File TXT tidak ditemukan.
Kisah Sahabat Nabi ﷺ Ke-2: Menjadi Farouq Bersama Umar bin Khaththab (3)
w74YAypnRFk • 2015-02-11
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
ini setengah harta saya tinggalkan ya
atau saya sedekahkan untuk Allah dan
Rasulnya. Maka Nabi sallallahu alaihi
wasallam berkata kepadaku, kata Umar
radhiallahu anhu, ee apa yang kau
tinggalkan untuk keluargamu? Saya
berkata ee setengah ya sama seperti ini
ya Rasulullah. Lalu enggak lama datang
Abu Bakar. Abu Bakar membawa seluruh
hartanya. Lalu Nabi sallallahu alaihi
wasallam bertanya, "Apa yang kau
tinggalkan untuk keluargamu?" Abu Bakar
mengatakan, "Allah dan Rasulnya." Maka
di sini Umar mengatakan, "Saya tahu
bahwasanya saya tidak akan pernah bisa
mengalahkan Abu Bakar dari sisi apapun."
Artinya di sini beliau menyebutkan
tentang fadilah Abu Bakar. Tapi yang
diambil pelajaran adalah sedekahnya
beliau dengan ya setengah harta yang dia
milikin. Dalam kisah yang lain,
Al-A'masy A'mas terkenal ya gurunya Imam
Bukhari ya. Banyak ulama-ulama hadis ini
rahimahullah. Seorang ulama tabiin
pernah berkata, "Pada suatu hari Umar
bin Khattab ya menyuruh seseorang
membeli.
Umar bin Khattab mendapatkan atau
menyerahkan 22.000 dirham. Ya, seseorang
memberikan kepada Umar bin Khattab
20.000 dirham. 22.000 dirham ini mungkin
ukurannya sekarang sudah puluhan juta
rupiah." Diberikan kepada Umar bin
Khattab. Lalu Umar bin Khattab tidak
berdiri dari tempat duduknya kecuali
sudah membagikannya. Tidak ada satuun
dibawa pulang ke rumahnya. Sedekah
diserahkan kepada beliau untuk beliau
pakai. Beliau serahkan sebelum berdiri
dari tempatnya. Beliau sudah bagi habis
semua itu. Jadi ini termasuk ya beliau
apa namanya? mensedodekahkan seluruh
harta yang dia miliki. Lalu ditanya,
"Kenapa Anda sedekahkan?" Ya, satu waktu
beliau paling gemar kalau ada uang beli
gula. Gula yang paling digemar oleh Umar
bin Khattab untuk disedekahkan. Selalu
beli gula dibagikan kepada orang. Ya,
ini lebih banyak dilakukan oleh Umar bin
Khattab. Lalu ditanya, "Kenapa Anda
bersedekah dengan gula?" Beliau
mengatakan, "Karena aku sangat
menyukainya." Dan Allah berfirman dalam
surah Al Imran ya ayat 92.
Auzubillahiminasyaitanirrajim.
Kalian tidak akan mendapatkan
kesempurnaan pahala sampai kalian
menginfakkan apa yang kalian paling
cintai. Juga Umar bin Khattab pernah
menyuruh Abu Musa al-Asy'ari membeli
seorang hamba sahaya wanita pada saat
itu dari tawanan Jalula. Salah satu ya
peperangan dulu terjadi zaman Umar bin
Khattab dan banyak sekali harta rampasan
perangnya. Maka Umar bin Khattab
menyuruh membeli salah satu budak
wanita. Lalu Umar bin Khattab
memerdekakannya. Ya, sambil berkata
membaca firman Allahbun.
Kalian tidak akan mendapatkan
kesempurnaan pahala sampai kalian
menginfakkan apa yang paling kalian
cintai.
Kemudian juga sikap Abu ee Umar bin
Khattab pada saat meninggalnya
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tentu
ini kisah panjang saya ringkaskan. Waktu
Umar bin Khattab radhiallahu anhu
melihat atau mendengar berita Nabi
sallallahu alaihi wasallam sakit keras
dan akan meninggal dunia dan para
sahabat itu sudah meninggal dunia ya
Nabi sallallahu alaihi wasallam sudah
meninggal ceritanya. Lalu banyak orang
simpang sir mengatakan Nabi sudah
meninggal mengatakan belum. Umar bin
Khattab waktu itu sulit menerima keadaan
maka beliau berdiri dan berteriak sambil
berkata, "Sesungguhnya beberapa orang
munafik mengira bahwa Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam telah wafat
padahal Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam tidak wafat. Tapi beliau pergi
kepada Rabbnya sebagaim sebagaimana Musa
bin Imran pergi menghadap kepada
Rabbnya. Lalu dia meninggalkan kaumnya
selama 40 malam. Kemudian dia kembali
kepada mereka setelah sebelumnya
dikatakan telah wafat. Demi Allah
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
pasti kembali. Sungguh beliau akan
memotong tangan dan kaki orang-orang
yang mengatakan bahwa beliau telah
wafat. Ini disebutkan dalam Ibnu di Ibnu
Hisyam juga Ibnu Ishaq dan diriwayatkan
Ibnu Sa'ad dalam tabaqat dan disahihkan
oleh Ibnu Hibban. Jadi Umar bin Khattab
waktu itu sangat panik dia mengatakan
itu. Maka orang jadi ragu, takut dengan
Umar bin Khattab. Umar sambil
menghenuskan pedangnya. Pada saat itu
Abu Bakar pun belum datang dan
orang-orang menyampaikan kepada Abu
Bakar, "Hai Abu Bakar, datanglah melihat
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kami
tidak tahu beritanya dalam rumah di
kamarnya Aisyah. Tidak ada yang tahu
simpang siur meninggal atau tidak. Dan
Umar bin Khattab sedang marah mengangkat
suaranya ya di depan rumah Nabi
sallallahu alaihi wasallam dan mengancam
siapapun yang mengatakan Nabi sallallahu
alaihi wasallam telah meninggal akan
dipenggal lehernya. Maka Abu Bakar pun
datang lalu masuk ke rumah Nabi
sallallahu alaihi wasallam tepatnya di
rumahnya Aisyah anak beliau. Aisyah lagi
ada di situ lalu bertanya, "Bagaimana
Rasulullah?" Kata Aisyah sudah
meninggal. Lalu lihatlah oleh Abu Bakar.
Dilihat Nabi sallallahu alaihi wasallam
sudah meninggal. Lalu Abu Bakar mencium
kening Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Kemudian menutup dengan kain dan
memastikan Nabi sallam sudah meninggal.
Lalu Abu Bakar berkata, "Sungguh wahai
Rasulullah, engkau telah merasakan
sekarang lebih tentram daripada
sebelumnya." Lalu keluarlah Abu Bakar.
Abu Bakar mengucapkan kalimat yang
jelas, ya. yang beliau mengatakan amma
baad ya. Beliau teriak dengan suara
keras waktu itu memanggil mengatakan
Umar lagi mundar-mandir pegang pedang
nih. Kata Abu Bakar, "Wahai Umar
tenanglah ala rizqika. Tenanglah. Umar
gak mau dengar. Dia enggak tahu kalau
Abu Bakar yang ngomong nih. Enggak.
Pokoknya dia tetap sampai Abu Bakar
waktu itu ada dua riwayat menepuk pundak
Umar. Waktu Umar melihat langsung Abu
Bakar langsung dia duduk mendengarkan.
Riwayat yang lain dikatakan Umar enggak
mau mundar-mandir. Dia tetap marah gitu
kan dalam kondisi dia tidak bisa menahan
dirinya. Maka pada saat itu ee
orang-orang pun pada saat lihat Abu
Bakar mengurumuni Abu Bakar meninggalkan
Umar waktu itu. Karena orang sudah takut
sama Umar pakai pedang g kan. Sementara
Abu Bakar datang dan mau bicara. Abu
Bakar terkenal dengan kelembutannya.
Maka Abu Bakar berkata, "Amma ba'd.
Siapa yang menyembah Muhammad,
ketahuilah bahwasanya Muhammad telah
mati. Dan siapa yang menyembah Allah,
maka Allah itu hidup dan tidak akan
pernah mati. Lalu Abu Bakar membacakan
ayat azubillah minasyaitanirjim w
Muhammadun illa rasulunum.
Muhammad itu hanyalah seorang utusan
Allah dan telah berlalu sebelumnya
banyak utusan-utusan Allah. Apakah kalau
dia mati atau terbunuh di medan perang,
kalian meninggalkan agama-agama Allah?
Meninggalkan agama Allah yang dibawa
oleh Muhammad itu sendiri sallallahu
alaihi wasallam. Siapa yang meninggalkan
apa yang telah dibawa oleh Muhammad
sallallahu alaihi wasallam itu
meninggalkan kebenaran, maka tidak akan
tidak akan berbahaya bagi Allah. Allah
tidak butuh dengan dia dan Allah akan
membalas orang-orang yang bersyukur.
Kata Ibnu Abbas, "Demi Allah,
seolah-olah manusia pada saat itu belum
mengetahui bahwa Allah telah menurunkan
ayat ini hingga Abu Bakar membacakannya.
Lalu manusia semua menerima darinya,
tidak seorang pun manusia aku dengar
kecuali dia membacanya." Ibnu Musayyab
rahimahullah berkata, Umar berkata,
"Demi Allah, begitu aku mendengar Abu
Bakar membacanya, aku langsung lemas.
Kedua kakiku tidak mampu menyangga
tubuhku sehingga aku jatuh ke tanah.
Ketika aku mendengarkan dan aku
mengetahui bahwasanya beliau sudah wafat
sallallahu alaihi wasallam. Tapi ini
kisah bagaimana kedudukan Umar atau
posisi Umar pada saat menghadapi matinya
Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi
yang bisa diambil pelajaran adalah
bagaimana beliau mendengar pada saat
datang ayat langsung tunduk Umar bin
Khattab langsung mendengarkan firman
Allah Subhanahu wa taala.
Ada juga kisah tentang bagaimana Umar
membaiat Abu Bakar. Saya ringkaskan
kisahnya adalah waktu Nabi sallallahu
alaihi wasallam meninggal, orang-orang
Ansar berkumpul di Bani Tsqifah.
Bani Takifah ini sampai waktu saya masih
mahasiswa kemarin tahun 90 sampai 9
terakhir sampai tahun 8 97 saya masih
lihat masih ada sebenarnya ya ada sebuah
kebun kurma gitu di dekat perpustakaan
Raja Abdul Aziz dulu tuh tempat Bani
Tsakifah tempat orang-orang Anshar
berkumpul tapi sekarang sudah masuk
perluasan masjid intinya adalah di situ
dulu ada Bani Tsakifah orang-orang ansar
berkumpul mereka saling bermusyawarah
ingin memilih pimpinan mereka ya ee ee
apa namanya namanya Sa'ad bin Muad
radhiallahu anhu memilih sebagai
khalifah mengganti Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Lalu waktu Abu Bakar
dan Umar dengar, Abu Bakar langsung
mengajak Umar, "Ayo kita ke sana." Ya,
datanglah mereka berdua ke Bani
Tsakifah. Lalu Umar ee lalu Abu ee apa
namanya? Abu Bakar bersuara mengatakan
setelah berbicara amma ba'ad seterusnya
lalu mengatakan, "Wahai orang-orang
Ansar, kami mendengar kalian sudah
bersatu untuk mendirikan atau mengganti
pengganti menjadi pengganti Nabi
sallallahu alaihi wasallam." Ketahuilah
Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur'an
ya asabiquunal awaluna minal muhajirina
wal anshar. Allah telah menyebutkan
orang-orang yang terdahulu dari
Muhajirin dan Anshar. Allah mendahulukan
kami Muhajirin daripada kalian ansar.
Berarti yang mestinya kita lakukan
adalah pemimpin dari Muhajirin dan
wakilnya dari Ansar. Wakilnya dari
Ansar. Saya memilih agar Umar ini yang
kalian pilih karena Umar ini orang yang
paling patuh dengan Allah menurut saya.
Maka melihat kejadian tersebut, Umar
langsung berdiri memegang tangan Abu
Bakar mengatakan, "Wahai orang-orang
Ansar, siapa kira-kira yang mau, yang
berani gitu kan, yang berani mendahului
Abu Bakar untuk jadi khalifah. Sementara
waktu Nabi sallallahu alaihi wasallam
mau meninggal, Nabi sallallahu alaihi
wasallam menyuruh dia menjadi imam dan
dia adalah temannya Nabi di Gua pada
saat hijrah ya di ee Garthur gitu kan
waktu itu. Jadi, siapa yang bisa
mengganti, siapa yang bisa ee kira-kira
di antara kalian menganggap lebih afdal
daripada Abu Bakar? Semua sahabat diam.
Lalu Umar mengatakan, "Saya membaiat Abu
Bakar." Ulurkan tangan Abu Bakar. Lalu
dibulurkan. Lalu kemudian orang-orang
Ansar semua membaiat Abu Bakar. Dan pada
saat itu ulama menanggapi mengatakan
selama Abu Bakar jadi khalifah maka Umar
bin Khattab menjadi atau panen pahalanya
karena dia menjadi penyebabnya. Umar bin
Khattab di zaman khilafahnya Abu Bakar
diangkat menjadi hakim. Dan ulama
sepakat mengatakan dialah hakim pertama
dalam Islam. Jadi orang-orang seperti
ini yang tegas perlu diangkat menjadi
hakim. Dan ini diriwayatkan oleh Imam
Bukhari. Ini diriwayatkan oleh Imam
Bukhari juga pada saat Abu Bakar
meninggal, Abu Bakar menyerahkan
khilafah kepada Umar sebagaimana kita
ketahui. Dan Ibnu Jauzi juga mengatakan
ketika Abu Bakar menginginkan hal
tersebut yang menyerahkan khilafah, maka
dia memanggil Abdurrahman ibin Auf.
Tanya, "Wahai Abdurrahman kira-kira
bagaimana pendapatmu tentang Umar?" Dan
ini sebuah pelajaran besar juga yang
kita ambil di sini ya. Seorang yang
kenal baik pada orang lain pun tidak ada
salahnya dia menanya, bermusyawarah
dengan orang yang lain lagi yang
mengenalnya. Di sini Abu Bakar sudah
sangat kenal kepada Umar bin Khattab dan
dia mau menunjuk sebagai khalifah. Tapi
tetap dipanggil sahabat Nabi yang lain
Abdurrahman bin Auf yang juga dijamin
masuk surga. Ditanya, "Bagaimana
pendapat kau wahai Abdurrahman tentang
Umar?" Berkatalah Abdurrahman, "Demi
Allah, dia lebih baik dari apa yang
engkau pikirkan tentang seorang
laki-laki sekalipun dia sangat keras."
Lalu Umar Abu Bakar memanggil lagi
Utsman. Tanya, "Uthsman, "Bagaimana
pendapatmu tentang ya Abu Umar?" Maka
berkatalah Utman, "Anda lebih tahu." Ya.
Lalu Abu Bakar bilang, "Dipaksa saya
tanya kamu. Demi Allah, jawab, bagaimana
pendapatmu tentang ya Umar?" Lalu Utsman
berkata, "Ya Allah, ilmuku tentangnya
ialah bahwa apa yang dia sembunyikan
lebih baik daripada apa yang nampak
darinya." Bahwa di antara kita tidak ada
orang yang semisal dengannya. Lalu Abu
Bakar berkata, "Kalau begitu tulislah.
Semoga Allah merahmatimu. Ini yang
ditulis oleh Abu Quhafah, Abu Bakar di
akhir hidupnya ya ee kepada kaum
muslimin agar mereka memilih orang yang
terbaik di antara mereka ya ee apa
adalah Umar bin Khattab. Itu ringkas
ceritanya. Lalu akhirnya pada saat dia
mau mengatakan saya menunjuk meninggal
ee pinsanlah Abu Bakar. Lalu Utsman bin
Affan menulis nama Umar bin Khattab.
Ditulis tulis wasiat itu. Enggak lama
kemudian Abu Bakar sadar. Lalu Abu Bakar
mengatakan, "Bacakan hai Utsman." Kata
Utsman, "Aku meninggalkan wasiat agar
kalian memilih Umar bin Khattab." Ya,
kata Abu Bakar, "Aku sangat tahu
bahwasanya engkau khawatir kalau aku
dari pinsan sudah meninggal dan tidak
sempat mewasiatkan dan engkau mengetahui
Umar orang terbaik." Kata Utsman. "Iya."
Maka Abu Bakar pun mengatakan, "Semoga
Allah merahmatimu dan jadilah dia
menjadi khalifah." Ya.
Ali bin Abi Thalib berkata, "Ketika Ajal
datang kepada Abu Bakar, dia melihat
bahwasanya Umarlah orang yang paling
mampu atasnya atau khilafah. Seandainya
Abu Bakar bersikap nepotisme, niscaya
dia mendahulukan anaknya." Dalam hal ini
dia meminta pendapat kaum muslimin. Ada
yang rela dan ada yang tidak rela.
Mereka berkata, "Apakah engkau wahai Abu
Bakar akan mengangkat seorang pemimpin
atas kami seseorang yang keras sementara
engkau masih hidup? Apa yang engkau
katakan kepada Rabbmu pada saat nanti
dia bertanya kepadamu, "Hari kiamat
kalau kau dibangkitkan?" Abu Bakar
menjawab, "Aku berkata kepada Rabbku
ketika aku menghadap kepadanya hari
kiamat, Ilahi, wahai Tuhanku, aku telah
mengangkat sebaik-baik hambaMu atas
mereka." Maksudnya ini tanggung jawabnya
besar di Allah Subhanahu wa taala. Lalu
Ali melanjutkan, Abu Bakar menunjuk Umar
sebagai penggantinya. Maka Umar memimpin
kami seperti dua sahabatnya, Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam dan Abu
Bakar. Kami tidak mengingkari apapun
atasnya. Setiap hari kami mendapatkan
tambahan dalam agama dan dunia. Allah
membuka belahan bumi dengannya dan
melebarkan kota-kota. Dia adalah orang
yang tidak takut karena Allah terhadap
celaan orang-orang yang mencelahnya.
Orang jauh dan orang dekat adalah sama
dalam keadilan dan kebenaran. Allah
Taala menetapkan kebenaran atas lisan
dan hatinya. Sampai-sampai kami mengira
bahwasanya ketenangan berbicara melalui
lidahnya dan bahwa di antara kedua
matanya terdapat malaikat yang
membimbingnya dan meluruskannya. Dan ini
disebutkan oleh ee disebutkan dalam ee
disebutkan oleh As-Sya'bi dari Ali Rah
dalam riwayat dan rawi-rawiya tiqat
semuanya rawi-rawinya tiqat ya. Kemudian
dikatakan juga ada beberapa kisah
berhubungan dengan masalah
Umar bin Khattab ini. Di antaranya
adalah di sini ditulis oleh beliau
judulnya sebenarnya hadiah untuk
memimpin kaum muslimin.
Kelembutan Abu Bakar sampai pada tingkat
jika anak-anak melihatnya mereka akan
berlari kepadanya dan menyambutnya
sambil berteriak, "Wahai ayahku." Jadi
kalau Abu Bakar tuh saking lembut sekali
sampai-sampai anak-anak Madinah kalau
melihatnya berteriak sambil mengata,
"Wahai ayahku." Sambil lari. Dan
akhirnya Abu Bakar pun memeluk mereka
dan mengusap kepala mereka. Sedangkan
waktu Umar menjadi khalifah,
kewibawaannya mengalahkan kelembutannya.
Hingga pada tingkat sekiranya
orang-orang duduk di pelataran rumahnya,
mereka akan bubar dan meninggalkan
tempat mereka karena segan sehingga
mereka melihat apa yang dilakukan oleh
Umar bin Khattab. Jadi Umar bin Khattab
ini bubar. dinukil dalam sebuah kisah
bahwasanya Umar bin Khattab setiap malam
kalau keluar selalu membawa tongkat kayu
dan keliling di Kota Madinah untuk
mencari tahu siapapun yang begadang ya
yang tidak tidur habis isya nih dia
putar di Madinah bawa tongkat. Kalau
orang-orang tersebut tidak bisa
memberikan alasan yang tepat kenapa
mereka begadang, maka dipukulin oleh
Umar. Sambil Umar mengatakan, "Apakah
kalian begadang di sini?" Ya,
membuang-buang waktu kalian di awal
malam sehingga kalian kehilangan
kesempatan beribadah dengan Allah di
akhir malam. Demi Allah bubarlah.
Dibarin sambil dipukulin sama Umar.
Kalau mereka punya alasan, mungkin
masalah takziah, ada orang sakit lagi
dijenguk, maka Umar bin Khattab
membiarkannya. Jadi Umar Khattab
radhiallahu anhu sangat tegas dalam
masalah-masalah seperti ini.
Kita bisa lihat sekarang ada beberapa
yang berhubungan dengan
rasa takutnya Umar bin Khattab kepada
Allah Subhanahu wa taala.
Utsman bin Affan berkata
dalam riwayat yang disebutkan atau
disebutkan dalam Usutul Ghabah kitab
Ibnu Air dengan sanad yang sahih juga
disebutkan oleh Ibnu Athir dalam
Alkamil. Dikatakan ini teman-teman
menyampaikan buku di halaman 244 ya
sampai 255 riwayatnya di akhir paragraf.
Di sini saya titik beratkan saksi
bahasannya. Utsman bin Affan berkata,
"Satu waktu saya sedang
berada di Madinah dan sangat panas
cuacanya waktu itu. Kemudian saking
panasnya saya pun akhirnya
melihat ke arah luar dari arah dari
rumah jendela rumah itu saking panasnya
sampai saya memasukkan lagi wajah saya
ke dalam kena panasnya gitu. Lalu saya
melihat dari kejauhan ada seseorang yang
sedang menutup wajahnya dengan imamahnya
dan sedang menggiring unta-unta yang
sedang ada di kejauhan. Panas sekali ya.
Lalu saya pun berkata kepada para
pengawal saya, "Siapa orang ini?"
Lalu pada saat kami mendekat atau orang
itu mendekat, maka pengawal saya
mengatakan atau orang-orangnya Utsman
mengatakan, "Ya, pegawainya dia, dia
Umar bin Khattab, amir mukminin. Lalu
aku pun berkata, "Wahai Amirul
Mukminin," kata Utsman, "kenapa Anda
lakukan ini?
Ada apa kata Umar? Saya sedang mengambil
atau menangkap dua ekor unta zakat. Ya,
yang unta zakat ini aku khawatirkan
hilang, maka aku ingin membawanya ke
Bima. Bima ini bukan nama kota kita ya.
Jadi, Bima waktu itu istilah bagi tempat
penggemukan atau pengumpulan unta-unta
zakat. Maka aku takut jangan sampai
hilang dan Allah meminta
pertanggungjawaban dariku hari kiamat.
Maka Utsman pun berkata, "Wahai amirul
mukminin, singgallah minum dulu kalau
begitu dan berteduh. Biar kami yang
mengurus kedua unta itu." Kata Umar,
"Kembalilah ke tempat teduhanmu wahai
Utsman." Utsman berkata waktu itu
kembali ke dalam rumahnya kepada
orang-orang di sekitarnya. "Barang siapa
ingin melihat kepada seorang laki-laki
yang kuat lagi amanah, hendaklah dia
melihat kedua orang ini. Lalu dia
kembali kepada kami dan merubahkan
tubuhnya." Tapi kita bisa ambil
pelajaran Utsman, Umar bin Khattab jadi
khalifah siang hari bolong ngikut lagi
mengurus dua ekor ya unta zakat yang
harus dibawa ke tempat penggemukan.
Padahal bisa ditugaskan pegawainya bisa
nanti sore hari pada saat dingin. Tapi
ini enggak. Beliau kerjakan pada waktu
itu juga. Pernah dikatakan juga dalam
satu waktu ini karena takutnya dengan
Allah Subhanahu wa taala. Abdullah bin
Umar anaknya berkata dalam ini dan ini
riwayat disebutkan dalam akhbar ummah
ya.
Dikatakan Akhbarul Umar, maaf ada buku
namanya Akhbar Umar dan didukil dalam
kisah bahwasanya Abdullah bin Umar
radhiallahu anhuma pernah berkata, "Aku
membeli seekor unta." Ab sahabat Nabi
yang mulia dan anaknya memang Umar bin
Khattab terkenal kesalehannya. Dia
bilang, "Saya pernah beli seekor unta.
Unta itu kurus. Lalu saya titipkan unta
itu ke Bima tadi ya, tempat penggemukan
dan penyimpanan unta-unta zakat. Saya
letakkan di sana. Kemudian digemukkanlah
oleh orang-orang pada saat itu.
Dititipin aja. Abdullah bin Umar tidak
bayar tuh. Enggak bayar unta itu atau
penggemukannya. Maka setelah gemuk,
Abdullah bin Umar membawa unta tersebut
ke pasar gitu kan. Dijuallah orang-orang
teriak, "Unta gemuk, punyanya Abdullah,
anaknya Amirul Mukminin" gitu kan. Ini
ada nilai jualnya. Orang pada ngumpul,
untanya bagus. Punyanya Abdullah bin
Umar, sahabat Nabi, anaknya Amirul
Mukminin. Umar bin Khattab kebetulan
lewat waktu di situ. Lalu dia dekatin,
dia bilang, "Ini unta siapa?" Kata
mereka, "Unta Abdullah." "Mana
Abdullah?" Abdullah bin Umar datang
mengatakan, "Iya wahai Amirul Mukminin."
Walaupun ayahnya dia mengatakan Amirul
Mukminin karena sudah jadi raja. Kata
Umar, "Apa ini Abdullah?" Kata Abdullah,
"Unta saya ya." Kata Umar, "Dari mana
kau dapat?" Dia bilang, "Saya beli.
Bagaimana bisa gemuk?" Kata Umar. Dia
bilang, "Saya meletakkannya di bima gitu
kan." di tempat penggemukan atau
pemeliharaan unta-unta zakat. Lalu
kemudian setelah gemuk saya bawa ke
pasar dengan harapan saya bisa
mendapatkan apa yang didapatkan oleh
pedagang, oleh kaum muslimin. Dapat
untung. Kata Umar bin Khattab,
"Abdullah, karena kau anaknya Amirul
Mukminin lalu kau meletakkan untamu di
bima dengan tujuan menggemukkannya, gitu
kan." Maksudnya tanpa kau membayar upah.
Setelah gemuk kau mau menjualnya, maka
sekarang kau harus menjual unta ini.
Kalau kau menjual unta ini, ambillah
modalmu saja. Keuntungannya kembalikan
ke ya pengampungan unta-unta tadi.
Karena gemuknya untamu ini dari uangnya
ya penggemukan unta tadi. Kamu cuma
punya modal kecuali kalau kamu bayar.
Kita lihat di sini ya. Riwayat ini
menjelaskan bagaimana pekahnya Umar bin
Khattab radhiallahu anhu. Beliau
hati-hati sekali. Jangan sampai mungkin
karena orang sekarang berpikir anak
presiden enggak apa-apa deh pakai
fasilitas mobil dinasnya ayahnya. Kurang
lebih begitu. Kalau Umar bin Khattab ini
mustahil dikasih kepada anak-anaknya
gitu kan. Karena memang beliau tahu ini
tidak mungkin digunakan secara umum. Ini
di antara riwayat
Abdullah bin Abbas juga mengatakan
pernah didatangkan
nampan di depannya Umar bin Khattab
penuh dengan emas. Ada orang datang bawa
emas. Ini pendapatan negara penuh dengan
emas-emas lalu bongkahan-bongkahan yang
besar. Kata Abdullah ibn Abbas, Umar pun
memanggil saya mengatakan, "Wahai Ibnu
Abbas, ke sinilah ambil ini. Bagikan
kepada kaummu." Abdullah bin Abbas
mengatakan, "Baiklah, saya sibuk
membagikan harta tersebut. Lalu pada
saat aku sibuk membagikan di hadapan
Umar, tiba-tiba aku mendengarkan
tangisan dari Umar yang berkata, "Ya
Allah, aku tidak tahu kenapa engkau
tidak mendatangkan emas ini kepada dua
orang sebelumku. Rasulmu Muhammad
sallallahu alaihi wasallam dan dan dan
sahabatnya Abu Bakar. Ya, tentu engkau
tidak datangkan kepada mereka. Kenapa
emas ini enggak datang justru waktu Nabi
jadi Nabi waktu masih hidup? Kenapa
bukan zaman Abu Bakar waktu jadi raja?
Kalau ini datang di zaman mereka, Engkau
tidak datangkan di zaman mereka, ya
Allah, tentu karena engkau inginkan
kebaikan buat mereka. Jadi, tidak ada
tanggung jawabnya. Sekarang kau
datangkan kepada aku, aku tidak tahu ini
kebaikan atau keburukan. Maka izinkanlah
aku ya Allah untuk mengeluarkannya. Maka
Abu Bakar, Umar pun mengeluarkan semua
tadi dari harta yang didapatkan
pendapatan negara. Ya, kalau kita
pikir-pikir sekarang mungkin presiden
bisa nikmatin sebagiannya. Ini sama
sekali dikeluarkan bahkan dia
bermuhasabah dianggap itu sebuah fitnah
yang tidak pernah datang kepada Nabi
sallallahu alaihi wasallam dan Abu
Bakar.
Kemudian juga dikatakan dari Mujahid
Umar bin Khattab berkata, ini dinukil
dalam Ibnu Air dalam kitab Usudul
Ghabah. Usud ghabah ini jamak daripada
asad artinya singa ya. Kusut itu jamak
daripada asad singa ghaba itu maksudnya
hutan ya. Jadi ini nama buku yang
menarik memang tentang masalah ee
sejarah-sejarah para sahabat dan Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Umar bin
Khattab menghabiskan 20 dirham dalam
sebuah perjalanan haji dilakukannya dari
Madinah ke Makkah. Dari Makkah ke
Madinah. Mujahid berkata kemudian dia
menyesal dan dia menepuk satu tangannya
ke tangan yang lain. Menepukkan tangan
kanan di tangan kiri. Dia berkata, "Kami
memang berhak dikatakan telah berbuat
israf atau pemborosan terhadap harta
Allah Subhanahu wa taala." Riwayat yang
lain, Abdullah bin Amr bin Rabiah
berkata, "Aku melihat Umar bin Khattab
memungut kulit biji gandum dari tanah.
Dia berkata, "Seandainya aku bisa
menjadi kulit gandum ini, seandainya aku
bukan apa-apa, seandainya ibuku tidak
melahirkanku." Kata para ulama ini
menandakan bukan menyesali dia hidup,
tapi dia mengatakan kecilnya amal saya
sampai-sampai besar tanggung jawab yang
saya harus lakukan di depan Allah
Subhanahu wa taala kalau kulit ini tidak
akan bertanggung jawab gitu kan. Seperti
itu gambarannya. Kata Ada juga berkata,
"Pernah satu kali ya Umar bin Khattab
datang ke negeri Syam. Dibuatkanlah
sebuah makanan yang belum pernah dia
lihat sebelumnya. Ketika makanan
tersebut dihidangkan kepadanya, dia
berkata, "Ini untuk kami." Lalu apa yang
disiapkan untuk kaum muslimin yang
miskin yang tidak pernah merasa kenyang
dengan roti gandum? Maka Khalid bin
Walid berkata, "Surga untuk mereka."
Maka Umar bin Khattab menangis
mendengarkan kata-kata Khalid, "Surga
buat mereka. Jika ini adalah bagian
kami, sedangkan mereka pergi ke surga,
sungguh mereka telah meraih keutamaan
yang sangat jauh." Lalu Umar bin Khattab
pun meninggalkan makanan tersebut. Ya,
dalam kisah yang lain ini ada beberapa
kisah ya, kisah yang ketujuh kurang
lebih. Salim bin Abdillah berkata
bahwasanya Umar bin Khattab memasukkan
jarinya pernah memeriksa di dubur ya di
bagian belakang unta. Biasanya unta itu
kalau mau diperiksa sakit atau tidak
dipegang bagian duburnya. Kalau unta itu
kalau demam atau enggak biasa ketahuan
dari situ dengan cara tertentulah
orang-orang ini memahaminya. Umar bin
Khattab memeriksa seekor unta sambil
berkata, "Sungguh aku takut ditanya apa
yang terjadi padamu oleh Allah Subhanahu
wa taala pada hari kiamat. Karena beliau
pemimpin, beliau takut sampai unta pun
jangan sampai unta itu sakit, dia tidak
tahu sementara unta itu di bawa
naungannya gitu kan. Itu luar biasa
bagaimana kita pikirkan keadilan beliau.
Kisah yang selanjutnya yang ke-elapan
adalah terkadang Umar mendekatkan
tangannya ke api lalu dia berkata,
"Wahai Ibnu Khattab, apakah engkau bisa
bersabar menghadapinya?" Sambil Umar bin
Khattab menangis. Jadi beliau sering
mendekatkan tangannya ke api sambil
mengatakan, "Apa kau bisa sabar
menghadapi iniya?" Ibnu Khattab
muhasabah sambil menangis. Kisah yang
selanjutnya, Albara bin Masrur berkata,
"Pada suatu hari Umar bin Khattab
keluar, dia datang ke mimbar. Pada saat
itu dia sedang sakit. Lalu seseorang
berkata kepadanya, "Wahai Amirul
Mukminin, tidakkah Anda minum madu?" Dan
waktu itu kebetulan ada kantung kecil
madu di Baitul Mal di tempat penyimpanan
harta. Lalu dibawalah kepada Umar. Umar
berkata, "Kalau kalian izinkan wahai
muslimin, ini kan harta muslimin. Kalian
izinkan saya untuk meminumnya, saya akan
meminumnya. Tapi kalau tidak, maka dia
akan haram atasku. Jadi Umar bin Khattab
hati-hati sampai malu dari baitul ma
dalam kondisi sakit dia tidak berani
meminumnya gitu kan. Ini luar biasa.
Bagaimana dengan pemimpin kita sekarang
yang bukan haknya main menandatanganin
saja mengiyakan akhirnya orang lain pada
ngambil haknya orang lain. Berapa besar
tanggung jawab hari kiamat ini untuk
diri dia sendiri. Minum madu aja dari
baitil mal. Dia takut. Dia mengatakan
kalau kalian izinkan baru saya minum.
Kalau enggak maka dia akan haram bagi
saya. Ibnu Jauzi meriwayatkan dalam
manaqib Umar ya. Dikatakan bahwasanya
Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "Aku
melihat Umar bin Khattab di atas
kudanya." Lalu dengan cepat dia lari
memicu kudanya itu. Lalu aku berkata,
"Wahai Amirul Mukminin, mau ke mana ya?
Mau ke mana Anda ini?" Maka kata Umar,
"Seekor unta zakat lepas. Aku ingin
menangkapnya." Umar bin Khattab lihat
lepas dikejar sama dia sendiri. Enggak
disuruh pegawainya, dia lari sendiri
mengejar gitu kan. Lalu e Ali bin Abi
Thalib mengatakan, "Sungguh engkau akan
membuat lelah para khalifah setelahmu.
Kalau semua orang harus buat begitu,
kerepotan nanti hai Amirul Mukminin."
Apa kata Umar? "Wahai ayahnya Hasan,
wahai Ali, jangan menyalahkanku demi zat
yang telah mengutus Muhammad dengan
kenabian. Seandainya seekor anak domba
hilang di pinggir sungai Furat di Turki,
niscaya Umar akan disiksa karenanya pada
hari kiamat." Ya, jadi Umar bin Khattab
bermuhasabah diri yang luar biasa.
Katada berkata juga ada seseorang yang
bernama Muaikib. Muaikib ini salah satu
penjaga Baitul Mal. Dia pernah
membersihkan baitul Mal. Ditemukanlah
ada koin dirham 1 dirham jatuh. Abdullah
bin Umar kebetulan lewat ya. Lalu
Muaikib ini dia gak masukan ke Baitul
Mal. Dikasih Abdullah bin Umar nih ambil
aja deh. Kan gitu disuruh bawa. Ya
mungkin karena dianggap anak khalifah
gitu kan. Kata Muaikib, "Belum selesai
saya bersihkan Baitul Mal." Tiba-tiba
suaranya Umar datang dan membawa di
tangannya koin dirham itu. Ternyata dia
tanya anaknya, "Kamu dapat dari mana?"
dan seterusnya gitu kan. Lalu dia
bilang, "Wahai Muaikib, apa ini?" Kata
Muaikib, "Ini tadi ya saya lagi sapu
bersih ada di sini anak Anda lewat saya
kasih." Kata kata Umar bin Khattab,
"Apakah engkau ingin umat Muhammad
semuanya
memperkarakanku terkait dengan dirham
ini hari kiamat?" ini bukan punya aku.
Kau kasih anakku untuk apa? Nanti akan
menjadi masalah. Karena ini punya umat
berarti berhadapan dengan umat semuanya.
Ini kadang-kadang orang tidak pikir ya.
Kadang-kadang subhanallah dia ambil
misalnya zakat mal misalnya apalah
punyanya umat ini bukan punya bukan
punya individu. Berarti dia bertanggung
jawab dengan umat itu. Ada orang
kadang-kadang nyalahin satu kota tuh
orang Jakarta tuh begini satu kota dia
berhadapan hari kiamat tuh berani benar
gitu kan. Enggak boleh sembarangan. Jaga
lisan gitu kan. Tanggung jawabnya berat
hari kiamat.
Lalu Umar juga pernah membaca ayat dalam
satu malam biasanya dilakukan ya yang
biasa dilakukan kemudian dia sakit dan
sampai dijenguk oleh sahabat selama 1
bulan. Ini riwayat tadi sudah saya
sebutkan lalu diulangi oleh beliau di
sini.
Umar bin Khattab juga pernah masuk dalam
sebuah kebun. Kebun itu memang kebun
yang disiapkan ee kebunnya sebut
seseorang. Dia masuk ke dalamnya karena
dianggap di Amirul Mukminin diberikan
kesempatan Umar bin Khattab untuk masuk.
Begitu Umar bin Khattab masuk ke dalam
ya kata Anas bin Malik yang lagi jalan,
"Saya terpisah dengan Amirul Mukminin
dengan sebuah pohon." Lalu saya
mendengarkan amirul mukmin mengatakan,
"Wahai Amirul Mukminin Ibnu Khattab,
bagus demi Allah engkau bertakwa kepada
Allah wahai Ibnu Khattab atau dia akan
mengazabmu." Artinya jangan sampai
karena kau masuk ke kebun ini kamu jadi
lupa. Akhirnya Allah mengazabmu supaya
dia tidak terlihai dengan kebun yang
dikasih tersebut.
Dalam masalah zuhud,
semua raja waktu itu punya stempel
dan umumnya di cincin. Biasanya di
cincin. Umar bin Khattab punya cincin
gitu kan. Tertulis kalimatnya kalau dia
mengirim surat ke raja-raja, ke siapa
saja gubernurnya. Isinya begini. Kafa
bil mauti waidan ya Umar. Tulisannya itu
cukuplah kematian sebagai penasihatmu
wahai Umar. cincinnya dia. Jadi setiap
dia stempel dia ingat dia lagi kirim
surat nih. Oh ternyata saya diingatkan
dengan kematian. Stempelnya bunyinya
begitu gitu kan. Pernah enggak antum
berpikir stempel begitu gitu kan.
Ketika memegang khilafah Umar bin
Khattab berkata, "Tidak halal untukku
dari harta Allah kecuali dua pakaian.
Satu pakaian untuk musim dingin dan satu
pakaian untuk musim panas." Jadi kalau
dia lagi jadi khalifah, kalaupun harus
dibelikan oleh baitul mal cukup satu
musim dingin, satu musim panas. Bukan
semua dibiayai oleh pemerintahan.
Makanan pokok keluargaku seperti makanan
orang laki-laki dari Quraisy yang bukan
merupakan orang terkaya mereka. Kemudian
aku ini hanyalah seorang laki-laki dari
kaum muslimin.
Cukup banyak riwayat di sini disebutkan
tentang masalah itu. Dan pernah Jabir
bin Abdillah memegang radhiallahu
seorang sahabat pegang daging bawa baru
beli gitu. Kayak kita sekarang mungkin
dikresek dibawa gitu kan. Kemudian Umar
bertanya apa itu Jabir? Jabir
mengatakan, "Daging saya beli, saya
pengin makan daging." Umar menasihatin
dia, bukan melarang ya, tapi menasihatin
mengatakan, "Wahai Jabir, apakah setiap
kali kau lihat sesuatu, kau pengin satu
kau selalu membelinya?"
Maka lalu Umar membacakan ayat yang
membuat Jabir jadi belajar gitu. Dari
situ Umar mengatakan bacaan firman Allah
al-Ahqaq ayat 20. Adhabtum thyibatikum
fiatikum dunya. Ini potongan ayat ya,
kurang lebih. Artinya apakah kalian
sudah menghabiskan rezeki yang baik
dalam kehidupan dunia kalian? Artinya
cobalah redam jangan semuanya dibeli.
Gitu kan. Ini sebuah pelajaran juga yang
bisa diambil dari Umar radhiallahu anhu.
Seseorang pernah diundang oleh Umar bin
Khattab makan. Orang ini kebetulan
bernama Humaid bin Hilal. Salah satu
tokoh masyarakatlah, kepala suku. Ini di
halaman 249 ya. di paragraf terakhir
sebelah kanan dia lagi dibelikan
disiapkan makanan. Lalu pada saat
dihidangkan, orang ini enggak mau makan.
Umar tanya, "Kenapa kau enggak mau
makan?" Dia bilang, "Makanan Anda keras
dan tidak enak." Ya, biarlah saya pulang
ke rumah saya. Saya makan makanan yang
sudah disiapkan di rumah saya. Lembut,
enak, gitu kan. Lalu kata Umar, "Apakah
menurut kamu kami tidak bisa menyembelih
seekor rubah dan menggulitinya? Apakah
kau mengira kami tidak bisa mengambil
tepung lalu disaring dengan kain demi
kain sehingga menjadi halus? Apakah kau
mengira bahwasanya kami tidak bisa
membuat roti yang lembut dan kami
memerintahkan satu sak? Satu sa itu satu
genggam kismis dimasukkan ke dalam
kantong air. Biasanya orang dulu
melakukan itu kemudian dikocok nanti
jadi manis airnya jadi air kismis gitu
kan. Apa kamu meng kami tidak bisa
melakukan itu sehingga nanti kami bisa
merasakan nikmatnya seperti memakan
daging rusa? Maka dia pun berkata, si
orang tadi yang diundang itu Hid
berkata, "Sungguh aku aku menangkap Anda
ini orang yang tahu makanan enak. Lalu
kenapa harus ada makanan yang seperti
ini?" Kata Umar, "Benar, demi zat yang
jiwaku berada di tangannya. Jika aku
tidak takut amal baikku berkurang,
niscaya aku akan mengikuti kemewahan
hidup kalian. Tapi aku ini tidak berani
seperti itu karena takut nanti malah
jadi lalai dan meninggalkan semua
amal-amal kebaikan. Amal-amal kebaikan.
Pada tahun Ramadan, tahun Ramad tahun
peceklik ya. Waktu itu lagi tidak ada
makanan. Orang-orang jadi susah.
Hewan-hewan daripada pand kehabisan
makanan. Umar bin Khattab radhiallahu
anhu hanya makan roti dan minyak
sampai-sampai kulitnya menjadi hitam
gitu kan. Kemudian beliau berkata,
"Seburuk-buruk pemimpin adalah aku. Jika
aku kenyang sedangkan orang-orang
kelaparan benar-benar mengagumkan dirimu
wahai Umar." Kata si penulis ini sangat
luar biasa gitu. Dan beliau pernah
berkata pada perutnya pada saat itu,
"Kami tidak punya sambil tepuk-tepuk
perutnya sendiri, kami tidak punya
makanan sehingga masyarakat tetap
hidup." Artinya kamu harus tenang dan
terima itu perutnya sendiri diajak
ngomong sama dia dan diingatkan agar
jangan sampai melakukan hal-hal yang
melampaui batas. Kemudian
Muawiyah radhiallahu anhu berkata,
"Sahabat Nabi yang mulia, Abu Bakar
tidak menginginkan dunia. Dunia pun
tidak menginginkannya. Adapun Umar,
dunia menginginkannya." Maksudnya
Muawiyah di zaman Abu Bakar ekspansi
tidak terlalu luas. Kekayaan harta
rampasan perang tidak terlalu banyak.
Tapi di zaman Umar, dunia
menginginkannya, tapi dia tidak
menginginkannya. Sedangkan kita, kita
berguling-guling banting tulang di dalam
dunia itu. Artinya diberikan nasihat
oleh Muawiyah kepada kita semua.
Tawadnya Umar bin Khattab radhiallahu
anhu dikatakan bahwasanya beliau pernah
keluar bersama Aljarut dari sebuah
masjid di jalan bertemu dengan seorang
wanita yang duduk di atas jalan. Wanita
itu sudah tua sekali. Lalu Umar
mengucapkan salam kepadanya dan dia pun
menjawab salam. Dalam riwayatnya
dikatakan wanita itu memberikan salam.
Umar menjawabnya. Wanita itu berkata,
"Wahai Umar, dulu aku melihatmu saat
engkau masih bernama Umair." Orang Arab
itu kalau masih kecil namanya diperkecil
Umar jadi Umair gitu kan. Saya lihat
dulu kamu masih Umair lari-lari di pasar
Ukkaz suka berkelai dengan anak-anak.
Dan sekarang baru saja berlalu waktu
engkau tiba-tiba menjadi Umar, menjadi
orang yang sudah dewasa dan besar.
Kemudian baru berlalu saja waktu kamu
tiba-tiba menjadi amirul mukminin,
menjadi raja. Bertakwalah kepada Allah
wahai Umar terhadap rakyatmu. Ketahuilah
bahwasanya siapa yang takut mati dia
tidak dia akan takut kehilangan. Ya.
Maka Umar pun menangis. Maksudnya kalau
kamu takut ya berkorban untuk agama ini,
maka kamu berti tidak takut mati. Tapi
kalau kamu takut mati ada hisab hari
kiamat kamu akan berhati-hati. Kurang
lebih begitu maknanya. Aljarud berkata,
"Ibu itu, Arjarud ini pendampingnya Umar
berkata, "Ibu, engkau telah menyakiti
dan lancang terhadap amir mukminin."
Asalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala
rasulillah. Segala puji bagi Allah
subhanahu wa taala juga selawat dan
taslim besar Muhammad sallallahu alaihi
wasallam.
Masih melanjutkan Umar dan beberapa poin
yang berhubungan dengan beliau sebelum
membahas masalah meninggal dan mati
syahidnya. radhiallahu anhu.
Beliau juga punya kisah berhubungan
dengan masalah mendidik diri beliau dan
juga
pemimpin-pemimpin yang bisa yang biasa
beliau atau yang sudah beliau tunjuk.
Satu waktu pernah
Umar bin Khattab memiliki anak
yang bajunya sobek kemudian ditambal.
Pada saat ditambal baju tersebut,
keesokan harinya robek lagi. Ditambal
lagi yang kedua kalinya sampai terdiri
baju tersebut dari beberapa kali
tambalan.
Teman-teman Umar ini mengolok-ngolok
anak Umar. Anak Amirul Mukminin bajunya
sobek. Anak Amirul Mukminin bajunya
ditambal. Sampai anak Umar bin Khattab
ini menangis pulang dan berkata kepada
ayahnya,
"Wahai ayahku, masih anak-anak, masih
kecil.
Teman-temanku mengolok-ngolok aku karena
bajuku ditambal.
Bisa enggak ayah belikan aku baju?
Kata ayahnya, "Kalau sekarang," kata
Umar, kata Umar radhiallahu anhu, "Kalau
sekarang saya enggak punya uang wahai
anakku untuk beli baju." Bayangkan untuk
beli baju berapa dirham aja enggak
pegang uang pada saat itu. Radhiallahu
anhu. Beliau mengatakan, "Tapi aku akan
coba mengirim surat kepada penjaga
baitul mal."
Ditulislah surat oleh Umar bin Khattab
kepada penjaga baitul Mal itu dan
dikatakan,
"Saya meminta secara pribadi bukan
kebutuhan negara agar Anda meminjamkan
saya uang untuk membelikan baju buat
anak saya yang akan saya bayar bulan
depan di gaji nanti. Ada gajinya Umar
Khattab, saya akan ambil gaji gaji saya
dipotong."
Lalu waktu sampai surah tersebut di
tangan penjaga baitul Mal, kita
perhatikan di sini bagaimana penjaga
baitul juga ini orang yang beriman. Dia
membalas surat Umar bin Khattab
mengatakan, "Wahai amirul mukminin,
kalau saya pinjamkan kepada Anda uang
ini, apakah Anda punya jaminan masih
bisa hidup sampai bulan depan sehingga
Anda bisa membayarnya?"
Perhatikan ini dialog antara atau surat
antara seorang pemimpin yang menunjuk
pegawainya dan pegawainya menulis
seperti itu. Waktu tiba surat penjaga
baitul mal kepada Umar bin Khattab, Umar
bin Khattab pun menangis.
Menangis sambil berkata kepada atau
dalam kalimatnya yang masyhur, "Segala
puji bagi Allah yang telah memberikan
kepada saya orang-orang yang seperti
ini." Lalu beliau berkata kepada
anaknya, "Wahai anakku, bersabarlah.
Kalau ayahmu ini masih hidup sampai
bulan depan dan menerima gaji, maka
pasti saya akan memberikan kamu baju.
Ini sebuah pelajaran yang besar dari
Umar radhiallahu anhu. Dan kita lihat
dari awal kisah tadi beberapa jam kita
jelaskan hampir semua yang berhubungan
dengan beliau itu pelajaran, pelajaran
demi pelajaran. Hidupnya dipenuhi dengan
kisah-kisah yang luar biasa yang menjadi
ibrah yang menjadi pelajaran dan beliau
sudah mendahului kita semua dengan
kemuliaannya. 1400 tahun lebih sekarang
Umar bin Khattab sudah meninggal, kita
masih bisa terkesan, kita masih bisa
terkesimak, kita bisa-bisa mengambil
pelajaran dari kejadian-kejadian di
zaman beliau. Bahkan menjadi hukum-hukum
fikih yang dilakukan oleh seluruh umat
Islam. Sebagaimana tadi kita jelaskan
dalam beberapa poin bagaimana Umar bin
Khattab ya menjadikan atau dijadikan
keputusannya sebagai hukum di jalan
Allah Subhanahu wa taala. Umar bin
Khattab radhiallahu anhu
sangat tegas dalam agama Allah ini.
Tidak main-main kalau memang hal itu
perlu ketegasan. Dalam sebuah kisah
pernah ada seorang Yahudi dengan
munafik.
Yang munafik ini
hutang dari orang Yahudi.
Kemudian tiba masa
si Yahudi menagih dari munafik. Munafik
bilang, "Enggak ada uang kamu sama
saya."
Cekcoklah dua orang ini. Lalu diambil
kesimpulan, kita berhukum aja. Waktu itu
Nabi sallallahu alaihi wasallam masih
hidup. Maka datanglah keduanya ke Nabi
sallallahu alaihi wasallam. Nabi
sallallahu alaihi wasallam melihat
sesuai dengan data-data yang ada. Yahudi
punya hak. Kata si kata Nabi sallallahu
alaihi wasallam, "Berikanlah haknya si
Yahudi ini karena memang kamu berhutang
sama dia." Ada buktinya. Jelas. Ternyata
keluar munafik ini tetap bilang, "Saya
enggak mau bayar. Belum puas cari orang
lain." Dicarilah Abu Bakar.
ketemu Abu Bakar. Siapa setelah Nabi
sallallahu alaihi wasallam? Abu Bakar
orang yang dianggap dimuliakan. Datang
ke sana memperlihatkan kasus kepada Abu
Bakar. Dipaparkan Abu Bakar berhukum
seperti hukum Nabi sallallahu alaihi
wasallam bahwasanya haknya Yahudi.
Ternyata pulang keluar dari rumah Abu
Bakar. Si munafik belum puas juga. Saya
belum mau bayar. Baik. Yahudi bilang
kalau begitu kita cari orang lain. Kamu
mau? Iya. Siapa? Umar bin Khattab.
Datang kepada Umar radhiallahu anhu di
rumahnya. Begitu datang ke rumahnya,
Umar bin Khattab mengatakan, "Siapa
kalian?" Satu mengatakan mengaku muslim
tapi dia orang munafik. Di sini
diriwayat tidak disebutkan namanya.
Kemudian yang satu juga Yahudi. Lalu
Umar bertanya, "Ada apa dengan kalian?"
Dia bilang, "Ini Yahudi bilang, "Ini si
fulan utang dengan saya, tapi enggak mau
bayar. B gak mau akuin." Lalu Umar
pintar. Umar bertanya kepada mereka
berdua, "Apakah kalian sudah pernah
bertanya tentang masalah hukum ini
sebelum datang ke sini?" Kata mereka
berdua, "Sudah." Kata Umar, "Kepada
siapa?" Mereka bilang, "Kami telah
datang kepada Muhammad." Gitu kan. Kata
Umar, "Apa hukumnya?"
Kata Muhammad memberikan hak kepada si
Yahudi ini kata si munafik karena
alasan-alasan yang sudah dipaparkan.
Lalu kalian ke mana lagi? Mereka
berkata, "Kami sudah ke Abu Bakar." Apa
hukumnya Abu Bakar? Sama saja dengan
hukumnya Muhammad sallallahu alaihi
wasallam. Lalu Umar berkata, "Untuk apa
kalian datang kepada saya?" Keduanya
mengatakan, "Kami ingin berhukum." Umar
bilang, "Baiklah, tunggu sebentar." Umar
masuk ke dalam mengambil pedang,
kemudian mengejar keduanya akan menebas
keduanya. Dua-duanya lari dari rumahnya
Umar. Lalu Umar berkata, "Apakah kalian
sudah berhukum kepada Rasulullah
sallallahu alaihi wasallam? Masih ragu
datang ke Abu Bakar lalu masih ragu lalu
datang kepada saya minta hukum. Ini
hukum saya pedang ini," gitu kan. Jadi
beliau rallah tidak main-main dengan
hukum gitu kan. Kalau memang sudah
saatnya ya saatnya gitu kan. Seperti itu
gambarannya. Dan tentu apa yang akan
kita sampaikan dipaparkan di buku ini
belum semua kisah Umar ternukilkan. Jadi
bukan mustahil ikhwah-ikhwat sekalian,
kalau Anda pernah mendapatkan kisah lain
tentang Umar asal riwayatnya sahih, itu
enggak ada masalah. Karena cukup banyak
riwayat yang dinukil yang memang belum
dinukil di sini. Di antaranya ada kisah
Umar bin Khattab dengan rahib, seorang
pendeta Yahudi yang masuk Islam akhirnya
karena sifat Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Dan ini sudah saya sebutkan di
ee bahasan ee pada saat menjelaskan
tentang kelebihan Nabi sallallahu alaihi
wasallam. Ringkas ceritanya adalah ada
seorang Yahudi yang pernah Nabi
sallallahu alaihi wasallam utang dengan
dengannya 20 sak kurma. Satu sak kurma 2
kilo set. Kemudian Nabi sallallahu
alaihi wasallam sepakat akan dibayar di
waktu tertentu. Ternyata tiba belum tiba
waktunya orang Yahudi ini sudah datang.
Pendeta Yahudi sudah datang dan langsung
berdiri di sebelah Nabi sallallahu
alaihi wasallam. Mencekik leher Nabi
dengan sisa kain imamahnya alaihialatu
wasalam. Lalu orang-orang itu lagi hadir
di masjid dan semuanya pada nu melihat
kejadian tersebut. Akhirnya Umar bin
Khattab yang ada di depan saf
mengatakan, "Ya Rasulullah, izinkan saya
menebas lehernya Yahudi ini." Gitu. Lalu
Nabi sallallahu alaihi wasallam
memberikan isyarat untuk duduk Umar.
Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam
dalam kondisi tercekik menanyakan kepada
Yahudi, "Ada apa hai Yahudi?" "Kata
Yahudi ini, "Bayar hutangmu hai
Muhammad." Kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Kan belum tiba saat
waktunya." Dia bilang, "Tetap saya mau
dibayar sekarang." Maka Nabi sallallahu
alaihi wasallam dalam kondisi duduk
terciik dan Yahudi ini berdiri menarik
imamah beliau sallallahu alaihi wasallam
berkata kepada Umar, "Wahai Umar,
pergilah ke Baitul Mal dan ambillah."
Ya. Dan ambillah 20 sak kurma, bayarkan
utang saya dan tambah 20 sak lagi. Kata
Umar, "Ya Rasulullah, 20 sak pertama
utang Anda, 20 sak kedua untuk apa?"
Kata Umar, kata Nabi sallallahu alaihi
wasallam, "Itu hukuman karena kau sudah
menakut-nakuti dia. Kau tadi sudah
mengancam akan menebas lehernya."
Artinya Nabi sallallahu alaihi wasallam
seakan-akan memberikan isyarat, "Kalau
saya masih ada jangan ambil keputusan."
Gitu kan. Maka Umar pun pergi ke Baitul
Mal meninggalkan Yahudi ini. Yahudi
jalan di belakangnya sambil marah dengan
Yahudi ini. Tiba di Baitul Mal, Umar bin
Khattab radhiallahu anhu menyiapkan 20
sak kurma diberikan kepada Yahudi itu.
Waktu mau disiapkan 20 sak kedua. Yahudi
ini bilang, "Enggak usah, hai Umar."
Kata Umar, "Kenapa?" Dia bilang, "Umar,
apa kau tahu siapa saya?" Kata Umar,
"Saya enggak mau tahu siapa kamu." Dalam
kondisi marah gitu kan, langsung dia
sebutkan namanya. "Saya Fulan bin Fulan.
Namanya ini kebetulan nama salah satu
pendeta Yahudi yang terkenal sudah lama
masuk Islam." Kata Umar, "Saya tanya
kamu atas nama Allah, apakah kau dia?"
Dia bilang, "Iya." "Bukankah kau tahu
itu adalah Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam?" Kata kata dia, "Ya, saya
tahu." Lalu kenapa kau lakukan perbuatan
tadi? Sementara kau tuh tahu adalah nabi
Allah. Kata si Yahudi, "Hai Umar, apa
kau kira saya gila? Saya datang ke
masjid kalian mencekik nabi dan raja
kalian di hadapan kalian. Saya sudah
siap mati pada saat itu. Karena saya
ingin membuktikan satu hal dari Muhammad
yang belum saya temukan padanya. Semua
ciri kenabian nabi terakhir ada pada
diri Muhammad. Semua sudah saya temukan
fisiknya, tempat tinggalnya
nama-namanya. Tinggal ada satu belum.
Galabilmuhu gadabu. Emosinya dikalahkan
dengan kasih sayangnya. Dan tadi tu saya
sengaja nagih sebelum waktu saya sengaja
cekik lehernya. Tujuannya untuk
memancing emosinya. Ternyata memang
kasih sayangnya mengalahkan ya apa
namanya emosinya. Dan sekarang saya
mengucapkan Umar ashadu alla
ilahaillallah wa anna muhammadar
rasulullah. syahadat orang tersebut di
depan Umar radhiallahu anhu. Ini di
antara kisah yang belum dinukil
tentunya.
Ada juga kisah yang lain, kisah tentang
masuk Islam ee kisah tentang Umar
radhiallahu anhu zaman khilafahnya.
Beliau sempat
keliling kota Madinah di malam hari.
Kemudian beliau menemukan ada satu
laki-laki badwi. Laki-laki Badui ini
kebetulan lagi menancapkan
tali kemahnya
sambil mengikat kengangan tali untahnya
dan di dalam kemahnya ada suara rintihan
perempuan yang sedang menangis. Maka
Umar pun lewat dan berkata setelah
memberikan salam, "Wahai
laki-laki, hai rajul, bahasa Arabnya, ya
rajul, siapa kamu ini?" Dia mengatakan,
"Sayaat orang musafir dari Badui padang
pasir lagi lewat. Malam keamanan, saya
lihat ada tanah kosong. Saya tebar kemah
saya. Saya mau nginap di sini." Kata
Umar, "Siap suara siapa tuh rintihan
dalam kemahu?" Dia bilang, "Sudahlah
saudaraku. Pergilah gak usah campurin
itu." Kata Umar, "Mungkin saya bisa
bantu." Kata orang itu, "Itu suara istri
saya yang mau melahirkan." Ya, tapi
tidak ada yang bantu. Saya enggak tahu
bagaimana melahirkan perempuan dan juga
tidak ada wanita yang saya kenal di
Madinah bisa minta bantuan. Apalagi itu
tengah malam. Dan sebagian ulama menukil
kisah ini di tahun 23 Hijriah. Tahun
terakhir Umar radhiallahu anhu hidup.
Dan juga ya pada saat itu tengah malam
di awal malam dia itu sekitar jam 12.00
malam gitu kan jam 11.00, jam 12.00
malam yang orang waktu itu sudah tidur
semua. Jadi ini Umar bin Khattab sedang
mengontrol mengawasi sendiri. Ringkas
cerita adalah Umar bin Khattab lalu
berkata kepadanya, "Maukah kau saya
datangkan seorang wanita dari Madinah
yang bisa membantu istrimu melahirkan?"
Dia bilang mau. Perlu jemaah tahu
bahwasanya
laki-laki badu ini belum tahu kalau ini
Umar bin Khattab, belum tahu kalau ini
khalifah. Umar pun radhiallahu anhu lalu
pulang. Dia tidak membangunkan ya
penasihat-penasihatnya
atau mungkin dokter tabib ya. Kalau kita
zaman dulu dikatakan ya dengan istilah
ee tabib ya atau orang yang bisa
mengobati atau bidan mungkin perempuan
yang bisa melahirkan. Tidak. Dia pulang
ke rumahnya, dia bangunkan istrinya yang
waktu itu istrinya adalah Ummu Kalsum,
anaknya Ali radhiallahu anhu. Lalu
berkata Umar bin Khattab, "Wahai cucunya
Rasulullah, apakah kau mau mendapatkan
pahala seorang wanita muslimah yang mau
melahirkan malam hari enggak ada yang
tolong?" Ummu Kalsum radhiallahu anha
juga punya iman yang kuat. Anaknya Ali,
cucu Nabi sallallahu alaihi wasallam.
Dia tidak mengatakan, "Wahai Amirul
Mukminin, carilah wanita ansar yang bisa
melahirkan." Tidak. Dia mengatakan
dengan jelas dan tegas, "Tentu saja saya
ingin dapat pahalanya." Kata Umar,
"Siapkanlah persiapan perlengkapanmu
untuk melahirkan dan ikut sama saya."
Maka jalanlah pada malam itu, saudaraku
sekalian, dua orang, raja muslim dan
ratunya. Tidak ada pengawal, tidak ada
yang dampingin, dan tidak ada media yang
akan mengekspos itu. Karena yang sedang
dibantu seorang badwi yang cuma lewat,
besok pagi mau pergi lagi. Enggak ada
yang tahu tengah malam nih. Ya, kita
tahu sekarang banyak orang mau melakukan
satu perbuatan, kegiatan karena ada
eksposnya kemudian bisa mengangkat
namanya sama sekali enggak. Jalanlah
keduanya tiba di kemah orang Badui
tersebut. Ringkas ceritanya kata Umar
bin Khattab kepada istrinya, "Masuklah
ke khemahnya dan selesaikan tugasmu."
Istrinya pun akhirnya membantu wanita
tersebut melahirkan. Enggak lama
kemudian, sementara menunggu tentu Umar
bin Khattab ngobrol sama orang Badu ini.
Dan orang Badui belum tahu kalau Umar
bin Khattab ngobrol-ngobrol aja seperti
biasa. Lalu kemudian terdengar suara
bayi dari dalam. Dan Ummu Kalthum istri
Umar bin Khattab radhiallahu anhum
ajmain berkata, "Ya Amirul Mukminin,
Resume
Read
file updated 2026-02-13 12:49:39 UTC
Categories
Manage