membuat akhirnya Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu hatinya kokoh dengan Islam. Ini masih muallaf, baru masuk Islam. Syahadat. Malam-malam, dia karena ketakutan lihat pasukan Muslimin, lalu akhirnya dia syahadat. Nabi ﷺ mengetahui hal itu sebenarnya. Tahu kalau hatinya Abu Sufyan ini masih ganjal. Namun Nabi ﷺ berkata kepada Abbas: “Biarkan ia menginap denganmu malam ini. Jangan biarkan dia pulang ke Mekkah. Dan bawa ia pagi hari menghadap kepadaku. Nanti habis shalat subuh, suruh dia hadir ke sini. Terbit matahari sebelum penyerbuan Mekkah, bawa dia ke sini.” Abbas mengatakan, “Wahai Rasulullah, Abu Sufyan orang yang suka kedudukan. Maka berikan dia kedudukan.” Maka Nabi ﷺ menghadap ke arah Abu Sufyan, lalu berkata: “Siapapun yang memasuki rumahmu, hai Abu Sufyan, besok, pada saat kami serang Mekkah, maka dia akan aman.” Abu Sufyan lalu berkata: “Wahai utusan Allah, rumahku masih kecil. Nggak cukup untuk seluruh penduduk Mekkah.” Maka kata Nabi ﷺ, “Siapa yang memasuki... “Siapa yang memasuki Masjidil Haram, maka dia aman.” Kata Abu Sufyan, “Masjid juga belum cukup, ya Rasulullah. Nggak bisa menampung penduduk Mekkah." Berarti yang tidak masuk ke rumah Abu Sufyan, tidak masuk ke Masjidil Haram, halal darahnya, dibantai.” Maka kata Nabi ﷺ: “Siapapun yang menutup pintu rumahnya, nggak ikut-ikutan, maka dia aman.” Maka pada saat itu, Abu Sufyan pun berkata, “Kalau ini cukup luas.” Abu Sufyan lalu balik. Pada saat itu, tentu saja, Abu Sufyan ditahan malam itu di Mekkah. Besok dia akan balik paginya. Sebelum dia balik, di pagi hari selepas shalat subuh, Nabi ﷺ suruh seluruh pasukan Muslimin, tidak terkecuali, menyusun seperti yang Nabi ﷺ perintahkan. Lima pasukan: depan, belakang, kanan, kiri. Masing-masing terdiri dari 2.000 pasukan. 2.000, 2.000, 2.000, 2.000, 2.000. 10.000 orang semuanya. Pada saat itu, teman-teman sekalian, Nabi ﷺ duduk, memanggil Abbas, suruh bawa Abu Sufyan. Lalu suruh pasukan lewat di depan. Lewatlah pasukan pertama yang di depan yang siap menyerang, dipimpin Khalid bin Walid dan Bani Sulaim, seribu, tambah suku-suku Arab yang lain. Lewat. Lalu Nabi ﷺ perintahkan, “Setiap kali lewat di depan saya, tunjukkan keterampilan kalian.” Lewatlah 2.000 orang. Pasukan banyak, Dengan siap, dengan siaga. Pasukan kuda lagi semuanya. 2.000 orang. Lalu menunjukkan keterampilan mereka. Lewatlah 2.000 itu. Abu Sufyan lihat. Abu Sufyan tanya, “Siapa mereka itu?” Kata Nabi ﷺ, “Bani Sulaim.” Kata Abu Sufyan: “Apa urusannya saya sama Bani Sulaim? Nggak ada urusannya sama Bani Sulaim, kenapa bisa tiba-tiba ikut?” Kata Nabi ﷺ, “Mereka sudah masuk Islam.” Lalu kemudian, pada saat itu ada riwayat lain, ya. —saya jelaskan juga riwayat lain— waktu itu, Nabi ﷺ menyuruh pagi hari, suruh izinkan Abu Sufyan pulang. Begitu Abu Sufyan sudah mau jalan, mendekati pintu gerbang Mekkah, lalu Nabi ﷺ bilang, “Hai Abu Sufyan, berhentilah! Tunggu sebentar. Saksikan ini.” Lalu Nabi ﷺ suruh tadi pasukannya lewat. Abu Sufyan pada saat itu tentu dalam riwayat yang kedua tadi, sempat mengatakan, karena Abbas panggil, ‘Hai Abu Sufyan, kembalilah!’” Maka Abu Sufyan bilang, “Hai Abbas, engkau telah membuatku ketakutan. Kenapa suaramu menggelegar seperti itu, manggil aku lagi?” Kata Abbas: “Sungguh Rasulullah ﷺ telah memanggilmu dan menyuruhmu kembali dan menyaksikan ini.” Maka Abu Sufyan pun kembali. Sampai dia mengatakan waktu itu, Abu Sufyan sempat ketakutan. Kata Abbas: “Aku tidak sangka kalau ketakutan sampai pada tingkat ini pada dirimu. Gemetar ketakutan, gitu.” Maka kemudian Abu Sufyan berkata, Abu Sufyan mengatakan, “Memang, ada apa?” Kata Abbas: “Rasulullah memerintahkan aku untuk memanggilmu kembali.” Maka kembalilah Abu Sufyan, kemudian terjadilah tadi apa yang disampaikan itu. Setiap 2.000 pasukan, mereka melangkah dan melewati di hadapan Nabi ﷺ, dan Abu Sufyan, serta juga Abbas. Dan setiap kali lewat, disuruh menunjukkan keterampilan, lalu bertakbir. Serentak, semuanya takbirnya serentak. 2.000 orang serentak semua: "Allahu Akbar!" Kemudian di bagian depan pasukan Sulaim ada Khalid bin Walid. Abu Sufyan tahu Khalid bin Walid ini, kenal. Pimpinan pasukan perangnya Mekkah, ahli perang, bisa perang dengan dua tangannya, gitu kan, Memimpin perang. Maka Abu Sufyan kaget melihat jumlah mereka, lalu bertanya kepada Abbas, “Siapa mereka? Sungguh besar ini jumlahnya. Kata Abbas, dijawab, “Itu adalah Bani Sulaim.” Dalam riwayat lain dikatakan Nabi ﷺ yang menjelaskan, “Itu adalah Bani Sulaim.” Kata Abu Sufyan, “Apa urusanku dengan Bani Sulaim?” Kata Nabi ﷺ, “Mereka telah masuk Islam.” Jelang beberapa saat saja, lewat lagi suku Khuza’ah, yang bergabung dengan Nabi ﷺ. Lalu, ditanya oleh Abu Sufyan, “Siapa mereka itu?” Kata Abbas, “Mereka suku Khuza’ah yang telah kalian khianati.” Lalu terus saja pasukan Muslimin lewat di hadapan Abu Sufyan, dan terakhir adalah pasukan inti. Pasukan inti ini dari Muhajirin dan Anshar. Jumlah mereka itu ada 6.000 di pasukan tengah, pasukan belakang, dan pasukan sisi kanan. Jadi 2.000, 2.000, 2.000. Maka waktu lewat, ini luar biasa, tidak terlihat kecuali mata mereka saja. Dan kebetulan waktu itu, Nabi ﷺ turun sendiri dan memimpin mereka, jadi tinggal Abbas sama Abu Sufyan. Abu Sufyan kaget dan tidak mengenal mereka, karena mereka semua menutup seluruh tubuh mereka dengan baju besi kecuali bagian matanya. Dan pada saat itu Nabi ﷺ instruksikan agar mereka menunjukkan keterampilan perang mereka. Caranya adalah setiap 100 orang maju tunjukkan ahli pedang. Dengan mengayunkan pedangnya, seterusnya. Menunjukkan keterampilan, lalu kemudian mundur. Maju lagi 200–300 orang, tunjukkan bagaimana mereka melempar tombak. Kemudian ada yang menunggangi kuda, meloncati kuda sambil kuda itu berlari, yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Kemudian pasukan panah datang. Kemudian mereka memperlihatkan berapa banyak anak-anak panah yang mereka bawa. Dan mereka melemparkan anak panah mereka ke arah... gunung-gunung yang tinggi dan terjangkau oleh anak-anak panah mereka, dan seterusnya. Abu Sufyan kaget lalu mengatakan, “Siapa mereka itu?” Lalu Abbas berkata, “Apakah kau tidak mengenal mereka, hai Abu Sufyan? Mereka adalah Muhajirin dan Anshar.” Kalau pasukan ini diberikan nama oleh Nabi ﷺ dengan “Pasukan Hijau.” Karena mereka adalah dari Muhajirin dan Anshar, umumnya mereka menggunakan imamah atau ada pakaian yang berwarna hijau. Waktu itu Abu Sufyan betul-betul kaget, dan dia tidak menyangka kalau pasukan Muslimin sampai sebanyak itu dan sehebat itu. Maka Abu Sufyan pun, pada saat sudah melihat semua itu, Nabi ﷺ memberikan isyarat dari jauh kepada Abbas, suruh dia pulang. Pulanglah Abu Sufyan. Sudah masuk Islam sebenarnya, tapi ada keraguan dalam hatinya. Setelah lihat ini, bingung dia. "Ini kalau saya pura-pura berkhianat, masuk Islam lalu saya mengatur strategi perang pun tidak bakal bisa melawan ini." Karena sudah lihat bagaimana keterampilan mereka dalam berperang. Ini juga salah satu strategi perang Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Begitu Abu Sufyan masuk, karena sudah pagi, Quraisy lagi ngumpul, dan pagi itu rencananya Abu Sufyan ditunggu di depan Ka’bah, di Darun Nadwah, untuk berangkat ke Madinah negosiasi dengan Nabi ﷺ. Tapi Abu Sufyan datang dalam kondisi pucat. Maka orang-orang Quraisy berkata: “Ada apa denganmu, wahai Abu Sufyan? Ada berita apa yang kamu bawa?” Kata Abu Sufyan, “Demi Allah, di belakangku ada pasukan, yang sangat besar. Dan kalian tidak akan mampu mengalahkannya. Menyerahlah, wahai Quraisy!” Jadi orang-orang Quraisy bingung dengan perkataan Abu Sufyan ini. Pasukan dari mana? Nggak ada berita, nggak ada informasi. Karena dia sendiri yang lihat tadi malam. Istri Abu Sufyan, Hindun yang terkenal—yang menyuruh menyobek dadanya Hamzah di Perang Uhud, yang coba berusaha memakan jantungnya, segala macam ini... yang kakaknya semua mati terbunuh di Perang Badar. Perempuan tapi orangnya tegas. Suaminya pemimpin suku, dia juga ikut berperang di beberapa peperangan Quraisy. Maka dia lihat suaminya bicara itu, marah dia, istrinya. Hindun berkata: “Jangan percaya Abu Sufyan! Jangan menyerah!” Abu Sufyan mengatakan, “Menyerahlah!” Hindun karena marah, dia mengatakan: “Bunuh saja si gemuk yang tidak berguna ini! Bunuh saja siapa saja yang menyuruh kalian menyerah!” Bayangkan, saking luar biasanya Hindun, dia sampai suruh bunuh suaminya. Abu Sufyan berkata, karena ini bukan main-main, suruh menyerahkan Mekkah. Menyerah. Artinya kalau pasukan menyerah, teman-teman sekalian, berarti masuk dalam hukum orang yang akan berkuasa, kan gitu. Bisa dibunuh, bisa diapain saja. Maka Abu Sufyan lalu berkata, “Jangan pernah pedulikan wanita ini. Karena aku melihat sendiri kekuatan Muslimin. Demi Allah, Muhammad telah datang. Bersamanya suku Sulaim, Khuza’ah, dan suku-suku yang lain. Dan bersamanya para sahabatnya yang selama ini setia dengannya. Dan... tidak akan pernah kalian mampu menghadapi mereka. Karena keterampilan perang dan jumlah pasukan. Jumlah mereka mencapai 10.000 orang.” Quraisy berkata: “Lalu apa urusan kita dengan suku-suku Arab itu?” Maka Quraisy, ya... Maka Abu Sufyan mengatakan, “Mereka telah masuk Islam.” Lalu Quraisy berkata, “Lalu apa saranmu, wahai Abu Sufyan?” Abu Sufyan berkata, “Serahkan Mekkah. Siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka dia akan aman. Sebentar lagi Muhammad akan menyerang. Yang masuk rumahku, aman.” Maka sebagian orang Quraisy mengatakan, “Semoga Allah menghinamu! Aman-aman cuma cukup di rumahmu?” Maksudnya, "Mana cukup rumahmu?" Abu Sufyan bilang: “Muhammad juga berkata, 'Siapa yang memasuki Masjidil Haram, Maka dia akan aman.'” Kata Quraisy, “Masih belum cukup. Tidak bisa nampung.” Maka Abu Sufyan berkata, “Dan Muhammad juga berkata, 'Siapa yang menutup pintu rumahnya, maka dia telah aman.'” Nggak jalan-jalan di pinggir jalan, maka aman. Kalau ditemukan di jalan, dibantai. Dibunuh, nih. Dianggap melawan. Maka, Quraisy pun mengatakan, “Kalau itu, cukup luas.” Maka mulailah seluruh penduduk Mekkah pada saat itu sibuk menyelamatkan diri. Masing-masing... ke salah satu dari tiga tempat yang telah disebutkan. Dan akhirnya, pada saat itu... Mekkah siap untuk menyerahkan diri, gara-gara perkataan Abu Sufyan tadi. Nabi ﷺ lalu mengubah aturan pasukan, yang tadinya terdiri dari lima bagian: depan, kanan, kiri, belakang, dan tengah. Karena itu adalah strategi bila akan berperang, maka sekarang masuk untuk menerima Mekkah. karena Nabi ﷺ sudah dapat wahyu: Quraisy akan mengalah, mereka tidak akan melawan. Maka Nabi ﷺ mengubah menjadi empat bagian saja. Jadi di zaman dulu, kalau mau berperang, umumnya ada dua cara. Diletakkan pasukan, lima, atau enam, atau tujuh, ataupun delapan pasukan yang bersusun. Per kelompok biasanya 1000. 1000, 1000, 1000, 1000. Jadi orang bisa nilai, "Oh, pasukan musuh jumlahnya sekian." Atau diatur kayak strategi Nabi ﷺ: depan ada, kanan, kiri, tengah, dan belakang. Ini berarti mereka siap berperang. Tapi kalau pasukan sudah menang, umumnya di zaman itu diatur menjadi empat bagian. Jadi empat bagian ini hanya tidak ada pasukan belakang lagi. Depan, tengah, kanan, kiri. Dan pasukan yang paling depan, tetap dipimpin oleh Khalid bin Walid. Sementara bagian tengah dipimpin oleh Zubair dan Abu Ubaidah. Sa'ad memimpin di bagian baris sebelah kanan. Dan juga, maaf, di sebelah kanan kiri... di kanan dipimpin oleh Zubair dan Abu Ubaidah. Di sebelah kanan dipimpin oleh Sa'ad. dan di tengah-tengah dipimpin oleh Nabi ﷺ. Sa'ad ibn Ubadah radhiyallahu ‘anhu, pada saat itu melihat, atau Nabi ﷺ melihat dan pasukan muslimin, pintu gerbang sudah dibuka, menandakan Mekkah menyerahkan diri. Begitu masuk pintu gerbang Mekkah... Sa’ad sempat berteriak dengan suara keras. Waktu masuk pintu gerbang Mekkah, dia mengatakan: “Hari ini adalah hari pembantaian! Hari ini hari menghinakan! Hari ini, Allah menghinakan Quraisy!” Maka Nabi ﷺ menjawab Sa'ad sambil mengatakan: “Engkau telah berdusta, hai Sa’ad! Hari ini adalah hari pemaafan dan kemuliaan. Hari ini adalah hari kemuliaan Quraisy.” Karena ada berita dari langit, kalau mereka akan masuk Islam pada saat itu. Nabi ﷺ lalu memerintahkan agar bendera ditarik dari Sa’ad, dan diberikan kepada anaknya yang bernama Qais bin Sa’ad bin Ubadah, agar sukunya dari Anshar tidak kecewa dan paham kalau ini adalah hukuman bagi ayahnya. Ini juga pelajaran, teman-teman sekalian, ya. Sa’ad bin Ubadah adalah pimpinan orang Anshar dan dia seorang sahabat, imannya bagus sebenarnya. Bila ia berkata demikian, bisa saja sukunya setuju dan akhirnya melanggar instruksi Nabi ﷺ. Akhirnya tidak jadi menerima Mekkah dengan ketenangan, tapi akan terjadi pembantaian karena Sa’ad kepala suku. Juga hikmah Nabi ﷺ bagaimana bermuamalah dengan para sahabat, dengan memberi bendera justru kepada anaknya dan bukan orang suku yang lain, agar Sa’ad tidak kecewa dan akhirnya terjadi pemberontakan dari sukunya. Nabi ﷺ saat memasuki Mekkah, segera menuju ke wilayah Gunung Hind yang dikenal sekarang dengan nama "Khaif". Wilayah Khaif atau Khaif. Khaif adalah wilayah Mekkah yang pernah dipakai berkumpul oleh orang-orang Quraisy dan berjanji untuk memerangi dan memusuhi Nabi ﷺ selama-lamanya. Jadi Nabi ﷺ suruh di situ, “Kumpul semua di wilayah Khaif. Pasukan Islam masuk, kumpul di sana semua. Tunggu saya." Seperti itulah. Nabi ﷺ memerintahkan seluruh pasukan berkumpul di Khaif. Dan selama perjalanan menuju ke Khaif, seluruh Quraisy melihat dari jendela rumah-rumah mereka pasukan muslimin, dan mereka baru menyadari betapa besarnya pasukan tersebut dan sulitnya bila mereka menghadapi pasukan itu. Saat seluruh pasukan sudah tiba di Khaif, maka Nabi ﷺ mengeluarkan instruksi: “Jangan bunuh siapa pun, kecuali 10 orang. 10 orang ini, bunuh di mana pun kalian temukan mereka, Walaupun mereka bergantung di Ka'bah. Memegang kiswah Ka’bah pun bunuh.” Di Mekkah kan tidak boleh orang membunuh, ya? Makanya Nabi ﷺ mengatakan: “Sungguh wilayah ini telah diharamkan dan dihalalkan untukku di beberapa waktu saja di siang hari ini.” Yang pertama yang harus dibunuh adalah Ikrimah bin Abi Jahl. Tentu nanti masuk Islam, radhiyallahu ‘anhu. Ada kisah nanti masuk Islam, kita ceritakan insyaallah. Ikrimah bin Abi Jahl ini diperintahkan oleh Nabi ﷺ untuk dibunuh wahyu tentunya, ya, karena permusuhannya terhadap Islam. Ia dan ayahnya yang telah terbunuh di Badr, Abu Jahl. Dan Ikrimah punya andil dalam membunuh 20 orang dari suku Khuza’ah. Tadi kan kita jelaskan, ya. Awal sebab penyerangan Mekkah karena apa? Pengkhianatan suku apa? Bakr. Baru satu jam yang lalu. Bagaimana kalau sudah seminggu dan sebulan? Suku Bakr yang berkhianat tadi, kan? Kepala sukunya namanya Naufal, yang mengatakan kepada Quraisy, “Dukunglah kami.” Banyak Quraisy yang nolak, tapi di antara yang dukung siapa? Ikrimah bin Abi Jahl, sama Shafwan bin Umayyah bin Khalaf. "Lakukan saja." Namun akhirnya itu dia masuk Islam melalui tangan istrinya yang bernama Ummu Hakim, nanti kita ceritakan itu. Yang jelas, ini kita sebut dulu 10 daftar orang yang harus dibunuh pada saat itu. Yang kedua: Hindun binti Utbah, ini istrinya Abu Sufyan tadi. Yang telah membunuh Hamzah radhiyallahu ‘anhu di Uhud karena dia perintahkan itu. Namun akhirnya masuk Islam juga sebelum ditangkap dan Nabi ﷺ menerima masuk Islamnya bersama suaminya, Abu Sufyan. Nanti kita ceritakan bagaimana Hindun masuk Islam. Tapi dia di sini, begitu masuk Mekkah, disuruh serang, bunuh 10 orang ini. Di dapat di mana pun tetap dibunuh. Yang ketiga: Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Masih ingat siapa orang ini? Siapa? Terus... Penulis wahyu saja? Satu orang. Dan... dia murtad. Tafaddol, saya kasih buku. Tadi baru kita jelaskan itu. Sudah lupa. Wahai warga Balikpapan, jangan mudah lupa. Dia tadi yang akhirnya mengatakan kepada Quraisy, “Saya orang yang paling mengenal Muhammad,” dan seterusnya, memberikan tiga pilihan, gitu kan. Dan dia pernah masuk Islam, lalu dia sengaja masuk Islam untuk berkhianat. Dia mengatakan dia memalsukan wahyu. Lalu Nabi ﷺ mengatakan, “Demi Allah, dia tidak memalsukannya.” Dan perlu digaris bawahi, Abdullah bin Sa’ad ini adalah saudara susuannya Utsman bin ‘Affan. Ini juga nanti... dia sempat minta maaf, dan Nabi ﷺ sebenarnya menerima maafnya tapi berat sekali. Nanti akan ada kisah yang kita jelaskan juga. Sekarang masih daftarnya dulu. Yang keempat: Shafwan bin Umayyah bin Khalaf. Anaknya Umayyah bin Khalaf. Umayyah bin Khalaf ini adalah majikannya Bilal dulu, yang sudah kita ceritakan bagaimana matinya terbunuh di Badr. Di tangan Bilal radhiyallahu ‘anhu ajma'in. Shafwan ini juga karena permusuhannya terhadap Islam, Ia dan ayahnya, namun ayahnya terbunuh di Badr. Ia masuk Islam setelah sahabatnya yang lebih dulu masuk Islam, yaitu... Umair bin Wahab al-Jumahi. Meminta keamanan dari Nabi ﷺ dan akhirnya Nabi ﷺ menerima. Shafwan pun masuk Islam. Yang kelima, yang dari daftar harus dibunuh adalah: Muqays atau Miqyas. Khilaf di antara ahli sejarah tentang namanya, Muqays atau Miqyas bin Subabah. Adiknya yang bernama Qais masuk Islam dan terbunuh secara tidak sengaja di Uhud oleh muslimin, karena pasukan muslimin kacau saat itu. Maka Muqays ini pura-pura masuk Islam untuk menuntut diyat adiknya. Adiknya masuk Islam, muslim. Mati syahid bahkan. Di Perang Uhud terbunuh, dibunuh oleh kaum muslimin tapi tidak sengaja. Waktu kacaunya pasukan muslimin di Uhud. Waktu pasukan pemanah sudah turun, akhirnya pasukan muslimin sempat bertemu dengan pasukan muslimin sendiri yang lagi kumpulin harta ghanimah dengan yang kebetulan mengejar pasukan Quraisy. Ketemu, akhirnya terbunuhlah di situ. Qais ini mati syahid waktu itu terbunuh karena tidak disengaja di kancah peperangan. Rupanya Mikyas atau Muqays ini, pura-pura masuk Islam. Dia mengatakan: “Ya Rasulullah, saya mau Islam," syahadat. Lalu dia bilang, “Ya Rasulullah, sesungguhnya adik saya, Qais, terbunuh.” Dan ketahuan siapa yang bunuh itu. Sebenarnya ada di antara muslim yang sempat mengatakan, “Kayaknya ini anak panah saya.” Maka dia minta diyatnya, bayar dendanya. Maka kemudian pun dia dapat dendanya. Setelah dia dapat dendanya, dia pulang ke Mekkah, dia iklanin kalau dia kafir, murtad. Maka Nabi ﷺ suruh bunuh. Yang keenam: Wahshi bin Harb. Yang membunuh Hamzah ini. Bunuh Hamzah dengan tombak. Tentu nanti juga akan masuk Islam. Bahkan dia masuk Islam dan dia mengatakan: “Demi Allah, tidak ada yang bisa menebus kesalahanku membunuh paman Nabi ﷺ kecuali aku harus membunuh musuh Allah.” Dan dia membunuh nanti Musailamah al-Kadzab, nabi palsu di zaman Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Dia membunuh dan uniknya, dia membunuh dengan tombak yang sama yang dia bunuh Hamzah di titik yang sama. Setelah dia cabut, lalu dia mengatakan: “Alhamdulillah yang telah menutupi kesalahan itu dengan kebenaran ini.” Kemudian yang ketujuh: Abdullah bin Khatal. Kalau ini terbunuh dia. yang ketujuh ini terbunuh. Abdullah bin Khattal nanti kita ceritakan. Yang kedelapan: Ka’ab ibn Zuhair bin Abu Zulma al-Muzani. Ka’ab ibn Zuhair bin Abi Zulma al-Muzani ini penyair yang suka sekali menghina Nabi ﷺ. Tapi dia, Ka’ab ini, sempat... minta maaf nanti dan masuk Islam. Kemudian yang kesembilan: Habbar bin Aswad bin Muthalib. Ia pernah menghadang Zainab, anak Nabi ﷺ, pada saat akan hijrah ke Madinah hingga keguguran. Namun, dia juga masuk Islam dan dimaafkan oleh Nabi ﷺ. Habbar namanya. Yang terakhir yang kesepuluh: Huwairith bin Nuqaiz. Ia telah mencelakakan Fathimah dan Ummu Kultsum, radhiallahu 'anhuma, dari atas unta Abbas, dan ini terbunuh di tangannya Ali bin Abi Thalib. Jadi ada yang terbunuh, tapi mayoritasnya selamat nantinya karena minta maaf. Yang terbunuh pasti: Abdullah bin Khatal dan Huwairith bin Nuqaiz. Baik, setelah instruksi itu keluar, para sahabat keluar mencari 10 orang ini. Menyebarlah pada saat itu. Ayah Abu Bakar, namanya Abu Quhafah. Abu Quhafah waktu itu, tua sekali. Abu Bakar saja sudah sangat tua. Waktu menjelang pembebasan Kota Mekkah ini, umur Nabi ﷺ itu sudah mencapai 62 tahun. 61-62 tahun. Nabi ﷺ sudah mendekati mau meninggal. Abu Bakar cuma beda dua tahun dengan Nabi ﷺ. Kalau Nabi 62, Abu Bakar sudah 60. Berapa umur ayahnya? Sudah 80 sekian, 90 tahun. Semuanya rambutnya putih. Alisnya putih. Jenggotnya semua putih, Abu Quhafah itu. Sangat tua. Dan matanya sudah rabun. Waktu itu kebetulan, dia tidak tahu informasi tentang Mekkah ini, apa yang sedang terjadi. Dia sering jalan dipegang sama satu budaknya. Maaf, riwayat lain menyebutkan cucunya. Tepatnya cucunya lah. Dia bertanya kepada cucunya, “Apa yang kau lihat, wahai cucuku?” Cucunya mengatakan, “Aku melihat kehitaman yang besar.” Pasukan banyak masuk. Karena Mekkah itu kayak lembah pintu gerbangnya, kemudian ada bukit banyak. Jadi bukit itu kelihatan orang kalau mau masuk ke Mekkah. Makanya cucu mengatakan, “Aku melihat kehitaman yang besar.” Kata Abu Quhafah, “Itu pasukan. Apa yang kau lihat sekarang?” Kata cucunya, “Aku melihat hitam itu terbagi menjadi empat bagian.” Abu Quhafah berkata, “Itu pembagian pasukan menang. Kalau sudah dibagi jadi empat bagian berarti menang.” Ia kembali bertanya, “Apa yang kau lihat sekarang?” Kata cucunya: “Aku melihat sekarang pasukan hitam itu," atau, "melihat hitam itu bergerak menuju masuk ke Mekkah.” Abu Quhafah berkata, “Sekarang akan terjadi pembantaian. Maka segera kita menuju ke rumah.” Karena Abu Quhafah sangat tua, maka dia belum sempat masuk ke rumahnya sudah tertangkap oleh pasukan Muslimin. Dan akhirnya menjadi tawanan. Pasukan yang menawan Abu Quhafah membawanya kepada anaknya, Abu Bakar radhiallahu 'anhu. Dan akhirnya Abu Bakar membawa ayahnya, Abu Quhafah, ke hadapan Nabi ﷺ. Jadi karena menghormati Abu Bakar, maka... para pasukan Muslim yang menangkapnya membawa, mengatakan: “Ini ayah Anda.” Maka Abu Bakar pun menggendong ayahnya... di punggungnya, radhiallahu 'anhum ajma'in, kemudian membawanya ke Nabi ﷺ mengatakan: “Ya Rasulullah, ini ayahku tertawan, dan aku membawanya untuk masuk Islam.” Maka Nabi ﷺ berkata, “Wahai Abu Bakar, engkau telah menyusahkan orang setua dia. Semestinya beritahukan kepada kami dan kami akan datang untuk menyambutnya.” Jadi rupanya sementara perjalanan, waktu Abu Bakar megang ayahnya, mengatakan: “Wahai ayahku, aku adalah Abu Bakar.” Maka Abu Quhafah pun merasa senang anaknya datang, lalu dipeluklah. karena dia sayang sekali dengan Abu Bakar. Lalu Abu Bakar sempat mengatakan: “Aku telah datang membawa agama yang benar, maka terimalah. Jangan sampai kamu menolak, wahai ayahku. Engkau telah mengetahui begini dan begitu. Dan sekarang pasukan Rasulullah telah menang menguasai Mekkah. Kami telah masuk. Kalau orang menolak bisa terbunuh.” Maka Abu Quhafah mengatakan, “Baiklah, saya masuk Islam.” Lalu Abu Bakar memikul di punggungnya. Lalu sampailah di hadapan Nabi ﷺ, sampai akhirnya Abu Quhafah masuk Islam. Dan kata para ulama, Abu Bakar radhiallahu 'anhu ini sangat unik. Karena empat generasi sempat menjadi sahabat: Ayahnya, Abu Quhafah. Abu Bakar sendiri. Anaknya Abu Bakar, dan cucunya Abu Bakar. Ini semua menjadi generasi sahabat. Tentu tidak semua cucunya, radhiallahu ‘anhum ajma’in, tapi ada di antara cucunya berhasil mendapatkan masa hidupnya Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Abu Bakar berkata: “Tidak, wahai utusan Allah, tetapi Anda yang pantas untuk didatangi.” Maka masuk Islam-lah pada saat itu ayah Abu Bakar. Pada saat itu, Nabi ﷺ melihat... Abu Quhafah penuh dengan rambut putih. Rambutnya panjang, gondrong, kemudian putih. Alisnya putih semua. Jenggotnya putih semua. Maka keluarlah hukum pada saat itu: mewarnai rambut. Kata Nabi ﷺ: “Bawalah, hai Abu Bakar, ayahmu ini kepada istri-istrinya dan suruhlah mereka mewarnainya.” Disuruh mewarnai. Dan Nabi ﷺ mengatakan juga, “Warnaikanlah rambut dan jenggot kalian yang sudah putih. Karena Yahudi tidak mewarnai.” Tapi kita disini disuruh mewarnai bukan warna hitam, tapi warnanya coklat atau kemerah-merahan. Itu yang disunahkan oleh Nabi ﷺ. Lalu pada saat itu pun, dibawalah ayahnya Abu Bakar dan sudah selesai kisah dia. Pada saat pasukan memasuki Mekkah, Nabi ﷺ menundukkan kepala beliau. Waktu sudah lihat Ka'bah, menundukkan kepala beliau dan dari depan... seluruh pasukan menyebar, lalu kemudian membelakangi atau berada di belakang Nabi ﷺ. Waktu melihat Mekkah atau Ka’bah, Nabi ﷺ di pintu gerbang kemudian mendekati Ka’bah, Nabi ﷺ menundukkan kepala. Dan sampai kata para sahabat, “Kami menyaksikan... dagu Nabi ﷺ menyentuh lehernya sebagai bentuk tawadhu dan merendah serta tanda syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.” Lalu, sambil membaca Surah Al-Fath. Dan pada saat itulah, Surah Al-Fath dibacakan lengkap oleh Nabi shallallahu 'alaihi wassalam, 29 ayat. Ayat pertamanya, أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ Surah No. 48, ayat 1–29. Dan para sahabat mendengarkan bacaan baginda Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu dengan kemenangan yang nyata. Kata para ahli tafsir, kemenangan ini adalah kemenangan penaklukan Mekkah. Dan ada yang mengatakan penaklukan negeri Rum, atau Romawi. Ada pula yang mengatakan perdamaian Hudaibiyah. Tapi kebanyakan ahli tafsir menjelaskan ini adalah gabungan dari semuanya. Dari... pembebasan Khaibar, kemudian pembebasan kota Mekkah, setelahnya ada Perang Hunain, setelahnya ada Perang Tabuk. Semua itu yang masuk dalam ayat ini. Ayat 2-nya: لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ Supaya Allah memberikan ampunan kepadamu terhadap dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu ke jalan yang lurus. Baginda Nabi ﷺ dengan ayat kedua ini, dipastikan, kalaupun ada kesalahan atau dosa, semuanya sudah dimaafkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Diistilahkan dengan "ma’shum", kesalahan itu akan dimaafkan langsung oleh Allah. Ayat 3-nya: وَّيَنْصُرَكَ اللّٰهُ نَصْرًا عَزِيْزًا Dan supaya Allah akan memberikan pertolongan yang banyak dan kuat kepadamu. Ayat 4-nya: هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang sudah ada. Dari ayat ini, sebagian besar ulama mengatakan bahwasannya iman bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan. Karena dia bisa bertambah, dikatakan: "Dan Dialah yang telah menambahkan keimanan orang beriman di atas keimanan mereka." "Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Yang dimaksud dengan tentara langit adalah para malaikat. Sebagaimana sudah kita jelaskan, sempat hadir... di Perang... Badar dan ikut berperang. Dan juga nanti akan hadir di Perang Hunain. Tapi di Perang Hunain, malaikat tidak ikut memerangi musuh. Ayat selanjutnya, ayat 5: لِّيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عِنْدَ اللّٰهِ فَوْزًا عَظِيْمًاۙ Supaya Dia (Allah) memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan supaya Dia (Allah) menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah. Mulai ini, ayat ini turun, semua orang beriman laki-laki dan perempuan mendapatkan jaminan surga, selama dia tidak membatalkan keislamannya. Walaupun nanti akan ada usatul mu’minin, orang-orang mukmin yang meninggal tidak sempat taubat, masuk ke neraka dulu, tapi nanti akan masuk ke dalam surga. Ini jaminan. Dan bagi yang taubat, Allah akan maafkan kesalahan-kesalahan mereka. Ayat keenamnya: وَّيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِيْنَ وَالْمُنٰفِقٰتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكٰتِ الظَّاۤنِّيْنَ بِاللّٰهِ ظَنَّ السَّوْءِۗ عَلَيْهِمْ دَاۤىِٕرَةُ السَّوْءِۚ وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًا "Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan, yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran kebinasaan yang amat buruk. Dan Allah memurkai dan mengutuk mereka, serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan neraka Jahannam itu sejahat-jahat tempat kembali.” Makna ayat ke-6 ini kata ulama adalah... bahwasanya setelah pulang dari pembebasan kota Mekkah, orang-orang munafik akan dibongkar kedoknya oleh Allah. Terutama nanti pulang dari Perang Tabuk, sebelum sakitnya Nabi ﷺ dan meninggalnya beliau, beliau akan tunjuk satu per satu. Kata Nabi ﷺ di masjid: “Yang aku sebutkan namanya, berdiri! Munafik!” Nabi ﷺ bongkar kedok mereka: "Fulan, berdiri! Fulan, berdiri! Fulan, berdiri!" Dibongkar satu per satu kedok mereka semuanya pada saat itu. Nanti kita jelaskan, insyaAllah, pada saat waktunya nanti. Dan juga yang dimaksud dengan orang musyrik laki-laki dan perempuan akan disiksa oleh Allah adalah, orang-orang yang tidak sempat masuk Islam dan terbunuh dalam keadaan kekufurannya di Mekkah, Maka pasti akan kena hukuman ini. Ayat 7-nya: وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا “Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Sebagian ulama mengatakan tentara langit dan bumi adalah: langit para malaikat, dan juga bisa saja hujan, bisa saja angin kencang, dan segala macam— ini pasukannya Allah. Dan juga di bumi, bisa masuk di dalamnya semua manusia, binatang-binatang, atau apa pun yang terjadi di muka bumi termasuk gempa, banjir, dan sebagainya ini adalah pasukannya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Makanya teman-teman sekalian, jangan sampai kita menganggap pasukan itu cuma manusia yang pakai baju perang. Tidak. Semuanya pasukan Allah. Terjadinya banjir, badai... apa saja, ini semua adalah tentara-tentara Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ayat 8: إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا Sesungguhnya Kami mengutus kamu, wahai Muhammad, tidak lain... kecuali sebagai saksi akan kebenaran Kami, pembawa berita gembira bagi orang-orang beriman, dengan melakukan amal saleh mereka masuk surga, dan sebagai pemberi peringatan bagi yang membangkang. Dosa-dosa diberikan peringatan. Ayat 9-nya: لِّتُؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُعَزِّرُوْهُ وَتُوَقِّرُوْهُۗ وَتُسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا Semua tujuan syariat ini adalah... agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, yakin ini kebenaran, "membesarkan Allah dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” Ayat 10-nya: اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًاࣖ “Bahwasanya, orang-orang yang berjanji setia kepadamu bahwasannya mereka akan janji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka.” Maksudnya ini adalah di Bai'at Ridwan, di kesepakatan Hudaibiyah. “Maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri. Dan barang siapa yang menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya pahala yang besar.” Terus saja dibaca ayat ini sampai akhir ayat oleh Nabi ﷺ tentunya, sampai ayat 29. Tentu kita akan lanjutkan, insyaAllah, ayatnya. Saya akan bacakan, karena di tulisan saya hanya sampai ayat ke-10 saja. Lalu kemudian ayat 11-nya: سَيَقُوْلُ لَكَ الْمُخَلَّفُوْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ شَغَلَتْنَآ اَمْوَالُنَا وَاَهْلُوْنَا فَاسْتَغْفِرْ لَنَاۚ يَقُوْلُوْنَ بِاَلْسِنَتِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ قُلْ فَمَنْ يَّمْلِكُ لَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا اِنْ اَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا اَوْ اَرَادَ بِكُمْ نَفْعًاۗ بَلْ كَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak ikut di kesepakatan Hudaibiyah) akan mengatakan: ‘Harta dan keluarga kami telah merintangi kami. Maka mohonkanlah ampun untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah: “Maka siapakah gerangan yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagi kalian, dan jika Dia menghendaki manfaat bagi kalian? Sebenarnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan." Makna ayat ini, tentunya turun... kalau masih ingat dulu setelah kesepakatan Hudaibiyah, Sempat ada iklan dari Nabi ﷺ untuk menyerang Khaibar. Ada banyak orang-orang... pada saat Perang Khaibar, atau akan menuju ke Perang Khaibar, Nabi ﷺ mengatakan tidak boleh ikut ke Khaibar kecuali... orang-orang yang ikut di Hudaibiyah 1.400 orang saja, tidak boleh lebih. Kecuali memang orang yang Nabi ﷺ tunjuk secara khusus. Maka datanglah orang-orang Badui mengatakan: “Ya Rasulullah, kami tidak tahu ada Hudaibiyah. Kami tidak tahu. Izinkan kami sekarang ikut berperang.” Karena mereka sudah dengar Nabi ﷺ bilang Khaibar akan tembus. Untuk mendapatkan ghanimah mereka bilang itu. Karena mereka desak terus, maka Nabi ﷺ mengatakan, “Boleh kalian ikut," Karena mereka bilang, "Kami mau mati syahid, kami mau mendapatkan pahala perang," segala macam. Tapi Nabi bilang, "Boleh kalian ikut. Hanya saja... tidak ada harta rampasan perang.” Ternyata nggak ada yang ikut satu pun. Maka turun ayat 11 tadi. Ayat 12: بَلْ ظَنَنْتُمْ اَنْ لَّنْ يَّنْقَلِبَ الرَّسُوْلُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ اِلٰٓى اَهْلِيْهِمْ اَبَدًا وَّزُيِّنَ ذٰلِكَ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِۚ وَكُنْتُمْ قَوْمًا ۢ بُوْرًا Tapi kalian menyangka bahwasannya rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya. Dan syaitan telah menjadikan kalian memandang baik dalam hati kalian prasangka itu, dan kalian telah menyangka dengan prasangka buruk, dan kalian menjadi kaum yang binasa. Kalian mengira bahwasannya Nabi ﷺ tidak akan balik lagi setelah Hudaibiyah, atau tidak akan balik lagi setelah Perang Khaibar, atau tidak balik lagi setelah pembebasan kota Mekkah. Itu prasangka yang salah. Kemenangan semua Allah janjikan, walaupun pasukan Islam lebih sedikit. Ayat 13: وَمَنْ لَّمْ يُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ فَاِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَعِيْرًا Barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak yakin tentang janji-janji dan ancaman yang ada, maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang kafir neraka yang menyala-nyala. Ayat 14: وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ يَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia memberikan ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Ayat 15: سَيَقُوْلُ الْمُخَلَّفُوْنَ اِذَا انْطَلَقْتُمْ اِلٰى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوْهَا ذَرُوْنَا نَتَّبِعْكُمْۚ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّبَدِّلُوْا كَلٰمَ اللّٰهِۗ قُلْ لَّنْ تَتَّبِعُوْنَا كَذٰلِكُمْ قَالَ اللّٰهُ مِنْ قَبْلُۖ فَسَيَقُوْلُوْنَ بَلْ تَحْسُدُوْنَنَاۗ بَلْ كَانُوْا لَا يَفْقَهُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا Orang-orang Badui yang tertinggal akan berkata, ‘Apabila kalian telah berangkat, dan untuk mengambil harta rampasan perang, biarkan kami ikut bersama kalian. Niscaya kami akan mengikuti kalian.’ Maka mereka hendak mengubah janji Allah. Artinya orang-orang kafir, munafik, tidak akan ada gunanya. Mereka pun tidak akan dilibatkan. Katakanlah, 'Kamu sekali-kali tidak boleh mengikuti kami.' Katakan kepada orang munafik dan orang-orang itu, “Tidak mungkin kalian ikut." Demikianlah Allah telah menetapkan sebelumnya. Tapi mereka malah mengatakan, 'Kalian dengki pada kami.' Bahkan mereka tidak mengerti sedikitpun alasan itu, atau, tidak mengerti melainkan sangat sedikit sekali. Jadi waktu mereka dilarang, "Nggak usah ikut ke Khaibar, kecuali pengikut Hudaibiyah saja," mereka bilang sama kaum Muslimin, “Kalian cuma hasud pada kami, supaya kami tidak ikut dapat harta rampasan perang.” Ayat 16: قُلْ لِّلْمُخَلَّفِيْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ اِلٰى قَوْمٍ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ تُقَاتِلُوْنَهُمْ اَوْ يُسْلِمُوْنَۚ فَاِنْ تُطِيْعُوْا يُؤْتِكُمُ اللّٰهُ اَجْرًا حَسَنًاۚ وَاِنْ تَتَوَلَّوْا كَمَا تَوَلَّيْتُمْ مِّنْ قَبْلُ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا Katakanlah kepada orang-orang badui yang tertinggal: "Kalian akan diajak untuk memerangi kaum yang mempunyai kekuatan yang besar. Kalian akan memerangi mereka atau mereka menyerah masuk Islam. Maka jika kalian patuh (ajakan itu), niscaya Allah akan memberikan kepada kalian pahala yang baik. Dan jika kalian berpaling sebagaimana kalian telah berpaling sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kalian dengan azab yang pedih." Kata sebagian ulama, ayat ini turun... pengajakan nanti Nabi ﷺ kepada orang-orang Muslimin untuk pergi perang Tabuk. Nanti kita jelaskan masalah itu di Perang Tabuk. Jadi rupanya mereka menolak lagi ikut Perang Tabuk itu, orang munafik. Maka Allah turunkan ayat ini menjelaskan. Sebelum mereka melakukan, sudah turun ayatnya. Bagaimana mereka akan menolak, sebagaimana mereka menolak pada saat pergi ke Hudaibiyah. Ayat 17: لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا اَلِيْمًاࣖ Tentu ayat ini nanti semua banyak berbicara tentang Perang Tabuk, ya. Nanti akan kita bahas juga di Perang Tabuk, insyaAllah. "Tidak ada dosa," kata Allah, "bagi orang yang buta, atau orang yang pincang, atau orang yang sakit apabila mereka tidak ikut perang. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Dan barangsiapa yang berpaling, niscaya Allah akan mengazabnya dengan azab yang pedih." Jadi ini, ayat ini turun tentang masalah hukum udzur bagi orang yang tidak bisa ikut jihad. Sebagaimana waktu nanti Perang Tabuk, kita akan belajar insyaAllah nanti, ada orang-orang di Madinah sampai nangis karena nggak bisa ikut. Karena Perang Tabuk jauh, dari Madinah ke Mekkah jaraknya jauh sekali. Dan mereka butuh kendaraan. Tidak ada kendaraan, maka mereka menangis pada saat itu. Mereka pulang sambil menangis tentunya pada saat itu. Dan ini dimasukkan dalam udzur. Orang buta juga tidak bisa berperang, tidak tahu mana musuhnya. Maka mereka kalau punya niat yang baik, dapat pahala jihad. Kata Nabi ﷺ... waktu pulang dari Perang Tabuk: “Sesungguhnya di Madinah ada kaum yang tidak ada lembah yang kalian lewati, tidak ada rasa letih, tidak ada harta yang kalian keluarkan, tidak ada musuh yang kalian buat marah, kecuali mereka ikut bersama kalian dengan pahala karena mereka tertahan oleh udzur. Kalau mereka tidak punya Udhur, mereka akan ikut. Ayat 19: وَّمَغَانِمَ كَثِيْرَةً يَّأْخُذُوْنَهَاۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا Serta harta rampasan yang banyak yang akan mereka ambil. Dia adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kata ulama, ayat ini juga... menjelaskan tentang harta rampasan Khaibar dan harta rampasan Hunain nanti, kaum Hawazin. Ayat 20: وَعَدَكُمُ اللّٰهُ مَغَانِمَ كَثِيْرَةً تَأْخُذُوْنَهَا فَعَجَّلَ لَكُمْ هٰذِهٖ وَكَفَّ اَيْدِيَ النَّاسِ عَنْكُمْۚ وَلِتَكُوْنَ اٰيَةً لِّلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَهْدِيَكُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ Allah menjanjikan kepada kalian harta rampasan yang banyak yang dapat kalian ambil. Maka disegerakanlah harta rampasan ini untukmu —maksudnya Khaibar— dan Dia menahan tangan manusia dari membinasakanmu agar kamu mensyukurinya dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang Mukminin, dan agar Dia menunjukkan kalian jalan yang lurus. Kata ulama, Mekkah tidak jadi melawan, atau tidak bisa melawan. Di Perang Hunain juga, jumlah mereka sampai 30 ribu orang, juga tidak bisa mengalahkan pasukan Muslimin. Ayat 21: وَّاُخْرٰى لَمْ تَقْدِرُوْا عَلَيْهَا قَدْ اَحَاطَ اللّٰهُ بِهَاۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا Dan Allah telah menjanjikan kemenangan-kemenangan yang lain atas negeri-negeri yang kalian belum dapat menguasainya, yang sungguh Allah telah menentukannya. Dan Allah Maha Kuasa lagi atas segala sesuatunya. Dikatakan oleh para ulama, ayat 21 itu turun tentang Kota Thaif. Nanti kita pelajari setelah Perang Hunain, bagaimana Kota Thaif tidak bisa ditembus. Kuasa Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebagian ulama tafsir mengatakan, yang dimaksud adalah: wilayah-wilayah yang belum dikuasai di masa hidupnya Nabi ﷺ. Nanti dibuka setelah beliau meninggal. Ayat 22: وَلَوْ قَاتَلَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوَلَّوُا الْاَدْبَارَ ثُمَّ لَا يَجِدُوْنَ وَلِيًّا وَّلَا نَصِيْرًا Sekiranya orang-orang kafir itu juga berusaha memerangi kalian, pasti mereka berbalik melarikan diri ke belakang atau kalah. Kemudian mereka tidak memperoleh perlindungan dan tidak pula penolong. Kalau orang Islam keluar dengan pasukan yang benar, ikhlas karena Allah, betul jihad sedang terjadi, maka Allah janjikan kemenangan. Tapi banyak dari mereka masih ragu dan bimbang. Ayat 23: سُنَّةَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا Itu semua peraturan Allah, sunnatullah, yang telah berlaku sejak dulu. Orang beriman dari dulu jumlahnya lebih sedikit, Tapi mereka ikhlas, mereka menang. Dan kalian tidak akan pernah menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. Beriman, beramal saleh, menang. Dan kalau sudah masuk di kancah peperangan, teman-teman sekalian, bukan lagi kita yang membunuh itu. Allah yang memudahkan kita membunuh orang kafir. Makanya Allah berfirman kepada Nabi ﷺ dan para sahabat. Ya. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ, dalam ayat lain ya. فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ رَمٰىۚ Hai Muhammad, beritahukan kepada umatmu, pasukanmu, bahwasannya... bukan kalian yang membunuh, tapi Allah yang telah membunuh mereka (orang-orang kafir), dan bukan kalian yang melempar tombak, anak panah, pedang yang diayunkan, tapi Allah yang telah mengayunkannya atau melemparkannya. Ayat 24: وَهُوَ الَّذِيْ كَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ عَنْهُمْ بِبَطْنِ مَكَّةَ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ اَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًا Dan Dialah yang telah menahan tangan mereka dari membinasakan kalian dan menahan tangan kalian untuk membinasakan mereka di tengah kota Mekkah sesudah Allah memenangkan kalian atas mereka, dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. Artinya, waktu pada saat akan pembebasan Kota Mekkah, ada ulama tafsir yang mengatakan terjadi di kesepakatan Hudaibiyah. Tidak jadi Quraisy menyerang Muslimin, padahal sudah depan mata. Muslimin juga tidak jadi berperang, juga sudah depan mata. Allah berikan kesepakatan. Juga ada yang mengatakan ini adalah pembebasan Kota Mekkah. Bagaimana Mekkah tidak punya persiapan, akhirnya mereka menyerahkan Mekkah. Jadi ditahan tangan mereka, tidak bisa melawan. Muslimin juga tidak perlu membantai mereka. Ayat 25: هُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْهَدْيَ مَعْكُوْفًا اَنْ يَّبْلُغَ مَحِلَّهٗۚ وَلَوْلَا رِجَالٌ مُّؤْمِنُوْنَ وَنِسَاۤءٌ مُّؤْمِنٰتٌ لَّمْ تَعْلَمُوْهُمْ اَنْ تَطَـُٔوْهُمْ فَتُصِيْبَكُمْ مِّنْهُمْ مَّعَرَّةٌ ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۚ لِيُدْخِلَ اللّٰهُ فِيْ رَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۚ لَوْ تَزَيَّلُوْا لَعَذَّبْنَا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا Mereka orang-orang kafir yang menghalangi kalian masuk ke Masjidil Haram —pada saat kesepakatan Hudaibiyah. Dan ini tidak bisa dilepaskan, ya: kesepakatan Hudaibiyah, pembebasan kota Mekkah, Perang Hunain, ini satu paket. Ini tiga hal yang terjadi sangat dekat dan memang berhubungan dengan ayat-ayat dalam Surah Al-Fath ini. Mereka orang-orang kafir yang telah menghalangi kalian masuk ke Masjidil Haram dan menghalangi hewan kurban kalian —pada kesepakatan Hudaibiyah— sampai ke tempat penyembelihannya. Karena Nabi ﷺ waktu pergi dari Mekkah pakai baju ihram, itu kan membawa hadyu, hewan kurban yang tadinya mau dikurbankan pada saat umrah —yang batal umrahnya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan mukminah atau perempuan-perempuan mukminah yang tidak kalian kenali di Mekkah, sehingga kalian akan membunuh mereka karena tidak tahu. Yang menyebabkan kalian akan ditimpa kesusahan tanpa pengetahuan. Tentulah Allah tidak akan menahan tangan kalian membinasakan mereka. Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih. Maksudnya adalah, waktu kesepakatan Hudaibiyah, Muslimin tidak jadi perang, padahal mereka sudah 1.000 orang dan mereka bawa pedang. Mereka bisa menyerang Mekkah. Sudah depan mata. Pasukan Quraisy juga ada di situ, pada saat itu keluar yang 3.000 orang, juga depan mata. Tinggal diserang, menguasai Mekkah. Tapi Allah menyebutkan sebabnya kenapa Allah tahan pada saat itu, tidak jadi peperangan. Karena dalam Mekkah, ada laki-laki mukmin dan perempuan mukminah yang menyembunyikan Islamnya. Kalau pasukan Islam masuk waktu itu dan membantai, membunuh, akhirnya ada orang Islam yang terbunuh. Dan itu akan mendatangkan penyesalan buat kalian. Ini kata Allah Subhanahu wa Ta'ala di ayat 25 tadi. Dan kalau seandainya tidak ada umat Islam di situ, di Mekkah, tidak bercampur baur orang kafir, Kami pasti akan azab mereka dengan azab yang pedih. Kata ulama tafsir, sebagian besar mereka mengatakan ayat 25 ini sangat jelas. Kalau ada satu wilayah, tidak ada satu pun muslimnya di situ, maka mudah sekali Allah hukum, mudah sekali Allah azab. Tapi kalau ada muslim di situ satu saja, itu sudah cukup menjadi penghambat atau tidak jadinya Allah menghukum mereka karena keimanan orang itu, apalagi kalau dasarnya dia orang saleh. Jadi selamatnya negara-negara kafir sebenarnya sekarang ini, bukan karena mereka itu makmur, tapi Allah menyelamatkan justru karena adanya umat Islam di sana. Dan dengan hikmah Allah, subhanallah, seluruh dunia ini ada saja orang Islam. Tak ada yang tidak ada orang Islam, gitu. Sehingga dengan itu Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak jadi menghukum mereka. Ayat 26: اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى وَكَانُوْٓا اَحَقَّ بِهَا وَاَهْلَهَاۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًاࣖ Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan-kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mu’min. Dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat taqwa. Kata ulama adalah kalimat tauhid, dan makna lain adalah ketawadhuan. Makanya Nabi ﷺ waktu masuk Mekkah, bukannya justru sombong seperti orang jahiliyah. Kalau orang kafir menang, mereka malah sombong-sombong. Kalau muslimin malah tidak, malah mereka merendah. Dan adalah mereka berhak dengan kalimat taqwa dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Ayah 27: لَقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُوْلَهُ الرُّءْيَا بِالْحَقِّۚ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ اٰمِنِيْنَۙ مُحَلِّقِيْنَ رُءُوْسَكُمْ وَمُقَصِّرِيْنَۙ لَا تَخَافُوْنَۗ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوْا فَجَعَلَ مِنْ دُوْنِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَرِيْبًا Sesungguhnya Allah telah membuktikan dan membenarkan mimpi Rasul-Nya. Yaitu, sesungguhnya kalian pasti akan memasuki Masjidil Haram, InsyaAllah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala kalian dan mengguntingnya, sedang kalian tidak merasa takut. Maka Allah menjadikan atau mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, dan Dia akan memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. Makna ayat 27 ini, teman-teman, adalah umratul qada. Masih ingat nggak kisah umrat qada? Setelah kesepakatan Hudaibiyah dan pembebasan Khaybar, Nabi ﷺ tahun depannya datang umrah. Namanya umrat qada. yang mereka masuk ke Mekkah selama tiga hari. Sempat ibadah, umrah, segala macam. Cukur rambut mereka. Ayat ini menjelaskan masalah itu. Kalau lupa apa boleh buat. Nasibnya itu. Ayat 28: هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang Haq agar dimenangkannya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. Islam ini pasti menang, nggak bakal ada pernah yang bisa menahannya. Sunnatullah. Dia yang mengutus untuk memenangkan di atas agama semua. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. Tinggal siapa yang mau bergerak. Ayat 29, yang terakhir: مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًاۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًاࣖ Muhammad benar-benar utusan Allah. ﷺ Ini tidak ada keraguan dalam masalah itu. Dan orang-orang yang bersama dengannya, (para sahabat) sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka. Kalian lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat, dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat. Lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan kekuatan orang-orang mu’min. Allah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. Maka dengan membaca ayat ini, Nabi ﷺ membaca terus ayat ini sampai akhirnya... tiba di wilayah Khaif tadi. Kemudian Nabi ﷺ mengumpulkan pasukannya. Pasukan yang pertama tiba di Khaif adalah pasukan Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, dan ia segera mengatur pasukannya serta mengamankan sekitar lokasi, juga memasang kemah untuk Nabi ﷺ. Sementara yang terakhir tiba adalah pasukan Khalid bin Walid, dikarenakan terdapat beberapa dari pemuka dan pemuda Quraisy, juga kesatrianya, yang tidak mau menyerahkan diri. Bahkan berusaha membentuk pasukan dan berusaha menyerang. Dan mereka menyerang pasukan Khalid bin Walid. Maaf. Mereka berusaha menyerang pasukan Khalid bin Walid, sementara Nabi ﷺ telah melarang pasukan Khalid bin Walid untuk... menyerang. Tidak boleh membunuh, kecuali sepuluh orang tadi. Pasukan-pasukan Quraisy yang terbentuk ini, dan pemuda juga, kesatrianya adalah... dipimpin oleh Ikrimah bin Abi Jahl, Shafwan bin Umayyah bin Khalaf, Al-Harith ibn Hisham, dan Abdullah bin Rabi'ah. Empat orang ini mengajak anak-anak muda Mekkah: "Kita keluar, bentuk pasukan." Bentuk pasukan tapi bukan dalam Mekkah, karena Mekkah sudah masuk pasukan. Mereka keluar di luar Mekkah. Kebetulan waktu mereka keluar bentuk pasukan di luar, ketemu sama pasukannya Khalid bin Walid yang belum masuk ke Mekkah. Tadinya pasukan Khalid bin Walid kebetulan di depan waktu awal mau menyerang. Tapi setelah menang, Nabi ﷺ letakkan bukan di depan lagi pasukan Khalid bin Walid, sudah dipindahkan. Maka pasukan Nabi ﷺ dulu masuk, baru pasukan Khalid bin Walid terakhir masuk. Waktu sebelum masuk, sempat pasukan Khalid bin Walid ketemu dengan... pasukan Quraisy di luar pintu gerbang Mekkah. Saat Khalid bin Walid menghadapi mereka, ia menawarkan agar mereka masuk Islam seraya berkata, "Wahai Ikrimah, ini adalah utusan Allah dan sudah sangat jelas. Ia menguasai Mekkah sekarang. Masuk Islamlah. dan itu lebih baik buat engkau dan mereka." Tapi ternyata mereka menolak. Khalid bin Walid kemudian mengatakan, "Masuklah ke rumah-rumah kalian agar kalian mendapatkan keamanan." Mereka juga menolak, tetap saja yang mau berperang. Khalid lalu berkata: "Kalau begitu, jangan halangi jalan kami masuki Mekkah, karena Rasulullah ﷺ melarang kami memerangi kalian kecuali individu saja di antara kalian. Yang lain, nggak boleh ikut campur." Ternyata, di pasukan ada Ikrimah. Dan Ikrimah termasuk orang yang memang harus dibunuh, Sama juga dengan Shafwan. Maka kata Khalid bin Walid, "Ikrimah dan Shafwan mau melawan, silakan. Yang lain jangan ikut-ikutan." Tapi rupanya pasukan mereka tidak mau menyerahkan. Akhirnya Khalid bin Walid tidak menemukan celah kecuali memerangi mereka. Saat terjadi peperangan, terbunuh dari Quraisy sekitar 23 orang. Dan tidak satu pun dari muslimin yang terbunuh. Maka pasukan Ikrimah melarikan diri, termasuk Ikrimah sendiri melarikan diri bersama Shafwan keluar Mekkah. Dan pada pasukan Khalid bin Walid, ada yang mengejar Al-Harith ibn Hisham dan Abdullah bin Rabi'ah. Sambil keduanya melarikan diri. Dan rumah mereka... Sambil keduanya melarikan diri, Dan mereka melarikan diri pada saat itu ke rumah terdekat yang mereka bisa selamat, tepatnya rumahnya Ummu Hani. Ummu Hani radhiyallahu ‘anha adalah saudara kandungnya Ali bin Abi Thalib. Keduanya lalu masuk rumah Ummu Hani sambil berkata, "Lindungilah kami, wahai Ummu Hani." Ummu Hani lalu menjawab: "Aku telah melindungi kalian." Lalu Ummu Hani keluar dan melihat di depan rumahnya ada seseorang dari pasukan muslimin yang ia tidak mengenalnya. Dan ternyata itu adalah adiknya sendiri, Ali bin Abi Thalib, yang sedang mengejar dua orang ini: Al-Harith bin Hisham dan Abdullah bin Rabi'ah. Maka Ummu Hani waktu itu tentu muslimah, sudah masuk Islam dia. Ummu Hani berkata kepada Ali, "Wahai Ali, mereka berdua di bawah perlindunganku." Ali berkata, "Wahai Ummu Hani, mereka berdua telah berusaha memerangi kami. Maka demi Allah, tidak boleh keluar rumahmu sampai ada perintah dari Nabi ﷺ." Ummu Hani berkata, "Aku akan menemui sendiri Nabi ﷺ." Pada saat itu, Nabi ﷺ sedang mandi di dalam kemah dan niat akan melaksanakan shalat, serta Fatimah radhiyallahu ‘anha yang menutupi beliau dengan kain. Ummu Hani lalu pamit masuk dan diizinkan oleh Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ berbicara dari belakang tirai mandinya. Lalu Nabi ﷺ berkata, "Ada apa, wahai Ummu Hani?" Ummu Hani berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh aku telah melindungi Al-Harith ibn Hisham dan Abdullah bin Rabi'ah." Maka Nabi ﷺ menjawab: "Sungguh, kami telah melindungi siapa yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani." Nah, ini juga hukum syar'i sendiri, teman-teman sekalian. Bagaimana Islam... agama yang memuliakan semua: laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua, kaya, atau miskin. Selama dia muslim, dihormati. Ummu Hani seorang wanita, melindungi dua orang kafir yang sudah halal darahnya, tapi dilindungi oleh Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām. Saat pasukan Khalid bin Walid tiba di lokasi, di mana Nabi ﷺ sudah berkemah dan Khalid bin Walid... melaporkan kejadian Ikrimah dan pasukannya, maka Nabi ﷺ memaafkan Khalid karena tidak ada pilihan lain kecuali harus memerangi Ikrimah yang menolak menyerahkan diri ataupun mengalah. Tentu Ikrimah menarikkan diri bersama Safwan ke arah negeri Syam, sementara Abdullah bin Abi Sarh dan Hindun juga menyembunyikan diri di sekitar Mekkah. Tentu ini... kisah teman-teman sekalian, nanti akan ada masuk Islamnya mereka. Ikrimah masuk Islam, Safwan masuk Islam, Abdullah bin Abi Sarh, Hindun juga akan masuk Islam. Dan itu insyaAllah akan kita ceritakan dan bahas nanti malam nanti. Saya akan tutup, teman-teman sekalian, dengan... Zubair bin Awwam berhasil menemukan Habbar ibn Aswad, Salah satu yang harus dibunuh ini, dan membunuhnya saat Habbar bergantung pada kiswah Ka'bah. Nabi ﷺ lalu menuju ke Ka'bah dan tawaf, dan sebagian besar pimpinan Quraisy menyaksikan kejadian besar tersebut, termasuk Al-Harith ibn Hisham dan Abdullah bin Rabiah yang di bawah naungan Ummu Hani. Dan Nabi ﷺ waktu lagi tawaf, membaca akhir surah Al-Fath. Yang tadi sudah kita bacakan, saya ulangi lagi, ya. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ Tadi Nabi sudah baca 29 ayat, waktu masuk Mekkah. Sekarang beliau lagi tawaf, beliau keraskan suaranya. Dan para sahabat melindungi Nabi ﷺ membentuk lingkaran. Orang-orang Quraisy ada di belakang Nabi ﷺ. Dan Nabi keliling, masih ada patung-patung waktu itu. Beliau tawaf, lalu beliau membaca ayat terakhir Al-Fath tadi: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًاۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًاࣖ Muhammad adalah utusan Allah, dan yang bersamanya itu sangat tegas dengan orang-orang kafir, tapi mereka berbelas kasih di antara mereka. Kalian melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda tampak pada muka mereka ada bekas sujud. Dan demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat dan menjadi besar lah dia, dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya. Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang yang kafir dengan kekuatan orang-orang mukmin. Allah menjanjikan kepada orang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka pahala yang besar. Tentu sampai ini, teman-teman sekalian, bahasan kita. Karena MasyaAllah dari jam 9 sampai kurang lebih jam 12, hampir tiga jam kita bicara di sini. Mudah-mudahan antum tidak jenuh insyaAllah, ya. Dan kita akan masuk pertemuan kita ke depannya. Kita masih akan lanjutkan tentang pembebasan Kota Mekkah ini, apa saja yang terjadi di situ. Termasuk masuk Islamnya beberapa tokoh-tokoh yang sudah kita sebutkan tadi, yang semestinya halal darahnya untuk dibunuh tentunya. Dan juga bagaimana setelah itu hukum-hukum syar'i yang ditetapkan oleh Nabi ﷺ di Mekkah, termasuk penghancuran berhala secara massal, yang dilakukan oleh Baginda Nabi ‘alayhiṣ-ṣalātu was-salām di sana. Semua itu akan kita pelajari insyaAllah. Dan dengan izin Allah tentunya kita akan lanjutkan besok subuh materi kita. Dan untuk pertanyaan tentu saya tidak buka sekarang, silakan dikumpulkan pertanyaan itu. Kita akan lanjutkan, karena pembebasan Kota Mekkah belum selesai. Nanti kalau selesai materi, baru antum bertanya. Termasuk hikmah dalam ilmu adalah kita bertanya pada saat sudah selesai. Dan termasuk berakal, orang yang bertanya setelah selesai tentunya. Allahu a'lam. Itu tentu yang saya sampaikan, teman-teman sekalian. Dan insyaAllah, sebagaimana saya katakan tadi, kita akan lanjutkan pada pertemuan yang akan datang nantinya. Mudah-mudahan ini bermanfaat buat kita semua, dan dijadikan sebagai tambahan amal kita pada hari Kiamat. Dan semoga saja apa yang kita kerjakan dan sedang kita kerjakan, ataupun yang akan kita kerjakan sampai menjelang ajal diterima dengan pahala yang sempurna. Dan semoga seluruh dosa-dosa yang pernah kita kerjakan, apapun sifatnya itu kecil atau besar, sengaja tidak sengaja, samar ataupun nyata, semuanya diganti oleh Allah dengan keMaha-MurahanNya menjadi pahala. Dan semoga selalu kita doakan Indonesia menjadi negara yang aman, tenteram, damai. Seluruh umat Islam di bawah naungan ukhuwah Islamiyah, diangkat perselisihan di antara mereka, dan juga dalam ibadah mereka kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Dan semoga saja siapa pun yang menginginkan keburukan bagi Indonesia, bagi Islam, bagi Muslimin, dikembalikan tipu daya mereka kepada diri mereka sendiri. Selalu kita doakan saudara kita di Palestina, di Suriah, di Yaman, di Irak, di Myanmar, di Aqsa, di mana pun mereka sedang tertindas, semoga Allah ikhlaskan niat mereka, terima para syuhada mereka, muliakan Islam di tangan mereka dan tangan kita semua. Dan semoga Allah ikut sertakan kita bersama mereka di pahala, baik dengan doa, dengan amal, dengan harta, Maaf. baik dengan doa, dengan harta, dan juga dengan... apa yang kita mampu lakukan, atau dengan jiwa kita. Dan semoga itu dicatatkan pahala oleh Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammadin walhamdulillahi rabbil 'alamin, سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ