Transcript
4nK1IsM8s60 • Sirah Nabawiyah #19 : Surat Nabi Sallallahu 'Alaihi Wassalam Kepada Raja-raja Dunia
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0244_4nK1IsM8s60.txt
Kind: captions
Language: id
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah.
Tidak pernah berhenti kita
memuji Tuhan kita Allah,
yang kita sangat yakin kalau Dia sedang
melihat kita karena Dia Maha Melihat,
mendengar kita karena
Dia Maha Mendengar,
dan mengetahui segala gerak-gerik
kehidupan kita karena Dia Maha Mengetahui.
Dia Maha Kuat, Maha Adil,
Maha Bijaksana.
Dan juga...
siksanya sangat pedih
dan rahmat-Nya sangat luas.
Dia tidak memiliki sekutu dalam
setiap kegiatan-Nya,
dan Dia telah menggantungkan
segala kebutuhan kita
untuk roda kehidupan di muka bumi ini
dengan memuji nama-Nya:
Alhamdulillah.
Maka selalulah ucapkan
kalimat ini.
Selanjutnya, kita panjatkan salam hormat
kita yang penuh dengan cinta dan rindu
kepada manusia yang telah
menghabiskan...
23 tahun dari masa hidupnya
untuk agama ini.
13 tahun fase Mekkah,
semua dengan hinaan, cacian,
puncaknya diusir dari
kampung halamannya.
Dan juga 10 tahun fase
Madinah, semuanya...
penerimaan wahyu untuk penyempurnaan
agama ini dari hukum-hukum syariat.
Dan juga Allah ﷻ memerintahkan kita
untuk mengucapkan salam hormat
dan dibalas langsung
10 kali tambahan rahmat,
yang berarti rahmat ini:
pengampunan dosa, peninggian derajat,
penyelesaian segala perkara-perkara.
Dan ini adalah sebuah karunia
yang luar biasa.
Kalau seandainya Allah mengganti dengan
mengucapkan 10 kali salam hormat
kepada manusia terbaik ini diganti
dengan 1 kali rahmat, sudah cukup.
Bagaimana dengan sekali ucapkan
salam hormat diganti dengan 10 rahmat?
Maka sangat wajar kalau kita selalu
mengucapkan shalawat dan taslim
kepada Nabi Besar Muhammad
صلى الله على آله وصحبه وسلم.
Melanjutkan tema kita,
teman-teman sekalian,
Sirah Nabawiyah ini,
dan kita...
terakhir sudah membahas
masalah umrah qadha’,
atau umrah yang dikerjakan...
oleh Nabi عليه الصلاة والسلام setelah
ditahan oleh orang-orang Quraisy...
di kesepakatan Hudaibiyah.
Kemudian Muslimin selama satu tahun berhenti,
tidak boleh memasuki ke Mekkah,
tapi terjadi ekspansi-ekspansi Islam.
Di antaranya...
pembebasan Khaibar.
Kemudian Nabi ﷺ datang dan
menyelesaikan umrah qadha’,
dan cukup banyak kejadian yang sudah
kita ceritakan pada pertemuan tersebut.
Tentu tidak bisa saya
ulangi semuanya.
Tapi yang terakhir sekali adalah...
masuk Islamnya...
pada tahun 8 Hijriyah itu...
setelah umrah qadha’,
seluruh...
suku Khuza'ah,
dan juga tiga anak muda Quraisy
yang masyhur dengan...
kiprahnya nanti dalam Islam.
Mereka adalah:
Amr bin ‘Ash, yang sudah masuk
Islam memang dari Etiopia,
kemudian dia mengajak temannya,
Khalid bin Walid, dan juga Uthman bin Talhah,
رضي الله عنهم أجمعين.
Yang kata Nabi ﷺ, waktu melihat
mereka masuk ke Madinah,
maka Nabi ﷺ bertakbir dengan
suara keras sambil bersabda:
<i>"Telah datang kepada kalian</i>
<i>pemuda-pemuda terbaiknya Quraisy."</i>
Sekarang kita masuk, teman-teman
sekalian, ke bahasan baru.
Judulnya:
Surat Nabi ﷺ kepada Raja-Raja Dunia.
Setelah Nabi ﷺ merasa aman,
karena mayoritas Jazirah Arab
sudah mulai dikuasai,
dan yang belum takluk adalah
Kota Mekkah.
Dan nanti insya Allah kita
akan pelajari setelah...
surat-surat Nabi ﷺ kepada para raja,
kemudian ada peperangan-peperangan kecil
yang dikenal dengan sariyyah,
barulah kita masuk ke inti penyerangan
Kota Mekkah dan penguasaannya.
Nabi عليه الصلاة والسلام mengirim ke beberapa
raja-raja dunia yang berkuasa pada saat itu.
Yang pertama adalah
kepada Kaisar Romawi.
Yang memiliki nama
dalam bahasa Arab: هرقل.
Dan dalam bahasa Inggris:
Heraclius.
Setelah umrah qadha’,
Baginda Nabi عليه الصلاة والسلام...
mengirim Dihyah al-Kalbi
رضي الله عنه...
ke Romawi untuk menemui kaisar
yang bernama Hiraql.
Sebelum tiba, Dihyah, di Romawi,
pada saat diutus oleh Nabi ﷺ,
Hiraql waktu itu baru saja
memenangkan peperangan...
melawan Persia.
Dan Subhanallah, pada saat itu
Muslimin tidak terlibat sama sekali
dalam peperangan antara
Romawi sama Persia.
Tapi waktu itu,
dianggap orang-orang Romawi belum
semuanya mendapatkan dakwah Nabi ﷺ,
maka mereka dianggap ahli kitab...
yang sedang menunggu
sampainya dakwah.
Allah ﷻ menurunkan khusus surah...
menceritakan tentang bangsa
Romawi ini pada saat itu.
Jadi ini terjadi pada saat itu,
bukan lagi setelahnya.
Disebutkan dalam Surah Ar-Rum,
memang surah yang berbicara masalah Romawi,
surah nomor 30 dalam Al-Qur’an,
ayat 1 sampai ayat 5.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
<i>الۤمّۤ ۚ</i>
<i>غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ</i>
<i>فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ</i>
<i>فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُ ۗوَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ</i>
<i>بِنَصْرِ اللّٰهِ ۗيَنْصُرُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ</i>
"الۤمّۤۚ" adalah huruf-huruf pertama dalam
Al-Qur'an yang Allah lebih tahu maknanya,
atau sebagian ulama tafsir mengatakan
nama lainnya surah itu.
<i>“Telah dikalahkan bangsa Romawi,”</i>
Jadi pada saat itu, teman-teman,
bukan kayak sekarang.
Sekarang kalau ada
satu negara,
bukan cuma satu negara,
satu kampung menyerang kampung yang lain,
maka bisa dijangkau
oleh media kita.
Di zaman dulu, mustahil.
Nggak ada media
sama sekali.
Nggak ada handphone, nggak ada
internet, nggak ada TV, nggak ada apa-apa.
Jadi orang kalau mau tahu
informasinya orang lain,
dia harus betul-betul menunggu orang
dari wilayah itu atau dia ke sana langsung.
Nggak ada cara lain.
Di sini Allah ﷻ menunjukkan
keajaiban Al-Qur’an,
bagaimana waktu itu Muslimin...
sedang berada di Madinah,
dan mereka mengetahui informasi yang
sedang terjadi pada saat itu...
di wilayah Jordania.
Peperangan yang terjadi antara bangsa
Romawi dengan bangsa Persia.
Dan waktu itu bangsa Romawi
menyembah Allah ﷻ.
Mereka pengikut Nabi
Isa عليه الصلاة والسلام.
Dan sebagaimana saya katakan, waktu itu
belum sampai kepada mereka risalah kenabian.
Belum merata semuanya, gitu, kan.
Sementara orang-orang Persia
menyembah api,
dan menyembah raja mereka
pada saat itu.
Allah mengatakan:
<i>"Telah dikalahkan bangsa Romawi,"</i>
Dalam peperangan itu
bangsa Romawi kalah.
Ini dua negara adikuasa.
<i>“di negeri yang terdekat dan mereka</i>
<i>setelah dikalahkan itu,</i>
<i>mereka akan menang,”</i>
Yang dimaksud dengan
“negeri yang dekat” adalah...
negeri Arab.
atau...
wilayah tepatnya Syria
dan Palestina, sewaktu menjadi
jajahan kerajaan Romawi.
Sebagian ahli sejarah
mengatakan di Jordan,
intinya di negeri Syam
terjadi peperangan tersebut.
Kemudian dikatakan — dan mereka,
kata Allah, setelah dikalahkan:
<i>"Telah dikalahkan bangsa</i>
<i>Romawi di negeri yang terdekat"</i>
— maksudnya dekat dengan Palestina
<i>"dan mereka sesudah dikalahkan itu</i>
<i>pasti akan menang,"</i>
Subhanallah, bangsa Romawi waktu itu
mengeluarkan pasukan ratusan ribu orang.
Sebagian ahli sejarah mengatakan
mencapai 600.000 orang,
700.000 orang.
Persia pun menggerakkan
pasukan terbaiknya, 516.000 orang.
Sama kekuatan.
Dan ini terjadi peperangan
besar-besaran.
Dan saking banyaknya korban
pada saat itu, sampai...
wilayah yang terjadi peperangan
dibanjiri oleh darah.
Sampai mereka kalau mau keluar
dari kancah peperangan,
mereka seperti menyebrang...
melewati jenazah-jenazah
dan juga darah-darah yang ada,
saking banyaknya...
orang yang jadi korban.
Jadi peperangan ini yang kalah kayaknya
sudah mustahil untuk bisa menang lagi.
Tapi Allah ﷻ memastikan,
dengan kejiwaan yang sedang terpukul,
dengan jumlah pasukan yang banyak terkalahkan,
dengan materi yang
banyak terkorbankan,
Allah bilang, waktu itu bangsa
Romawi sudah sangat lemah,
<i>"Mereka pasti setelah kalah itu</i>
<i>akan menang nanti."</i>
Dan pada saat itu bangsa Romawi
tidak sempat berpikir.
Mereka lagi kalah.
Tapi Allah bilang mereka akan menang.
<i>"dalam beberapa tahun saja,"</i>
kata Allah di ayat 4-nya,
<i>"Bagi Allahlah urusan sebelum dan</i>
<i>sesudah mereka menang.”</i>
Kata sebagian ahli tafsir,
antara...
waktu yang ditentukan
dalam Al-Qur’an itu,
sebagian ahli tafsir mengatakan
antara tujuh sampai sepuluh tahun.
Atau ada juga yang mengatakan antara
tiga sampai sembilan tahun.
Dikatakan:
<i>“Bagi Allahlah...</i>
<i>urusan sebelum dan</i>
<i>sesudah mereka menang.</i>
<i>Dan di hari kemenangan</i>
<i>bangsa Romawi nanti,”</i>
di kemenangan mereka
yang kedua,
<i>“bergembiralah orang-orang beriman,”</i>
maksudnya...
para sahabat.
Karena pada saat itu,
bangsa Romawi belum
semuanya mendapatkan Islam
— tadi saya katakan —
dan mereka termasuk orang yang
beriman kepada Allah,
sementara bangsa Persia
adalah orang yang menyembah api.
Jadi kalau bangsa Persia
yang menang,
maka kemungkinan besar...
mereka akan membantai semua orang
yang memiliki ketuhanan,
meyakini konsep ketuhanan.
Mungkin seperti, kurang lebih kayak
di Indonesia sekarang
dikhawatirkan masalah komunis,
karena mereka tidak ada
konsep ketuhanan.
Jadi kalau mereka menang, maka otomatis semua
orang yang beragama,
mengimani Allah ini atau ada Tuhan,
maka itu dibunuh.
Itu sudah umum, gitu, kan.
Seperti itu bangsa-bangsa atau
pemahaman yang disebarkan oleh...
orang-orang sebelumnya.
Persia begitu. Jadi semua selain
penyembah api akan dibunuh oleh mereka.
Maka pada saat itu
kata Allah ﷻ:
nanti orang-orang beriman akan
gembira dengan menangnya orang-orang Romawi.
Bukan karena mendukung pemahaman Romawi
yang mengatakan Allah punya anak,
tapi pada saat itu mereka beriman,
antara orang beriman sama orang yang...
memang tidak beriman
adanya Tuhan, Allah.
Ini makna daripada...
"Orang-orang beriman akan gembira
dengan menangnya bangsa Romawi."
Jadi kalau antum baca surah ini di ayat-ayat
pertama, jangan sampai salah paham.
Jangan seakan-akan kita akan selalu
gembira kalau orang Romawi menang.
Bukan itu.
Karena ayat ini turun pada saat itu,
Islam belum sampai kepada mereka...
secara menyeluruh.
Beda dengan keadaan sekarang.
Bangsa Rum masih ada.
bangsa Romawi ada tentunya, ya.
Sampai sekarang mereka masih ada.
Bahkan Nabi ﷺ menyebutkan
tentang Malhamah Kubra:
<i>“Akan terjadi...</i>
<i>peperangan besar antara kalian</i>
<i>dengan bangsa Rum.”</i>
Jadi memang mereka masih ada.
Semua yang mengaku pengikut
Nabi Isa عليه الصلاة والسلام,
maka dikatakan...
mereka bangsa Rum.
Kemudian ayat 5, kata Allah, semua itu
terjadi, <i>“karena pertolongan Allah.</i>
<i>Dia menolong siapa yang Dia kehendaki.</i>
<i>Dan Dia Maha Penyayang."</i>
Pada saat itu,
teman-teman sekalian,
dengan hikmah Allah, Heraql...
yang pada saat itu melihat pasukannya
banyak yang kalah, dia merasa terpukul.
Dia nggak mau masyarakatnya
merasa ketakutan,
maka dia memotivasi mereka,
memberikan hadiah,
menyebarkan pelatihan-pelatihan
militer pada saat itu,
untuk mengajak mereka
menyerang kembali.
Tepatnya sembilan atau sepuluh
tahun setelah kekalahan tersebut,
maka mereka membentuk
pasukan lagi.
Dan Heraql sempat bersumpah,
kalau seandainya pasukannya menang
melawan Persia pada kali yang kedua ini,
maka dia akan pergi haji
ke Baitul Maqdis.
Dan tentu hajinya orang
Nasrani ke Baitul Maqdis.
Kita pun di awal-awal
Islam dulu,
di fase Mekkah,
sujudnya kaum Muslimin
menghadap ke Baitul Maqdis.
Kiblat kita ke sana.
Orang Yahudi pun menjadikan...
kiblat mereka Baitul Maqdis, ya.
Maka hajinya orang Nasrani
sekarang ke sana.
Mereka pergi ke sana.
Mereka anggap itu di sana hajinya.
Dia janji, Heraql bersumpah,
kalau seandainya menang pasukannya,
dia akan pergi ke Baitul Maqdis untuk haji...
dan berjalan kaki...
bersama dengan para
pendeta-pendeta pada saat itu.
Dan Heraql betul-betul
melakukan itu pada saat dia menang.
Jadi terjadi peperangan,
akhirnya mereka menang.
Dan saya tidak membahas tentang
masalah peperangan Romawi lawan Persia.
Intinya Al-Qur’an mengatakan mereka
akan menang, dan betul-betul terjadi...
apa yang Al-Qur’an sebutkan.
Yang saya ingin titikberatkan, teman-teman
sekalian, pada hari menangnya Herakl,
terbantaikan sekian banyak
pasukan Persia.
Dan Persia waktu itu betul-betul
terkalahkan luar biasa,
sampai mereka sudah...
seperti orang yang tidak akan pernah lagi
berhadapan dengan Romawi karena terkalahkan.
Heraklius saking gembiranya,
dia berpesta pada malam itu.
Kemudian dia berazam
untuk pergi ke Baitul Maqdis.
Di tengah jalan,
dia mimpi.
Di malam hari, di kemahnya, dia mimpi.
Dia mimpi kerajaannya hancur,
dikalahkan oleh orang-orang yang bersunat.
Orang yang sunat,
orang yang khitan.
Begitu mimpi dia.
Heraklius pada saat itu terkaget, bangun.
Kemudian dia memanggil para penasihatnya.
Lalu dia tanya masalah
perihal mimpi tadi:
<i>“Apa artinya ini?</i>
<i>Kenapa saya mimpi</i>
<i>kerajaanku semua hancur?</i>
<i>Dan pasukan yang menyerangku</i>
<i>itu bersunat?”</i>
Namun tidak seorang pun
dari penasihat...
yang memberikan gambaran,
kecuali satu orang...
yang mengatakan,
<i>"Kemungkinan besar,</i>
<i>kerajaan Anda akan dihancurkan</i>
<i>dalam waktu yang tidak lama</i>
<i>oleh orang-orang yang bersunat."</i>
Maka Heraklius sempat bertanya,
<i>“Siapa orang yang bersunat menurut kalian...</i>
<i>di muka bumi ini?”</i>
Kata para pengikutnya,
penasihatnya:
<i>“Tidak ada kecuali orang Yahudi.</i>
<i>Kami nggak tahu orang yang sunat</i>
<i>kecuali Yahudi.”</i>
Maka Heraklius berazam pada saat itu
akan membunuh semua Yahudi.
Nggak boleh lagi ada
Yahudi yang hidup.
Subhanallah, pada saat dia lagi mempersiapkan
pasukannya untuk menghancurkan Yahudi
—di mana pun Yahudi ada dia mau serang,
harus dihabisin Yahudi ini—
karena dia takut
kerajaannya hancur.
Ternyata ada salah satu...
orang turunan Arab,
kebetulan...
terjadi perselisihan.
Waktu dia masuk ke wilayah
Heraklius di Romawi,
dicurigai dia ini Yahudi
atau orang Arab.
Dan dia...
dari kaum Muslimin
orang ini.
Cuma dia tidak mau
buat masalah.
Karena dicurigai Yahudi,
diinterogasi.
Dia mengatakan,
<i>“Bukan, saya bukan Yahudi.</i>
<i>Saya orang Arab.”</i>
Dia tidak dipercaya.
Maka pada saat itu pun dia ditangkap.
Pada saat ditangkap, diperiksa.
Ternyata dia berkhitan.
Orang ini berkhitan.
Maka dibawa ke
depannya Heraklius.
<i>“Wahai Heraklius, kami menemukan ada</i>
<i>orang lain selain Yahudi...</i>
<i>selain Yahudi yang bersunat.”</i>
Maka kata Heraklius,
<i>“Dari mana kamu?”</i>
Dia bilang,
<i>“Saya dari Arab.”</i>
Lalu kemudian Heraklius bertanya.
Pada saat itu kebetulan,
memang dia ini...
selain raja juga seorang...
pendeta, ya.
Maka dia berkata:
<i>“Apa ada sesuatu yang terjadi</i>
<i>di negeri kalian?</i>
<i>Ada berita besar nggak?”</i>
Kata dia,
<i>“Iya, ada.</i>
<i>Telah keluar di antara kami</i>
<i>seseorang yang mengaku nabi.”</i>
Heraklius lalu...
berkata kepada orang tersebut,
<i>“Coba ceritakan kepada saya...</i>
<i>ciri orang yang mengaku nabi itu.”</i>
Lalu orang ini pun
menceritakan panjang lebar...
apa pun yang dia tahu tentang Nabi ﷺ
dari sisi khalqiyyah-nya (ciptaan fisik Nabi ﷺ),
dan juga khuluqiyyah-nya (akhlak)
Nabi عليه الصلاة والسلام,
serta syariat-syariat
yang dibawa.
Karena dia seorang
Muslim, dia ceritakan itu.
Heraklius lalu berkata kepada orang
yang ada di sekitarnya:
<i>“Datangkan kepadaku...</i>
<i>di negeri Syam ini...”</i>
—karena kebetulan dia sudah jalan,
peperangan terjadi di tempat yang sama,
di wilayah negeri Syam,
di sekitar Yordania,
tempat dia dikalahkan oleh bangsa Persia
sepuluh tahun yang lalu.
Peperangan terjadi di tempat
yang sama dan menang.
Dekat sekali untuk ke Palestina.
Dia niat jalan kaki menuju ke Palestina.
Di tengah jalan, dia mimpi
tadi, dia lihat ini kejadian.
Lalu dia mengatakan,
<i>“Coba datangkan kepada saya...</i>
<i>siapapun yang kalian bisa dapatkan</i>
<i>dari kafilah orang-orang Arab.”</i>
Setelah diteliti,
teman-teman sekalian,
ternyata ditemukan memang ada
kafilah-kafilah Quraisy
yang kebetulan lagi ingin
belanja ke negeri Syam.
Sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Qur’an:
رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ (QS. Quraisy [106]:2),
<i>“perjalanan musim dingin</i>
<i>dan musim panas,”</i>
ini salah satunya ke negeri Syam,
salah satunya ke negeri Yaman.
Tapi ini di negeri Syam, mereka
datang mau belanja dan kebetulan...
waktu itu yang pimpin kafilah
adalah Abu Sufyan.
Masih dalam keadaan kafir Abu Sufyan.
Abu Sufyan lalu kemudian
dipanggil oleh pasukan Heraklius
dan dibawa dia dan seluruh
kafilahnya menuju ke istana.
Heraklius waktu itu
tidak bisa bahasa Arab.
Dia menggunakan bahasa Rum
pada saat itu.
Heraklius bertanya,
melalui penerjemah:
<i>“Siapa di antara kalian</i>
<i>yang paling dekat jalur nasabnya</i>
<i>dengan orang yang mengaku Nabi itu?”</i>
Maka Abu Sufyan
berkata, <i>“Aku.”</i>
Abu Sufyan ini termasuk,
kalau dilihat jalurnya sebenarnya,
masuk dalam sepupu Nabi ﷺ.
Sepupu Nabi ﷺ.
Dia sepupunya juga
Utsman bin Affan.
Mereka semua satu jalur,
ketemu di kakek-kakek kesekian.
Kalau tidak salah waktu itu, ya,
sebagian ahli sejarah mengatakan
Abu Sufyan ketemu dengan Nabi ﷺ
di kakek kelimanya.
Heraklius lalu memerintahkan agar
Quraisy semuanya duduk,
orang kafilah semua duduk
di bagian belakang
dan Abu Sufyan di depan sendiri,
tidak pula ada yang di sebelahnya.
Lalu Heraklius berkata,
<i>“Aku akan bertanya kepadamu,”</i>
ditunjuk Abu Sufyan.
Lalu ia berkata kepada pengikut
Abu Sufyan yang ada di belakang:
<i>“Bila orang ini berbohong,</i>
<i>ataupun salah dalam mengucapkan,</i>
<i>maka kalian semua harus meluruskan.</i>
<i>Kalau tidak, kalian semua</i>
<i>akan saya bunuh.”</i>
Heraklius raja besar
pada saat itu.
Maka Abu Sufyan berkata
pada saat itu,
dan dia ceritakan setelah
dia masuk Islam,
dia sampaikan riwayat dan
dinukil oleh para ahli sejarah kita,
dia bilang,
<i>“Demi Allah,</i>
<i>bila aku berbohong pun pada saat itu,</i>
<i>tidak akan pernah ada satu pun dari pengikutku...</i>
<i>yang ada di belakangku</i>
<i>yang berani meluruskan,</i>
<i>karena aku pemimpin mereka.</i>
<i>Tapi aku tokoh Quraisy,</i>
<i>dan sangat memalukan bila aku bohong.”</i>
Heraklius lalu berkata...
kepada Abu Sufyan:
<i>“Bagaimana jalur nasabnya Nabi itu?</i>
Ayahnya, kakeknya,
pokoknya jalur nasab ke atas.
Abu Sufyan bilang,
<i>“Sungguh,</i>
<i>memiliki jalur nasab yang suci</i>
<i>di antara kami.”</i>
Terkenal semua, dari ayahnya, kakeknya,
terus sampai ke atas ini,
orang-orang yang baik.
Nggak punya riwayat yang
tidak baik, gitu.
Heraklius bertanya lagi:
<i>“Apakah ada yang pernah mengaku Nabi</i>
<i>sebelumnya di antara kalian?</i>
<i>Di suku kalian ini, di suku Quraisy,</i>
<i>pernah nggak ada yang ngaku Nabi...</i>
<i>yang kalian ketahui?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak ada.”</i>
Tentu saja kenapa dikatakan
tidak ada, karena...
dibahas di sini dari
suku Quraisy-nya.
Quraisy nama seseorang
bernama Fihr.
Fihr ini jauh
dari keturunan Nabi,
maksudnya keturunan Nabi
Ibrahim dan Ismail عليهم السلام,
tapi jauh di bawah.
Dan Quraisy mulai disebutkan,
diistilahkan dengan Quraisy
dari orang ini, namanya Fihr.
Berarti mulai Fihr ke bawah,
ada nggak yang mengaku Nabi?
Makanya kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak ada.”</i>
Kalau yang dimaksud adalah seluruh
jalur nasabnya sampai ke atas,
tentu ada Nabi.
Ada Nabi Ibrahim dan Ismail
عليهم الصلاة والسلام.
Maka kata Heraklius,
<i>“Apakah kalian pernah menilai dia...</i>
<i>sebelum mengaku Nabi</i>
<i>sebagai pendusta?</i>
<i>Pernah nggak ada riwayatnya</i>
<i>orang itu di suku kalian,</i>
<i>satu kali saja pernah bohong?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak pernah.”</i>
Heraklius tanya lagi,
<i>“Apakah yang menjadi pengikutnya...</i>
<i>orang-orang lemah,</i>
<i>atau orang-orang terhormat?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Orang-orang lemah dan miskin.”</i>
Kata Heraklius,
<i>“Apakah jumlah mereka bertambah,</i>
<i>atau berkurang?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Bertambah.”</i>
Heraklius berkata lagi:
<i>“Apakah ada pengikutnya yang meninggalkan</i>
<i>agamanya setelah menjadi pengikutnya?</i>
<i>Ada nggak orang yang datang</i>
<i>ngetes-ngetes terus kemudian pulang lagi,</i>
<i>keluar lagi dari agamanya?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak ada.”</i>
Bahkan Abu Sufyan termasuk orang yang
menyiksa Muslimin di Mekah.
Dia tahu bagaimana orang-orang
sampai berani mati untuk agama ini.
Kata Heraklius,
<i>“Apakah ia pernah berkhianat?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Tidak pernah.</i>
<i>Namun, sekarang antara</i>
<i>kami dengannya,</i>
<i>ada kesepakatan damai.”</i>
Ini adalah kesepakatan Hudaibiyah
yang kita pelajari kemarin.
<i>“Dan aku tidak tahu apakah ke depannya</i>
<i>dia akan khianat atau tidak.”</i>
Abu Sufyan di sini,
teman-teman, berkata
—dia ceritakan setelah dia masuk Islam—
dia ceritakan panjangnya,
dia mengatakan:
<i>“Sungguh aku tidak mendapatkan</i>
<i>celah untuk menghina Nabi...</i>
<i>Muhammad ﷺ...</i>
<i>kecuali pada masalah ini saja.”</i>
Jadi semuanya baik ini.
Jawabannya jujur, harus jujur.
Dia bilang, <i>“Saya tidak dapat celah</i>
<i>untuk menghinanya kecuali di sini.</i>
<i>Saya bilang,</i>
<i>'Sekarang lagi ada kesepakatan,</i>
<i>saya tidak tahu ke depan</i>
<i>dia khianat atau tidak.'</i>
<i>Tapi sebelumnya</i>
<i>nggak pernah berkhianat.'”</i>
Hanya itu celahnya, gitu, kan.
Heraklius bertanya lagi:
<i>“Apakah kalian telah</i>
<i>memeranginya?”</i>
Kata Abu Sufyan,
<i>“Iya.”</i>
Kata Heraklius:
<i>“Bagaimana hasil peperangan</i>
<i>kalian dengannya?”</i>
Kata Abu Sufyan:
<i>“Sekali ia menang,”</i>
maksudnya Perang Badr,
<i>“dan sekali kami menang,”</i>
maksudnya Perang Uhud.
Kata Heraklius:
<i>“Apa yang ia perintahkan</i>
<i>kepada kalian?</i>
<i>Apa dakwahnya?”</i>
Kata Abu Sufyan:
<i>“Ia memerintahkan kami agar</i>
<i>menyembah Allah satu,</i>
<i>tanpa menyekutukan-Nya, serta meninggalkan</i>
<i>apa yang nenek moyang kami lakukan.”</i>
sembah-sembah berhala
segala macam,
<i>“Ia juga memerintahkan kepada kami</i>
<i>agar mengerjakan shalat,</i>
<i>jujur, dan tidak mengemis,</i>
<i>serta menjaga silaturrahim.”</i>
Heraklius lalu berkata
kepada penerjemahnya:
<i>“Katakan kepada orang ini baik-baik</i>
<i>dengan bahasa yang jelas.</i>
<i>Aku bertanya kepadamu</i>
<i>tentang jalur nasabnya,</i>
<i>engkau menjawab bahwa ia</i>
<i>memiliki nasab yang suci.</i>
<i>Demikian pula para Nabi dan Rasul yang</i>
<i>diutus pada nasab terbaik kaumnya.”</i>
Heraklius sekarang sebutkan
kepada Abu Sufyan.
Selama ini, teman-teman, Abu
Sufyan selalu memerangi Nabi ﷺ.
Nggak percaya.
<i>"Siapa Muhammad ini?"</i>
Salah satu penduduk Mekah.
Bahkan Abu Sufyan merasa dirinya
lebih kaya, gitu, kan.
Makanya dia tolak terus.
Tapi sekarang Abu Sufyan heran.
Heraklius ini...
raja yang selama ini orang Quraisy
pun takut dengannya,
ini menyebutkan tentang
kenabian Nabi ﷺ.
<i>“Kau bilang tadi jalur nasabnya baik,</i>
<i>maka itu semua Nabi-Nabi begitu.</i>
<i>Pasti jalur nasabnya</i>
<i>yang terbaik di kaumnya.</i>
<i>Aku bertanya kepadamu,</i>
<i>apakah ada di antara kalian yang pernah</i>
<i>menyatakan hal yang serupa,</i>
<i>pernah ngaku Nabi?</i>
<i>Engkau menjawab, 'Tidak ada.'</i>
<i>Kalau seandainya ada yang telah</i>
<i>menyatakan sebelumnya,”</i>
dari kakek-kakeknya pernah ngaku Nabi,
<i>“maka aku akan mengatakan bahwa ia</i>
<i>hanya mengikuti orang sebelumnya saja.”</i>
<i>“Aku bertanya kepadamu,</i>
<i>apakah ada di antara kakeknya yang raja?</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak ada.'”</i>
Ini juga salah satu pertanyaan,
sebenarnya, di riwayat ini.
Semestinya ada sebelumnya, ya,
tapi ini tidak disebutkan dalam potongan
riwayat yang tadi saya sebutkan.
Tapi memang ada pertanyaan Heraklius juga,
<i>“Apakah ada di antara kakeknya yang raja?</i>
<i>Maka engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak ada.'</i>
<i>Kalau ada, maka aku akan</i>
<i>mengatakan bahwa ia hanya ingin</i>
<i>mengembalikan kerajaan kakeknya saja.”</i>
Jadi yang dimaksud di sini,
teman-teman sekalian,
pernah saya jelaskan
di awal-awal sirah,
kalau Abdul Muttalib sempat
menjadi raja Mekkah.
Tetapi sistem yang
dipakai di Mekkah waktu itu
walaupun ada seorang raja
atau orang yang dituakan,
tetap semua suku punya kekuatan.
Makanya dikatakan di Mekkah
itu tidak ada raja khusus.
Tapi dikuasai oleh tokoh-tokoh Quraisy.
Semua kepala suku punya hak
untuk memberikan pendapatnya.
Jadi yang dimaksud di sini raja
adalah raja yang menguasai semuanya,
tidak ada lagi yang...
yang membantunya,
tidak ada penasihatnya.
Memang dia kuat
dengan power-nya sendiri.
Lalu kata Heraklius:
<i>"Aku bertanya juga padamu,</i>
<i>apakah ia pernah berdusta pada kalian?</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak pernah.'</i>
Maka aku katakan kalau ia
tidak pernah dusta,
<i>maka pastilah ia tidak berani</i>
<i>berdusta atas nama Allah."</i>
<i>"Aku bertanya padamu,</i>
<i>'Apakah yang menjadi pengikutnya</i>
<i>orang-orang lemah,</i>
<i>atau tokoh-tokoh masyarakat?'</i>
Engkau menjawab,
<i>'Orang-orang lemah.'</i>
<i>Ketahuilah, demikian</i>
<i>pula pengikut para rasul.</i>
<i>Awal pengikutnya orang-orang lemah, </i>
<i>lalu disusul setelah itu</i>
<i>dengan pemuka-pemuka kaum."</i>
Memang selalu orang miskin
dan orang lemah dulu.
Dan ini umum, Subhanallah,
dakwah-dakwah itu,
umumnya kenanya dulu
ke masyarakat umum.
Nanti sudah lama merata, baru
pindah ke tokoh-tokoh masyarakat.
<i>"Aku bertanya kepadamu,</i>
<i>'Apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang?'</i>
<i>Maka engkau menjawab,</i>
<i>'Bertambah.'</i>
Maka demikian pula keimanan akan terus
bertambah sampai ia sempurna."
<i>"Aku bertanya kepadamu,</i>
<i>'Apakah ada pengikutnya yang meninggalkan keyakinannya?'</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak ada.'</i>
<i>Maka demikian pula iman,</i>
<i>saat telah memenuhi hati seseorang,</i>
<i>tidak akan pernah</i>
<i>keluar lagi selamanya."</i>
<i>"Aku bertanya padamu,</i>
<i>'Apakah ia pernah berkhianat?'</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Tidak.'</i>
<i>Maka demikian pula para nabi dan rasul</i>
<i>tidak akan pernah berkhianat."</i>
<i>"Aku bertanya padamu,</i>
<i>'Apa yang ia perintahkan?'</i>
<i>Engkau menjawab,</i>
<i>'Ia memerintahkan agar tidak menyekutukan Allah,</i>
<i>shalat, jujur, dan silaturahim.'</i>
<i>Demikian pula perintah seluruh</i>
<i>nabi dan rasul."</i>
Lalu Heraklius mengucapkan kalimat,
teman-teman, kalimat yang agung sebenarnya ini.
Pada saat itu raja yang
menguasai seluruh dunia.
Karena Persia sudah kalah, gitu, kan.
Tidak ada lagi kekuatan waktu itu
kecuali kekuatan Romawi.
Maka dia berkata:
<i>"Bila semua yang engkau</i>
<i>sampaikan ini benar,</i>
<i>maka demi Allah, dia, orang itu,</i>
<i>pasti akan menguasai...</i>
<i>apa yang berada di bawah</i>
<i>kedua telapak kakiku ini."</i>
Maksudnya, <i>"Kekuasaanku ini juga</i>
<i>akan takluk di tangan dia nantinya."</i>
<i>"Dan aku sangat tahu</i>
<i>ini zaman keluarnya Nabi,</i>
<i>tetapi aku tidak menyangka kalau</i>
<i>akan keluar dari kalangan kalian.</i>
<i>Dan bila aku bisa menjangkaunya,</i>
<i>aku bisa menemuinya,</i>
<i>niscaya aku akan sangat</i>
<i>gembira dan menghormatinya.</i>
<i>Bila saja aku</i>
<i>berada di sisinya,</i>
<i>maka niscaya aku akan</i>
<i>mencuci kedua telapak kakinya."</i>
Ini kata Heraql tentang
Nabi عليه الصلاة والسلام.
Abu Sufyan waktu sudah
selesai itu disuruh keluar.
Dia keluar lalu berkata...
kepada teman-temannya,
<i>"Demi Allah,</i>
<i>sungguh perkara Abu Qabs..."</i>
ini Abu Qabs, teman-teman sekalian,
adalah istilah ejekan dari orang Quraisy...
untuk Nabi ﷺ.
Mereka memanggil Abu Qabs
seperti seakan-akan
orang yang tidak punya kedudukan.
<i>"Sungguh demi Allah,</i>
<i>kedudukan Abu Qabs sudah luar biasa.</i>
<i>Sampai-sampai Heraql pun,</i>
<i>raja terkuat dunia,</i>
<i>takut padanya."</i>
Kata Abu Sufyan:
<i>"Pada saat itu, Islam sudah mulai</i>
<i>masuk ke dalam hatiku."</i>
Karena tidak mungkin,
ini aneh, nih.
Kalau sampai raja terkenal dunia
dan baru menang peperangan,
dia merasa sekarang tidak lagi punya
musuh di dunia ini, dia menguasai dunia,
dia mengatakan kalimat tersebut.
Kalau bisa menjangkau Nabi ﷺ,
maka dia akan mencuci telapak kakinya,
mencucikannya
sebagai bentuk khidmah,
padahal dia raja.
Ini berarti sesuatu yang luar biasa.
Sesaat baru saja
Abu Sufyan keluar,
berpapasan Abu Sufyan
keluar dari situ,
Dihyah Al-Kalbi sampai.
Utusan Nabi ﷺ,
bawa surat dari Madinah.
Maka Dihyah Al-Kalbi...
tiba, kemudian menemui Heraql
dan minta menyampaikan surat Nabi ﷺ.
Bunyinya...
dan surat ini, teman-teman,
masih tersimpan sekarang.
Ada di pemerintah Inggris
sekarang menyimpan ini, ya.
Di museumnya di Inggris ada.
Dan ini diakui oleh ahli
sejarah Inggris dan Eropa.
Ini ditulis di abad
ke-7 Masehi.
Surat resmi datang
kepada Heraql dari Nabi ﷺ.
Bunyinya:
<i>“Bismillahirrahmanirrahim</i>
<i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i>
<i>kepada Heraklius, Raja Agung Romawi.</i>
<i>Selanjutnya, sungguh</i>
<i>aku mengajak anda masuk Islam.</i>
<i>Masuk Islamlah</i>
<i>maka anda akan selamat.</i>
<i>Dan Allah akan memberi Anda</i>
<i>pahala dua kali lipat.</i>
Karena orang ahli kitab
kalau masuk Islam, double pahalanya.
Mereka sudah beriman
kepada Nabi Isa sebelumnya,
mereka beriman kepada
Nabi Muhammad ﷺ sekarang.
<i>Bila anda menolak, maka Anda</i>
<i>akan memikul dosa seluruh petani.</i>
Waktu itu bangsa Romawi
mayoritas pekerjaannya petani,
maka bangsa Romawi dikenal
bangsa petani.
<i>“Anda akan menanggung dosa semua petani,”</i>
maksudnya masyarakat Romawi.
Karena kalau raja beriman,
mereka beriman.
Kalau raja tidak beriman,
maka mereka tidak beriman.
<i>"Wahai Ahli Kitab,"</i>
lalu Nabi ﷺ bacakan ayat.
<i>"Marilah kita satukan kalimat kita,"</i>
…يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
(QS. Ali Imran [3]: 64)
Ada ayat Al-Qur’an seperti itu.
<i>“Wahai Ahli Kitab, marilah kita</i>
<i>satukan perkataan kita sama-sama,</i>
<i>yaitu agar kita tidak</i>
<i>menyembah selain Allah,</i>
<i>dan tidak menyekutukan-Nya</i>
<i>dengan sesuatu apa pun,</i>
<i>dan janganlah seseorang di antara kita</i>
<i>menjadikan yang lain sebagai sekutu bagi Allah.</i>
<i>Dan apabila kalian berpaling, maka</i>
<i>ucapkanlah, “Kami telah Islam.”</i>
atau, <i>“menyerahkan diri kepada Allah.”</i>
Pada saat surat tersebut dibacakan,
teman-teman sekalian,
Heraklius gemetaran.
Karena dia baru ketemu sama Abu Sufyan.
Dan Dihyah Al-Kalbi tidak tahu
tentang kisah ini,
berpapasan saja dengan
Abu Sufyan, gitu.
Heraklius gemetaran dan ia lalu segera mencoba
memastikan semua sifat Nabi terakhir...
kepada Dihyah Al-Kalbi
bagaimana cirinya,
bagaimana kulitnya, bagaimana matanya,
bagaimana alisnya, bagaimana jalur nasabnya.
Apa yang ditanya kepada Abu Sufyan,
ditanya juga kepada Dihyah al-Kalbi.
Dan Subhanallah, jawabannya sama.
Tinggal masalah kesepakatan Hudaibiyah saja.
Pada saat ditanya tadi Abu Sufyan,
Abu Sufyan bilang:
<i>“Tidak pernah khianat,</i>
<i>tapi saya tidak tahu ke depannya.”</i>
Kalau Dihyah al-Kalbi
menjawab berbeda:
<i>“Nabi kami tidak akan pernah</i>
<i>berkhianat selamanya.”</i>
Maka pada saat itu,
teman-teman sekalian,
Heraklius pun berkata kepada Dihyah:
<i>“Bawa surat ini kepada Safatir.”</i>
Safatir ini, teman-teman,
istilah...
yang digunakan untuk pemimpin...
tertingginya gereja pada saat itu.
Jadi di sistem gereja itu ada
pendeta-pendeta, nanti ada kepala pendeta.
Dia penentu keputusan.
Maka dibawalah surat tersebut,
teman-teman sekalian, kepada Safatir.
Saat surat tersebut dibacakan
kepada Safatir,
maka Safatir ini sempat gemetar.
Karena memang dia
selalu diskusi sama Heraklius...
kalau ini...
tanda-tanda yang disebutkan dalam
Injil,
<i>"Kita akan memenangkan perang sama Persia,"</i>
ada disebutkan dalam Injil.
<i>"Dan kita juga akan masuk ke Palestina,"</i>
ini ada disebutkan.
Dan pada zaman itu keluarlah
Nabi yang harus diikuti.
Maka ini bertepatan sekali dengan
kemenangan masuk ke Palestina, haji.
Menang lawan Persia,
dan juga datang surat seperti ini.
Maka Safatir pun gemetaran
pada saat itu.
Kepala pendeta gemetar ini.
Dan bertanya banyak tentang
Nabi ﷺ pada Dihyah Al-Kalbi.
Dan Dihyah terus menjawab
sampai akhirnya Safatir...
kehabisan pertanyaan
dan terheran-heran.
Karena semua ciri yang disebutkan
dalam Injil tentang Nabi terakhir
semuanya ada pada Nabi Muhammad
صلى الله على آله وصحبه وسلم.
Safatir lalu berkata
kepada Dihyah:
<i>“Demi Allah, aku sangat yakin kalau</i>
<i>ini adalah zaman keluarnya Nabi terakhir</i>
<i>yang telah kami tunggu-tunggu.</i>
<i>Dan aku benar-benar</i>
<i>tidak menyangka kalau keluar</i>
<i>dari kalangan kalian,</i>
<i>wahai bangsa Arab.</i>
<i>Maka aku menyatakan:</i>
<i>Asyhadu an la ilaha illallah</i>
<i>wa anna Muhammadan Rasulullah.”</i>
Ini malah syahadat
si Safatir ini.
Safatir lalu mengumpulkan
semua pendeta.
Sudah adzan, ya?
Baik, sebentar.
Kita selesaikan, ya.
Safatir lalu mengumpulkan semua pendeta
dan mengajak mereka masuk Islam,
dan menjelaskan tentang
tanda-tanda Nabi ﷺ.
Lalu ia bersyahadat
di hadapan mereka.
Sebagian besar pendeta tidak mau menerima
dan akhirnya mereka membunuh Safatir.
Dan ini, rahimahullah,
beliau mati syahid.
Karena sudah muslim pada saat itu.
Dia sudah syahadat.
Bahkan dia langsung mendakwahkan Islam
kepada para pendeta-pendeta,
tapi mereka...
membunuhnya, khawatir nanti jangan
semua Nasrani mengubah agamanya.
Dihyah رضي الله عنه pada saat
mengetahui kejadian pembunuhan Safatir,
segera menemui Heraql
dan meminta saran.
Heraql lalu berkata:
<i>“Sungguh kedudukan Safatir di sisi mereka</i>
<i>lebih mulia dibandingkan aku.</i>
<i>Kalau Safatir saja mereka tidak dengar,</i>
<i>bahkan membunuhnya,</i>
<i>maka bagaimana dengan aku?</i>
<i>Tapi cobalah sabar dulu,</i>
<i>aku akan mengatur strategi</i>
<i>untuk mengumpulkan mereka.”</i>
Heraql lalu mengumpulkan
semua pendeta di sebuah ruangan,
dan ia perintahkan agar
semua pintu dikunci dari luar
serta seluruh pendeta harus masuk
ke ruangan tersebut.
Dan disiapkanlah prajurit-prajurit
yang memegang pedang,
yang berada di setiap
belakang pendeta.
Jadi ada puluhan pendeta yang datang
dimasukkan dalam satu ruangan.
Di setiap belakang pendeta itu ada satu
prajurit yang pegang pedang,
tapi tidak memperlihatkan kalau dia siap untuk membunuh
para pendeta-pendeta ini kalau menolak.
Semua pendeta berkumpul pada saat itu,
maka Heraql keluar menemui mereka,
dan membacakan surat Nabi ﷺ
serta membaca ayat-ayat Injil
yang membuktikan tentang kebenaran
risalah Nabi Muhammad ﷺ.
Lalu Heraql bersyahadat
di depan mereka.
Jadi raja agungnya Romawi
masuk Islam...
di depan mereka semua.
Maka seluruh pendeta kaget, karena sekarang
raja mereka pun mengikrarkan syahadat.
Saat mereka mau melarikan diri dari
ruangan, ternyata semua sudah terkunci.
Jadi pendeta ini mau melarikan diri karena
kaget, kenapa rajanya pun masuk Islam.
Maka para pendeta berkata:
<i>“Demi Allah, kami tidak akan</i>
<i>meninggalkan agama Al-Masih</i>
<i>walaupun engkau membunuh kami semua.”</i>
Melihat kejadian tersebut, maka Heraql
khawatir bila membunuh semua pendeta
malah jadi masalah
di tengah-tengah masyarakat.
Maka dia pun...
dikatakan dalam buku sejarah,
lalu cinta dunia mengalahkan imannya.
Karena dia baru syahadat, dia takut
nanti kalau pendeta ini dibuka pintu lalu...
menyebarkan berita
kalau raja begini dan begitu,
lalu terjadi pemberontakan,
akhirnya dia jatuh dari kerajaannya,
padahal dia baru menguasai dunia.
Maka dia pun berkata:
<i>“Aku hanya mau menguji kalian.</i>
<i>Tadinya aku lihat surat itu sudah</i>
<i>sampai kepada kerajaan kita,</i>
<i>dan aku khawatir malah</i>
<i>kalian yang murtad.</i>
<i>Maka pertahankanlah agama kalian</i>
<i>dan aku bersama kalian.”</i>
Lalu Heraql memerintahkan para
prajurit membuka pintu untuk para pendeta.
Dan pendeta pun memuji
Heraql dan berjanji akan setia.
Izinkan saya tinggal
dua paragraf saja.
Setelah semua pendeta pergi, maka Heraql
memanggil Dihyah Al-Kalbi رضي الله عنه
dan berkata padanya:
<i>“Aku mengucapkan hal tadi agar</i>
<i>kerajaanku tidak hilang.</i>
<i>Dan ini hadiah dari aku</i>
<i>berupa emas.”</i>
Dikasih emas satu peti.
<i>“Bawalah kepada Nabi...</i>
ﷺ,
<i>“Bawa kepada Nabi</i>
<i>dan sampaikan salamku juga.</i>
<i>Bilang kalau aku tetap dengan</i>
<i>keislamanku.”</i>
Kata Heraql ini.
Saat Dihyah al-Kalbi tiba di Madinah, رضي الله عنه,
dan menceritakan kepada Nabi ﷺ,
maka Nabi ﷺ mengucapkan
kalimat yang mulia.
Kata beliau:
<i>“Sungguh dia (Heraql) adalah</i>
<i>musuh Allah.</i>
<i>Dia telah berdusta.</i>
<i>Ia mengucapkannya,”</i>
kalimat tadi karena beriman,
<i>“kemudian dia meninggalkannya</i>
<i>justru karena mendahulukan dunia.”</i>
Dan ini beda dengan keadaan
Najasyi yang benar-benar masuk Islam...
karena hatinya.
Dan dia pertahankan
sampai dia meninggal dunia.
Lalu Nabi ﷺ memerintahkan agar pemberian Heraql
(emas) dibagikan kepada seluruh Muslimin.
Demikianlah hasil surat Nabi ﷺ
kepada salah satu raja-raja dunia.
Dan insya Allah kita akan lanjutkan nanti
surat yang kedua dan seterusnya,
termasuk kepada Harith bin Abi Syamr
Al-Ghassani setelah Isya nanti.
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla
ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, wassalatu
wassalamu ‘ala Rasulillah.
Segala puji bagi Allah ﷻ,
juga shalawat dan taslim kepada
Nabi Besar Muhammad
صلى الله على آله وصحبه وسلم.
Surat kedua Nabi عليه الصلاة والسلام
yang dikirim setelah Heraql—
walaupun sebenarnya
surat-surat ini...
dikirim oleh Nabi ﷺ
secara bersamaan,
itu yang lebih kuat
pendapat para ulama,
kalau ini dikirim
secara bersamaan.
Tetapi,
disusunnya seperti ini oleh
para ulama sejarah atau ahli sejarah
hanya untuk memudahkan,
untuk memahami.
Surat yang selanjutnya adalah surat
kepada Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani.
Nabi ﷺ mengutus ke sana seorang sahabat yang
mulia, namanya Syuja' bin Wahab Al-Asadi.
Syuja' bin Wahab Al-Asdi رضي الله عنه...
membawa surat kepada
pemimpin negeri Syam
yang bernama Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani.
Isinya adalah:
<i>Bismillahirrahmanirrahim.</i>
<i>Dengan menyebut nama Allah</i>
<i>Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.</i>
<i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i>
<i>kepada Harith bin Abi Syamr.</i>
<i>Keselamatan bagi orang yang mengikuti</i>
<i>kebenaran dan petunjuk serta beriman kepada</i>
<i>Allah dan juga membenarkannya.</i>
<i>Sungguh, aku mengajakmu beriman kepada Allah</i>
<i>tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya,</i>
<i>dan kerajaanmu tetap bertahan.</i>
Pada saat membaca
surat Nabi ﷺ,
Harith ini...
dia termasuk penguasa
yang besar sekali.
Dan pada saat itu,
teman-teman sekalian, walaupun Nabi ﷺ...
sudah berhasil menundukkan
Khaibar, beberapa kota-kota kecil,
atau desa-desa kecil
di sekitar Madinah,
tapi belum didengar gongnya
ke seluruh dunia.
Masih kecil.
Justru setelah surat-surat inilah baru
orang-orang banyak mengenal tentang Nabi ﷺ.
Awalnya tidak.
Lingkupnya sangat kecil sekali—cuma Madinah,
Mekah, Khaibar, wilayah-wilayah kecil.
Jaraknya 400 km, 200 km.
Negeri Syam sudah 1000 km ke atas
jarak jauhnya.
Dan nanti pada saat ini baru terdengar.
Harith ini seorang pemimpin
di negeri Syam, raja.
Kekuatan pasukan perangnya saja
sudah 100.000 orang.
Kurang lebih dia menguasai
wilayah Jordania...
dan sebagian...
wilayah...
Palestina, ya.
Sebagian lagi dikuasai oleh Romawi.
Dan dia termasuk sekutunya
orang-orang Romawi.
Sekutu orang Romawi,
cuma dari turunan Arab.
Dia marah waktu membaca
surat Nabi ﷺ.
Dan dia berkata,
<i>“Siapa orang ini?</i>
<i>Berani benar dia</i>
<i>mengancam kerajaanku,</i>
<i>sementara aku memiliki pasukan</i>
<i>sebanyak 100.000 prajurit?”</i>
Maka gara-gara itu,
teman-teman sekalian,
Harith pun mencari tahu tentang
siapa Nabi ﷺ, tinggal di wilayah mana,
berapa besar kekuatan pasukannya.
Lalu dia mempersiapkan
semua kekuatannya, 100.000 orang,
untuk menyerang Madinah.
Dan nanti ini akan menjadi
penyebab terjadinya Perang Mu’tah.
Dan insya Allah nanti kita akan
jelaskan besok pagi peperangan itu, ya.
Peperangan yang sangat mulia yang terjadi
antara Muslimin dengan bangsa Romawi,
dengan suku Ghassan yang
bersekutu dengan bangsa Romawi.
Dan nanti di situ juga kita akan
lihat bagaimana...
pengkhianatan Heraql...
yang bohong.
Yang berkata kepada Dihyah:
<i>“Sampaikan kepada Nabi kalau</i>
<i>saya tetap dalam keadaan Islam.”</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>“Dia bohong.</i>
<i>Dia takut kehilangan kerajaannya.”</i>
Jadi itu terbukti nanti
di Perang Mu’tah.
Karena pada saat Harith ini
minta tolong kepada dia (Heraklius)
Heraklius mengirim
100.000 juga pasukan Romawi.
Jadi jumlah mereka 200.000 yang akan melawan
pasukan Muslimin yang hanya 3.000 orang saja.
Tapi nanti Muslimin akan
memenangkan peperangan itu.
Tentu kita jelaskan itu.
Yang jelas ini surat yang kedua kepada
Harith bin Abi Syamr Al-Ghassani...
yang menolak surat
Nabi عليه الصلاة والسلام.
Yang ketiga:
surat Nabi ﷺ ke Busra.
Wilayah Busra.
Penguasa Busra.
Busra ini sebenarnya kalau
sekarang masuk...
ujung Jazirah Arab,
lebih dekat kepada Irak.
Di situ juga dulu ada kerajaan, ini
dipimipin oleh Syurahbil bin Amr al-Ghassani.
Nabi ﷺ mengutus ke sini (Busra) seseorang
yang bernama Al-Harits bin Umair.
Jadi tadi nama yang saya sebutkan
awal itu adalah
nama sahabat, sebenarnya,
yang diutus Nabi ﷺ,
namanya Al-Harith bin Umair Al-Azdi.
Ini sahabat Nabi, رضي الله عنه,
yang diutus kepada wilayah Busra.
Namun di tengah jalan,
Al-Harits ini bertemu dengan
Syurahbil bin Amr Al-Ghassani,
yang dasarnya memang dari...
berkuasa di wilayah itu
dan memang dia...
mendukung kakaknya dia,
yang Harith tadi,
yang dari kepala suku Ghassan.
Maka karena dia tahu ini
utusan Nabi ﷺ,
dia pun membunuhnya.
Jadi Al-Harith bin Umair Al-Azdi
dibunuh oleh Syurahbil.
Dan dia mati syahid رضي الله عنه.
Dan kejadian inilah nanti akan membuat
Nabi ﷺ menyerang suku Ghassan.
Ini juga salah satu pemicu
nanti terjadinya Perang Mu’tah itu.
Yang keempat:
surat Nabi ﷺ ke Muqawqis.
Raja Mesir pada saat itu.
Nabi ﷺ mengirim ke sana...
Hatib bin Abi Balta’ah
رضي الله عنه...
kepada penguasa Mesir
yang bernama Al-Muqawqis.
Surat Nabi ﷺ berbunyi mirip dengan
suratnya ke Heraklius,
karena dia Raja Nasrani:
<i>Bismillahirrahmanirrahim.</i>
<i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i>
<i>kepada Muqawqis, Raja Agungnya Mesir.</i>
<i>Selanjutnya,</i> atau,
<i>Amma ba’du,</i>
<i>sungguh aku mengajak
Anda masuk Islam.</i>
<i>Masuk Islamlah maka</i>
<i>Anda akan selamat.</i>
<i>Dan Allah akan memberi Anda</i>
<i>pahala dua kali lipat.</i>
Bila Anda menolak, maka Anda akan
memikul dosa seluruh petani masyarakat Mesir.
Karena mayoritasnya memang
bekerja jadi petani pada saat itu.
<i>Wahai Ahli Kitab, marilah...</i>
<i>kita satukan kalimat kita agar tidak</i>
<i>menyembah selain Allah</i>
<i>dan tidak menyekutukan-Nya</i>
<i>dengan sesuatu apapun,</i>
<i>dan janganlah seseorang di antara kita</i>
<i>menjadikan yang lain sebagai sekutu bagi Allah.</i>
<i>Dan apabila kalian berpaling, maka</i>
<i>ucapkanlah bahwa kami telah masuk Islam,</i>
atau,
<i>menyerahkan diri.</i>
Muqawqis, pada saat membaca surat Nabi
عليه الصلاة والسلام,
ini mirip dengan responnya...
Heraklius.
Dia seorang pendeta,
dia juga raja, dia tahu ini.
Maka dia gembira membaca
surat Nabi ﷺ.
Kemudian...
dia bertanya banyak...
tentang Nabi ﷺ kepada
Hatib bin Abi Balta’ah رضي الله عنه,
dan Hatib menjawab semua pertanyaan.
Sampai akhirnya...
kata Muqawqis:
<i>“Apakah kaumnya sudah memeranginya?” </i>
Karena dalam Injil disebutkan itu.
Agama yang dibawa oleh Nabi terakhir
tidak akan tersebar
sampai kaumnya memerangi
Nabi tersebut.
Dan akhirnya dia
memenangkan peperangan.
Maka kata Hatib,
<i>“Iya.</i>
<i>Memang kaumnya sudah memeranginya bahkan</i>
<i>mengusirnya dari kotanya (Mekkah).”</i>
Maka Muqawqis berkata:
<i>“Mengapa dia tidak mendoakan kaumnya</i>
<i>agar Allah binasakan saja?</i>
<i>Bukankah dia seorang Nabi</i>
<i>dan doanya diijabah?”</i>
Ini pertanyaan sebenarnya
memancing, ya.
Secara akal mungkin
orang berpikir,
<i>"Iya, ya. Mestinya Nabi berdoa</i>
<i>saja agar Quraisy Allah binasakan."</i>
Tapi perhatikan Hatib
bin Abi Balta'ah رضي الله عنه,
dengan keimanan dan ilmunya,
dia menjawab dengan cerdas.
Dia mengatakan:
<i>“Mengapa Isa tidak mendoakan</i>
<i>kehancuran kaumnya...</i>
<i>saat ada di antara mereka yang</i>
<i>tidak mengikutinya?”</i>
Sama jawabannya.
Maka Muqawqis paham
pada saat itu, dan dia tahu...
kalau Nabi Isa tidak mendoakan
agar Bani Israel dihancurkan
karena Nabi Isa ingin hidayah
dan petunjuk untuk mereka,
bukan kebinasaan.
Dia diutus untuk membawa
rahmat, kasih sayang.
Maka Muqawqis pun membalas
surat Nabi ﷺ,
dan ini satu-satunya raja yang Nabi ﷺ
kirimkan surat yang dia balas...
dengan santun dan baik,
dia mengatakan:
<i>“Keselamatan semoga selalu</i>
<i>bersama dengan Anda.”</i>
Maaf, isinya begini:
<i>Dari Muqawqis, penguasa Qibthi (Mesir),</i>
<i>kepada Muhammad,</i>
<i>utusan Allah.</i>
Dia akui itu.
Dan sampai hari ini tentu surat-surat ini
masih ada, teman-teman sekalian,
dalam naskah-naskah aslinya, ya.
ditulis di atas
kulit-kulit hewan.
<i>Keselamatan semoga selalu</i>
<i>bersama Anda.</i>
<i>Telah tiba kepadaku surat Anda dan</i>
<i>aku telah membaca juga memahaminya.</i>
<i>Aku mengutus seorang wanita</i>
<i>terbaik Qibthi dari Mesir</i>
<i>yang memiliki kedudukan yang</i>
<i>tinggi di kaumnya sebagai hadiah.</i>
<i>juga seeokor kuda pilihan</i>
<i>agar Anda menungganginya.</i>
Nabi ﷺ lalu menerima hadiahnya,
dan menikahi Maria Qibthiyah yang
dikirim oleh Muqawqis.
Dan dikaruniai seorang
anak yang bernama Ibrahim.
Tentu Ibrahim meninggal masih
kecil, belum 3 tahun sudah meninggal.
Nabi ﷺ selalu menceritakan tentang
Muqawqis kepada para sahabat:
<i>"Kalau bukan karena Muqawqis</i>
<i>khawatir kerajaannya akan diserang</i>
<i>dan diambil alih oleh</i>
<i>bangsa Romawi,</i>
<i>maka pastilah ia</i>
<i>akan masuk Islam."</i>
Di sini pelajaran penting,
teman-teman sekalian.
Sekali lagi,
Subhanallah,
dunia, urusan dunia, telah
mengalahkan akhirat orang-orang ini.
Hanya karena menunggu,
mencari jabatannya.
Hanya karena takut
meninggalkan pekerjaannya.
Hanya karena takut tidak menikah
sama si fulanah.
Maka akhirnya dia
menjual imannya.
Padahal semuanya itu akan datang
kalau dia beriman kepada Allah ﷻ.
Kerajaan akan diberikan, kekayaan
akan diberikan, pasangan akan diberikan.
Dan memang justru yang kualitasnya sekualitas
orang-orang yang dasarnya sudah beriman.
Artinya orang yang menjaga diri.
Saya kadang-kadang
kalau menasihati ikhwah-ikhwah
yang memang masih belum menikah,
saya mengatakan:
<i>"Jaga istiqamah...</i>
<i>di jalan Allah ﷻ,</i>
<i>jaga hubungan yang baik.”</i>
Tentu ini bukan cuma ikhwan,
akhwatnya juga kalau yang mendengarkan
perlu mengetahui masalah itu.
Kita kalau menjaga hubungan kita
kepada Allah ‘Azza wa Jalla...
baik ibadahnya, istiqamah saja
dalam kebaikan-kebaikan tersebut,
maka Allah akan utus nanti
pasangan yang seperti itu,
seperti kita.
Tak usah khawatir,
insya Allah Allah akan utus.
Tapi kalau kita justru berbeda,
bukan di jalan itu,
maka Allah akan datangkan juga
orang-orang yang sejalan dengan kita,
jauh dari agama.
Lalu kita harapkan nanti
anak-anak kita bisa hafal Qur’an?
Anak-anak kita bisa tutup aurat,
anak-anak kita bisa jaga shalat?
Tidak bakal terjadi dari wanita
atau laki-laki yang jauh dari agama.
Allah ﷻ akan datangkan,
yang penting istiqamah saja.
Karena manusia
keadaannya cuma empat.
Dia dalam keadaan benar,
tinggal istiqamah saja.
Kalau antum sekarang sudah merasa
sudah tutup aurat, sudah cari pendapatan halal,
berusaha istiqamah dalam
ibadah-ibadah yang Allah perintahkan,
meninggalkan yang dilarang,
maka tinggal istiqamah saja.
Tinggal istimrar dalam bahasa Arab.
Sudah, lanjutin saja sampai mati.
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ ࣖ
(QS. Al-Hijr [15]:99)ࣖ dalam ayat.
<i>“Sembahlah Tuhanmu sampai...</i>
<i>keyakinan (kematian)</i>
<i>datang kepadamu.”</i>
Yang kedua, orang yang
sedang bermaksiat.
Kalau antum sedang dalam posisi ini,
segera bertaubat.
Yang ketiga, orang yang sedang
melimpah nikmat.
Maka tugasnya bersyukur.
Yang keempat, terakhir,
orang yang sedang diuji oleh Allah.
Maka sifatnya,
atau harusnya, bersabar.
Ini keadaan saja.
Tapi yang saya ingin
titik-beratkan, teman-teman:
poin pertama,
perlunya istiqamah.
Jangan pernah lihat kebenaran
dari siapa datangnya.
Tapi sudah sampaikah
kepada kita atau belum?
Kalau sudah sampai kebenaran, teman-teman,
tidak usah lihat siapa yang ngomong.
Mau anak kecil, mau orang dikenal
atau tidak dikenal,
mau orang tua,
pokoknya intinya...
kebenaran.
Dan benar hanya
qala Allah, qala Rasul.
Allah dan Rasul-Nya
sudah menyampaikan masalah itu,
karena tidak ada yang lagi...
mengalahkan kedudukan
Allah dan juga utusan-Nya.
Yang selanjutnya, teman-teman sekalian,
surat Nabi ﷺ diutus kepada Najasyi.
Tapi ini bukan Najasyi...
Ashamah رضي الله عنه
yang sudah meninggal,
rahimahullah.
Karena waktu itu dia sudah meninggal
Ashamah ini, yang beriman...
di tangannya Ja’far bin Abi Thalib
رضي الله عنه.
Setelah dia meninggal, digantikan oleh
seorang raja, juga dapat julukan Najasyi.
Karena zaman dulu julukan-julukan
ini, julukan induk.
Seperti misalnya, Raja Persia
diberikan istilah dengan Kisra.
Nanti Kisra itu punya
nama-nama lagi di bawahnya,
seperti Kisra yang ditaklukkan di
zaman ‘Umar bin Khattab, namanya Anusyirwan.
Terkenal dengan kerajaan besarnya,
tapi dia induknya namanya Kisra.
Romawi seperti Heraklius tadi,
istilah induknya adalah Kaisar.
Kemudian Raja Yaman: Tubba’.
Raja Afrika,
waktu itu pusatnya di Ethiopia,
adalah Najasyi.
Raja Mesir: Fir’aun.
Maka ini semua istilah-istilah
yang digunakan...
untuk wilayah-wilayah tersebut.
Tentu istilah Fir’aun sudah hilang
setelah meninggalnya...
Ramses kesekian, ya.
Saya tidak hafal Ramses ke berapa yang memang
tenggelam di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam.
Tapi induknya namanya Fir’aun.
Semenjak itu istilah Fir’aun terhapus...
dari raja-raja Mesir,
karena dianggap...
sudah binasa dengan
meninggalnya orang itu.
Tapi pada saat itu Najasyi yang ini,
tidak beriman kepada Nabi ﷺ
karena dia bukan seorang pendeta.
Tapi dia juga tidak menolak.
Surat setelahnya, dan ini surat
yang masyhur sekali,
sangat besar, adalah
surat kepada...
Raja Kisra, ya.
Kisra Persia, dan rajanya waktu itu
bernama Barwiz.
Nabi ﷺ mengutus ke sana
‘Abdullah bin Hudhafah رضي الله عنه...
kepada Barwiz.
Dan isi suratnya adalah:
<i>“Bismillahi ar-Rahmani ar-Rahim.</i>
<i>Dari Muhammad, utusan Allah,</i>
<i>kepada Kisra Agung, Barwiz…”</i>
Jadi sebenarnya suratnya ini ada, tapi
ulama-ulama sejarah tidak menukil semuanya,
karena...
yang masyhur adalah,
baru dibaca sampai situ,
tiba-tiba si Barwiz ini suruh berhenti.
Suruh berhenti, nggak boleh.
<i>“Jangan dilanjutin!</i>
<i>Siapa orang ini berani-berani</i>
<i>menulis di surat,</i>
<i>namanya dulu, baru namaku!”</i>
Itu orang yang sombong sekali.
Maka ada dua riwayat:
Riwayat yang pertama,
yang masyhur adalah,
dia pun merobek surat Nabi
عليه الصلاة والسلام.
Yang kata Nabi ﷺ:
<i>مَزَّقَ رِسَالَتِي، مَزَّقَ اللَّهُ مُلْكَهُ</i>
<i>"Dia telah merobek suratku,</i>
<i>maka Allah pun akan merobek kerajaannya."</i>
Ada riwayat yang lain juga menjelaskan:
dia membunuh utusan Nabi عليه الصلاة والسلام.
Dia membunuh utusan Nabi
عليه الصلاة والسلام.
Yang jelas...
Barwiz ini,
teman-teman sekalian,
dia merasa dirinya raja
yang sangat kuat.
Maka dia lihat Madinah,
dia tanya-tanya,
<i>"Dari mana itu yang mengaku Nabi</i>
<i>dari kota Madinah?</i>
<i>Madinah itu di mana?"</i>
Dia nggak tahu Madinah itu,
kampung kecil.
Maka seperti mungkin
Amerika sekarang
disurati oleh salah satu
kampung kita di Indonesia.
Suruh tunduk.
Maka dia,
<i>"Siapa ini? Mana Madinah itu? Kecil.</i>
<i>Sudah, nggak usah</i>
<i>utus pasukan."</i>
Ada satu orang namanya Bazan.
Bazan ini kebetulan dia adalah
gubernurnya Kisra...
di wilayah yang dekat
sekali dengan Jazirah Arab,
perbatasan Jazirah Arab sama Irak.
Maka dia kirim surat ke Bazan:
<i>"Bazan, tangkap tuh orang yang</i>
<i>mengaku Nabi, bawa ke saya.</i>
<i>Nggak usah saya kirim pasukan</i>
<i>jauh dari sini."</i>
Dengan kesombongannya, gitu, ya.
Maka Bazan pun
meneliti Madinah.
<i>"Madinah ini kampung kecil,"</i>
mereka punya peta,
<i>"nggak ada kekuatan di sana."</i>
Mereka tahunya itu.
<i>"Untuk apa kirim pasukan?"</i>
Lalu Bazan mengutus
dua orang saja.
Kepala prajuritnya.
Panglima perangnya
datang ke sana.
<i>"Bawa itu Muhammad ke sini.</i>
<i>Siapa orang itu?</i>
<i>Mengancam-ancam Kisra, gitu."</i>
Datanglah dua orang ini.
Ada banyak riwayat kisah
berhubungan dengan mereka berdua
waktu mereka
datang ke Madinah...
dengan baju perangnya,
segala macam.
Terus kumisnya mereka, tuh, tebal,
besar, dan dilipit muter-muter begini.
Nabi ﷺ waktu mau ketemu
sama mereka, lihat.
Langsung Nabi
mengalihkan wajahnya.
Kata Nabi ﷺ,
<i>"Sungguh buruk penampilan kalian."</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>"Siapa yang menyuruh kalian begini?"</i>
Kata mereka berdua,
<i>"Tuhan kami."</i>
Kisra yang suruh.
Semua orang Persia itu disuruh potong
jenggotnya, disuruh biarkan kumisnya.
Dan makin tebal,
makin punya kedudukan.
Maka kata Nabi ﷺ:
<i>"Sungguh, Tuhanku..."</i>
karena kan mereka bilang,
<i>"Tuhan kami Kisra."</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>"Tuhanku menyuruh aku selain itu.</i>
<i>Kami disuruh memelihara jenggot dan menghabiskan</i>
<i>kumis kami atau memotong kumis kami."</i>
Itu yang disampaikan
oleh Nabi عليه الصلاة والسلام.
Maka akhirnya kedua orang ini duduklah,
mengatakan—ada penerjemahnya:
<i>"Siapa kamu ini, hai Muhammad?"</i>
Nabi ﷺ jelaskan,
<i>"Saya adalah utusan Allah.</i>
<i>Saya begini, saya begini."</i>
<i>- "Apa ajaranmu?"</i>
<i>- "Ajaranku begini dan begitu."</i>
Ajaran tauhid,
mengesakan Allah,
yang menyempurnakan ajaran
risalah Nabi-Nabi yang lain sebelumnya.
Disuruh shalat, dilarang
zina, dilarang ini, dilarang itu.
Disampaikan semua syariat.
Dua orang ini karena bukan
Ahli Kitab, tidak paham.
Mereka penyembah api.
Mungkin kalau bicara sama Nasrani
masih nyambung masalahnya.
Tapi ini nggak nyambung.
Maka dia bilang,
<i>"Sudahlah.</i>
<i>Sekarang begini, Muhammad, daripada Kisra</i>
<i>kirim-kirim jauh pasukannya besar ke sini,</i>
<i>menghabiskan kota kamu,</i>
<i>ikutlah sama kami."</i>
Kata Nabi ﷺ,
<i>"Sebentar dulu.</i>
<i>Kalian tahu kampung saya ini,</i>
<i>kota ini, kan sudah tahu tempatnya.</i>
<i>Tahu rumah saya ini, rumah saya</i>
<i>ini, ini masjid saya, ini rumah saya.</i>
<i>Saya nggak akan</i>
<i>ke mana-mana.</i>
<i>Kalian mau tangkap saya,</i>
<i>setiap saat silakan, bisa.</i>
<i>Tapi saya mau sampaikan</i>
<i>satu hal dulu.</i>
<i>Kalau malam ini..."</i>
Waktu itu kebetulan sudah
menjelang malam mereka tiba.
Mereka mau menginap
di Madinah waktu itu.
<i>"...malam ini, Tuhanku, Allah,</i>
<i>membunuh tuhan kalian (Barwiz) itu.</i>
<i>Mati raja kalian malam ini."</i>
Kata mereka,
<i>"Dari mana kau tahu itu, hai Muhammad?"</i>
<i>"Dari Tuhanku.</i>
<i>Kalian percaya, tidak percaya,</i>
<i>tunggu saja.</i>
<i>Buktikan sendiri."</i>
Kata mereka berdua,
<i>"Itu jawabanmu?"</i>
Kata Muhammad ﷺ,
<i>"Iya.</i>
<i>Sampaikan ini.</i>
<i>Sampaikan ini kepada Bazan."</i>
yang mengutus mereka.
Maka dua-duanya mengatakan,
<i>"Baiklah, masuk akal.</i>
<i>Ini kampungnya kecil,</i>
<i>nggak akan ke mana-mana."</i>
Jazirah Arab mereka anggap
pada saat itu
nggak ada apa-apa, gersang.
Nggak ada hasilnya
bagi mereka.
Dan tidak sulit untuk mengutus pasukan
mencari satu orang.
Dia pulang ke Bazan.
Tapi Bazan ini cerdas.
Maka keduanya mengatakan:
<i>"Jawabannya orang yang mengaku</i>
<i>Nabi itu (Muhammad) begini.</i>
<i>Katanya, tuhan kita, Kisra,</i>
<i>dibunuh oleh Tuhannya."</i>
Kata Bazan,
<i>"Baiklah, kita tunggu."</i>
Waktu itu kebetulan,
teman-teman sekalian,
informasi dari pusatnya...
Kisra, kerajaan Kisra,
Madain namanya,
itu untuk sampai ke tempatnya
Bazan dua bulan.
Jadi kalau ada kejadian,
instruksi apa dari pusat,
itu orang naik kuda, naik unta,
pasukan antar, dua bulan baru sampai.
Baru dijalankan instruksi.
Begitu.
Ada berita apa.
Kata Bazan,
<i>"Baik, kita tunggu."</i>
Kalau betul-betul ada
kejadian, betul, dicatat hari itu,
pada malam itu, hari apa,
mereka tunggu.
Subhanallah, dua bulan kemudian
betul-betul datang.
Dan beritanya seperti
yang Nabi ﷺ sampaikan,
bahwasanya Barwiz mati di
hari itu, di waktu itu, di malam itu.
Kata Bazan:
<i>"Sungguh tidak ada yang bisa</i>
<i>mengucapkan ini kecuali seorang Nabi."</i>
Maka Bazan pun
akhirnya beriman.
Dan Bazan termasuk,
teman-teman sekalian,
raja, rahimahullah,
yang meninggal dalam keadaan Islam,
tapi banyak umat Islam yang tidak tahu.
Dia adalah gubernur.
Kalau di Jazirah Arab dikenal
dengan raja sebenarnya.
Tapi dia gubernur yang paling
besar, gubernur terbesarnya Kisra.
Kemudian surat yang dikirim
oleh Nabi ﷺ selanjutnya kepada...
al-Mundzir bin Sawi.
al-Mundzir bin Sawi ini
penguasa Bahrain.
Bahrain tentu bukan
negeri Bahrain yang sekarang, ya.
Bahrain dulu wilayah
yang cukup luas.
Memang di pinggiran Jazirah Arab.
Lebih dekat kepada Teluk,
tapi wilayahnya cukup luas.
Mundzir bin Sawi ini...
diutus kepadanya oleh Nabi ﷺ,
Al-‘Ala bin Hadrami رضي الله عنه.
Isi surat Nabi ﷺ serupa
dengan isi surat yang ke Kisra.
Mundzir cerdas pada saat itu,
dan dia tidak spontan menolak.
Tapi ia banyak bertanya kepada
Al-‘Ala رضي الله عنه
yang menjawab semua
pertanyaannya.
Al-‘Ala juga memberitakan
bahwasanya Najasyi...
Najasyi maksudnya adalah Ashham—yang
sudah masuk Islam, yang sudah meninggal.
Najasyi masuk Islam,
ceritanya begini, begini, begini.
Diutus ke sana oleh Nabi ﷺ, seorang
sahabatnya bernama Ja’far bin Abi Thalib.
Dan masuk Islamlah dia,
meninggal dalam keadaan Islam.
Nabi ﷺ sempat shalati jenazahnya.
Bazan—Bazan ini terkenal.
Bazan, walaupun dia
gubernur Kisra,
tapi wilayahnya lebih luas
daripada wilayahnya...
Mundzir.
Jadi Mundzir bilang,
<i>"Najasyi sudah masuk Islam.</i>
<i>Bazan sudah masuk Islam."</i>
Bahkan disebutkan
oleh Al-‘Ala al-Hadrami,
<i>“Dan suku fulan. Suku fulan. Suku fulan.”</i>
Di Jazirah Arab yang diketahui oleh
Mundzir ini, dia tahu suku-suku itu.
Termasuk kaum Yahudi yang ada di
Khaibar sudah dikalahkan semuanya.
Tinggal yang belum ditaklukkan
hanya Mekkah saja.
Maka setelah memastikan semua itu,
Mundzir pun akhirnya masuk Islam.
Mundzir bin Sawi
masuk Islam,
dan mengajak seluruh
warganya masuk Islam.
Dan bagi yang tidak mau masuk Islam,
maka dipungut darinya jizyah.
Mundzir yang ambil jizyah,
dikirim kepada Nabi عليه الصلاة والسلام.
Berarti sudah ada
dua nama yang...
memimpin pada saat itu
masuk Islam:
Bazan dan Mundzir bin Sawi,
rahimahumullah.
Kita tentu—sebenarnya lebih tepat
kita bilang rahimahullah,
karena tidak sempat bertemu dengan
Nabi عليه الصلاة والسلام.
Karena definisi sahabat,
yang biasa kita doakan رضي الله عنه
—walaupun ini doa bisa kita
ucapkan kepada siapa pun, ya.
Tapi termasuk mendudukkan posisi
para sahabat pada tempat yang lebih mulia
daripada orang lain...
adalah kita mengatakan,
"رضي الله عنهم."
Karena mereka tidak pernah
melihat Nabi ﷺ,
sementara definisi sahabat adalah:
harus melihat Nabi,
harus melihat Nabi dengan mata kepala,
beriman pada beliau,
dan juga meninggal
dalam keyakinan...
Islam.
Baru dikatakan seorang sahabat.
Surat selanjutnya adalah
surat Nabi ﷺ ke...
penguasa sebagian
wilayah Yaman.
Waktu itu Yaman
terbagi dua.
Sebagiannya dikuasai
oleh Al-Harith Al-Humairi.
Nabi ﷺ mengutus ke sana
Muhajir bin Umayyah al-Makhzumi.
Muhajir bin Umayyah al-Makhzumi
رضي الله عنه ini
diutus kepada Harith Al-Humairi.
Jadi Al-Humairi ini nisbat kepada sukunya,
sukunya bernama Himyar, suku Himyar.
Pada saat mendengar
surat Nabi ﷺ tiba kepadanya,
belum sempat dibaca, dia tolak.
Langsung dia tolak karena dia
tahu Madinah bagi dia juga kecil.
<i>"Sudah lah, nggak usah beriman."</i>
Selesai.
Disuruh pulang saja
utusan Nabi ﷺ.
Belum baca suratnya,
sudah ditolak.
Tentu waktu itu Yaman,
teman-teman sekalian, dibagi dua, ya.
Setengahnya dikuasai oleh Persia,
setengahnya dikuasai oleh orang ini.
Surat selanjutnya datang
kepada Haudzah bin Ali Al-Hanafi.
Haudzah bin Ali Al-Hanafi,
ini penguasa wilayah Yamamah.
Nabi ﷺ mengutus ke
Haudzah bin Ali Al-Hanafi ini
seorang sahabat beliau,
namanya Sulayk bin Amr.
Sulayk bin Amr رضي الله عنه.
Dan Haudzah ini juga
termasuk suku Arab...
yang memiliki kurang lebih
100.000 personel perang.
Jadi itu memang militernya
sejumlah itu.
Surat Nabi ﷺ dibaca di hadapannya,
maka Haudzah tertarik
dan ia sudah mendengar juga mengumpulkan
informasi perkembangan Islam.
Maka ia berkata kepada Sulayk
sebagai respon dari surat Nabi ﷺ:
<i>“Sampaikan kepada Muhammad</i>
<i>kalau aku akan beriman pada risalahnya,</i>
<i>demikian pula seluruh kaumku.</i>
<i>Tapi ada syaratnya.</i>
<i>Syaratnya adalah kalau</i>
<i>Muhammad wafat,</i>
<i>aku jadi penggantinya.”</i>
Pada saat surat atau balasan tadi,
berita tersebut tiba di Nabi ﷺ di Madinah,
maka kata Nabi ﷺ,
<i>“Semoga Allah melaknatnya.</i>
<i>Dia hanya mau beriman karena</i>
<i>kekuasaan saja.”</i>
Nabi ﷺ lalu berdoa:
<i>“Ya Allah, cukupkanlah aku dari</i>
<i>keburukan orang ini (Haudzah).”</i>
Maka Haudzah pun meninggal tiga hari setelah
doa Nabi عليه الصلاة والسلام.
Dan ini tentu, teman-teman
sekalian, ada satu sebab, ya.
Bukan begitu saja, ya.
Haudzah tadinya memang...
diberitakan kepada Nabi ﷺ
melalui wahyu kalau orang ini...
sebenarnya hanya ingin
menunggangi ketenaran Islam.
Karena dia sudah dengar...
surat-surat Nabi ﷺ ini semua
tiba ke Heraklius, tiba ke sana.
Dia dengar rupanya.
Maka dia mau tunggangi
ketenaran itu.
Maka dia tertulis dari Nabi ﷺ:
<i>“Kalau saya akan beriman dengan kaum saya,</i>
<i>tapi berikan kepada saya...</i>
<i>kedudukan.</i>
<i>Setelah kau meninggal, hai Muhammad,</i>
<i>saya jadi pemimpin.”</i>
Maksudnya, <i>"Nobatkan juga saya</i>
<i>jadi Nabi, jadi Raja, terserah.”</i>
Maka Nabi ﷺ pun akhirnya...
mendoakan dia keburukan.
Karena dia sudah niat juga pada saat itu
kalau Nabi ﷺ tidak terima permintaannya,
utusan Nabi ﷺ pulang
dalam beberapa hari,
tiga atau empat hari,
dia akan menyerang Madinah.
Maka Nabi ﷺ mendoakan supaya Allah
mengambil alih Haudzah.
Maka betul-betul tiga hari kemudian
dia meninggal dunia.
Kemudian selanjutnya surat Nabi ﷺ
kepada penguasa Oman, wilayah Oman,
yang bernama Jaifar dan Abdu.
Jaifar dan Abdu.
Jaifar dan Abdu ini diutus kepadanya
oleh Nabi ﷺ Amr bin Ash رضي الله عنه.
Maaf, bukan Jaifar bin Abdu, ya.
Jaifar dan Abdu.
Adik-kakak ini.
Jaifar dan Abdu.
Diutus kepada mereka berdua
adalah Amr bin Ash رضي الله عنه.
Dan keduanya ini...
anak daripada
Julandi, namanya Julandi.
Jadi, Jaifar dan Abdu
bin Julandi.
Amr bin Ash, di masa Jahiliyah,
رضي الله عنه,
di Mekah memang
dia seorang duta...
dan sudah terbiasa menghadapi para...
utusan-utusan.
Kalau teman-teman masih ingat bagaimana
dia pada saat ingin menarik Muslimin
agar bisa pulang
ke Mekkah,
dia memberikan hadiah-hadiah...
kepada para pendeta,
kepada Najasyi.
Tapi dia tentu tidak berhasil
waktu itu, ya.
Maka dia tahu strategi bagaimana
menghadapi para pemimpin.
Amr tidak langsung menyampaikan
surat Nabi ﷺ kepada Jaifar dan Abdu,
tapi ia tinggal beberapa hari dan
berbaur dengan masyarakat Oman...
sambil mengumpulkan informasi
detail tentang kedua Raja Oman tersebut:
sifat-sifat keduanya,
kesukaan keduanya,
hal-hal yang dibenci,
dan yang lainnya.
Setelah memastikan semua
informasi sudah lengkap,
maka Amr bertanya kepada
masyarakat Oman,
<i>“Siapa di antara kedua raja ini...</i>
<i>yang paling baik?”</i>
Artinya, yang mungkin mudah
untuk bisa diberikan masukan.
Maka mereka menjawab,
<i>“Abdu.”</i>
Dari dua adik-kakak ini ternyata
—Jaifar dan Abdu—
Abdu yang lebih baik,
lebih lembut.
Maka Amr pun memulai mendatangi Abdu
dan membacakan surat Nabi ﷺ.
Dan bila ia beriman, maka seluruh kerajaan
dan kekuasaannya tetap.
Hanya saja hukum yang
diterapkan adalah hukum Islam.
Kerajaan tetap, semua tetap,
tapi Islam yang diterapkan.
Abdu waktu itu sempat sangat marah
dengan surat Nabi ﷺ dan berkata:
<i>“Berani benar dia</i>
<i>mengancam kerajaanku!</i>
<i>Apa yang bisa dia lakukan untuk</i>
<i>mengalahkan kekuasaanku?”</i>
Maka raja.
Dia merasa kenapa harus tunduk dengan
seseorang yang tidak dikenal?
Amr bin Ash waktu itu
sangat cerdas.
Dia mengatakan...
Dia tahu bahwasannya menghadapi
orang seperti Abdu
—emosional, punya kerajaan,
butuh kejelasan,
maka Amr berkata:
<i>“Bila surat ini tidak bermanfaat bagimu,</i>
<i>maka kami tidak perlu.</i>
<i>Karena telah masuk di bawah</i>
<i>hukum Nabi kami banyak raja-raja.</i>
<i>Di antaranya Najasyi.”</i>
Jadi ternyata...
Oman ini...
sering kali interaksi masalah bisnis,
masalah peradaban, masalah politik,
itu selalu patokannya Najasyi.
Ada beberapa wilayah ikuti Persia,
ada beberapa wilayah ikuti Romawi,
tapi ini nggak,
ini ikuti Najasyi.
Maka kata Amr bin Ash:
<i>“Kalau Anda tidak bermanfaat,</i>
<i>surat ini, tidak masalah.</i>
<i>Tapi perlu Anda tahu, kalau yang</i>
<i>sudah ikut pada Nabi kami adalah Najasyi.”</i>
Disebutkan raja yang dia kagumi, gitu.
Abdu kaget,
<i>“Najasyi masuk Islam?”</i>
Kata Amr,
<i>“Iya.”</i>
Abdu bertanya lagi kepada Amr:
<i>“Engkau berdusta!”</i>
Kata Amr:
<i>“Saat Najasyi masuk Islam,</i>
<i>aku lagi ada di sisinya.</i>
<i>Dan aku sendiri dulunya adalah</i>
<i>orang kafir kepada Muhammad.</i>
<i>Tapi aku masuk Islam justru karena</i>
<i>melihat Najasyi masuk Islam.”</i>
Amr lalu berkata setelah itu,
<i>“Bukan hanya Najasyi,</i>
<i>tapi Bazan pun</i>
<i>sudah masuk Islam.”</i>
Bazan juga termasuk orang yang
disegani di Jazirah Arab.
Abdu lebih kaget lagi, lalu berkata,
<i>“Bazan masuk Islam?</i>
<i>Bukankah Bazan penyembah api?”</i>
Kata Amr,
<i>“Iya.”</i>
Abdu bertanya lagi,
<i>“Lalu Kisra buat apa?</i>
<i>Bukankah Bazan di bawah hukumnya?”</i>
Kata Amr,
<i>“Kisra tidak berbuat apa-apa.</i>
<i>Bahkan tidak bisa berbuat apa-apa</i>
<i>karena dia sudah mati.”</i>
Abdu bertanya lagi,
<i>“Bagaimana dengan Kaisar Romawi, Heraklius?”</i>
Amr menjawab,
<i>“Ia tidak beriman dan juga tidak menolak.”</i>
Abdu tahu masalah Heraklius seperti
apa yang disampaikan oleh Amr tadi.
Maksudnya, Abdu sudah tahu
kalau Heraklius pernah beriman, nolak.
<i>"Ah, ini tidak beriman, tidak juga ini."</i>
Abdu lalu berkata:
<i>“Beri aku waktu untuk berpikir</i>
<i>beberapa hari.”</i>
Dalam beberapa hari tersebut,
Abdu berusaha menjelaskan
kepada saudaranya, Jaifar.
Ia berkata:
<i>“Lebih baik kita masuk Islam dan</i>
<i>kerajaan kita tetap jaya,</i>
<i>daripada kita dikalahkan dan</i>
<i>hilanglah semuanya.</i>
<i>Siapa yang bisa melawan raja-raja besar</i>
<i>yang telah menganut Islam?</i>
<i>Apalagi kerajaan dan</i>
<i>kekuasaan tetap di tangan kita.</i>
<i>Kita cuma mengucapkan syahadat...</i>
<i>terapkan hukumnya Muhammad,</i>
<i>kerajaan tetap seperti ini,</i>
<i>nggak ada yang berubah.”</i>
Abdu terus meyakinkan saudaranya sampai
akhirnya Jaifar menerima Islam.
Dan akhirnya keduanya masuk Islam
dan mengiklankan keislaman mereka.
Demikian pula seluruh masyarakat
Oman waktu itu masuk Islam.
Setelah Allah ﷻ
Yang Maha Mulia,
Amr bin Ash adalah penyebab
masuk Islamnya kedua raja tersebut
serta juga seluruh wilayah Oman.
Dan ini juga keutamaan
bagi dai-dai...
yang bersabar.
Dan dalam menyampaikan
dakwah butuh strategi.
Nggak boleh orang asal begitu saja.
Dia harus punya strategi
dalam menyampaikan dakwah.
Dia susun materinya,
dia menggunakan retorikanya,
dia memilih waktu dan tempat yang tepat.
Maka itu semua, teman-teman sekalian,
sangat membantu untuk dakwah.
Ada orang bisa dihadapi dengan
hanya satu hadits.
Ada orang dihadapi dengan
sepuluh hadits.
Ada orang dihadapi
mungkin dengan...
seratus hadits.
Wallahu a'lam.
Ada orang juga memang membangkang,
dasarnya tidak mau.
Dan Nabi ﷺ sudah mengajarkan bagaimana
menghadapi orang-orang ini,
terutama kita ambil pelajaran
dari para sahabat beliau,
رضوان الله عليهم.
dan bagaimana kejelian
dan kecerdasan Amr di sini...
berhasil mengatur strategi jitu untuk
menyampaikan dakwah.
Keduanya tetap jadi raja sampai
meninggal dunia.
Barulah Nabi ﷺ menentukan
gubernur di Oman.
Setelah keduanya meninggal,
barulah Nabi ﷺ tunjuk penggantinya.
Subhanallah, ini semua efek daripada
Kesepakatan Hudaibiyah.
Kalau kita review kembali,
teman-teman sekalian,
waktu sampai Kesepakatan Hudaibiyah,
jumlah umat Islam waktu itu masih
sangat sedikit sekali, sekitar 1.400 orang...
yang ikut bersama Nabi ﷺ waktu
itu, Kesepakatan Hudaibiyah, ya.
Waktu itu terjadi,
satu tahun tidak ada ribut sama Quraisy.
Penyebab utama dakwah terhalangi
sudah ditutup.
Kesepakatan satu tahun.
Satu tahun itu Nabi ﷺ gerilya.
Di antaranya mengalahkan
Yahudi Khaibar,
di antaranya mengirim surat-surat ini
sehingga tersebar sana-sini.
Dan spontanitas waktu itu sudah
ada raja-raja besar yang masuk Islam
sebagaimana yang kita
sudah sebutkan tadi.
Dan mereka punya pasukan.
Kalau mereka sudah masuk Islam,
Nabi ajak, mereka akan ikut berperang.
Otomatis itu.
Ini semua Kesepakatan Hudaibiyah
yang tadinya,
banyak sahabat-sahabat yang
menganggap Kesepakatan Hudaibiyah
adalah penghinaan untuk umat Islam,
termasuk Umar رضي الله عنه.
Pernah kita ceritakan,
masih ingat nggak?
Allahu a‘lam...
ingat atau enggak.
Baiklah.
Waktu itu Umar sempat...
mengatakan,
<i>“Ya Rasulullah, bukankah Quraisy salah?”</i>
<i>- “Benar.”</i>
<i>- “Bukankah kita benar?”</i>
<i>“Ya, benar.”</i>
<i>“Kenapa kita nggak perangi,</i>
<i>ya Rasulullah?</i>
<i>Kenapa kita hinakan diri kita?</i>
<i>Kenapa harus ada</i>
<i>akad-akad seperti ini?”</i>
Kan akadnya itu menyakitkan sekali.
Siapapun orang Mekkah yang
pergi ke Madinah,
harus dipulangkan.
Dan siapapun orang Madinah yang
pergi ke Mekkah, nggak boleh dipulangkan.
Itu, kan, menyakitkan sekali.
Sudah kita ceritakan
panjang lebar...
bagaimana cerita
Kesepakatan Hudaybiyah.
Tapi ini, Subhanallah,
luar biasa. ya.
Pada saat dakwah itu
tidak diganggu,
maka akan tersebar luar biasa, gitu.
Pengganggu-pengganggu ini banyak,
sering melakukan hal-hal yang buruk.
Perdamaian dengan Quraisy,
yang merupakan musuh utama Islam,
membuka semua pintu dakwah.
Hampir seluruh wilayah dunia menerima Islam
bahkan tanpa peperangan, dengan surat saja.
Tadi bayangkan, wilayah Oman
masuk Islam semuanya.
Wilayahnya Bazan masuk Islam semuanya.
Walaupun ada yang tolak,
sudah umum itu.
Kita kalau berdakwah,
teman-teman,
ada yang terima, ada yang tolak,
itu sudah umum.
Rasulullah ﷺ saja begitu,
apalagi kita, gitu.
Walaupun antum hafal 30 juz Al-Qur’an,
antum punya retorika yang sangat luar biasa,
tetap ada yang nolak.
Sudah umum itu.
Tapi kalau antum dalam keadaan benar,
berarti yang nolak itu salah.
Pelajaran penting yang bisa kita ambil dari
surat-surat Nabi عليه الصلاة والسلام.
Yang pertama,
teman-teman sekalian,
agama Islam pasti menang,
walau tidak ada yang
meyakininya.
Karena agama ini dari
Sang Pencipta.
Bila Anda tidak beriman dan
mengamalkannya,
maka Sang Pencipta akan mendatangkan
dan menciptakan makhluk-Nya
yang akan beriman dan
mengamalkan syariat-Nya.
Itu pasti.
Jadi sebenarnya dengan berimannya kita,
teman-teman sekalian,
yang beruntung kitanya.
Banyak orang, teman-teman,
tidak khusyuk dalam shalat.
Tidak mau bersedekah,
kecuali kalau nanti kalau memang ada
dorongan besar dalam jiwanya.
Tidak mau berdoa, kecuali kalau
musibah sudah datang.
Ini semua kenapa terjadi?
Karena dia belum yakin dengan agama ini.
Kalau yakin sama agama ini,
teman-teman,
ada orang, tidak ada orang,
tetap dia shalat.
Tetap dia sedekah.
Tetap dia baca Qur’an.
Dia tahu kebutuhannya.
Banyak orang juga pikir
Allah, Sang Pencipta,
butuh dengan ibadah kita.
Allah nggak butuh.
Allah nggak butuh dengan shalat antum,
nggak butuh dengan sedekah antum,
nggak butuh dengan
sembelihan antum.
Allah ﷻ katakan, misalnya dalam masalah
sembelihan dalam ayat Al-Qur’an
—أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ—
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
(QS. Al-Hajj [22]:37)
Allah nggak pernah butuh dagingnya
dan darahnya sembelihan kalian,
tapi Allah mau lihat
ketakwaan kalian.
Allah nggak butuh.
Kenapa orang kalau masuk masjid
ada orang tidak khusyu' dalam shalat?
Karena dia pikir Allah butuh.
Cuma kayak setor kewajiban, selesai.
Nggak, Allah nggak butuh.
Biar kita shalat khusyu',
dapat 100% pahala dan semua shalat kita,
bahkan umur kita 1.000 tahun,
tidak ada gunanya...
kecuali untuk dia sendiri.
Dalam hadits Qudsi riwayat Bukhari,
kata Nabi ﷺ, Allah berfirman:
<i>“Wahai anak Adam, semua amal-amal yang Saya</i>
<i>perintahkan kepadamu sebenarnya adalah...</i>
<i>hal yang Saya akan kembalikan</i>
<i>kepadamu juga.”</i>
Akan diberikan.
Allah ﷻ yang memberikan
kepada kita.
Allah ciptakan kita.
Allah ciptakan dunia.
Ciptakan amal perbuatan kita,
amal buruk kita untuk menguji kita.
Allah ciptakan
surga dan neraka.
Allah yang mengatur semuanya.
Jadi sebenarnya tidak ada
gunanya buat Allah ﷻ,
tapi berguna buat kita.
Yang kedua...
Jadi kalau kita jauhi agama ini,
poin pertama tentunya,
kita sendiri yang rugi.
Karena agama ini pasti akan menang.
Tidak akan pernah luluh agama Islam,
karena ini agama kebenaran.
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُۗ
(QS. Ali Imran [3]:19)
Yang kedua,
kecerdasan dan kejelian pemimpin
dalam mengambil keputusan.
Kapan harus perang,
kapan harus damai,
kapan menyerang,
kapan menahan diri.
Yang diikuti dengan pemahaman yang
mendalam pada syariat Allah Maha Sempurna
dan bertawakal kepada-Nya,
seperti Nabi ﷺ melakukan itu.
Waktu diajak damai Hudaibiyah,
oke, diambil.
Waktu di Perang Khaibar juga,
kalau masih ingat,
ada beberapa benteng Yahudi selain
di Khaibar yang sempat minta damai.
Nabi ﷺ tidak perangi mereka.
Bukan berarti karena sudah kuat
pasukan lalu diperangi semua, nggak.
Oke, mau damai—damai,
tapi dipantau oleh Nabi ﷺ.
Dipantau.
Walaupun nanti di zaman Umar bin Khattab,
karena ada yang berkhianat,
maka diusir oleh Umar bin Khattab
dari Jazirah Arab.
Tapi di sini perlu seorang pemimpin
punya strategi.
Dimulai dari pemimpin
rumah tangga misalnya.
Seorang laki-laki juga
harus begitu.
Punya strategi dalam
rumah tangganya,
bagaimana dia tahu sumber
pendapatannya dari mana,
kapan dia menasehati istrinya,
kapan dia menasehati anaknya.
Dia berikan tempat dimana yang layak,
strategis, untuk mereka tinggal,
yang mereka nyaman, sehingga dia juga
nyaman dalam bekerja, seterusnya.
Kemudian juga pemimpin lembaga.
Bagaimana dia menaungi beberapa
orang pegawai.
Pemimpin perusahaan.
Lebih tinggi lagi pemimpin negara,
bagaimana dia...
mengatur strategi-strategi yang
akhirnya membuat...
seluruh masyarakatnya akan mendapatkan
haknya, atau orang di bawah naungannya,
dan dia juga lepas dari
tanggung jawab...
pada hari kiamat.
Yang ketiga, setiap orang harus jeli
dalam melihat dan menerima kebenaran.
Dan kebenaran itu hanya satu,
tidak ada lagi yang lain,
yang berasal dari Sang Pencipta,
Allah, Yang Maha Agung dan Maha Mulia.
Setiap dari Allah Yang Maha Suci
tidak akan ada kesalahan dan pasti benar.
Maka segeralah terima dan amalkan.
Jadi jangan ragu,
teman-teman sekalian.
Ada orang,
Subhanallah,
mau terima agama nanti kalau sudah
banyak orang yang ikut.
Kalau tidak ada orang yang
ikut, masih sedikit,
<i>“Sudahlah, tunggu saja dulu.”</i>
Ini kerugian buat dia.
Kalau dia meninggal sebelum istiqamah gimana?
Maka jangan tunggu,
teman-teman.
Kalau benar ya sudah,
terima, amalkan.
Sudah berapa kali kita dengarkan hadits
tentang shalat malam, tentang sedekah,
tentang dhuha, tentang apalah,
tapi berapa banyak orang
yang mengamalkan?
Dihitung jari semua.
Kenapa nggak diamalkan?
Apa masalahnya?
Nggak jelas, gitu, kan.
Seakan-akan dia cuma:
<i>“Ya sudahlah, saya sudah dengar,”</i>
tahu kebenaran, tapi nggak mau ikutin.
Ini kata Ibn Qayyim rahimahullah,
ibaratnya seperti orang yang...
lagi dikejar oleh binatang buas,
kemudian dia melarikan diri.
Begitu tiba di benteng,
ada tempat yang dia bisa masuk,
dia bisa masuk pintu gerbang,
lalu dia bisa masuk berlindung, tapi nggak.
Dia berdiri di depan benteng itu,
lalu dia mengatakan:
<i>“Aku berlindung dengan benteng ini.”</i>
Cuma ucapan.
Ya dimakanlah dia sama
harimau tersebut.
Karena tidak berlindung
sebenarnya, dia cuma ucapkan:
<i>“Ya, saya sudah tahu itu benar,”</i>
tapi nggak diamalkan.
Kan ini sama saja bohong berarti, ya.
Saya katakan di sini,
dipastikan saat meninggal dunia,
maka janji Allah Yang Maha Suci
tidak akan luput,
sebagaimana Allah ﷻ sudah sebutkan
dalam banyak ayat Al-Qur’an.
Artinya orang beriman pasti
akan menerima kebaikan.
Orang buruk, kafir, fasiq
akan dihukum.
Yang keempat,
dan ini tentunya yang terakhir
dalam poin kita dalam pelajaran ini.
setiap da’i...
atau utusan pemimpin Muslim
harus bijak dan jeli,
mempelajari situasi dan keadaan,
sehingga sasaran dakwah
dan tujuan utamanya tercapai, ya.
Jadi dalam Islam yang
penting tujuan kita tercapai.
Nabi ﷺ bersabda:
<i>"Semoga Allah merahmati seorang hamba</i>
<i>yang berbicara dengan orang lain</i>
<i>sesuai dengan kondisi dan</i>
<i>keadaan akal mereka."</i>
Jadi, yang penting target kita tercapai,
bagaimana target itu tercapai.
Misalnya, kita tidak perlu
bertengkar sama orang lain.
Ada orang lagi ribut,
misalnya masalah suami istri ribut
di dalam rumah tangga.
Kalau kita diam
bukan berarti kita bodoh.
Diamnya kita melihat,
<i>"Mana, strategi apa yang harus saya lakukan</i>
<i>supaya bisa memperbaikinya?"</i>
Mungkin itu lebih baik.
Atau orang lagi bertengkar ditinggalkan,
untuk mengatur sebuah strategi supaya bisa...
memperbaiki keadaan.
Atau, atau, atau, segalanya...
ini semua adalah
poin penting untuk
memikirkan bagaimana mengatur sebuah
strategi supaya bisa semuanya berjalan.
Itu bagus sekali, ya.
Termasuk kita keluar rumah,
misalnya sederhana,
mau pergi satu tempat, kita lagi pikirkan
jalan mana yang terdekat nih,
<i>"Oh, jalan sini."</i>
Itu sebuah strategi yang bagus sekali.
Jadi sangat bagus.
Kapan waktu, kapan tempat, berteman
sama siapa—semua harus jeli sekali.
Terutama dalam masalah dakwah ini
sangat penting karena berpengaruh dalam
penyebaran agama Allah ﷻ.
Allahu a'lam.
Ini bahasan kita, insyaAllah,
pada malam ini
berhubungan dengan masalah surat-surat Nabi ﷺ
kepada pemimpin-pemimpin dunia.
Dan insya Allah,
kalau saya mau kasih waktu, kalau memang
ada yang mau bertanya, sekitar 10–15 menit,
sesuai dengan tema.
Kalau tidak ada, maka insya Allah kita akan
lanjutkan setelah materi besok
kita akan buka pertanyaan.
Besok, insya Allah,
kita akan mulai agak pagi.
Jam berapa?
Jam 9, ya?
Insya Allah kita akan mulai dan kita akan
selesai nanti sampai dzuhur,
insyaAllah biidznillah.
Begitu saja, Insya Allah.
kita akan bertemu lagi
pada pertemuan kita besok.
Mungkin begitu saja, insya Allah.
Kita berdoa kepada Allah ﷻ,
semoga majelis kita diberkahi oleh-Nya,
dan dijadikan sebagai tambahan
amal kita pada hari kiamat.
Dan semoga seluruh amal yang pernah
kita kerjakan dan akan kita kerjakan
psampai menjelang ajal nanti diterima dengan kemahamuran Allah dengan pahala yang sempurna.
Dan semoga semua dosa yang pernah kita kerjakan,
sekecil sampai sebesar apa pun,
juga diganti dengan kemahamuran Allah menjadi pahala.
Dan semoga Indonesia menjadi
negara yang aman, tenteram, damai.
Seluruh umat Islam secara khusus
di bawah naungan ukhuwah Islamiyah.
Dan juga seluruh ibadah mereka akan
kembali pada wahyu: Al-Qur’an dan Sunnah.
Serta seluruh pemimpin negara ini diberikan
hidayah oleh Allah agar menerapkan...
seluruh tanggung jawab dan
menjalankan tanggung jawab mereka
sesuai dengan yang diperintahkan
oleh Allah dan Rasul-Nya,
sehingga mereka lepas dari
tanggung jawab pada hari kiamat.
Dan seluruh penduduk Indonesia, secara khusus
kaum Muslimin, akan menerima hak-hak mereka.
Dan semoga Indonesia menjadi
contoh bagi negara-negara yang lain.
Dan siapapun yang menginginkan keburukan bagi
umat Islam dan kaum Muslimin
serta negara Indonesia,
semoga Allah ﷻ kembalikan tipu daya mereka
kepada mereka sendiri.
Dan juga semoga negara ini
akan selalu aman, tenteram, damai.
Dan juga seluruh orang-orang
non-muslim diberikan hidayah kepada Islam.
Dan kita tidak pernah lupa doakan
saudara-saudara kita di Palestina, di Suriah,
di Yaman, di Irak, di Myanmar,
di Ahsok (Xinjiang),
di mana pun mereka yang
sedang tertindas.
Semoga Allah ikhlaskan niat mereka,
terima para syuhada mereka,
muliakan Islam di tangan mereka
dan tangan kita semua.
Dan semoga Allah partisipasikan kita
bersama mereka di pahala,
baik dengan doa, harta,
juga dengan jiwa kita.
Dan semoga Allah dengan kemahamurahan-Nya
menyatukan kita semua di surga Firdaus-Nya
tanpa hisab sebagaimana kita
di majelis ilmu yang mulia ini.
Kalau benar dari Allah,
kalau ada salah, pasti dari saya.
Mohon dimaafkan.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.