Transcript
4nK1IsM8s60 • Sirah Nabawiyah #19 : Surat Nabi Sallallahu 'Alaihi Wassalam Kepada Raja-raja Dunia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0244_4nK1IsM8s60.txt
Kind: captions Language: id Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah. Tidak pernah berhenti kita memuji Tuhan kita Allah, yang kita sangat yakin kalau Dia sedang melihat kita karena Dia Maha Melihat, mendengar kita karena Dia Maha Mendengar, dan mengetahui segala gerak-gerik kehidupan kita karena Dia Maha Mengetahui. Dia Maha Kuat, Maha Adil, Maha Bijaksana. Dan juga... siksanya sangat pedih dan rahmat-Nya sangat luas. Dia tidak memiliki sekutu dalam setiap kegiatan-Nya, dan Dia telah menggantungkan segala kebutuhan kita untuk roda kehidupan di muka bumi ini dengan memuji nama-Nya: Alhamdulillah. Maka selalulah ucapkan kalimat ini. Selanjutnya, kita panjatkan salam hormat kita yang penuh dengan cinta dan rindu kepada manusia yang telah menghabiskan... 23 tahun dari masa hidupnya untuk agama ini. 13 tahun fase Mekkah, semua dengan hinaan, cacian, puncaknya diusir dari kampung halamannya. Dan juga 10 tahun fase Madinah, semuanya... penerimaan wahyu untuk penyempurnaan agama ini dari hukum-hukum syariat. Dan juga Allah ﷻ memerintahkan kita untuk mengucapkan salam hormat dan dibalas langsung 10 kali tambahan rahmat, yang berarti rahmat ini: pengampunan dosa, peninggian derajat, penyelesaian segala perkara-perkara. Dan ini adalah sebuah karunia yang luar biasa. Kalau seandainya Allah mengganti dengan mengucapkan 10 kali salam hormat kepada manusia terbaik ini diganti dengan 1 kali rahmat, sudah cukup. Bagaimana dengan sekali ucapkan salam hormat diganti dengan 10 rahmat? Maka sangat wajar kalau kita selalu mengucapkan shalawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad صلى الله على آله وصحبه وسلم. Melanjutkan tema kita, teman-teman sekalian, Sirah Nabawiyah ini, dan kita... terakhir sudah membahas masalah umrah qadha’, atau umrah yang dikerjakan... oleh Nabi عليه الصلاة والسلام setelah ditahan oleh orang-orang Quraisy... di kesepakatan Hudaibiyah. Kemudian Muslimin selama satu tahun berhenti, tidak boleh memasuki ke Mekkah, tapi terjadi ekspansi-ekspansi Islam. Di antaranya... pembebasan Khaibar. Kemudian Nabi ﷺ datang dan menyelesaikan umrah qadha’, dan cukup banyak kejadian yang sudah kita ceritakan pada pertemuan tersebut. Tentu tidak bisa saya ulangi semuanya. Tapi yang terakhir sekali adalah... masuk Islamnya... pada tahun 8 Hijriyah itu... setelah umrah qadha’, seluruh... suku Khuza'ah, dan juga tiga anak muda Quraisy yang masyhur dengan... kiprahnya nanti dalam Islam. Mereka adalah: Amr bin ‘Ash, yang sudah masuk Islam memang dari Etiopia, kemudian dia mengajak temannya, Khalid bin Walid, dan juga Uthman bin Talhah, رضي الله عنهم أجمعين. Yang kata Nabi ﷺ, waktu melihat mereka masuk ke Madinah, maka Nabi ﷺ bertakbir dengan suara keras sambil bersabda: <i>"Telah datang kepada kalian</i> <i>pemuda-pemuda terbaiknya Quraisy."</i> Sekarang kita masuk, teman-teman sekalian, ke bahasan baru. Judulnya: Surat Nabi ﷺ kepada Raja-Raja Dunia. Setelah Nabi ﷺ merasa aman, karena mayoritas Jazirah Arab sudah mulai dikuasai, dan yang belum takluk adalah Kota Mekkah. Dan nanti insya Allah kita akan pelajari setelah... surat-surat Nabi ﷺ kepada para raja, kemudian ada peperangan-peperangan kecil yang dikenal dengan sariyyah, barulah kita masuk ke inti penyerangan Kota Mekkah dan penguasaannya. Nabi عليه الصلاة والسلام mengirim ke beberapa raja-raja dunia yang berkuasa pada saat itu. Yang pertama adalah kepada Kaisar Romawi. Yang memiliki nama dalam bahasa Arab: هرقل. Dan dalam bahasa Inggris: Heraclius. Setelah umrah qadha’, Baginda Nabi عليه الصلاة والسلام... mengirim Dihyah al-Kalbi رضي الله عنه... ke Romawi untuk menemui kaisar yang bernama Hiraql. Sebelum tiba, Dihyah, di Romawi, pada saat diutus oleh Nabi ﷺ, Hiraql waktu itu baru saja memenangkan peperangan... melawan Persia. Dan Subhanallah, pada saat itu Muslimin tidak terlibat sama sekali dalam peperangan antara Romawi sama Persia. Tapi waktu itu, dianggap orang-orang Romawi belum semuanya mendapatkan dakwah Nabi ﷺ, maka mereka dianggap ahli kitab... yang sedang menunggu sampainya dakwah. Allah ﷻ menurunkan khusus surah... menceritakan tentang bangsa Romawi ini pada saat itu. Jadi ini terjadi pada saat itu, bukan lagi setelahnya. Disebutkan dalam Surah Ar-Rum, memang surah yang berbicara masalah Romawi, surah nomor 30 dalam Al-Qur’an, ayat 1 sampai ayat 5. أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ <i>الۤمّۤ ۚ</i> <i>غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ</i> <i>فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ</i> <i>فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُ ۗوَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ</i> <i>بِنَصْرِ اللّٰهِ ۗيَنْصُرُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ</i> "الۤمّۤۚ" adalah huruf-huruf pertama dalam Al-Qur'an yang Allah lebih tahu maknanya, atau sebagian ulama tafsir mengatakan nama lainnya surah itu. <i>“Telah dikalahkan bangsa Romawi,”</i> Jadi pada saat itu, teman-teman, bukan kayak sekarang. Sekarang kalau ada satu negara, bukan cuma satu negara, satu kampung menyerang kampung yang lain, maka bisa dijangkau oleh media kita. Di zaman dulu, mustahil. Nggak ada media sama sekali. Nggak ada handphone, nggak ada internet, nggak ada TV, nggak ada apa-apa. Jadi orang kalau mau tahu informasinya orang lain, dia harus betul-betul menunggu orang dari wilayah itu atau dia ke sana langsung. Nggak ada cara lain. Di sini Allah ﷻ menunjukkan keajaiban Al-Qur’an, bagaimana waktu itu Muslimin... sedang berada di Madinah, dan mereka mengetahui informasi yang sedang terjadi pada saat itu... di wilayah Jordania. Peperangan yang terjadi antara bangsa Romawi dengan bangsa Persia. Dan waktu itu bangsa Romawi menyembah Allah ﷻ. Mereka pengikut Nabi Isa عليه الصلاة والسلام. Dan sebagaimana saya katakan, waktu itu belum sampai kepada mereka risalah kenabian. Belum merata semuanya, gitu, kan. Sementara orang-orang Persia menyembah api, dan menyembah raja mereka pada saat itu. Allah mengatakan: <i>"Telah dikalahkan bangsa Romawi,"</i> Dalam peperangan itu bangsa Romawi kalah. Ini dua negara adikuasa. <i>“di negeri yang terdekat dan mereka</i> <i>setelah dikalahkan itu,</i> <i>mereka akan menang,”</i> Yang dimaksud dengan “negeri yang dekat” adalah... negeri Arab. atau... wilayah tepatnya Syria dan Palestina, sewaktu menjadi jajahan kerajaan Romawi. Sebagian ahli sejarah mengatakan di Jordan, intinya di negeri Syam terjadi peperangan tersebut. Kemudian dikatakan — dan mereka, kata Allah, setelah dikalahkan: <i>"Telah dikalahkan bangsa</i> <i>Romawi di negeri yang terdekat"</i> — maksudnya dekat dengan Palestina <i>"dan mereka sesudah dikalahkan itu</i> <i>pasti akan menang,"</i> Subhanallah, bangsa Romawi waktu itu mengeluarkan pasukan ratusan ribu orang. Sebagian ahli sejarah mengatakan mencapai 600.000 orang, 700.000 orang. Persia pun menggerakkan pasukan terbaiknya, 516.000 orang. Sama kekuatan. Dan ini terjadi peperangan besar-besaran. Dan saking banyaknya korban pada saat itu, sampai... wilayah yang terjadi peperangan dibanjiri oleh darah. Sampai mereka kalau mau keluar dari kancah peperangan, mereka seperti menyebrang... melewati jenazah-jenazah dan juga darah-darah yang ada, saking banyaknya... orang yang jadi korban. Jadi peperangan ini yang kalah kayaknya sudah mustahil untuk bisa menang lagi. Tapi Allah ﷻ memastikan, dengan kejiwaan yang sedang terpukul, dengan jumlah pasukan yang banyak terkalahkan, dengan materi yang banyak terkorbankan, Allah bilang, waktu itu bangsa Romawi sudah sangat lemah, <i>"Mereka pasti setelah kalah itu</i> <i>akan menang nanti."</i> Dan pada saat itu bangsa Romawi tidak sempat berpikir. Mereka lagi kalah. Tapi Allah bilang mereka akan menang. <i>"dalam beberapa tahun saja,"</i> kata Allah di ayat 4-nya, <i>"Bagi Allahlah urusan sebelum dan</i> <i>sesudah mereka menang.”</i> Kata sebagian ahli tafsir, antara... waktu yang ditentukan dalam Al-Qur’an itu, sebagian ahli tafsir mengatakan antara tujuh sampai sepuluh tahun. Atau ada juga yang mengatakan antara tiga sampai sembilan tahun. Dikatakan: <i>“Bagi Allahlah...</i> <i>urusan sebelum dan</i> <i>sesudah mereka menang.</i> <i>Dan di hari kemenangan</i> <i>bangsa Romawi nanti,”</i> di kemenangan mereka yang kedua, <i>“bergembiralah orang-orang beriman,”</i> maksudnya... para sahabat. Karena pada saat itu, bangsa Romawi belum semuanya mendapatkan Islam — tadi saya katakan — dan mereka termasuk orang yang beriman kepada Allah, sementara bangsa Persia adalah orang yang menyembah api. Jadi kalau bangsa Persia yang menang, maka kemungkinan besar... mereka akan membantai semua orang yang memiliki ketuhanan, meyakini konsep ketuhanan. Mungkin seperti, kurang lebih kayak di Indonesia sekarang dikhawatirkan masalah komunis, karena mereka tidak ada konsep ketuhanan. Jadi kalau mereka menang, maka otomatis semua orang yang beragama, mengimani Allah ini atau ada Tuhan, maka itu dibunuh. Itu sudah umum, gitu, kan. Seperti itu bangsa-bangsa atau pemahaman yang disebarkan oleh... orang-orang sebelumnya. Persia begitu. Jadi semua selain penyembah api akan dibunuh oleh mereka. Maka pada saat itu kata Allah ﷻ: nanti orang-orang beriman akan gembira dengan menangnya orang-orang Romawi. Bukan karena mendukung pemahaman Romawi yang mengatakan Allah punya anak, tapi pada saat itu mereka beriman, antara orang beriman sama orang yang... memang tidak beriman adanya Tuhan, Allah. Ini makna daripada... "Orang-orang beriman akan gembira dengan menangnya bangsa Romawi." Jadi kalau antum baca surah ini di ayat-ayat pertama, jangan sampai salah paham. Jangan seakan-akan kita akan selalu gembira kalau orang Romawi menang. Bukan itu. Karena ayat ini turun pada saat itu, Islam belum sampai kepada mereka... secara menyeluruh. Beda dengan keadaan sekarang. Bangsa Rum masih ada. bangsa Romawi ada tentunya, ya. Sampai sekarang mereka masih ada. Bahkan Nabi ﷺ menyebutkan tentang Malhamah Kubra: <i>“Akan terjadi...</i> <i>peperangan besar antara kalian</i> <i>dengan bangsa Rum.”</i> Jadi memang mereka masih ada. Semua yang mengaku pengikut Nabi Isa عليه الصلاة والسلام, maka dikatakan... mereka bangsa Rum. Kemudian ayat 5, kata Allah, semua itu terjadi, <i>“karena pertolongan Allah.</i> <i>Dia menolong siapa yang Dia kehendaki.</i> <i>Dan Dia Maha Penyayang."</i> Pada saat itu, teman-teman sekalian, dengan hikmah Allah, Heraql... yang pada saat itu melihat pasukannya banyak yang kalah, dia merasa terpukul. Dia nggak mau masyarakatnya merasa ketakutan, maka dia memotivasi mereka, memberikan hadiah, menyebarkan pelatihan-pelatihan militer pada saat itu, untuk mengajak mereka menyerang kembali. Tepatnya sembilan atau sepuluh tahun setelah kekalahan tersebut, maka mereka membentuk pasukan lagi. Dan Heraql sempat bersumpah, kalau seandainya pasukannya menang melawan Persia pada kali yang kedua ini, maka dia akan pergi haji ke Baitul Maqdis. Dan tentu hajinya orang Nasrani ke Baitul Maqdis. Kita pun di awal-awal Islam dulu, di fase Mekkah, sujudnya kaum Muslimin menghadap ke Baitul Maqdis. Kiblat kita ke sana. Orang Yahudi pun menjadikan... kiblat mereka Baitul Maqdis, ya. Maka hajinya orang Nasrani sekarang ke sana. Mereka pergi ke sana. Mereka anggap itu di sana hajinya. Dia janji, Heraql bersumpah, kalau seandainya menang pasukannya, dia akan pergi ke Baitul Maqdis untuk haji... dan berjalan kaki... bersama dengan para pendeta-pendeta pada saat itu. Dan Heraql betul-betul melakukan itu pada saat dia menang. Jadi terjadi peperangan, akhirnya mereka menang. Dan saya tidak membahas tentang masalah peperangan Romawi lawan Persia. Intinya Al-Qur’an mengatakan mereka akan menang, dan betul-betul terjadi... apa yang Al-Qur’an sebutkan. Yang saya ingin titikberatkan, teman-teman sekalian, pada hari menangnya Herakl, terbantaikan sekian banyak pasukan Persia. Dan Persia waktu itu betul-betul terkalahkan luar biasa, sampai mereka sudah... seperti orang yang tidak akan pernah lagi berhadapan dengan Romawi karena terkalahkan. Heraklius saking gembiranya, dia berpesta pada malam itu. Kemudian dia berazam untuk pergi ke Baitul Maqdis. Di tengah jalan, dia mimpi. Di malam hari, di kemahnya, dia mimpi. Dia mimpi kerajaannya hancur, dikalahkan oleh orang-orang yang bersunat. Orang yang sunat, orang yang khitan. Begitu mimpi dia. Heraklius pada saat itu terkaget, bangun. Kemudian dia memanggil para penasihatnya. Lalu dia tanya masalah perihal mimpi tadi: <i>“Apa artinya ini?</i> <i>Kenapa saya mimpi</i> <i>kerajaanku semua hancur?</i> <i>Dan pasukan yang menyerangku</i> <i>itu bersunat?”</i> Namun tidak seorang pun dari penasihat... yang memberikan gambaran, kecuali satu orang... yang mengatakan, <i>"Kemungkinan besar,</i> <i>kerajaan Anda akan dihancurkan</i> <i>dalam waktu yang tidak lama</i> <i>oleh orang-orang yang bersunat."</i> Maka Heraklius sempat bertanya, <i>“Siapa orang yang bersunat menurut kalian...</i> <i>di muka bumi ini?”</i> Kata para pengikutnya, penasihatnya: <i>“Tidak ada kecuali orang Yahudi.</i> <i>Kami nggak tahu orang yang sunat</i> <i>kecuali Yahudi.”</i> Maka Heraklius berazam pada saat itu akan membunuh semua Yahudi. Nggak boleh lagi ada Yahudi yang hidup. Subhanallah, pada saat dia lagi mempersiapkan pasukannya untuk menghancurkan Yahudi —di mana pun Yahudi ada dia mau serang, harus dihabisin Yahudi ini— karena dia takut kerajaannya hancur. Ternyata ada salah satu... orang turunan Arab, kebetulan... terjadi perselisihan. Waktu dia masuk ke wilayah Heraklius di Romawi, dicurigai dia ini Yahudi atau orang Arab. Dan dia... dari kaum Muslimin orang ini. Cuma dia tidak mau buat masalah. Karena dicurigai Yahudi, diinterogasi. Dia mengatakan, <i>“Bukan, saya bukan Yahudi.</i> <i>Saya orang Arab.”</i> Dia tidak dipercaya. Maka pada saat itu pun dia ditangkap. Pada saat ditangkap, diperiksa. Ternyata dia berkhitan. Orang ini berkhitan. Maka dibawa ke depannya Heraklius. <i>“Wahai Heraklius, kami menemukan ada</i> <i>orang lain selain Yahudi...</i> <i>selain Yahudi yang bersunat.”</i> Maka kata Heraklius, <i>“Dari mana kamu?”</i> Dia bilang, <i>“Saya dari Arab.”</i> Lalu kemudian Heraklius bertanya. Pada saat itu kebetulan, memang dia ini... selain raja juga seorang... pendeta, ya. Maka dia berkata: <i>“Apa ada sesuatu yang terjadi</i> <i>di negeri kalian?</i> <i>Ada berita besar nggak?”</i> Kata dia, <i>“Iya, ada.</i> <i>Telah keluar di antara kami</i> <i>seseorang yang mengaku nabi.”</i> Heraklius lalu... berkata kepada orang tersebut, <i>“Coba ceritakan kepada saya...</i> <i>ciri orang yang mengaku nabi itu.”</i> Lalu orang ini pun menceritakan panjang lebar... apa pun yang dia tahu tentang Nabi ﷺ dari sisi khalqiyyah-nya (ciptaan fisik Nabi ﷺ), dan juga khuluqiyyah-nya (akhlak) Nabi عليه الصلاة والسلام, serta syariat-syariat yang dibawa. Karena dia seorang Muslim, dia ceritakan itu. Heraklius lalu berkata kepada orang yang ada di sekitarnya: <i>“Datangkan kepadaku...</i> <i>di negeri Syam ini...”</i> —karena kebetulan dia sudah jalan, peperangan terjadi di tempat yang sama, di wilayah negeri Syam, di sekitar Yordania, tempat dia dikalahkan oleh bangsa Persia sepuluh tahun yang lalu. Peperangan terjadi di tempat yang sama dan menang. Dekat sekali untuk ke Palestina. Dia niat jalan kaki menuju ke Palestina. Di tengah jalan, dia mimpi tadi, dia lihat ini kejadian. Lalu dia mengatakan, <i>“Coba datangkan kepada saya...</i> <i>siapapun yang kalian bisa dapatkan</i> <i>dari kafilah orang-orang Arab.”</i> Setelah diteliti, teman-teman sekalian, ternyata ditemukan memang ada kafilah-kafilah Quraisy yang kebetulan lagi ingin belanja ke negeri Syam. Sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Qur’an: رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ (QS. Quraisy [106]:2), <i>“perjalanan musim dingin</i> <i>dan musim panas,”</i> ini salah satunya ke negeri Syam, salah satunya ke negeri Yaman. Tapi ini di negeri Syam, mereka datang mau belanja dan kebetulan... waktu itu yang pimpin kafilah adalah Abu Sufyan. Masih dalam keadaan kafir Abu Sufyan. Abu Sufyan lalu kemudian dipanggil oleh pasukan Heraklius dan dibawa dia dan seluruh kafilahnya menuju ke istana. Heraklius waktu itu tidak bisa bahasa Arab. Dia menggunakan bahasa Rum pada saat itu. Heraklius bertanya, melalui penerjemah: <i>“Siapa di antara kalian</i> <i>yang paling dekat jalur nasabnya</i> <i>dengan orang yang mengaku Nabi itu?”</i> Maka Abu Sufyan berkata, <i>“Aku.”</i> Abu Sufyan ini termasuk, kalau dilihat jalurnya sebenarnya, masuk dalam sepupu Nabi ﷺ. Sepupu Nabi ﷺ. Dia sepupunya juga Utsman bin Affan. Mereka semua satu jalur, ketemu di kakek-kakek kesekian. Kalau tidak salah waktu itu, ya, sebagian ahli sejarah mengatakan Abu Sufyan ketemu dengan Nabi ﷺ di kakek kelimanya. Heraklius lalu memerintahkan agar Quraisy semuanya duduk, orang kafilah semua duduk di bagian belakang dan Abu Sufyan di depan sendiri, tidak pula ada yang di sebelahnya. Lalu Heraklius berkata, <i>“Aku akan bertanya kepadamu,”</i> ditunjuk Abu Sufyan. Lalu ia berkata kepada pengikut Abu Sufyan yang ada di belakang: <i>“Bila orang ini berbohong,</i> <i>ataupun salah dalam mengucapkan,</i> <i>maka kalian semua harus meluruskan.</i> <i>Kalau tidak, kalian semua</i> <i>akan saya bunuh.”</i> Heraklius raja besar pada saat itu. Maka Abu Sufyan berkata pada saat itu, dan dia ceritakan setelah dia masuk Islam, dia sampaikan riwayat dan dinukil oleh para ahli sejarah kita, dia bilang, <i>“Demi Allah,</i> <i>bila aku berbohong pun pada saat itu,</i> <i>tidak akan pernah ada satu pun dari pengikutku...</i> <i>yang ada di belakangku</i> <i>yang berani meluruskan,</i> <i>karena aku pemimpin mereka.</i> <i>Tapi aku tokoh Quraisy,</i> <i>dan sangat memalukan bila aku bohong.”</i> Heraklius lalu berkata... kepada Abu Sufyan: <i>“Bagaimana jalur nasabnya Nabi itu?</i> Ayahnya, kakeknya, pokoknya jalur nasab ke atas. Abu Sufyan bilang, <i>“Sungguh,</i> <i>memiliki jalur nasab yang suci</i> <i>di antara kami.”</i> Terkenal semua, dari ayahnya, kakeknya, terus sampai ke atas ini, orang-orang yang baik. Nggak punya riwayat yang tidak baik, gitu. Heraklius bertanya lagi: <i>“Apakah ada yang pernah mengaku Nabi</i> <i>sebelumnya di antara kalian?</i> <i>Di suku kalian ini, di suku Quraisy,</i> <i>pernah nggak ada yang ngaku Nabi...</i> <i>yang kalian ketahui?”</i> Kata Abu Sufyan, <i>“Tidak ada.”</i> Tentu saja kenapa dikatakan tidak ada, karena... dibahas di sini dari suku Quraisy-nya. Quraisy nama seseorang bernama Fihr. Fihr ini jauh dari keturunan Nabi, maksudnya keturunan Nabi Ibrahim dan Ismail عليهم السلام, tapi jauh di bawah. Dan Quraisy mulai disebutkan, diistilahkan dengan Quraisy dari orang ini, namanya Fihr. Berarti mulai Fihr ke bawah, ada nggak yang mengaku Nabi? Makanya kata Abu Sufyan, <i>“Tidak ada.”</i> Kalau yang dimaksud adalah seluruh jalur nasabnya sampai ke atas, tentu ada Nabi. Ada Nabi Ibrahim dan Ismail عليهم الصلاة والسلام. Maka kata Heraklius, <i>“Apakah kalian pernah menilai dia...</i> <i>sebelum mengaku Nabi</i> <i>sebagai pendusta?</i> <i>Pernah nggak ada riwayatnya</i> <i>orang itu di suku kalian,</i> <i>satu kali saja pernah bohong?”</i> Kata Abu Sufyan, <i>“Tidak pernah.”</i> Heraklius tanya lagi, <i>“Apakah yang menjadi pengikutnya...</i> <i>orang-orang lemah,</i> <i>atau orang-orang terhormat?”</i> Kata Abu Sufyan, <i>“Orang-orang lemah dan miskin.”</i> Kata Heraklius, <i>“Apakah jumlah mereka bertambah,</i> <i>atau berkurang?”</i> Kata Abu Sufyan, <i>“Bertambah.”</i> Heraklius berkata lagi: <i>“Apakah ada pengikutnya yang meninggalkan</i> <i>agamanya setelah menjadi pengikutnya?</i> <i>Ada nggak orang yang datang</i> <i>ngetes-ngetes terus kemudian pulang lagi,</i> <i>keluar lagi dari agamanya?”</i> Kata Abu Sufyan, <i>“Tidak ada.”</i> Bahkan Abu Sufyan termasuk orang yang menyiksa Muslimin di Mekah. Dia tahu bagaimana orang-orang sampai berani mati untuk agama ini. Kata Heraklius, <i>“Apakah ia pernah berkhianat?”</i> Kata Abu Sufyan, <i>“Tidak pernah.</i> <i>Namun, sekarang antara</i> <i>kami dengannya,</i> <i>ada kesepakatan damai.”</i> Ini adalah kesepakatan Hudaibiyah yang kita pelajari kemarin. <i>“Dan aku tidak tahu apakah ke depannya</i> <i>dia akan khianat atau tidak.”</i> Abu Sufyan di sini, teman-teman, berkata —dia ceritakan setelah dia masuk Islam— dia ceritakan panjangnya, dia mengatakan: <i>“Sungguh aku tidak mendapatkan</i> <i>celah untuk menghina Nabi...</i> <i>Muhammad ﷺ...</i> <i>kecuali pada masalah ini saja.”</i> Jadi semuanya baik ini. Jawabannya jujur, harus jujur. Dia bilang, <i>“Saya tidak dapat celah</i> <i>untuk menghinanya kecuali di sini.</i> <i>Saya bilang,</i> <i>'Sekarang lagi ada kesepakatan,</i> <i>saya tidak tahu ke depan</i> <i>dia khianat atau tidak.'</i> <i>Tapi sebelumnya</i> <i>nggak pernah berkhianat.'”</i> Hanya itu celahnya, gitu, kan. Heraklius bertanya lagi: <i>“Apakah kalian telah</i> <i>memeranginya?”</i> Kata Abu Sufyan, <i>“Iya.”</i> Kata Heraklius: <i>“Bagaimana hasil peperangan</i> <i>kalian dengannya?”</i> Kata Abu Sufyan: <i>“Sekali ia menang,”</i> maksudnya Perang Badr, <i>“dan sekali kami menang,”</i> maksudnya Perang Uhud. Kata Heraklius: <i>“Apa yang ia perintahkan</i> <i>kepada kalian?</i> <i>Apa dakwahnya?”</i> Kata Abu Sufyan: <i>“Ia memerintahkan kami agar</i> <i>menyembah Allah satu,</i> <i>tanpa menyekutukan-Nya, serta meninggalkan</i> <i>apa yang nenek moyang kami lakukan.”</i> sembah-sembah berhala segala macam, <i>“Ia juga memerintahkan kepada kami</i> <i>agar mengerjakan shalat,</i> <i>jujur, dan tidak mengemis,</i> <i>serta menjaga silaturrahim.”</i> Heraklius lalu berkata kepada penerjemahnya: <i>“Katakan kepada orang ini baik-baik</i> <i>dengan bahasa yang jelas.</i> <i>Aku bertanya kepadamu</i> <i>tentang jalur nasabnya,</i> <i>engkau menjawab bahwa ia</i> <i>memiliki nasab yang suci.</i> <i>Demikian pula para Nabi dan Rasul yang</i> <i>diutus pada nasab terbaik kaumnya.”</i> Heraklius sekarang sebutkan kepada Abu Sufyan. Selama ini, teman-teman, Abu Sufyan selalu memerangi Nabi ﷺ. Nggak percaya. <i>"Siapa Muhammad ini?"</i> Salah satu penduduk Mekah. Bahkan Abu Sufyan merasa dirinya lebih kaya, gitu, kan. Makanya dia tolak terus. Tapi sekarang Abu Sufyan heran. Heraklius ini... raja yang selama ini orang Quraisy pun takut dengannya, ini menyebutkan tentang kenabian Nabi ﷺ. <i>“Kau bilang tadi jalur nasabnya baik,</i> <i>maka itu semua Nabi-Nabi begitu.</i> <i>Pasti jalur nasabnya</i> <i>yang terbaik di kaumnya.</i> <i>Aku bertanya kepadamu,</i> <i>apakah ada di antara kalian yang pernah</i> <i>menyatakan hal yang serupa,</i> <i>pernah ngaku Nabi?</i> <i>Engkau menjawab, 'Tidak ada.'</i> <i>Kalau seandainya ada yang telah</i> <i>menyatakan sebelumnya,”</i> dari kakek-kakeknya pernah ngaku Nabi, <i>“maka aku akan mengatakan bahwa ia</i> <i>hanya mengikuti orang sebelumnya saja.”</i> <i>“Aku bertanya kepadamu,</i> <i>apakah ada di antara kakeknya yang raja?</i> <i>Engkau menjawab,</i> <i>'Tidak ada.'”</i> Ini juga salah satu pertanyaan, sebenarnya, di riwayat ini. Semestinya ada sebelumnya, ya, tapi ini tidak disebutkan dalam potongan riwayat yang tadi saya sebutkan. Tapi memang ada pertanyaan Heraklius juga, <i>“Apakah ada di antara kakeknya yang raja?</i> <i>Maka engkau menjawab,</i> <i>'Tidak ada.'</i> <i>Kalau ada, maka aku akan</i> <i>mengatakan bahwa ia hanya ingin</i> <i>mengembalikan kerajaan kakeknya saja.”</i> Jadi yang dimaksud di sini, teman-teman sekalian, pernah saya jelaskan di awal-awal sirah, kalau Abdul Muttalib sempat menjadi raja Mekkah. Tetapi sistem yang dipakai di Mekkah waktu itu walaupun ada seorang raja atau orang yang dituakan, tetap semua suku punya kekuatan. Makanya dikatakan di Mekkah itu tidak ada raja khusus. Tapi dikuasai oleh tokoh-tokoh Quraisy. Semua kepala suku punya hak untuk memberikan pendapatnya. Jadi yang dimaksud di sini raja adalah raja yang menguasai semuanya, tidak ada lagi yang... yang membantunya, tidak ada penasihatnya. Memang dia kuat dengan power-nya sendiri. Lalu kata Heraklius: <i>"Aku bertanya juga padamu,</i> <i>apakah ia pernah berdusta pada kalian?</i> <i>Engkau menjawab,</i> <i>'Tidak pernah.'</i> Maka aku katakan kalau ia tidak pernah dusta, <i>maka pastilah ia tidak berani</i> <i>berdusta atas nama Allah."</i> <i>"Aku bertanya padamu,</i> <i>'Apakah yang menjadi pengikutnya</i> <i>orang-orang lemah,</i> <i>atau tokoh-tokoh masyarakat?'</i> Engkau menjawab, <i>'Orang-orang lemah.'</i> <i>Ketahuilah, demikian</i> <i>pula pengikut para rasul.</i> <i>Awal pengikutnya orang-orang lemah, </i> <i>lalu disusul setelah itu</i> <i>dengan pemuka-pemuka kaum."</i> Memang selalu orang miskin dan orang lemah dulu. Dan ini umum, Subhanallah, dakwah-dakwah itu, umumnya kenanya dulu ke masyarakat umum. Nanti sudah lama merata, baru pindah ke tokoh-tokoh masyarakat. <i>"Aku bertanya kepadamu,</i> <i>'Apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang?'</i> <i>Maka engkau menjawab,</i> <i>'Bertambah.'</i> Maka demikian pula keimanan akan terus bertambah sampai ia sempurna." <i>"Aku bertanya kepadamu,</i> <i>'Apakah ada pengikutnya yang meninggalkan keyakinannya?'</i> <i>Engkau menjawab,</i> <i>'Tidak ada.'</i> <i>Maka demikian pula iman,</i> <i>saat telah memenuhi hati seseorang,</i> <i>tidak akan pernah</i> <i>keluar lagi selamanya."</i> <i>"Aku bertanya padamu,</i> <i>'Apakah ia pernah berkhianat?'</i> <i>Engkau menjawab,</i> <i>'Tidak.'</i> <i>Maka demikian pula para nabi dan rasul</i> <i>tidak akan pernah berkhianat."</i> <i>"Aku bertanya padamu,</i> <i>'Apa yang ia perintahkan?'</i> <i>Engkau menjawab,</i> <i>'Ia memerintahkan agar tidak menyekutukan Allah,</i> <i>shalat, jujur, dan silaturahim.'</i> <i>Demikian pula perintah seluruh</i> <i>nabi dan rasul."</i> Lalu Heraklius mengucapkan kalimat, teman-teman, kalimat yang agung sebenarnya ini. Pada saat itu raja yang menguasai seluruh dunia. Karena Persia sudah kalah, gitu, kan. Tidak ada lagi kekuatan waktu itu kecuali kekuatan Romawi. Maka dia berkata: <i>"Bila semua yang engkau</i> <i>sampaikan ini benar,</i> <i>maka demi Allah, dia, orang itu,</i> <i>pasti akan menguasai...</i> <i>apa yang berada di bawah</i> <i>kedua telapak kakiku ini."</i> Maksudnya, <i>"Kekuasaanku ini juga</i> <i>akan takluk di tangan dia nantinya."</i> <i>"Dan aku sangat tahu</i> <i>ini zaman keluarnya Nabi,</i> <i>tetapi aku tidak menyangka kalau</i> <i>akan keluar dari kalangan kalian.</i> <i>Dan bila aku bisa menjangkaunya,</i> <i>aku bisa menemuinya,</i> <i>niscaya aku akan sangat</i> <i>gembira dan menghormatinya.</i> <i>Bila saja aku</i> <i>berada di sisinya,</i> <i>maka niscaya aku akan</i> <i>mencuci kedua telapak kakinya."</i> Ini kata Heraql tentang Nabi عليه الصلاة والسلام. Abu Sufyan waktu sudah selesai itu disuruh keluar. Dia keluar lalu berkata... kepada teman-temannya, <i>"Demi Allah,</i> <i>sungguh perkara Abu Qabs..."</i> ini Abu Qabs, teman-teman sekalian, adalah istilah ejekan dari orang Quraisy... untuk Nabi ﷺ. Mereka memanggil Abu Qabs seperti seakan-akan orang yang tidak punya kedudukan. <i>"Sungguh demi Allah,</i> <i>kedudukan Abu Qabs sudah luar biasa.</i> <i>Sampai-sampai Heraql pun,</i> <i>raja terkuat dunia,</i> <i>takut padanya."</i> Kata Abu Sufyan: <i>"Pada saat itu, Islam sudah mulai</i> <i>masuk ke dalam hatiku."</i> Karena tidak mungkin, ini aneh, nih. Kalau sampai raja terkenal dunia dan baru menang peperangan, dia merasa sekarang tidak lagi punya musuh di dunia ini, dia menguasai dunia, dia mengatakan kalimat tersebut. Kalau bisa menjangkau Nabi ﷺ, maka dia akan mencuci telapak kakinya, mencucikannya sebagai bentuk khidmah, padahal dia raja. Ini berarti sesuatu yang luar biasa. Sesaat baru saja Abu Sufyan keluar, berpapasan Abu Sufyan keluar dari situ, Dihyah Al-Kalbi sampai. Utusan Nabi ﷺ, bawa surat dari Madinah. Maka Dihyah Al-Kalbi... tiba, kemudian menemui Heraql dan minta menyampaikan surat Nabi ﷺ. Bunyinya... dan surat ini, teman-teman, masih tersimpan sekarang. Ada di pemerintah Inggris sekarang menyimpan ini, ya. Di museumnya di Inggris ada. Dan ini diakui oleh ahli sejarah Inggris dan Eropa. Ini ditulis di abad ke-7 Masehi. Surat resmi datang kepada Heraql dari Nabi ﷺ. Bunyinya: <i>“Bismillahirrahmanirrahim</i> <i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i> <i>kepada Heraklius, Raja Agung Romawi.</i> <i>Selanjutnya, sungguh</i> <i>aku mengajak anda masuk Islam.</i> <i>Masuk Islamlah</i> <i>maka anda akan selamat.</i> <i>Dan Allah akan memberi Anda</i> <i>pahala dua kali lipat.</i> Karena orang ahli kitab kalau masuk Islam, double pahalanya. Mereka sudah beriman kepada Nabi Isa sebelumnya, mereka beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ sekarang. <i>Bila anda menolak, maka Anda</i> <i>akan memikul dosa seluruh petani.</i> Waktu itu bangsa Romawi mayoritas pekerjaannya petani, maka bangsa Romawi dikenal bangsa petani. <i>“Anda akan menanggung dosa semua petani,”</i> maksudnya masyarakat Romawi. Karena kalau raja beriman, mereka beriman. Kalau raja tidak beriman, maka mereka tidak beriman. <i>"Wahai Ahli Kitab,"</i> lalu Nabi ﷺ bacakan ayat. <i>"Marilah kita satukan kalimat kita,"</i> …يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ (QS. Ali Imran [3]: 64) Ada ayat Al-Qur’an seperti itu. <i>“Wahai Ahli Kitab, marilah kita</i> <i>satukan perkataan kita sama-sama,</i> <i>yaitu agar kita tidak</i> <i>menyembah selain Allah,</i> <i>dan tidak menyekutukan-Nya</i> <i>dengan sesuatu apa pun,</i> <i>dan janganlah seseorang di antara kita</i> <i>menjadikan yang lain sebagai sekutu bagi Allah.</i> <i>Dan apabila kalian berpaling, maka</i> <i>ucapkanlah, “Kami telah Islam.”</i> atau, <i>“menyerahkan diri kepada Allah.”</i> Pada saat surat tersebut dibacakan, teman-teman sekalian, Heraklius gemetaran. Karena dia baru ketemu sama Abu Sufyan. Dan Dihyah Al-Kalbi tidak tahu tentang kisah ini, berpapasan saja dengan Abu Sufyan, gitu. Heraklius gemetaran dan ia lalu segera mencoba memastikan semua sifat Nabi terakhir... kepada Dihyah Al-Kalbi bagaimana cirinya, bagaimana kulitnya, bagaimana matanya, bagaimana alisnya, bagaimana jalur nasabnya. Apa yang ditanya kepada Abu Sufyan, ditanya juga kepada Dihyah al-Kalbi. Dan Subhanallah, jawabannya sama. Tinggal masalah kesepakatan Hudaibiyah saja. Pada saat ditanya tadi Abu Sufyan, Abu Sufyan bilang: <i>“Tidak pernah khianat,</i> <i>tapi saya tidak tahu ke depannya.”</i> Kalau Dihyah al-Kalbi menjawab berbeda: <i>“Nabi kami tidak akan pernah</i> <i>berkhianat selamanya.”</i> Maka pada saat itu, teman-teman sekalian, Heraklius pun berkata kepada Dihyah: <i>“Bawa surat ini kepada Safatir.”</i> Safatir ini, teman-teman, istilah... yang digunakan untuk pemimpin... tertingginya gereja pada saat itu. Jadi di sistem gereja itu ada pendeta-pendeta, nanti ada kepala pendeta. Dia penentu keputusan. Maka dibawalah surat tersebut, teman-teman sekalian, kepada Safatir. Saat surat tersebut dibacakan kepada Safatir, maka Safatir ini sempat gemetar. Karena memang dia selalu diskusi sama Heraklius... kalau ini... tanda-tanda yang disebutkan dalam Injil, <i>"Kita akan memenangkan perang sama Persia,"</i> ada disebutkan dalam Injil. <i>"Dan kita juga akan masuk ke Palestina,"</i> ini ada disebutkan. Dan pada zaman itu keluarlah Nabi yang harus diikuti. Maka ini bertepatan sekali dengan kemenangan masuk ke Palestina, haji. Menang lawan Persia, dan juga datang surat seperti ini. Maka Safatir pun gemetaran pada saat itu. Kepala pendeta gemetar ini. Dan bertanya banyak tentang Nabi ﷺ pada Dihyah Al-Kalbi. Dan Dihyah terus menjawab sampai akhirnya Safatir... kehabisan pertanyaan dan terheran-heran. Karena semua ciri yang disebutkan dalam Injil tentang Nabi terakhir semuanya ada pada Nabi Muhammad صلى الله على آله وصحبه وسلم. Safatir lalu berkata kepada Dihyah: <i>“Demi Allah, aku sangat yakin kalau</i> <i>ini adalah zaman keluarnya Nabi terakhir</i> <i>yang telah kami tunggu-tunggu.</i> <i>Dan aku benar-benar</i> <i>tidak menyangka kalau keluar</i> <i>dari kalangan kalian,</i> <i>wahai bangsa Arab.</i> <i>Maka aku menyatakan:</i> <i>Asyhadu an la ilaha illallah</i> <i>wa anna Muhammadan Rasulullah.”</i> Ini malah syahadat si Safatir ini. Safatir lalu mengumpulkan semua pendeta. Sudah adzan, ya? Baik, sebentar. Kita selesaikan, ya. Safatir lalu mengumpulkan semua pendeta dan mengajak mereka masuk Islam, dan menjelaskan tentang tanda-tanda Nabi ﷺ. Lalu ia bersyahadat di hadapan mereka. Sebagian besar pendeta tidak mau menerima dan akhirnya mereka membunuh Safatir. Dan ini, rahimahullah, beliau mati syahid. Karena sudah muslim pada saat itu. Dia sudah syahadat. Bahkan dia langsung mendakwahkan Islam kepada para pendeta-pendeta, tapi mereka... membunuhnya, khawatir nanti jangan semua Nasrani mengubah agamanya. Dihyah رضي الله عنه pada saat mengetahui kejadian pembunuhan Safatir, segera menemui Heraql dan meminta saran. Heraql lalu berkata: <i>“Sungguh kedudukan Safatir di sisi mereka</i> <i>lebih mulia dibandingkan aku.</i> <i>Kalau Safatir saja mereka tidak dengar,</i> <i>bahkan membunuhnya,</i> <i>maka bagaimana dengan aku?</i> <i>Tapi cobalah sabar dulu,</i> <i>aku akan mengatur strategi</i> <i>untuk mengumpulkan mereka.”</i> Heraql lalu mengumpulkan semua pendeta di sebuah ruangan, dan ia perintahkan agar semua pintu dikunci dari luar serta seluruh pendeta harus masuk ke ruangan tersebut. Dan disiapkanlah prajurit-prajurit yang memegang pedang, yang berada di setiap belakang pendeta. Jadi ada puluhan pendeta yang datang dimasukkan dalam satu ruangan. Di setiap belakang pendeta itu ada satu prajurit yang pegang pedang, tapi tidak memperlihatkan kalau dia siap untuk membunuh para pendeta-pendeta ini kalau menolak. Semua pendeta berkumpul pada saat itu, maka Heraql keluar menemui mereka, dan membacakan surat Nabi ﷺ serta membaca ayat-ayat Injil yang membuktikan tentang kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ. Lalu Heraql bersyahadat di depan mereka. Jadi raja agungnya Romawi masuk Islam... di depan mereka semua. Maka seluruh pendeta kaget, karena sekarang raja mereka pun mengikrarkan syahadat. Saat mereka mau melarikan diri dari ruangan, ternyata semua sudah terkunci. Jadi pendeta ini mau melarikan diri karena kaget, kenapa rajanya pun masuk Islam. Maka para pendeta berkata: <i>“Demi Allah, kami tidak akan</i> <i>meninggalkan agama Al-Masih</i> <i>walaupun engkau membunuh kami semua.”</i> Melihat kejadian tersebut, maka Heraql khawatir bila membunuh semua pendeta malah jadi masalah di tengah-tengah masyarakat. Maka dia pun... dikatakan dalam buku sejarah, lalu cinta dunia mengalahkan imannya. Karena dia baru syahadat, dia takut nanti kalau pendeta ini dibuka pintu lalu... menyebarkan berita kalau raja begini dan begitu, lalu terjadi pemberontakan, akhirnya dia jatuh dari kerajaannya, padahal dia baru menguasai dunia. Maka dia pun berkata: <i>“Aku hanya mau menguji kalian.</i> <i>Tadinya aku lihat surat itu sudah</i> <i>sampai kepada kerajaan kita,</i> <i>dan aku khawatir malah</i> <i>kalian yang murtad.</i> <i>Maka pertahankanlah agama kalian</i> <i>dan aku bersama kalian.”</i> Lalu Heraql memerintahkan para prajurit membuka pintu untuk para pendeta. Dan pendeta pun memuji Heraql dan berjanji akan setia. Izinkan saya tinggal dua paragraf saja. Setelah semua pendeta pergi, maka Heraql memanggil Dihyah Al-Kalbi رضي الله عنه dan berkata padanya: <i>“Aku mengucapkan hal tadi agar</i> <i>kerajaanku tidak hilang.</i> <i>Dan ini hadiah dari aku</i> <i>berupa emas.”</i> Dikasih emas satu peti. <i>“Bawalah kepada Nabi...</i> ﷺ, <i>“Bawa kepada Nabi</i> <i>dan sampaikan salamku juga.</i> <i>Bilang kalau aku tetap dengan</i> <i>keislamanku.”</i> Kata Heraql ini. Saat Dihyah al-Kalbi tiba di Madinah, رضي الله عنه, dan menceritakan kepada Nabi ﷺ, maka Nabi ﷺ mengucapkan kalimat yang mulia. Kata beliau: <i>“Sungguh dia (Heraql) adalah</i> <i>musuh Allah.</i> <i>Dia telah berdusta.</i> <i>Ia mengucapkannya,”</i> kalimat tadi karena beriman, <i>“kemudian dia meninggalkannya</i> <i>justru karena mendahulukan dunia.”</i> Dan ini beda dengan keadaan Najasyi yang benar-benar masuk Islam... karena hatinya. Dan dia pertahankan sampai dia meninggal dunia. Lalu Nabi ﷺ memerintahkan agar pemberian Heraql (emas) dibagikan kepada seluruh Muslimin. Demikianlah hasil surat Nabi ﷺ kepada salah satu raja-raja dunia. Dan insya Allah kita akan lanjutkan nanti surat yang kedua dan seterusnya, termasuk kepada Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani setelah Isya nanti. Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, wassalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Segala puji bagi Allah ﷻ, juga shalawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad صلى الله على آله وصحبه وسلم. Surat kedua Nabi عليه الصلاة والسلام yang dikirim setelah Heraql— walaupun sebenarnya surat-surat ini... dikirim oleh Nabi ﷺ secara bersamaan, itu yang lebih kuat pendapat para ulama, kalau ini dikirim secara bersamaan. Tetapi, disusunnya seperti ini oleh para ulama sejarah atau ahli sejarah hanya untuk memudahkan, untuk memahami. Surat yang selanjutnya adalah surat kepada Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani. Nabi ﷺ mengutus ke sana seorang sahabat yang mulia, namanya Syuja' bin Wahab Al-Asadi. Syuja' bin Wahab Al-Asdi رضي الله عنه... membawa surat kepada pemimpin negeri Syam yang bernama Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani. Isinya adalah: <i>Bismillahirrahmanirrahim.</i> <i>Dengan menyebut nama Allah</i> <i>Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.</i> <i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i> <i>kepada Harith bin Abi Syamr.</i> <i>Keselamatan bagi orang yang mengikuti</i> <i>kebenaran dan petunjuk serta beriman kepada</i> <i>Allah dan juga membenarkannya.</i> <i>Sungguh, aku mengajakmu beriman kepada Allah</i> <i>tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya,</i> <i>dan kerajaanmu tetap bertahan.</i> Pada saat membaca surat Nabi ﷺ, Harith ini... dia termasuk penguasa yang besar sekali. Dan pada saat itu, teman-teman sekalian, walaupun Nabi ﷺ... sudah berhasil menundukkan Khaibar, beberapa kota-kota kecil, atau desa-desa kecil di sekitar Madinah, tapi belum didengar gongnya ke seluruh dunia. Masih kecil. Justru setelah surat-surat inilah baru orang-orang banyak mengenal tentang Nabi ﷺ. Awalnya tidak. Lingkupnya sangat kecil sekali—cuma Madinah, Mekah, Khaibar, wilayah-wilayah kecil. Jaraknya 400 km, 200 km. Negeri Syam sudah 1000 km ke atas jarak jauhnya. Dan nanti pada saat ini baru terdengar. Harith ini seorang pemimpin di negeri Syam, raja. Kekuatan pasukan perangnya saja sudah 100.000 orang. Kurang lebih dia menguasai wilayah Jordania... dan sebagian... wilayah... Palestina, ya. Sebagian lagi dikuasai oleh Romawi. Dan dia termasuk sekutunya orang-orang Romawi. Sekutu orang Romawi, cuma dari turunan Arab. Dia marah waktu membaca surat Nabi ﷺ. Dan dia berkata, <i>“Siapa orang ini?</i> <i>Berani benar dia</i> <i>mengancam kerajaanku,</i> <i>sementara aku memiliki pasukan</i> <i>sebanyak 100.000 prajurit?”</i> Maka gara-gara itu, teman-teman sekalian, Harith pun mencari tahu tentang siapa Nabi ﷺ, tinggal di wilayah mana, berapa besar kekuatan pasukannya. Lalu dia mempersiapkan semua kekuatannya, 100.000 orang, untuk menyerang Madinah. Dan nanti ini akan menjadi penyebab terjadinya Perang Mu’tah. Dan insya Allah nanti kita akan jelaskan besok pagi peperangan itu, ya. Peperangan yang sangat mulia yang terjadi antara Muslimin dengan bangsa Romawi, dengan suku Ghassan yang bersekutu dengan bangsa Romawi. Dan nanti di situ juga kita akan lihat bagaimana... pengkhianatan Heraql... yang bohong. Yang berkata kepada Dihyah: <i>“Sampaikan kepada Nabi kalau</i> <i>saya tetap dalam keadaan Islam.”</i> Kata Nabi ﷺ, <i>“Dia bohong.</i> <i>Dia takut kehilangan kerajaannya.”</i> Jadi itu terbukti nanti di Perang Mu’tah. Karena pada saat Harith ini minta tolong kepada dia (Heraklius) Heraklius mengirim 100.000 juga pasukan Romawi. Jadi jumlah mereka 200.000 yang akan melawan pasukan Muslimin yang hanya 3.000 orang saja. Tapi nanti Muslimin akan memenangkan peperangan itu. Tentu kita jelaskan itu. Yang jelas ini surat yang kedua kepada Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani... yang menolak surat Nabi عليه الصلاة والسلام. Yang ketiga: surat Nabi ﷺ ke Busra. Wilayah Busra. Penguasa Busra. Busra ini sebenarnya kalau sekarang masuk... ujung Jazirah Arab, lebih dekat kepada Irak. Di situ juga dulu ada kerajaan, ini dipimipin oleh Syurahbil bin Amr al-Ghassani. Nabi ﷺ mengutus ke sini (Busra) seseorang yang bernama Al-Harits bin Umair. Jadi tadi nama yang saya sebutkan awal itu adalah nama sahabat, sebenarnya, yang diutus Nabi ﷺ, namanya Al-Harith bin Umair Al-Azdi. Ini sahabat Nabi, رضي الله عنه, yang diutus kepada wilayah Busra. Namun di tengah jalan, Al-Harits ini bertemu dengan Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, yang dasarnya memang dari... berkuasa di wilayah itu dan memang dia... mendukung kakaknya dia, yang Harith tadi, yang dari kepala suku Ghassan. Maka karena dia tahu ini utusan Nabi ﷺ, dia pun membunuhnya. Jadi Al-Harith bin Umair Al-Azdi dibunuh oleh Syurahbil. Dan dia mati syahid رضي الله عنه. Dan kejadian inilah nanti akan membuat Nabi ﷺ menyerang suku Ghassan. Ini juga salah satu pemicu nanti terjadinya Perang Mu’tah itu. Yang keempat: surat Nabi ﷺ ke Muqawqis. Raja Mesir pada saat itu. Nabi ﷺ mengirim ke sana... Hatib bin Abi Balta’ah رضي الله عنه... kepada penguasa Mesir yang bernama Al-Muqawqis. Surat Nabi ﷺ berbunyi mirip dengan suratnya ke Heraklius, karena dia Raja Nasrani: <i>Bismillahirrahmanirrahim.</i> <i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i> <i>kepada Muqawqis, Raja Agungnya Mesir.</i> <i>Selanjutnya,</i> atau, <i>Amma ba’du,</i> <i>sungguh aku mengajak Anda masuk Islam.</i> <i>Masuk Islamlah maka</i> <i>Anda akan selamat.</i> <i>Dan Allah akan memberi Anda</i> <i>pahala dua kali lipat.</i> Bila Anda menolak, maka Anda akan memikul dosa seluruh petani masyarakat Mesir. Karena mayoritasnya memang bekerja jadi petani pada saat itu. <i>Wahai Ahli Kitab, marilah...</i> <i>kita satukan kalimat kita agar tidak</i> <i>menyembah selain Allah</i> <i>dan tidak menyekutukan-Nya</i> <i>dengan sesuatu apapun,</i> <i>dan janganlah seseorang di antara kita</i> <i>menjadikan yang lain sebagai sekutu bagi Allah.</i> <i>Dan apabila kalian berpaling, maka</i> <i>ucapkanlah bahwa kami telah masuk Islam,</i> atau, <i>menyerahkan diri.</i> Muqawqis, pada saat membaca surat Nabi عليه الصلاة والسلام, ini mirip dengan responnya... Heraklius. Dia seorang pendeta, dia juga raja, dia tahu ini. Maka dia gembira membaca surat Nabi ﷺ. Kemudian... dia bertanya banyak... tentang Nabi ﷺ kepada Hatib bin Abi Balta’ah رضي الله عنه, dan Hatib menjawab semua pertanyaan. Sampai akhirnya... kata Muqawqis: <i>“Apakah kaumnya sudah memeranginya?” </i> Karena dalam Injil disebutkan itu. Agama yang dibawa oleh Nabi terakhir tidak akan tersebar sampai kaumnya memerangi Nabi tersebut. Dan akhirnya dia memenangkan peperangan. Maka kata Hatib, <i>“Iya.</i> <i>Memang kaumnya sudah memeranginya bahkan</i> <i>mengusirnya dari kotanya (Mekkah).”</i> Maka Muqawqis berkata: <i>“Mengapa dia tidak mendoakan kaumnya</i> <i>agar Allah binasakan saja?</i> <i>Bukankah dia seorang Nabi</i> <i>dan doanya diijabah?”</i> Ini pertanyaan sebenarnya memancing, ya. Secara akal mungkin orang berpikir, <i>"Iya, ya. Mestinya Nabi berdoa</i> <i>saja agar Quraisy Allah binasakan."</i> Tapi perhatikan Hatib bin Abi Balta'ah رضي الله عنه, dengan keimanan dan ilmunya, dia menjawab dengan cerdas. Dia mengatakan: <i>“Mengapa Isa tidak mendoakan</i> <i>kehancuran kaumnya...</i> <i>saat ada di antara mereka yang</i> <i>tidak mengikutinya?”</i> Sama jawabannya. Maka Muqawqis paham pada saat itu, dan dia tahu... kalau Nabi Isa tidak mendoakan agar Bani Israel dihancurkan karena Nabi Isa ingin hidayah dan petunjuk untuk mereka, bukan kebinasaan. Dia diutus untuk membawa rahmat, kasih sayang. Maka Muqawqis pun membalas surat Nabi ﷺ, dan ini satu-satunya raja yang Nabi ﷺ kirimkan surat yang dia balas... dengan santun dan baik, dia mengatakan: <i>“Keselamatan semoga selalu</i> <i>bersama dengan Anda.”</i> Maaf, isinya begini: <i>Dari Muqawqis, penguasa Qibthi (Mesir),</i> <i>kepada Muhammad,</i> <i>utusan Allah.</i> Dia akui itu. Dan sampai hari ini tentu surat-surat ini masih ada, teman-teman sekalian, dalam naskah-naskah aslinya, ya. ditulis di atas kulit-kulit hewan. <i>Keselamatan semoga selalu</i> <i>bersama Anda.</i> <i>Telah tiba kepadaku surat Anda dan</i> <i>aku telah membaca juga memahaminya.</i> <i>Aku mengutus seorang wanita</i> <i>terbaik Qibthi dari Mesir</i> <i>yang memiliki kedudukan yang</i> <i>tinggi di kaumnya sebagai hadiah.</i> <i>juga seeokor kuda pilihan</i> <i>agar Anda menungganginya.</i> Nabi ﷺ lalu menerima hadiahnya, dan menikahi Maria Qibthiyah yang dikirim oleh Muqawqis. Dan dikaruniai seorang anak yang bernama Ibrahim. Tentu Ibrahim meninggal masih kecil, belum 3 tahun sudah meninggal. Nabi ﷺ selalu menceritakan tentang Muqawqis kepada para sahabat: <i>"Kalau bukan karena Muqawqis</i> <i>khawatir kerajaannya akan diserang</i> <i>dan diambil alih oleh</i> <i>bangsa Romawi,</i> <i>maka pastilah ia</i> <i>akan masuk Islam."</i> Di sini pelajaran penting, teman-teman sekalian. Sekali lagi, Subhanallah, dunia, urusan dunia, telah mengalahkan akhirat orang-orang ini. Hanya karena menunggu, mencari jabatannya. Hanya karena takut meninggalkan pekerjaannya. Hanya karena takut tidak menikah sama si fulanah. Maka akhirnya dia menjual imannya. Padahal semuanya itu akan datang kalau dia beriman kepada Allah ﷻ. Kerajaan akan diberikan, kekayaan akan diberikan, pasangan akan diberikan. Dan memang justru yang kualitasnya sekualitas orang-orang yang dasarnya sudah beriman. Artinya orang yang menjaga diri. Saya kadang-kadang kalau menasihati ikhwah-ikhwah yang memang masih belum menikah, saya mengatakan: <i>"Jaga istiqamah...</i> <i>di jalan Allah ﷻ,</i> <i>jaga hubungan yang baik.”</i> Tentu ini bukan cuma ikhwan, akhwatnya juga kalau yang mendengarkan perlu mengetahui masalah itu. Kita kalau menjaga hubungan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla... baik ibadahnya, istiqamah saja dalam kebaikan-kebaikan tersebut, maka Allah akan utus nanti pasangan yang seperti itu, seperti kita. Tak usah khawatir, insya Allah Allah akan utus. Tapi kalau kita justru berbeda, bukan di jalan itu, maka Allah akan datangkan juga orang-orang yang sejalan dengan kita, jauh dari agama. Lalu kita harapkan nanti anak-anak kita bisa hafal Qur’an? Anak-anak kita bisa tutup aurat, anak-anak kita bisa jaga shalat? Tidak bakal terjadi dari wanita atau laki-laki yang jauh dari agama. Allah ﷻ akan datangkan, yang penting istiqamah saja. Karena manusia keadaannya cuma empat. Dia dalam keadaan benar, tinggal istiqamah saja. Kalau antum sekarang sudah merasa sudah tutup aurat, sudah cari pendapatan halal, berusaha istiqamah dalam ibadah-ibadah yang Allah perintahkan, meninggalkan yang dilarang, maka tinggal istiqamah saja. Tinggal istimrar dalam bahasa Arab. Sudah, lanjutin saja sampai mati. وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ࣖ (QS. Al-Hijr [15]:99)ࣖ dalam ayat. <i>“Sembahlah Tuhanmu sampai...</i> <i>keyakinan (kematian)</i> <i>datang kepadamu.”</i> Yang kedua, orang yang sedang bermaksiat. Kalau antum sedang dalam posisi ini, segera bertaubat. Yang ketiga, orang yang sedang melimpah nikmat. Maka tugasnya bersyukur. Yang keempat, terakhir, orang yang sedang diuji oleh Allah. Maka sifatnya, atau harusnya, bersabar. Ini keadaan saja. Tapi yang saya ingin titik-beratkan, teman-teman: poin pertama, perlunya istiqamah. Jangan pernah lihat kebenaran dari siapa datangnya. Tapi sudah sampaikah kepada kita atau belum? Kalau sudah sampai kebenaran, teman-teman, tidak usah lihat siapa yang ngomong. Mau anak kecil, mau orang dikenal atau tidak dikenal, mau orang tua, pokoknya intinya... kebenaran. Dan benar hanya qala Allah, qala Rasul. Allah dan Rasul-Nya sudah menyampaikan masalah itu, karena tidak ada yang lagi... mengalahkan kedudukan Allah dan juga utusan-Nya. Yang selanjutnya, teman-teman sekalian, surat Nabi ﷺ diutus kepada Najasyi. Tapi ini bukan Najasyi... Ashamah رضي الله عنه yang sudah meninggal, rahimahullah. Karena waktu itu dia sudah meninggal Ashamah ini, yang beriman... di tangannya Ja’far bin Abi Thalib رضي الله عنه. Setelah dia meninggal, digantikan oleh seorang raja, juga dapat julukan Najasyi. Karena zaman dulu julukan-julukan ini, julukan induk. Seperti misalnya, Raja Persia diberikan istilah dengan Kisra. Nanti Kisra itu punya nama-nama lagi di bawahnya, seperti Kisra yang ditaklukkan di zaman ‘Umar bin Khattab, namanya Anusyirwan. Terkenal dengan kerajaan besarnya, tapi dia induknya namanya Kisra. Romawi seperti Heraklius tadi, istilah induknya adalah Kaisar. Kemudian Raja Yaman: Tubba’. Raja Afrika, waktu itu pusatnya di Ethiopia, adalah Najasyi. Raja Mesir: Fir’aun. Maka ini semua istilah-istilah yang digunakan... untuk wilayah-wilayah tersebut. Tentu istilah Fir’aun sudah hilang setelah meninggalnya... Ramses kesekian, ya. Saya tidak hafal Ramses ke berapa yang memang tenggelam di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam. Tapi induknya namanya Fir’aun. Semenjak itu istilah Fir’aun terhapus... dari raja-raja Mesir, karena dianggap... sudah binasa dengan meninggalnya orang itu. Tapi pada saat itu Najasyi yang ini, tidak beriman kepada Nabi ﷺ karena dia bukan seorang pendeta. Tapi dia juga tidak menolak. Surat setelahnya, dan ini surat yang masyhur sekali, sangat besar, adalah surat kepada... Raja Kisra, ya. Kisra Persia, dan rajanya waktu itu bernama Barwiz. Nabi ﷺ mengutus ke sana ‘Abdullah bin Hudhafah رضي الله عنه... kepada Barwiz. Dan isi suratnya adalah: <i>“Bismillahi ar-Rahmani ar-Rahim.</i> <i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i> <i>kepada Kisra Agung, Barwiz…”</i> Jadi sebenarnya suratnya ini ada, tapi ulama-ulama sejarah tidak menukil semuanya, karena... yang masyhur adalah, baru dibaca sampai situ, tiba-tiba si Barwiz ini suruh berhenti. Suruh berhenti, nggak boleh. <i>“Jangan dilanjutin!</i> <i>Siapa orang ini berani-berani</i> <i>menulis di surat,</i> <i>namanya dulu, baru namaku!”</i> Itu orang yang sombong sekali. Maka ada dua riwayat: Riwayat yang pertama, yang masyhur adalah, dia pun merobek surat Nabi عليه الصلاة والسلام. Yang kata Nabi ﷺ: <i>مَزَّقَ رِسَالَتِي، مَزَّقَ اللَّهُ مُلْكَهُ</i> <i>"Dia telah merobek suratku,</i> <i>maka Allah pun akan merobek kerajaannya."</i> Ada riwayat yang lain juga menjelaskan: dia membunuh utusan Nabi عليه الصلاة والسلام. Dia membunuh utusan Nabi عليه الصلاة والسلام. Yang jelas... Barwiz ini, teman-teman sekalian, dia merasa dirinya raja yang sangat kuat. Maka dia lihat Madinah, dia tanya-tanya, <i>"Dari mana itu yang mengaku Nabi</i> <i>dari kota Madinah?</i> <i>Madinah itu di mana?"</i> Dia nggak tahu Madinah itu, kampung kecil. Maka seperti mungkin Amerika sekarang disurati oleh salah satu kampung kita di Indonesia. Suruh tunduk. Maka dia, <i>"Siapa ini? Mana Madinah itu? Kecil.</i> <i>Sudah, nggak usah</i> <i>utus pasukan."</i> Ada satu orang namanya Bazan. Bazan ini kebetulan dia adalah gubernurnya Kisra... di wilayah yang dekat sekali dengan Jazirah Arab, perbatasan Jazirah Arab sama Irak. Maka dia kirim surat ke Bazan: <i>"Bazan, tangkap tuh orang yang</i> <i>mengaku Nabi, bawa ke saya.</i> <i>Nggak usah saya kirim pasukan</i> <i>jauh dari sini."</i> Dengan kesombongannya, gitu, ya. Maka Bazan pun meneliti Madinah. <i>"Madinah ini kampung kecil,"</i> mereka punya peta, <i>"nggak ada kekuatan di sana."</i> Mereka tahunya itu. <i>"Untuk apa kirim pasukan?"</i> Lalu Bazan mengutus dua orang saja. Kepala prajuritnya. Panglima perangnya datang ke sana. <i>"Bawa itu Muhammad ke sini.</i> <i>Siapa orang itu?</i> <i>Mengancam-ancam Kisra, gitu."</i> Datanglah dua orang ini. Ada banyak riwayat kisah berhubungan dengan mereka berdua waktu mereka datang ke Madinah... dengan baju perangnya, segala macam. Terus kumisnya mereka, tuh, tebal, besar, dan dilipit muter-muter begini. Nabi ﷺ waktu mau ketemu sama mereka, lihat. Langsung Nabi mengalihkan wajahnya. Kata Nabi ﷺ, <i>"Sungguh buruk penampilan kalian."</i> Kata Nabi ﷺ, <i>"Siapa yang menyuruh kalian begini?"</i> Kata mereka berdua, <i>"Tuhan kami."</i> Kisra yang suruh. Semua orang Persia itu disuruh potong jenggotnya, disuruh biarkan kumisnya. Dan makin tebal, makin punya kedudukan. Maka kata Nabi ﷺ: <i>"Sungguh, Tuhanku..."</i> karena kan mereka bilang, <i>"Tuhan kami Kisra."</i> Kata Nabi ﷺ, <i>"Tuhanku menyuruh aku selain itu.</i> <i>Kami disuruh memelihara jenggot dan menghabiskan</i> <i>kumis kami atau memotong kumis kami."</i> Itu yang disampaikan oleh Nabi عليه الصلاة والسلام. Maka akhirnya kedua orang ini duduklah, mengatakan—ada penerjemahnya: <i>"Siapa kamu ini, hai Muhammad?"</i> Nabi ﷺ jelaskan, <i>"Saya adalah utusan Allah.</i> <i>Saya begini, saya begini."</i> <i>- "Apa ajaranmu?"</i> <i>- "Ajaranku begini dan begitu."</i> Ajaran tauhid, mengesakan Allah, yang menyempurnakan ajaran risalah Nabi-Nabi yang lain sebelumnya. Disuruh shalat, dilarang zina, dilarang ini, dilarang itu. Disampaikan semua syariat. Dua orang ini karena bukan Ahli Kitab, tidak paham. Mereka penyembah api. Mungkin kalau bicara sama Nasrani masih nyambung masalahnya. Tapi ini nggak nyambung. Maka dia bilang, <i>"Sudahlah.</i> <i>Sekarang begini, Muhammad, daripada Kisra</i> <i>kirim-kirim jauh pasukannya besar ke sini,</i> <i>menghabiskan kota kamu,</i> <i>ikutlah sama kami."</i> Kata Nabi ﷺ, <i>"Sebentar dulu.</i> <i>Kalian tahu kampung saya ini,</i> <i>kota ini, kan sudah tahu tempatnya.</i> <i>Tahu rumah saya ini, rumah saya</i> <i>ini, ini masjid saya, ini rumah saya.</i> <i>Saya nggak akan</i> <i>ke mana-mana.</i> <i>Kalian mau tangkap saya,</i> <i>setiap saat silakan, bisa.</i> <i>Tapi saya mau sampaikan</i> <i>satu hal dulu.</i> <i>Kalau malam ini..."</i> Waktu itu kebetulan sudah menjelang malam mereka tiba. Mereka mau menginap di Madinah waktu itu. <i>"...malam ini, Tuhanku, Allah,</i> <i>membunuh tuhan kalian (Barwiz) itu.</i> <i>Mati raja kalian malam ini."</i> Kata mereka, <i>"Dari mana kau tahu itu, hai Muhammad?"</i> <i>"Dari Tuhanku.</i> <i>Kalian percaya, tidak percaya,</i> <i>tunggu saja.</i> <i>Buktikan sendiri."</i> Kata mereka berdua, <i>"Itu jawabanmu?"</i> Kata Muhammad ﷺ, <i>"Iya.</i> <i>Sampaikan ini.</i> <i>Sampaikan ini kepada Bazan."</i> yang mengutus mereka. Maka dua-duanya mengatakan, <i>"Baiklah, masuk akal.</i> <i>Ini kampungnya kecil,</i> <i>nggak akan ke mana-mana."</i> Jazirah Arab mereka anggap pada saat itu nggak ada apa-apa, gersang. Nggak ada hasilnya bagi mereka. Dan tidak sulit untuk mengutus pasukan mencari satu orang. Dia pulang ke Bazan. Tapi Bazan ini cerdas. Maka keduanya mengatakan: <i>"Jawabannya orang yang mengaku</i> <i>Nabi itu (Muhammad) begini.</i> <i>Katanya, tuhan kita, Kisra,</i> <i>dibunuh oleh Tuhannya."</i> Kata Bazan, <i>"Baiklah, kita tunggu."</i> Waktu itu kebetulan, teman-teman sekalian, informasi dari pusatnya... Kisra, kerajaan Kisra, Madain namanya, itu untuk sampai ke tempatnya Bazan dua bulan. Jadi kalau ada kejadian, instruksi apa dari pusat, itu orang naik kuda, naik unta, pasukan antar, dua bulan baru sampai. Baru dijalankan instruksi. Begitu. Ada berita apa. Kata Bazan, <i>"Baik, kita tunggu."</i> Kalau betul-betul ada kejadian, betul, dicatat hari itu, pada malam itu, hari apa, mereka tunggu. Subhanallah, dua bulan kemudian betul-betul datang. Dan beritanya seperti yang Nabi ﷺ sampaikan, bahwasanya Barwiz mati di hari itu, di waktu itu, di malam itu. Kata Bazan: <i>"Sungguh tidak ada yang bisa</i> <i>mengucapkan ini kecuali seorang Nabi."</i> Maka Bazan pun akhirnya beriman. Dan Bazan termasuk, teman-teman sekalian, raja, rahimahullah, yang meninggal dalam keadaan Islam, tapi banyak umat Islam yang tidak tahu. Dia adalah gubernur. Kalau di Jazirah Arab dikenal dengan raja sebenarnya. Tapi dia gubernur yang paling besar, gubernur terbesarnya Kisra. Kemudian surat yang dikirim oleh Nabi ﷺ selanjutnya kepada... al-Mundzir bin Sawi. al-Mundzir bin Sawi ini penguasa Bahrain. Bahrain tentu bukan negeri Bahrain yang sekarang, ya. Bahrain dulu wilayah yang cukup luas. Memang di pinggiran Jazirah Arab. Lebih dekat kepada Teluk, tapi wilayahnya cukup luas. Mundzir bin Sawi ini... diutus kepadanya oleh Nabi ﷺ, Al-‘Ala bin Hadrami رضي الله عنه. Isi surat Nabi ﷺ serupa dengan isi surat yang ke Kisra. Mundzir cerdas pada saat itu, dan dia tidak spontan menolak. Tapi ia banyak bertanya kepada Al-‘Ala رضي الله عنه yang menjawab semua pertanyaannya. Al-‘Ala juga memberitakan bahwasanya Najasyi... Najasyi maksudnya adalah Ashham—yang sudah masuk Islam, yang sudah meninggal. Najasyi masuk Islam, ceritanya begini, begini, begini. Diutus ke sana oleh Nabi ﷺ, seorang sahabatnya bernama Ja’far bin Abi Thalib. Dan masuk Islamlah dia, meninggal dalam keadaan Islam. Nabi ﷺ sempat shalati jenazahnya. Bazan—Bazan ini terkenal. Bazan, walaupun dia gubernur Kisra, tapi wilayahnya lebih luas daripada wilayahnya... Mundzir. Jadi Mundzir bilang, <i>"Najasyi sudah masuk Islam.</i> <i>Bazan sudah masuk Islam."</i> Bahkan disebutkan oleh Al-‘Ala al-Hadrami, <i>“Dan suku fulan. Suku fulan. Suku fulan.”</i> Di Jazirah Arab yang diketahui oleh Mundzir ini, dia tahu suku-suku itu. Termasuk kaum Yahudi yang ada di Khaibar sudah dikalahkan semuanya. Tinggal yang belum ditaklukkan hanya Mekkah saja. Maka setelah memastikan semua itu, Mundzir pun akhirnya masuk Islam. Mundzir bin Sawi masuk Islam, dan mengajak seluruh warganya masuk Islam. Dan bagi yang tidak mau masuk Islam, maka dipungut darinya jizyah. Mundzir yang ambil jizyah, dikirim kepada Nabi عليه الصلاة والسلام. Berarti sudah ada dua nama yang... memimpin pada saat itu masuk Islam: Bazan dan Mundzir bin Sawi, rahimahumullah. Kita tentu—sebenarnya lebih tepat kita bilang rahimahullah, karena tidak sempat bertemu dengan Nabi عليه الصلاة والسلام. Karena definisi sahabat, yang biasa kita doakan رضي الله عنه —walaupun ini doa bisa kita ucapkan kepada siapa pun, ya. Tapi termasuk mendudukkan posisi para sahabat pada tempat yang lebih mulia daripada orang lain... adalah kita mengatakan, "رضي الله عنهم." Karena mereka tidak pernah melihat Nabi ﷺ, sementara definisi sahabat adalah: harus melihat Nabi, harus melihat Nabi dengan mata kepala, beriman pada beliau, dan juga meninggal dalam keyakinan... Islam. Baru dikatakan seorang sahabat. Surat selanjutnya adalah surat Nabi ﷺ ke... penguasa sebagian wilayah Yaman. Waktu itu Yaman terbagi dua. Sebagiannya dikuasai oleh Al-Harith Al-Humairi. Nabi ﷺ mengutus ke sana Muhajir bin Umayyah al-Makhzumi. Muhajir bin Umayyah al-Makhzumi رضي الله عنه ini diutus kepada Harith Al-Humairi. Jadi Al-Humairi ini nisbat kepada sukunya, sukunya bernama Himyar, suku Himyar. Pada saat mendengar surat Nabi ﷺ tiba kepadanya, belum sempat dibaca, dia tolak. Langsung dia tolak karena dia tahu Madinah bagi dia juga kecil. <i>"Sudah lah, nggak usah beriman."</i> Selesai. Disuruh pulang saja utusan Nabi ﷺ. Belum baca suratnya, sudah ditolak. Tentu waktu itu Yaman, teman-teman sekalian, dibagi dua, ya. Setengahnya dikuasai oleh Persia, setengahnya dikuasai oleh orang ini. Surat selanjutnya datang kepada Haudzah bin Ali Al-Hanafi. Haudzah bin Ali Al-Hanafi, ini penguasa wilayah Yamamah. Nabi ﷺ mengutus ke Haudzah bin Ali Al-Hanafi ini seorang sahabat beliau, namanya Sulayk bin Amr. Sulayk bin Amr رضي الله عنه. Dan Haudzah ini juga termasuk suku Arab... yang memiliki kurang lebih 100.000 personel perang. Jadi itu memang militernya sejumlah itu. Surat Nabi ﷺ dibaca di hadapannya, maka Haudzah tertarik dan ia sudah mendengar juga mengumpulkan informasi perkembangan Islam. Maka ia berkata kepada Sulayk sebagai respon dari surat Nabi ﷺ: <i>“Sampaikan kepada Muhammad</i> <i>kalau aku akan beriman pada risalahnya,</i> <i>demikian pula seluruh kaumku.</i> <i>Tapi ada syaratnya.</i> <i>Syaratnya adalah kalau</i> <i>Muhammad wafat,</i> <i>aku jadi penggantinya.”</i> Pada saat surat atau balasan tadi, berita tersebut tiba di Nabi ﷺ di Madinah, maka kata Nabi ﷺ, <i>“Semoga Allah melaknatnya.</i> <i>Dia hanya mau beriman karena</i> <i>kekuasaan saja.”</i> Nabi ﷺ lalu berdoa: <i>“Ya Allah, cukupkanlah aku dari</i> <i>keburukan orang ini (Haudzah).”</i> Maka Haudzah pun meninggal tiga hari setelah doa Nabi عليه الصلاة والسلام. Dan ini tentu, teman-teman sekalian, ada satu sebab, ya. Bukan begitu saja, ya. Haudzah tadinya memang... diberitakan kepada Nabi ﷺ melalui wahyu kalau orang ini... sebenarnya hanya ingin menunggangi ketenaran Islam. Karena dia sudah dengar... surat-surat Nabi ﷺ ini semua tiba ke Heraklius, tiba ke sana. Dia dengar rupanya. Maka dia mau tunggangi ketenaran itu. Maka dia tertulis dari Nabi ﷺ: <i>“Kalau saya akan beriman dengan kaum saya,</i> <i>tapi berikan kepada saya...</i> <i>kedudukan.</i> <i>Setelah kau meninggal, hai Muhammad,</i> <i>saya jadi pemimpin.”</i> Maksudnya, <i>"Nobatkan juga saya</i> <i>jadi Nabi, jadi Raja, terserah.”</i> Maka Nabi ﷺ pun akhirnya... mendoakan dia keburukan. Karena dia sudah niat juga pada saat itu kalau Nabi ﷺ tidak terima permintaannya, utusan Nabi ﷺ pulang dalam beberapa hari, tiga atau empat hari, dia akan menyerang Madinah. Maka Nabi ﷺ mendoakan supaya Allah mengambil alih Haudzah. Maka betul-betul tiga hari kemudian dia meninggal dunia. Kemudian selanjutnya surat Nabi ﷺ kepada penguasa Oman, wilayah Oman, yang bernama Jaifar dan Abdu. Jaifar dan Abdu. Jaifar dan Abdu ini diutus kepadanya oleh Nabi ﷺ Amr bin Ash رضي الله عنه. Maaf, bukan Jaifar bin Abdu, ya. Jaifar dan Abdu. Adik-kakak ini. Jaifar dan Abdu. Diutus kepada mereka berdua adalah Amr bin Ash رضي الله عنه. Dan keduanya ini... anak daripada Julandi, namanya Julandi. Jadi, Jaifar dan Abdu bin Julandi. Amr bin Ash, di masa Jahiliyah, رضي الله عنه, di Mekah memang dia seorang duta... dan sudah terbiasa menghadapi para... utusan-utusan. Kalau teman-teman masih ingat bagaimana dia pada saat ingin menarik Muslimin agar bisa pulang ke Mekkah, dia memberikan hadiah-hadiah... kepada para pendeta, kepada Najasyi. Tapi dia tentu tidak berhasil waktu itu, ya. Maka dia tahu strategi bagaimana menghadapi para pemimpin. Amr tidak langsung menyampaikan surat Nabi ﷺ kepada Jaifar dan Abdu, tapi ia tinggal beberapa hari dan berbaur dengan masyarakat Oman... sambil mengumpulkan informasi detail tentang kedua Raja Oman tersebut: sifat-sifat keduanya, kesukaan keduanya, hal-hal yang dibenci, dan yang lainnya. Setelah memastikan semua informasi sudah lengkap, maka Amr bertanya kepada masyarakat Oman, <i>“Siapa di antara kedua raja ini...</i> <i>yang paling baik?”</i> Artinya, yang mungkin mudah untuk bisa diberikan masukan. Maka mereka menjawab, <i>“Abdu.”</i> Dari dua adik-kakak ini ternyata —Jaifar dan Abdu— Abdu yang lebih baik, lebih lembut. Maka Amr pun memulai mendatangi Abdu dan membacakan surat Nabi ﷺ. Dan bila ia beriman, maka seluruh kerajaan dan kekuasaannya tetap. Hanya saja hukum yang diterapkan adalah hukum Islam. Kerajaan tetap, semua tetap, tapi Islam yang diterapkan. Abdu waktu itu sempat sangat marah dengan surat Nabi ﷺ dan berkata: <i>“Berani benar dia</i> <i>mengancam kerajaanku!</i> <i>Apa yang bisa dia lakukan untuk</i> <i>mengalahkan kekuasaanku?”</i> Maka raja. Dia merasa kenapa harus tunduk dengan seseorang yang tidak dikenal? Amr bin Ash waktu itu sangat cerdas. Dia mengatakan... Dia tahu bahwasannya menghadapi orang seperti Abdu —emosional, punya kerajaan, butuh kejelasan, maka Amr berkata: <i>“Bila surat ini tidak bermanfaat bagimu,</i> <i>maka kami tidak perlu.</i> <i>Karena telah masuk di bawah</i> <i>hukum Nabi kami banyak raja-raja.</i> <i>Di antaranya Najasyi.”</i> Jadi ternyata... Oman ini... sering kali interaksi masalah bisnis, masalah peradaban, masalah politik, itu selalu patokannya Najasyi. Ada beberapa wilayah ikuti Persia, ada beberapa wilayah ikuti Romawi, tapi ini nggak, ini ikuti Najasyi. Maka kata Amr bin Ash: <i>“Kalau Anda tidak bermanfaat,</i> <i>surat ini, tidak masalah.</i> <i>Tapi perlu Anda tahu, kalau yang</i> <i>sudah ikut pada Nabi kami adalah Najasyi.”</i> Disebutkan raja yang dia kagumi, gitu. Abdu kaget, <i>“Najasyi masuk Islam?”</i> Kata Amr, <i>“Iya.”</i> Abdu bertanya lagi kepada Amr: <i>“Engkau berdusta!”</i> Kata Amr: <i>“Saat Najasyi masuk Islam,</i> <i>aku lagi ada di sisinya.</i> <i>Dan aku sendiri dulunya adalah</i> <i>orang kafir kepada Muhammad.</i> <i>Tapi aku masuk Islam justru karena</i> <i>melihat Najasyi masuk Islam.”</i> Amr lalu berkata setelah itu, <i>“Bukan hanya Najasyi,</i> <i>tapi Bazan pun</i> <i>sudah masuk Islam.”</i> Bazan juga termasuk orang yang disegani di Jazirah Arab. Abdu lebih kaget lagi, lalu berkata, <i>“Bazan masuk Islam?</i> <i>Bukankah Bazan penyembah api?”</i> Kata Amr, <i>“Iya.”</i> Abdu bertanya lagi, <i>“Lalu Kisra buat apa?</i> <i>Bukankah Bazan di bawah hukumnya?”</i> Kata Amr, <i>“Kisra tidak berbuat apa-apa.</i> <i>Bahkan tidak bisa berbuat apa-apa</i> <i>karena dia sudah mati.”</i> Abdu bertanya lagi, <i>“Bagaimana dengan Kaisar Romawi, Heraklius?”</i> Amr menjawab, <i>“Ia tidak beriman dan juga tidak menolak.”</i> Abdu tahu masalah Heraklius seperti apa yang disampaikan oleh Amr tadi. Maksudnya, Abdu sudah tahu kalau Heraklius pernah beriman, nolak. <i>"Ah, ini tidak beriman, tidak juga ini."</i> Abdu lalu berkata: <i>“Beri aku waktu untuk berpikir</i> <i>beberapa hari.”</i> Dalam beberapa hari tersebut, Abdu berusaha menjelaskan kepada saudaranya, Jaifar. Ia berkata: <i>“Lebih baik kita masuk Islam dan</i> <i>kerajaan kita tetap jaya,</i> <i>daripada kita dikalahkan dan</i> <i>hilanglah semuanya.</i> <i>Siapa yang bisa melawan raja-raja besar</i> <i>yang telah menganut Islam?</i> <i>Apalagi kerajaan dan</i> <i>kekuasaan tetap di tangan kita.</i> <i>Kita cuma mengucapkan syahadat...</i> <i>terapkan hukumnya Muhammad,</i> <i>kerajaan tetap seperti ini,</i> <i>nggak ada yang berubah.”</i> Abdu terus meyakinkan saudaranya sampai akhirnya Jaifar menerima Islam. Dan akhirnya keduanya masuk Islam dan mengiklankan keislaman mereka. Demikian pula seluruh masyarakat Oman waktu itu masuk Islam. Setelah Allah ﷻ Yang Maha Mulia, Amr bin Ash adalah penyebab masuk Islamnya kedua raja tersebut serta juga seluruh wilayah Oman. Dan ini juga keutamaan bagi dai-dai... yang bersabar. Dan dalam menyampaikan dakwah butuh strategi. Nggak boleh orang asal begitu saja. Dia harus punya strategi dalam menyampaikan dakwah. Dia susun materinya, dia menggunakan retorikanya, dia memilih waktu dan tempat yang tepat. Maka itu semua, teman-teman sekalian, sangat membantu untuk dakwah. Ada orang bisa dihadapi dengan hanya satu hadits. Ada orang dihadapi dengan sepuluh hadits. Ada orang dihadapi mungkin dengan... seratus hadits. Wallahu a'lam. Ada orang juga memang membangkang, dasarnya tidak mau. Dan Nabi ﷺ sudah mengajarkan bagaimana menghadapi orang-orang ini, terutama kita ambil pelajaran dari para sahabat beliau, رضوان الله عليهم. dan bagaimana kejelian dan kecerdasan Amr di sini... berhasil mengatur strategi jitu untuk menyampaikan dakwah. Keduanya tetap jadi raja sampai meninggal dunia. Barulah Nabi ﷺ menentukan gubernur di Oman. Setelah keduanya meninggal, barulah Nabi ﷺ tunjuk penggantinya. Subhanallah, ini semua efek daripada Kesepakatan Hudaibiyah. Kalau kita review kembali, teman-teman sekalian, waktu sampai Kesepakatan Hudaibiyah, jumlah umat Islam waktu itu masih sangat sedikit sekali, sekitar 1.400 orang... yang ikut bersama Nabi ﷺ waktu itu, Kesepakatan Hudaibiyah, ya. Waktu itu terjadi, satu tahun tidak ada ribut sama Quraisy. Penyebab utama dakwah terhalangi sudah ditutup. Kesepakatan satu tahun. Satu tahun itu Nabi ﷺ gerilya. Di antaranya mengalahkan Yahudi Khaibar, di antaranya mengirim surat-surat ini sehingga tersebar sana-sini. Dan spontanitas waktu itu sudah ada raja-raja besar yang masuk Islam sebagaimana yang kita sudah sebutkan tadi. Dan mereka punya pasukan. Kalau mereka sudah masuk Islam, Nabi ajak, mereka akan ikut berperang. Otomatis itu. Ini semua Kesepakatan Hudaibiyah yang tadinya, banyak sahabat-sahabat yang menganggap Kesepakatan Hudaibiyah adalah penghinaan untuk umat Islam, termasuk Umar رضي الله عنه. Pernah kita ceritakan, masih ingat nggak? Allahu a‘lam... ingat atau enggak. Baiklah. Waktu itu Umar sempat... mengatakan, <i>“Ya Rasulullah, bukankah Quraisy salah?”</i> <i>- “Benar.”</i> <i>- “Bukankah kita benar?”</i> <i>“Ya, benar.”</i> <i>“Kenapa kita nggak perangi,</i> <i>ya Rasulullah?</i> <i>Kenapa kita hinakan diri kita?</i> <i>Kenapa harus ada</i> <i>akad-akad seperti ini?”</i> Kan akadnya itu menyakitkan sekali. Siapapun orang Mekkah yang pergi ke Madinah, harus dipulangkan. Dan siapapun orang Madinah yang pergi ke Mekkah, nggak boleh dipulangkan. Itu, kan, menyakitkan sekali. Sudah kita ceritakan panjang lebar... bagaimana cerita Kesepakatan Hudaybiyah. Tapi ini, Subhanallah, luar biasa. ya. Pada saat dakwah itu tidak diganggu, maka akan tersebar luar biasa, gitu. Pengganggu-pengganggu ini banyak, sering melakukan hal-hal yang buruk. Perdamaian dengan Quraisy, yang merupakan musuh utama Islam, membuka semua pintu dakwah. Hampir seluruh wilayah dunia menerima Islam bahkan tanpa peperangan, dengan surat saja. Tadi bayangkan, wilayah Oman masuk Islam semuanya. Wilayahnya Bazan masuk Islam semuanya. Walaupun ada yang tolak, sudah umum itu. Kita kalau berdakwah, teman-teman, ada yang terima, ada yang tolak, itu sudah umum. Rasulullah ﷺ saja begitu, apalagi kita, gitu. Walaupun antum hafal 30 juz Al-Qur’an, antum punya retorika yang sangat luar biasa, tetap ada yang nolak. Sudah umum itu. Tapi kalau antum dalam keadaan benar, berarti yang nolak itu salah. Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari surat-surat Nabi عليه الصلاة والسلام. Yang pertama, teman-teman sekalian, agama Islam pasti menang, walau tidak ada yang meyakininya. Karena agama ini dari Sang Pencipta. Bila Anda tidak beriman dan mengamalkannya, maka Sang Pencipta akan mendatangkan dan menciptakan makhluk-Nya yang akan beriman dan mengamalkan syariat-Nya. Itu pasti. Jadi sebenarnya dengan berimannya kita, teman-teman sekalian, yang beruntung kitanya. Banyak orang, teman-teman, tidak khusyuk dalam shalat. Tidak mau bersedekah, kecuali kalau nanti kalau memang ada dorongan besar dalam jiwanya. Tidak mau berdoa, kecuali kalau musibah sudah datang. Ini semua kenapa terjadi? Karena dia belum yakin dengan agama ini. Kalau yakin sama agama ini, teman-teman, ada orang, tidak ada orang, tetap dia shalat. Tetap dia sedekah. Tetap dia baca Qur’an. Dia tahu kebutuhannya. Banyak orang juga pikir Allah, Sang Pencipta, butuh dengan ibadah kita. Allah nggak butuh. Allah nggak butuh dengan shalat antum, nggak butuh dengan sedekah antum, nggak butuh dengan sembelihan antum. Allah ﷻ katakan, misalnya dalam masalah sembelihan dalam ayat Al-Qur’an —أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ— لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ (QS. Al-Hajj [22]:37) Allah nggak pernah butuh dagingnya dan darahnya sembelihan kalian, tapi Allah mau lihat ketakwaan kalian. Allah nggak butuh. Kenapa orang kalau masuk masjid ada orang tidak khusyu' dalam shalat? Karena dia pikir Allah butuh. Cuma kayak setor kewajiban, selesai. Nggak, Allah nggak butuh. Biar kita shalat khusyu', dapat 100% pahala dan semua shalat kita, bahkan umur kita 1.000 tahun, tidak ada gunanya... kecuali untuk dia sendiri. Dalam hadits Qudsi riwayat Bukhari, kata Nabi ﷺ, Allah berfirman: <i>“Wahai anak Adam, semua amal-amal yang Saya</i> <i>perintahkan kepadamu sebenarnya adalah...</i> <i>hal yang Saya akan kembalikan</i> <i>kepadamu juga.”</i> Akan diberikan. Allah ﷻ yang memberikan kepada kita. Allah ciptakan kita. Allah ciptakan dunia. Ciptakan amal perbuatan kita, amal buruk kita untuk menguji kita. Allah ciptakan surga dan neraka. Allah yang mengatur semuanya. Jadi sebenarnya tidak ada gunanya buat Allah ﷻ, tapi berguna buat kita. Yang kedua... Jadi kalau kita jauhi agama ini, poin pertama tentunya, kita sendiri yang rugi. Karena agama ini pasti akan menang. Tidak akan pernah luluh agama Islam, karena ini agama kebenaran. اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ (QS. Ali Imran [3]:19) Yang kedua, kecerdasan dan kejelian pemimpin dalam mengambil keputusan. Kapan harus perang, kapan harus damai, kapan menyerang, kapan menahan diri. Yang diikuti dengan pemahaman yang mendalam pada syariat Allah Maha Sempurna dan bertawakal kepada-Nya, seperti Nabi ﷺ melakukan itu. Waktu diajak damai Hudaibiyah, oke, diambil. Waktu di Perang Khaibar juga, kalau masih ingat, ada beberapa benteng Yahudi selain di Khaibar yang sempat minta damai. Nabi ﷺ tidak perangi mereka. Bukan berarti karena sudah kuat pasukan lalu diperangi semua, nggak. Oke, mau damai—damai, tapi dipantau oleh Nabi ﷺ. Dipantau. Walaupun nanti di zaman Umar bin Khattab, karena ada yang berkhianat, maka diusir oleh Umar bin Khattab dari Jazirah Arab. Tapi di sini perlu seorang pemimpin punya strategi. Dimulai dari pemimpin rumah tangga misalnya. Seorang laki-laki juga harus begitu. Punya strategi dalam rumah tangganya, bagaimana dia tahu sumber pendapatannya dari mana, kapan dia menasehati istrinya, kapan dia menasehati anaknya. Dia berikan tempat dimana yang layak, strategis, untuk mereka tinggal, yang mereka nyaman, sehingga dia juga nyaman dalam bekerja, seterusnya. Kemudian juga pemimpin lembaga. Bagaimana dia menaungi beberapa orang pegawai. Pemimpin perusahaan. Lebih tinggi lagi pemimpin negara, bagaimana dia... mengatur strategi-strategi yang akhirnya membuat... seluruh masyarakatnya akan mendapatkan haknya, atau orang di bawah naungannya, dan dia juga lepas dari tanggung jawab... pada hari kiamat. Yang ketiga, setiap orang harus jeli dalam melihat dan menerima kebenaran. Dan kebenaran itu hanya satu, tidak ada lagi yang lain, yang berasal dari Sang Pencipta, Allah, Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Setiap dari Allah Yang Maha Suci tidak akan ada kesalahan dan pasti benar. Maka segeralah terima dan amalkan. Jadi jangan ragu, teman-teman sekalian. Ada orang, Subhanallah, mau terima agama nanti kalau sudah banyak orang yang ikut. Kalau tidak ada orang yang ikut, masih sedikit, <i>“Sudahlah, tunggu saja dulu.”</i> Ini kerugian buat dia. Kalau dia meninggal sebelum istiqamah gimana? Maka jangan tunggu, teman-teman. Kalau benar ya sudah, terima, amalkan. Sudah berapa kali kita dengarkan hadits tentang shalat malam, tentang sedekah, tentang dhuha, tentang apalah, tapi berapa banyak orang yang mengamalkan? Dihitung jari semua. Kenapa nggak diamalkan? Apa masalahnya? Nggak jelas, gitu, kan. Seakan-akan dia cuma: <i>“Ya sudahlah, saya sudah dengar,”</i> tahu kebenaran, tapi nggak mau ikutin. Ini kata Ibn Qayyim rahimahullah, ibaratnya seperti orang yang... lagi dikejar oleh binatang buas, kemudian dia melarikan diri. Begitu tiba di benteng, ada tempat yang dia bisa masuk, dia bisa masuk pintu gerbang, lalu dia bisa masuk berlindung, tapi nggak. Dia berdiri di depan benteng itu, lalu dia mengatakan: <i>“Aku berlindung dengan benteng ini.”</i> Cuma ucapan. Ya dimakanlah dia sama harimau tersebut. Karena tidak berlindung sebenarnya, dia cuma ucapkan: <i>“Ya, saya sudah tahu itu benar,”</i> tapi nggak diamalkan. Kan ini sama saja bohong berarti, ya. Saya katakan di sini, dipastikan saat meninggal dunia, maka janji Allah Yang Maha Suci tidak akan luput, sebagaimana Allah ﷻ sudah sebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Artinya orang beriman pasti akan menerima kebaikan. Orang buruk, kafir, fasiq akan dihukum. Yang keempat, dan ini tentunya yang terakhir dalam poin kita dalam pelajaran ini. setiap da’i... atau utusan pemimpin Muslim harus bijak dan jeli, mempelajari situasi dan keadaan, sehingga sasaran dakwah dan tujuan utamanya tercapai, ya. Jadi dalam Islam yang penting tujuan kita tercapai. Nabi ﷺ bersabda: <i>"Semoga Allah merahmati seorang hamba</i> <i>yang berbicara dengan orang lain</i> <i>sesuai dengan kondisi dan</i> <i>keadaan akal mereka."</i> Jadi, yang penting target kita tercapai, bagaimana target itu tercapai. Misalnya, kita tidak perlu bertengkar sama orang lain. Ada orang lagi ribut, misalnya masalah suami istri ribut di dalam rumah tangga. Kalau kita diam bukan berarti kita bodoh. Diamnya kita melihat, <i>"Mana, strategi apa yang harus saya lakukan</i> <i>supaya bisa memperbaikinya?"</i> Mungkin itu lebih baik. Atau orang lagi bertengkar ditinggalkan, untuk mengatur sebuah strategi supaya bisa... memperbaiki keadaan. Atau, atau, atau, segalanya... ini semua adalah poin penting untuk memikirkan bagaimana mengatur sebuah strategi supaya bisa semuanya berjalan. Itu bagus sekali, ya. Termasuk kita keluar rumah, misalnya sederhana, mau pergi satu tempat, kita lagi pikirkan jalan mana yang terdekat nih, <i>"Oh, jalan sini."</i> Itu sebuah strategi yang bagus sekali. Jadi sangat bagus. Kapan waktu, kapan tempat, berteman sama siapa—semua harus jeli sekali. Terutama dalam masalah dakwah ini sangat penting karena berpengaruh dalam penyebaran agama Allah ﷻ. Allahu a'lam. Ini bahasan kita, insyaAllah, pada malam ini berhubungan dengan masalah surat-surat Nabi ﷺ kepada pemimpin-pemimpin dunia. Dan insya Allah, kalau saya mau kasih waktu, kalau memang ada yang mau bertanya, sekitar 10–15 menit, sesuai dengan tema. Kalau tidak ada, maka insya Allah kita akan lanjutkan setelah materi besok kita akan buka pertanyaan. Besok, insya Allah, kita akan mulai agak pagi. Jam berapa? Jam 9, ya? Insya Allah kita akan mulai dan kita akan selesai nanti sampai dzuhur, insyaAllah biidznillah. Begitu saja, Insya Allah. kita akan bertemu lagi pada pertemuan kita besok. Mungkin begitu saja, insya Allah. Kita berdoa kepada Allah ﷻ, semoga majelis kita diberkahi oleh-Nya, dan dijadikan sebagai tambahan amal kita pada hari kiamat. Dan semoga seluruh amal yang pernah kita kerjakan dan akan kita kerjakan psampai menjelang ajal nanti diterima dengan kemahamuran Allah dengan pahala yang sempurna. Dan semoga semua dosa yang pernah kita kerjakan, sekecil sampai sebesar apa pun, juga diganti dengan kemahamuran Allah menjadi pahala. Dan semoga Indonesia menjadi negara yang aman, tenteram, damai. Seluruh umat Islam secara khusus di bawah naungan ukhuwah Islamiyah. Dan juga seluruh ibadah mereka akan kembali pada wahyu: Al-Qur’an dan Sunnah. Serta seluruh pemimpin negara ini diberikan hidayah oleh Allah agar menerapkan... seluruh tanggung jawab dan menjalankan tanggung jawab mereka sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, sehingga mereka lepas dari tanggung jawab pada hari kiamat. Dan seluruh penduduk Indonesia, secara khusus kaum Muslimin, akan menerima hak-hak mereka. Dan semoga Indonesia menjadi contoh bagi negara-negara yang lain. Dan siapapun yang menginginkan keburukan bagi umat Islam dan kaum Muslimin serta negara Indonesia, semoga Allah ﷻ kembalikan tipu daya mereka kepada mereka sendiri. Dan juga semoga negara ini akan selalu aman, tenteram, damai. Dan juga seluruh orang-orang non-muslim diberikan hidayah kepada Islam. Dan kita tidak pernah lupa doakan saudara-saudara kita di Palestina, di Suriah, di Yaman, di Irak, di Myanmar, di Ahsok (Xinjiang), di mana pun mereka yang sedang tertindas. Semoga Allah ikhlaskan niat mereka, terima para syuhada mereka, muliakan Islam di tangan mereka dan tangan kita semua. Dan semoga Allah partisipasikan kita bersama mereka di pahala, baik dengan doa, harta, juga dengan jiwa kita. Dan semoga Allah dengan kemahamurahan-Nya menyatukan kita semua di surga Firdaus-Nya tanpa hisab sebagaimana kita di majelis ilmu yang mulia ini. Kalau benar dari Allah, kalau ada salah, pasti dari saya. Mohon dimaafkan. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.