Transcript
w74YAypnRFk • Kisah Sahabat Nabi ﷺ Ke-2: Menjadi Farouq Bersama Umar bin Khaththab (3)
/home/itcorpmy/itcorp.my.id/harry/yt_channel/out/khalidbasalamah/.shards/text-0001.zst#text/0007_w74YAypnRFk.txt
Kind: captions Language: id ini setengah harta saya tinggalkan ya atau saya sedekahkan untuk Allah dan Rasulnya. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku, kata Umar radhiallahu anhu, ee apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu? Saya berkata ee setengah ya sama seperti ini ya Rasulullah. Lalu enggak lama datang Abu Bakar. Abu Bakar membawa seluruh hartanya. Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam bertanya, "Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?" Abu Bakar mengatakan, "Allah dan Rasulnya." Maka di sini Umar mengatakan, "Saya tahu bahwasanya saya tidak akan pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dari sisi apapun." Artinya di sini beliau menyebutkan tentang fadilah Abu Bakar. Tapi yang diambil pelajaran adalah sedekahnya beliau dengan ya setengah harta yang dia milikin. Dalam kisah yang lain, Al-A'masy A'mas terkenal ya gurunya Imam Bukhari ya. Banyak ulama-ulama hadis ini rahimahullah. Seorang ulama tabiin pernah berkata, "Pada suatu hari Umar bin Khattab ya menyuruh seseorang membeli. Umar bin Khattab mendapatkan atau menyerahkan 22.000 dirham. Ya, seseorang memberikan kepada Umar bin Khattab 20.000 dirham. 22.000 dirham ini mungkin ukurannya sekarang sudah puluhan juta rupiah." Diberikan kepada Umar bin Khattab. Lalu Umar bin Khattab tidak berdiri dari tempat duduknya kecuali sudah membagikannya. Tidak ada satuun dibawa pulang ke rumahnya. Sedekah diserahkan kepada beliau untuk beliau pakai. Beliau serahkan sebelum berdiri dari tempatnya. Beliau sudah bagi habis semua itu. Jadi ini termasuk ya beliau apa namanya? mensedodekahkan seluruh harta yang dia miliki. Lalu ditanya, "Kenapa Anda sedekahkan?" Ya, satu waktu beliau paling gemar kalau ada uang beli gula. Gula yang paling digemar oleh Umar bin Khattab untuk disedekahkan. Selalu beli gula dibagikan kepada orang. Ya, ini lebih banyak dilakukan oleh Umar bin Khattab. Lalu ditanya, "Kenapa Anda bersedekah dengan gula?" Beliau mengatakan, "Karena aku sangat menyukainya." Dan Allah berfirman dalam surah Al Imran ya ayat 92. Auzubillahiminasyaitanirrajim. Kalian tidak akan mendapatkan kesempurnaan pahala sampai kalian menginfakkan apa yang kalian paling cintai. Juga Umar bin Khattab pernah menyuruh Abu Musa al-Asy'ari membeli seorang hamba sahaya wanita pada saat itu dari tawanan Jalula. Salah satu ya peperangan dulu terjadi zaman Umar bin Khattab dan banyak sekali harta rampasan perangnya. Maka Umar bin Khattab menyuruh membeli salah satu budak wanita. Lalu Umar bin Khattab memerdekakannya. Ya, sambil berkata membaca firman Allahbun. Kalian tidak akan mendapatkan kesempurnaan pahala sampai kalian menginfakkan apa yang paling kalian cintai. Kemudian juga sikap Abu ee Umar bin Khattab pada saat meninggalnya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tentu ini kisah panjang saya ringkaskan. Waktu Umar bin Khattab radhiallahu anhu melihat atau mendengar berita Nabi sallallahu alaihi wasallam sakit keras dan akan meninggal dunia dan para sahabat itu sudah meninggal dunia ya Nabi sallallahu alaihi wasallam sudah meninggal ceritanya. Lalu banyak orang simpang sir mengatakan Nabi sudah meninggal mengatakan belum. Umar bin Khattab waktu itu sulit menerima keadaan maka beliau berdiri dan berteriak sambil berkata, "Sesungguhnya beberapa orang munafik mengira bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam telah wafat padahal Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tidak wafat. Tapi beliau pergi kepada Rabbnya sebagaim sebagaimana Musa bin Imran pergi menghadap kepada Rabbnya. Lalu dia meninggalkan kaumnya selama 40 malam. Kemudian dia kembali kepada mereka setelah sebelumnya dikatakan telah wafat. Demi Allah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pasti kembali. Sungguh beliau akan memotong tangan dan kaki orang-orang yang mengatakan bahwa beliau telah wafat. Ini disebutkan dalam Ibnu di Ibnu Hisyam juga Ibnu Ishaq dan diriwayatkan Ibnu Sa'ad dalam tabaqat dan disahihkan oleh Ibnu Hibban. Jadi Umar bin Khattab waktu itu sangat panik dia mengatakan itu. Maka orang jadi ragu, takut dengan Umar bin Khattab. Umar sambil menghenuskan pedangnya. Pada saat itu Abu Bakar pun belum datang dan orang-orang menyampaikan kepada Abu Bakar, "Hai Abu Bakar, datanglah melihat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kami tidak tahu beritanya dalam rumah di kamarnya Aisyah. Tidak ada yang tahu simpang siur meninggal atau tidak. Dan Umar bin Khattab sedang marah mengangkat suaranya ya di depan rumah Nabi sallallahu alaihi wasallam dan mengancam siapapun yang mengatakan Nabi sallallahu alaihi wasallam telah meninggal akan dipenggal lehernya. Maka Abu Bakar pun datang lalu masuk ke rumah Nabi sallallahu alaihi wasallam tepatnya di rumahnya Aisyah anak beliau. Aisyah lagi ada di situ lalu bertanya, "Bagaimana Rasulullah?" Kata Aisyah sudah meninggal. Lalu lihatlah oleh Abu Bakar. Dilihat Nabi sallallahu alaihi wasallam sudah meninggal. Lalu Abu Bakar mencium kening Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kemudian menutup dengan kain dan memastikan Nabi sallam sudah meninggal. Lalu Abu Bakar berkata, "Sungguh wahai Rasulullah, engkau telah merasakan sekarang lebih tentram daripada sebelumnya." Lalu keluarlah Abu Bakar. Abu Bakar mengucapkan kalimat yang jelas, ya. yang beliau mengatakan amma baad ya. Beliau teriak dengan suara keras waktu itu memanggil mengatakan Umar lagi mundar-mandir pegang pedang nih. Kata Abu Bakar, "Wahai Umar tenanglah ala rizqika. Tenanglah. Umar gak mau dengar. Dia enggak tahu kalau Abu Bakar yang ngomong nih. Enggak. Pokoknya dia tetap sampai Abu Bakar waktu itu ada dua riwayat menepuk pundak Umar. Waktu Umar melihat langsung Abu Bakar langsung dia duduk mendengarkan. Riwayat yang lain dikatakan Umar enggak mau mundar-mandir. Dia tetap marah gitu kan dalam kondisi dia tidak bisa menahan dirinya. Maka pada saat itu ee orang-orang pun pada saat lihat Abu Bakar mengurumuni Abu Bakar meninggalkan Umar waktu itu. Karena orang sudah takut sama Umar pakai pedang g kan. Sementara Abu Bakar datang dan mau bicara. Abu Bakar terkenal dengan kelembutannya. Maka Abu Bakar berkata, "Amma ba'd. Siapa yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwasanya Muhammad telah mati. Dan siapa yang menyembah Allah, maka Allah itu hidup dan tidak akan pernah mati. Lalu Abu Bakar membacakan ayat azubillah minasyaitanirjim w Muhammadun illa rasulunum. Muhammad itu hanyalah seorang utusan Allah dan telah berlalu sebelumnya banyak utusan-utusan Allah. Apakah kalau dia mati atau terbunuh di medan perang, kalian meninggalkan agama-agama Allah? Meninggalkan agama Allah yang dibawa oleh Muhammad itu sendiri sallallahu alaihi wasallam. Siapa yang meninggalkan apa yang telah dibawa oleh Muhammad sallallahu alaihi wasallam itu meninggalkan kebenaran, maka tidak akan tidak akan berbahaya bagi Allah. Allah tidak butuh dengan dia dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur. Kata Ibnu Abbas, "Demi Allah, seolah-olah manusia pada saat itu belum mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini hingga Abu Bakar membacakannya. Lalu manusia semua menerima darinya, tidak seorang pun manusia aku dengar kecuali dia membacanya." Ibnu Musayyab rahimahullah berkata, Umar berkata, "Demi Allah, begitu aku mendengar Abu Bakar membacanya, aku langsung lemas. Kedua kakiku tidak mampu menyangga tubuhku sehingga aku jatuh ke tanah. Ketika aku mendengarkan dan aku mengetahui bahwasanya beliau sudah wafat sallallahu alaihi wasallam. Tapi ini kisah bagaimana kedudukan Umar atau posisi Umar pada saat menghadapi matinya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Tapi yang bisa diambil pelajaran adalah bagaimana beliau mendengar pada saat datang ayat langsung tunduk Umar bin Khattab langsung mendengarkan firman Allah Subhanahu wa taala. Ada juga kisah tentang bagaimana Umar membaiat Abu Bakar. Saya ringkaskan kisahnya adalah waktu Nabi sallallahu alaihi wasallam meninggal, orang-orang Ansar berkumpul di Bani Tsqifah. Bani Takifah ini sampai waktu saya masih mahasiswa kemarin tahun 90 sampai 9 terakhir sampai tahun 8 97 saya masih lihat masih ada sebenarnya ya ada sebuah kebun kurma gitu di dekat perpustakaan Raja Abdul Aziz dulu tuh tempat Bani Tsakifah tempat orang-orang Anshar berkumpul tapi sekarang sudah masuk perluasan masjid intinya adalah di situ dulu ada Bani Tsakifah orang-orang ansar berkumpul mereka saling bermusyawarah ingin memilih pimpinan mereka ya ee ee apa namanya namanya Sa'ad bin Muad radhiallahu anhu memilih sebagai khalifah mengganti Nabi sallallahu alaihi wasallam. Lalu waktu Abu Bakar dan Umar dengar, Abu Bakar langsung mengajak Umar, "Ayo kita ke sana." Ya, datanglah mereka berdua ke Bani Tsakifah. Lalu Umar ee lalu Abu ee apa namanya? Abu Bakar bersuara mengatakan setelah berbicara amma ba'ad seterusnya lalu mengatakan, "Wahai orang-orang Ansar, kami mendengar kalian sudah bersatu untuk mendirikan atau mengganti pengganti menjadi pengganti Nabi sallallahu alaihi wasallam." Ketahuilah Allah telah menyebutkan dalam Al-Qur'an ya asabiquunal awaluna minal muhajirina wal anshar. Allah telah menyebutkan orang-orang yang terdahulu dari Muhajirin dan Anshar. Allah mendahulukan kami Muhajirin daripada kalian ansar. Berarti yang mestinya kita lakukan adalah pemimpin dari Muhajirin dan wakilnya dari Ansar. Wakilnya dari Ansar. Saya memilih agar Umar ini yang kalian pilih karena Umar ini orang yang paling patuh dengan Allah menurut saya. Maka melihat kejadian tersebut, Umar langsung berdiri memegang tangan Abu Bakar mengatakan, "Wahai orang-orang Ansar, siapa kira-kira yang mau, yang berani gitu kan, yang berani mendahului Abu Bakar untuk jadi khalifah. Sementara waktu Nabi sallallahu alaihi wasallam mau meninggal, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyuruh dia menjadi imam dan dia adalah temannya Nabi di Gua pada saat hijrah ya di ee Garthur gitu kan waktu itu. Jadi, siapa yang bisa mengganti, siapa yang bisa ee kira-kira di antara kalian menganggap lebih afdal daripada Abu Bakar? Semua sahabat diam. Lalu Umar mengatakan, "Saya membaiat Abu Bakar." Ulurkan tangan Abu Bakar. Lalu dibulurkan. Lalu kemudian orang-orang Ansar semua membaiat Abu Bakar. Dan pada saat itu ulama menanggapi mengatakan selama Abu Bakar jadi khalifah maka Umar bin Khattab menjadi atau panen pahalanya karena dia menjadi penyebabnya. Umar bin Khattab di zaman khilafahnya Abu Bakar diangkat menjadi hakim. Dan ulama sepakat mengatakan dialah hakim pertama dalam Islam. Jadi orang-orang seperti ini yang tegas perlu diangkat menjadi hakim. Dan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari juga pada saat Abu Bakar meninggal, Abu Bakar menyerahkan khilafah kepada Umar sebagaimana kita ketahui. Dan Ibnu Jauzi juga mengatakan ketika Abu Bakar menginginkan hal tersebut yang menyerahkan khilafah, maka dia memanggil Abdurrahman ibin Auf. Tanya, "Wahai Abdurrahman kira-kira bagaimana pendapatmu tentang Umar?" Dan ini sebuah pelajaran besar juga yang kita ambil di sini ya. Seorang yang kenal baik pada orang lain pun tidak ada salahnya dia menanya, bermusyawarah dengan orang yang lain lagi yang mengenalnya. Di sini Abu Bakar sudah sangat kenal kepada Umar bin Khattab dan dia mau menunjuk sebagai khalifah. Tapi tetap dipanggil sahabat Nabi yang lain Abdurrahman bin Auf yang juga dijamin masuk surga. Ditanya, "Bagaimana pendapat kau wahai Abdurrahman tentang Umar?" Berkatalah Abdurrahman, "Demi Allah, dia lebih baik dari apa yang engkau pikirkan tentang seorang laki-laki sekalipun dia sangat keras." Lalu Umar Abu Bakar memanggil lagi Utsman. Tanya, "Uthsman, "Bagaimana pendapatmu tentang ya Abu Umar?" Maka berkatalah Utman, "Anda lebih tahu." Ya. Lalu Abu Bakar bilang, "Dipaksa saya tanya kamu. Demi Allah, jawab, bagaimana pendapatmu tentang ya Umar?" Lalu Utsman berkata, "Ya Allah, ilmuku tentangnya ialah bahwa apa yang dia sembunyikan lebih baik daripada apa yang nampak darinya." Bahwa di antara kita tidak ada orang yang semisal dengannya. Lalu Abu Bakar berkata, "Kalau begitu tulislah. Semoga Allah merahmatimu. Ini yang ditulis oleh Abu Quhafah, Abu Bakar di akhir hidupnya ya ee kepada kaum muslimin agar mereka memilih orang yang terbaik di antara mereka ya ee apa adalah Umar bin Khattab. Itu ringkas ceritanya. Lalu akhirnya pada saat dia mau mengatakan saya menunjuk meninggal ee pinsanlah Abu Bakar. Lalu Utsman bin Affan menulis nama Umar bin Khattab. Ditulis tulis wasiat itu. Enggak lama kemudian Abu Bakar sadar. Lalu Abu Bakar mengatakan, "Bacakan hai Utsman." Kata Utsman, "Aku meninggalkan wasiat agar kalian memilih Umar bin Khattab." Ya, kata Abu Bakar, "Aku sangat tahu bahwasanya engkau khawatir kalau aku dari pinsan sudah meninggal dan tidak sempat mewasiatkan dan engkau mengetahui Umar orang terbaik." Kata Utsman. "Iya." Maka Abu Bakar pun mengatakan, "Semoga Allah merahmatimu dan jadilah dia menjadi khalifah." Ya. Ali bin Abi Thalib berkata, "Ketika Ajal datang kepada Abu Bakar, dia melihat bahwasanya Umarlah orang yang paling mampu atasnya atau khilafah. Seandainya Abu Bakar bersikap nepotisme, niscaya dia mendahulukan anaknya." Dalam hal ini dia meminta pendapat kaum muslimin. Ada yang rela dan ada yang tidak rela. Mereka berkata, "Apakah engkau wahai Abu Bakar akan mengangkat seorang pemimpin atas kami seseorang yang keras sementara engkau masih hidup? Apa yang engkau katakan kepada Rabbmu pada saat nanti dia bertanya kepadamu, "Hari kiamat kalau kau dibangkitkan?" Abu Bakar menjawab, "Aku berkata kepada Rabbku ketika aku menghadap kepadanya hari kiamat, Ilahi, wahai Tuhanku, aku telah mengangkat sebaik-baik hambaMu atas mereka." Maksudnya ini tanggung jawabnya besar di Allah Subhanahu wa taala. Lalu Ali melanjutkan, Abu Bakar menunjuk Umar sebagai penggantinya. Maka Umar memimpin kami seperti dua sahabatnya, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar. Kami tidak mengingkari apapun atasnya. Setiap hari kami mendapatkan tambahan dalam agama dan dunia. Allah membuka belahan bumi dengannya dan melebarkan kota-kota. Dia adalah orang yang tidak takut karena Allah terhadap celaan orang-orang yang mencelahnya. Orang jauh dan orang dekat adalah sama dalam keadilan dan kebenaran. Allah Taala menetapkan kebenaran atas lisan dan hatinya. Sampai-sampai kami mengira bahwasanya ketenangan berbicara melalui lidahnya dan bahwa di antara kedua matanya terdapat malaikat yang membimbingnya dan meluruskannya. Dan ini disebutkan oleh ee disebutkan dalam ee disebutkan oleh As-Sya'bi dari Ali Rah dalam riwayat dan rawi-rawiya tiqat semuanya rawi-rawinya tiqat ya. Kemudian dikatakan juga ada beberapa kisah berhubungan dengan masalah Umar bin Khattab ini. Di antaranya adalah di sini ditulis oleh beliau judulnya sebenarnya hadiah untuk memimpin kaum muslimin. Kelembutan Abu Bakar sampai pada tingkat jika anak-anak melihatnya mereka akan berlari kepadanya dan menyambutnya sambil berteriak, "Wahai ayahku." Jadi kalau Abu Bakar tuh saking lembut sekali sampai-sampai anak-anak Madinah kalau melihatnya berteriak sambil mengata, "Wahai ayahku." Sambil lari. Dan akhirnya Abu Bakar pun memeluk mereka dan mengusap kepala mereka. Sedangkan waktu Umar menjadi khalifah, kewibawaannya mengalahkan kelembutannya. Hingga pada tingkat sekiranya orang-orang duduk di pelataran rumahnya, mereka akan bubar dan meninggalkan tempat mereka karena segan sehingga mereka melihat apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab. Jadi Umar bin Khattab ini bubar. dinukil dalam sebuah kisah bahwasanya Umar bin Khattab setiap malam kalau keluar selalu membawa tongkat kayu dan keliling di Kota Madinah untuk mencari tahu siapapun yang begadang ya yang tidak tidur habis isya nih dia putar di Madinah bawa tongkat. Kalau orang-orang tersebut tidak bisa memberikan alasan yang tepat kenapa mereka begadang, maka dipukulin oleh Umar. Sambil Umar mengatakan, "Apakah kalian begadang di sini?" Ya, membuang-buang waktu kalian di awal malam sehingga kalian kehilangan kesempatan beribadah dengan Allah di akhir malam. Demi Allah bubarlah. Dibarin sambil dipukulin sama Umar. Kalau mereka punya alasan, mungkin masalah takziah, ada orang sakit lagi dijenguk, maka Umar bin Khattab membiarkannya. Jadi Umar Khattab radhiallahu anhu sangat tegas dalam masalah-masalah seperti ini. Kita bisa lihat sekarang ada beberapa yang berhubungan dengan rasa takutnya Umar bin Khattab kepada Allah Subhanahu wa taala. Utsman bin Affan berkata dalam riwayat yang disebutkan atau disebutkan dalam Usutul Ghabah kitab Ibnu Air dengan sanad yang sahih juga disebutkan oleh Ibnu Athir dalam Alkamil. Dikatakan ini teman-teman menyampaikan buku di halaman 244 ya sampai 255 riwayatnya di akhir paragraf. Di sini saya titik beratkan saksi bahasannya. Utsman bin Affan berkata, "Satu waktu saya sedang berada di Madinah dan sangat panas cuacanya waktu itu. Kemudian saking panasnya saya pun akhirnya melihat ke arah luar dari arah dari rumah jendela rumah itu saking panasnya sampai saya memasukkan lagi wajah saya ke dalam kena panasnya gitu. Lalu saya melihat dari kejauhan ada seseorang yang sedang menutup wajahnya dengan imamahnya dan sedang menggiring unta-unta yang sedang ada di kejauhan. Panas sekali ya. Lalu saya pun berkata kepada para pengawal saya, "Siapa orang ini?" Lalu pada saat kami mendekat atau orang itu mendekat, maka pengawal saya mengatakan atau orang-orangnya Utsman mengatakan, "Ya, pegawainya dia, dia Umar bin Khattab, amir mukminin. Lalu aku pun berkata, "Wahai Amirul Mukminin," kata Utsman, "kenapa Anda lakukan ini? Ada apa kata Umar? Saya sedang mengambil atau menangkap dua ekor unta zakat. Ya, yang unta zakat ini aku khawatirkan hilang, maka aku ingin membawanya ke Bima. Bima ini bukan nama kota kita ya. Jadi, Bima waktu itu istilah bagi tempat penggemukan atau pengumpulan unta-unta zakat. Maka aku takut jangan sampai hilang dan Allah meminta pertanggungjawaban dariku hari kiamat. Maka Utsman pun berkata, "Wahai amirul mukminin, singgallah minum dulu kalau begitu dan berteduh. Biar kami yang mengurus kedua unta itu." Kata Umar, "Kembalilah ke tempat teduhanmu wahai Utsman." Utsman berkata waktu itu kembali ke dalam rumahnya kepada orang-orang di sekitarnya. "Barang siapa ingin melihat kepada seorang laki-laki yang kuat lagi amanah, hendaklah dia melihat kedua orang ini. Lalu dia kembali kepada kami dan merubahkan tubuhnya." Tapi kita bisa ambil pelajaran Utsman, Umar bin Khattab jadi khalifah siang hari bolong ngikut lagi mengurus dua ekor ya unta zakat yang harus dibawa ke tempat penggemukan. Padahal bisa ditugaskan pegawainya bisa nanti sore hari pada saat dingin. Tapi ini enggak. Beliau kerjakan pada waktu itu juga. Pernah dikatakan juga dalam satu waktu ini karena takutnya dengan Allah Subhanahu wa taala. Abdullah bin Umar anaknya berkata dalam ini dan ini riwayat disebutkan dalam akhbar ummah ya. Dikatakan Akhbarul Umar, maaf ada buku namanya Akhbar Umar dan didukil dalam kisah bahwasanya Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma pernah berkata, "Aku membeli seekor unta." Ab sahabat Nabi yang mulia dan anaknya memang Umar bin Khattab terkenal kesalehannya. Dia bilang, "Saya pernah beli seekor unta. Unta itu kurus. Lalu saya titipkan unta itu ke Bima tadi ya, tempat penggemukan dan penyimpanan unta-unta zakat. Saya letakkan di sana. Kemudian digemukkanlah oleh orang-orang pada saat itu. Dititipin aja. Abdullah bin Umar tidak bayar tuh. Enggak bayar unta itu atau penggemukannya. Maka setelah gemuk, Abdullah bin Umar membawa unta tersebut ke pasar gitu kan. Dijuallah orang-orang teriak, "Unta gemuk, punyanya Abdullah, anaknya Amirul Mukminin" gitu kan. Ini ada nilai jualnya. Orang pada ngumpul, untanya bagus. Punyanya Abdullah bin Umar, sahabat Nabi, anaknya Amirul Mukminin. Umar bin Khattab kebetulan lewat waktu di situ. Lalu dia dekatin, dia bilang, "Ini unta siapa?" Kata mereka, "Unta Abdullah." "Mana Abdullah?" Abdullah bin Umar datang mengatakan, "Iya wahai Amirul Mukminin." Walaupun ayahnya dia mengatakan Amirul Mukminin karena sudah jadi raja. Kata Umar, "Apa ini Abdullah?" Kata Abdullah, "Unta saya ya." Kata Umar, "Dari mana kau dapat?" Dia bilang, "Saya beli. Bagaimana bisa gemuk?" Kata Umar. Dia bilang, "Saya meletakkannya di bima gitu kan." di tempat penggemukan atau pemeliharaan unta-unta zakat. Lalu kemudian setelah gemuk saya bawa ke pasar dengan harapan saya bisa mendapatkan apa yang didapatkan oleh pedagang, oleh kaum muslimin. Dapat untung. Kata Umar bin Khattab, "Abdullah, karena kau anaknya Amirul Mukminin lalu kau meletakkan untamu di bima dengan tujuan menggemukkannya, gitu kan." Maksudnya tanpa kau membayar upah. Setelah gemuk kau mau menjualnya, maka sekarang kau harus menjual unta ini. Kalau kau menjual unta ini, ambillah modalmu saja. Keuntungannya kembalikan ke ya pengampungan unta-unta tadi. Karena gemuknya untamu ini dari uangnya ya penggemukan unta tadi. Kamu cuma punya modal kecuali kalau kamu bayar. Kita lihat di sini ya. Riwayat ini menjelaskan bagaimana pekahnya Umar bin Khattab radhiallahu anhu. Beliau hati-hati sekali. Jangan sampai mungkin karena orang sekarang berpikir anak presiden enggak apa-apa deh pakai fasilitas mobil dinasnya ayahnya. Kurang lebih begitu. Kalau Umar bin Khattab ini mustahil dikasih kepada anak-anaknya gitu kan. Karena memang beliau tahu ini tidak mungkin digunakan secara umum. Ini di antara riwayat Abdullah bin Abbas juga mengatakan pernah didatangkan nampan di depannya Umar bin Khattab penuh dengan emas. Ada orang datang bawa emas. Ini pendapatan negara penuh dengan emas-emas lalu bongkahan-bongkahan yang besar. Kata Abdullah ibn Abbas, Umar pun memanggil saya mengatakan, "Wahai Ibnu Abbas, ke sinilah ambil ini. Bagikan kepada kaummu." Abdullah bin Abbas mengatakan, "Baiklah, saya sibuk membagikan harta tersebut. Lalu pada saat aku sibuk membagikan di hadapan Umar, tiba-tiba aku mendengarkan tangisan dari Umar yang berkata, "Ya Allah, aku tidak tahu kenapa engkau tidak mendatangkan emas ini kepada dua orang sebelumku. Rasulmu Muhammad sallallahu alaihi wasallam dan dan dan sahabatnya Abu Bakar. Ya, tentu engkau tidak datangkan kepada mereka. Kenapa emas ini enggak datang justru waktu Nabi jadi Nabi waktu masih hidup? Kenapa bukan zaman Abu Bakar waktu jadi raja? Kalau ini datang di zaman mereka, Engkau tidak datangkan di zaman mereka, ya Allah, tentu karena engkau inginkan kebaikan buat mereka. Jadi, tidak ada tanggung jawabnya. Sekarang kau datangkan kepada aku, aku tidak tahu ini kebaikan atau keburukan. Maka izinkanlah aku ya Allah untuk mengeluarkannya. Maka Abu Bakar, Umar pun mengeluarkan semua tadi dari harta yang didapatkan pendapatan negara. Ya, kalau kita pikir-pikir sekarang mungkin presiden bisa nikmatin sebagiannya. Ini sama sekali dikeluarkan bahkan dia bermuhasabah dianggap itu sebuah fitnah yang tidak pernah datang kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar. Kemudian juga dikatakan dari Mujahid Umar bin Khattab berkata, ini dinukil dalam Ibnu Air dalam kitab Usudul Ghabah. Usud ghabah ini jamak daripada asad artinya singa ya. Kusut itu jamak daripada asad singa ghaba itu maksudnya hutan ya. Jadi ini nama buku yang menarik memang tentang masalah ee sejarah-sejarah para sahabat dan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Umar bin Khattab menghabiskan 20 dirham dalam sebuah perjalanan haji dilakukannya dari Madinah ke Makkah. Dari Makkah ke Madinah. Mujahid berkata kemudian dia menyesal dan dia menepuk satu tangannya ke tangan yang lain. Menepukkan tangan kanan di tangan kiri. Dia berkata, "Kami memang berhak dikatakan telah berbuat israf atau pemborosan terhadap harta Allah Subhanahu wa taala." Riwayat yang lain, Abdullah bin Amr bin Rabiah berkata, "Aku melihat Umar bin Khattab memungut kulit biji gandum dari tanah. Dia berkata, "Seandainya aku bisa menjadi kulit gandum ini, seandainya aku bukan apa-apa, seandainya ibuku tidak melahirkanku." Kata para ulama ini menandakan bukan menyesali dia hidup, tapi dia mengatakan kecilnya amal saya sampai-sampai besar tanggung jawab yang saya harus lakukan di depan Allah Subhanahu wa taala kalau kulit ini tidak akan bertanggung jawab gitu kan. Seperti itu gambarannya. Kata Ada juga berkata, "Pernah satu kali ya Umar bin Khattab datang ke negeri Syam. Dibuatkanlah sebuah makanan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ketika makanan tersebut dihidangkan kepadanya, dia berkata, "Ini untuk kami." Lalu apa yang disiapkan untuk kaum muslimin yang miskin yang tidak pernah merasa kenyang dengan roti gandum? Maka Khalid bin Walid berkata, "Surga untuk mereka." Maka Umar bin Khattab menangis mendengarkan kata-kata Khalid, "Surga buat mereka. Jika ini adalah bagian kami, sedangkan mereka pergi ke surga, sungguh mereka telah meraih keutamaan yang sangat jauh." Lalu Umar bin Khattab pun meninggalkan makanan tersebut. Ya, dalam kisah yang lain ini ada beberapa kisah ya, kisah yang ketujuh kurang lebih. Salim bin Abdillah berkata bahwasanya Umar bin Khattab memasukkan jarinya pernah memeriksa di dubur ya di bagian belakang unta. Biasanya unta itu kalau mau diperiksa sakit atau tidak dipegang bagian duburnya. Kalau unta itu kalau demam atau enggak biasa ketahuan dari situ dengan cara tertentulah orang-orang ini memahaminya. Umar bin Khattab memeriksa seekor unta sambil berkata, "Sungguh aku takut ditanya apa yang terjadi padamu oleh Allah Subhanahu wa taala pada hari kiamat. Karena beliau pemimpin, beliau takut sampai unta pun jangan sampai unta itu sakit, dia tidak tahu sementara unta itu di bawa naungannya gitu kan. Itu luar biasa bagaimana kita pikirkan keadilan beliau. Kisah yang selanjutnya yang ke-elapan adalah terkadang Umar mendekatkan tangannya ke api lalu dia berkata, "Wahai Ibnu Khattab, apakah engkau bisa bersabar menghadapinya?" Sambil Umar bin Khattab menangis. Jadi beliau sering mendekatkan tangannya ke api sambil mengatakan, "Apa kau bisa sabar menghadapi iniya?" Ibnu Khattab muhasabah sambil menangis. Kisah yang selanjutnya, Albara bin Masrur berkata, "Pada suatu hari Umar bin Khattab keluar, dia datang ke mimbar. Pada saat itu dia sedang sakit. Lalu seseorang berkata kepadanya, "Wahai Amirul Mukminin, tidakkah Anda minum madu?" Dan waktu itu kebetulan ada kantung kecil madu di Baitul Mal di tempat penyimpanan harta. Lalu dibawalah kepada Umar. Umar berkata, "Kalau kalian izinkan wahai muslimin, ini kan harta muslimin. Kalian izinkan saya untuk meminumnya, saya akan meminumnya. Tapi kalau tidak, maka dia akan haram atasku. Jadi Umar bin Khattab hati-hati sampai malu dari baitul ma dalam kondisi sakit dia tidak berani meminumnya gitu kan. Ini luar biasa. Bagaimana dengan pemimpin kita sekarang yang bukan haknya main menandatanganin saja mengiyakan akhirnya orang lain pada ngambil haknya orang lain. Berapa besar tanggung jawab hari kiamat ini untuk diri dia sendiri. Minum madu aja dari baitil mal. Dia takut. Dia mengatakan kalau kalian izinkan baru saya minum. Kalau enggak maka dia akan haram bagi saya. Ibnu Jauzi meriwayatkan dalam manaqib Umar ya. Dikatakan bahwasanya Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "Aku melihat Umar bin Khattab di atas kudanya." Lalu dengan cepat dia lari memicu kudanya itu. Lalu aku berkata, "Wahai Amirul Mukminin, mau ke mana ya? Mau ke mana Anda ini?" Maka kata Umar, "Seekor unta zakat lepas. Aku ingin menangkapnya." Umar bin Khattab lihat lepas dikejar sama dia sendiri. Enggak disuruh pegawainya, dia lari sendiri mengejar gitu kan. Lalu e Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Sungguh engkau akan membuat lelah para khalifah setelahmu. Kalau semua orang harus buat begitu, kerepotan nanti hai Amirul Mukminin." Apa kata Umar? "Wahai ayahnya Hasan, wahai Ali, jangan menyalahkanku demi zat yang telah mengutus Muhammad dengan kenabian. Seandainya seekor anak domba hilang di pinggir sungai Furat di Turki, niscaya Umar akan disiksa karenanya pada hari kiamat." Ya, jadi Umar bin Khattab bermuhasabah diri yang luar biasa. Katada berkata juga ada seseorang yang bernama Muaikib. Muaikib ini salah satu penjaga Baitul Mal. Dia pernah membersihkan baitul Mal. Ditemukanlah ada koin dirham 1 dirham jatuh. Abdullah bin Umar kebetulan lewat ya. Lalu Muaikib ini dia gak masukan ke Baitul Mal. Dikasih Abdullah bin Umar nih ambil aja deh. Kan gitu disuruh bawa. Ya mungkin karena dianggap anak khalifah gitu kan. Kata Muaikib, "Belum selesai saya bersihkan Baitul Mal." Tiba-tiba suaranya Umar datang dan membawa di tangannya koin dirham itu. Ternyata dia tanya anaknya, "Kamu dapat dari mana?" dan seterusnya gitu kan. Lalu dia bilang, "Wahai Muaikib, apa ini?" Kata Muaikib, "Ini tadi ya saya lagi sapu bersih ada di sini anak Anda lewat saya kasih." Kata kata Umar bin Khattab, "Apakah engkau ingin umat Muhammad semuanya memperkarakanku terkait dengan dirham ini hari kiamat?" ini bukan punya aku. Kau kasih anakku untuk apa? Nanti akan menjadi masalah. Karena ini punya umat berarti berhadapan dengan umat semuanya. Ini kadang-kadang orang tidak pikir ya. Kadang-kadang subhanallah dia ambil misalnya zakat mal misalnya apalah punyanya umat ini bukan punya bukan punya individu. Berarti dia bertanggung jawab dengan umat itu. Ada orang kadang-kadang nyalahin satu kota tuh orang Jakarta tuh begini satu kota dia berhadapan hari kiamat tuh berani benar gitu kan. Enggak boleh sembarangan. Jaga lisan gitu kan. Tanggung jawabnya berat hari kiamat. Lalu Umar juga pernah membaca ayat dalam satu malam biasanya dilakukan ya yang biasa dilakukan kemudian dia sakit dan sampai dijenguk oleh sahabat selama 1 bulan. Ini riwayat tadi sudah saya sebutkan lalu diulangi oleh beliau di sini. Umar bin Khattab juga pernah masuk dalam sebuah kebun. Kebun itu memang kebun yang disiapkan ee kebunnya sebut seseorang. Dia masuk ke dalamnya karena dianggap di Amirul Mukminin diberikan kesempatan Umar bin Khattab untuk masuk. Begitu Umar bin Khattab masuk ke dalam ya kata Anas bin Malik yang lagi jalan, "Saya terpisah dengan Amirul Mukminin dengan sebuah pohon." Lalu saya mendengarkan amirul mukmin mengatakan, "Wahai Amirul Mukminin Ibnu Khattab, bagus demi Allah engkau bertakwa kepada Allah wahai Ibnu Khattab atau dia akan mengazabmu." Artinya jangan sampai karena kau masuk ke kebun ini kamu jadi lupa. Akhirnya Allah mengazabmu supaya dia tidak terlihai dengan kebun yang dikasih tersebut. Dalam masalah zuhud, semua raja waktu itu punya stempel dan umumnya di cincin. Biasanya di cincin. Umar bin Khattab punya cincin gitu kan. Tertulis kalimatnya kalau dia mengirim surat ke raja-raja, ke siapa saja gubernurnya. Isinya begini. Kafa bil mauti waidan ya Umar. Tulisannya itu cukuplah kematian sebagai penasihatmu wahai Umar. cincinnya dia. Jadi setiap dia stempel dia ingat dia lagi kirim surat nih. Oh ternyata saya diingatkan dengan kematian. Stempelnya bunyinya begitu gitu kan. Pernah enggak antum berpikir stempel begitu gitu kan. Ketika memegang khilafah Umar bin Khattab berkata, "Tidak halal untukku dari harta Allah kecuali dua pakaian. Satu pakaian untuk musim dingin dan satu pakaian untuk musim panas." Jadi kalau dia lagi jadi khalifah, kalaupun harus dibelikan oleh baitul mal cukup satu musim dingin, satu musim panas. Bukan semua dibiayai oleh pemerintahan. Makanan pokok keluargaku seperti makanan orang laki-laki dari Quraisy yang bukan merupakan orang terkaya mereka. Kemudian aku ini hanyalah seorang laki-laki dari kaum muslimin. Cukup banyak riwayat di sini disebutkan tentang masalah itu. Dan pernah Jabir bin Abdillah memegang radhiallahu seorang sahabat pegang daging bawa baru beli gitu. Kayak kita sekarang mungkin dikresek dibawa gitu kan. Kemudian Umar bertanya apa itu Jabir? Jabir mengatakan, "Daging saya beli, saya pengin makan daging." Umar menasihatin dia, bukan melarang ya, tapi menasihatin mengatakan, "Wahai Jabir, apakah setiap kali kau lihat sesuatu, kau pengin satu kau selalu membelinya?" Maka lalu Umar membacakan ayat yang membuat Jabir jadi belajar gitu. Dari situ Umar mengatakan bacaan firman Allah al-Ahqaq ayat 20. Adhabtum thyibatikum fiatikum dunya. Ini potongan ayat ya, kurang lebih. Artinya apakah kalian sudah menghabiskan rezeki yang baik dalam kehidupan dunia kalian? Artinya cobalah redam jangan semuanya dibeli. Gitu kan. Ini sebuah pelajaran juga yang bisa diambil dari Umar radhiallahu anhu. Seseorang pernah diundang oleh Umar bin Khattab makan. Orang ini kebetulan bernama Humaid bin Hilal. Salah satu tokoh masyarakatlah, kepala suku. Ini di halaman 249 ya. di paragraf terakhir sebelah kanan dia lagi dibelikan disiapkan makanan. Lalu pada saat dihidangkan, orang ini enggak mau makan. Umar tanya, "Kenapa kau enggak mau makan?" Dia bilang, "Makanan Anda keras dan tidak enak." Ya, biarlah saya pulang ke rumah saya. Saya makan makanan yang sudah disiapkan di rumah saya. Lembut, enak, gitu kan. Lalu kata Umar, "Apakah menurut kamu kami tidak bisa menyembelih seekor rubah dan menggulitinya? Apakah kau mengira kami tidak bisa mengambil tepung lalu disaring dengan kain demi kain sehingga menjadi halus? Apakah kau mengira bahwasanya kami tidak bisa membuat roti yang lembut dan kami memerintahkan satu sak? Satu sa itu satu genggam kismis dimasukkan ke dalam kantong air. Biasanya orang dulu melakukan itu kemudian dikocok nanti jadi manis airnya jadi air kismis gitu kan. Apa kamu meng kami tidak bisa melakukan itu sehingga nanti kami bisa merasakan nikmatnya seperti memakan daging rusa? Maka dia pun berkata, si orang tadi yang diundang itu Hid berkata, "Sungguh aku aku menangkap Anda ini orang yang tahu makanan enak. Lalu kenapa harus ada makanan yang seperti ini?" Kata Umar, "Benar, demi zat yang jiwaku berada di tangannya. Jika aku tidak takut amal baikku berkurang, niscaya aku akan mengikuti kemewahan hidup kalian. Tapi aku ini tidak berani seperti itu karena takut nanti malah jadi lalai dan meninggalkan semua amal-amal kebaikan. Amal-amal kebaikan. Pada tahun Ramadan, tahun Ramad tahun peceklik ya. Waktu itu lagi tidak ada makanan. Orang-orang jadi susah. Hewan-hewan daripada pand kehabisan makanan. Umar bin Khattab radhiallahu anhu hanya makan roti dan minyak sampai-sampai kulitnya menjadi hitam gitu kan. Kemudian beliau berkata, "Seburuk-buruk pemimpin adalah aku. Jika aku kenyang sedangkan orang-orang kelaparan benar-benar mengagumkan dirimu wahai Umar." Kata si penulis ini sangat luar biasa gitu. Dan beliau pernah berkata pada perutnya pada saat itu, "Kami tidak punya sambil tepuk-tepuk perutnya sendiri, kami tidak punya makanan sehingga masyarakat tetap hidup." Artinya kamu harus tenang dan terima itu perutnya sendiri diajak ngomong sama dia dan diingatkan agar jangan sampai melakukan hal-hal yang melampaui batas. Kemudian Muawiyah radhiallahu anhu berkata, "Sahabat Nabi yang mulia, Abu Bakar tidak menginginkan dunia. Dunia pun tidak menginginkannya. Adapun Umar, dunia menginginkannya." Maksudnya Muawiyah di zaman Abu Bakar ekspansi tidak terlalu luas. Kekayaan harta rampasan perang tidak terlalu banyak. Tapi di zaman Umar, dunia menginginkannya, tapi dia tidak menginginkannya. Sedangkan kita, kita berguling-guling banting tulang di dalam dunia itu. Artinya diberikan nasihat oleh Muawiyah kepada kita semua. Tawadnya Umar bin Khattab radhiallahu anhu dikatakan bahwasanya beliau pernah keluar bersama Aljarut dari sebuah masjid di jalan bertemu dengan seorang wanita yang duduk di atas jalan. Wanita itu sudah tua sekali. Lalu Umar mengucapkan salam kepadanya dan dia pun menjawab salam. Dalam riwayatnya dikatakan wanita itu memberikan salam. Umar menjawabnya. Wanita itu berkata, "Wahai Umar, dulu aku melihatmu saat engkau masih bernama Umair." Orang Arab itu kalau masih kecil namanya diperkecil Umar jadi Umair gitu kan. Saya lihat dulu kamu masih Umair lari-lari di pasar Ukkaz suka berkelai dengan anak-anak. Dan sekarang baru saja berlalu waktu engkau tiba-tiba menjadi Umar, menjadi orang yang sudah dewasa dan besar. Kemudian baru berlalu saja waktu kamu tiba-tiba menjadi amirul mukminin, menjadi raja. Bertakwalah kepada Allah wahai Umar terhadap rakyatmu. Ketahuilah bahwasanya siapa yang takut mati dia tidak dia akan takut kehilangan. Ya. Maka Umar pun menangis. Maksudnya kalau kamu takut ya berkorban untuk agama ini, maka kamu berti tidak takut mati. Tapi kalau kamu takut mati ada hisab hari kiamat kamu akan berhati-hati. Kurang lebih begitu maknanya. Aljarud berkata, "Ibu itu, Arjarud ini pendampingnya Umar berkata, "Ibu, engkau telah menyakiti dan lancang terhadap amir mukminin." Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah. Segala puji bagi Allah subhanahu wa taala juga selawat dan taslim besar Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Masih melanjutkan Umar dan beberapa poin yang berhubungan dengan beliau sebelum membahas masalah meninggal dan mati syahidnya. radhiallahu anhu. Beliau juga punya kisah berhubungan dengan masalah mendidik diri beliau dan juga pemimpin-pemimpin yang bisa yang biasa beliau atau yang sudah beliau tunjuk. Satu waktu pernah Umar bin Khattab memiliki anak yang bajunya sobek kemudian ditambal. Pada saat ditambal baju tersebut, keesokan harinya robek lagi. Ditambal lagi yang kedua kalinya sampai terdiri baju tersebut dari beberapa kali tambalan. Teman-teman Umar ini mengolok-ngolok anak Umar. Anak Amirul Mukminin bajunya sobek. Anak Amirul Mukminin bajunya ditambal. Sampai anak Umar bin Khattab ini menangis pulang dan berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, masih anak-anak, masih kecil. Teman-temanku mengolok-ngolok aku karena bajuku ditambal. Bisa enggak ayah belikan aku baju? Kata ayahnya, "Kalau sekarang," kata Umar, kata Umar radhiallahu anhu, "Kalau sekarang saya enggak punya uang wahai anakku untuk beli baju." Bayangkan untuk beli baju berapa dirham aja enggak pegang uang pada saat itu. Radhiallahu anhu. Beliau mengatakan, "Tapi aku akan coba mengirim surat kepada penjaga baitul mal." Ditulislah surat oleh Umar bin Khattab kepada penjaga baitul Mal itu dan dikatakan, "Saya meminta secara pribadi bukan kebutuhan negara agar Anda meminjamkan saya uang untuk membelikan baju buat anak saya yang akan saya bayar bulan depan di gaji nanti. Ada gajinya Umar Khattab, saya akan ambil gaji gaji saya dipotong." Lalu waktu sampai surah tersebut di tangan penjaga baitul Mal, kita perhatikan di sini bagaimana penjaga baitul juga ini orang yang beriman. Dia membalas surat Umar bin Khattab mengatakan, "Wahai amirul mukminin, kalau saya pinjamkan kepada Anda uang ini, apakah Anda punya jaminan masih bisa hidup sampai bulan depan sehingga Anda bisa membayarnya?" Perhatikan ini dialog antara atau surat antara seorang pemimpin yang menunjuk pegawainya dan pegawainya menulis seperti itu. Waktu tiba surat penjaga baitul mal kepada Umar bin Khattab, Umar bin Khattab pun menangis. Menangis sambil berkata kepada atau dalam kalimatnya yang masyhur, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada saya orang-orang yang seperti ini." Lalu beliau berkata kepada anaknya, "Wahai anakku, bersabarlah. Kalau ayahmu ini masih hidup sampai bulan depan dan menerima gaji, maka pasti saya akan memberikan kamu baju. Ini sebuah pelajaran yang besar dari Umar radhiallahu anhu. Dan kita lihat dari awal kisah tadi beberapa jam kita jelaskan hampir semua yang berhubungan dengan beliau itu pelajaran, pelajaran demi pelajaran. Hidupnya dipenuhi dengan kisah-kisah yang luar biasa yang menjadi ibrah yang menjadi pelajaran dan beliau sudah mendahului kita semua dengan kemuliaannya. 1400 tahun lebih sekarang Umar bin Khattab sudah meninggal, kita masih bisa terkesan, kita masih bisa terkesimak, kita bisa-bisa mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian di zaman beliau. Bahkan menjadi hukum-hukum fikih yang dilakukan oleh seluruh umat Islam. Sebagaimana tadi kita jelaskan dalam beberapa poin bagaimana Umar bin Khattab ya menjadikan atau dijadikan keputusannya sebagai hukum di jalan Allah Subhanahu wa taala. Umar bin Khattab radhiallahu anhu sangat tegas dalam agama Allah ini. Tidak main-main kalau memang hal itu perlu ketegasan. Dalam sebuah kisah pernah ada seorang Yahudi dengan munafik. Yang munafik ini hutang dari orang Yahudi. Kemudian tiba masa si Yahudi menagih dari munafik. Munafik bilang, "Enggak ada uang kamu sama saya." Cekcoklah dua orang ini. Lalu diambil kesimpulan, kita berhukum aja. Waktu itu Nabi sallallahu alaihi wasallam masih hidup. Maka datanglah keduanya ke Nabi sallallahu alaihi wasallam. Nabi sallallahu alaihi wasallam melihat sesuai dengan data-data yang ada. Yahudi punya hak. Kata si kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Berikanlah haknya si Yahudi ini karena memang kamu berhutang sama dia." Ada buktinya. Jelas. Ternyata keluar munafik ini tetap bilang, "Saya enggak mau bayar. Belum puas cari orang lain." Dicarilah Abu Bakar. ketemu Abu Bakar. Siapa setelah Nabi sallallahu alaihi wasallam? Abu Bakar orang yang dianggap dimuliakan. Datang ke sana memperlihatkan kasus kepada Abu Bakar. Dipaparkan Abu Bakar berhukum seperti hukum Nabi sallallahu alaihi wasallam bahwasanya haknya Yahudi. Ternyata pulang keluar dari rumah Abu Bakar. Si munafik belum puas juga. Saya belum mau bayar. Baik. Yahudi bilang kalau begitu kita cari orang lain. Kamu mau? Iya. Siapa? Umar bin Khattab. Datang kepada Umar radhiallahu anhu di rumahnya. Begitu datang ke rumahnya, Umar bin Khattab mengatakan, "Siapa kalian?" Satu mengatakan mengaku muslim tapi dia orang munafik. Di sini diriwayat tidak disebutkan namanya. Kemudian yang satu juga Yahudi. Lalu Umar bertanya, "Ada apa dengan kalian?" Dia bilang, "Ini Yahudi bilang, "Ini si fulan utang dengan saya, tapi enggak mau bayar. B gak mau akuin." Lalu Umar pintar. Umar bertanya kepada mereka berdua, "Apakah kalian sudah pernah bertanya tentang masalah hukum ini sebelum datang ke sini?" Kata mereka berdua, "Sudah." Kata Umar, "Kepada siapa?" Mereka bilang, "Kami telah datang kepada Muhammad." Gitu kan. Kata Umar, "Apa hukumnya?" Kata Muhammad memberikan hak kepada si Yahudi ini kata si munafik karena alasan-alasan yang sudah dipaparkan. Lalu kalian ke mana lagi? Mereka berkata, "Kami sudah ke Abu Bakar." Apa hukumnya Abu Bakar? Sama saja dengan hukumnya Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Lalu Umar berkata, "Untuk apa kalian datang kepada saya?" Keduanya mengatakan, "Kami ingin berhukum." Umar bilang, "Baiklah, tunggu sebentar." Umar masuk ke dalam mengambil pedang, kemudian mengejar keduanya akan menebas keduanya. Dua-duanya lari dari rumahnya Umar. Lalu Umar berkata, "Apakah kalian sudah berhukum kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? Masih ragu datang ke Abu Bakar lalu masih ragu lalu datang kepada saya minta hukum. Ini hukum saya pedang ini," gitu kan. Jadi beliau rallah tidak main-main dengan hukum gitu kan. Kalau memang sudah saatnya ya saatnya gitu kan. Seperti itu gambarannya. Dan tentu apa yang akan kita sampaikan dipaparkan di buku ini belum semua kisah Umar ternukilkan. Jadi bukan mustahil ikhwah-ikhwat sekalian, kalau Anda pernah mendapatkan kisah lain tentang Umar asal riwayatnya sahih, itu enggak ada masalah. Karena cukup banyak riwayat yang dinukil yang memang belum dinukil di sini. Di antaranya ada kisah Umar bin Khattab dengan rahib, seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam akhirnya karena sifat Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan ini sudah saya sebutkan di ee bahasan ee pada saat menjelaskan tentang kelebihan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Ringkas ceritanya adalah ada seorang Yahudi yang pernah Nabi sallallahu alaihi wasallam utang dengan dengannya 20 sak kurma. Satu sak kurma 2 kilo set. Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam sepakat akan dibayar di waktu tertentu. Ternyata tiba belum tiba waktunya orang Yahudi ini sudah datang. Pendeta Yahudi sudah datang dan langsung berdiri di sebelah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Mencekik leher Nabi dengan sisa kain imamahnya alaihialatu wasalam. Lalu orang-orang itu lagi hadir di masjid dan semuanya pada nu melihat kejadian tersebut. Akhirnya Umar bin Khattab yang ada di depan saf mengatakan, "Ya Rasulullah, izinkan saya menebas lehernya Yahudi ini." Gitu. Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam memberikan isyarat untuk duduk Umar. Lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam kondisi tercekik menanyakan kepada Yahudi, "Ada apa hai Yahudi?" "Kata Yahudi ini, "Bayar hutangmu hai Muhammad." Kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Kan belum tiba saat waktunya." Dia bilang, "Tetap saya mau dibayar sekarang." Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam kondisi duduk terciik dan Yahudi ini berdiri menarik imamah beliau sallallahu alaihi wasallam berkata kepada Umar, "Wahai Umar, pergilah ke Baitul Mal dan ambillah." Ya. Dan ambillah 20 sak kurma, bayarkan utang saya dan tambah 20 sak lagi. Kata Umar, "Ya Rasulullah, 20 sak pertama utang Anda, 20 sak kedua untuk apa?" Kata Umar, kata Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Itu hukuman karena kau sudah menakut-nakuti dia. Kau tadi sudah mengancam akan menebas lehernya." Artinya Nabi sallallahu alaihi wasallam seakan-akan memberikan isyarat, "Kalau saya masih ada jangan ambil keputusan." Gitu kan. Maka Umar pun pergi ke Baitul Mal meninggalkan Yahudi ini. Yahudi jalan di belakangnya sambil marah dengan Yahudi ini. Tiba di Baitul Mal, Umar bin Khattab radhiallahu anhu menyiapkan 20 sak kurma diberikan kepada Yahudi itu. Waktu mau disiapkan 20 sak kedua. Yahudi ini bilang, "Enggak usah, hai Umar." Kata Umar, "Kenapa?" Dia bilang, "Umar, apa kau tahu siapa saya?" Kata Umar, "Saya enggak mau tahu siapa kamu." Dalam kondisi marah gitu kan, langsung dia sebutkan namanya. "Saya Fulan bin Fulan. Namanya ini kebetulan nama salah satu pendeta Yahudi yang terkenal sudah lama masuk Islam." Kata Umar, "Saya tanya kamu atas nama Allah, apakah kau dia?" Dia bilang, "Iya." "Bukankah kau tahu itu adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam?" Kata kata dia, "Ya, saya tahu." Lalu kenapa kau lakukan perbuatan tadi? Sementara kau tuh tahu adalah nabi Allah. Kata si Yahudi, "Hai Umar, apa kau kira saya gila? Saya datang ke masjid kalian mencekik nabi dan raja kalian di hadapan kalian. Saya sudah siap mati pada saat itu. Karena saya ingin membuktikan satu hal dari Muhammad yang belum saya temukan padanya. Semua ciri kenabian nabi terakhir ada pada diri Muhammad. Semua sudah saya temukan fisiknya, tempat tinggalnya nama-namanya. Tinggal ada satu belum. Galabilmuhu gadabu. Emosinya dikalahkan dengan kasih sayangnya. Dan tadi tu saya sengaja nagih sebelum waktu saya sengaja cekik lehernya. Tujuannya untuk memancing emosinya. Ternyata memang kasih sayangnya mengalahkan ya apa namanya emosinya. Dan sekarang saya mengucapkan Umar ashadu alla ilahaillallah wa anna muhammadar rasulullah. syahadat orang tersebut di depan Umar radhiallahu anhu. Ini di antara kisah yang belum dinukil tentunya. Ada juga kisah yang lain, kisah tentang masuk Islam ee kisah tentang Umar radhiallahu anhu zaman khilafahnya. Beliau sempat keliling kota Madinah di malam hari. Kemudian beliau menemukan ada satu laki-laki badwi. Laki-laki Badui ini kebetulan lagi menancapkan tali kemahnya sambil mengikat kengangan tali untahnya dan di dalam kemahnya ada suara rintihan perempuan yang sedang menangis. Maka Umar pun lewat dan berkata setelah memberikan salam, "Wahai laki-laki, hai rajul, bahasa Arabnya, ya rajul, siapa kamu ini?" Dia mengatakan, "Sayaat orang musafir dari Badui padang pasir lagi lewat. Malam keamanan, saya lihat ada tanah kosong. Saya tebar kemah saya. Saya mau nginap di sini." Kata Umar, "Siap suara siapa tuh rintihan dalam kemahu?" Dia bilang, "Sudahlah saudaraku. Pergilah gak usah campurin itu." Kata Umar, "Mungkin saya bisa bantu." Kata orang itu, "Itu suara istri saya yang mau melahirkan." Ya, tapi tidak ada yang bantu. Saya enggak tahu bagaimana melahirkan perempuan dan juga tidak ada wanita yang saya kenal di Madinah bisa minta bantuan. Apalagi itu tengah malam. Dan sebagian ulama menukil kisah ini di tahun 23 Hijriah. Tahun terakhir Umar radhiallahu anhu hidup. Dan juga ya pada saat itu tengah malam di awal malam dia itu sekitar jam 12.00 malam gitu kan jam 11.00, jam 12.00 malam yang orang waktu itu sudah tidur semua. Jadi ini Umar bin Khattab sedang mengontrol mengawasi sendiri. Ringkas cerita adalah Umar bin Khattab lalu berkata kepadanya, "Maukah kau saya datangkan seorang wanita dari Madinah yang bisa membantu istrimu melahirkan?" Dia bilang mau. Perlu jemaah tahu bahwasanya laki-laki badu ini belum tahu kalau ini Umar bin Khattab, belum tahu kalau ini khalifah. Umar pun radhiallahu anhu lalu pulang. Dia tidak membangunkan ya penasihat-penasihatnya atau mungkin dokter tabib ya. Kalau kita zaman dulu dikatakan ya dengan istilah ee tabib ya atau orang yang bisa mengobati atau bidan mungkin perempuan yang bisa melahirkan. Tidak. Dia pulang ke rumahnya, dia bangunkan istrinya yang waktu itu istrinya adalah Ummu Kalsum, anaknya Ali radhiallahu anhu. Lalu berkata Umar bin Khattab, "Wahai cucunya Rasulullah, apakah kau mau mendapatkan pahala seorang wanita muslimah yang mau melahirkan malam hari enggak ada yang tolong?" Ummu Kalsum radhiallahu anha juga punya iman yang kuat. Anaknya Ali, cucu Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dia tidak mengatakan, "Wahai Amirul Mukminin, carilah wanita ansar yang bisa melahirkan." Tidak. Dia mengatakan dengan jelas dan tegas, "Tentu saja saya ingin dapat pahalanya." Kata Umar, "Siapkanlah persiapan perlengkapanmu untuk melahirkan dan ikut sama saya." Maka jalanlah pada malam itu, saudaraku sekalian, dua orang, raja muslim dan ratunya. Tidak ada pengawal, tidak ada yang dampingin, dan tidak ada media yang akan mengekspos itu. Karena yang sedang dibantu seorang badwi yang cuma lewat, besok pagi mau pergi lagi. Enggak ada yang tahu tengah malam nih. Ya, kita tahu sekarang banyak orang mau melakukan satu perbuatan, kegiatan karena ada eksposnya kemudian bisa mengangkat namanya sama sekali enggak. Jalanlah keduanya tiba di kemah orang Badui tersebut. Ringkas ceritanya kata Umar bin Khattab kepada istrinya, "Masuklah ke khemahnya dan selesaikan tugasmu." Istrinya pun akhirnya membantu wanita tersebut melahirkan. Enggak lama kemudian, sementara menunggu tentu Umar bin Khattab ngobrol sama orang Badu ini. Dan orang Badui belum tahu kalau Umar bin Khattab ngobrol-ngobrol aja seperti biasa. Lalu kemudian terdengar suara bayi dari dalam. Dan Ummu Kalthum istri Umar bin Khattab radhiallahu anhum ajmain berkata, "Ya Amirul Mukminin, wahai pemimpin orang yang beriman." Gitu ya. Jadi ini hai raja beritahukan kepada laki-laki di sebelahmu kalau istrinya sudah melahirkan normal. Begitu mendengarkan kalimat amirul mukminin, si Badui tadi dari tempat duduknya turun ke tanah ketakutan lalu berkata, "Apakah Anda amirul mukminin Umar bin Khattab?" Umar bin Khattab mengatakan kepada dia, "Ala rizkika." Tenang aja. Dia bilang, dia apakah Anda amir mukminin Umar bin Khattab? Kata Umar, "Iya, saya Amir mukminin Umar bin Khattab. Dan yang membantu tadi melahirkan istrimu itu adalah Ummu Kalsum, anaknya Ali bin Abi Thalib, cucunya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Maka orang ini pun menangis pada saat itu dan berkata, "Maha suci Allah yang telah mengaruniakan saya nikmat yang tidak terhingga malam ini. Karena saya telah didepani duduk oleh raja ya muslimin dan istri saya telah dibantu melahirkan oleh ratu muslimin dan anak saya disentuh pertama kali dengan kulit cucu Nabi sallallahu alaihi wasallam." Kita lihat bagaimana perilaku Umar bin Khattab yang luar biasa gitu kan. Setiap perilakunya menjadi sebuah pelajaran. Kisah yang lain juga Umar bin Khattab radhiallahu anhu pernah satu malam jalan kemudian menemukan ya di luar kota Madinah tentunya ini ini kisah yang sahih adalah di luar kota Madinah. Kemudian dia lagi jalan dan dia temukan ternyata ada seorang wanita yang sedang duduk kemudian di sebelahnya ada tiga orang anak yang sedang menangis. Kemudian Umar bin Khattab pun datang sambil mengatakan, "Ya selama e assalamualaikum wahai pemilik cahaya, pemilik cahaya api itu." Lalu wanita menjawab, setelah itu Umar mengatakan, "Apakah engkau mengizinkan aku mendekat?" Kata wanita itu, "Mendekatlah tapi dengan sopan. Kalau enggak pergilah." Kata Umar bin Khattab pada saat mendekat, "Ada apa wahai hamba Allah?" Dia bilang, "Dan kenapa anak-anakmu menangis?" Dia bilang, "Saya sudah berapa hari enggak makan anak saya kelaparan butuh makanan. Terus apa yang kamu masak di panci?" yang saya masak di Panji sebuah batu yang saya masukkan supaya anak-anak saya kira saya masak dan ini sudah 3 hari berjalan sementara amirul mukminin tidak perhatian kepada kami. Dia tidak tahu kalau ini Umar bin Khattab. Lalu Umar pun berkata kepada temannya kalau tidak salah tutup bersama dengan Ubay bin Ka'ab. Mereka berdua lalu menuju ke Baitul Mal mengambil kebutuhan muslimin dipikul. Kemudian Umar berkata, "Angkatlah ke pundakku." Kata Ubay, "Biar saya yang angkat Amir mukminin." Kata Umar, "Angkat ke pundakku." Sampai tiga kali Ubay terus mengatakan, "Biar saya Amir mukminin." Kata Umar, "Apa kau ingin memikul dosaku pada hari kiamat?" Maka Ubay pun diam. Lalu pergilah mereka berdoa ke sana. Lalu Umar bin Khattab Radallahu dalam riwayat ini dikatakan ee ee meniup-niup ya, meniup-niup panci yang tadinya apinya sudah mulai redam ya sampai terlihat asap dan percikan-percikan api berada di antara jenggot beliau. Dan waktu itu Umar bin Khattab memiliki jenggot yang sama Nabi sallallahu alaihi wasallam sampai ke dadahnya radhiallahu anhu. Kemudian beliau meniup-niup di tengah malam seorang raja meniup api panci untuk memasakkan masyarakatnya. Setelah terbakar api tersebut lalu Umar bin Khattab mengatakan kepada ibu tersebut, "Taburilah gandum di atas air." Lalu Umar yang mengaduknya terus diaduk sampai menjadi kental, menjadi makanan. Ditaruhlah garam, ditaruhlah segala kebutuhannya. Kemudian setelah itu diberikanlah makan oleh Umar bin Khattab. Dikatakan, "Berikan saya nampan." Dikasih nampan. ditumpah kemudian diberikan makan anak-anak tersebut sampai semua kenyang. Setelah kenyang kata Umar, "Ambillah ini semua." Lalu ibu tersebut berkata, "Sungguh demi Allah kau lebih baik daripada Amirul Mukminin." Dia tidak tahu kalau ini Umar bin Khattab. Kata Umar, "Janganlah berkata begitu wahai ibu. Kalau kau satu waktu bertemu dengan Amirul Mukminin, kau pasti akan menemukan saya ada di sana." Gitu kan. Hanya begitu saja. Lalu Umar bin Khattab memegang tangan Ubay sama-sama keluar. Kata Ubay, waktu Umar bin Khattab Amirul Mukminin tinggal meninggalkan tempat tersebut, lalu dia menyelip di antara semak bulukar seperti binatang buas yang sedang mengintai mangsanya. Dilihat dengan teliti ke arah ibu tadi sama anak-anak itu. Lalu setelah itu dia lihat anak-anak tersebut yang tadinya nangis tidur bangun bermain ceria gitu kan. Lalu Umar bin Khattab mengangkat kepalanya ya seakan-akan berhenti untuk memata-matai dan berkata, "Segala puji bagi Allah yang selamatkan saya dari ee orang-orang ini yang akan menuntut saya pada hari kiamat." Perilaku yang sangat luar biasa dari seorang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa taala. Dan cukup banyak kisah yang berhubungan dengan hal-hal yang seperti ini. Umar bin Khattab radhiallahu anhu juga pernah memberikan pelajaran tentang masalah takdir. Sebagaimana dinukil dalam banyak riwayat-riwayat sahih. Teman-teman yang pegang buku bisa di halaman 276 sampai 277 kisah yang berhubungan dengan masalah itu. Umar bin Khattab radhiallahu anhu pernah menuju ke negeri Syam dan di negeri Syam itu ternyata ada satu wilayah yang akan dimasukin terkenal ada penyakit taun ya sebelum maaf sebelum keluar ke negeri Syam. masih dari kota Madinah gitu kan. Riwayat sahih menjelaskan masih di Kota Madinah. Lalu pada saat itu ada seorang panglima perang Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu anhu yang terkenal juga salah satu yang terkenal Amin hadil ummah orang yang paling terpercayanya umat Islam gitu kan. Waktu itu Umar bin Khattab mengatakan waktu mau keluar dikatakan negeri yang Anda mau pergi ini oleh sebagian sahabat ada penyakit taun. T itu penyakit yang memang Nabi sallallahu alaihi wasallam larang kita masuk ke sana kalau ada penyakit itu. Dan kalau kita sedang ada di satu lokasi yang ada penyakit itu, maka otomatis kita dilarang keluar. Ini khilaf di antara ulama tentang masalah bahasa Indonesianya atau penyakit. Ada yang mengatakan kusta, ada yang mengatakan menyebutkan beberapa jenis penyakit tapi saya tidak terlintas sekarang nama-namanya. Ringkas cerita adalah Umar bin Khattab mengatakan kalau begitu kita urunkan niat dulu. Jangan dulu pergi. Lalu Abu Ubaidah radallahu datang mengatakan, "Wahai amirul mukminin, apakah Anda lari dari takdirnya Allah?" Kata Umar bin Khattab, "Saya lari dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain." Jadi maksudnya di sini selama masih berhubungan dengan perilaku seorang hamba, perilaku pilihan makan atau tidak, minum atau tidak, tidur atau tidak, keluar atau tidak, semua itu adalah pilihan ikhtiar gitu kan. Kalau kita mau keluar ternyata khawatir ada gelap, badai, hujan, panas kah, kita lalu memilih lebih di rumah berarti kita sedang memilih takdir Allah yang lain. Itu maksud Umar radhiallahu anhu kan gitu. Maka Umar mengatakan, "Saya lari dari takdir Allah kepada takdir Allah yang lain." Lalu Umar berkata, "Wahai Abu Ubaidah, seandainya yang mengucapkan itu bukan kamu," Artinya, "Masa kamu yang bisa mengucapkan seperti itu sementara kamu ini adalah orang yang paling terkenal." gitu kan. Lalu akhirnya Umar bin Khattab pun membiarkan. Dalam riwayat yang lain, Abu Ubaidah mengatakan, "Baiklah, saya yang akan pergi ke sana." Maka dia pun berangkat. Umar bin Khattab sempat memeluk Abu Ubaidah mengetahui ini nanti pas pasti akhir hidupnya gitu kan. Pergilah mereka pada saat itu ya dalam riwayat ini. Tapi riwayat lain mengatakan Abu Ubaidah enggak jadi keluar tetap aja di Madinah dan akhirnya ditunggulah berita Umar terus menyebarkan berita siapa yang punya berita tentang taun penyakit taun dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Abdurrahman bin Auf sahabat Nabi yang lain radhiallahu anhu sempat waktu itu tersibukkan dengan beberapa kegiatan. Lalu pada saat dengar orang lagi ngumpul bersama Umar bin Khattab, dia pun datang lalu mengatakan, "Saya memiliki khabar dari Nabi sallallahu alaihi wasallam." Ya, dan ini riwayat disebutkan dalam riwayat Bukhari tentang kisah ini. Dia mengatakan, "Aku mendengarkan Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda,"Umardin tuqadimu alai waqardin waum biharu. Jika kalian mendengarkan terjadi di satu daerah, maka kalian jangan ke sana. Dan jika kalian telah berjadi pada satu kaum, sedangkan kalian berada di dalamnya, maka kalian jangan keluar darinya atau menghindarinya. Maka Umar pun akhirnya bertahmid mengatakan, "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah membantu aku untuk mengambil keputusan yang tepat." Juga Bapak Ibu sekalian ada kisah yang menarik tentang atau syubhat seringkiali kalau Anda baca buku sejarah Anda temukan tentang ada sering ahli-ahli sejarah Islam juga menulis buku ya mereka mengatakan Umar bin Khattab tidak menyenangi Khalid bin Walid. Tidak menyenangi Khalid bin Walid. Terbukti Umar bin Khattab melengserkannya dari jabatannya sebagai pimpinan perang. Penulis buku ingin meluruskan masalah itu. Beliau mengatakan ini pemahaman yang salah. Umar bin Khattab mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya bukan karena Umar Umar membencinya ya nanti akan beratakan bukti. Tetapi Umar bin Khattab sendiri menyebutkan dalam riwayat ya ini disebutkan dalam tarikh at Thaabari ya disebutkan oleh penulis buku menungil dari situ ya beliau mengatakan Umar sempat berkata, "Sesungguhnya aku tidak mencopot Khalid karena kemarahan atau pengkhianatan, tapi orang-orang telah terfitnah olehnya. Aku khawatir mereka akan disandarkan kepadanya. Maksudnya nanti aku ee nanti orang-orang menganggap Khalid bin Khalid telah jadi penyebab menang perang. Jadi jadi fitnah orang sudah tidak bergantung lagi sama Allah. Maka aku copot gara-gara itu. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwasanya pernah terdengar oleh Umar bin Khattab Khalid bin Walid ini berkhianat. Beritanya begitu di harta rampasan perang. Lalu Umar bin Khattab dari Madinah mengutus Bilal. Perlu ikhwat dan akhwat sekalian tahu, teman-teman tahu bahwasanya Khalid bin Walid ini dulu pimpinan ya apa namanya? Tuan sayid Makkah gitu kan. Dan Bilal adalah seorang budak, budaknya Umayyah bin Khalaf ya. Jadi dulu kok kondisinya tuh secara kejiwaan ya orang walaupun sudah masuk Islam.