Sirah Nabawiyah #19 : Surat Nabi Sallallahu 'Alaihi Wassalam Kepada Raja-raja Dunia
4nK1IsM8s60 • 2017-12-01
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah.
Tidak pernah berhenti kita
memuji Tuhan kita Allah,
yang kita sangat yakin kalau Dia sedang
melihat kita karena Dia Maha Melihat,
mendengar kita karena
Dia Maha Mendengar,
dan mengetahui segala gerak-gerik
kehidupan kita karena Dia Maha Mengetahui.
Dia Maha Kuat, Maha Adil,
Maha Bijaksana.
Dan juga...
siksanya sangat pedih
dan rahmat-Nya sangat luas.
Dia tidak memiliki sekutu dalam
setiap kegiatan-Nya,
dan Dia telah menggantungkan
segala kebutuhan kita
untuk roda kehidupan di muka bumi ini
dengan memuji nama-Nya:
Alhamdulillah.
Maka selalulah ucapkan
kalimat ini.
Selanjutnya, kita panjatkan salam hormat
kita yang penuh dengan cinta dan rindu
kepada manusia yang telah
menghabiskan...
23 tahun dari masa hidupnya
untuk agama ini.
13 tahun fase Mekkah,
semua dengan hinaan, cacian,
puncaknya diusir dari
kampung halamannya.
Dan juga 10 tahun fase
Madinah, semuanya...
penerimaan wahyu untuk penyempurnaan
agama ini dari hukum-hukum syariat.
Dan juga Allah ﷻ memerintahkan kita
untuk mengucapkan salam hormat
dan dibalas langsung
10 kali tambahan rahmat,
yang berarti rahmat ini:
pengampunan dosa, peninggian derajat,
penyelesaian segala perkara-perkara.
Dan ini adalah sebuah karunia
yang luar biasa.
Kalau seandainya Allah mengganti dengan
mengucapkan 10 kali salam hormat
kepada manusia terbaik ini diganti
dengan 1 kali rahmat, sudah cukup.
Bagaimana dengan sekali ucapkan
salam hormat diganti dengan 10 rahmat?
Maka sangat wajar kalau kita selalu
mengucapkan shalawat dan taslim
kepada Nabi Besar Muhammad
صلى الله على آله وصحبه وسلم.
Melanjutkan tema kita,
teman-teman sekalian,
Sirah Nabawiyah ini,
dan kita...
terakhir sudah membahas
masalah umrah qadha’,
atau umrah yang dikerjakan...
oleh Nabi عليه الصلاة والسلام setelah
ditahan oleh orang-orang Quraisy...
di kesepakatan Hudaibiyah.
Kemudian Muslimin selama satu tahun berhenti,
tidak boleh memasuki ke Mekkah,
tapi terjadi ekspansi-ekspansi Islam.
Di antaranya...
pembebasan Khaibar.
Kemudian Nabi ﷺ datang dan
menyelesaikan umrah qadha’,
dan cukup banyak kejadian yang sudah
kita ceritakan pada pertemuan tersebut.
Tentu tidak bisa saya
ulangi semuanya.
Tapi yang terakhir sekali adalah...
masuk Islamnya...
pada tahun 8 Hijriyah itu...
setelah umrah qadha’,
seluruh...
suku Khuza'ah,
dan juga tiga anak muda Quraisy
yang masyhur dengan...
kiprahnya nanti dalam Islam.
Mereka adalah:
Amr bin ‘Ash, yang sudah masuk
Islam memang dari Etiopia,
kemudian dia mengajak temannya,
Khalid bin Walid, dan juga Uthman bin Talhah,
رضي الله عنهم أجمعين.
Yang kata Nabi ﷺ, waktu melihat
mereka masuk ke Madinah,
maka Nabi ﷺ bertakbir dengan
suara keras sambil bersabda:
<i>"Telah datang kepada kalian</i>
<i>pemuda-pemuda terbaiknya Quraisy."</i>
Sekarang kita masuk, teman-teman
sekalian, ke bahasan baru.
Judulnya:
Surat Nabi ﷺ kepada Raja-Raja Dunia.
Setelah Nabi ﷺ merasa aman,
karena mayoritas Jazirah Arab
sudah mulai dikuasai,
dan yang belum takluk adalah
Kota Mekkah.
Dan nanti insya Allah kita
akan pelajari setelah...
surat-surat Nabi ﷺ kepada para raja,
kemudian ada peperangan-peperangan kecil
yang dikenal dengan sariyyah,
barulah kita masuk ke inti penyerangan
Kota Mekkah dan penguasaannya.
Nabi عليه الصلاة والسلام mengirim ke beberapa
raja-raja dunia yang berkuasa pada saat itu.
Yang pertama adalah
kepada Kaisar Romawi.
Yang memiliki nama
dalam bahasa Arab: هرقل.
Dan dalam bahasa Inggris:
Heraclius.
Setelah umrah qadha’,
Baginda Nabi عليه الصلاة والسلام...
mengirim Dihyah al-Kalbi
رضي الله عنه...
ke Romawi untuk menemui kaisar
yang bernama Hiraql.
Sebelum tiba, Dihyah, di Romawi,
pada saat diutus oleh Nabi ﷺ,
Hiraql waktu itu baru saja
memenangkan peperangan...
melawan Persia.
Dan Subhanallah, pada saat itu
Muslimin tidak terlibat sama sekali
dalam peperangan antara
Romawi sama Persia.
Tapi waktu itu,
dianggap orang-orang Romawi belum
semuanya mendapatkan dakwah Nabi ﷺ,
maka mereka dianggap ahli kitab...
yang sedang menunggu
sampainya dakwah.
Allah ﷻ menurunkan khusus surah...
menceritakan tentang bangsa
Romawi ini pada saat itu.
Jadi ini terjadi pada saat itu,
bukan lagi setelahnya.
Disebutkan dalam Surah Ar-Rum,
memang surah yang berbicara masalah Romawi,
surah nomor 30 dalam Al-Qur’an,
ayat 1 sampai ayat 5.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
<i>الۤمّۤ ۚ</i>
<i>غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ</i>
<i>فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ</i>
<i>فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُ ۗوَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ</i>
<i>بِنَصْرِ اللّٰهِ ۗيَنْصُرُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ</i>
"الۤمّۤۚ" adalah huruf-huruf pertama dalam
Al-Qur'an yang Allah lebih tahu maknanya,
atau sebagian ulama tafsir mengatakan
nama lainnya surah itu.
<i>“Telah dikalahkan bangsa Romawi,”</i>
Jadi pada saat itu, teman-teman,
bukan kayak sekarang.
Sekarang kalau ada
satu negara,
bukan cuma satu negara,
satu kampung menyerang kampung yang lain,
maka bisa dijangkau
oleh media kita.
Di zaman dulu, mustahil.
Nggak ada media
sama sekali.
Nggak ada handphone, nggak ada
internet, nggak ada TV, nggak ada apa-apa.
Jadi orang kalau mau tahu
informasinya orang lain,
dia harus betul-betul menunggu orang
dari wilayah itu atau dia ke sana langsung.
Nggak ada cara lain.
Di sini Allah ﷻ menunjukkan
keajaiban Al-Qur’an,
bagaimana waktu itu Muslimin...
sedang berada di Madinah,
dan mereka mengetahui informasi yang
sedang terjadi pada saat itu...
di wilayah Jordania.
Peperangan yang terjadi antara bangsa
Romawi dengan bangsa Persia.
Dan waktu itu bangsa Romawi
menyembah Allah ﷻ.
Mereka pengikut Nabi
Isa عليه الصلاة والسلام.
Dan sebagaimana saya katakan, waktu itu
belum sampai kepada mereka risalah kenabian.
Belum merata semuanya, gitu, kan.
Sementara orang-orang Persia
menyembah api,
dan menyembah raja mereka
pada saat itu.
Allah mengatakan:
<i>"Telah dikalahkan bangsa Romawi,"</i>
Dalam peperangan itu
bangsa Romawi kalah.
Ini dua negara adikuasa.
<i>“di negeri yang terdekat dan mereka</i>
<i>setelah dikalahkan itu,</i>
<i>mereka akan menang,”</i>
Yang dimaksud dengan
“negeri yang dekat” adalah...
negeri Arab.
atau...
wilayah tepatnya Syria
dan Palestina, sewaktu menjadi
jajahan kerajaan Romawi.
Sebagian ahli sejarah
mengatakan di Jordan,
intinya di negeri Syam
terjadi peperangan tersebut.
Kemudian dikatakan — dan mereka,
kata Allah, setelah dikalahkan:
<i>"Telah dikalahkan bangsa</i>
<i>Romawi di negeri yang terdekat"</i>
— maksudnya dekat dengan Palestina
<i>"dan mereka sesudah dikalahkan itu</i>
<i>pasti akan menang,"</i>
Subhanallah, bangsa Romawi waktu itu
mengeluarkan pasukan ratusan ribu orang.
Sebagian ahli sejarah mengatakan
mencapai 600.000 orang,
700.000 orang.
Persia pun menggerakkan
pasukan terbaiknya, 516.000 orang.
Sama kekuatan.
Dan ini terjadi peperangan
besar-besaran.
Dan saking banyaknya korban
pada saat itu, sampai...
wilayah yang terjadi peperangan
dibanjiri oleh darah.
Sampai mereka kalau mau keluar
dari kancah peperangan,
mereka seperti menyebrang...
melewati jenazah-jenazah
dan juga darah-darah yang ada,
saking banyaknya...
orang yang jadi korban.
Jadi peperangan ini yang kalah kayaknya
sudah mustahil untuk bisa menang lagi.
Tapi Allah ﷻ memastikan,
dengan kejiwaan yang sedang terpukul,
dengan jumlah pasukan yang banyak terkalahkan,
dengan materi yang
banyak terkorbankan,
Allah bilang, waktu itu bangsa
Romawi sudah sangat lemah,
<i>"Mereka pasti setelah kalah itu</i>
<i>akan menang nanti."</i>
Dan pada saat itu bangsa Romawi
tidak sempat berpikir.
Mereka lagi kalah.
Tapi Allah bilang mereka akan menang.
<i>"dalam beberapa tahun saja,"</i>
kata Allah di ayat 4-nya,
<i>"Bagi Allahlah urusan sebelum dan</i>
<i>sesudah mereka menang.”</i>
Kata sebagian ahli tafsir,
antara...
waktu yang ditentukan
dalam Al-Qur’an itu,
sebagian ahli tafsir mengatakan
antara tujuh sampai sepuluh tahun.
Atau ada juga yang mengatakan antara
tiga sampai sembilan tahun.
Dikatakan:
<i>“Bagi Allahlah...</i>
<i>urusan sebelum dan</i>
<i>sesudah mereka menang.</i>
<i>Dan di hari kemenangan</i>
<i>bangsa Romawi nanti,”</i>
di kemenangan mereka
yang kedua,
<i>“bergembiralah orang-orang beriman,”</i>
maksudnya...
para sahabat.
Karena pada saat itu,
bangsa Romawi belum
semuanya mendapatkan Islam
— tadi saya katakan —
dan mereka termasuk orang yang
beriman kepada Allah,
sementara bangsa Persia
adalah orang yang menyembah api.
Jadi kalau bangsa Persia
yang menang,
maka kemungkinan besar...
mereka akan membantai semua orang
yang memiliki ketuhanan,
meyakini konsep ketuhanan.
Mungkin seperti, kurang lebih kayak
di Indonesia sekarang
dikhawatirkan masalah komunis,
karena mereka tidak ada
konsep ketuhanan.
Jadi kalau mereka menang, maka otomatis semua
orang yang beragama,
mengimani Allah ini atau ada Tuhan,
maka itu dibunuh.
Itu sudah umum, gitu, kan.
Seperti itu bangsa-bangsa atau
pemahaman yang disebarkan oleh...
orang-orang sebelumnya.
Persia begitu. Jadi semua selain
penyembah api akan dibunuh oleh mereka.
Maka pada saat itu
kata Allah ﷻ:
nanti orang-orang beriman akan
gembira dengan menangnya orang-orang Romawi.
Bukan karena mendukung pemahaman Romawi
yang mengatakan Allah punya anak,
tapi pada saat itu mereka beriman,
antara orang beriman sama orang yang...
memang tidak beriman
adanya Tuhan, Allah.
Ini makna daripada...
"Orang-orang beriman akan gembira
dengan menangnya bangsa Romawi."
Jadi kalau antum baca surah ini di ayat-ayat
pertama, jangan sampai salah paham.
Jangan seakan-akan kita akan selalu
gembira kalau orang Romawi menang.
Bukan itu.
Karena ayat ini turun pada saat itu,
Islam belum sampai kepada mereka...
secara menyeluruh.
Beda dengan keadaan sekarang.
Bangsa Rum masih ada.
bangsa Romawi ada tentunya, ya.
Sampai sekarang mereka masih ada.
Bahkan Nabi ﷺ menyebutkan
tentang Malhamah Kubra:
<i>“Akan terjadi...</i>
<i>peperangan besar antara kalian</i>
<i>dengan bangsa Rum.”</i>
Jadi memang mereka masih ada.
Semua yang mengaku pengikut
Nabi Isa عليه الصلاة والسلام,
maka dikatakan...
mereka bangsa Rum.
Kemudian ayat 5, kata Allah, semua itu
terjadi, <i>“karena pertolongan Allah.</i>
<i>Dia menolong siapa yang Dia kehendaki.</i>
<i>Dan Dia Maha Penyayang."</i>
Pada saat itu,
teman-teman sekalian,
dengan hikmah Allah, Heraql...
yang pada saat itu melihat pasukannya
banyak yang kalah, dia merasa terpukul.
Dia nggak mau masyarakatnya
merasa ketakutan,
maka dia memotivasi mereka,
memberikan hadiah,
menyebarkan pelatihan-pelatihan
militer pada saat itu,
untuk mengajak mereka
menyerang kembali.
Tepatnya sembilan atau sepuluh
tahun setelah kekalahan tersebut,
maka mereka membentuk
pasukan lagi.
Dan Heraql sempat bersumpah,
kalau seandainya pasukannya menang
melawan Persia pada kali yang kedua ini,
maka dia akan pergi haji
ke Baitul Maqdis.
Dan tentu hajinya orang
Nasrani ke Baitul Maqdis.
Kita pun di awal-awal
Islam dulu,
di fase Mekkah,
sujudnya kaum Muslimin
menghadap ke Baitul Maqdis.
Kiblat kita ke sana.
Orang Yahudi pun menjadikan...
kiblat mereka Baitul Maqdis, ya.
Maka hajinya orang Nasrani
sekarang ke sana.
Mereka pergi ke sana.
Mereka anggap itu di sana hajinya.
Dia janji, Heraql bersumpah,
kalau seandainya menang pasukannya,
dia akan pergi ke Baitul Maqdis untuk haji...
dan berjalan kaki...
bersama dengan para
pendeta-pendeta pada saat itu.
Dan Heraql betul-betul
melakukan itu pada saat dia menang.
Jadi terjadi peperangan,
akhirnya mereka menang.
Dan saya tidak membahas tentang
masalah peperangan Romawi lawan Persia.
Intinya Al-Qur’an mengatakan mereka
akan menang, dan betul-betul terjadi...
apa yang Al-Qur’an sebutkan.
Yang saya ingin titikberatkan, teman-teman
sekalian, pada hari menangnya Herakl,
terbantaikan sekian banyak
pasukan Persia.
Dan Persia waktu itu betul-betul
terkalahkan luar biasa,
sampai mereka sudah...
seperti orang yang tidak akan pernah lagi
berhadapan dengan Romawi karena terkalahkan.
Heraklius saking gembiranya,
dia berpesta pada malam itu.
Kemudian dia berazam
untuk pergi ke Baitul Maqdis.
Di tengah jalan,
dia mimpi.
Di malam hari, di kemahnya, dia mimpi.
Dia mimpi kerajaannya hancur,
dikalahkan oleh orang-orang yang bersunat.
Orang yang sunat,
orang yang khitan.
Begitu mimpi dia.
Heraklius pada saat itu terkaget, bangun.
Kemudian dia memanggil para penasihatnya.
Lalu dia tanya masalah
perihal mimpi tadi:
<i>“Apa artinya ini?</i>
<i>Kenapa saya mimpi</i>
<i>kerajaanku semua hancur?</i>
<i>Dan pasukan yang menyerangku</i>
<i>itu bersunat?”</i>
Namun tidak seorang pun
dari penasihat...
yang memberikan gambaran,
kecuali satu orang...
yang mengatakan,
<i>"Kemungkinan besar,</i>
<i>kerajaan Anda akan dihancurkan</i>
<i>dalam waktu yang tidak lama</i>
<i>oleh orang-orang yang bersunat."</i>
Maka Heraklius sempat bertanya,
<i>“Siapa orang yang bersunat menurut kalian...</i>
<i>di muka bumi ini?”</i>
Kata para pengikutnya,
penasihatnya:
<i>“Tidak ada kecuali orang Yahudi.</i>
<i>Kami nggak tahu orang yang sunat</i>
<i>kecuali Yahudi.”</i>
Maka Heraklius berazam pada saat itu
akan membunuh semua Yahudi.
Nggak boleh lagi ada
Yahudi yang hidup.
Subhanallah, pada saat dia lagi mempersiapkan
pasukannya untuk menghancurkan Yahudi
—di mana pun Yahudi ada dia mau serang,
harus dihabisin Yahudi ini—
karena dia takut
kerajaannya hancur.
Ternyata ada salah satu...
orang turunan Arab,
kebetulan...
terjadi perselisihan.
Waktu dia masuk ke wilayah
Heraklius di Romawi,
dicurigai dia ini Yahudi
atau orang Arab.
Dan dia...
dari kaum Muslimin
orang ini.
Cuma dia tidak mau
buat masalah.
Karena dicurigai Yahudi,
diinterogasi.
Dia mengatakan,
<i>“Bukan, saya bukan Yahudi.</i>
<i>Saya orang Arab.”</i>
Dia tidak dipercaya.
Maka pada saat itu pun dia ditangkap.
Pada saat ditangkap, diperiksa.
Ternyata dia berkhitan.
Orang ini berkhitan.
Maka dibawa ke
depannya Heraklius.
<i>“Wahai Heraklius, kami menemukan ada</i>
<i>orang lain selain Yahudi...</i>
<i>selain Yahudi yang bersunat.”</i>
Maka kata Heraklius,
<i>“Dari mana kamu?”</i>
Dia bilang,
<i>“Saya dari Arab.”</i>
Lalu kemudian Heraklius bertanya.
Pada saat itu kebetulan,
memang dia ini...
selain raja juga seorang...
pendeta, ya.
Maka dia berkata:
<i>“Apa ada sesuatu yang terjadi</i>
<i>di negeri kalian?</i>
<i>Ada berita besar nggak?”</i>
Kata dia,
<i>“Iya, ada.</i>
<i>Telah keluar di antara kami</i>
<i>seseorang yang mengaku nabi.”</i>
Heraklius lalu...
berkata kepada orang tersebut,
<i>“Coba ceritakan kepada saya...</i>
<i>ciri orang yang mengaku nabi itu.”</i>
Lalu orang ini pun
menceritakan panjang lebar...
apa pun yang dia tahu tentang Nabi ﷺ
dari sisi khalqiyyah-nya (ciptaan fisik Nabi ﷺ),
dan juga khuluqiyyah-nya (akhlak)
Nabi عليه الصلاة والسلام,
serta syariat-syariat
yang dibawa.
Karena dia seorang
Muslim, dia ceritakan itu.
Heraklius lalu berkata kepada orang
yang ada di sekitarnya:
<i>“Datangkan kepadaku...</i>
<i>di negeri Syam ini...”</i>
—karena kebetulan dia sudah jalan,
peperangan terjadi di tempat yang sama,
di wilayah negeri Syam,
di sekitar Yordania,
tempat dia dikalahkan oleh bangsa Persia
sepuluh tahun yang lalu.
Peperangan terjadi di tempat
yang sama dan menang.
Dekat sekali untuk ke Palestina.
Dia niat jalan kaki menuju ke Palestina.
Di tengah jalan, dia mimpi
tadi, dia lihat ini kejadian.
Lalu dia mengatakan,
<i>“Coba datangkan kepada saya...</i>
<i>siapapun yang kalian bisa dapatkan</i>
<i>dari kafilah orang-orang Arab.”</i>
Setelah diteliti,
teman-teman sekalian,
ternyata ditemukan memang ada
kafilah-kafilah Quraisy
yang kebetulan lagi ingin
belanja ke negeri Syam.
Sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Qur’an:
رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ (QS. Quraisy [106]:2),
<i>“perjalanan musim dingin</i>
<i>dan musim panas,”</i>
ini salah satunya ke negeri Syam,
salah satunya ke negeri Yaman.
Tapi ini di negeri Syam, mereka
datang mau belanja dan kebetulan...
waktu itu yang pimpin kafilah
adalah Abu Sufyan.
Masih dalam keadaan kafir Abu Sufyan.
Abu Sufyan lalu kemudian
dipanggil oleh pasukan Heraklius
dan dibawa dia dan seluruh
kafilahnya menuju ke istana.
Heraklius waktu itu
tidak bisa bahasa Arab.
Dia menggunakan bahasa Rum
pada saat itu.
Heraklius bertanya,
melalui penerjemah:
<i>“Siapa di antara kalian</i>
<i>yang paling dekat jalur nasabnya</i>
<i>dengan orang yang mengaku Nabi itu?”</i>
Maka Abu Sufyan
berkata, <i>“Aku.”</i>
Abu Sufyan ini termasuk,
kalau dilihat jalurnya sebenarnya,
masuk dalam sepupu Nabi ﷺ.
Sepupu Nabi ﷺ.
Dia sepupunya juga
Utsman bin Affan.
Mereka semua satu jalur,
ketemu di kakek-kakek kesekian.
Kalau tidak salah waktu itu, ya,
sebagian ahli sejarah mengatakan
Abu Sufyan ketemu dengan Nabi ﷺ
di kakek kelimanya.
Heraklius lalu memerintahkan agar
Quraisy semuanya duduk,
orang kafilah semua duduk
di bagian belakang
dan Abu Sufyan di depan sendiri,
tidak pula ada yang di sebelahnya.
Lalu Heraklius berkata,
<i>“Aku akan bertanya kepadamu,”</i>
ditunjuk Abu Sufyan.
Lalu ia berkata kepada pengikut
Abu Sufyan yang ada di belakang:
<i>“Bila orang ini berbohong,</i>
<i>ataupun salah dalam mengucapkan,</i>
<i>maka kalian semua harus meluruskan.</i>
<i>Kalau tidak, kalian semua</i>
<i>akan saya bunuh.”</i>
Heraklius raja besar
pada saat itu.
Maka Abu Sufyan berkata
pada saat itu,
dan dia ceritakan setelah
dia masuk Islam,
dia sampaikan riwayat dan
dinukil oleh para ahli sejarah kita,
dia bilang,
<i>“Demi Allah,</i>
<i>bila aku berbohong pun pada saat itu,</i>
<i>tidak akan pernah ada satu pun dari pengikutku...</i>
<i>yang ada di belakangku</i>
<i>yang berani meluruskan,</i>
<i>karena aku pemimpin mereka.</i>
<i>Tapi aku tokoh Quraisy,</i>
<i>dan sangat memalukan bila aku bohong.”</i>
Heraklius lalu berkata...
kepada Abu Sufyan:
<i>“Bagaimana jalur nasabnya Nabi itu?</i>
Ayahnya, kakeknya,
pokoknya jalur nasab ke atas.
Abu Sufyan bilang,
<i>“Sungguh,</i>
<i>memiliki jalur nasab yang suci</i>
<i>di antara kami.”</i>
Terkenal semua, dari ayahnya, kakeknya,
terus sampai ke atas ini,
orang-orang yang baik.
Nggak punya riwayat yang
tidak baik, gitu.
Heraklius bertanya lagi:
<i>“Apakah ada yang pernah mengaku Nabi</i>
<i>sebelumnya di antara kalian?</i>
<i>Di suku kalian ini, di suku Quraisy,</i>
<i>pernah nggak ada yang ngaku Nabi...</i>
<i>yang kalian ketahui?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak ada.”</i>
Tentu saja kenapa dikatakan
tidak ada, karena...
dibahas di sini dari
suku Quraisy-nya.
Quraisy nama seseorang
bernama Fihr.
Fihr ini jauh
dari keturunan Nabi,
maksudnya keturunan Nabi
Ibrahim dan Ismail عليهم السلام,
tapi jauh di bawah.
Dan Quraisy mulai disebutkan,
diistilahkan dengan Quraisy
dari orang ini, namanya Fihr.
Berarti mulai Fihr ke bawah,
ada nggak yang mengaku Nabi?
Makanya kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak ada.”</i>
Kalau yang dimaksud adalah seluruh
jalur nasabnya sampai ke atas,
tentu ada Nabi.
Ada Nabi Ibrahim dan Ismail
عليهم الصلاة والسلام.
Maka kata Heraklius,
<i>“Apakah kalian pernah menilai dia...</i>
<i>sebelum mengaku Nabi</i>
<i>sebagai pendusta?</i>
<i>Pernah nggak ada riwayatnya</i>
<i>orang itu di suku kalian,</i>
<i>satu kali saja pernah bohong?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak pernah.”</i>
Heraklius tanya lagi,
<i>“Apakah yang menjadi pengikutnya...</i>
<i>orang-orang lemah,</i>
<i>atau orang-orang terhormat?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Orang-orang lemah dan miskin.”</i>
Kata Heraklius,
<i>“Apakah jumlah mereka bertambah,</i>
<i>atau berkurang?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Bertambah.”</i>
Heraklius berkata lagi:
<i>“Apakah ada pengikutnya yang meninggalkan</i>
<i>agamanya setelah menjadi pengikutnya?</i>
<i>Ada nggak orang yang datang</i>
<i>ngetes-ngetes terus kemudian pulang lagi,</i>
<i>keluar lagi dari agamanya?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak ada.”</i>
Bahkan Abu Sufyan termasuk orang yang
menyiksa Muslimin di Mekah.
Dia tahu bagaimana orang-orang
sampai berani mati untuk agama ini.
Kata Heraklius,
<i>“Apakah ia pernah berkhianat?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak pernah.</i>
<i>Namun, sekarang antara</i>
<i>kami dengannya,</i>
<i>ada kesepakatan damai.”</i>
Ini adalah kesepakatan Hudaibiyah
yang kita pelajari kemarin.
<i>“Dan aku tidak tahu apakah ke depannya</i>
<i>dia akan khianat atau tidak.”</i>
Abu Sufyan di sini,
teman-teman, berkata
—dia ceritakan setelah dia masuk Islam—
dia ceritakan panjangnya,
dia mengatakan:
<i>“Sungguh aku tidak mendapatkan</i>
<i>celah untuk menghina Nabi...</i>
<i>Muhammad ﷺ...</i>
<i>kecuali pada masalah ini saja.”</i>
Jadi semuanya baik ini.
Jawabannya jujur, harus jujur.
Dia bilang, <i>“Saya tidak dapat celah</i>
<i>untuk menghinanya kecuali di sini.</i>
<i>Saya bilang,</i>
<i>'Sekarang lagi ada kesepakatan,</i>
<i>saya tidak tahu ke depan</i>
<i>dia khianat atau tidak.'</i>
<i>Tapi sebelumnya</i>
<i>nggak pernah berkhianat.'”</i>
Hanya itu celahnya, gitu, kan.
Heraklius bertanya lagi:
<i>“Apakah kalian telah</i>
<i>memeranginya?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Iya.”</i>
Kata Heraklius:
<i>“Bagaimana hasil peperangan</i>
<i>kalian dengannya?”</i>
Kata Abu Sufyan:
<i>“Sekali ia menang,”</i>
maksudnya Perang Badr,
<i>“dan sekali kami menang,”</i>
maksudnya Perang Uhud.
Kata Heraklius:
<i>“Apa yang ia perintahkan</i>
<i>kepada kalian?</i>
<i>Apa dakwahnya?”</i>
Kata Abu Sufyan:
<i>“Ia memerintahkan kami agar</i>
<i>menyembah Allah satu,</i>
<i>tanpa menyekutukan-Nya, serta meninggalkan</i>
<i>apa yang nenek moyang kami lakukan.”</i>
sembah-sembah berhala
segala macam,
<i>“Ia juga memerintahkan kepada kami</i>
<i>agar mengerjakan shalat,</i>
<i>jujur, dan tidak mengemis,</i>
<i>serta menjaga silaturrahim.”</i>
Heraklius lalu berkata
kepada penerjemahnya:
<i>“Katakan kepada orang ini baik-baik</i>
<i>dengan bahasa yang jelas.</i>
<i>Aku bertanya kepadamu</i>
<i>tentang jalur nasabnya,</i>
<i>engkau menjawab bahwa ia</i>
<i>memiliki nasab yang suci.</i>
<i>Demikian pula para Nabi dan Rasul yang</i>
<i>diutus pada nasab terbaik kaumnya.”</i>
Heraklius sekarang sebutkan
kepada Abu Sufyan.
Selama ini, teman-teman, Abu
Sufyan selalu memerangi Nabi ﷺ.
Nggak percaya.
<i>"Siapa Muhammad ini?"</i>
Salah satu penduduk Mekah.
Bahkan Abu Sufyan merasa dirinya
lebih kaya, gitu, kan.
Makanya dia tolak terus.
Tapi sekarang Abu Sufyan heran.
Heraklius ini...
raja yang selama ini orang Quraisy
pun takut dengannya,
ini menyebutkan tentang
kenabian Nabi ﷺ.
<i>“Kau bilang tadi jalur nasabnya baik,</i>
<i>maka itu semua Nabi-Nabi begitu.</i>
<i>Pasti jalur nasabnya</i>
<i>yang terbaik di kaumnya.</i>
<i>Aku bertanya kepadamu,</i>
<i>apakah ada di antara kalian yang pernah</i>
<i>menyatakan hal yang serupa,</i>
<i>pernah ngaku Nabi?</i>
<i>Engkau menjawab, 'Tidak ada.'</i>
<i>Kalau seandainya ada yang telah</i>
<i>menyatakan sebelumnya,”</i>
dari kakek-kakeknya pernah ngaku Nabi,
<i>“maka aku akan mengatakan bahwa ia</i>
<i>hanya mengikuti orang sebelumnya saja.”</i>
<i>“Aku bertanya kepadamu,</i>
<i>apakah ada di antara kakeknya yang raja?</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak ada.'”</i>
Ini juga salah satu pertanyaan,
sebenarnya, di riwayat ini.
Semestinya ada sebelumnya, ya,
tapi ini tidak disebutkan dalam potongan
riwayat yang tadi saya sebutkan.
Tapi memang ada pertanyaan Heraklius juga,
<i>“Apakah ada di antara kakeknya yang raja?</i>
<i>Maka engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak ada.'</i>
<i>Kalau ada, maka aku akan</i>
<i>mengatakan bahwa ia hanya ingin</i>
<i>mengembalikan kerajaan kakeknya saja.”</i>
Jadi yang dimaksud di sini,
teman-teman sekalian,
pernah saya jelaskan
di awal-awal sirah,
kalau Abdul Muttalib sempat
menjadi raja Mekkah.
Tetapi sistem yang
dipakai di Mekkah waktu itu
walaupun ada seorang raja
atau orang yang dituakan,
tetap semua suku punya kekuatan.
Makanya dikatakan di Mekkah
itu tidak ada raja khusus.
Tapi dikuasai oleh tokoh-tokoh Quraisy.
Semua kepala suku punya hak
untuk memberikan pendapatnya.
Jadi yang dimaksud di sini raja
adalah raja yang menguasai semuanya,
tidak ada lagi yang...
yang membantunya,
tidak ada penasihatnya.
Memang dia kuat
dengan power-nya sendiri.
Lalu kata Heraklius:
<i>"Aku bertanya juga padamu,</i>
<i>apakah ia pernah berdusta pada kalian?</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak pernah.'</i>
Maka aku katakan kalau ia
tidak pernah dusta,
<i>maka pastilah ia tidak berani</i>
<i>berdusta atas nama Allah."</i>
<i>"Aku bertanya padamu,</i>
<i>'Apakah yang menjadi pengikutnya</i>
<i>orang-orang lemah,</i>
<i>atau tokoh-tokoh masyarakat?'</i>
Engkau menjawab,
<i>'Orang-orang lemah.'</i>
<i>Ketahuilah, demikian</i>
<i>pula pengikut para rasul.</i>
<i>Awal pengikutnya orang-orang lemah, </i>
<i>lalu disusul setelah itu</i>
<i>dengan pemuka-pemuka kaum."</i>
Memang selalu orang miskin
dan orang lemah dulu.
Dan ini umum, Subhanallah,
dakwah-dakwah itu,
umumnya kenanya dulu
ke masyarakat umum.
Nanti sudah lama merata, baru
pindah ke tokoh-tokoh masyarakat.
<i>"Aku bertanya kepadamu,</i>
<i>'Apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang?'</i>
<i>Maka engkau menjawab,</i>
<i>'Bertambah.'</i>
Maka demikian pula keimanan akan terus
bertambah sampai ia sempurna."
<i>"Aku bertanya kepadamu,</i>
<i>'Apakah ada pengikutnya yang meninggalkan keyakinannya?'</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak ada.'</i>
<i>Maka demikian pula iman,</i>
<i>saat telah memenuhi hati seseorang,</i>
<i>tidak akan pernah</i>
<i>keluar lagi selamanya."</i>
<i>"Aku bertanya padamu,</i>
<i>'Apakah ia pernah berkhianat?'</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak.'</i>
<i>Maka demikian pula para nabi dan rasul</i>
<i>tidak akan pernah berkhianat."</i>
<i>"Aku bertanya padamu,</i>
<i>'Apa yang ia perintahkan?'</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Ia memerintahkan agar tidak menyekutukan Allah,</i>
<i>shalat, jujur, dan silaturahim.'</i>
<i>Demikian pula perintah seluruh</i>
<i>nabi dan rasul."</i>
Lalu Heraklius mengucapkan kalimat,
teman-teman, kalimat yang agung sebenarnya ini.
Pada saat itu raja yang
menguasai seluruh dunia.
Karena Persia sudah kalah, gitu, kan.
Tidak ada lagi kekuatan waktu itu
kecuali kekuatan Romawi.
Maka dia berkata:
<i>"Bila semua yang engkau</i>
<i>sampaikan ini benar,</i>
<i>maka demi Allah, dia, orang itu,</i>
<i>pasti akan menguasai...</i>
<i>apa yang berada di bawah</i>
<i>kedua telapak kakiku ini."</i>
Maksudnya, <i>"Kekuasaanku ini juga</i>
<i>akan takluk di tangan dia nantinya."</i>
<i>"Dan aku sangat tahu</i>
<i>ini zaman keluarnya Nabi,</i>
<i>tetapi aku tidak menyangka kalau</i>
<i>akan keluar dari kalangan kalian.</i>
<i>Dan bila aku bisa menjangkaunya,</i>
<i>aku bisa menemuinya,</i>
<i>niscaya aku akan sangat</i>
<i>gembira dan menghormatinya.</i>
<i>Bila saja aku</i>
<i>berada di sisinya,</i>
<i>maka niscaya aku akan</i>
<i>mencuci kedua telapak kakinya."</i>
Ini kata Heraql tentang
Nabi عليه الصلاة والسلام.
Abu Sufyan waktu sudah
selesai itu disuruh keluar.
Dia keluar lalu berkata...
kepada teman-temannya,
<i>"Demi Allah,</i>
<i>sungguh perkara Abu Qabs..."</i>
ini Abu Qabs, teman-teman sekalian,
adalah istilah ejekan dari orang Quraisy...
untuk Nabi ﷺ.
Mereka memanggil Abu Qabs
seperti seakan-akan
orang yang tidak punya kedudukan.
<i>"Sungguh demi Allah,</i>
<i>kedudukan Abu Qabs sudah luar biasa.</i>
<i>Sampai-sampai Heraql pun,</i>
<i>raja terkuat dunia,</i>
<i>takut padanya."</i>
Kata Abu Sufyan:
<i>"Pada saat itu, Islam sudah mulai</i>
<i>masuk ke dalam hatiku."</i>
Karena tidak mungkin,
ini aneh, nih.
Kalau sampai raja terkenal dunia
dan baru menang peperangan,
dia merasa sekarang tidak lagi punya
musuh di dunia ini, dia menguasai dunia,
dia mengatakan kalimat tersebut.
Kalau bisa menjangkau Nabi ﷺ,
maka dia akan mencuci telapak kakinya,
mencucikannya
sebagai bentuk khidmah,
padahal dia raja.
Ini berarti sesuatu yang luar biasa.
Sesaat baru saja
Abu Sufyan keluar,
berpapasan Abu Sufyan
keluar dari situ,
Dihyah Al-Kalbi sampai.
Utusan Nabi ﷺ,
bawa surat dari Madinah.
Maka Dihyah Al-Kalbi...
tiba, kemudian menemui Heraql
dan minta menyampaikan surat Nabi ﷺ.
Bunyinya...
dan surat ini, teman-teman,
masih tersimpan sekarang.
Ada di pemerintah Inggris
sekarang menyimpan ini, ya.
Di museumnya di Inggris ada.
Dan ini diakui oleh ahli
sejarah Inggris dan Eropa.
Ini ditulis di abad
ke-7 Masehi.
Surat resmi datang
kepada Heraql dari Nabi ﷺ.
Bunyinya:
<i>“Bismillahirrahmanirrahim</i>
<i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i>
<i>kepada Heraklius, Raja Agung Romawi.</i>
<i>Selanjutnya, sungguh</i>
<i>aku mengajak anda masuk Islam.</i>
<i>Masuk Islamlah</i>
<i>maka anda akan selamat.</i>
<i>Dan Allah akan memberi Anda</i>
<i>pahala dua kali lipat.</i>
Karena orang ahli kitab
kalau masuk Islam, double pahalanya.
Mereka sudah beriman
kepada Nabi Isa sebelumnya,
mereka beriman kepada
Nabi Muhammad ﷺ sekarang.
<i>Bila anda menolak, maka Anda</i>
<i>akan memikul dosa seluruh petani.</i>
Waktu itu bangsa Romawi
mayoritas pekerjaannya petani,
maka bangsa Romawi dikenal
bangsa petani.
<i>“Anda akan menanggung dosa semua petani,”</i>
maksudnya masyarakat Romawi.
Karena kalau raja beriman,
mereka beriman.
Kalau raja tidak beriman,
maka mereka tidak beriman.
<i>"Wahai Ahli Kitab,"</i>
lalu Nabi ﷺ bacakan ayat.
<i>"Marilah kita satukan kalimat kita,"</i>
…يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
(QS. Ali Imran [3]: 64)
Ada ayat Al-Qur’an seperti itu.
<i>“Wahai Ahli Kitab, marilah kita</i>
<i>satukan perkataan kita sama-sama,</i>
<i>yaitu agar kita tidak</i>
<i>menyembah selain Allah,</i>
<i>dan tidak menyekutukan-Nya</i>
<i>dengan sesuatu apa pun,</i>
<i>dan janganlah seseorang di antara kita</i>
<i>menjadikan yang lain sebagai sekutu bagi Allah.</i>
<i>Dan apabila kalian berpaling, maka</i>
<i>ucapkanlah, “Kami telah Islam.”</i>
atau, <i>“menyerahkan diri kepada Allah.”</i>
Pada saat surat tersebut dibacakan,
teman-teman sekalian,
Heraklius gemetaran.
Karena dia baru ketemu sama Abu Sufyan.
Dan Dihyah Al-Kalbi tidak tahu
tentang kisah ini,
berpapasan saja dengan
Abu Sufyan, gitu.
Heraklius gemetaran dan ia lalu segera mencoba
memastikan semua sifat Nabi terakhir...
kepada Dihyah Al-Kalbi
bagaimana cirinya,
bagaimana kulitnya, bagaimana matanya,
bagaimana alisnya, bagaimana jalur nasabnya.
Apa yang ditanya kepada Abu Sufyan,
ditanya juga kepada Dihyah al-Kalbi.
Dan Subhanallah, jawabannya sama.
Tinggal masalah kesepakatan Hudaibiyah saja.
Pada saat ditanya tadi Abu Sufyan,
Abu Sufyan bilang:
<i>“Tidak pernah khianat,</i>
<i>tapi saya tidak tahu ke depannya.”</i>
Kalau Dihyah al-Kalbi
menjawab berbeda:
<i>“Nabi kami tidak akan pernah</i>
<i>berkhianat selamanya.”</i>
Maka pada saat itu,
teman-teman sekalian,
Heraklius pun berkata kepada Dihyah:
<i>“Bawa surat ini kepada Safatir.”</i>
Safatir ini, teman-teman,
istilah...
yang digunakan untuk pemimpin...
tertingginya gereja pada saat itu.
Jadi di sistem gereja itu ada
pendeta-pendeta, nanti ada kepala pendeta.
Dia penentu keputusan.
Maka dibawalah surat tersebut,
teman-teman sekalian, kepada Safatir.
Saat surat tersebut dibacakan
kepada Safatir,
maka Safatir ini sempat gemetar.
Karena memang dia
selalu diskusi sama Heraklius...
kalau ini...
tanda-tanda yang disebutkan dalam
Injil,
<i>"Kita akan memenangkan perang sama Persia,"</i>
ada disebutkan dalam Injil.
<i>"Dan kita juga akan masuk ke Palestina,"</i>
ini ada disebutkan.
Dan pada zaman itu keluarlah
Nabi yang harus diikuti.
Maka ini bertepatan sekali dengan
kemenangan masuk ke Palestina, haji.
Menang lawan Persia,
dan juga datang surat seperti ini.
Maka Safatir pun gemetaran
pada saat itu.
Kepala pendeta gemetar ini.
Dan bertanya banyak tentang
Nabi ﷺ pada Dihyah Al-Kalbi.
Dan Dihyah terus menjawab
sampai akhirnya Safatir...
kehabisan pertanyaan
dan terheran-heran.
Karena semua ciri yang disebutkan
dalam Injil tentang Nabi terakhir
semuanya ada pada Nabi Muhammad
صلى الله على آله وصحبه وسلم.
Safatir lalu berkata
kepada Dihyah:
<i>“Demi Allah, aku sangat yakin kalau</i>
<i>ini adalah zaman keluarnya Nabi terakhir</i>
<i>yang telah kami tunggu-tunggu.</i>
<i>Dan aku benar-benar</i>
<i>tidak menyangka kalau keluar</i>
<i>dari kalangan kalian,</i>
<i>wahai bangsa Arab.</i>
<i>Maka aku menyatakan:</i>
<i>Asyhadu an la ilaha illallah</i>
<i>wa anna Muhammadan Rasulullah.”</i>
Ini malah syahadat
si Safatir ini.
Safatir lalu mengumpulkan
semua pendeta.
Sudah adzan, ya?
Baik, sebentar.
Kita selesaikan, ya.
Safatir lalu mengumpulkan semua pendeta
dan mengajak mereka masuk Islam,
dan menjelaskan tentang
tanda-tanda Nabi ﷺ.
Lalu ia bersyahadat
di hadapan mereka.
Sebagian besar pendeta tidak mau menerima
dan akhirnya mereka membunuh Safatir.
Dan ini, rahimahullah,
beliau mati syahid.
Karena sudah muslim pada saat itu.
Dia sudah syahadat.
Bahkan dia langsung mendakwahkan Islam
kepada para pendeta-pendeta,
tapi mereka...
membunuhnya, khawatir nanti jangan
semua Nasrani mengubah agamanya.
Dihyah رضي الله عنه pada saat
mengetahui kejadian pembunuhan Safatir,
segera menemui Heraql
dan meminta saran.
Heraql lalu berkata:
<i>“Sungguh kedudukan Safatir di sisi mereka</i>
<i>lebih mulia dibandingkan aku.</i>
<i>Kalau Safatir saja mereka tidak dengar,</i>
<i>bahkan membunuhnya,</i>
<i>maka bagaimana dengan aku?</i>
<i>Tapi cobalah sabar dulu,</i>
<i>aku akan mengatur strategi</i>
<i>untuk mengumpulkan mereka.”</i>
Heraql lalu mengumpulkan
semua pendeta di sebuah ruangan,
dan ia perintahkan agar
semua pintu dikunci dari luar
serta seluruh pendeta harus masuk
ke ruangan tersebut.
Dan disiapkanlah prajurit-prajurit
yang memegang pedang,
yang berada di setiap
belakang pendeta.
Jadi ada puluhan pendeta yang datang
dimasukkan dalam satu ruangan.
Di setiap belakang pendeta itu ada satu
prajurit yang pegang pedang,
tapi tidak memperlihatkan kalau dia siap untuk membunuh
para pendeta-pendeta ini kalau menolak.
Semua pendeta berkumpul pada saat itu,
maka Heraql keluar menemui mereka,
dan membacakan surat Nabi ﷺ
serta membaca ayat-ayat Injil
yang membuktikan tentang kebenaran
risalah Nabi Muhammad ﷺ.
Lalu Heraql bersyahadat
di depan mereka.
Jadi raja agungnya Romawi
masuk Islam...
di depan mereka semua.
Maka seluruh pendeta kaget, karena sekarang
raja mereka pun mengikrarkan syahadat.
Saat mereka mau melarikan diri dari
ruangan, ternyata semua sudah terkunci.
Jadi pendeta ini mau melarikan diri karena
kaget, kenapa rajanya pun masuk Islam.
Maka para pendeta berkata:
<i>“Demi Allah, kami tidak akan</i>
<i>meninggalkan agama Al-Masih</i>
<i>walaupun engkau membunuh kami semua.”</i>
Melihat kejadian tersebut, maka Heraql
khawatir bila membunuh semua pendeta
malah jadi masalah
di tengah-tengah masyarakat.
Maka dia pun...
dikatakan dalam buku sejarah,
lalu cinta dunia mengalahkan imannya.
Karena dia baru syahadat, dia takut
nanti kalau pendeta ini dibuka pintu lalu...
menyebarkan berita
kalau raja begini dan begitu,
lalu terjadi pemberontakan,
akhirnya dia jatuh dari kerajaannya,
padahal dia baru menguasai dunia.
Maka dia pun berkata:
<i>“Aku hanya mau menguji kalian.</i>
<i>Tadinya aku lihat surat itu sudah</i>
<i>sampai kepada kerajaan kita,</i>
<i>dan aku khawatir malah</i>
<i>kalian yang murtad.</i>
<i>Maka pertahankanlah agama kalian</i>
<i>dan aku bersama kalian.”</i>
Lalu Heraql memerintahkan para
prajurit membuka pintu untuk para pendeta.
Dan pendeta pun memuji
Heraql dan berjanji akan setia.
Izinkan saya tinggal
dua paragraf saja.
Setelah semua pendeta pergi, maka Heraql
memanggil Dihyah Al-Kalbi رضي الله عنه
dan berkata padanya:
<i>“Aku mengucapkan hal tadi agar</i>
<i>kerajaanku tidak hilang.</i>
<i>Dan ini hadiah dari aku</i>
<i>berupa emas.”</i>
Dikasih emas satu peti.
<i>“Bawalah kepada Nabi...</i>
ﷺ,
<i>“Bawa kepada Nabi</i>
<i>dan sampaikan salamku juga.</i>
<i>Bilang kalau aku tetap dengan</i>
<i>keislamanku.”</i>
Kata Heraql ini.
Saat Dihyah al-Kalbi tiba di Madinah, رضي الله عنه,
dan menceritakan kepada Nabi ﷺ,
maka Nabi ﷺ mengucapkan
kalimat yang mulia.
Kata beliau:
<i>“Sungguh dia (Heraql) adalah</i>
<i>musuh Allah.</i>
<i>Dia telah berdusta.</i>
<i>Ia mengucapkannya,”</i>
kalimat tadi karena beriman,
<i>“kemudian dia meninggalkannya</i>
<i>justru karena mendahulukan dunia.”</i>
Dan ini beda dengan keadaan
Najasyi yang benar-benar masuk Islam...
karena hatinya.
Dan dia pertahankan
sampai dia meninggal dunia.
Lalu Nabi ﷺ memerintahkan agar pemberian Heraql
(emas) dibagikan kepada seluruh Muslimin.
Demikianlah hasil surat Nabi ﷺ
kepada salah satu raja-raja dunia.
Dan insya Allah kita akan lanjutkan nanti
surat yang kedua dan seterusnya,
termasuk kepada Harith bin Abi Syamr
Al-Ghassani setelah Isya nanti.
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla
ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, wassalatu
wassalamu ‘ala Rasulillah.
Segala puji bagi Allah ﷻ,
juga shalawat dan taslim kepada
Nabi Besar Muhammad
صلى الله على آله وصحبه وسلم.
Surat kedua Nabi عليه الصلاة والسلام
yang dikirim setelah Heraql—
walaupun sebenarnya
surat-surat ini...
dikirim oleh Nabi ﷺ
secara bersamaan,
itu yang lebih kuat
pendapat para ulama,
kalau ini dikirim
secara bersamaan.
Tetapi,
disusunnya seperti ini oleh
para ulama sejarah atau ahli sejarah
hanya untuk memudahkan,
untuk memahami.
Surat yang selanjutnya adalah surat
kepada Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani.
Nabi ﷺ mengutus ke sana seorang sahabat yang
mulia, namanya Syuja' bin Wahab Al-Asadi.
Syuja' bin Wahab Al-Asdi رضي الله عنه...
membawa surat kepada
pemimpin negeri Syam
yang bernama Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani.
Isinya adalah:
<i>Bismillahirrahmanirrahim.</i>
<i>Dengan menyebut nama Allah</i>
<i>Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.</i>
<i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i>
<i>kepada Harith bin Abi Syamr.</i>
<i>Keselamatan bagi orang yang mengikuti</i>
<i>kebenaran dan petunjuk serta beriman kepada</i>
<i>Allah dan juga membenarkannya.</i>
<i>Sungguh, aku mengajakmu beriman kepada Allah</i>
<i>tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya,</i>
<i>dan kerajaanmu tetap bertahan.</i>
Pada saat membaca
surat Nabi ﷺ,
Harith ini...
dia termasuk penguasa
yang besar sekali.
Dan pada saat itu,
teman-teman sekalian, walaupun Nabi ﷺ...
sudah berhasil menundukkan
Khaibar, beberapa kota-kota kecil,
atau desa-desa kecil
di sekitar Madinah,
tapi belum didengar gongnya
ke seluruh dunia.
Masih kecil.
Justru setelah surat-surat inilah baru
orang-orang banyak mengenal tentang Nabi ﷺ.
Awalnya tidak.
Lingkupnya sangat kecil sekali—cuma Madinah,
Mekah, Khaibar, wilayah-wilayah kecil.
Jaraknya 400 km, 200 km.
Negeri Syam sudah 1000 km ke atas
jarak jauhnya.
Dan nanti pada saat ini baru terdengar.
Harith ini seorang pemimpin
di negeri Syam, raja.
Kekuatan pasukan perangnya saja
sudah 100.000 orang.
Kurang lebih dia menguasai
wilayah Jordania...
dan sebagian...
wilayah...
Palestina, ya.
Sebagian lagi dikuasai oleh Romawi.
Dan dia termasuk sekutunya
orang-orang Romawi.
Sekutu orang Romawi,
cuma dari turunan Arab.
Dia marah waktu membaca
surat Nabi ﷺ.
Dan dia berkata,
<i>“Siapa orang ini?</i>
<i>Berani benar dia</i>
<i>mengancam kerajaanku,</i>
<i>sementara aku memiliki pasukan</i>
<i>sebanyak 100.000 prajurit?”</i>
Maka gara-gara itu,
teman-teman sekalian,
Harith pun mencari tahu tentang
siapa Nabi ﷺ, tinggal di wilayah mana,
berapa besar kekuatan pasukannya.
Lalu dia mempersiapkan
semua kekuatannya, 100.000 orang,
untuk menyerang Madinah.
Dan nanti ini akan menjadi
penyebab terjadinya Perang Mu’tah.
Dan insya Allah nanti kita akan
jelaskan besok pagi peperangan itu, ya.
Peperangan yang sangat mulia yang terjadi
antara Muslimin dengan bangsa Romawi,
dengan suku Ghassan yang
bersekutu dengan bangsa Romawi.
Dan nanti di situ juga kita akan
lihat bagaimana...
pengkhianatan Heraql...
yang bohong.
Yang berkata kepada Dihyah:
<i>“Sampaikan kepada Nabi kalau</i>
<i>saya tetap dalam keadaan Islam.”</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>“Dia bohong.</i>
<i>Dia takut kehilangan kerajaannya.”</i>
Jadi itu terbukti nanti
di Perang Mu’tah.
Karena pada saat Harith ini
minta tolong kepada dia (Heraklius)
Heraklius mengirim
100.000 juga pasukan Romawi.
Jadi jumlah mereka 200.000 yang akan melawan
pasukan Muslimin yang hanya 3.000 orang saja.
Tapi nanti Muslimin akan
memenangkan peperangan itu.
Tentu kita jelaskan itu.
Yang jelas ini surat yang kedua kepada
Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani...
yang menolak surat
Nabi عليه الصلاة والسلام.
Yang ketiga:
surat Nabi ﷺ ke Busra.
Wilayah Busra.
Penguasa Busra.
Busra ini sebenarnya kalau
sekarang masuk...
ujung Jazirah Arab,
lebih dekat kepada Irak.
Di situ juga dulu ada kerajaan, ini
dipimipin oleh Syurahbil bin Amr al-Ghassani.
Nabi ﷺ mengutus ke sini (Busra) seseorang
yang bernama Al-Harits bin Umair.
Jadi tadi nama yang saya sebutkan
awal itu adalah
nama sahabat, sebenarnya,
yang diutus Nabi ﷺ,
namanya Al-Harith bin Umair Al-Azdi.
Ini sahabat Nabi, رضي الله عنه,
yang diutus kepada wilayah Busra.
Namun di tengah jalan,
Al-Harits ini bertemu dengan
Syurahbil bin Amr Al-Ghassani,
yang dasarnya memang dari...
berkuasa di wilayah itu
dan memang dia...
mendukung kakaknya dia,
yang Harith tadi,
yang dari kepala suku Ghassan.
Maka karena dia tahu ini
utusan Nabi ﷺ,
dia pun membunuhnya.
Jadi Al-Harith bin Umair Al-Azdi
dibunuh oleh Syurahbil.
Dan dia mati syahid رضي الله عنه.
Dan kejadian inilah nanti akan membuat
Nabi ﷺ menyerang suku Ghassan.
Ini juga salah satu pemicu
nanti terjadinya Perang Mu’tah itu.
Yang keempat:
surat Nabi ﷺ ke Muqawqis.
Raja Mesir pada saat itu.
Nabi ﷺ mengirim ke sana...
Hatib bin Abi Balta’ah
رضي الله عنه...
kepada penguasa Mesir
yang bernama Al-Muqawqis.
Surat Nabi ﷺ berbunyi mirip dengan
suratnya ke Heraklius,
karena dia Raja Nasrani:
<i>Bismillahirrahmanirrahim.</i>
<i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i>
<i>kepada Muqawqis, Raja Agungnya Mesir.</i>
<i>Selanjutnya,</i> atau,
<i>Amma ba’du,</i>
<i>sungguh aku mengajak
Anda masuk Islam.</i>
<i>Masuk Islamlah maka</i>
<i>Anda akan selamat.</i>
<i>Dan Allah akan memberi Anda</i>
<i>pahala dua kali lipat.</i>
Bila Anda menolak, maka Anda akan
memikul dosa seluruh petani masyarakat Mesir.
Karena mayoritasnya memang
bekerja jadi petani pada saat itu.
<i>Wahai Ahli Kitab, marilah...</i>
<i>kita satukan kalimat kita agar tidak</i>
<i>menyembah selain Allah</i>
<i>dan tidak menyekutukan-Nya</i>
<i>dengan sesuatu apapun,</i>
<i>dan janganlah seseorang di antara kita</i>
<i>menjadikan yang lain sebagai sekutu bagi Allah.</i>
<i>Dan apabila kalian berpaling, maka</i>
<i>ucapkanlah bahwa kami telah masuk Islam,</i>
atau,
<i>menyerahkan diri.</i>
Muqawqis, pada saat membaca surat Nabi
عليه الصلاة والسلام,
ini mirip dengan responnya...
Heraklius.
Dia seorang pendeta,
dia juga raja, dia tahu ini.
Maka dia gembira membaca
surat Nabi ﷺ.
Kemudian...
dia bertanya banyak...
tentang Nabi ﷺ kepada
Hatib bin Abi Balta’ah رضي الله عنه,
dan Hatib menjawab semua pertanyaan.
Sampai akhirnya...
kata Muqawqis:
<i>“Apakah kaumnya sudah memeranginya?” </i>
Karena dalam Injil disebutkan itu.
Agama yang dibawa oleh Nabi terakhir
tidak akan tersebar
sampai kaumnya memerangi
Nabi tersebut.
Dan akhirnya dia
memenangkan peperangan.
Maka kata Hatib,
<i>“Iya.</i>
<i>Memang kaumnya sudah memeranginya bahkan</i>
<i>mengusirnya dari kotanya (Mekkah).”</i>
Maka Muqawqis berkata:
<i>“Mengapa dia tidak mendoakan kaumnya</i>
<i>agar Allah binasakan saja?</i>
<i>Bukankah dia seorang Nabi</i>
<i>dan doanya diijabah?”</i>
Ini pertanyaan sebenarnya
memancing, ya.
Secara akal mungkin
orang berpikir,
<i>"Iya, ya. Mestinya Nabi berdoa</i>
<i>saja agar Quraisy Allah binasakan."</i>
Tapi perhatikan Hatib
bin Abi Balta'ah رضي الله عنه,
dengan keimanan dan ilmunya,
dia menjawab dengan cerdas.
Dia mengatakan:
<i>“Mengapa Isa tidak mendoakan</i>
<i>kehancuran kaumnya...</i>
<i>saat ada di antara mereka yang</i>
<i>tidak mengikutinya?”</i>
Sama jawabannya.
Maka Muqawqis paham
pada saat itu, dan dia tahu...
kalau Nabi Isa tidak mendoakan
agar Bani Israel dihancurkan
karena Nabi Isa ingin hidayah
dan petunjuk untuk mereka,
bukan kebinasaan.
Dia diutus untuk membawa
rahmat, kasih sayang.
Maka Muqawqis pun membalas
surat Nabi ﷺ,
dan ini satu-satunya raja yang Nabi ﷺ
kirimkan surat yang dia balas...
dengan santun dan baik,
dia mengatakan:
<i>“Keselamatan semoga selalu</i>
<i>bersama dengan Anda.”</i>
Maaf, isinya begini:
<i>Dari Muqawqis, penguasa Qibthi (Mesir),</i>
<i>kepada Muhammad,</i>
<i>utusan Allah.</i>
Dia akui itu.
Dan sampai hari ini tentu surat-surat ini
masih ada, teman-teman sekalian,
dalam naskah-naskah aslinya, ya.
ditulis di atas
kulit-kulit hewan.
<i>Keselamatan semoga selalu</i>
<i>bersama Anda.</i>
<i>Telah tiba kepadaku surat Anda dan</i>
<i>aku telah membaca juga memahaminya.</i>
<i>Aku mengutus seorang wanita</i>
<i>terbaik Qibthi dari Mesir</i>
<i>yang memiliki kedudukan yang</i>
<i>tinggi di kaumnya sebagai hadiah.</i>
<i>juga seeokor kuda pilihan</i>
<i>agar Anda menungganginya.</i>
Nabi ﷺ lalu menerima hadiahnya,
dan menikahi Maria Qibthiyah yang
dikirim oleh Muqawqis.
Dan dikaruniai seorang
anak yang bernama Ibrahim.
Tentu Ibrahim meninggal masih
kecil, belum 3 tahun sudah meninggal.
Nabi ﷺ selalu menceritakan tentang
Muqawqis kepada para sahabat:
<i>"Kalau bukan karena Muqawqis</i>
<i>khawatir kerajaannya akan diserang</i>
<i>dan diambil alih oleh</i>
<i>bangsa Romawi,</i>
<i>maka pastilah ia</i>
<i>akan masuk Islam."</i>
Di sini pelajaran penting,
teman-teman sekalian.
Sekali lagi,
Subhanallah,
dunia, urusan dunia, telah
mengalahkan akhirat orang-orang ini.
Hanya karena menunggu,
mencari jab
Resume
Read
file updated 2026-02-14 05:16:43 UTC
Categories
Manage