Transcript
j8GGCtm2mhc • Deadly Sins #65 – Debate, Arguing, Objection, and Arguing - Khalid Basalamah
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0230_j8GGCtm2mhc.txt
Kind: captions
Language: id
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah
selalu kita memuji Allah
yang kita yakin sedang melihat kita
semuanya dan juga selalu mendengar,
mengetahui, dan juga akan menghisab
semua apa yang kita lakukan.
Dia telah memudahkan segala urusan kita
dengan kalimat ini. Alhamdulillah.
Maka selalulah ucapkan kalimat ini. Dan
juga kita panjatkan salam hormat kita
kepada manusia yang telah membawa kepada
kita syariat Allah sehingga kita punya
panduan hidup tahu mana halal dan haram.
Dan sang pencipta Allah telah
memerintahkan kita sebagai ibadah untuk
kita semua dalam mengucapkan salam
hormat kepada manusia terbaik ini. Maka
sangat wajar kalau kita selalu
membacakan selawat dan taslim kepada
Nabi Besar Muhammad sallallahu ala alihi
wasahbihi wasallam.
Seperti biasa pada Rabu malam ini kita
melanjutkan bahasan dosa-dosa besar dan
semoga Allah berkahi malam ini dosa
besar ke-65
masalah jidal atau berdebat,
berbantah-bantahan dan juga bertengkar.
Sebelumnya kita sudah membahas dosa
besar ke-64 dan Allah sudah berkah
alhamdulillah minum menggunakan wadah
emas dan perak.
Untuk teman-teman sekalian,
dalam kehidupan sosial kita berinteraksi
dengan makhluk, kita berinteraksi sama
manusia, berinteraksi dengan
hewan-hewan, berinteraksi dengan
lingkungan, tumbuh-tumbuhan, bahkan
mungkin benda-benda yang kita anggap
mati seperti batu mungkin ya. Padahal
sebenarnya itu semua adalah makhluknya
Allah. Ada adab dan tata kramanya. Ada
adab dan tata keramanya. Tapi kalau kita
ingin membahas ini tentu panjang sekali.
Ada khusus bahasan saya di YouTube
dengan izin Allah tentunya membahas
kitab Minhajil Muslim bab adab dan bab
adab banyak sekali. Adab sama manusia,
adab kepada hewan-hewan, adab kepada
tumbuh-tumbuhan, adab kepada makhluknya
Allah secara umum.
Kita sempitkan lingkup bahasan kita
adalah adab bermuamalah dengan manusia.
Dalam bermuamalah dengan manusia yang
memang dasarnya Allah berikan kepadanya
akal pikiran, hati nurani, energi di
tubuhnya,
akal pikiran yang dia bisa gunakan untuk
mengembangkan ide-idenya, maka tentu
Allah Subhanahu wa taala perkaya dengan
ragam macam ide, ragam macam ee perasaan
ya. Dan ini tidak mungkin seketika bisa
bersatu.
Dan satu-satunya yang bisa menyatukan
kita dalam satu pemahaman hanya masalah
keimanan saja.
Karena tentu mungkin saya pengin makan
makanan A, mungkin yang satu teman saya
ingin makan makanan B. Mungkin saya
tidur di tempat A, mungkin dia ingin
tidur di tempat B. Sesuatu yang wajar
saya memilih pakaian A, dia memilih
pakaian B. Adalahnya ragam ini adalah
salah satu keajaiban penciptaan sang
pencipta Allah. Dan yang bisa menyatukan
kita adalah agama. Agama mengatakan
halal ikuti, haram tinggalkan. Seperti
itulah. Sehingga keragaman ini bisa
disatukan dalam konsep syariat.
Tetapi teman-teman sekalian, dalam
bermuamalah dengan manusia
ada hal yang sangat dilarang dalam agama
Islam. Tentu banyak yang dilarang, tapi
salah satunya ini adalah berdebat,
berbantah-bantahan dan bertengkar.
Ini sama sekali tidak dibenarkan. Di
dalam Islam tidak boleh bertengkar.
Kalau mau menunjukkan keberanian, suara
yang keras, keterampilan dalam bela
diri, di kanca peperangan, kanca jihad,
silakan tunjukkan. Tapi sama istri, sama
anak, sama teman, sama orang tua bukan
tempatnya. Ini seor seorang muslim tidak
pernah mengenal masalah itu. Artinya
jadi tidak membutuhkan. Kalau ada orang
mengajak kita bertengkar atau berdebat
dengan lisannya, tinggalkan saja biar
dia bertengkar dengan tembok ya.
Dia habisin kata-katanya silakan atau
sama angin, sama pohon biarin aja.
Tidak perlu kita ajak berdebat. Tentu di
sini tidak masuk di dalam bahasan kita
kalau seandainya seseorang sedang
menyampaikan argumen masing-masing untuk
mencari kebenaran berbeda. Misal kita
sedang membahas sebuah tema. Tema ini
memang membutuhkan diskusi. Maka diskusi
ini tujuannya misalnya saya mengumpulkan
beberapa hujah atau argumentasi. Teman
saya juga ngumpulin untuk kita mencari
titik temuhnya. Tapi biasanya ini tidak
terjadi perdebatan karena hanya akan
menyampaikan ini loh yang saya temukan
di kitab ini. Oh, inilah yang saya
temukan di sini. Lalu sama-sama
mempelajarinya lalu mencari titik
temunya. Itu oke. Tetapi teman-teman
sekalian dilarang di sini adalah
berdebat yang hal yang kosong. Ada orang
kadang-kadang berdebat dengan istrinya
hanya karena pilih rumah makan yang
mana.
Ribut di mobil akhirnya enggak jadi
makan gara-gara itu.
Hah, apa gunanya?
Hah? Terjadi kan ada orang mungkin
berdebat sama temannya atau ribut hanya
karena masalah temannya ingin pergi ke
tempat A, dia pengin ke tempat B atau
dia ribut dengan anaknya karena anaknya
hanya ingin melakukan perbuatan A tapi
dia melarangnya padahal sebenarnya masih
bisa toleransi. Ini yang dimaksud di
sini tidak ada gunanya untuk berdebat.
Bahkan dalam Islam kita tahu kita
diperintahkan untuk mendahulukan orang
lain dari diri kita. Hadis Nabi
sallallahu alaihi wasallam yang umum
riwayat Bukhari Muslim. La yukminu
ahadukum hatta yuhibaki ma yuhibsi.
Tidak akan sempurna iman seseorang di
antara kalian sampai dia mencintai untuk
saudaranya apa yang dicintai buat
dirinya sendiri. Bahkan kita dalam Islam
ada namanya ada sebuah poin namanya
ichar. Iar ini yang Allah sebutkan dalam
Al-Qur'an tentang sifatnya orang-orang
ansar di Madinah.
Azubillahiminasyaitanirrajim.
Wairuna ala anfusim w bihim khaas.
Mereka mengitar diri mereka. ISAR
artinya mendahulukan orang lain walaupun
dia membutuhkan.
Ya, seperti misalnya orang-orang ansar.
Pernah ada satu orang ansar
waktu itu Nabi sallallahu alaihi
wasallam menyambut Muhajirin hijrah dari
Makkah lalu menyuruh ee maksud saya
Muhajirin dikumpulin di Madinah karena
mereka sudah hijrah sebelum Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Lalu Nabi
tunjuk orang-orang Ansar, "Siapa yang
mau menjadikan saudaranya muslim ini
muhajir jadi tamunya." Maka
masing-masing memilih ada satu muhajir
belum belum ada yang ee menawarkan diri
karena masing-masing sudah menaruh tamu
di rumahnya.
Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam
mengatakan, "Siapa yang menjadikan ini
sebagai tamunya?" Orang Anshar ini
miskin sekali dia, tapi dia enggak mau
kehilangan pahala. Dia mengatakan, "Saya
Rasulullah." Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Bawalah ke rumahmu." Dia bawa
ke rumahnya sambil ngobrol di jalan
segala macam. Begitu tiba di rumah
tamunya duduk di ruang tamu. Dia bilang
sama istrinya, "Ada makanan enggak?"
Kata istrinya, "Enggak ada. Tinggal
makanan bayi kita ada." Bayinya ada
makanan ee apa? Tepung gandum yang halus
sekali dicampur air biasanya dengan
garam untuk diberikan makan bayi pada
zaman itu.
Dia bilang, "Jikal itu enggak ada lagi."
Itu pun satu porsi. Saya belum makan
juga tidak ada makanan yang bisa saya
siapkan karena miskin memang enggak ada
makanan. Dia bilang, "Enggak masalah.
buatin makanan bayi itu. Hidangkan buat
tamu. Terus kita padamkan lampu kita
padamkan. Mereka pakai obor pada saat
padamkan supaya mereka tahu. Tamu ini
tahu kalau kita sudah makan dan kita
akan tidur. Dibuatlah hal tersebut
kemudian dihidangkan kepada tamu. Tamu
biasanya tentu malu makan kalau ada tuan
rumahnya apalagi dia tidak kenal. Ya,
ini baru kenalan tadi. Maka dilakukan
hal tersebut. Dia naik sama istrinya
masuk. Maksudnya naik lantai dua
rumahnya lalu dia tidur. Dan dia
seakan-akan tidur sama istri an sampai
anaknya pun menangis. berusaha untuk
dikecilkan suara itu supaya tamunya
enggak dengar. Tamunya pikir ada
makanan, dia makan terus dia tidur.
Besok subuh datanglah sahabat ini yang
ansar ke ke Masjid Nabawi. Lalu Nabi
mengatakan, "Ketahuilah Allah tahu
perbuatan kalian semalam dan Allah kagum
dengan perbuatanmu dan istrimu." Artinya
Allah Subhanahu wa taala akan berikan
pahala yang besar. Tapi ada isar. Isa
artinya mendahulukan diri dari orang
lain. Kalau misalnya ada sesuatu yang
sedang kita sampaikan kepada orang lain,
lalu memang dia argumennya lebih kuat,
memang lebih benar, kita berbesar diri
untuk menerima. Di situlah puncak ya
ketawaduan seseorang, kerendahan hatinya
dia. Kalau temannya benar, anaknya pun
benar yang disampaikan, istrinya pun
benar, dia bisa terima tidak terbo
dengan ego. Salah ya? Saya salah. Itu
orang mukmin begitu. Bukan dia
pertahankan kesalahannya. Imam Syafi'i
rahimahullah pernah
melakukan diskusi dengan seseorang
saling menyampaikan argumen.
Pada saat Imam Syafi'i melihat orang itu
memerah wajahnya karena dia menyampaikan
argumen terus. Imam Syafi'i mengatakan,
"Tapi ada begini, tapi ada begini."
Rupanya dia merasa tidak nyaman kalau
didebati sama Imam Syafi'i. Imam Syafi'i
lalu menutup majelisnya sambil
mengatakan, "Semoga saja Allah Subhanahu
wa taala menyatukan kita di dunia ini.
Begitu juga disatukan di akhirat dalam
persaudaraan islamiah." Lalu Imam
Syafi'i meninggalkannya, gitu kan.
Artinya memang kalau memang kita sudah
sampai pada tingkat tidak ada gunanya ya
tinggalkan dan kita harus bisa menerima
kebenaran teman-teman sekalian ya. Jadi
jangan buka pintu pertengkaran ini. Saya
sudah pernah bilang semua kamus-kamus
yang menyusahkan hidup antum suka
bertengkar, suka marah, putus asa,
merasa diri sudah terlambat, enggak
bakal bisa maju. Ini semua enggak ada di
kamus kita nih. Hapus sebagai seorang
muslim. Saya bisa, saya mampu, belum
terlambat. Ya, tidak ada kata-kata kalah
bagi seorang muslim ya. Tidak butuh dia
mengalahkan saudaranya muslim. Bahkan
dia mengalah, dia itar dirinya itu
sebuah ibadah di dalam agama Islam.
Jadi yang dibahas oleh Imamzabi ee
rahimahullah tentang masalah malam dosa
besar 65 malam kita ini adalah tentang
masalah bahayanya ya atau efek daripada
orang-orang yang berdebat dan bukan
tujuannya mencari kebenaran, bukan
diskusi ilmiah tapi untuk ribut.
Ini bahaya sekali. Seorang muslim harus
tahu adabnya dia meninggalkan itu ya.
Kalau ada pertengkaran tinggalkan.
Jadi kita harus tahu ini teman-teman
sekalian kalau kita berbicara sama
seseorang diskusi bermanfaat sampaikan.
Kalau tidak ya sudah gitu kan kita bisa
menggunakan doa enggak usah habisin
waktu untuk itu.
Terutama kalau kita menemukan ada orang
yang berdebat dengan menggunakan
Al-Qur'an dan dia tidak paham ini bahaya
sekali ya. Kadang-kadang ada orang
subhanallah berargumen dengan Al-Qur'an
tapi dia enggak paham apa yang dia
sedang argumenkan.
Kalau ini secara mutlak ulama mengatakan
harus ditinggalkan orang ini. Enggak
bisa sama sekali diajak ngomong karena
nanti dia salah gunakan ayat Al-Qur'an
yang dia tidak paham itu. Nanti kita
akan bacakan dalilnya berhubungan dengan
masalah apa yang saya sampaikan tadi.
Kita mulai dalil yang pertama yang
ditulis oleh Imam Dzahabi rahimahullah
surah Albaqarah ayat 204 sampai 205.
Azubillahiminasyaitanirrajim.
Kalau yang pegang buku ada putnote di
bawah lanjutannya putnote nomor du.
Wallahu la yuhibbul fasad.
ee yang artinya, "Dan di antara manusia
ada orang yang ucapannya tentang
kehidupan dunia menarik hatimu dan
dipersaksikan kepada Allah atas
kebenaran isi hatinya. Padahal ia adalah
penantang yang paling keras. Dan apabila
dia berpaling darimu hai Muhammad maka
dia berjalan di muka bumi untuk
mengadakan kerusakan padanya dan merusak
tanam-tanaman dan binatang ternak. Dan
Allah tidak suka dengan orang-orang yang
membuat kerusakan."
Ada seorang munafik
datang kepada Nabi sallallahu alaihi
wasallam sering menawarkan proyek-proyek
seperti ini ya Rasulullah, seperti ini
ya Rasulullah. Tapi tujuannya dia bukan
memang untuk melibatkan Nabi sallallahu
alaihi wasallam, bukan untuk menunjukkan
di depan orang-orang kalau dia punya ide
hebat. Tujuannya itu memang dia hanya
untuk dibilang hebat. Makanya pada saat
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
pun mau meresponnya, maka dia
meninggalkan Nabi sallallahu alaihi
wasallam.
Bahkan pada saat ee ada orang seperti
ini misalnya dia ngomong ada proyek
seperti ini dan seperti itu misalnya dia
bicara kemudian kita sudah tertarik kita
datang kepada dia. Proyeknya itu di
mana? Bagaimana caranya partisipasi dia
malah mengatakan, "Ah sudahlah kamu
enggak cocok misalnya atau apalah
seperti itu." Karena tujuannya
sebenarnya bukan untuk mengajak kita,
tapi untuk menunjukkan saja untuk
mencari nama mengharumkan namanya di
masyarakat.
Buktinya Allah Subhanahu wa taala
mengatakan, "Orang yang seperti ini yang
sering menyampaikan argumen-argumennya
di depan orang dan memang sebenarnya
tidak ada itu, maka kita engkau akan
temukan dia bahkan akan merusak
binatang-binatang ternak dan
tanam-tanaman dan Allah tidak suka yang
merusak itu." Bagaimana maksudnya? Kita
akan temukan teman-teman sekalian, orang
yang suka berdebat ini
setiap hari harus dia cari siapa yang
diajak debat.
Harus ada orang yang diajak bertengkar.
Mungkin ada orang subhanallah dia baru
balik kanan bertengkar sama si fulan,
dia lihat ke depan ada orang lagi
bertengkar lagi dengan orang ini. Ke
kiri juga dia bertengkar sama orang
kiri. Ya, ada orang begitu. Saya pernah
lihat di jalan orang naik motor dia
ugal-ugalan nih. Setiap ada orang mau
lewatin dia dimarahin.
Saya lagi di belakang. Kebetulan dia
marah-marah seakan-akan tidak mau
dilewatin gitu ya.
Begitu dia di depan terus ada orang yang
melewatin diajak berantem.
Ajak berantem. Saya subhanallah sempat
berpikir orang ini kenapa ini ada
masalah apa ya mesti ada masalah sama si
pulang beribut terus gitu kan.
Saya juga pernah masuk di bandara waktu
itu, kebetulan naik Garuda, bisnis kelas
menyiapkan launch-nya. Saya pas masuk
memberikan boarding pass, ada satu orang
datang sama keluarganya ribut di situ.
Ribut kayak mau pukul meja segala macam,
mau berantem. Saya berpikir, ada masalah
apa di launch ini? Apakah pelayanan di
di dalam buruk gitu? Ternyata tidak.
Saya bukan, saya bukan mau ikuti masalah
dia ya, tapi kebetulan memang saya masih
sementara memberikan boarding pass. Maka
saya dengar karena suaranya ribut.
Ternyata dia kelas ekonomi mau maksain
masuk di situ.
Kenapa saya enggak boleh masuk di sini?
Kenapa begini? Berdebat pada hal yang
tidak ada gunanya. Sudah dijelasin ini
enggak bisa, Pak. Ini hanya untuk
bisnis. Loh, saya dulu pernah masuk ke
sini mungkin dulu Bapak pakai bisnis
enggak mau tahu.
Beribut gitu. Ini contoh-contoh
lapangan. Saya lihat depan mata kepala
ini ada orang begini masalah terus. Nah,
orang-orang yang terbiasa begini mungkin
sama istri bertengkar tiap hari. Saya
pernah ke Jawa Timur satu kali
waktu itu kebetulan saya ngantar adik
saya laki-laki. Dia mau menikah, mau
melamar. Kemudian saya temani. Terus ada
kelompok keluarga dari situ tuh. Saya
naik ke mobil di depan terus tiba-tiba
gak tahu kenapa tadinya naik enggak ada
masalah. Suami istri di belakang terus
tiba-tiba ribut. Jadi sedikit ada saja
istrinya bicara apa pasti suaminya
salahkan sepanjang jalan dari satu
daerah ke daerah lumayanlah 2 jam
perjalanan ramai-ramai satu mobil
keluarga ini orang berantem terus ini
suami istrinya tidak ada titik temunya
gitu karena setiap istrinya ngomong apa
pasti marah bahkan sampai mau dipukul di
mobil ini saya enggak habis pikir apa
masalahnya
tapi setelah saya merenungi ayat ini
memang subhanallah ada satu hal yang
Allah pesankan kalau orang sudah terbi
biasa suka bertengkar ya. Dia memang
sudah enggak rasa nyaman kalau enggak
bertengkar. Mungkin begini, dia mau buka
pintu, pintunya sempat enggak bisa
terbuka, dia akan marah sama pintu.
Hah? Benar enggak? Nanti ada orang yang
motornya mau diarter enggak bisa
ditendang motornya, padahal kakinya
tambah sakit.
Semua dibuat masalah ini. Mungkin ada
tanaman ya, mungkin ditanam, mungkin
kesentuh atau apa, semua kena marah.
Makna firman Allah di sini perhatikan
firman Allah di ayat 205-nya ya dalam
surah Albaqarah ini. Dan kalau dia
berpaling darimu hai Muhammad maksudnya
mulai beraktivitas-aktivitasnya
sehari-hari maka dia berjalan di muka
bumi dengan mengadakan kerusakan
padanya. Kerusakannya apa? Dan dia
merusak tanam-tanaman dan binatang
ternak. Maksudnya kata para ulama adalah
dia sudah melampiaskan semuanya ya
khisamnya itu pertengkarannya sama
benda-benda pun sama makhluk sama sama
hewan sama tumbuh-tumbuhan apa saja
semuanya serba salah depan mata di ini
orang susah mengontrolnya gitu kan. Nah,
ini permasalahannya kalau orang memang
menjadikan itu sebagai rutinitas.
Makanya selalu ingat teman-teman
sekalian sabda Nabi sallallahu alaihi
wasallam kepada sahabat muda yang
datang, "Ya Rasulullah, wasiatkan saya
supaya saya bahagia hidup. Jangan kamu
emosi." Apalagi ya Rasulullah, "Jangan
kamu emosi." Apalagi ya Rasulullah,
jangan kamu emosi. Kontrol jangan sampai
ke situ. Karena kalau buka pintu ini,
maka akan sulit untuk dikontrol. kita
akan terus suka marah, suka emosional,
ya akhirnya berdebat terus, ribut terus,
segala macam hal. Dan apa ketentraman
rumah tangga kalau setiap mau makan saya
sudah ribut sama istri ya, mau beli
pakaian saja ribut sama istri, ada
masalah cuma mau keluar sebentar ribut,
untuk apa semuanya diributin gitu kan.
Maka ini penyakit yang akhirnya
berkembang hanya karena suka sekali
berargumen dan bukan pada tempatnya.
Allah Subhanahu wa taala juga
menyebutkan dalam dalil yang kedua surah
Azzukhruf ayat 58.
Auzubillahiminasyaitanirrajim.
Mau maobuhu laka illa jadala bal hummun
khimun. Mereka tidak memberikan
perumpamaan itu kepadamu melainkan
dengan maksud membantah saja. Sebenarnya
mereka adalah kaum yang suka bertengkar.
Ayat ini juga turun tentunya kepada
orang-orang munafik, orang-orang
sebagian orang-orang Yahudi yang memang
mereka
suka menyampaikan sesuatu kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam, tapi
tujuannya bukan untuk mendapat respon
balik, tapi memang untuk menunjukkan
kalau mereka hebat dan mereka bisa
berdebat. Seperti itulah
juga Allah berfirman dalam surah
almukmin ayat 56.
Azubillahiminasyaitanirrajim.
Inina yujuna fiatillahium
in fiurihim
in fiudurihim illa kibr ma hum
bibalighin.
Sesungguhnya alayah, sesungguhnya
orang-orang yang memperdebatkan tentang
ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai
kepada mereka tidak ada dalam dada
mereka melainkan hanyalah keinginan akan
kebesaran yang mana mereka sekali-kali
tidak akan mencapainya. Ini ayat salah
satunya dalil tentang mutlaknya haram.
Ya, seseorang menjadikan ayat Al-Qur'an
sebagai perdebatan bukan tujuannya untuk
mencari pemahamannya dan diperdebatkan.
Apalagi kalau dia tidak punya ilmu.
Sebagaimana saya jelaskan tadi, ada juga
hadis nanti menjelaskan masalah itu ya.
Alangkabut ayat 46 juga berbunyi
azubillahim minasyaitanirrajim. Wala
tujadilu ahlal kitabi illa billati hiya
ahsan. Dan janganlah kalian berdebat
dengan ahli kitab melainkan dengan cara
yang paling baik. Yang dimaksud di sini
kata ulama berdebat adalah menyampaikan
argumen yang jelas.
Tapi pada saat sudah disampaikan dan
mereka menolak, maka tinggalkanlah.
Sebagaimana orang-orang Yahudi yang
dipanggil oleh Nabi sallallahu alaihi
wasallam kemudian diajak masuk Islam,
mereka menolak. Ya sudah, Nabi
sallallahu alaihi wasallam biarkan
mereka pergi karena sudah tidak ada
gunanya. Mereka tidak mau sama sekali
menerima kebenaran. Waktu kaum dari
Najran Nasrani datang, Nabi sallallahu
alaihi wasallam kirimkan surat kepada
mereka, wilayah Najran datang ke Madinah
sampai tinggal seminggu di Madinah.
Riwayat lain menjelaskan 3 hari antara 3
seteng hari sampai seminggu sampai 7
hari. Yang jelas Nabi sallallahu alaihi
wasallam tiap hari sampaikan ayat-ayat
Al-Qur'an, sampaikan dalil berdiskusi
dengan mereka. Mereka tidak pernah bisa
membantah karena selalu dijawab oleh
Nabi sallallahu alaihi wasallam karena
wahyu. Hari ketiga mereka tidak mau sama
sekali. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Baiklah, turun ayat Al-Qur'an
tentang ngajak mereka untuk ya tanding
sumpah gitu kan.
Sumpah atas nama Allah. Siapa yang benar
didukung sama Allah, siapa yang salah
dilaknat sama Allah. Maka Nabi
sallallahu alaihi wasallam membawa
Fatimah, membawa Hasan, membawa Husein.
Kemudian
berada di sebuah wilayah di padang pasir
dekat gunung di Madinah. Dan
pendeta-pendeta Nasrani bersama
keluarganya ber di situ. Tiba-tiba
gunung itu dipenuhi dengan asap yang
hitam besar. Lalu akhirnya mereka
mengatakan, "Ini tanda keburukan.
kayaknya memang orang ini benar sebagai
nabi. Jangan kita, jangan kita
bertanding sumpah karena nanti akhirnya
jadi masalah. Kalau dia benar, tujuh
turunan kita jadi celaka. Kita bayar
fidyah saja, kita bayar jiziah saja.
Maka mereka pun akhirnya membayar jizah.
Tapi Nabi sallallahu alaihi wasallam
waktu itu menutup. Memang kalau memang
sudah tidak ada gunanya maka baik
marilah kita sekalian menyelesaikan ini
ya dengan cara bersumpah atas nama
Allah.
Dan ini dimaksud dengan cara yang baik
adalah kalau bisa mereka terima. Kalau
mereka tidak bisa terima sudah selesai,
tinggalkan saja.
Allah membenci teman-teman sekalian
orang yang suka bertengkar, suka ribut.
Cirinya dari suaranya suka teriak-teriak
ya. Apa saja selalu emosi ya. Di dalam
hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam,
hadis riwayat Bukhari dalam Kitabul
Ahkam nomor 7188 dan Imam Muslim kitabul
ilm nomor 2668, Tirmidzi dalam kitabut
tafsir nomor 2980
dan Annasai dalam kitabul qudat nomor
247.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Inna abijaliallahi
taal aladul khim."
Sesungguhnya laki-laki yang paling Allah
murkahi adalah orang yang sengit dalam
membantah. Jadi biasa kadang-kadang
orang bicara sedikit saya sudah emosi.
Ya, ada orang begitu belum. Mungkin cuma
mau beli barang saja tapi nadanya nada
berantem ya. Mau beli barang tapi
seperti orang berkelai. Kenapa? Memang
kalau lembut, kalau baik ya tapi seperti
itulah. Subhanallah penyakit dan ini
Allah benci sebenarnya. Siapa kita? Kita
mau sombong ini ya. Kita bahkan tidak
bisa tidak bisa melampaui gunung yang
ada di sekitar kita atau pohon. Bahkan
kita sendiri tidak bisa tidak bisa
menahan bersin yang keluar dari tubuh
kita. Terus apa yang mau disombongkan?
Dalam riwayat lain Rasulullah sallallahu
alaihi wasallam bersabda dan hadis ini
diriwayatkan oleh Ibnu Abid dunya dalam
eh Dzammul Ghibah dari Abu Hurairah dan
juga dalam Jami Assagir disebutkan nomor
169.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Man jadumin
lamal."
Barang siapa yang mendebat dalam suatu
pertengkaran tanpa ilmu, maka dia
senantiasa dalam kemurkaan Allah hingga
dia berhenti. Kalau ada orang terus saja
berdebat pada hal-hal yang dia tidak
punya ilmunya, apalagi berhubungan
dengan masalah agama, apalagi saling
mencaci maki dan menyalahkan, maka ini
percuma saja dia di dalam permusuhan
atau Allah musuhi dia, Allah murka
padanya sampai dia berhenti. Sampai dia
berhenti. Ya, ini contoh tentu banyak
sekali contoh-contohnya ya. Saya ingat
saya masih mahasiswa di Madinah. Sempat
pulang liburan di Indonesia masih tahun
90-an waktu itu tahun 6, 9697.
Dari Jakarta saya coba naik kereta ke
Surabaya waktu itu silaturahim dengan
beberapa kerabat ibu saya di sana.
Allahyarham.
Kemudian di kereta karena menginap saya
waktu itu malam gak bisa tidur di kursi
pada saat itu. Kemudian saya coba ke
daerah kantinnya untuk beli makanan.
Waktu itu saya masih mahasiswa, masih
kuliah. Saya lihat di dalam di kantin
itu ada orang yang duduk ada dua
laki-laki, satu perempuan. Perempuan ini
tidak berhijab cuma karena sempit
tempatnya jadi terlihat gitu. Saya
sempat membeli sesuatu kemudian saya
niatnya mau kembali ke kursi waktu itu
kalau enak salah mau beli teh hangat
untuk supaya membuat saya lebih tenang.
Karena waktu itu gak enak keadaannya,
enggak bisa tidur, pusing segala macam.
Terus saya dengar orang-orang ini waktu
itu jamnya mungkin jam .00 malam atau
jam .00 malam berbicara tentang salat
malam.
Orang-orang ini laki-lakinya dua-dua
sambil merokok, perempuannya tidak pakai
hijab. Berdebat tentang salat malam.
Saya masih ingat
sudah tidak tutup aurat, merokok dan
tidak salat. Kemudian berdebat masalah
salat malam. Apa gunanya? Enggak
nyambung sama sekali.
Tapi ribut gak salat malam itu jumlahnya
sekian mus sekian musinya tidur dulu
mestinya begini sambil ini wallahuam
mahram atau bukan mahram ini tapi
kelihatannya orang umum gitu kan tapi
saya lihat ini termasuk berdebat yang
tidak ada gunanya tidak nyambung sama
sekali bukan bidangnya dan tidak
diamalkan lagi. Tentu kita tahu ayat
Al-Qur'an yang berbunyi azubillahim
minasyaitanirrajim kabura maqtan.
Innallahi antaquulu ma taf'alun. Berat
di sisi Allah kalau kalian mengucapkan
satatu sementara kalian tidak
mengerjakannya. Enggak boleh kita
berbicara apa-apa.
Saya termasuk pernah meluruskan
saya masuk di sebuah masjid di Surabaya
waktu saya masih di sana dari Makassar
sempat pindah sebentar ke sana tahun
2004 pada saat itu. Kemudian saya masuk
ke sebuah masjid, ada satu orang habis
salat ceramah. Terus dia bilang,
"Siapa yang bilang kalau kita ini harus
mengamalkan dulu agama baru kita
dakwahkan?" Kita kan harus dakwahkan
dulu. Loh, kok ini unik?
Artinya orang boleh menyuruh orang lain
salat walaupun dia tidak salat ya. Dia
boleh menyuruh orang apa saja atau dia
larang orang apa saja tapi dia tidak
mengerjakan kewajiban atau dia bahkan
melanggar permasalahan itu. Terus saya
luruskan. Bukankah ada hadis Nabi
sallallahu alaihi wasallam yang berbunyi
hadis Bukhari? Nanti penghuni neraka
akan mendatangi seseorang yang
mengelilingi sebuah tiang dan orang itu
isi perutnya keluar karena panasnya
neraka. Lalu mereka akan berkata, "Hai
fulan, bukankah kamu dulu yang ingatkan
kami kebaikan? Kamu yang larang dulu
kami dari kemungkaran. Dai ini dibakar
di neraka." Gitu kan. Lalu dia
mengatakan, "Benar, saya dulu yang
menyuruh kalian berbuat kebaikan, tapi
saya tidak mengerjakannya.
Dan saya dulu melarang melarang kalian
dari perbuatan salah, tapi saya malah
melanggarnya."
Maka ini hukumannya, gitu. Tidak bisa.
Teman-teman, sampaikan sesuatu yang kita
sudah amalkan. Kalau kita belum amalkan
jangan dilakukan gitu kan. Seperti tadi
kasus itu. Jadi ini akhirnya mereka
berdebat sesuatu yang tidak ada gunanya.
Gak perlu karena tidak bermanfaat, tidak
diamalin. Kalau dia mau cari sesuatu.
Jadi yang boleh begini teman-teman, kita
enggak paham, kita bertanya pada
ahlinya, kemudian dia berargumen, dia
menyampaikan, lalu kita mungkin pernah
dengar, "Oh, tapi ada saya pernah dengar
seperti ini. Bagaimana pendapatnya dalil
ini, dalil itu." Memang mau cari
kebenaran? Silakan, itu boleh. Tapi
kalau tunjukkan kalau kita hebat, kita
pintar di majelis ilmu juga biasa
begitu. Alhamdulillah kita sekarang
menggunakan metode menulis kertas.
Biasanya dulu-dulu waktu saya pengajian
kalau dikasih kesempatan pegang mik, ada
orang memang bertanya dari pertanyaan
kelihatan orang ini hanya mau nunjukin
kalau dia hebat.
Makanya saya sering bilang kalau
bertanya jangan ngetes saya. Silakan
ngetes tembok sana, pohon sana. Silakan
kalau mau bertanya yang tidak dierti kan
gitu. Karena kita bukan tujuannya untuk
saling mengetes di sini. Materinya
jelas, mau ditanya sesuai tema, silakan.
Saya juga jawab sesuai kemampuan saya,
kan gitu. Jadi enggak perlu masuk ke
zona itu ya, karena ini berbahaya. Masuk
dalam kategori dosa besar.
Jadi siapapun kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam yang berdebat pada suatu
pertengkaran bahkan dia tidak punya ilmu
di situ dan saya sudah kasih beberapa
contoh tadi maka dia senantiasa dalam
kemurkaan Allah hingga dia berhenti dan
dia tidak lagi melakukan itu. Dalam
riwayat yang lain
yang ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi
dalam kitabut tafsir nomor 3250. Ibnu
Majah dalam almukadimah nomor 48. Imam
Ahmad dalam Musad nomor 252.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Ma dolum ba'da huda kanu
alaihi illa utul jadal tumma tala mauhu
laka illa jadala balumun khasimun."
tidaklah suatu kaum tersesat pada saat
sebelumnya mereka berpegang pada hidayah
melainkan pasti mereka akan didatangi
oleh sifat suka berdebat atau mendebat.
Jadi kalau ada orang pernah sudah sampai
padanya hidayah lalu ternyata dia
menolaknya argumen-argumen yang benar
kecuali pasti Allah akan berikan mereka
sifat suka berdebat. Kemudian mereka
kemudian beliau membaca firman Allah
mereka tidak memberi perumpamaan itu
kepadamu melainkan dengan maksud
membanta saja. Sebenarnya mereka adalah
kaum yang suka bertengkar.
Juga tidak disebutkan dalam sebuah
riwayat,
Imam Azzahabi rahimahullah mengatakan,
"Saya tidak tahu riwayat ini, tapi
beliau mengangkatnya dari Ibnu Umar
dinukil sebuah arar bahwasanya Nabi
sallallahu alaihi wasallam bersabda,
inna akwafa aku ala umatiimin
widalu munfin quranunum."
Sesungguhnya yang paling aku takutkan
atas umatku adalah tiga hal.
Ketergelinciran
orang alim. Kalau sudah mulai ilmunya
digunakan hanya untuk
kepentingan dunia walaupun Allah
haramkan jadi halal karena dapat duit
misalnya atau sebaliknya gitu kan.
Sebagaimana sering diceritakan dalam
Al-Qur'an masalah banyaknya
pendeta-pendeta dan pasur yang melakukan
itu memperjual belikan ayat-ayat Allah
dengan harga yang murah gitu ya. Maka
itu yang dikhawatirkan oleh Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Alim-alim
seperti ini dia bisa berargumen.
Akhirnya dia membanta yang lainnya untuk
membenarkan perilaku yang ditunjukkan
oleh orang yang sedang membayarnya.
Yang kedua, serangan atau debatnya orang
munafik dengan menggunakan Al-Qur'an. Di
Indonesia ini banyak sekali. Al-Qur'an
berbunyi begini, Al-Qur'an berbunyi
begini. Padahal sebenarnya mereka lain
ya, mereka sama sekali tidak paham
masalah itu. Bahkan sampai pada tingkat
di Indonesia ada orang yang sudah sampai
derajat doktor di universitas dan
mengajar dan saya tahu orangnya sampai
pada tingkat bukan cuma manusia
didebati, kitab Allah Al-Qur'an didebati
di di sebuah di sebuah seminar. Dia
berani menyampaikan di depan mahasiswa,
depan banyak orang. dan sempat kebetulan
waktu itu saya diminta untuk menjadi
pembanding ya di Kota Makassar pada saat
itu. Dia berani mengucapkan mengatakan
ha mim alif lam mim ya. Dan semua
huruf-huruf yang terputus di awal
Al-Qur'an ini adalah orang-orang yang
sengaja memasukkan namanya dalam
Al-Qur'an dari kalangan sahabat agar
mereka dikenal.
Ini belum pernah ada satuun ahli tafsir
berani mengatakan ini ya.
Ini kalau seandainya saya punya kampus
orang ini dapat doktor, saya tarik
doktornya nih.
Bahaya sekali ini. Yang dia debat firman
Allah yang turun. Nabi sallallahu alaihi
wasallam sendiri tidak pernah
menafsirkan itu. Sahabat tidak pernah
menafsirkan dan mereka mengimani apa
adanya. Sampai para ulama tafsir dari
kaum salaf mengatakan huruf-huruf yang
terputus di awal Al-Qur'an hanya Allah
yang mengetahui maknanya atau nama
lainnya surah itu. Gitu dia. Enggak. Dia
bilang itu sengaja sahabat menambah
supaya mereka dikenal.
Ini kan menuduh Al-Qur'an berarti ada
tambahan. Menuduh sahabat
menambah-nambah sesuatu ya kan. Apalagi
kita tahu Al-Qur'an ini disusun di
zamannya Utsman bin Affan dan yang susun
ini luar biasa. Ini sahabat-sahabat Zaid
bin Tsabit, ahli-ahli Al-Qur'an gitu
kan. Hudzaifah bin Yaman. Banyak
sahabat-sahabat Nabi yang mulia memang
yang menyusun itu dan mereka sepakat
menggunakan bahasa Quraisy. Ini luar
biasa. ini contoh dan banyak sekali di
kampus sayangnya kampus-kampus Islam
studi Islam tapi begini isinya mendepati
Al-Qur'an, mendepati hadis-hadis Nabi
sallallahu alaihi wasallam,
menyalah-nyalahkan para ulama ini aneh
sekali ya. Tapi itu terjadi subhanallah
ini bisa masuk dalam kategori orang
munafik. Orang munafik yang mendat
berdebat menggunakan Al-Qur'an ya. Dan
yang ketiga adalah dunia yang memotong
leher kalian. maksudnya adalah sampai
membuat seseorang itu tidak peduli lagi
dia harus mati atau tidak yang penting
mendapatkan urusan dunianya ya. Biar
ibadah enggak masalah ditinggalkan yang
penting dia dapat dunianya.
Dalam riwayat lain juga Nabi alaihi
salalatu wasalam bersabda riwayat Abu
Daud dalam kitabus sunah nomor 4 4603
dan Imam Ahmad dalam mustadnya nomor
424 dan seterusnya mungkin 7 atau 8 ee
kali diulangi oleh Imam Ahmad
rahimahullah dan Abu Daud juga
menyebutkan dalam sunannya Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam bersabda,
"Almirau fil qurani kufrun." Berdebat
dalam Al-Qur'an adalah suatu kekufuran.
Seperti tadi kasus tuh mendebati isi
Al-Qur'an. Kenapa ayat ini harus turun?
Misal kenapa bukan turun seperti ini
saja? Apa Allah tidak tahu? Banyak orang
begitu sekarang ya. Kelompok-kelompok
jin ini begitu. Kalau caranya mendebati
Al-Qur'an ini ya dia debati Al-Qur'an.
Apa yang ada di situ tu didebati. Bukan
dia belajar untuk bisa memahaminya.
Tidak. Tidak masuk di akalnya baru baca.
Kayaknya enggak mungkin nih ya. Makanya
harus direvisi bagi mereka Al-Qur'an.
Kalau saya sarankan otak mereka yang
direvisi.
Lha iya kalau tulisannya saja dia, dia
tulis disertasi atau tesis. Kemudian ada
yang protes sementara dia sudah dapat
kom laut. Mungkin dia sudah protes luar
biasa mungkin bisa masuk pengadilan. Dia
protes kitabnya kaum muslimin 1400 tahun
lalu turun dan sudah sempurna semua kita
imani keberadaannya. Ini aneh sekali.
Tapi itu terjadi. Mereka mendebati itu
ya. Mereka mendebati itu dan luar biasa.
Setiap kali ada sesuatu yang aneh-aneh
berhubungan dengan Al-Qur'an pasti
mereka dukung. Apa saja terutama masalah
revisi Al-Qur'an ini ya harus diganti,
harus revisi. Dan ini sebenarnya sudah
dikembangkan oleh Kamal Latur di Turki
pada awal dia menghapus khilafah
islamiyah. Enggak. Kita harus supaya
Turki maju berlepas diri dari Al-Qur'an,
berlepas diri dari bahasa Arab. Kita
adalah orang Turki. Kita harus punya
fanatisme. Dan dan akhirnya digantilah
azan dalam bahasa Turki. dihapus oleh
Khilafah Islamiah. Baju-baju hijab ini
semua dianggap adalah pakaian orang
Arab. Tinggal setelah itu Turki jadi
terpuruk menjadi negeri 200 sekian ya
termiskin di dunia gitu kan. Pada saat
mereka sekarang sudah mulai berusaha
kembali ke Islam baru kemudian Allah
Subhanahu wa taala muliakan kembali.
Riwayat yang selanjutnya adalah riwayat
Abu Daud dalam kitabul aqdiyah nomor
3.597.
Nabi sallallahu alaihi wasallam
bersabda, "Man khama fi bain wahua yam
lam yazal fakatillahi hatta yanzi."
Barang siapa yang bertengkar atau
membanta dalam kebatilan sedangkan dia
mengetahui sebenarnya sudah tahu ini
benar yang diucapkan orang ini. Tapi dia
mungkin k lebih muda, mungkin karena dia
tidak mau namanya dianggap nanti kalah
dan seterusnya maka dia senantiasa dalam
murka Allah sampai dia berhenti.
Di dalam riwayat lain, riwayat Abu Daud,
lafaznya eh ada tambahan lafaz berbunyi
faqad baa bighbin minallah.
maka dia telah mengundang murkahnya
Allah.
Selanjutnya dua dalil yang tersisa
adalah sabda Nabi sallallahu alaihi
wasallam
di dalam hadis riwayat Imam Ahmad dalam
mustadnya nomor 44.
Akwafu ma akfu ala ummati kullu
munafiqin alimul lisan.
Yang paling aku takutkan menimpa umatku
adalah setiap orang munafik yang
lidahnya pandai berbicara.
Ya, seperti sekarang luar biasa. Kalau
saya lihat, saya pernah menjadi praktisi
akademik. Saya juga sekarang sudah lama,
alhamdulillah sudah lebih dari 10 tahun
terjun didakwah, di lapangan menghadapi
masyarakat langsung. Saya melihat di
praktisi akademik terutama yang bernama
mengatasnamakan Islam ini banyak sekali
orang yang seperti ini. Banyak sekali
ya. Dia sendiri praktik Islamnya dalam
keseharian jarang sekali tapi jadi dosen
agama Islam
itu aneh sekali. Itu ya luar biasa gitu.
Dan saya temukan waktu saya lagi
belajar, ada beberapa orang dosen yang
tidak praktikin agama Islam, tapi
mengajar pelajaran Islam.
Dan uniknya orang-orang yang zaman dulu
sudah jelas-jelas dihukum karena
pemahaman mereka yang keliru dan sesat.
Seperti kasus Khallaj yang mengaku Tuhan
masuk ke badannya. Dia bilang, "Ana hua
wahua ana." Saya dia adalah dia. Saya
oleh khalifah waktu itu Abbasiyah
dipenggal lehernya. Kesepakatan oleh
para ulama ini orang kafir mengaku Tuhan
masuk ke badannya. Sekarang di S2
dipelajari itu kalau dia adalah tokoh
Islam. Saya sampai bilang sama dosen
waktu itu, gimana caranya orang yang
sudah dipenggal lehernya di zaman itu
oleh khalifah dan ini karena dianggap
kerusakan di muka bumi ngaku Tuhan,
ngaku ketuhanan bahaya sekali. Dan juga
ulama sepakat, lalu kita sekarang
jadikan tokoh. Apa jawabannya? Ini
ngajar S2 orang ini. Lalu dia
mengatakan, "Ya itu kan orang-orang itu
belum sampai pada levelnya Khallaj."
Iya, belum sampai pada kegilaannya,
bukan pada level ilmunya. G Khallaj ini
kalau kita lihat historinya bukan
seorang alim. Orang yang biasa saja
hidup di Irak pada saat itu. Tiba-tiba
mengaku dia adalah tokoh yang hebat
dekat sama Allah. Makanya dianggap orang
gila dipenggal. Pada saat itu. Kita di
sini Indonesia disuruh mahasiswa buat
makalah. Kalau dia tokoh dipertahankan.
harus pertahankan loh ya. Kalau misalnya
ada 14 orang di kelas pas sarjana yang
saya tahu itu ya. Kemudian ada tokoh
siapa dipelajari. Seseorang mahasiswa
harus nulis makalah dan membela orang
itu. Kalau dia hebat dalam berargumen,
gak ada yang bisa bantah di kelas itu,
maka dapat kaum laut walaupun dia
menghina atau dia membela kesalahan. Itu
yang terjadi tuh. Itu di kampus kita.
Itu fakta. Saya alhamdulillah tidak
sebutkan nama kampus tertentu, tapi ini
umumnya yang terjadi. Apa yang saya
lihat depan mata saya dan ini yang
terjadi, Teman-teman sekalian. Bahaya
sekali. Akhirnya orang-orang munafik ini
banyak yang membela, mengacaukan umat
dengan tokoh-tokoh yang dasar memang
sudah tidak mungkin diangkat lagi
namanya. Seperti kamalata Turki itu luar
biasa. Turki itu dianggap betul-betul
sebagai tokoh gitu kan. Kalau dia
menghapus khilafah, mengganti azan
bahasa bahasa Turki perempuan disuruh
buka jilbab, itu tokoh Islam. Justru itu
membuat Islam maju. Ini betul-betul
harus direnov otaknya ya. Luar biasa
gitu ya. Yang terakhir adalah sabda Nabi
sallallahu alaihi wasallam
dalam kitab Bir Wilah nomor 2028. Alhaya
wal iyu syubbatani minal iman wal badu
wal bayanu syubatani minan nifaq. Malu
dan sedikit bicara dalam masalah yang
mengandung dosa adalah dua cabang dari
cabang-cabang keimanan. Artinya orang
malu, orang bicara pada hal-hal yang
penting itu tanda keimanannya. Kalau
orang tidak banyak berbicara itu berarti
tanda keimanan orang itu. Sebaliknya
orang sering berbicara kotor dan banyak
omong selalu dalam semua bidang dia
masuk. Di sini dia ngomong, sana dia
ngomong. Padahal enggak mungkin orang
kuasai semua bidang kan gitu. Tapi dia
begitu semua bidang dia seakan-akan
menonjol situ. Selalu dia bicara di
sini, dia bicara di sana, dia bicara di
sana. Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam begitu. Ini sabda Nabi.
Berbicara kotor dan kasar dan banyak
omong. adalah dua cabang dari
cabang-cabang kemunafikan.
Jadi tanda-tanda kemunafikan jelas di
sini ya. Jadi bukan cuma sekedar
berbicara bohong, berjanji mengingkari
ataupun diberikan amanah maka dia
khianati. Tetapi juga termasuk di sini
adalah orang yang suka berdebat, orang
yang suka membantah, apalagi
menyalahgunakan ayat-ayat Al-Qur'an atau
berargumen dengan hujah-hujah atau ee
perkara-perkara ibadah tapi dia tidak
mengerjakannya. Allahuam. Semoga Allah
selamatkan kita dari sifat-sifat ini dan
dijadikan kita sebagai orang-orang yang
beriman dan patuh kepada sang pencipta
Allah sampai meninggal dunia insyaallah.
Bagi saya teman-teman sekalian semoga
apa yang kita bahas malam ini bermanfaat
buat kita semua.
Amin.
Dan juga semoga saja seluruh amal yang
pernah kita kerjakan diterima dengan
kemaha murahnya sang pencipta sampai
menjelang ajal datang nanti. Dan seluruh
dosa yang pernah kita kerjakan terutama
yang hadir dalam majelis kita ini
semuanya dengan kemahamuran Allah
diganti menjadi pahala. Dan juga semoga
Indonesia menjadi negara yang aman,
damai tentram. Seluruh umat Islam di
bawah naungan ukhuwah islamiah dan juga
diangkat perselisihan di antara mereka
dan terselamatkan dari semua kaum
munafikin, semua tipu daya musuh-musuh
Islam dan juga agar seluruh wilayah di
Indonesia diberikan pemimpin muslim yang
adil kembali kepada Al-Qur'an dan sunah.
Dan semoga Indonesia menjadi contoh bagi
negara-negara yang lain. Dan juga kita
selam mendoakan saudara kita di
Palestina, di Syria, di Yaman, di Irak,
di Myanmar, di Asa di mana pun mereka
berada sedang tertindas. Semoga Allah
ikhlaskan niat mereka, terima para
syuhada mereka, mudahkan Islam di tangan
mereka dan tangan kita semua. Dan semoga
Allah partisipasikan kita bersama mereka
di pahala, baik dengan doa, dengan harta
juga dengan jiwa kita. Dan semoga Allah
dengan kemaha murahnya menyatukan kita
semua di surga firdausnya tanpa hisab
sebagaimana satukan di majelis ilmu yang
mulia ini. Kalau benar dari Allah kalau
saar dari saya mohon dimaafkan.
Subhanakallahumma wabihamdika ashadu
alla ilaha illa anta astagfiruka wa
atubu ilaik. Wasalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullah
warahmatullahi wabarakatuh.