Deadly Sins #65 – Debate, Arguing, Objection, and Arguing - Khalid Basalamah
j8GGCtm2mhc • 2017-11-22
Transcript preview
Open
Kind: captions Language: id Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah selalu kita memuji Allah yang kita yakin sedang melihat kita semuanya dan juga selalu mendengar, mengetahui, dan juga akan menghisab semua apa yang kita lakukan. Dia telah memudahkan segala urusan kita dengan kalimat ini. Alhamdulillah. Maka selalulah ucapkan kalimat ini. Dan juga kita panjatkan salam hormat kita kepada manusia yang telah membawa kepada kita syariat Allah sehingga kita punya panduan hidup tahu mana halal dan haram. Dan sang pencipta Allah telah memerintahkan kita sebagai ibadah untuk kita semua dalam mengucapkan salam hormat kepada manusia terbaik ini. Maka sangat wajar kalau kita selalu membacakan selawat dan taslim kepada Nabi Besar Muhammad sallallahu ala alihi wasahbihi wasallam. Seperti biasa pada Rabu malam ini kita melanjutkan bahasan dosa-dosa besar dan semoga Allah berkahi malam ini dosa besar ke-65 masalah jidal atau berdebat, berbantah-bantahan dan juga bertengkar. Sebelumnya kita sudah membahas dosa besar ke-64 dan Allah sudah berkah alhamdulillah minum menggunakan wadah emas dan perak. Untuk teman-teman sekalian, dalam kehidupan sosial kita berinteraksi dengan makhluk, kita berinteraksi sama manusia, berinteraksi dengan hewan-hewan, berinteraksi dengan lingkungan, tumbuh-tumbuhan, bahkan mungkin benda-benda yang kita anggap mati seperti batu mungkin ya. Padahal sebenarnya itu semua adalah makhluknya Allah. Ada adab dan tata kramanya. Ada adab dan tata keramanya. Tapi kalau kita ingin membahas ini tentu panjang sekali. Ada khusus bahasan saya di YouTube dengan izin Allah tentunya membahas kitab Minhajil Muslim bab adab dan bab adab banyak sekali. Adab sama manusia, adab kepada hewan-hewan, adab kepada tumbuh-tumbuhan, adab kepada makhluknya Allah secara umum. Kita sempitkan lingkup bahasan kita adalah adab bermuamalah dengan manusia. Dalam bermuamalah dengan manusia yang memang dasarnya Allah berikan kepadanya akal pikiran, hati nurani, energi di tubuhnya, akal pikiran yang dia bisa gunakan untuk mengembangkan ide-idenya, maka tentu Allah Subhanahu wa taala perkaya dengan ragam macam ide, ragam macam ee perasaan ya. Dan ini tidak mungkin seketika bisa bersatu. Dan satu-satunya yang bisa menyatukan kita dalam satu pemahaman hanya masalah keimanan saja. Karena tentu mungkin saya pengin makan makanan A, mungkin yang satu teman saya ingin makan makanan B. Mungkin saya tidur di tempat A, mungkin dia ingin tidur di tempat B. Sesuatu yang wajar saya memilih pakaian A, dia memilih pakaian B. Adalahnya ragam ini adalah salah satu keajaiban penciptaan sang pencipta Allah. Dan yang bisa menyatukan kita adalah agama. Agama mengatakan halal ikuti, haram tinggalkan. Seperti itulah. Sehingga keragaman ini bisa disatukan dalam konsep syariat. Tetapi teman-teman sekalian, dalam bermuamalah dengan manusia ada hal yang sangat dilarang dalam agama Islam. Tentu banyak yang dilarang, tapi salah satunya ini adalah berdebat, berbantah-bantahan dan bertengkar. Ini sama sekali tidak dibenarkan. Di dalam Islam tidak boleh bertengkar. Kalau mau menunjukkan keberanian, suara yang keras, keterampilan dalam bela diri, di kanca peperangan, kanca jihad, silakan tunjukkan. Tapi sama istri, sama anak, sama teman, sama orang tua bukan tempatnya. Ini seor seorang muslim tidak pernah mengenal masalah itu. Artinya jadi tidak membutuhkan. Kalau ada orang mengajak kita bertengkar atau berdebat dengan lisannya, tinggalkan saja biar dia bertengkar dengan tembok ya. Dia habisin kata-katanya silakan atau sama angin, sama pohon biarin aja. Tidak perlu kita ajak berdebat. Tentu di sini tidak masuk di dalam bahasan kita kalau seandainya seseorang sedang menyampaikan argumen masing-masing untuk mencari kebenaran berbeda. Misal kita sedang membahas sebuah tema. Tema ini memang membutuhkan diskusi. Maka diskusi ini tujuannya misalnya saya mengumpulkan beberapa hujah atau argumentasi. Teman saya juga ngumpulin untuk kita mencari titik temuhnya. Tapi biasanya ini tidak terjadi perdebatan karena hanya akan menyampaikan ini loh yang saya temukan di kitab ini. Oh, inilah yang saya temukan di sini. Lalu sama-sama mempelajarinya lalu mencari titik temunya. Itu oke. Tetapi teman-teman sekalian dilarang di sini adalah berdebat yang hal yang kosong. Ada orang kadang-kadang berdebat dengan istrinya hanya karena pilih rumah makan yang mana. Ribut di mobil akhirnya enggak jadi makan gara-gara itu. Hah, apa gunanya? Hah? Terjadi kan ada orang mungkin berdebat sama temannya atau ribut hanya karena masalah temannya ingin pergi ke tempat A, dia pengin ke tempat B atau dia ribut dengan anaknya karena anaknya hanya ingin melakukan perbuatan A tapi dia melarangnya padahal sebenarnya masih bisa toleransi. Ini yang dimaksud di sini tidak ada gunanya untuk berdebat. Bahkan dalam Islam kita tahu kita diperintahkan untuk mendahulukan orang lain dari diri kita. Hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang umum riwayat Bukhari Muslim. La yukminu ahadukum hatta yuhibaki ma yuhibsi. Tidak akan sempurna iman seseorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai buat dirinya sendiri. Bahkan kita dalam Islam ada namanya ada sebuah poin namanya ichar. Iar ini yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an tentang sifatnya orang-orang ansar di Madinah. Azubillahiminasyaitanirrajim. Wairuna ala anfusim w bihim khaas. Mereka mengitar diri mereka. ISAR artinya mendahulukan orang lain walaupun dia membutuhkan. Ya, seperti misalnya orang-orang ansar. Pernah ada satu orang ansar waktu itu Nabi sallallahu alaihi wasallam menyambut Muhajirin hijrah dari Makkah lalu menyuruh ee maksud saya Muhajirin dikumpulin di Madinah karena mereka sudah hijrah sebelum Nabi sallallahu alaihi wasallam. Lalu Nabi tunjuk orang-orang Ansar, "Siapa yang mau menjadikan saudaranya muslim ini muhajir jadi tamunya." Maka masing-masing memilih ada satu muhajir belum belum ada yang ee menawarkan diri karena masing-masing sudah menaruh tamu di rumahnya. Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan, "Siapa yang menjadikan ini sebagai tamunya?" Orang Anshar ini miskin sekali dia, tapi dia enggak mau kehilangan pahala. Dia mengatakan, "Saya Rasulullah." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Bawalah ke rumahmu." Dia bawa ke rumahnya sambil ngobrol di jalan segala macam. Begitu tiba di rumah tamunya duduk di ruang tamu. Dia bilang sama istrinya, "Ada makanan enggak?" Kata istrinya, "Enggak ada. Tinggal makanan bayi kita ada." Bayinya ada makanan ee apa? Tepung gandum yang halus sekali dicampur air biasanya dengan garam untuk diberikan makan bayi pada zaman itu. Dia bilang, "Jikal itu enggak ada lagi." Itu pun satu porsi. Saya belum makan juga tidak ada makanan yang bisa saya siapkan karena miskin memang enggak ada makanan. Dia bilang, "Enggak masalah. buatin makanan bayi itu. Hidangkan buat tamu. Terus kita padamkan lampu kita padamkan. Mereka pakai obor pada saat padamkan supaya mereka tahu. Tamu ini tahu kalau kita sudah makan dan kita akan tidur. Dibuatlah hal tersebut kemudian dihidangkan kepada tamu. Tamu biasanya tentu malu makan kalau ada tuan rumahnya apalagi dia tidak kenal. Ya, ini baru kenalan tadi. Maka dilakukan hal tersebut. Dia naik sama istrinya masuk. Maksudnya naik lantai dua rumahnya lalu dia tidur. Dan dia seakan-akan tidur sama istri an sampai anaknya pun menangis. berusaha untuk dikecilkan suara itu supaya tamunya enggak dengar. Tamunya pikir ada makanan, dia makan terus dia tidur. Besok subuh datanglah sahabat ini yang ansar ke ke Masjid Nabawi. Lalu Nabi mengatakan, "Ketahuilah Allah tahu perbuatan kalian semalam dan Allah kagum dengan perbuatanmu dan istrimu." Artinya Allah Subhanahu wa taala akan berikan pahala yang besar. Tapi ada isar. Isa artinya mendahulukan diri dari orang lain. Kalau misalnya ada sesuatu yang sedang kita sampaikan kepada orang lain, lalu memang dia argumennya lebih kuat, memang lebih benar, kita berbesar diri untuk menerima. Di situlah puncak ya ketawaduan seseorang, kerendahan hatinya dia. Kalau temannya benar, anaknya pun benar yang disampaikan, istrinya pun benar, dia bisa terima tidak terbo dengan ego. Salah ya? Saya salah. Itu orang mukmin begitu. Bukan dia pertahankan kesalahannya. Imam Syafi'i rahimahullah pernah melakukan diskusi dengan seseorang saling menyampaikan argumen. Pada saat Imam Syafi'i melihat orang itu memerah wajahnya karena dia menyampaikan argumen terus. Imam Syafi'i mengatakan, "Tapi ada begini, tapi ada begini." Rupanya dia merasa tidak nyaman kalau didebati sama Imam Syafi'i. Imam Syafi'i lalu menutup majelisnya sambil mengatakan, "Semoga saja Allah Subhanahu wa taala menyatukan kita di dunia ini. Begitu juga disatukan di akhirat dalam persaudaraan islamiah." Lalu Imam Syafi'i meninggalkannya, gitu kan. Artinya memang kalau memang kita sudah sampai pada tingkat tidak ada gunanya ya tinggalkan dan kita harus bisa menerima kebenaran teman-teman sekalian ya. Jadi jangan buka pintu pertengkaran ini. Saya sudah pernah bilang semua kamus-kamus yang menyusahkan hidup antum suka bertengkar, suka marah, putus asa, merasa diri sudah terlambat, enggak bakal bisa maju. Ini semua enggak ada di kamus kita nih. Hapus sebagai seorang muslim. Saya bisa, saya mampu, belum terlambat. Ya, tidak ada kata-kata kalah bagi seorang muslim ya. Tidak butuh dia mengalahkan saudaranya muslim. Bahkan dia mengalah, dia itar dirinya itu sebuah ibadah di dalam agama Islam. Jadi yang dibahas oleh Imamzabi ee rahimahullah tentang masalah malam dosa besar 65 malam kita ini adalah tentang masalah bahayanya ya atau efek daripada orang-orang yang berdebat dan bukan tujuannya mencari kebenaran, bukan diskusi ilmiah tapi untuk ribut. Ini bahaya sekali. Seorang muslim harus tahu adabnya dia meninggalkan itu ya. Kalau ada pertengkaran tinggalkan. Jadi kita harus tahu ini teman-teman sekalian kalau kita berbicara sama seseorang diskusi bermanfaat sampaikan. Kalau tidak ya sudah gitu kan kita bisa menggunakan doa enggak usah habisin waktu untuk itu. Terutama kalau kita menemukan ada orang yang berdebat dengan menggunakan Al-Qur'an dan dia tidak paham ini bahaya sekali ya. Kadang-kadang ada orang subhanallah berargumen dengan Al-Qur'an tapi dia enggak paham apa yang dia sedang argumenkan. Kalau ini secara mutlak ulama mengatakan harus ditinggalkan orang ini. Enggak bisa sama sekali diajak ngomong karena nanti dia salah gunakan ayat Al-Qur'an yang dia tidak paham itu. Nanti kita akan bacakan dalilnya berhubungan dengan masalah apa yang saya sampaikan tadi. Kita mulai dalil yang pertama yang ditulis oleh Imam Dzahabi rahimahullah surah Albaqarah ayat 204 sampai 205. Azubillahiminasyaitanirrajim. Kalau yang pegang buku ada putnote di bawah lanjutannya putnote nomor du. Wallahu la yuhibbul fasad. ee yang artinya, "Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu dan dipersaksikan kepada Allah atas kebenaran isi hatinya. Padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila dia berpaling darimu hai Muhammad maka dia berjalan di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak. Dan Allah tidak suka dengan orang-orang yang membuat kerusakan." Ada seorang munafik datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam sering menawarkan proyek-proyek seperti ini ya Rasulullah, seperti ini ya Rasulullah. Tapi tujuannya dia bukan memang untuk melibatkan Nabi sallallahu alaihi wasallam, bukan untuk menunjukkan di depan orang-orang kalau dia punya ide hebat. Tujuannya itu memang dia hanya untuk dibilang hebat. Makanya pada saat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pun mau meresponnya, maka dia meninggalkan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Bahkan pada saat ee ada orang seperti ini misalnya dia ngomong ada proyek seperti ini dan seperti itu misalnya dia bicara kemudian kita sudah tertarik kita datang kepada dia. Proyeknya itu di mana? Bagaimana caranya partisipasi dia malah mengatakan, "Ah sudahlah kamu enggak cocok misalnya atau apalah seperti itu." Karena tujuannya sebenarnya bukan untuk mengajak kita, tapi untuk menunjukkan saja untuk mencari nama mengharumkan namanya di masyarakat. Buktinya Allah Subhanahu wa taala mengatakan, "Orang yang seperti ini yang sering menyampaikan argumen-argumennya di depan orang dan memang sebenarnya tidak ada itu, maka kita engkau akan temukan dia bahkan akan merusak binatang-binatang ternak dan tanam-tanaman dan Allah tidak suka yang merusak itu." Bagaimana maksudnya? Kita akan temukan teman-teman sekalian, orang yang suka berdebat ini setiap hari harus dia cari siapa yang diajak debat. Harus ada orang yang diajak bertengkar. Mungkin ada orang subhanallah dia baru balik kanan bertengkar sama si fulan, dia lihat ke depan ada orang lagi bertengkar lagi dengan orang ini. Ke kiri juga dia bertengkar sama orang kiri. Ya, ada orang begitu. Saya pernah lihat di jalan orang naik motor dia ugal-ugalan nih. Setiap ada orang mau lewatin dia dimarahin. Saya lagi di belakang. Kebetulan dia marah-marah seakan-akan tidak mau dilewatin gitu ya. Begitu dia di depan terus ada orang yang melewatin diajak berantem. Ajak berantem. Saya subhanallah sempat berpikir orang ini kenapa ini ada masalah apa ya mesti ada masalah sama si pulang beribut terus gitu kan. Saya juga pernah masuk di bandara waktu itu, kebetulan naik Garuda, bisnis kelas menyiapkan launch-nya. Saya pas masuk memberikan boarding pass, ada satu orang datang sama keluarganya ribut di situ. Ribut kayak mau pukul meja segala macam, mau berantem. Saya berpikir, ada masalah apa di launch ini? Apakah pelayanan di di dalam buruk gitu? Ternyata tidak. Saya bukan, saya bukan mau ikuti masalah dia ya, tapi kebetulan memang saya masih sementara memberikan boarding pass. Maka saya dengar karena suaranya ribut. Ternyata dia kelas ekonomi mau maksain masuk di situ. Kenapa saya enggak boleh masuk di sini? Kenapa begini? Berdebat pada hal yang tidak ada gunanya. Sudah dijelasin ini enggak bisa, Pak. Ini hanya untuk bisnis. Loh, saya dulu pernah masuk ke sini mungkin dulu Bapak pakai bisnis enggak mau tahu. Beribut gitu. Ini contoh-contoh lapangan. Saya lihat depan mata kepala ini ada orang begini masalah terus. Nah, orang-orang yang terbiasa begini mungkin sama istri bertengkar tiap hari. Saya pernah ke Jawa Timur satu kali waktu itu kebetulan saya ngantar adik saya laki-laki. Dia mau menikah, mau melamar. Kemudian saya temani. Terus ada kelompok keluarga dari situ tuh. Saya naik ke mobil di depan terus tiba-tiba gak tahu kenapa tadinya naik enggak ada masalah. Suami istri di belakang terus tiba-tiba ribut. Jadi sedikit ada saja istrinya bicara apa pasti suaminya salahkan sepanjang jalan dari satu daerah ke daerah lumayanlah 2 jam perjalanan ramai-ramai satu mobil keluarga ini orang berantem terus ini suami istrinya tidak ada titik temunya gitu karena setiap istrinya ngomong apa pasti marah bahkan sampai mau dipukul di mobil ini saya enggak habis pikir apa masalahnya tapi setelah saya merenungi ayat ini memang subhanallah ada satu hal yang Allah pesankan kalau orang sudah terbi biasa suka bertengkar ya. Dia memang sudah enggak rasa nyaman kalau enggak bertengkar. Mungkin begini, dia mau buka pintu, pintunya sempat enggak bisa terbuka, dia akan marah sama pintu. Hah? Benar enggak? Nanti ada orang yang motornya mau diarter enggak bisa ditendang motornya, padahal kakinya tambah sakit. Semua dibuat masalah ini. Mungkin ada tanaman ya, mungkin ditanam, mungkin kesentuh atau apa, semua kena marah. Makna firman Allah di sini perhatikan firman Allah di ayat 205-nya ya dalam surah Albaqarah ini. Dan kalau dia berpaling darimu hai Muhammad maksudnya mulai beraktivitas-aktivitasnya sehari-hari maka dia berjalan di muka bumi dengan mengadakan kerusakan padanya. Kerusakannya apa? Dan dia merusak tanam-tanaman dan binatang ternak. Maksudnya kata para ulama adalah dia sudah melampiaskan semuanya ya khisamnya itu pertengkarannya sama benda-benda pun sama makhluk sama sama hewan sama tumbuh-tumbuhan apa saja semuanya serba salah depan mata di ini orang susah mengontrolnya gitu kan. Nah, ini permasalahannya kalau orang memang menjadikan itu sebagai rutinitas. Makanya selalu ingat teman-teman sekalian sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam kepada sahabat muda yang datang, "Ya Rasulullah, wasiatkan saya supaya saya bahagia hidup. Jangan kamu emosi." Apalagi ya Rasulullah, "Jangan kamu emosi." Apalagi ya Rasulullah, jangan kamu emosi. Kontrol jangan sampai ke situ. Karena kalau buka pintu ini, maka akan sulit untuk dikontrol. kita akan terus suka marah, suka emosional, ya akhirnya berdebat terus, ribut terus, segala macam hal. Dan apa ketentraman rumah tangga kalau setiap mau makan saya sudah ribut sama istri ya, mau beli pakaian saja ribut sama istri, ada masalah cuma mau keluar sebentar ribut, untuk apa semuanya diributin gitu kan. Maka ini penyakit yang akhirnya berkembang hanya karena suka sekali berargumen dan bukan pada tempatnya. Allah Subhanahu wa taala juga menyebutkan dalam dalil yang kedua surah Azzukhruf ayat 58. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Mau maobuhu laka illa jadala bal hummun khimun. Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Ayat ini juga turun tentunya kepada orang-orang munafik, orang-orang sebagian orang-orang Yahudi yang memang mereka suka menyampaikan sesuatu kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam, tapi tujuannya bukan untuk mendapat respon balik, tapi memang untuk menunjukkan kalau mereka hebat dan mereka bisa berdebat. Seperti itulah juga Allah berfirman dalam surah almukmin ayat 56. Azubillahiminasyaitanirrajim. Inina yujuna fiatillahium in fiurihim in fiudurihim illa kibr ma hum bibalighin. Sesungguhnya alayah, sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah keinginan akan kebesaran yang mana mereka sekali-kali tidak akan mencapainya. Ini ayat salah satunya dalil tentang mutlaknya haram. Ya, seseorang menjadikan ayat Al-Qur'an sebagai perdebatan bukan tujuannya untuk mencari pemahamannya dan diperdebatkan. Apalagi kalau dia tidak punya ilmu. Sebagaimana saya jelaskan tadi, ada juga hadis nanti menjelaskan masalah itu ya. Alangkabut ayat 46 juga berbunyi azubillahim minasyaitanirrajim. Wala tujadilu ahlal kitabi illa billati hiya ahsan. Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab melainkan dengan cara yang paling baik. Yang dimaksud di sini kata ulama berdebat adalah menyampaikan argumen yang jelas. Tapi pada saat sudah disampaikan dan mereka menolak, maka tinggalkanlah. Sebagaimana orang-orang Yahudi yang dipanggil oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam kemudian diajak masuk Islam, mereka menolak. Ya sudah, Nabi sallallahu alaihi wasallam biarkan mereka pergi karena sudah tidak ada gunanya. Mereka tidak mau sama sekali menerima kebenaran. Waktu kaum dari Najran Nasrani datang, Nabi sallallahu alaihi wasallam kirimkan surat kepada mereka, wilayah Najran datang ke Madinah sampai tinggal seminggu di Madinah. Riwayat lain menjelaskan 3 hari antara 3 seteng hari sampai seminggu sampai 7 hari. Yang jelas Nabi sallallahu alaihi wasallam tiap hari sampaikan ayat-ayat Al-Qur'an, sampaikan dalil berdiskusi dengan mereka. Mereka tidak pernah bisa membantah karena selalu dijawab oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam karena wahyu. Hari ketiga mereka tidak mau sama sekali. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Baiklah, turun ayat Al-Qur'an tentang ngajak mereka untuk ya tanding sumpah gitu kan. Sumpah atas nama Allah. Siapa yang benar didukung sama Allah, siapa yang salah dilaknat sama Allah. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam membawa Fatimah, membawa Hasan, membawa Husein. Kemudian berada di sebuah wilayah di padang pasir dekat gunung di Madinah. Dan pendeta-pendeta Nasrani bersama keluarganya ber di situ. Tiba-tiba gunung itu dipenuhi dengan asap yang hitam besar. Lalu akhirnya mereka mengatakan, "Ini tanda keburukan. kayaknya memang orang ini benar sebagai nabi. Jangan kita, jangan kita bertanding sumpah karena nanti akhirnya jadi masalah. Kalau dia benar, tujuh turunan kita jadi celaka. Kita bayar fidyah saja, kita bayar jiziah saja. Maka mereka pun akhirnya membayar jizah. Tapi Nabi sallallahu alaihi wasallam waktu itu menutup. Memang kalau memang sudah tidak ada gunanya maka baik marilah kita sekalian menyelesaikan ini ya dengan cara bersumpah atas nama Allah. Dan ini dimaksud dengan cara yang baik adalah kalau bisa mereka terima. Kalau mereka tidak bisa terima sudah selesai, tinggalkan saja. Allah membenci teman-teman sekalian orang yang suka bertengkar, suka ribut. Cirinya dari suaranya suka teriak-teriak ya. Apa saja selalu emosi ya. Di dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, hadis riwayat Bukhari dalam Kitabul Ahkam nomor 7188 dan Imam Muslim kitabul ilm nomor 2668, Tirmidzi dalam kitabut tafsir nomor 2980 dan Annasai dalam kitabul qudat nomor 247. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Inna abijaliallahi taal aladul khim." Sesungguhnya laki-laki yang paling Allah murkahi adalah orang yang sengit dalam membantah. Jadi biasa kadang-kadang orang bicara sedikit saya sudah emosi. Ya, ada orang begitu belum. Mungkin cuma mau beli barang saja tapi nadanya nada berantem ya. Mau beli barang tapi seperti orang berkelai. Kenapa? Memang kalau lembut, kalau baik ya tapi seperti itulah. Subhanallah penyakit dan ini Allah benci sebenarnya. Siapa kita? Kita mau sombong ini ya. Kita bahkan tidak bisa tidak bisa melampaui gunung yang ada di sekitar kita atau pohon. Bahkan kita sendiri tidak bisa tidak bisa menahan bersin yang keluar dari tubuh kita. Terus apa yang mau disombongkan? Dalam riwayat lain Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dan hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid dunya dalam eh Dzammul Ghibah dari Abu Hurairah dan juga dalam Jami Assagir disebutkan nomor 169. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Man jadumin lamal." Barang siapa yang mendebat dalam suatu pertengkaran tanpa ilmu, maka dia senantiasa dalam kemurkaan Allah hingga dia berhenti. Kalau ada orang terus saja berdebat pada hal-hal yang dia tidak punya ilmunya, apalagi berhubungan dengan masalah agama, apalagi saling mencaci maki dan menyalahkan, maka ini percuma saja dia di dalam permusuhan atau Allah musuhi dia, Allah murka padanya sampai dia berhenti. Sampai dia berhenti. Ya, ini contoh tentu banyak sekali contoh-contohnya ya. Saya ingat saya masih mahasiswa di Madinah. Sempat pulang liburan di Indonesia masih tahun 90-an waktu itu tahun 6, 9697. Dari Jakarta saya coba naik kereta ke Surabaya waktu itu silaturahim dengan beberapa kerabat ibu saya di sana. Allahyarham. Kemudian di kereta karena menginap saya waktu itu malam gak bisa tidur di kursi pada saat itu. Kemudian saya coba ke daerah kantinnya untuk beli makanan. Waktu itu saya masih mahasiswa, masih kuliah. Saya lihat di dalam di kantin itu ada orang yang duduk ada dua laki-laki, satu perempuan. Perempuan ini tidak berhijab cuma karena sempit tempatnya jadi terlihat gitu. Saya sempat membeli sesuatu kemudian saya niatnya mau kembali ke kursi waktu itu kalau enak salah mau beli teh hangat untuk supaya membuat saya lebih tenang. Karena waktu itu gak enak keadaannya, enggak bisa tidur, pusing segala macam. Terus saya dengar orang-orang ini waktu itu jamnya mungkin jam .00 malam atau jam .00 malam berbicara tentang salat malam. Orang-orang ini laki-lakinya dua-dua sambil merokok, perempuannya tidak pakai hijab. Berdebat tentang salat malam. Saya masih ingat sudah tidak tutup aurat, merokok dan tidak salat. Kemudian berdebat masalah salat malam. Apa gunanya? Enggak nyambung sama sekali. Tapi ribut gak salat malam itu jumlahnya sekian mus sekian musinya tidur dulu mestinya begini sambil ini wallahuam mahram atau bukan mahram ini tapi kelihatannya orang umum gitu kan tapi saya lihat ini termasuk berdebat yang tidak ada gunanya tidak nyambung sama sekali bukan bidangnya dan tidak diamalkan lagi. Tentu kita tahu ayat Al-Qur'an yang berbunyi azubillahim minasyaitanirrajim kabura maqtan. Innallahi antaquulu ma taf'alun. Berat di sisi Allah kalau kalian mengucapkan satatu sementara kalian tidak mengerjakannya. Enggak boleh kita berbicara apa-apa. Saya termasuk pernah meluruskan saya masuk di sebuah masjid di Surabaya waktu saya masih di sana dari Makassar sempat pindah sebentar ke sana tahun 2004 pada saat itu. Kemudian saya masuk ke sebuah masjid, ada satu orang habis salat ceramah. Terus dia bilang, "Siapa yang bilang kalau kita ini harus mengamalkan dulu agama baru kita dakwahkan?" Kita kan harus dakwahkan dulu. Loh, kok ini unik? Artinya orang boleh menyuruh orang lain salat walaupun dia tidak salat ya. Dia boleh menyuruh orang apa saja atau dia larang orang apa saja tapi dia tidak mengerjakan kewajiban atau dia bahkan melanggar permasalahan itu. Terus saya luruskan. Bukankah ada hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam yang berbunyi hadis Bukhari? Nanti penghuni neraka akan mendatangi seseorang yang mengelilingi sebuah tiang dan orang itu isi perutnya keluar karena panasnya neraka. Lalu mereka akan berkata, "Hai fulan, bukankah kamu dulu yang ingatkan kami kebaikan? Kamu yang larang dulu kami dari kemungkaran. Dai ini dibakar di neraka." Gitu kan. Lalu dia mengatakan, "Benar, saya dulu yang menyuruh kalian berbuat kebaikan, tapi saya tidak mengerjakannya. Dan saya dulu melarang melarang kalian dari perbuatan salah, tapi saya malah melanggarnya." Maka ini hukumannya, gitu. Tidak bisa. Teman-teman, sampaikan sesuatu yang kita sudah amalkan. Kalau kita belum amalkan jangan dilakukan gitu kan. Seperti tadi kasus itu. Jadi ini akhirnya mereka berdebat sesuatu yang tidak ada gunanya. Gak perlu karena tidak bermanfaat, tidak diamalin. Kalau dia mau cari sesuatu. Jadi yang boleh begini teman-teman, kita enggak paham, kita bertanya pada ahlinya, kemudian dia berargumen, dia menyampaikan, lalu kita mungkin pernah dengar, "Oh, tapi ada saya pernah dengar seperti ini. Bagaimana pendapatnya dalil ini, dalil itu." Memang mau cari kebenaran? Silakan, itu boleh. Tapi kalau tunjukkan kalau kita hebat, kita pintar di majelis ilmu juga biasa begitu. Alhamdulillah kita sekarang menggunakan metode menulis kertas. Biasanya dulu-dulu waktu saya pengajian kalau dikasih kesempatan pegang mik, ada orang memang bertanya dari pertanyaan kelihatan orang ini hanya mau nunjukin kalau dia hebat. Makanya saya sering bilang kalau bertanya jangan ngetes saya. Silakan ngetes tembok sana, pohon sana. Silakan kalau mau bertanya yang tidak dierti kan gitu. Karena kita bukan tujuannya untuk saling mengetes di sini. Materinya jelas, mau ditanya sesuai tema, silakan. Saya juga jawab sesuai kemampuan saya, kan gitu. Jadi enggak perlu masuk ke zona itu ya, karena ini berbahaya. Masuk dalam kategori dosa besar. Jadi siapapun kata Nabi sallallahu alaihi wasallam yang berdebat pada suatu pertengkaran bahkan dia tidak punya ilmu di situ dan saya sudah kasih beberapa contoh tadi maka dia senantiasa dalam kemurkaan Allah hingga dia berhenti dan dia tidak lagi melakukan itu. Dalam riwayat yang lain yang ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitabut tafsir nomor 3250. Ibnu Majah dalam almukadimah nomor 48. Imam Ahmad dalam Musad nomor 252. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Ma dolum ba'da huda kanu alaihi illa utul jadal tumma tala mauhu laka illa jadala balumun khasimun." tidaklah suatu kaum tersesat pada saat sebelumnya mereka berpegang pada hidayah melainkan pasti mereka akan didatangi oleh sifat suka berdebat atau mendebat. Jadi kalau ada orang pernah sudah sampai padanya hidayah lalu ternyata dia menolaknya argumen-argumen yang benar kecuali pasti Allah akan berikan mereka sifat suka berdebat. Kemudian mereka kemudian beliau membaca firman Allah mereka tidak memberi perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membanta saja. Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Juga tidak disebutkan dalam sebuah riwayat, Imam Azzahabi rahimahullah mengatakan, "Saya tidak tahu riwayat ini, tapi beliau mengangkatnya dari Ibnu Umar dinukil sebuah arar bahwasanya Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, inna akwafa aku ala umatiimin widalu munfin quranunum." Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah tiga hal. Ketergelinciran orang alim. Kalau sudah mulai ilmunya digunakan hanya untuk kepentingan dunia walaupun Allah haramkan jadi halal karena dapat duit misalnya atau sebaliknya gitu kan. Sebagaimana sering diceritakan dalam Al-Qur'an masalah banyaknya pendeta-pendeta dan pasur yang melakukan itu memperjual belikan ayat-ayat Allah dengan harga yang murah gitu ya. Maka itu yang dikhawatirkan oleh Nabi sallallahu alaihi wasallam. Alim-alim seperti ini dia bisa berargumen. Akhirnya dia membanta yang lainnya untuk membenarkan perilaku yang ditunjukkan oleh orang yang sedang membayarnya. Yang kedua, serangan atau debatnya orang munafik dengan menggunakan Al-Qur'an. Di Indonesia ini banyak sekali. Al-Qur'an berbunyi begini, Al-Qur'an berbunyi begini. Padahal sebenarnya mereka lain ya, mereka sama sekali tidak paham masalah itu. Bahkan sampai pada tingkat di Indonesia ada orang yang sudah sampai derajat doktor di universitas dan mengajar dan saya tahu orangnya sampai pada tingkat bukan cuma manusia didebati, kitab Allah Al-Qur'an didebati di di sebuah di sebuah seminar. Dia berani menyampaikan di depan mahasiswa, depan banyak orang. dan sempat kebetulan waktu itu saya diminta untuk menjadi pembanding ya di Kota Makassar pada saat itu. Dia berani mengucapkan mengatakan ha mim alif lam mim ya. Dan semua huruf-huruf yang terputus di awal Al-Qur'an ini adalah orang-orang yang sengaja memasukkan namanya dalam Al-Qur'an dari kalangan sahabat agar mereka dikenal. Ini belum pernah ada satuun ahli tafsir berani mengatakan ini ya. Ini kalau seandainya saya punya kampus orang ini dapat doktor, saya tarik doktornya nih. Bahaya sekali ini. Yang dia debat firman Allah yang turun. Nabi sallallahu alaihi wasallam sendiri tidak pernah menafsirkan itu. Sahabat tidak pernah menafsirkan dan mereka mengimani apa adanya. Sampai para ulama tafsir dari kaum salaf mengatakan huruf-huruf yang terputus di awal Al-Qur'an hanya Allah yang mengetahui maknanya atau nama lainnya surah itu. Gitu dia. Enggak. Dia bilang itu sengaja sahabat menambah supaya mereka dikenal. Ini kan menuduh Al-Qur'an berarti ada tambahan. Menuduh sahabat menambah-nambah sesuatu ya kan. Apalagi kita tahu Al-Qur'an ini disusun di zamannya Utsman bin Affan dan yang susun ini luar biasa. Ini sahabat-sahabat Zaid bin Tsabit, ahli-ahli Al-Qur'an gitu kan. Hudzaifah bin Yaman. Banyak sahabat-sahabat Nabi yang mulia memang yang menyusun itu dan mereka sepakat menggunakan bahasa Quraisy. Ini luar biasa. ini contoh dan banyak sekali di kampus sayangnya kampus-kampus Islam studi Islam tapi begini isinya mendepati Al-Qur'an, mendepati hadis-hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam, menyalah-nyalahkan para ulama ini aneh sekali ya. Tapi itu terjadi subhanallah ini bisa masuk dalam kategori orang munafik. Orang munafik yang mendat berdebat menggunakan Al-Qur'an ya. Dan yang ketiga adalah dunia yang memotong leher kalian. maksudnya adalah sampai membuat seseorang itu tidak peduli lagi dia harus mati atau tidak yang penting mendapatkan urusan dunianya ya. Biar ibadah enggak masalah ditinggalkan yang penting dia dapat dunianya. Dalam riwayat lain juga Nabi alaihi salalatu wasalam bersabda riwayat Abu Daud dalam kitabus sunah nomor 4 4603 dan Imam Ahmad dalam mustadnya nomor 424 dan seterusnya mungkin 7 atau 8 ee kali diulangi oleh Imam Ahmad rahimahullah dan Abu Daud juga menyebutkan dalam sunannya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Almirau fil qurani kufrun." Berdebat dalam Al-Qur'an adalah suatu kekufuran. Seperti tadi kasus tuh mendebati isi Al-Qur'an. Kenapa ayat ini harus turun? Misal kenapa bukan turun seperti ini saja? Apa Allah tidak tahu? Banyak orang begitu sekarang ya. Kelompok-kelompok jin ini begitu. Kalau caranya mendebati Al-Qur'an ini ya dia debati Al-Qur'an. Apa yang ada di situ tu didebati. Bukan dia belajar untuk bisa memahaminya. Tidak. Tidak masuk di akalnya baru baca. Kayaknya enggak mungkin nih ya. Makanya harus direvisi bagi mereka Al-Qur'an. Kalau saya sarankan otak mereka yang direvisi. Lha iya kalau tulisannya saja dia, dia tulis disertasi atau tesis. Kemudian ada yang protes sementara dia sudah dapat kom laut. Mungkin dia sudah protes luar biasa mungkin bisa masuk pengadilan. Dia protes kitabnya kaum muslimin 1400 tahun lalu turun dan sudah sempurna semua kita imani keberadaannya. Ini aneh sekali. Tapi itu terjadi. Mereka mendebati itu ya. Mereka mendebati itu dan luar biasa. Setiap kali ada sesuatu yang aneh-aneh berhubungan dengan Al-Qur'an pasti mereka dukung. Apa saja terutama masalah revisi Al-Qur'an ini ya harus diganti, harus revisi. Dan ini sebenarnya sudah dikembangkan oleh Kamal Latur di Turki pada awal dia menghapus khilafah islamiyah. Enggak. Kita harus supaya Turki maju berlepas diri dari Al-Qur'an, berlepas diri dari bahasa Arab. Kita adalah orang Turki. Kita harus punya fanatisme. Dan dan akhirnya digantilah azan dalam bahasa Turki. dihapus oleh Khilafah Islamiah. Baju-baju hijab ini semua dianggap adalah pakaian orang Arab. Tinggal setelah itu Turki jadi terpuruk menjadi negeri 200 sekian ya termiskin di dunia gitu kan. Pada saat mereka sekarang sudah mulai berusaha kembali ke Islam baru kemudian Allah Subhanahu wa taala muliakan kembali. Riwayat yang selanjutnya adalah riwayat Abu Daud dalam kitabul aqdiyah nomor 3.597. Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Man khama fi bain wahua yam lam yazal fakatillahi hatta yanzi." Barang siapa yang bertengkar atau membanta dalam kebatilan sedangkan dia mengetahui sebenarnya sudah tahu ini benar yang diucapkan orang ini. Tapi dia mungkin k lebih muda, mungkin karena dia tidak mau namanya dianggap nanti kalah dan seterusnya maka dia senantiasa dalam murka Allah sampai dia berhenti. Di dalam riwayat lain, riwayat Abu Daud, lafaznya eh ada tambahan lafaz berbunyi faqad baa bighbin minallah. maka dia telah mengundang murkahnya Allah. Selanjutnya dua dalil yang tersisa adalah sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis riwayat Imam Ahmad dalam mustadnya nomor 44. Akwafu ma akfu ala ummati kullu munafiqin alimul lisan. Yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah setiap orang munafik yang lidahnya pandai berbicara. Ya, seperti sekarang luar biasa. Kalau saya lihat, saya pernah menjadi praktisi akademik. Saya juga sekarang sudah lama, alhamdulillah sudah lebih dari 10 tahun terjun didakwah, di lapangan menghadapi masyarakat langsung. Saya melihat di praktisi akademik terutama yang bernama mengatasnamakan Islam ini banyak sekali orang yang seperti ini. Banyak sekali ya. Dia sendiri praktik Islamnya dalam keseharian jarang sekali tapi jadi dosen agama Islam itu aneh sekali. Itu ya luar biasa gitu. Dan saya temukan waktu saya lagi belajar, ada beberapa orang dosen yang tidak praktikin agama Islam, tapi mengajar pelajaran Islam. Dan uniknya orang-orang yang zaman dulu sudah jelas-jelas dihukum karena pemahaman mereka yang keliru dan sesat. Seperti kasus Khallaj yang mengaku Tuhan masuk ke badannya. Dia bilang, "Ana hua wahua ana." Saya dia adalah dia. Saya oleh khalifah waktu itu Abbasiyah dipenggal lehernya. Kesepakatan oleh para ulama ini orang kafir mengaku Tuhan masuk ke badannya. Sekarang di S2 dipelajari itu kalau dia adalah tokoh Islam. Saya sampai bilang sama dosen waktu itu, gimana caranya orang yang sudah dipenggal lehernya di zaman itu oleh khalifah dan ini karena dianggap kerusakan di muka bumi ngaku Tuhan, ngaku ketuhanan bahaya sekali. Dan juga ulama sepakat, lalu kita sekarang jadikan tokoh. Apa jawabannya? Ini ngajar S2 orang ini. Lalu dia mengatakan, "Ya itu kan orang-orang itu belum sampai pada levelnya Khallaj." Iya, belum sampai pada kegilaannya, bukan pada level ilmunya. G Khallaj ini kalau kita lihat historinya bukan seorang alim. Orang yang biasa saja hidup di Irak pada saat itu. Tiba-tiba mengaku dia adalah tokoh yang hebat dekat sama Allah. Makanya dianggap orang gila dipenggal. Pada saat itu. Kita di sini Indonesia disuruh mahasiswa buat makalah. Kalau dia tokoh dipertahankan. harus pertahankan loh ya. Kalau misalnya ada 14 orang di kelas pas sarjana yang saya tahu itu ya. Kemudian ada tokoh siapa dipelajari. Seseorang mahasiswa harus nulis makalah dan membela orang itu. Kalau dia hebat dalam berargumen, gak ada yang bisa bantah di kelas itu, maka dapat kaum laut walaupun dia menghina atau dia membela kesalahan. Itu yang terjadi tuh. Itu di kampus kita. Itu fakta. Saya alhamdulillah tidak sebutkan nama kampus tertentu, tapi ini umumnya yang terjadi. Apa yang saya lihat depan mata saya dan ini yang terjadi, Teman-teman sekalian. Bahaya sekali. Akhirnya orang-orang munafik ini banyak yang membela, mengacaukan umat dengan tokoh-tokoh yang dasar memang sudah tidak mungkin diangkat lagi namanya. Seperti kamalata Turki itu luar biasa. Turki itu dianggap betul-betul sebagai tokoh gitu kan. Kalau dia menghapus khilafah, mengganti azan bahasa bahasa Turki perempuan disuruh buka jilbab, itu tokoh Islam. Justru itu membuat Islam maju. Ini betul-betul harus direnov otaknya ya. Luar biasa gitu ya. Yang terakhir adalah sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam kitab Bir Wilah nomor 2028. Alhaya wal iyu syubbatani minal iman wal badu wal bayanu syubatani minan nifaq. Malu dan sedikit bicara dalam masalah yang mengandung dosa adalah dua cabang dari cabang-cabang keimanan. Artinya orang malu, orang bicara pada hal-hal yang penting itu tanda keimanannya. Kalau orang tidak banyak berbicara itu berarti tanda keimanan orang itu. Sebaliknya orang sering berbicara kotor dan banyak omong selalu dalam semua bidang dia masuk. Di sini dia ngomong, sana dia ngomong. Padahal enggak mungkin orang kuasai semua bidang kan gitu. Tapi dia begitu semua bidang dia seakan-akan menonjol situ. Selalu dia bicara di sini, dia bicara di sana, dia bicara di sana. Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam begitu. Ini sabda Nabi. Berbicara kotor dan kasar dan banyak omong. adalah dua cabang dari cabang-cabang kemunafikan. Jadi tanda-tanda kemunafikan jelas di sini ya. Jadi bukan cuma sekedar berbicara bohong, berjanji mengingkari ataupun diberikan amanah maka dia khianati. Tetapi juga termasuk di sini adalah orang yang suka berdebat, orang yang suka membantah, apalagi menyalahgunakan ayat-ayat Al-Qur'an atau berargumen dengan hujah-hujah atau ee perkara-perkara ibadah tapi dia tidak mengerjakannya. Allahuam. Semoga Allah selamatkan kita dari sifat-sifat ini dan dijadikan kita sebagai orang-orang yang beriman dan patuh kepada sang pencipta Allah sampai meninggal dunia insyaallah. Bagi saya teman-teman sekalian semoga apa yang kita bahas malam ini bermanfaat buat kita semua. Amin. Dan juga semoga saja seluruh amal yang pernah kita kerjakan diterima dengan kemaha murahnya sang pencipta sampai menjelang ajal datang nanti. Dan seluruh dosa yang pernah kita kerjakan terutama yang hadir dalam majelis kita ini semuanya dengan kemahamuran Allah diganti menjadi pahala. Dan juga semoga Indonesia menjadi negara yang aman, damai tentram. Seluruh umat Islam di bawah naungan ukhuwah islamiah dan juga diangkat perselisihan di antara mereka dan terselamatkan dari semua kaum munafikin, semua tipu daya musuh-musuh Islam dan juga agar seluruh wilayah di Indonesia diberikan pemimpin muslim yang adil kembali kepada Al-Qur'an dan sunah. Dan semoga Indonesia menjadi contoh bagi negara-negara yang lain. Dan juga kita selam mendoakan saudara kita di Palestina, di Syria, di Yaman, di Irak, di Myanmar, di Asa di mana pun mereka berada sedang tertindas. Semoga Allah ikhlaskan niat mereka, terima para syuhada mereka, mudahkan Islam di tangan mereka dan tangan kita semua. Dan semoga Allah partisipasikan kita bersama mereka di pahala, baik dengan doa, dengan harta juga dengan jiwa kita. Dan semoga Allah dengan kemaha murahnya menyatukan kita semua di surga firdausnya tanpa hisab sebagaimana satukan di majelis ilmu yang mulia ini. Kalau benar dari Allah kalau saar dari saya mohon dimaafkan. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta astagfiruka wa atubu ilaik. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah warahmatullahi wabarakatuh.
Resume
Categories