996: Budaya ANEH & EKSTRIM Negara China yang Bikin STRES BERAT
zdXUI2xXLmA • 2025-12-24
Transcript preview
Open
Kind: captions
Language: id
Hidup di Jakarta itu berat banget. Lu
bangun pagi, desak-desakan di KRL, kerja
seharian, pulang malam tenaga udah
habis. Tapi gaji cuma lupa lewat. Buat
beli rumah di pinggiran Jakarta aja
mungkin lo harus nabung total gaji lo
selama 10 sampai 20 tahun bahkan. Atau
mungkin lo mikir, "Ah, pindah ke Bali
aja deh healing." Eh, pas sampai sana
ternyata sama aja pacet di mana-mana,
banjir kalau hujan, dan harga kosan atau
sewa villa udah enggak masuk akal
mahalnya. Tapi gimana kalau gue bilang
ada tempat yang jauh lebih gila, jauh
lebih absurd, dan level kesulitannya itu
jauh di atas Jakarta atau Bali. Selamat
datang di Beijing, China. Di sini
tekanan hidupnya udah di level
nightmare. Riset tunjukin ya. Kalau lo
mau beli rumah di kota besar kayak
Beijing atau Shenzen, lo harus nabung
100% gaji lo tanpa makan, tanpa jajan
selama 50 tahun. Gue ulangin, 50 tahun.
Kalau lo mulai kerja di umur 22, lo baru
lunas beli rumah pas umur 72 tahun.
Ibaratnya kayak udah keberu mati, Bro.
Standar ekonomi yang absur tinggi ini
akhirnya melahirkan sebuah budaya kerja
yang aneh yang saking kerasnya bikin
manusia enggak lagi kerasa kayak
manusia. Nah, pertanyaannya separah apa
sih budaya kerja di China sampai bikin
warganya putus asa dan apa dampaknya
buat mental mereka? Selamat datang di
Jurnal Investigasi BY 1%. Hari ini kita
bakal bedah tuntas fenomena 996, culture
kerja ekstrem di China yang bikin
warganya stres, burn out, dan memilih
untuk membusuk. Enjoy. [musik]
Kenalin perempuan ini namanya Nicole.
Dia lahir tahun 1992, lulusan S2 dari
Inggris. Dan secara profil dia ini bibit
unggul, pintar, dan juga ambisius.
Nicole kerja di salah satu raksasa
internet terbesar di China yang mana
harusnya kalau kita lihat sekilas ya,
hidupnya tuh harusnya enak, gajinya
gede, karirnya juga bagus. Nah, tapi
realitanya justru berbeda jauh. Di call
cerita jam kerjanya itu di sana terlalu
brutal. Dia mulai kerja jam 09.30 pagi,
tapi jam pulangnya enggak pernah jelas.
Di paruh ke 2 tahun, dia sering banget
baru bisa pulang jam 11.30 malam atau
bahkan sampai jam 12.30 dini hari. Lu
bayangin ya, dia pulang ke rumah cuma
numpang buat tidur dan saking capeknya
otaknya udah enggak kuat lagi buat
dipakai mikir. Nicole juga bilang dia
ngerasa mati rasa. rutinitas malamnya
cuma mandi, rebahan, terus kolling HP
tanpa tujuan, cuma ngelihatin layar
kosong tanpa benar-benar bisa nyerna
informasi sampai akhirnya dia ketiduran
sendiri karena kecapekan. Ini bukan cuma
capek fisik ya, [musik] tapi juga capek
jiwa. Nicole bilang sensasinya itu bukan
kayak habis olahraga, tapi kayak lagi
terus-menerus jatuh atau tenggelam ke
dasar laut yang gelap. Dan dampaknya ke
fisik itu nyata banget. Dalam 1 tahun,
Nicole harus ke rumah sakit sampai empat
kali karena jantungnya sering berdebar
enggak nyaman. Dia sadar kerjaannya ini
ngebunuh dia secara pelan-pelan. Kasus
Nikol ini bukan yang pertama dan
satu-satunya ya. Di China, fenomena
kematian mendadak akibat kerja berlebih
atau karoshi itu sering banget terjadi.
Ada kasus karyawan dari perusahaan
ritail di China yang mendadak meninggal
pas pulang kerja di jam [musik] .30 30
pagi. Masalah ini berakar dari budaya
kerja yang emang gila banget di China
[musik] yang disebut 996. Istilah 996
ini sebenarnya kode buat jam kerja di
perusahaan China. [musik]
Masuk jam 09.00 pagi, pulang jam 09.00
malam, dan juga kerja selama 6 hari
dalam 1 minggu. Itu totalnya kalau
dijumlahin bisa 72 jam kerja per minggu.
Jauh [musik] banget di atas standar
hukum internasional atau bahkan hukum
China sendiri yang sebenarnya cuma 44
jam. Awalnya budaya ini tuh lahir dari
perusahaan teknologi raksasa kayak
Alibaba atau Tensen dan didorong sama
ambisi buat ngejar ketertinggalan dari
barat. Bahkan sosok kayak Jaekma pernah
bilang kalau bisa kerja 996 itu adalah
sebuah fuba atau berkah yang besar.
[musik] Nah, tapi pertanyaannya apakah
beneran kerja 996 ini adalah berkah? Iya
sih, China tuh sekarang pertumbuhannya
bisa pesat banget ya. Tapi kalau sampai
ada orang yang meninggal tiba-tiba
tengah malam karena kecapekan, apakah
budayanya masih worth it buat dilakuin?
[musik]
Nah, pas dengar cerita kayak Nicole
tadi, reaksi wajar kita itu ya pasti ya
elah kalau stres dan sakit-saketan gitu
kenapa enggak resign aja sih? Cari
kerjaan lain kek yang lebih nyaman. Nah,
gue ngerti kenapa lu mikir kayak gitu.
Tetapi di China [musik] pilihan buat
lisan itu enggak segampang yang kita
bayangin. Lulusan universitas di China
itu membeludak. Ada sekitar 12 juta
lulusan baru tiap [musik] tahun. Tapi
lapangan kerja kelas menengahnya itu
segitu-gitu aja. Dan akibatnya, sarjana
yang harusnya kerja di kantor kepaksa
kerja kasar jadi buruh pabrik. Misalnya
ya, ada contoh kasus ada laki-laki
namanya Lee Shaulin. Dia ini anak muda
umur 25 tahun, lulusan universitas dan
sekolah yang bagus. Tapi kerjanya tiap
hari ya repetitif banget. Ngcek
kebocoran bensin, ganti oli, lihatin ban
aus dari jam 09.00 pagi sampai 5 sore 6
hari dalam seminggu. Apakah Lee Shaulin
punya mimpi? Dulu punya. Dia pengin
banget ya dapat kerjaan bagus dan hidup
layak. Tapi realitas kompetisi di China
bikin dia sadar kalau mimpi itu udah
ketinggian banget. That's why buat
orang-orang kayak Nicole yang udah dapat
posisi enak di perusahaan teknologi,
mereka juga enggak berani keluar.
Kenapa? Karena ya mereka takut kagak
bisa dapat kerja yang lebih layak lagi.
Bahkan di sana juga ada satu istilah
namanya itu kutukan umur 35. Di industri
kerja China, kalau lo udah di atas 35
tahun, lo dianggap tua, mahal, dan juga
enggak punya energi buat kerja 996 kayak
anak muda. Jadi kalau Nall Resign di
umur 30-an, kemungkinan besar enggak ada
perusahaan yang mau nerima dia lagi.
Jadi, ya buat orang-orang yang kerjanya
udah proper, pilihannya tuh cuma dua.
bertahan di kerjaan yang bikin lo mati
rasa dan sakit jantung atau resign terus
jatuh miskin dan mungkin berakhir jadi
kurir pengantar makanan atau kerja di
pabrik yang juga saingannya ada jutaan
orang yang mau kerjaan-kerjaan itu.
Bahkan lebih parahnya lagi lo itu kagak
bisa cuma asal kerja cuy. Kerjaan lo itu
wajib bagus dan improve terus. Kenapa?
Karena kalau lu jelek aja sekali dua
kali lu bisa aja langsung diganti sama
salah satu dari jutaan orang yang
mengincar posisi lo sekarang. [musik]
Ya, akhirnya ya mau enggak mau lo harus
lari sampai muntah-muntah sakit ya, cuma
buat tetap berada di tempat yang sama
dengan gaji yang kagak seberapa [musik]
atau bahkan kagak naik-naik banget. Oke,
guys. Sebelum lanjut, gua mau kasih info
penting buat lo yang ngerasa stuck sama
arah karir, relationship atau bahkan
[musik] sama diri sendiri. Sekarang 1%
punya product membership premium namanya
The Good Life Membership. The Good Life
Membership adalah ekosistem pengembangan
diri yang dirancang khusus buat bantu lo
yang mau mencapai hidup seutuhnya dengan
bertumbuh 1% setiap harinya. Apa aja sih
yang bakal lo dapetin dengan join
membership ini? Locotes premium [musik]
satu per bulan, empat webinar premium
per bulan, video dan playlist premium,
artikel premium, grup WhatsApp, dan juga
gathering [musik] khusus member. Semua
produk ini kalau lo beli ketengan di 1%
itu harganya bisa sampai jutaan rupiah.
Tapi [musik] kalau lo join member,
produk jutaan tadi lo bisa dapatkan
dengan harga mulai dari Rp79.000 aja per
[musik] bulan. Mantap banget ya.
Langsung aja ya kunjungi website kita
satpers.net atau lu bisa klik link
[musik] 1.bio/goodlifem membership buat
info lebih lanjut.
Nah, terus apa yang bakal terjadi kalau
manusia itu keterusan [musik] dipush
sampai ke batasnya, sampai ke limitnya.
Yang pasti kebanyakan dari kita bakal
meledak ya at some point. Tetapi di
China ledakannya itu bukan dalam bentuk
demo bakar ban di jalanan. Enggak ada
tuh demo-demo kayak gitu. Tapi
ledakannya itu sunyi. Anak-anak mudanya
mulai sadar kalau sistem ini itu curang
dan juga merusak. Mereka sadar kalau
janji manis kerja keras pangkal kaya itu
adalah bohong. Akhirnya muncullah dua
filosofi perlawanan yaitu Tang Ping dan
juga Bailand. Pertama kita bahas dulu
dari Tang Ping atau ling flat alias
rebahan. Ini adalah sikap pasif. Mereka
nolak beli rumah, nolak nikah, nolak
kerja keras berlebihan. Mereka cuma
kerja seadanya buat makan dan sisa
waktunya dipakai buat menikmati hidup.
Contoh nyatanya ada di kisah Guan Iiz.
Dia perempuan umur 29 tahun, tinggal di
kota mahal dan dia kerja jadi guru less
freelance. Tapi dia batasin cuma mau
ngajar maksimal dua kelas sehari. Sisa
waktunya ya dia main skateboard di taman
4 sampai 5 jam sehari. Pendapatannya
mungkin ngepas banget ya, apalagi
setelah industri les privat itu di sana
kena regulasi pemerintah. Tapi I enggak
panik, dia malah makin santai. Bagi dia
kebahagiaan personal dan kesehatan
mental itu jauh lebih mahal daripada
apartemen atau tas branded. Selain dari
kasus guaniz ini ada yang lebih ekstrem
lagi dari Tangping. Namanya itu adalah
baand. Byand itu artinya let it rot atau
biarkan pembusuk. Kalau Tang itu adalah
ungkapan kalau orang-orang tuh pengin
istirahat, ba itu lebih ke bodo amat,
hancur-hancur deh sekalian. Ini adalah
level keputusasaan yang udah next level.
Misalnya ada kisah Wang Yang Dong. Dia
itu anak teknik udah 5 tahun merantau di
Beijing. Harusnya 5 tahun itu progres
karirnya sebenarnya udah bagus, tetapi
dia malah ngerasa makin jauh dari
tujuannya. Daripada stres mikirin masa
depan yang enggak pasti, uangnya dong ya
milih lepas tangan aja sama kerjaannya.
Dia di kantor kerjanya asal-asalan.
Effort-nya minimal dan benar-benar
enggak peduli kalau dipecat atau
ditegur. Sikap-sikap ini melahirkan
fenomena for no youth atau pemuda empat
tidak. Tidak [musik] pacaran, tidak
menikah, tidak beli rumah, dan juga
tidak punya anak. Bahkan data survei
juga nunjukin ya ada sekitar 500 juta
anak muda yang relate sama sikap ini
secara demografis. Mereka ngerasa buat
apa nikah atau punya anak kalau cuma
mewariskan penderitaan. Nampaknya ke
ekonomi juga gila ya, munculnya trend
reverse consumption atau Pinkty economy.
Anak muda di sana sekarang tuh malas
beli barang branded kayak Nike atau
Starbucks. Mereka lari ke barang Pinkti
alias barang du tiruan lokal yang
kualitasnya tuh sama tapi harganya
seperepuhnya. [musik]
At the end of the day mungkin di
Indonesia kondisinya belum seekstrem
nabung 50 tahun buat rumah ya atau
budaya 1996 yang dilegalkan secara
sosial di China. Tapi bibit-bibitnya
sebenarnya udah kita mulai rasain
sekarang. Misalnya kayak hassle culture
yang masa kita kerja 24/7 [musik]
FOMO gitu ya. Lihat pencapaian orang di
sosm. Harga rumah di Jabo Detabek juga
udah makin enggak masuk akal sampai
[musik] ke gaji kita, income kita yang
mungkin rasanya cuma segitu-gitu aja.
Apa yang terjadi di China, fenomena
[musik] Tangting dan juga Bail adalah
sebuah peringatan bahwa manusia itu
punya batas. Kalau sistem ekonomi dan
sosial terus-terusan nekan manusia
melampaui batas kemanusiaannya, manusia
enggak akan jadi makin produktif. mereka
bakal rusak dan kalau [musik] udah rusak
mereka bakal berhenti peduli. Dari
kasus-kasus yang udah gue bahas
sebelumnya, kita belajar satu hal
penting. Ambisi itu boleh, tapi jangan
sampai kita kehilangan diri sendiri.
Gimana menurut lo? Apakah Indonesia
bakal nyusul China dengan budaya kerja
gila kayak gini atau kita bisa nemuin
jalan tengah yang lebih manusiawi? Coba
lo sampaiin pendapat lo di kolom
komentar ya. Kita bisa coba diskusi.
Buat lo yang suka pembahasan kayak gini
1% juga udah sempat bikin video yang
serupa, ya. Lu bisa langsung aja klik
video yang ada [musik] di sebelah kiri
atau di sebelah kanan. Silakan sesuai
dengan batin lu. That's all for this
video. Gue Danang dari 1%. Jangan lupa
bahagia dan jangan lupa hidup seutuhnya.
[musik] Thanks.
[musik]
Resume
Read
file updated 2026-02-12 01:56:56 UTC
Categories
Manage